15 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN
2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian
Landasan teori ini menjabarkan teori-teori dan hasil kajian kepustakaan yang mendukung hipotesis serta berguna dalam analisis hasil penelitian. Landasan teori berisi pemaparan teori dan argumentasi yang disusun sebagai kerangka pemikiran dalam memecahkan masalah penelitian serta perumusan hipotesis.
2.1.1 Investasi
A. Pengertian Investasi
Investasi menurut Frank J. Fabozzi manajemen investasi adalah proses pengelolaan uang. Smith dan Skousen mengatakan, “Investing activities transaction and events the purchase and sale of securotoes (excluding cash
equivalents), and, building, equipment. And other asset not generally held for
sale, and the making, and collecting of loans. They are not classified as operating
activities, since they relate only indirectly to the central, ongoing operations ofentity.” (Fahmi, 2012: 2).
Menurut PSAK Nomor 13 dalam Standar Akuntansi Keuangan, investasi adalah suatu aset yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan kekayaan (accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seerti bunga, royalti, dividen, dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi, atau manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan
perdagangan. Persediaan dan aset tetap bukan merupakan investasi.
Lebih jauh PSAK Nomor 13 dalam Standar Akuntansi Keuangan per Oktober 2011 juga menjelaskan tentang beberapa pengertian berikut.
1. Properti (tanah atau bangunan atau bagian dari bangunan atau keduanya) yang dikuasai (oleh pemilik atau lessee melalui sewa pembiayaan) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai, atau kedua-duanya, dan tidak untuk:
A. Digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif; atau;
16
Dengan demikian, investasi dapat didefinisikan sebagai bentuk pengelolaan dana guna memberikan keuntungan dengan cara menempatkan dana
tersebut pada alokasi yang diperkirakan akan memberikan tambahan keuntungan (compounding).
B. Tujuan Investasi
Untuk mencapai efektivitas dan efisiensi dalam suatu keputusan, diperlukan ketegasan terhadap tujuan yang diharapkan. Begitu pula halnya dalam bidang investasi, kita perlu menetapkan tujuan yang hendak dicapai. Tujuan tersebut antara lain:
1. Terciptanya keberlanjutan (continuity) dalam investasi tersebut;
2. Terciptanya profit yang maksimum atau keuntungan yang diharapkan (profit actual);
3. Terciptanya kemakmuran bagi para pemegang saham; 4. Turut memberikan andil bagi pembangunan bangsa.
C. Bentuk-bentuk Investasi
Menurut Fahmi (2012: 4) Dalam aktivitasnya, secara umum investasi dikenal ada dua bentuk:
1. Investasi nyata.
Investasi nyata (real investment) secara umum melibatkan asset berwujud, seperti tanah, mesin-mesin, atau pabrik.
2. Investasi keuangan.
Investasi keuangan (Financial Investment) melibatkan kontrak tertulis, seperti saham biasa (common stock) dan obligasi (bond).
17
D. Tipe-tipe Investasi
Menurut Fahmi (2012: 4) ada 2 tipe investasi yaitu: 1. Investasi Langsung
Investasi langsung (direct investment) yaitu mereka yang memiliki dana dapat langsung berinvestasi dengan membeli secara langsung suatu aset keuangan dari suatu perusahaan yang dapat dilakukan baik melalui perantara atau berbagai cara lainnya.
b. Investasi Tidak Langsung
Investasi tidak langsung (indirect investment) adalah mereka yang memiliki kelebihan dana dapat melakukan keputusan investasi dengan tidak terlibat secara langsung atau pembelian aset keuangan cukup hanya dengan memegang dalam bentuk saham atau obligasi saja. Mereka yang melakukan kebijakan investasi tidak langsung umumnya cenderung tidak terlibat dalam pengambilan keputusan penting pada suatu perusahaan.
2.1.2 Teori Sinyal (signaling theory)
Menurut Gumanti (2009 : 11), teori sinyal menyatakan bahwa manajer (agen) atau perusahaan secara kualitatif memiliki kelebihan informasi dibandingkan dengan pihak luar dan mereka menggunakan ukuran-ukuran atau
fasilitas tertentu menyiratkan kualitas perusahaannya. Jika pemegang saham atau investor tidak mencoba mencari informasi terkait dengan sinyal, mereka tidak akan mampu mengambil manfaat maksimal.
Menurut Fahmi (2012 : 100) Teori sinyal (signaling theory) merupakan saah satu pilar dalam memahami manajemen keuangan. Secara teori signaling theory adalah teori yang membahas tentang naik turunnya harga di pasar, sehingga akan memberi pengaruh pada keputusan investor.
