• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Kelembagaan Kearifan Lokal Sebagai

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran Kelembagaan Kearifan Lokal Sebagai"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Peran Kelembagaan Kearifan Lokal Sebagai Sarana Peningkatan Gizi Protein di Komunitas Madura dan Jawa

The Role of Institutional Local Wisdom as a Medium of Increasing Protein Nutrition in Madura and Java Community

Moch. Agus Krisno B, Rofidah Ummul H., Aulia Risqi R., Siti Mustainah, Adelia Kandari.

Program Studi Pendidikan Biologi,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang

Jl. Tlogomas 246 Malang Telp 464318

Abstract

Local wisdom is a foundation to take a policy in local level of sector of health, agriculture, education, natural resources management and certain community’s activity. Protein nutrition is an important nutrition amount for living thing in their whole life and it is also the biggest composer of body after water. Protein nutrition accomplishment, which is one of the government’s programs which is stated in Intermediate Phase Development National Program (RPJMN) in 2005-2009, is an indicator of Strategy Program of Health Ministry 2010-2014. The community institute has an important role to accomplish protein nutrition in a community.

Key word: Local wisdom, Protein nutrition accomplishment, Role of institute

Abstraksi

Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan kebijakan pada level lokal di bidang kesehatan, pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam dan kegiatan masyarakat pedesaan tertentu. Gizi protein adalah kadar gizi yang penting bagi makhluk hidup semasa hidupnya dan merupakan bahan penyusun tubuh terbesar setelah air. Pemenuhan gizi protein termasuk salah satu program pemerintah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2005-2009, hal ini merupakan indikator keluaran Rencana Strategi Kementerian Kesehatan 2010-2014. Lembaga kemasyarakatn memiliki peran cukup penting dalam usaha pemenuhan gizi protein di dalam masyarakat. Kearifan lokal di komunitas Madura Desa Muharto RT. 10 RW. 10, Kecamatan Kedungkandang, Malang berupa tahlilan yang dapat membantu pemenuhan gizi protein dikomunitas tersebut. Sedangkan komunitas Jawa yang berada di Desa Sumber sari Gang 5 RT. 5 RW. 2, Malang memiliki kearifan lokal berupa kegiatan PKK dan ternak ayam untuk konsumsi pribadi sehingga gizi protein dapat terpenuhi.

(2)

PENDAHULUAN

Kearifan lokal merupakan suatu sumber pengetahuan yang diselenggarakan secara dinamis, berkembang dan diteruskan oleh populasi tertentu yang terintegrasi dengan pemahaman mereka terhadap alam dan budaya sekitarnya. Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan kebijakan pada level lokal dalam bidang kesehatan, pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam dan kegiatan masyarakat pedesaan tertentu yang ingin dikembangkan (Jawet, dkk, 2001).

Kearifan budaya lokal sendiri adalah pengetahuan lokal yang sudah menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.

Protein merupakan senyawa organik kompleks yang berbobot molekul tinggi berupa polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain

dengan ikatan peptida

(Anonimous, 2011).

Gizi protein adalah kadar gizi yang penting bagi makhluk hidup semasa hidupnya dan merupakan bahan penyusun tubuh terbesar setelah air (Zoven, 2009).

Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono pada seminar Hari Pangan Sedunia di Bogor Rabu (21/11), standar kecukupan masyarakat Indonesia dalam memenuhi konsumsi protein, pangan dan gizi yang berimbang dari pangan hewani masih rendah yaitu 6 gram/ kapita/ hari atau setara dengan 10,3 kg daging/ kapita/ tahun telur 6,5 kg/ kapita/

tahun dan susu 7,2 kg/ kapita/ tahun (Kompas, 2010).

Kearifan Lokal

Kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang terdapat dalam kehidupan bermasyarakat di suatu tempat atau daerah. Jadi kearifan lokal merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu.

