BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam hubungan internasional kontemporer memang kebijakan luar negeri dari
middle-power state (negara dengan kekuatan menengah) seperti Rusia akan sulit diprediksi. Rusia merupakan negara dengan ciri karakteristik Uni Soviet yang masih kental sehingga tidak mudah dalam membuat setiap kebijakan luar negeri.
Sejak tahun 1945 hingga 1989, sistem politik internasional dideskripsikan sebagai sistem politik bipolar yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet. Namun, runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990 akhirnya menyisakan satu kekuatan tunggal yaitu Amerika Serikat. Situasi tersebut juga memunculkan Rusia sebagai satu-satunya negara pecahan Uni Soviet yang masih memiliki luas wilayah yang cukup besar. Meskipun mewarisi dua pertiga wilayah Uni Soviet atau sekitar 17.075.400 kilometer persegi, Rusia hanyamiddle-power state(negara dengan kekuatan menegah).
Sejak munculnya Perang Dingin Amerika Serikat memang tergerak untuk selalu berupaya menangkal segala sesuatu yang mengancam hubungan antar negara di dunia. Selain itu, Amerika Serikat juga mempertahankangrand strategyberupa rezim demokrasi dan ekonomi liberal. Rezim ini yang akan mendorong seluruh negara bersama-sama menghindari perang melalui keterbukaan dan kerjasama ekonomi antar negara.
Dan keruntuhan paham komunis Uni Soviet membuat Rusia harus melalui
self-definitionterhadap kebijakan luar negerinya. Strategi Amerika Serikat tersebut secara tidak langsung turut membuat Rusia untuk mengadopsi nilai-nilai Barat yaitu demokrasi, kebebasan dan penghargaan terhadap hak-hak fundamental sebuah negara. Rusia otomatis dituntut menjadi negara yang lebih bertanggung jawab dalam ikut serta menjaga stabilitas sistem internasional.
Oleh sebab itu, Rusia di bawah kepemimpinan Boris Yeltsin berusaha menghindari konfrontasi baik dengan negara-negara Barat maupun dengan negara-negara tetangganya. Terutama terhadap negara-negara pecahan Uni Soviet, Yeltsin mengaplikasi nilai demokrasi, kebebasan dan penghargaan terhadap hak negara. Rusia rela mengakui kedaulatan negara-negara eks Uni Soviet, merangkul mereka dalam payung
Commonwealth Independent States(CIS).
Peresmian CIS pada tanggal 8 Desember 1991 dilakukan terlebih dahulu oleh tiga negara yaitu Rusia, Ukraina dan Belarus melalui penandatanganan Creation Agreement.
Sedangkan Azerbaijan, Armenia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Moldova, Tajikistan, Turkmenistan, dan Uzbekistan bergabung pada 21 Desember 1991. Georgia menjadi negara terakhir yang bergabung pada Desember 1993.
Di satu sisi, melalui CIS, Rusia berupaya mempererat hubungan diplomatik yang baik melalui kerjasama bilateral di bidang politik, ekonomi, militer dan penyelesaian konflik. Langkah Rusia ini mendapat apresiasi negara-negara Barat saat itu karena dianggap tidak bertentangan dengangrand strategyyang dibangun Amerika Serikat.
Di sisi lain, kebijakan politik luar negeri Rusia tetaplah memikul tanggung jawab untuk mewarisi sekaligus mempertahankan aspek historikal-kultural danhigh profileUni Soviet. Keberadaan CIS otomatis memudahkan Rusia untuk menyatukan negara-negara baru yang sebelumnya tergabung dalam Uni Soviet, namun dalam kondisi yang lebih longgar1 dalam wadah persemakmuran yang sistematis.
Konsekuensinya, Rusia sering terlibat dalam konflik bilateral antar negara CIS. Rusia pernah mendukung gerakan separatis di Transnistria yang ingin memerdekakan diri dari Moldova. Selain itu, pemerintah Rusia pernah berkontribusi melindungi pemerintah Armenia yang sedang berseteru dengan Azerbaijan, berkaitan dengan gerakan separatis Nagorno-Karabakh yang ingin bergabung dengan Armenia
Dalam proses penanganan konflik internal negara-negara CIS, peran Rusia ternyata cukup besar. Contohnya, pada Juni 1997, Rusia memediasi rezim Dushanbe dan oposisi Tajikstan yang sudah berseteru selama lima tahun dengan mensponsori penandatanganan kesepakatanPeace and National Reconciliation Accord.
Namun dalam periode tahun 2008 hingga 2014, Rusia justru terlibat konfrontasi pelik dengan dua negara CIS yaitu Ukraina dan Georgia. Baik pemerintah Ukraina maupun Georgia menghadapi masalah gerakan separatisme yang mendapat dukungan Rusia. Konfrontasi Rusia-Georgia berkaitan dengan dukungan militer bagi gerakan separatisme Abkhazia dan Ossetia Selatan. Rusia bahkan kemudian mengakui secara resmi kemerdekaan dan kedaulatan terhadap Abkhazia dan Ossetia Selatan. Sedangkan konflik
1 A. Fahrurodji. 2005. Rusia Baru: Menuju Demokrasi. Pengantar Sejarah dan Latar Belakang Budayanya.Jakarta:
Ukraina-Rusia meruncing setelah Rusia mengabulkan keinginanan mayoritas penduduk Krimea untuk bergabung dengan Federasi Rusia.