18
menyiratkan sesuatu dengan harapan pasar atau pihak eksternal akan melakukan perubahan penilaian atas perusahaan. Artinya, sinyal yang dipilih harus
mengandung kekuatan informasi (information content) untuk dapat merubah penilaian pihak eksternal perusahaan.
2.1.3 Pasar Modal
Menurut Sutedi (2013:71), pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Dalam menjalankan fungsinya, pasar modal dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Pasar Perdana
Pasar perdana adalah penjualan perdana efek oleh perusahaan yang menerbitkan efek sebelum efek tersebut dijual melalui bursa efek. Pada saat ini efek diperdagangkan dengan harga emisi dan bagi perusahaan yang menerbitkan sahamnya di pasar ini, akan memperoleh dana dengan menjual sekuritas, seperti saham dan obligasi. Dalam pasar perdana ini, saham (efek) yang ditawarkan kepada calon investor adalah saham yang baru diterbitkan oleh emiten sehingga harganya sudah pasti dan tidak boleh ditawar – tawar lagi.
2. Pasar Sekunder
Pasar sekunder adalah titik sentral kegiatan pasar modal karena pada pasar sekunder terjadi aktivitas perdagangan yang mempertemukan penjual dan pembeli efek. Pada pasar sekunder harga efek ditentukan berdasarkan kurs efek tersebut. Di pasar sekunder pihak yang terlibat di dalamnya hanyalah pihak – pihak yang menerbitkan efek (investor jual) dengan pihak – pihak yang membeli efek (investor beli) yang dalam segala aktivitasnya dilakukan oleh perantaranya masing – masing yang disebut dengan wakil perantara perdagangan efek.
3. Bursa Paralel
19
public memperjualbelikan efeknya jika dapat memenuhi syarat yang ditentukan pada bursa efek.
Menurut Kasmir (2010:62) yang mengatakan pasar modal juga lebih dikenal dengan nama pasar saham (the stock market), karena memang yang diperjualbelikan lebih banyak saham daripada obligasi. Di pasar saham, nilai saham ditentukan dengan kata lain bahwa tempat ini sangat menentukan nilai perusahaan, seperti tujuan dari manajemen keuangan. Kemudian di bursa saham (stock exchanges) diperjualbelikan dua macam bursa saham, yaitu:
1. Bursa Saham Formal
Bursa saham formal, merupakan bursa yang memiliki kesatuan fisik yang nyata, seperti memiliki gedung sendiri, anggota dan langganan resmi, yang dipimpin oleh suatu dewan pimpinan untuk masing – masing bursa. Contoh dari bursa saham formal adalah:
a. Bursa Efek Indonesia.
b. New York Stock Exchange (NYSE). c. American Stock Exchange (AMEX). 2. Bursa Saham Nonformal
Bursa saham nonformal, merupakan bentuk organisasi yang tidak nyata. Jual beli saham terjadi pada saat bersamaan dengan prinsip kerja lelang. Makelar saham (pialang/broker) memiliki dan menyimpan berbagai data sekuritas untuk
melayani investor yang mau membeli atau menjual sahamnya. Secara umum bursa saham nonformal diartikan sebagai semua fasilitas yang memungkinkan transaksi sekuritas di luar bursa saham formal. Yang terlibat dalam bursa saham nonformal ini meliputi:
a. Beberapa dealer yang menyimpan data sekuritas dan dianggap menguasai pasar sekuritas tersebut.
20
2.1.4 Saham
A. Pengertian Saham
Saham merupakan salah satu instrumen keuangan yang diperdagangkan dipasar modal yang paling banyak diminati masyarakat walaupun memiliki risiko yang besar. Keuntungan yang akan diperoleh dari penanaman modal dalam bentuk ini adalah dividen selain mendapatkan keuntungan berupa dividen para pemegang saham akan memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham (RUPS).
Menurut Fahmi (2012:80), saham adalah :
1. Tanda bukti penyertaan kepemilikan modal/dana pada suatu perusahaan 2. Kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, nama peusahaan dan diikuti
dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegangnya. 3. Persediaan yang siap untuk dijual
Sedangkan menurut Darmadji dan Fakhruddin (2011:5),saham adalah:
Saham (stock) dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atas perseroan terbatas. Berdasarkan pernyataan tersebut saham dapat dikatakan sebagai surat bukti pemilikan terhadap sebagian modal atau perseroan terbatas. Bagi investor, dengan memiliki surat bukti tersebut berarti ia sebagai pemilik perusahaan yang menerbitkan surat bukti tersebut dalam hal ini saham. Hal tersebut disebabkan
karena untuk mendapatkan surat bukti tersebut investor mengeluarkan dananya yang digunakan untuk kegiatan usaha perusahaan.
