BAB II
LANDASAN TEORI
A. Keterampilan Sosial
1. Defenisi Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki seseorang untuk membantu menjalankan aktivitas di lingkungan sosial yang ditentukan dari proses belajar, tingkat intelektual untuk menghindari perilaku maladaptif, dan permasalahan sosial (Smiroldo&Bamburg, dalam Matson 2002). Sementara itu menurut Weiss & Harris (dalam Matson 2011) keterampilan sosial merupakan cara untuk membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain dan memberikan kesuksesan kepada setiap orang dalam bidang sosial, emosional, serta perkembangan kognitif.
Selain itu keterampilan sosial adalah kemampuan khusus yang menyebabkan seseorang dapat mengerjakan tugas sosial khusus secara kompeten (cakap atau terampil). Keterampilan sosial secara umum dapat dipahami sebagai perilaku-perilaku yang diperkuat sesuai dengan usia individu dan situasi sosial yang mengakibatkan penerimaan dan penilaian positif dari orang lain serta tidak mengakibatkan pengaruh buruk bagi perkembangan anak. Keterampilan sosial merupakan keterampilan dengan menggunakan pendekatan kognitif dan behavior, dengan kata lain keterampilan sosial bukan kemampuan yang dibawa lahir melainkan dipelajari (Cotugna, 2009).
Sementara itu menurut (Keenan et all, 2006) menjelaskan bahwa lingkungan sosial menginginkan setiap orang memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah, membaca situasi, bereaksi dengan tepat, menghasilkan solusi alternatif, dan mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi. Keterampilan sosial juga merupakan kompetensi sosial dengan keterampilan sosial yang terukur pada perilaku interpersonal, misalnya membangun kontak mata, tersenyum, bergiliran, dan membangun kompetensi sosial.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan sosial adalah keterampilan penting yang harus dimiliki oleh seseorang untuk membantu menjalankan aktivitas di lingkungan sosial, serta cakap atau terampil mengerjakan tugas sosial yang ditentukan dari proses belajar, kapasitas intelektual, dan permasalahan sosial. Selain itu keterampilan sosial tersebut bertujuan untuk membentuk perilaku spesifik, inisiatif, agar mampu berinteraksi dengan orang lain untuk menunjukkan perilaku positif sesuai dengan konteks sosial, menjauhi perilaku yang tidak disukai oleh lingkungan, memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah, memahami situasi, dan bereaksi dengan tepat, menghasilkan solusi alternatif, dan mempertimbangkan kemungkinan yang terjadi.
2. Ciri Keterampilan Sosial Pada Anak ASD
Menurut Phimley (2007) ciri keterampilan sosial anak ASD dimana mereka lebih suka melakukan aktivitas individu, sikap acuh tak acuh, ketidakpedulian terhadap orang lain, lebih menunjukkan sikap spontan, penerimaan pasif terhadap kontak sosial, kurang empati, gagal untuk menghargai
orang lain, rendahnya pemahaman terhadap aturan-aturan sosial, dan tidak dapat mencari kenyamanan di saat tertekan. Ciri keterampilan sosial yang ditampilkan anak ASD berbeda dengan anak normal lainnya. Selain itu Keterampilan sosial merupakan kemampuan sosial anak ASD yang menyebabkan anak berfungsi secara independen dan tidak disebabkan oleh keterbelakangan mental melainkan disebabkan karena kriteria ASD. Anak ASD mengalami keterhambatan komunikasi dan kecenderungan munculnya kemampuan adaptif sosial lebih besar terjadi daripada kemampuan komunikasi. Keterhambatan pada masalah komunikasi menyebabkan anak ASD mengalami masalah dalam menjalin interaksi sosial dengan orang lain (Matson, 2011).
3. Aspek Keterampilan Sosial Anak ASD
Standard Keterampilan sosial pada anak ASD berbeda dengan anak normal lainnya. Menurut Drew&Hardman (dalam Matson 2011) terdapat tiga aspek keterampilan sosial yang dibutuhkan anak ASD antara lain domestic skill, self care skill, dan community skill. Berdasarkan perkembangan masing-masing anak ASD seperti mengajarkan community skill agar anak dilatih untuk dapat berfungsi dengan baik di lingkungan sosial.
Menurut Kroeger & Sorensen Burnworth (dalam Matson 2011) menjelaskan bahwa anak ASD perlu mendapatkan latihan community skill seperti mengajarkan anak menolong orang lain ketika melihat orang lain mengalami masalah atau terjatuh, terluka, atau kesulitan untuk mengikuti pelajaran di sekolah, dan selain itu anak dilatih safety skill. Ketika dalam masyarakat individu dengan ASD menghadapi banyak ancaman yang berisiko terhadap keselamatan
anak. Ada beberapa hal yang harus dilatih antara lain mengenalkan anggota keluarga terdekat dan teman sekolah. Selebihnya mengajarkan anak tidak berbicara kepada anggota keluarga dan orang lain yang belum dikenal. Keterampilan lainnya adalah mengajarkan sikap anak ketika berbelanja, sikap ketika berada di angkutan umum, di sekolah, di rumah sakit. Ada tahapan yang harus diperhatikan ketika akan melatih keterampilan community skill antara lain mendeteksi usia anak untuk menyesuaikan kebutuhan yang paling mendasar untuk dilatih, tetapkan tujuan atau target dari yang termudah sampai tersulit, menyiapkan metode yang diperlukan untuk menjadi media belajar anak.
