i LOMBA KARYA TULIS PERADABAN
RDK 37 JMMI ITS
E-FISHER (ELECTRIC FISH DRYER): PEMANFAATAN SIFAT PANAS THERMOELECTRIC SEBAGAI MEDIA PENGERING IKAN RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PRODUKSI PERIKANAN
NELAYAN IKAN ASIN DI KELURAHAN KEDUNG COWEK SURABAYA (INSPIRASI DARI Q.S .AR RA’D AYAT 17)
Diusulkan oleh:
(Badrut Tamam) (2214100101) (2014) (Zainul Rahmawan) (2214100055) (2014) (Ahmad Sirajuddin) (5213100129) (2013)
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
iii E-FISHER (ELECTRIC FISH DRYER): PEMANFAATAN SIFAT PANAS
THERMOELECTRIC SEBAGAI MEDIA PENGERING IKAN RAMAH LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PRODUKSI PERIKANAN NELAYAN IKAN ASIN DI KELURAHAN KEDUNG COWEK
SURABAYA (INSPIRASI DARI Q.S .AR RA’D AYAT 17) (Badrut Tamam1, Zainul Rahmawan2, Ahmad Sirajuddin3)
1,2 Program Studi S1 Teknik Elektro-Fakultas Teknologi Industri 3 Program Studi S1 Sistem Informasi-Fakultas Teknologi Informasi
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Kampus ITS Keputih Sukolilo-Surabaya
ABSTRAK
Setiap tahun nelayan ikan asin selalu mengalami kerugian karena hujan. Dalam Q.S. Ar-Ra’d ayat 17 dijelaskan bahwa hujan diturunkan menurut ukurannya dan logam dapat dijadikan suatu alat. Dari Q.S. Ar-ra’d ayat 17 tersebut kami terinspirasi untuk membuat suatu alat yang dapat membantu nelayan mengatasi masalah saat hujan tiba. Yakni E-FISHER (Electric Fish Dryer), sebuah alat pengering ikan yang dapat digunakan saat hujan maupun saat malam hari karena tidak bergantung pada sinar matahari. Pengeringan dengan alat ini diatur sehingga didapat pengeringan yang sesuai Standar nasional Indonesia (SNI). E-FISHER ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi nelayan ikan asin sehingga peningkatan dari sektor ekonomi juga akan meningkat. Metode yang digunakan adalah dimulai dengan pengumpulan data, lalu pemrosesan data, perancangan dan penghitungan sistem, pengumpulan alat dan bahan, pembuatan alat, proses uji dan analisa, dan terkahir kesimpulan. Dengan inovasi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi ikan asin dan kualitas ikan yang telah diproduksi oleh nelayan ikan asin tradisional, sehingga ikan asin dapat memiliki nilai jual tinggi di pasaran dengan menggunakan metode pengawetan penggaraman elektrik yang efisien dan ramah lingkungan
Kata kunci: Nelayan, Thermoelectric, efisiensi produksi, ikan asin ABSTRACT
iv traditional fishermen of salted fish, so that the salted fish that may have high sales value in the market by using a preservation method of salting electrically-efficient and environmentally
1
PENDAHULUAN Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan panjang pesisir pantai terbesar ke dua, yakni dengan jumlah pulau mencapai 18.306 dan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 km (DKP, 2008). Dengan luas teritori laut tersebut tentunya tersimpan potensi perikanan yang besar di dalamnya, sehingga tidak heran jika produksi perikanan Indonesia tangkap meningkat pesat. Berdasarkan laporan FAO Year Book 2012, Indonesia telah menjadi negara produsen perikanan dunia, di samping China, Peru, USA dan beberapa negara kelautan lainnya. Produksi perikanan tangkap maupun perikanan budidaya di Indonesia meningkat sebesar 10,09% setiap tahunnya (BPS, 2015). Pada tahun 2011 berada pada peringkat ke-3 dunia dengan jumlah tangkapan sebesar 5.707,7 ribu ton, dan berada pada peringkat ke-4 sebagai negara produsen perikanan budidaya dunia dengan jumlah produksi sebesar 2.718 ribu ton. Hingga pada tahun 2014 produksi perikanan Indonesia sebesar 14,52 juta ton (Menteri Perikanan dan Kelautan, 2015). Peningkatan ini berdampak pada sektor perkenomian Indonesia yang ditandai dengan meningkatnya nilai ekspor produk perikanan Tiongkok hingga mencapai kenaikan sebesar 7,47% dibanding tahun 2014 atau senilai US$ 141,1 (Transformasi, 2016).
