• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Teoretis

2.1.1 Analisis Laporan Keuangan

1. Pengertian Analisis Laporan Keuangan

Menurut Rudianto (2013:190) Analisis laporan keuangan adalah meneliti hubungan yang ada di antara unsur-unsur dalam laporan keuangan, dan membandingkan unsur-unsur pada laporan keuangan tahun berjalan dengan unsur – unsur yang sama tahun yang lalu atau angka pembanding lain serta menjelaskan penyebab perubahannya.

Menurut Harjito dan Martono (2014:51) analisis laporan keuangan merupakan analisis mengenai kondisi keuangan suatu perusahaan yang melibatkan neraca dan laba-rugi.

Sedangkan Kasmir (2015:66) menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan saat ini atau dalam suatu periode tertentu. Laporan keuangan sendiri merupakan hal penting bagi setiap perusahaan karena merupakan sumber informasi bagi perusahaan dalam mengambil keputusan ekonomi. Terdapat dua macam metode analisis laporan keuangan yang biasa dipakai perusahaan, yaitu sebagai berikut:

a. Analisis Vertikal (Statis) merupakan analisis yang dilakukan terhadap satu periode laporan keuangan saja. Informasi yang diperoleh hanya untuk satu periode saja dan tidak diketahui perkembangan dari periode ke periode selanjutnya.

(2)

b. Analisis Horizontal (Dinamis) merupakan analisis yang dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode. Dari hasil analisis tersebut, maka akan terlihat perkembangan dari periode yang satu ke periode yang lain.

2. Tujuan Analisis Laporan Keuangan

Menurut Kasmir (2015:68) ada beberapa tujuan dan manfaat bagi berbagai pihak dengan adanya analisis laporan keuangan. Secara umum tujuan dan manfaat analisis laporan keuangan antara lain:

a. Mengetahui posisi keuangann perusahaan dalan suatu periode tertentu.

b. Mengetahui kelemahaan dan kekuatan apa saja yang menjadi kekurangan perusahaan.

c. Mengetahui langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan kedepan yang berkaitan dengan posisi keuangan saat ini.

d. Melakukan penilaian kinerja manajemen kedepan dan juga digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis tentang hasil yang mereka capai.

3. Teknik Analisis Laporan Keuangan

Adapun jenis-jenis teknik analisis laporan keuangan yang dapat dilakukan (Kasmir,2015:70) adalah sebagai berikut:

a. Analisis perbandingan antara laporan keuangan merupakan analisis ini dilakukan dengan membandingkan laporan keuangan lebih dari satu periode. Artinya minimal dua periode atau lebih. Secara umum dari hasil analisis ini akan terlihat antara lain :

1) Angka-angka dalam rupiah; 2) Angka-angka dalam persentase;

(3)

3) Kenaikan atau penurunan jumlah rupiah;

4) Kenaikan atau penurunan baik dalam rupiah maupun dalam persentase. b. Analisis trend atau tendensi merupakan analisis laporan keuangan yang

biasanya dinyatakan dalam presentase tertentu. Analisis ini dilakukan dari periode ke periode sehingga akan terlihat apakah perusahaan mengalami perubahan yaitu naik, turun, atau tetap, serta seberapa besar perubahan tersebut yang dihitung dalam presentase.

c. Analisis persentase per komponen merupakan analisis yang dilakukan untuk megetahui persentase investasi terhadap masing-masing aktiva atau terhadap total aktiva, struktur permodalan dan komposisi biaya terhadap penjualan. d. Analisis sumber dan penggunaan dana merupakan analisis yang dilakukan

untuk mengetahui sumber-sumber dana perusahaan dan penggunaan dana dalam suatu periode. Analisis ini juga untuk mengetahui jumlah modal kerja dan sebab-sebab berubahnya modal kerja perusahaan dalam suatu periode. e. Analisis sumber dana dan penggunaan kas merupakan analisis yang

digunakan untuk mengetahui uang kas dalam suatu periode. Selain itu, juga untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya jumlah uang kas dalam periode tertentu.

f. Analisis rasio merupakan analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan pos-pos yang ada dalam satu laporan keuangan atau pos-pos antara laporan keuangan neraca dan laporan laba rugi.

g. Analisis kredit merupakan analisis yang digunakan untuk menilai layak tidaknya suatu kredit dikucurkan oleh lembaga keuangan seperti bank. Dalam

(4)

analisis ini digunakan beberapa cara alat analisis yang digunakan. Kemudian analisis juga digunakan untuk meningkatkan penjualan kredit.

h. Analisis laba kotor merupakan analisis yang digunakan unntuk mengetahui jumlah laba kotor dari periode ke suatu periode. Kemudian juga untuk mengetahui sebab-sebab berubahnya laba kotor tersebut antara periode. i. Analisis titik pulang pokok disebut juga titik impas atau break even point.

Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui kondisi berapa penjualan produk dilakukan dan perusahaan tidak mengalami kerugian. Kegunaan analisis ini adalah untuk menentukan jumlah keuntungan pada berbagai tingkat penjualan.

2.1.2 Piutang

1. Pengertian Piutang

Harjito dan Martono (2014:98) menyatakan bahwa piutang dagang (account receivable) merupakan tagihan perusahaan kepada pelanggan / pembeli atau pihak lain yang membeli produk perusahaan. Piutang usaha ini muncul karena adanya penjualan kredit.

Menurut Sutrisno (2009:55) piutang dagang adalah tagihan perusahaan kepada pihak lain sebagai akibat penjualan secara kredit. Seperti diuraikan di atas bahwa dengan adanya piutang ini perusahaan harus menyediakan dana yang diinvestasikan kedalam piutang tersebut, apalagi dalam piutang selalu akan timbul masalah piutang tidak tertagih.

(5)

Sedangkan menurut Gitosudarmo dan Basri (2008:81) piutang merupakan aktiva atau kekayaan perusahaan yang timbul sebagai akibat dari dilaksanakannya kebijakan penjualan kredit.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa piutang merupakan tagihan perusahaan kepada pihak lain yang akan diterima sebagai akibat dari adanya kebijakan perusahaan berupa penjualan secara kredit.

2. Perputaran Piutang

Menurut Sutrisno (2009:220) perputaran piutang atau receivable turnover

merupakan ukuran efektivitas pengelolaan piutang. Semakin cepat perputaran piutang, semakin efektif perusahaan dalam mengelola piutangnya.

Sedangkan menurut Gitosudarmo dan Basri (2008:91) menyatakan bahwa periode perputaran piutang tergantung dari panjang pendeknya ketentuan waktu yang dipersyaratkan dalam syarat pembayaran kredit, sehingga semakin lama syarat pembayaran kredit berarti semakin lama terikatnya modal kerja tersebut dalam piutang dan berarti semakin kecil tingkat perputaran piutang dalam satu periode dan sebaliknya semakin pendek syarat pembayaran kredit maka semakin pendek tingkat terikatnya modal kerja dalam piutang sehingga tingkat perputaran piutang dalam satu periode semakin besar. Menurut Kasmir (2015:176) rumus untuk mencari receivable turn over adalah sebagai berikut:

Receivable Turn Over = Penjualan Kredit Rata - Rata Piutang atau

Receivable Turn Over =Penjualan Kredit Piutang

(6)

2.1.3 Persediaan

1. Pengertian Persediaan

Menurut Sutrisno (2009:84) menyatakan bahwa persediaan adalah sejumlah barang atau bahan yang dimiliki oleh perusahaan yang tujuannya untuk dijual dan atau diolah kembali. perusahaan dagang memiliki barang dagangan tujuannya untuk dijual kembali, perusahaan manufaktur mempunyai bahan baku untuk diolah kembali menjadi barang jadi yang kemudian dijual.

Menurut Kasmir (2015:41) sediaan merupakan sejumlah barang yang disimpan oleh perusahaan dalam suatu tempat (gudang). Sediaan merupakan cadangan perusahaan untuk proses produksi atau penjualan pada saat dibutuhkan. Sedangkan menurut Rudianto (2013:236) menyatakan bahwa persediaan adalah sejumlah barang jadi, bahan baku, barang dalam proses yang dimiliki perusahaan dengan tujuan untuk dijual atau di proses lebih lanjut.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah barang atau bahan yang dimiliki perusahaan dalam suatu tempat (gudang) untuk dijual atau dipergunakan kembali.

2. Perputaran Persediaan

Menurut sutrisno (2009:219) persediaan merupakan komponen utama dari barang yang dijual, oleh karena itu semakin tinggi persediaan berputar semakin efektif perusahaan dalam mengelola persediaan.