Menurut Matson (2011) community skill pada anak ASD memiliki variasi dalam berinteraksi, seperti pada aktivitas anak untuk bermain, berkomunikasi, menjalin persahabatan, memahami emosi seseorang, dan kemampuan dalam mengatasi permasalahan. Keterampilan sosial anak ASD berhubungan dengan kemampuan anak dalam melakukan hubungan dengan orang lain (social reciprocity), seperti berkomunikasi, menjalin hubungan dengan teman sebaya. Selain itu berpartisipasi dengan lingkungan sosial (social participation), seperti melakukan permainan dan mengikuti kegiatan terstruktur dan tidak terstruktur. Kemampuan untuk menyesuaikan perilaku (detrimental behavior social) dengan tuntutan lingkungan sosial juga merupakan salah satu keterampilan sosial yang perlu dipahami oleh anak ASD.
Keterampilan sosial oleh Matson (2011) berkembang ke dalam bentuk dimensi yang lebih spesifik, antara lain adalah:
a. Conversational skill seperti kemampuan anak mengucapkan salam, ikut serta dalam percakapan, kemampuan verbal, kemampuan mendengar, mampu menentukan topik pembicaraan, mengerti batasan pribadi orang lain, dan mampu mengakhiri percakapan
b. Play skill keterampilan sosial yang terdiri dari kemampuan observasi, kemampuan berbagi, kompromi, mencari solusi dalam penyelesaian masalah, menentukan coping, memiliki kemampuan bermain timbal balik, dan kemampuan mengakhiri permainan.
c. Understanding emotions, seperti mampu membaca ekspresi wajah, mengetahui bahasa tubuh, kualitas suara, tekanan suara, kecepatan berbicara, dan mengatur kata-kata yang tepat sesuai dengan kondisi lingkungan, misalnya menyesuaikan pembicaraan pada situasi sedih atau senang.
d. Dealing with conflict, seperti memiliki kemampuan untuk memanajemen kemarahan, memiliki kemampuan self-regulation, memiliki kemampuan komunikasi seperti kemampuan untuk menolong, kemampuan untuk tetap menjalani situasi stres, bersikap asertif namun tidak agresif, menghindari terjadinya perlakuan bullying.
e. Friendship skill, seperti mengetahui mengenai kondisi teman, berkembangnya kemampuan untuk berbagi dengan teman, dan dapat menghadapi tekanan dalam hubungan berteman.
Berdasarkan penjelasan di atas keterampilan sosial berhubungan dengan kemampuan anak dalam berinteraksi dengan teman-temannya. Adapun
kemampuan keterampilan sosial yang diperlukan adalah conversational skill (kemampuan mendengar, mampu menentukan topik pembicaraan dan sebagainya), play skill (kemampuan menyelesaikan masalah, menentukan coping, dan memiliki kemampuan bermain timbal balik), understanding emotions (membaca ekspresi wajah, mengetahui bahasa tubuh), dealing with conflict (seperti kemampuan untuk memanajemen kemarahan, kemampuan untuk menolong), friendship skill (kemampuan untuk mengetahui kondisi teman). Setiap anak bisa saja mampu pada salah satu dimensi keterampilan sosial tanpa menguasai dimensi lainnya. Hal ini sesuai dengan proses belajar anak dan kemampuan yang ia miliki.
B. Autistic Spectrum Disorder (ASD)
1. Pengertian Autistic Spectrum Disorder (ASD)
Menurut anak dengan ASD menunjukkan keterlambatan dalam perkembangan. Beberapa anak menunjukkan permasalahan dari proses kelahiran, seperti melakukan kontak mata daripada anak lainnya. Meskipun dalam kasusnya karakteristik ASD dapat dideteksi antara 12 dan 36 bulan dari usia perkembangan dengan alasan, anak dengan ASD progresnya lebih lambat pada beberapa area perkembangan daripada perkembangan khusus anak, kesenjangan keterampilan terajadi ketika anak normal memiliki kemampuan bahasa dan kemampuan sosial (Atcinson, J & Dirett, 2012). Selain itu kerusakan pada otak merupakan salah satu penyebab yang mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensoris, dan kemampuan belajar pada anak.
Biasanya gejala sudah mulai tampak pada usia di bawah 3 tahun. Selain itu ASD adalah sindrom yang terdiri dari satu set perkembangan dan perilaku yang akan didiagnosis. Ciri ASD mencakup interaksi sosial, keterhambatan komunikasi, bermain dan perilaku (terbatas repetitif dan stereotip pola perilaku, minat, dan aktivitas. Biasanya mereka berperilaku dengan hati-hati dan fokus pada aturan perilaku yang dapat diterima (Brereton, 2002). Berdasarkan Diagnostic and statistical Manual Of Mental (DSM) Disorder V edition (APA, 2013) kapasitas pengelompokan anak ASD tergolong ke dalam level 1 hingga level 3.
Tabel 2.1. Level Untuk Autistic Spectrum Disorder (ASD)
Tingkat
Keparahan Komunikasi Sosial
Perilaku berulang terbatas Level 3 “memerlukan dukungan sangat substansial”
Keterhambatan yang tergolong parah. Sulit dalam keberfungsian komunikasi verbal dan non-verbal yang menyebabkan gangguan komunikasi, keinginan mengawali interaksi sosial yang sangat terbatas, dan tanggapan minimal terhadap ajakan bersosialisasi dari pihak lain. Sebagai contoh, seseorang yang berbicara dengan jelas dengan sedikit kata, jarang megawali interaksi, dan apabila hal tersebut dilakukannya, ia melakukannya dengan cara yang tak lazim untuk pemenuhan kebutuhannya, dan tanggapan hanya pada pendekatan sosial yang sangat langsung.
