Abstrak—Hasil yang optimal dalam pengembangan kawasan wisata dapat diperoleh apabila didukung oleh pembangunan infrastruktur kepariwisataan yang memadai. Keberadaan potensi wisata di kawasan wisata Pantai Jumiang belum diimbangi dengan pelayanan ketersediaan infrastruktur penunjang pariwisata yang yang dapat melayani kebutuhan para wisatawan yang berdampak pada penurunan jumlah kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis strategi pengembangan infrastruktur penunjang pariwisata di kawasan wisata Pantai Jumiang Kabupaten Pamekasan melalui analisis deskriptif kualitatif dilihat dari fakta empiri di wilayah (empirical descriptive), kemudian dibandingkan teori yang mendukung (theoritical descriptive). Hasil analisis menghasilkan rumusan strategi pengembangan infrastruktur penunjang kawasan wisata Pantai Jumiang melalui analisis SWOT. Hasil kajian menunjukkan bahwa startegi pengembangan infrastrujtur penunjang wisata dilakukan dengan Meningkatkan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana dasar wisata; Meningkatkan kualitas dan pelayanan infrastruktur penunjang; dan Melibatkan masyarakat dalam upaya pengembangan infrastruktur.
Kata Kunci—Wisata Pesisir, Infrastruktur Pariwisata, Pengembangan Wisata
I. PENDAHULUAN
Di dalam pengembangan suatu wilayah, infrastruktur memiliki peran sebagai mediator antara sistem ekonomi dan sosial di dalam tatanan kehidupan manusia dengan lingkungan alam (Grigg dalam Kodoatie, 2005). Pembangunan infrastruktur merupakan suatu strategi dalam penyediaan sarana dan prasarana. Peran infrastruktur tidak hanya berpengaruh pada pengembangan wilayah, tetapi juga pada bidang kepariwisataan. Infrastruktur berperan sangat penting dalam mendorong kualitas wisata itu sendiri serta pada lingkungan sekitarnya (Afandi, 2013). Menurut UNWTO (2014) jenis wisata yang banyak diminati oleh masyarakat adalah wisata alam. Salah satu jenis pariwisata alam yang paling banyak mendatangkan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara adalah wisata bahari.
Pulau Madura merupakan pulau yang menyimpan banyak potensi wisata, termasuk wisata alam yang salah satunya terdapat di Kabupaten Pamekasan. Salah satu potensi wisata alam yang terdapat di Kabupaten Pamekasan adalah wisata alam Pantai Jumiang. Kawasan wisata pesisir Pantai Jumiang merupakan obyek wisata pesisir yang memiliki keunikan dan berbeda dengan pantai lainnya di Pamekasan yang pada umumnya bertipikal pantai landai. Pantai Jumiang memiliki dua lokasi, yaitu pantai bertebing di sisi timur dan panrai landai di sisi barat. Daya tarik wisata yang dimiliki berupa eksotika pemandangan alam lautan luas yang menawarkan pemandangan langsung ke Selat Madura dan dapat dilihat dari tebing jurang yang cukup tinggi. Kawasan wisata Pantai Jumiang merupakan salah satu kawasan pariwisata yang perlu mendapat prioritas pengembangan dan diharapkan dapat menjadi icon obyek wisata
Strategi Pengembangan Infrastruktur Penunjang
Pariwisata di Kawasan Wisata Pantai Jumiang
Kabupaten Pamekasan
Dewi Rupyanti Sinaga
Jurusan Arsitektur Bidang Magister Manajemen Pembangunan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
pesisir di Kabupaten Pamekasan (Renstra Pengembangan Pariwisata Kabupaten Pamekasan, 2012).
Menurut Disparporabud Kabupaten Pamekasan (2014), jumlah kunjungan wisatawan ke Pantai Jumiang merupakan jumlah kunjungan tertinggi kedua setelah Pasarean Batu Ampar pada tahun 2012 dan 2013. Terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan sebanyak 3.044 orang dari tahun 2012 (17.701 orang) hingga 2013 (20.745 orang). Namun pada tahun 2014 terjadi penurunan jumlah kunjungan wisatawan baik mancanegara maupun domestik mencapai 4.663 orang. Kunjungan wisatawan per bulan pun cenderung mengalami stagnansi, tidak ada jumlah kunjungan wisatawan yang menonjol di sepanjang tahun 2014.
