• Tidak ada hasil yang ditemukan

M533 Bab 4 Renstra Bappeda final revisiii

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "M533 Bab 4 Renstra Bappeda final revisiii"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Bab 4

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN,

STRATEGI DAN KEBIJAKAN

4.1

Visi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) sebagai bagian integral dari

Pemerintah Kota Bandung, yang memiliki tugas pokok dan fungsi dalam perencanaan

pembangunan memiliki peran dan posisi strategis dalam kerangka pencapaian visi

pembangunan jangka menengah Kota Bandung yaitu: Memantapkan kota Bandung sebagai

Kota Jasa Bermartabat sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun

2011 Tentang Revisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota

Bandung tahun 2009-2013.

Dalam kerangka tersebut, keberadaan Bappeda menjadi penentu dan pengendali dari

pencapaian visi kota, sehingga dalam perumusan visinya harus mencerminkan upaya

pencapaian visi dan misi pemerintah kota. Untuk menjadikan Bappeda yang visioner tentu

banyak aspek yang harus menjadi perhatian, karena hal ini berkaitan dengan keberadaannya

sebagai lembaga teknis yang bergerak dibidang perencanaan pembangunan dan menjadi

lokomotif pembangunan di kota Bandung.

Hal-hal yang menjadi perhatian, harapan, keadaan atau kondisi serta lingkungan strategis

yang terjadi saat ini serta yang diinginkan pada masa yang akan datang yang akan

berpengaruh langsung dan melandasi perumusan visi Bappeda adalah sebagai berikut :

Memantapkan Kota Bandung sebagai Kota Jasa Bermartabat, sebagai visi Kota Bandung harus menjadi acuan dan pedoman tidak saja bagi pemerintah dalam

menjalankan pemerintahannya akan tetapi menjadi spirit seluruh warga kota dalam

(2)

 Pencapaian 7 target agenda prioritas Pemerintah Kota, yang terdiri dari (1) Bandung Cerdas; (2) Bandung Sehat; (3) Bandung Makmur; (4) Bandung Hijau dan harmonis,

dengan 5 (lima) Gerakannya yaitu, Gerakan Penghijauan, Hemat serta Menabung Air,

Gerakan Cikapundung Bersih; Gerakan Sejuta Bunga Untuk Bandung; Gerakan Udara

Bersih; gerakan pembibitan, penanaman, pemeliharaan dan pengawasan lingkungan

hidup (GP4LH); (5) Bandung Kota Seni dan Budaya; (6) Bandung Berprestasi; dan (7)

Bandung Kota Agamis, menjadi poin penting yang harus dilaksanakan oleh pemerintah

kota dengan mengedepankan asas pelayanan prima yang dilandasi dengan penerapan

good governance sebagai tahapan dari reformasi birokrasi;

 Bappeda sebagai institusi yang menjalankan urusan perencanaan pembangunan

dengan kewenangan yang dicantumkan dalam 13 pasal Undang-undang nomor 25

tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, serta beberapa

Peraturan Pemerintah yang menjadi turunannya, menjadikan Bappeda lembaga

strategis yang keberadaannya menjadi lokomotif dan think tank-nya pembangunan

daerah;

 Besarnya kewenangan yang dimiliki Bappeda, ternyata belum diimbangi dengan tingkat

aplikasi dokumen perencanaan ataupun kajian yang dihasilkan, hal ini ditandai dengan

masih banyaknya produk-produk yang dihasilkan Bappeda yang belum dijadikan

acuan/pedoman bagi SKPD-SKPD terkait dan dalam proses pengambilan kebijakan

Pemerintah Kota;

 Tingginya Kapasitas warga Kota Bandung belum dapat dimanfaatkan secara optimal

dalam perumusan perencanaan pembangunan, keterlibatan warga kota dalam forum

konsultasi publik masih didominasi oleh warga yang secara formal merupakan

kepanjangan tangan dari pemerintah.

