Komitmen Dan Kompetensi Pekerja Sosial
Untuk Bekerja Dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Dan Keluarga
Ign. Dhart a Ranu Wijaya
Every human being has int rinsic value. All persons have a right t o w ell-being, t o self-fulfilment and t o as much cont rol over t heir own lives as is consist ent w it h t he right s of ot hers.
Brit ish Associat ion of Social Workers’ Code of Et hics for Social Work’s (2002: p2)
Abstrac
Children wit h Special needs creat e w idespread problem s im pact ing 1,48 biilions children in Indonesia. They oft en experience bot h short -t erm and long-t erm effect s in t heir physical healt h, m ent al, em ot ional and cognit ive developm ent , social adjust m ent , and spirit ual and econom ic w ell-being. Children w it h Special Needs are a vulnerable, at -risk populat ion t hat requires t he at t ent ion of t he social w ork profession. Working w it h t his populat ion upholds t he profession’s core values of social just ice, dignit y and w ort h of t he person, im port ance of hum an relat ionships, int egrit y and com pet ence, and t he et hical principles delineat ed in t he Code of Et hics of t he Nat ional Association of Social Workers.
The st rengt hs and needs of Children w it h Special Needs are diverse, com plex, and unique. Each individual is influenced by his or her st age of hum an developm ent and level of individual abilit y, as w ell as by fam ily funct ioning, social support s, and social cont ext . Operat ing from a social just ice perspect ive, social w orkers endeavor t o em pow er people, and t o alleviat e oppression and econom ic inequit y. Social w orkers also address problem s in people’s lives in t he cont ext of t he social environm ent . Social w ork pract ice has t he pot ent ial t o have a profound influence on t he lives of Children w it h Special Needs.
PENDAHULUAN
Anak Berkebut uhan khusus adalah kum pulan ist ilah yang digunakan unt uk m enjelaskan anak dengan ham bat an/ gangguan fisiik at au int elekt ual yang m em but uhkan bant uan dan peralat an t ert ent u unt uk m em fasilit asi pendidikan m ereka. (Friel, J. 1997). Secara nasional dat a ABK di Indonesia ada 1,48 jut a at au 0,7 persen (BPS 2005) dari jum lah penduduk. Usia sekolah, 5-18 t ahun, ada 21,42 persen, at au 317.016 anak. ABK yang sudah m em eroleh layanan pendidikan baik di sekolah m aupun inklusif baru 28.897 at au 26,15 persen. Dat a it u berart i ada 234.119 at au 73,85 persen ABK di Indonesia yang belum sekolah. Sement ara jumlah t ot al Sekolah Luar Biasa (SLB) ada 1.311 sekolah, dengan st at us negeri 23 persen, at au 301 sekolah. Sw ast a 77 persen, at au 1.010 sekolah, hal ini m enunjukkan bahw a dalam penyelenggaraan pendidikan bagi ABK m asih belum m endapat kan perhat ian yang layak. Sebarannya juga belum m erat a, cenderung t erpusat di Jaw a saja. Jat im (302), Jabar (203), dan Jat eng (109).
dan kom pet ensi, sert a prinsip-prinsip yang dikandung dalam kode et ik pekerjaan sosial (NASW, 1999).
Pot ensi-pot ensi dan kebut uhan-kebut uhan perkem bangan ABK sangat beragam , kom pleks, dan unik. Individualit as m ereka dipengaruhi oleh t ahapan perkem bangan, level kem am puan individual, keberfungsian keluarga, dukungan-dukungan sosial, dan kont eks sosial m ereka. M elalui perspekt if keadilan sosial, seorang pekerja sosial akan m em prom osikan dan m endukung sem ua orang unt uk m endapat kan kesem pat an dan kesam aan hak dalam set iap sendi-sendi kehidupan mereka. Pekerja Sosial juga m engident ifikasikan persoalan-persoalan yang m uncul dalam kehidupan berm asyarakat . Prakt ik pekerjaan sosial berpot ensi m em beri pengaruh yang baik bagi kehidupan para ABK.
