Kasus Pembunuhan Dikaitkan dengan Teori Hukum Alam
A. Pendahuluan
Kasus ini berawal dari sengketa tanah waris di Nusa Tenggara Timur dengan Penggugat Ny. Jance Faransina Mooy-Ndun selanjutnya akan disingkat Ny. JFMN, beliau mengklaim tanah yang dikuasai para tergugat adalah miliknya hasil warisan dari ayahnya Tuan Jermias Ndoen yang telah meninggal. NY. JFMN mengklaim bahwa beliau adalah anak kandung sekaligus ahli waris yang sah atas harta peninggalan ayahanda nya. Terdapat beberapa tanah yang merupakan peninggalan ayahandanya. Pengadilan Negeri (PN) Rote Ndao mengabulkan sebagian gugatan penggugat, yakni menyatakan Ny. JFMN adalah ahli waris ayahnya, namun Pengadilan Tinggi membatalkan putusan itu dengan dasar hukum adat setempat mengenal dan menganut sistem kewarisan patrilineal murni. Artinya, yang berhak mewarisi adalah anak laki-laki. Kalau tak ada anak laki-kali, keluarga tersebut harus mengangkat anak laki-laki saudaranya (dalam kaum adat setempat dikenal dengan “dendi anak kelambi”).
Hukum adat waris di Indonesia sangat dipengaruhi oleh prinsip garis keturunan yang berlaku pada masyarakat yang bersangkutan, baik itu patrilineal murni, patrilineal beralih-alih, matrilineal bilateral, ataupun unilateral.1 Berdasarkan pengaruh dari prinsip garis keturunan yang berlaku pada masyarakat itu sendiri, maka yang menjadi ahli waris tiap daerah akan berbeda. Masyarakat yang menganut prinsip patrilineal seperti Batak, Nias, yang merupakan ahli waris hanyalah anak laki-laki, demikian juga di Bali. Berbeda dengan masyarakat di Sumatera Selatan yang menganut matrilineal, golongan ahli waris adalah tidak saja anak laki-laki tetapi juga anak perempuan. Masyarakat Jawa yang menganut sistem bilateral, baik anak laki-laki maupun perempuan mempunyai hak sama atas harta peninggalan orang tuanya.
Dalam kasus ini masyarakat setempat menganut sistim kekeluargaan patrilineal murni, sehingga pada perkara ini Ny. JFMN dinyatakan tidak
1 Soerjono Soekanto, Hukum Adat Indonesia (Jakarta: PT.RajaGrafindo Indonesia Persada,
berhak atas tanah peninggalan ayahnya oleh tergugat. Ny. JFMN mengajukan kasasi ke tingkat mahkamah agung. Mahkamah Agung membatalkan putusan banding tersebut yang termaktub dalam putusan kasasi No. 1048 K/Pdt/2012. Majelis hakim agung dipimpin Prof. Rehngena Purba – beranggotakan Prof. Takdir Rahmadi dan Nurul Elmiyah— berpendapat bahwa hukum adat yang tidak mengakui hak perempuan setara dengan kedudukan laki-laki tidak dapat dipertahankan lagi. Hukum adat yang demikian melanggar hak asasi manusia (UU No. 39 Tahun 1999) dan yurisprudensi MA No. 179K/Sip/1961.
B.
Feminist Jurisprudence
Feminist legal theory atau feminist jurisprudence adalah sebuah filsafat hukum yang didasarkan pada kesetaraan gender dibidang politik, ekonomi dan sosial. Feminist Legal Theory didasarkan pada pandangan gerakan feminist bahwa dalam sejarah, hukum merupakan instrumen untuk melanggengkan posisi wanita dibawah subordinasi kaum pria. Sejarah yang ditulis kaum pria telah menciptakan bias dalam konsep kodrat manusia, potensi dan kemampuan gender, serta dalam pengaturan masyarakat. Dengan menyatakan ke- pria-an sebagai norma, maka ke wanita an adalah deviasi dari norma dan hal ini merupakan hegemoni dalam konsep dan penguatan hukum dan kekuasaan patriakal.