B. Analisis Saham
Menurut Darmadji dan Fakhrudin (2011:6) Untuk mengetahui pergerakan harga di bursa saham ada dua macam pendekatan, yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Analisis fundamental merupakan posisi kekuatan perusahaan (keuangan dan lain-lain) yang mempengaruhi harga saham dimasa depan. Sedangkan analisis teknikal/ teknis merupakan data dan catatan pasar masa lalu, yang dibaca investor sebagai prediksi harga masa depan.
21
nilai intrisik yang disebut juga nilai fundamental (fundamental value). Nilai intrisik adalah nilai sebuah perusahaan (atau sahamnya) berdasarkan analisis
fundamental, tanpa mengacu pada nilai pasar (atau harga saham). Strategi investor yang menggunakan analisis fundamental adalah sebagai berikut: beli saham perusahaan saat nilai intrisiknya tinggi, dan tahan saham bila nilai intrisiknya mendekati nilai pasar.
C. Jenis Saham
Dalam pasar modal ada dua jenis saham yang paling umum dikenal publik yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa (preferred stock). Dimana kedua jenis saham ini memiliki arti dan aturannya masing-masing. Saham menurut Fahmi (2012: 271-272) terbagi menjadi dua jenis yaitu:
1. Preffered stock (saham istimewa) adalah suatu surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal dimana pemegangnya akan memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk dividen yang akan diterima setiap kuartal (3 bulanan).
2. Common stock (saham biasa) adalah suatu surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dollar, yen dan sebagainya) dimana pemegangnya diberi hak untuk mengikuti RUPS dan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) serta berhak untuk
menentukan membeli right issue (penjualan saham terbatas) atau tidak, yang selanjutnya diakhir tahun akan memperoleh keuntungan dalam bentuk dividen. Saham biasa ini memiliki beberapa jenis, yaitu:
a. Blue chip-stock (saham unggulan), adalah saham dari perusahaan yang dikenal secara nasional dan memiliki sejarah laba, pertumbuhan, dan manajemen yang berkualitas. Saham-saham IBM dan Du Pont merupakan contoh blue chip.
b. Growth stock (saham pertumbuhan), adalah saham-saham yang diharapkan memberikan pertumbuhan laba yang lebih tinggi dari rata-rata saham-saham lain, dan karenanya mempunyai PER yang tinggi.
22
dengan dividen, pendapatan, dan kinerja pasar. Contoh perusahaan yang masuk kategori ini biasanya perusahaan yang produknya memang
dibutuhkan oleh publik seperti perusahaan yang produknya memang dibutuhkan oleh publik seperti perusahaan yang masuk kategori food and beverage, yaitu produk gula, beras, minyak, garam dan sejenisnya.
d. Cyclical stock (saham siklikal), adalah sekuritas yang cenderung naik nilainya secara cepat saat ekonomi lesu. Contohnya saham pabrik mobil dan real estate. Sebaliknya saham non siklis mencakup saham-saham perusahaan yang memproduksi barang-barang kebutuhan umum yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi, misalnya makanan dan obat-obatan.
e. Seasonal stock (saham musiman), adalah perusahaan yang penjualannya bervariasi karena dampak musiman, misalnya karena cuaca dan liburan. sebagai contoh, pabrik mainan memiliki penjualan musiman yang khusus pada saat musim natal.
f. Speculative stock (saham spekulatif), adalah saham yang kondisinya memiliki tingkat spekulasi yang tinggi. Yang kemungkinan tingkat pengembalian hasilnya rendah atau negatif. Ini biasanya dipakai untuk membeli saham pada perusahaan pengeboran minyak.
D. Harga Saham
23
penutupan (closing price) dari penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas yang berlaku secara reguler di
pasar modal di Indonesia Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2011:102), harga saham yang ada dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1. Harga Nominal
Harga nominal merupakan nilai yang tertera pada lembaran surat saham yang besarnya ditentukan dalam Anggaran Dasar Perusahaan. Harga nominal sebagian besar merupakan harga dugaan yang rendah, yang secara arbitrer dikenakan atas saham perusahaan. Harga ini berguna untuk menentukan harga “saham biasa yang dikeluarkan”. Besarnya harga nominal memberikan arti penting saham karena dividen minimal biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.
2. Harga Perdana
Harga ini merupakan harga yang dicatat pada bursa efek. Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian, akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untuk menentukan harga perdana.
