fraktur bahan

70 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

A.

A. Fraktur

Fraktur

1. Pengertian

1. Pengertian

Fraktur adalah : terputusnya hubungan /

Fraktur adalah : terputusnya hubungan / kontinuitas jarin¬gan tulang (Syamsuhidayat,

kontinuitas jarin¬gan tulang (Syamsuhidayat,

1997).

1997).

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau tulang rawan yang

tulang rawan yang

umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Mansjoer

umumnya disebabkan oleh rudapaksa. (Mansjoer, Arif. 1999)

, Arif. 1999)

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis,

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis,

baik yang bersifat total maupun yang

baik yang bersifat total maupun yang parsial. (Rasjad, Chairuddin. 2007)

parsial. (Rasjad, Chairuddin. 2007)

2. Anatomi dan fisiologi

2. Anatomi dan fisiologi

a. Tulang dalam garis besarnya di bagi atas :

a. Tulang dalam garis besarnya di bagi atas :

1) Tulang panjang

1) Tulang panjang

Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, fi

Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, fi bula, ulna, dan humerus, dimana

bula, ulna, dan humerus, dimana

daerah batas disebut diafisis dan daerah yang

daerah batas disebut diafisis dan daerah yang berdekatan dengan garis epifisis di sebut

berdekatan dengan garis epifisis di sebut

metafisis. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat sering ditemukan adanya

metafisis. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat sering ditemukan adanya

kelainan atau penyakit, oleh karena itu daerah

kelainan atau penyakit, oleh karena itu daerah ini merupakan daerah metabolik yang

ini merupakan daerah metabolik yang

aktif dan banyak

aktif dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan

mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan

pada daerah lempeng episis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang.

pada daerah lempeng episis akan menyebabkan kelainan pertumbuhan tulang.

2) Tulang pendek

2) Tulang pendek

Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra

Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebra dan tulang-tulang karpal.

dan tulang-tulang karpal.

3) Tulang pipih

3) Tulang pipih

Yang termasuk tulang pipih antara lain tilang

Yang termasuk tulang pipih antara lain tilang iga, tulang skapula, dan tulang pelvis.

iga, tulang skapula, dan tulang pelvis.

Tulang yang terdiri dari bagian yang kompak pada bagian luar yang disebut korteks dan

Tulang yang terdiri dari bagian yang kompak pada bagian luar yang disebut korteks dan

bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan di luarnya dil

bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan di luarnya dil apisi oleh

apisi oleh

periosteum. Periosteum pada anak lebih tebal dari

periosteum. Periosteum pada anak lebih tebal dari pada orang dewasa yang

pada orang dewasa yang

memungkinkan penyembuha

memungkinkan penyembuhan tulang pada

n tulang pada anak lebih cepat

anak lebih cepat dibandingkan dengan orang

dibandingkan dengan orang

dewasa.

dewasa.

b. Fungsi tulang sebagai struktur dan organ

b. Fungsi tulang sebagai struktur dan organ

Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima

Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi utama,

fungsi utama,

yaitu :

yaitu :

1) Membentuk rangka badan

1) Membentuk rangka badan

2) Sebagai tempat melekatnya otot

2) Sebagai tempat melekatnya otot

3) Sebagai bagian dari tubuh

3) Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam,

untuk melindungi dan mempertahankan alat-alat dalam,

seperti otak, sumsum tulang belakang ,

seperti otak, sumsum tulang belakang , jantung dan paru-paru

jantung dan paru-paru

4) Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor,

4) Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium dan garam

magnesium dan garam

5) Sebagai organ yang berfungsi

5) Sebagai organ yang berfungsi sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel-

sebagai jaringan hemopoetik untuk memproduksi

sel-sel darah merah, sel-sel-sel-sel darah putih dan trombosit.

sel darah merah, sel-sel darah putih dan trombosit.

c. Sel-sel tulang

(2)

Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil

Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensiasi sel mesenkim yang sangat

diferensiasi sel mesenkim yang sangat

penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel,

penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel, osteblas dapat

osteblas dapat

memproduksi substansi organik intraseluler atau matriks dimana kasifikasi terjadi

memproduksi substansi organik intraseluler atau matriks dimana kasifikasi terjadi

dikemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid dan apabila

dikemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid dan apabila

kalsifikasi terjadi pada matriks maka jaringan di

kalsifikasi terjadi pada matriks maka jaringan di sebut tulang. Sesaat setelah osteoblas

sebut tulang. Sesaat setelah osteoblas

dikelelengi oleh substsansi organik intraseluler disebut

dikelelengi oleh substsansi organik intraseluler disebut osteosit dimana keadaan ini

osteosit dimana keadaan ini

terjadi di dalam l

terjadi di dalam lakuna.

akuna.

Sel yang bersifat multi

Sel yang bersifat multi nukleus tidak di tutupi oleh

nukleus tidak di tutupi oleh permukaan tulang dengan sifat dan

permukaan tulang dengan sifat dan

fungsi resorpsi serta mengeluarkan tulang yang di

fungsi resorpsi serta mengeluarkan tulang yang di sebut osteoklas. Kalsium hanya dapat

sebut osteoklas. Kalsium hanya dapat

dikeluarkan melalui tulang dari proses aktivitas osteoklasis yang

dikeluarkan melalui tulang dari proses aktivitas osteoklasis yang menghilangka

menghilangkan matriks

n matriks

organik dan kalsium secara bersamaan dan di sebut

organik dan kalsium secara bersamaan dan di sebut deosifikasi.

deosifikasi.

d. Anatomi Tangan

d. Anatomi Tangan

Ada tiga macam tulang yang menyusun tangan, yaitu:

Ada tiga macam tulang yang menyusun tangan, yaitu:

1) Tulang Pergelangan Tangan (Karpus)

1) Tulang Pergelangan Tangan (Karpus)

Pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal irteguler yang tersusun dalam

Pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal irteguler yang tersusun dalam

dua baris, dan setiap barisnya terdiri

dua baris, dan setiap barisnya terdiri dari empat tulang. Barisan tulang karpal proksimal

dari empat tulang. Barisan tulang karpal proksimal

yang terdiri dari

yang terdiri dari navicular(skafoid)

navicular(skafoid),lunatum, trikuetral(triangular),da

,lunatum, trikuetral(triangular),dan pisiform. Barisan

n pisiform. Barisan

tulang karpal distal yang terdiri

tulang karpal distal yang terdiri dari: Trapezium, Trapezoid, Kapitatum, Hamatum.

dari: Trapezium, Trapezoid, Kapitatum, Hamatum.

2) Tangan (metacarpus)

2) Tangan (metacarpus)

Tangan tersusun dari l

Tangan tersusun dari lima tulang metakarpal’dimana semua tulang

ima tulang metakarpal’dimana semua tulang metacarpal

metacarpal

berukuran serupa kecuali tulang metacarpal pertama pada ibujari. Setiap tulang

berukuran serupa kecuali tulang metacarpal pertama pada ibujari. Setiap tulang

metacarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan distal

metacarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan distal

tulang karpal pergelangan tangan.kepala tulang metacarpal membentuk buku jari

tulang karpal pergelangan tangan.kepala tulang metacarpal membentuk buku jari yang

yang

menonjol pada tangan.

menonjol pada tangan.

3) Tulang

3) Tulang –

 – tulang jari (phalanges)

 tulang jari (phalanges)

Setiap jari memiliki tiga tulang yaitu tulang proksimal,tulang medial, dan tulang distal,

Setiap jari memiliki tiga tulang yaitu tulang proksimal,tulang medial, dan tulang distal,

kecuali ibu jari yang hanya memiliki tulang proksimal dan medial saja. ( Sloane, 2003

kecuali ibu jari yang hanya memiliki tulang proksimal dan medial saja. ( Sloane, 2003 ))

3. Etiologi

3. Etiologi

a. Trauma langsung : benturan pada tulang

a. Trauma langsung : benturan pada tulang yang menyebabkan fraktur pada tempat

yang menyebabkan fraktur pada tempat

benturan contoh : kecelakaan lalu lintas.

benturan contoh : kecelakaan lalu lintas.

b. Trauma tidak langsung :

b. Trauma tidak langsung : jika titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur

jika titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur

berjauhan, jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi

berjauhan, jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur

fraktur

tulang belakang.

tulang belakang.

c. Proses suatu penyakit

c. Proses suatu penyakit

Penyakit yang melemahkan tulang, misalnya metastase kanker atau osteomielitis.