Berdasarkan uraian di atas, sesuai dengan sasaran yang tertuang dalam Misi 5 (lima) yang

diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota

Bandung 2009-2013 maka rumusan visi yang ingin dicapai Bappeda pada masa mendatang

adalah ”TERWUJUDNYA BAPPEDA SEBAGAI LEMBAGA PERENCANAAN PEMBANGUNAN

YANG KREDIBEL DALAM MEMANTAPKAN KOTA BANDUNG SEBAGAI KOTA JASA

(3)

Dalam pengertian Visi Bappeda tersebut maka sebagai lembaga teknis di lingkungan

Permerintah Kota Bandung yang memiliki kewenangan dalam perencanaan dan

pengendalian, Bappeda secara kelembagaan harus kredibel artinya dapat dipercaya,

sehingga segala rumusan kebijakan yang akan ditetapkan dan dilaksanakan dapat

dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan prosedural.

Dalam kaitannya dengan kredibilitas Bappeda sebagai lembaga perencana, harus memenuhi

beberapa syarat yaitu:

(1) Aspiratif artinya dalam penyusunannya keterlibatan para pemangku kepentingan

(stakeholders) secara aktif pada setiap tahapan perencanaan pembangunan menjadi suatu keniscayaan.

(2) Antisipatif artinya perencanaan yang dihasilkan tidak hanya untuk memenuhi

kebutuhan saat ini saja tetapi yang lebih penting dapat menjawab kebutuhan yang

akan datang dan yang mungkin terjadi atau orientasi ke depan (tidak bersifat statis).

(3) Aplikatif artinya produk perencanaan dengan mudah dapat dijadikan sebagai bahan

acuan dan pedoman bagi SKPD maupun pemangku kepentingan lainnya.

(4) Akuntabel artinya setiap program/ kegiatan dan hasil akhir dari tahapan perencanaan

pembangunan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sesuai dengan

peraturan.

Penetapan Visi tersebut juga didukung oleh fakta dan data bahwa fungsi perencanaan di

masa mendatang sangat strategis dan menentukan kemajuan suatu daerah. Berdasarkan

pemahaman tersebut, sangatlah rasional pada masa mendatang diperlukan langkah dan

tindakan pemantapan lembaga perencanaan pembangunan sebagai lembaga mandiri,

profesional, berkualitas, akuntabel dan transparan. Pemantapan fungsi dan peran

perencanaan pembangunan ke depan harus melalui upaya-upaya yang lebih cerdas dan

terarah namun tetap ramah dalam meningkatkan akselerasi pembangunan guna

(4)

4.2

Misi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Bandung

Misi merupakan pernyataan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai, yang harus dilaksanakan

agar tujuan dapat berhasil dengan baik. Dengan pernyataan misi diharapkan semua pihak

dapat mengetahui dan melaksanakan perannya secara optimal sehingga setiap program

dapat berhasil sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pernyataan misi yang jelas

akan memberikan arahan kepada setiap stakeholder untuk mengambil bagian dalam

pembangunan.

Untuk merealisasikan visi yang telah ditetapkan tersebut dengan bertumpu kepada potensi

sumber daya dan kemampuan yang dimiliki serta ditunjang dengan semangat kebersamaan,

tanggung jawab dari seluruh aparat Bappeda dan dukungan pemangku kepentingan, maka

ditetapkan Misi sebagai berikut :

1. Mewujudkan perencanaan pembangunan yang efektif dan efisien ;

2. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Sistem Layanan Perencanaan Pembangunan yang

Memadai;

3. Melaksanakan koordinasi, pengkajian dan penelitian sebagai bahan kabijakan

pembangunan;

4. Meningkatkan iklim dan kerjasama dalam bidang penanaman modal.

4.3

Tujuan Dan Sasaran Jangka Menengah SKPD

Sesuai dengan visi dan misi Bappeda Kota Bandung tersebut di atas, maka tujuan dan

sasaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Bappeda dalam jangka menengah diuraikan

sebagai berikut:

MISI 1 : Mewujudkan Perencanaan Pembangunan yang Efektif dan Efisien Tujuan : Terpenuhinya kebutuhan perencanaan pembangunan kota yang

berkualitas dan akuntabel sehingga dapat meningkatkan keselarasan perencanaan pembangunan seluruh stakeholders

Sasaran : Meningkatnya perencanaan pembangunan yang efektif dan efisien

(5)

2. Perencanaan Pembangunan Daerah

MISI-2 : Meningkatkan kualitas dan kuantitas sistem layanan perencanaan pembangunan yang memadai