Terjadinya ketidakstabilan kunjungan wisatawan di Pantai Jumiang mengindikasikan bahwa ketertarikan masyarakat untuk menikmati daya tarik wisata Pantai Jumiang sudah mulai menurun, karena tidak didukung dengan pengembangan dan pemeliharaan pada obyek-obyek wisata maupun prasarana sarana penunjang parwisata. Berdasarkan Renstra Pengembangan Parwisata Daerah Kabupaten Pamekasan (2012), kontribusi pengunjung terbesar kedua tersebut tidak diimbangi dengan pelayanan infrastruktur yang memadai untuk mendukung kenyamanan dan aktivitas bagi para wisatawan di kawasan wisata pesisir Pantai Jumiang.
Dari 15 fasilitas penginapan dan hotel di Kabupaten Pamekasan, belum ada fasilitas penginapan yang melayani di kawasan wisata pesisir Kabupaten Pamekasan. Selain itu fasilitas rumah makan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan keuangan juga belum memadai untuk kegiatan wisata (Renstra Pengembangan Pariwisata Daerah, 2012). Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan PDRB Kabupaten Pamekasan menurut Lapangan Usaha atas dasar harga berlaku tahun 2013, dimana tiga sektor ekonomi utama masih mendominasi struktur perekonomian Kabupaten Pamekasan, yaitu sektor pertanian (47,71%), sektor perdagangan, hotel, dan restoran (18,52%), serta sektor-sektor jasa (12,69%).
Untuk kondisi infrastruktur, prasarana persampahan di Pantai Jumiang juga belum memadai dalam pengelolaan sampah, dilihat dari banyaknya sampah yang mengotori bibir pantai dan sampah yang menumpuk di akses jalan masuk dari pintu gerbang. Sedangkan
untuk infrastruktur jalan, akses jalan masuk menuju kawasan wisata yang melewati perkampungan warga berada pada kondisi aspal yang rusak dan jalan berlubang. Masalah lainnya juga terdapat pada belum memadainya fasilitas pendukung transportasi seperti tidak adanya penerangan di sepanjang jalan serta tidak tersedianya prasarana air bersih yang melayani kawasan wisata dikarenakan bangunan fasilitas MCK mengalami kerusakan akibat kurang pemeliharaan. Hal tersebut mengakibatkan wisatawan mengalami kesulitan untuk membersihkan diri setelah berenang di pantai. Sementara trayek angkutan umum belum melayani melewati kawasan wisata untuk mendukung mobilitas pengunjung kawasan wisata Pantai Jumiang (Disparporabud Kabupaten Pamekasan, 2014).
Walaupun hanya bersifat sebagai pendukung, infrastruktur memiliki posisi yang amat penting bagi keberlangsungan kegiatan masyarakat di suatu wilayah. Aktivitas yang ditampung dalam suatu ruang tidak akan berjalan dengan baik tanpa didukung oleh pelayanan infrastruktur yang memadai seperti jaringan jalan, air bersih, persampahan, listrik, sanitasi, dan telekomunikasi. Kegiatan perekonomian suatu wilayah yang didukung oleh pelayanan infrastruktur yang baik, dapat mendorong peningkatan intensitas dan kualitas kegiatan tersebut, yang berakibat pada peningkatan kesejahteraan penduduknya (Button, 2002).
II. METODE
Dalam melakukan kajian pada makalah ini, digunakan beberapa metode, baik dalam pengumpulan data ataupun dalam kajiannya.
A. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dengan teknik survei sekunder dan survei primer. Survei sekunder dilakukan dengan survei survei literatur yang bersumberkan dari dokumen pemerintah, penelitian terdahulu, artikel reportase, dan lain sebagainya yang dapat mendukung proses analisa dalam penelitian ini. Data yang diperlukan pada umumnya berupa gambaran umum pariwisata di Kabupaten Pamekasan secara umum, dan kawasan wisata Pantai Jumiang secara khusus. Sedangkan survei primer dilakukan dengan pengamatan lapangan pada kondisi eksisting kawasan wisata Pantai Jumiang untuk mengetahui kondisi lapangan yang berkaitan dengan gambaran umum wilayah, khususnya karakteristik kondisi infrastruktur penunjang wisata.
B. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan dalam makalah ini adalah kajian komparatif. Kajian komparatif menurut Nazir (1988) merupakan sejenis kajian deskriptif yang berutjuan untuk mencari jawaban mendasar tentang sebab-akibat, dengan menganalisis faktor penyevav terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Teknik yang digunakan dalam kajian komparatif tersebut adalah analisis deskriptif. Analisis deskriptif
adalah
serangkaian kajian yang tidak dapat dinyatakan dalam angka-angka dan rumus melainkan dengan kata-kata dan kalimat menurut data pengambilan kesimpulan (Sugiyono, 2006). Dalam kajian ini analisis deskriptif, bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antar wilayah dilihat dari fakta empiri di wilayah (empirical descriptive), yang dibandingkan teori yang mendukung (theoritical descriptive).III. HASILDANPEMBAHASAN
Pariwisata secara komprehensif merupakan suatu industri yang bergerak di
dalam bidang pelayanan yang
mengkompromikan berbagai elemen terukur maupun tak terukur. Elemen terukur antara lain sistem transportasi dan hospitality service (akomodasi, makanan dan minuman,
wisata/ODTW, serta pelayanan lain seperti jasa keuangan, keamanan, dan kenyamanan). Mc. Intosh (1995) berpendapat bahwa infrastruktur beserta fasilitas pendukungnya termasuk dalam komponen penunjang pariwisata, menurut Musenaf (1995) infrastruktur yang termasuk dalam komponen suatu kawasan wisata meliputi prasarana jalan, listrik, air bersih, telekomunikasi, dan sarana wisata yang meliputi sarana akomodasi, restoran, dan rumah makan.
Sementara Yoeti (1985) menyebutkan bahwa salah satu obyek penawaran dalam pemasaran pariwisata adalah infrastruktur penunjang wisata, antara lain:
Recreative and Sportive Plan
Residential Tourist Plan, terdiri dari penginapan/hotel dan tempat makan/restoran
Sarana pelengkap atau penunjang kepariwisataan untuk membuat wisatawan dapat lebih lama tinggal di tempat wisata Sarana penjualan, berupa toko-toko yang
menjual barang-barang souvenir atau benda lain khusus wisatawan
Utilitas, yaitu terkait dengan ketersediaan jaringan air bersih, listrik, drainase, dan sanitasi (tersedianya fasilitas toilet/MCK) Prasarana sosial, seperti sarana pendidikan
dan kesehatan
Transportasi, yaitu ketersediaan sarana trasnportasi (moda kendaraan yang digunakan menuju tempat wisata) dan aksesibilitas (kemudahan mencapai kawasan wisata)
Berdasarkan sumber teori diatas, maka variabel infrastruktur pariwisata yang dipilih dalam kajian ini meliputi: fasilitas penginapan/hotel; sarana rekreasi wisata bahari (berenang, snorkeling, diving, dsb); restoran/tempat makan; fasilitas pelayanan kesehatan; faslitas pelayanan keuangan; fasilitas perbelanjaan (toko souvenir); penyediaan air bersih, jaringan listrik, sistem drainase, persampahan, telekomunikasi, sanitasi, jringan jalan; moa transportasi dan fasilitas pendukung transportasi (seperti lampu penerangan jalan). Gambaran umum infarstruktur pariwisata sebagai berikut:
A. Kajian Umum Infrastruktur Pariwisata Pantai Jumiang
1. Sarana Rekreasi Wisata Bahari
utama wisatanya. Akan tetapi belum terdapat sarana rekreasi wisata bahari seperti snorkeling, diving, dll. Sehingga pengunjung obyek wisata ini hanya dapat menikmati sajian pemandangan alam dan laut dan juga berenang sebagai kegiatan dalam berwisata.
Gambar 1. Daya Tarik Pantai Jumiang
2. Akomodasi Wisata
Fasilitas Penginapan/Hotel
Kawasan wisata Pantai Jumiang belum memiliki fasilitas penginapan. Ketiadaan fasilitas penginapan untuk wisatawan membuat wisatawan yang berkunjung ke Pantai Jumiang khususnya saat terdapat event Upacara Petik Laut, Kerapan Sapi, Sapi Sono’, dan Festival Kebudayaan Semalam di Madura tidak memiliki tempat untuk menginap dan pada akhirnya membuat wisatawan tidak bisa tinggal lama di kawasan Pantai Jumiang.
Tempat Makan/Restoran
Terdapat beberapa fasilitas tempat makan di kawasan wisata Pantai Jumiang, antara lain berupa rumah makan sederhana. Fasilitas tersebut juga ada yang terdapat di dalam tempat wisata.
Gambar 2. Tempat Makan di Pantai Jumiang
Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Fasilitas pelayanan disediakan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Desa Tanjung maupun wisatawan yang sedang melakukan kegiatan wisata di Pantai Jumiang.:
Tabel. 1 Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Desa Tanjung
Jenis Fasilitas Kesehatan Jml
Puskesmas Pembantu 1
Poskesdes 1
Posyandu 8
Praktek Dokter 1
Praktek Bidan 1
Mantri Kesehatam 1
Sumber: Monografi Desa Tanjung, 2014 Fasilitas Pelayanan Keuangan
Desa Tanjung tidak memiliki fasilitas pelayanan keuangan apa pun di dalam kawasan wisata, sehingga apabila wisatawan memerlukan fasilitas tersebut mereka harus mendapatkannya di luar kawasan wisata.