Sedangkan menurut Prihadi (2010:120) mengatakan bahwa perputaran persediaan merupakan indikasi perusahaan untuk menyediakan persediaan dalam mendukung tercapainya penjualan. Tentu saja perusahaan ini cocok untuk

(7)

perusahaan yang menjual barang. Dua jenis usaha yang biasa diukur perputaran persediaannya adalah perusahaan perdagangan dan manufaktur. Secara umum perputaran yang semakin tinggi akan semakin baik bagi perusahaan. Rumus untuk mencari perputaran sediaan adalah sebagai berikut:

- Menurut Horne (dalam Kasmir, 2015:180) menggunakan rumus:

Inventory Turn Over =Harga Pokok Barang yang Dijual (HPP) Persediaan

- Menurut Weston (dalam Kasmir, 2015:180) menggunakan rumus:

Inventory Turn Over =Penjualan Persediaan

2.1.4 Modal Kerja

1. Pengertian Modal Kerja

Modal kerja adalah investasi sebuah perusahaan pada aktiva-aktiva jangka pendek kas, sekuritas, persediaan dan piutang (Fahmi,2015:99). Modal kerja harus selalu dalam keadaan berputar selama perusahaan melakukan kegiatan usahanya. Perusahaan yang bergerak di bidang industri maupun jasa akan memerlukan modal kerja untuk membiayai kegiatan operasionalnya sehari-hari.

Menurut Kasmir (2015:250) pengertian modal kerja merupakan modal yang digunakan untuk melakukan kegiatan operasi perusahaan. Modal kerja diartikan sebagai investasi yang ditanamkan dalam aktiva lancar atau aktiva jangka pendek, seperti kas, bank, surat-surat berharga, piutang, sediaan dan aktiva lancar lainnya. Pengertian modal kerja secara mendalam terkadang dalam konsep modal kerja yang dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

(8)

a. Konsep Kuantitatif

Menyebutkan bahwa modal kerja adalah seluruh aktiva lancar. Dalam konsep ini adalah bagaimana mencukupi dana untuk membiayai operasi perusahaan jangka pendek. Konsep ini sering disebut dengan modal kerja kotor (gross working capital).

b. Konsep Kualitatif

Merupakan konsep yang menitik beratkan kepada kualitas modal kerja. Konsep ini melihat selisih antara jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini disebut modal kerja bersih atau net working capital.

c. Konsep Fungsional

Menekankan kepada fungsi dana yang dimiliki perusahaan dalam memperoleh laba. Artinya sejumlah dana yang dimiliki dan digunakan perusahaan untuk meningkatkan laba perusahaan.

2. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja

Kasmir (2015:254) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi modal kerja, yaitu:

a. Jenis Perusahaan

Jenis kegiatan perusahaan dalam praktikanya meliputi dua macam, yaitu perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa dan non jasa (industri). Di perusahaan industri, investasi dalam bidang kas, piutang dan persediaan relatif lebih besar dibandingkan dengan perusahaan jasa. Oleh karena itu, jenis kegiatan perusahaan sangat menentukan kebutuhan akan modal kerjanya.

(9)

b. Syarat Kredit

Penjualan barang secara kredit memberikan kelonggaran kepada konsumen untuk membeli barang dengan cara pembayaran diangsur (dicicil) beberapa kali untuk jangka waktu tertentu. Hal yang perlu diketahui dari syarat-syarat kredit dalam hal ini adalah:

1) Syarat untuk pembelian bahan dan barang dagangan

Digunakan untuk memproduksi barang mempengaruhi modal kerja. Pengaruhnya berdampak terhadap pengeluaran kas. Jika persyaratan kredit lebih mudah, akan sedikit uang kas yang keluar, demikian pula sebaliknya. Syarat untuk pembelian bahan atau barang dagangan juga memiliki kaitannya dengan sediaan. 2) Syarat penjualan barang

Dalam syarat penjualan, apabila syarat kredit yang diberikan relatif lunak seperti potongan harga, modal kerja yang dibutuhkan semakin besar dalam sektor piutang. Syarat-syarat kredit diberikan apakah 2/10 net 30 atau 2/10 net 60 juga akan mempengaruhi penjualan kredit.

