NILAI PAKAN JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN BASAL
SAPI INDUK PERANAKAN ONGOLE (PO) DENGAN
LEVEL SUPLEMENTASI LEGUMINOSA YANG BERBEDA
(Feeding Value of Rice Straw as Basal Diet Supplemented with Different
Levels of Tree Legumes on Ongole Cross Cow)
T.M.SYAHNIAR1,R.ANTARI1,D.PAMUNGKAS1,MARSETYO2, D.E.MAYBERRY3danD.P.POPPI3
1
Loka Penelitian Sapi Potong, Jl. Pahlawan No.2, Grati-Pasuruan
2Jurusan Peternakan, Universitas Tadulako, Kampus Bumi Tadulako, Tondo, Palu 94118 3
School of Agriculture and Food Sciences, The University of Queensland, Gatton Queensland, Australia
ABSTRACT
This experiment was done to determine the amount of rice straw and tree legumes required to maintain the weight of a mature, non-lactating, non-pregnant Ongole-Cross cow. An experiment of feeding value of rice straw (Oryza sativa) supplemented with increasing levels of tree legumes on Ongole-Cross cows was done, Thirty two Ongole-Cross cows (318 ± 12 kg (SEM)) were allocated to four levels of tree legumes (mixture of Gliricidia sepium and Leucaena leucochephala, 1 : 1) in a randomized block design, with eight replications (animals) per treatment. Cows were offered rice straw ad libitum with four levels of tree legumes (0; 2.5; 5 and 10 g dry matter (DM)/kg body weight (BW)/day (d). The experiment was done in 23 weeks, consisting of a 2 weeks of preliminary period for adaptation to diets and 21 weeks experimental period. The variable measured was: feed intake, metabolisable energy intake (MEI), crude protein intake (CPI) and metabolisable energy retention (MER). Organic matter digestibility (OMD) was measured over 7 consecutive days on 3 separate occasions, during weeks 4, 11 and 19 of the experimental period. The results demonstrated that level of tree legume supplementation on rice straw did not affect significantly (P > 0.05) OMD, MEI and MER, which were averaged 54.31%, 0.12 MJ/kg BW/d, 1.43 g/kg BW/d, respectively. Addition of tree legume to rice straw on the other hand increased significantly CPI of Ongole-Cross cow. Cows without tree legume supplementation showed the lowest CPI (1.03 g/kg BW/d) while cows with supplementation 10 g DM/kg BW/d had highest CPI (1.82 g/kg BW/d). It is concluded that addition of tree legumes until 10 g DM/kg BW/d in the rice straw as basal diet to maintain Ongole-Cross cow increased crude protein intake and increased supplementation would indicate increased organic matter digestibility, estimation of metabolizable energy intake and the retention.
Key Words: Rice Straw, Tree Legums, Diet Quality, Ongole-Cross Cows
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menentukan jumlah kebutuhan jerami padi dan suplementasi leguminosa pohon oleh sapi induk peranakan Ongole (PO) kering untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok. Untuk mencapai tujuan tersebut, pengujian nilai pakan jerami padi (Oryza sativa) dengan beberapa kadar suplementasi leguminosa pohon (rasio campuran Gliricidia sepium dengan Leucaena leucocephala
1 : 1) telah dilakukan. Materi yang digunakan adalah 32 ekor sapi induk PO dengan rataan bobot badan (BB) 318 ± 12 kg (SD) secara acak dialokasikan pada empat perlakuan pakan dengan delapan ulangan pada setiap perlakuan dan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Ternak percobaan mendapatkan jerami padi
ad libitum dan empat kadar leguminosa pohon (0; 2,5; 5 dan 10 g BK/kg BB/hari). Penelitian berlangsung selama 23 minggu, yang terdiri atas 2 minggu sebagai masa adaptasi dan 21 minggu masa pengukuran yang meliputi konsumsi pakan harian, kecernaan bahan organik (KBO), estimasi konsumsi energi metabolis (KEM), konsumsi protein kasar (KPK) dan estimasi retensi energi metabolis (REM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar penambahan leguminosa pohon pada jerami padi adalah tidak nyata (P > 0,05) terhadap KBO, estimasi KEM dan estimasi REM dengan nilai rataan berturut-turut 54,31%, 0,12 MJ/kg BB/hari dan 1,43 g BK/kg BB/hari. Namun kadar penambahan legium pohon pada jerami padi meningkatkan nilai KPK secara nyata (P < 0,05). Nilai KPK terendah ((1,03 ± 0,07) g BK/kg BB/hari) dan tertinggi ((1,82 ±
0,10) g BK/kg BB/hari) masing-masing dicapai oleh penambahan leguminosa pohon dengan level 0 dan 10 g BK/kg BB/hari). Dapat disimpulkan bahwa kadar penambahan leguminosa pohon sampai pada kadar 10 g BK/kg BB/hari pada jerami padi sebagai pakan basal sapi induk PO meningkatkan konsumsi protein kasar dalam pakan dan peningkatan suplementasi tersebut mengindikasikan peningkatan kecernaan bahan organik, nilai konsumsi serta retensi energi metabolis.