Penyakit yang melemahkan tulang, misalnya metastase kanker atau osteomielitis.

4. Patofisiologi

4. Patofisiologi

Daya

(3)

Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil

Osteoblas merupakan salah satu jenis sel hasil diferensiasi sel mesenkim yang sangat

diferensiasi sel mesenkim yang sangat

penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel,

penting dalam proses osteogenesis atau osifikasi. Sebagai sel, osteblas dapat

osteblas dapat

memproduksi substansi organik intraseluler atau matriks dimana kasifikasi terjadi

memproduksi substansi organik intraseluler atau matriks dimana kasifikasi terjadi

dikemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid dan apabila

dikemudian hari. Jaringan yang tidak mengandung kalsium disebut osteoid dan apabila

kalsifikasi terjadi pada matriks maka jaringan di

kalsifikasi terjadi pada matriks maka jaringan di sebut tulang. Sesaat setelah osteoblas

sebut tulang. Sesaat setelah osteoblas

dikelelengi oleh substsansi organik intraseluler disebut

dikelelengi oleh substsansi organik intraseluler disebut osteosit dimana keadaan ini

osteosit dimana keadaan ini

terjadi di dalam l

terjadi di dalam lakuna.

akuna.

Sel yang bersifat multi

Sel yang bersifat multi nukleus tidak di tutupi oleh

nukleus tidak di tutupi oleh permukaan tulang dengan sifat dan

permukaan tulang dengan sifat dan

fungsi resorpsi serta mengeluarkan tulang yang di

fungsi resorpsi serta mengeluarkan tulang yang di sebut osteoklas. Kalsium hanya dapat

sebut osteoklas. Kalsium hanya dapat

dikeluarkan melalui tulang dari proses aktivitas osteoklasis yang

dikeluarkan melalui tulang dari proses aktivitas osteoklasis yang menghilangka

menghilangkan matriks

n matriks

organik dan kalsium secara bersamaan dan di sebut

organik dan kalsium secara bersamaan dan di sebut deosifikasi.

deosifikasi.

d. Anatomi Tangan

d. Anatomi Tangan

Ada tiga macam tulang yang menyusun tangan, yaitu:

Ada tiga macam tulang yang menyusun tangan, yaitu:

1) Tulang Pergelangan Tangan (Karpus)

1) Tulang Pergelangan Tangan (Karpus)

Pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal irteguler yang tersusun dalam

Pergelangan tangan terbentuk dari delapan tulang karpal irteguler yang tersusun dalam

dua baris, dan setiap barisnya terdiri

dua baris, dan setiap barisnya terdiri dari empat tulang. Barisan tulang karpal proksimal

dari empat tulang. Barisan tulang karpal proksimal

yang terdiri dari

yang terdiri dari navicular(skafoid)

navicular(skafoid),lunatum, trikuetral(triangular),da

,lunatum, trikuetral(triangular),dan pisiform. Barisan

n pisiform. Barisan

tulang karpal distal yang terdiri

tulang karpal distal yang terdiri dari: Trapezium, Trapezoid, Kapitatum, Hamatum.

dari: Trapezium, Trapezoid, Kapitatum, Hamatum.

2) Tangan (metacarpus)

2) Tangan (metacarpus)

Tangan tersusun dari l

Tangan tersusun dari lima tulang metakarpal’dimana semua tulang

ima tulang metakarpal’dimana semua tulang metacarpal

metacarpal

berukuran serupa kecuali tulang metacarpal pertama pada ibujari. Setiap tulang

berukuran serupa kecuali tulang metacarpal pertama pada ibujari. Setiap tulang

metacarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan distal

metacarpal memiliki sebuah dasar proksimal yang berartikulasi dengan barisan distal

tulang karpal pergelangan tangan.kepala tulang metacarpal membentuk buku jari

tulang karpal pergelangan tangan.kepala tulang metacarpal membentuk buku jari yang

yang

menonjol pada tangan.

menonjol pada tangan.

3) Tulang

3) Tulang –

 – tulang jari (phalanges)

 tulang jari (phalanges)

Setiap jari memiliki tiga tulang yaitu tulang proksimal,tulang medial, dan tulang distal,

Setiap jari memiliki tiga tulang yaitu tulang proksimal,tulang medial, dan tulang distal,

kecuali ibu jari yang hanya memiliki tulang proksimal dan medial saja. ( Sloane, 2003

kecuali ibu jari yang hanya memiliki tulang proksimal dan medial saja. ( Sloane, 2003 ))

3. Etiologi

3. Etiologi

a. Trauma langsung : benturan pada tulang

a. Trauma langsung : benturan pada tulang yang menyebabkan fraktur pada tempat

yang menyebabkan fraktur pada tempat

benturan contoh : kecelakaan lalu lintas.

benturan contoh : kecelakaan lalu lintas.

b. Trauma tidak langsung :

b. Trauma tidak langsung : jika titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur

jika titik tumpul benturan dengan terjadinya fraktur

berjauhan, jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi

berjauhan, jatuh dari ketinggian dengan berdiri atau duduk sehingga terjadi fraktur

fraktur

tulang belakang.

tulang belakang.

c. Proses suatu penyakit

c. Proses suatu penyakit

Penyakit yang melemahkan tulang, misalnya metastase kanker atau osteomielitis.

Penyakit yang melemahkan tulang, misalnya metastase kanker atau osteomielitis.

4. Patofisiologi

4. Patofisiologi

Daya

(4)

Tulang

Tulang

Fraktur

Fraktur

Perdarahan

Perdarahan

5. Klasifikasi Fraktur

5. Klasifikasi Fraktur

a. Menurut jumlah garis fraktur

a. Menurut jumlah garis fraktur

1) Simple fraktur

1) Simple fraktur

2) Multiple fraktur

2) Multiple fraktur

3) Comminute fractur : hanya ter

3) Comminute fractur : hanya terdapat satu garis fraktur

dapat satu garis fraktur

: terdapat lebih dari satu garis

: terdapat lebih dari satu garis

: terjadi banyak garis f

: terjadi banyak garis fraktur atau banyak fragmen kecil yang terlepas.

raktur atau banyak fragmen kecil yang terlepas.

b. Menurut garis fraktur

b. Menurut garis fraktur

1) Fraktur inkomplit

1) Fraktur inkomplit

2) Fraktur komplit

2) Fraktur komplit

3) Hair line fraktur : tulang tidak terpotong secara total

3) Hair line fraktur : tulang tidak terpotong secara total

(5)

: tulang terpotong secara total.

: garis fraktur hampir tak tampak sehingga bentuk tulang tak ada perubahan.

c. Menurut bentuk fragmen

1) Fraktur transversal

2) Fraktur oblique

3) Fraktur spiral : bentuk fragmen melintang

: bentuk fragmen miring

: bentuk fragmen melingkar

2.1 Tipe fraktur

(6)

d. Menurut hubungan antara fragmen dengan dunia luar.

Fraktur terbuka : fragmen tulang sampai menembus kulit

Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 (tiga) tingkat :

1) Pecahan tulang menusuk kulit, kerusakan jaringan sedikit, kontaminasi ringan, luka <

1 cm.

2) Kerusakan jaringan sedang, Resiko terjadi infeksi lebih besar, luka > 1 cm ( misal

fraktur comminutive)

3) Luka besar sampai lebih kurang 8 cm, kehancuran otot kerusakan neurovaskuler,

kontaminasi besar misal : luka tembak

Fraktur tertutup : fragmen tulang tak berhubungan dengan dunia luar.

e. Tahap dan Proses Penyembuhan Tulang.

1) Haematoma

Dalam 24 jam mulai pembekuan darah dan terjadi hematom di sekitar fraktur. Setelah

24 jam suplai darah ke ujung fraktur meningkat, hematoma ini mengelilingi fraktur dan

tidak di absorbsi selama penyembuhan tapi berubah dan berkembang menjadi

granulasi.

2) Proliferasi sel.

Sel-sel dari lapisan dalam periosteum berproliferasi pada sekitar fraktur, dimana sel-sel

ini menjadi precusor dari osteoblast, osteogenesis ini berlangsung terus, lapisan fibrosa

periosteum melebihi tulang.

Setelah beberapa hari kombinasi dari periosteum yang meningkat dengan fase granulasi

membentuk collar di lujung fraktur.