3. Harga pasar
Harga ini merupakan harga yang ditetapkan di bursa efek bagi saham perusahaan publik atau estimasi harga untuk perusahaan yang tidak memiliki
saham. Dalam bursa saham, angka ini berubah setiap hari sebagai respon terhadap hasil aktual atau yang diantisipasi dan sentimen pasar secara keseluruhan atau sektoral sebagaimana tercermin dalam indeks bursa saham. Hal itu juga menunjukkan bahwa tujuan utama manajemen adalah menjamin harga sebaik mungkin dalam kondisi apapun.
Adapun beberapa istilah mengenai harga Menurut Rahardjo (2006:154) yang sering digunakan dalam perdagangan saham yaitu :
24
b. High yaitu posisi harga tertinggi dalam suatu periode perdagangan saham. Dalam posisi ini, ada kecenderungan banyak terjadi keinginan pembelian
daripada penjualan saham. Dengan demikian tren harga saham menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan dan tinggi pada waktu tertentu.
c. Low yaitu posisi harga saham yang paling rendah dalam suatu periode tertentu. Ini terjadi karena tren orang menjual saham lebih banyak dari minat belinya. Oleh karena itu, harga tertekan ke bawah.
d. Close yaitu harga terakhir/penutupan sebuah perdagangan saham pada periode tertentu. Istilah closing menjadi dasar berakhirnya transaksi perdagangan pada periode perdagangan tertentu. Closing price menjadi patokan harga pembukaan pada perdagangan selanjutnya.
2.1.5 Laporan Keuangan
A. Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi suatu perusahaan dimana selanjutnya itu akan menjadi suatu informasi yang menggambarkan kinerja perusahaan (Fahmi, 2011:22). Mengutip pendapat Farid dan Siswanto dalam Fahmi (2011:21) mengatakan “laporan keuangan merupakan informasi yang diharapkan mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat finansial”.
Lebih lanjut menurut Munawir dalam Fahmi (2011:21) mengatakan “Laporan keuangan merupakan alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.” Dengan begitu laporan keuangan diharapkan akan membantu bagi para pengguna (users) untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat financial.
25
pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
B. Bentuk-Bentuk Laporan Keuangan
Menurut Kasmir (2010:67-68), pada dasarnya laporan keuangan yang utama terdiri dari:
1. Neraca menunjukkan posisi keuangan-aktiva, utang, dan ekuitas pemegang saham suatu perusahaan pada tanggal tertentu, seperti pada akhir triwulan atau akhir tahun.
2. Laporan laba rugi menyajikan hasil usaha-pendapatan, beban, laba atau rugi per saham untuk periode akuntansi tertentu.
3. Laporan perubahan modal, merupakan laporan yang menggambarkan jumlah modal yang dimiliki oleh perusahaan saat ini.
4. Laporan arus kas memberikan informasi tentang arus kas masuk dan keluar dari kegiatan operasi, pendanaan, dan investasi selama suatu periode akuntansi.
5. Catatan atas laporan keuangan, merupakan laporan yang dibuat berkaitan
dengan laporan keuangan yang disajikan. Laporan ini memberikan informasi tentang penjelasan yang dianggap perlu atas laporan keuangan yang ada sehingga menjadi jelas sebab penyebabnya. Tujuannya agar pengguna laporan keuangan menjadi jelas akan data yang disajikan.
C. Metode dan Teknik Analsisis Laporan Keuangan
26
Menurut Munawir (2010:36-37), teknik analisis laporan keuangan terdiri dari :
1) Analisis Perbandingan Laporan Keuangan, adalah metode dan teknik analisis dengan cara memperbandingkan laporan keuangan untuk dua periode atau lebih, dengan menunjukkan:
a. Data absolut atau jumlah-jumlah dalam rupiah. b. Kenaikan atau penurunan dalam jumlah rupiah. c. Kenaikan atau penurunan dalam persentase. d. Perbandingan yang dinyatakan dalam rasio. e. Persentase dalam total.
Analisis dengan menggunakan metode ini akan dapat diketahui perubahan-perubahan yang terjadi dan perubahan mana yang memerlukan penelitian lebih lanjut.
2) Trend atau tendensi atau posisi dan kemajuan keuangan perusahaan yang dinyatakan dalam persentase (Trend Percentage Analysis), adalah suatu metode atau teknik analisis untuk mengetahui tendensi daripada keadaan keuangannya, apakah menunjukkan tendensi tetap, naik atau bahkan turun. 3) Laporan dengan persentase per komponen (Common Size Statement), adalah suatu metode analisis untuk mengetahui persentase investasi pada masing-masing aset terhadap total asetnya, juga untuk mengetahui struktur
permodalannya dan komposisi perongkosan yang terjadi dihubungkan dengan jumlah penjualannya.
4) Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, adalah suatu analisis untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan modal kerja atau untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya modal kerja dalam periode tertentu. 5) Analisis Sumber dan Penggunaan Kas (Cash Flow Statement Analysis),
adalah suatu analisis untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya jumlah uang kas atau untuk mengetahui sumber-sumber serta penggunaan uang kas selama periode tertentu.
27
7) Analisis Perubahan Laba Kotor (Gross Profit Analysis), adalah suatu analisis untuk mengetahui sebab-sebab perubahan laba kotor suatu
perusahaan dari suatu periode ke periode yang lain atau perubahan laba kotor dari suatu periode dengan laba yang dibudgetkan untuk periode tersebut.
8) Analisis Break Even, adalah suatu analisis untuk menentukan tingkat penjualan yang harus dicapai oleh suatu perusahaan agar perusahaan tersebut tidak mengalami kerugian, tetapi juga belum memperoleh keuntungan. Dengan analisis ini juga akan diketahui berbagai tingkat keuntungan atau kerugian untuk berbagai tingkat penjualan.
2.1.6 Analisis Rasio Keuangan A. Pengertian Rasio Keuangan
Menurut Fahmi (2011:44) rasio keuangan adalah suatu kajian yang melihat perbandingan antara jumlah-jumlah yang terdapat pada laporan keuangan dengan mempergunakan formula-formula yang dianggap representatif untuk diterapkan. Rasio keuangan atau financial ratio ini sangat penting gunanya untuk melakukan analisa terhadap kondisi keuangan perusahaan. Bagi investor jangka pendek dan menengah pada umumnya lebih banyak tertarik kepada kondisi keuangan jangka pendek dan kemampuan perusahaan yang membayar deviden
memadai. Informasi tersebut dapat diketahui dengan cara yang lebih sederhana yaitu dengan menghitung rasio-rasio keuangan yang sesuai dengan keinginan.
B. Manfaat dan Penggunaan Analisis Rasio Keuangan
Menurut Fahmi (2011:47) adapun manfaat yang bisa diambil dengan dipergunakannya rasio keuangan, yaitu:
1. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat menilai kinerja dan prestasi perusahaan;
2. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai rujukan untuk membuat perencanaan;
28
4. Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor dapat digunakan untuk memperkirakan potensi risiko yang akan dihadapi dikaitkan dengan
adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan pengembalian pokok pinjaman;
5. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak stakeholder organisasi.
C. Penggolongan Rasio
Menurut Fahmi (2011:51-70) rasio keuangan dapat dikelompokkan menjadi enam jenis yaitu:
1. Rasio Likuiditas yaitu kemampuan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu. Rasio ini terbagi menjadi Current Ratio, Quick Ratio (Acid Test Ratio), Net Working Capital Ratio, Cash Flow Liqudity Ratio.
2. Rasio Leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam kategori utang ekstrem yaitu perusahaan
terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut. Karena itu sebaiknya perusahaan harus menyeimbangkan berapa utang yang layak diambil dan darimana sumber-sumber yang dapat dipakai untuk membayar utang. Rasio leverage yang digunakan dipenelitian ini adalah Debt to Equity Ratio. Debt to Equity Ratio, merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Untuk mencari rasio ini dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas (Kasmir, 2010:112).
(2.2)
Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang. 3. Rasio Aktivitas adalah rasio yang menggambarkan sejauh mana suatu
29
maksimal dengan maksud memperoleh hasil yang maksimal. Rasio ini terbagi menjadi Inventory Turnover, Day Sales Outstanding, Fixed Assets Turnover,
Total Assets Turnover, Long Term Assets Turnover.
4. Rasio Profitabilitas adalah rasio yang mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Rasio profitabilitas yang digunakan di penelitian ini adalah Return On Equity. Profitabilitas dalam penelitian ini diukur dengan ROE merupakan hasil pengembalian atas ekuitas atau kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri atau ekuitas. (Fahmi, 2011:82)
(2.1)
5. Rasio Pertumbuhan yaitu rasio yang mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisinya didalam industri dan dalam
perkembangan ekonomi secara umum. Rasio pertumbuhan ini yang umum dilihat dari berbagai segi yaitu dari segi penjualan, Earning After Tax (EAT),
laba per lembar saham, dividen per lembar saham, dan harga pasar per lembar saham.