Perilaku yang tidak fleksibel, kesulitan ekstrim menghadapi perubahan, atau perilaku-perilaku
berulang terbatas jelas
sekali tampak mengganggu
keberfungsian pada semua bidang. Kesulitan besar merubah perhatian dan
Level 2 “memerlukan dukungan substansial”
Tergolong pada kemampuan menengah. Kemampuan komunikasi verbal dan non-verbal; gangguan sosial yang nyata walaupun mendapat dukungan di tempat; keterbatasan mengawali interaksi sosial; respon yang sedikit atau abnormal terhadap ajakan bersosialisasi dari pihak lain. Sebagai contoh, seseorang yang berbicara kalimat sederhana, yang interaksinya terbatas pada minat tertentu, dan yang tampak jelas keganjilan komunikasi nonverbal.
Perilaku yang tidak fleksibel, kesulitan menghadapi perubahan, atau perilaku-perilaku
berulang terbatas lainnya. Cukup sering terjadi sehingga tampak jelas oleh pengamat yang biasa dan mengganggu
keberfungsian pada konteks yang beragam. Kesulitan merubah perhatian dan tindakan.
Level 1
“memerlukan dukungan”
Tanpa pemberian dukungan, terhambat dalam hal melakukan komunikasi sosial menimbulkan gangguan yang berarti. Kesulitan mengawali interaksi sosial dan contoh yang jelas dari respon yang tidak normal atau tidak sukses terhadap ajakan dari pihak lain. Mungkin tampak penurunan minat dalam interaksi sosial. Sebagai contoh, seseorang yang dapat berbicara dengan kalimat yang utuh dan mampu terlibat dalam komunikasi, namun gagal dalam percakapan dua arah dengan orang lain, dan yang memiliki cara-cara yang ganjil dan gagal dalam berteman.
Perilaku yang tidak fleksibel menyebabkan
pengaruh yang signifikan dalam keberfungsian pada satu
konteks atau lebih. Kesulitan mengalihkan diantara beberapa aktivitas. Permasalahan dalam mengorganisir dan merencanakan sesuatu menghalangi kemandirian.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ASD adalah salah satu defisit perkembangan yang memiliki ciri terhambatnya komunikasi dan bahasa, interaksi sosial misalnya berhubungan dan perilaku minat terbatas dan berulang. Tingkatan keparahan anak ASD disesuaikan dengan kapasitas kemampuan anak yaitu membaginya ke dalam tingkatan level 1 hingga level 3.
2. Kriteria Diagnostik Autistic Spectrum Disorder (ASD) Berdasarkan DSM V
Menurut American Psychiatric Association dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Fifth Edition Text Revision (APA, 2013) kriteria diagnostik dari gangguan ASD adalah sebagai berikut:
A. Terhambatnya dalam komunikasi dan interaksi sosial yang bersifat menetap pada berbagai konteks, seperti;
a) Kekurangan dalam kemampuan komunikasi sosial dan emosional. Contohnya pendekatan sosial yang tidak normal dan kegagalan untuk melakukan komunikasi dua arah; kegagalan untuk berinisiatif atau merespon pada interaksi sosial.
b) Terganggunya perilaku komunikasi non-verbal yang digunakan untuk interaksi sosial. Integrasi komunikasi verbal dan non-verbal yang sangat parah, hilangnya kontak mata, bahasa tubuh dan ekspresi wajah. c) Kekurangan dalam mengembangkan, mempertahankan hubungan. Contohnya kesulitan menyesuaikan perilaku pada berbagai konteks
sosial, kesulitan dalam bermain imajinatif atau berteman, tidak adanya ketertarikan terhadap teman sebaya.
B. Perilaku yang terbatas, pola perilaku yang repetitive, ketertarikan, atau aktivitas yang termanifestasi minimal dua dari perilaku berikut:
a) Pergerakan motor repetitif atau stereotype, penggunaan objek-objek atau bahasa, misalnya: perilaku stereotype yang sederhana, membariskan mainan-mainan atau membalikkan objek.
b) Perhatian yang berlebihan pada kesamaan, rutinitas yang kaku atau pola perilaku verbal atau non-verbal yang diritualkan, contohnya stress ekstrim pada suatu perubahan yang kecil, kesulitan pada saat adanya proses perubahan, pola pikir yang kaku.
c) Kelekatan dan pembatasan diri yang tinggi pada suatu ketertarikan yang abnormal. Contoh: kelekatan yang kuat atau preokupasi pada objek-objek yang tidak biasa, pembatasan yang berlebihan atau perseverative interest.
d) Hiperaktivitas/hipoaktivitas pada input sensori atau ketertarikan yang tidak biasa pada aspek sensori pada lingkungan. Contoh, sikap tidak peduli pada rasa sakit atau temperature udara, respon yang berlawanan pada suara atau tekstur tertentu, penciuman yang berlebihan atau sentuhan dari objek, kekaguman visual pada cahaya atau gerakan. C. Gejala-gejala harus muncul pada periode perkembangan awal (tapi
melebihi kapasitas yang terbatas, atau mungkin tertutupi dengan strategi belajar dalam kehidupannya).
D. Gejala-gejala menyebabkan gangguan yang signifikan pada kehidupan sosial, pekerjaan atau situasi penting lain dalam kehidupan.