Tujuan : Tersedianya data dan informasi yang akurat dalam penyusunan dokumen perencanaan yang didukung oleh sistem informasi melalui elektronik government

Sasaran : Ketersediaan sistem informasi dan data-data mutakhir dan mudah diakses

Program : 1. Program Pengembangan Data dan Informasi

2. Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi

3. Program Perencanaan Sosial dan Budaya

4. Program Optimalisasi Pemanfaatan Teknologi Informasi

MISI-3 : Melaksanakan koordinasi, pengkajian dan penelitian sebagai bahan kebijakan pembangunan

Tujuan : Memberikan masukan kepada walikota terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembangunan

Sasaran : Meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan melalui koordinasi,

pengkajian dan penelitian sehingga dapat dicapai kualitas

pembangunan yang efektif dan efisien

Program : 1. Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup

2. Program Penelitian dan Pengembangan Daerah

3. Program Kerjasama Pembangunan

4. Perencanaan Pembangunan Ekonomi

5. Program Perencanaan Sosial dan Budaya

6. Program Perencanaan Pembangunan Bidang Fisik dan Tata Ruang

7. Program Perencanaan Pengembangan Wilayah Strategis dan Cepat

Tumbuh

8. Program Perencanaan Pengembangan Kota-kota Menengah dan

Besar

MISI-4 : Meningkatkan iklim dan kerja sama dalam bidang penanaman modal Tujuan : Menciptakan iklim kondusif bagi investasi di Kota Bandung

Sasaran : Meningkatnya iklim investasi di Kota Bandung

(6)
(7)

Tabel 4.1

TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENENGAH PELAYANAN SKPD

MISI 1: Mewujudkan Perencanaan Pembangunan yang Efektif dan Efisien

Tujuan Sasaran Indikator Sasaran

Target Kinerja

2009 2010 2011 2012 2013

Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra

Terpenuhinya kebutuhan perencanaan

pembangunan kota yang berkualitas dan

akuntabel sehingga dapat meningkatkan keselarasan perencanaan pembangunan seluruh stakeholders

Meningkatnya perencanaan pembangunan yang efektif dan efisien

Tingkat perwujudan perencanaan pembangunan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat

Keselarasan program dalam RKPD dengan program dalam RPJMD Terkendali dan

Terlaporkannya kinerja

pembangunan daerah

Persentase konsistensi pelaksanaan

(8)

MISI 2

: Meningkatkan kualitas dan kuantitas sistem layanan perencanaan pembangunan yang

memadai

Target Kinerja

Tujuan Sasaran Indikator Sasaran 2009 2010 2011 2012 2013

Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra

Tersedianya data dan informasi yang akurat dalam penyusunan dokumen

perencanaan yang didukung oleh sistem informasi melalui elektronik

government

Ketersediaan sistem informasi dan data-data mutakhir dan mudah diakses

Tingkat

(9)

MISI 3 : Melaksanakan koordinasi, pengkajian dan penelitian sebagai bahan kebijakan pembangunan

Tujuan Sasaran Indikator Sasaran

Target Kinerja

2009 2010 2011 2012 2013

Kondisi Kinerja pada akhir periode

Renstra

Memberikan masukan kepada walikota terhadap

perencanaan dan pelaksanaan pembangunan

Meningkatnya kualitas perencanaan pembangunan melalui

koordinasi, pengkajian dan penelitian sehingga dapat dicapai

kualitas pembangunan yang efektif dan efisien

(10)

MISI 4: Meningkatkan iklim dan kerja sama dalam bidang penanaman modal

Tujuan Sasaran Indikator Sasaran

Target Kinerja

2009 2010 2011 2012 2013

Kondisi Kinerja pada akhir periode Renstra

5.1.Menciptakan iklim kondusif bagi investasi di Kota Bandung

5.1.1.Meningkatnya Iklim Investasi

Prosentase investor yang mengajukan penanaman modal

(11)

Berdasarkan Misi, Yujuan dan Sasaran yang tercantum pada tabel 4.1 diatas, maka dapat disusun Indikator Kinerja Utama seperti tercantum pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.2

INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU)

