• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Sejarah Bangsa Mesir Kuno

Pada awalnya, Sahara adalah padang hijau yang luas dan dipenuhi binatang liar. Setelah terjadi perubahan iklim dan Sahara menjadi gurun pasir, manusia dan binatang pun mencari sumber air yang baru dan sampai ke dataran lembah Sungai Nil. Karena banyaknya hewan buas dan berbahaya seperti ular kobra, buaya, aligator, dan kuda nil, manusia menempati pinggiran lembah tersebut dan bermukim di sana. Dengan terbatasnya hewan untuk diburu dan makanan untuk dikumpulkan, manusia yang dulunya pemburu-pengumpul perlahan belajar menjinakkan hewan untuk dipelihara, meratakan tanah di pinggir Sungai Nil untuk pemukiman, dan menanam biji-bijian.

Komunitas-komunitas kecil di lembah Sungai Nil tersebut perlahan bergabung menjadi dua kerajaan besar, Lower Egypt di daerah utara, dan Upper

Egypt di daerah selatan. Raja Menes dari selatan mengalahkan Lower Egypt pada

sekitar 3120 SM dan menyatukan kedua kerajaan tersebut di bawah pimpinannya, dengan ibukota baru di Memphis. Inilah awal dari kerajaan Mesir Kuno.

2.1.1. Kehidupan di Mesir Kuno

Populasi Mesir Kuno adalah beberapa juta orang. Rakyat miskin tinggal di rumah-rumah kecil dari bata lumpur. Bangsawan memiliki rumah-rumah besar dengan kamar mandi, halaman, dan aula.

Sebagian besar penduduk Mesir Kuno adalah rakyat miskin yang bekerja sebagai petani. Setiap Juli, Sungai Nil mengalami pasang: dataran lembah dibanjiri air dari sungai dan hewan-hewan ternak dipindahkan ke dataran yang lebih tinggi. Banjir besar ini berlangsung hingga beberapa minggu. Pada November, air sudah surut dan dataran lembah penuh dengan lumpur, dan orang-orang menggunakan tongkat dan bajak yang ditarik sapi untuk membajak tanah dan menyebar bibit tanaman. Yang ditanam adalah gandum, jelai (barley), dan sayur-sayuran.

(2)

Karena Mesir Kuno mengalami curah hujan yang sedikit di bulan-bulan lain tiap tahunnya, orang-orang Mesir Kuno menggali kanal-kanal untuk menyimpan air banjir untuk mengirigasi lahan mereka. Ketika musim semi tiba, ladang dipanen, dan seorang petugas pajak mengukur hasil panen dan menghitung berapa besar bagian dari hasil panen tersebut yang dibayarkan kepada Firaun sebagai pajak. Setelah panen, kanal-kanal irigasi tersebut diperbaiki untuk banjir selanjutnya (Millard & Vanags. The Usborne Book of World History, hal, 14-16).

Gambar 2.1. Aktivitas di ladang. Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

Pada musim banjir, petani-petani yang menunggu surutnya banjir bekerja untuk proyek bangunan Firaun, sebagai bagian dari pajak yang harus mereka bayar. Karena Mesir Kuno tidak memiliki mata uang, pajak yang dibayarkan selalu berupa barang seperti hasil panen, binatang, dan lainnya. Pada musim kering, Firaun akan membagikan kekayaannya dari pajak berupa hasil panen kepada yang membutuhkan (Millard & Vanags, 20-21).

Hewan-hewan yang dipelihara adalah anjing, sapi/kerbau, domba, babi, kambing, dan keledai. Mereka juga menangkap ikan dan burung-burung liar dari Sungai Nil. Burung dan sapi digemukkan dalam kandang untuk sumber daging dan telur (dari burung). Binatang paling mematikan di Sungai Nil adalah kuda nil, dan diperlukan beberapa orang bersenjatakan tombak untuk menaklukkan satu ekor.

(3)

Orang-orang Mesir Kuno membuat minuman anggur: buah anggur yang dipanen dimasukkan ke dalam wadah batu besar, dan para penginjak menginjak-injak anggur sambil memegang tali agar tidak jatuh. Anggur kemudian disimpan dalam guci-guci yang memiliki inskripsi daerah asal dan waktu anggur itu dibuat.

Gambar 2.2. Membuat anggur.

Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

Orang-orang Mesir Kuno juga membuat roti dan bir. Gandum yang ditumbuk menjadi tepung dicampur dengan air, kemudian ditambahi bawang putih atau madu, dan dimasukkan ke dalam pot-pot tanah liat dan dipanggang. Beberapa roti dipanggang setengah matang, dicampur dengan air, dan disaring untuk membuat bir. Bir yang sudah jadi masih perlu disaring sebelum diminum (Millard & Vanags,17).

Pekerjaan di kota sangat bervariasi: tukang besi membuat palu perunggu dan tembaga, gergaji, dan bor; tukang kayu membuat perabot dan sand-sleds; tukang perhiasan membuat kerajinan dan emas, turquoise, dan carnelian; penenun membuat karpet dan bantal untuk rumah bangsawan.

Kata ‘firaun’ berasal dari ‘pharaoh’, yang diambil dari hieroglif pr ˤ3

(‘per-o’) yang berarti “rumah besar”. Firaun dianggap sebagai inkarnasi dewa, namun ia bergantung kepada pendeta-pendeta dan juru tulis istana untuk menata kerajaan: hanya sedikit yang memiliki pengetahuan tentang astronomi dan matematika, dan tulisan untuk mencatat. Selain tongkat kerajaan, simbol kefiraunan adalah heka (tongkat gembala, simbol kepemimpinan) dan nekhakha (tongkat pemukul, simbol kesuburan tanah). Ia merepresentasikan Firaun yang menuntun rakyatnya namun juga mempunyai kuasa atas mereka.

(4)

Sejauh ini dapat disimpulkan bahwa orang-orang Mesir Kuno dapat hidup berkat usaha bersama rakyatnya untuk hidup dengan baik. Jika semua bekerja, selalu ada cukup makanan bagi semuanya. Berkat kerja keras petani dan pemburu, ada pangan yang cukup bagi mereka yang memiliki profesi lain seperti tukang metal, pengrajin tembikar, pendeta, juru tulis, dan bahkan Firaun. Sewaktu musim banjir, rakyat bekerja dalam konstruksi piramida sebagai bentuk pengabdian mereka terhadap Firaun.

Bangsawan-bangsawan Mesir Kuno menyukai hiburan seperti musik, nyanyian, dan tarian. Mereka juga senang berburu burung dan ikan, dan beberapa memiliki kucing pemburu yang dilatih untuk mengambil burung yang jatuh. Mereka juga berpiknik di atas kapal yang terbuat dari papirus dan dahan-dahan (Millard & Vanags, 22-23).

Gambar 2.3. Kegiatan para bangsawan. Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

Orang-orang Mesir Kuno adalah ahli kedokteran dan matematika. Mereka menggunakan tanaman marshmallow untuk mengobati radang tenggorokan. Madu adalah ramuan yang lumrah dalam pengobatan Mesir Kuno; ia tidak bisa rusak dan bisa membunuh bakteri. Mereka menggunakan belat untuk tulang yang patah, minyak biji rami untuk memar, dan ramuan untuk sakit panas.

Mereka juga membuat hukum untuk melindungi kehidupan mereka. Firaun, sebagai inkarnasi dewa, membuat hukum, dan kaum bangsawan adalah hakimnya. Merampok kuburan orang mati dan menghina Firaun adalah kejahatan besar, dan mereka akan dihukum mati ketika kejahatan mereka sudah terbukti.

(5)

Mereka sudah belajar menenun serat flax (sejenis rami) menjadi linen tipis untuk pakaian. Ibu dan anak perempuan membuat sendiri pakaian untuk keluarga mereka dengan menenun di halaman rumah. Mereka juga menganyam sandal dari semak rush untuk kaki mereka. Mereka juga memakai kosmetik untuk pria dan wanita: parfum dan minyak untuk kulit, gincu merah untuk bibir, dan ‘kohl’ (mineral yang ditumbuk dan dicampur minyak) hijau dan abu-abu untuk menggarisi mata.

Anak-anak memanjangkan rambut mereka, dan ketika mereka sudah dewasa, rambut mereka dikurbankan untuk persembahan kepada para dewa. Mereka lalu menggunakan rambut palsu dari flax. Selain cat rambut dan rambut palsu, mereka juga menggunakan cacing yang direbus dalam minyak, dan lemak kuda nil untuk perawatan rambut.

Bangsa Mesir Kuno percaya akan adanya kehidupan setelah kematian, dan bahwa mereka bisa bahagia di alam baka. Jika setelah usaha dokter dan doa pendeta, seorang bangsawan mati, jenazahnya akan diawetkan menjadi mumi. Otak dan organ dalamnya dimasukkan ke dalam guci-guci. Proses pembalseman ini memakan waktu 70 hari, lalu mumi yang terbalut linen dimasukkan ke dalam peti mati dan dipakaikan topeng pemakaman. Pakaian, guci minyak dan anggur, perhiasan, furnitur, dan keperluan lain sang bangsawan diletakkan bersama peti mati dalam ruang pemakaman. Bangsawan dikubur di bawah ‘mastaba’, kuburan balok batu. Rakyat miskin dikubur di dalam lubang di pasir.

Gambar 2.4 Lukisan seorang janda meratapi kepergian suaminya. Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

(6)

Kucing dianggap sebagai binatang suci, dan ketika mati, ia dimumikan layaknya manusia. Di beberapa bagian Mesir Kuno, buaya disembah dan dipuja dengan ritual mumifikasi.

Gambar 2.5 Mumi kucing dan buaya. Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

Mesir Kuno kerap melakukan ekspedisi perdagangan dengan orang-orang daerah Mediterania dan Afrika. Dari Afrika mereka mendapat dupa, ebony (kayu hitam), gading, emas, kulit macan kumbang, perak, tembaga, kuda, budak, dan hewan-hewan eksotis Afrika. Dengan daerah yang sekarang disebut Syria, mereka barter untuk kayu cedar untuk bahan bangunan dan kapal.

Mereka menciptakan kalendar 365 hari, dan sebagai ganti tahun kabisat, menambahkan 1 tahun dalam setiap 1460 tahun. Mereka juga menciptakan sistem berhitung hingga angka 1 juta, namun sedikit merepotkan karena untuk menulis angka 999, diperlukan 27 figur. Murid-murid belajar di sekolah kuil, yang juga melatih calon pendeta dan juru tulis. Mereka belajar menulis dengan pena gelagah di atas gulungan papirus.