Kondisi demikian telah merepresentasikan perintah Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 14 tentang eksplorasi hasil laut. Allah SWT memerintahkan agar memanfaatkan potensi laut baik pemanfaatan ikan yang ada di dalamnya maupun pemanfaatan perhiasan-perhiasan laut yang ada (Rizky, 2016). Sehubungan dengan pemanfaatan potensi ikan yang cukup meningkat produksinya. Proses pengolahan dan pengawetan ikan menjadi salah satu bagian penting dari mata rantai industri perikanan. Hal ini dikarenakan hasil perikanan merupakan komoditas yang mudah mengalami proses kemunduran mutu dan pembusukan (Elieser, 2015).
Salah satu produk pengawetan dan pengolahan ikan yang banyak terdapat di indoneisa adalah ikan asin. dalam skala nasional, ikan asin merupakan salah satu produk perikanan yang mempunyai kedudukan penting, hal ini dapat dilihat bahwa hampir 65% produk perikan masih diolah dan diawetkan dengan cara penggaraman (Arfianto dan Liviawaty, 1989). Pemerintah Indonesia telah menetapkan ikan asin sebagai salah satu dari sembilan bahan pokok masyarakat. hal ini menunjukkan bahwa ikan asin tidak hanya digemari oleh masyarakat ekonomi kelas bawah, tetapi juga kelas menengah dan atas. (Astamawan, 1997). Namun permasalahan cuaca yang tidak mendukung (produktivitas menurun) dan kebersihan ikan yang kurang terjamin menjadi permasalahan umum yang sering dialami oleh para nelayan dalam proses pengolahan ikan asin (Daud, 2004).
2
dengan bantuan sinar matahari secara langsung. Namun jika cuaca mendung akan mengakibatkan ikan menjadi busuk dan kebersihan ikan kurang terjamin. Di samping itu, metode ini kurang efektif. Karena nelayan selalu bergantung penuh pada sinar matahari untuk mengeringkannya, sehingga proses pengeringan ikan hanya bisa dilakukan pada pagi sampai sore hari atau selama ada sinar matahari. Kondisi demikian bisa menjadi penghalang bagi nelayan ikan asin untuk menjemur ikan. Bahkan, nelayan ikan asin selalu mengalami kerugian saat hujan tiba (Pikiran-rakyat.com, 2016).
Al-Quran sebagai kitab petunjuk bagi manusia selalu memberikan solusi atas problematika umat termasuk permasalahan efsisiensi produksi perikanan, khususnya ikan asin. Salah satu isyarat dalam Al-Quran yang dapat dijadikan sebagai solusi adalah seperti yang termaktub dalam QS. Ar-Raa’d: 17. Sehingga berdasarkan pengkajian yang termaktub dalam ayat tersebut baik dalam kaca mata tafsir, ilmiah yang diperkuat dengan penelitian penelitian terdahulu, maka kami merancang sebuah alat pengering ikan berbasis thermoelectric sebagai solusi alternatif proses pengeringan ikan yang ramah lingkungan dalam upaya mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat nelayan, yakni E-Fisher (Electric
Fish Dryer) yang diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pendapatan nelayan
ikan asin.
Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas dalam karya tulis Al-Qur’an ini adalah: 1. Bagaimana Kajian Al-Quran Surat Ar-Ra’d: 17 yang dapat dijadikan inspirasi
dalam hal pengolahan ikan asin yang inovatif?
2. Bagaimana desain alat E-FISHER ( Electric Fish Driyer )
3. Bagaimana efisiensi serta pengaruh E-FISHER terhadap produksi perikanan dan kualitas ikan ?
Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari karya tulis ini adalah:
1. Untuk mengetahui Kajian Al-Quran Surat Ar-Ra’d: 17 sehingga dapat dijadikan inspirasi dalam hal pengolahan ikan asin yang inovatif?