Budaya patriaki tersebut memunculkan apa yang disebut dengan diskriminasi terhadap gender, dimana kedudukan wanita atau perempuan dalam hukum dan masyarakat dianggap setingkat atau bahkan beberapa tingkat lebih rendah dari kedudukan pria atau laki-laki. Padahal sebagaimana disebutkan dalam sebuah adagium equality before the law, yaitu kedudukan setiap orang adalah sama di hadapan hukum tanpa membedakan gender, ras, status sosial seseorang, dan lain sebagainya.
diciptakan atau dibentuk secara sosial bukan secara biologis. Gender menentukan penampilan fisik, kapasitas reproduksi, tetapi tidak menentukan ciri-ciri psikologis, moral atau sosial. Dengan kata lain, feminist jurisprudence
mencoba untuk mempelajari hukum dari sudut pandang wanita dan berdasarkan pada teori-teori feminist.
Dalam perjalanannya, feminist jurisprudence membongkar dan menjelaskan bagaimana hukum memainkan peran untuk melegalkan status wanita dalam posisi subordinasi pria, dengan kata lain hukum menjadi sarana untuk melestarikan status quo yaitu dominasi pria atas kaum wanita. Selain itu, feminist jurisprudence juga berusaha untuk melakukan perubahan / transformasi merubah status kaum wanita dengan merubah hukum dan pendekatannya dan pandangannya terhadap perkara gender menjadi lebih adil dan berimbang. Ini adalah proyek emansipatoris kaum wanita dibidang hukum. Sehingga pada akhirnya Feminist jurisprudence mempengaruhi pemikiran hukum dalam setiap bidang hukum, diantaranya hubungan rumah tangga (domestic relations) seperti perkawinan, perceraian dan keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, pekerjaan, pelecehan sexual, hak-hak sipil, perpajakan, hak asasi manusia dan hak-hak reproduksi.
C.
AnalisisKasus Kewarisan Patrilineal Murni Dikaitkan
dengan Aliran Feminisme
Jika ditilik lebih dalam pada kasus ini, putusan mahkamah agung ini sangat realistis dan menjunjung tinggi asas persamaan kedudukan dalam hukum atau equity before the law, bahwa aliran patrilineal murni tidak tepat dalam menyelesaikan persengkataan ini, Ny. JFMN sebagai anak sah dari pewaris berhak mendapatkan bagiannya dan hak nya sebagai anak yang ditinggalkan oleh ayahandanya. Oleh karena beliau memiliki gender wanita, bukan berarti hak-hak atas dirinya dicabut dan disubordinasikan dibawah kaum lelaki.
menurut Galanter terdapat 11 karakteristik dari masyarakat modern, sebagai berikut:2
1. Hukum Modern terdiri dari peraturan-peraturan yang seragam dan tidak bervariasi dalam penerapannya. Aturan ini lebih bersifat territorial daripada individual sehingga peraturan diterapkan pada seluruh anggota.
2. Hukum modern bersifat transaksional. Hak-hak dan kewajiban lebih merupakan hasil transaksi-transaksi (kontraktual, sanksi ,Kriminal, dsb) antara para pihak.
3. Norma hukum modern bersifat universal. Penemuan-penemuan aturan hukum ditujukan utuk menyederhanakan standar yang sah dari penerapan hukum, bukan untuk menunjukan hal yang unik.
4. Sistem Aturannya berhirarki, terdapat jaringan kerja.
5. Sistem diatur secara birokrasi, hal ini ditujukan untuk menciptakan keseragaman dan dibuat aturan tertulisnya. 6. Sistem yang rasional, prosedurnya adalah melalui
tindakan/teknik-teknik yang dapat dipelajari dan disebarkan terhadap tindakan non-rasional.
7. Sistem dijalankan dengan profesional, ditempati oleh orang-orang pilihan yang sesuai dengan klasifikasi pekerjaannya 8. Sistem menjadi teknis dan kompleks
9. Sistem yang dapat diubah, sistem nya mengandung metode-metode umum dan dinyatakan secara terbuka dalam aturan-aturan yang di revisi dan prosedur-prosedur untuk memenuhi tuntutan perubahan atau untuk mengekspresikan perubahan pilihan.
10. Sistem bersifat politis, hukum berhubungan dengan negara sehingga negara memonopoli penyelesaian seluruh sengketa.
11. Kegiatan menemukan hukum dan penerapannya pada kasus-kasus konkrit dibedakan secara personal dan teknis pada
fungsi pemerintahan, baik legislative, yudikatif dan eksekutif merupakan fungsi yang terpisah.