Para pekerja sosial berprakt ik dalam kom unit as dan set t ing-set t ing int ervensi yang bervariasi dan secara ideal, m ereka berusaha m engident ifikasikan dan m engakom odasikan kebut uhan ABK dan keluarganya. Bekerja secara efekt if bersam a ABK dan keluarganya m enunt ut adanya pem aham an m engenai kondisi alamiah ABK dan bagaim ana kondisi it u m em baw a dam pak bagi individu-individu dalam keluarga. Kesadaran t erhadap nilai-nilai individu dan pengalam an-pengalaman bersama ABK juga akan berpengaruh t erhadap sikap dan t indakan seorang pekerja sosial. Int ervensi dan rencana kegiat an dapat dilakukan dalam berbagai bent uk, m isalnya: m em bant u keluarga m em aham i kondisi alam iah dari kebut uhan khusus anak dalam ‘belajar’, m engem bangkan perspekt if orang t ua t erhadap perilaku anak, m elindungi anak yang dit elant arkan at au disakit i oleh orang t uanya, m enyediakan inform asi bagi keluarga m engenai berbagai layanan yang berkait an dengan kekhususan anak, dan inform asi-inform asi yang berhubungan dengan proses t ransisi sert a rencana m asa depan.
CAKUPAN PERM ASALAHAN: HAM BATAN-HAM BATAN DAN KONDISI-KONDISI KEKHUSUSAN
Berbagai kebut uhan anak dalam set iap proses perkem bangan dan belajar w ajib diakom odasikan dalam proses pendidikan di sekolah m aupun di dalam kelas. Kebut uhan khusus ini m engacu pada berbagai kesulit an yang m ungkin m uncul dalam sist em perkem bangan individu dan pendidikan anak secara m enyeluruh; baik dalam proses perkem bangan dan belajar m aupun yang m uncul dari individu sendiri sehingga m enghalangi bert em unya sist em dan kebut uhan individu unt uk berkem bang dan belajar. Penyebab ham bat an perkem bangan dan belajar yang sering diident ifikasikan diant aranya, adalah:
1. Kecacat an
Pengert ian m engenai kecat at an berkait an dengan defisit yang dialam i oleh individu sehingga ket idakm apuan/ gangguan yang dialam i kem udian dapat disebut sebagai ham bat an dalam belajar. Ham bat an-ham bat an t ersebut m eliput i: gangguan visual, pendengaran, bicara, kognit if, fisik, m edis, dan psikologis.
2. Bahasa dan kom unikasi,
3. Ket erbat asan pem aham an dan ket erlibat an keluarga,
Hal-hal yang sering menim bulkan ket erbat asan dan m inim nya ket erlibat an keluarga diant aranya adalah: orang t ua yang t erbiasa m enggunakan bahasa lisan sement ara ada anggot a keluarga yang m engalam i kesulit an berbahasa lisan, kesulit an akibat kondisi t ert ent u yang t erjadi pada salah sat u anggot a keluarga yait u ket unanet raan sem ent ara orang t ua t idak m engert i Braille, m inim nya inform asi-inform asi yang diberikan kepada orang t ua m engenai perkem bangan anak, kesulit an orang t ua m em aham i perilaku dan em osi anaknya, t idak dilakukannya asesm en dan rencana m asa depan yang dilakukan ahli dalam m em bant u orang t ua, m inim nya dukungan bagi anak yang lahir dari keluarga yang m engalami HIV/ AIDS, dan m asih adanya pem aham an um um bahw a hanya orang t ua saja yang harus ber t anggung t erhadap anak-anak m ereka.
4. Sosio-Ekonom i
Bebagai ham bat an yang disebabkan oleh fakt or sosial dan ekonom i dapat disebut kan, m isalnya: kem iskinan, but a huruf, dam pak alkohol dan kekerasan, disfungsi dan perilaku ant i sosial, keham ilan usia dini, jum lah keluarga yang t erlalu besar, t erlam bat at au sam a sekali t idak pernah sekolah, dsb.
5. Sikap
Ham bat an ut am a adalah adanya sikap negat if dan penolakan t erhadap keragam an/ perbedaan dalam m asyarakat sehingga mencipt akan berbagai diskriminasi t erhadap suku, kelas, kem am puan , jender , budaya, agam a, kecacat an dan sebagainya.