2. Mengeathui prinsip dasar serta cara kerja E-FISHER ( Electric Fish Driyer ) 3. Untuk mengetahui pengaruh E-FISHER ( Electric Fish Driyer ) terhadap hasil
produksi perikanan dan kualitas ikan Manfaat
Manfaat dari karya tulis ini adalah: 1. Bagi Akademisi
a. Meningkatkan kreatifitas dalam pengembangan teknologi b. Mengaplikasikan disiplin ilmu di jurusan
2. Bagi Masyarakat (Nelayan)
3
b. Mampu menstabilkan dan meningkatkan pendapatan harian masyarakat (nelayan)
3. Bagi Pemerintah
a. Memberikan solusi alternatif pengeringan ikan berbasis teknologi b. Sebagai referensi green technology di Indonesia
METODE PENULISAN Pengumpulan Data
Pada tahap ini kami melakukan studi literatur dan survei lapangan. Sumberyang digunakan dalam tahap studi literatur yaitu Al-Qur’an dan Hadits, jurnal, karya tulis yang telah ada, serta informasi di internet.Tahap survei lapangan yakni mengambil informasi yang diperlukan dengan terjun langsung ke lapangan, yaitu ke Desa Kedung Cowek, Kenjeran, Surabaya.
Pemrosesan Data
Pada tahap ini dilakukan pemrosesan data baik dari hasil studi literatur maupun data yang diperoleh dari Desa Kedung Cowek sendiri. Data tersebut kemudian dirumuskan menjadi sebuah ide mengenai teknologi yang tepat untuk mejawab permasalahan terkait teknik pengeringan ikan.
Perancangan dan Penghitungan Sistem
Perancangan sistem ditujukan untuk mendapatkan desain sistem pengeringan ikan yang optimal. Perancangan sistem terdiri dari sistem pengering menggunakan thermoelectric, pengatur suhu, dan sistem sirkulasi udara untuk mencegah terjadinya proses penjenuhan air pada permukaan ikan asin. Sedangkan, penghitungan sistem meliputi penghitungan laju pengeringan dan panas yang diperlukan untuk mengeringkan ikan.
Pengumpulan Alat dan Bahan
Pendataan alat dan bahan sesuai tingkat kebutuhan. Pemilihan komponen ditinjau dari segi harga dan kualitas barang yang digunakan. Peralatan utama yang dibutuhkan antara lain thermoelectric TEC1-12706, heatsink, kipas, thermostat, kabel, aluminium triplek, kaca, karet, baja profil siku.
Pembuatan Alat
Pembuatan alat dimulai dengan membuat kerangka dan rak pengering dengan dimensi sesuai perhitungan. Kemudian pemasangan sistem pemanas
(thermoelectric, heatsink, dan kipas)pada posisi yang telah ditentukan.
Proses Uji dan Analisa
4
Kesimpulan
Dari analisa yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan apakah
E-Fisher memiliki manfaat bagi nelayan ikan asin ditinjau dari segi ekonomi dan
aspek lainnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kajian QS. An-Nahl: 14 Mengenai Pengolahan Ikan dan Pemanfaaatan Potensi Laut
“Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya
kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 14).
Ayat ini menyatakan bahwa Allah SWT menundukkan lautan dengan segala jenis kenakaragaman potensi yang dimilikinya. dan segala potensi kelautan telah dijadikan Allah demikian agar kamu dapat daripadanya daging yang segar (ikan) dan sebangsanya dengan cara yang baik, yakni baik dengan cara menangkap, mengolah hasil tangkpan ikan termasuk di dalamnya yakni pengolahan ikan asin,
dan kamu dapat mengeluarkan, yakni mengupayakan dengan cara
bersungguh-sungguh untuk mendapatkan darinya, yakni dari laut itu perhiasan yang kamu
pakai, seperti permata, mutiara dan semacamnya (Shihab, 2010).
Kajian QS Ar-Raa’d :17 Sebagai Inspirasi Pemanfaatan Sifat Panas pada
Thermoelectric untuk Alat Pengering Ikan yang Ramah Lingkungan
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang
5
membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”(QS. Ar-Ra’d : 17)
Ayat ke 17 surat Ar-Raa’d termasuk ayat Madaniyyah, yaitu ayat yang diturunkan setelah hijrah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam . dalam Tafsir Ibnu Katsir ayat tersebut menjelaskan dua buah perumpamaan (amtsal) yang dibuat untuk menggambarkan yang hak dan yang batil. Dalam ilmu amtsal Al Quran, dijelaskan bahwa ayat ini merupakan jenis Amtsal musharrahah, yakni sesuatu yang dijelaskan dengan lafazh matsal atau sesuatu yang menunjukkan tasybih (penyerupaan). Berkaitan dengan amtsal dalam Al-Qur’an, menurut Kuntowijoyo kandungan Al-Qur’an terbagi menjadi dua bagian, Bagian pertama berisi konsep-konsep dan bagian kedua berisi kisah-kisah sejarah dan amtsal. Bagian pertama dimaksudkan untuk membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai sejarah islam, sedangkan bagian kedua dimaksudkan sebagai ajakan perenungan untuk memperoleh hikmah (Kuntowijoyo, 1991).