Kesimpulannya, orang-orang Mesir Kuno mendapatkan stabilitas dalam kehidupan mereka dari kesuksesan mereka beradaptasi dengan lingkungannya, sistem pemerintahan yang terorganisir dengan adanya penguasa dan hukum, dan adanya sistem tulisan untuk mencatat semuanya. Mereka juga menganggap bahwa kematian adalah kelanjutan dari kehidupan dan bukan sesuatu untuk ditakuti, dan dengan demikian berusaha hidup selurus mungkin dan berbuat kebaikan sehingga dewa-dewi juga berbaik hati kepada mereka. Firaun dan bangsawan harus

(7)

memberi makan yang kelaparan, dan rakyat harus bekerja keras dan jujur. Dengan ini, kejayaan bangsanya berlanjut hingga 3000 tahun lamanya.

Prajurit Mesir Kuno bertambah besar jumlahnya seiring dengan meluasnya kekuasaan Mesir Kuno dan kontak dengan bangsa-bangsa lain. Mereka menggunakan busur, kapak, gada, pedang, scimitar, dan pisau. Dari bangsa Hyksos mereka belajar menggunakan kereta dan menunggangi kuda dalam perang.

Dewa-dewi memiliki properti besar dan pendeta (lelaki dan perempuan), penyanyi, dan penari untuk melayani mereka, seperti layaknya seorang bangsawan. Setiap hari pendeta memberikan kurban berupa dupa, makanan, dan pakaian untuk dewa-dewi mereka.

2.1.2. Hasil Budaya Mesir Kuno

Orang Mesir Kuno menciptakan lembaran papirus yang terbuat dari potongan papirus yang diiris tipis-tipis, disusun menyilang, lalu ditumbuk. Ia menjadi media komunikasi dan catatan di daerah itu karena lebih murah daripada kulit binatang dan lebih praktis daripada tablet tanah liat atau batu. Satu gulungan papirus dapat mencapai panjang 10 meter.

Tulisan Mesir Kuno adalah hieroglif, yang terdiri dari sekitar 200 karakter. Ia ditulis pada tablet batu dan papirus, terkadang dengan warna-warna cerah dan dilapisi lembaran tipis emas.

Gambar 2.6. Tulisan hieroglif pada papirus. Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

(8)

Kosmetik, obat perawatan rambut, dan perhiasan adalah bagian penting dari kehidupan mereka. Mereka selalu menggunakan minyak untuk kulit mereka, dan menggunakan riasan mata serta perhiasan. Minyak, parfum, dan kohl disimpan dalam guci-guci kecil. Selain itu terdapat sisir, penggulung rambut, cermin perunggu, kotak penyimpanan kosmetik, dan palet untuk menumbuk kosmetik. Baik pria maupun wanita Mesir Kuno memakai kosmetik. Mereka menciptakan penyegar nafas pertama, yang merupakan campuran kemenyan, kayu manis, dan madu yang direbus dan dibentuk menjadi butiran. Pasta gigi terbuat dari serbuk kaki kerbau, abu, cangkang telur bakar, dan batu apung. Rakyat Mesir Kuno juga menjalin wig dari flax untuk menutupi kebotakan mereka. Perabot dan perhiasan Mesir Kuno terkenal karena desainnya yang unik dan penuh detil.

Gambar 2.7. Peralatan kosmetik di sekitar topeng pemakaman (kiri). 2.8. Kursi tahta Tutankhamun yang dilapisi emas dan berhiaskan kaca dan batu berharga.

Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

Perahu dari papirus dan dahan-dahan yang diikat menjadi satu digunakan untuk menyeberangi Sungai Nil dan aktivitas sehari-hari penduduk. Perahu dari kayu yang lebih kuat digunakan untuk berlayar untuk berdagang, meskipun kebanyakan orang Mesir Kuno menggunakan jalur darat untuk pergi ke daerah asing. Perahu barang dan kapal yang mengangkut Firaun, bangsawan, atau patung dewa-dewi dilapisi emas dan cat berwarna-warni. Kapal besar yang mengangkut, misalnya, obelisk dari tambang, harus ditarik dengan banyak kapal kecil (Millard.

(9)

Orang Mesir Kuno menciptakan jam matahari dan jam air untuk mengetahui waktu. Jam matahari berupa obelisk yang disinari matahari; bayangannya mengindikasikan waktu pada hari tersebut. Jam air ditemukan pada masa pemerintahan Amnehotep III. Ia berupa wadah batu yang terbagi menjadi 12 bagian yang memiliki dinding miring dan lubang di bawah yang mengalirkan air.

Mereka adalah yang pertama menggunakan alat-alat bedah primitif untuk luka dan operasi. Ditemukan perban, gips, jarum jahit, pinset, dan kait, dan gunting. Mereka yang menciptakan bajak, yang sampai sekarang dipakai di pertanian.

Selain menciptakan kalender 365 hari, bangsa Mesir Kuno juga menciptakan sistem penulisan angka dan pecahan. Mereka menciptakan Senet dan Mehen, 2 dari board game tertua di dunia. Board game ini ditemukan di kuburan, dan dianggap dapat membawa keberuntungan bagi orang mati. Selain itu, di kuburan anak-anak, terdapat mainan anak-anak dari berbagai macam material.

Terdapat sekitar 2000 dewa-dewi dan beberapa kultus yang penting dalam mitologi Mesir Kuno. Mitologi ini masuk dalam sistem keagamaan rakyat Mesir Kuno. Beberapa dari mereka berasal dari dewa-dewi binatang prehistoris. Firaun dianggap sebagai inkarnasi dewa matahari. Dewa-dewi meliputi:

1. Osiris, yang digambarkan sebagai manusia laki-laki yang dimumikan dengan topi kerucut putih berbulu. Ia adalah penguasa dunia kematian dan orang mati yang murah hati. Osiris juga dipercaya sebagai dewa kebangkitan kembali dan dewa kesuburan. Orang-orang Mesir Kuno percaya Osiris telah memberikan barley bagi mereka.

2. Amun, lelaki dengan headdress berhias bulu burung, membawa ankh (simbol kehidupan) dan tongkat was. Amun adalah raja para dewa dan dewa angin. Dia merupakan penolong orang miskin.

3. Ra, lelaki berkepala elang dengan headdress yang berhiaskan sun disk. Ia adalah dewa matahari, dan disebut dewa paling penting dari semuanya. Orang Mesir Kuno percaya bahwa Ra ditelan oleh dewi langit Nut tiap malamnya, dan terlahir kembali setiap paginya. Mereka percaya Ra berjalan melalui dunia kematian dengan bentuk manusia berkepala domba jantan pada malam hari.

(10)

4. Horus, sebagai manusia berkepala elang, atau elang saja. Ia adalah dewa langit serta dewa pelindung Mesir Kuno, dan merupakan anak Osiris dengan Isis. Setelah Set membunuh saudaranya Osiris, Horus bertarung melawan Set untuk takhta Mesir dan kehilangan satu matanya. Mata ini kemudian dikembalikan pada Horus, dan ia pun menjadi dewa dunia kehidupan. Firaun juga dikenal sebagai “Horus yang hidup”.

Gambar 2.9. Ra (kiri) dan Horus. Sumber: http://en.wikipedia.org

5. Isis, sebagai wanita dengan headdress berupa takhta, atau sepasang tanduk sapi dengan sun disk. Ia adalah dewi pelindung yang menggunakan sihirnya untuk menolong mereka yang membutuhkan. Ia sering digambarkan memangku anaknya Horus; takhta diasosiasikan dengan Isis karena takhta pertama yang diduduki Horus adalah pangkuan ibunya. 6. Anubis, sebagai manusia berkepala jackal, atau jackal saja. Ia adalah dewa

pembalseman dan orang mati. Karena jackal (anjing hutan) sering dijumpai di dekat kuburan, orang Mesir Kuno percaya bahwa Anubis mengawasi orang mati. Ialah yang memumikan Osiris setelah dibunuh Set. Pendeta sering memakai topeng Anubis pada saat upacara mumifikasi. 7. Thoth, sebagai manusia lelaki berkepala burung ibis yang membawa palet

menulis, burung ibis, atau babun. Ia adalah dewa pengetahuan dan tulisan di Mesir Kuno. Mereka percaya bahwa Thoth-lah yang memberikan hieroglif pada rakyat Mesir Kuno.

8. Bastet, sebagai wanita berkepala kucing. Ia adalah dewi pelindung yang lembut, meskipun terkadang ia muncul dengan kepala singa betina untuk

(11)

melindungi Firaun saat perang. Bastet diasosiasikan dengan kucing (“Gods and Goddesses.”).

Gambar 2.10. Bastet. Sumber: http://en.wikipedia.org

2.1.3. Arsitektur Mesir Kuno

Piramida Giza dibangun sepenuhnya tanpa mesin pada zaman Old

Kingdom, dan sering disebut sebagai suatu keajaiban dunia. Mereka merupakan

makam bagi Firaun Khufu, Khafra, dan Menkawre. Piramida Firaun Khufu terdiri dari hampir 2,3 juta balok batu yang masing-masing berbobot 2,3 ton, dengan tinggi total 146 meter. Pembangunan 1 piramida memakan waktu ± 20 tahun. Piramida-piramida tersebut hanya memiliki beberapa koridor dan 1 ruang pemakaman di dalamnya. Pekerjanya adalah petani-petani yang dibayar dengan pakaian, makanan, dan minyak. Piramida-piramida kecil di sampingnya dibangun untuk makam para ratu. Sebelum piramida dengan sisi-sisi mulus, piramida dengan bentukan sisi seperti tangga (Step Pyramid) dibangun sebagai eksperimen.

Selain itu, terdapat Sphinx yang terkenal. Dibuat untuk menjaga Piramida Giza, Sphinx adalah sebuah bentukan dewa matahari Mesir Kuno. Ia berupa singa berkepala manusia, yang katanya adalah wajah Firaun Khufu (Millard & Vanags, 20-21).

(12)

Gambar 2.11. Sphinx.

Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

Lembah Raja-raja (Valley of the Kings), sebuah lembah tersembunyi di Thebes, merupakan makam raja-raja Mesir Kuno pada era New Kingdom. Makam berupa lubang yang digali pada sisi gunung atau lembah, dengan koridor yang dihiasi lukisan kisah hidup raja tersebut, dan sebuah jalan tersegel yang menuju ruang makam. Tutankhamun adalah raja kecil yang dikubur di makam terkecil di sini, dan makamnya adalah satu-satunya yang selamat dari tangan penjarah makam.

Gambar 2.12. Howard Carter menginspeksi peti mati Tutankhamun. Sumber: Great Ages of Man – Ancient Egypt.

The Great Temples of Abu Simbel (Kuil Abu Simbel) adalah kuil di daerah Nubia

(13)

Mesir Kuno pada bangsa tetangganya, dan dominasi agama Mesir Kuno di daerah tersebut.

Gambar 2.13. Kuil Abu Simbel.

Sumber: http://www.kingtutone.com/pharaohs/ramses2/monuments/abu-simbel.jpg

Kuil Pemakaman Hatshepsut adalah salah satu kuil termegah di Mesir. Ia dinamai “Djeser-djeseru”, yang berarti “tersuci dari yang tersuci”. Ia dibangun di sisi lembah sehingga bebatuan di sekitarnya menjadi amphiteater yang mengelilingi kuil tersebut. Kuil ini didesain oleh tangan kanan Hatshepsut, Senenmut, dan halamannya dipenuhi pepohonan dan tanaman eksotis dari Punt.

Gambar 2.14. Kuil Pemakaman Hatshepsut di Deir el-Bahri.

Sumber: http://www.ancientegyptonline.co.uk/hatshepsutmorttemple.html

2.1.4. Tokoh-tokoh Penting Mesir Kuno

Hatshepsut (1508-1458 SM) adalah Firaun wanita yang menaiki takhta setelah kematian saudara tiri sekaligus suaminya, Thutmosis II. Ia menaiki takhta sembari menjadi wali bagi Thutmosis III yang masih kecil. Ia adalah Firaun

(14)

wanita Mesir Kuno dengan kekuasaan terlama (20 tahun) dan Mesir Kuno berjaya di bawah kekuasaannya. Hatshepsut pun menghendaki dirinya digambarkan sebagai Firaun lelaki, dengan baju, janggut palsu, dan mahkota Firaun, bukan untuk mengelabui rakyatnya, tapi karena tidak ada gambar untuk wanita dengan status setingginya. Kesuksesan Hapshetsut juga disebabkan kebolehannya merekrut pendukung, terutama dari kalangan pejabat yang merupakan pendukung ayahnya.

Gambar 2.15. Patung Hatshepsut.

Sumber: http://www.kingtutone.com/queens/hatshepsut/hatshepsut09093.jpg

Tidak seperti pemimpin lain di dinasti tersebut, Hatshepsut lebih memilih memakmurkan negerinya. Ia memimpin dengan damai, membangun dan memperbaiki banyak kuil dan monumen di daerah Mesir dan Nubia. Ia memiliki kuil yang megah di Deir el Bahari, yang dibangun dengan pengawasan Senenmut, tangan kanan Hatshepsut sekaligus juru bicara dan pelayan keluarga kerajaan. Kuil Djeser-djeseru tersebut dibangun untuk dewa Amun dan sebagai persiapan pemakamannya. Ia juga membangun sepasang obelisk granit merah di kuil Amun di Karnak. Dia mengirim ekspedisi ke daerah Punt yang jauh dan misterius untuk membawa pulang pohon dupa (myrrh) untuk ditanam di Mesir ("Hatshepsut.").

Thutmoses III (±1504-1426 SM) adalah ponakan Hatshepsut dan raja-prajurit yang terhebat dari Dinasti ke-18. Kekuasaan Mesir Kuno paling luas di bawah pemerintahannya, mencapai daerah Syria dan Palestina. Setelah kematian

(15)

Hapshetsut, ia menghancurkan atau merusak monumen-monumen yang dibangun atas perintah Hatshepsut, menghapus inskripsi tentangnya, dan membangun dinding mengelilingi obelisk-nya. Ini mungkin bukan karena dendam, tapi untuk menunjukkan kekuasaannya dan mempertegas posisi anaknya, Amenhotep II, sebagai penerusnya ("Thutmose II.").

Ramses II (meninggal 1155 SM) adalah Firaun kedua dari Dinasti ke-20 Mesir Kuno. Ia terkenal karena memimpin Mesir Kuno dalam 3 perang besar: melawan bangsa Hittite dan pendatang dari daerah Libya dalam banyak perang; yang paling terkenal adalah perang di Kadesh. Dia membangun Kuil Abu Simbel yang megah dan terkenal, juga banyak kuil dan kota-kota besar, mungkin untuk meninggalkan jejak kekuasaannya di sejarah ("Rameses II Biography.").

Amenhotep III adalah Firaun ke-9 dari Dinasti ke-18 Mesir Kuno. Ia berkuasa ketika Mesir Kuno aman tentram, dengan pesatnya arus dagang dan makmurnya pertanian dan rakyat. Ia tidak berniat menjajah bangsa lain dan lebih berfokus kepada pembangunan kota-kota dan banyak kuil, seperti Kuil Malkata di barat Thebes dan Kuil Amun yang berdiri di kota Luxor hari ini (“Amenhotep III.”).

Kleopatra (69 SM-30M) adalah generasi terakhir dari dinasti Makedonia yang dimulai pada 323 SM oleh Ptolemy. Ia mengambil alih kuasa Mesir setelah pemimpinnya, Alexander Agung dari Yunani, meninggal. Kleopatra adalah anak Ptolemy XII; meski ia berdarah Yunani, Cleopatra sangat fasih dalam bahasa Mesir Kuno dan beberapa bahasa lainnya, sehingga ia dapat berkomunikasi dengan diplomat dari negara-negara lain dengan mudah. Sesaat setelah naik takhta, Kleopatra berselisih dengan adiknya, Ptolemy XIII. Ia lari ke Syria untuk membangun pasukan untuk mengalahkan adiknya dan mengambil takhta untuknya sendiri. Pada 48 SM ia melawan adiknya di Pelusium. Pada saat yang sama, perang saudara di Roma antara Julius Caesar dan Pompeius sedang memanas. Pompeius kabur ke Mesir namun dibunuh atas perintah Ptolemy XIII. Caesar, yang mengejar Pompeius ke Mesir, bertemu dan jatuh cinta pada Kleopatra. Setelah pasukan Caesar mengalahkan pasukan Ptolemy dalam Perang Sungai Nil, Caesar mengukuhkan posisi Kleopatra sebagai pemimpin tunggal Mesir Kuno.

(16)

Setelah kematian Caesar pada 44 SM, Kleopatra bertemu Mark Antony, yang juga sedang berperang dengan iparnya, Gaius Oktavius (nantinya Kaisar Augustus). Antony melihat Kleopatra sebagai penyedia bantuan militer dan finansial dalam menghadapi Oktavius, dan Kleopatra ingin daerah Lebanon dan Syria yang dulunya miliki Mesir Kuno kembali. Mereka memiliki 3 anak. Pada 31 M pasukan Mesir mengalami kekalahan telak di perang di Aktium di pantai barat Yunani. Antony, yang mendengar kabar palsu bahwa Kleopatra mati dalam perang, lantas terpuruk dan bunuh diri dengan menikam dirinya sendiri. Kleopatra mengikuti jejak kekasihnya dengan bunuh diri menggunakan ular kobra ("Cleopatra VII.").

2.2 Sejarah Bangsa Cina Kuno

Sejak 5000 SM di Cina bagian utara, jejak-jejak agrikultur sudah muncul di lembah Sungai Kuning. 1500 tahun pertama sejarah Cina didominasi 3 dinasti: Xia (± 2200 SM), Shang (± 1700 SM), dan Zhou (± 1027 SM). Setelah kekuasaan Zhou memudar, Cina terbagi menjadi setidaknya 1000 negara kecil, dengan banyaknya kisah dan konflik mengenainya. Setelahnya, hanya ada 7 negeri besar yang tersisa: Qin, Han, Wei, Zhao, Qi, Chu, dan Yan, dengan beberapa negara kecil lainnya. Cina kemudian disatukan menjadi kekaisaran oleh Shi Huang Ti pada 221 SM. Dinasti terakhir Kekaisaran Cina adalah Qing (1644-1911); selanjutnya, Cina menjadi republik. Kebudayaan Cina adalah salah satu yang tertua di dunia, dan terus berlanjut sejak 9000 tahun yang lalu.

2.2.1. Kehidupan di Cina Kuno

Cina memiliki empat topografi yang berbeda-beda: hutan, padang pasir, padang rumput, dan pegunungan. Hampir 2/3 wilayah Cina merupakan pegunungan. Gurun pasirnya berbatu-batu, tandus, dan dingin. Letak geografis Cina yang secara natural terisolir dari negara lainnya, dengan kontak hanya dari bangsa-bangsa nomaden di barat laut dan penduduk nelayan di pinggir tenggara, membuat penduduk Cina Kuno merasa bahwa merekalah kebudayaan yang paling maju. Ini juga adalah mengapa mereka, yang tinggal di daerah subur dan dikelilingi bangsa-bangsa barbar, menganggap Cina adalah “Segala yang di

(17)

Bawah Kahyangan”. Mereka tidak mengenal adanya peradaban lain (misalnya di Eropa) sebelum terbentuknya Jalur Sutra pada 200 SM pada masa Dinasti Han. Penduduk Cina Kuno hidup di daerah antara Sungai Yangtze dan Sungai Kuning. Hujan yang menyeret endapan lempung, dan angin yang meniup debu kuning ‘loess’ dari daerah utara, memasok banyak tanah subur untuk para petani. Mereka membangun gubuk, bercocok-tanam, menjinakkan babi liar, menyanyi dan menari dengan iringan gendang, dan merebus persembahan dalam bejana berkaki tiga untuk dunia roh untuk meramalkan arah perubahan.

Bijak pertama, Fu Xi, mampu melihat masa depan dengan tempurung kura-kura. Cara meramal dengan tempurung kura-kura atau tulang binatang adalah sebagai berikut: pertanyaan dipahatkan ke tulang, kemudian dibakar atau dipanaskan dengan pin perunggu sehingga muncul retakan-retakan di baliknya yang kemudian dibaca oleh peramal. Solusinya juga dipahatkan setelahnya sebagai catatan. Konon, dia jugalah yang mendirikan sistem patriarki dengan melarang pernikahan laki-laki dan perempuan yang ayahnya punya hubungan darah. Sistem keluarga Cina telah berlangsung lebih dari 4000 tahun.

