BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR. A. Landasan Teori. pikiran, ide yang utuh, yang dapat dipahami oleh pembaca atau pendengar.

Teks penuh

(1)

commit to user BAB II

LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

A. Landasan Teori 1. Pengertian Wacana

Wacana merupakan satuan bahasa yang lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Sebagai satuan bahasa yang lengkap, maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, ide yang utuh, yang dapat dipahami oleh pembaca atau pendengar. Sebagai satuan gramatikal tertinggi atau terbesar, berarti wacana itu dibentuk dari kalimat atau kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal, dan persyaratan kewacanan yang lainnya (Abdul Chaer, 2007: 267).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 1265) Wacana adalah komunikasi verbal, keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan, satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, khotbah;

Menurut Sumarlam (2010: 30) wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah, khotbah, dan dialog, atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis, yang dilihat dari struktur lahirnya (dari segi bentuk) bersifat kohesif, saling terkait dari struktur batinnya (dari segi makna) bersifat koheren, terpadu.

Henry Guntur Tarigan berpendapat bahwa wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis (1987: 27). Dari definisi di

(2)

commit to user

atas Tarigan memaparkan unsur-unsur penting wacana diantaranya satuan bahasa, terlengkap/ terbesar/ tertinggi, di atas kalimat/ klausa, teratur/ tersusun rapi/ rasa koherensi, berkesinambungan/ kontinuitas, rasa kohesi/ rasa kepaduan, lisan/tulis, awal dan akhir yang nyata (1987: 25). Sedangkan menurut pendapat Dwi Bambang Putut Setiyadi wacana merupakan organisasi bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh, paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap (2010: Vol.22).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa wacana adalah satuan bahasa tertinggi di atas kalimat baik lisan maupun tulis yang memiliki keutuhan bentuk (kohesif) serta makna yang padu (koherensif).

2. Jenis Wacana

Wacana dapat digolongkan menjadi beberapa jenis menurut dasar pengklasifikasiannya. Menurut Sumarlam (2010: 30) mengklasifikasikan wacana ke dalam 5 jenis, yaitu berdasarkan bahasanya, media yang dipakai untuk mengungkapkan, jenis pemakaian, bentuk, serta cara dan tujuan pemaparannya.

Berdasarkan bahasanya menurut Sumarlam (2010: 30) wacana dibagi menjadi 4 jenis sebagai berikut.

a. Wacana bahasa nasional (Indonesia)

b. Wacana bahasa lokal atau bahasa daerah (bahasa Jawa, Bali, Sunda, Madura, dsb).

c. Wacana bahasa internasional (Inggris)

d. Wacana bahasa lainnya, seperti bahasa Belanda, Jerman, Perancis, dsb. Berdasarkan media yang digunakannya Sumarlam (2010: 31) membagi wacana kedalam dua jenis sebagai berikut.

(3)

commit to user a. Wacana tulis

Wacana tulis merupakan jenis wacana yang penyampaiannya menggunakan bahasa tulis atau media tulis. Untuk dapat menerima atau memahami wacana tulis maka sang penerima atau penyapa harus membacanya. Di dalam wacana tulis terjadi komunikasi secara tidak langsung antara penulis dengan pembaca. Contohnya yaitu wacana dalam novel, roman, naskah drama, naskah pidato, cerpen, cerbung, dsb.

b. Wacana lisan

Wacana lisan yaitu wacana yang disampaikan dengan bahasa lisan atau media lisan. Untuk dapat menerima dan memahami isi wacana lisan maka sang pendengar atau pesapa harus menyimak atau mendengarkannya. Di dalam wacana lisan terjadi komunikasi secara langsung antara pembicara dengan pendengar. Contohnya wacana dalam khotbah, pidato, lagu.

Berdasarkan sifat dan jenis pemakaiannya Sumarlam (2010:32) membagi jenis wacana menjadi dua sebagai berikut.

a. Wacana monolog (Monolog discourse)

Wacana monolog (Monolog discourse) merupakan wacana yang disampaikan oleh seorang diri tanpa melibatkan orang lain untuk ikut berpartisipasi secara langsung. Wacan monolog ini sifatnya searah dan termasuk komunikasi tidak interaktif (non-interactive communication). Contoh jenis wacana ini ialah orasi ilimiah, penyampaian visi dan misi, khotbah dan sebagainya.

b. Wacana dialog (dialogue discourse)

Wacana diaolog (dialogue discourse) yaitu wacana atau percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara langsung. Wacana dialog ini bersifat

(4)

commit to user

dua arah, dan masing-masing partisipan secara aktif ikut berperan di dalam komunikasi tesebut sehingga disebut komunikasi interaktif (interactive comunication). Contoh jenis wacana ini seperti pemakaian bahasa dalam peristiwa diskusi, seminar, musyawarah, dan kampanye dialogis.

Berdasarkan bentuknya, Sumarlam (2010: 32-33) mengklasifikasikan wacana menjadi tiga bentuk sebagai berikut.

a. Wacana prosa

Wacana prosa yaitu wacana yang bentuk prosa atau dalam bahasa Jawa sering disebut gancaran. Wacana berbentuk prosa dapat berupa wacan tulis atau lisan. Contoh wacana prosa tulis misalnya cerita sambung (cerbung), novel, artikel, dan undang-undang. Sedangkan contoh wacana prosa lisan seperti pidato, khotbah, dan kuliah.

b. Wacana puisi

Wacana puisi yaitu wacana yang disampaikan dalam bentuk puisi, atau dalam bahasa Jawa puisi sering disebut geguritan. Wacana bentuk puisi dapat berupa wacana tulis maupun lisan. Puisi dan syair adalah contoh wacana puisi tulis, sedangkan puitisasi atau puisi yang dideklamasikan dan lagu-lagu merupakan contoh jenis wacana lisan.

c. Wacana drama

Wacana drama yaitu wacana yang disampaikan dalam bentuk drama, dalam bentuk dialaog, baik berupa wacana tulis maupun wacana lisan. Bentuk wacana drama tulis terdapat pada naskah drama atau sandiwara, sedangkan bentuk wacana drama lisan terdapat pada pemakaian bahasa dalam peristiwa pementasan drama, takni percakapan antarpelaku dalam drama tersebut.