Mengenai matsal ayat ini, terdapat hikmah dan inspirasi yang dapat diperoleh. dikemukakan dalam firman-Nya: anzala minas samaa-i maa-an (“Allah telah menurunkan air dari langit.”) Maksudnya air hujan. Dari tahun ke tahun, para nelayan ikan asin selalu mengalami kerugian akibat hujan. Itu disebabkan karena nelayan tidak bisa menjemur untuk mengeringkan ikan mereka. Kerugian itu seharusnya tidak terjadi jika merujuk pada QS. Ar-Ra’d ayat 17 selanjutnya. Fasalat audiyatum biqadariHaa (“Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.”) yakni masing-masing lembah-lembah mengambil air sesuai dengan ukurannya. Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah menurunkan air hujan dari langit menurut ukurannya. Di ayat lain dijelaskan bahwa Allah menurunkan hujan tujuannya adalah sebagai rizki bagi manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam al-Qur'an surah al-Baqoroh ayat 22. Sehingga ini mengisyaratkan bahwa hujan diturunkan sebagai rizki bagi manusia sesuai dengan ukurannya, bukannya sebagai musibah seperti yang dialami para nelayan ikan asin.
Penggalan ayat selanjutnya dijelaskan wa mimmaa yuuqiduuna ‘alaiHi
fin naaribtighaa-a hilyatin au mataa’in bahwa dari apa (logam) yang mereka
lebur dalam api untuk membuat suatu perhiasan atau alat-alat. Berdasarkan tafsir
Al Misbah telah dijelaskan bahwa api awalnya bersifat panas, Yakni dari penjelasan tersebut, sifat api (panas) bisa dijadikan suatu perhiasan dan alat –alat. Pada konteks ini kami mengibaratkan alat-alat sebagai E-Fisher, yakni alat pengering ikan. Di samping itu, penggalan ayat dan dari apa (logam) yang
mereka lebur dalam api (panas) menjadi inspirasi sebuah teknologi
thermoelectric yang memiliki sifat panas yang dapat dimanfaatkan sebagai
6
larangan Allah untuk berbuat kerusakan di bumi seperti yang dijelaskan pada QS. Al-A’raaf ayat 56.
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orangorang yang berbuat baik (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat di atas menerangkan bahwa larangan untuk berbuat kerusakan dimuka bumi, seperti merusak lingkungan termasuk mencemari lingkungan.
Desain Alat dan Prinsip kerja
Alat pengering pada prinsipnya menggunakan efek peltier pada
thermoelectric cooler sebagai media pemanas. Thermoelectric ini jika diberikan
sumber tegangan yang sesuai maka akan timbul perbedaan suhu (delta) yang mencolok pada tiap sisinya sebesar 35˚C. Konfigurasi suhu pada tiap sisi dapat diatur dengan mengatur delta pada tiap sisinya.
Desain pada gambar 1 (halaman 6) menunjukkan bahwa pada alat pengering ini terdapat rak penyimpanan ikan, sistem pemanas dengan
thermoelectric, movable wheel, dan sirkulasi udara yang terpasang pada alat
pengering.
Gambar 1. Desain Alat Pengering Ikan (Sumber: Desain Pribadi)
Skema Kerja Alat Pengering Ikan
E-Fisher memiliki prinsip kerja seperti Air Conditioner (AC), bedanya,
jika pada AC yang disirkulasikan adalah udara dingin, pada E-Fisher yang dihembuskan adalah udara panasnya. Secara lengkap, daya listrik dari PLN
Sistem Pemanas
Sistem Sirkulasi
Udara
Rak Ikan
7
digunakan untuk mengaktifkan thermoelectric cooler (TEC1-12706) untuk menghasilkan perbedaan suhu antar kedua sisi berlainan. Plat pertama mengahadap ke dalam ruang pengering untuk menghasilkan suhu yang lebih tinggi, dan plat kedua dibagian luar dengan suhu yang lebih rendah. Plat pertama atau plat yang lebih panas dikopel dengan heatsink sebagai penyerap panas dan dikopel dengan kipas untuk menghembuskan udara panas. Sedangkan, plat kedua hanya dikopel dengan heatsink. Mengatur suhu bagian luar untuk mendapatkan suhu ruang yang dinginkan. Berdasarkan teori, selisih suhu antar sisi
thermoelectric cooler dilihat pada datasheet TEC1-12706 dimana nilai selisih
antara bagian panas dan dingin adalah 35˚C. Pada gambar 2 terlihat bahwa penyusunan thermoelectric cooler secara paralel dan disambungkan dengan
thermostat. Sedangkan, modifikasi thermoelectric cooler sebagai sistem pemanas
dapat dilihat pada gambar 3 (halaman 7).