Gambar 2.16. Replika tempurung kura-kura untuk meramal. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:OracleShell.JPG

Raja adalah kedudukan tertinggi di Cina Kuno sebelum bersatunya Cina Kuno di bawah pemerintahan Shi Huang Ti, Kaisar pertama Cina. Bendera raja berwarna kuning, dan tidak ada yang boleh memakai warna ini selain raja. Ia diperlakukan bak dewa, dan kerajaan dijalankan oleh menteri-menteri dan

(18)

jenderal-jenderalnya. Raja-raja terdahulu dikubur dengan budak, kuda, kereta, dan persembahan untuknya.

Hukuman bagi pengkhianatan kepada raja adalah hukuman mati bagi sang pengkhianat dan keluarganya. Terdapat 5 macam hukuman di Cina Kuno: rajah muka, potong hidung, potong kaki, kebiri, dan hukuman mati. Eksekusi biasanya dilakukan di alun-alun pasar (Gonick. Kartun Riwayat Peradaban Jilid II, 54-69). Pada zaman dinasti Shang, Cina Kuno sudah memiliki mata uang terstandar, mendirikan benteng-benteng dan kota-kota besar, dan menggunakan huruf yang nantinya menjadi dasar bahasa Cina. Sampai pada Dinasti Ming yang berakhir pada 1644 M, Cina merupakan pemimpin dunia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Empat Penemuan Besar Cina adalah pembuatan kertas, percetakan, kompas, dan bubuk mesiu.

Kesimpulan yang bisa ditarik sejauh ini adalah karena daerahnya yang memiliki topografi bermacam-macam yang memiliki bahayanya masing-masing, penduduk Cina Kuno dapat menciptakan alat-alat primitif untuk membantu mereka bertahan hidup. Ini kemudian disusul dengan penyempurnaan teknologi tersebut dan menyebarnya pengetahuan ke berbagai wilayah lain di Cina. Sumber daya alamnya yang berlimpah dan pengetahuan pun kemudian membuat mereka dapat menciptakan sutra, kertas, dan porselen. Meskipun Cina Kuno terisolir dari bagian dunia lainnya, mereka dapat membangun peradaban yang maju.

Cina Kuno mempraktikkan sistem feodalisme, yang baru muncul di Eropa lama setelahnya. Keluarga dan teman-teman raja mendapatkan tanah kekuasaan beserta petaninya. Mereka harus setia kepada raja, tapi bebas berselisih dengan sesamanya. Birokrasi inilah yang membuat Cina dapat memerintah daerah kekuasaannya yang luas.

Keluarga Cina Kuno dipimpin figur ayah. Wanita dikuasai oleh ayah, suami, atau (bila janda) anak lelakinya. Pernikahan diatur oleh orang tua mereka dengan bantuan perantara, dan anak-anaknya tidak bisa membantah. Anak lelaki dipandang sebagai aset yang bernilai karena mereka adalah penerus keluarga, sementara anak perempuan kurang dihargai; banyak bayi perempuan dibuang ke jalan atau sungai. Ketika berumur 4-5 tahun, kaki anak perempuan diikat sehingga

(19)

lama-kelamaan berbentuk seperti ‘bunga lili’, yang dipandang memikat bagi lelaki.

Di kota, orang-orang bijak/terpelajar mengambil murid-murid dan mengajari mereka ajaran-ajaran Kong Fuzi. Mereka lebih dihormati rakyat daripada pedagang/saudagar kaya. Anak laki-laki yang bisa menulis dan membaca bisa masuk sekolah dengan harapan menjadi pegawai pemerintah, namun dia harus mempunyai pengetahuan mendalam tentang puisi kuno dan ajaran-ajaran Kong Fuzi. Namun, kebanyakan anak lelaki tidak mampu masuk sekolah dan bekerja di ladang. Kehidupan petani miskin dan umumnya tidak panjang. Mereka menanam gandum dan milet di utara, dan padi di selatan. Binatang yang dipelihara adalah ayam, babi, dan sapi atau kerbau. Di daerah pantai, banyak yang menjadi nelayan: mereka ‘memancing’ dengan menggunakan burung cormorant yang lehernya dikalungi tali, sehingga mereka tidak menelan ikan yang ditangkapnya (Millard & Vanags, 74-77).

Dibandingkan rakyat miskin yang hanya makan nasi, mi, atau pangsit, orang-orang kaya di Cina Kuno makan bermacam-macam jenis padi-padian, daging, ikan, dan sayur-mayur. Sup dapat berisi sirip hiu, sarang burung, kaki beruang, dan siput laut. Mereka lebih suka tinggal di kota; rumah mereka besar dan terbuat dari kayu dan bata, dengan atap dari genteng yang melengkung. Mereka menyukai taman yang besar. Rakyat miskin tinggal di gubuk beratap jerami. Orang-orang Cina Kuno tidak memiliki banyak perabot dalam rumah mereka, namun mereka memiliki altar kecil dalam setiap rumah untuk menyembah pendahulu mereka yang telah meninggal.

Giok dan perunggu adalah 2 material yang amat berharga di Cina Kuno. Selain kekerasannya, giok dianggap berguna karena ia bersifat magis; giok banyak digunakan dalam membuat peralatan untuk upacara dewa-dewi dan asesoris untuk orang mati. Perunggu digunakan untuk bejana ritual, pot, lonceng, cermin, dan senjata. Banyak kerajinan perunggu dihias menggunakan cara pengecoran mereka yang unik. Sejak zaman Dinasti Xia, sudah terdapat kerajinan giok dan tanah liat yang detil dan mutakhir untuk zaman tersebut.

(20)

Gambar 2.17. Kerajinan perunggu Dinasti Shang.

Sumber: http://www.yourchildlearns.com/images/shang_bronze.jpg

Seniman Cina Kuno melukis di atas sutra atau kertas, dengan subyek yaitu bunga, binatang, dan pemandangan alam. Mereka menekankan tema ‘alam’ pada karya-karya mereka, dan binatang merepresentasikan aspek-aspek manusia dalam karya tersebut. Penyair Cina Kuno menulis banyak puisi tentang cinta, kesedihan, perang, dan pergolakan sosial.

Pada Zaman Musim Semi dan Gugur (770-476 SM) dan Periode Negara Perang (475-221 SM), beberapa aliran filosofi berkembang di Cina. Kong Fuzi, seorang cendekiawan, mengajarkan Konfusianisme, sebuah system etika yang berfokus pada bagaimana semua orang harus bertindak sesuai dengan posisinya dalam kehidupan dan sepantasnya; penguasa harus adil dan manusiawi, sementara rakyatnya harus loyal dan patuh. Taoisme adalah agama yang mengajarkan untuk hidup dengan harmonis sesuai dengan Tao (“The Way”). Legalisme adalah filosofi memimpin dengan mengontrol rakyatnya dengan rasa takut. Berkebalikan dengan Konfusianisme yang berbasis perilaku moral dan manusiawi, legalisme menggunakan hokum-hukum yang ketat dan hukuman yang keras, dan rakyat dianjurkan melaporkan kesalahan orang lain.

Orang-orang Cina Kuno, yang hidup di tengah perang yang tiada habis-habisnya, memiliki sejuta cerita dan taktik tentang perang. Misalnya, di batang pohon di pinggiran hutan, seorang jenderal musuh menuliskan “Pang Juan mati di bawah pohon ini”, lalu menyembunyikan pemanah-pemanahnya di kedua sisi jurang. Pada malam hari, jenderal Pang Juan yang melihat tulisan tersebut

(21)

meminta anak buahnya untuk membawakannya obor. Api obor itu adalah tanda bagi pemanah-pemanah untuk beraksi, dan Pang Juan pun tewas. Ada lagi Raja Yue yang membuka perang dengan pasukan berani matinya yang memenggal kepala mereka sendiri untuk mengejutkan lawannya (Gonick, 74-79).

Prajurit Cina Kuno awalnya memakai kereta kuda dalam pertarungan, namun karena tanah yang tidak mulus, akhirnya kereta kuda ditinggalkan. Mereka bertarung di atas kuda atau kaki mereka sendiri. Prajurit elit menggunakan baju zirah dari petunggu, bersenjatakan pisau, tombak, atau kapak logam, dan menunggangi kuda. Rakyat miskin yang bergabung sebagai tentara memakai tunik dan celana, senjata dari batu, dan tameng kayu.

2.2.2. Hasil Budaya Cina Kuno

Cina merupakan tempat kelahiran banyak benda yang mengubah cara hidup manusia dan sampai sekarang masih dipakai. Empat Penemuan Besar Cina adalah pembuatan kertas, percetakan, kompas, dan bubuk mesiu. Meskipun papirus adalah material menulis yang pertama digunakan di Mesir Kuno, kertas dari bubur kayu yang merupakan prekursor kertas modern dibuat di Cina pada sekitar abad ke-2 SM. Ia menggantikan material yang lebih mahal seperti potongan-potongan bambu yang dijahit ke dalam gulungan, sutra, tablet tanah liat, dan tablet kayu. Dari produksi kertas, mereka membuat gelas kertas, serbet kertas, lampion, dan seni papercutting yang pertama. Mereka jugalah yang menciptakan dan pertama menggunakan uang kertas, yang disebut ‘uang terbang’ karena dapat tertiup lepas dari tangan orang saking ringannya.

Kemudian, orang Cina Kuno mencetak cetakan pertama, berupa selembar sutra dharani dalam bahasa Sanskrit di atas kertas rami, dengan balok kayu yang dipahat (woodblock printing). Lembar ini diperkirakan berasal dari 650-670 M, dan buku pertama yang dicetak dalam ukuran teratur adalah Diamond Sutra yang panjangnya 5,18 m pada 868 M. Percetakan menggunakan movable type, atau blok-blok perunggu atau tanah liat yang berukirkan karakter-karakter Bahasa Cina, diciptakan oleh Bi Sheng pada 1045 M.

(22)

Gambar 2.18. Bi Sheng dari Dinasti Song (960-1127) menciptakan percetakan movable type.