(5)

commit to user

Berdasarkan cara dan tujuan pemaparannya, Sumarlam (2010: 33-38) membagi wacan menjadi lima jenis sebagai berikut.

a. Wacana narasi

Wacana narasi merupakan wacana yang mementingkan urutan waktu, ditutrkan oleh persona pertama atau ketiga dalam waktu tertentu. Wacana narasi ini berorientasi pada pelaku dan seluruh bagiannya diikat secara kronologis. Jenis wacan narasi pada umumnya terdapat pada berbagai fiksi. Wacana narasi juga sering disebut sebagai wacana penceritaan atau penuturan.

b. Wacana deskripsi

Wacana deskripsi merupakan wacana yang bertujuan melukiskan, menggambarkan atau memerikan sesuatu menurut apa adanya.

c. Wacana eksposisi

Wacana eksposisi merupakan wacana yang tidak mementingkan waktu dan pelaku. Wacana ini berorientasi pada pokok pembicaraan, dan bagian-bagiannya diikat secara logis.

d. Wacana argumentasi

Wacana argumentasi yaitu wacana yang berisi ide atau gagasan yang dilengkapi dengan data-data sebagai bukti, dan bertujuan meyakinkan pembaca akan kebenaran ide atau gagasannya. Argumentasi yang pendek dapat terdiri atas satu kalimat atau beberapa kalimat.

e. Wacana persuasi

Wacana persuasi wacana yang isinya bersifat ajakan atau nasihat, biasanya ringkas dan menarik, serta bertujuan untuk mempengaruhi secara kuat pada pembaca atau pendengar agar melakukan nasihat atau ajakan tersebut.

(6)

commit to user

Berdasarkan penjelasan mengenai bergai jenis wacana di atas, dapat disimpulkan bahwa novel SPP yang menjadi objek dalam penelitian ini termasuk (1) wacana berbahasa lokal atau daerah karena novel tersebut menggunakan bahasa Jawa dalam penyampaiannya; (2) wacan tulis karena novel tersebut dalam penyampaiannya menggunakan bahasa tulis atau media tulis; (3) wacana prosa tepatnya wacana prosa tulis karena novel tersebut berbentuk prosa atau uraian secara tertulis; dan (4) wacana narasi karena di dalamnya berisi uraian jalannya cerita secara lengkap sesuai dengan kronologinya.

3. Sarana Keutuhan Wacana

Bahasa memiliki tubuh yang tersusun atas bentuk (form) dan makna (meaning), keduanya berhubungan sangat erat dan saling berkaitan. Sebagaimana di dalam wacana yang dibagi atas hubungan bentuk yang disebut kohesi dan hubungan makna yang disebut koherensi. Kepaduan wacana dapat dilihat dari kekohesifan bentuk atau unsur eksterennya serta makna atau unsur intern yang koheren. Selain itu wacana yang baik adalah wacana yang lengkap atau utuh, sebagaimana menurut pendapat Mulyana (2005: 25) yang mengatakan bahwasannya wacana yang utuh adalah wacana yang lengkap, yaitu mengandung aspek-aspek yang terpadu dan menyatu. Aspek-aspek yang dimaksud antara lain, kohesi, koherensi, topik wacana, aspek leksikal, aspek gramatikal, aspek fonologis, dan aspek semantis.

Penelitian ini akan memaparkan sarana keutuhan wacana yang meliputi kohesi, kohesi gramatikal yang terdiri atas (1) pengacuan/referensi; (2) penyulihan/subtitusi; (3) pelesapan/elipsis; (4) perangkaian/konjungsi. Kohesi leksikal yang terdiri atas (1) Pengulangan/repetisi; (2) Padan kata/sinonimi; (3)

(7)

commit to user

Oposisi makna/antonimi; (4) Sanding kata/kolokasi; (5) Hubungan atas-bawah/hiponimi; (6) Kesepadanan/ekuivalensi. Koherensi terdiri beberapa penanda (1) penekanan; (2) simpulan atau hasil; (3) contoh.

a. Kohesi

Kohesi dalam wacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara struktural membentuk ikatan sintaktikal. Konsep kohesi pada dasarnya mengacu kepada hubungan bentuk, artinya unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu wacana memiliki keterkaitan secara padu dan

utuh. Dengan kata lain, kohesi termasuk dalam aspek internal wacana (Mulyana, 2005:26).

Kohesi adalah keserasian hubungan antar unsur yang satu dan unsur yang

lain dalam wacana sehingga terciptalah pengertian yang apik atau koheren (Fatimah, 1994: 46). Pendapat tersebut intinya menjelaskan bahwa kohesi

mendukung sebuah wacana menjadi wacana yang koheren.

Kohesi adalah organisasi sintaktik, merupakan wadah kalimat-kalimat

disusun secara padu dan padat untuk menghasilkan tuturan (Henry Guntur Tarigan, 1987: 96). Sedangkan Kohesi menurut Abdul Rani,

Bustanul Arifin, dan Martutik (2006: 88) merupakan hubungan antarbagian dalam teks yang ditandai oleh penggunaan unsur bahasa. Pendapat lain dari Desri Wiana kohesi adalah hubungan antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana, sehingga terciptalah pengertian yang apik atau koheren (2011: Vol.4)

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kohesi adalah hubungan bentuk dalam sebuah wacana yang menciptakan keserasian antar unsur satu dengan yang lainnya dan menghasilkan makna yang padu atau koherensif.

(8)

commit to user 1) Kohesi gramatikal

Kohesi gramatikal merupakan segi bentuk atau struktur lahir wacana, biasa disebut aspek gramatikal wacana. Aspek gramatikal wacana dibagi menjadi empat, yaitu (1) pengacuan (referensi); (2) Penyulihan (subtitusi); (3) pelesapan (elipsis); dan (4) perangkaian (konjungsi).

a) Pengacuan (Referensi)

Pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikutinya (Sumarlam, 2010: 41). Menurut sumarlam (2010: 41) berdasarkan tempatnya pengacuan dibedakan menjadi dua jenis: (1) pengacuan endofora apabila acuannya (satuan lingual yang diacu) berada di dalam teks dan (2) pengacuan eksofora, apabila acuannya berada di luar teks wacana. Pengacuan endofor dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu pengacuan anaforis (anaphoric reference) dan pengacuan kataforis (cataphoric reference). Pengacuan anaforis adalah salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahuluinya, atau mengacu antesenden di sebelah kiri, atau mengacu pada unsur yang telah disebut terdahulu. Sementara itu pengacuan kataforis adalah salah satu kohesi gramatikal yang berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lain yang mengikutinya, atau mengacu antesenden di sebelah kanan, atau mengacu pada unsur yang baru disebutkan kemudian.

Satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain itu dapat berupa persona (kata ganti orang), demonstratif (kata ganti penunjuk), dan komparatif (satuan lingual yang berfungsi membandingkan antarunsur yang satu

(9)

commit to user

dengan unsur yang lainnya). Pengacuan persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang), yang meliputi persona pertama (persona I), kedua (persona II), dan ketiga (persona III), baik tunggal maupun jamak. Pronomina persona I tunggal, II tunggal, III tunggal ada yang berbentuk bebas (morfem bebas) ada pula yang terikat (morfem terikat). Bentuk terikat ada yang melekat di sebelah kiri (lekat kiri) dan ada yang melekat di sebelah kanan (lekat kanan). Klasifikasi pronomina persona tersebut dapat diilustrasikan sebagai berikut. tunggal: aku, kula, ingsun, kawula

terikat lekat kiri : tak-, dak- I lekat kanan : -ku

jamak: kita, awake dhewe, kita sedaya tunggal: kowe, sampeyan, sliramu panjenengan.

terikat lekat kiri : kok-, ko-, mbok-

PERSONA II lekat kanan : -mu

jamak: kowe kabeh

panjenengan sedaya

tunggal: dheweke, piyambakipun III terikat lekat kiri : di-, dipun- lekat kanan : -e/-ne, -ipun

jamak: dheweke/ dheweke kabeh piyambakipun sedaya

panjenenganipun sedaya

(10)

commit to user

Contoh data pronomina persona dalam penelitian ini

(80) Bagus! Rud, dening Pak Murdanu kowe mengko bakal diparingi data kang megepokan karo sawijining kospirasi penyelewengan dana pamarentah! (I/ CK3/H19/5)

„Bagus! Rud, oleh Pak Murdanu kamu nanti akan dikasih data yang berhubungan dengan salah satu konspirasi penyelewengan dana pemerintah!‟

Tampak pada data (80) di atas terdapat pronomina persona II bentuk bebas yang ditunjukkan oleh kata kowe „kamu‟ yang mengacu pada kata Rud atau lebih lengkapnya Rudi. Pronomina tersebut termasuk dalam pengacuan endofora anaforis karena acuannya berada di dalam teks dan sudah disebutkan sebelum pronominal kowe „kamu‟.

Pengacuan demonstratif (kata ganti penunjuk) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pronimina demonstratif waktu (temporal) dan pronomina demonstratif tempat (lokasional). Pronomina demonstratif waktu ada yang mengacu pada waktu kini (saiki, sapunika, samenika), lampau (seperti wingi, biyen, kepungkur), akan datang (sesuk, ...ngarep, sukmben), waktu netral (enjing, siyang, sonten, dalu). Sementara itu, pronomina demonstratif tempat ada yang mengacu tempat atau lokasi yang dekat dengan pembicara (kene, iki), agak jauh dengan pembicara (kono, iku, kuwi), jauh dengan pembicara (kana, kae), dan menunjuk tempat secara eksplisit (Sala, Yogya). Klasifikasi pronomina demonstratif tersebut dapat diilustrasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut.

(11)

commit to user

kini : saiki, sapunika, samenika lampau: wingi, biyen ..., kepungkur

1. Waktu y.a.d : sesuk, ... ngarep, sukmben netral: enjing, siyang, sonten, dalu

DEMONSTRATIF - dekat dengan penutur : kene, iki (PENUNJUKAN) agak jauh dengan penutur: kono, iku, kuwi

2. Tempat jauh dengan penutur : kana, kae menunjuk secara eksplisit : Sala, Yogya

Bagan 2. Klasifikasi pengacuan pronomina demonstratif Bahasa Jawa. Contoh data pronomina demonstratif adalah sebagai berikut.

(308) Temonana Ir. Mardanu, Kepala Bidang Perlengkapan! Sesuk, bar senam pagi. (I/CK3/H19/3)

„Temuilah Ir. Mardanu, Kepala Bidang Perlengkapan! Besok, sesudah senam pagi.‟

Data (308) di atas terdapat pronomina demontratif waktu y.a.d yang ditunjukkan oleh kata sesuk „besok‟ yang mengacu pada kalimat sesudahnya yaitu

bar senam pagi „sesudah senam pagi‟. Pengacuan tersebut termasuk jenis

pengacuan endofora kataforis karena acuannya berada di dalam teks dan disebutkan sesudah pronominal demonstratif sesuk „besok‟.

Pengacuan komparatif (perbandingan) adalah salah satu kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang mempunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk/wujud, sikap, watak, perilaku, dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan pengertian pengacuan (referensi) adalah hubungan antara unsur tertentu yaitu satuan lingual tertentu

(12)

commit to user

yang mengacu pada satuan lingual lain yang mengikuti atau mendahuluinya baik acuannya berada di dalam maupun di luar teks.

Berikut contoh data pengacuan komparatif.

(375) Ing sawijining pabrik rokok kaloka ing tlatah Kediri, tabloit Gemah Ripah jare laris kaya pisang goreng. (V/DH/H121/1)

„Di salah satu pabrik rokok terkenal di daerah Kediri, tabloit Gemah Ripah katanya laris seperti pisang goreng.‟

Pada data (375) di atas terdapat pronominal komparatif yang ditunjukkan oleh kata kaya „seperti‟ yang berfungsi membandingkan tabloit Gemah Ripah laris manis seperti makanan pisang goreng.

b) Penyulihan (Subtitusi)

Penyulihan atau subtitusi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penggantian satuan lingual tertentu (yang telah disebut) dengan satuan

lingual lain dalam wacana untuk memperoleh unsur pembeda (Sumarlam, 2010: 47-49). Dilihat dari segi satuan lingualnya, subtitusi dapat

dibedakan menjadi subtitusi nominal, verbal, frasal, dan klausal. Subtitusi nominal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori nomina (kata benda) dengan satuan lingual lain yang juga berkategori nomina. Subtitusi verbal adalah penggantian satuan lingual yang berkategori verba (kata kerja) dengan satuan lingual lainnya yang juga berkategori verba. Subtitusi frasal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa kata atau frase dengan satuan lingual lainnya. Sedangkan subtitusi klausal adalah penggantian satuan lingual tertentu yang berupa klausa atau kalimat dengan satuan lingual lainnya yang berupa kata atau frasa. Pendapat lain dari Harimurti Kridalaksana (2008: 229) menjelaskan bahwa subtitusi adalah proses atau hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam

(13)

commit to user

satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjlaskan suatu struktur tertentu.