6. Rasio Nilai Pasar yaitu rasio yang menggambarkan kondisi yang terjadi di pasar. Rasio ini mampu memberi pemahaman bagi pihak manajemen perusahaan terhadap kondisi penerapan yang akan dilaksanakan dan dampaknya pada masa yang akan datang. Rasio nilai pasar yang digunakan di penelitian ini adalah Price Book Value (PBV). Dalam penelitian ini, PBV sebagai variabel independen. Price to Book Value (PBV) dihitung berdasarkan pembagian market value atau harga pasar (closing price) dengan book value suatu saham pada perusahaan. Perusahaan yang dipandang baik oleh investor yang artinya perusahaan dengan laba dan arus kas yang aman serta terus mengalami pertumbuhan dijual dengan rasio nilai buku lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan pengembalian yang rendah. (Brigham &
Houston, 2010:151)
30
2.2 Penelitian Terdahulu
2.2.1 Penelitian-penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu baik di Indonesia maupun di luar Indonesia yang mempunyai keterkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis sebagai landasan kerangka penelitian yang dapat dijadikan sebagai referensi bagi penulis adalah:
A. Penelitian I
Judul Penilitian : Impact of Dividend Policy, Earning per Share, Return on Equity, Profit after Tax on Stock Prices
Peneliti : Ahmed Imran Hunjra a, Muhammad Shahzad Ijaza, Muhammad Irfan Chani b, Sabih ul
Hassan a, dan Umer Mustafa Tahun penelitian : 2014
Objek penelitan : All 63 companies listed in Karachi Stock Exchange was used for period of 6 years from 2006 to 2011. Variable
a.Variable Dependen
b.Variable Independen
: : :
Stock Price
dividen policy, ROE, EPS, andProfit after tax.
Teknik Analisis Data : Ordinary least square regression model has been applied on Panel data approach.
Hasil Penelitian : The results indicate dividend yield and dividend payout ratio which are both measures of dividend
policy have significant impact on stock price.
Dividend yield is negatively related with stock price
and dividend payout ratio is positively related with
stock price which means that these results are
against dividend irrelevance theory. For other
independent variables profit after tax and earnings
per share have significant positive impact on stock
price and return on equity which shows positive
31
B. Penelitian II
Judul Penilitian : Analisis Rasio Profitabilitas Dan Risiko Keuangan Terhadap Harga Saham XL AXIATA TBK Yang Terdaftar Di BEI Periode 2007-2012
Peneliti : Indra Ricky Onibala, Parengkuan Tommy, dan Paulina Van Rate
Tahun penelitian : 2014
Objek penelitan : Populasi dari penelitian ini adalah XL Axiata Tbk dan sampelnya laporan keuangan XL Axiata Tbk. Variable
a. Variable Dependen b. Variable
Independen
: : :
Harga Saham
ROA, ROE, NPM, dan Risiko Kurs
Teknik Analisis Data : Metode Asosiatif
Hasil Penelitian : Hasil penelitian ini adalah ROA, ROE, NPM dan risiko kurs berpengaruh terhadap harga saham, baik secara simultan maupun parsial. Sebaiknya manajemen berupaya untuk meningkatkan nilai ROE sehingga investor menjadi lebih tertarik untuk berinvestasi karena nilai pengembalian aset perusahaan menjadi lebih tinggi.
C. Penelitian III
Judul Penilitian : Effect of Financial Performance Indicators on Market Price of Shares in Commercial Banks of
Kenya.
Peneliti : Peter Irungu Tahun penelitian : 2013
Objek penelitan : All Commercial Banks of Kenya. Variable
c.Variable Dependen
d.Variable Independen
: : :
Market Price of Shares
32
of liabilities, Cost to Income Ratio).
Teknik Analisis Data : Desktop Literature Surveys.
Hasil Penelitian : Bank size (total assets) influences market share price of listed commercial banks in Kenya. Size of
liabilities influences the market share price of listed
commercial banks in Kenya. Cost to income ratio
influences market share price of listed commercial
banks in Kenya.
D. Penelitian IV
Judul Penilitian : Pengaruh Faktor Faktor Fundamental Dan Risiko Sistematik Terhadap Harga Saham
Peneliti : Atika Rahmi, Muhammad Afran, dan Jalaluddin Tahun penelitian : 2013
Objek penelitan : Perusahaan-perusahaan bidang manufaktur, yang termasuk dalam Bursa Efek Indonesia periode 2007-2009.