Sumber: coinsky.com

Orang Cina Kuno mempelajari magnetisme sejak 500 SM, dan mereka membuat kompas yang berbentuk seperti sendok di atas piringan persegi. Kompas digunakan dalam feng shui, ilmu pengaturan letak bangunan. Setelah diciptakannya kompas, selatan menjadi arah suci. Dalam setiap perayaan dan pertemuan, raja selalu menghadap ke selatan. Kemudian dibuatlah kereta yang menghadap ke selatan: kursi penumpang dihubungkan dengan mekanisme pemutar sehingga selalu berputar secara otomatis ke arah selatan.

Gambar 2.19. Kompas Cina Kuno.

Sumber: http://www.vhinkle.com/china/compass.jpg

Bubuk mesiu ciptaan ilmuwan Cina Kuno mengubah metode perang; dengan mencampur belerang, arang, dan saltpeter (kalium nitrat), campuran

(23)

bahan peledak ini pertama dipakai pada zaman Dinasti Tang (618-907). Dari bubuk mesiu diciptakanlah mercon, kembang api, panah api, dan flare (bom sinyal).

Sutra adalah kain halus yang ditenun dari kepompong ulat sutra. Sutra tertua yang ditemukan berasal dari sekitar 3630 SM. Sejak ditemukan bahwa kepompong dari ulat tersebut dapat direbus, diurai, dan dipintal menjadi kain sutra, orang-orang Cina Kuno mulai mengembangbiakkan ulat sutera dalam bingkai berlapis daun murbei. Proses yang dijalani meliputi pemilihan kepompong terbaik, menyisakan kepompong untuk generasi selanjutnya, mengatur pemasakan, menanam semak-semak murbei terbaik, dan lainnya. Proses ini dijaga kerahasiaannya selama ratusan tahun. Orang Romawi dan Yunani Kuno menjuluki Cina “Seres”, tanah tempat sutra berasal. Sutra adalah barang termahal yang dijualbelikan dalam perdagangan (Gonick, 56-57).

Gambar 2.20. “Lady, Dragon, and Phoenix” (kiri). 2.21. “Man Driving the Dragon”. Keduanya dilukis di atas sutra, dan berasal dari 476-221 SM. Sumber:

http://cdn.shopify.com/s/files/1/0118/6582/files/Lady-Dragon-Phoenix-Ancient-Silk-Painting.jpg?3420

http://cdn.shopify.com/s/files/1/0118/6582/files/Man-Driving-Dragon-Ancient-Silk-Painting.jpg?3422

Orang Cina Kuno telah membuat minuman beralkohol jauh lebih dulu dibandingkan orang Mesir Kuno; sejak 7000-6600 SM. Bir dengan kandungan

(24)

alkohol 4-5% umum diminum rakyat Cina Kuno, dan ditulis di tulang ramalan sebagai sesajian untuk roh-roh di Dinasti Shang.

Penemuan Cina Kuno yang lainnya meliputi jam mekanik, yang pertama dikembangkan oleh biksu Budha, Yi Xing, pada 725 M. Jam ini beroperasi dengan tetesan air yang memutar roda yang melakukan 1 revolusi penuh setiap jamnya. Su Sung mengembangkan model tersebut pada 1092 dan menambahkan alat berbentuk bola untuk mempelajari posisi bintang.

Gambar 2.22. Menara jam mekanik Su Sung setinggi 10 meter. Sumber: http://www.vhinkle.com/china/clock.gif

Orang Cina Kuno sudah melapisi peralatan mereka dengan getah dari pohon lac bernama lacquer (pernis). Mereka melapisi sepatu, kereta kuda, payung, dan rumah mereka supaya tahan air dan mengkilap.

Budaya minum teh berasal dari Cina Kuno pada sekitar abad ke-1 SM. Pada mulanya teh digunakan sebagai obat herbal, kemudian ia diproses dan menjadi minuman pada Dinasti Han (202 SM-220 M). Orang Cina Kuno juga menciptakan teko teh untuk menyiapkan minuman tersebut.

Orang Cina Kuno adalah yang menemukan teknik pengecoran besi dan baja sejak abad ke-5 SM. Dengan menggunakan tungku tanah liat dan dan fosfor untuk menurunkan titik leleh besi, mereka dapat mengecor besi menjadi bentuk yang ornamental dan fungsional. Selain bejana dan panci yang berdinding tipis, besi juga digunakan untuk alat pembajak, senjata, bangunan, dan bahkan mesin.

(25)

Gambar 2.23. Peralatan dari besi, baja, dan perunggu (kiri). 2.24. Porselen, yang disebut china karena berasal dari Negeri Cina.

Sumber: nipic.com

Porselen adalah sejenis keramik yang dibuat dengan mencampurkan kaolin (tanah liat putih) dengan bahan-bahan lain, dan membakarnya dalam temperatur tinggi. Ia berbeda dengan keramik lainnya; porselen keras, tahan air meskipun tidak diglazur, putih sebelum diberi warna, dan tervitrifikasi.

Selain itu, Orang Cina Kuno juga menciptakan cat kuku, yang terbuat dari putih telur, lilin lebah, pewarna, gum arabic, dan gelatin. Mereka adalah yang pertama menggunakan dan menciptakan simbol untuk angka negatif. Mi pertama berasal dari Cina Kuno; mi yang ditemukan di daerah Lajia berusia 4000 tahun dan terbuat dari 2 jenis tepung. Mereka menciptakan layangan pada abad ke-4 SM, dan layangan tanpa tali (yang sekarang disebut hang gliders) pada abad ke-6 M digunakan untuk menghukum kriminal dengan cara mengikat mereka di layangan tersebut dan mendorongnya dari tebing (Liyao. “Top 10 greatest inventions of Ancient China.”).

Orang Cina Kuno membuat seismometer pertama pada abad ke-2 M. Pada saat terjadi getaran, bola metal akan jatuh dari salah satu mulut naga ke dalam mulut katak untuk menunjukkan arah terjadinya gempa. Mereka juga menciptakan

tofu, permainan yaitu mahjong, domino, board game go dan xiangqi, dan sumpit.

Mereka menggunakan giok, batu yang dianggap mempunyai kekuatan mistis, untuk membuat patung (binatang asli dan mitologi), asesoris, peralatan ritual, dan senjata (“List of Chinese Inventions.”).

(26)

Gambar 2.25. Seismometer (kiri). 2.26. Ornamen bunga dan anggur giok. Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:EastHanSeismograph.JPG http://en.wikipedia.org/wiki/File:Jade_ornament_with_grape_design.jpg

I Ching adalah salah satu karya klasik Cina, dan merupakan buku manual ramalan

yang sampai sekarang banyak digunakan untuk memberi petunjuk dalam hal moral, bisnis, psikoanalisis, dan seni. Karya klasik Cina yang lain adalah The Art

of War yang ditulis oleh jenderal dan taktisi piawai, Sun Tzu.

Mitologi Cina Kuno penuh dengan dewa-dewi dari berbagai macam asal: kekuatan alam, ajaran Budha, ajaran Konfusius, ajaran Tao, dan lainnya. Beberapa dari dewa-dewi tersebut adalah:

1. Long-Wang, atau Raja-raja Naga, adalah roh-roh suci penjaga laut. Mereka tinggal di istana di bawah laut dan bisa berubah wujud menjadi manusia. Selain menjaga kehidupan laut, mereka juga mengontrol cuaca dan curah hujan. Mereka menguasai segala bentuk air yang bergerak, dan menunjukkan diri dengan bentukan angin puyuh atau puting beliung di atas air. Ao-Chin menguasai Laut Selatan, Ao-Jun barat, Ao-Shun utara, dan Ao-Kuang timur. Pada waktu banjir atau kekeringan, rakyat memberikan kurban dan melakukan upacara untuk menenangkan naga dan meminta atau menghentikan hujan (“Dragon King.”).

2. Yu-Huang, atau Jade Emperor (Kaisar Langit), adalah representasi dewa pertama dalam mitologi Cina Kuno. Ia digambarkan sebagai pangeran dari Kerajaan Kedamaian dan Cahaya Surgawi Agung yang baik hati, pintar, dan bijak. Setelah 1750 kalpa (1 kalpa = 129.600 tahun) bermeditasi, ia

(27)

mencapai Keabadian Emas, dan menjadi Kaisar Langit 100 juta tahun kemudian (Jade, par. 3-4). Ia bertarung dengan makhluk jahat yang berkeliaran di bumi hingga gunung-gunung bergetar dan laut bergejolak. Karena kebijakan dan belas kasihannya, bukan karena kekuatannya, Kaisar Langit menang, dan ia pun diangkat oleh dewa-dewi menjadi penguasa berkedaulatan tertinggi atas alam semesta. Kaisar manusia di Cina Kuno dilihat sebagai perwujudan dan hamba Kaisar Langit, dan mereka berhak memerintah sesuai dengan Mandate-of-Heaven (Mandat Surga) dan melapor menggunakan piringan bi giok (“Jade Emperor.”).

Gambar 2.27. Kaisar Langit dilukis di atas sutra. Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Jade_Emperor#/media/File:Jade_Emperor._Ming_Dy nasty.jpg

3. Eight Immortals, atau Delapan Dewa, adalah 8 orang yang mendapat kehidupan abadi dari ajaran Tao, dan merupakan simbol panjang umur dan kemakmuran. Mereka diabadikan dalam banyak lukisan dan cerita tertulis, dan dikatakan terkait dengan awal mulanya seni bela diri qigong. Mereka adalah:

 He Xiangu, yang membawa bunga teratai yang menyembuhkan badan dan pikiran seseorang. Ia juga membawa alat musik Shēng, sendok bambu, atau ditemani burung fènghuáng.

 Cao Guojiu, yang memakai baju resmi pejabat. Tablet giok yang dibawanya dapat menyucikan lingkungan. Ia terkadang membawa kastenyet, dan disembah sebagai dewa pelindung para aktor.

(28)

 Li Tieguai, seorang yang pemarah namun sangat berbelas kasihan pada yang miskin dan sakit. Ia memakai tongkat ketiak dan membawa wadah dari labu kundur yang berisi obat untuk mereka yang sakit.

 Lan Caihe, yang membawa kastenyet yang dimainkannya di depan banyak orang. Uang yang didapatnya akan ditali menjadi bertali-tali koin, dan pengemis dapat mengambil uang yang jatuh.

 Lu Dongbin, seorang cendekiawan yang membantu mereka belajar ajaran Tao dan mencapai pencerahan.

 Han Xiangzi, yang serulingnya membawa kehidupan.

