• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI ACHMAD KAUTSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI ACHMAD KAUTSAR"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

PERFORMA SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) BETINA TERHADAP PEMBERIAN PAKAN BERBASIS JERAMI

PADI YANG DIPERBAIKI DENGAN TEKNOLOGI SUPLEMENTASI DI KABUPATEN REMBANG

SKRIPSI ACHMAD KAUTSAR

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

(2)

RINGKASAN

Achmad Kautsar. D14070041. 2011. Performa Sapi Peranakan Ongole (PO) Betina terhadap Pemberian Pakan Berbasis Jerami Padi yang Diperbaiki dengan Teknologi Suplementasi di Kabupaten Rembang. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Ir. Hj. Komariah, M.Si.

Pembimbing Anggota : Ir. Anita S. Tjakradidjaja, M.Rur.Sc.

Usaha penggemukkan dan pembibitan sapi potong banyak dilakukan di daerah Rembang dan menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah produksi sapi potong rakyat. Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu ternak lokal yang pada umumnya dipelihara oleh peternak di Rembang dan merupakan bangsa sapi potong yang biasa digunakan sebagai bakalan dan bibit. Jerami padi dan dedak padi adalah pakan yang biasa diberikan oleh peternak di Rembang. Pemberian pakan berbasis jerami padi ini masih belum dapat mencukupi kebutuhan nutrien sapi PO sehingga performa produksi yang diperoleh masih rendah. Produktivitas sapi PO tersebut perlu ditingkatkan lewat upaya perbaikan nutrien yang dapat dilakukan dengan teknologi suplementasi. Teknologi suplementasi yang digunakan pada penelitian ini adalah penambahan Suplemen Kaya Nutrien (SKN) dan penyusunan ransum komplit pada pakan berbasis jerami padi.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon pada performa produksi sapi PO betina terhadap perbaikan pakan berbasis jerami padi melalui suplementasi.

Penelitian ini menggunakan 16 ekor sapi PO betina dengan empat perlakuan dan empat kelompok yang berlangsung selama 40 hari. Perlakuan yang digunakan adalah R1 = 100% jerami padi, R2 = R1 + 2 kg dedak padi, R3 = R2 + 0,4 kg SKN dan R4

= ransum komplit. Pengelompokkan dilakukan berdasarkan bobot badan awal yang berbeda. K1 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 1-4 (335,81 ± 1,84 kg), K2 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 5-8 (320,86 ± 3,06 kg), K3 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 9-12 (297,19

± 9,48 kg) dan K4 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 13-16 (262,63 ± 16,17 kg). Peubah yang diamati adalah konsumsi bahan kering, pertambahan bobot badan harian (PBBH) dan peubah tubuh beserta pertambahan harian (panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, lebar dada dan dalam dada).

Data diolah dan dianalisis dengan Anova yang menggunakan RAK (rancangan acak kelompok). Hasil analisis yang berbeda nyata dilanjutkan dengan menggunakan uji Tukey.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi ini berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi bahan kering dan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap lingkar dada. Perbaikan pakan berbasis jerami padi ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap PBBH, panjang badan, tinggi pundak, lebar dada, dalam dada dan pertambahan harian dari seluruh peubah tubuh yang diamati.

Kata-kata kunci: performa, sapi PO, jerami padi, suplementasi, Kabupaten Rembang

(3)

ABSTRACT

Improving Rice Straw Feeding with Supplementation Technology on Performance of Female Peranakan Ongole (PO)

Cattles in Rembang Regency Kautsar, A., Komariah and A. S. Tjakradidjaja

Beef cattle fattening and breeding are the main programs done by people in Rembang Regency in the Province of Middle Java. Peranakan Ongole (PO) cattle is a local beef cattle that is usually kept by people in Rembang Regency. Rice straw and rice bran are usually used as feeds by the farmers, especially during dry season.

Supplementation to this kind of diet is aimed at increasing the female PO cattle performance. Therefore, the objective of this experiment is to study the effect of rice straw supplementation on production performance. This experiment was conducted in Rembang Regency for 40 days using 16 female PO cattles with 4 treatments and 4 blocks. Treatments were R1 = 100% rice straw, R2 = R1 + 2 kg rice bran, R3 = R2 + 0.4 kg nutrient enriched supplement (SKN) and R4 = complete ration consisting of rice straw, rice bran and SKN. The variables observed were dry matter intake, average daily gain and body size measurements with its average daily growths (body length, chest girth, wither height, chest width and chest depth). All data were collected and analyzed by analysis of variance with randomized block design. The results of this study showed that rice straw supplementation affected dry matter intake (P<0.01) and chest girth (P<0.05), but did not affect (P>0.05) significantly average daily gain, body length, wither height, chest width, chest depth and average daily growths of body size measurements (body length, chest girth, wither height, chest width and chest depth).

Keywords: performance, PO cattle, rice straw, supplementation, Rembang Regency

(4)

PERFORMA SAPI PERANAKAN ONGOLE (PO) BETINA TERHADAP PEMBERIAN PAKAN BERBASIS JERAMI

PADI YANG DIPERBAIKI DENGAN TEKNOLOGI SUPLEMENTASI DI KABUPATEN REMBANG

ACHMAD KAUTSAR D14070041

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

(5)

Judul : Performa Sapi Peranakan Ongole (PO) Betina terhadap Pemberian Pakan Berbasis Jerami Padi yang Diperbaiki dengan Teknologi Suplementasi di Kabupaten Rembang

Nama : Achmad Kautsar NRP : D14070041

Menyetujui,

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

(Ir. Hj. Komariah, M.Si) (Ir. Anita S. Tjakradidjaja, M.Rur.Sc) NIP: 19590515 198903 2 001 NIP: 19610930 198603 2 003

Mengetahui, Ketua Departemen

Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

(Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc) NIP: 19591212 198603 1 004

Tanggal Ujian: 1 November 2011 Tanggal Lulus :

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Achmad Kautsar. Penulis dilahirkan pada tanggal 8 November 1989 di Jakarta. Penulis merupakan anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Bapak Anda Mihardja dan Ibu Helviani. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri 1 Pengasinan, Bekasi Timur dan diselesaikan di SD Negeri Kaumpandak 3, Kabupaten Bogor pada tahun 2001. Pendidikan lanjutan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2004 di SMP Negeri 15 Kota Bogor dan pendidikan lanjutan atas diselesaikan pada tahun 2007 di SMA Negeri 8 Kota Bogor.

Status mahasiswa pada Jurusan Teknologi Produksi Ternak, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor diperoleh melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada tahun 2007. Selama menjalani perkuliahan, penulis aktif sebagai Staf Divisi PSDM FAMM Al-An’am tahun 2008-2010. Penulis juga menjadi penerima Beastudi Etos LPI-DD pada tahun 2007-2010 dan Beasiswa KSE (Karya Salemba Empat) tahun 2010-2011. Penulis aktif menjadi Staf Divisi Informasi dan Komunikasi BEM-KE (Badan Eksekutif Mahasiswa- Keluarga Etos) tahun 2007-2008, Staf Komunitas IT BEB-C (Beastudy Etos Bogor- Community) tahun 2008-2009, Kadiv Komunitas IT BEB-C (Beastudy Etos Bogor- Community) dan menjadi anggota RTB (Relawan Tanggap Bencana) Bogor tahun 2008. Penulis juga aktif sebagai pengajar jam tambahan mata pelajaran Matematika Kelas X SMA Negeri 8 Kota Bogor pada tahun 2009.

(7)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas besarnya limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Skripsi yang berjudul “Performa Sapi Peranakan Ongole (PO) Betina terhadap Pemberian Pakan Berbasis Jerami Padi yang Diperbaiki dengan Teknologi Suplementasi di Kabupaten Rembang” ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Selain itu, penyusunan skripsi ini merupakan wujud peran aktif dan kontribusi penulis dalam dunia peternakan. Skripsi ini disusun dengan harapan dapat meningkatkan performa produksi sapi potong yang ada di Kabupaten Rembang maupun di daerah lain di Indonesia lewat upaya perbaikan pakan berbasis jerami padi yang diperbaiki dengan teknologi suplementasi.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran sehingga membuat skripsi ini menjadi lebih baik. Akhir kata semoga karya ini bermanfaat dalam bidang pendidikan.