Banyak kalangan media asing yang menilai bahwa kebijakan luar negeri Rusia baik terhadap Georgia maupun Ukraina bersifat arogan dan merupakan imperialisme baru atas negara-negara bekas Uni Soviet lainnya. Namun terlepas dari semua pendapat tersebut, tesis ini berupaya menyampaikan sebuah analisis baru mengenai perbedaan kebijakan luar negeri Rusia terhadap gerakan separatisme yang terjadi di Georgia dan Ukraina yang dipandang dari konsepforeign policy learningyang digagas oleh Jack S. Levy.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukan, penulis akan berusaha mengembangkan penelitian dengan mengangkat rumusan masalah, Mengapa kebijakan luar negeri Rusia terhadap gerakan separatis di Krimea (Ukraina) berbeda dari kebijakan luar negerinya terhadap gerakan separatis Ossetia Selatan dan Abkhazia (Georgia) di tahun 2008 hingga 2014?
C. Tujuan Penelitan
Penelitian yang akan dikembangkan dalam tesis ini mempunyai tujuan utama yaitu menemukan hubungan kausal antara proses learning (pembelajaran) dan kebijakan luar negeri yang dihasilkan Rusia berkaitan dengan masalah krusial seperti gerakan separatis di Georgia dan Ukraina. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan mampu menjelaskan hubungan antara kebijakan sebelumnya, lingkungan eksternal, dan lingkungan internal dalam memengaruhi proseslearningRusia.
D. Kerangka Konsep
Konsep Foreign Policy (Kebijakan Luar Negeri)
Foreign policy (kebijakan luar negeri) merupakan bagian integral dari hubungan internasional2. Terdapat banyak definisi mengenai kebijakan luar negeri. Menurut Smith,
Hadfield, dan Dunne kebijakan luar negeri adalah strategi atau pendekatan yang digunakan suatu pemerintah nasional untuk meraih tujuannya dalam lingkup hubungannya dengan entitas di luar batas wilayah negaranya.3 Sedangkan menurut
Vukadinovic, kebijakan luar negeri adalah sebuah aktivitas terorganisir dalam suatu negara yang berusaha memaksimalkan tujuan dan kepentingannya dalam hubungannya dengan negara lain atau subjek lain yang beroperasi di lingkungan internasional.4
Kebijakan luar negeri kemudian diimplementasikan dalam setidaknya lima kategori instrumen5 yaitu (1) politik : dalam instrumen ini, dibutuhkan staf atau personel yang
profesional dan ahli dalam organisasi politik dan kepemimpinan. Mereka dibutuhkan untuk dapat memanipulasi proses politik di negara yang menjadi target kebijakan luar negeri suatu negara (2) diplomatik: dalam komponen dibutuhkan negosiasi dan/atau persuasi secara bilateral maupun multilateral menjadi hal utama yang harus dilakukan oleh perwakilan resmi suatu negara kepada negara target (3) informasi: komponen ini mencakup penggunaan aparatur media massa yang memiliki jangkauan internasional (4) ekonomi: komponen ini biasanya digunakan oleh negara-negara maju yang kuat secara 2 Ernest Petric. 2013. Foreign Policy: From Conception To Diplomatic Practice. Leiden: Martinus Nijhoff
Publishers ,hal 16
3 Ibid., hal 2 4 Ibid.
5 Howard H. Lentner. 1974.Foreign Policy Analysis : A Comparative and Conceptual Approach.New York: Bell &
finansial melalui penguatan hubungan dagang dan pemberian bantuan finansial (5) militer: komponen ini didukung dengan personel dan fasilitas militer yang sudah dipersiapkan untuk berperang dengan negara lain.
Selanjutnya menurut Kenneth Waltz, kebijakan luar negeri dibentuk dari institusi politik dan memiliki watak tertentu yang dibentuk pengalaman, tradisi dan tekanan dari
negara lain6. Untuk menentukan arah kebijakan politik yang kemudian
diimplementasikan dalam kebijakan luar negeri, elite decision makers (pembuat kebijakan) yang diorganisasikan dalam sebuah negara harus memiliki kecermatan. Kecermatan ini memotivasi adanya preferensi kebijakan luar negeri karena negara akan menghindari kegagalan atau kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu.
Pilihan kebijakan luar negeri suatu negara mencerminkan persepsi kepentingan yang dimiliki oleh elite pembuat keputusan yang dapat berubah. Kenneth Waltz menjelaskan bahwa variasi kebijakan dapat terjadi, ini dipengaruhi oleh pengalaman dan pengamatan.7
Pengalaman dan pengamatan tersebut akan membentuk adanya kumpulan informasi yang kemudian berkontribusi bagi pemenuhan tujuan suatu negara.
Konsep Foreign Policy Learning
Pemahaman mengenai terhadap peristiwa (pengalaman) masa lalu disebut learning.
Reiter menyebutkan bahwa learning atau pembelajaran adalah sebuah fenomena di level aktor negara8 dalam membuat suatu kebijakan. Proses ini yang kemudian disebut juga
sebagai konsepforeign policy learning.
6 Benjamin E. Goldsmith. 2005.Imitation in International Relations: Observational Learning, Analogies And Foreign
Policies in Russia and Ukraine. New York: Palgrave & Macmillan, hal 25
7 Ibid. 8 Ibid.
Secara umum, learning dipahami sebagai perubahan beliefs (kepercayaan) atau prosedur setelah adanya pengamatan dan intrepretasi terhadap sebuah pengalaman.
Learningbukan aktivitas yang pasif melainkan aktif sebab terdapat aktor menyerap suatu pelajaran dari peristiwa masa lalu. Segala intrepretasi melibatkan sebuah proses analisa yang terstruktur. Jack. S Levy (1994) mengutarakan bahwa proses learning yang tidak dapat memengaruhi perilaku negara tidak dapat dikategorikan sebagai proses yang berguna bagi perkembangan politik luar negeri.