c. Waktu Produksi

Artinya jangka waktu atau lamanya memproduksi suatu barang. Makin lama waktu yang digunakan untuk produksi suatu barang, maka akan semakin besar modal kerja yang dibutuhkan. Demikian pula sebaliknya semakin pendek waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi suatu barang, maka semakin kecil modal kerja yang dibutuhkan.

d. Tingkat Perputaran Sediaan

Semakin kecil atau rendah perputaran, kebutuhan modal kerja semakin tinggi, demikian pula sebaliknya. Dengan demikian, dibutuhkan perputaran

(10)

sediaan yang cukup tinggi agar memperkecil resiko kerugian akibat penurunan harga serta mampu menghemat biaya penyimpanan dan pemeliharaan sediaan.

3. Jenis – Jenis Modal Kerja

Kebutuhan modal kerja dari waktu ke waktu dalam satu periode belum tentu sama, oleh kerena itu kebutuhan modal kerja juga bisa mengalami perubahan. Menurut A. W. Taylor (dalam Sutrisno, 2009:41) modal kerja bisa di kelompokkan ke dalam dua jenis sebagai berikut:

a. Modal Kerja Permanen

Modal kerja permanen adalah modal kerja yang selalu harus ada dalam perusahaan agar perusahaan dapat menjalankan kegiatannya untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Modal kerja permanen dibagi menjadi dua macam yakni: 1) Modal Kerja Primer

Modal kerja primer adalah modal kerja minimal yang harus ada dalam perusahaan untuk menjamin agar perusahaan tetap bisa beroperasi.

2) Modal Kerja Normal

Merupakan modal kerja yang harus ada agar perusahaan bisa beroperasi dengan tingkat produksi normal. Produksi normal merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang sebesar kapasitas normal perusahaan. b. Modal Kerja Variabel

Modal kerja variabel adalah modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan kegiatan ataupun keadaan lain yang mempengaruhi perusahaan. Modal kerja variabel terdiri dari:

(11)

1) Modal Kerja Musiman

Merupakan sejumlah dana yang dibutuhkan untuk mengantisipasi apabila ada fluktuasi kegiatan perusahaan, misalnya perusahaan biscuit harus menyediakan modal kerja lebih besar dari pada saat musim hari raya.

2) Modal Kerja Siklus

Adalah modal kerja yang jumlah kebutuhannya dipengaruhi oleh fluktuasi konjungtur.

3) Modal Kerja Darurat

Modal kerja ini jumlah kebutuhannya dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang terjadi di luar kemampuan perusahaan.

4. Kebijakan Modal Kerja

Menurut Riyanto (dalam Harjito dan Martono, 2014:79) ada 3 tipe kebijakan modal kerja yang kemungkinan digunakan oleh perusahaan:

a. Kebijakan Konservatif

Kebijakan modal kerja konservatif merupakan manajemen modal kerja yang dilakukan secara hati-hati. Pada kebijakan konservatif ini modal kerja permanen dan sebagian modal kerja variabel dibelanjai dengan sumber dana jangka panjang, sedangkan sebagian modal kerja variabel lainnya dibelanjai dengan sumber dana jangka pendek.

b. Kebijakan Agresif

Pada kebijakan ini sebagian modal kerja permanen dibelanjai dengan sumber dana jangka panjang, sedangkan sebagian modal kerja permanen dan modal kerja variabel dibelanjai dengan sumber dana jangka pendek.

(12)

c. Kebijakan Moderat

Pada kebijakan ini aktiva yang bersifat tetap yaitu aktiva tetap dan modal kerja permanen di belanjai dengan sumber dana jangka panjang, sedangkan modal kerja variabel dibelanjai dengan sumber dana jangka pendek. Kebijakan moderat mencerminkan kebijakan manajemen yang konservatif sekaligus agresif. Kebijakan ini memisahkan secara tegas bahwa kebutuhan modal kerja yang sifatnya tetap dibelanjai dengan sumber modal kerja yang permanen atau sumber dana yang berjangka panjang. Sumber modal kerja yang permanen seperti saham, sedangkan sumber modal kerja berjangka panajang yang lain adalah obligasi (hutang jangka panjang).