E. Gangguan-gangguan ini lebih baik tidak disebut dengan istilah ketidakmampuan intelektual (intellectual disability) atau gangguan perkembangan intelektual atau keterlambatan perkembangan secara global.
4. Perkembangan Anak Autistic Spectrum Disorder (ASD)
Menurut DSM V (APA, 2013) ASD berkembang pada 30 bulan pertama dalam hidup, saat dimensi dasar dari keterkaitan antar manusia dibangun periode perkembangan yang dibahas akan dibagi menjadi masa infant dan toddler. Di bawah ini akan dijelaskan bagaimana perkembangan anak ASD dibandingkan dengan anak normal.
Tabel 2.2. Perbedaan Perkembangan Anak Normal dan Anak Autis No Usia Perkembangan anak ASD Ciri Perkembangan anak ASD
1 Usia 12-24 Bulan Keterhambatan awal yaitu kemampuan komunikasi dan interaksi sosial pada anak di usia 12 bulan jika gejala yang ditunjukkan lebih berat. Selain itu usia 24 bulan jika gejala yang ditunjukkan lebih ringan.
2 Pada usia 2 tahun lebih Mengalami penurunan atau regresi pada kemampuan bahasa dan perilaku sosial. 3 Usia 2 tahun lebih Gejala pertama yang dapat dilihat dari anak
bahasa, disertai dengan terhambatnya keteratarikan atau keinginan untuk berinteraksi sosial, pola bermain yang kaku (membawa mainannya berkeliling tetapi tidak memainkannya atau bermain dengan anak lain) dan kemampuan komunikasi yang kaku atau terpola (mengetahui alfabet tetapi tidak memberi respon ketika namanya dipanggil). Perilaku aneh dan berulang-ulang dan tidak adanya memiliki preferensi yang kuat dan menikmati pengulangan (misalnya makanan yang selalu sama dan menonton film yang sama).
4 Usia balita Sulit membedakan diagnostik perilaku stereotype dan mrelakukan perilaku berulang-ulang. Perbedaan klinis didasarkan pada jenis, frekuensi, dan intensitas perilaku contohnya, anak dengan rutinitasnya selama berjam-jam bersama objek tertentu dan sangat tertekan jika item apapun dipindahkan. Selain itu anak juga akan emosi dan marah ketika kegiatan yang dilakukan tidak sesuai dengan rutinitas.
ASD bukan gangguan degeneratif dan merupakan ciri khas dan kompensasi sepanjang hidup. Gejala yang paling sering terlihat pada anak usia dini dan sekolah awal tahun. Perkembangan khas anak di beberapa daerah (peningkatan minat dalam interaksi sosial) bahkan individu tetap menunjukkan permasalahan sosial, mengalami kesulitan dalam hubungan masyarakat, menderita
stres dan tetapi adanya usaha untuk mempertahankan hubungan agar diterima secara sosial.
5. Jenis Terapi Untuk Anak ASD
Menurut Newsom (dalam Wolfe 2005) dan Turkington, Carol & Anan, Ruth (2007). Ada beberapa intervensi untuk meningkatkan keterampilan sosial anak yang mengalami anak ASD antara lain adalah:
a. Teaching Appropriate Communication Skill
Dengan menggunakan operant speech training (verbal imitiation, receptive labelling, expressive teaching, incidental training), language training. Hampir semua anak dengan ASD mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu ASD kemampuan non-verbal atau berbicaranya sangat kurang. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai kemampuannya untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa sangat menolong.
b. Family Intervention
Behavioral parent training, parent conseling. Terapi ini digunakan untuk mengintervensi keluarga agar dapat mendidik dan mengajar anak. Intervensi ini juga berhubungan dengan bagaimana orangtua dapat menyikapi kondisi anak dan memberikan penerimaan dengan baik.
c. Early Intervention
Intervensi ini diberikan pada usia awal anak yang akan masuk ke sekolah dasar. Mengajarkan anak mengenal pola-pola dasar, pendidikan dasar, selain
itu melatih anak bermain dengan teman-temannya. Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak ASD membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi sosial. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
d. Educational Intervention
Intervensi ini diberikan kepada anak ASD melalui pendidikan formal maupun informal yang diberikan oleh terapis.
e. Psychopharmacological/somatic intervention
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN (Defeat ASD Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak ASD. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak ASD diperiksa secara intensif seperti pemeriksaan darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan agar segera diatasi. Ternyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dalam tubuh sendiri (biomedis).
f. Teaching Appropriate Social Behavior
Mengajarkan imitasi dan mempelajari ekspresi afeksi, social play, peer mediates intervention (peer initiated procedures, child initiated procedures), sibling mediated procedure dan social skill training salah satunya adalah social skill group. Kekurangan yang paling mendasar bagi individu ASD
adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam keterampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan bermain bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya. Hal inilah yang mendasari pentingnya pemberian social skill training kepada anak ASD. Adapun tujuan dari Social skill training adalah untuk meningkatkan keterampilan sosial di lingkungan sosialnya.