Fasilitas Perbelanjaan
Kawasan wisata Pantai Jumiang memiliki satu buah toko yang menyatu dengan rumah warga, dan diperuntukkan untuk mnyediakan produk lokal daerah tersebut, khsuusnya makanan olahan hasil laut, untuk para wisatawan yang berkunjung ke Pantai Jumiang. Adapun produk olahan hasil laut tersebut adalah ikan teri krispi dan manisan rumput laut.
Gambar 3. Fasilitas Berbelanja di Pantai Jumiang
3.
Utilitas
Penyediaan air bersih
pipa PVC untuk pemenuhan kebutuhan air bersih penduduk sekitar kawasan wisata.
Tabel. 2 Jumlah Rumah Tangga Menurut Sumber Air di Desa Tanjung
Sumber Air Jml
PDAM 6.272
Sumur Terlindung 156
Sumur tidak terlindung 221
Air kemasan 146
Pompa 156
Sumber: Monografi Desa Tanjung, 2014 Jaringan Listrik
Untuk prasarana jaringan listrik, kawasan pesisir Jumiang sudah terlayani jaringan listrik yang menggunakan jasa PLN. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, rata-rata masyarakat menggunakan daya untuk kebutuhan rumah tangga sebesar 450 watt. Namun pada akses jalan menuju pantai bertebing dan Makam Adirasa masih belum terpasang fasilitas lampu penerangan, sehingga rawan terjadi tindakan kriminal saat malam hari.
Sistem Drainase
Pada msuim penghujan, di beberapa titik seringkali terjadi genangan akibat banyaknya sampah yang menyumbat sehingga memperlambat penyerapan air.
Sistem Pengelolaan Limbah dan Sanitasi Prasarana pengolahan limbah yang ada di Desa Tanjung sebagian ebsar menggunakan septik tank dan sanitasi yang terdapat di desa Tanjung pada masing-masing rumah tangga sebagian ebsar sudah memiliki fasilitas MCK. Akan tetapi fasilitas MCK/Toilet ini belum melayani kawasan wisata Pantai Jumiang, akibat tidak terpeliharanya bangunan Toilet yang ada di tempat wisata ini.
Tabel. 3 Jumlah Rumah Tangga Menurut Prasarana Sanitasi di Desa Tanjung
Jenis Prasarana
Sanitasi Jml
Sendiri 4677
Bersama 1100
Umum 28
Sumber: Monografi Desa Tanjung, 2014
Gambar 4. Kondisi Fasilitas Toilet di Pantai Jumiang
Bangunan fasilitas toilet yang pada awalnya bagus, terawat, dan sangat emndukung kenyamanan pengunjung, saat ini kurang mendapatkan perhatian khsuus sehingga menjadi obyek kumuh di kawasan wisata Pantai jumiang.
Telekomunikasi
Prasarana telekomunikasi di Desa Tanjung berasal dari sambungan telepon dan sebagian besar masyarakat sudah menggunakan telepon genggam dan hanya sedikit yang menggunakan telepon kabel. Namun demikian masih ada juga penduduk yang tidak menggunakan alat telekomunikasi apa pun.
Persampahan
Desa Tanjung merupakan desa dengan kepadatan penduduk tertinggi kedua di kecamatan pademawu, sehingga menghasilkan sampah yang cukup banyak. Sampah yang dihasilkan dari rumah tangga masih dibuang pada tempat sampah atau bak sampah yang ada di sekitar lingkungan perkampungan warga untuk selanjutnya dibuang ke TPS. Akan tetapi masih banyak sampah yang berserakan dan mengotori bibir pantai sehingga mengurangi kualitas lingkungan pesisir dan keindahan dari obyek wisata tersebut.
4.
Aksesibilitas dan Transportasi.
Jaringan JalanKondisi jaringan jalan menuju Pantai Jumiang berada pada kelas jaringan jalan kolektor sekunder dan jalan lingkungan dengan perkerasan aspal jalan yang cukup baik. Fungsi jalan sebagai kolektor sekunder membuat jalan menuju Pantai Jumiang tidak terlalu lebar, hanya sekitar 4 m. Pantai ini berjarak kurang lebih 12 km arah tenggara dari Kota Pamekasan. Namun lokasi wisata ini tidak berada di tepi jalan raya, sehingga untuk mencapai Pantai Jumiang wisatawan harus melewati jaringan jalan di kawasan permukiman warga yang sudah beraspal namun kondisinya sudah banyak aspal yang rusak, jalan berlubang, lebar jalan yang sempit, namun masih tetap bisa dilalui oleh jenis kendaraan mobil.