Gambar 2.Skema Kerja Pengering
Gambar 3. Modifikasi Thermoelectric Cooler (Sumber: Desain Pribadi)
Perhitungan Dimensi Alat Pengering
Nelayan Kenjeran rata-rata mendapat 30 kg/hari. Biasanya, ikan yang ditangkap adalah ikan skala kecil dengan panjang 10 cm, lebar 3cm, tebal 1 cm dan berat 50 gram/ikan. Asumsi bahwa ikan yang ditangkap dan dijadikan ikan memiliki ukuran yang sama, maka estimasi jumlah ikan yang ditangkap adalah 600 ikan. Dari data diatas, luas ikan masing-masing adalah 30 cm2, dan luas total
600 ikan adalah 18000 cm2.Dengan menggunakan 3 rak, maka masing-masing rak
memiliki luas 6000 cm2. Berdasarkan spesifikasi kondisi pasar, dimensi pengering
yang mendekati adalah dengan panjang 110 cm, lebar 70 cm dan tinggi total 160 cm, dengan jarak antar rak 40 cm.
Temperature Control
Thermoelectric Cooler
Sisi Suhu Tinggi Sisi Suhu Rendah
Kipas DC 12V Heatsink
8
Perhitungan dan Perencanaan Alat Pengering Ikan a. Kadar Air
Kadar air ikan basah = 78%; Kadar air ikan kering = 20% (SNI 01-2721-1992). Banyak air dalam 30 Kg dalam ikan basah (ma) = 58%*30 = 17,4 Kg.
Banyak air yang harus dikurangi = 58%*17,4 = 10,092 Kg. Penurunan kadar air ikan selama proses pengeringan adalah (a) Kadar air akhir (%basis kering) = [(ma)/(ma+mikan)]x100% = [17,4/(17,4+30)] = 36,7%. (b) Kadar air awal (%basis
basah) = [ma/mikan]x100% = [17,4/30]x100% = 58%.
b. Lama Pengeringan
Dari hasil kadar air, maka perhitungan laju pengeringan adalah dW/dt = (Wo-Wf)/Δt = (58%-36,7%)/1 jam = 21,3%/jam atau 21,3%/jam x 30 Kg = 6,39
Kg/jam. Sehingga, lama pengeringan yang untuk mengeringkan ikan 30 Kg adalah 30/6,39 = 4,7 jam.
c. Panas yang Digunakan untuk Menaikkan Suhu Produk (Qp) mikan = 30 Kg
d. Panas yang Digunakan untuk Menguapkan Air (Qu) mu = banyak air yang harus dikurangi =
10,092 Kg/jam H
fg= Panas laten penguapan
= 56 kJ/Kg Qu = mu.Hfg = 10,092.56 = 565,152 kJ/jam
e. Panas Ruang Pengering (Qr)
Qr = Qp + Qu = 1290,072 kJ/jam. Dan, kalor yang digunakan selama 4,7 jam adalah 1290,072x4,7 = 6063,3384 kJ.