6. Social Skill Training (SST)
A. Pengertian SST
SST merupakan metode atau cara yang dilakukan untuk memberikan gambaran perubahan perilaku setiap individu dalam mengerjakan fungisnya dengan tepat, baik di sekolah, di rumah maupun di lingkungan tempat tinggalnya. SST merupakan bagian penting yang digunakan untuk memahami perkembangan dan perilaku orang lain. Hal ini penting dimiliki oleh anak ASD sehingga dapat berperilaku sesuai dengan standard aturan sosial yang berlaku. Bagaimana menyapa orang lain, apa yang dikatakan ketika bertemu dengan orang lain, apa yang tidak boleh dilakukan, dan cara terbaik untuk berinteraksi dengan orang lain. SST juga berhubungan dengan kemampuan untuk mengendalikan perilaku anak dan memenuhi aturan sosial yang berlaku. Merubah perilaku dapat dipengaruhi oleh konsekuensinya, seperti memberi pujian atau penghargaan ketika anak mencoba keterampilan sosial dengan baik. SST melibatkan kemampuan untuk mengendalikan emosi dan pola berpikir yang salah, sehingga anak mampu
memecahkan masalah atau mengendalikan diri. SST bertujuan untuk mengajarkan anak secara tepat dan akurat dalam pengelolaan informasi termasuk ke dalam restrukturisasi kognitif (Cotugno, 2009).
Sementara itu menurut Ozonoff (dalam Cotugno, 2009) SST dapat digunakan untuk memberikan intervensi kepada anak ASD, berkebutuhan khusus lainnya, dan anak normal yang memiliki tingkat intelektual rata-rata sampai di atas rata-rata. Hal ini terkait dengan kemampuan anak untuk menggunakan regulasi emosi, keterampilan dasar yang sudah ada, dan kemampuan rekognitif terhadap objek lebih baik, sehingga program yang diberikan mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupannya sehari-hari. Adapun program SST untuk anak ASD yang high functioning sesuai dengan dimensi keterampilan sosial yang terdiri dari conversational skill, play skill, friendship skill, understanding emotion, dan dealing with conflict.
SST merupakan modalitas pendidikan dan klinis yang digunakan secara luas dalam mengatur kesehatan mental, keluarga, pernikahan, dan konseling perceraian, pelatihan orangtua, dan sekolah. SST termasuk pelatihan untuk komunikasi secara asertif, psikososial atau antarpribadi pelatihan keterampilan, pelatihan dalam komunikasi keterampilan atau hubungan sosial, independen dan keterampilan hidup masyarakat, dan pemecahan masalah sosial. Dalam psikiatri, SST telah digunakan sebagai pengobatan primer atau tambahan untuk disfungsi sosial dalam berbagai macam gangguan anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Selain itu SST juga digunakan sebagai modalitas rehabilitasi yang bisa meningkatkan keberfungsian anak (Cornish&Ross, 2004).
Dasar teori SSTberasal dari teori belajar sosial dan pengkondisian operan teknik yang telah dicoba dan diuji efektif untuk berbagai macam pembelajaran manusia dan terapi perilaku. Secara khusus, prinsip-prinsip yang mendasari SST menekankan pentingnya menetapkan ekspektasi yang jelas dengan petunjuk khusus dan menggunakan pemodelan atau perwakilan identifikasi, melibatkan individu dalam bermain peran atau latihan perilaku, dan memberikan reinforcement positive atau penguatan untuk perbaikan kecil dalam perilaku sosial. SST juga termasuk mengajar persepsi sosial secara akurat, termasuk mengajarkan mengenai norma-norma, aturan dan harapan sosial dalam berinteraksi. Mampu mengenali ekspresi emosi yang ditunjukkan oleh orang lain selama interaksi sosial adalah salah satu contoh dari tujuan persepsi sosial yang melekat pada SST (Cornish&Ross, 2004).
Menurut Bellini (dalam DeMatteo, 2012) SST berfokus pada pembangunan perilaku positif dengan menggunakan metode non-aversif. Pelatihan ini dirancang agar anak menunjukkan perubahan perilaku atau menghilangkan perilaku yang tidak baik. SST bertujuan; 1) meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengekspresikan apa yang dibutuhkan dan diinginkan, 2) mampu menolak dan menyampaikan adanya suatu masalah, 3) mampu memberikan respon saat berinteraksi sosial, 4) melakukan interaksi. SST merupakan salah satu intervensi dengan teknik modifikasi perilaku yang dapat diberikan kepada klien depresi, skizoprenia, dan anak yang mengalami gangguan perilaku.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa SST adalah suatu metode yang digunakan untuk memberikan gambaran perubahan perilaku untuk mengurangi permasalahan dalam masyarakat dan berperilaku sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Selain itu SST berfokus pada pembangunan perilaku positif, membentuk perilaku baru, atau menghilangkan perilaku yang tidak baik. Selain itu SST dapat diberikan kepada anak yang memiliki kemampuan intelektual rata-rata sampai di atas rata-rata. Adapun program yang dimaksud terdiri dari dimensi yang mencakup dimensi keterampilan sosial untuk anak ASD.
B. Konsep Teori dalam Program Social Skill Training
Teori behavior dan cognitive merupakan dasar dari social skill training. Teori ini menjelaskan bahwa perilaku dapat dipelajari. Menurut Skinner (dalam Cornish&Ross, 2004) tingkah laku hanya dapat diubah dan dikontrol dengan mengubah lingkungan. Oleh karena itu, Skinner lebih tertarik dengan aspek yang berubah-ubah dari kepribadian bukan pada struktural dari kepribadian. Unsur kepribadian yang dipandangnya relatif tetap adalah tingkah laku itu sendiri. Ada dua klasifikasi tipe perilaku, yaitu:
a. Perilaku responden (Respondent Behavior) yaitu respon yang dihasilkan (elicited) organisme untuk menjawab stimulus secara spesifik berhubungan dengan respon tersebut.Respon refleks termasuk dalam kelompok ini, seperti mengeluarkan air liur saat melihat makanan, mengelak dari pukulan, merasa takut waktu ditanya guru atau merasa malu waktudipuji.
b. Perilaku operan (Operant Behavior), yaitu respon yang dimunculkan (emitted) organisme tanpa adanya stimulus spesifik yang berlangsung memaksa terjadinya respon itu. Terjadinya proses pengikatan stimulus baru dengan respon yang baru. Organisme dihadapkan pada pilihan-pilihan respon mana yang akan dipakainya untuk menanggapi suatu stimulus. Keputusan respon mana yang dipilih tergantung kepada efeknya terhadap lingkungan (yang tertuju padanya) atau konsekuensi yang mengikuti respon tersebut.