RENSTRA BAPPEDA KOTA BANDUNG TAHUN 2009-2013

NO SASARAN INDIKATOR KINERJA

UTAMA PENJELASAN

PENANGGUNG JAWAB

1 Meningkatnya perencanaan pembangunan yang efektif dan efisien

tingkat perwujudan perencanaan pembangunan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat

Jumlah aspirasi masyarakat yang diakomodasi dalam dokumen perencanaan dibagi seluruh aspirasi masyarakat dikali 100%

Sekretariat Bappeda

Keselarasan program dalam RKPD dengan Program dalam RPJMD

Jumlah program dalam RKPD tahun bersangkutan dibagi dengan jumlah program dalam RPJMD yang harus dilaksanakan pada tahun bersangkutan x 100% yang konsisten kinerjanya dibagi seluruh

program/kegiatan di tahun bersangkutan x100%

Bidang Penelitian dan Pengembangan Statistik Bappeda

3 Meningkatnya kualitas perencanaan

pembangunan melalui koordinasi, pengkajian dan penelitian

sehingga dapat dicapai kualitas pembangunan yang efektif dan efisien

Persentase hasil koordinasi, pengkajian dan penelitian yang dijadikan bahan masukan dalam pelaksanaan pembanunan

Jumlah hasil koordinasi, pengkajian dan penelitian yang dijadikan masukan dalam pelaksanaan pembangunan pada tahun n dibagi seluruh hasil koordinasi, pengkajian dan penelitian tahun

sebelumnya x 100%

Bidang Perencanaan Pemerintahan, Bidang

Perencanaan Sosial Budaya dan Kesra, Bidang

Perencanaan Ekonomi dan Pembiayaan, Bidang Tata Ruang Sarana dan Prasarana. 4 Meningkatnya

aktivitas investasi di Kota Bandung

Terselenggaranya promosi investasi

Kenaikan jumlah investor

(12)

4.3 STRATEGI DAN KEBIJAKAN SKPD

Untuk merumuskan strategi dan kebijakan SKPD, yang perlu diperhatikan adalah kekuatan,

kelemahan, peluang dan tantangan dalam mengembangkan kelembagaan secara

menyeluruh, untuk itulah perlu dilakukan analisis terhadap faktor-faktor tersebut dengan

melakukan pengelompokan sebagai berikut :

FAKTOR INTERNAL

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembahasan faktor internal adalah aspek

kelembagaan yang terkait dengan kewenangan, fungsi dan peran, sumberdaya aparatur,

sarana dan prasarana.

1. Aspek Kekuatan

Aspek kekuatan adalah segala sesuatu yang terdapat di dalam kewenangan dan berada

dibawah langsung kendali tugas dan fungsi Bappeda yang dapat dimanfaatkan dalam

meningkatkan kinerja Bappeda

2. Aspek Kelemahan

Aspek kelemahan adalah segala sesuatu yang berasal dari dalam dan terkait langsung

dengan fungsi dan peranan Bappeda yang dapat menjadi kendala dalam peningkatan kinerja

Bappeda.

FAKTOR EKSTERNAL

Faktor-faktor lingkungan strategis yang berpengaruh langsung terhadap kinerja Bappeda

yaitu :

1. Aspek Peluang

Pengertian peluang adalah kondisi eksternal yang mendukung dan dapat dimanfaatkan

dalam peningkatan kinerja Bappeda.

(13)

Ancaman adalah kondisi eksternal yang dapat mengganggu dan menghambat

pengembangan dan peningkatan kinerja Bappeda di Kota Bandung

PENYUSUNAN STRATEGI

Strategi diperlukan untuk memperjelas arah dan tujuan pengembangan dan peningkatan

kinerja Bappeda. Dalam mengemban tugas dan kewenangannya, Bappeda harus memiliki

acuan langkah agar pelaksanaan tugas tetap berada pada koridor yang ditetapkan dan

hasilnya dapat dirasakan secara nyata baik oleh aparatur maupun masyarakat. Oleh karena

itu penentuan strategi yang tepat menjadi sangat penting.

Pengembangan dan peningkatan kinerja Bappeda yang dilaksanakan memiliki

harapan-harapan masa depan yang ingin dicapai, yang bertitik tolak pada kondisi internal dan

eksternal dengan keanekaragamannya. Strategi merupakan suatu respon terhadap visi, misi

dan tujuan yang akan menjadi rujukan dari seluruh kebijakan dan program kegiatan yang

dikeluarkan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu strategi yang disusun harus

sesuai pula dengan kebijakan dan tujuan pembangunan Kota Bandung secara keseluruhan.