3) Pembentukan callus

6-10 hari setelah fraktur jaringan granulasi berubah dan memben¬tuk callus. Sementara

pembentukan cartilago dan matrik tulang diawali dari jaringan callus yang lunak. Callus

ini bertambah banyak, callus sementara meluas, menganyam massa tul ang dan cartilago

sehingga diameter tulang melebihi normal. Hal ini melindungi fragmen tulang tapi tidak

memberikan kekuatan callus sementara ini meluas melebihi garis fraktur.

4) Ossification

Callus yang menetap / permanen menjadikan tulang kaku karena adanya penumpukan

garam-garam calcium dan bersatu bersama ujung-ujung tulang. Proses ossifikasi ini

mulai dari callus bagian luar kemuadian bagian dalam dan terakhir bagian tenagh.

Proses ini terjadi selama 3-10 minggu.

5) Konsolidasi dan Remodelling.

Pada waktu yang sama pembentukan tuoang yang sebenarnya callus dibentuk dari

aktvitas osteoblast dan osteoklast. Kelebihan-kelebihan tulang seperti dipahat dan

diabsorbsi dari callus. Proses pembentukan lagi ditentukan oleh beban tekanan da ri

otot.

(7)

6. Gambaran Klinis Fraktur

a. Deformitas, dapat berupa :

1) Angulasi

Karena adanya kekerasan mengakibatkan otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang.

2) Pemendekan tonus otot-otot ekstremitas menarik patahan tulang, sehingga ujung

patahan saling bertumpuk.

b. Nyeri

Nyeri tekan dan pembengkakan di sekitar bagian fraktur. Jika frakturnya terbuka ujung

patahan tulang dapat terlihat di dalam luka.

c. Krepitasi ; Rasa gemeretak ketika ujung tulang bergeser.

d. Oedema

e. Echymosis

f. Fungsileosa ( gangguan fungsi)

g. spasme otot

h. Kemungkinan lain :

kehilangan sensasi

mobilisasi yang abnormal

Hypovolemik shock

7. Komplikasi

a. Segera ( immediate)

Komplikasi yang dapat terjadi segera setelah fraktur antara lain, shock neurogenik,

kerusakan organ, kerusakan syaraf, dan injury / perlukaan kulit,

b. Early complication

Early komplikasi yang dapat terjadi : osteomyelitis, emboli, tetanus, nekrosis, dan

sindroma compartement.

c. Late complication

Sedangkan komplikasi lanjut yang dapat terjadi antara lain stiffnes ( kaku sendi),

degenerasi sendi, penyembuhan tulang terganggu ( mal union, non union, delayed

union, dan cross union).

Pemeriksaan fisik

1) Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit, inkomplit, dan lain-lain).

2) Inspeksi daerah mana yang terkena:.

a. deformitas yang nampak jelas

b. edema , ekimosis sekitar lokasi cedera

c. laserasi

d. perubahan warna kulit

(8)

3) Palpasi :

a. bengkak, adanya nyeri dan penyebaran

b. krepitasi

c. nadi, dingin

d. observasi spasme otot sekitar daerah fraktur

e. terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera.

8. Pemeriksaan diagnostik

1) Laboratorium

Hb, Ht, leuco, LED, Ca dan P

2) Radiologi :

a. Untuk melihat beratnya cedera/ lokasi

b. Untuk melihat perkembangan tulang.

9. Penatalaksanaan

Kesembuhan fraktur dapat dibantu oleh aliran darah yang baik dan stabilitas ujung

patahan tulang.

a. Reposisi

Setiap pergeseran atau angulasi pada ujung patahan harus direposisi dengan hati -hati

melalui tindakan manipulasi yang biasanya dilakukan dengan anesthesi umum.

b. Imobilisasi

Imobilisasi untuk memungkinkan kesembuhan fragmen yang dipersatukan dengan cara :

c. Fiksasi eksterna.

Fraktur di imobilisasi dengan bidai atau gips dan traksi.

Penggunaan gips dan traksi

1) Penggunaan gips

Secara umum, gips digunakan untuk mempertahankan reduksi, namun harus melewati

sendi di atas dan di bawah fraktur. gips sebaiknya tidak berlaminasi dan sesuai dengan

geometri tulang yang diberi gips tersebut. Dengan membalut plester yang lunak di atas

tonjolan tulang biasanya dapat mencegah timbulnya ulserasi tekanan dan dapat

memaksimalkan kemampuan gips tersebut untuk mempertahankan posisi fragmen

fraktur.

Reduksi dan pemasangan gips seringkali dapat di selesaikan dalam jam sesudah terjadi

cedera.. Yaitu saat pembengkakan jaringan lunak belum maksimal. selain itu proses

reduksi juga dapat memberberat edema jaringan yang sudah ada. Namun karena gips

dipasang berbentuk melingkar, mengelilingi seluruh ekstremitas, maka suplai darah dan

syaraf ke ekstremitas yang cedera harus benar benar diperhatikan. ekstremitas harus

diletakkan lebih tinggi bagian distal ekstremitas yang mengalami cedera harus diperiksa

berulang ulang guna mengawasi perkembangan nyeri, kepucatan parestesi dan

(9)

Semua keluhan penderita yang tetap dirasakan setelah reduksi harus benar-benar

mendapat perhatian. Tekanan suplai darah dapat menimbulkan perubahan patologik

yang tidak reversible bila dibiarkan selama satu setengah jam. Pada beberapa jam

pertama setelah terjadi cedera, pemberian obat-obat narkotik secara berulang-ulang

adalah suatu kontraindikasi. Hal ini dapat menghilangkan nyeri lyang timbul dari

nekrosis jarin¬gan.

Tujuan pengunaan gips adalah :

1. Mengimobilisasi , mensupport, melindungi selama proses penyem¬buhan tulang

patah.

2. Mencegah dan memperbaiki deformitas.

Indikasi pemasangan gips:

Macam-macam gips : short leg, long leg, silinder, short arm, hip spica.

Yang perlu diperhatikan pada pemasangan gips:

1. Gips yang tidak pas dapat menimbulkan perlukaan.

2. Bila sudah parah, gips tidak dapat digunakan lagi.

3. Gips tidak boleh longgar atau terlalu kecil.

4. Perhatikan integritas kulit selama pemasangan gips.

2) Penggunaan Traksi

Metode lain yang baik untuk mempertahankan reduksi ekstremitas yang mengalami

fraktur adalah dengan traksi. Traksi dilakukan dengan menempelkan beban dengan tali

pada ekstremitas biasanya lebih disukai traksi rangka dengan pin baja steril yang

dimasuk¬kan melalui fragmen distal atau tulang yang lebih distal melalui pembedahan,

bukan dengan traksi kulit. Bentuk bentuk traksi biasanya akan membuat ekstremitas

yang patah terangkat lebih tinggi sehingga dapat mengurangi pembengkakan dan

meningkatkan penyembuhan jaringan lunak.

Sewaktu memasang atau mempertahankan traksi ada beberapa faktor penting yang

harus dipertimbangkan:

a) Tali utama. dipasang paha kiri rangka sebaiknya menimbulkan gaya tarik yang segaris

dengan sumbu panjang normal tulang pan¬jang yang patah.

b) Berat ekstremitas maupun alat-alat penyokong sebaiknya seimban¬gan dengan

pemberat untuk menjamin agar reduksi dapat dipertahan¬kan secara stabil dan

mendukung ekstremitas yang patah.

c) Ada tulang yang menonjol sebaiknya diberi lapisan khusus dan terlindung dengan

baik.

d) Traksi dapat bergerak bebas melalui katrol

e) Pemberat harus cukup tinggi diatas permukaan lantai dengan klien dalam posisi

normal diatas tempat tidur sehingga perubahan posisi rutin tidak menyebabkan

pemberat terletak dilantai sehing¬ga kehilangan regangan tali.

(10)

f) Traksi yang dipasang harus baik dan terasa nyaman

Kerugian penggunaan traksi :

a) perawatan rumah sakit lebih lama

b) mobilisasi terbatas.

c) perlu penggunaan alat-alat yang banyak

d) Indikasi penggunaan traksi :

Tujuan Traksi:

a) Mempertahankan/ memperbaiki alignment tulang paska fraktur.

b) Mengistirahatkan sendi yang implamasi

c) Koreksi deformitas.

d) Menghilangkan nyeri karena spasmeotot.

e) Mengurangi dislokasi sendi.