6. Peluang yang t idak seim bang ant ara program pendidikan dan kesem pat an kerja
M asih t erbat asnya program-program belajar yang berkesesuaian dan berkesinam bungan dengan pot ensi-pot ensi individual yang unik, m inim nya berbagai peluang dan alt ernat if belajar sepanjang hidup, dan hubungan yang kurang ideal ant ara pendidikan dan indust ri sehingga t erbat as adanya berbagai akses dan peluang bekerja.
Kondisi-Kondisi Kekhususan
Anak Berkelainan dan Anak Berkebut uhan Khusus lainnya dapat berart i; salah sat u at au lebih dari kondisi-kondisi di baw ah ini:
1. Tunanet ra 2. Tunarungu 3. Tunaw icara 4. Tunagrahit a 5. Tunadaksa 6. Tunalaras
7. Berkesulit an Belajar 8. Lam ban Belajar 9. Aut ist ik
10. Gangguan M ot orik
11. Korban penyalahgunaan narkoba dan at au psikot ropika 12. HIV dan AIDS
13. Kelainan lainnya
14. Kelainan fisik, em osional, int elekt ual, m ent al dan at au sosial dapat berw ujud gabungan yang
disebut Tunaganda (RPP Penyelenggaraan & Pengelolaan, Juli 2006).
Sem ent ara beberapa fakt a um um yang m enunjukkan seringnya dit em ui kasus-kasus anak berkelainan dan anak berkebut uhan khusus lainnya dapat dit em ukan dan dibaca di
a) Autisme dan spektrumnya
Gangguan perkem bangan aut ism e dan spekt rum nya m uncul sebelum usia 3 t ahun dan akan m engikut i sepanjang hidup. Beberapa anak yang m engalami aut isme dapat m enunjukkan gejalanya di usia aw al perkem bangannya (sejak bayi). Lainnya m ungkin baru t erlihat set elah berusia 2 t ahun. Anak lainnya dapat berkem bang secara ‘norm al’ hingga usia 2 t ahun kem udian perkem bangannya berhent i at au hilang sama sekali.
Anak dengan aut ism e besert a spekt rum nya m ungkin m enunjukkan:
•
usia 12 t ahun t idak m erespon ket ika nam anya dipanggil•
usia 14 bulan t idak m am pu m enunjuk pada sesuat u yang m enarik m inat (pesaw at t erbang di angkasa)•
usia 18 bulan t idak m am pu berm ain pura-pura•
m enghindari kont ak m at a dan t erlihat selalu m enyendiri•
m engalam i kesulit an m engenali perasaan orang lain at au menyam paikan perasaannya sendiri•
m enunjukkan adanya ket erlam bat an bahasa dan bicara•
m engulangi suara-suara t ert ent u (babbling), kat a-kat a at au dialog-dialog t ert ent u dari apa yang didengarnya (echolalia)•
m em berikan jaw aban yang t idak relavan bila dit anya•
m udah cem as dan frust rasi t erhadap perubahan-perubahan kecil•
m enunjukkan perilaku obsesif pada hal-hal yang dim inat i•
m engepak-kepakkan t angan, berput ar, at au m enggoyang-goyangkan t ubuhnya•
m enunjukkan respon yang unik t erhadap suara, bau, r asa, penam pilan, dan perasaanb) Cerebral Palsy (CP)
Cerebral m enunjukkan adanya kait an dengan ot ak sem ent ara palsy berart i adanya kelem ahan at au persoalan dalam m enggerakkan ot ot . Jadi CP adalah kelom pok gangguan perkem bangan yang m em pengaruhi kem am puan individu unt uk bergerak, m enjaga keseim bangan dan post ur t ubuh akibat luka di otak m aupun akibat adanya gangguan perkem bangan. Seringkali CP t erjadi sebelum kelahiran at au segera set elah kelahiran. Terdapat berbagai m acam kondisi CP yang dapat dialam i anak; bisa t erlihat bergerak sangat kaku, lem as, at au sam a sekali t idak dapat bergerak dan berjalan. Tanda ut am a adanya CP adalah t ert unda at au gagal dalam mencapai perkem bangan m ot orik yang norm at if.