 Zhang Guolao, yang menaiki keledai putih kesayangannya dan membawa instrumen Yü Ku, atau bulu phoenix atau buah persik sebagai lambang keabadian.

 Zhongli Quan, yang memiliki kipas yang mampu membangkitkan orang

mati, dan mengubah batu menjadi emas atau perak (“Eight Immortals.”).

Gambar 2.28. Delapan Dewa mengarungi laut. Dari pucuk kanan atas searah jarum jam: He Xiangu, Han Xiang Zi, Lan Caihe, Li Tieguai, Zhongli Quan, Cao

Guojiu, dan Zhang Guo Lao di luar kapal. Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Eight_Immortals#/media/File:Eight_Immortals_Cros sing_the_Sea_-_Project_Gutenberg_eText_15250.jpg

4. Guan Yu, dewa perang, persaudaraan, dan seni bela diri. Ia bersenjatakan tombak bernama Green Dragon Crescent Blade yang berbobot 18,25 kg.

(29)

Di novel historis Romance of the Three Kingdoms, Guan Yu digambarkan sebagai prajurit yang setia dan adil (“Guan Yu.”).

5. Guanyin, dewi kemurahan hati, dilihat sebagai sumber dari cinta kasih dan penyelamatan. Ia berjanji mendengarkan permintaan segala makhluk hidup dan membebaskan mereka dari lingkaran karma. Di Cina, Guanyin digambarkan sebagai wanita muda dengan jubah panjang putih, memakai kalung kerajaan Cina/India, membawa guci berisi air murni di tangan kiri, dan dahan pohon willow di tangan kanan. Meskipun begitu, gender Guanyin tidak jelas karena ada berbagai versi lain di mana Guanyin adalah lelaki (Guanyin). Ia juga digambarkan duduk di atas bunga teratai memangku anak kecil. Guanyin dibunuh oleh ayahnya, namun sesampainya di Neraka, ia membacakan ayat-ayat kitab suci. Penguasa Neraka tidak mampu menghukumnya, dan ia dikirim kembali ke dunia orang hidup, di mana ia mencapai pencerahan dan menjadi dewi. Ia unik di antara dewa-dewi lainnya karena ia tidak sombong ataupun mencari balas dendam (Crystal. “Kwan Yin.”).

Gambar 2.29. Pahatan kayu Guanyin versi lelaki dari Dinasti Sung. Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Guanyin#/media/File:Kuan-yan_bodhisattva,_Northern_Sung_dynasty,_China,_c._1025,_wood,_Honolulu_A cademy_of_Arts.jpg

6. Lei Gong, dewa petir yang membawa drum dan palu untuk membuat petir, dan pahat untuk menghukum orang-orang jahat. Dalam ajaran Tao, sesuai perintah dari surga, ia menghukum manusia yang menyembunyikan

(30)

perbuatan jahat yang mereka lakukan, dan roh-roh jahat yang menyalahgunakan ajaran Tao untuk menyakiti manusia. Ia digambarkan sebagai sosok mengerikan dengan kepala biru, berparuh burung, bersayap kelelawar, dan berkuku tajam. Orang Cina Kuno menyembahnya dengan harapan ia akan membalas dendam kepada musuh pribadi mereka. Lei Gong memiliki istri yaitu Lei Zi, dewi kilat yang katanya menggunakan cermin mengkilat untuk membuat kilat di angkasa (“Lei Gong.”).

7. Cai Shen, dewa kekayaan dan kemakmuran yang membawa tongkat emas dan mengendarai macan hitam. Ia juga digambarkan membawa tongkat besi yang mampu mengubah batu dan besi menjadi emas. Orang-orang berdoa kepada Cai Shen agar bisnis mereka lancar (“Cai Shen.”).

8. Nüwa, dewi yang memperbaiki pilar surga dan menciptakan manusia dari lumpur. Ia dikenal sebagai anak dari Kaisar Giok, dan dipanggil Dewi Ular. Ketika bumi tidak mampu menopang surga dan bencana terjadi di mana-mana, Nüwa menempa 5 batu berwarna (yang merupakan 5 fase: kayu, api, tanah, metal, dan air) untuk memperbaiki langit biru, memotong kaki kura-kura besar dan memasangnya menjadi empat pilar surga, dan membunuh naga hitam (sebagai sumber bencana banjir) untuk menyelamatkan Provinsi Ji (daerah Cina tengah) (“Nüwa.”).

Gambar 2.30. Dewi Ular.

(31)

2.2.3. Arsitektur Cina Kuno

Tembok Besar Cina adalah arsitektur yang paling terkenal di Cina. Ia dibangun dalam lebih dari 10 dinasti, mulai dari abad ke-7 SM sampai abad ke-17 M. Pada awalnya, Negara Chu membangun dinding untuk pertahanan militer. Karena kesuksesannya, negara-negara lain ikut membangun dinding sendiri. Kaisar Shi Huang Ti yang menyatukan Cina menjadi kekaisaran kemudian menyambungkan tembok-tembok tersebut, serta membangun tembok terusan di utara untuk melindungi Cina dari bangsa Hun.

Tembok Besar Cina pada Dinasti Ming adalah yang terbaik dari segi teknis dan fasilitas pertahanan., terutama tembok di sekitar Beijing. Pembangunan Tembok Besar Cina memerlukan sumber daya alam, manusia, dan biaya yang besar. Banyak bagian temboknya yang kerap direnovasi. Ia dibangun dengan bata, tanah, dan batu, dan dilengkapi tempat untuk pemanah, menara kawal, tempat tidur prajurit, dan gudang senjata. Orang Cina Kuno memanfaatkan topografi dalam membangun Tembok Besar; mereka memilih tempat yang memiliki keuntungan strategis atau yang sulit diakses.

Gambar 2.31. Tembok Besar Cina di Jinshanling. Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/File:The_Great_Wall_of_China_at_Jinshanling.jpg

Forbidden City, atau Kota Terlarang, adalah istana kekaisaran Dinasti

(32)

Ungu, dan manusia biasa dilarang masuk. Tempat tinggal Kaisar, sebagai Utusan Langit, juga tidak boleh dimasuki orang biasa. Ketika pembangunan dimulai, sebanyak 100.000 pekerja dan tukang dikumpulkan di Beijing. Seiring dengan pembangunan, 1 juta pekerja dikerahkan dari berbagai penjuru Cina untuk mengumpulkan dan mengirim material bangunan ke sana. Istana ini selesai pada 1420. Luasnya mencapai 720.000 m2, dengan lebih dari 8700 kamar dan 90 taman. Dinding yang mengelilingi kompleks ini setinggi 10 m dan dilengkapi menara kawal di tiap sudutnya dan parit selebar 52 m. Ia dibangun untuk menunjukkan keagungan dan kemegahan pemimpin Cina.

Sesuai tradisi, Kota Terlarang dibagi menjadi 2: bagian depan untuk tempat kerja kaisar, aula untuk tamu kekaisaran, dan upacara penting; bagian belakang sebagai tempat tinggal keluarga kaisar. Terdapat 3 aula: Hall of Supreme

Harmony, dengan langit-langit setinggi 14,4 m, adalah tempat upacara penobatan

kaisar baru, pernikahan, ulang tahun, dan festival penting. Hall of Midway

Harmony merupakan tempat istirahat di tengah kerja atau persiapan Kaisar

sebelum memberikan eulogi. Hall of Perfect Harmony adalah tempat Kaisar mengecek kinerja para menteri pada akhir tahun (kalender Cina), dan tempat ujian pegawai negeri.

Makam Kaisar Shi Huang Ti terkenal karena bukit yang merupakan makamnya tersebut dipenuhi ribuan patung terakota prajurit, kuda dan keretanya, serta ornamen-ornamen lain. Makam dengan luas 56,25 km2 ini merupakan makam imperial terbesar di dunia. Terdapat reruntuhan tembok luar yang dulunya merupakan aula-aula istana untuk memenuhi kebutuhan Kaisar dalam alam baka, dan ditemukan setidaknya 600 lubang yang berisi benda-benda ritual pemakaman dan kerangka manusia serta binatang. Terdapat ratusan kerangkan kuda, binatang liar, dan burung sebagai ‘kandang kuda’ dan ‘tempat berburu’ kaisar di akhirat. Para pekerja makam dan dayang-dayang sang kaisar juga dikubur hidup-hidup untuk menjaga rahasai kaisar setelah kematiannya, dan menemaninya. Terdapat ribuan prajurit terakota yang masing-masing dimodel berdasarkan orang asli; tidak ada patung yang berwajah sama. Detail yang dibuat menakjubkan, mulai dari rambut, alis, hingga tali sepatu si prajurit.

(33)

Kaisar Shi Huang Ti sendiri dikubur di Istana Bawah Tanah yang belum diekskavasi dan terletak di bawah ribuan patung prajurit yang memenuhi mausoleum. Menurut catatan sejarah, istana tersebut sangat besar, dan terdapat kubah raksasa yang dihiasi lukisan dan diagram astronomi dengan batu-batu berharga; replika sungai, danau, dan laut dari merkuri yang terus mengalir dengan bantuan mekanisme; miniatur pemandangan alam; dan aula-aula besar dimana sang kaisar menerima tamunya. Istana tersebut dipasangi jebakan untuk membunuh pembobol makam.

Gambar 2.32. Pasukan terakota.

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Terracotta_Army-China2.jpg

Gua Mogao adalah gua di sisi lembah yang bermula ketika seorang biksu Budha, Le Zun, melihat sinar keemasan di puncak Gunung Sanwei dalam perjalanannya. Merasa mendapat pencerahan, ia pun menggali gua di sana untuk mempraktekkan ajaran Buddhisme. Selama periode pembangunan 1000 tahun setelahnya, Gua Mogao kini memiliki 7000 grotto dalam 5 tingkatan lantai yang disusun rapat di sisi tebing setinggi 1600 m. Ukuran grotto terkecil hanya mampu menampung 1 topi. Selain patung, terdapat mural mengenai cerita dan ajaran Budha, lukisan tentang naskah Budha, dan motif-motif dekoratif yang gayanya bervariasi sesuai dinastinya.