Konsepforeign policy learningdibagi menjadi tiga model yaitu :9
1. Policy paradigms : proses learning terjadi melalui suatu mekanisme. Asumsi terbentuk secara taken for granted (alamiah). Model ini mendeskripsikan bahwa strategi atau taktik tertentu dibentuk oleh asumsi-asumsi terbatas. Model ini disebut juga
cognitive learning, yaitu proses learning yang terbentuk berdasarkan konsep dan ide tentang dunia yang dominan sejak dahulu. Landasan konsep ini adalah pemikiran Hall (1993) bahwa formasi kebijakan dan perubahannya seringkali terjadi dalam lingkup terbatas yang didorong oleh asumsi dan opsi-opsi terbatas
2. Learning by doing: proses learningini berjalan karena negara pernah mengalami kegagalan atau kesalahan sehingga harus mencoba dan beradaptasi dengan situasi baru. Model ini melibatkan proses framing (menyusun) masalah-masalah yang berkaitan dengan kebijakan tertentu dan mengkonstruksikan solusi-solusi berdasarkan ide-ide dan alat-alat politik yang tersedia. Landasan konsep inni adalah pemikiran Stein (1994) bahwa pembelajaran terjadi di situasi tertentu yang problematik.
9 Joseph MacKay. 2011. Three Models of Foreign Policy Learning in Counterinsurgency: David Galula and the
3. Stimulation theory (teori simulasi): konsep ini berasal dari keadaan psikologi kognitif yang menciptakan sebuah eksperimen kebijakan yang menstimulasi atau menciptakan suatu keadaan yang dapat memengaruhi pikiran pihak lain. Konsep ini dilakukan suatu negara untuk mempromosikan ide-idenya dan menguatkan koalisi internal mereka. Selain itu dengan konsep ini negara dapat menganalisis bagaimana lawan politik mereka di arena internasional mempersepsikan kebijakan negara tersebut. Model ini memiliki unsur sama dengan model diagnostic learning yang diiperkenalkan Jack. S Levy (1994), yaitu proseslearning yang melibatkan pedefinisian terhadap situasi tertentu, preferensi dan kapabilitas pihak lain. Landasan konsep ini adalah pemikiran Davis and Stone (1995) bahwa untuk mengetahui dan mengerti pihak lain dibutuhkan cara atau situasi tertentu yang diciptakan yang mampu menstimulasi pemikiran mereka. Proseslearningsuatu negara dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1.1.Bagan Kerangka Konsep
Proses learning
Faktor eksternal dan internal (domestik) memang memengaruhi learning negara. Syender, Bruck dan Sapin menekankan bahwa para pembuat keputusan selalu beroperasi dalamdual aspect-setting (dua aspek latar atau kondisi) yaitu eksternal dan internal yang saling berkaitan.
(1) Latar Eksternal
Dalam dimensi politik internasional, banyak yang dapat diamati dari lingkungan eksternal aktor tertentu. Pertama adalah aktor (bisa aktor negara atau non negara) yang
Latar eksternal yang bersifat konflitual atau aliansi Latar internal seperti kondisi politik dan ideologi Kesuksesan dan atau kegagalan Kebijakan Instrumen Tujuan nasional negara
dapat melakukan berbagai keputusannya dengan posisinya sebagai direct-central actor
(aktor sentral langsung)10. Aktor ini mengaplikasikan instrumen dalam negosiasi
diplomatik kepada aktor lainnya. Selain itu, terdapat periphery actor (aktor periperi)11
yakni aktor yang berada pada tingkat yang lebih rendah dari aktor sentral langsung. Aktor jenis ini mentransfer sumber daya tertentu pada aktor sentral. Terdapat pulatarget actor
(aktor sasaran) yaitu aktor yang memiliki posisi sebagai sasaran instrumen dari aktor sentral langsung. Mayoritas aktor sasaran12 tidak bisa membalas instrumen yang
ditujukan kepada mereka.
Kebijakan dari aktor-aktor ini kemudian membentuk karakteristik khusus yang terjadi dalam interaksi antar aktor—seperti konflik, aliansi, perang, perlombaan senjata di lingkup sektor politik dan militer. Atau persaingan dagang, kerja sama, sanksi ekonomi, dan embargo dalam sektor ekonomi.
Dari perilaku aktor-aktor inilah dapat dikaji arena13—tempat dimana aktor sentral
langsung mengaplikasikan instrumennya. Arena ini bisa berupa lokal, regional dan bahkan global.
Peristiwa di lingkup eksternal aktor ini yang akan membawa pengaruh bagi konstelasi politik dan lahirnya ide-ide tertentu di lingkup domestik. Dua hal ini yang akan mempengaruhilearningsuatu negara sebelum menetapkan kebijakan luar negeri.
10Howard H. Lentner,op.cit., hal 70-71 11 Ibid.
12 Ibid
(2) Latar Internal
Selain memperhatikan lingkup atau latar eksternal, pembuat keputusan juga mengacu padalatar internal(domestik). Faktor internal itu juga bisa berupa (1) kondisi koalisi atau politik dalam ruang lingkup domestik (2) ideologi ataubeliefs(keyakinan) mayoritas elite politik tertentu dan masyarakat yang berhubungan dengan isu terkait dan cara penanganannya14. Keyakinan yang dibentuk oleh sejarah tertentu biasanya bersifat
generasional.