Anak dengan CP m ungkin m enunjukkan:
Balit a usia 2 bulan yang m em unjukkan adanya CP, m ungkin akan:
•
kesulit an m engont rol kepala bila diangkat•
adanya kekakuan pada kaki yang selalu m enyilang bila diangkat•
balit a usia 6 Bulan dengan CP:•
kesulit an m engont rol kepala bila diangkat t erus berkem bang•
m eraih dengan sat u t angan, sem ent ara t angan yang lain m engepal•
balit a usia lebih dari 10 Bulan dengan CP:•
m erayap dengan sat u t angan dan kakinya karena t angan dan kaki lainnya digunakan unt uk m endorong•
t idak m am pu duduk sendiriLebih dari 12 bulan:
•
t idak m am pu m erangkak dan berdirinya dengan bant uanc) Gangguan Penglihatan
Berart i bahw a visus seseorang t idak dapat dikoreksi hingga level ‘norm al’. Gangguan ini sangat bervariasi pada anak. Dapat t erjadi akibat kerusakan pada mat a sendiri at au adanya persoalan di ot ak. Bayi dapat lahir t anpa kem am puan m elihat at au dapat juga kem am puan penglihat an ini hilang kapan saja dalam t ahun-t ahun perkem bangan individu. Usia-usia yang pent ing unt uk m em eriksakan penglihat an pada seorang dokt er m at a (opht halm ologist ) adalah: begit u lahir hingga 3 bulan, 6 bulan hingga 1 t ahun, 3 t ahun, dan 5 t ahun.
Gangguan Penglihat an m ungkin t erjadi bila:
•
t ert ut upnya salah sat u m at a•
selalu m elirik unt uk m elihat•
m engeluh sulit m elihat at au segala sesuat unya kabur•
kesulit an m em baca at au m elihat segala sesuat unya secara dekat dan diarahkan ke m at a•
selalu berkedip ket ika m em baca•
salah sat u m at a juga bisa t erlihat m enyilang (juling)•
salah sat u at au kedua m at a berair•
salah sat u at au kedua kelopak m at a t erlihat m erah at au m enjorok ke dalam .d) Gangguan Intelektual
Dulu dikenal sebagai ret ardasi ment al, nam un instilah ini t ergant ikan dengan ist ilah yang lebih halus, yait u: int elect ual disabilit y. Isit ilah ini m enggam barkan adanya ket erbat asan individu dalam belajar dan m encapai level perkem bangan yang diharapkan sert a keberfungsiannya dalam kehidupan sehari-hari. Level gangguan bervariasi dari ringan – sedang – hingga berat . Anak dengan gangguan ini akan m engalam i kesulit an m enyam paikan perasaan dan keinginannya pada orang lain sert a kurang m am pu meraw at dirinya sendiri. Perkem bangannya t erlihat lam bat dibandingkan individu lain seusianya sehingga m em but uhkan w akt u yang panjang unt uk belajar bicara, berjalan, berpakaian, m akan sendiri, dan juga m engalam i kesulit an di sekolahnya. Kondisi ini dapat t erjadi kapan saja, sejak lahir hingga sebelum usia 18 t ahun. Penyebabnya m ungkin luka at au penyakit di ot ak sert a penyebab lain yang um um adalah sindrom Dow n, sindrom akibat alkohol selam a keham ilan, kondisi genet is, dan infeksi sebelum kelahiran. Nam un banyak, kasus gangguan int elekt ual pada anak sebabnya t idak diket ahui.
Gangguan int elekt ual um um nya sem akin m udah t erlihat bila kondisi yang dialam i sem akin berat (parah), nam un sulit dit ent ukan bagaim ana pengaruhnya di kem udian hari. Kem ungkinan t anda yang dapat t erlihat pada anak:
•
duduk, m erangkak, at au berjalan lebih lam a dibandingkan anak-anak seusianya•
t erlam bat m enunjukkan kemam puan berbicara at au m alah kesulit an unt uk berbicara•
sulit m engingat segala sesuat unya•
sulit m em aham i at uran sosial•
sulit m elihat dan m em aham i setiap hasil dari perbuat annya•
ket idakm am puan mem ecahkan persoalane) Gangguan Pendengaran
prem at ur dan kekurangan berat badan, at au yang m engalami infeksi selam a di dalam rahim ibu dapat m engalami gangguan pendengaran. Fakt or genet ik juga menunjukkan peluang 50% kejadian sehingga beberapa anggot a keluarga mungkin ada lebih dari sat u anggot anya yang kehilangan kem am puan mendengar. Sakit , kecelakaan, obat t ert ent u, suara yang keras, dapat m enyebabkan set iap individu m engalam i gangguan pendengaran. Beberapa penyebanya dapat dihindari, m isal: vaksinasi dapat m encegah t erjadinya infeksi t ert ent u (m eningit is) sebab lain yang dapat dicegah adalah lahir kuning (jaundice) yait u dengan pencahayaan dan peraw at an lainnya unt uk m encegah bayi kuning.