Contoh data subtitusi dalam penelitian ini

(381) Suryo mencolot trengginas mlebu lift kasusul dening Wisnu kang ngecicak. Wong lanang loro padha baguse dadi siji saklift. (V/DH/H124/2)

„Suryi dengan cepat masuk dalam lift disusul oleh Wisnu yang datang pelan-pelan. Dua laki-laki sama gantengnya menjadi satu dalam lift.‟ Data (381) di atas terdapat subtitusi frasal yang ditunjukkan oleh kata

Suryo dan Wisnu pada kalimat pertama sebagai unsur terganti yang digantikan

oleh bentuk frasa yaitu wong lanang loro „dua laki-laki‟ pada kalimat kedua. c) Pelesapan (Elipsis)

Pelesapan (elipsis) menurut Sumarlam (2010: 49-50) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa penghilangan atau pelesapan satuan lingual tertentu yang telah disebutkan sebelumnya. Unsur atau satuan lingual yang dilesapkan itu dapat berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat. Mulyana (2005: 134) berpendapat bahwa elipsis merupakan penggantian unsur kosong (Zero), yaitu suatu unsur yang sebenarnya ada tetapi sengaja dihilangkan atau disembunyikan. Pada wacana unsur konstituen yang dilesapkan itu biasa ditandai dengan konstituen nol atau zero (atau dengan lambang Ø) pada tempat terjadinya pelesapan unsur tersebut.

Menurut Sumarlam (2010: 50) pelesapan dalam wacana memiliki fungsi (1) menghasilkan kalimat yang efektif (untuk efektivitas kalimat), (2) efisiensi, yaitu untuk mencapai nilai ekonomis dalam pemakaian bahasa, (3) mencapai aspek kepaduan wacana (4) bagi pembaca/ pendengar berfungsi untuk mengaktifkan pikirannya terhadap hal-hal yang tidak diungkapkan dalam satuan

(14)

commit to user

bahasa, (5) untuk kepraktisan berbahasa terutama dalam berkomunikasi secara lisan. Menurut Harimurti Kridalaksana (2008: 57) elipsis merupakan peniadaan kata atau satuan lingual lain yang ujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pelesapan adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berfungsi untuk menggantikan ruang kosong setelah dilesapkan.

Contoh pelesapan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(383) Tuti Kusumo mung gedheng-gedheg karo mesem. Mongkog lan kepranan karo kepribadene Suryo Baskoro: Ø isih enom, Ø pinter,Ø trapsila, Ø andhap asor, Ø tansah nuju prana. Sing luwih wigati Ø tansah bisa ngrampungi jejibahan kanthi becik lan mesthi tuntas. (I/CK3/H7/6)

„Tuti Kusumo hanya geleng-geleng dengan tersenyum. Ø Bangga dan salut dengan kepribadiannya Suryo Baskoro: Ø masih muda, Ø pandai, Ø sopan, Ø rendah hati, Ø selalu berbuat baik. yang lebih penting Ø selalu bisa menyelesaikan kewajibannya dengan baik dan pasti tuntas.‟

Contoh di atas merupakan contoh pelesapan dari Tuti Kusumo mung gedheng-gedheg karo mesem. Tuti Kusumo Mongkog lan kepranan karo kepribadene Suryo Baskoro: Suryo Baskoro isih enom, Suryo Baskoro pinter,

Suryo Baskoro trapsila, Suryo Baskoro andhap asor, Suryo Baskoro tansah nuju

prana. Sing luwih wigati Suryo Baskoro tansah bisa ngrampungi jejibahan kanthi becik lan mesthi tuntas “Tuti Kusumo hanya geleng-geleng dengan tersenyum. Tuti Kusumo Bangga dan salut dengan kepribadiannya Suryo Baskoro: Suryo Baskoro masih muda, Suryo Baskoro pandai, Suryo Baskoro sopan, Suryo Baskoro rendah hati, Suryo Baskoro selalu berbuat baik. yang lebih penting Suryo Baskoro selalu bisa menyelesaikan kewajibannya dengan baik dan pasti tuntas.‟ Dengan terjadinya pelesapan maka tuturan itu menjadi lebih efektif, efisien, dan tidak membosankan.

(15)

commit to user d) Perangkaian (Konjungsi)

Menurut Sumarlam (2010: 52) konjungsi adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang dilakukan dengan cara menghubungkan unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Unsur yang dirangkaikan dapat berupa kata, frasa, klausa, kalimat, dan dapat juga berupa unsur yang lebih besar dari itu.

Mulyana (2005: 29) membagi konjungsi menjadi bebrapa jenis, antara lain sebagai berikut a) konjungsi adversatif (namun, tetapi), b) konjungsi kausal (sebab, karena), c) konjungsi korelatif (apalagi, demikian juga), d) konjungsi subordinatif (meskipun, kalau), e) konjungsi temporal (sebelumnya, sesudahnya, lalu, kemudian). Sumarlam (2010: 52-53) membedakan konjungsi sebagai berikut.