Menurut Skinner (dalam Cornish&Ross, 2004), prinsip yang menentukan perkembangan tingkah laku di lingkungan objek in-animate dan lingkungan sosial ternyata sama saja. Individu tersebut berinteraksi dengan lingkungannya menerima reinforcement positif atau negatif dari tingkah lakunya. Respon sosial dan penguatnya terkadang sukar diidentifikasi tetapi prinsip hukum dasar tingkah laku berlaku sama untuk kedua kasus tersebut. Bagi Skinner (dalam Cornish&Ross, 2004), gambaran ciri kepribadian itu dapat diterjemahkan dalam sekelompok respon spesifik yang cenderung diasosiasikan dengan situasi tertentu. Ketika orang berinteraksi dengan orang lain, orang tersebut menerima reinforcerment untuk melakukan tingkah laku dominan. Semua dikembalikan kepada riwayat reinforcement yang pernah diterima oleh seseorang. Dalam ranah terapi, behaviorisme berkembang luas dalam bentuk modifikasi perilaku (behavior modification). B-Mod (sebutan untuk behavior modification) adalah senjata atau strategi untuk mengubah tingkah laku bermasalah.
Beberapa teknik berikut merupakan teknik yang dikemukakan oleh Skinner tetapi juga dikembangkan atau disempurnakan dari ide pakar lain Miltenberger, Raymond G (2008), teknik yang digunakan antara lain:
a. Modeling
Perubahan perilaku merupakan hasil dari observasi pada orang lain yang ditunjuk secara khas disebut modeling (Bandura 1969; Bandura & Walters 1963, dalam Morris 1985). Prosedur modeling berisi seorang individu yang disebut sebagai model (contohnya guru, pembantu, orangtua, teman sebaya, atau therapist) dan seorang yang disebut observer (misalnya anak yang berkebutuhan khusus). Ada 2 macam modeling, pertama, live modeling yang melibatkan kejadian sebenarnya atau menunjukkan secara langsung akan perilaku yang diharapkan ketika anak mengobservasi. Kedua, symbolic modeling yang melibatkan dengan menunjukkan model melalui film, video tape, atau membayangkan. Biasanya pada anak yang berkebutuhan khusus, biasanya lebih sering menggunakan modeling langsung daripada symbolic modeling.
b. Shaping
Shaping digunakan untuk mengembangkan target perilaku seseorang. Shaping menggunakan reinforcement untuk mencapai sasaran perilaku yang diinginkan (Miltenberger, 2008).
c. Behavioral Chaining
Metode chaining merupakan metode yang digunakan dengan membuat urutan stimulus dan adanya keterkaitan antara satu urutan ke urutan lainnya. Menurut Miltenberger (2008) chaining merupakan sebuah perilaku yang terdiri
dari banyak komponen perilaku yang terjadi bersama-sama secara berurutan seperti rantai disebut dengan chaining.
d. Hadiah Atau Hukuman Secara Selektif (selective
reward/punishment)
Chaining merupakan cara yang digunakan untuk membentuk suatu perilaku yang sudah pernah dilatih sebelumnya sehingga anak memiliki kemampuan dasar mengenai keterampilan tertentu. Chaining terdiri atas tiga metode antara lain, total task presentation, backward chainig, dan forward chaining.
Strategi terapi ini untuk memperbaiki tingkah laku anak dengan melibatkan figur di sekeliling anak sehari-hari khususnya orangtua dan guru. Terapis meneliti klien dalam seting aktual, bekerjasama dengan orang tua dan guru untuk memberi hadiah ketika anak melakukan tingkah laku yang dikehendaki dan menghukum kalau tingkah laku yang tidak dikehendaki muncul. Tingkah laku dan bentuk hadiah atau hukuman direncanakan secara teliti, dipilih yang paling memberi dampak efektif.
e. Latihan Keterampilan Sosial (Social Skill Training)
Terapi dapat digunakan untuk membantu atau melatih seseorang untuk meningkatkan keterampilan sosialnya.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa social skill training merupakan teori dasar dari behavior oleh Skinner, namun semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, maka Skinner menganggap bahwa manusia memiliki pikiran, perasaan, dan lingkungan sosial yang membantunya dalam mempelajari perilaku tertentu. Sebaliknya Perilaku dapat dibentuk berdasarkan
lingkungan sosial yang membentuk, pikiran, dan perasaan seseorang. Salah satunya adalah latihan keterampilan sosial.
C. Metode Pelaksanaan Social Skill Training
1. Social stories memiliki tujuan untuk membantu anak memahami situasi sosial dan membuat penilaian tentang situasi sosial tersebut. Cerita berkesinambungan dari awal sampai akhir cerita. Cerita dapat ditulis, atau direkam dalam bentuk video atau kaset agar mereka dapat membacanya.