Tanda-t anda at au gejala dari gangguan pendengaran sangat berbeda dari sat u anak dengan anak lainnya, sehingga kit a perlu segera periksakan bila:
•
sejak lahir hingga usia 4 bulan t idak pernah m encari atau m elihat pada sum ber suara yang diberikan•
usia 1 t ahun belum / t idak bicara sat u kat a, sepert i: ‘m am a’, ‘dada’, dsb.•
bila dipanggil nam anya akan m em balikkan kepala/ t ubuh bila m elihat t et api bila t idak m elihat tidak dapat m erespon, kondisi ini seringkali dianggap bahw a anak t idak perhat ian padahal m erupakan t anda kehilangan pendengaran baik secara parsial m aupun pem anen•
m ungkin dapat m endengar suara-suara t ert ent u t et api t idak m endengar suara-suara lainnyaf) Ganguan M emusatkan Perhatian dan Hiperaktivitas
M erupakan salah sat u gangguan neurobehavior yang sering t erjadi pada m asa anak-anak. Ada dua t ipe, sat u yang inat t ent ive sering disebut sebagai ADD (At t ent ion Deficit Disorder) dan t ipe lainnya adanya im pulsivit as dan disebut sebagai ADHD (At t ent ion Deficit / hyperact ivit y Disorder) . Um um nya diident ifikasikan pada usia aw al perkem bangan anak dan seringkali bert ahan hingga dew asa. Anak dengan gangguan m em usat kan perhat ian dan hiperakt ivit as m enunjukkan kesulit an unt uk berkonsent rasi dan m engkont rol dorongan perilakunya sehingga m ereka m ungkin m elakukan sesuat u t anpa berpikir hasil at au akibat yang akan t erjadi. Pada kasus t ert ent u kondisi ini dapat dit unjukkan dengan akt if yang berlebihan. Hal yang biasa t erjadi pada anak bila m ereka kurang m am pu berkonsent rasi dan m enjaga perilakunya, t et api pada anak dengan gejala at au t anda-t andanya berkem bang sem akin berat sehingga proses belajar m enjadi sem akin sulit .
Anak dengan ADHD m ungkin m enunjukkan:
•
sangat sulit unt uk fokus dan perhat ian dan seringkali terlihat m elam un•
t erilhat t idak m endengarkan•
m udah t erganggu (dist raksi) dari sat u kegiat an ke kegiat an lainnya di sekolah at au ket ika berm ain•
sering lupa•
selalu bergerak dan t idak bisa duduk t enang secara konsist en•
bicara t erlalu banyak•
bert indak dan berbicara t anpa berpikir•
sulit m enunggu giliran•
sering m enyela orang laing) Fetal Alcohol Spectrum Disorder (FASD)
disebut kan. FASD dikenal sebagai penyebab ut ama t erjadinya kelahiran bayi dengan gangguan int elekt ual. FASD, 100% dapat dicegah karena jika Ibu ham il t idak m engkonsum si alkohol m aka bayi yang akan lahir pun bebas dari FASD. Kondisi dan efek dari FASD ini juga sangat bervariasi pada set iap anak.