1. sebab-akibat (kausalitas) : sebab „sebab‟, amarga „karena‟, jalaran „karena‟, mulane „makanya‟. 2. pertentangan : nanging „tetapi‟

3. kelebihan (eksesif) : malah „malah‟ 4. perkecualian (ekseptif) : kajaba „kecuali‟

5. konsesif : sanajan „meskipun‟, najan „meski‟

6. tujuan : amrih „supaya‟, supados/ supaya „supaya‟ 7. penambahan (aditif) : lan „dan‟, uga/ ugi „juga‟, serta „sarta‟ 8. pilihan (altrnatif) : utawa „atau‟, apa „apa‟, punapa „apa-apa‟ 9. harapan (optatif) : muga-muga „semoga‟, mugi-mugi „semoga‟ 10. urutan (sekuensial) : banjur „kemudian‟, terus „terus‟, lajeng „lalu‟ 11. perlawanan : suwalike „sebaliknya‟, kosok baline „kebalikannya‟ 12. waktu (temporal) : sawise „setelah‟, sabubare „sesudahnya‟ sabanjure

(16)

commit to user

13. syarat : yen „jika‟, menawa „misalkan‟

14. cara : kanthi (cara) mangkono „dengan (cara) demikian‟ Contoh konjungsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

(460) [...]kowe mengko bakal diparingi data kang magepokan karo sawijining konspirasi penyelewengan dana pamarentah! Banjur tulisen sing tajem,

supaya narik kawigaten. (I/CK3/H19/5)

„[...]kamu nanti akan dikasih data yang berhubungan dengan salah satu permainan penyelewengan dana pemerintah! Kemudian tulislah yang tajam, supaya menarik perhatian.‟

Data (460) di atas menunjukkan adanya konjungsi tujuan yaitu kata

supaya „supaya‟ yang berfungsi menghubungkan suatu makna tujuan yaitu data

mengenai konspirasi penyelewengan dana pemerintah ditulis yang tajam supaya menarik perhatian.

2) Kohesi Leksikal

Menurut pendapat Mulyana (2005: 29) kohesi leksikal atau perpaduan leksikal adalah hubungan leksikal antara bagian-bagian wacana untuk mendapatkan keserasian struktur secara kohesif. Kemudian Sumarlam (2010: 55) menyatakan pendapatnya bahwa kohesi leksikal adalah hubungan antarunsur dalam wacana secara semantis. Dalam hal ini, untuk menghasilkan wacana yang padu, pembicara atau penulis dapat menempuhnya dengan cara memilih kata-kata yang sesuai dengan isi kewacanaan yang dimaksud. Kohesi leksikal dalam wacana dapat dibedakan menjadi enam macam, yaitu a) repetisi (pengulangan), b) sinonimi (padan kata), c) antonimi (lawan kata), d) kolokasi (sanding kata), e) hiponimi (hubungan atas bawah), f) ekuivalensi (kesepadanan).

a) Repetisi (Pengulangan)

Repetisi adalah pengulangan satuan lingual (bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat) yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah

(17)

commit to user

konteks yang sesuai (Sumarlam, 2010: 55). Menurut pendapat Gorys Keraf (1984: 127-128) repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian

kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Kridalaksana menjelaskan pengulangan (repetition) adalah penggunaan unsur bahasa beberapa kali berturut-turut sebagai alat stilistis atau untuk tujuan ekspresif.

Berdasarkan tempat satuan lingual yang diulang dalam baris, klausa atau kalimat, Gorys Keraf (1984: 127-128) membedakan repetisi menjadi delapan macam, yaitu (1) repetisi epizeuksis, (2) repetisi tautotes, (3) repetisi anafora, (4) repetisi epistrofa, (5) repetisi simploke, (6) repetisi mesodiplosis, (7) repetisi epanalepsis, (8) repetisi anadiplosis.

Repetisis epizeuksis adalah repetisi yang bersifat langsung, artinya kata yang dipentingkan diulang beberapa kali berturut-turut. Repetisi tautotes adalah repetisi atas sebuah kata berulang-ulang dalam sebuah konstruksi. Repetisi anafora adalah repetisi yang berwujud perulangan kata pertama pada tiap baris atau kalimat berikutnya. Repetisi epistrofa adalah repetisi yang berwujud perulangan kata atau frasa pada akhir baris atau kalimat berturut-turut. Repetisi simploke adalah repetisi pada awal dan akhir beberapa baris atau kalimar berturut-turut. Repetisi mesodiplosis adalah repetisi di tengah baris-baris atau beberapa kalimat berurutan. Repetisi epanalepsis adalah pengulangan yang berwujud kata terakhir dari baris, klausa atau kalimat, mengulang kata pertama. Repetisi anadiplosis adalah kata atau frasa terakhir dari suatu klausa atau kalimat menjadi kata atau frasa pertama dari klausa atau kalimat berikutnya.

(18)

commit to user

Berikut adalah contoh data kohesi leksikal berupa repetisi.

(617) Wewengkon sing akeh wonge wadon, kayata pabrik-pabrik sing karyawane akeh wadone. Loking akeh, calon Gubernur Warih saka partai Mangayubagya mono sing nyengkuyung akeh wadone. (V/DH/H120/1) „Tempat yang banyak wanita, sperti pabrik-pabrik yang karyawannya banyak wanitanya. Sepertinya banyak, calon gubernur Warih dari partai Mangayubagya itu yang mendukung banyak wanitanya.‟

Pada contoh data (617) di atas terdapat contoh repetisi taototes yaitu pengulangan kata yang terjadi secara berturut-turut dalam sebuh konstruksi. Pengulangan tersebut bertujuan untuk menekankan satuan lingual yang menjadi acuan, kata wadon „wanita‟ diulang sebanyak tiga kali pada awal, tengah, dan akhir kalimat.

b) Sinonimi (padan kata)

Menurut Gorys Keraf (1984: 34) sinonimi adalah suatu istilah yang dapat dibatasi sebagai, (1) telaah mengenai bermacam-macam kata yang memiliki makna yang sama atau (2) keadaan dimana dua kata atau lebih memiliki makna yang sama. Sebaliknya, sinonim adalah kata-kata yang memiliki makna yang sama (syn = sama, onoma = nama). Sedangkan menurut Sumarlam (2010: 61) sinonimi adalah salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana. Sinonimi berfungsi menjalin hubungan makna yang sepadan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual lain dalam wacana.

Sinonim (synonym) merupakan bentuk bahasa yang maknanya mirip atau sama dengan bentuk lain, kesamaan itu berlaku bagi kata, kelompok kata, atau kalimat, walaupun umumnya yang dianggap sinonim hanyalah kata-kata saja (Harimurti Kridalaksana, 2008: 222). Pendapat tersebut pada intinya sinonim merupakan satuan lingual yang memiliki makan yang mirip atau sama, walaupun yang banyak ditemukan adalah sinonimi dalam bentuk kata.