Perubahan kondisi politik dalam negeri dapat menjadi salah satu stimultan atau kesempatan untuk pemimpin atau kelompok politik atau sosial tertentu menyatakan saran dan ide-ide tertentu. Ide dan saran ini kemudian dapat mendorong konsensus di level para pembuat keputusan (negara) untuk mengevaluasi asumsi mereka terhadap suatu peristiwa. Akan tetapi yang perlu digarisbawahi adalah respon negara closed system terhadap suatu ide berbeda dengan negara open system. Negaraclosed system biasanya akan lebih selektif dalam mengadopsi ide yang berkembang di lapisan masyarakat.
Dijelaskan lebih lanjut bahwa ada tiga penjelasan yang berkaitan dengan proses
learningyang melibatkan kesuksesan atau kegagalan suatu negara :15
1. Keyakinan yang berperan sebagai informasi untuk membuat suatu keputusan di tengah uncertainity (ketidakpastian). Keyakinan dibangun dari pengalaman terhadap peristiwa masa lalu.
14Vinod K. Aggarwal. 1998. Institutional Designs for A Complex World: Bargaining, Linkages, and Nesting. New
York:Cornell University Press, hal 12-13.
2. Proses learning dalam arena internasional sebetulnya didorong oleh peristiwa-peristiwa yang memiliki efek besar bagi negara, seperti keberhasilan atau kegagalan besar.
3. Peristiwa tersebut akan dirasakan mempunyai efek yang besar saat peristiwa tersebut dialami langsung oleh suatu negara.
Selanjutnya, proses learning menjadi efektif saat dapat mengarahkan dan memfasilitasi aktor untuk semakin akurat untuk dapat bertindak menentukan kebijakan dan instrumen kebijakan tersebut agar tujuan utamanya tercapai.
Rusia merupakan negara yang masih mewarisi karakteristik Uni Soviet sehingga negara ini masih memperhatikan kondisi yang terjadi di negara-negara pecahan Uni Soviet yang lain. Gerakan separtisme Abkhazia dan Ossetia Selatan yang terjadi di Georgia dan gerakan separatis Krimea di Ukraina memaksa Rusia untuk merumuskan kebijakan luar negeri yang berbeda.
Kebijakan luar negeri dan instrumen yang diterapkan pada kedua kasus yang hampir serupa itu didasari oleh proses learning yang juga dipengaaruhi oleh faktor eksternal, faktor internal dan kesusksesan aatau kegagalan kebijakan Rusia sebelumnya terhadap Georgia dan Ukraina. Faktor pembeda yang nanti ditemukan dalam analisa tersebut akan dihubungkan dengan tujuan Rusia di lingkup regionalnya.
E. Tinjauan Pustaka
Dalam penelitian Jakob Hedenskog16 terdapat beberapa asumsi yang berkaitan
dengan kemungkinan Rusia terhadap Krimea setelah konflik di Ossetia Selatan dan Abkhazia. Penelitian ini mengungkapkan banyak media internasional berspekulasi bahwa Rusia akan menerapkan “skenaerio” agresi militer ke Krimea. Sehingga konflik antara militer pemerintah dan kelompok pemberontak Osssetia Selatan dan Abkhazia yang didukung militer Rusia akan turut menimpa Krimea. Alasan logis yang mendasari spekulasi tersebut adalah faktor populasi Krimea yang dihuni mayoritas etnis Rusia dan anti-Barat. Apalagi Krimea sejak dahulu selalu menentang afiliasi dengan pemerintah Ukraina.
Meskipun begitu, Hadenskog menyakini bahwa pemerintah Rusia akan menerapkan kebijakan berbeda terhadap Krimea. Hedenskog memaparkan beberapa faktor yang dapat melemahkan asumsi di atas.
Alasan pertama, militer Ukraina memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada militer Georgia sehingga Rusia tentu akan mempertimbangkan dengan seksama sebelum menggunakan kekuatan militer di Krimea. Tentu ini berbeda dengan kekuatan militer Georgia yang dianggap lebih lemah.
Alasan kedua, Rusia akan mempertimbangkan pula reaksi keras negara-negara Barat dan kemungkinan isolasi ekonomi global jika sampai terjadi serangan militer di Krimea. Selain itu, karena luas wilayah Krimea yang tiga kali luas wilayah Abkhazia dan enam kali luas wilayah Ossetia Selatan, dampak negatif perang terhadap populasi dan 16Jacob Hedenskog.“Crimea After the Georgian Crisis”.FOI Swedish Defence Research Agency : Defence Analysis,
lingkungan akan lebih serius. Dengan kata lain penggunaan pendekatan perang dengan Ukraina akan mempersulit kehidupan masyarakat Krimea apalagi mereka masih mengandalkan suplai air minum dari pemerintah Ukraina.
Alasan ketiga, konflik antara militer Georgia dan gerakan separatisme di Ossetia Selatan dan Abkhazia pada tahun 1991 hingga 1992 berujung pada pertumpahan darah. Selain itu, karena pernah terjadi perang senjata maka zona-zona perang sudah tercipta di kedua wilayah tersebut. Jika konflik kembali meletup, Rusia yang sudah menempatkan pasukan perdamaiannya di Ossetia Selatan dan Abkhazia akan lebih mudah menambah personel militernya dan bersiap berperang.
Sejarah yang terjadi di Abkhazia dan Ossetia Selatan berbeda dengan rangkaian sejarah di Krimea paska runtuhnya Uni Soviet. Konflik antara gerakan separatis pro-Rusia di Krimea dan pemerintah Ukraina tidak pernah berujung pada pertumpahan darah. Hal ini yang membuat Hadenskog menyakini bahwa Rusia tidak akan mengambil inisiatif agresi militer di Krimea.