5. Sumber – Sumber Modal Kerja

Kasmir (2015:256) menyatakan bahwa ada beberapa sumber modal kerja yang dapat digunakan, yaitu:

a. Hasil operasi perusahaan

Maksudnya adalah pendapatan atau laba yang diperoleh pada periode tertentu. Pendapatan atau laba yang diperoleh perusahaan ditambah dengan penyusutan. Selama laba yang belum dibagi perusahaan dan belum atau tidak diambil pemegang saham, hal tersebut akan menambah modal kerja perusahaan.

b. Keuntungan penjualan surat-surat berharga

Besar keuntungan tersebut adalah selisih antara harga beli dengan harga jual surat berharga tersebut. Namun, sebaliknya jika terpaksa menjual surat-surat berharga dalam kondisi rugi, otomatis akan merugikan modal kerja.

(13)

c. Penjualan saham

Perusahaan melepas sejumlah saham yang masih dimiliki untuk dijual kepada berbagai pihak. Hasil penjualan saham ini dapat dipergunakan sebagai modal kerja.

d. Penjualan aktiva tetap

Maksudnya yang dijual di sini adalah aktiva tetap yang kurang produktif atau masih menganggur. Hasil penjualan ini dapat dijadikan uang kas atau piutang sebesar harga jual.

e. Penjualan obligasi

Artinya perusahaan mengeluarkan sejumlah obligasi untuk dijual kepada pihak lainnya. Hasil penjualan ini juga dapat dijadikan modal kerja, sekalipun hasil penjualan obligasi lebih diutamakan kepada investasi perusahaan jangka panjang.

f. Memperoleh pinjaman dari kreditor (bank atau lembaga lain)

Terutama pinjaman jangka pendek, hanya saja peruntukan pinjaman jangka panjang biasanya digunakan untuk kepentingan investasi. Dalam praktikanya pinjaman, terutama dari dunia perbankan ada yang dikhususkan untuk digunakan sebagai modal kerja, walaupun tidak menambah aktiva lancar.

g. Memperoleh dana hibah dari berbagai lembaga

Dana hibah ini biasanya tidak dikenakan beban biaya sebagai pinjaman dan tidak ada kewajiban pengembalian.

(14)

Dapat disimpulan bahwa secara umum kenaikan dan penurunan modal kerja disebabkan:

1) Adanya kenaikan modal (penambahan modal pemilik atau laba); 2) Adanya pengurangan aktiva tetap;

3) Adanya penambahan utang.

6. Penggunaan modal kerja

Menurut Kasmir (2015:259) secara umum dikatakan bahwa penggunaa modal kerja biasanya dilakukan perusahaan untuk:

a. Pengeluaran untuk gaji, upah, dan biaya operasi perusahaan lainnya, perusahaan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar gaji, upah, dan biaya operasi lainnya yang digunakan untuk menunjang penjualan.

b. Pengeluaran untuk membeli bahan baku atau barang dagangan adalah pada sejumlah bahan baku yang dibeli yang akan digunakan untuk proses produksi dan pembelian barang dagangan untuk dijual kembali.

c. Menutupi kerugian akibat penjualan surat berharga, atau kerugian lainnya adalah pada saat perusahaan menjual surat-surat berharga, namun mengalami kerugian. Hal ini akan mengurangi modal kerja dan segera ditutupi.

d. Pembentukan dana merupakan pemisahan aktiva lancar untuk tujuan tertentu dalam jangka panjang, misalnya pembentukan dana pensiun, dana ekspansi, atau dana pelunasan obligasi. Pembentukan dana ini akan mengubah bentuk aktiva dari aktiva lancar menjadi aktiva tetap.

e. Pembelian aktiva tetap (tanah, bangunan, kendaraan, mesin, dan lain-lain). Pembelian ini akan mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar dan timbulnya utang lancar.

(15)

f. Pembayaran utang jangka panjang adalah adanya pembayaran utang jangka panjang yang sudah jatuh tempo seperti pelunasan obligasi, hipotek dan utang bank jangka panjang.

g. Pembelian atau penarikan kembali saham yang beredar adalah perusahaan menarik kembali saham-saham yang sudah beredar dengan alasan tertentu dengan cara membeli kembali, baik untuk sementara waktu maupun selamanya.

h. Pengambilan uang atau barang untuk kepentingan pribadi adalah pemilik perusahaan mengambil barang atau uang yang digunakan untuk kepentingan pribadi, termasuk dalam hal ini adanya pengambilan keuntungan atau pembayaran dividen oleh perusahaan.