Strategi-strategi tersebut dilakukan dengan tabulasi silang terhadap faktor-faktor internal

dan eksternal untuk mendapatkan:

1. Strengts - Opportunities Strategy, yaitu menggunakan kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang eksternal;

2. Weakness - Opportunities Strategy, yaitu memperbaiki kelemahan internal dengan mengambil keuntungan dari peluang eksternal;

3. Strengts - Threats Strategy, yaitu menggunakan kekuatan internal untuk menghindari atau mengurangi dampak dari ancaman eksternal;

4. Weakness - Treaths Strategy, yaitu merupakan strategi pertahanan untuk menghindari kelemahan internal dan menghindari ancaman eksternal.

Penjabaran faktor internal, faktor eksternal, serta penjabaran strategi dapat dilihat pada

(14)

Faktor Eksternal

Faktor Internal

Peluang (O) :

1. Kewenangan dan peran Bappeda yang makin kuat dan luas dalam penyelenggaraan pemerintahan, khususnya bidang perencanaan, penganggaran, dan pengendalian pembangunan;

2. Sinergitas perencanaan antara pemerintah pusat, provinsi dan Kabupaten/Kota;

3. Kewenangan yang jelas dan menjadikan stuktur Bappeda lebih efektif dan efisien

4. Fungsi dalam struktur Bappeda semakin lengkap 5. Bandung diberikan prioritas dalam pelaksanaan

pembangunan;

6. Pesatnya perkembangan Kota Bandung di berbagai sektor pembangunan;

7. Bandung sebagai pusat Perguruan Tinggi, dan Penelitian yang berkualitas

8. Participatory planning semakin optimal; 9. Penyusunan rencana pembangunan dengan

pendekatan pemberdayaan masyarakat mendapat dukungan prioritas.

10. Memiliki acuan dalam penyusunan rencana peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dukungan anggaran dari Provinsi

11. Memudahkan untuk melakukan kerjasama dengan dunia usaha/swasta

12. Memberikan dukungan untuk menyusun road map ekonomi kota Bandung

Ancaman (T):

1. inkonsistensi Peraturan Perundangan yang mengatur mengenai Perencanaan;

2. Perencanaan masih bersifat Sektoral;

3. Masih adanya tumpang tindih kewenangan dan urusan dengan SKPD lain

4. Tingginya urbanisasi penduduk pendatang;

5. Perkembangan kawasan/wilayah Kota tidak sebanding dengan dokumen perencanaan yang dihasilkan;

6. Adanya regulasi yang membatasi kerjasama Penelitian dengan Perguruan Tinggi Swasta 7. Kesulitan dalam menentukan prioritas

pembangunan

8. Tuntutan representasi dalam proses rencana pembangunan semakin kuat

9. Adanya tuntutan masyarakat untuk merasakan hasil rencana pembangunan dalam bentuk riil. 10. Kebijakan yang terlalu seragam akan

mengesampingkan kekhasan karak-teristik masyarakat Kota Bandung

11. Pertumbuhan investasi belum sejalan dengan Dokumen perencanaan yang berlaku.

12. Masyarakat kreatif memiliki road mapnya sendiri

Kekuatan (S) :

1. Terlaksanakannya Tugas Pokok dan Fungsi Bappeda dengan dukungan SDM, sarana dan prasarana memadai

2. Potensi kapabilitas SDM sudah cukup baik; 3. Potensi aparatur dalam menjalankan Tugas Pokok

dan Fungsi

Alternatif Strategi :

1. Meningkatkan kualitas pekerjaan dan mempertegas peran dan fungsi Bappeda dalam setiap perencanaan pembangunan yang diarahkan oleh aparatur perencana dengan kapabilitas yang baik agar didapat sinergitas perencanaan (S1 – S4 : O1 - O3)

2. Peningkatan kapasitas aparatur perencana dengan memanfaatkan keberadaan perguruan tinggi dan lembaga penelitian sebagai partner pembangunan

Alternatif Strategi (S-T):