Penelitian Hadenskog ini melihat pemerintah Rusia memiliki persepsi ancaman terhadap kapabilitas militer Ukraina yang dinilai lebih kuat dibandingkan militer Georgia. Namun persepsi ini tidak membuat Rusia gegabah memicu perang dengan Ukraina untuk mempertahankan pengaruhnya di Krimea. Ini dilandasi pertimbangan Rusia terhadap
human security (keamanan manusia). Rusia tidak ingin perang berdampak pada munculnya masalah kesehatan dan korban jiwa di Krimea akibat terhambatnya suplai air bersih.
penelitian ini tidak mengurai faktor-faktor lain yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah Rusia terhadap gerakan separatisme di Ossetia Selatan, Abkhazia dan Krimea pada dekade 90an. Penelitian ini juga tidak mengelaborasi lebih lanjut hubungan kasualitas yang logis antara pengalaman atau peristiwa sebelumnya dan kebijakan pemerintah Rusia terhadap Abkhazia, Ossetia Selatan dan Krimea. Menurut penulis, kelemahan ini yang membuat literature ini bukan menjadi pijakan yang jelas untuk menggali secara lebih komprehensif dan lebih lanjut mengenai perbedaan kebijakan Rusia terhadap gerakan separatis di Abkhazia dan Ossetia Selatan, dan Krimea.
Sedangkan, penelitian Hall Gardner17menerangkan bahwa terdapat beberapa peristiwa
penting yang mendorong Rusia mendukung gerakan separatis dan mengakui kemerdekaan Ossetia Selatan dan Abkhazia.
Peristiwa pertama adalah dukungan Amerika Serikat terhadap deklarasi kemerdekaaan Kosovo dari Serbia pada tahun 2008. Serbia sendiri merupakan salah satu sekutu Rusia sehingga Rusia sejak dahulu selalu menentang keinginan rakyat Kosovo untuk merdeka.
Peristiwa kedua adalah NATO menawarkan keanggotan pada Ukraina dan Georgia saat berlangsungnya NATO Summit di Bucharest pada April 2008. Saat itu Rusia justru menantang integritas teritori Ukraina. Bagi Rusia Ukraina dianggap sebagai “hasil kreasi” atau “negara buatan” karena Krimea merupakan pemberian dari Politburo of the Soviet Communist Party Central Committeepada tahun 1954.
17Hall Gardner, “NATO, the EU, Ukraine, Russia and Crimea: The “Reset” that was Never “Reset”,NATOWATCH Briefing Paper No.49, April , 2014.
Penelitian NATOWATCH ini juga menjelaskan motivasi lain dari kebijakan Rusia terhadap Krimea. Rusia mengaksesi Krimea karena berupaya mengakhiri kontrol pemerintah Ukraina di Krimea dan mengamankan keberadaan Russsian Black Sea Fleet
(armada militer Laut Hitam Rusia) yang beroperasi salah satu kota pelabuhan yaitu Sevastapol.
Kelebihan dari penelitian ini adalah dapat menuliskan peristiwa internasional yang melatarbelakangi munculnya kebijakan pemerintah Rusia terhadap gerakan seperatisme di Georgia dan Ukraina. Pembacapun dapat menemukan hubungan kasualitas antara peristiwa internasional yang terjadi saat dan sebelum Rusia menerapkan kebijakan luar negerinya dengan kebijakan itu sendiri. Dapat dikatakan kedua peristiwa tersebut memberikan efek yang signifikan bagi Rusia sebagai negara pewaris terbesar aspek historikal-kultural danhigh profileUni Soviet.
Kekurangan dari penelitian ini adalah absennya pemamparan rinci mengenai kaitan antara peristiwa internasional tersebut dengan kegagalan atau kesuksesan dari kebijakan Rusia yang pernah diimplementasikan di masa lalu yang berkaitan dengan Georgia dan Ukraina. Menurut penulis poin tersebut sangat penting sebab dapat membantu kita memahami secara komprehensif bagaimana Rusia melakukan proses pembelajaran sebelum menentukan kebijakan luar negerinya terhadap Abkhazia, Ossetia Selatan dan Krimea pada periode 2008 hingga 2014.
Selanjutnya, penelitian Helena Yakovlev Golani18 mengedepankan faktor kedekatan
18Helena Yakovlev Golani. 2011. Two Decades of the Russian Federation’s Foreign Policy in the Commonwealth of Independent States: The Cases of Belarus and Ukraine.Jerusalem: European Forum of Hebrew University
geografis antara Rusia dengan negara-negara anggota CIS untuk memahami kebijakan luar
negeri Rusia. Golani berpendapat bahwa kedekatan geografis akan mempengaruhi
persepsi ancaman Rusia terhadap Ukraina. Ini dilandasi tawaran keanggotaan NATO pada Ukraina di tahun 2008. Bagi Rusia partisipasi Ukraina di NATO merupakan ancaman serius sebab akan memudahkan Amerika Serikat untuk menanamkan pengaruhnya di region CIS.