Dari kesebelas ciri tersebut dapat dilihat bahwa hukum modern terdiri dari peraturan-peraturan yang bersifat seragam, artinya peraturan-peraturan atau putusan yang dibuat tidak bervariasi dalam penerapannya. Aturan ini bersifat menyeluruh, artinya tidak ada ketidak seimbangan antara subyek hukum yang satu dengan yang lainnya. Selain karakteristik tersebut, Galanter juga menyebutkan bahwa hukum modern dicirikan dengan sistim hukum yang dapat dirubah atau diperbaiki. Dalam kasus ini sistem hukum yang dipakai masyarakat setempat adalah sistim hukum patrilineal yaitu mengikuti garis keturunan dari garis laki-laki sehingga anak perempuan tidak berhak atas harta warisan ayahnya, namun putusan pengadilan yang membatalkan putusan pengadilan tinggi atas sistem hukum tersebut merupakan pengubahan sistem hukum dengan cara pengubahan metode-metode umum dan dinyatakan secara terbuka dalam aturan yang di revisi untuk memenuhi tuntutan perubahan atau mengekspresikan perubahan nilai-nilai untuk meraih tujuan yang positif.
Sistem hukum yang formal digunakan apabila perilaku warga masyarakat diatur oleh hukum tertulis atau peraturan perundang-undangan, sistem hukum formal dicirikan dengan beberapa hal, seperti diuraikan dibawah ini:
1. Formal social control digunakan pada masyarakat yang lebih kpmpleks dengan sistem pembagian kerja yang tinggi, penduduknya hetero dengan nilai-nilai persaingan dan dengasn norma-norma serta idiologi yang berbeda-beda.
2. Formal social control muncul ketika sistem informa tidak lagi mencukupi dalam memelihara kepatuhan anggota terhadap norma-norma yang dianut, dan dicirikan dengan adanya badan yang khusus dan teknik-teknik yang standar.
3. Formal social control menyatu dengan lembaga-lembaga dalam masyarakat dan dicirikan dengan adanya cara/prosedur yang secara eksplisit mapan serta dilaksanakan oleh badan yang diberikan kewenangan untuk melaksanakannya, dengan demikian formal social control dilaksanakan oleh orang-orang yang menduduki posisi dalam lembaga tersebut
4. Dengan menyatunya formal social control pada lembaga sosial, maka lembaga sosial dijalankan untuk menjamin terjadinya kepatuhan dalam membangun perilaku dan mengandung cara-cara yang mapan untuk mengamankan kepentingan-kepentingan manusia.
5. Hukum dibuat oleh badan legislator dan dimodefikasi melalui putusan pengadilan,dengan menetapkan kejahatan dan perilaku jahat dan menjatuhkan sanksi tertentu terhadap pelanggaran.
6. Kata legislasi digunakan untuk menggambarkan suatu proses yang denganmana norma-norma berubah dari tingkat sosial menjadi tingkat hukum.
7. Tidak semua norma sosial menjadi hukum. Dalam kenyataannya, hanya norma-norma tertentu yang dapat diterjemahkan menjadi norma hukum
hukum yang tertulis, contoh nya adalah adat istiadat, pendidikan. Informal sosial kontrol dicirikan dengan berbagai hal, diantaranya adalah:
1. Sistem hukum ini efektif dilakukan pada masyarakat yang anggotanya saling mengenal, akrab, dan interaksi antar warganya sangat tinggi, dan solidaritas antar warga juga tinggi, sistem pembagian kerjanya relatif sederhana.
2. Dalam masyarakat seperti ini, bentuk hukumnya biasanya tidak tertulis, mengutamakan pengajaran norma-norma kepada anak-anak yang bersifat langsung, tidak bersifat kontradiktif yang dapat menimbulkan kebingungan atau inner conflict
3. Bentuk dari pelanggaran terhadap informal social control adalah pengasingan, dikucilkan oleh lingkungan dan tekanan dari masyarakat sekitar nya.
4. Penggunaan communities law inforcement agents dapat bekerja dengan lebih baik, biasanya agen tersebut dalam masyarakat kita dikenal sebagai kepala adat atau suku
Dalam kasus ini sistem hukum yang digunakan oleh masyarakat setempat adalah sangat berpegang teguh pada informal social control, yang menurut mereka sistem pembagian warisan dengan paham patrilineal adalah solusi yang terbaik untuk menentukan solusi dari sengketa kasus Ny. JFMN. Namun tidak demikian dengan keputusan hakim yang mengabulkan kasasi dari Ny. JFMN dan berpendapat bahwa ketidaksamaan antara wanita dan pria sudah tidak tepat lagi untuk di pertahankan di era modern ini. Apalagi putusan mahkamah agung ini juga mengacu pada yurisprudensi putusan Mahkamah Agung sebelumnya No. 179 K/Sip/1961. Yurisprudensi atau putusan pengadilan merupakan produk yudikatif, yang berisi kaedah atau peraturan hukum yang mengikat pihak-pihak bersangkutan.3Jadi dalam kasus ini putusan pengadilan hanya mengikat pihak yang bersengketa, walaupun nantinya pada masa yang akan datang jika terjadi kasus serupa, putusan ini dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh hakim, karena antara putusan yang satu dengan yang lainnya tidak boleh bertentangan dan harus
3 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar (Yogyakarta: Liberty
sejalan dengan undang-undang yang sudah ada. Putusan tersebut adalah hukum. Sehingga wajib dijalankan oleh pihak-pihak tergugat untuk menjalankan apa yang sudah diadili oleh pengadilan tersebut.