Anak dengan FASD m ungkin menunjukkan:
•
abnorm al pada w ajah, sepert i adanya celah diant ara bibir at as dan hidung (celah ini disebut philt rum )•
ukuran kepala yang kecil•
t inggi badan di baw ah rat a-rat a•
kurang berat badan•
koordinasi m ot orik yang buruk•
perilaku hiperakt ivit as•
kesulit an m em usat kan perhat ian•
kem am puan m engingat yang rendah•
kesulit an di sekolah (m at em at ika dan kesulit an belajar lainnya)•
ham bat an bahasa dan bicara•
gangguan int elekt ual at au IQ yang rendah•
kem am puan m em ecahkan m asalah yang rendah•
gannguan t idur dan m enghisap jari sepert i bayi•
gangguan penglihat an at au pendengaran•
gangguan pada fungsi hat i, ginjal, dan t ulangDeskripsi di at as t idak digunakan unt uk m enggant ikan diagnosa m edis m aupun asesm en dari disiplin-disiplin ilm u yang t erkait . Nam un dapat disam paikan bahw a ABK menunjukkan adanya ham bat an perkem bangan dan belajar yang m em pengaruhi proses akuisisi ket eram pilan m ereka secara nat ural. Kit a mem andang m ereka sebagai individu dengan individualit as yang unik sehingga dalam m elakukan int ervensi dan prakt ik pekerjaan sosial akan m engikut sert akan beberapa im plikasi berikut :
1) M em bant u para ABK dalam m em aham i individualit as individu lain yang t ipikal 2) M em buat dunia m enjadi lebih berart i bagi para ABK
3) M em bant u individu lain m em aham i individualit as ABK
KOM PETENSI-KOM PETENSI PEKERJA SOSIAL ANAK DAN KELUARGA
Tidak ada sat u jenis m et ode yang secara khusus m enjadi suat u int ervensi yang efekt if bagi sem ua ABK m engingat ham bat an-ham bat an dan pot ensi-pot ensi yang m ereka miliki sangat beragam . Para Pekerja Sosial w ajib berusaha m enggunakan dan mengem bangkan m et ode-m et ode yang secara em pirik t elah t erbukt i sebagai sebuah sist em int ervensi yang t elah t eruji. Pedom an-pedom an yang dapat disam paikan penulis dari hasil penelit ian m et a analisis dalam para pekerja sosial profesional dengan isu individu berkebut uhan khusus adalah:
a. Individu Berkebut uhan Khusus yang berusia di bawah 7 t ahun, obyekt ifit asnya ada pada peluang-peluang bersekolah (pendidikan inklusif).
b. Individu Berkebut uhan Khusus yang berusia di bawah 12 t ahun, obyekt ifit asnya ada pada program -program fisik yang adapt if (perm ainan, hobi, dan olah raga), mat em at ika adapt if (penggunaan uang dan pem aham an t ent ang w akt u), r ekreasi sert a hubungan pert em anan. c. Individu Rem aja dan Dew asa Berkebut uhan Khusus, obyekt ifit asnya ada pada persiapan
d. Individu Berkebut uhan Khusus yang m em but uhkan peraw at an kesehat an secara int ensif, obyekt ifit asnya ada bagaim ana m em bangun kesehat an fisik jangka panjang dan unt uk m endapat kan hasil t erbaik dalam peraw at an kesehat annya.
e. Individu Berkebut uhan Khusus dengan kesulit an belajar yang berat , obyekt ifit asnya ada pada bagaim ana m ereka dapat m em aham i persoalan perilaku dan m engat asi persoalan-persoalan perilaku.
Agar prakt ik pekerjaan sosial bersam a ABK dan keluarganya dapat dilaksanakan secara efekt if, m aka perlu dipahami kondisi-konsi alamiah dari setiap kekhususan individu dan bagaim ana kondisi it u berdam pak t idak hanya bagi individu yang bersangkut an t et api juga dalam kont eks keluarga sebagai sist em . Pekerja Sosial w ajib m enyadari nilai-nilai pribadi m ereka dan m em aknai set iap pengalam nnya dengan ABK dan keluarga dan m engenali pengaruh sit uasi-sit uasi pribadi yang m ungkin dialaminya dalam set iap sikap dan perbuat annya. Kom pet ensi-kom pent ensi yang dapat disebut kan unt uk bekerja secara efektif bersam a ABK dan Keluarga kem udian dapat disebut kan sebagai berikut :
1. M em aham i berbagai kondisi ABK t erm asuk di dalam nya penget ahuan mengenai: penyebab, pencegahan, perkem bangan, konsekuensi, dan upaya pem ulihan sert a peningkat an keberfungsian sosial m ereka
2. M em aham i aspek-aspek :biopsikososial, kult ural, dan m it os-mit os at au kepercayaan yang m em pengaruhi ABK dan keluarganya t erhadap t ahap-t ahapan perkem bangan kehidupan m ereka
3. M em aham i dam pak kehadiran ABK t erhadap pengasuhan dan konsekuensi-konsekuensi orang t ua kepada anak