Faktor persepsi terhadap peristiwa masa lalu dinilai turut berperan penting bagi Rusia dalam memformulasikan kebijakan luar negeri terhadap Ukraina Dalam penelitian ini disebutkan bahwa sebenarnya sejak era kepemimpinan Boris Yeltsin, Rusia menginginkan integrasi Ukraina ke dalam Federasi Rusia. Akan tetapi runtuhnya Uni Soviet membuat pengaruh Rusia di Ukraina berkurang drastis. Contohnya, pemerintah Ukraina terus berupaya menghapus penggunaaan bahasa Rusia dengan menerapkan penggunaan bahasa Ukraina sebagai bahasa nasional. Kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet sampai sekarang masih menjadi hal yang tidak mudah diterima oleh pemerintah Rusia. Meskipun begitu, Golani melihat bahwa kebijakan Rusia pada Ukraina tidak akan berubah.
Kelebihan penelitian ini adalah Golani menerangkan pengaruh peristiwa internasional terhadap kebijakan luar negeri Rusia. Dan Golani melibatkan konsep geopolitik yang tidak hanya menjelaskan balance of power (perimbangan kekauatan) antara Rusia dan Ukraina melainkan juga pengaruh Amerika Serikat. Sebagai negara
superpower, Amerika Serikat tentu mempunyai keleluasaan untuk melemahkan posisi Rusia di antara negara anggota CIS.
melihat hubungan Ukraina dan Rusia di masa lalu, maka akan sulit pula bagi Rusia untuk membiarkan Ukraina bergabung dengan NATO tanpa hambatan. Peristiwa yang pernah dahulu dialami Rusia merupakan faktor utama Rusia untuk tidak pernah membiarkan kebijakan Ukraina semakin condong ke Barat dan sekutunya.
Akan tetapi, penelitian ini tidak berusaha menghubungkan faktor sejarah Ukraina-Rusia atau kebijakan Rusia di masa lalu sebagai landasan untuk menganalisis mengapa Rusia memilih untuk menyetujui aksesi Krimea daripada harus susah payah melakukan agresi militer pada Krimea sebelumnya. Penelitian Golani ini hanya memprediksi terbatas pada kebijakan luar negeri yang tidak akan berubah terhadap Ukraina. Akan tetapi tidak dijelaskan mengenai jenis kebijakan luar negeri apa saja yang tidak mengalami perubahan. Kurang komprehensifnya penjelasan Golani mengenai kebijakan yang berubah dan akan berubah inilah yang membuat penulis berpendapat bahwa penelitian Golani tidak cukup kuat untuk mengaplikasikan konsep foreign policy leaningyang mempertimbangkan banyak faktor.
Penelitian diatas berbeda dengan gagasan Taraz Kuzio19 yang menjelaskan invasi Rusia ke Georgia pada tahun 2008 telah menimbulkan kekhawatiran Ukraina. Ukraina menyakini adanya kemungkinan Rusia mengambil alih Krimea meskipun gerakan separatis di Krimea bersifat frozen conflict. Gerakan separatis di Krimea tidak memaksa Rusia menempatkan pasukan perdamaiannya seperti yang dilakukan Rusia di Ossetia Selatan dan Abkhazia. Kuzio juga memaparkan bahwa Ukraina melihat kurangnya tindakan aktif dari negara-negara Barat dalam merespon perang Rusia-Georgia. Dan hal
itu dapat terjadi jika Rusia menginvasi Krimea.
Dalam penelitian ini disebutkan nasionalisme dan keterikatan pada Rusia semakin meningkat di Krimea semenjak Putin terpilih menjadi Presiden di tahun 2000. Gerakan separatis Krimea dengan pemerintah Ukraina memang tidak pernah berujung pada konflik berdarah di masa lalu. Meskipun begitu, jika militer Ukraina diberikan hak istimewa untuk menggunakan kekerasan dalam membubarkan gerakan separatis pro Rusia maka konflik berdarah mungkin terjadi. Situasi ini otomatis akan memaksa militer Rusia melancarkan agresi ke Krimea.
Kuzio juga menganalisis dari sisi pemerintah Rusia. Rusia akan memilih cara destabilisasi politik parlemen Krimea. Krimea merupakan wilayah istimewa dengan otonomi akan tetapi aturan hukum Ukraina tetap harus diadopsi dalam konstitusi Krimea. Rusia bisa membuat anggota parlemen pro-Rusia tidak percaya pada legitimasi hukum Ukraina. Selain itu, karena populasi etnis Rusia lebih besar dibandingkan etnis Rusia di Ossetia Selatan dan Abkhazia maka strategi pembagian paspor Rusia akan berefek besar pada meningkatnya nasionalisme secara sporadis.
Kelebihan dari penelitian ini adalah Kuzio berusaha memberikan beberapa kemungkinan melalui hipotesisnya yang berkaitan dengan kemungkinan agresi Rusia ke Krimea. Meskipun di beberapa penelitian, termasuk penelitian Hadenskog menyebutkan bahwa eskalasi konflik tidak akan meningkat karena Krimea tidak memiliki sejarah konflik berdarah. Kuzio berusaha memberikan penilaian berbeda bahwa sejarah tidak berlaku jika ada tindakan antagonis militer Ukraina untuk mengatasi kegaduhan kecil yang diprovokasi oleh organisasi pemuda pro-Rusia. Kondisi ini yang nantinya akan
memicu tindakan agresi dari pemerintah Rusia. Jika tidak ada tindakan antagonis militer Ukraina maka agresi militer Rusia ke Krimea juga tidak akan terjadi.