Putusan MA No 179 K/Sip/1961 adalah tentang persengketaan perdata yang terjadi di sumatera utara pada masyarakat atau suku batak karo, yang memiliki paham atau adat istiadat tidak jauh berbeda dengan adat istiadat pada kecamatan Rote Barat, Kupang. Sistem yang dianut adalah patrilineal. Inti tujuan dari feminist jurisprudence adalah menunjukan kesejahteraan umum, ia harus mampu mengakomodasi perubahan sosial dan perbedan budaya lebih baik dari struktur yang sekarang dan tradisi yang memungkinkan.4
Hukum pada dasarnya memiliki sejumlah keterbatasan untuk merealisasikan nilai-nilai sosial, bahwa hukum -(baik pembentukan aturan, maupun substansinya) sangat bersifat phallocentris (yaitu lebih memihak kepentingan laki-laki), sehingga hukum berjalan untuk kepentingan status quo. Feminisme dalam hukum juga menolak bagaimana posisi wanita senantiasa dimarjinalkan dalam perjanjian, pekerjaan dan berbagai kehidupan sosial, kaum feminis melihat bahwa sekalipun para wanita telah berusaha untuk memperbaiki masa depannya namun tetap saja hukum selalu dibayang-bayangi oleh ideologi-ideologi-yang lebih maskulin.
Jika dibahas lebih lanjut tentang latar belakang dari kasus ini, selain adat istiadat suatu daerah yang menekan kan sistem patrilineal, aliran memandang laki-laki lebih baik daripada wanita atau diskriminasi pada wanita sudah terjadi sejak pertengahan abad ke-20. Aliran ini disebut patriarchy. Pengertian dari aliran ini adalah suordinasi yang sistematis bahwa perempuan ada dibawah kaum lelaki. Kaum feminist sangat menentang paham ini. Karena aliran patriarchy merupakan cikal bakal terjadinya diskriminasi terhadap kaum wanita yang banyak terjadi dari zaman dahulu hingga sekarang, seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, pekerjaan, harapan pendidikan dan sebagainya. Dalam kasus ini pun ditunjukan bahwa anak laki-laki lebih berhak atas sebuah warisan ketimbang perempuan, padahal asas yang dianut oleh
4 Diterjemahkan dari Patricia Smith, “Feminist Jurisprudence”, dalam A Comparison to
bangsa kita sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945, yaitu Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang menyatakan,” setiap warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung tinggi hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada pengecualiannya”. Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 menyatakan,” setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”5
Atas dasar inilah pengadilan Mahkamah Agung mengabulkan permintaan Ny. JFMN atas hak nya sebagai ahli waris walaupun beliau berjenis kelamin wanita. Pada kasus ini Pengadilan Tinggi Kupang yang membatalkan putusan Pengadilan Negeri rote Ndao adalah salah dalam menerapkan hukum karena pertimbangan Pengadilan Tinggi Kupang tersebut bertentangan dengan hukum yang berlaku, yaitu pasal 17 Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) dan yurisprudensi Mahkamah Agung RI No. 179 K/Sip/1961 tanggal 11 November 1961 tyang menyatakan bahwa hak waris perempuan disamakan dengan laki-laki. Artinya, hukum adat yang tidak sesuai dengan perkembangan hukum dalam masyarakat, seperti hukum adar yang tidak mengakui hak perempuan setara dengan kedudukan laki-laki akan dihapuskan. Bila memang hukum berpegang pada keadilan maka harus menciptakan keadilan untuk semua pihak. Tentu saja pengambilan keputusan seharusnya tidak memandang suku, ras, agama, dan jenis kelamin. Walaupun pada kenyataannya masih banyak diskriminasi terhadap wanita terjadi, terutama pada kota-kota kecil atau pedesaan di negara kita.