Gambar 5. Kondisi Jaringan Jalan Menuju Pantai
Moda Transportasi
Sedangkan untuk aksesibilitas menuju Pantai Jumiang bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun ojek dengan harga yang cukup terjangkau. Untuk wisatawan dari luar daerah Kabupaten Pamekasan yang tidak membawa kendaraan pribadi dapat menjangkau Pantai Jumiang dengan berhenti di Terminal Ceguk Pamekasan untuk mencari angkutan lain menuju Pantai Jumiang. Kawasan wisata Pantai Jumiang tidak terjangkau oleh layanan angkutan umum, sehingga menyulitkan wisatawan yang ingin berkunjung karena tidak semua wisatawan menggunakan kendaraan pribadi.
Fasilitas Pendukung Transportasi
Di kawasan wisata Pantai Jumiang, belum terdapat fasilitas pendukung transportasi, seperti tempat parkir, lampu penerangan jalan. Sehingga kendaraan yang ada diparkir pada lahan kosong ataupun dekat bibir pantai. Tidak adanya fasilitas perparkiran
membuat beberapa pengunjung memarkirkan kendaraan mereka di bibir pantai, sehingga mengganggu pandangan wisatawan yang ingin menikmati keindahan Pantai Jumiang. Untuk fasilitas berupa papan informasi/penunjuk arah menuju Pantai Jumiang masih sangat minim. Hanya terdapat satu papan penunjuk arah yang letaknya 10 km sebelum lokasi Pantai Jumiang.
Gambar 6. Kendaraan yang Diparkir di Dekat Pantai
B. Kajian Pengembangan Infrastruktur Penunjang Kawasan Wisata Pantai Jumiang
Ketersediaan dan dukungan prasarana sarana penunjang wisata merupakan hal yang penting, karena merupakan aspek pertama yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan kepariwisataan di Kabupaten Pamekasan. Adanya prasarana dan sarana penunjang wisata yang unggul akan menciptakan kondisi pariwisata yang unggul pula dan siap bersaing dengan obyek wisata lainnya.
Keterbatasan anggaran pemeliharaan serta minimnya partisipasi masyarakat dan keterbatasan SDM pariwisata merupakan faktor penyebab lemahnya pemeliharaan prasarana dan sarana wisata. Selain itu paradigma “by project” mengakibatkan segala kegiatan pengembangan prasarana-sarana penunjang kepariwisataan tidak bersifat keberlanjutan, namun bersifat periodik dan berorientasi jangka pendek. Minimnya anggaran pemeliharaan mengakibatkan masa efektif penggunaan (umur pakai) sarana dan parsarana yang ada menjadi terlampau pendek. Bangunan sarana penunjang yang pada dasarnya dapat meningkatkan nilai tambah bagi obyek wisata justru menjadi unsur yang mengurangi nilai estetis obyek wisata Pantai Jumiang.
kebutuhan. Sarana dan prasarana pendukung pariwisata seperti prasarana jalan, telekomunikasi, air bersih, listrik, persampahan, lembaga keuangan dan fasilitas akomodasi yang betuk-betuk diperlukan untuk menopang pelaksanaan sistem kepariwisataan di Pantai Jumiang.
Berdasarkan penjelasan mengenai kondisi fisik, ekonomi, sosial, dan budaya serta faktor-faktor eksternal yang memperngaruhi
pengembangan infrastruktur penunjang wisata Pantai Jumiang, dapat diperoleh analisis mengenai kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan/ancaman yang dimiliki oleh Pantai Jumiang dalam pengembangan infrastruktur penunjang wisatanya. Analisa ini digunakan untuk menentukan strategi yang harus diambil oleh stakeholder dalam rangka mengembangkan infrastruktur kawasan wisata Pantai Jumiang.