Prinsip-prinsip:

a) adekuat counter traksi

b) adanya kekuatan melakukan beban traksi

c) sesuai dengan poros

d) semua sistem harus bebas dari fiksi / tersangkut

e) klien teriformasi

f) penilaian terus menerus terhadap kepatenan traksi

g) Observasi neurovaskuler

h) observai adanya nyeri

i) firm matters untuk good aligment.

 j) Perineal care yang benar.

k) Hindari komplikasi tirah baring.

Rumus untuk pemberian traksi :

1) dewasa 1/3 x BB

2) anak-anak 1/13 x BB

d. Fiksasi interna / pembedahan.

Fiksasi dilakukan dengan menyatukan patahan tulang dengan memasang plate, wire

atau sekrup dengan tindakan operasi.

a. Open Reduksi intra fiksasi (ORIF)

Pembedahan reduksi terbuka pada patah tulang keuntungannya tulang yang patah

dapat terlihat. Demikian juga jaringan sekitar. Fiksasi internal dilaksanakan dalam tehnik

asepsis yang sangat ketat dan klien untuk beberapa saat mendapat antibiotik untuk

pence¬gahan setelah pembedahan.

Alat-alat fiksasi internal adalah :

1. Pelat dan skup seperti neufeld dan kuntscher.

2. Transfixian screw / skreu tembus.

(11)

3. Intermedullary rod / batang menembus sumsum.

4. Prostetic implans / pencangkokan alat prostetik, seperti austin moore protesis.

b. Debridement

Pembersihan luka fraktur terbuka dari jaringan nekrotik. adanya jaringan nekrotik di

sekitar luka akan memperlambat proses pen-yembuhan.

c. Transplantasi tulang

Jarang dilakukan, tapi adakalanya dilakukan pada faktur dimana tulang tidak dapat lagi

disatukan ( hancur ). Untuk mempertahan¬kan keutuhan organ tubuh

digunakantransplantasi tulang. Ini akan juga mempengaruhi kerja otot terhadap tulang.

e. Fisiotherapi dan mobilisasi

Fisiotherapi dilakukan untuk mempertahankan supaya otot tidak mengecil. Setelah

fraktur mulai sembuh mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas betul-betul

telah kembali normal.

Fungsi penyangga badan (Weight Bearing ) diperbolehkan setelah terbentuk cukup

callus.

Prinsip pengobatan yang diberikan sesuai dengan jenis dan kondisi fraktur. Prinsip

pengobatannya antara lain antibiotik, analgetik, toxoid, antipiretik, dan biasanya

ditambah dengan suplemen vitamin.

Antibiotik

Pengobatan antibiotik pada fraktur tidaklah spesifik, keefektifan pengobatan ditentukan

oleh :

1) Kontaminasi kuman terhadap luka.

2) Adanya penyakit lain yang memper¬berat dan mempermudah terjadinya fraktur.

Penyakit yang dapat memperberat dan mempermudah terjadinya frak-tur :

1) Osteomyelitis acute

2) Osteomyelitis kronik

3) Osteomalacia

4) Osteo porosis

5) Gout dan gouty

6) Rheumatoid arthritis.

Pada fraktur terbuka umumnya luka kontak dengan udara luar yang banyak ditemukan

bakteri gram positif dan gram, negatif. Pada fraktur tertutup jarang terjadi kontak

langsung dengan udara luar. Pemberian antibiotika digunakan untuk menghambat

terjadi infeksi lokal dan sistemik.

Analgetik

Diberikan untuk mengurangi rasa sakit yang timbul akibat trau¬ma. Nyeri yang timbul

dapat menyebabkan klien gelisah sampai dengan shock, yang dikenal dengan shock

analgetik. Ungkapan rasa nyeri dan ketidaknyamanan, obat yang paling baik ditemukan

(12)

adalah salisilate. sodium dapat digunakan, secara umum dalam bentuk aspirin ( asetil

salicilat asam )

Tujuan dari therapi aspirin adalah untuk mengatur kemampuan dosis obat sebagai ef ek

anti inflamasi , sama baiknya dengan analgetik untuk mendapatkan efek ini, aspirin

harus diminum setiap hari sesuai dengan kebutuhan individu dan pada beberapa orang

boleh diberikan dosis ganda untuk efek yang diinginkan.secara umum efek samping :

tinitus dan penurunan pendengaran yang reversible setelah obat bekerja . Iritasi

lambung memungkinkan kehilangan darah sedikit melalui saluran gastrointestinal akan

dijumpai pada beberapa klien sehingga dapat menimbulkan anemia ringan . Klien

dengan iritasi lambung, jika diberi aspirin harus dikombi¬nasi dengan antasid.

B. Konsep Asuhan Keperawatan

Dalam melaksanakan asuhan keperawatan terhadap pasien, perawat memandang

pasien sebagai individu yang utuh terdiri dari bio, psiko, sosial dan spiritual, mempunyai

kebutuhan sesuai tingkat pertumbuhan dan perkembangannya.

Griffith-Kenney dan Christensen (1986) mendefinisikan proses keperawatan sebagai

aktifitas yang logis dan rasional untuk melakukan praktek keperawatan secara

sistematis. “Proses keperawatan terdiri dari lima tahap : pengkajian, diagnosa

keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.”

1. Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan

pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa sehingga

dapat diketahui kebutuhan pasien terse¬but. Pengumpulan data yang akurat dan

sistematik akan membantu me¬nentukan status kesehatan dan pola pertahanan pasien

serta memudahkan perumusan diagnosa keperawatan.

Tahap pengkajian terdiri atas tiga kegiatan yaitu :

a. Pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan secara sistematis, bertujuan untuk mendapatkan data

yang penting tentang pasien dengan cara wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik.

Identitas pasien dan keluarga :

a) Nama Pasien, umur/tanggal lahir, jenis kelamin, agama.

b) Nama ayah, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, kultur, alamat.

c) Nama ibu, umur, agama, pekerjaan, pendidikan, kultur, alamat.

d) Saudara kandung, anak ke, nama, umur, pendidikan, dan keterangan.

b. Pemeriksaan fisik

Kebiasaan sehari-hari :

a) Pola nutrisi : Bagaimana kebiasaan klien dalam memenuhi nutrisi, frekuensi makan,

 jumlah, dan makanan tambahan.

(13)

b) Pola eliminasi : Kebiasaan BAB/BAK, apakah obstipasi dan bagaimana ciri faeces,

konsistensi, warna, bau dan mulai kapan.

c) Pola tidur : Kebiasaan tidur sehari-hari (jam tidur, lama tidur)

d) Pola aktifitas : Kegiatan sehari-hari, mengisi waktu luang, dan lain-lain.

e) Pola dalam hygiene : kebiasaan mandi, menyikat gigi, memotong kuku, rambut, dan

lain-lain.

c. Riwayat kesehatan masa lalu

Apakah pernah dirawat di rumah sakit, sakit waktu kecil, pernah mendapatkan

obat-obatan atau tindakan operasi, alergi obat dan makanan, pernah mengalami kecelakaan.

d. Riwayat kesehatan keluarga

Apakah keluarga ada yang menderita sakit menular pada saat ini, apakah keluarga

mempunyai penyakit keturunan yang memerlukan perawatan.

e. Riwayat perjalanan penyakit :

1) Keluhan utama klien datang ke RS atau tempat pelayanan keseha-tan

2) Apa penyebabnya, kapan terjadi kecelakaan atau trauma

3) Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak, dan lain-lain.

4) Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan.

5) Kehilangan fungsi

6) Apakah klien ada riwayat penyakit osteoporosis.

f. Proses pertolongan pertama yang dilakukan

1) Pemasangan bidai sebelum memindahkan klien dan pertahankan gerakan di atas / di

bawah tulang yang fraktur sebelum dipindah-kan

2) Tinggikan ekstremitas untuk mengurangi edema

3) Bila fraktur terbuka, hentikan perdarahan dan tutup luka dengan kain yang bersih.

4) Bila fraktur tertutup, jangan merubah posisi fraktur karena akan memperberat

keadaan.

5) Kirim untuk pertolongan emergensi

6) Pantau daerah yang cedera dalam periode waktu pendek, untuk melihat perubahan

warna, dan suhu.

g. Pemeriksaan fisik

a. Mengidentifikasi tipe fraktur ( komplit, inkomplit, dan lain-lain).

b. Inspeksi daerah mana yang terkena:.