D. Kesimpulan
Sesuai dengan Pasal 7 dan 8 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia sedunia (DUHAM) bahwa semua orang memiliki hak yang sama di hadapan hukum dan berhak atas perlindungan hukum tanpa diskriminasi serta setiap orang berhak atas penyelesaian masalah yang mereka hadapi di hadapan pengadilan. Akses terhadap keadilan berfokus pada dua hal yakni upaya setiap orang untuk melakukan pembelaan terhadap hak-hak mereka dan atau untuk penyelesaian setiap masalah hukum yang mereka hadapi dengan
syarat bahwa sistem keadilan dapat diakses dan dapat memberikan keadilan bagi setiap orang.6
Dari penjelasan diatas dapat dilihat bahwa sesungguhnya hukum dan keadilan bukan diperuntukan hanya untuk kaum adam saja namun juga untuk semua lapisan masyarakat, tua atau muda, laki-laki atau perempuan, kaya atau miskin. Namun, pada masyarakat Indonesia yang sangat bervariasi dan sangat heterogen, hal ini masih sulit untuk diterapkan. Terutama karena sebagian besar masyarakat kita masih berpegang pada hukum adat dan menggunakan sistem hukum yang informal sebagai landasan mereka untuk berprilaku, sehingga terdapat pengabaian terhadap hukum-hukum yang sudah terkodefikasi atau tertuang dalam undang-undang. Terutama bagi beberapa daerah yang masih berada di pedalaman dan masih belum modern, laki-laki masih dianggap superior ketimbang wanita, sehingga tidak terdapat persamaan hak yang di dapat oleh kaum wanita dan kaum pria. Hal ini berlaku juga pada kasus ini, paham patrilineal yang kuat sebagai bagian dari hukum adat daerah setempat, membuat Ny. JFMN harus berjuang keras untuk mendapat pengakuan dan mendapatkan hak nya sebagai ahli waris yang sah hanya karena beliau berjenis kelamin wanita.
‘Akses perempuan ke keadilan’ memiliki beberapa tantangan dan kekhususan. Kekhususan bagi perempuan korban dalam mengakses keadilan karena pada seluruh lini upaya perempuan dalam mengakses keadilan, perempuan korban mengalami berbagai bentuk diskriminasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan menetapkan Rekomendasi Umum No.19 pada tahun 1992 mengenai definisi kekerasan berbasis gender yang kemudian menjadi ‘cetak biru’ dari CEDAW atau Konvensi Internasional tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan. Dengan demikian, segala bentuk kekerasan berbasis gender merupakan
6 “Akses Perempuan terhadap Keadilan: Mekanisme Hukum dan
Keadilan, Peranan PEndamping, dan Rasa Keadilan Korban” dalam
Akses Keadilan Perempuan,
http://www.komnasperempuan.or.id/keadilanperempuan/index.php ?option=com_content&view=article&id=82:akses-perempuan- terhadap-keadilan-mekanisme-hukum-dan-keadilan-peranan-pendamping-dan-rasa-keadilan-korban&catid=41:tulisan-lain.
bentuk diskriminasi terhadap perempuan.7 Seperti dikutip dari sebuah
makalah yang berjudul Sexuality and Human Rights: Discussion Paper, sebagai berikut:8
“In conclusion, any effort to clarify and deepen conceptual understanding of sexual rights as human rights is a deeply political project. It is political both because of the importance and sensitivity of sexuality and sexual issues, and because this work will help to refashion the relationship between individuals and the state. As noted above, the state is not the only or even the main actor with regard to sexual rights. Nevertheless, where the focus is on formal rights, and on formal law, the state is an essential actor in policy terms, even if the larger understanding is that sexuality takes shape at the intersection of many different social, inter- and intra-personal systems”
Artinya, dalam pelaksanaannya penghapusan terhadap diksriminasi wanita memang harus diakomodasi oleh peraturan tertulis yang menganggap perbuatan ini sebagai perilaku atau perbuatan melawan hukum. Pemerintah harus ikut berperan serta untuk membuat masyarakatnya beralih dari pola pikir bahwa laki-laki lebih berhak daripada wanita. Semua itu lah yang diperjuangkan oleh kaum feminist dan merupakan inti dari teori Feminist Jurisprudence.
7 “Akses Perempuan terhadap Keadilan: Mekanisme Hukum dan
Keadilan, Peranan PEndamping, dan Rasa Keadilan Korban”, Op. Cit
8 International Council on Human Rights “Sexuality and Human