4. M em aham i int erseksi ant ara eksist ensi ABK dengan, keluarga, kom unit as, pranat a sosial, dan m asalah kesejaht eraan sosial, m isalnya:
a) kekerasan dalam rum ah t angga (penyiksaan dan dit elant arkan) b) gangguan m ent al dan kesehat an
c) gangguan fisik
d) kriminalit as (kecenderungan m enjadi korban at au risiko t indakan krim inal) e) kem iskinan, pengangguran, dan t idak adanya t em pat t inggal
f) pendidikan dan peluang-peluang bekerja
g) kult ur sosial yang t idak adil (t idak t erbat as pada kecacat an saja)
5. M enghargai pent ingnya int ervensi dini dan upaya-upaya pencegahan berkem bangnya m asalah yang lebih besar bagi individu, keluarga, m aupun m asyarakat
6. Kem am puan unt uk bekerjasam a dan bersikap secara posit if dengan para orang t ua t anpa m enghakim i
7. Kem am puan m engident ifikasikan, m engevaluasi, dan m enggunakan hasil-hasil penelit ian t erbaru yang relevan dengan isu ABK dan keluarga
8. Kem am puan m engelaborasi t eori-t eori perkem bangan dan dukungan-dukungan em pirik dalam set iap int ervensi dengan ABK dan keluarga kemudian m engevaluasi efekt ifit asnya 9. M em aham i Konsep Resiliensi; bagaim ana fakt or-fakt or risiko dapat dit urunkan dan
bagaim ana mem prom osikan fakt or-fakt or prot ekt if pada ABK dan keluarga
10. Kem am puan m em bant u ABK m engident ifikasikan dukungan form al m aupun inform al bagi perkem bangan hidup m ereka yang posit if
11. Penget ahuan bagaim ana m engakses sum ber-sum ber form al dan inform al dalam m asyarakat bagi pem enuhan kebut uhan ABK dan keluarga
12. Kem am puan m elakukan proses referral yang t epat dalam m em berikan layanan dan dukungan bagi ABK dan keluarga
14. Kem am puan m em berikan advokasi secara individual dan kelem bagaan unt uk m em bant u ABK dan keluarga
M elalui berbagai kom pet ensi di at as m aka peran Pekerja Sosial Anak dan Keluarga di Indonesia dapat dit ingkat kan dan diperluas. Peran t ersebut dapat m eliput i (t et api t idak t erbat as) pada:
a. M enggunakan pengalam nnya sebagai seorang pekerja sosial unt uk melakukan sesi individual selam a 30 – 45 m enit set iap harinya bersam a dengan Anak dengan aut ism e, Anak dengan Dow n Syndrom e, Anak CP, Anak dengan hiperakt ivt as, Anak dengan Ket unarunguan, dsb. b. Bekerja sam a dengan profesi lain unt uk melakukan asesm en dan m eningkat kan st andar
layanan berbasis kom unit as bagi para ABK
c. M enulis dan m elakukakn asesm en sesuai nilai dan t eknik yang dianut oleh seorang Pekerja Sosial
d. M elakukan w aw ancara bersam a keluarga dalam proses asesm en dan penelit ian t erhadap berbagai sit uasi yang m ereka alami
e. M em berikan inform asi dan dukungan konseling bagi keluarga dan pengguna jasa layanan pekerjaan sosial
f. Berpart ispasi dan m engadakan pert em uan t im yang bersifat m ult idisiplin ilm u
g. M engorganisasikan dan m elakukan pelatihan-pelat ihan klinis bagi relaw an yang bekerja di pusat -pusat layanan t erapi, dan inst it usi t erkait lainnya
h. M elakukan w orkshop bagi keluarga unt uk m enyediakan inform asi m engenai bagaim ana berint eraksi dan m elakukan berbagai kegiat an bersama ABK
i. M eluangkan w akt u bersam a orang t ua ABK dan bersam a mereka m encari solusi dalam m engem bangkan berbagai perm ainan dan kegiat an produkt if lainnya bersam a anak
j. M engam bil peluang unt uk dapat m elakukan t ugas dan pekerjaan yang bukan core seorang pekerja sosial t et api diperlukan juga, m isalnya: penggalangan dana, pem esanan peralat an dan perlengkapan pendidikan bagi ABK
PENUTUP
M asih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan berkait an dengan isu ABK dan keluarga, w alaupun t erdapat kem ajuan yang m ulai m engarah pada kult ur sosial yang inklusif dan adil bagi sem ua. Nam un dem ikian penget ahuan dan kesadaran akan persoalan individu berkebut uhan khusus dalam prakt ik pekerjaan sosial harus selalu dit ingkat kan. Beberapa pokok pem ikiran yang kem udian dapat dirum uskan dalam t ulisan ini adalah:
1) Profesi Pekerjaan Sosial m em ainkan peran pent ing dalam penanganan m asalah Individu Berkebut uhan Khusus yang efekt if.