(19)

commit to user

Menurut Sumarlam (2010: 61) berdasarkan wujud satuan lingualnya, sinonimi dapat dibedakan menjadi lima macam, yaitu (1) sinonimi antara morfem (bebas) dengan morfem (terikat), (2) kata dengan kata, (3) kata dengan frasa atau sebaliknya, (4) frasa dengan frasa, (5) klausa/ kalimat dengan klausa/ kalimat.

Data yang menunjukkan adanya sinonimi adalah sebagai berikut.

(669) Sadurunge mlebu ing kamar kerjane dhewe diperlokake mampir ing ruang kerjane Wakil Pemimpin Redaksi, kothong. Pemimpin Redaksi nedya ngenteni sing duwe senthong kosong. (IV/BIMK/H95/2)

„Sebelum masuk di kamar kerjanya sendiri dibutuhkan berkunjung di ruang kerjanya Wakil Pemimpin Redaksi, kosong. Pemimpin Redaksi berniat menunggu yang punya kamar kosong.‟

Data (669) di atas menunjukkan adanya kohesi leksikal berupa sinonimi kata dengan kata. Kata kamar „kamar‟ dengan senthong „kamar‟ memiliki makna yang sepadan atau bersinonim.

c) Antonimi (Oposisi makna)

Antonimi dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal lain, atau satuan lingual yang maknanya berlawanan atau beroposisi dengan satuan lingual yang lain. Antonimi disebut juga oposisi makna (Sumarlam, 2010: 63). Oposisi makna atau antonimi juga merupakan salah satu aspek leksikal yang mampu mendukung kepaduan makna wacana secara semantis.

Sumarlam (2010:63) mengklasifikasi oposisi makna berdasarkan sifatnya menjadi lima macam, yaitu (1) oposisi mutlak, (2) oposisi kutub, (3) oposisi hubungan, (4) oposisi hirarkial, (5) oposisi majemuk.

Oposisi mutlak adalah pertentangan makna secara mutlak. Oposisi kutub adalah oposisi makna yang tidak bersifat mutlak, tetapi bersifat gradasi. Artinya terdapat tingkatan makna pada kata-kata tersebut. Oposisi hubungan adalah oposisi makna yang bersifat saling melengkapi. Karena oposisi ini bersifat saling

(20)

commit to user

melengkapi, maka kata yang satu dimungkinkan ada kehadirannya karena kehadiran kata yang lain yang menjadi oposisinya, atau kehadiran kata yang satu disebabkan oleh adanya kata yang lain. Oposisi hirarkial yaitu oposisi makna yang menyatakan deret jenjang dan tingkatan. Oposisi majemuk adalah oposisi makna yang terjadi pada beberapa kata (lebih dari dua).

Berikut contoh oposisi dari novel SPP.

(688) Wong tua pethakilan ora ngerti tata krama! minangka jejere wong enom, Suryo siyaga ing gati mbelani tresna. (III/NTKP/H85/1)

„Orang tua berulah tidak tahu sopan santun! Yang menjadi orang muda, Suryo siaga bersungguh-sungguh membela cinta.

Contoh data (688) di atas memperlihatkan adanya oposisi kutub antara kata

tua ‘tua‟ dan kata enom „muda‟. Kedua kata tersebut memiliki makna yang

berlawanan atau beroposisi. d) Kolokasi (Sanding kata)

Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi tertentu dalam menggunakan

pilihan kata yang cenderung digunakan secara berdampingan (Sumarlam, 2010: 65). Kata-kata yang berkolokasi adalah kata-kata yang

cenderung dipakai dalam satu domain atau jaringan tertentu. Harimurti Kridalaksana (2008: 127) berpendapat Kolokasi (collocation) merupakan suatu bentuk asosiasi tetap antara kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.

Contoh kolokasi pada novel SPP adalah sebagai berikut.

(716) Ana dokter visit, para tamu diprayogakake metu. Kari Rukmini kang sabiyantu dokter lan perawat kang ngetutake. Ing teras rumah sakit wong telu padha kangen-kangenan. (III/NTKP/H90/3)

„Ada dokter berkunjung, para tamu dipersilakan keluar. Tinggal Rukmini yang membantu dokter dan perawat yang mengikuti. Di teras rumah sakit tiga orang saling melepas kangen.‟

(21)

commit to user

Contoh data (716) di atas menunjukkan adanya kolokasi yang ditunjukkan oleh kata dokter visit „dokter berkunjung‟, dokter „dokter‟, dan perawat „perawat‟. Ketiga kata tersebut merupakan istilah yang digunakan dalam bidang kesehatan.

e) Hiponimi (hubungan atas-bawah)

Hiponimi dapat diartikan sebagai satuan bahasa (kata, frasa, kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain. Unsur atau satuan lingual yang mencakupi beberapa unsur atau satuan lingual yang berhiponim itu disebut “hipernim” atau “superordinat”. (Sumarlam, 2010: 68). Pendapat lain dari Harimurti Kridalaksana (2008: 83) hiponimi (hyponymy) hubungan dalam semantik antara makna spesifik dan makna generik, atau antara anggota taksonomi dan nama taksonomi

f) Ekuivalensi (kesepadanan)

Ekuivalensi adalah hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama menunjukkan adanya hubungan kesepadanan (Sumarlam, 2010: 69).

Contoh data yang terdapat dalam novel SPP.

(726) Sing duwe warung nakoni Rudi. Mardanu ora ditakoni, awit wis apal lageyane. (I/CK3/H33/5)

„Yang punya warung menanyai Rudi. Mardanu tidak ditanyai, karena sudah hafal kebiasaannya.‟

Data (726) di atas terdapat adanya ekuivalensi yang ditunjukkan oleh kata

nakoni „menanyai‟ dan kata ditakoni „ditanyai‟. Kedua kata tersebut berasal dari

kata dasar yang sama yaitu takon „tanya‟ dan mengalami proses afiksasi sehingga serta menujukkan adanya hubungan kesepadanan.