Bogor, November 2011 Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... i

ABSTRACT ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

LEMBAR PENGESAHAN ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN ... 1

Latar Belakang ... 1

Tujuan ... 2

TINJAUAN PUSTAKA ... 3

Sapi Peranakan Ongole (PO) ... 3

Performa Produksi ... 4

Bobot Badan dan Ukuran Tubuh ... 4

Pertumbuhan dan Perkembangan Ternak ... 5

Pakan ... 6

Jerami Padi ... 7

Suplementasi ... 8

Ransum Komplit ... 8

MATERI DAN METODE ... 9

Lokasi dan Waktu Penelitian ... 9

Materi ... 9

Prosedur ... 9

Peubah yang Diamati ... 10

Rancangan Percobaan ... 12

Analisis Data ... 13

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 14

Keadaan Umum Penelitian ... 14

Konsumsi Bahan Kering ... 20

Performa Produksi ... 21

KESIMPULAN DAN SARAN ... 32

Kesimpulan ... 32

Saran ... 32

(9)

viii

UCAPAN TERIMA KASIH ... 33

DAFTAR PUSTAKA ... 34

LAMPIRAN ... 38

(10)

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Bobot Badan Awal Sapi PO Betina Penelitian ... 16

2. Umur Sapi PO Betina Penelitian ... 16

3. Hasil Analisis Proximat Sampel Bahan Pakan yang Digunakan ... 17

4. Kandungan Nutrien Pakan Perlakuan ... 19

5. Rataan Konsumsi Bahan Kering ... 20

6. Performa Pertambahan Bobot Badan Harian ... 22

7. Performa Panjang Badan Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 25

8. Performa Lingkar Dada Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 26

9. Performa Tinggi Pundak Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 27

10. Performa Lebar Dada Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 28

11. Performa Dalam Dada Akhir Penelitian dan Pertambahan Harian ... 29

(11)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Pengukuran Peubah Tubuh ... 11

2. Kandang Penelitian ... 15

3. Kondisi Tubuh Sapi Penelitian ... 15

4. Bahan Pakan yang Digunakan ... 19

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Anova Konsumsi Bahan Kering ... 39

2. Uji Tukey Rataan Konsumsi Bahan Kering ... 39

3. Anova Pertambahan Bobot Badan Harian ... 39

4. Anova Panjang Badan ... 40

5. Anova Pertambahan Panjang Badan Harian ... 40

6. Anova Lingkar Dada ... 40

7. Uji Tukey Rataan Lingkar Dada ... 41

8. Anova Pertambahan Lingkar Dada Harian ... 41

9. Anova Tinggi Pundak ... 41

10. Anova Pertambahan Tinggi Pundak Harian ... 42

11. Anova Lebar Dada ... 42

12. Anova Pertambahan Lebar Dada Harian ... 42

13. Anova Dalam Dada ... 42

14. Anova Pertambahan Dalam Dada Harian ... 43

15. Perhitungan Total Digestible Nutrient ... 43

(13)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Peternakan berperan penting dalam meningkatkan gizi dan pembangunan ekonomi masyarakat terutama pada sektor pertanian. Sapi potong merupakan ternak penghasil daging yang mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi kehidupan masyarakat.

Produksi daging sapi pada tahun 2010 sebesar 329.400 ton dengan populasi sebanyak 13,633 juta ekor (Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011).

Peningkatan produksi daging sapi tersebut dapat dilakukan melalui usaha penggemukkan dan pembibitan.

Usaha penggemukkan dan pembibitan sapi potong banyak dilakukan di daerah Rembang dan menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah produksi sapi potong rakyat. Hal ini disebabkan ternak sapi memegang peranan sangat penting bagi petani peternak di wilayah Rembang dalam menunjang kegiatan ekonomi keluarga terutama sebagai tabungan hidup, sumber pupuk, tenaga kerja dan juga prestise bagi pemiliknya.

Sapi Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu ternak lokal yang pada umumnya dipelihara oleh peternak di Rembang dan merupakan bangsa sapi potong yang biasa digunakan sebagai bakalan dan bibit. Salah satu sistem pemeliharaan sapi PO yang dilakukan oleh peternak di Rembang adalah dengan sistem kereman yang merupakan pemeliharaan sapi di dalam kandang secara intensif.

Jerami padi merupakan limbah pertanian potensial sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan oleh ternak ruminansia. Salah satu permasalahan dalam penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia diantaranya adalah kandungan nutriennya yang relatif rendah. Jerami padi dan dedak padi adalah pakan yang biasa diberikan oleh peternak di Rembang. Pemberian pakan berbasis jerami padi ini masih belum dapat mencukupi kebutuhan nutrien sapi PO sehingga performa produksi yang diperoleh masih rendah. Produktivitas sapi PO tersebut perlu ditingkatkan lewat upaya perbaikan nutrien yang dapat dilakukan dengan teknologi suplementasi.

Suplementasi merupakan proses penambahan pakan yang berasal dari zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Suplementasi digunakan untuk membantu meningkatkan konsumsi pakan, membantu pencernaan,

(14)

2 meningkatkan sisi komersial produk ternak dan meningkatkan metabolisme.

Suplementasi protein dalam ransum berbasis jerami padi dapat melengkapi kebutuhan nutrien pakan yang dibutuhkan oleh ternak sapi potong.

Pendugaan produktivitas ternak sapi potong dapat dilihat dari pertambahan bobot badan. Indikator produktivitas sapi potong yang lain diantaranya adalah panjang badan, lingkar dada, tinggi pundak, lebar dada dan dalam dada. Potensi pertumbuhan seekor ternak sangat dipengaruhi oleh faktor bangsa, jenis kelamin, umur, pakan, lingkungan dan manajemen pemeliharaan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan peningkatan produktivitas sapi PO di Rembang lewat upaya perbaikan pakan berbasis jerami padi melalui teknologi suplementasi. Teknologi suplementasi yang digunakan pada penelitian ini adalah penambahan Suplemen Kaya Nutrien (SKN) dan penyusunan ransum komplit pada pakan berbasis jerami padi.

Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon pada performa produksi sapi Peranakan Ongole (PO) betina terhadap perbaikan pakan berbasis jerami padi melalui teknologi suplementasi.

(15)

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Peranakan Ongole (PO)

Sapi pada umumnya dapat digunakan sebagai salah satu ternak penghasil daging. Sapi-sapi pedaging lokal sering digunakan sebagai bakalan dan bibit dalam usaha peternakan rakyat. Sapi PO merupakan bangsa sapi pedaging lokal yang banyak ditemui di Indonesia, termasuk di Kabupaten Rembang.

Sapi PO merupakan sapi yang berasal dari persilangan antara bangsa sapi Jawa (sapi lokal) dengan bangsa sapi Ongole (India) yang telah berlangsung cukup lama yakni sejak tahun 1908. Persilangan tersebut merupakan suatu ”Grading Up”

yang bertujuan untuk memperoleh ternak sapi yang dapat digunakan bagi keperluan tenaga tarik membantu petani mengolah tanah pertanian dan transportasi (Atmadilaga, 1979; Erlangga, 2009).

Menurut Sosroamidjojo dan Soeradji (1990) dan Natural Veterinary (2009), sapi PO berwarna putih, mempunyai perawakan yang besar, bergumba pada pundaknya dan mempunyai gelambir yang menjulur sepanjang garis bawah leher, dada sampai ke pusar. Secara komersial, sapi PO dapat dimanfaatkan sebagai ternak pedaging karena memiliki laju pertumbuhan yang cukup baik dan mempunyai kemampuan konsumsi yang cukup tinggi terhadap hijauan serta mudah pemeliharaannya. Sapi PO termasuk tipe sapi pekerja yang baik, tenaganya kuat, tahan lapar dan haus, sabar serta dapat menyesuaikan dengan pakan yang sederhana.

Pertambahan bobot badan harian (PBBH) sangat tergantung dari bangsa sapi.

Pertambahan bobot badan harian sapi PO prasapih yang pernah dilaporkan adalah 0,62 kg dan lepas sapih 0,24 kg, untuk umur 4-12 bulan berkisar 0,34-0,37 kg, umur 13-24 bulan berkisar 0,31-0,40 kg, umur 2 tahun berkisar 0,44-0,98 kg, sapi Bali sebesar 0,35-0,5 kg dan sapi Brahman sebesar 0,91-1,36 kg (Astuti, 2003). Data tersebut menunjukkan bahwa sapi PO mempunyai laju pertumbuhan yang cukup tinggi dibandingkan ternak sapi lokal lainnya. Astuti (2003) menyatakan bahwa sapi PO tanggap terhadap perubahan maupun perbaikan pakan dengan menunjukkan PBBH yang berbeda-beda.