1. Memberdayakan SDM perencana untuk menghindari pemahaman perencanaan yang sektoral (S1-S3 : T2).

2. Memberdayakan SDM perencana dalam

merumuskan SPM dan dokumen perencanaan yang dibutuhkan (S1-S3 : T1)

3. Memberdayakan peran SDM Aparatur dalam

(15)

4. Adanya peningkatan kemampuan dalam kepemimpinan

5. Memiliki kualifikasi dalam pengelolaan keuangan sesuai dengan Sistem Akuntansi Daerah

6. Proses pengadaan barang/jasa memiliki legitimasi sesuai Kepres 80

7. Meningkatnya kualitas teknis perencanaan 8. Lokasi kantor cukup strategis;

9. Kendaraan operasional dalam jumlah dan kondisi yang memadai;

10. Kuantitas sarana dan prasarana penunjang pelaksanaan tugas memadai;

11. Kemudahan dalam proses Penyusunan Dokumen Perencanaan;

12. Pelaksanaan Program dan Kegiatan sesuai dengan rencana;

13. Bappeda menjadi salah satu anggota TAPD;

14. Database mengenai statistik Kota Bandung selalu diupdate secara berkala (1 tahun 1 kali);

15. Beberapa dokumen perencanaan sudah dapat dikerjakan secara swakelola;

16. Tersedianya dokumen perencanaan yang beragam; 17. Sistem Informasi Musrenbang sebagai instrumen

penting dalam perencanaan partisipatif telah mulai dibangun dan dikembangkan.

(S3,S4 : O6)

3. Meningkatkan kualitas dan kuantitas aparatur yang memiliki sertifikat pengadaan barang/jasa untuk melaksanakan pekerjaan pengadaan secara lebih efektif sehingga proses pelaksanaan pembangunan menjadi lebih lancar (S6 : O8

4. Memanfaatkan peraturan dan regulasi yang ada dalam pengembangan fungsi dan kewenangan Bappeda (S4, S5, S10, S12 : O1,O3)

5. Optimalisasi penggunaan anggaran dalam percepatan Bandung sebagai kota Metropolitan (S5, S6,S12 : O4

6. Memanfaatkan database pembangunan dalam

pengembangan sinergitas pembangunan dan

peningkatan partisipasi swasta/dunia usaha (S13 : O2, O7, O8)

7. Memaksimalkan fungsi dan keberadaan sistem

informasi musrenbang dalam meningkatkan pastisipasi masyarakat dan swasta dalam pembangunan (S16 : O7,O8)

memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pembangunan (S2-S4 : T3)

4. Mengoptimalkan SDM pengelola keuangan dalam perencanaan dan pengendalian penganggaran (S5, S6, S12 : T1)

5. Optimalisasi kendaraan operasional dalam rangka meningkatkan kinerja penyusunan perencanaan pembangunan (S8,S9;T1)

6. Menerapkan perundang-undangan yang ada untuk perumusan SPM perencanaan (S4, S14, S15 :T1) 7. Memanfaatkan perundang-undangan untuk

meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap mekanisme dan tata cara perencanaan (S3 : T1, T7) 8. Efisiensi penggunaan alokasi anggaran untuk

mengurangi tuntutan masyarakat yang ingin 'instan' terhadap hasil pembangunan (S6, S11,S12 : T3) 9. Mewujudkan ketersediaan data/informasi dan

sistem informasi pembangunan sebagai upaya penetapan SPM yang belum terbentuk (S13 : T6) 10.Mensinergikan antara perencanaan Sektoral dengan

RPJP, RPJM dan RTRW ( S15 : T2,T3 )

11.Menyusun Dokumen Perencanaan yang dapat mengantisipasi laju pertumbuhan penduduk dan permasalahan sosial yang menyertainya. (S2-S4 : T4) 12.Memasukan variabel investasi dalam pe-nyusunan

dokumen perencanaan (S12,S15 : T8)

Kelemahan (W):

1. Lemahnya Team Work dan belum tergalinya potensi SDM secara optimal);

2. Masih kurangnya Sumber Daya Aparatur yang memiliki skill dan kompetensi sebagai perencana; 3. Belum tersusunnya standar kinerja yang terukur 4. Kemampuan SDM dalam pengelolaan keuangan tidak

merata

5. Terbatasnya jumlah aparatur yang memiliki sertifikasi

Alternatif Strategi (W-O) :