Variable
e.Variable Dependen
f.Variable Independen
: : :
Harga Saham
Faktor Fundamental (EPS, Dividen Payout Ratio, NPM , BV, ROA, ROE, PER, dan DER).
Teknik Analisis Data : Analisis Regresi Linier Berganda.
Hasil Penelitian : (1) Faktor-faktor fundamental (earning per share,
price earning ratio, book value per share, dividend
payout ratio, debt to equity ratio, return on asset,
return on equity, net profit margin), dan risiko sistematik secara bersama-sama berpengaruh terhadap harga saham. (2) Secara parsial, Faktor-faktor fundamental (earning per share, price earning ratio, book value per share, dividend payout ratio,
debt to equity ratio, return on asset, return on equity,
33
positif terhadap harga saham.
B. Penelitian V
Judul Penilitian : Pengaruh EPS, DER, Dan PBV Terhadap Harga Saham
Peneliti : Putu Dina Aristya Dewi Tahun penelitian : 2013
Objek penelitan : Perusahaan yang dipilih adalah perusahaan yang bergerak di bidang food and beverages yang terdaftar di BEI pada periode tahun 2009-2011
Variable
g.Variable Dependen
h.Variable Independen
: : :
Harga Saham
EPS, DER, dan PBV.
Teknik Analisis Data : Analisis Regresi Linier Berganda.
Hasil Penelitian : Pengaruh EPS, PBV terhadap harga saham adalah signifikan positif, sedangkan pengaruh DER terhadap harga saham adalah signifikan negatif pada perusahaan Food and Beverage yang teregister di BEI dengan tahun pengamatan pada 2009-2011. Ketiga variabel independen yang digunakan pada penelitian ini EPS, DER, dan PBV bersama-sama berpengaruh signifikan bagi harga saham perusahaan di bidang Food and Beverage yang terdaftar di BEI dengan periode pengamatan pada 2009-2011
C. Penelitian VI
Judul Penilitian : Pengaruh Rasio Profitabilitas, DER, PBV, Dan PER Terhadap Harga Saham Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII).
Peneliti : Wendy Cahyono dan Sutrisno Tahun penelitian : 2013
Objek penelitan : Perusahaan yang dipilih adalah perusahaan yang berada dalam kelompok Jakarta Islamic Index
34
Teknik Analisis Data : Analisis Regresi Linier Berganda.
Hasil Penelitian : (1) Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara bersama-sama maupun secara parsial variabel NPM, ROA, ROE, EPS, DER, PBV, dan PER memiliki pengaruh terhadap Harga Saham. Sedangkan variabel yang paling berpengaruh dominan terhadap harga saham adalah EPS.
D. Penelitian VII
Judul Penilitian : Pengaruh Debt to Equity Ratio, Return on Equity, Earning Per Share, dan Price Earning Ratio Terhadap Harga Saham (Studi Pada Perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di BEI pada tahun 2008-2011).
Peneliti : Astrid Amanda, Darminto, dan Achmad Husaini Tahun penelitian : 2012
Objek penelitan : Perusahaan yang dipilih adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008-2011.
Teknik Analisis Data : Analsisi deskriptif dan Analisis Regresi Linier. Hasil Penelitian : Berdasarkan hasil analisis pada penelitian ini
35
yang signifikan terhadap harga saham. (3) Variabel ROE berpengaruh signifikan harga saham dengan
arah positif. (4) Variabel EPS menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan positif terhadap harga saham. (5) Variabel PER tidak perpengaruh signifikan terhadap harga saham.
E. Penelitian VIII
Judul Penilitian : Pengaruh Current Ratio, Return on Equity, Return on Asset, Earning Per Share Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Food and Beverages yang Go Public di BEJ
Peneliti : Ali Maskun
Tahun penelitian : 2012
Objek penelitan : Perusahaan yang dipilih adalah perusahaan Food and Beverages yang go public di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2006-2010.
Variable g. Variable
Dependen
h. Variable Independen
: :
:
Harga Saham
Current Ratio, Return on Equity, Return on Asset,
Earning per Share.
Teknik Analisis Data : Analisis Regresi Linier Berganda.
Hasil Penelitian : Dari penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa Rasio lancar (X1), Return on Equity (X2), tidak berpengaruh terhadap harga saham (Y). Sementara Return on Asset (X3), Earning Per Share (X4) berpengaruh terhadap harga saham (Y).