(34)

Gambar 2.33. Patung Budha di Gua Mogao. Sumber: http://www.crystalinks.com/MogaoCaves3.jpg

Kuil, mansiun, dan makam Kong Fuzi terletak di Qufu. Ia adalah simbol bagaimana orang Cina Kuno mengikut paham Konfusianisme. Mansiunnya, yang dibangun berdasarkan istana kekaisaran di Beijing, memiliki 9 taman dan 463 kamar. Menurut aturan, pewaris Kong Fuzi harus tinggal di sana untuk melayani dan menyembah sang guru. Banyak relik, kostum kuno, dan catatan sejarah disimpan di sana. Makam Kong Fuzi sendiri terletak di tengah hutan.

Makam Imperial Dinasti Ming dan Qing merujuk kepada kompleks makam para kaisar dari kedua dinasti tersebut. Seperti bangunan Cina Kuno lainnya, makam-makam ini dibangun menurut prinsip feng shui, dan menekankan aspek harmoni antara manusia dan alam. Kemegahan dan kemewahan makam-makam kekaisaran ini merupakan bukti supremasi pemimpin Cina (World

Heritage Sites in China).

2.2.4. Tokoh-tokoh Penting Cina Kuno

Konfusius, atau Kong Fuzi (“Master Kong”) (551-479 SM) adalah seorang cendekiawan kelahiran negara Lu yang bermartabat tinggi, dan merupakan tokoh yang sangat penting dalam sejarah Cina. Ajaran-ajarannya dikumpulkan oleh murid-muridnya dalam buku-buku “Analekta”. Dia mengajarkan tentang bagaimana melakukan segala sesuatu dengan benar: dengan bijak, pantas, rasional, dan teratur. Kong Fuzi mengerti bahwa kesejahteraan masyarakat bergantung pada moralitas orang-orangnya. Karena itu, ia mengajarkan bahwa mulai dari anggota keluarga sampai pemerintah harus memiliki hubungan yang

(35)

harmonis: antara penguasa dan pengikut, ayah dan anak lelaki, suami dan istri, kakak lelaki dan adik lelaki, serta sesama teman. Ia juga mendefinisikan “bangsawan” sebagai orang dengan nilai-nilai kemanusiaan, integritas, keadilan, belas kasih, loyalitas, dan perilaku yang pantas.

Gambar 2.34. Kong Fuzi (kiri). 2.35. Laozi sebagai Daode Tianzun. Sumber: en.wikipedia.org

Li Er, atau Laozi (“Old Master”) adalah penulis puisi dan filsuf Cina Kuno. Ia terkenal sebagai pencipta aliran Taoisme (“The Way”) dan penulis buku

Tao Te Ching (atau Laozi), yang, bersama dengan Zhuangzi, merupakan 2 buku

utama ajaran Taoisme. Diperkirakan Laozi hidup antara 600-400 SM pada Periode Negara Perang (475-221 SM). Ia dedewakan dalam Taoisme. Tao dideskripsikan sebagai sumber dan bentuk ideal segala eksistensi: ia tidak terlihat namun tidak melampaui indera fisik manusia, sangat kuat namun juga sangat rendah hati, dan merupakan dasar dari segala sesuatu. Manusia, yang memiliki hasrat dan pikiran sendiri, dapat bersikap ‘tidak natural’ dan merusak keseimbangan Tao. Tao Te Ching bertujuan mengarahkan murid-muridnya kembali ke sikap ‘natural’ mereka, yang harmonis dengan Tao (“Laozi.”).

Zhuang Zhou, atau Zhuangzi (“Master Zhuang”) adalah filsuf Cina Kuno yang hidup pada Periode Negara Perang. Ia menulis karya berjudul Zhuangzi yang berisi cerita-cerita pendek, fabel, dan anekdot jenaka yang menggambarkan contoh orang bijak Tao yang ideal dan tanpa beban. Filosofi Zhuangzi adalah skeptisisme; hidup itu terbatas sementara pengetahuan yang harus didapat tidak terbatas. Dengan demikian, mengejar sesuatu yang tanpa batas dengan yang

(36)

terbatas adalah hal yang bodoh. Pemikirannya juga bisa disebut awal dari relativisme: pada bagian ke-4 “The Great Happiness”, Zhuangzi berbelas kasihan pada sebuah tengkorak di pinggir jalan. Ia meratapi bahwa tengkorak itu sekarang mati, namun tengkorak itu membalasnya, “Bagaimana kamu tahu kalau mati adalah hal yang buruk?” (“Zhuang Zhou.”).

Qin Shi Huang, atau lebih dikenal dengan Shi Huang Di, adalah raja negara Qin yangberhasil menyatukan semua negara dalam Periode Negara Perang pada 221 SM dan menjadi kaisar pertama Cina. Pada masa kekuasaannya, jenderal-jenderalnya memperluas wilayah Cina menjadi besar. Ia juga bekerjasama dengan Menteri Li Si untuk mereformasi ekonomi dan politik Cina dengan tujuan menstandarisasi praktek-praktek terdahulu yang berbeda-beda di setiap negara; sebagai akibatnya, banyak buku-buku penting dibakar dan filsufnya dibunuh. Contohnya adalah penyamaan unit ukur Cina seperti timbangan dan alat ukur, mata uang, dan panjang as gerobak agar sesuai untuk sistem jalan. Yang terpenting adalah penyatuan tulisan Cina; semua tulisan regional digantikan oleh satu tulisan terstandar untuk semua bagian Cina. Ia juga menyatukan dinding-dinding negara bagian menjadi Tembok Besar Cina, membangun sistem jalan nasional dan kanal-kanal untuk meningkatkan perdagangan, dan memerintahkan pembangunan kuburannya yang sebesar kota dan dijaga sepasukan tentara dari tanah liat (“Qin Shi Huang.”).

2.3. Sejarah Bangsa Yunani Kuno

Sejak 2000 SM, ide-ide dan keahlian dari bangsa-bangsa Mesopotamia, Syria, dan Mesir Kuno telah menyebar ke penduduk di daerah Laut Aegean dengan mudah, dibandingkan ke daerah India, Asia Tengah, dan Cina. Penduduk di daerah Laut Aegean juga sedikit berkontak langsung dengan daerah Eropa barat karena adanya daerah pegunungan di Makedonia. Setelah berjayanya bangsa Kreta (3000 SM – 1400 SM) dan bangsa Mykenae (1500 SM – 1100 SM), bangsa Doria menyerbu Yunani dan Yunani mengalami Masa Kegelapan yang berlangsung dari 1100 SM sampai 700 SM. Tidak banyak yang diketahui dari masa tersebut: bahasa tulis menghilang, penduduknya hampir habis, istana-istana dijarah. Bijih besi menjadi mudah didapat sehingga orang-orang bisa membuat

(37)

perkakas dan senjata yang kuat. Yunani Kuno kemudian terbagi menjadi

city-states yang dikenal dengan nama polis, seperti Korinthos, Athena, dan Sparta.

Konflik dan perang sering terjadi antara kota-kota tersebut. dengan berdagang dan mendirikan koloni-koloni di sekitar Laut Aegean, bangsa Yunani Kuno berkembang dan berjaya. Banyak dari sejarah Yunani Kuno berkisar seputar Athena, karena ia merupakan polis yang paling berpengaruh bagi daerah lainnya (Millard & Vanags, 64).

2.3.1 Kehidupan di Yunani Kuno

Sebagian besar penduduk Yunani Kuno adalah petani miskin. Agrikultur merupakan tulang punggung perekonomian, dan karena tanah yang tidak begitu subur, tidak banyak jenis tanaman yang bisa ditanam, seperti zaitun, anggur dan jagung. Di kebun zaitun, umum terlihat pengumpul zaitun memukuli dahan-dahan pohon untuk menjatuhkan buahnya.

Meskipun tidak sebanyak petani, terdapat profesi seperti pengrajin tembikar, pandai besi, pengasah batu, pengrajin perhiasan, dan lainnya di kota-kota. Letak geografis Yunani Kuno berarti kota-kotanya dikelilingi pegunungan dan/atau laut, sehingga tidak ada pemerintahan yang tersentralisir, dan manusia harus belajar menguasai segala jenis keahlian. Ini juga menjadi alasan mengapa Yunani terbagi menjadi banyak polis yang independen. Sekitar 25% penduduk Athena pada 500 SM adalah budak, termasuk Aesop sang penulis, dan mereka dipekerjakan di kota-kota sebagai pengangkut barang atau pengrajin.

(38)

Gambar 2.36. Ilustrasi sebuah polis, dengan acropolis di atas bukit, pelabuhan, dan pertanian yang mengelilingi tembok kota.

Sumber: tripio.deviantart.com

Polis terdiri dari sebuah kota dan pertanian yang mengelilinginya. Berbeda

dengan kebanyakan polis, Sparta memiliki cara hidup yang keras yang ditujukan untuk mengontrol jumlah budak mereka yang besar. Semua warga Sparta adalah prajurit purna waktu yang selalu berlatih untuk menghadapi invasi atau pemberontakan budak. Anak lelaki yang berumur 7 tahun dikirim untuk berlatih di kamp pegunungan untuk melatih tubuh, mempelajari taktik perang, dan hukum. Anak perempuan juga harus berlatih agar ia bisa melahirkan anak yang sehat. Mereka membenci kenyamanan, makanan enak, pakaian lembut, ide-ide baru, dan omong kosong (Gonick. Kartun Riwayat Peradaban Jilid I, hal. 232-235).

Pada awalnya, Sparta adalah polis terkuat di Yunani Kuno. Namun setelah munculnya politik dan terjadinya Revolusi Athena yang melahirkan demokrasi, Athena yang memiliki hoplite berjumlah besar bangkit dan bertempur melawan tetangga-tetangganya: Korinthos, Thebes, Aegina, dan Euboia, dan menjadi polis terkuat. Hoplite adalah prajurit infanteri bersenjata berat. Mereka maju dalam barisan falanx rapat, setiap orang dilindungi tameng orang di sebelahnya. Formasi ini nyaris tidak bisa ditembus oleh apapun.

Gambar 2.37. Hoplite dalam barisan falanx. Sumber: Great Ages of Man – Classical Greece.

Orang-orang Yunani Kuno menciptakan politik. Politik berasal dari kata Yunani ‘politikos’ (‘of the city’). Pada awalnya (sekitar 700 SM), kota-kota di Yunani diperintah oleh ‘aristokrat’ (kata Yunani yang berarti ‘orang terbaik’).