1) Deformity yang nampak jelas

2) Edema , ekimosis sekitar lokasi cedera

3) Laserasi

(14)

4) Perubahan warna kulit

5) Kehilangan fungsi daerah lyang cedera

c. Palpasi :

1) Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran

2) Krepitasi

3) Nadi, dingin

4) Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur

5) Terpasang alat immobilisasi pada lokasi cedera.

d. Kapan terjadinya cidera/kecelakaan, pernah berobat kemana saja, bagaimana awal

terjadinya, tindakan apa saja yang telah dilaukan.

e. Keluhan utama : adanya rasa nyeri, luka terbuka, bentuk tulang yang ti dak normal.

f. Pengobatan : usaha yang dilakukan orang untuk kesembuhan pasien membawanya ke

Puskesmas/rumah sakit/petugas kesehatan dan apa obat yang diberikan.

2. Diagnosa keperawatan

Menurut Carpenito (1992) mendefinisikan diagnosa keperawatan adalah : “ Pernyataan

yang menjelaskan status kesehatan atau masalah aktual atau potensial. Perawat

menggunakan proses keperawatan dalam mengidentifikasi dan mensintesa data klinis

dan menentukan intervensi keperawatan, untuk mengurangi, menghilangkan, atau

mencegah masalah klien yang ada pada tanggungjawabnya”.

Adapun diagnosa keperawatan yang timbul pada pasien dengan fraktur menurut buku

“Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan

Pasien Edisi III” (Doenges, 2000), Dkk adalah sebagai berikut :

1. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur).

2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tulang, oedem, trauma

pada jaringan lunak, stress, cemas.

3. Resiko terjadi disfungsi neuromusculer periferal berhubungan dengan trauma

 jaringan, oedema, yang berlebihan, adanya trobus, hipovolemia, terhambatnya aliran

darah.

4. Resiko terjadi gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan peredaran

darah / emboli lemak, perubahan membran alveo¬lar / capiler.

5. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromus-cular, nyeri,

restriktif terapi, imobilisasi.

6. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan adanya

fraktur pemasangan gips / traksi, gangguan sirkula¬si.

7. Resiko terjadi infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan primer (

rusak kulit, jaringan prosedur invansif, traksi tulang ).

(15)

dengan kurangnya penjelasan, salah menafsirkan informasi, tidak terbiasa dengan

sumber informasi.

3. Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka disusunlah peren-canaan

keperawatan. Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang dimulai

setelah data-data yang terkumpul sudah dianalisa. Pada bagian ini ditentukan sasaran

yang akan dicapai dan rencana tindakan keperawatan dikembangkan. Tahapan dalam

perenca-naan ini terdiri dari :

Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar manusia menurut

hirarki Maslow.

a. Merumuskan tujuan keperawatan yang akan dicapai

b. Menetapkan kriteria evaluasi

c. Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan.

Dari diagnosa keperawatan yang telah disusun di atas, maka rencana tindakan

keperawatannya adalah sebagai berikut :

1. Resiko terjadi trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang ( fraktur).

Hasil yang diharapkan :

1) Mempertahankan stabilisasi dan aligment fraktur.

2) Mendemonstrasikan mekanika tubuh untuk mempertahankan stabili-tas dan posisi

tubuh.

3) Menunjukkan pertumbuhan callus yang baru pada bagian fraktur.

Rencana Tindakan

a. Anjurkan bed rest dengan memberikan penyangga saat mencoba menggerakkan

bagian yang fraktur.

Rasional :

Meningkatkan kemampuan, mereduksi kemungkinan pengobatan.

b. Letakkan klien pada tempat tidur ortopedis.

Rasional :

Kelembutan dan kelenturan alas dapat mempengaruhi bentuk gips yang basah.

c. Beri sanggahan pada fraktur dengan bantal, pertahankan posisi netral dengan

menahan bagian yang fraktur dengan bantalan pasir, bidai, trochanter roll, papan kaki.

Rasional :

Mencegah gerakan yang tidak perlu dan gangguan pada allignment. Penempatan bantal

yang tepat dapat mencegah penekanan sehingga menghindari deformitas pada gips.

d. Evaluasi pergerakan bidai untuk menghindari edema.

Rasional :

(16)

mencegah terjadinya bengkak pada jaringan. Edema akan hilang dengan pemberian

bidai.

e. Pertahankan posisi dan integritas dari traksi.

Rasional :

Tarikan pada traksi dilakukan pada tulang panjang yang fraktur dan kemudian

menjadikan otot tegang sehingga memu¬dahkan aligment.

f. Pastikan bahwa semua klem/ penjepit berfungsi. Minyaki katrol dan cek tali.

Rasional :

Menjamin traksi dapat dipergunakan dan menghin¬dari gangguan pada fraktur.

g. Cek kembali pembatasan therapi yang diberikan.

Rasional :

Menjaga integritas tarikan pada traksi.

h. Follow up pemeriksaan X-Ray.

Rasional :

Mengetahui proses tumbuhnya callus untuk menentu¬kan tingkat aktivitas l dan

memerlukan perubahan atau tambahan therapi.

i. Pertahankan fisiotherapi jika perlu.

Rasional :

Membantu menguatkan pertumbuhan tulang dalam masa penyembuhan.

2. Nyeri berhubungan dengan spasme otot, pergerakan fragmen tu-l ang, edema, traksi /

immobilisasi karena penggunaan alat, stress dan kecemasan.

Rencana Tindakan :

1) Lakukan imobilisasi ( bed rest, gips, bidai, traksi ).

Rasional :

Mengurangi lnyeri dan mencegah perubahan posisi tulang serta luka pada jaringan.

2) Tinggikan dan sangga daerah luka.

Rasional :

Meningkatkan aliran vena, mengurangi edema dan mengur¬angi nyeri.

3) Hindari penggunaan sprei plastik/ bantal dibawah gips.

Rasional :

Menyebabkan rasa tidak nyaman karena menambah panas pada gips.

4) Tinggikan bagian depan tempat tidur.

Rasional :

Memberikan rasa nyaman.

5) Evaluasi rasa nyeri lokasi dan karekteristik termasuk in¬tensitas ( skala 0 - 10 ).

Perhatikan juga rasa nyeri non verbal ( periksa tanda vital dan emosi / tingkah laku ).

Rasional :

(17)

Monitor keefektifan intervensi. Tingkat kecemasan dapat menunjukkan reaksi dari nyeri.

6) Diskusikan masalah yang berhubungan dengan injury.

Rasional :

Menolong mengurangi kecemasan.

7) Terangkan prosedur sebelum memulai.

Rasional :

Mengijinkan klien untuk mempersiapkan mental agar dapat berpartisipasi dalam

aktivitas.

8) Beri pengobatan sesuai terapi sebelum melakukan aktivitas perawatan.

Rasional :

Meningkatkan relaksasi otot agar dapat berpartisipasi.

9) Lakukan latihan range of motion.

Rasional :

Mempertahankan kemampuan otot dan menghindari pembeng¬kakan pada jaringan

yang luka.

10) Lakukan tindakan untuk meningkatkan rasa nyaman dengan masase, perubahan

posisi.

Rasional :

Memperbaiki sirkulasi umum, mengurangi tekanan pada satu tempat dan kelelahan

otot.

11) Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi ( latih nafas dalam).

Rasional :

Meningkatkan sense of control dan mungkin dapat me¬ningkatkan kemampuan

mengurangi rasa nyeri.

3. Resiko terjadi gangguan integritas kulit / jaringan berhubungan dengan compound

fracture, pemasangan traksi, gangguan sensasi , sirkulasi, immobilisasi fisik.

Rencana Tindakan :

1) Periksa kulit sekitar luka , kemerahan, perdarahan, perubahan warna kulit.

Rasional :

Memberikan informasi gangguan sirkulasi kulit dan masalah-masalah yang mungkin

disebabkan oleh penggunaan traksi, terbentuknya edema

2) Masase kulit dan tempat yang menonjol, menjaga alat tenun tetap kering ,

memberikan alas yang lembut pada siku dan tumit.

Rasional :

Mengurangi penekanan pada daerah yang mudah terkena dan resiko untuk lecet dan

rusak.

(18)

Rasional :

Mengurangi penekanan yang terus menerus pada posisi tertentu

4) Kaji posisi splint ring traksi.

Rasional :

Salah posisi akan menyebabkan kerusakan kulit.

5) Pakai bed matras / air matras.

Rasional :

Mencegah perlukaan setiap anggota tubuh, dan untuk anggota tubuh yang kurang gerak

efektif untuk mencegah penurunan sirkulasi.