2.2.2 Persamaan dan Perbedaan dengan Penelitian Sebelumnya
36
Tabel 2.1
38
39
2.3.1 Return on Equity terhadap Harga Saham
Menurut Brigham dan Houston (2010:146) ROE merupakan rasio yang
penting bagi pemilik perusahaan (The Common Stockholder), rasio ini menunjukkan
tingkat kembalian yang dihasilkan oleh manajemen dari modal yang disediakan oleh
pemilik perusahaan. ROE menunjukkan keuntungan yang akan dinikmati oleh
pemilik saham. Rasio ini berguna untuk mengetahui efisiensi manajemen dalam
menjalankan modalnya, semakin tinggi ROE berarti semakin efisien dan efektif yang
di investasikannya terhadap perusahaan lebih baik serta dapat memberi pengaruh
positif bagi harga sahamnya di pasar sehingga memungkinkan untuk harga saham
meningkat. Hasil penelitian Rescyana Putri Hutami (2012) menunjukkan bahwa ROE berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.
2.3.2 Debt to Equity Ratio terhadap Harga Saham
Debt to equity ratio, merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. (Kasmir, 2010:112). Semakin tinggi debt to equity ratio maka perusahaan akan semakin berisiko, karena dengan debt to equity ratio yang tinggi akan menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan hutang yang banyak untuk menambah ekuitasnya, yang menunjukkan perusahaan memiliki hutang yang besar, sehingga perusahaan memiliki risiko yang tinggi dalam pembayaran hutangnya. Sehingga sebagian besar laba yang di dapat oleh perusahaan akan digunakan untuk pembayaran hutang dan bunga yang memberikan ekspektasi investor dalam pengembalian dividen perusahaan sangat kecil sehingga investor tidak ingin berinvestasi di dalam perusahaan tersebut, juga kemungkinan investor akan mendapatkan deviden yang kecil karena perusahaan akan mendahuluan hutangnya dan bunganya daripada memberikan deviden sehingga memungkinkan harga saham untuk menurun. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa debt to equity ratio mempunyai pengaruh negatif terhadap harga saham. Hal ini
didukung dengan penelitian Atika Rahmi, Muhammad Arfan, dan Jalaluddin (2013) yang menyatakan apabila DER meningkat makan harga saham menurun.
2.3.3 Price to Book Value terhadap Harga Saham
40
harga pasar saham dengan nilai buku saham sering digunakan oleh investor karena melalui rasio ini investor dapat mengetahui seberapa besar pasar percaya
terhadap prospek perusahaan kedepannya karena rasio ini memberikan indikasi pandangan investor atas perusahaan melalui perbandingan antara harga pasar dengan nilai buku saham perusahaan. Perusahaan yang dipandang baik oleh investor, artinya perusahaan dengan laba dan arus kas yang aman serta terus mengalami pertumbuhan dijual dengan rasio nilai buku yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan dengan pengembalian yang rendah (Brigham dan Houston 2010:151). Apabila nilai PBV tinggi berarti mencerminkan pasar semakin percaya dengan prospek perusahaan kedepannya. Menurut penelitian terdahulu Putu Dina Aristya Dewi (2013) dinyatakan bahwa Price Book Value berpengaruh signifikan positif terhadap harga dan return saham, yang menandakan setiap kenaikan PBV akan meningkatkan harga dan return saham.
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Penelitian
Variabel Independen Variabel Dependen
Keterangan : Parsial Simultan
Price to Book Value 𝑋3 Return On Equity 𝑋1
Debt To Equity Ratio 𝑋2
41
2.4 Hipotesis Penelitian
Dalam penelitian ini ada beberapa hipotesis yang akan diuji berdasarkan
tinjauan pustaka serta tinjauan tentang penelitian terdahulu, yaitu:
1. Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), dan Price to Book Value (PBV) memiliki pengaruh signifikan secara simultan terhadap harga saham sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di BEI periode tahun 2011 –2014.
2. Return on Equity (ROE) memiliki pengaruh signifikan ke arah positif terhadap harga saham sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di BEI periode tahun 2011 –2014.
3. Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh signifikan ke arah negatif terhadap harga saham sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di BEI periode tahun 2011 –2014.
4. Price to Book Value (PBV) memiliki pengaruh signifikan ke arah positif terhadap harga saham sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi di BEI periode tahun 2011 –2014.
2.5 Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada emiten sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam kurun waktu
antara tahun 2011-2014. Perusahaan yang masuk dalam perhitungan emiten sektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi secara berturut-turut selama periode 2011-2014 diharapkan dapat memberikan data yang maksimal untuk membantu penelitian mengenai hargasaham ini.
42
Dengan menggunakan data penelitian dari website resmi Bursa Efek Indonesia, yaitu www.idx.co.id Lokasi penelitian yang dipilih pada Bursa Efek