Meskipun begitu, saat melibatkan faktor lingkungan eksternal dalam penelitiannya, Kuzio hanya menghubungkannya dengan persepsi pemerintah Ukraina. Kuzio tidak membahas mengenai pengaruh lingkungan seperti aksi negara-negara Barat di masa lalu terhadap kebijakan yang akan diambil Rusia terhadap Krimea pada tahun 2014. Dalam penelitian ini juga tidak menyebutkan bagaimana Rusia memandang kebijkan non militer terhadap Krimea di masa lalu sebagai sebuah pengalaman atau sumber informasi dalam menetapkan segala kemungkinan berkaitan dengan langkah kebijakan berikutnya. Padahal pengalaman Rusia adalah salah satu faktor pembeda yang harus diperhitungkan dalam menganalisa kebijakan Rusia terhadap kasus Krimea yang memang hampir serupa dengan kasus Abkhazia dan Ossetia Selatan.
Terkahir jurnal yang ditulis Magne Frostad20 menekankan pada keterlibatan militer
Rusia baik di Abkhazia dan Ossetia Selatan maupun di Krimea. Rusia menggunakan alasan self-defense (pertahanan diri) yaitu melindungi warga negara dan etnisnya yang tinggal di luar batas wilayah Rusia. Selain berlandaskan pada alasan self-defense, Rusia juga mengatasnamakan kemanusiaan demi membenarkan aksi penempatan personel militer tambahan di Abkhazia, Ossetia Selatan dan Krimea. Secara otomatis, alasan kemanusiaan ini seringkali diikuti oleh tindakan intervensi militer unilateral. Itu sebabnya Rusia menolak anggapan negara-negara Barat yang memandang bahwa Rusia melakukan aneksasi terhadap Krimea.
20 Magne Frostrad. “Some thoughts on the Russian Use of Armed Force in Ukraine”. Arctic Review on Law and Politics, vol. 5/1, 2014, hal 146-149
Selain itu, Forstad menyebutkan bahwa Rusia akan selalu mempunyai dua alternatif kebijakan untuk menentukan nasib wilayah di region CIS yang dilanda konflik separtisme. Alternatif kebijakan tersebut antara lain mengakui wilayah tersebut sebagai sebuah negara atau memasukan wilayah tersebut ke dalam Federasi Rusia.
Kelebihan penelitian ini adalah pemaparan secara lebih detail bahwa Rusia selalu mempunyai dua alternatif kebijakan. Poin ini dapat mengurangi kebingungan beberapa kalangan terhadap status wilayah di Ossetia Selatan, Abkhazia dan Krimea. Sedangkan kekurangan penelitian ini adalah minimnya penjelasan mengenai faktor-faktor eksternal dan peristiwa masa lalu yang mampu mendasari kebijakan Rusia terhadap gerakan seperatisme yang terjadi di Georgia dan Ukraina. Kekurangan ini yang coba dibahas oleh peneliti dalam penelitian ini karena penulis akan berusaha menganalisa secara menyeluruh kaitan antara faktor eksternal dan peristiwa masa lalu tanpa mengecilkan arti penting dari faktor kondisi internal Rusia.
Tinjauan pustaka yang sudah dipaparkan di atas sebenarnya saling melengkapi satu sama lain dalam menjelaskan alasan Rusia menerapkan kebijakan tertentu terhadap gerakan separatis di Krimea (Ukraina) dan di Ossetia Selatan dan Abkhazia (Georgia). Literatur Hadenskog mampu mengelaborasi alasan adanya perbedaan yang jelas antara kebijakan Rusia terhadap gerakan separatisme di Ossetia Selatan dan Abkhazia dan Krimea. Di sisi lain penelitian Forstad lebih rinci menerangkan perbedaan kebijakan yang diterapkan Rusia yaitu pengakuan kedaulatan terhadap Abkhazia dan Ossetia Selatan serta memasukan wilayah Krimea sebagai bagaian dari Federasi Rusia. Sedangkan penelitian Hall Gardner mengungkapkan pengaruh latar eksternal yang terjadi di sekitar Rusia terhadap kebijakan Rusia atas Abkhazia, Ossetia Selatan dan Krimea.
Meskipun begitu, tulisan yang secara spesifik membahas variasi kebijakan Rusia terhadap gerakan separatisme Abkhaszia dan Ossetia Selatan, dan Krimea dengan menggunakan sudut pandang foreign policy learning belum dibahas secara keseluruhan. Oleh karena itu melalui rumusan masalah yang telah dikemukakan, penulis berusaha memberi kontribusi pada perkembangan Ilmu Hubungan Internasional terutama yang berkaitan dengan perbedaan kebijakan Rusia terhadap gerakan separatis di Abkhazia dan Ossetia Selatan, dan Krimea dengan melihat komponen-komponen dari foreign policy learning yaitu faktor peristiwa internasional, kondisi domestik Rusia, serta kesuksesan dan kegagalan kebijakan Rusia di masa lalu.
F. Argumen Utama
Variasi kebijakan luar negeri Rusia terhadap gerakan seperatis di Georgia dan Ukraina periode 2008-2014 terjadi karena adanya perbedaan di salah satu faktor yang membangun proses learning Rusia yaitu kesuksesan dan atau kegagalan kebijakan terdahulu. Kegagalan dan atau kesuksesan tersebut erat kaitannya dengan tujuan Rusia di lingkup regionalnya.
G. Metodologi Penelitian
Dalam melakukan penelitian, penulis menggunakan metode peneltian kualitatif. Penelitian kualitatif dapat diaplikasikan dalam bentuk metode process tracing yang berusaha menemukan penyebab dari sebuah kondisi tertentu melalui analisa serangkaian peristiwa yang berkaitan dengan kondisi tersebut. Sehingga dapat dikatakan metode kualitatif dalam ilmu hubungan internasional lebih berfokus pada penggambaran, penjelasan, dan pemahaman atas suatu peristiwa dalam sejarah.