Menurut Putu Oka Ngakan dalam Andi M. Akhmar dan Syarifudin (2007) kearifan lokal adalah tata nilai atau perilaku hidup masyarakat lokal dalam berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggalnya secara arif. Maka karena itu kearifan lokal tidak sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh tantangan alam dan kebutuhan hidup yang berbeda-beda, sehingga dalam pengalaman untuk memenuhi kebutuhan hidupnya muncul berbagai pengetahuan baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial.

(3)

generasi ke generasi sekaligus membentuk pola perilaku manusia terhadap sesama manusia, alam maupun gaib.

Selanjutnya Francis Wahono (2005) berpendapat bahwa kearifan lokal adalah kepandaian dan strategi-strategi pengelolaan alam semesta dalam menjaga keseimbangan ekologis yang sudah berabad-abad teruji oleh berbagai bencana dan kendala serta keteledoran manusia. Kearifan lokal tidak hanya berhenti pada etika, tetapi sampai pada norma dan tindakan serta tingkah laku, sehingga kearifan lokal dapat menjadi seperti religi yang memedomani manusia dalam bersikap dan bertindak, baik dalam konteks kehidupan sehari-hari atau untuk menentukan peradaban manusia yang lebih jauh.

Adanya perubahan gaya hidup masyarakat yang konsumtif dapat mengikis norma-norma kearifan lokal. Untuk menghindari hal tersebut, maka norma-norma yang sudah berlaku di suatu masyarakat yang sifatnya sudah turun temurun dan berhubungan erat dengan kelestarian lingkungan perlu dilestarikan.

Kearifan lokal memiliki 4 fungsi, yaitu:

1. Kearifan lokal berfungsi untuk konservasi dan pelestarian sumberdaya alam.

2. Kearifan lokal berfungsi untuk mengembangkan sumber daya manusia.

3. Kearifan lokal berfungsi untuk pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.

4. Kearifan lokal berfungsi untuk dijadikan petuah, kepercayaan,

sastra, dan pantangan (Qandhi,F.F.2012).

Pemenuhan Gizi Protein

Setiap harinya, manusia

makan untuk mencukupi

kebutuhan tubuh akan nutrisi. Selain faktor kuantitas, kualitas makanan merupakan hal yang sangat penting agar tubuh dapat tumbuh dengan optimal. Makanan yang berkualitas tentu mengandung bermacam-macam gizi. Salah satu gizi yang sangat diperlukan oleh tubuh adalah protein. Protein berfungsi untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh disamping untuk perbaikan sel-sel yang rusak.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, konsumsi protein masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Idealnya, kebutuhan gizi protein di dalam tubuh yang harus dipenuhi yaitu 10-15%. Persentase tersebut terkadang masih belum bisa dipenuhi dalam konsumsi pangan sehari-hari masyarakat.

Sementara itu, protein mempunyai fungsi khas yang tidak bisa digantikan oleh zat gizi lain

untuk membangun dan

memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.

Pemenuhan gizi protein termasuk salah satu program pemerintah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2005-2009, hal ini merupakan indikator keluaran Rencana Strategi Kementerian Kesehatan 2010-2014 (Rudi, 2011).

Untuk optimalisasi

(4)

protein juga harus optimal, artinya bahwa asupan protein sesuai dengan kebutuhan, tidak kurang tidak lebih. Penghitungan kebutuhan protein dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

1. Berdasarkan kebutuhan kalori perhari yaitu berkisar antara 500 – 650 kal/orang/hari, atau 2. Berdasarkan Kandungan

Makanan, yang akan

dibicarakan kali ini adalah kebutuhan protein hewani.

Kebutuhan protein hewani bagi tubuh adalah 1 g/BB/hari dengan perbandingan, Protein nabati 3/4 bagian, hewani 1/4 bagian, dari 3/4 bagian tersebut, 1/3 berasal dari hewan dan 2/3 dari ikan (Miharrdjo. 2010).

Dalam surah An-Nahl ayat 5, Allah berfirman:

Artinya :

“Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan

berbagai-bagai manfaat, dan

sebahagiannya kamu makan”.