(16)

4 Performa Produksi

Performa seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan pengaruh kumulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak tersebut sejak terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Hardjosubroto (1990) dan Gunawan et al. (2008) menyatakan bahwa faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak, sedangkan faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya.

Menurut Otsuka et al. (1982) dan Tazkia (2008), penampilan seekor hewan adalah hasil dari proses pertumbuhan yang berkesinambungan dalam kehidupan hewan tersebut. Setiap komponen tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda, karena pengaruh alam maupun lingkungan. Performa produksi ternak dapat dilihat dari bobot badan, ukuran tubuh dan laju pertumbuhan.

Bobot Badan dan Ukuran Tubuh

Bobot badan ternak berhubungan dengan pertumbuhan dan karkas yang dihasilkan, sedangkan bobot badan itu sendiri dipengaruhi sifat perdagingan, perlemakan, perototan, karkas, isi perut dan besarnya pertulangan kepala, kaki dan kulit. Umur dan jenis kelamin turut mempengaruhi bobot badan dan ukuran ternak.

Bobot badan pada umumnya mempunyai hubungan positif dengan semua ukuran linear tubuh.

Peubah tubuh merupakan ukuran-ukuran yang dapat dilihat pada permukaan tubuh sapi, antara lain, tinggi pundak, panjang badan, lebar dada, dalam dada dan lingkar dada (Natasasmita dan Mudikdjo, 1980; Ningsih, 2011). Pengukuran peubah tubuh sering digunakan untuk mengestimasi produksi, misalnya untuk pendugaan bobot badan (Zubaidah, 1984; Damayanti, 2003) dan seringkali dipakai sebagai peubah teknis penentu sapi bibit. Ukuran-ukuran tubuh juga dapat digunakan untuk menggambarkan eksterior hewan sebagai ciri khas suatu bangsa (Doho, 1994;

Ningsih, 2011). Natasasmita dan Mudikdjo (1980) dan Hanibal (2008) menambahkan, bahwa ukuran-ukuran tubuh ternak dapat digunakan untuk membuat rumus penduga bobot badan.

Bobot badan sapi merupakan salah satu indikator produktivitas ternak yang dapat diduga berdasarkan ukuran linear tubuh sapi (Kadarsih, 2003). Ukuran-ukuran linear tubuh merupakan suatu ukuran dari bagian tubuh ternak yang pertambahannya

(17)

5 satu sama lain saling berhubungan secara linear. Kadarsih (2003) menyatakan bahwa ukuran linear tubuh yang dapat dipakai dalam memprediksi bobot badan sapi antara lain panjang badan, tinggi badan dan lingkar dada. Sementara itu, Williamson dan Payne (1986) dan Handayani (2003) menyatakan bahwa pemakaian ukuran lingkar dada dan panjang badan dapat memberikan petunjuk bobot badan seekor hewan dengan tepat.

Ukuran-ukuran tubuh berbeda antar ternak, tetapi ada korelasi antar ukuran tubuh. Korelasi positif terjadi apabila peningkatan satu sifat menyebabkan sifat lain juga meningkat. Apabila satu sifat meningkat dan sifat lain menurun maka disebut korelasi negatif.

Koefisien korelasi antara lingkar dada dengan bobot badan menduduki peringkat tertinggi, menyusul ukuran-ukuran tubuh lainnya (Soeroso, 2004). Menurut Massiara (1986) dan Tazkia (2008), bobot badan dan lingkar dada berkorelasi positif dan merupakan fungsi umur, maka lingkar dada dan bobot badan ternak semakin meningkat dengan bertambahnya umur ternak, tetapi laju pertumbuhan bobot badan lebih cepat daripada laju pertumbuhan lingkar dada dan yang diutamakan adalah pertumbuhan kerangka.

Pertumbuhan dan Perkembangan Ternak

Pertumbuhan adalah pertambahan berat badan atau ukuran tubuh sesuai dengan umur dan dapat dilukiskan sebagai garis atau gambaran kurva sigmoid. Laju pertumbuhan ternak terdiri atas dua fase yaitu: pertumbuhan sebelum dan sesudah lahir. Pertambahan bobot badan per unit waktu sering digunakan untuk mengukur pertumbuhan. Pertumbuhan mempunyai dua aspek yaitu menyangkut peningkatan massa per satuan waktu dan pertumbuhan yang meliputi perubahan bentuk maupun komposisi tubuh sebagai akibat dari pertumbuhan diferensial komponen-komponen tubuh (Berg dan Butterfield, 1976; Herren, 2000). Taylor dan Field (2004) menyatakan umumnya pertumbuhan adalah pertambahan bobot badan sampai ukuran dewasa tercapai.

Selama periode pertumbuhan, seekor ternak mengalami peningkatan bobot badan sampai dewasa dan perubahan bentuk yang disebut dengan pertumbuhan dan perkembangan (Tillman et al., 1998). Dua aspek kedewasaan (maturitas) tersebut disertai dengan adanya peningkatan pada tiga jaringan utama karkas yaitu tulang,

(18)

6 otot dan lemak. Tulang akan meningkat pada laju pertumbuhan awal, kemudian akan diikuti dengan perkembangan dan terakhir dengan adanya kandungan energi pakan yang diberikan, maka lemak akan mengalami peningkatan pesat. Meskipun perubahan-perubahan yang terjadi ini adalah sama antar hewan hidup, namun waktu yang diperlukan adalah bervariasi antar spesies (Tillman et al., 1998).

Pertumbuhan tubuh secara keseluruhan umumnya diukur dengan bertambahnya bobot badan, sedangkan bobot badannya dapat diduga melalui tinggi badan, lingkar dada, panjang badan dan sebagainya. Kombinasi antara bobot badan dengan besarnya ukuran tubuh umumnya dapat dipakai sebagai ukuran pertumbuhan.

Menurut Natasasmita dan Mudikdjo (1980) dan Scanes (2003), perubahan relatif komponen tubuh selama pertumbuhan lebih tergantung pada bobot badan dibandingkan dengan waktu yang diperlukan untuk mencapai ukuran tersebut, hal ini menandakan bahwa umur fisiologis lebih berpengaruh daripada umur kronologis.

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ternak antara lain adalah bangsa, jenis kelamin, hormon, pakan dan kastrasi. Selain itu, genetik ternak juga mempengaruhi laju pertumbuhan. Phillips (2001) menyatakan bahwa laju pertumbuhan dipengaruhi oleh jenis kelamin, hormon, pakan, gen, iklim dan kesehatan ternak. Perbedaan laju pertumbuhan diantara bangsa dan individu ternak dalam suatu bangsa dapat disebabkan oleh perbedaan ukuran tubuh dewasa (Soeparno, 2005). Hasnudi (2005) menyatakan bahwa pola pertumbuhan ternak tergantung pada sistem manajemen (pengelolaan) yang dipakai, tingkat nutrisi pakan yang tersedia, kesehatan dan iklim, sedangkan potensi pertumbuhan ternak dipengaruhi oleh faktor bangsa, heterosis (hybrid vigour), pakan dan jenis kelamin.

Sementara itu, Cole (1982) mengungkapkan bahwa laju pertumbuhan bobot badan ditentukan oleh beberapa faktor antara lain potensi pertumbuhan dari masing-masing individu ternak dan pakan yang tersedia. Tillman et al. (1998) menyebutkan bahwa faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, pertumbuhannya akan menjadi cepat, demikian pula sebaliknya.

Pakan

Setiap hewan ternak membutuhkan unsur-unsur pakan yang memenuhi syarat. Unsur-unsur pakan yang dimaksud meliputi protein, karbohidrat, lemak,

(19)

7 mineral, vitamin dan air. Tubuh hewan akan mampu bertahan hidup dan kesehatannya terjamin karena setiap bahan baku pakan mengandung sejumlah energi yang dapat memenuhi kebutuhan hidup pokok dan penambahan bobot badan.

Kebutuhan pakan untuk menjaga integritas jaringan tubuh dan mencukupi kebutuhan energi untuk proses esensial organisme hidup disebut dengan kebutuhan untuk hidup pokok. Apabila kebutuhan hidup pokok tidak terpenuhi dari pakan, maka kebutuhan tersebut dipenuhi dari degradasi jaringan (Tillman et al., 1998).