Matriks SWOT Pengembangan Infrastruktur Penunjang Wisata di Pantai Jumiang STRENGTHS OPPORTUNITIES
POSITIF
1.Aksesibilitas yang mudah dijangkau dari pusat kota Kabupaten Pamekasan dengan kendaraan pribadi
2.Berada di jalur strategis akses jalan utama Pamekasan-Sumenep
3.Tersedianya fasilitas akomodasi wisata berupa tempat makan dan tempat berbelanja
4.Tersedianya fasilitas pelayanan umum (kesehatan, kantor pos, dan keamanan) yang memadai
5.Tersedianya jaringan listrik, air bersih, dan telekomunikasi yang memadai
1. Rata – rata peningkatan PAD Kabupaten Pamekasan sebesar 10% 2. Aksesibilitas yang mudah dengan
dibangunnya Jembatan Suramadu serta kedekatan dengan Pulau Jawa 3. Adanya Kelompok Sadar Wisata
(Pokdarwis)
4. Adanya kebijakan pengembangan kawasan wisata (Renstra
Pengembangan Pariwisata Kabupaten Pamekasan)
WEAKNESS THREATS
NEGATIF
1. Rendahnya anggaran pemeliharaan prasarana-sarana wisata
2. Terbatasnya SDM pengelola obyek wisata yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja pariwisata sebagai suatu industri
3. Kurangnya perhatian dan prioritas pemangku kebijakan terhadap kegiatan pemeliharaan prasarana-sarana
4. Minimnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan
pemeliharaan prasarana-sarana 5. Kurangnya fasilitas umum seperti
tempat sampah, WC Umum di kawasan obyek wisata, baik dari segi kuantitas maupun kualitas (kebersihan) 6. Kurangnya minat investor untuk
berinvestasi di Kabupaten Pamekasan
1. Masa pakai prasarana dan sarana relatif pendek dan tidak ekonomis 2. Prasarana dan sarana menjadi kurang
memenuhi kelayakan sehingga dapat menurunkan standar keselamatan pengunjung
3. Krisis eknomi dunia disertai
fluktuasi nilai tukar mata uang dapat menyebabkan berkurangnya minat calon wisatawan asing dalam berwisata
4. Meningkatnya minat warga Pamekasan unuk melakukan perjalanan wisata ke daerah lain
Matriks Strategi Pengembangan Infrastruktur Penunjang Wisata di Pantai Jumiang STRENGTHS WEAKNESS
OPPOR TUNITIES
1. Keberadaan Suramadu dapat memperluas jangkauan pasar wisatawan luar daerah, sehingga target pasarnya adalah wisatawan Jawa Timur hingga nasional (S1,S2,O1,O2)
2. Meningkatkan mutu, sistem pelayanan, dan pemeliharaan kualitas fasilitas/sarana penunjang wisata yang sudah ada
(S3,S4,O1,O2)
3. Peningkatan jaringan pelayanan infrastruktur yang sudah ada sehingga dapat menjangkau dan melayani di kawasan wisata untuk percepatan pembangunan (S5,O1) 4. Peningkatan kinerja prasarana dan sarana transportasi menuju obyek wisata Pantai Jumiang (S1,S2,O3)
1. Membentuk MTB (Madura Tourism Board) yang disahkan oleh daerah melalui Perda sebagai badan
kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta agar pengembangan infrastruktur lebih terarah, terpadu, dan efektif (W1,W3,W6,O1,O2) 2. Meningkatkan peran
serta/keterlibatan masyarakat
terhadap kegiatan pemerliharaan dan perawatan prasarana sarana wisata (W2,W4,O3,O4)
3. Mewujudkan sinergi berbagai kebijakan pengembangan pariwisata secara terencana, terarah, integratif, dan berkelanjutan (W2,W3,W4,O4) 4. Pengembangan fasilitas penunjang
dan prasarana sarana untuk mendorong tumbuh kembangnya pariwisata Pantai Jumiang (W1,W5,O1,O3,04)
THREATS
1. Menciptakan kegiatan
pengembangan prasarana-sarana penunjang kepariwisataan yang bersifat berkelanjutan dan berorientasi jangka panjang (S3,S4,S5,W1,W3,W4) 2. Meningkatkan standar mutu
pelayanan dalam kegiatan pembangunan/ penyediaan infrastruktur penunjang wisata (S3,S4,S5,W2,W3,W4)
3. Memperkuat fasilitas dan persuasive market (promo) pada obyek wisata Pantai Jumiang
(S3,S4,S5,W1,W2,W3,W4)
1. Pemerintah daerah bersama dengan pihak swasta membangun fasilitas dan membentuk manajemen yang profesional pada obyek wisata Pantai Jumiang
(W2,W3,W5,W6,T1,T2,T3,T4) 2. Pembagian peran sesuai
ke5mampuan teknis dan pembiayaan dalam pengembangan infrastruktur pariwisata untuk memudahkan percepatan pengembangan parsarana sarana penunjang wisata
(W1,W2,W3,W4,W5,W6,T1,T2,T3)
C. Perumusan Strategi
Perumusan strategi pengembangan infrastruktur penunjang kawasan wisata Pantai Jumiang dirumuskan dengan mengacu pada Renstra Pengembangan Pariwisata Daerah dan hasil kajian perangkat manajemen dan Analisa SWOT diatas. Adapun perumusan strategi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Peningkatan Kuantitas dan Penyediaan Infrastruktur Penunjang Wisata
Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana dasar wisata dilakukan dengan memelihara dan meningkatkan kapasitas parasarana sarana; serta membangun prasarana dan sarana sesuai dengan prioritas, tujuan, dan sasaran pengembangan kawasan wisata Pantai Jumiang.