Dari ayat diatas Allah telah menjelaskan bahwa Allah telah menyiapkan hewan ternak untuk umat manusia agar dapat dinikmati dan dikonsumsi oleh manusia.

Peran Kearifan Lokal dalam Memenuhi Kebutuhan Gizi Protein

Indonesia merupakan negara yang terdiri dari kepulauan yang banyak. Indonesia memiliki keanekaragaman penduduk dengan bermacam budaya dan suku. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hujrot ayat 49, yang berbunyi :

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa -bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Dari ayat tersebut Allah telah menerangkan bahwa manusia diciptakan dengan berbagai suku dan bangsa. Dalam artikel ini kami akan mencoba menjelaskan tentang kearifan lokal masyarakat komunitas Madura dan Jawa.

a). Komunitas Madura

(5)

masyarakat menengah kebawah.

Di kalangan masyarakat

komunitas Madura telah berkembang bentuk kearifan lokal untuk memenuhi kebutuhan gizi protein mereka dalam bentuk tahlilan. Kegiatan rutin dalam kegiatan tahlilan dilakukan setiap minggu sekali yang didalamnya akan berlangsung perjamuan makan yang disiapkan oleh tuan rumah. Menu makanan pada kegiatan rutin ini biasanya soto, dan kue-kue yang terbuat dari telur yang merupakan sumber protein hewani.

Gambar ketika wawancara di komunitas Madura

Dari keterangan para warga yang tinggal di desa Muharto RT. 10 RW. 10 Kecamatan Kedungkandang bahwasanya sering diadakannya kegiatan rutin warga yaitu tahlilan dimana dalam kegiatan tersebut dihidangkan makanan-makanan untuk para tamu tahlilan. “Pada saat tahlilan yang diadakan setiap satu minggu sekali, biasanya tuan rumah akan menghidangkan makanan untuk para tamu, biasanya makanan berupa soto, nasi campur, rawon, atau roti dan kopi,” terang Juariyah warga setempat.

Pemenuhan gizi protein juga dilakukan oleh warga setiap hari dengan cara mencampur dan megkombinasi lauk-pauk untuk makan sehari-hari. “Biasanya kami makan sup dan ditambah ikan goreng seperti pindang, tongkol, mujair, karena kami sekeluarga yang asli Madura gemar dengan ikan,” terang Khusnul ibu yang juga bekerja menjadi pedagang tersebut.

Kearifan lokal yang lain yang dapat meningkatkan gizi protein dimasyarakat komunitas Madura yaitu posyandu yang ada disetiar lingkungan penduduk. Posyandu yang ada disekitar lingkungan warga melakukan kegiatan pemenuhan gizi protein dengan membagikan sup, susu, dan bubur kacang hijau pada minggu ke tiga setiap bulannya. Tentunya menu makanan tersebut dapat meningkatkan kebutuhan protein yang dibutuhkan warga sekitar. “Kegiatan yang dilakukan oleh posyandu setempat amat membantu pemenuhan gizi warga setempat, karena rata-rata warga sini mengalami gizi kurang, sehingga angka kematian bayi dan ibu hamil cukup tinggi disini,” jelas Murti selaku ibu RW. 10 tersebut.

Didalam Rencana

(6)

Dengan kegiatan kearifan lokal yang dilakukan oleh warga setempat secara rutin, hal ini dapat memenuhi kebutuhan gizi protein yang relatif kurang dikalangan masyarakat komunitas Madura yang cenderung memiliki perekonomian lemah. Hal tersebut tentunya juga akan ikut membantu dalam proses penurunan angka kematian ibu hamil dan balita.