Kebutuhan pakan disesuaikan dengan jenis ternak, umur dan tingkat produksi. Konsumsi bahan kering (BK) pakan ditentukan oleh ukuran tubuh, macam ransum, umur dan kondisi ternak. Menurut Tillman et al. (1998), kebutuhan bahan kering pakan yang disarankan untuk sapi pedaging adalah antara 2,5%-3,0% dari bobot badan. Parakkasi (1999) menyebutkan bahwa jumlah konsumsi BK pakan dipengaruhi beberapa variabel yang meliputi palatabilitas, jumlah pakan yang tersedia dan komposisi kimia serta kualitas bahan pakan. Komposisi pakan, kondisi hewan dan faktor pemberian pakan dapat mempengaruhi kecernaan pakan (McDonald et al., 2002).

Jerami Padi

Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan pakan pada saat kekurangan pakan hijauan, karena produksinya yang melimpah di seluruh Indonesia. Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak ruminansia telah umum dilakukan di daerah tropik dan subtropik terutama pada musim kemarau. Pemanfaatan jerami padi untuk pakan ternak di Indonesia berkisar antara 31-39% dan sebagian besar dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai pupuk (36-62%) serta sisanya antara 7-16% digunakan untuk keperluan industri (Sukria dan Krisnan, 2009).

Jerami padi sebagai pakan ternak masih terbatas pemanfaatannya karena hanya berperan sebagai bulk dan menggantikan tidak lebih dari 25% kebutuhan ternak terhadap rumput (Sutardi, 1980). Menurut Drake et al. (2002), tantangan dalam penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak adalah kurangnya palatabilitas, memiliki nilai kecernaan yang rendah, rendah protein dan kandungan silika yang tinggi.

(20)

8 Jerami padi mempunyai nilai nutrisi yang rendah karena hanya memiliki daya cerna sebesar 20,97% untuk kecernaan bahan kering (KCBK) dan 20,1% untuk kecernaan bahan organik (KCBO) (Selly, 1994). Jerami padi harus mendapatkan suplementasi berupa N (protein), energi dan beberapa mineral serta vitamin apabila digunakan untuk tujuan berproduksi pada ternak (Tillman et al., 1998).

Suplementasi

Suplementasi merupakan proses penambahan pakan yang berasal dari zat gizi seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Suplementasi dilakukan untuk memperbaiki keseimbangan nutrisi seperti energi, protein, vitamin dan mineral, mengurangi defisiensi protein by-pass, meningkatkan efisiensi pencernaan pakan dalam lambung ternak ruminansia, meningkatkan produksi dan perbaikan kinerja reproduksi serta memperbaiki nilai gizi pakan (BATAN, 2005).

Suplemen Kaya Nutrien (SKN) telah dikembangkan oleh IPB yang merupakan perkembangan dari Suplemen Pakan Multinutrien (SPM). Hasil penelitian Wahyuni (2008) dan Sulistiyo (2008), menunjukkan bahwa penggunaan 10% SKN dalam ransum dapat meningkatkan konsentrasi VFA, konsentrasi NH3, persentase DBK, persentase DBO, dan biomasa mikroba. Peningkatan tersebut merupakan tanda bahwa SKN dapat meningkatkan kualitas ransum sehingga dapat dicerna dalam tubuh ternak. SKN yang dikembangkan pada penelitian ini merupakan SKN dengan menggunakan bahan baku yang tersedia di Kabupaten Rembang.

Ransum Komplit

Ransum adalah total bahan makanan yang diberikan kepada hewan dalam jangka waktu 24 jam. Ransum komplit merupakan pakan yang cukup gizi untuk hewan tertentu, dibentuk atau dicampur dari berbagai jenis pakan untuk diberikan sebagai satu-satunya makanan yang memenuhi kebutuhan pokok atau produksi, atau keduanya tanpa tambahan bahan atau substansi lain kecuali air (Tillman et al., 1998).

Ransum komplit dibentuk dari campuran ransum total dengan cara menimbang dan menyatukan semua bahan-bahan pakan yang dapat menyediakan kecukupan nutrien sapi. Ensminger et al. (1990) menyatakan bahwa ransum yang sempurna harus mengandung zat-zat gizi yang seimbang, disukai ternak dan dalam bentuk yang mudah dicerna oleh saluran pencernaan.

(21)

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di usaha peternakan rakyat yang terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pelaksanaan penelitian dilakukan mulai pertengahan Agustus 2010 hingga akhir September 2010.

Materi Ternak

Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi PO betina sebanyak 16 ekor, umur 2-6 tahun dengan kisaran bobot badan awal sebesar 240,25-338,56 kg.

Kandang

Kandang yang digunakan adalah kandang individu dengan kapasitas 16 ekor.

Kandang ini beratapkan asbes dengan tipe shade, berdinding tembok dan lantai dibuat dari semen.

Pakan dan Minum

Pakan yang diberikan adalah pakan yang berbasis jerami padi. Bahan pakan lain yang digunakan terdiri atas dedak padi, tepung ikan, tepung daun lamtoro, tepung daun singkong, tepung daun turi, molases, campuran mineral dan minyak kelapa. Air minum disediakan dalam bak minum.

Peralatan

Peralatan yang digunakan adalah timbangan pakan, tongkat ukur dan pita ukur.

Prosedur

Sapi-sapi yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi empat kelompok dan setiap kelompok terbagi ke dalam empat perlakuan. Pemberian pakan dilakukan berdasarkan bahan kering sebesar 3,5% bobot badan sapi. Pakan yang diberikan pada waktu pagi, siang dan sore hari. Pemberian minum dilakukan ad libitum. Pemeliharaan ternak dilakukan secara intensif yang berlangsung selama 40 hari (terdiri dari: 15 hari masa adaptasi dan 25 hari masa evaluasi pertumbuhan).

(22)

10 Percobaan penelitian ini menggunakan empat taraf perlakuan yaitu:

1. R1 adalah pemberian jerami padi tanpa penambahan konsentrat.

2. R2 adalah pemberian jerami padi dengan penambahan 2 kg dedak padi.

3. R3 adalah pemberian jerami padi dengan penambahan 2 kg dedak padi dan 0,4 kg suplemen kaya nutrien. Suplemen kaya nutrien terdiri dari: 10%

tepung ikan, 60% dedak padi, 15% tepung daun singkong, 9% tepung daun lamtoro, 5% tepung daun turi dan 1% campuran mineral.

4. R4 adalah pemberian ransum komplit. Ransum komplit terdiri dari: 40%

jerami padi dan 60% konsentrat (8,5% tepung ikan, 30,5% dedak padi, 5,7%

tepung daun singkong, 3% tepung daun lamtoro, 0,3% tepung daun turi, 10%

molases, 1% campuran mineral dan 1% minyak kelapa).

Peubah yang Diamati Konsumsi Bahan Kering

Konsumsi bahan kering (kg/ekor/hari) dihitung berdasarkan selisih antara jumlah pemberian pakan dengan sisa pakan yang kemudian dikalikan dengan kandungan bahan kering pakan.

Pertambahan Bobot Badan Harian

Pertambahan bobot badan harian (kg/hari) dihitung berdasarkan bobot badan akhir dikurangi bobot badan awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.

Sapi PO betina sebanyak 16 ekor diestimasi bobot badan awal dan akhir dengan menggunakan rumus Schoorl (Williamson dan Payne, 1986), yaitu sebagai berikut:

(LD + 22)2 BB =

100 Keterangan :

BB = Bobot Badan (kg) LD = Lingkar Dada (cm)

(23)

11 Peubah Tubuh :

1. Panjang badan (cm), diukur dari sendi bahu (humerus) sampai tulang duduk (tuber ischii) dengan menggunakan tongkat ukur.

2. Lingkar dada (cm), diukur melingkar pada bagian dada di belakang kaki depan dengan menggunakan pita ukur.

3. Tinggi pundak (cm), diukur di titik tertinggi pundak tegak lurus sampai ke tanah dengan menggunakan tongkat ukur.

4. Lebar dada (cm), diukur dari tonjolan sendi bahu (os scapula) kiri sampai tonjolan sendi bahu (os scapula) kanan dengan menggunakan tongkat ukur.

5. Dalam dada (cm), diukur dari pundak sampai dasar dada tepat di belakang kaki depan dengan menggunakan tongkat ukur.

Pengukuran peubah tubuh yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 1.

Keterangan :

PB : Panjang Badan (cm) LD : Lingkar Dada (cm) TP : Tinggi Pundak (cm) DD : Dalam Dada (cm) LeD : Lebar Dada (cm)

Gambar 1. Pengukuran Peubah Tubuh Pertambahan Panjang Badan Harian

Pertambahan panjang badan harian (cm/hari) dihitung berdasarkan panjang badan akhir dikurangi panjang badan awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.

(24)

12 Pertambahan Lingkar Dada Harian

Pertambahan lingkar dada harian (cm/hari) dihitung berdasarkan lingkar dada akhir dikurangi lingkar dada awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.

Pertambahan Tinggi Pundak Harian

Pertambahan tinggi pundak harian (cm/hari) dihitung berdasarkan tinggi pundak akhir dikurangi tinggi pundak awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.

Pertambahan Lebar Dada Harian

Pertambahan lebar dada harian (cm/hari) dihitung berdasarkan lebar dada akhir dikurangi lebar dada awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.

Pertambahan Dalam Dada Harian

Pertambahan dalam dada harian (cm/hari) dihitung berdasarkan dalam dada akhir dikurangi dalam dada awal dibagi dengan jumlah hari pemeliharaan.

Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat kelompok bobot badan awal. Unit percobaan yang diamati adalah sapi PO betina. Perlakuan yang diberikan pada unit percobaan sebanyak empat taraf perlakuan yaitu:

R1 = 100 % pemberian pakan jerami padi.

R2 = R1 + 2 kg dedak padi.

R3 = R2 + 0,4 kg suplemen kaya nutrien.

R4 = pemberian ransum komplit

Penelitian ini menggunakan empat kelompok bobot badan awal yang berbeda yaitu:

K1 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 1-4 yang memiliki rataan kelompok sebesar 335,81 ± 1,84 kg.

K2 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 5-8 yang memiliki rataan kelompok sebesar 320,86 ± 3,06 kg.

K3 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 9-12 yang memiliki rataan kelompok sebesar 297,19 ± 9,48 kg.

K4 = empat sapi dengan bobot badan awal tertinggi peringkat 13-16 yang memiliki rataan kelompok sebesar 262,63 ± 16,17 kg.

(25)

13 Model rancangan percobaannya berdasarkan Steel dan Torie (1991) adalah:

Yij = µ + αi + βj + εij

Dimana: i = Perlakuan R1, R2, R3, R4 j = Kelompok K1, K2, K3, K4 Keterangan:

Yij = Respon pengaruh faktor pemberian pakan terhadap sapi PO betina pada taraf perlakuan ke-i dan kelompok ke-j

µ = Nilai rataan umum

αi = Pengaruh perlakuan pemberian pakan ke-i βj = Pengaruh kelompok ke-j

ij = Pengaruh galat percobaan

Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA) software MINITAB 14. Pengaruh perlakuan yang nyata pada penelitian ini dilanjutkan dengan uji Tukey (Steel dan Torie, 1991).

(26)

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

Kabupaten Rembang terletak di ujung Timur laut Propinsi Jawa Tengah yang dilalui jalan Pantai Utara Jawa (Jalur Pantura), pada garis koordinat 111°,000'- 111°,030' Bujur Timur dan 6°,030'-7°,06' Lintang Selatan. Secara umum kondisi tanah berdataran rendah dengan ketinggian wilayah maksimum kurang lebih 70 m di atas permukaan air laut dengan suhu maksimum sebesar 33 °C dan suhu rata-rata sebesar 23 °C. Kabupaten Rembang memiliki curah hujan rendah yaitu sebesar 1252 mm/tahun yang mengalami bulan basah selama 4-5 bulan, sedangkan selebihnya termasuk kategori bulan sedang sampai kering. Secara administratif Kabupaten Rembang memiliki 14 kecamatan, 287 desa dan 7 kelurahan yang memiliki luas wilayah meliputi 101.408 ha (Pemerintah Kabupaten Rembang, 2010).

Pemerintah Kabupaten Rembang (2010) menyatakan bahwa Kabupaten Rembang merupakan daerah/kawasan sentra produksi, sumber bibit dan bakalan sapi potong di Jawa Tengah dengan populasi sebanyak 93.329 ekor pada tahun 2003, sedangkan pada tahun 2009 populasi sapi potong mencapai 115.220 ekor. Bangsa sapi potong yang ada yaitu Peranakan Ongole (PO), American Ongole, Brahman, Simmental dan Limousine.

Kabupaten Rembang juga merupakan daerah sentra produksi tanaman padi di

Jawa Tengah. Tanaman padi relatif tersebar di seluruh kecamatan dengan sentra

utama di Kecamatan Kaliori, Sumber dan Rembang. Produksi tanaman padi di

Kabupaten Rembang pada tahun 2009 mencapai 202.162 ton (Pemerintah Kabupaten

Rembang, 2010). Produksi tanaman padi yang cukup tinggi ini memungkinkan

tingginya by product dari hasil produksi tanaman padi berupa jerami padi dan dedak

padi. Hal ini menyebabkan peternak sapi potong rakyat di Kabupaten Rembang

menjadikan jerami padi dan dedak padi sebagai pakan utama untuk usaha pembibitan

maupun penggemukkan, karena ketersediaannya yang melimpah. Hal yang sama

terjadi di lokasi penelitian ini yang menjadikan jerami padi dan dedak padi sebagai

pakan utama yang diberikan untuk ternak sapi potongnya.

(27)

15 Keadaan Sapi Penelitian

Sapi-sapi yang digunakan pada penelitian ini adalah sapi-sapi betina dari usaha pembibitan sapi potong rakyat kelompok tani yang diketuai oleh Bapak Ahmad Zain. Peternakan tersebut terletak di Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Kandang yang digunakan pada peternakan ini adalah kandang individu tanpa sekat, kapasitas 16 ekor dengan ukuran kandang per-individu sebesar 2,5 m x 1,5 m (Gambar 2). Kandang ini beratapkan asbes tipe shade, berdinding tembok dan lantai dibuat dari semen dengan kemiringan 10°.

(a) (b)

Gambar 2. Kandang Penelitian, (a) Kandang Penelitian Individu, (b) Bak Pakan dan Bak Minum

Sapi-sapi tersebut biasa diberi pakan berupa jerami padi secara ad libitum dengan penambahan dedak padi sebanyak 2 kg/ekor/hari (Gambar 2). Pemberian pakan diberikan pada pagi, siang dan sore hari pada peternakan ini.

(a) (b)

Gambar 3. Kondisi Tubuh Sapi Penelitian, (a) Sapi R3K4 Tampak Samping, (b) Sapi R2K2 Tampak Belakang

Rata-rata bobot badan sapi-sapi tersebut adalah sebesar 304,12 kg (Tabel 1)

dengan umur berkisar 2-6 tahun (Tabel 2). Kondisi tubuh sapi-sapi (Gambar 3)

tersebut bernilai 1 (sangat kurus) dimana dideskripsikan bahwa lemak tidak ada di

(28)

16 sekitar pangkal ekor, tulang pinggul, pangkal ekor dan tulang rusuk secara visual terlihat jelas (Rutter et al., 2000). Berikut ini adalah data mengenai bobot badan awal dan umur sapi-sapi penelitian.

Tabel 1. Bobot Badan Awal Sapi PO Betina Penelitian (kg)*

Kelompok Perlakuan

Rataan Simpangan Baku

R1 R2 R3 R4

K1 334,89 334,89 334,89 338,56 335,81 1,84

K2 322,20 320,41 316,84 324,00 320,86 3,06

K3 289,00 304,50 306,25 289,00 297,19 9,48

K4 265,69 278,89 240,25 265,69 262,63 16,17

Rataan 302,94 309,67 299,56 304,31 304,12 29,78

Simpangan

Baku 31,48 23,98 41,27 33,1 29,78

Keterangan : *Bobot badan dihitung berdasarkan rumus Schoorl (Williamson dan Payne, 1986) Bobot badan (kg) =

R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit

K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14

Tabel 2. Umur Sapi PO Betina Penelitian

Kelompok Perlakuan

R1 R2 R3 R4

K1 I4 (3,5-4 tahun) I4 (3,5-4 tahun) I1 Aus (6 tahun) I4 (3,5-4 tahun) K2 I4 (3,5-4 tahun) I4 (3,5-4 tahun) I4 Gesek(5 tahun) I4 Gesek(5 tahun) K3 I2 (2,5-3 tahun) I1 Aus (6 tahun) I4 Gesek(5 tahun) I4 (3,5-4 tahun) K4 I1 (2-2,5 tahun) I4 (3,5-4 tahun) I4 (3,5-4 tahun) I1 (2-2,5 tahun) Keterangan : Pendugaan umur sapi melalui pergantian gigi berdasarkan Abrianto (2010)

R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit

K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14

Umur sapi-sapi penelitian tersebut diestimasi melalui pergantian gigi

(Abrianto, 2010). Sapi-sapi penelitian ini telah mengalami pergantian gigi pada I

1

, I

2

dan I

4

(Tabel 2). I

1

menandakan bahwa satu pasang gigi seri telah berganti menjadi

gigi tetap yang diperkirakan telah berumur 2-2,5 tahun. I

2

menandakan bahwa dua

pasang gigi seri telah berganti menjadi gigi tetap yang diperkirakan telah berumur

2,5-3 tahun. I

4

menandakan bahwa empat pasang gigi seri telah berganti semua

menjadi gigi tetap yang diperkirakan telah berumur 3,5-4 tahun. I

4

Gesek

(29)

17 menandakan bahwa ada gesekan yang terjadi pada empat pasang gigi tetap yang diperkirakan telah berumur 5 tahun. I

1

Aus menandakan bahwa ada satu pasang gigi tetap mengalami aus separuh lidah yang diperkirakan telah berumur 6 tahun.

Sapi-sapi penelitian ini dikelompokkan berdasarkan bobot badan awal. Ada sapi penelitian yang berumur lebih tua, tetapi memiliki bobot badan awal yang lebih rendah sehingga ada sapi yang lebih tua masuk ke dalam kelompok bobot badan yang berperingkat lebih rendah. Sebagaimana yang terjadi pada sapi R2K3 berumur 6 tahun masuk ke dalam kelompok K3 yang berbobot badan awal lebih rendah (Tabel 2).

Performa sapi-sapi penelitian ini perlu ditingkatkan, karena jika sapi-sapi betina tersebut menjadi induk, bobot badan induk sapi PO saat melahirkan akan mempengaruhi bobot lahir pedet. Sebagaimana yang dikemukakan dalam penelitian Hartati dan Dicky (2008) bahwa bobot induk sapi PO saat melahirkan berpengaruh nyata terhadap bobot lahir pedet.

Keadaan Pakan Penelitian

Bahan pakan yang digunakan pada penelitian ini merupakan bahan pakan yang didapatkan dari daerah sekitar Kabupaten Rembang. Kandungan nutrien bahan pakan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat selengkapnya pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Proximat Sampel Bahan Pakan yang Digunakan

Kandungan

Nutrien Jerami Padi 1 Dedak Padi 1 SKN 2 Konsentrat dalam R4 2

BK (%) 37,99 91,00 78,74 77,91

Abu (% BK) 17,40 16,90 15,42 19,35

PK (% BK) 4,21 8,36 14,62 15,17

LK (% BK) 1,44 3,97 5,96 4,45

SK (% BK) 32,50 28,90 22,10 22,83

Beta-N(% BK) 44,45 41,87 41,90 38,19

Ca (% BK) 0,42 0,14 1,92 3,64

P (% BK) 0,28 0,90 0,25 0,30

Sumber : 1 Sutardi (1980)

2 Hasil analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Perah (2011)

Keterangan : BK = Bahan Kering; PK = Protein Kasar; LK = Lemak Kasar; SK = Serat Kasar Beta-N (Bahan ekstrak tanpa nitrogen = 100% - (kadar Abu + PK + SK + LK) SKN (Suplemen Kaya Nutrien); R4 = ransum komplit

(30)

18 Jerami padi yang digunakan pada penelitian ini memiliki kadar protein kasar (PK) sebesar 4,21% dan serat kasar (SK) sebesar 32,5% (Tabel 3). Jerami padi tersebut didapatkan dari daerah Kecamatan Kaliori dan Pamotan. Dedak padi yang digunakan dalam penelitian ini adalah dedak kasar yang memiliki kadar PK sebesar 8,36% dan SK sebesar 28,9%, didapatkan dari daerah Tuban bersama bahan pakan lain penyusun SKN (Suplemen Kaya Nutrien) dan ransum komplit seperti tepung ikan, campuran mineral dan molases.

Daun singkong, lamtoro dan turi didapatkan dari daerah Pati. Ketiga daun tersebut kemudian dibuat menjadi tepung untuk memudahkan dalam pencampuran bahan pakan penyusun SKN dan konsentrat dalam ransum komplit, karena secara struktural akan tergolong homogen. Selain itu, tujuan penepungan daun-daun tersebut adalah untuk mengurangi zat anti nutrisi yang secara alami terdapat dalam daun singkong, lamtoro dan turi.

SKN yang digunakan pada penelitian ini memiliki kadar PK sebesar 14,62%

dan SK sebesar 22,1% (Tabel 3). SKN ini berbentuk tepung dengan warna dominan kehijauan (Gambar 4a). SKN ini disusun dengan target penyusunan PK > 14% dan TDN (Total Digestible Nutrient) sebesar 65-70%. SKN diberikan sebanyak 0,4 kg atau 400 gram atas dasar pertimbangan ekonomis.

Ransum komplit pada penelitian ini tersusun atas 40% jerami padi dan 60%

konsentrat (8,5% tepung ikan, 30,5% dedak padi, 5,7% tepung daun singkong, 3%

tepung daun lamtoro, 0,3% tepung daun turi, 10% molases, 1% campuran mineral

dan 1% minyak kelapa). Konsentrat pada ransum komplit ini berbentuk tepung

dengan warna coklat kehijauan (Gambar 4b). Konsentrat pada ransum komplit ini

memiliki kadar PK sebesar 15,17% dan SK sebesar 22,83% (Tabel 3). Target

penyusunan ransum komplit ini adalah memiliki PK > 11% dan TDN > 60%.

(31)

19 (a) (b)

Gambar 4. Bahan Pakan yang Digunakan, (a) Suplemen Kaya Nutrien, (b) Konsentrat pada R4

R1 merupakan kontrol dalam penelitian ini, jerami padi digunakan karena bahan pakan ini sangat melimpah di daerah peternakan tersebut. R2 merupakan ransum yang biasa digunakan peternak. R3 diberikan ke ternak percobaan untuk mengetahui pengaruh suplementasi protein terhadap ransum yang biasa digunakan oleh peternak. R4 digunakan sebagai kontrol positif yaitu berupa ransum komplit yang diformulasikan sehingga memenuhi kebutuhan ternak. Kandungan nutrien pada pakan perlakuan dapat dilihat selengkapnya pada Tabel 4.

Tabel 4. Kandungan Nutrien Pakan Perlakuan (%)*

Kandungan Nutrien

Perlakuan

R1 R2 R3 R4

BK (%) 37,99 50,44 52,05 60,44

Abu (% BK) 17,40 17,19 17,08 18,75

PK (% BK) 4,21 5,92 6,48 11,80

LK (% BK) 1,44 2,48 2,71 3,52

SK (% BK) 32,50 31,02 30,44 25,80

Beta-N (% BK) 44,45 43,39 43,30 40,12

TDN 1) (% BK) 59,57 57,29 57,87 48,53

Ca (% BK) 0,42 0,30 0,41 2,65

P (% BK) 0,28 0,54 0,52 0,29

Keterangan : *Perhitungan berdasarkan data Sutardi (1980) dan hasil analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Perah (2011)

1) Perhitungan TDN (Total Digestible Nutrient) berdasarkan Sutardi (1980)

TDN (% BK) = 100%

PKt = Protein Kasar tercerna; SKt = Serat Kasar tercerna; LKt = Lemak Kasar tercerna Beta-Nt = Bahan ekstrak tanpa nitrogen tercerna

BK = Bahan Kering; PK = Protein Kasar; LK = Lemak Kasar; SK = Serat Kasar Beta-N (Bahan ekstrak tanpa nitrogen) = 100% - (kadar Abu + PK + SK + LK) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi

R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit

(32)

20 Konsumsi Bahan Kering

Menurut Parakkasi (1999), konsumsi adalah faktor esensial yang merupakan dasar untuk hidup dan produksi. Kemampuan sapi mengkonsumsi pakan sangat terbatas. Keterbatasan itu dipengaruhi oleh keadaan fisiologis ternak, keadaan pakan dan faktor luar, seperti suhu dan kelembaban udara.

Tabel 5. Rataan Konsumsi Bahan Kering (kg/ekor/hari)

Kelompok Perlakuan

R1 R2 R3 R4

K1 3,74 4,60 4,96 7,28

K2 4,20 4,49 4,37 6,17

K3 2,92 4,26 4,64 5,79

K4 3,24 4,31 5,08 5,13

Rataan 3,52

a

4,42

ab

4,76

b

6,09

c

Simpangan

Baku 0,56 0,16 0,32 0,90

Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan hasil sangat beda nyata (P<0,01) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi

R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit

K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14

Hasil penelitian pada Tabel 5 menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi ini berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap rataan konsumsi bahan kering (BK). Konsumsi BK pada R1 tidak berbeda nyata dengan R2, tetapi konsumsi BK R2 tidak berbeda nyata dengan R3. Konsumsi BK pada R4 nyata lebih tinggi daripada R3, R2 dan R1.

Perbaikan pakan berbasis jerami padi ini mengakibatkan konsumsi BK meningkat. Pemberian ransum komplit (R4) nyata lebih meningkatkan konsumsi BK.

Hal ini disebabkan palatabilitas dan kualitas bahan pakan yang tinggi pada R4.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Parakkasi (1999) bahwa jumlah konsumsi BK

pakan dipengaruhi beberapa variabel meliputi palatabilitas, jumlah pakan yang

tersedia dan komposisi kimia serta kualitas bahan pakan. Palatabilitas merupakan

gambaran sifat bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptik seperti

penampakan, bau, rasa, tekstur dan temperaturnya sehingga menimbulkan

rangsangan dan daya tarik ternak untuk mengkonsumsinya. Ketersediaan zat

(33)

21 makanan yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi yang normal harus mendapatkan perhatian khusus. Suplementasi protein pada bahan pakan yang rendah protein akan meningkatkan konsumsi dari bahan pakan tersebut.

Tillman et al. (1998) menyatakan bahwa pemberian konsentrat pada ternak bertujuan untuk meningkatkan daya cerna pakan secara keseluruhan. Semakin banyak konsentrat yang dapat dicerna, arus pakan dalam saluran pencernaan menjadi lebih cepat sehingga meningkatkan pengosongan rumen dan menimbulkan sensasi lapar pada ternak, akibatnya memungkinkan ternak untuk mengkonsumsi pakan lebih tinggi. Van Soest (2006) mengungkapkan bahwa suplementasi yang diberikan pada jerami padi dapat meningkatkan konsumsi pakan seperti yang terjadi pada penelitian Djajanegara dan Doyle (1989) dan Warly et al. (1992).

National Research Council (1984) menyebutkan bahwa kebutuhan hidup pokok untuk heifer dengan bobot badan 300 kg membutuhkan konsumsi BK minimal sebesar 4,5 kg/ekor/hari. Sementara itu, jika heifer tersebut diprogramkan untuk PBBH sebesar 0,25 kg/hari, maka kebutuhan konsumsi BK minimal sebesar 6,2 kg/ekor/hari.

Performa Produksi

Performa seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan pengaruh kumulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak tersebut sejak terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Hardjosubroto (1990) dan Gunawan et al. (2008) menyatakan bahwa faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak, sedangkan faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya.

Performa seekor ternak dapat dilihat dari bobot badan, laju pertumbuhan dan ukuran- ukuran tubuh. Performa produksi yang diamati pada penelitian ini adalah pertambahan bobot badan harian dan beberapa peubah tubuh.

Pertambahan Bobot Badan Harian

Pertambahan bobot badan harian (PBBH) merupakan salah satu peubah untuk

mengetahui performa ternak. Laju pertumbuhan bobot badan ditentukan oleh

beberapa faktor antara lain potensi pertumbuhan dari masing-masing individu ternak

dan pakan yang tersedia (Cole, 1982). Potensi pertumbuhan dalam periode ini

dipengaruhi oleh faktor individu ternak dan jenis pakan. Tillman et al. (1998)

(34)

22 menyebutkan bahwa faktor pakan sangat menentukan pertumbuhan, bila kualitasnya baik dan diberikan dalam jumlah yang cukup, pertumbuhannya akan menjadi cepat, demikian pula sebaliknya.

Tabel 6. Performa Pertambahan Bobot Badan Harian (kg/hari)*

Kelompok Perlakuan

Rataan Simpangan Baku

R1 R2 R3 R4

K1 -0,36 0,15 0,37 0,51 0,17 0,38

K2 0,28 0,42 0,28 1,15 0,53 0,42

K3 0,27 -0,21 0,14 0,55 0,19 0,32

K4 0,06 0,82 0,42 0,40 0,42 0,31

Rataan 0,06 0,29 0,31 0,66 0,33 0,36

Simpangan

Baku 0,30 0,43 0,12 0,34 0,36

Keterangan : *Bobot badan dihitung berdasarkan rumus Schoorl (Williamson dan Payne, 1986) Bobot badan (kg) =

R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit

K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14

Astuti (2003) mengemukakan bahwa sapi PO tanggap terhadap perubahan maupun perbaikan pakan dengan menunjukkan PBBH yang berbeda-beda. Astuti (2003) menggambarkan bahwa PBBH sapi PO dewasa sangat bervariasi yaitu sebesar 0,44-0,98 kg/hari dari berbagai penelitian perubahan maupun perbaikan pakan. Hal ini menandakan bahwa pengaruh lingkungan (pemberian pakan) dapat mempengaruhi performa seekor ternak.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap PBBH (Tabel 6). Sementara itu, hasil penelitian Prihandini dan Umiyasih (2008) menunjukkan bahwa perbaikan pakan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap PBBH sapi PO betina dewasa selama 2 bulan pemeliharaan. Hal ini disebabkan lama pemeliharaan yang relatif singkat (25 hari masa evaluasi pertumbuhan) pada penelitian ini sehingga keragaman laju pertumbuhan bobot badan yang ditampilkan tidak nyata.

Prihandini dan Umiyasih (2008) menggunakan dua taraf pelakuan pakan pada

penelitiannya, yaitu pakan A dan pakan B yang diujikan pada 26 ekor sapi PO betina

(35)

23 dengan rataan umur 2 tahun. Pakan A adalah perbaikan pakan yang berupa pemberian konsentrat dan suplemen mineral dari pakan B. Pakan B adalah pemberian pakan berupa pucuk tebu, rumput lapang, limbah pisang, daun gamal, rumput gajah, tebon kering, daun sengon dan dedak. PBBH pada perlakuan A adalah sebesar 0,59 kg/hari, sedangkan PBBH pada perlakuan B sebesar 0,34 kg/hari. Hal ini menandakan bahwa PBBH yang optimal dapat diperoleh dengan perbaikan pakan.

Tidak optimalnya pertumbuhan sapi yang terjadi pada perlakuan perbaikan pakan (R3 dan R4) dapat disebabkan faktor umur. Ada sapi yang berumur lebih tua secara acak mendapatkan perlakuan pakan yang memiliki kandungan nutrien yang lebih baik (R3 dan R4), tetapi tidak menghasilkan PBBH yang lebih baik.

Sebaliknya, ada sapi yang berumur lebih muda secara acak mendapatkan perlakuan pakan yang memiliki kandungan nutrien yang tidak lebih baik (R1 dan R2), tetapi menghasilkan PBBH yang lebih baik. Perbedaan performa PBBH ini lebih disebabkan faktor umur dimana umur yang lebih muda akan tumbuh lebih cepat.

Sebagaimana yang terjadi pada sapi R3K3 berumur 5 tahun (Tabel 2) menghasilkan PBBH sebesar 0,14 kg/hari lebih rendah daripada sapi R1K3 berumur 2,5-3 tahun (Tabel 2) dengan PBBH sebesar 0,27 kg/hari. Hal ini dapat mengakibatkan tidak adanya pengaruh perlakuan perbaikan pakan yang disebabkan tidak optimalnya pertumbuhan pada sapi-sapi tua.

Pertambahan negatif terjadi pada sapi R1K1 dan R2K3. Hal ini disebabkan konsumsi dan kandungan nutrien pada R1 dan R2 tidak mencukupi kebutuhan hidup pokok sapi R1K1 dan R2K3 sehingga terjadi degradasi jaringan yang akan mengakibatkan turunnya bobot badan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Tillman et al. (1998) bahwa apabila kebutuhan hidup pokok tidak terpenuhi oleh pakan maka kebutuhan tersebut dipenuhi dari degradasi jaringan.

Zain et al. (2009) menyatakan bahwa jerami padi dapat dioptimalisasikan dengan baik apabila dilakukan perlakuan amoniasi pada jerami padi yang ditambahkan dengan konsentrat dan diberi suplementasi. Lebih lanjut yang diungkapkan Zain et al. (2009) bahwa pemberian 30% jerami padi amoniasi + 70%

konsentrat (39% dedak padi, 50% bungkil kelapa, 10% ampas tahu, 0,4% garam dan

0,6% mineral mix) + suplemen (ubi kayu, fosfor dan sulfur) dapat meningkatkan

PBBH hingga mencapai 0,67 kg/hari pada sapi pesisir jantan.

(36)

24 National Research Council (1984) menyebutkan bahwa kebutuhan hidup pokok untuk heifer dengan bobot badan 300 kg adalah PK minimal sebesar 7,8% dan TDN minimal sebesar 57%. Sementara itu, jika kebutuhan PK dalam pakan diberikan melebihi 11,1% maka PBBH sapi tersebut dapat mencapai angka di atas 0,75 kg/hari.

Hal ini menandakan bahwa PBBH dipengaruhi oleh total protein yang diberikan ternak sapi setiap hari.

Peubah Tubuh

Peubah tubuh merupakan ukuran-ukuran yang dapat dilihat pada permukaan tubuh sapi, antara lain tinggi pundak, panjang badan, lebar dada, dalam dada dan lingkar dada (Natasasmita dan Mudikdjo, 1980; Ningsih, 2011). Setiap komponen tubuh mempunyai kecepatan pertumbuhan yang berbeda-beda, karena pengaruh alam maupun lingkungan (Otsuka et al., 1982; Tazkia, 2008).

Panjang badan. Panjang badan merupakan salah satu ukuran yang sering digunakan untuk menilai ternak sapi potong. Panjang badan berkaitan erat dengan pertumbuhan tulang. Johansson dan Rendel (1968) menyatakan bahwa pertumbuhan panjang badan dipengaruhi oleh pertumbuhan kerangka tulang dan genetik. Posisi sapi ketika diukur berpengaruh terhadap pengukuran panjang badan (Herman, 1985).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan pakan berbasis jerami padi

ini tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap performa panjang badan dan

pertambahan panjang badan harian (Tabel 7). Performa panjang badan akhir

penelitian dan pertambahan panjang badan harian yang terjadi pada sapi PO betina

dewasa umur 2-6 tahun dalam penelitian ini masing-masing sebesar 124,75 cm dan

0,13 cm/hari (Tabel 7). Pertambahan negatif terjadi pada sapi R2K1, R3K3, R3K4

dan R4K4 yang dapat diakibatkan oleh posisi sapi ketika diukur pada suatu waktu

tidak dalam posisi lurus yang baik.

(37)

25 Tabel 7. Performa Panjang Badan Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian

(cm/hari)

Kelompok Perlakuan

Rataan Simpangan Baku

R1 R2 R3 R4

Panjang Badan Akhir

K1 127 123 135 125 127,5 5,26

K2 122 126 125 129 125,5 2,89

K3 122 132 129 125 127 4,40

K4 115 118 122 121 119 3,16

Rataan 121,5 124,75 127,75 125 124,75 5,04

Simpangan

Baku 4,93 5,85 5,62 3,27 5,04

Pertambahan Panjang Badan Harian

K1 0 -0,2 0,24 0,44 0,12 0,28

K2 0 0,28 0,16 0,56 0,25 0,24

K3 0,52 0 -0,08 0 0,11 0,28

K4 0,2 0,32 -0,12 -0,2 0,05 0,25

Rataan 0,18 0,1 0,05 0,2 0,13 0,24

Simpangan

Baku 0,24 0,24 0,18 0,36 0,24

Keterangan : R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit

K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14

Lingkar dada. Lingkar dada merupakan ukuran tubuh yang paling sering digunakan untuk menilai sapi potong. Lingkar dada berkaitan erat dengan pertumbuhan daging dan otot bagian thorax. Johansson dan Rendel (1968) menyebutkan bahwa pertumbuhan lingkar dada dipengaruhi oleh pertumbuhan daging dan otot. Berg dan Butterfield (1976) menyatakan bahwa bagian tubuh yang paling cepat tumbuh pada sapi dewasa adalah bagian thorax dan abdominal. Herman (1985) menyatakan bahwa posisi sapi ketika diukur tidak berpengaruh terhadap pengukuran lingkar dada.

Perbaikan pakan yang diberikan pada pakan berbasis jerami padi ini

berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap lingkar dada (Tabel 8). Lingkar dada R1 nyata

lebih rendah dibandingkan R3, tetapi lingkar dada R1 dengan R2 dan R4 tidak

berbeda nyata. Lingkar dada R2, R3 dan R4 tidak berbeda nyata. Hal ini menandakan

terjadinya perbedaan performa lingkar dada yang cukup signifikan sebagai respon

terhadap perlakuan perbaikan pakan ini, namun perbaikan pakan tersebut tidak

(38)

26 berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap pertambahan lingkar dada harian (Tabel 8).

Pertambahan lingkar dada harian yang terjadi pada sapi PO betina dewasa umur 2-6 tahun dalam penelitian ini adalah rata-rata sebesar 0,09 cm/hari (Tabel 8).

Pertambahan negatif yang terjadi pada sapi R1K1 dan R2K3 dapat diakibatkan telah terjadinya degradasi jaringan pada bagian thorax. Hal ini terjadi karena konsumsi dan kandungan nutrien pada R1 dan R2 tidak mencukupi kebutuhan hidup pokok sapi R1K1 dan R2K3 sehingga terjadi degradasi jaringan.

Tabel 8. Performa Lingkar Dada Akhir Penelitian (cm) dan Pertambahan Harian (cm/hari)

Kelompok

Perlakuan

Rataan Simpangan Baku

R1 R2 R3 R4

Lingkar Dada Akhir

K1 156,5 162 165,5 163,5 161,88 3,86

K2 155 155 154,5 162 156,62 3,59

K3 148 151 157,5 153 152,38 3,99

K4 139 151 155 147 148 6,83

Rataan 149,62a 154,75ab 158,12b 156,38ab 154,72 6,80 Simpangan

Baku 7,99 5,19 5,09 7,78

Pertambahan Lingkar Dada Harian

K1 -0,1 0,04 0,1 0,14 0,04 0,1

K2 0,08 0,12 0,02 0,32 0,14 0,13

K3 0,08 -0,06 0,04 0,16 0,06 0,09

K4 0,02 0,24 0,12 0,12 0,12 0,09

Rataan 0,02 0,08 0,07 0,18 0,09 0,1

Simpangan

Baku 0,08 0,13 0,05 0,09 0,1

Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan hasil beda nyata (P<0,05) R1= 100% jerami padi; R2= R1 + 2 kg dedak padi

R3= R2 + 0,4 kg SKN; R4= ransum komplit

K1= bobot badan awal tertinggi 1-4; K2= bobot badan awal tertinggi 5-8 K3= bobot badan awal tertinggi 9-12; K4= bobot badan awal tertinggi 13-14

Tinggi pundak. Tinggi pundak merupakan salah satu ukuran yang digunakan

untuk menilai ternak sapi potong. Tinggi pundak berkaitan erat dengan pertumbuhan

tulang, sebagaimana yang dikemukakan oleh Johansson dan Rendel (1968) bahwa

pertumbuhan tinggi pundak dipengaruhi oleh pertumbuhan tulang dan genetik. Posisi

sapi ketika diukur berpengaruh terhadap pengukuran tinggi pundak (Herman, 1985).

Gambar

Gambar 1.  Pengukuran Peubah Tubuh   Pertambahan Panjang Badan Harian
Gambar 2.  Kandang Penelitian, (a) Kandang Penelitian Individu, (b) Bak Pakan dan  Bak Minum
Tabel 1.  Bobot Badan Awal Sapi PO Betina Penelitian (kg)*
Tabel 3.  Hasil Analisis Proximat Sampel Bahan Pakan yang Digunakan  Kandungan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan bahwa penerapan SAK ETAP BAB 17 pada klasifikasi sewa baik itu sewa pembiayaan maupun sewa operasi mempengaruhi pencatatan serta pelaporan

PIHAK PERTAMA menyerahkan kepada PIHAK KEDUA berupa kartu sebagaimana tersebut di atas1. PIHAK KEDUA menerima kartu tersebut dan selanjutnya akan

Adapun judul Tugas Akhir ini adalah “ Tata Cara Pengajuan Restitusi Pembayaran Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Timur

Lebih lanjut, dalam RPP tentang Guru dikemukakan bahwa: “Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya

Hasil analsisi sehubungan dengan kenyataan cacat seringkali muncul karena adanya kesalahan yang disebabkan oleh proses pengelasan yang muncul saat inspeksi dilakukan, yang

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasannya, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara Kelas Eksperimen

Menurut Kartadinata, profesi guru adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan keguruan yang memadai, keahlian guru dalam melaksanakan

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, pada tahap ini proses komunikasi interpersonal yang terjadi antara penderita nomophobia dengan para sahabatnya tidak