Kata Kunci: Jerami Padi, Leguminosa Pohon, Nilai Pakan, Sapi Induk Peranakan Ongole
PENDAHULUAN
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang produksinya melimpah di Indonesia. Produksi jerami padi diperkirakan mencapai angka 18,7 juta ton setiap tahunnya. Namun, pemanfaatan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia di Indonesia masih terbatas, sebagian dari produksi jerami padi nasional dibakar atau ditinggal di sawah (MARSETYO, 2008). Padahal, jerami padi memiliki potensi yang cukup besar sebagai sumber serat dan sumber energi bagi ternak ruminansia, khususnya sapi potong. Penggunaan jerami padi sebagai pakan sapi potong rakyat telah dipraktekkan di sebagian wilayah di Jawa Timur, terutama pada wilayah dengan tingkat kepadatan sapi tinggi seperti di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo dan Malang. Jerami padi rendah kandungan protein dan mungkin zat gizi esensial lainnya untuk memenuhi kebutuhan mikroba dalam rumen dan ternak yang bersangkutan (SCHIERE dan IBRAHIM, 1989; VAN SOEST, 2006). Kadar protein kasar yang rendah sekitar 4 – 5% serta kandungan komponen serat yang tinggi (lignin sekitar 6% dan selulosa sekitar 35%) menyebabkan nilai kecernaan pakan jerami rendah. Hasil penelitian SERESINHE and PATHIRANA (2008) mengungkapkan bahwa penggunaan jerami padi sebagai pakan tunggal menunjukkan kecernaan bahan organik sebesar 42% dan konsumsi bahan kering pakan berkisar 2,17 kg/ekor/hari. Rendahnya nilai kecernaan dan konsumsi pakan tersebut menyebabkan konsumsi energi metabolis menjadi rendah. Energi dan protein dalam pakan dibutuhkan oleh jaringan tubuh ternak dalam jumlah besar guna memenuhi kebutuhan zat gizi untuk hidup pokok dan produksi.
Salah satu strategi untuk meningkatkan nilai pakan khususnya energi dan protein dari jerami padi sebagai pakan basal sapi potong adalah dengan suplementasi pakan yang mengandung protein tinggi. Penambahan
leguminosa pohon yaitu gamal (Gliricidia
sepium) dan lamtoro (Leucaena leucocephala)
sebagai pakan suplemen pada pakan basal jerami padi memiliki peran yang strategis. Kedua leguminosa pohon tersebut tersedia di peternak dan memiliki kadar protein kasar yang cukup tinggi masing-masing berkisar 23% (JUMA et al., 2006; SERESINHE dan PATHIRANA, 2008) dan 25% (ACIAR Report, 2009). Penambahan ekstra protein dalam pakan secara metabolis dapat menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas mikroba di dalam rumen (PRESTON dan LENG, 1987; BEEVER, 1993) yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai pakan jerami padi. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengukur banyaknya jerami padi dan leguminosa pohon yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok sapi induk PO kering. Pencapaian tujuan tersebut dilakukan dengan mencobakan beberapa kadar suplemen leguminosa pohon sebagai pakan tambahan (suplemen) pada sapi PO induk yang mendapatkan jerami padi sebagai pakan basal.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini telah dilaksanakan di kandang percobaan Loka Penelitian Sapi Potong, Grati-Pasuruan Jawa Timur pada bulan Februari sampai dengan Juli 2010.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi induk Peranakan Ongole (PO) sebanyak 32 ekor dengan rataan berat badan 318 ± 12 kg (SD). Peralatan yang digunakan terdiri atas kandang individu sebanyak 32 petak dengan ukuran (2 × 1,5) m, yang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat air minum.
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan pakan dan delapan ulangan (delapan ekor sapi induk per perlakuan). Sebagai pakan basal
adalah jerami padi yang diberikan secara ad
libitum. Ternak percobaan diacak untuk
mendapatkan salah satu dari empat kadar suplemen leguminosa (0; 2,5; 5 dan 10 g BK/kg BB/hari) sebagai pakan perlakuan. Penentuan kadar suplemen leguminosa tersebut didasarkan pada tujuan untuk mengetahui kadar minimum pakan suplemen yang dibutuhkan oleh sapi induk PO agar dapat memenuhi kebutuhan nutrien untuk hidup pokoknya. Leguminosa yang digunakan merupakan campuran antara Gliricidia sepium
dan Leucaena leucocephala dengan rasio 1 : 1
berdasarkan bahan kering (BK). Jerami padi diberikan dua kali sehari yaitu pada pukul 09.00 dan 15.00. Banyaknya jerami padi yang diberikan setiap hari ditetapkan sebanyak 10% lebih dari konsumsi jerami padi pada minggu sebelumnya. Jerami diberikan tanpa dilakukan pemotongan terlebih dahulu. Suplemen diberikan dua kali sehari yaitu pada pukul 08.00 dan 11.00. Air minum tersedia secara ad
libitum sepanjang penelitian.
Penelitian ini berlangsung selama 23 minggu. Sapi mengalami masa adaptasi terhadap lingkungan, kandang dan pakan percobaan selama dua minggu. Sapi ditimbang pada awal masa adaptasi dan selanjutnya setiap dua minggu untuk dilakukan penyesuaian alokasi suplemen (terhadap ternak yang mendapatkan perlakuan suplemen) dengan perubahan bobot badannya. Selanjutnya pengukuran dilakukan selama 21 minggu. Pengukuran kecernaan pakan dilakukan tiga kali secara terpisah selama satu minggu, pada minggu ke-4, 11 dan 19.
Teknik pengukuran dan analisis pakan
Konsumsi pakan diukur setiap hari. Banyaknya bahan kering (BK) pakan yang dikonsumsi oleh setiap ekor ternak per hari diukur dengan cara mengurangi BK pakan yang diberikan dengan BK pakan yang tersisa. Kecernaan bahan organik (BO) pakan dihitung dengan menggunakan data konsumsi BO pakan dengan produksi BO feses.
Produksi feses selama satu hari diukur dengan teknik koleksi total selama 24 jam setiap ekor ternak selama tujuh hari dengan menempatkan alat penampung feses di bagian belakang setiap kandang individu. Setelah
produksi feses harian ditimbang, kemudian diaduk secara merata dan diambil sampel sebanyak 10% dari total produksi feses setiap hari dan selanjutnya sampel tersebut disimpan pada suhu 20°C. Pada akhir minggu periode pengukuran kecernaan, sampel feses tersebut dihangatkan dan kemudian diambil sub-sampelnya yang selanjutnya dikeringkan dengan menggunakan oven dengan suhu 60°C sampai kering dan digiling.
Pakan yang diberikan (jerami dan leguminosa pohon) diambil sampelnya setiap hari dan dikeringkan pada oven 60°C untuk mendapatkan data BK pakan. Sisa pakan untuk masing-masing ternak dikumpulkan selama satu minggu dan diambil sub sampelnya. Sampel pakan pemberian, sisa pakan dan feses digiling dan dianalisis secara kimia untuk mengetahui bahan kering dan bahan organik menurut petunjuk AOAC (1984). Kadar
neutral detergent fibre (NDF) dan acid
detergent fibre (ADF) pakan dianalisa
berdasarkan petunjuk GOERING dan VAN SOEST (1970). Kandungan nitrogen pakan dianalisa dengan teknik Kjeldahl (AOAC, 1984). Estimasi konsumsi energi metabolis (KEM) dihitung berdasarkan perhitungan dari SCA (1990) yaitu dengan mengalikan konsumsi BK pakan dengan estimasi kandungan energi pakan (KE, MJ/kg) dengan formulasi sebagai berikut:
estimasi KE × KBK BB
KEM : konsumsi energi metabolis (MJ/kgBB/h) KE : kadar energi (MJ/kg)
KBK : konsumsi bahan kering pakan(kg/h) BB : bobot badan (kg)
dimana KE dihitung berdasarkan formulasi sebagai berikut:
Estimasi KE = 0,169KBO – 1,986 KE : kadar energi (MJ/kg)
KBO : kecernaan bahan organik (%)
Estimasi retensi energi metabolis (REM) dihitung dengan mengurangi KEM dengan kebutuhan energi untuk hidup pokok (SCA, 1990) yang dihitung dengan formulasi sebagai berikut:
REM = KEM – Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok
REM: retensi energi metabolis (MJ/kg BB/h) KEM: konsumsi energi metabolis (MJ/kg BB/h)
dimana kebutuhan energi untuk hidup pokok dihitung menggunakan formula SCA (1990) sebagai berikut:
Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok = 0,35 MJ/Kg × BB0,75
(0,02 × estimasi KE) + 0,5
KE: kadar energi (MJ/kg) BB: bobot badan (kg)
Parameter yang diukur pada penelitian ini adalah nilai pakan yang meliputi konsumsi pakan harian, KBO pakan, estimasi KEM, konsumsi protein kasar dan estimasi REM.
Analisis statistik
Data yang diperoleh dari hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis ragam dan apabila perlakuan menunjukkan pengaruh yang nyata (P < 0,05) maka dilakukan analisis lebih lanjut dengan uji Tukey pada Genstat (edisi ke-13).
HASIL DAN PEMBAHASAN Komposisi kimia bahan pakan
Komposisi kimia bahan pakan percobaan tertera pada Tabel 1. Jerami padi berkadar PK rendah dengan komponen serat (NDF dan ADF) tinggi. Kadar PK jerami padi sangat rendah (6,49%) dibandingkan dengan kandungan PK daun gamal dan daun lamtoro masing-masing sebesar 20,67% dan 24,49%. Sebaliknya, kandungan NDF dan ADF jerami padi adalah sangat tinggi dibandingkan dengan daun gamal dan daun lamtoro. Namun kadar protein kasar jerami padi tersebut masih terdapat di dalam jangkauan nilai hasil penelitian DRAKE et al.
(2002) dan VAN SOEST (2006) sebesar 2,9% – 7,5% sedangkan nilai protein kasar daun gamal dan daun lamtoro adalah lebih rendah dibandingkan dengan data yang dilaporkan oleh HARTADI et al. (1997) tetapi lebih tinggi dibandingkan dengan nilai yang dilaporkan oleh SMITH dan VAN HOUTERT (1987).
Kecernaan bahan organik, konsumsi dan retensi energi metabolis serta konsumsi protein kasar
Konsumsi pakan suplemen meningkat seiring dengan peningkatan kadar pemberian. Rataan konsumsi BK pakan suplemen oleh ternak dengan alokasi 2,5; 5 dan 10 g BK/kg BB/hari masing-masing adalah 2,1; 3,3 dan 5,2 g BK/kg BB/hari, yang berarti bahwa pakan suplemen yang dikonsumsi tidak sesuai dengan alokasi pemberian. Konsumsi pakan suplemen tersebut memiliki kecenderungan berada semakin di bawah alokasi pemberian pada kadar pemberian yang tinggi dan diduga karena faktor rendahnya palatabilitas pakan suplemen. SIMON dan STEWART (1994) melaporkan bahwa rendahnya palatabilitas Gliricidia
sepium sebagai faktor yang membatasi
penggunaannya pada ternak. Namun ACIAR REPORT (2009) melaporkan adanya variasi penerimaan Gliricidia dan Leucaena sebagai pakan suplemen. Pada beberapa lokasi penelitian seperti di Palu, Gliricidia sangat disukai sapi Bali tetapi penelitian di Lombok menunjukkan tingkat palatabilitas yang lebih rendah.
Konsumsi BK jerami padi mengalami penurunan seiring dengan kenaikan konsumsi leguminosa pohon. Pada kadar konsumsi suplemen 0; 2,1; 3,3 dan 5,2 g BK/kg BB/hari, konsumsi BK jerami padi berturut-turut sebesar 17,4; 16,4; 15,3 dan 13,9 g BK/kg BB/hari. Hasil ini membuktikan bahwa pakan suplemen mengakibatkan substitusi yaitu penurunan pakan basal yang diakibatkan oleh kenaikan konsumsi pakan suplemen.
Berdasarkan hasil perhitungan dengan kadar suplementasi leguminosa pohon sebesar 2,1; 3,3 dan 5,2 g BK/kg BB/hari, terjadi penurunan pakan basal masing-masing sebesar 5,75%; 12,06% dan 20,11%. Jerami padi yang
kandungan NDF-nya tinggi diduga
menyebabkan kapasitas rumen untuk menampung pakan yang lebih banyak menjadi sangat terbatas (PRESTON dan LENG, 1987 dan
POPPIet al., 2000).
Pengaruh kadar penambahan leguminosa pohon terhadap kecernaan bahan organik, estimasi konsumsi dan retensi energi metabolis
Tabel 1. Komposisi kimia bahan pakan yang digunakan dalam penelitian Komposisi kimia (% BK) Bahan pakan BK BO PK NDF ADF Jerami padi 67,81 ± 2,66 76,22 ± 0,34 6,49 ± 0,33 61,12 ± 1,16 39,55 ± 2,41 Daun gamal 25,71 ± 0,71 91,37 ± 0,32 20,67 ± 0,45 45,76 ± 1,36 34,80 ± 1,90 Daun lamtoro 33,02 ± 1,16 92,60 ± 0,23 24,49 ± 0,58 44,60 ± 2,74 33,39 ± 1,72 BK: bahan kering; BO: bahan organik; PK: protein kasar; NDF: neutraldetergent fibre; ADF: acid detergent
fibre
Tabel 2. Pengaruh kadar suplementasi leguminosa pohon terhadap kecernaan bahan organik pakan, estimasi konsumsi energi metabolis, konsumsi protein kasar dan estimasi retensi energi metabolis sapi induk Peranakan Ongole yang mendapatkan pakan basal jerami padi
Kadar suplementasi leguminosa pohon (g BK/kgBB/hari) Parameter
0 2,5 5 10
Kecernaan bahan organik (%) 53,24 ± 0,79a 53,32 ± 0,70a 54,80 ± 0,84a 55,88 ± 1,08a Estimasi konsumsi energi
metabolis (MJ/kg BB/hari)
0,11 ± 0,01a 0,12 ± 0,01a 0,12 ± 0,01a 0,13 ± 0,01a Konsumsi protein kasar (g BK/kg
BB/hari)
1,03 ± 0,07a 1,34 ± 0,06b 1,52 ± 0,08b 1,82 ± 0,10c
Estimasi retensi energi metabolis (MJ/kg BB/hari)
0,003 ± 0,01a 0,004 ± 0,01a 0,011 ± 0,01a 0,018 ± 0,00a Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P < 0,05)
serta konsumsi protein kasar tercantum pada Tabel 2. Kadar pemberian leguminosa pohon berpengaruh tidak nyata (P > 0,05) terhadap KBO, estimasi KEM dan REM. Sebaliknya, peningkatan konsumsi suplemen meningkatkan KPK secara nyata (P < 0,05). Nilai KBO pakan pada sapi yang hanya mendapatkan jerami padi mencapai 53,24%. Nilai tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KBO jerami padi sebagai pakan tunggal pada penelitian IBRAHIM (1986) sebesar 42% dan SCHIERE dan IBRAHIM (1989) sebesar 47%.
Peningkatan konsumsi protein yang berasal dari pakan suplemen secara teoritis dapat meningkatkan nilai KBO pakan. Peningkatan nilai KBO disebabkan oleh protein yang masuk ke dalam rumen khususnya yang mudah didegradasi dapat berperan sebagai penyuplai unsur nitrogen bagi mikroba rumen (PRESTON dan LENG, 1987; BEEVER, 1993) sehingga dapat membantu mikroba melakukan aktivitasnya termasuk perombakan biomas di dalam rumen. Tingkat degradasi protein daun lamtoro di dalam rumen cukup tinggi yaitu 78,2% (DUNGet al., 2003).
Penambahan protein ekstra dalam pakan yang berkualitas rendah dapat langsung meningkatkan konsentrasi amonia dalam rumen sehingga langsung dimanfaatkan oleh mikroba (PERDOK dan LENG, 1990). Hal ini juga menyebabkan peningkatan kecepatan degradasi pakan dalam rumen sehingga konsumsi pakan pun mengalami peningkatan (POPPI et al., 2000).
Namun dalam penelitian ini, peningkatan yang signifikan dari nilai KPK seiring dengan peningkatan kadar pemberian leguminosa, tidak diikuti dengan peningkatan nilai KBO. Penyebab yang pasti dari fenomena tersebut tidak diketahui secara jelas, namun diduga peningkatan konsumsi KPK belum mampu menyediakan konsentrasi ammonia pada rumen yang cukup untuk aktivitas mikroba rumen sebagai pencerna utama komponen serat kasar. Seiring dengan tidak diukurnya konsentrasi ammonia pada cairan rumen dan tidak diketahuinya laju degradasi protein dari kedua jenis suplemen pada penelitian ini. Alasan tersebut masih bersifat spekulasi. ALAYON et al. (1998) menyarankan bahwa penambahan
leguminosa pohon sebaiknya diberikan dengan kadar yang lebih tinggi (sekitar 300 g/kg konsumsi BK) agar dapat berpengaruh terhadap kecernaan pakan ternak ruminansia yang mendapatkan pakan berkualitas rendah.
Walaupun terdapat kecenderungan bahwa peningkatan konsumsi suplemen yang diikuti dengan peningkatan estimasi REM tetapi pengaruhnya tidak nyata. Semua ternak perlakuan mendapatkan estimasi REM yang positif, kecuali perlakuan kontrol (tanpa
penambahan pakan suplemen) yang
menunjukkan nilai estimasi REM negatif. Adanya substitusi pakan suplemen pada pakan basal yang telah diuraikan sebelumnya merupakan faktor lain yang menyebabkan tidak meningkatnya estimasi KEM dan REM sehingga secara umum total konsumsi pakan menjadi tidak nyata (P > 0,05).
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa pemberian jerami padi ad libitum tanpa adanya suplementasi menyebabkan nilai retensi energi metabolis negatif. Penambahan leguminosa pohon sampai 10 g BK/kg BB/hari pada jerami padi sebagai pakan basal sapi induk PO, meningkatkan konsumsi protein kasar dalam pakan. Peningkatan suplementasi leguminosa pohon dalam pakan basal jerami padi mengindikasikan peningkatan kecernaan bahan organik, nilai konsumsi dan retensi energi metabolis.
UCAPAN TERIMA KASIH
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) yang telah membiayai penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Bapak Ir. Bambang Suryanto selaku kepala kandang, dan Ibu Sriyana selaku kepala Laboratorium Analisa Pakan di Loka Penelitian Sapi Potong yang telah membantu masing-masing untuk kegiatan kandang dan analisa pakan. Keterlibatan beberapa mahasiswa Universitas Tribuana Malang (Tony, Christella dan Nolasco) dalam penelitian ini sangat kami apresiasi.
DAFTAR PUSTAKA
ACIAR Report. 2009. Strategies to Increase Growth Weaned Bali Cattle. Project number LPS 2004 023. Canberra, Australia.
ALAYON J.,L.RAMIREZ-AVILES and J.C.KU-VERA. 1998. Intake, rumen digestion, digestibility and microbial nitrogen supply in sheep fed Cynodon nemfluensis supplemented with Gliricidia sepium. Agroforestry Systems 41: 115 – 126. AOAC, 1984. Official Methods of Analysis.,
Centenial Edition Association of Official Analytical Chemists.Washington, DC. BEEVER, D.E. 1993. Rumen function. In:
Quantitative Aspects of Ruminant Digestion and Metabolism. FOBES,J.M. and J. FRANCE, (Eds). CAB International, Wallingford, England. pp. 187 – 215.
DRAKE, D.J., G. NADER dan L. FORERO. 2002. Feeding rice straw to cattle. Regents of the University of California, Division of Agriculture and Natural Resources, ANR Publication 8079.
DUNG, T.N.,M.T. NGUYEN, H.T. CHAT and V.D. BINH. 2003. Studies on the nutritive value of foliage from legumes and shurbs for goats. Proc. of Final National Seminar Workshop on Sustainable Livestock Production on Local Feed Resources. PRESTON, A. and B. OGLE. (Eds.). HUAF-SAREC, Hue City. pp.25 – 28. GOERING, H.K. and P.J. VAN SOEST. 1970. Forage
Fibre Analysis, Agriculture Handbook No. 379. Agricultural Research Service, USDA, Washington DC. pp.1 – 9.
HARTADI, H., S. REKSOHADIPRODJO dan A.D. TILLMAN. 1997. Tabel Komposisi Pakan untuk Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
IBRAHIM,M.N.M. 1986. Efficiency of urea-ammonia treatment. In: Rice Straw and Related Feeds in Ruminant Rations. Straw Utilization Rice Straw and Related Feeds in Ruminant Rations. Straw Utilization (IBRAHIM, M.N.M. and SCHIERE, J.B. Eds.), Project. Publ. No. 2. Dept. of Tropical Animal Production, Agricultural University Wageningen, Wageningen, The Netherlands. pp. 171 – 179. JUMA, H.K.,S.A. ABDULRAZAK, R.WMUINGA and
M.K.AMBULA. 2006. Effects of supplementing maize stover with Clitoria, Gliricidia and Mucuna on performance of lactating Jersey cows in coastal lowland Kenya. Tropical and Subtropical. Agroecosyst. 6: 1 – 7.
MARSETYO. 2008. Strategi pemenuhan pakan untuk peningkatan produktivitas dan populasi sapi potong. Pros. Seminar Nasional Pengembangan Sapi Potong Untuk Mendukung Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2008 – 2010. Kerjasama antara Universitas Tadulako dan Sub Dinas Peternakan, Distanbunak, Sulteng, hlm. 94 – 103.
PERDOK, H.B. and R.A. LENG. 1990. Effect of suplementation with protein meal on the growth of cattle given a basal diet of untreated rice straw. Asian Australasian J. Anim. Sci. 3: 269 – 279.
POPPI,D.P.,J.FRANCE and S.R.MCLENNAN. 2000. Intake, passage and digestibility. In: Feeding Systems and Feed Evaluation Models. THEODOROU, M.K. and J. FRANCE. (Eds.). CAB International, Wallingford, UK.
PRESTON, T.R. and R.A. LENG. 1987. Matching Ruminant Production System with Available Resources in the Tropics and Subtropics. Penambul Books. Armidale, Australia.
SCA. 1990. Feeding Standards for Australian Livestock, Ruminants. Standing Committee on Agriculture, Ruminant Subcommitee, CSIRO, Melbourne.
SCHIERE,J.B. and M.N.M. IBRAHIM. 1989. Feeding of Urea Treated Rice Straw. Pudoc Wageningen. 125 p.
SERESINHE,T. and K.K.PATHIRANA. 2008. Effect of supplementation of straw based diets on digestibility and microbial nitrogen production of cross breed cattle. World J. Agric. Sci. 4: 745 – 751.
SIMONS, A.J. and J.L. STEWART. 1994. Gliricidia sepium-a multipurpose forage tree legume In:
Forage Tree Legume in Tropical Agriculture. CABI International. pp. 30 – 48.
SMITH, O.B. dan VAN H.M.F.J. 1987. The feeding value of Gliricidia sepium a review. World Anim. Rev. 62: 57 – 68.
VAN SOEST,P.J. 2006. Rice straw, the role of silica and treatment to improve quality. Review. Anim. Feed Sci. and Technol. 130: 137 – 171.
DISKUSI Pertanyaan:
Perbaikan suplementasi dengan jerami padi tidak jelas kegunaan dan manfaatnya karena pada kenyataannya sapi tetap mengkonsumsi leguminose (judul dan tujuan tidak sinkron)?
Jawaban:
Jerami padi adalah serat kasar untuk memenuhi kebutuhan pokok sehingga konsumsi terhadap leguminose dapat ditekan seminimal mungkin.