Kearifan lokal bisa saja menjadi jawaban tersendiri atas pemenuhan kebutuhan pangan. Presiden kita menyatakan dengan kearifan lokal, Indonesia bisa mewujudkan swasembada dan kemandirian pangan. “Di tengah-tengah permasalahan dunia seperti krisis pangan dan energi, kita harus mencari apa yang bisa kita lakukan secara domestik untuk meningkatkan ketahanan pangan dan energi di dalam negeri,” kata Presiden pada pembukaan konferensi nasional dan pameran bertema Kearifan Lokal Perempuan Indonesia Menuju Ketahanan Pangan di Jakarta, tahun 2008 silam (Kompas, 2011)

.

b). Komunitas Jawa

Komunitas Jawa memiliki kearifan lokal yang sedikit berbeda dengan komunitas Madura. Masyarakat komunitas Jawa yang ada di Desa Sumbersari Gang 5 RT. 5 RW. 2 memenuhi kebutuhan gizi protein dengan cara Mengkombinasikan makanan, namun kebanyakan dari warga komunitas Jawa memiliki ternak ayam sehingga hal tersebut lebih membantu dalam proses pemenuhan gizi protein dilingkungan setempat.

Kearifan lokal yang dimiliki oleh komunitas kampung Jawa terletak pada kegiatan ibu PKK. Kegiatan PKK dilakukan setiap bulan pada minggu kedua. Didalam kegiatan PKK tersebut biasanya disediakan makanan-makanan seperti kue-kue dan makanan seperti soto, rawon dan juga nasi campur. Dalam kegiatan PKK tersebut juga dilakukan sosialisasi tentang pentingnya pemenuhan gizi dalam keluarga serta penjelasan mengenai pentingnya menjaga asupan gizi pada balita dan ibu hamil.

“Kegiatan PKK rutin dilakukan, kadangkala juga diberikan materi tentang pemenuhan gizi dan cara menyiasati menu makanan sehingga ibu-ibu bisa memenuhi gizi keluarganya,” terang Aminah warga setempat.

Keterangan serupa juga didapatkan dari ibu Ah selaku ibu RT. setempat yang mengatakan bahwa ibu-ibu PKK akan lebih mengerti ketika dilakukan penyuluhan secara langsung tentang pentingnya pemenuhan gizi tersebut, sehingga pemenuhan gizi bisa merata tanpa ada warga yang mengalami kekurangan gizi.

“Selain kegiatan tersebut, kebanyakan warga disini juga

memelihara ayam yang

(7)

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Almu’minuun ayat 21 yang berbunyi :

Artinya : “ Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami member minum kamu dari susu yang ada didalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu dan sebagian dari padanya kamu makan.”

Dari ayat tersebut kita dapat surah tersebut mengetahui bahwa Allah telah member umat manusia sumber protein hewani berupa susu yang dapat diminum sehingga kebutuhan gizi protein hewani manusia dapat terpenuhi.

Didaerah tersebut juga terdapat posyandu yang aktif memantau kesehatan warga setempat. Posyandu di daerah tersebut tidak hanya melayani ibu hamil dan balita, namun juga melayani warga yang sedang sakit. Kegiatan rutin yang dilakukan oleh posyandu adalah pembagian bubur kacang hijau dan susu kedelai secara gratis setiap bulannya pada minggu ke-empat.

Kearifan lokal yang menonjol di komunitas Jawa adalah kegiatan PKK yang dilakukan oleh ibu-ibu yang didalam kegiatan tersebut diberikan penyuluhan tentang pentingnya pemenuhan gizi protein serta cara-cara untuk memenuhi gizi protein didalam keluarga, sehingga pengetahuan tersebut didapatkan oleh warga dengan mudah.

Salah satu upaya nyata untuk meningkatkan percepatan gerakan penganekaragaman konsumsi pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan adalah dengan mengembalikan

pola penganekaragaman

konsumsi pangan yang telah mengakar sebagai kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu. Masyarakat, terutama yang tinggal di perdesaan memiliki tradisi dan pola konsumsi aneka ragam sumber makanan yang sangat mendukung dalam upaya peningkatan ketahanan pangan daerah.

(8)

Sumatera, dan Sulawesi merupakan bentuk lain dari kearifan lokal untuk menjaga ketahanan pangan tersebut (Admin, 2012).

KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa setiap komunitas yang berbeda kebiasaan memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda. Namun, kearifan lokal tersebut dapat menjadi jalan untuk memenuhi gizi protein warga setempat. Misalnya pada komunitas Madura yang memiliki kearifan lokal tahlilan dan kegemaran memakan ikan laut serta kegiatan posyandu yang aktif, sedangkan masyarakat komunitas Jawa yang lebih menonjolkan kegiatan PKK yang didalamnya dilakukan penyuluhan tentang pentingnya pemenuhan gizi protein dan cara-cara memenuhi kebutuhan gizi dalam keluarga, dan kebanyakan warga setempat memiliki ternak ayam untuk dikonsumsi sebagai cara alternatif untuk memenuhi gizi protein dalam keluarga.

Salah satu upaya nyata untuk meningkatkan percepatan gerakan penganekaragaman konsumsi pangan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan adalah dengan mengembalikan

pola penganekaragaman

konsumsi pangan yang telah mengakar sebagai kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu. Masyarakat, terutama yang tinggal di perdesaan memiliki tradisi dan pola konsumsi aneka ragam sumber makanan yang sangat mendukung dalam upaya

peningkatan ketahanan pangan daerah.

Daftar Pustaka

Admin. 2012. (Online). http://www.patikab.go.id/artik

el/ketahanan-pangan- kearifan-lokal-dan-investasi-di-desa#. (Diakses 10 Desember 2012).

Anonimous. 2011. (Online). http:// id.wikipedia.org/wiki/

protein. (Diakses 8

Desember 2012) Anonimous. 2012. (Online).

http://kulinologi.biz/ index1.php?

view&id=987767. (Diakses 7 Desember 2012)

Kompas. 2011. (Online) http://sosbud.kompasiana.co m/2011/03/30/pribumisasi- pangan-diversifikasi-pangan- kearifan-lokal-dan-strategi-

ketahanan-pangan-indonesia/ (Diakses 10

Desember 2012)

Mihardjo. 2010. (Online). http://mihardjo.wordpress.co m/2010/05/12/kebutuhan-protein-tubuh/ (Diakses 7 Desember 2012).

Qandhi, F. F. (Online). http://fika-fatia.blogspot.com/2012/05/p entingnya-kearifan-lokal-masyarakat_07.html.

(Diakses 7 Desember 2012)

Zoven. 2009. (Online). Http://zoven.wordpress.com/ 2009/04/21/Makalah-gizi-protein.

(9)

Gambar

Gambar  ketika  wawancara  di  komunitasMadura

Referensi

Dokumen terkait

bisa diterima jika dibanding dengan pengajuan berkas berkaitan masalah hak-hak paska perceraian dalam sejumlah kasus Talak Cerai, karena dalam kasus Gugat Cerai pihak

Yang menjadi peserta dalam kegiatan ini adalah Kepala Puskesmas, Penanggung jawab UKM dan seluruh program UKM essensial dan pengembangan serta lintas sector (Camat, UPTB PP, dan KB

Syaiful Anwar, Wakil Rektor III UIN Raden Intan Lampung, wawancara , dicatat pada tanggal 13/05/2018.. kepemimpinan yang demokratis. Teori ini ternyata diaplikasikan oleh Prof.

kemakmuran masyarakat serta kelestarian fungsi lingkungan hidup dengan baik, harus dijalin hubungan sinergis antara Pemerintah Kabupaten Mamuju Utara dengan para pelaku

Perlu diperhatikan bahwa gerak geser ini gayut muatan, tidak seperti gerck geser elektrik sehingga untuk nuatan beda ekan memberikan arah yang beda pula.. Jan Polman,

Pada form ini terdapat 4 fungsi yaitu save untuk menyimpan jenis barang baru pada database, update untuk mengganti atribut dari jenis barang yang sudah tersimpan pada

Memperhatikan masalah-masalah tersebut maka diperlukan suatu metode pembelajaran dan media pembelajaran yang efektif untuk dapat meningkatkan pemahaman dan keaktifan

sastra kreatif bagi moralitas berkesenian, menelaah secara lebih dalam problem diskursus estetika di era digital dalam konteks filsafat pendidikan moral ini