(39)

Mereka adalah tuan tanah yang cukup kaya untuk membeli senjata, tameng, dan kuda yang membuat mereka tak tertandingi dalam perang. Pada 600 SM, semakin banyak orang menjadi kaya karena perdagangan yang lancar. Kekuasaan pun lama-kelamaan jatuh dari tangan para aristokrat tua ke tangan mereka yang kuat, yang disebut ‘tiran’. Sistem pemerintahan pun kemudian digantikan oleh sistem oligarki (pemerintahan oleh yang kaya) atau demokrasi (pemerintahan oleh mayoritas kaum bebas). Kaum bebas yang dimaksud adalah lelaki asli Yunani; wanita, budak, dan metik (orang asing yang menetap) tidak diakui sebagai warga kota. Mereka berdiskusi dan mengadakan pemilu tentang hal-hal perkotaan. Demokrasi pertama digunakan di Athena.

Wanita Yunani Kuno yang bukan metik maupun budak tidak memiliki profesi yang terbuka untuk mereka; bahkan mereka dipandang sebagai tidak layak untuk diedukasi. Yang harus dipelajari seorang gadis adalah ‘ekonomi’ (dari kata Yunani ‘oikos’ (‘rumah Yunani’)): menyisir, merajut, menenun, mencelup warna, mencuci, menggosok, menyikat, memasak, menjahit, manajemen budak, dsb. Mereka tidak memiliki kewargakotaan. Pengecualian hanya ada di Sparta, di mana perempuan menikmati lebih banyak hak daripada perempuan manapun di Yunani Kuno. Mereka berlatih militer, punya harta, dan memerintah Sparta ketika laki-lakinya berperang (Cooke. History’s Timeline: 40,000 Year Chronology of

Civilization).

Gambar 2.38. Dua perempuan menenun di rumah. Sumber: Great Ages of Man – Classical Greece.

(40)

Membuat baju adalah tugas perempuan. Mereka memintal benang dari wol yang dibeli di pasar, lalu menenunnya menjadi selembar kain yang siap dipakai yang disebut chiton. Lelaki dan budak memakai chiton pendek, sementara wanita dan lelaki tua memakai yang panjang. Chiton tidak memiliki kantung; mereka membawa uang di dalam pipi mereka. Wanita menyukai chiton berwarna cerah, sementara lelaki memakai warna putih di siang hari dan merah, coklat, hijau, biru, atau yellow ochre untuk sore hari. Wanita melukis mata mereka dengan abu halus dan pipi mereka dengan jus murbei. Perhiasan umumnya dibuat dari emas, dengan tambahan batu koral, amber, batu akik, dan carnelian.

Seorang warga kota mendapat 15 drachma setiap bulannya. Ia dan budaknya mampu mendapat masing-masing 1 drachma untuk pekerjaan publik. Budak anak umumnya berharga 72 drachma, lelaki 150-166, perempuan cantik dan lelaki tukang 300, dan teknisi ahli 3000. Benda seperti perabot (meja, kursi, korden linen) berharga 4-17 drachma. Seorang budak, yang biasanya ditangkap oleh bajak laut atau dalam perang, dapat membeli kembali kebebasannya.

Hukum Yunani Kuno berdasarkan tiga asas: ia dibuat untuk kepentingan manusia (bukan untuk kepentingan atau mandat raja maupun dewa), dibuat berdasarkan persetujuan mayoritas, dan dibuat untuk mensejahterakan semua anggota masyarakat dan bukan golongan-golongan tertentu. Agar semua orang Sparta tahu hukum, hukum tak pernah ditulis, tapi dinyanyikan dalam festival. Tidak adanya pengacara membuat orang-orang harus mewakili diri mereka sendiri di pengadilan. Setiap tahunnya, sekitar 8.000 warga kota Athena mendapat giliran menjadi anggota majelis kota, hakim, jendral, archon (mengurus festival dan hukum), dan beberapa jabatan lainnya untuk masa jabatan 1 tahun. Ketika seorang hakim dipilih untuk menjabat, namanya akan diukir dalam 1 plat perunggu yang kemudian dimasukkan ke dalam batu dengan lubang-lubang. Setiap hari, diambil plat-plat secara acak untuk menentukan nama-nama hakim yang bertugas.

‘Ostrakisme’ adalah pengusiran satu warga melalui pemungutan suara. Jika terdapat 6000 keping ‘ostraka’ (pecahan guci) bertuliskan nama orang tersebut, ia diusir dari kota selama 10 tahun. Dari banyaknya kepingan ostraka yang ditemukan, dapat dipelajari setidaknya 20.000 nama orang Yunani yang ikut serta dalam politik di kota mereka (Millard & Vanags, 68-69).

(41)

Gambar 2.39. Kepingan ostraka.

Sumber: Great Ages of Man – Classical Greece.

Sejauh ini, kesimpulan yang bisa ditarik adalah, karena ditempa oleh kondisi lingkungan yang berat, orang-orang Yunani Kuno menjadi sangat sadar akan dirinya sendiri dan perbuatannya, dan pentingnya menghargai seseorang karena ia adalah dirinya sendiri. Status ‘orang bebas’ sangat berbeda dan spesial karena ia berarti seseorang dapat menjadi tuan atas dirinya sendiri, mengutarakan pendapat dan suaranya di publik, dan mengembangkan potensi dirinya semaksimal mungkin tanpa gangguan dari orang lain, baik dalam perang maupun di alun-alun kota.

Dari bangsa Fenisia, bangsa Yunani Kuno mengambil gagasan agama, cara membuat kapal, dan abjad, yang kemudian diadaptasi menjadi bahasa mereka sendiri.

Bangsa Yunani Kuno menciptakan seni berpikir yang disebut filosofi. Sokrates, filsuf pertama, mengajar orang-orang untuk terus mempertanyakan nilai-nilai yang dipegang oleh manusia, seperti kebenaran, keadilan, dan kebaikan. Mereka juga menciptakan sebagian besar rumus geometri dan aritmatika, mempelajari tumbuh-tumbuhan dan binatang, geografi, fisika, obat-obatan, dan astronomi. Meskipun begitu, mereka juga menyembah dewa-dewi mereka. Panteon Yunani Kuno terdiri dari dewa-dewi berkekuatan supernatural, sangat kuat, namun juga manusiawi. Meskipun dewa-dewi selalu berperan dalam karyanya, Homer, sang penulis terkenal, dikenal sebagai orang yang tidak beragama.

Prosesi upacara di Athena tercatat sangat meriah dan rumit: gadis-gadis membawa bejana-bejana minyak, anggur, dan roti gandum untuk persembahan, diikuti binatang kurban, musisi, kereta kuda, prajurit-prajurit di atas kuda poni

(42)

Thessalia mereka, diikuti dengan pendeta dan tetua dari pintu barat. Di pintu timur, menunggu keluarga Olympia: Zeus, Aphrodite dan putranya Eros muda yang menunggu pengikut-pengikut mereka.

Teater diadakan di tengah kota dan berasal dari tari-tarian festival untuk menyembah dewa-dewi. Penonton membawa bantal dan duduk di kursi batu di sekeliling panggung yang disebut ‘orkestra’. Semua peran dimainkan oleh pria yang memakai topeng. Pertunjukan hanya diselenggarakan selama 10 hari dalam setahun, dan setiap drama hanya dimainkan sekali. Mereka membayar 2 obol (1/3

drachma) untuk masuk, dan mereka yang tidak mampu akan dibayari pemerintah

dengan dana yang sudah disediakan. Mereka duduk di sana sepanjang hari dan membawa makanan untuk dinikmati pada waktu interval. Mereka menonton 3 tragedi atau 3 komedi yang diikuti 1 satir pendek. Drama hampir selalu berdasarkan mitos/legenda yang populer.

Pada 776 SM, Olympic Games pertama diadakan di kuil dewa Zeus di Olympia. Diadakan 4 tahun sekali, kaum bebas dari semua kota di Yunani hadir untuk mewakili kotanya masing-masing. Semua perang di Yunani harus berhenti pada masa tersebut, dan semuanya setara sebagai sesama orang Yunani Kuno.

Gambar 2.40. Pelempar discus dalam Olympic Games (kiri). 2.41. Pelari-pelari. Sumber: Great Ages of Man – Classical Greece.

Bisa disimpulkan bahwa orang-orang Yunani Kuno adalah bangsa yang selalu berusaha mengembangkan potensi tubuh, pikiran, dan keahliannya semaksimal mungkin, dengan menjadikan dewa-dewi mereka standar ideal yang dicapai namun juga menyadari bahwa mereka hanya manusia. Mereka juga

Gambar

Gambar 2.7. Peralatan kosmetik di sekitar topeng pemakaman (kiri). 2.8. Kursi  tahta Tutankhamun yang dilapisi emas dan berhiaskan kaca dan batu berharga
Gambar 2.12. Howard Carter menginspeksi peti mati Tutankhamun.
Gambar 2.18. Bi Sheng dari Dinasti Song (960-1127) menciptakan percetakan  movable type
Gambar 2.20. “Lady, Dragon, and Phoenix” (kiri). 2.21. “Man Driving the  Dragon”. Keduanya dilukis di atas sutra, dan berasal dari 476-221 SM
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dikarenakan yang mendapat beasiswa terbatas, maka perlu dilakukan proses penilaian yang detail, dimana ada kemungkinan nilai siswa dan siswi yang sama, oleh

rcrco dh

strategi dengan cara disetorkan pada seorang pengampu. Solusi guru Al- Qur’an Hadits dalam meningkatkan hafalan Juz ‘Amma s iswa di MTs Assyafi’iyah Gondanng Tulungagung

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dan Peraturan Bupati Sekadau Nomor 3 Tahun 2011 tentang Penjabaran Anggaran

Peningkatan Produksi dan Produktivitas Tanaman Rempah dan Penyegar Belanja Konsumsi petani dan narasumber JB: Barang/jasa JP: Jasa Lainnya. 1.044

Prosedur dan mekanisme asesmen di sekolah dapat dilakukan melalui langkah-langkah mendeskripsikan masalah anak; menentukan kebutuhan informasi; mengiventarisasi kebutuhan

;ola pikir keilmuan yang mendgkung mata pelajaran, penguasaan SKKD mata pelajaian yang diampu, pengembangan materi pembelajaran yang diampu secara. treatit

Dari grafik kecepatan dapat dilihat bahwa desain pabrik dengan tekanan 835.000 Pa abs dapat mempertahankan kecepatan saat memasuki daerah konvergen dan leher dari