f. Kalor yang Diserap Dinding Plat (Qs) mpl = Massa Plat Luar {p(A.T)} Qs = mpl.Cp.dT = (98,55).(0,215).(20) = 423,765 kkal = 1779,813 kJ g. Kalor yang Digunakan Keseluruhan (Qt)
Kalor ini merupakan kalor yang diperlukan untuk mengeringkan ikan selama 4,7 jam. Sehingga,
Qt = Qr + Qs = 6063,3384 + 1779,813 = 7843,1514 kJ
h. Daya dan Biaya yang Dikeluarkanuntuk 30 Kg Ikan Selama 4,7 jam (Pt) Daya yang digunakan untuk mengaktifkan empat sistem pemanas (Pp) adalah 12 V x 3 A x 4 = 144 W. Sehingga, daya total (Pt) adalah
Pt = Pp + Qt/t = 144 W +(7843,1514/4,7) kJ/jam
= 144 W+ 1668,755617 kJ/jam = 0,144 kW + 6007,5 kW = 6007,644 kW
9
= (6007,644 kW).(Rp. 560/kWh).(4,7 jam) = Rp. 15.812,740
Analisis Prediksi Implementasi dan Dampaknya Terhadap Nelayan Ikan Asin di Pesisir Pantai Kedung Cowek Surabaya
a. Efisiensi Penghasilan dan Produksi Perikanan Asin
Ketika alat pengering ikan E-Fisher ini diterapkan secara nyata, maka akan diperoleh keuntungan bagi nelayan ikan asin tradisional di kawasan Kenjeran. Keuntungan tersebut meliputi penghematan biaya operasional dan waktu, serta peningkatan kualitas ikan jika dibandingkan selama ini mereka menggunakan cara konvensional. Efisiensi penghematan dan peningkatan kualitas tersebut akan berdampak pada kenaikan produktivitas penghasilan nelayan Kenjeran sehingga kualitas hidup merekapun secara ekonomi akan terangkat pula. Perbandingan penggunaan alat pengering ikan E-FISHER dengan metode konvensional yang selama ini digunakan para nelayan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan Metode Konvensional, Pengering dengan Elemen Pemanas, dan Pengering dengan Thermoelectric
Metode Konvensional Dengan Elemen Pemanas E-FISHER Lama pengeringan
bergantung pada intensitas sinar matahari, bisa sampai 3 hari bahkan lebih
Lama pengeringan bergantung pada daya yang digunakan, untuk 12
Tidak memerlukan biaya
khusus Untuk 12 Kg ikan, perlu biaya Rp. 10.332 (Pinem,
Rapi secara penataan Rapi secara penataan
b. Optimalisasi Kearifan Lokal Kawasan Kedung Cowek sebagai Sentra Industri Sektor Perikanan
Sektor perikanan menjadi pondasi utama untuk menopang perekonomian masyarakat pesisir Kedung Cowek. hal ini dikarenakan produk perikanan memiliki potensi produksi yang terus meningkat setiap tahunnya. Potensi yang besar harus sejalan dengan kualitas pengolahan yang baik sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi masayarakat pesisir Kedung Cowek.
c. Kemandirian Ekonomi Masyarakat Nelayan Kedung cowek
10
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis permasalahan dan tujuan yang akan dicapai, didapatkan dua kesimpulan sebagai berikut:
1. Sesuai Q.S. Ar Ra’d ayat 17, kerugian nelayan ikan asin akibat hujan bisa diatasi dengan suatu alat, salah satunya adalah dengan E-FISHER.
2. E-FISHER merupakan alat pengering ikan yang dapat mengeringkan ikan
sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang standar ikan asin kering yang efektif dari segi waktu pengeringan.
UCAPAN TERIMAKASIH
Dalam terselesaikannya KTA ini, kami sebagai penulis menyampaikan terimakasih kepada:
1. Allah SWT yang telah memberikan kami nikmat iman, sehat, kesempatan, dan nikmat-nikmat lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
2. Orang tua kami masing-masing yang selalu mendukung kami dari belakang.
3. Dr. Ir. Suwadi, MT. yang telah membimbing kami.
4. Teman-teman dan senior yang selalu memberi semangat dan do’a kepada kami.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan Terjemahannya. 2009. “Al-Alim edisi Ilmu
Pengetahuan‟.Bandung: PT Mizan Pustaka
Ariefianto, Rizky Mendung Dkk. 2016. Thermoelectric For Fish Cooling. Islamic Paper KINI
BSN. 2009. Keputusan Kepala Badan Standardisasi Nasional Nomor 76/KEP/BSN/8/2009 Tentang Penetapan 57 (Lima Puluh Tujuh) Standar
Nasional Indonesia. Jakarta
DKP. 2008. Urgensi RUU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau
Kecil.Artikel on-line Dinas Kelautan dan Perikanan.
Eviyanti. 2016. Kurang Terik Matahari, Sebagian Produksi Ikan Asin Berhenti
Produksi. Cilacap : Pikiran-rakyat.com
FAO Yearbook. 2012. Fishery and Aquaculture Statistics. Rome
Kuntowijoyo. 1991. Paradigma islam : interpretasi untuk aksi. Bandung: Mizan. Pinem, Muhamad daud. 2004. Rancang Bangun Alat Pengering ikan Teri
Kapasitas 12 Kg/Jam. Jurnal Teknik Simetrika Vol. 3 No. 3
Shihab, M Quraish. 2010. Tafsir Al Misbah. Jakarta: Lentera Hati
Transformasi. 2015. Indonesia Urutan Ke-7 Eksportir Perikanan ke Tiongkok.