Adapun sumber untuk memperoleh data penelitian, penulis menggunakan teknik studi kepustakaan (library research) yaitu cara untuk memperoleh dan menelaah data yang bersifat tertulis. Data-data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini bersifat
sekunder. Data-data sekunder merupakkan data yang diperoleh dari buku-buku yang bersifat akademik, pernyataan resmi dari pejabat pemerintah yang dipublikasikan secara tertulis, artikel, jurnal, katalog, media cetak dan situs internet. Data-data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku akademik, artikel surat kabar, dan jurnal yang berkaitan dengan gerakan separatisme di Georgia dan Ukraina dan kebijakan Rusia terhadap kedua negara serta pernyataan resmi dari pejabat pemerintahan Rusia, Georgia dan Ukraina yang diambil dari situs online dan buku-buku akademik.
Data-data tersebut kemudian diolah untuk menghasilkan keterangan yang objektif. serta dianalisis melalui kerangka teori yang telah disiapkan. Hasil dari analisis tersebut nantinya akan berfungsi untuk menerangkan dan menguji argumen utama sekaligus
menjawab pertanyaan penelitian. H. Jangkauan Penelitian
Karena adanya keterbatasan waktu, tenaga, dan konsep, penulis hanya akan memfokuskan penelitian pada pembahasan mengenai kebijakan luar negeri Rusia terhadap gerakan seperatisme di Krimea (Ukraina) dan Ossetia Selatan dan Abkhazia (Georgia)
Alasan penulis memilih Ukraina dan Georgia adalah karena kedua negara tersebut memiliki sejarah yang panjang berkaitan dengan gerakan separatisme. Dan gerakan separatisme di Krimea (Ukraina) dan Ossetia Selatan dan Abkhazia (Georgia) selalu
melibatkan intervensi tertentu dari pemerintah Rusia sejak jaman Boris Yeltsin. Selain itu alasan penulis membahas kebijakan luar negeri Rusia dalam penanganan gerakan separatis di Abkhazia dan Ossetia Selatan dan Krimea karena banyak literatur yang tidak memisahkan momen lepasnya Krimea di tahun 2014 dengan perang Gerogia-Rusia di tahun 2008. Sehingga penelitian ini akan coba membuktikan keterkaitan tersebut.
Pembatasan waktu untuk masalah yang akan diteliti ditetapkan dari tahun 2008 hingga 2014. Alasannya adalah peningkatan eskalasi konflik antara kelompok separatisme di Ossetia Selatan dan Abkhazia dimulai antara tanggal 5 Agustus sampai 12 Agustus 2008, dan selanjutnya Rusia tetap mempertahankan kebijakan pengakuan kedaulatan Abkhazia dan Ossetia Selatan hingga tahun 2014. Sedangkan rentang waktu dari konflik Ukraina-Rusia sampai dengan pelaksanaan referendum Krimea adalah November 2013 hingga Maret 2014.
I. Organisasi Penulisan
BAB 1 merupakan Pendahuluan yang akan membahas mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tinjauan pustaka, kerangka konsep, argumen utama, metodologi penelitian dan organisasi penulisan.
BAB II membahas awal mula dan perkembangan gerakan separatis di Ossetia Selatan dan Abkhazia (Georgia). Secara khusus bab ini membahas tentang gambaran umum kondisi Georgia sebelum dan paska bubarnya Uni Soviet. Sub bab selanjutnya mengenai cikal bakal dan perkembangan gerakan separtis di Georgia tepatnya di Abkhazia dan Ossetia Selatan, dan hubungan Georgia dan Rusia era Boris Yeltsin berkaitan dengan gerakan separatis Ossetia Selatan dan Abkhazia.
BAB III membahas awal mula perkembangan gerakan separatis di Krimea (Ukraina). Secara khusus bab ini membahas tentang gambaran umum kondisi Ukraina sebelum dan paska bubarnya Uni Soviet. Sub bab selanjutnya membahas cikal bakal gdan perkembangan gerakan separatis di Krimea, hubungan Ukraina dan Rusia era Boris Yeltsin berkaitan dengan gerakan separatis di Krimea.
BAB IV menjelaskan mengenai Variasi Kebijakan Luar Negeri Rusia Terhadap Gerakan Separatis di Georgia dan Ukraina periode 2008-2014. Secara khusus bab ini dimulai dengan sub bab tujuan kebijakan luar negeri kontemporer Rusia di lingkup regional. Sub bab selanjutnya adalah proses learning dalam pembuatan kebijakan Rusia terhadap gerakan separatis Ossetia Selatan dan Abkhazia yang berisi penjelasan mengenai peningkatan eskalasi konflik antara Georgia dan Ossetia Selatan dan Abkhazia di tahun 2008. Sub bab ini kemudian akan memaparkan latar eksternal dan internal serta kegagalan kebijakan Rusia terhadap Georgia yang mempengaruhi proses learning yang berkaitan dengan kebijakan luar negeri Rusia terhadap gerakan separatis Abkhazia dan Ossetia Selatan. Sub bab terakhir adalah proses learning dalam pembuatan kebijakan Rusia terhadap gerakan separatis di Krimea yang berisi penjelasan mengenai hubungan antara konflik Ukraina-Rusia dengan gerakan separatis Krimea di tahun 2014. Kemudian sub ini akan menjelaskan latar eksternal dan internal serta kesuksesan kebijakan Rusia terhadap Krimea dan Ukraina yang mempengaruhi proses learning yang berkaitan kebijakan luar negeri Rusia terhadap gerakan separatis Krimea