Bentuk perbaikan infrastruktur jalan yang dapat dikembangkan adalah dengan meninggikan jalan, memperbaiki kondisi jalan yang rusak (berlubang), dan mengaspal jalan yang masih berupa tanah
Bentuk perbaikan infrastruktur air bersih yang dapat dikembangkan adalah pipa distribusi PDAM harus mampu menjangkau kedalam kawasan wisata. Pipa jaringan air bersih ditanam dalam tanah menggunakan pipa PVC. Pola penyediaannya bisa secara individu/hidran umum.
Saluran drainase kawasan wisata harus terintegrasi dengan sistem drainase di luar kawasan atau sistem drainase perkotaan
Dalam sistem pengelolaan air limbah harus ada pemisahan yang jelas antara greywater (mandi dan cuci) dan blackwater (kakus). Penyaluran blackwater ke septik tank tanpa ada kebocoran dan bau. Tidak ada rembesar langsung air tinja dari septik tank ke air tanah.
Untuk persampahan, dilakukan pemisaan antara ampah kering dan sampah basah. Penyediaan bak/tong sampah pada lokasi yang mudah dijangkau oleh pengunjung. Sampah sebaiknya diangkut tiap hari ke TPS dengan gerobak atau becak motor yang bisa masuk sampai ke jalan lingkungan permukiman warga.
Terbangunnya dan terpeliharanya sarana/fasilitas pendukung pariwisata, seperti fasilitas penginapan, tempat makan, toilet, toko oleh-oleh tempat parkir, musholla, dll. Hal tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas wisata demi pemenuhan kebutuhan wisatawan.
b. Peningkatan kualitas dan pelayanan infrastruktur penunjang wisata
Salah satu faktor yang mengakibatkan kurangnya pemeliharaan prasarana dan sarana di kawasan wisata Pantai Jumiang adalah berkembangnya paradigma “by project” dalam pembangunan prasarana dan sarana. Hal ini menyebabkan segala kegiatan pengembangan prasarana sarana penunjang kepariwisataan tidak berkelanjutan, namun bersifat periodik dan berorientasi jangka pendek. Minimnya anggaran pemeliharaan mengakibatkan masa efektif penggunaan (umur pakai) prasarana dan sarana yang ada menjadi terlampau pendek. Oleh karena itu strategi peningkatan kualitas dan pelayanan infrastruktur penunjang wisata adalah: Memperluas jaringan pelayanan
infrastruktur dasar, seperti air bersih dan jaringan listrik yang masih hanya menjangkau kawasan permukiman masyarakat pesisir, sehingga juga dapat menjangkau kawasan wisata Pantai Jumiang
Melakukan perbaikan pada bangunan fasilitas umum yang telah rusak, seperti toilet, gazebo, menara pandang, bangku pengunjung, dll.
Lembaga pemerintah mendukung perkembangan infrastruktur Pantai Jumiang, melalui usaha dengan memberikan pembekalan edukasi dan suntikan dana pada para nelayan dan masyarakat, sehingga masyarkat lokal dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan pemeliharaan dan perawatan prasarana dan sarana secara rutin.
c. Meningkatkan Peran Serta/ Keterlibatan Masyarakat dalam
Pemeliharaan Infrastruktur Penunjang wisata
Melibatkan masyarakat dalam upaya pengembangan infrastruktur penunjang wisata menjadi penting dilakukan sehingga masyarakat menjadi bagian dalam upaya tersebut. Masyarakat merupakan sumber daya yang mampu menjaga dan memeliharan obyek wisata yang ada, termasuk didalamnya infrastruktur penunjang wisata. Pelibatan masyarakat dapat dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut:
Melakukan pendekatan kepada perkumpulan masyarakat yang ada di kawasan pesisir Jumiang maupun Desa Tanjung secara umum sehingga masyarakat lebih tertarik untuk terlibat dalam kegiatan pemeliharaan prasarana dan sarana.
Sosialisai rutin dan berkelanjutan dan menyeluruh agar masyarakat dapat lebih memahami pentingnya menjaga infrastruktur penunjang wisata.
Masyarakat menyumbangkan tenaga kerja dalam kegiatan perawatan dan pemeliharaan, misalnya kerja bakti untuk membersihkan bibir pantai dan ikut menjaga kebersihan kawasan sekitar pantai.