Penggunaan modal kerja diatas jelas akan mengakibatkan perubahan modal kerja namun perubahan modal kerja tergantung dari penggunaan modal kerja itu sendiri. Dalam praktikanya modal kerja suatu perusahaan tidak akan berubah apabila terjadi:

1) Pembelian barang dagangan dan bahan lainnya secara tunai; 2) Pembelian surat-surat berharga secara tunai;

3) Perubahan bentuk piutang misalnya dari piutang dagang ke piutang wesel.

7. Perputaran Modal Kerja

Menurut Sutrisno (2009:39) Modal kerja merupakan salah satu unsur aktiva yang sangat penting dalam perusahaan. Masa perputaran modal kerja yakni sejak kas ditanamkan pada elemen-elemen modal kerja sehingga menjadi kas lagi, adalah kurang dari satu tahun atau berjangka pendek. Masa perputaran modal kerja ini menunjukkan tingkat efisiensi pengguna modal kerja tersebut. Semakin

(16)

cepat masa perputaran modal kerja semakin efisien penggunaan modal kerja, dan tentunya investasi pada modal kerja semakin kecil. Sedangkan menurut Kasmir (2015:182) perputaran modal kerja atau working capital turn over merupakan salah satu rasio untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu. Artinya seberapa banyak modal kerja berputar selama satu periode atau dalam suatu periode. Cara untuk mengukur rasio ini dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Perputaran modal kerja = Penjualan bersih Modal kerja rata-rata atau

Perputaran modal kerja =Penjualan bersih Modal kerja

2.1.5 Rasio Profitabilitas

1. Pengertian Rasio Profitabilitas

Menurut Kasmir (2015:196) rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hai ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan.

Sutrisno (2009:222) menyatakan bahwakeuntungan merupakan hasil dari kebijaksanaan yang diambil oleh manajemen. Rasio keuntungan untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat diperoleh oleh perusahaan.

(17)

Sedangkan menurut Hanafi dan Halim (2012:81) profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan (profitabilitas) pada tingkat penjualan, aset, dan modal saham yang tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan seberapa besar tingkat keuntungan yang diperoleh pada tingkat penjualan, aset dan modal saham tertentu.

2. Pengukuran Tingkat Profitabilitas

Pengukuran tingkat profitabilitas dalam penelitian ini menggunakan Return On Asset (ROA). ROA menunjukkan perbandingan antara laba bersih dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Kasmir (2015:201) menyatakan bahwa hasil pengembalian investasi atau lebih dikenal dengan nama Return on Investment(ROI) atau return on total assets (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Semakin kecil (rendah) rasio ini, semakin kurang baik, demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan.

Sedangkan menurut Hanafi dan Halim (2012:157) analisis ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba dengan menggunakan total aset (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya – biaya untuk mendanai aset tersebut. ROA dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

ROA=Laba Bersih Total Aktiva

(18)

1. Pengaruh Perputaran Piutang dengan Profitabilitas

Perputarana piutang menunjukkan berapa lama penagihan piutang dalam satu periode, dana yang ditanamkan dalam piutang oleh perusahaan kembali lagi menjadi kas.Menurut Kasmir (2015:176) mengatakan semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam piutang semakin rendah (bandingkan dengan rasio tahun sebelumnya) dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan semakin baik. Artinya, perputaran piutang yang tinggi akan kembali menjadi kas yang nantinya dipergunakan perusahaan dalam produksi untuk memenuhi permintaan konsumen sehingga dampaknya dapat berpengaruh terhadap profitabilitas. Hal ini didukung dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Sudiartha (2015) bahwa perputaran piutang memiliki pengaruh positif dansignifikan terhadap profitabilitas.

2. Pengaruh Perputaran Persediaan dengan Profitabilitas

Perputaran sediaan merupakan rasio yang menunjukkan berapa kali jumlah barang sediaan diganti dalam satu tahun. Apabila rasio yang diperoleh tinggi, ini menunjukkan perusahaan bekerja secara efisien dan likuid persediaan semakin baik. Demikian pula apabila perputaran sediaan rendah berarti perusahaan bekerja secara tidak efisien dan tidak produktif dan banyak barang sediaan yang menumpuk (Kasmir, 2015:150). Artinya, jika perputaran persediaan cepat berputar maka persediaan tersebut cepat pula menjadi produk yang dapat dijual dan di sisi lain perusahaan tidak mengeluarkan biaya untuk menjaga kualitas persediaan tersebut yang dampaknya akan mengurangi perolehan keuntungan. Pernyataan ini didukung dari hasil penelitian yang dilakukan di negara Pakistan

(19)

oleh Agha (2014) bahwa perputaran persediaan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan dengan Profitabilitas.

3. Pengaruh Perputaran Modal Kerja dengan Profitabilitas

Perputaran modal kerja merupakan investasi jangka pendek yang digunakan untuk memenuhi aktivitas perusahaan. Menurut teori Syamsuddin (dalam Prakoso

et all, 2014) menyatakan bahwa semakin besar rasio aktiva lancar terhadap total aktiva, maka semakin kecil profitabilitas yang diperoleh maupun yang dihadapi. Semakin kecilnya profitabilitas dikarenakan aktiva lancar menghasilkan lebih sedikit dibandingkan dengan aktiva tetap. Sedangkan menurut Kasmir (2015:182) perputaran modal kerja merupakan salah satu rasio untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja. Artinya seberapa banyak modal kerja berputar selama satu periode. Apabila perputaran modal kerja yang rendah, dapat diartikan perusahaan sedang kelebihan modal kerja. Hal ini mungkin disebabkan karena rendahnya perputaran persediaan atau piutang atau saldo kas yang terlalu besar. Demikian pula sebaliknya jika perputaran modal kerja tinggi, mungkin disebabkan tingginya perputaran persediaan atau perputaran piutang atau saldo kas yang terlalu kecil. Hal ini menunjukan apabila rasio ini tinggi akan menimbulkan penjualan bersih atas modal kerja yang dilakukan telah efisien dalam mencukupi kebutuhan operasional sehari hari. Sehingga berdampak pada profitabilitas yang diperoleh perusahaan meningkat. Pernyataan ini didukung dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Nawalani dan Lestari (2015) bahwa perputaran modal kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabillitas.

(20)

Penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini disajikan dalam bentuk mapping yang terdapat pada tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2

Daftar Hasil Penelitihan Terdahulu

Nama dan Judul Penelitian Variabel Model Analisis

Hasil

Putu Intan Gana Putri , Gede Merta Sudiartha (2015) Pengaruh Modal Kerja terhadap Profitabilitas Perusahaan Food and Beverages

Independen :

Perputaran Aktiva Tetap, perputaran persediaan, dan Perputaran Piutang Dependen :

Profitabilitas

Regresi Linier Berganda

Secara persial yang berpengaruh terhadap profitabilitas hanya perputaran piutang, perputaran persediaan, profitabilitas.

Sedangkan perputaran modal kerja/aktiva lancar berpengaruh secara simultan terhadap profitabilitas.

Eka Ayu Rahayu, Joni Susilowibowo (2014) Pengaruh Perputaran Kas, Perputaran Piutang, dan Perputaran Persediaan Terhadap Profitabilitas Perusahaan Maanufaktur

Independen : Perputaran Kas, Perputaran Piutang, dan Perputaran Persediaan Dependen : Profitabilitas Regresi Linier Berganda

Perputaran kas dan perputaran piutang tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaan manufaktur sedangkan pada perputaran persediaan memiliki pengaruh signifikan terhadap profitabilitas pada perusahaaan manufaktur. Hina Agha, Mba, Mphil

(2014)

Impact Of Working Capital Management on Profitability

Indepeden : Perputara Debitur, Perputaran Persediaan, Perputaran Kreditur, dan Rasio Lancar Dependen : ROA Regresi Linier Berganda

Terdapat hubungan signifikan antara perputaran debitur, perputaran persediaan, dan perputaran kreditur terhadap ROA, sedangakan tidak ada hubungan yang signifikan anatara rasio lancar terhadap ROA. Milda Unik Sartika, Nungky

Viana Feranika, Koko Denik Wahudi(2015)

Rasio Aktivitas yang Mempengaruhi Profitabilitas Perusahaan Pada Sektor Otomotif yang Terdaftar Di BEI

Independen :

Perputaran Modal Kerja, Perputaran Kas,

Perputaran Piutang, dan Perputaran Persediaan Dependen : Profitabilitas Regresi Linier Berganda

Secara persial perputaran modal kerja, perputaran piutang, dan perputaran persediaan tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Tetapi perputaran kas berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas.

Arinda Putri Nawalani, Wiwil Lestari (2015)

Indepeden :

Perputaran Modal Kerja,

Regresi Linier

Perputaran modal kerja berpengaruh positif secara persial

(21)

Pengaruh Modal Kerja Terhadap Profitabilitas Pada Perusahaan Food and Beverages di Bursa Efek Indonesia

Perputaran Kas, Perputaran Piutang, dan Perputaran Persediaan Dependen :

Profitabilitas

Berganda signifikan terhadap profitabilitas. Sedangkan perputaran kas, perputaran piutang, dan

perputaran persediaan

berpengaruh signifikan tetapi negatif terhadap profitabilitas. Yulia Purnama Sari (2014)

Pengaruh Perputaran Persediaan, Perputaran Asset Tetap dan Perputaran Modal Kerja terhadap Profitabilitas (ROE) pada Perusahaan Aneka Industri yang Tterdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2010-2013

Independen :

Perputaran Persediaan, Perputaran Asset Tetap dan Perputaran Modal Kerja Dependen : Profitabilitas (ROE) Regresi Linier Berganda

- Secara persial perputaran persediaan berpengaruh - terhadap ROE, perputaran asset

tetap dan perputaran modal kerja tidak berpengaruh terhadap ROE.

- Variabel perputaran persediaan, perputaran asset tetap dan perputran modal kerja berperngaruh secara signifikan terhadap Return On Equity (ROE).

2.2 Rerangka Konseptual

Kerangka konseptual penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep yang lainnya dari masalah yang ingin ditelitih. Dalam penelitian ini variabel independennya adalah perputaran piutang, perputran persediaan dan perputaran modal kerja sedangkan varibel dependennya adalah profitabilitas (ROA), maka dapat dibuat rerangka konseptual sebagai berikut:

Gambar 1 Rerangka Konseptual Perputaran Piutang (PP) Profitabilitas (ROA) (Y) Perputaran Persediaan (PS)

Perputaran Modal Kerja (PMK)

(22)

2.3 Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kerangka pemikiran yang dikembangkan maka dapat dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

H1: Perputaran piutang berpengaruh positif terhadap profitabilitas (ROA) pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. H2: Perputaran persediaan berpengaruh positif terhadap profitabilitas (ROA) pada

perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. H3: Perputaran modal kerja berpengaruh positif terhadap profitabilitas (ROA)

pada perusahaan tekstil dan garmen yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. H4: Perputaran persediaan berpengaruh dominan terhadap profitabilitas (ROA)

Gambar

Gambar 1  Rerangka Konseptual Perputaran Piutang (PP)  Profitabilitas (ROA) (Y) Perputaran Persediaan (PS)

Referensi

Dokumen terkait

Yang dimaksud aset tidak lancar atau aset tetap disini adalah sepertu tanah, bangunan, kendaraan, mesin dan peralatan lainnya yang menunjang kegiatan operasional

kebutuhan manusia akan transportasi udara untuk membantu akomodasinya menuju ke tempat suatu tujuan yang akan dituju dan seiring dengan peningkatan pengguna jasa

Dengan demikian semakin meningkatnya debt to total asset ratio, maka hal tersebut berdampak terhadap semakin berkurang laba bersih yang tersedia untuk dibagikan

Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenasi posisi keuangan, realisasi anggaran, saldo anggaran lebih, arus kas, hasil operasi, dan perubahan

Clarensia dan Azizah (2011), yang meneliti tentang pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, Pertumbuhan Penjualan, Dan Kebijakan Dividen Terhadap Harga Saham, dengan

Yang dimaksud dengan kompensasi finansial yang diteliti dalam penelitian ini mengacu pada Simamora (2006) adalah kompensasi yang diterima karyawan dalam bentuk uang/bernilai

Current Ratio (CR) atau rasio lancar termasuk dalam rasio likuiditas, untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek atau utang yang

2) Menghimpun dana dalam bentuk investasi berupa deposito, tabungan atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu berdasarkan akad mudharabah atau akad lainnya yang tidak