2) Int ervensi dini sangat pent ing di dalam kelom pok kecil dengan berbagai t ingkat kem am puan ABK karena m ereka m asih berada dalam t ahap perkem bangan form at if.
3) Perlunya st rat egi-st rat egi unt uk m engem bangkan akses dan part isipasi bagi ABK, misalnya: akses fisik unt uk bersekolah, akses akadem is dan kurikulum sert a dan pengajaran m elalui penyesuaian dan dukungan yang disesuaikan dengan kem am puan m ereka.
4) Prakt ik Pekerjaan Sosial dengan isu Anak dan Keluarga perlu dipahami sebagai bagian int egral dari reform asi sosial secara m enyeluruh.
5) Hukum dan kebijakan yang m endukung hak universal at as akses dan part isipasi yang set ara harus dit erapkan pada sem ua anak t erm asuk m ereka yang m emiliki kebut uhan khusus.
individu-individu berkebut uhan khusus di negeri ini. Selanjut nya Pekerjaan Sosial w ajib berperan unt uk m engem bangkan kapasit as dan m endidik kelompok-kelom pok dan organisasi-organisiasi yang m engakom odasikan kebut uhan ABK dem i m eningkat kan kesadaran m asyarakat .
BAHAN BACAN
1.
Am erican Academ y of Pediat rics Com mit t ee on Children w it h Disabilit ies. (1994). Screening infant s and young children for development al disabilities. Pediat rics.2. Ashm an, Adrian & John Elkins. (2005). Educat ing Children wit h Diverse Abilities. Aust ralia: Pearson Educat ion.
3. Benard, B. (1991). Fost ering resiliency in kids: Prot ect ive fact ors in t he family, school, and communit y. Port land, OR: Nort hw est Regional Educat ional Laborat ory.
4. Benard, B. & Truebridge, S. (2006). “ Building Resilency” : Workshop M at erials and School-Based St rat egies. Alexandria, Virginia USA.
5. Biro Pusat St at ist ik/ BPS. (2005). Dat a Susenas. 2005
6. Fam ularo, R., Kinscherff, R., & Fent on, T. (1992). Parent al subst ance abuse and t he nat ure of child m alt reat m ent . Child Abuse and Neglect .
7. Friel, J. (1997). Children Wit h Special Needs: Assessment , Law & Pract ice – Caught in t he Act s, (4t h edn. London: Jessica Kingsley.
8. Gilbert , Neil & Harry Specht (1986), Dimensions of Social Welfare Policy. New Jersey: Prent ice-Hall
9. Greer S, Bauchner H, Zuckerm an B. (1989). The Denver Development al Screening Test : how good is it s predictive validit y? Dev M ed Child Neurol.
10. ht t p:/ / w w w .cdc.gov/ ncbddd/ diakses t anggal 05 M ei 2010 jam 22.10 WIB.
11. Nat ional Associat ion of Social Workers. (1999). Code of Et hics of t he Nat ional Associat ion of Social Workers. Washingt on, D.C.
12. RPP. (Juli 2006). Penyelenggaraan & Pengelolaan, Pendidikan. 13. SIM Dit . PSLB. (2006). Dat a Sisw a SLB di Indonesia.
14. Sudjat m iko, E. (16 M ei 2010), “ M asih M inim nya Peluang ABK” , Indo Pos. Vance, E. & Sanchez, H. (1998). “ Creat ing a Service Syst em That Builds Resiliency” . M akalah NC Depart ment of Healt h and Human Services.