(22)

commit to user b. Koherensi

Istilah “koherensi” mengandung makna pertalian. Sementara itu Gorys Keraf (1984: 38) juga berpendapat bahwa koherensi juga berarti hubungan timbal balik yang serasi antarunsur dalam kalimat. Pada dasarnya, hubungan koherensi adalah suatu rangkaian fakta dan gagasan yang teratur dan tersusun secara logis. Koherensi dapat terjadi secara implisit (terselubung) karena berkaitan dengan bidang makna yang memerlukan interpretasi. Di samping itu, pemahaman ihwal hubungan koherensi dapat ditempuh dengan cara menyimpulkan hubungan antarproposisi dalam tubuh wacana (Mulyana, 2005: 31).

Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarkata, atau kalimat dalam teks. Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat dihubungkan sehingga tampak koheren (Eriyanto, 2001: 242). Koherensi ini secara mudah dapat diamati diantaranya sari kata hubung (konjungsi) yang dipakai untuk menghubungkan fakta.

Menurut F. J D‟Angelo yang dikutip oleh Henry Guntur Tarigan (2005: 32-35) terdapat 15 sarana yang dapat digunakan untuk menentukan kekoherensian sebuah wacana. Sarana koherensi tersebut sebagai berikut.

a) Sarana penghubung koherensi yang bersifat rentetan atau seri (sepisan „pertama‟, kapindho „kedua‟, banjur „kemudian‟, akhire „akhirnya‟).

b) Sarana penghubung bersifat aditif/ penambahan (lan „dan‟, uga „juga‟, maneh „lagi‟).

c) Sarana penghubung berupa pronomina (iki „ini‟, aku „saya‟, dheweke „dia‟). d) Sarana penghubung berupa repetisi/ pengulangan kata.

(23)

commit to user

f) Sarana penghubung yang dimulai dari keseluruhan menuju ke bagian. g) Sarana penghubung yang dimulai dari kelas menuju ke anggota.

h) Sarana penghubung berupa penekanan (nyatane „nyatanya‟, wis mesthi „sudah pasti‟).

i) Sarana penghubung berupa perbandingan (ora beda „tidak beda‟, kaya „seperti‟).

j) Sarana penghubung berupa pertentangan (nanging „tetapi‟, suwalike „sebaliknya‟).

k) Sarana penghubung berupa kesimpulan (dadi „jadi‟, ngono mau „itu tadi‟). l) Sarana penghubung berupa contoh (umpamane „umpamanya‟, kayata

„seperti‟).

m) Sarana penghubung berupa kesejajaran/ paralelisme.

n) Sarana penghubung berupa lokasi (ana kana „ada di sana‟, ana kene „ada di sini‟).

o) Sarana penghubung berupa kala atau waktu (sawetara iku „sementara itu‟, wiwitane „awal mula‟).

Dari beberapa sarana koherensi di atas terdapat beberapa sarana koherensi yang tercakup dalam sarana kohesi diantaranya sarana penghubung yang bersifat rentetan, penambahan (aditif), pronomina, pengulangan (repetisi), sinonim, perbandingan, pertentangan, dan kala atau waktu.

Penelitian ini menitikberatkan pada koherensi yang terdapat dalam novel SPP yang tidak termasuk dalam sarana kohesi baik leksikal maupun gramatikal. Hal tesebut dilakukan untuk menghindari adanya pengulangan dualisasi yang sama sehingga menciptakan suasana yang monoton/membosankan, penanda

(24)

commit to user

koherensi yang dimaksud adalah sebagai berikut. (a) penekanan (tansaya „semakin‟, saya ‟makin‟, pancen „memang‟, mesthi „pasti‟, dan buktine „buktinya‟), (b) simpulan/ hasil (asil „hasil‟, dadi „menjadi‟), (c) contoh (umpamane „misalnya‟, umpama „misal‟, kaya dene „seperti halnya‟, dan kayata „seperti‟).

a) Penanda koherensi berupa penekanan

Koherensi penekanan dalam sebuah wacana berfungsi untuk menekankan suatu maksud yang dinyatakan dalam sebuah kalimat. Koherensi penekanan biasanya dinyatakan dengan kata tansaya/saya „semakin, makin‟, pancen „memang‟, mesthi „pasti‟, dan buktine „buktinya‟.

Contoh data koherensi simpulan adalah sebagai berikut.

(746) Beda Pak, yen perkara pesen saben dina bocah-bocah bisa nglakoni! Ning iki masakane mbokne, mesthi beda. (IV/BIMK/H109/5)

„Beda Bapak, kalau masalah pesan setiap hari anak-anak bisa melakukan! Tetapi ini masakannya ibunya, pasti beda.‟

Pada data (746) di atas tampak kata mesthi „pasti‟ mendukung kekoherensian sebuah wacana. Kata mesthi „pasti‟ merupakan penanda koherensi penekanan yang berfungsi untuk menekankan bahwa makanan yang dimasak oleh ibunya pasti berbeda dengan makanan yang dibeli. Maksud dari pernyataan tersebut adalah penulis membuat cerita bahwa seorang anak yang sudah berumah tangga bisa membeli makanan di luar, tetapi masakan seorang ibu pasti berbeda rasanya.

b) Penanda koherensi berupa simpulan atau hasil

Penanda koherensi simpulan berfungsi untuk memberikan keterangan suatu hasil atau suatu penyimpulan dari suatu pernyataan. Penanda koherensi berupa simpulan atau hasil biasanya dinyatakan dengan kata dadi „jadi‟ dan asil „hasil.

(25)

commit to user

Contoh data koherensi simpulan yang ditemukan dalam penelitian ini. (760) Meger iki mung kaya dene julukan! Cekakan saka mepet pager! kantine

dhewe ora duwe jeneng. Dadi yen kowe mengko nggoleki kantin sing ana tulisane meger ya sengara yen bisa ketemu. (I/CK3/H21/4)

„Meger itu hanya seperti sebutan! Kependekan dari mepet pager! Katinnya sendiri tidak mempunyai nama. Jadi kalau kamu nanti mencari kantin yang ada tulisannya meger ya tidak mungkin kalau bisa ketemu.‟

Data (760) di atas menunjukkan adanya koherensi simpulan yaitu kata

dadi „jadi‟ yang berfungsi untuk menyimpulkan suatu pernyataan. Pernyataan

tersebut yaitu katin meger merupakan nama julukan dan merupakan kependekan dari mepet pager, dan disimpulkan dengan kalimat jadi kalau mencari kantin yang namanya meger tidak mungkin ketemu.

c) Penanda koherensi berupa contoh

Penanda koherensi berupa contoh berfungsi untuk memberikan keterangan atau memberi penjelasan dari sebuah kalimat sehingga kalimat tersebut tersampaikan lebih jelas maksudnya. Penanda ini biasanya berupa kata umpamane “misalnya‟ dan kayata „ seperti‟.