4. Resiko terjadi destruksi neuromuskuler periferal berhubungan dengan trauma

 jaringan, edema yang berlebihan, adanya trombus, hypovolemia, terhambatnya aliran

darah

Hasil yang diharapkan:

1) Mempertahankan perfusi jaringan yang ditandai dengan terabanya pulsasi

2) Kulit hangat dan kering .

3) Perabaan normal

4) Tanda vital stabil.

5) Urin output yang adekuat.

Rencana Tindakan :.

1) Lepas perhiasan pada daerah yang mengalami ganggguan

Rasional :

Dapat membatasi bila terjadi oedema.

2) Evaluasi adanya kualitas / kualitas dari pulsasi perifer distal yang luka melalui palpasi /

doppler. Bandingkan dengan sisi yang normal .

Rasional :

Berkurangnya / tidak adanya pulsasi menggambarkan adanya pembuluh darah yang luka

dan memerlukan evaluasi status sirkulasi yang segera. Perlu disadari bahwa kadang

-kadang pulsasi dapat teraba walaupun sirkulasi terhambat oleh sumbatan kecil. Sebagai

tambahan, perpusi melalui arteri yang besar dapat berlanjut setelah menambah

tekanan dari sirkulasi arteriol / venol yang kolaps.

3) Kaji kembalinya kapiler, warna kulit dan kehangatan bagian distal dari fraktur.

Rasional :

Kembalinya warna dengan cepat ( 3-5 detik ) putih. Kulit yang dingin menandakan

lemahnya aliran arteri. Sianosis menandakan lemahnya aliran vena .

Pulsasi perifer, kembalinya kapiler, warna kulit dan rasa dapat normal terjadi dengan

adanya syndrome comparmental karena sirkulasi permukaan sering kali tidak sesuai.

4) Kaji status neuromuskuler, catat perubahan motorik/ fungsi sensorik. Tanyakan

(19)

kepada klien lokasi nyeri/

kepada klien lokasi nyeri/ tidak nyaman.

tidak nyaman.

Rasional :

Rasional :

Lemahnya rasa, kebal, meningkatnya/ penyebaran rasa sakit terjadi ketika sirkulasi ke

Lemahnya rasa, kebal, meningkatnya/ penyebaran rasa sakit terjadi ketika sirkulasi ke

saraf tidak adekuat atau adanya trauma pada saraf.

saraf tidak adekuat atau adanya trauma pada saraf.

5) Tes

5) Tes sensasi dari syaraf peroneal dengan mencubit dorsal diantara jari

sensasi dari syaraf peroneal dengan mencubit dorsal diantara jari kaki pertama

kaki pertama

dan kedua. Kaji kemampuan dorso fleksi jari

dan kedua. Kaji kemampuan dorso fleksi jari-jari kaki.

-jari kaki.

Rasional :

Rasional :

Panjang dan posisi syaraf peroneal meningkatkan resiko terjadinya injury dengan

Panjang dan posisi syaraf peroneal meningkatkan resiko terjadinya injury dengan

adanya fraktur di kaki, oedema/ comparmental syndrome atau

adanya fraktur di kaki, oedema/ comparmental syndrome atau malposisi dari peralatan

malposisi dari peralatan

traksi.

traksi.

6) Monitor posisi/ lokasi ring penyangga bidai

6) Monitor posisi/ lokasi ring penyangga bidai

Rasional :

Rasional :

Peralatan traksi dapat menekan pembuluh darah

Peralatan traksi dapat menekan pembuluh darah atau syaraf, khususnya diaksila atau

atau syaraf, khususnya diaksila atau

daerah selangkang, menyebabkan iskemik dan luka

daerah selangkang, menyebabkan iskemik dan luka permanent.

permanent.

7) Pertahankan elevasi dari ekstermitas yang

7) Pertahankan elevasi dari ekstermitas yang cedera jika tidak kontraindikasi dengan

cedera jika tidak kontraindikasi dengan

adanya compartemen syndrome.

adanya compartemen syndrome.

Rasional :

Rasional :

Mencegah aliran vena/ mengurangi oedema

Mencegah aliran vena/ mengurangi oedema

4. Pelaksanaan

4. Pelaksanaan

Merupakan pelaksanaan rencana tindakan keperawa

Merupakan pelaksanaan rencana tindakan keperawatan yang

tan yang telah ditentuan agar

telah ditentuan agar

kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Pel

kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Pelaksanaa

aksanaan tindakan keperawatan dapat

n tindakan keperawatan dapat

dilaksanakan sebagian oleh pasien, perawat

dilaksanakan sebagian oleh pasien, perawat secara mandiri, atau bekerjasama dengan

secara mandiri, atau bekerjasama dengan

tim kesehatan lain. Dalam hal

tim kesehatan lain. Dalam hal ini perawat adalah sebagai pelaksana asuhan

ini perawat adalah sebagai pelaksana asuhan

keperawatan yaitu memberikan pelayanan perawatan dengan menggunakan proses

keperawatan yaitu memberikan pelayanan perawatan dengan menggunakan proses

keperawatan. Adapu

keperawatan. Adapun langkah-langkah dalam tindakan keperawatan terdiri

n langkah-langkah dalam tindakan keperawatan terdiri dari tiga

dari tiga

tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan dokumentasi.

tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan dokumentasi.

Pada tahap persiapan, perawat harus memiliki keterampilan khusus dan pengetahuan

Pada tahap persiapan, perawat harus memiliki keterampilan khusus dan pengetahuan

untuk menghindari kesalahan dalam memberikan tindakan keperawatan pada pasien.

untuk menghindari kesalahan dalam memberikan tindakan keperawatan pada pasien.

Sebelum dilakukan tindakan keperawatan, perawat

Sebelum dilakukan tindakan keperawatan, perawat terlebih dahulu

terlebih dahulu memberitahuka

memberitahukan

n

dan menjelaskan tentang maksud dan tujuan serta akibat tindakan yang akan dilakukan.

dan menjelaskan tentang maksud dan tujuan serta akibat tindakan yang akan dilakukan.

Tahap pelaksanaan merupakan tindakan yang akan dilakukan sesuai

Tahap pelaksanaan merupakan tindakan yang akan dilakukan sesuai dengan rencana

dengan rencana

dalam rangka mengatasi masalah keperawatan yang ada.

dalam rangka mengatasi masalah keperawatan yang ada.

Tahap dokumentasi yaitu tahap tindakan keperawatan yang telah

Tahap dokumentasi yaitu tahap tindakan keperawatan yang telah di-lakukan baik

di-lakukan baik

kepada pasien ataupun keluarga, dicatat dalam

kepada pasien ataupun keluarga, dicatat dalam catatan keperawatan. Pada

catatan keperawatan. Pada

pendokumentas

pendokumentasian ini harus l

ian ini harus lengkap meliputi tang¬gal, jam pemberian tindakan, jenis

engkap meliputi tang¬gal, jam pemberian tindakan, jenis

tindakan, respon pasien, paraf serta

tindakan, respon pasien, paraf serta nama perawat yang melakukan tindakan. Menurut

nama perawat yang melakukan tindakan. Menurut

Yoseph tahun 1994

(20)

pemutarbalikan fakta, untuk mencegah kehilangan informasi dan

pemutarbalikan fakta, untuk mencegah kehilangan informasi dan agar dapat dipelajari

agar dapat dipelajari

oleh perawat lain. Semua tahap dalam

oleh perawat lain. Semua tahap dalam proses keperawatan harus di-

proses keperawatan harus di-

dokumentasikan.”

dokumentasikan.”

Beberapa faktor dapat

Beberapa faktor dapat mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan keperawatan,

mempengaruhi pelaksanaan rencana asuhan keperawatan,

antara lain sumber-sumber yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta

antara lain sumber-sumber yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta

lingkungan fisik untuk pelayanan keperawatan yang dil

lingkungan fisik untuk pelayanan keperawatan yang dil akukan.

akukan.

5. Evaluasi

5. Evaluasi

Tahap evaluasi dalam proses

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpula

keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif

n data subyektif

dan obyektif yang

dan obyektif yang menunjukkan mengenai tujuan asuhan keperawatan sudah dapat

menunjukkan mengenai tujuan asuhan keperawatan sudah dapat

dicapai atau belum, masalah apa yang sudah dipecahkan dan apa

dicapai atau belum, masalah apa yang sudah dipecahkan dan apa yang perlu dikaji lagi,

yang perlu dikaji lagi,

direncanakan, dil

direncanakan, dilaksanaka

aksanakan.

n.

Evaluasi merupakan tahap akhir proses

Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang merupakan aktifitas

keperawatan yang merupakan aktifitas

berkesinambunga

berkesinambungan dari tahap awal

n dari tahap awal (pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan

(pengkajian) sampai tahap akhir (evaluasi) dan

melibatkan pasien/keluarga. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas

melibatkan pasien/keluarga. Evaluasi bertujuan untuk menilai efektifitas rencana dan

rencana dan

strategi asuhan keperawatan. Evaluas

strategi asuhan keperawatan. Evaluasi terdiri dari

i terdiri dari evaluasi proses, untuk menilai apakah

evaluasi proses, untuk menilai apakah

prosedur dilakukan sesuai dengan rencana dan evaluasi hasil berfokus kepada

prosedur dilakukan sesuai dengan rencana dan evaluasi hasil berfokus kepada

perubahan perilaku dan keadaan kesehatan pasien sebagai

perubahan perilaku dan keadaan kesehatan pasien sebagai hasil tindakan keperawatan.

hasil tindakan keperawatan.

Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu :

Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu :

a. Masalah teratasi

a. Masalah teratasi

Masalah teratasi apabila pasien

Masalah teratasi apabila pasien menunjukkan perubahan tingkah laku dan

menunjukkan perubahan tingkah laku dan

perkembangan kesehata

perkembangan kesehatan sesuai

n sesuai dengan kriteria pencapaian tu¬juan yang

dengan kriteria pencapaian tu¬juan yang telah

telah

ditetapkan.

ditetapkan.

b. Masalah sebagian teratasi

b. Masalah sebagian teratasi

Masalah sebagian teratasi apabila pasien

Masalah sebagian teratasi apabila pasien menunjukka

menunjukkan perubahan dan

n perubahan dan perkembanga

perkembangan

n

kesehatan hanya sebagian dari kriteria pencapaian tu-juan yang telah

kesehatan hanya sebagian dari kriteria pencapaian tu-juan yang telah ditetapkan.

ditetapkan.

c. Masalah belum teratasi

c. Masalah belum teratasi

Masalah belum teratasi, jika pasien sama

Masalah belum teratasi, jika pasien sama sekali tidak menunjukkan perubahan perilaku

sekali tidak menunjukkan perubahan perilaku

dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah

dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah yang baru.

yang baru.

BAB III

BAB III

TINJAUAN KASUS

TINJAUAN KASUS

Pada bab ini penulis

Pada bab ini penulis akan menguraikan tentang asuhan keperawata

akan menguraikan tentang asuhan keperawatan klien dengan

n klien dengan

Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V manus dextra di ruang Cempaka RSUD Abdul

Fraktur Communitif Metakarpal IV dan V manus dextra di ruang Cempaka RSUD Abdul

Wahab Syahranie Samarinda, yang dimulai sejak tanggal 21 Juli sampai dengan 23 Juli

Wahab Syahranie Samarinda, yang dimulai sejak tanggal 21 Juli sampai dengan 23 Juli

2009.

2009.

Adapun pelaksanaan asuhan keperawatan ini dilakukan tahap demi

(21)

pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan

pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi

evaluasi

yang disebut dengan tahap

yang disebut dengan tahap proses keperawatan.

proses keperawatan.

Pengertian Fraktur :

Pengertian Fraktur :

Fraktur

Fraktur

(patah tulang) adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang dan

(patah tulang) adalah terputusnya kontinuitas struktur tulang dan

ditentukan

ditentukan

sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer S.C & Bare B.G,200

sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer S.C & Bare B.G,200

1)

1)

Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh.( Reeves C.J,Roux G &

Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh.( Reeves C.J,Roux G &

Lockhart R,2001 )

Lockhart R,2001 )

Jenis Fraktur :

Jenis Fraktur :

Agar lebih sistematis, jenis fraktur dapat dibagi berdasarkan :

Agar lebih sistematis, jenis fraktur dapat dibagi berdasarkan :

Lokasi

Lokasi

Fraktur dapat terjadi pada tulang di mana

Fraktur dapat terjadi pada tulang di mana

saja seperti pada diafisis, metafisis, epifisis,

saja seperti pada diafisis, metafisis, epifisis,

atau intraartikuler. Jika

atau intraartikuler. Jika fraktur 

 fraktur 

 didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi, maka

 didapatkan bersamaan dengan dislokasi sendi, maka

dinamakan fraktur dislokasi.

dinamakan fraktur dislokasi.

Luas

Luas

Terbagi menjadi fraktur lengkap (komplit) dan tidak lengkap

Terbagi menjadi fraktur lengkap (komplit) dan tidak lengkap

(inkomplit). Fraktur tidak

(inkomplit). Fraktur tidak

lengkap contohnya adalah retak.

lengkap contohnya adalah retak.

Konfigurasi

Konfigurasi

Dilihat dari garis frakturnya, dapat dibagi menjadi transversal (mendatar), oblik (miring),

Dilihat dari garis frakturnya, dapat dibagi menjadi transversal (mendatar), oblik (miring),

atau spiral (berpilin/ memuntir seputar batang tulang). Jika terdapat lebih dari satu

atau spiral (berpilin/ memuntir seputar batang tulang). Jika terdapat lebih dari satu

garis

garis

fraktur, maka dinamakan kominutif, jika satu bagian p

fraktur, maka dinamakan kominutif, jika satu bagian p

atah sedangkan sisi lainnya

atah sedangkan sisi lainnya

membengkok disebut greenstick. Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (

membengkok disebut greenstick. Fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (

sering terjadi pada tulang tengkorak dan

sering terjadi pada tulang tengkorak dan

wajah) disebut depresi, fraktur dimana tulang

wajah) disebut depresi, fraktur dimana tulang

mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang )

mengalami kompresi ( terjadi pada tulang belakang )

disebut kompresi.

disebut kompresi.

Hubungan antar bagian yang fraktur

Hubungan antar bagian yang fraktur

Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubung

Antar bagian yang fraktur dapat masih berhubung

an (undisplaced) atau terpisah jauh

an (undisplaced) atau terpisah jauh

(displaced).

(displaced).

Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar

Hubungan antara fraktur dengan jaringan sekitar

Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubun

Fraktur dapat dibagi menjadi fraktur terbuka (jika terdapat hubun

gan antara tulang

gan antara tulang

dengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak

dengan dunia luar) atau fraktur tertutup (jika tidak

terdapat hubungan antara fraktur

terdapat hubungan antara fraktur

dengan dunia luar).

(22)

Fraktur terbuka dibedakan menjadi beberapa grade yaitu :

Grade I

 : luka bersih, panjangnya kurang dari 1 cm.

Grade II

 : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif.

Grade III

 : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif.

Etiologi :

Terjadinya fraktur akibat adanya trauma yang mengenai tulang yang kekuatannya melebihi

kekuatan tulang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur :

·

Faktor ekstrinsik 

 yaitu meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah serta

kekuatan tulang.

·

Faktor intrinsik 

 yaitu meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi trauma, kelenturan,

densitas serta kekuatan tulang.

Pengkajian

Riwayat Penyakit :

Dilakukan anamnesa untuk mendapatkan riwayat mekanisme terjadinya cidera, posisi tubuh saat

 berlangsungnya trauma, riwayat fraktur sebelumnya, pekerjaan, obat-obatan yang dikomsumsi,

(23)

Pemeriksaan Fisik :

1. Inspeksi

(look) 

Adanya deformitas (kelainan bentuk) seperti bengkak, pemendekan, rotasi, angulasi, fragmen

tulang (pada fraktur terbuka).

2. Palpasi

(feel) 

Adanya nyeri tekan (tenderness), krepitasi, pemeriksaan status neurologis dan vaskuler di bagian

distal fraktur. Palpasi daerah ektremitas tempat fraktur tersebut, di bagian distal cedera meliputi

 pulsasi arteri, warna kulit, capillary refill test.

3. Gerakan

(moving) 

Adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur.

Pemeriksaan Penunjang :

1. Pemeriksaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur, harus mengikuti aturan

role of two,

 yang terdiri dari :

Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral.

Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal.

Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang tidak

terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal)

Dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan.

2. Pemeriksaan laboratorium, meliputi:

Darah rutin,

Faktor pembekuan darah,

Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi),

Urinalisa,

Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk kliren ginjal).

3. Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskuler akibat

fraktur tersebut.

Komplikasi :

Penyebab komplikasi fraktur secara umum dibedakan menjadi dua yaitu bisa karena trauma itu

sendiri, bisa juga akibat penanganan fraktur yang disebut komplikasi iatrogenik.

(24)

Syok hipovolemia (karena perdarahan yang banyak), syok neurogenik (karena nyeri yang hebat),

koagulopati diffus, gangguan fungsi pernafasan. Komplikasi ini dapat terjadi dalam waktu 24

 jam pertama pasca trauma, dan setelah beberapa hari atau minggu dapat terjadi gangguan

metabolisme yaitu peningkatan katabolisme, emboli lemak, tetanus, gas ganggren, trombosit

vena dalam (DVT).

Komplikasi Lokal :

Jika komplikasi yang terjadi sebelum satu minggu pasca trauma disebut komplikasi dini, jika

komplikasi terjadi setelah satu minggu pasca trauma disebut komplikasi lanjut.

Ada beberapa komplikasi yang terjadi yaitu :

Infeksi, terutama pada kasus fraktur terbuka.

Osteomielitis yaitu infeksi yang berlanjut hingga tulang.

Atropi otot karena imobilisasi sampai osteoporosis.

Delayed union yaitu penyambungan tulang yang lama.

 Non union yaitu tidak terjadinya penyambungan pada tulang yang fraktur.

Artritis supuratif, yaitu kerusakan kartilago sendi.

Dekubitus, karena penekanan jaringan lunak oleh gips.

Lepuh di kulit karena elevasi kulit superfisial akibat edema.

Terganggunya gerakan aktif otot karena terputusnya serabut o tot,

Sindroma kompartemen karena pemasangan gips yang terlalu ketat sehingga

mengganggu aliran darah

Penatalaksanaan :

Penatalaksanaan fraktur mengacu kepada empat tujuan utama yaitu:

1. Mengurangi rasa nyeri,

Trauma pada jaringan disekitar fraktur menimbulkan rasa nyeri yang hebat bahkan sampai

menimbulkan syok. Untuk mengurangi n yeri dapat diberi obat penghilang rasa nyeri, serta

dengan teknik imobilisasi, yaitu pemasangan bidai / spalk, maupun memasang gips.

2. Mempertahankan posisi yang ideal dari fraktur.

Seperti pemasangan traksi kontinyu, fiksasi eksternal, fiksasi internal, sedangkan bidai maupun

gips hanya dapat digunakan untuk fiksasi yang bersifat sementara saja.

3. Membuat tulang kembali menyatu

Tulang yang fraktur akan mulai menyatu dalam waktu 4 minggu dan akan menyatu dengan

sempurna dalam waktu 6 bulan.

(25)

Imobilisasi dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan atrofi otot dan kekakuan pada

sendi. Maka untuk mencegah hal tersebut diperlukan upaya mobilisasi.

Proses Penyembuhan Tulang :

Fase Inflamasi :

Fase ini berlangsung mulai terjadinya fraktur hingga kurang lebih satu sampai dua minggu.

Peningkatan aliran darah menimbulkan hematom diikuti invasi sel-sel peradangan yaitu

neutrofil, makrofag, sel fagosit, osteoklas, yang berfungsi untuk membersihkan jaringan

nekrotik, yang akan mempersiapkan fase reparatif. Jika dirontgen, garis fraktur lebih terlihat

karena telah disingkirkannya material nekrotik.

Fase Reparatif :

Dapat berlangsung beberapa bulan. Ditandai dengan diferensiasi dari sel mesenkim

 pluripotensial. Hematom fraktur diisi oleh kondroblas dan fibroblas yang akan menjadi tempat

matrik kalus. Pada awalnya terbentuk kalus lunak, terdiri dari jaringan fibrosa dan kartilago

dengan sejumlah kecil jaringan tulang. Osteoblas men gakibatkan mineralisasi kalus lunak

menjadi kalus keras serta menambah stabilitas fraktur. Jika dirontgen maka garis fraktur mulai

tidak tampak.

Fase Remodeling :

Fase ini bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga tahunan untuk merampungkan

 penyembuhan tulang, yang meliputi aktifitas osteoblas dan osteoklas yang menghasilkan

 perubahan jaringan immatur agar menjadi matur, terbentuknya tulang lamelar sehingga

menambah stabilitas daerah fraktur.

8

terjadi secara nyata dengan mencantumkan faktor apa saja yangmendukung,bagaiman cara

menanggulangi masalah,alternatifpemecahan masalah yang rasional..Bab kelima penutup

 berisikan kesimpulan tentang hasil daritinjauan kasus serta saran saran untuk meningkatkan mutu

asuhankeperawatan.

BAB IITINJAUAN TEORITIS

Definisi Fraktur menurut Mansjoer,dkk (2000) adalah terputusnyakontunuitas tulang dan atau

tulang rawan yang umumnya disebabkan olehrudapaksa.

Definisi Fraktur menurut Suddarth (2001),adalah terputusnyakontinuitas tulang dan ditentukan

sesuai jenis dan luasnya.

Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung ,gayameremuk,gerakan puntir mendadak,dan

 bahkan kontraksi ototekstrem(Suddarh,2001).Menurut Mansjoer,Arief (2000),

klasifikasi fraktur dapat dibagi menjadidua yaitu ;Fraktur tertutup bila tidak tedapat h ubungan

antara fragmen tulang dengan dunia luar.Fraktur terbuka bila terdapat hubungan antarafragme

tulang dengan dunia luar kaena adanya perlukaan dikulit,frakturterbuka terbagi atas tiga derajat

yaitu :

(26)

9

1) Derajat I : luka <1cm,kerusakan jaringan lunak sedikit,tidak ada lukaremukFraktur

,sederhana,transversal,oblik,atau komunutif ringan2) Derajat II :laserasi >1cm,kerusakan

 jaringan lunak,tidak luas,Frakturkominutif sedang,kontaminasi sedang3) Derajat III : jaringan

lunak yang menutupi fraktur tulang tidak adekuatwalaupun terdapat laserasi luas,kehilangan

 jaringan lunak dengafraktur tulang yang terpapar atau kontaminasi massif,luka padapembuluh

arteri / saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa melihatkerusakan jaringan lun ak.Suddarth et,al

(2001),membagi jenis jenis fraktur yaitu sebagaiberikut,

Fraktur complete

adalah patah pada seluruh garis tengah tulangdan biasanya mengalami pergeseran (berbeser dari

 posisi normal).

Fraktur Incomplete

adalah patah hanya terjadi pada sebagian garistulang.

Greenstick

adalah fraktur dimana salah satu sisi tulag patahsedang sisi lainnya membengkok,

Transversal

adalah fraktur sepanjanggaris tengah tulang,

Spiral

adlah fraktur memuntir seputar batangtulang,

Kominutif

adalah fraktur dengan tulang pecah menjadi bebrapafragmen,

Depresi

adalah fraktur dengan fragmen patahan terdorong kedalam (sering terjadi pada tulang tengkorak

dan tulang wajah),

Kompresi

adalah fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulangbelakang),

Patologik

dimana fraktur yang terjadi pada daerah tulangberpenyakit (kista tulang,penyakit

osteoporosis,tumor),

avulse

adalahtertariknya fragmen tulang oleh ligament atau tendo pada perlekatannya

Epifiseal

adalah fraktur melalui epifis,

Impaksi

adalah fraktur dimanafragmen tulang terdorong kef ragmen tulang lainnya.Etiologi Fraktur

merupakan akibat dari cedera,seperti kecelakaanmobil,olahraga atau karena jatuh.Fraktur terjadi

 jika tenaga yang melawantulang lebih besar dari pada kekuatan tulang (Susi, 2007).Manifestasi

klinis fraktur menurut Suddath,et al(2001)adalahnyeri,hilangnya fungsi,deformitas,pemendekan

ekstrmitas, krepitus,pembengkakan lokal, dan perubahan warnaPatofisiologi fraktur adalah

fraktur akan terjadi kerusakan di korteks,pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak.

Akibat dari haltersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringansekitarnya.

Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medullaantara tepi tulang dibawah periostium

dengan jaringan tulang yangmengatasi fraktur. terjadinya respon inflamsi akibat sirkulasi

 jaringannekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukoit.Ketika terjadi

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :