• Tidak ada hasil yang ditemukan

Referat Xeroftalmia Dr Jannes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Referat Xeroftalmia Dr Jannes"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

REFARAT

REFARAT

Xeroftalmia

Xeroftalmia

KONSULEN PEMBIMBING: KONSULEN PEMBIMBING:

DR. MED. dr. Jannes Frits Tan, SpM DR. MED. dr. Jannes Frits Tan, SpM

DisusunOleh : DisusunOleh : L

Liia a PPrriisscciilliiaa ((0077--006699))

M

Miirra a AArrlliitta a RRaahhmmaawwaattii ((0077--007777)) R

Riidduuaan n AAddoorro o LLuummbbaan n GGaaooll ((0088--003333)) J

Jeeaannnneetttte e DDiiaanna a HHuuttaappeeaa ((0088--003355)) R

Rhheenny y GGiioovvaannnny y PPaassaarriibbuu ((0088--003366))

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA

PERIODE 14 Mei – 9 Juni 2012 PERIODE 14 Mei – 9 Juni 2012

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

JAKARTA JAKARTA

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI………...i………...i KATA PENGANTAR 

KATA PENGANTAR ………....ii………....ii BAB

BAB I I PENDAHULUANPENDAHULUAN...1...1 1.1

1.1 AnaAnatomtomi dan i dan FisFisioloiologi Mgi Mataata A.

A. AdneAdneksa Mata ....ksa Mata ...2...2 B.

B. Bola MBola Mata ...ata ...3..3 1.2

1.2 LapLapisan (Fisan (Film) Air Matilm) Air Mata ………a ……….………...7..7 1.3

1.3 PenyakPenyakit it pada pada KonjuKonjungtiva ngtiva ………...7………...7 1.4

1.4 PenPenyakyakit it padpada a KorKornea…nea……….…………...1..100 1.5

1.5 PenPenyakyakit it padpada a RetRetina……ina………..……...1..111 1.6. Vitamin

1.6. Vitamin A………..1A………..111 BAB

BAB II II TINJAUAN TINJAUAN PUSTAKAPUSTAKA 2.1. Xeroftalmia

2.1. Xeroftalmia A.

A. DefinisDefinisi………13i………13 B.

B. EtiologEtiologi………....1i………....133 C.

C. KlasifikKlasifikasi………...asi………....14.14 D. Epidemiologi………...15 D. Epidemiologi………...15 E.

E. PatofisPatofisiologi………iologi………...16………...16 F.

F. DiagnDiagnosa………..osa………...17...17 G.

G. PenatalPenatalaksanaaaksanaan………...21n………...21 H.

H. KompKomplikasi……….likasi………...24..24 BAB III DISKUSI

BAB III DISKUSI 3.1.

3.1. KesimKesimpulan ...pulan ...25...25 3.2.

(3)

KATA PENGANTAR 

KATA PENGANTAR 

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena rahmatnya kami Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa karena rahmatnya kami dapat menyelesaikan refarat dengan judul “ Xeroftalmia“ yang kami susun dalam 2 minggu ini. dapat menyelesaikan refarat dengan judul “ Xeroftalmia“ yang kami susun dalam 2 minggu ini. Refarat yang telah kami susun ini diharapkan mampu membantu setiap pembacanya untuk  Refarat yang telah kami susun ini diharapkan mampu membantu setiap pembacanya untuk  lebih mengerti mengenai gangguan tuli-bisu pada anak dan bagaimana menanganinya melalu lebih mengerti mengenai gangguan tuli-bisu pada anak dan bagaimana menanganinya melalu deteksi sedini mungkin pada anak.

deteksi sedini mungkin pada anak.

Refarat dengan judul “ Xeroftalmia “ kami awali dengan penjelasan tentang anatomi Refarat dengan judul “ Xeroftalmia “ kami awali dengan penjelasan tentang anatomi dan fisiologi mengenai mata sehubungan dengan gangguan-gangguan pada mata dan lapisan air  dan fisiologi mengenai mata sehubungan dengan gangguan-gangguan pada mata dan lapisan air  mat

mata a yanyang g terjaterjadi di padpada a paspasien ien dendengan xeroftgan xeroftalmialmia, a, kerkerja ja vitavitamin A min A padpada a matamata, , penpenyakyakit- it- penyak

 penyakit it yang umumnya pada yang umumnya pada kornekornea, a, konjukonjungtiva maupun ngtiva maupun retina, retina, dan dan mengmengenai enai xeroftaxeroftalmialmia itu sendiri.

itu sendiri.

Refarat ini kami susun berdasarkan sumber-sumber seperti buku-buku maupun Refarat ini kami susun berdasarkan sumber-sumber seperti buku-buku maupun artikel-artikel dari internet. Sumber-sumber untuk menyusun refarat ini, meskipun terbatas jumlahnya artikel dari internet. Sumber-sumber untuk menyusun refarat ini, meskipun terbatas jumlahnya dan

dan memmemilikiliki i banbanyak yak kekkekuranurangan gan daladalam m penpenyusyusunaunannynnya a namnamun un kamkami i haraharapkapkan n mammampupu me

menjanjababarkrkan an dadan n memenjenjelaslaskakan n dedengngan an babaik ik halhal-ha-hal l pepentinting ng yayang ng patpatut ut ununtutuk k didikeketahtahuiui mengenai gangguan tuli-bisu.

mengenai gangguan tuli-bisu.

Demikian refarat ini telah kami susun, apabila ada kesalahan kami mohon maaf dan Demikian refarat ini telah kami susun, apabila ada kesalahan kami mohon maaf dan kami harapkan kritik dan saran dari para pembaca sehingga refarat ini dapat menjadi lebih baik  kami harapkan kritik dan saran dari para pembaca sehingga refarat ini dapat menjadi lebih baik  lagi, demikian kami sampaikan dan terima kasih.

lagi, demikian kami sampaikan dan terima kasih.

Salam Sejahtera Salam Sejahtera

Penyusun Penyusun

(4)

BAB I

BAB I

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN

Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia Kurang Vitamin A (KVA) masih merupakan masalah yang tersebar di seluruh dunia teru

terutamtama a di di negnegara ara berberkemkembanbang g dan dapat dan dapat terjterjadi adi padpada a semsemua ua umuumur r teruterutama tama padpada a masmasaa  pertumb

 pertumbuhan. KVA dalam tubuh dapat menimbuhan. KVA dalam tubuh dapat menimbulkan berbagulkan berbagai jenis ai jenis penyapenyakit yang merupakankit yang merupakan  Nutrition

 Nutrition Related Related DiseasesDiseases yang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dariyang dapat mengenai berbagai macam anatomi dan fungsi dari organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel organ tubuh seperti menurunkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan epitelisme sel-sel kulit. Salah satu dampak kurang vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi kulit. Salah satu dampak kurang vitamin A adalah kelainan pada mata yang umumnya terjadi  pada

 pada anak anak usia usia 6 6 bulan bulan - - 4 4 tahun tahun yang yang menjadmenjadi i penyepenyebab bab utama utama kebutkebutaan aan di di negaranegara  berkem

 berkembang.bang.

KVA pada anak biasanya terjadi pada anak yang menderita Kurang Energi Protein KVA pada anak biasanya terjadi pada anak yang menderita Kurang Energi Protein (KEP) atau Gizi buruk sebagai akibat asupan zat gizi sangat kurang, termasuk zat gizi mikro (KEP) atau Gizi buruk sebagai akibat asupan zat gizi sangat kurang, termasuk zat gizi mikro dalam hal ini vitamin A. Anak yang menderita KVA mudah sekali terserang infeksi seperti dalam hal ini vitamin A. Anak yang menderita KVA mudah sekali terserang infeksi seperti infeksi saluran pernafasan akut, campak, cacar air, diare dan infeksi lain karena daya tahan infeksi saluran pernafasan akut, campak, cacar air, diare dan infeksi lain karena daya tahan anak terseb

anak tersebut ut menmenuruurun. n. NamNamun un masmasalah alah KVKVA A dapdapat at jugjuga a terjterjadi adi padpada a kelkeluarguarga a dedengangann  pengh

 penghasilan asilan cukucukup. p. Hal Hal ini ini terjadi terjadi karena karena kurangkurangnya nya pengepengetahuan tahuan orang orang tua/ibu tua/ibu tentang tentang gizigizi yang baik. Gangguan penyerapan pada usus juga dapat menyebabkan KVA walaupun hal ini yang baik. Gangguan penyerapan pada usus juga dapat menyebabkan KVA walaupun hal ini sangat jarang terjadi. Kurangnya konsumsi makanan (< 80 % AKG) yang berkepanjangan akan sangat jarang terjadi. Kurangnya konsumsi makanan (< 80 % AKG) yang berkepanjangan akan men

menyebyebabkabkan an anak anak menmenderderita ita KVKVA, A, yanyang g umuumumnymnya a terjterjadi adi karekarena na kemkemiskiskinaninan, , dimdimanaana keluarga tidak mampu memberikan makan yang cukup.

keluarga tidak mampu memberikan makan yang cukup.

Sampai saat ini masalah KVA di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang serius. Sampai saat ini masalah KVA di Indonesia masih membutuhkan perhatian yang serius. Meski

Meskipun hasil pun hasil survesurvei i XeroftXeroftalmia almia (1992(1992) ) menunmenunjukkajukkan n bahwa berdasarkabahwa berdasarkan n kriteria WHOkriteria WHO secara Klinis KVA di

secara Klinis KVA di IndoneIndonesia sudah tidak sia sudah tidak menjadmenjadi i masalah kesehamasalah kesehatan masyarakat (< tan masyarakat (< 0,5%0,5%).).  Namu

 Namun n pada pada survei survei yang yang sama sama menunjmenunjukkan ukkan bahwa bahwa 50% 50% balita balita masih masih mendemenderita rita KVA KVA SubSub Klin

Klinis is (se(serum rum retiretinol nol < < 20 20 ug/ug/dl). Adanydl). Adanya a kriskrisis is ekoekonomnomi i yang melanyang melanda da IndIndoneonesia sia sejasejak k   perteng

 pertengahan ahan tahun tahun 19971997, , dimana dimana terjadi terjadi peningpeningkatan katan kasus kasus gizi gizi buruk buruk di di berbagberbagai ai daerahdaerah mengakibatkan masalah KVA muncul kembali. Berdasarkan laporan dari beberapa propinsi mengakibatkan masalah KVA muncul kembali. Berdasarkan laporan dari beberapa propinsi

(5)

ant

antara ara lailain n dadari ri NTNTB B dadan n SuSumamatetera ra SeSelatlatan an memenununjunjukkkkan an mumuncncululnynya a kekembmbalali i kakasususs Xeroftalmia mulai dari tingkat ringan sampai berat bahkan menyebabkan kebutaan.

Xeroftalmia mulai dari tingkat ringan sampai berat bahkan menyebabkan kebutaan. Ib

Ibaraarat t fenfenomomenena a gugununung ng es es dikdikhahawawatirtirkan kan kakasusus s xexeroroftaftalmlmia ia mamasih sih babanynyak ak didi masyarakat yang belum ditemukan dan dilaporkan oleh tenaga kesehatan. Oleh karena itu, masyarakat yang belum ditemukan dan dilaporkan oleh tenaga kesehatan. Oleh karena itu,  penting s

 penting sekali untuk meekali untuk mendetekndeteksi secara dini dan menasi secara dini dan menangani kasungani kasus xeroftals xeroftalmia ini dengan cepatmia ini dengan cepat dan tepat agar tidak terjadi kebutaan seumur hidup yang berakibat menurunnya kualitas Sumber  dan tepat agar tidak terjadi kebutaan seumur hidup yang berakibat menurunnya kualitas Sumber  Daya Manusia.

Daya Manusia.

1.1.

1.1.

Anatomi dan Fisiologi Mata

Anatomi dan Fisiologi Mata

3,73,7

A.

A. AdAdnekneksa Matasa Mata 1.

1. AlAlis is MaMatata 2.

2. KeKelolopak pak MaMatata

Palpebra ( kelopak mata ) superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang Palpebra ( kelopak mata ) superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat menutupi dan melindungi bola mata bagian anterior.

dapat menutupi dan melindungi bola mata bagian anterior.

Kelopak mata terdiri atas 5 bidang jaringan yang utama. Dari superficial ke dalam Kelopak mata terdiri atas 5 bidang jaringan yang utama. Dari superficial ke dalam terd

terdapat apat laplapisan isan kulkulit, it, jarinjaringan gan aeroaerolar lar subsubkutkutan, an, laplapisan isan otootot t strstriataiata, , jarijaringangann aerolar submuskular, jaringan fibrosa, lapisan fibrosa nonstriata. Pada palpebra aerolar submuskular, jaringan fibrosa, lapisan fibrosa nonstriata. Pada palpebra terdapat tepian yang di bagi menjadi dua yaitu tepi palpebra anterior dan tepi terdapat tepian yang di bagi menjadi dua yaitu tepi palpebra anterior dan tepi  palpeb

 palpebral ral posteposterior. rior. PunctPunctum um lacrimale lacrimale terdapat terdapat di di ujung ujung medial medial tepian tepian posterposterior ior   palpeb

 palpebra yang ra yang berfungberfungsi mesi menghantanghantarkan air rkan air mata memata menuju snuju saccus lacaccus lacrimalis.rimalis. Terdapat beberapa kelenjar yang terletak pada kelopak mata diantaranya: Terdapat beberapa kelenjar yang terletak pada kelopak mata diantaranya:

-- KelKelenjaenjar meibr meibom: dom: diseisebut jubut juga kega kelenlenjar tarsjar tarsal dan mal dan meruerupakpakan kelan kelenjaenjar sebar sebaseasea yang termodifikasi. Kelenjar ini mensekresikan lapisan minyak yang terdapat yang termodifikasi. Kelenjar ini mensekresikan lapisan minyak yang terdapat  pada la

 pada lapisan air pisan air matamata

-- KelKelenjaenjar zeisr zeis: kele: kelenjar innjar ini jugi juga merua merupakapakan keln kelenajenajr sebr sebasea yasea yang tang terleerletak patak padada folikel bulu mata

folikel bulu mata

-- KeKelenlenjar jar momoll:ll:memeruprupakakan an kekelenlenjar jar kekerinringat yang termgat yang termododifiifikakasi si dadan n terterletletak ak  dekat dengan folikel rambut didaerah mata

dekat dengan folikel rambut didaerah mata

(6)

3.

3. AppApparataratus us LakLakrimarimalislis Ap

Aparaaratutus s laklakrimrimalialis s teterdirdiri ri ataatas s kekelelenjanjar r lalakrikrimamal l ututamama, a, kekelenlenjar jar laklakrimrimalal aksesorius, dan jalur lakrimal yang terdiri dari pungtum lakrimal, kanalikuli, sakus aksesorius, dan jalur lakrimal yang terdiri dari pungtum lakrimal, kanalikuli, sakus lakrimalis dan duktus nasolakrimalis. Kelenjar lakrimalis nantinya berfungsi untuk  lakrimalis dan duktus nasolakrimalis. Kelenjar lakrimalis nantinya berfungsi untuk  mengeluarkan air mata.

mengeluarkan air mata.

-- KeKelelenjnjar lar lakakririmamal utl utamama tea terdrdiriri ati atas :as : a.

a. Bagian oBagian orbita berrbita berbentuk kbentuk kenari, terleenari, terletak di dalam fotak di dalam fossa glassa glandula lakrndula lakrimalisimalis di

di sesegmgmen en temtempoporal ral atatas as ananteteriorior r orborbita ita yayang ng didipipisasahkhkan an dadari ri bagbagianian  palpeb

 palpebra oleh kra oleh kornu laornu lateralis muteralis muskuluskulus levats levator palpebor palpebra.ra.  b.

 b. Bagian Bagian palpebpalpebra ra yang yang lebih lebih kecil kecil terletak terletak tepat tepat diatas diatas segmesegmen n temportemporalal forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimal, yang bermuara forniks konjungtiva superior. Duktus sekretorius lakrimal, yang bermuara  pada

 pada sekitar sekitar 10 10 lubang kecil, lubang kecil, mengmenghubunhubungkan gkan bagian bagian orbita orbita dan dan palpebrpalpebraa kelenjar lakrimal dengan forniks konjungtiva superior.

kelenjar lakrimal dengan forniks konjungtiva superior. -- KeKelelenjnjar ar lalakrkrimimal al akaksesesosoririusus

a.

a. KeKelelenjanjar r KrKrauausese Te

Terletarletak k dibdibalik alik konkonjunjungtigtiva va palpalbebbebra, ra, antaantara ra forfornix nix dendengan gan ujuujung ng dardarii tarsal

tarsal  b.

 b. KelenKelenjar Wolfringjar Wolfring Te

Terletarletak k dekdekat at batbatas as atas dari atas dari permpermukaukaan an tarstarsal al supsuperioerior r dan dan sepsepanjaanjangng  batas b

 batas bawah tawah tarsal inferarsal inferior.ior.

B.

(7)

1

1.. KKoonnjjuungngttivivaa Kon

Konjunjungtigtiva va mermerupaupakan kan memmembran bran yanyang g menmenutuutupi pi sklsklera era dan dan kelkelopak opak   bagian

 bagian belakabelakang. Kong. Konjungtnjungtiva terdiriva terdiri atas 3 bi atas 3 bagian, agian, yaitu:yaitu: 1.

1. KonKonjungjungtiva ttiva tarsaarsal yanl yang meg menutunutupi tapi tarsursuss 2.

2. KonKonjungjungtiva tiva bubulbi lbi menmenutuutupi spi scleclerara 3.

3. Konjungtiva forniks yang merupakan peralihan konjungtiva tarsal denganKonjungtiva forniks yang merupakan peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi.

konjungtiva bulbi. Secara

Secara histologi,histologi, konjungtiva terdiri dari tiga lapisan , mulai dari luar kedalamkonjungtiva terdiri dari tiga lapisan , mulai dari luar kedalam terdiri dari lapisan epitel, lapisan adenoid dan laisan fibrosa.

terdiri dari lapisan epitel, lapisan adenoid dan laisan fibrosa. Terdapat dua jenis kelenjar yang terletak dikonjungtiva yaitu: Terdapat dua jenis kelenjar yang terletak dikonjungtiva yaitu:

-- kelkelenjaenjar penghr penghasil muasil musin. Diasin. Diantarntaranya anya kelkelenjaenjar r pengpenghashasil musinil musin tersebut adalah sel goblet (terletak di lapisan epitel dan paling tebal di tersebut adalah sel goblet (terletak di lapisan epitel dan paling tebal di  bagian inferonasalis)

 bagian inferonasalis) dan dan kelenjar kelenjar manz manz (terletak (terletak pada pada konjukonjungtiva ngtiva bulbar bulbar  tepatnya konjungtiva daerah limbus)

tepatnya konjungtiva daerah limbus)

-- kelkelenjaenjar lakrir lakrimal akmal aksessesoriuorius. Ters. Terdiri dadiri dari keleri kelenjar kranjar krause duse dan woan wolfrinlfringg dan telah dijelaskan dibagian atas.

dan telah dijelaskan dibagian atas.

2

2.. SSkklleerraa

Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar, yang Sklera adalah pembungkus fibrosa pelindung mata di bagian luar, yang hampir seluruhnya terdiri atas kolagen. Jaringan ini padat dan berwarna putih hampir seluruhnya terdiri atas kolagen. Jaringan ini padat dan berwarna putih serta berbatasan dengan kornea di sebelah anterior dan duramater nervus opticus serta berbatasan dengan kornea di sebelah anterior dan duramater nervus opticus di posterior. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh sebuah lapisan tipis di posterior. Permukaan luar sklera anterior dibungkus oleh sebuah lapisan tipis

(8)

 jaringan

 jaringan elastik elastik halus, halus, episkleepisklera, ra, yang yang mengamengandung ndung banybanyak ak pembpembuluh uluh darahdarah yang mendarahi sclera.

yang mendarahi sclera.

3

3.. KKoorrnneeaa Ko

Kornrnea ea adadalaalah h seselaplaput ut bebeninning g mamatata, , babagigian an seselalaput put mamata ta yayang ng tetembmbusus cahaya, merupak

cahaya, merupakan lapis an lapis jaringajaringan yang n yang menutmenutup bola mata up bola mata sebelasebelah h depan dandepan dan terdiri atas lapis:

terdiri atas lapis: aa.. EEppiitteell

 b.

 b. MembraMembran bowmn bowmanan cc.. SSttrroommaa

d.

d. MemMembrabrane ne desdescemecementnt ee.. EEnnddootetell

4.

4. TrTrakaktutus s UvUveaealilis.s.

• IrisIris

• Corpus SiliareCorpus Siliare

• KoroidKoroid

5

5.. LLeennssaa

Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan hampir  Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskular, tak berwarna, dan hampir  tran

transpasparan ran semsempurpurna. na. LenLensa sa tergtergantuantung ng padpada a zonzonula ula di di belabelakang kang irisiris; ; zonzonulaula menghubungkannya dengan corpus ciliare.

(9)

6.

6. SuSududut Bit Bililik Mak Mata Dta Depepanan Su

Sududut t bibilik lik mamata ta dedepan pan terterletletak ak papada da pepertartaututan an anantartara a kokornernea a peperifrifer er dadann  pangka

 pangkal l iris. iris. Ciri-ciri Ciri-ciri anatomanatomis is utama utama sudusudut t ini ini adalah adalah garis garis schwaschwalbe, lbe, anyamaanyamann trabekula (yang terletak di atas kanal schlemm), dan taji sclera (scleral spur).

trabekula (yang terletak di atas kanal schlemm), dan taji sclera (scleral spur).

7

7.. RReettiinnaa

Retina melap

Retina melapisi dua pertiga dindisi dua pertiga dinding bagian daing bagian dalam bola lam bola mata. Retina terdiri darimata. Retina terdiri dari 10 lapisan dimulai dari sisi dalam keluar sebagai berikut:

10 lapisan dimulai dari sisi dalam keluar sebagai berikut: 1.

1.  Membran li Membran limitans retinmitans retinaa 2.

2.  Lapisan serat  Lapisan serat saraf saraf  3.

3.  Lapisan sel g Lapisan sel ganglionanglion 4.

4.  Lapisan plek Lapisan pleksiform dalasiform dalamm 5.

5.  Lapisan nukle Lapisan nukleus dalamus dalam 6.

6. Lapisan  Lapisan pleksiform pleksiform luar,luar, merupakanmerupakan lapilapis s aseaselulalular r dan dan mermerupaupakan kan temtempatpat sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal.

sinapsis sel fotoreseptor dengan sel bipolar dan sel horizontal. 7.

7. Lapisan nukle Lapisan nukleus luar,us luar, merupakan susunan lapis nukleus sel kerucut dan batangmerupakan susunan lapis nukleus sel kerucut dan batang 8.

8.  Membran li Membran limitan ekstemitan eksternarna 9.

9. Lapisan  Lapisan fotoreseptofotoreseptor,r, mermerupakupakan an lapilapisan yang san yang terdterdiri iri dardari i sel sel batbatang dan ang dan selsel kerucut yang merupakan modifikasi sel saraf. Lapisan ini mengandung badan kerucut yang merupakan modifikasi sel saraf. Lapisan ini mengandung badan sel batang dan kerucut.

sel batang dan kerucut. Sel batang  Sel batang merupakan sel khusus yang ramping. Jumlahmerupakan sel khusus yang ramping. Jumlah sel batang lebih banyak dibandingkan sel kerucut dan terdiri dari segmen luar  sel batang lebih banyak dibandingkan sel kerucut dan terdiri dari segmen luar  ya

yang ng beberbrbenentutuk k sisililindndriris s dedengngan an papanjnjanang g 28 28 mimikrkromometeter er memengnganandudungng  fotopigmen rho

 fotopigmen rhodopsindopsin dan suatu segmen dalam yang sedikit lebih panjang yaitudan suatu segmen dalam yang sedikit lebih panjang yaitu sekitar 32

sekitar 32 mikrommikrometer. Keduanya mempunyaeter. Keduanya mempunyai i ketebketebalan alan 1,5 mikrometer. Inti1,5 mikrometer. Inti selnya terletak di dalam lapisan inti luar. Ujung segmen luar tertanam dalam selnya terletak di dalam lapisan inti luar. Ujung segmen luar tertanam dalam epit

epitel el pigpigmenmen. . SegSegmen men lualuar r dan dalam dan dalam dihudihubunbungkgkan an oleoleh h suasuatu tu leheleher r yanyangg sempit. Dengan mikroskop electron segmen luar tampak mengandung banyak  sempit. Dengan mikroskop electron segmen luar tampak mengandung banyak 

(10)

lamel-lamel membran

lamel-lamel membran dendengagan n diadiametmeter er yang yang serseragaagam m dan dan terstersusuusun n sepsepertertii tumpukan kue dadar. Sel batang ini di sebelah dalam membentuk suatu simpul tumpukan kue dadar. Sel batang ini di sebelah dalam membentuk suatu simpul akhir yang mengecil pada bagian akhirnya pada lapisan pleksiform luar yang akhir yang mengecil pada bagian akhirnya pada lapisan pleksiform luar yang disebut

disebut sferul batang (rod spherule)sferul batang (rod spherule). Sel batang yang hanya teraktivasi dalam. Sel batang yang hanya teraktivasi dalam keadaan

keadaan cahaya redup (dim light) sangat sensitive terhadap cahayacahaya redup (dim light) sangat sensitive terhadap cahaya. Sel ini. Sel ini dapat menghasilkan suatu sinyal dari satu photon cahaya. Tetapi sel ini tidak  dapat menghasilkan suatu sinyal dari satu photon cahaya. Tetapi sel ini tidak  dapat menghasilkan sinyal dalam cahaya terang (bright light) dan juga tidak  dapat menghasilkan sinyal dalam cahaya terang (bright light) dan juga tidak   peka te

 peka terhadap wrhadap warna.arna. 10.

10.  Epitelium  Epitelium pigmen pigmen retina,retina, merupamerupakan suatu kan suatu lapisan sel lapisan sel poligopoligonal nal yangyang ter

teratatur, ur, ke ke araarah h orora a seserrarrata ta bebentuntuk k seselnlnya ya memenjanjadi di lelebih bih gegepepengng. . InInti ti sesell  berbent

 berbentuk kuboid dengan uk kuboid dengan sitoplsitoplasmanyasmanya a kaya akan kaya akan butir-bbutir-butir utir melaninmelanin..  Fungsi Fungsi epitel pigmen

epitel pigmen adalahadalah

1. Menyerap cahaya dan mencegah terjadinya pemantulan. 1. Menyerap cahaya dan mencegah terjadinya pemantulan. 2. Berperan dalam nutrisi fotoreseptor 

2. Berperan dalam nutrisi fotoreseptor  3. Penimbunan dan pelepasan vitamin A 3. Penimbunan dan pelepasan vitamin A

4. Berperan dalam proses pembentukan rhodopsin 4. Berperan dalam proses pembentukan rhodopsin Cahaya yang masuk ke dalam retina diserap oleh

Cahaya yang masuk ke dalam retina diserap oleh rhodopsinrhodopsin, s, suatu uatu protein protein yangyang tersusun dari

tersusun dari opsin (protein transmembran) yang terikat pada aldehida vitaminopsin (protein transmembran) yang terikat pada aldehida vitamin  A

 A. . PePenynyererapapan an cacahahaya ya inini i akakan an memenynyebebababkakann isomisomerisaerisasi si rhorhodopsdopsinin dandan memisahkan opsin dari ikatannya dengan aldehida vitamin A menjadi

memisahkan opsin dari ikatannya dengan aldehida vitamin A menjadi opsin bentuk opsin bentuk  aktif 

aktif . Opsin bentuk aktif kemudian memfasilitasi pengikatan guanosin triphosphate. Opsin bentuk aktif kemudian memfasilitasi pengikatan guanosin triphosphate (G

(GTPTP) ) dedengngan an prprototein ein tratransnsduducincin. . KoKompmpleleks ks GTGTP-tP-tranransdsducucin in ini ini kekemumudidianan mengaktifkan

mengaktifkan enzenzim im cyccyclic lic guaguanosnosin in monmonophoophosphasphate te phophosphosphodiestediesteraserase suatusuatu eensnsim im yyanang g beberprpereran an dadalalam m pepemmbebentntuukakan n sesenynyawawaaaan n cycyclclic ic gguauanonosisinn mono

monophospphosphate hate (cGMP(cGMP). ). Siklik guanosin monophosSiklik guanosin monophosphate phate (cGMP(cGMP) ) ini ini berperaberperann dalam pembukaan kanal natrium di dalam plasmalema sel batang dan menyebabkan dalam pembukaan kanal natrium di dalam plasmalema sel batang dan menyebabkan masuknya natrium dari segmen luar sel batang menuju ke segmen dalam sel batang. masuknya natrium dari segmen luar sel batang menuju ke segmen dalam sel batang. Keadaan ini akan menyebabkan hiperpolarisasi di segmen dalam sel batang dan Keadaan ini akan menyebabkan hiperpolarisasi di segmen dalam sel batang dan merangsang dilepaskannya neurotransmitter dari sel batang menuju ke sel bipolar. merangsang dilepaskannya neurotransmitter dari sel batang menuju ke sel bipolar. Oleh sel bipolar rangsang kimiawi ini dirubah menjadi impuls listrik yang akan Oleh sel bipolar rangsang kimiawi ini dirubah menjadi impuls listrik yang akan diteruskan menuju ke sel ganglion untuk dikirim ke otak.

(11)

Sel-sel batang dan kerucut dilapisan fotoreseptor mampu mengubah rangsang Sel-sel batang dan kerucut dilapisan fotoreseptor mampu mengubah rangsang cahaya menjadi impuls saraf yang dihantarkan lapisan serat saraf retina melalui cahaya menjadi impuls saraf yang dihantarkan lapisan serat saraf retina melalui saraf optikus hingga akhirnya kekorteks penglihatan. Pada retina perifer, makula saraf optikus hingga akhirnya kekorteks penglihatan. Pada retina perifer, makula  pada

 pada retina retina berfungberfungsi si umtuk umtuk p p englihaenglihatan tan sentral sentral dan dan warna warna (fotop(fotopik) ik) sedangsedangkankan  bagian

 bagian lainnya ylainnya yang seang sebagian bebagian besar terdiri dsar terdiri dari fotoreari fotoreseptor baseptor batang, digtang, digunakan unakan untuk untuk   pengli

 penglihatan perifer hatan perifer dan malam dan malam (skoto(skotopik). Penglihatan siang pik). Penglihatan siang hari hari diperantdiperantarai arai oleholeh fotoreseptor kerucut, pada waktu senja kombinasi sel kerucut dengan batang dan fotoreseptor kerucut, pada waktu senja kombinasi sel kerucut dengan batang dan  pengli

 penglihatan mahatan malam harlam hari diperai diperantarai oleh ntarai oleh fotoresfotoreseptor bateptor batang.ang.

1.2.

1.2.

Lapisan (Film) Air Mata

Lapisan (Film) Air Mata

7,137,13

Lapisan atau film air mata normal dari luar ke dalam terdiri dari lapisan lipid, lapisan Lapisan atau film air mata normal dari luar ke dalam terdiri dari lapisan lipid, lapisan aqueous, lapisan mukus.

aqueous, lapisan mukus. a.

a. Lapisan lipid.Lapisan lipid. Lapisan ini merupakan lapisan terluar yang dihasilkan dari kelenjar Lapisan ini merupakan lapisan terluar yang dihasilkan dari kelenjar  me

meiboibomiamian, n, zezeis, is, dadan n momoll. ll. LaLapispisan an ini ini memencencegagah h air air mamata ta yayang ng beberlerlebihbihanan,, menghambat terjadinya evaporasi dan melubrikasi kelopak mata saat bergerak.

menghambat terjadinya evaporasi dan melubrikasi kelopak mata saat bergerak. b.

b. LapiLapisan san aqueaqueous.ous. LapLapisan ini isan ini mermerupaupakan kan penpenghaghasil sil terterbesbesar ar film film ar ar matmata a yanyangg me

mengngandandunung g air air matmata a yayang ng beberasrasal al dadari ri kekelelenjanjar r lalakrikrimamal l ututamama a dadan n kekelelenjanjar r  aks

aksesoesorius rius dan dan berberfungfungsi si untuntuk uk menmenyedyediakaiakan n nutnutrisi risi bagbagi i korkornea nea yanyang g avaavaskuskular,lar, membantu dalam menyingkirkan kotoran ataupun debris dan melindungi permukaan membantu dalam menyingkirkan kotoran ataupun debris dan melindungi permukaan  bola

 bola mata mata dari dari bakterbakteri i ataupuataupun n antigen antigen lainnyalainnya. . Air Air mata mata menganmengandung dung air air dandan se

sejujumlmlah ah kekecicil l sosodidium um klklororidida, a, gugulala, , urureaea, , prprototeiein, n, alalkakalilin. n. SeSelalain in ititu u jujugaga mengandung antibakterial seperti lisozim, betalysin, dan laktoferrin.

mengandung antibakterial seperti lisozim, betalysin, dan laktoferrin. c.

c. LapiLapisan san mukmukus us (mu(musin).sin). LapLapisan ini isan ini dihdihasilasilkan oleh kan oleh sel sel gogoblet yang blet yang terlterletak dietak di lap

lapisan isan epitepitel el konkonjunjungtigtiva va bulbulbaribaris. s. MukMukus us jugjuga a dihadihasilksilkan an kelekelenjar njar ManManz z yanyangg terl

terletak etak di di lapilapisan san epiepitel tel seksekitar itar limblimbus. us. LaLapisapisan n ini ini berberfunfungsi gsi untuntuk uk memmembenbentuk tuk  lapisan pelindung hidrofilik tipis bagi permukaan kornea, membasahi permukaan bola lapisan pelindung hidrofilik tipis bagi permukaan kornea, membasahi permukaan bola mata, dan mencegah mata permukaan bola mata menjadi kering.

mata, dan mencegah mata permukaan bola mata menjadi kering.

1.3

1.3.. Pen

Penyak

yakit p

it pada

ada Kon

Konjun

jungti

gtiva

va

1.3.1.

(12)

Konju

Konjuntivitis dapat ntivitis dapat dibedakdibedakan an berdasberdasarkan arkan penyebpenyebab ab dan dan keadaan klinisnya.keadaan klinisnya. Berdasarkan penyebabnya antara lain:

Berdasarkan penyebabnya antara lain: -- KoKonjnjunungtgtivivititis iis infnfekeksisi

a.

a. KoKonjunjungtngtivitivitis is bakbakteriteri  b.

 b. KonjuKonjungtivitis ngtivitis klamidklamidiaia c.

c. KoKonjunjungtngtivitivitis is viravirall d.

d. KoKonjunjungtngtivitivitis jis jamuamur r  e.

e. KoKonjunjungtngtivitivitis is paraparasitsit -- KoKonjnjunungtgtivivititis is alalerergigi

-- Konjungtivitis akibat penyakit autoimunKonjungtivitis akibat penyakit autoimun aa.. KKeerraattookkoonnjjuunnggttiivviittiis s ssiikkaa Ke

Keraratotokokonjnjuungngtitivivititis s sisika ka memerurupapakakan n susuatatu u kekeadadaaaan n kekeriringngnynyaa  permuk

 permukaan koaan kornea darnea dan konjn konjungtivungtiva.a.  b.

 b. PemfigPemfigoid sikaoid sikatrikaltrikal c.

c. Sindrom Steven JohnsonSindrom Steven Johnson

-- KoKonjunjungtngtivitivitis ais akibkibat dat defisefisiensiensi vii vitamtamin Ain A Pada pasien yang kekurang

Pada pasien yang kekurangan vitamin A, an vitamin A, pasien akan mengelupasien akan mengeluh mata h mata keringkering seperti kelilipan, sakit, buta senja dan penurunan penglihatan secara perlahan. seperti kelilipan, sakit, buta senja dan penurunan penglihatan secara perlahan. Terdapat kelainan pada defisiensi vitamin A yaitu niktalopia dan atrofi serta Terdapat kelainan pada defisiensi vitamin A yaitu niktalopia dan atrofi serta keratinis

keratinisasi jaringan asi jaringan epitel dan epitel dan mukomukosa. Pada sa. Pada keratiniskeratinisasi asi didapadidapatkan xerosistkan xerosis konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea tukak kornea dan berakhir dengan konjungtiva, bercak bitot, xerosis kornea tukak kornea dan berakhir dengan ker

keratoatomalamalasia. sia. PadPada a keakeadaadaan n ini ini terterjadi jadi ketiketidakdakmammampuapuan n air air matmata a akibakibatat ke

kerusrusakakan an sesel l gogobleblet t sesehinhingggga a hahasisil l mumusisin n kukurarangng. . TeTerdrdapaapat t bebebeberaprapaa klasifikasi defisiensi vitamin A di Indonesia, salah satunya klasifikasi Ten klasifikasi defisiensi vitamin A di Indonesia, salah satunya klasifikasi Ten Doeschate, yaitu:

(13)

X0: Hemeralopia X0: Hemeralopia

X1: hemeralopia dengan erosis konjungtiva dan bercak bitot X1: hemeralopia dengan erosis konjungtiva dan bercak bitot X2: xerosis kornea

X2: xerosis kornea X3: keratomlasia X3: keratomlasia

X4: stafiloma, ptisis bulbi X4: stafiloma, ptisis bulbi

Kelainan pada stadium X0 hingga X2 masih reversible, sedangkan X3 hingga Kelainan pada stadium X0 hingga X2 masih reversible, sedangkan X3 hingga X4 bersifat ireversibel

X4 bersifat ireversibel -- KoKonjnjunungtgtivivititis iris irititatatif if 

-- KerKeratoatokonkonjunjungtivgtivitis karitis karena seena sebab yabab yang tidng tidak dikak diketahetahuiui aa.. FFoolliikkuulloossiiss

 b.

 b. KonjuKonjungtivitngtivitis folikuis folikular krolar kronik nik  cc.. PPssoorriiaassiiss

Berdasarkan keadaan klinisnya antara lain: Berdasarkan keadaan klinisnya antara lain:

-- Konjungtivitis mukopurulenKonjungtivitis mukopurulen -- KoKonjunjungngtivtivitiitis ps pururululen en akakutut -- KoKonjnjunungtgtivivititis is seserorosasa

-- KoKonjunjungngtivtivitiitis ss simimpepel kl kroronisnis -- KoKonjnjunungtgtivivititis ais angngulular ar 

-- KoKonjunjungngtivtivitiitis pss pseueudodomemembmbranran -- KoKonjnjunungtgtivivititis is papapipill

-- KoKonjnjunungtgtivivititis folis folikikulular ar  -- OOftftalalmimia nea neoonanatotorurumm

(14)

-- KoKonjnjunungtgtivivititis ulsis ulsereratatif if  -- KoKonjnjunungtgtivivititis sikis sikatatririksks

1.3.2.

1.3.2. Kondisi simptomatik pada konjungtivaKondisi simptomatik pada konjungtiva88 a.

a. KoKonjunjungtngtiva iva hiphipereeremismis  b.

 b. KemosKemosis Konis Konjungtivjungtivaa c.

c. EkiEkimomosis sis KoKonjunnjungtivgtivaa d.

d. XerXerosiosis Ks Konjonjungungtivativa

Merupakan suatu kondisi dimana konjungtiva menjadi kering dan kusam. Merupakan suatu kondisi dimana konjungtiva menjadi kering dan kusam. Ko

Konjunjungtngtiva iva nornormal mal dipdipertaertahankhankan an kelkelembembabaabannynnya a dari dari seksekresresi i kelkelenjaenjar r  aksesorius. Berdasarkan etiologi, xerosis dibagi menjadi 2 golongan yaitu: aksesorius. Berdasarkan etiologi, xerosis dibagi menjadi 2 golongan yaitu: -- PaParerenknkimimatatososa xa xererososisis

Gan

Gangggguan uan ini ini munmuncul cul menmengikgikuti uti PemPembentbentukaukan n siksikatrikatriks s yanyang g dapdapatat di

disesebababkbkan an anantatara ra lailain n ololeh eh adadananya ya dedeststruruksksi i papada da kokonjnjunungtgtiviivitistis inte

interstitrstitial ial yanyang g dapdapat at dildilihat ihat padpada a penpenyakyakit it traktrakomaoma, , konkonjunjungtigtivitivitiss membranosa diphteri, SJS, pempfigus atau konjungtivitis pemfigoid

membranosa diphteri, SJS, pempfigus atau konjungtivitis pemfigoid -- EEpipitetelilial al xexerorosisiss

Tim

Timbul bul akibakibat at adaadanya nya hiphipoviovitamtaminoinosis sis A. A. gejagejala la xerxerosis osis dapdapat at dildilihatihat  bersam

 bersamaan dengan gejala buta senja. Pengobaan dengan gejala buta senja. Pengobatan dapat diberikan preparatatan dapat diberikan preparat air mata buatan (0.7% metilseluosa atau 0.3% hipromelosa atau polvinil air mata buatan (0.7% metilseluosa atau 0.3% hipromelosa atau polvinil alkohol)

alkohol) e.

e. DisDiskolkolorisorisasi koasi konjunnjungtivgtivaa

1.

1.4.

4. Pe

Peny

nyak

akit pa

it pada ko

da korn

rnea

ea

A.

(15)

Keratitis adalah suatu peradangan kornea yang disebabkan oleh bakteri, virus atau Keratitis adalah suatu peradangan kornea yang disebabkan oleh bakteri, virus atau  jamur. Keratitis

 jamur. Keratitis dapat diklasifikasikadapat diklasifikasikan n berdasberdasarkan arkan lapis kornea lapis kornea yang terkena yang terkena sepertsepertii ker

keratitiatitis s supsuperficerficial ial dan dan proprofundfunda a atau atau berberdasdasasrkasrkan an penpenyebyebabnabnya ya yaityaitu u kerkeratitiatitiss karena berkurangnya sekresi air mata, keracunan obat, reaksi alergi pada pemberian karena berkurangnya sekresi air mata, keracunan obat, reaksi alergi pada pemberian obat topikal dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun.

obat topikal dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun.44

B.

B.

KlasifikasiKlasifikasi4,7,154,7,15 Ga

Gangngguguan an kokornrnea ea dadapat pat memenynyebebababkakan n ululseserasrasi i kokornernea a yayang ng memengngakiakibabatktkanan

 pembe

 pembentukan ntukan parut parut pada pada mata. mata. Hal Hal ini ini akan akan berakibberakibat at gangggangguan uan penglpenglihatan ihatan padapada

mata. Gangguan ini dapat dihindari dengan melakukan diagnosis dini, meminimalkan

mata. Gangguan ini dapat dihindari dengan melakukan diagnosis dini, meminimalkan

faktor resiko dan pengobatan segera. Salah satu gangguan kornea umumnya ulkus

faktor resiko dan pengobatan segera. Salah satu gangguan kornea umumnya ulkus

kornea. Berdasarkan penyebabnya ulkus kornea dapat dibagi menjadi 2 golongan,

kornea. Berdasarkan penyebabnya ulkus kornea dapat dibagi menjadi 2 golongan,

yaitu:

yaitu:

1

1.. InInfefeksksii a a.. BBaakkteteriri  b.  b. VirusVirus c c.. JJaammuur r  d. d. KlKlamamididiaia e e.. PrPrototozozoaoa f. f. spspiriroochchaeaetata 2.

2. NoNon inn infefeksksii a.

a. UlUlkukus ms moooorerenn  b.

 b. Keratitis alKeratitis alergi (keergi (keratokonratokonjungtivjungtivitis fliktitis fliktenular)enular) c.

c. Keratititis Keratititis margmarginal painal pada pda penyakenyakit auit autoimuntoimun d.

d. Ulkus Ulkus kornea kornea akibat akibat defisiendefisiensi vitasi vitamin Amin A

Ulkus kornea yang khas pada avitaminosis A terletak di sentral dan bilateral Ulkus kornea yang khas pada avitaminosis A terletak di sentral dan bilateral  berwarn

 berwarna a kelabukelabu, , indoleindolen, n, kehilankehilangan gan kilau kilau kornekornea a disekitdisekitarnya, arnya, dan dan seringsering timbul perforasi. Sering disertai gangguan konjungtiva berupa keratinisasi epitel timbul perforasi. Sering disertai gangguan konjungtiva berupa keratinisasi epitel konjungtiva yang menybabkan timbulnya bercak bitot.

(16)

e.

e. KerKeratitiatitis s neuneurotrrotropiopik k  f.

f. KeKeraratitititis pajs pajanananan

1.

1.5.

5. Pe

Peny

nyak

akit pa

it pada Re

da Retin

tina

a

1.5.1.

1.5.1. Penyakit pada MakulaPenyakit pada Makula99

a.

a. DegeDegenerasi nerasi makulmakula tea terkait drkait dengan engan usiausia  b.

 b. DegeDegenerasi maknerasi makula noneula noneksudatksudatif if  c.

c. DegDegenerenerasi makasi makula ekula eksudsudatif atif  d.

d. KorioreKorioretinopati tinopati serosa serosa sentralsentralisis e.

e. EdEdemema maa makukulala f.

f. GanggGangguan uan peradanperadangan gan yang yang mengemengenai mnai makulaakula g.

g. Angioid  Angioid streaks/ streaks/ coreng angioidcoreng angioid h.

h. DegDegenerenerasi makasi makula mula miopiiopik k  i.

i. MeMembmbran mran makakulula epia epiretretinaina  j.

 j. MakuMakulopati traulopati traumatik matik  k.

k. DiDiststrofrofi mai macuculala

1.5

1.5.2..2. PenPenyayakit kit retretina ina perperifeiferr a.

a. AbAblalasisio reto retininaa  b.

 b. RetinoRetinopati prempati prematuritasaturitas c.

c. DeDegegenernerasasi reti retinaina..

Kelainan degenerasi retina berupa

Kelainan degenerasi retina berupa distrofi makula ataupun distrofi makula ataupun distrofi distrofi sel kerucutsel kerucut dan batang.

(17)

1.

1.6.

6. V

Vit

itam

amin

in A

A

Vitamin A diperoleh dari asupan makanan yang mengandung vitamin A. Terdapat Vitamin A diperoleh dari asupan makanan yang mengandung vitamin A. Terdapat 3 bentuk vitamin A yang penting bagi tubuh yaitu retinol, beta karoten, dan karotenoid. 3 bentuk vitamin A yang penting bagi tubuh yaitu retinol, beta karoten, dan karotenoid. Dalam tubuh retinol merupakan bentuk dominan dari vitamin A. Begitu diserap dalam Dalam tubuh retinol merupakan bentuk dominan dari vitamin A. Begitu diserap dalam saluran pencernaan, vitamin A dibawa ke hati untuk disimpan.

saluran pencernaan, vitamin A dibawa ke hati untuk disimpan.1010Saat dibutuhkan, vitaminSaat dibutuhkan, vitamin

A akan dilepas dalam bentuk retinol yang akan berikatan dengan protein, bentuk dari A akan dilepas dalam bentuk retinol yang akan berikatan dengan protein, bentuk dari ikatan tersebut disebut juga

ikatan tersebut disebut juga retinol binding proteinretinol binding protein (RBP). RBP nantinya akan berikatan(RBP). RBP nantinya akan berikatan dengan sel-sel reseptor yang dituju kemudian protein akan melepaskan retinol sehingga dengan sel-sel reseptor yang dituju kemudian protein akan melepaskan retinol sehingga dapat masuk kedalam sel yang dituju.

dapat masuk kedalam sel yang dituju.1717

Pada proses penglihatan vitamin A berperan dalam kerja retina, pembentukan cairan yang Pada proses penglihatan vitamin A berperan dalam kerja retina, pembentukan cairan yang melapisi permukaan bola mata, serta dalam pertumbuhan sel-sel epitel.

melapisi permukaan bola mata, serta dalam pertumbuhan sel-sel epitel.1010

Vit

Vitamin amin A A berberperaperan n sebsebagaagai i retiretinal nal (ret(retineninene) e) yang merupyang merupakaakan n komkomponponen en dari dari zatzat  pengl

 penglihat ihat rhodorhodopsin. Rhodopspsin. Rhodopsin in ini ini mempumempunyai bagian nyai bagian protein yang disebut protein yang disebut opsin yangopsin yang menjadi rhodopsin setelah bergabung dengan retinene. Rhodopsin merupakan zat yang menjadi rhodopsin setelah bergabung dengan retinene. Rhodopsin merupakan zat yang dapat menerima rangsang cahaya dan mengubah energi cahaya menjadi energi

dapat menerima rangsang cahaya dan mengubah energi cahaya menjadi energi biolistrik biolistrik  yang merangsang indera penglihatan. Rhodopsin terdapat pada bagian batang (rods) dari yang merangsang indera penglihatan. Rhodopsin terdapat pada bagian batang (rods) dari sel-sel retina. Dalam cones (kerucut) terdapat zat sejenis yang komponen proteinnya sel-sel retina. Dalam cones (kerucut) terdapat zat sejenis yang komponen proteinnya  berbed

 berbeda dengan a dengan opsin; opsin; zat pengzat penglihat yalihat yang terdng terdapat di dapat di dalam coalam cones disnes disebut pebut porphyorphyropsinropsin..11

Kekur

Kekurangan vitamin A angan vitamin A pada retina pada retina berpenberpengaruh terhadap rhodopsgaruh terhadap rhodopsin dalam in dalam retinaretina yang berfungsi untuk adaptasi mata dari tempat yang terang menuju tempat yang gelap. yang berfungsi untuk adaptasi mata dari tempat yang terang menuju tempat yang gelap. Jika dibiarkan terus-menerus akan menyebabkan gejala awal yaitu buta senja.

(18)

BAB II

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA

2.

2.1.

1. Xe

Xero

roft

ftal

almi

mia

a

A.

A. DefDefiniinisisi Xer

Xeroftaoftalmia lmia adaladalah ah istiistilah lah yang yang menmeneranerangkagkan n gangangggguan uan kekkekuraurangangan n vitavitamin min AA termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel retina yang termasuk terjadinya kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi sel retina yang dap

dapat at berberakibakibat at kebkebutautaan. an. XerXeroftaoftalmia lmia berberasal asal dardari i bahbahasa asa YuYunannani i (xe(xerosros=ke=keringring;; Opthalmos=mata) yang berarti kekeringan pada mata akibat mata gagal memproduksi Opthalmos=mata) yang berarti kekeringan pada mata akibat mata gagal memproduksi air mata atau yang dikenal dengan dry eye yang mengakibatkan konjungtiva dan air mata atau yang dikenal dengan dry eye yang mengakibatkan konjungtiva dan kornea kering.

kornea kering.33

B.

B. EtEtioiolologigi

Penyebab terjadinya xeroftalmia adalah karena kurangnya Vitamin A. Penyebab terjadinya xeroftalmia adalah karena kurangnya Vitamin A.

Factor-faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia: Factor-faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus Xeroftalmia di Indonesia: 1.

1. KoKonsnsumumsi masi makakananan yann yang tidg tidak meak mengnganandudung cung cukukup Vitp Vitamamin A atain A atau Pro Vu Pro Vitaitaminmin A untuk jangka waktu yang lama

(19)

2.

2. BaBayi yi titiddak ak ddibibererikikan an AASI SI ekeksksklulusisif f  3.

3. MenMenu tiu tidak dak seimseimbanbang (kg (kuraurang mng mengengandandung ung lemlemak, pak, protrotein, ein, Zn/Zn/senseng atg atau zau zat gat giziizi lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan Vitamin A dan penyerapan Vitamin lainnya) yang diperlukan untuk penyerapan Vitamin A dan penyerapan Vitamin A dalam tubuh

A dalam tubuh 4.

4. AdAdananyya a gganangggguauan n pepenynyererapapaan n VVititamamin in A A atatau Pro Vitau Pro Vitamamin in A A sesepepertrti i papaddaa  penyek

 penyekit-penyakit-penyakit antara lait antara lain, diare in, diare kronikkronik, KEP , KEP dan laindan lain-lain.-lain. 5

5.. AAddaannyya a kkeerurussakakan an hhaatti i sseeppeerrti ti papadda a kkwwasashhioiorkrkoor r ddaan n heheppatatititis is kkrrooniniss,, menyebabkan gangguan pembentukan RBP (Retinol Binding Protein) dan menyebabkan gangguan pembentukan RBP (Retinol Binding Protein) dan pre-albumin yang penting dalam penyerapan Vitamin A.

albumin yang penting dalam penyerapan Vitamin A.

C.

C. KlaKlasifsifikaikasisi

Klasifikasi xeroftalmia berdasarkan WHO (1982) yaitu: Klasifikasi xeroftalmia berdasarkan WHO (1982) yaitu:

-- XN (Rabun Senja)XN (Rabun Senja)11

Terjadi akibat gangguan pada retina sehubungan dengan adanya defisiensi vitamin Terjadi akibat gangguan pada retina sehubungan dengan adanya defisiensi vitamin A. Dari sudut fungsi terjadi hemeralopia atau nictalopia yang oleh awam disebut A. Dari sudut fungsi terjadi hemeralopia atau nictalopia yang oleh awam disebut  buta senja

 buta senja atau buta atau buta ayam (kotokan) yaitu ayam (kotokan) yaitu ketidakketidaksanggsanggupan melihat upan melihat pada cahayapada cahaya remang-remang. Disebut buta senja karena terjadi bila sore hari (senja) anak masuk  remang-remang. Disebut buta senja karena terjadi bila sore hari (senja) anak masuk  dari luar (cahaya terang) ke serambi rumah (cahaya remang-remang).

dari luar (cahaya terang) ke serambi rumah (cahaya remang-remang).

-- X1A (Xerosis Konjungtiva)X1A (Xerosis Konjungtiva)16,17,20,2216,17,20,22

Umumnya tahap ini selalu diikuti dengan xerosis kornea. Xerosis terjadi akibat Umumnya tahap ini selalu diikuti dengan xerosis kornea. Xerosis terjadi akibat  prose

 proses s keratiniskeratinisasi lapisan superfisial epitel asi lapisan superfisial epitel tanpa sel tanpa sel goblegoblet t yang disebabyang disebabkan olehkan oleh defisiensi vitamin A.

(20)

-- X1B (Bercak Bitot /X1B (Bercak Bitot / bitot’s spot bitot’s spot ))4,16,224,16,22

Merupakan suatu lapisan putih ireguler seperti sabun atau busa yang menutupi lesi Merupakan suatu lapisan putih ireguler seperti sabun atau busa yang menutupi lesi xerosis konjungtiva terdiri dari deskuamasi epitel yang mengalami proliferasi dan xerosis konjungtiva terdiri dari deskuamasi epitel yang mengalami proliferasi dan keratinisasi disertai dengan pertumbuhan bakteri (seperti corynobacterium xerosis) keratinisasi disertai dengan pertumbuhan bakteri (seperti corynobacterium xerosis) tanpa disertai sel goblet.

tanpa disertai sel goblet.

http://

http://motherchildnutrition.org/picturemotherchildnutrition.org/picture -- X2 (Xerosis Kornea)X2 (Xerosis Kornea)4,16,17,224,16,17,22

Xerosis kornea yaitu adanya keratopati pungtata superfisisal yang terjadi akibat Xerosis kornea yaitu adanya keratopati pungtata superfisisal yang terjadi akibat kekeringan pada daerah kornea. Pada pasien dengan xerosis kornea yang parah kekeringan pada daerah kornea. Pada pasien dengan xerosis kornea yang parah umumnya diikuti dengan defisiensi protein.

umumnya diikuti dengan defisiensi protein.

-- X3A (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)X3A (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)16,17,2216,17,22

Mengenai kurang dari sepertiga dari permukaan kornea. Pada stadium ini mulai Mengenai kurang dari sepertiga dari permukaan kornea. Pada stadium ini mulai terjadi kerusakan lapisan stroma.

terjadi kerusakan lapisan stroma.

-- X3B (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)X3B (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)16,17,20,2216,17,20,22

Mengenai lebih dari sepertiga dari permukaan kornea. Kerusakan lapisan sroma Mengenai lebih dari sepertiga dari permukaan kornea. Kerusakan lapisan sroma  pada ta

 pada tahap ini hap ini umumumumnya danya dapat menypat menyebabkaebabkan kebun kebutaan.taan.

-- XS (Xeroftalmia Scar)XS (Xeroftalmia Scar)4,16,20,224,16,20,22

Gejala sisa dari lesi kornea atau sikatriks kornea akibat dari proses perbaikan dari Gejala sisa dari lesi kornea atau sikatriks kornea akibat dari proses perbaikan dari lapisan stroma yang bisa terletak di tepi ataupun di sentral.

(21)

http://

http://webeye.ophth.uiowa.edu.com/picturewebeye.ophth.uiowa.edu.com/picture -- XF (Xeroftalmia Fundus)XF (Xeroftalmia Fundus)4,164,16

Fundus xeroftalmia atau disertai kelainan fundus xeroftalmia yaitu dimana pada Fundus xeroftalmia atau disertai kelainan fundus xeroftalmia yaitu dimana pada fundus didapatkan bercak-bercak kuning keputihan yang tersebar dalam retina, fundus didapatkan bercak-bercak kuning keputihan yang tersebar dalam retina, umumnya terdapat di tepi sampai arkade vaskular temporal. Pada bagian ini hanya umumnya terdapat di tepi sampai arkade vaskular temporal. Pada bagian ini hanya dapat diamati dengan funduskopi

dapat diamati dengan funduskopi

Gambar 5 Gambar 5

D.

D. EpidemiologiEpidemiologi6,206,20

Xeroftalmia merupakan salah satu dampak dari kekurangan vitamin A yang umumnya Xeroftalmia merupakan salah satu dampak dari kekurangan vitamin A yang umumnya terjadi pada anak usia 6 bulan - 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di terjadi pada anak usia 6 bulan - 4 tahun yang menjadi penyebab utama kebutaan di neg

negara ara berberkemkembangbang. . KVKVA A padpada a anaanak k biabiasansanya ya terjterjadi adi padpada a anaanak k yanyang g menmenderderitaita Kurang Energi Protein (KEP) atau Gizi buruk akibat kurangnya konsumsi makanan Kurang Energi Protein (KEP) atau Gizi buruk akibat kurangnya konsumsi makanan (< 80 % AKG) sehingga asupan zat gizi sangat kurang, termasuk zat gizi mikro dalam (< 80 % AKG) sehingga asupan zat gizi sangat kurang, termasuk zat gizi mikro dalam hal ini vitamin A. 15-25% anak yang menderita KVA mengalami kebutaan total dan hal ini vitamin A. 15-25% anak yang menderita KVA mengalami kebutaan total dan 58

58-60-60% % memengngalaalami mi bubuta ta sesebabagigian. an. AnAnak ak yayang ng memendndererita ita KVKVA A mumudadah h sesekakalili terserang infeks

terserang infeksi seperti i seperti infeksi saluran pernafainfeksi saluran pernafasan akut, campak, cacar air, san akut, campak, cacar air, diare dandiare dan infeksi lain karena daya tahan anak tersebut menurun. Namun masalah KVA dapat infeksi lain karena daya tahan anak tersebut menurun. Namun masalah KVA dapat  juga terjadi pada

 juga terjadi pada keluarkeluarga dengan penghasilaga dengan penghasilan n cukucukup karena p karena kurangkurangnya pengetahuanya pengetahuann orang tua / ibu tentang gizi yang baik ataupun gangguan penyerapan di saluran cerna. orang tua / ibu tentang gizi yang baik ataupun gangguan penyerapan di saluran cerna. Sam

Sampai pai saat saat ini ini masmasalah alah KVKVA A di di IndIndoneonesia sia masmasih ih memmembutbutuhkuhkan an perperhatihatian an yanyangg ser

serius. ius. SurSurvei vei menmenunjunjukkukkan an bahbahwa wa 50% balita 50% balita masmasih ih menmenderderita ita KVKVA A Sub KlinisSub Klinis (serum retinol < 20 ug/dl).

(serum retinol < 20 ug/dl).

Pada tahun 1994 Pemerintah Indonesia mendapat penghargaan Helen Keller Award, Pada tahun 1994 Pemerintah Indonesia mendapat penghargaan Helen Keller Award,

(22)

tersebut berkat program penanggulangan KVA dengan suplemen kapsul vitamin A tersebut berkat program penanggulangan KVA dengan suplemen kapsul vitamin A dosis tinggi 200.000 SI (merah) sebanyak 2 kali setahun pada bulan Februari dan dosis tinggi 200.000 SI (merah) sebanyak 2 kali setahun pada bulan Februari dan Agustus yang ditujukan kepada anak balita (1-5 tahun) dan 1 kapsul pada ibu nifas (< Agustus yang ditujukan kepada anak balita (1-5 tahun) dan 1 kapsul pada ibu nifas (< 30 hari sehabis melahirkan). Setelah tahun 1997 kemudian sasaran diperluas kepada 30 hari sehabis melahirkan). Setelah tahun 1997 kemudian sasaran diperluas kepada  bayi umur 6 –

 bayi umur 6 – 11 bulan denga11 bulan dengan pemberian kapsun pemberian kapsul vitamin A dosis 100.000 SI (biru).l vitamin A dosis 100.000 SI (biru). Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 dimana terjadi Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 dimana terjadi  pening

 peningkatan katan kasus kasus gizi gizi buruk buruk di di berbagberbagai ai daerah daerah mengmengakibatkaakibatkan n masalah masalah KVAKVA muncul kembali. Berdasarkan laporan dari beberapa propinsi antara lain dari NTB muncul kembali. Berdasarkan laporan dari beberapa propinsi antara lain dari NTB dan Sumatera Selatan menunjukkan munculnya kembali kasus Xeroftalmia mulai dari dan Sumatera Selatan menunjukkan munculnya kembali kasus Xeroftalmia mulai dari tingkat ringan sampai berat.

tingkat ringan sampai berat.

E.

E. PatofisiologiPatofisiologi1,21,2

Gejala kekeringan mata pada defisiensi vitamin A yang disebut xeroftalmia Gejala kekeringan mata pada defisiensi vitamin A yang disebut xeroftalmia berturut-turut terdiri atas buta senja, xerosis conjunctiva dan xerosis kornea yaitu kekeringan turut terdiri atas buta senja, xerosis conjunctiva dan xerosis kornea yaitu kekeringan epi

epitel tel biji biji matmata a dan dan kokornea rnea karkarena ena seksekresresi i glaglandundula la lacrlacrimalimalis is memenurunurun. n. KoKornearnea kem

kemudiudian an menmengogoreng reng karekarena na selsel-sel-selnya nya memenjadnjadi i lunlunak ak disedisebut but kerkeratoatomalmalasia asia dandan dapat mengakibatkan kebutaan. Pada penyembuhan luka kornea ini dapat terjadi luka dapat mengakibatkan kebutaan. Pada penyembuhan luka kornea ini dapat terjadi luka  parut

 parut yang yang terdiri terdiri atas atas jaringajaringan n yang yang tidak tidak tembutembus s cahaya. cahaya. Luka Luka parut parut ini ini kadang kadang--kadang membonjol keputihan (atau kemerahan) disebut leucoma (biji kapas). Terdapat kadang membonjol keputihan (atau kemerahan) disebut leucoma (biji kapas). Terdapat kelainan pada sklera di sebelah lateral dari kornea yang disebut bercak Bitot. Kelainan kelainan pada sklera di sebelah lateral dari kornea yang disebut bercak Bitot. Kelainan ini

ini tampak sebagai tampak sebagai kumkumpulan gelembungpulan gelembung-gelem-gelembung busa bung busa sabun yang sabun yang dapat dihapusdapat dihapus dengan kapas dan meninggalkan epitel kering dengan pigmen kecoklatan.

dengan kapas dan meninggalkan epitel kering dengan pigmen kecoklatan.

Xeroftalmia dibagi dalam 4 stadium yaitu stadium I (hemeralopia), stadium II (xerosis Xeroftalmia dibagi dalam 4 stadium yaitu stadium I (hemeralopia), stadium II (xerosis konju

konjungtiva dengan atau tanpa ngtiva dengan atau tanpa hemerahemeralopia dengan atau lopia dengan atau tanpa bercak Bitot), tanpa bercak Bitot), stadiustadiumm III (stadium II ditambah xerosis kornea dan sering disertai ulkus kornea), stadium IV III (stadium II ditambah xerosis kornea dan sering disertai ulkus kornea), stadium IV (keratomalasi).

(keratomalasi). Pada stadium III dapat timbul ulkus kornea dan pada stadium IVPada stadium III dapat timbul ulkus kornea dan pada stadium IV ko

kornernea a memenjanjadi di lemlembebek k seseperperti ti bubububur r beberwrwarnarna a kekepuputihtih-pu-putihtihan an dadan n mumudadahh mengalami perforasi. Umumnya keratomalasia timbul pada anak dengan defisiensi mengalami perforasi. Umumnya keratomalasia timbul pada anak dengan defisiensi vit

vitamin amin A A krokronis nis yanyang g menmenderderita ita campcampak ak atau atau penpenyakyakit it berberat at lainlainnyanya. . PenPenderderitaita xeroftalmia sering juga ditemukan pada penderita malnutrisi energi protein.

(23)

Ciri histopatolog

Ciri histopatologis is dari xeroftalmia berupa dari xeroftalmia berupa timbultimbulnya bintik-bintik kering pada nya bintik-bintik kering pada epitelepitel kor

kornea nea dan dan konkonjungjungtivativa, , pempembenbentuktukan an filamfilamen, en, hilahilangnngnya ya sel sel gogoblet blet konkonjunjungtivgtiva,a,  pembe

 pembesaran saran abnormabnormal al sel sel epitel epitel non-gnon-goblet, oblet, peningpeningkatan katan stratifikasstratifikasi i sel, sel, dandan  pening

 peningkatan kekatan keratinisasi.ratinisasi.

F.

F. DiDiagagnonosasa 1.

1. Gejala klinisGejala klinis8,148,14

Klasifikasi xeroftalmia berdasarkan WHO (1982), gejala klinisnya yaitu : Klasifikasi xeroftalmia berdasarkan WHO (1982), gejala klinisnya yaitu :

-- XN (Xerosis Nyctalopia)XN (Xerosis Nyctalopia)11

• Ketidaksanggupan melihat pada cahaya remang-remang.Ketidaksanggupan melihat pada cahaya remang-remang.

-- X1A (Xerosis Konjungtiva)X1A (Xerosis Konjungtiva)16,17,20,2216,17,20,22

• Penderita tidak dapat melihat di sore hari (nocturnal amblyopia)Penderita tidak dapat melihat di sore hari (nocturnal amblyopia)

• Rasa tidak nyaman pada mata seperti terasa panas.Rasa tidak nyaman pada mata seperti terasa panas.

• Mata terlihat xeroticMata terlihat xerotic

-- X1B (Bercak Bitot /X1B (Bercak Bitot / bitot’s spot bitot’s spot ))4,16,224,16,22

• Terdapat bercak putih kekuningan seperti busa atau sabunTerdapat bercak putih kekuningan seperti busa atau sabun

-- X2 (Xerosis Kornea)X2 (Xerosis Kornea)4,16,17,224,16,17,22

• Pandangan mata menjadi kabur Pandangan mata menjadi kabur 

• Penglihatan pasien menurun pada ruangan terangPenglihatan pasien menurun pada ruangan terang

• Penderita melihat halo pada sekitar objek.Penderita melihat halo pada sekitar objek.

-- X3A (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)X3A (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)16,17,2216,17,22

• Pada tahap ini, pasien mengalami penurunan penglihatan yangPada tahap ini, pasien mengalami penurunan penglihatan yang irreversibleirreversible..

(24)

-- XSXS4,16,20,224,16,20,22

• Pada stadium ini gejala yang dirasakan pasien bervariasi tergantung dariPada stadium ini gejala yang dirasakan pasien bervariasi tergantung dari

tin

tingkgkat at kekeparparahaahan n pepenynyakakitnitnyaya. . KeKeparparahahan an gagangngguguan an pepengnglihlihataatann tergantung dari letak sikatriks.

tergantung dari letak sikatriks.

2

2.. PPeemmeerrikikssaaan Fan Fiissik ik  Dilaku

Dilakukan kan untuk mengetahuuntuk mengetahui i adanya penyakit-peadanya penyakit-penyakit yang nyakit yang terkait langsungterkait langsung maupun tidak langsung dengan timbulnya xeroftalmia seperti gizi buruk, penyakit maupun tidak langsung dengan timbulnya xeroftalmia seperti gizi buruk, penyakit infeksi, dan kelainan fungsi hati.

infeksi, dan kelainan fungsi hati. Yang terdiri dari :

Yang terdiri dari :

- Antropometri: Pengukuran berat badan dan tinggi badan - Antropometri: Pengukuran berat badan dan tinggi badan - Penilaian Status gizi

- Penilaian Status gizi

- Pemeriksaan mata untuk melihat tanda-tanda xeroftalmia. Kelainan pada mata - Pemeriksaan mata untuk melihat tanda-tanda xeroftalmia. Kelainan pada mata

 bergant

 bergantung ung dari dari stadiustadium m yang yang diderita diderita oleh oleh pasien pasien (klasifik(klasifikasi asi xeroftalxeroftalmiamia  berdas

 berdasarkan WHarkan WHO), yaitu O), yaitu ::

 XN (Xerosis Nyctalopia)XN (Xerosis Nyctalopia)11

 Tidak terlihat ada tanda klinisTidak terlihat ada tanda klinis

 X1A (Xerosis Konjungtiva)X1A (Xerosis Konjungtiva)16,17,20,2216,17,20,22

 Daerah konjungtiva tampak xerotic dan terdapat pigmentasi.Daerah konjungtiva tampak xerotic dan terdapat pigmentasi.

 BilBila a matmata a digdigerakerakkan kan akaakan n terlterlihat ihat lipalipatan tan yang timbuyang timbul l padpadaa konjungtiva bulbi.

konjungtiva bulbi.

 X1B (Bercak Bitot /X1B (Bercak Bitot / bitot’s spot bitot’s spot ))4,16,224,16,22

 Terdapat bercak bitot yaitu bercak putih kekuningan seperti busaTerdapat bercak bitot yaitu bercak putih kekuningan seperti busa atatu sabun yang umumnya bilateral dengan letak temporal ke atatu sabun yang umumnya bilateral dengan letak temporal ke arah limbus.

(25)

 Pada mata pasien yang tampak berupa kekeruhan pada kornea.Pada mata pasien yang tampak berupa kekeruhan pada kornea. Kekeruhan akan lebih tampak jelas ketika mata di tahan untuk  Kekeruhan akan lebih tampak jelas ketika mata di tahan untuk   berked

 berkedip.ip.

 X3A (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)X3A (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)16,17,2216,17,22

 PaPada da tatahahap p inini i mumulalai i teterjarjadi di kekerusrusakaakan n lalapispisan an ststroroma ma papadada kornea yang umumnya dari daerah inferior ke daerah sentral. kornea yang umumnya dari daerah inferior ke daerah sentral.

 X3B (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)X3B (Ulserasi Kornea / Keratomalasia)16,17,20,2216,17,20,22

 Mulai terlihat nekrosis pada kornea disertai dengan vaskularisasiMulai terlihat nekrosis pada kornea disertai dengan vaskularisasi kedalamnya.

kedalamnya.

 Ulserasi yang melebihi stadium sebelumnyaUlserasi yang melebihi stadium sebelumnya

 Edema pada kornea disertai dengan penonjolan disekitarnyaEdema pada kornea disertai dengan penonjolan disekitarnya

 LuLululuhnhnya ya kokornrnea ea dedengngan an kokompmplilit t yayang ng beberarakhkhir ir dedengnganan stafiloma kornea atau ptisis.

stafiloma kornea atau ptisis.

 XS (Xerosis Sikatrik)XS (Xerosis Sikatrik)4,16,20,224,16,20,22

 Kornea mata tampak menjadi putihKornea mata tampak menjadi putih 

 Bola mata tampak mengecilBola mata tampak mengecil 

 Bila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekasBila luka pada kornea telah sembuh akan meninggalkan bekas  berupa

 berupa sikatrik sikatrik atau jaringatau jaringan paran parut.ut.

 XF (Fundus Xeroftalmia)XF (Fundus Xeroftalmia)4,164,16

 Pada fundus didapatkan bercak-bercak kuning keputihan yangPada fundus didapatkan bercak-bercak kuning keputihan yang tersebar dalam retina, umumnya terdapat di tepi sampai arkade tersebar dalam retina, umumnya terdapat di tepi sampai arkade vaskular temporal.

vaskular temporal. - Kelainan pada kulit : kering, bersisik  - Kelainan pada kulit : kering, bersisik 

3.

(26)

1.Tes adaptasi gelap 1.Tes adaptasi gelap5,18,205,18,20

Jik

Jika a paspasien ien menmenabrabrak ak sessesuatu uatu ketketika ika cahcahaya aya dirediremanmangkagkan n tibatiba-tib-tiba a di di daldalamam ruangan maka kemungkinan pasien mengalami buta senja. Tes adaptasi gelap ruangan maka kemungkinan pasien mengalami buta senja. Tes adaptasi gelap  juga

 juga dapat dapat menggmenggunakan unakan alat alat yang yang bernambernama a adaptoadaptometri.metri. AdaptoAdaptometri metri adalahadalah su

suatu atu alalat at yayang ng didikekembmbangangkakan n ununtutuk k memengngetetahuahui i kakadadar r vivitamtamin in A A tantanpapa mengambil sampel darah menggunakan suntikan.

mengambil sampel darah menggunakan suntikan. Derajat gelapDerajat gelap

yang dijadikan patokan berdasarkan kondisi seseorang yang berada di dalam yang dijadikan patokan berdasarkan kondisi seseorang yang berada di dalam ruang gelap tersebut tidak dapat melihat huruf berukuran tinggi 10 sentimeter  ruang gelap tersebut tidak dapat melihat huruf berukuran tinggi 10 sentimeter  dan tebal 1,5 sentimeter dengan tinta hitam pada kertas putih.

dan tebal 1,5 sentimeter dengan tinta hitam pada kertas putih. 2.Sitologi impresi konjungtiva

2.Sitologi impresi konjungtiva8,188,18

Dari pemeriksaan sitologi konjungtiva didapatkan keberadaan sel goblet dan Dari pemeriksaan sitologi konjungtiva didapatkan keberadaan sel goblet dan sel-sel epitel abnormal yang mengalami keratinisasi.

sel-sel epitel abnormal yang mengalami keratinisasi.

3.Uji Schirmer, untuk menilai kuantitas air mata, menilai kecepatan sekresi air  3.Uji Schirmer, untuk menilai kuantitas air mata, menilai kecepatan sekresi air  mata dengan memakai kertas filter Whatman 41 bergaris 5 mm–30 mm dan mata dengan memakai kertas filter Whatman 41 bergaris 5 mm–30 mm dan salah satu ujungnya berlekuk berjarak 5 mm dari ujung kertas . Kertas lakmus salah satu ujungnya berlekuk berjarak 5 mm dari ujung kertas . Kertas lakmus merah dapat juga dipakai dengan melihat perubahan warna. Perbedaan kertas merah dapat juga dipakai dengan melihat perubahan warna. Perbedaan kertas la

lakmkmus us dedengngan an kekertartas s filfilter ter hahanynya a sesedikdikit. it. RaRata–ta–ratrata a hahasil sil bibila la mememamakakaii Whatman 41 adalah 12 mm (1 mm–27 mm) sedangkan lakmus merah 10 mm (0 Whatman 41 adalah 12 mm (1 mm–27 mm) sedangkan lakmus merah 10 mm (0 mm–27 mm).

mm–27 mm). a.

a. UjUji i ScSchirhirmemer r I I dildilakakukukan an tatanpnpa a ananesestetesi si totopikpikalal, , ujujunung g kekertartas s beberlerlekukuk k  diinsersikan ke sakus konjuntiva forniks inferior pada pertemuan medial dan diinsersikan ke sakus konjuntiva forniks inferior pada pertemuan medial dan 1/3 temporal palpebra inferior. Pasien dianjurkan menutup mata perlahan–  1/3 temporal palpebra inferior. Pasien dianjurkan menutup mata perlahan–  lahan tetapi sebagian peneliti menganjurkan mata tetap dibuka dan melihat lahan tetapi sebagian peneliti menganjurkan mata tetap dibuka dan melihat keatas. Lama pemeriksaan 5 menit dan diukur bagian kertas yang basah, keatas. Lama pemeriksaan 5 menit dan diukur bagian kertas yang basah, diukur mulai dari lekukan. Nilai normal adalah 10 mm–25 mm 11, 10 mm–  diukur mulai dari lekukan. Nilai normal adalah 10 mm–25 mm 11, 10 mm–  30 mm 12

30 mm 12  b.

 b. Uji SchirmeUji Schirmer II dengan penetesar II dengan penetesan anestesi topikan anestesi topikal untuk mengl untuk menghilangkhilangkan efek an efek  iritasi lokal pada sakkus konjuntiva. Kemudian syaraf trigeminus dirangsang iritasi lokal pada sakkus konjuntiva. Kemudian syaraf trigeminus dirangsang

(27)

amonium, maka nilai schirmer akan bertambah oleh adanya reflek sekresi. amonium, maka nilai schirmer akan bertambah oleh adanya reflek sekresi. Pem

Pemerikeriksaan saan ini ini yanyang g diudiukur kur adaladalah ah seksekresresi i basbasal al karkarena ena stimstimulaulasi si dasdasar ar  terhadap refleks sekresi telah dihilangkan.

terhadap refleks sekresi telah dihilangkan.

4. Pemeriksaan osmolaritas air mata, air mata mempunyai osmolaritas 302 + 6,3 4. Pemeriksaan osmolaritas air mata, air mata mempunyai osmolaritas 302 + 6,3 mOsm/l pada individu normal, pada KCS osmolaritas air mata meningkat antara mOsm/l pada individu normal, pada KCS osmolaritas air mata meningkat antara 330 dan 340 mOsm/l karena penurunan aliran dan peningkatan evaporasi dari 330 dan 340 mOsm/l karena penurunan aliran dan peningkatan evaporasi dari air mata. Osmolaritas air mata mempunyai sensitivitas 90 % dan spesifisitas air mata. Osmolaritas air mata mempunyai sensitivitas 90 % dan spesifisitas 95%, sayang besarnya biaya dan terbatasnya mikroosmolmeter untuk mengukur  95%, sayang besarnya biaya dan terbatasnya mikroosmolmeter untuk mengukur  osmolaritas air mata mempunyai kegunaan klinis yang terbatas.

osmolaritas air mata mempunyai kegunaan klinis yang terbatas. 5.

5. PemerPemeriksaan Siksaan Stabilitas tabilitas film air film air mata (Tmata (Tear Film ear Film Break Break Up TUp Time)ime)8,18,198,18,19

Pada pasien xeroftalmia kekurangan musin berakibat tidak

Pada pasien xeroftalmia kekurangan musin berakibat tidak stabilnstabilnya ya lapisan air lapisan air  mata yang mengakibatkan lapisan tersebut mudah pecah. Hal ini mengakibatkan mata yang mengakibatkan lapisan tersebut mudah pecah. Hal ini mengakibatkan terbentuk “Bintik-bintik kering” dalam film air mata (meniskus) sehingga epitel terbentuk “Bintik-bintik kering” dalam film air mata (meniskus) sehingga epitel ko

kornernea a ataatau u kokonjnjunungtgtiva iva teterparpajan jan ke ke dudunia nia luluar. ar. PaPada da tetes s ini ini akakan an popositsitif if  didapatkan sel epitel yang rusak dilepaskan dari kornea sehingga meninggalkan didapatkan sel epitel yang rusak dilepaskan dari kornea sehingga meninggalkan daerah-daerah yang kecil yang dapat dipulas dan daerah tersebut akan tampak  daerah-daerah yang kecil yang dapat dipulas dan daerah tersebut akan tampak   jika dib

 jika dibasahi floasahi flouresceuresceinin

Pada mata normal, TBUT sekitar > 15 detik dan berkurang pada penggunaan Pada mata normal, TBUT sekitar > 15 detik dan berkurang pada penggunaan anastetik lokal, manipulasi mata atau dengan menahan palbebra tetap terbuka. anastetik lokal, manipulasi mata atau dengan menahan palbebra tetap terbuka. Pasien dengan TBUT kurang dari 3 detik dklasifikasikan dalam mata kering. Pasien dengan TBUT kurang dari 3 detik dklasifikasikan dalam mata kering. Jika terdapat defisiensi air, maka film air mata akan tampak lebih tipis.

Jika terdapat defisiensi air, maka film air mata akan tampak lebih tipis. 6.

6. PemPemerikeriksaan saan korkorneanea a.Pemulasan Fluorescein a.Pemulasan Fluorescein

Pada pasein

Pada pasein xeroftalxeroftalmia mia fluorefluorescein scein akan didapatkan positif akan didapatkan positif daerah-ddaerah-daerahaerah erosi dan terluka epitel kornea.

erosi dan terluka epitel kornea.  b.Pem

 b.Pemulasan ulasan BengBengal Roseal Rose

Pulasan bengal rose 1% didapatkan sel-sel epitel konjungtiva dan kornea yang Pulasan bengal rose 1% didapatkan sel-sel epitel konjungtiva dan kornea yang mati yang tidak dilapisi oleh musin secara adekuat dari daerah kornea.

Referensi

Dokumen terkait

Kehadiran masyarakat pedesaan dengan jumlah melebihi pertumbuhan penduduk kota menyebabkan warna tersendiri (akulturasi, asimilasi, fusi). Dengan peningkatan jumlah

Hasil penelitian ini didapati jawaban bahwa Hak waris anak menurut hukum adat sasak di desa penujak Kecematan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah Provinsi

Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) merumuskan teknik penerjemahan yang diterapkan dalam menerjemahkan kata dan frasa yang terdapat dalam teks bernuansa keagamaan:

Hasil penelitian tentang mekanisme koordinasi menunjukkan, komunikasi dalam upaya penemuan suspek TB, 4 Puskesmas (44,4%) cukup baik, 7 Puskesmas (77,7%) supervisinya kurang baik,

Faktor-faktor penghambat Implementasi Penilaian Autentik Kurikulum 2013 pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen di SMP Negeri 1 Motoling Berdasarkan temuan penelitian,

Perbedaan antara proteksi katodik dengan sistem arus dan sistem anoda korban adalah bahwa pada sistem arus tanding anoda dipusatkan di suatu lokasi yang disebut

Penelitian ini merupakan penelitian sejarah, sehingga langkah yang dilakukan adalah (1) teknik penentuan lokasi penelitian, (2) teknik penentuan informan, (3) Heuristik

Menurut pendapat kami, laporan keuangan konsolidasian yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian PT