Gray (dalam Matson, 2011) telah mengembangkan pendekatan untuk membantu remaja ASD mengenai keterampilan sosial dengan menghormati kemampuan orang lain, dan dapat mengendalikan perilaku merusak. Adapun komponen-kompenen keterampilan sosial yang dimaksud adalah:
2. Comic strip conversation digunakan untuk memperjelas interaksi dan menggambarkan perilaku sosial yang tepat melalui penggunaan gambar sederhana.
3. Social review merupakan ulasan dari situasi yang sebenarnya, rekayasa kejadian untuk melihat reaksi dan respon anak ketika memperoleh stimulus tertentu, demonstrasi langsung, role play sesuai dengan situasi dan permasalahan yang terjadi. Berbagi informasi secara akurat dan memberikan kesempatan untuk mengidentifikasikan perilaku yang sesuai dengan aturan sosial.
4. Keterampilan sosial group termasuk keterlibatan terapis untuk mengajarkan keterampilan interaksi sosial. Kegiatan role play dan menggunakan kaset untuk mengajar atau mempraktekkan situasi sosial secara kelompok. Selain
itu dapat menggunakan konsep drama untuk memerankan karakter tertentu sesuai script yang digunakan.
5. Script picture adalah gambar yang mewakili situasi sosial dan membantu anak untuk berlatih menangani permasalahan situasi sosial tersebut dengan menggunakan gambar yang mirip dengan situasi sebenanrnya (Stone, W 2010).
Berdasarkan penjelasan di atas maka cara yang digunakan dalam pelaksanaan SST kepada anak ASD dengan menggunakan metode visual, antara lain social story, script picture, comic strip conversation, social review, dan keterampilan sosial group.
D. Tahapan Pelaksanaan Social Skill Training
Menurut Cornish&Ross (2004) social skill training dilakukan dengan memperhatikan tahapan pelaksanaannya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah dan membantu terapis untuk pelaksanaan terapi kepada subjek.
a. Melakukan keterampilan sosial checklist
Pada tahapan ini terapis memantau perkembangan keterampilan sosial anak dengan memberikan checklist untuk menentukan perilaku yang harus ditangani. Perilaku yang dipilih adalah perilaku yang sangat menganggu situasi sosial dan anak.
b. Melakukan Observasi
Tahapan ini berfungsi untuk melihat seberapa sering munculnya perilaku, pada saat kapan munculnya perilaku, apa yang membuat munculnya perilaku, siapa yang berada di sekitar anak ketika munculnya perilaku. Pada tahapan ini
juga ingin dilihat apa yang disukai dan tidak disukai anak, bagaimana ciri ASD yang dialami anak.
c. Wawancara
Mencari data dari orang terdekat anak yaitu guru dan terapis, jika memungkinkan melakukan wawancara kepada anak dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti anak. Tujuan wawancara untuk menentukan alasan apa yang membuat anak melakukan perilaku tersebut dan menanyakan perkembangan anak selama ini.
d. Menentukan Perilaku yang ingin diintervensi
Pada tahap ini peneliti melakukan screening dan observasi perilaku di situasi sosial anak. Setelah dilakukan screening dan observasi peneliti akan memiliki catatan perilaku keterampilan sosial anak.
e. Menentukan tahapan program
Kegiatan ini dilakukan sesuai dengan komponen keterampilan sosial (script picture, social stoies, comic strip conversation, social review, dan social group) dan teknik lainnya.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemberian social skill training pada anak ASD harus dilakukan dengan tahapan pelaksanaan, yaitu dimulai dari melakukan keterampilan sosial checklist, observasi, wawancara, menentukan perilaku yang ingin diintervensi, dan menentukan tahapan program yang akan dilakukan sesuai dengan komponen social story, script picture, comic strip conversation, social review, danketerampilan group social.
E.
Paradigma
Gambar 2.1: Paradigma Penelitian
Domestic skill Self help Skill Community skill
Autistic Spectrum Disorder (ASD)
Kapasitas ASD level 1
Memiliki kendala dalam komunukasi sosial, mempertahankan dan memulai hubungan sosial.
Keterampilan Sosial
Conversational skill
Play skill
Understanding emotions
Dealing with conflict
Friendship skill
Intervensi
Social skill training (SST)
Script picture
Comic strip conversation Social stories
Social review Social group
Apakah SST dapat meningkatkan keterampilan sosial ASD?
E. Social Skill Training Untuk Membentuk Keterampilan Sosial Anak ASD Berdasarkan DSM V autistic spectrum disorder (ASD) memiliki tiga kriteria umum, antara lain adanya gangguan pada hubungan interpersonal, perkembangan bahasa dan kebiasaan untuk melakukan pengulangan atau melakukan tingkah laku yang sama secara berulang-ulang (Repetitif) dan stereotype yaitu menunjukkan perilaku kaku anak. Anak ASD memiliki perkembangan kognitif yang sama dengan anak normal lainnya, yaitu dimulai dari rentang mental retardation sampai tingkat superior. Kapasitas intelektual anak ASD tersebut mempengaruhi keberfungsian sosial anak dan kemandiriannya. Berdasarkan perkembangan komunikasi, perilaku repetitif anak ASD terbagi ke dalam level 1 hingga level 3. Berdasarkan kapasitas kemampuan yang mereka miliki, anak ASD level 1 memiliki ciri kesulitan untuk melakukan komunikasi sosial, memulai hubungan sosial, dan mempertahankan hubungan. Ciri ini memberi tingkat pencapaian bagi masing-masing anak ASD antara lain, self care dan komunikasi dasar bagi anak ASD. Kemampuan komunikasi yang kompleks, interaksi sosial, dan keterampilan lain yang berhubungan dengan aktivitas sekolah, pekerjaan, dan rumah tangga bagi anak.