Contoh koherensi contoh dalam penelitian ini.

(773) Najan Suryo slingkuh umpamane, dheweke wis siyaga ing gati. (V/DH/H132/1)

„Meski Suryo selingkuh misalkan, dia sudah siap betul.‟

Data (773) di atas menunjukkan adanya koherensi contoh yaitu pada kata

umpamane „misalnya‟ yang berfungsi untuk menjelaskan suatu permisalan jika

Suryo selingkuh dia yang mengacu pada Surtikanti yang sudah siap betul. 4. Pengertian Novel

Novel berasal dari kata Latin novellus yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti “baru” (Henry Guntur Tarigan, 2011: 167). Baru dalam konteks tersebut diartikan karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis sastra

(26)

commit to user

lainnya seperti puisi, drama, dan lainnya, maka novel ini muncul kemudian. Menurut Jakob Sumardjo novel adalah cerita fiktif yang panjang. Bukan hanya panjang dalam arti fisik, tetapi juga isinya (Jakob Sumardjo, 2007: 204). Bersambung dari pengertian di atas, Jakob menjelaskan bahwa novel terdiri dari satu cerita yang pokok, dijalani dengan beberapa cerita sampingan yang lain, banyak kejadian dan kadang banyak masalah juga, dan semuanya itu harus merupakan sebuah kesatuan yang bulat.

Pendapat lain dari Samita yang mengatakan bahwa Novel merupakan salah satu jenis karya sastra yang memiliki cerita yang sangat panjang. Serta terbagun atas dua aspek yakni aspek intrinsik dan ektrinsik. (2010: Vol.9). Panjang yang dimaksudkan yaitu dari sisi ceritanya dan jumlah hurufnya, yang pastinya lebih panjang dari sebuah cerpen dan tidak habis dibaca sekali duduk.

Berbeda dengan novel, terdapat istilah lain yaitu novelette yang berasal dari kata novel dan ditambah dengan suffiks –ette yang berarti kecil, secara singkat novelette adalah novel kecil (Henry Guntur Tarigan, 2011: 178).

5. Novel Sang Pangeran Pati

Novel Sang Pangeran Pati merupakan salah satu judul novel berbahasa Jawa yang ditulis oleh Fitri Gunawan, novel yang diterbitkan pada bulan Juli 2013 tersebut terdiri atas 203 halaman sudah termasuk lampiran. Novel SPP tersebut awalnya merupakan bentuk dari cerita bersambung (cerbung) yang dimuat di majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat (PS) mulai dari PS no. 37 (15 September 2012) sampai PS no. 11 (16 Maret 2013) (Fitri Gunawan, 2013: 163). Sang Pangeran Pati sesuai judul novel tersebut ditujukan untuk sosok Suryo Baskoro yang digadang-gadang Broto Kusumo menjadi pemimpin sampai titik

(27)

commit to user

darah penghabisan membawa nama koran Cahaya Kita menjadi koran nomor satu dimasa itu. Intinya novel SPP tersebut berisi tentang carut marut kondisi jurnalistik yang berlatarkan politik, tetapi di dalam karyanya tersebut Fitri Gunawan juga membumbuinya dengan kisah cinta antara Suryo Baskoro dengan Ir. Surtikanthi, MSc yang mendapat halangan restu dari ayah Surtikanthi bapak Suryono yang kemudian berakhir dengan sebuah pernikahan.

Novel Sang Pangeran Pati pernah dijadikan sebagai objek lomba kritik sastra yang diikuti oleh 16 peserta. Lomba tersebut menghasilkan 3 terbaik dengan judul sebagai berikut.

1. Sang Pangeran Pati, konflik kang kurang digarap (oleh Bram Setiadi) 2. Sang Pangeran Pati: Lumantar Crita Melu Bangun Karakter Bangsa (oleh

Panca Dewi Purwati)

3. Sang Pangeran Pati: Potret Panguripan Moderen ala Sinetron (oleh Daniel Tito/ Tito S. Budi, Drs., M.Si.)

(28)

commit to user B. Kerangka Berpikir

Untuk memudahkan dalam memahami alur penelitian ini peneliti mendeskripsikannya dalam kerangka pikir. Untuk mengetahui aspek keutuhan wacana novel Sang Pangeran Pati karya Fitri Gunawan dimulai dari aspek kohesi. Di dalam analisis aspek kohesi terdapat dua macam, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal terdiri atas pengacuan (referensi), penyulilihan (subtitusi), pelesapan (elipsis), dan perangkaian (konjungsi). Kemudian unsur dalam kohesi leksikal meliputi repetisi (pengulangan), sinonimi (persamaan kata), antonimi (perlawanan kata), kolokasi (sanding kata), hiponimi (hubungan atas-bawah), dan ekuivalensi (kesepadanan). Selain menganalisis dari aspek kohesi juga dilakukan analisis terhadap aspek koherensi (penekanan, simpulan/hasil, contoh).

(29)

commit to user

Bagan 3. Kerangka Berpikir Kajian Kohesi dan Koherensi dalam Novel Sang Pangeran Pati Karya Fitri Gunawan

NOVEL SANG PANGERAN PATI KARYA FITRI

GUNAWAN

SARANA KEUTUHAN WACANA

KOHESI KOHERENSI Aspek Gramatikal: - Pengacuan - Penyulihan - Pelesapan - Perangkaian Aspek Leksikal: - Repetisi - Sinonimi - Antonimi - Kolokasi - Hiponimi - Ekuivalensi - Penekanan - Simpulan - Contoh WACANA

Analisis Wacana

Kohesi dan Koherensi

Wacana Tulis Novel, Puisi, Naskah Drama, Naskah Pidato, dll

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :