ABSTRACT
Improving Rice Straw Feeding with Supplementation Technology on Performance of Female Peranakan Ongole (PO)
Cattles in Rembang Regency Kautsar, A., Komariah and A. S. Tjakradidjaja
Beef cattle fattening and breeding are the main programs done by people in Rembang Regency in the Province of Middle Java. Peranakan Ongole (PO) cattle is a local beef cattle that is usually kept by people in Rembang Regency. Rice straw and rice bran are usually used as feeds by the farmers, especially during dry season. Supplementation to this kind of diet is aimed at increasing the female PO cattle performance. Therefore, the objective of this experiment is to study the effect of rice straw supplementation on production performance. This experiment was conducted in Rembang Regency for 40 days using 16 female PO cattles with 4 treatments and 4 blocks. Treatments were R1 = 100% rice straw, R2 = R1 + 2 kg rice bran, R3 = R2 + 0.4 kg nutrient enriched supplement (SKN) and R4 = complete ration consisting of rice straw, rice bran and SKN. The variables observed were dry matter intake, average daily gain and body size measurements with its average daily growths (body length, chest girth, wither height, chest width and chest depth). All data were collected and analyzed by analysis of variance with randomized block design. The results of this study showed that rice straw supplementation affected dry matter intake (P<0.01) and chest girth (P<0.05), but did not affect (P>0.05) significantly average daily gain, body length, wither height, chest width, chest depth and average daily growths of body size measurements (body length, chest girth, wither height, chest width and chest depth).
PENDAHULUAN Latar Belakang
Peternakan berperan penting dalam meningkatkan gizi dan pembangunan ekonomi masyarakat terutama pada sektor pertanian. Sapi potong merupakan ternak penghasil daging yang mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi kehidupan masyarakat. Produksi daging sapi pada tahun 2010 sebesar 329.400 ton dengan populasi sebanyak 13,633 juta ekor (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011). Peningkatan produksi daging sapi tersebut dapat dilakukan melalui usaha penggemukkan dan pembibitan.
Usaha penggemukkan dan pembibitan sapi potong banyak dilakukan di daerah Rembang dan menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah produksi sapi potong rakyat. Hal ini disebabkan ternak sapi memegang peranan sangat penting bagi petani peternak di wilayah Rembang dalam menunjang kegiatan ekonomi keluarga terutama sebagai tabungan hidup, sumber pupuk, tenaga kerja dan juga prestise bagi pemiliknya.
Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu ternak lokal yang pada umumnya dipelihara oleh peternak di Rembang dan merupakan bangsa sapi potong yang biasa digunakan sebagai bakalan dan bibit. Salah satu sistem pemeliharaan sapi PO yang dilakukan oleh peternak di Rembang adalah dengan sistem kereman yang merupakan pemeliharaan sapi di dalam kandang secara intensif.
Jerami padi merupakan limbah pertanian potensial sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan oleh ternak ruminansia. Salah satu permasalahan dalam penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia diantaranya adalah kandungan nutriennya yang relatif rendah. Jerami padi dan dedak padi adalah pakan yang biasa diberikan oleh peternak di Rembang. Pemberian pakan berbasis jerami padi ini masih belum dapat mencukupi kebutuhan nutrien sapi PO sehingga performa produksi yang diperoleh masih rendah. Produktivitas sapi PO tersebut perlu ditingkatkan lewat upaya perbaikan nutrien yang dapat dilakukan dengan teknologi suplementasi.
2 meningkatkan sisi komersial produk ternak dan meningkatkan metabolisme. Suplementasi protein dalam ransum berbasis jerami padi dapat melengkapi kebutuhan nutrien pakan yang dibutuhkan oleh ternak sapi potong.
Pendugaan produktivitas ternak sapi potong dapat dilihat dari pertambahan bobot badan. Indikator produktivitas sapi potong yang lain diantaranya adalah panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, lebar dada dan dalam dada. Potensi pertumbuhan seekor ternak sangat dipengaruhi oleh faktor bangsa, jenis kelamin, umur, pakan, lingkungan dan manajemen pemeliharaan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan peningkatan produktivitas sapi PO di Rembang lewat upaya perbaikan pakan berbasis jerami padi melalui teknologi suplementasi. Teknologi suplementasi yang digunakan pada penelitian ini adalah penambahan Suplemen Kaya Nutrien (SKN) dan penyusunan ransum komplit pada pakan berbasis jerami padi.
Tujuan
TINJAUAN PUSTAKA
Sapi Peranakan Ongole (PO)
Sapi pada umumnya dapat digunakan sebagai salah satu ternak penghasil daging. Sapi-sapi pedaging lokal sering digunakan sebagai bakalan dan bibit dalam usaha peternakan rakyat. Sapi PO merupakan bangsa sapi pedaging lokal yang banyak ditemui di Indonesia, termasuk di Kabupaten Rembang.
Sapi PO merupakan sapi yang berasal dari persilangan antara bangsa sapi Jawa (sapi lokal) dengan bangsa sapi Ongole (India) yang telah berlangsung cukup lama yakni sejak tahun 1908. Persilangan tersebut merupakan suatu ”Grading Up” yang bertujuan untuk memperoleh ternak sapi yang dapat digunakan bagi keperluan tenaga tarik membantu petani mengolah tanah pertanian dan transportasi (Atmadilaga, 1979; Erlangga, 2009).
Menurut Sosroamidjojo dan Soeradji (1990) dan Natural Veterinary (2009), sapi PO berwarna putih, mempunyai perawakan yang besar, bergumba pada pundaknya dan mempunyai gelambir yang menjulur sepanjang garis bawah leher, dada sampai ke pusar. Secara komersial, sapi PO dapat dimanfaatkan sebagai ternak pedaging karena memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik dan mempunyai kemampuan konsumsi yang cukup tinggi terhadap hijauan serta mudah pemeliharaannya. Sapi PO termasuk tipe sapi pekerja yang baik, tenaganya kuat, tahan lapar dan haus, sabar serta dapat menyesuaikan dengan pakan yang sederhana.
4 Performa Produksi
Performa seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan pengaruh kumulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak tersebut sejak terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Hardjosubroto (1990) dan Gunawan et al. (2008) menyatakan bahwa faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak, sedangkan faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya. Menurut Otsuka et al. (1982) dan Tazkia (2008), penampilan seekor hewan adalah hasil dari proses pertumbuhan yang berkesinambungan dalam kehidupan hewan tersebut. Setiap komponen tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda, karena pengaruh alam maupun lingkungan. Performa produksi ternak dapat dilihat dari bobot badan, ukuran tubuh dan laju pertumbuhan.
Bobot Badan dan Ukuran Tubuh
Bobot badan ternak berhubungan dengan pertumbuhan dan karkas yang dihasilkan, sedangkan bobot badan itu sendiri dipengaruhi sifat perdagingan, perlemakan, perototan, karkas, isi perut dan besarnya pertulangan kepala, kaki dan kulit. Umur dan jenis kelamin turut mempengaruhi bobot badan dan ukuran ternak. Bobot badan pada umumnya mempunyai hubungan positif dengan semua ukuran linear tubuh.
Peubah tubuh merupakan ukuran-ukuran yang dapat dilihat pada permukaan tubuh sapi, antara lain, tinggi pundak, panjang badan, lebar dada, dalam dada dan lingkar dada (Natasasmita dan Mudikdjo, 1980; Ningsih, 2011). Pengukuran peubah tubuh sering digunakan untuk mengestimasi produksi, misalnya untuk pendugaan bobot badan (Zubaidah, 1984; Damayanti, 2003) dan seringkali dipakai sebagai peubah teknis penentu sapi bibit. Ukuran-ukuran tubuh juga dapat digunakan untuk menggambarkan eksterior hewan sebagai ciri khas suatu bangsa (Doho, 1994; Ningsih, 2011). Natasasmita dan Mudikdjo (1980) dan Hanibal (2008) menambahkan, bahwa ukuran-ukuran tubuh ternak dapat digunakan untuk membuat rumus penduga bobot badan.
5 satu sama lain saling berhubungan secara linear. Kadarsih (2003) menyatakan bahwa ukuran linear tubuh yang dapat dipakai dalam memprediksi bobot badan sapi antara lain panjang badan, tinggi badan dan lingkar dada. Sementara itu, Williamson dan Payne (1986) dan Handayani (2003) menyatakan bahwa pemakaian ukuran lingkar dada dan panjang badan dapat memberikan petunjuk bobot badan seekor hewan dengan tepat.
Ukuran-ukuran tubuh berbeda antar ternak, tetapi ada korelasi antar ukuran tubuh. Korelasi positif terjadi apabila peningkatan satu sifat menyebabkan sifat lain juga meningkat. Apabila satu sifat meningkat dan sifat lain menurun maka disebut korelasi negatif.
Koefisien korelasi antara lingkar dada dengan bobot badan menduduki peringkat tertinggi, menyusul ukuran-ukuran tubuh lainnya (Soeroso, 2004). Menurut Massiara (1986) dan Tazkia (2008), bobot badan dan lingkar dada berkorelasi positif dan merupakan fungsi umur, maka lingkar dada dan bobot badan ternak semakin meningkat dengan bertambahnya umur ternak, tetapi laju pertumbuhan bobot badan lebih cepat daripada laju pertumbuhan lingkar dada dan yang diutamakan adalah pertumbuhan kerangka.
Pertumbuhan dan Perkembangan Ternak
Pertumbuhan adalah pertambahan berat badan atau ukuran tubuh sesuai dengan umur dan dapat dilukiskan sebagai garis atau gambaran kurva sigmoid. Laju pertumbuhan ternak terdiri atas dua fase yaitu: pertumbuhan sebelum dan sesudah lahir. Pertambahan bobot badan per unit waktu sering digunakan untuk mengukur pertumbuhan. Pertumbuhan mempunyai dua aspek yaitu menyangkut peningkatan massa per satuan waktu dan pertumbuhan yang meliputi perubahan bentuk maupun komposisi tubuh sebagai akibat dari pertumbuhan diferensial komponen-komponen tubuh (Berg dan Butterfield, 1976; Herren, 2000). Taylor dan Field (2004) menyatakan umumnya pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan sampai ukuran dewasa tercapai.
6 otot dan lemak. Tulang akan meningkat pada laju pertumbuhan awal, kemudian akan diikuti dengan perkembangan dan terakhir dengan adanya kandungan energi pakan yang diberikan, maka lemak akan mengalami peningkatan pesat. Meskipun perubahan-perubahan yang terjadi ini adalah sama antar hewan hidup, namun waktu yang diperlukan adalah bervariasi antar spesies (Tillman et al., 1998).
Pertumbuhan tubuh secara keseluruhan umumnya diukur dengan bertambahnya bobot badan, sedangkan bobot badannya dapat diduga melalui tinggi badan, lingkar dada, panjang badan dan sebagainya. Kombinasi antara bobot badan dengan besarnya ukuran tubuh umumnya dapat dipakai sebagai ukuran pertumbuhan. Menurut Natasasmita dan Mudikdjo (1980) dan Scanes (2003), perubahan relatif komponen tubuh selama pertumbuhan lebih tergantung pada bobot badan dibandingkan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai ukuran tersebut, hal ini menandakan bahwa umur fisiologis lebih berpengaruh daripada umur kronologis.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ternak antara lain adalah bangsa, jenis kelamin, hormon, pakan dan kastrasi. Selain itu, genetik ternak juga mempengaruhi laju pertumbuhan. Phillips (2001) menyatakan bahwa laju pertumbuhan dipengaruhi oleh jenis kelamin, hormon, pakan, gen, iklim dan kesehatan ternak. Perbedaan laju pertumbuhan diantara bangsa dan individu ternak dalam suatu bangsa dapat disebabkan oleh perbedaan ukuran tubuh dewasa (Soeparno, 2005). Hasnudi (2005) menyatakan bahwa pola pertumbuhan ternak tergantung pada sistem manajemen (pengelolaan) yang dipakai, tingkat nutrisi pakan yang tersedia, kesehatan dan iklim, sedangkan potensi pertumbuhan ternak dipengaruhi oleh faktor bangsa, heterosis (hybrid vigour), pakan dan jenis kelamin. Sementara itu, Cole (1982) mengungkapkan bahwa laju pertumbuhan bobot badan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain potensi pertumbuhan dari masing-masing individu ternak dan pakan yang tersedia. Tillman et al. (1998) menyebutkan bahwa faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, pertumbuhannya akan menjadi cepat, demikian pula sebaliknya.
Pakan
7 mineral, vitamin dan air. Tubuh hewan akan mampu bertahan hidup dan kesehatannya terjamin karena setiap bahan baku pakan mengandung sejumlah energi yang dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok dan penambahan bobot badan. Kebutuhan pakan untuk menjaga integritas jaringan tubuh dan mencukupi kebutuhan energi untuk proses esensial organisme hidup disebut dengan kebutuhan untuk hidup pokok. Apabila kebutuhan hidup pokok tidak terpenuhi dari pakan, maka kebutuhan tersebut dipenuhi dari degradasi jaringan (Tillman et al., 1998).
Kebutuhan pakan disesuaikan dengan jenis ternak, umur dan tingkat produksi. Konsumsi bahan kering (BK) pakan ditentukan oleh ukuran tubuh, macam ransum, umur dan kondisi ternak. Menurut Tillman et al. (1998), kebutuhan bahan kering pakan yang disarankan untuk sapi pedaging adalah antara 2,5%-3,0% dari bobot badan. Parakkasi (1999) menyebutkan bahwa jumlah konsumsi BK pakan dipengaruhi beberapa variabel yang meliputi palatabilitas, jumlah pakan yang tersedia dan komposisi kimia serta kualitas bahan pakan. Komposisi pakan, kondisi hewan dan faktor pemberian pakan dapat mempengaruhi kecernaan pakan (McDonald et al., 2002).
Jerami Padi
Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan pakan pada saat kekurangan pakan hijauan, karena produksinya yang melimpah di seluruh Indonesia. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia telah umum dilakukan di daerah tropik dan subtropik terutama pada musim kemarau. Pemanfaatan jerami padi untuk pakan ternak di Indonesia berkisar antara 31-39% dan sebagian besar dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai pupuk (36-62%) serta sisanya antara 7-16% digunakan untuk keperluan industri (Sukria dan Krisnan, 2009).
8 Jerami padi mempunyai nilai nutrisi yang rendah karena hanya memiliki daya cerna sebesar 20,97% untuk kecernaan bahan kering (KCBK) dan 20,1% untuk kecernaan bahan organik (KCBO) (Selly, 1994). Jerami padi harus mendapatkan suplementasi berupa N (protein), energi dan beberapa mineral serta vitamin apabila digunakan untuk tujuan berproduksi pada ternak (Tillman et al., 1998).
Suplementasi
Suplementasi merupakan proses penambahan pakan yang berasal dari zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Suplementasi dilakukan untuk memperbaiki keseimbangan nutrisi seperti energi, protein, vitamin dan mineral, mengurangi defisiensi protein by-pass, meningkatkan efisiensi pencernaan pakan dalam lambung ternak ruminansia, meningkatkan produksi dan perbaikan kinerja reproduksi serta memperbaiki nilai gizi pakan (BATAN, 2005).
Suplemen Kaya Nutrien (SKN) telah dikembangkan oleh IPB yang merupakan perkembangan dari Suplemen Pakan Multinutrien (SPM). Hasil penelitian Wahyuni (2008) dan Sulistiyo (2008), menunjukkan bahwa penggunaan 10% SKN dalam ransum dapat meningkatkan konsentrasi VFA, konsentrasi NH3, persentase DBK, persentase DBO, dan biomasa mikroba. Peningkatan tersebut merupakan tanda bahwa SKN dapat meningkatkan kualitas ransum sehingga dapat dicerna dalam tubuh ternak. SKN yang dikembangkan pada penelitian ini merupakan SKN dengan menggunakan bahan baku yang tersedia di Kabupaten Rembang.
Ransum Komplit
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di usaha peternakan rakyat yang terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai pertengahan Agustus 2010 hingga akhir September 2010.
Materi Ternak
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi PO betina sebanyak 16 ekor, umur 2-6 tahun dengan kisaran bobot badan awal sebesar 240,25-338,56 kg.
Kandang
Kandang yang digunakan adalah kandang individu dengan kapasitas 16 ekor. Kandang ini beratapkan asbes dengan tipe shade, berdinding tembok dan lantai dibuat dari semen.
Pakan dan Minum
Pakan yang diberikan adalah pakan yang berbasis jerami padi. Bahan pakan lain yang digunakan terdiri atas dedak padi, tepung ikan, tepung daun lamtoro, tepung daun singkong, tepung daun turi, molases, campuran mineral dan minyak kelapa. Air minum disediakan dalam bak minum.
Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah timbangan pakan, tongkat ukur dan pita ukur.
Prosedur
10 Percobaan penelitian ini menggunakan empat taraf perlakuan yaitu:
1. R1 adalah pemberian jerami padi tanpa penambahan konsentrat. 2. R2 adalah pemberian jerami padi dengan penambahan 2 kg dedak padi. 3. R3 adalah pemberian jerami padi dengan penambahan 2 kg dedak padi dan
0,4 kg suplemen kaya nutrien. Suplemen kaya nutrien terdiri dari: 10% tepung ikan, 60% dedak padi, 15% tepung daun singkong, 9% tepung daun lamtoro, 5% tepung daun turi dan 1% campuran mineral.