Perubahan fisiologis anak memberi pengaruh terhadap perkembangan perilaku mereka. Jika tidak ada yang memahami kebutuhan dan melatih kemampuan anak, maka akan memberi pengaruh terhadap perkembangan anak ASD ke tahapan selanjutnya ketika ia berada di lingkungan sosial. Hal inilah yang menjadi dasar pentingnya pendidikan keterampilan sosial bagi anak ASD yang mengalami keterhambatan sosial. Gangguan tersebut muncul selama awal masa
kanak-kanak dan bertahan hingga dewasa atau selama mereka sudah memiliki keinginan untuk bermain dengan teman sebaya. Salah satu kebutuhan anak ASD level 1, yaitu memiliki kontak sosial dengan teman sebaya. Keinginan tersebut menjadi masalah karena sulitnya anak ASD memulai hubungan sesuai aturan sosial yang baik, sehingga cendrung mereka memiliki hubungan persahabatan yang buruk karena keterbatasan pemahaman sosial emosional. Menurut Brereton (2005), anak ASD yang tergolong level 1 memiliki pemahaman komunikasi reseptif yang lebih baik walaupun secara ekspresif masih terhambat sehingga berpengaruh terhadap kemampuan sosial anak. Selain itu terbatasnya kemampuan anak untuk menentukan solusi yang tepat, kemampuan mengontrol emosi dan perilaku, dan kemampuan komunukasi dua arah merupakan bagian kecil gambaran keterampilan sosial anak ASD.
Salah satu ciri dari anak ASD adalah kelainan dalam hubungan interpersonal, seperti kurang dalam hal memberi respon atas kepentingan masyarakat, penampilan yang acuh tak acuh, terhambat untuk berhubungan dengan orang lain, cenderung tidak terlibat dealam imitasi sosial, jarang mengembangkan perasaan empati atau kemampuan untuk memahami orang sesuai dengan usia mereka dengan perasaan. Semua anak ASD menunjukkan gangguan sosial, namun sifat gangguan ini dapat bervariasi dan dapat termodifikasi beriring bertambahnya usia. Beberapa anak ASD juga mengalami peningkatan minat berhubungan dengan orang lain dan berkembangnya beberapa keterampilan sosial seiring belajar secara mekanis dan fleksibel (Brereton, 2005)
Selama masa anak sebagian besar penyandang ASD cenderung membutuhkan beberapa tingkat dukungan, seperti melatih mereka untuk menemukan solusi menyelesaikan masalahnya, kemandirian, dan memiliki beberapa kontak sosial dan persahabatan. Anak ASD memiliki kecemasan tinggi dan gangguan suasana hati dan perilaku yang mengganggu, egois, serta gangguan komunikasi dan masalah yang berkaitan dengan masalah sosial, seperti membakar gudang jerami di peternakan karena ia menikmati pemandangan, suara dan bau api walaupun secara sosial perilakunya bertentangan dengan aturan sosial yang berlaku. Selain itu mereka juga rentan dengan perilaku disruptive misalnya ketika di sekolah mereka menganggu teman lainnya atau suasana belajar di dalam kelas. Anak ASD memilik tingkat kemampuan kognitif, usia, sifat menganggu, atau melakukan kerusakan. Walaupun secara sadar mereka tidak dapat mengontrol atau mengetahui dengan pasti apa yang menyebabkan perilaku tersebut. Mereka hanya melakukan trial error terhadap perilaku yang mereka lakukan (DeMatteo, 2012)
Keterampilan sosial ASD merupakan hal dasar yang harus dilatih, mereka harus memahami tidak boleh berteriak, mengganggu orang lain ketika di temapt umum, atau larangan untuk tidak menyentuh anggota tubuh orang lain. Pendidikan yang demikian merupakan bagian dari perkembangan social skill anak. Kemampuan domestic skill, self help skill, dan community Skill akan berkembang seiring bertambahnya usia anak. Perkembangan kemampuan anak tidak terlepas dari perkembangan fisiologis anak dan pengalaman yang ia peroleh ketika bertambahnya usia yang sering membuat anak sulit mengontrol perilaku dan emosinya (Matson, 2011). Pada anak ASD yang tergolong level 1 memiliki .
target pencapaian yaitu memiliki keterampilan sosial dalam hal community skill antara lain cornversational skill, play skill, understanding emotions, dealing with conflict, dan friendship skill.
Keterampilan sosial dapat dipelajari seseorang yang tidak memilikinya. Proses belajar untuk meningkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain dalam konteks sosial yang dapat diterima dan dihargai secara sosial merupakan salah satu tujuan dari pelaksanaan social skill training (SST). Adapun metode yang digunakan antara lain script picture, social stories, comic script conversation, social review, dan social group yang mencakup pemberian role play individu dan kelompok, rekayasa kejadian, dan demontrasi secara langsung. Kegunaan metode ini untuk mempermudah pemberian intervensi SST yang diberikan bagi anak ASD.
F. Hipotesa
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesa penelitian adalah ada hubungan positif antara intervensi social skill training terhadap keterampilan sosial anak ASD Spectrum Disorder (ASD), dengan kata lain semakin tinggi hasil intervensi social skill training yang diberikan maka semakin tinggi keterampilan sosial anak ASD.