Melibatkan masyarakat dalam forum pertemuan, diskusi, dan jaring aspirasi terkait program pengembangan infrastruktur penunjang wisata yang akan dilaksanakan.
d. Pengimplementasian produk hukum/ kebijakan yang memuat ketentuan pengembangan prasarana dan sarana wisata, antara lain:
Memberikan insentif kepada masyarakat yang peduli terhadap perawatan infrastruktur pariwisata dan sifatnya memberikan keuntungan, seperti kemudahan perijinan dalam mengurus IMB, keringanan pajak, dll.
Memberikan disinsentif untuk mengendalikan kegiatan yang dapat merugikan kawasan wisata, misalnya berupa hukuman kepada masyarakat yang membuang sampah di sekitar kawasan wisata.
e. Pembentukan kelembagaan khusus yang mampu memperkuat jaringan kerjasama dengan pihak swasta dalam pengembangan infrastruktur
Para stakeholder terkait (pemerintah dan masyarakat) juga perlu melakukan upaya kemitraan dengan melibatkan pihak swasta/investor yang berpotensi untuk melakukan investasi. Selain itu juga mengembangkan kemitraan dengan lembaga pendanaan (bank maupun non-bank) baik lembaga pemerintah maupun swasta untuk menciptakan investasi baru dalam rangka mengembangkan infrastruktur kawasan wisata Pantai Jumiang. Dalam hal ini, menurut Renstra Pengembangan Pariwisata Kab. Pamekasan, pemerintah dapat membentuk Madura Tourism Board yang disahkan oleh daerah melalui perda sebagai badan kerjasama antara pemerintah dengan pihak swasta agar pengelolaannya lebih etrarah dan efektif.
Dalam hal ini pemerintah dapat memberikan feedback kepada para investor melalui kemudahan perizinan dan insentif investasi di kawasan wisata Pantai Jumiang. Pemerintah daerah berkewajiban melaksanaan koordinasi, perencanaan, dan pelaksaan serta monitoring pengembangan prasarana dan sara penunjang wisata serta meningkatkan keterpaduan perencanaaan pengembangan wilayah yang mampu menjadi penggerak perekonomian daerah secara berkesinambungan. Dengan demikian keterpaduan antar sektoral dapat terwujud, seluruh lembaga bergerak dengan cara dan jalan yang saling terintegras mementingkan kepentingan publik, serius dan berkelanjutan. Pemerintah sebagai pemegang wewenang yang tertinggi lebih tegas atas peraturan yang berlaku, melakukan studi ke lapangan, dan melakukan evaluasi secara berkala.
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dan proses analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa strategi pengembangan infrastruktur penunjang kawasan wisata Pantai Jumiang adalah sebagai berikut:
pengembangan kawasan wisata Pantai Jumiang.
Meningkatkan kualitas dan pelayanan infrastruktur penunjang wisata dengan membangun kapasitas masyarakat untuk ikut memelihara dan memperbaiki bangunan fasilitas umum yang rusak. Dengan demikian pengembangan prasarana sarana penunjang kepariwisataan menjadi berkelanjutan dan berorientasi jangka panjang.
Melibatkan masyarakat dalam upaya pengembangan infrastruktur penunjang wisata sehingga masyarakat menjadi bagian dalam upaya tersebut.
Pengimplementasian produk hukum atau kebijakan yang memuat ketentuan pengembangan prasarana dan sarana wisata melalu mekanisme insentif dan disinsentif
Mengembangkan kemitraan dengan lembaga pendanaan (bank maupun non-bank) baik lembaga pemerintah maupun swasta untuk menciptakan investasi baru dalam rangka mengembangkan
infrastruktur kawasan wisata Pantai Jumiang
DAFTARPUSTAKA
[1] Button, K.J. 2002. Transport: Economics. Tokyo: Heinemann Educational Books. [2] Dinas Pariwisata, Pemuda & Olah Raga, dan
Kebudayaan Kabupaten Pamekasan. 2012. Rencana Strategis Pengembangan Pariwisata Kabupaten Pamekasan.
[3] Kodoatie, Robert. 2005. Pengantar Manajemen Infrastruktur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar [4] Mc. Intosh, Robert W, dan Charles R. Goeldner.
1995. Tourism Principles, Practices, Philosophies. USA: Great Publishing Inc
[5] Musenaf, Drs. 1995. Manajemen Usaha Pariwisata Indonesia, Jakarta: Penerbit PT. Toko Gunung Agung.
[6] Nazir, Muhammad. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
[7] Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta [8] Yoeti, Oka. 1985. Pengantar Ilmu Pariwisata.
Penerbit Angkasa. Bandung