4. R4 adalah pemberian ransum komplit. Ransum komplit terdiri dari: 40% jerami padi dan 60% konsentrat (8,5% tepung ikan, 30,5% dedak padi, 5,7% tepung daun singkong, 3% tepung daun lamtoro, 0,3% tepung daun turi, 10% molases, 1% campuran mineral dan 1% minyak kelapa).
Peubah yang Diamati Konsumsi Bahan Kering
Konsumsi bahan kering (kg/ekor/hari) dihitung berdasarkan selisih antara jumlah pemberian pakan dengan sisa pakan yang kemudian dikalikan dengan kandungan bahan kering pakan.
Pertambahan Bobot Badan Harian
Pertambahan bobot badan harian (kg/hari) dihitung berdasarkan bobot badan akhir dikurangi bobot badan awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.
Sapi PO betina sebanyak 16 ekor diestimasi bobot badan awal dan akhir dengan menggunakan rumus Schoorl (Williamson dan Payne, 1986), yaitu sebagai berikut:
(LD + 22)2 BB =
100 Keterangan :
11 Peubah Tubuh :
1. Panjang badan (cm), diukur dari sendi bahu (humerus) sampai tulang duduk (tuber ischii) dengan menggunakan tongkat ukur.
2. Lingkar dada (cm), diukur melingkar pada bagian dada di belakang kaki depan dengan menggunakan pita ukur.
3. Tinggi pundak (cm), diukur di titik tertinggi pundak tegak lurus sampai ke tanah dengan menggunakan tongkat ukur.
4. Lebar dada (cm), diukur dari tonjolan sendi bahu (os scapula) kiri sampai tonjolan sendi bahu (os scapula) kanan dengan menggunakan tongkat ukur. 5. Dalam dada (cm), diukur dari pundak sampai dasar dada tepat di belakang
kaki depan dengan menggunakan tongkat ukur.
Pengukuran peubah tubuh yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 1.
Keterangan :
PB : Panjang Badan (cm) LD : Lingkar Dada (cm) TP : Tinggi Pundak (cm) DD : Dalam Dada (cm) LeD : Lebar Dada (cm)
Gambar 1. Pengukuran Peubah Tubuh
Pertambahan Panjang Badan Harian
12 Pertambahan Lingkar Dada Harian
Pertambahan lingkar dada harian (cm/hari) dihitung berdasarkan lingkar dada akhir dikurangi lingkar dada awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.
Pertambahan Tinggi Pundak Harian
Pertambahan tinggi pundak harian (cm/hari) dihitung berdasarkan tinggi pundak akhir dikurangi tinggi pundak awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.
Pertambahan Lebar Dada Harian
Pertambahan lebar dada harian (cm/hari) dihitung berdasarkan lebar dada akhir dikurangi lebar dada awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.
Pertambahan Dalam Dada Harian
Pertambahan dalam dada harian (cm/hari) dihitung berdasarkan dalam dada akhir dikurangi dalam dada awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat kelompok bobot badan awal. Unit percobaan yang diamati adalah sapi PO betina. Perlakuan yang diberikan pada unit percobaan sebanyak empat taraf perlakuan yaitu:
R1 = 100 % pemberian pakan jerami padi. R2 = R1 + 2 kg dedak padi.
R3 = R2 + 0,4 kg suplemen kaya nutrien. R4 = pemberian ransum komplit
Penelitian ini menggunakan empat kelompok bobot badan awal yang berbeda yaitu: K1 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 1-4 yang memiliki
rataan kelompok sebesar 335,81 ± 1,84 kg.
K2 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 5-8 yang memiliki rataan kelompok sebesar 320,86 ± 3,06 kg.
K3 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 9-12 yang memiliki rataan kelompok sebesar 297,19 ± 9,48 kg.
13 Model rancangan percobaannya berdasarkan Steel dan Torie (1991) adalah:
Yij = µ + αi + βj + εij
Dimana: i = Perlakuan R1, R2, R3, R4 j = Kelompok K1, K2, K3, K4 Keterangan:
Yij = Respon pengaruh faktor pemberian pakan terhadap sapi PO betina pada taraf perlakuan ke-i dan kelompok ke-j
µ = Nilai rataan umum
αi = Pengaruh perlakuan pemberian pakan ke-i βj = Pengaruh kelompok ke-j
ℇij = Pengaruh galat percobaan
Analisis Data
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Penelitian
Kabupaten Rembang terletak di ujung Timur laut Propinsi Jawa Tengah yang
dilalui jalan Pantai Utara Jawa (Jalur Pantura), pada garis koordinat 111°,000'-
111°,030' Bujur Timur dan 6°,030'-7°,06' Lintang Selatan. Secara umum kondisi
tanah berdataran rendah dengan ketinggian wilayah maksimum kurang lebih 70 m di
atas permukaan air laut dengan suhu maksimum sebesar 33 °C dan suhu rata-rata
sebesar 23 °C. Kabupaten Rembang memiliki curah hujan rendah yaitu sebesar 1252
mm/tahun yang mengalami bulan basah selama 4-5 bulan, sedangkan selebihnya
termasuk kategori bulan sedang sampai kering. Secara administratif Kabupaten
Rembang memiliki 14 kecamatan, 287 desa dan 7 kelurahan yang memiliki luas
wilayah meliputi 101.408 ha (Pemerintah Kabupaten Rembang, 2010).
Pemerintah Kabupaten Rembang (2010) menyatakan bahwa Kabupaten
Rembang merupakan daerah/kawasan sentra produksi, sumber bibit dan bakalan sapi
potong di Jawa Tengah dengan populasi sebanyak 93.329 ekor pada tahun 2003,
sedangkan pada tahun 2009 populasi sapi potong mencapai 115.220 ekor. Bangsa
sapi potong yang ada yaitu Peranakan Ongole (PO), American Ongole, Brahman,
Simmental dan Limousine.
15
Keadaan Sapi Penelitian
Sapi-sapi yang digunakan pada penelitian ini adalah sapi-sapi betina dari
usaha pembibitan sapi potong rakyat kelompok tani yang diketuai oleh Bapak
Ahmad Zain. Peternakan tersebut terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Sulang,
Kabupaten Rembang. Kandang yang digunakan pada peternakan ini adalah kandang
individu tanpa sekat, kapasitas 16 ekor dengan ukuran kandang per-individu sebesar
2,5 m x 1,5 m (Gambar 2). Kandang ini beratapkan asbes tipe
shade
, berdinding
tembok dan lantai dibuat dari semen dengan kemiringan 10°.
(a)
(b)
Gambar 2. Kandang Penelitian, (a) Kandang Penelitian Individu, (b) Bak Pakan dan
Bak Minum
Sapi-sapi tersebut biasa diberi pakan berupa jerami padi secara
ad libitum
dengan penambahan dedak padi sebanyak 2 kg/ekor/hari (Gambar 2).
Pemberian
pakan diberikan pada pagi, siang dan sore hari pada peternakan ini.
(a)
(b)
Gambar 3. Kondisi Tubuh Sapi Penelitian, (a) Sapi R3K4 Tampak Samping,
(b) Sapi R2K2 Tampak Belakang
16
sekitar pangkal ekor, tulang pinggul, pangkal ekor dan tulang rusuk secara visual
terlihat jelas (Rutter
et al
., 2000). Berikut ini adalah data mengenai bobot badan awal
dan umur sapi-sapi penelitian.
Tabel 1. Bobot Badan Awal Sapi PO Betina Penelitian (kg)*
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
K1 334,89 334,89 334,89 338,56 335,81 1,84
K2 322,20 320,41 316,84 324,00 320,86 3,06
K3 289,00 304,50 306,25 289,00 297,19 9,48
K4 265,69 278,89 240,25 265,69 262,63 16,17
Rataan 302,94 309,67 299,56 304,31 304,12 29,78
Simpangan
Baku 31,48 23,98 41,27 33,1 29,78
Keterangan : *Bobot badan dihitung berdasarkan rumus Schoorl (Williamson dan Payne, 1986) Bobot badan (kg) =
R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Tabel 2. Umur Sapi PO Betina Penelitian
Kelompok Perlakuan
R1 R2 R3 R4
K1 I4 (3,5-4 tahun) I4 (3,5-4 tahun) I1 Aus (6 tahun) I4 (3,5-4 tahun) K2 I4 (3,5-4 tahun) I4 (3,5-4 tahun) I4 Gesek(5 tahun) I4 Gesek(5 tahun) K3 I2 (2,5-3 tahun) I1 Aus (6 tahun) I4 Gesek(5 tahun) I4 (3,5-4 tahun) K4 I1 (2-2,5 tahun) I4 (3,5-4 tahun) I4 (3,5-4 tahun) I1 (2-2,5 tahun) Keterangan : Pendugaan umur sapi melalui pergantian gigi berdasarkan Abrianto (2010)
R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Umur sapi-sapi penelitian tersebut diestimasi melalui pergantian gigi
(Abrianto, 2010). Sapi-sapi penelitian ini telah mengalami pergantian gigi pada I
1, I
2dan I
4(Tabel 2). I
1menandakan bahwa satu pasang gigi seri telah berganti menjadi
gigi tetap yang diperkirakan telah berumur 2-2,5 tahun. I
2menandakan bahwa dua
pasang gigi seri telah berganti menjadi gigi tetap yang diperkirakan telah berumur
2,5-3 tahun. I
4menandakan bahwa empat pasang gigi seri telah berganti semua
17
menandakan bahwa ada gesekan yang terjadi pada empat pasang gigi tetap yang
diperkirakan telah berumur 5 tahun. I
1Aus menandakan bahwa ada satu pasang gigi
tetap mengalami aus separuh lidah yang diperkirakan telah berumur 6 tahun.
Sapi-sapi penelitian ini dikelompokkan berdasarkan bobot badan awal. Ada
sapi penelitian yang berumur lebih tua, tetapi memiliki bobot badan awal yang lebih
rendah sehingga ada sapi yang lebih tua masuk ke dalam kelompok bobot badan
yang berperingkat lebih rendah. Sebagaimana yang terjadi pada sapi R2K3 berumur
6 tahun masuk ke dalam kelompok K3 yang berbobot badan awal lebih rendah
(Tabel 2).
Performa sapi-sapi penelitian ini perlu ditingkatkan, karena jika sapi-sapi
betina tersebut menjadi induk, bobot badan induk sapi PO saat melahirkan akan
mempengaruhi bobot lahir pedet. Sebagaimana yang dikemukakan dalam penelitian
Hartati dan Dicky (2008) bahwa bobot induk sapi PO saat melahirkan berpengaruh
nyata terhadap bobot lahir pedet.
Keadaan Pakan Penelitian
Bahan pakan yang digunakan pada penelitian ini merupakan bahan pakan
yang didapatkan dari daerah sekitar Kabupaten Rembang. Kandungan nutrien bahan
pakan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat selengkapnya pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Analisis Proximat Sampel Bahan Pakan yang Digunakan
KandunganNutrien Jerami Padi 1
Dedak Padi 1 SKN 2 Konsentrat dalam R4 2
BK (%) 37,99 91,00 78,74 77,91
Abu (% BK) 17,40 16,90 15,42 19,35
PK (% BK) 4,21 8,36 14,62 15,17
LK (% BK) 1,44 3,97 5,96 4,45
SK (% BK) 32,50 28,90 22,10 22,83
Beta-N(% BK) 44,45 41,87 41,90 38,19
Ca (% BK) 0,42 0,14 1,92 3,64
P (% BK) 0,28 0,90 0,25 0,30
Sumber : 1 Sutardi (1980) 2
Hasil analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Perah (2011)
18
Jerami padi yang digunakan pada penelitian ini memiliki kadar protein kasar
(PK) sebesar 4,21% dan serat kasar (SK) sebesar 32,5% (Tabel 3). Jerami padi
tersebut didapatkan dari daerah Kecamatan Kaliori dan Pamotan. Dedak padi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dedak kasar yang memiliki kadar PK sebesar
8,36% dan SK sebesar 28,9%, didapatkan dari daerah Tuban bersama bahan pakan
lain penyusun SKN (Suplemen Kaya Nutrien) dan ransum komplit seperti tepung
ikan, campuran mineral dan molases.
Daun singkong, lamtoro dan turi didapatkan dari daerah Pati. Ketiga daun
tersebut kemudian dibuat menjadi tepung untuk memudahkan dalam pencampuran
bahan pakan penyusun SKN dan konsentrat dalam ransum komplit, karena secara
struktural akan tergolong homogen. Selain itu, tujuan penepungan daun-daun
tersebut adalah untuk mengurangi zat anti nutrisi yang secara alami terdapat dalam
daun singkong, lamtoro dan turi.
SKN yang digunakan pada penelitian ini memiliki kadar PK sebesar 14,62%
dan SK sebesar 22,1% (Tabel 3). SKN ini berbentuk tepung dengan warna dominan
kehijauan (Gambar 4a). SKN ini disusun dengan target penyusunan PK > 14% dan
TDN (
Total Digestible Nutrient
) sebesar 65-70%. SKN diberikan sebanyak 0,4 kg
atau 400 gram atas dasar pertimbangan ekonomis.
19
(a)
(b)
Gambar 4. Bahan Pakan yang Digunakan, (a) Suplemen Kaya Nutrien, (b)
Konsentrat pada R4
R1 merupakan kontrol dalam penelitian ini, jerami padi digunakan karena
bahan pakan ini sangat melimpah di daerah peternakan tersebut. R2 merupakan
ransum yang biasa digunakan peternak. R3 diberikan ke ternak percobaan untuk
mengetahui pengaruh suplementasi protein terhadap ransum yang biasa digunakan
oleh peternak. R4 digunakan sebagai kontrol positif yaitu berupa ransum komplit
yang diformulasikan sehingga memenuhi kebutuhan ternak. Kandungan nutrien pada
pakan perlakuan dapat dilihat selengkapnya pada Tabel 4.
Tabel 4. Kandungan Nutrien Pakan Perlakuan (%)*
KandunganNutrien
Perlakuan
R1 R2 R3 R4
BK (%) 37,99 50,44 52,05 60,44
Abu (% BK) 17,40 17,19 17,08 18,75
PK (% BK) 4,21 5,92 6,48 11,80
LK (% BK) 1,44 2,48 2,71 3,52
SK (% BK) 32,50 31,02 30,44 25,80
Beta-N (% BK) 44,45 43,39 43,30 40,12
TDN 1) (% BK) 59,57 57,29 57,87 48,53
Ca (% BK) 0,42 0,30 0,41 2,65
P (% BK) 0,28 0,54 0,52 0,29
Keterangan : *Perhitungan berdasarkan data Sutardi (1980) dan hasil analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Perah (2011)
1)
Perhitungan TDN (Total Digestible Nutrient) berdasarkan Sutardi (1980)
TDN (% BK) = 100%
PKt = Protein Kasar tercerna; SKt = Serat Kasar tercerna; LKt = Lemak Kasar tercerna Beta-Nt = Bahan ekstrak tanpa nitrogen tercerna
BK = Bahan Kering; PK = Protein Kasar; LK = Lemak Kasar; SK = Serat Kasar Beta-N (Bahan ekstrak tanpa nitrogen) = 100% - (kadar Abu + PK + SK + LK) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi
20
Konsumsi Bahan Kering
Menurut Parakkasi (1999), konsumsi adalah faktor esensial yang merupakan
dasar untuk hidup dan produksi. Kemampuan sapi mengkonsumsi pakan sangat
terbatas. Keterbatasan itu dipengaruhi oleh keadaan fisiologis ternak, keadaan pakan
dan faktor luar, seperti suhu dan kelembaban udara.
Tabel 5. Rataan Konsumsi Bahan Kering (kg/ekor/hari)
Kelompok
Perlakuan
R1
R2
R3
R4
K1
3,74
4,60
4,96
7,28
K2
4,20
4,49
4,37
6,17
K3
2,92
4,26
4,64
5,79
K4
3,24
4,31
5,08
5,13
Rataan
3,52
a4,42
ab4,76
b6,09
cSimpangan
Baku
0,56
0,16
0,32
0,90
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan hasil sangat beda nyata (P<0,01) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi
R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Hasil penelitian pada Tabel 5 menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis
jerami padi ini berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap rataan konsumsi bahan
kering (BK). Konsumsi BK pada R1 tidak berbeda nyata dengan R2, tetapi konsumsi
BK R2 tidak berbeda nyata dengan R3. Konsumsi BK pada R4 nyata lebih tinggi
daripada R3, R2 dan R1.
21
makanan yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi yang normal harus
mendapatkan perhatian khusus. Suplementasi protein pada bahan pakan yang rendah
protein akan meningkatkan konsumsi dari bahan pakan tersebut.
Tillman
et al
. (1998) menyatakan bahwa pemberian konsentrat pada ternak
bertujuan untuk meningkatkan daya cerna pakan secara keseluruhan. Semakin
banyak konsentrat yang dapat dicerna, arus pakan dalam saluran pencernaan menjadi
lebih cepat sehingga meningkatkan pengosongan rumen dan menimbulkan sensasi
lapar pada ternak, akibatnya memungkinkan ternak untuk mengkonsumsi pakan lebih
tinggi. Van Soest (2006) mengungkapkan bahwa suplementasi yang diberikan pada
jerami padi dapat meningkatkan konsumsi pakan seperti yang terjadi pada penelitian
Djajanegara dan Doyle (1989) dan Warly
et al
. (1992).
National Research Council (1984) menyebutkan bahwa kebutuhan hidup
pokok untuk
heifer
dengan bobot badan 300 kg membutuhkan konsumsi BK minimal
sebesar 4,5 kg/ekor/hari. Sementara itu, jika
heifer
tersebut diprogramkan untuk
PBBH sebesar 0,25 kg/hari, maka kebutuhan konsumsi BK minimal sebesar 6,2
kg/ekor/hari.
Performa Produksi
Performa seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan
pengaruh kumulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak tersebut sejak
terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Hardjosubroto
(1990) dan Gunawan
et al
. (2008) menyatakan bahwa faktor genetik ternak
menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak, sedangkan faktor
lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya.
Performa seekor ternak dapat dilihat dari bobot badan, laju pertumbuhan dan
ukuran-ukuran tubuh. Performa produksi yang diamati pada penelitian ini adalah
pertambahan bobot badan harian dan beberapa peubah tubuh.
Pertambahan Bobot Badan Harian
22
menyebutkan bahwa faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya
baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, pertumbuhannya akan menjadi cepat,
demikian pula sebaliknya.
Tabel 6. Performa Pertambahan Bobot Badan Harian (kg/hari)*
Kelompok
Perlakuan
Rataan
Simpangan
Baku
R1
R2
R3
R4
K1
-0,36
0,15
0,37
0,51
0,17
0,38
K2
0,28
0,42
0,28
1,15
0,53
0,42
K3
0,27
-0,21
0,14
0,55
0,19
0,32
K4
0,06
0,82
0,42
0,40
0,42
0,31
Rataan
0,06
0,29
0,31
0,66
0,33
0,36
Simpangan
Baku
0,30
0,43
0,12
0,34
0,36
Keterangan : *Bobot badan dihitung berdasarkan rumus Schoorl (Williamson dan Payne, 1986) Bobot badan (kg) =
R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Astuti (2003) mengemukakan bahwa sapi PO tanggap terhadap perubahan
maupun perbaikan pakan dengan menunjukkan PBBH yang berbeda-beda. Astuti
(2003) menggambarkan bahwa PBBH sapi PO dewasa sangat bervariasi yaitu
sebesar 0,44-0,98 kg/hari dari berbagai penelitian perubahan maupun perbaikan
pakan. Hal ini menandakan bahwa pengaruh lingkungan (pemberian pakan) dapat
mempengaruhi performa seekor ternak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan ini tidak berpengaruh
nyata (P>0,05) terhadap PBBH (Tabel 6). Sementara itu, hasil penelitian Prihandini
dan Umiyasih (2008) menunjukkan bahwa perbaikan pakan berpengaruh nyata
(P<0,05) terhadap PBBH sapi PO betina dewasa selama 2 bulan pemeliharaan. Hal
ini disebabkan lama pemeliharaan yang relatif singkat (25 hari masa evaluasi
pertumbuhan) pada penelitian ini sehingga keragaman laju pertumbuhan bobot badan
yang ditampilkan tidak nyata.
23
dengan rataan umur 2 tahun. Pakan A adalah perbaikan pakan yang berupa
pemberian konsentrat dan suplemen mineral dari pakan B. Pakan B adalah
pemberian pakan berupa pucuk tebu, rumput lapang, limbah pisang, daun gamal,
rumput gajah, tebon kering, daun sengon dan dedak. PBBH pada perlakuan A adalah
sebesar 0,59 kg/hari, sedangkan PBBH pada perlakuan B sebesar 0,34 kg/hari. Hal
ini menandakan bahwa PBBH yang optimal dapat diperoleh dengan perbaikan pakan.
Tidak optimalnya pertumbuhan sapi yang terjadi pada perlakuan perbaikan
pakan (R3 dan R4) dapat disebabkan faktor umur. Ada sapi yang berumur lebih tua
secara acak mendapatkan perlakuan pakan yang memiliki kandungan nutrien yang
lebih baik (R3 dan R4), tetapi tidak menghasilkan PBBH yang lebih baik.
Sebaliknya, ada sapi yang berumur lebih muda secara acak mendapatkan perlakuan
pakan yang memiliki kandungan nutrien yang tidak lebih baik (R1 dan R2), tetapi
menghasilkan PBBH yang lebih baik. Perbedaan performa PBBH ini lebih
disebabkan faktor umur dimana umur yang lebih muda akan tumbuh lebih cepat.
Sebagaimana yang terjadi pada sapi R3K3 berumur 5 tahun (Tabel 2) menghasilkan
PBBH sebesar 0,14 kg/hari lebih rendah daripada sapi R1K3 berumur 2,5-3 tahun
(Tabel 2) dengan PBBH sebesar 0,27 kg/hari. Hal ini dapat mengakibatkan tidak
adanya pengaruh perlakuan perbaikan pakan yang disebabkan tidak optimalnya
pertumbuhan pada sapi-sapi tua.
Pertambahan negatif terjadi pada sapi R1K1 dan R2K3. Hal ini disebabkan
konsumsi dan kandungan nutrien pada R1 dan R2 tidak mencukupi kebutuhan hidup
pokok sapi R1K1 dan R2K3 sehingga terjadi degradasi jaringan yang akan
mengakibatkan turunnya bobot badan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tillman
et al
. (1998) bahwa apabila kebutuhan hidup pokok tidak terpenuhi oleh pakan maka
kebutuhan tersebut dipenuhi dari degradasi jaringan.
24
National Research Council (1984) menyebutkan bahwa kebutuhan hidup
pokok untuk
heifer
dengan bobot badan 300 kg adalah PK minimal sebesar 7,8% dan
TDN minimal sebesar 57%. Sementara itu, jika kebutuhan PK dalam pakan diberikan
melebihi 11,1% maka PBBH sapi tersebut dapat mencapai angka di atas 0,75 kg/hari.
Hal ini menandakan bahwa PBBH dipengaruhi oleh total protein yang diberikan
ternak sapi setiap hari.
Peubah Tubuh
Peubah tubuh merupakan ukuran-ukuran yang dapat dilihat pada permukaan
tubuh sapi, antara lain tinggi pundak, panjang badan, lebar dada, dalam dada dan
lingkar dada (Natasasmita dan Mudikdjo, 1980; Ningsih, 2011). Setiap komponen
tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda, karena pengaruh alam
maupun lingkungan (Otsuka
et al.
, 1982; Tazkia, 2008).
Panjang badan.
Panjang badan merupakan salah satu ukuran yang sering
digunakan untuk menilai ternak sapi potong. Panjang badan berkaitan erat dengan
pertumbuhan tulang. Johansson dan Rendel (1968) menyatakan bahwa pertumbuhan
panjang badan dipengaruhi oleh pertumbuhan kerangka tulang dan genetik. Posisi
sapi ketika diukur berpengaruh terhadap pengukuran panjang badan (Herman, 1985).
25
Tabel 7. Performa Panjang Badan Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Panjang Badan Akhir
K1 127 123 135 125 127,5 5,26
K2 122 126 125 129 125,5 2,89
K3 122 132 129 125 127 4,40
K4 115 118 122 121 119 3,16
Rataan 121,5 124,75 127,75 125 124,75 5,04
Simpangan
Baku 4,93 5,85 5,62 3,27 5,04
Pertambahan Panjang Badan Harian
K1 0 -0,2 0,24 0,44 0,12 0,28
K2 0 0,28 0,16 0,56 0,25 0,24
K3 0,52 0 -0,08 0 0,11 0,28
K4 0,2 0,32 -0,12 -0,2 0,05 0,25
Rataan 0,18 0,1 0,05 0,2 0,13 0,24
Simpangan
Baku 0,24 0,24 0,18 0,36 0,24
Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Lingkar dada.
Lingkar dada merupakan ukuran tubuh yang paling sering
digunakan untuk menilai sapi potong. Lingkar dada berkaitan erat dengan
pertumbuhan daging dan otot bagian
thorax
. Johansson dan Rendel (1968)
menyebutkan bahwa pertumbuhan lingkar dada dipengaruhi oleh pertumbuhan
daging dan otot. Berg dan Butterfield (1976) menyatakan bahwa bagian tubuh yang
paling cepat tumbuh pada sapi dewasa adalah bagian
thorax
dan
abdominal
. Herman
(1985) menyatakan bahwa posisi sapi ketika diukur tidak berpengaruh terhadap
pengukuran lingkar dada.
26
berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertambahan lingkar dada harian (Tabel 8).
Pertambahan lingkar dada harian yang terjadi pada sapi PO betina dewasa umur 2-6
tahun dalam penelitian ini adalah rata-rata sebesar 0,09 cm/hari (Tabel 8).
Pertambahan negatif yang terjadi pada sapi R1K1 dan R2K3 dapat diakibatkan telah
terjadinya degradasi jaringan pada bagian
thorax
. Hal ini terjadi karena konsumsi
dan kandungan nutrien pada R1 dan R2 tidak mencukupi kebutuhan hidup pokok
sapi R1K1 dan R2K3 sehingga terjadi degradasi jaringan.
Tabel 8. Performa Lingkar Dada Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Lingkar Dada Akhir
K1 156,5 162 165,5 163,5 161,88 3,86
K2 155 155 154,5 162 156,62 3,59
K3 148 151 157,5 153 152,38 3,99
K4 139 151 155 147 148 6,83
Rataan 149,62a 154,75ab 158,12b 156,38ab 154,72 6,80 Simpangan
Baku 7,99 5,19 5,09 7,78
Pertambahan Lingkar Dada Harian
K1 -0,1 0,04 0,1 0,14 0,04 0,1
K2 0,08 0,12 0,02 0,32 0,14 0,13
K3 0,08 -0,06 0,04 0,16 0,06 0,09
K4 0,02 0,24 0,12 0,12 0,12 0,09
Rataan 0,02 0,08 0,07 0,18 0,09 0,1
Simpangan
Baku 0,08 0,13 0,05 0,09 0,1
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan hasil beda nyata (P<0,05) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi
R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
Tinggi pundak. Tinggi pundak merupakan salah satu ukuran yang digunakan
27
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi
ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap tinggi pundak dan pertambahan tinggi
pundak harian (Tabel 9). Performa tinggi pundak dan pertambahan tinggi pundak
harian yang terjadi pada sapi PO betina dewasa umur 2-6 tahun dalam penelitian ini
masing-masing sebesar 125,69 cm dan 0,01 cm/hari (Tabel 9). Pertambahan negatif
terjadi pada sapi R1K1, R2K1, R2K4, R3K4, R4K2 dan R4K3 yang dapat
diakibatkan oleh posisi sapi ketika diukur pada suatu waktu tidak dalam posisi lurus
yang baik.
Tabel 9. Performa Tinggi Pundak Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Tinggi Pundak Akhir
K1 126 125 135 130 129 4,55
K2 128 127 123 120 124,5 3,70
K3 122 134 126 123 126,25 5,44
K4 122 120 122 128 123 3,46
Rataan 124,5 126,5 126,5 125,25 125,69 4,53
Simpangan
Baku 3,00 5,80 5,92 4,57 4,53
Pertambahan Tinggi Pundak Harian
K1 -0,04 -0,08 0,12 0,08 0,02 0,1
K2 0,08 0,08 0,08 -0,16 0,02 0,12
K3 0,04 0,08 0 -0,04 0,02 0,05
K4 0 -0,08 -0,12 0,08 -0,03 0,09
Rataan 0,02 0 0,02 -0,01 0,01 0,08
Simpangan
Baku 0,05 0,09 0,11 0,12 0,08
Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
28
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi
ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap lebar dada dan pertambahan lebar
dada harian (Tabel 10). Rataan lebar dada dan pertambahan lebar dada harian pada
penelitian ini masing-masing sebesar 31,38 cm dan -0,09 cm/hari (Tabel 10).
Pertambahan negatif yang terjadi pada sapi R1K2, R1K3, R1K4 dan R2K4 dapat
diakibatkan telah terjadinya degradasi jaringan pada bagian
thorax
. Hal ini terjadi
karena konsumsi dan kandungan nutrien pada R1 dan R2 tidak mencukupi kebutuhan
hidup pokok sapi R1K2, R1K3, R1K4 dan R2K4 sehingga terjadi degradasi jaringan.
Sementara itu, pertambahan negatif yang terjadi pada semua sapi perlakuan R3 dan
R4 lebih disebabkan oleh posisi sapi ketika diukur pada suatu waktu tidak dalam
posisi lurus yang baik.
Tabel 10. Performa Lebar Dada Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Lebar Dada Akhir
K1 35 36 33 34 34,5 1,29
K2 33 31 30 35 32,5 2,22
K3 29 32 29 30 30 1,41
K4 27 30 28 30 28,75 1,5
Rataan 31 32,25 30 32,25 31,38 2,70
Simpangan
Baku 3,65 2,63 2,16 2,63 2,70
Pertambahan Lebar Dada Harian
K1 0,12 0,04 -0,04 -0,12 0 0,1
K2 -0,04 0 -0,32 -0,04 -0,1 0,15
K3 -0,04 0,08 -0,24 -0,2 -0,1 0,15
K4 -0,2 -0,12 -0,12 -0,24 -0,17 0,06
Rataan -0,04 0 -0,18 -0,15 -0,09 0,12
Simpangan
Baku 0,13 0,09 0,12 0,09 0,12
Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
29
Dalam dada. Dalam dada merupakan ukuran tubuh yang dapat digunakan
dalam menilai sapi potong. Dalam dada dapat menggambarkan penilaian sapi potong
dari arah samping. Dalam dada berkaitan erat dengan pertumbuhan tulang dan
daging bagian
thorax
. Johansson dan Rendel (1968) menyebutkan bahwa
pertumbuhan dalam dada dipengaruhi oleh pertumbuhan tulang dan daging. Posisi
sapi ketika diukur berpengaruh terhadap pengukuran dalam dada.
[image:30.595.97.514.171.772.2]Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi
ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap dalam dada dan pertambahan dalam
dada harian (Tabel 11). Rataan dalam dada dan pertambahan dalam dada harian pada
penelitian ini masing-masing sebesar 62,12 cm dan 0,06 cm/hari (Tabel 11).
Tabel 11. Performa Dalam Dada Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian
(cm/hari)
Kelompok Perlakuan Rataan Simpangan
Baku
R1 R2 R3 R4
Dalam Dada Akhir
K1 62 64 73 63 65,5 5,07
K2 63 62 64 65 63,5 1,29
K3 58 67 63 58 61,5 4,36
K4 58 55 58 61 58 2,45
Rataan 60,25 62 64,5 61,75 62,12 4,32
Simpangan
Baku 2,63 5,10 6,24 2,99 4,32
Pertambahan Dalam Dada Harian
K1 -0,04 0,04 0,2 0 0,05 0,1
K2 0,24 0,08 -0,08 0,2 0,11 0,14
K3 0,08 0,16 -0,16 -0,04 0,01 0,14
K4 0,1 0 -0,1 0,24 0,06 0,14
Rataan 0,1 0,07 -0,04 0,1 0,06 0,13
Simpangan
Baku 0,12 0,07 0,16 0,14 0,13
Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit
K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14
30
sehingga terjadi degradasi jaringan. Sementara itu, pertambahan negatif yang terjadi
pada sapi perlakuan R3K2, R3K3, R3K4 dan R4K3 lebih disebabkan oleh posisi sapi
ketika diukur pada suatu waktu tidak dalam posisi lurus yang baik.
Perbaikan pakan berbasis jerami padi ini tidak mempengaruhi peubah tubuh
yang diukur, kecuali terhadap lingkar dada dan tidak mempengaruhi pertambahan
harian semua peubah tubuh yang diukur. Hasil penelitian ini sejalan dengan
Prihandini dan Umiyasih (2008) pada panjang badan dan tinggi pundak, tetapi tidak
sejalan pada lingkar dada. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini dapat
disebabkan beberapa faktor, antara lain: umur sapi yang telah mencapai dewasa
kelamin dan dewasa tubuh, pakan, genetik dan posisi sapi saat diukur.
Sapi PO betina penelitian ini yang berumur 2-6 tahun telah mencapai dewasa
kelamin dan dewasa tubuh. Rata-rata sapi lokal Indonesia mencapai dewasa kelamin
pada umur 1,5-2 tahun dan mencapai dewasa tubuh pada umur 2-2,5 tahun
(Sosroamidjojo dan Soeradji, 1990). Setelah sapi mencapai dewasa kelamin
pertumbuhan tulang akan terhenti karena osifikasi tulang rawan sudah sempurna.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Field dan Taylor (2003) bahwa pertumbuhan
dan perkembangan tulang tercapai sebelum ternak dewasa kelamin. Hal ini dapat
mengakibatkan perbaikan pakan tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tubuh
yang dipengaruhi pertumbuhan tulang seperti panjang badan, tinggi pundak, lebar
dada, dalam dada dan pertambahan hariannya.
Pemberian pakan berkualitas tinggi pada sapi yang sebelumnya diberikan
pakan berkualitas rendah akan mengakibatkan pertumbuhan kompensatori dimana
pertumbuhan ternak akan mengalami percepatan (Soeparno, 2005). Hal ini dapat
mengakibatkan perbaikan pakan berpengaruh nyata terhadap lingkar dada sehingga
dalam waktu relatif singkat sudah menunjukkan keragaman lingkar dada yang
berbeda nyata. Sementara itu, Tillman
et al
. (1998) menyatakan apabila kebutuhan
hidup pokok tidak terpenuhi oleh pakan maka kebutuhan tersebut dipenuhi dari
degradasi jaringan. Hal ini mengakibatkan terjadinya pertambahan harian yang
negatif pada lingkar dada, lebar dada dan dalam dada beberapa sapi penelitian.
masing-31
masing sebesar 124,75 cm; 125,69 cm; 31,38 cm dan 62,12 cm, sedangkan sapi PO
betina penelitian Prihandini dan Umiyasih (2008) yang berumur 2 tahun memiliki
rataan panjang badan dan tinggi pundak masing-masing sebesar 123 cm dan 119,39
cm. Adrial (2010) menyatakan bahwa rata-rata panjang badan dan tinggi pundak sapi
PO betina dewasa umur 4,5 tahun ketika dibandingkan dengan sapi pesisir Sumatera
Barat masing-masing sebesar 131,7 ± 7 cm dan 128,7 ± 5,5 cm. Sementara itu,
Abdullah
et al.
(2006) menyatakan bahwa rataan panjang badan, tinggi pundak, lebar
dada dan dalam dada sapi PO lokal dewasa diatas umur 2 tahun masing-masing
sebesar 120,15 cm; 127,46 cm; 44,28 cm; 59,12 cm. Perbedaan yang terjadi pada
performa peubah tubuh ini lebih disebabkan faktor genetik individu ternak.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pemberian pakan berbasis jerami padi yang diperbaiki melalui suplementasi ini belum memberikan respon yang positif pada performa pertambahan bobot badan harian (PBBH), panjang badan, tinggi pundak, lebar dada, dalam dada dan pertambahan harian seluruh peubah tubuh sapi PO betina dewasa, tetapi sudah memberikan respon positif terhadap konsumsi bahan kering (BK) dan lingkar dada selama pemeliharaan. Pemberian jerami padi dalam bentuk ransum komplit yang tersusun dari 40% jerami padi dan 60% konsentrat (8,5% tepung ikan, 30,5% dedak padi, 5,7% tepung daun singkong, 3% tepung daun lamtoro, 0,3% tepung daun turi, 10% molases, 1% campuran mineral dan 1% minyak kelapa) dapat meningkatkan konsumsi BK.
Saran
PE
RFORMA SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) BETINA
TERHADAP PEMBERIAN PAKAN BERBASIS JERAMI
PADI YANG DIPERBAIKI DENGAN TEKNOLOGI
SUPLEMENTASI DI KABUPATEN REMBANG
SKRIPSI ACHMAD KAUTSAR
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
PERFORMA SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) BETINA
TERHADAP PEMBERIAN PAKAN BERBASIS JERAMI
PADI YANG DIPERBAIKI DENGAN TEKNOLOGI
SUPLEMENTASI DI KABUPATEN REMBANG
SKRIPSI ACHMAD KAUTSAR
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
RINGKASAN
Achmad Kautsar. D14070041. 2011. Performa Sapi Peranakan Ongole (PO) Betina terhadap Pemberian Pakan Berbasis Jerami Padi yang Diperbaiki dengan Teknologi Suplementasi di Kabupaten Rembang. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. Hj. Komariah, M.Si.
Pembimbing Anggota : Ir. Anita S. Tjakradidjaja, M.Rur.Sc.
Usaha penggemukkan dan pembibitan sapi potong banyak dilakukan di daerah Rembang dan menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah produksi sapi potong rakyat. Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu ternak lokal yang pada umumnya dipelihara oleh peternak di Rembang dan merupakan bangsa sapi potong yang biasa digunakan sebagai bakalan dan bibit. Jerami padi dan dedak padi adalah pakan yang biasa diberikan oleh peternak di Rembang. Pemberian pakan berbasis jerami padi ini masih belum dapat mencukupi kebutuhan nutrien sapi PO sehingga performa produksi yang diperoleh masih rendah. Produktivitas sapi PO tersebut perlu ditingkatkan lewat upaya perbaikan nutrien yang dapat dilakukan dengan teknologi suplementasi. Teknologi suplementasi yang digunakan pada penelitian ini adalah penambahan Suplemen Kaya Nutrien (SKN) dan penyusunan ransum komplit pada pakan berbasis jerami padi.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon pada performa produksi sapi PO betina terhadap perbaikan pakan berbasis jerami padi melalui suplementasi. Penelitian ini menggunakan 16 ekor sapi PO betina dengan empat perlakuan dan empat kelompok yang berlangsung selama 40 hari. Perlakuan yang digunakan adalah R1 = 100% jerami padi, R2 = R1 + 2 kg dedak padi, R3 = R2 + 0,4 kg SKN dan R4 = ransum komplit. Pengelompokkan dilakukan berdasarkan bobot badan awal yang berbeda. K1 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 1-4 (335,81 ± 1,84 kg), K2 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 5-8 (320,86 ± 3,06 kg), K3 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 9-12 (297,19 ± 9,48 kg) dan K4 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 13-16 (262,63 ± 16,17 kg). Peubah yang diamati adalah konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan peubah tubuh beserta pertambahan harian (panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, lebar dada dan dalam dada). Data diolah dan dianalisis dengan Anova yang menggunakan RAK (rancangan acak kelompok). Hasil analisis yang berbeda nyata dilanjutkan dengan menggunakan uji Tukey.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi ini berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi bahan kering dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap lingkar dada. Perbaikan pakan berbasis jerami padi ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap PBBH, panjang badan, tinggi pundak, lebar dada, dalam dada dan pertambahan harian dari seluruh peubah tubuh yang diamati.
ABSTRACT
Improving Rice Straw Feeding with Supplementation Technology on Performance of Female Peranakan Ongole (PO)
Cattles in Rembang Regency Kautsar, A., Komariah and A. S. Tjakradidjaja
Beef cattle fattening and breeding are the main programs done by people in Rembang Regency in the Province of Middle Java. Peranakan Ongole (PO) cattle is a local beef cattle that is usually kept by people in Rembang Regency. Rice straw and rice bran are usually used as feeds by the farmers, especially during dry season. Supplementation to this kind of diet is aimed at increasing the female PO cattle performance. Therefore, the objective of this experiment is to study the effect of rice straw supplementation on production performance. This experiment was conducted in Rembang Regency for 40 days using 16 female PO cattles with 4 treatments and 4 blocks. Treatments were R1 = 100% rice straw, R2 = R1 + 2 kg rice bran, R3 = R2 + 0.4 kg nutrient enriched supplement (SKN) and R4 = complete ration consisting of rice straw, rice bran and SKN. The variables observed were dry matter intake, average daily gain and body size measurements with its average daily growths (body length, chest girth, wither height, chest width and chest depth). All data were collected and analyzed by analysis of variance with randomized block design. The results of this study showed that rice straw supplementation affected dry matter intake (P<0.01) and chest girth (P<0.05), but did not affect (P>0.05) significantly average daily gain, body length, wither height, chest width, chest depth and average daily growths of body size measurements (body length, chest girth, wither height, chest width and chest depth).
PERFORMA SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) BETINA
TERHADAP PEMBERIAN PAKAN BERBASIS JERAMI
PADI YANG DIPERBAIKI DENGAN TEKNOLOGI
SUPLEMENTASI DI KABUPATEN REMBANG
ACHMAD KAUTSAR D14070041
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
Judul : Performa Sapi Peranakan Ongole (PO) Betina terhadap Pemberian
Pakan Berbasis Jerami Padi yang Diperbaiki dengan Teknologi
Suplementasi di Kabupaten Rembang
Nama : Achmad Kautsar
NRP : D14070041
Menyetujui,
Pembimbing Utama
Pembimbing Anggota
(Ir. Hj. Komariah, M.Si)
(Ir. Anita S. Tjakradidjaja, M.Rur.Sc)
NIP: 19590515 198903 2 001 NIP: 19610930 198603 2 003
Mengetahui,
Ketua Departemen
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan
(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc)
NIP: 19591212 198603 1 004
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Achmad Kautsar. Penulis dilahirkan pada tanggal 8 November 1989 di Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Anda Mihardja dan Ibu Helviani. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri 1 Pengasinan, Bekasi Timur dan diselesaikan di SD Negeri Kaumpandak 3, Kabupaten Bogor pada tahun 2001. Pendidikan lanjutan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2004 di SMP Negeri 15 Kota Bogor dan pendidikan lanjutan atas diselesaikan pada tahun 2007 di SMA Negeri 8 Kota Bogor.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas besarnya limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Skripsi yang berjudul “Performa Sapi Peranakan Ongole (PO) Betina terhadap Pemberian Pakan Berbasis Jerami Padi yang Diperbaiki dengan Teknologi Suplementasi di Kabupaten Rembang” ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Selain itu, penyusunan skripsi ini merupakan wujud peran aktif dan kontribusi penulis dalam dunia peternakan. Skripsi ini disusun dengan harapan dapat meningkatkan performa produksi sapi potong yang ada di Kabupaten Rembang maupun di daerah lain di Indonesia lewat upaya perbaikan pakan berbasis jerami padi yang diperbaiki dengan teknologi suplementasi.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran sehingga membuat skripsi ini menjadi lebih baik. Akhir kata semoga karya ini bermanfaat dalam bidang pendidikan.
Bogor, November 2011
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Bobot Badan Awal Sapi PO Betina Penelitian ... 16
2. Umur Sapi PO Betina Penelitian ... 16
3. Hasil Analisis Proximat Sampel Bahan Pakan yang Digunakan ... 17
4. Kandungan Nutrien Pakan Perlakuan ... 19
5. Rataan Konsumsi Bahan Kering ... 20
6. Performa Pertambahan Bobot Badan Harian ... 22
7. Performa Panjang Badan Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 25
8. Performa Lingkar Dada Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 26
9. Performa Tinggi Pundak Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 27
10. Performa Lebar Dada Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 28
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
PENDAHULUAN Latar Belakang
Peternakan berperan penting dalam meningkatkan gizi dan pembangunan ekonomi masyarakat terutama pada sektor pertanian. Sapi potong merupakan ternak penghasil daging yang mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi kehidupan masyarakat. Produksi daging sapi pada tahun 2010 sebesar 329.400 ton dengan populasi sebanyak 13,633 juta ekor (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011). Peningkatan produksi daging sapi tersebut dapat dilakukan melalui usaha penggemukkan dan pembibitan.
Usaha penggemukkan dan pembibitan sapi potong banyak dilakukan di daerah Rembang dan menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah produksi sapi potong rakyat. Hal ini disebabkan ternak sapi memegang peranan sangat penting bagi petani peternak di wilayah Rembang dalam menunjang kegiatan ekonomi keluarga terutama sebagai tabungan hidup, sumber pupuk, tenaga kerja dan juga prestise bagi pemiliknya.
Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu ternak lokal yang pada umumnya dipelihara oleh peternak di Rembang dan merupakan bangsa sapi potong yang biasa digunakan sebagai bakalan dan bibit. Salah satu sistem pemeliharaan sapi PO yang dilakukan oleh peternak di Rembang adalah dengan sistem kereman yang merupakan pemeliharaan sapi di dalam kandang secara intensif.
Jerami padi merupakan limbah pertanian potensial sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan oleh ternak ruminansia. Salah satu permasalahan dalam penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia diantaranya adalah kandungan nutriennya yang relatif rendah. Jerami padi dan dedak padi adalah pakan yang biasa diberikan oleh peternak di Rembang. Pemberian pakan berbasis jerami padi ini masih belum dapat mencukupi kebutuhan nutrien sapi PO sehingga performa produksi yang diperoleh masih rendah. Produktivitas sapi PO tersebut perlu ditingkatkan lewat upaya perbaikan nutrien yang dapat dilakukan dengan teknologi suplementasi.
2 meningkatkan sisi komersial produk ternak dan meningkatkan metabolisme. Suplementasi protein dalam ransum berbasis jerami padi dapat melengkapi kebutuhan nutrien pakan yang dibutuhkan oleh ternak sapi potong.
Pendugaan produktivitas ternak sapi potong dapat dilihat dari pertambahan bobot badan. Indikator produktivitas sapi potong yang lain diantaranya adalah panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, lebar dada dan dalam dada. Potensi pertumbuhan seekor ternak sangat dipengaruhi oleh faktor bangsa, jenis kelamin, umur, pakan, lingkungan dan manajemen pemeliharaan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan peningkatan produktivitas sapi PO di Rembang lewat upaya perbaikan pakan berbasis jerami padi melalui teknologi suplementasi. Teknologi suplementasi yang digunakan pada penelitian ini adalah penambahan Suplemen Kaya Nutrien (SKN) dan penyusunan ransum komplit pada pakan berbasis jerami padi.
Tulu an
TINJAUAN PUSTAKA
Sapi Peranakan Ongole (PO)
Sapi pada umumnya dapat digunakan sebagai salah satu ternak penghasil daging. Sapi-sapi pedaging lokal sering digunakan sebagai bakalan dan bibit dalam usaha peternakan rakyat. Sapi PO merupakan bangsa sapi pedaging lokal yang banyak ditemui di Indonesia, termasuk di Kabupaten Rembang.
Sapi PO merupakan sapi yang berasal dari persilangan antara bangsa sapi Jawa (sapi lokal) dengan bangsa sapi Ongole (India) yang telah berlangsung cukup lama yakni sejak tahun 1908. Persilangan tersebut merupakan suatu ”Grading Up” yang bertujuan untuk memperoleh ternak sapi yang dapat digunakan bagi keperluan tenaga tarik membantu petani mengolah tanah pertanian dan transportasi (Atmadilaga, 1979; Erlangga, 2009).
Menurut Sosroamidjojo dan Soeradji (1990) dan Natural Veterinary (2009), sapi PO berwarna putih, mempunyai perawakan yang besar, bergumba pada pundaknya dan mempunyai gelambir yang menjulur sepanjang garis bawah leher, dada sampai ke pusar. Secara komersial, sapi PO dapat dimanfaatkan sebagai ternak pedaging karena memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik dan mempunyai kemampuan konsumsi yang cukup tinggi terhadap hijauan serta mudah pemeliharaannya. Sapi PO termasuk tipe sapi pekerja yang baik, tenaganya kuat, tahan lapar dan haus, sabar serta dapat menyesuaikan dengan pakan yang sederhana.
4 Performa Produksi
Performa seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan pengaruh kumulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak tersebut sejak terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Hardjosubroto (1990) dan Gunawan et al. (2008) menyatakan bahwa faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak, sedangkan faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya. Menurut Otsuka et al. (1982) dan Tazkia (2008), penampilan seekor hewan adalah hasil dari proses pertumbuhan yang berkesinambungan dalam kehidupan hewan tersebut. Setiap komponen tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda, karena pengaruh alam maupun lingkungan. Performa produksi ternak dapat dilihat dari bobot badan, ukuran tubuh dan laju pertumbuhan.
Bobot Badan dan Ukuran Tubuh
Bobot badan ternak berhubungan dengan pertumbuhan dan karkas yang dihasilkan, sedangkan bobot badan itu sendiri dipengaruhi sifat perdagingan, perlemakan, perototan, karkas, isi perut dan besarnya pertulangan kepala, kaki dan kulit. Umur dan jenis kelamin turut mempengaruhi bobot badan dan ukuran ternak. Bobot badan pada umumnya mempunyai hubungan positif dengan semua ukuran linear tubuh.
Peubah tubuh merupakan ukuran-ukuran yang dapat dilihat pada permukaan tubuh sapi, antara lain, tinggi pundak, panjang badan, lebar dada, dalam dada dan lingkar dada (Natasasmita dan Mudikdjo, 1980; Ningsih, 2011). Pengukuran peubah tubuh sering digunakan untuk mengestimasi produksi, misalnya untuk pendugaan bobot badan (Zubaidah, 1984; Damayanti, 2003) dan seringkali dipakai sebagai peubah teknis penentu sapi bibit. Ukuran-ukuran tubuh juga dapat digunakan untuk menggambarkan eksterior hewan sebagai ciri khas suatu bangsa (Doho, 1994; Ningsih, 2011). Natasasmita dan Mudikdjo (1980) dan Hanibal (2008) menambahkan, bahwa ukuran-ukuran tubuh ternak dapat digunakan untuk membuat rumus penduga bobot badan.
5 satu sama lain saling berhubungan secara linear. Kadarsih (2003) menyatakan bahwa ukuran linear tubuh yang dapat dipakai dalam memprediksi bobot badan sapi antara lain panjang badan, tinggi badan dan lingkar dada. Sementara itu, Williamson dan Payne (1986) dan Handayani (2003) menyatakan bahwa pemakaian ukuran lingkar dada dan panjang badan dapat memberikan petunjuk bobot badan seekor hewan dengan tepat.
Ukuran-ukuran tubuh berbeda antar ternak, tetapi ada korelasi antar ukuran tubuh. Korelasi positif terjadi apabila peningkatan satu sifat menyebabkan sifat lain juga meningkat. Apabila satu sifat meningkat dan sifat lain menurun maka disebut korela