1. Mengembangkan jabatan fungsional peneliti dan perencana untuk meningkatkan peran dan fungsi Bappeda dengan meningkatkan jumlah alokasi anggaran untuk aparatur bappeda yang mengikuti diklat fungsional dan diklat pengadaan barang/jasa. (W2,W3 : O6 )

2. Pengembangan sumberdaya aparatur untuk meningkatkan skill dan kompetensi melalui

Alternatif Strategi (W-T) :

1. Mempercepat terbentuknya jabatan fungsional perencana untuk mengantisipasi tuntutan masyarakat dalam pembangunan (W2,W3 : T5)

(16)

pengadaan barang/jasa;

6. Manajemen jabatan fungsional belum optimal 7. Tidak berimbangnya jumlah personil dengan

kapasitas gedung;

8. Penggunaan & perawatan kendaraan operasional belum optimal.;

9. Barang inventaris belum terkelola secara baik; 10.Tidak adanya tempat/ruangan khusus penyimpanan

barang inventaris kantor;

11.Kurangnya pemeliharaan rutin untuk barang inventaris kantor;

12.Belum memadainya sarana instalasi listrik dalam mendukung aktivitas Bappeda;

13.Belum diterapkannya efisiensi penggunaan listrik dan air;

14.Belum optimalnya dukungan sistem data dan informasi yang handal terhadap proses pengambilan kebijakan;

15.Proses pertanggungjawaban keuangan semakin rigid 16.Lemahnya fungsi dan peran Bappeda dalam TAPD

sehingga terjadi reduksi kegiatan yang tercantum dalam dokumen perencanaan pada saat proses penganggaran

17.Belum terkelolanya dokumen serta data/informasi penting yang mendukung proses perencanaan; 18.Belum ada sistem baku yang mengatur proses

swakelola diluar Kepres No.80;

19.Rendahnya tingkat pemanfaatan dokumen perencanaan yang dihasilkan oleh Bappeda disebabkan karena lemahnya pemahaman mengenai kebutuhan SKPD;

kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian (W2, W3 : O6)

3. Meningkatkan kapasitas gedung kantor dan sarana penunjangnya dalam pengembangan urusan kewenangan bidang perencanaan (W7-W14 : O1) 4. Mengembangkan sistem informasi perencanaan

pembangunan yang handal guna mendukung tingkat partisipasi dunia usaha dan investor dalam pembangunan kota Bandung (W15, W18 : O5, 07, O8)

5. Menerapkan standar dan prosedur kerja yang jelas untuk mengambangkan urusan kewenangan yang ada (W4,W5 : O3)

6. Menerapkan sistem informasi pembangunan untuk menciptakan sinergitas pembangunan antar wilayah dan memperkuat Bandung sebagai PKN (W15,W18 : O2,O4)

7. Mengembangkan berbagai hasil perencanaan pembangunan dengan memanfaatkan keberadaan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Kota Bandung (W20 : O6,O7)

8. Menerapkan reward and punishment dengan standar kriteria kinerja yang pasti (W4,W5 : O3)

9. Mengadakan event-event yang mensosialisasikan proses dan produk-produk perencanaan . (W18,W21 : O5-O8)

3. Meningkatkan kapasitas gedung kantor untuk menerapkan standar pelayanan minimal yang belum tersedia (W7,W8, W13)

(17)

Gambar

Tabel 4.1 TUJUAN DAN SASARAN JANGKA MENENGAH PELAYANAN SKPD

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan jus kulit manggis yang diberikan dicampur dengan air minum dapat memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,05)

Bab ini berisi tentang penjelasan mengenai langkah – langkah yang harus dilalukan untuk dapat mencapai tujuan dari penelitian tugas akhir ini yang meliputi perhitungan

Menurut Al-Bahra bin Ladjamudin dalam bukunya yang berjudul Analisis & Desain Sistem Informasi (2005:39) menyebutkan, “Perancangan adalah suatu kegiatan yang memiliki tujuan

Menurut Sumarno dan Sutisna (2010), penelitian padi non hibrida pada musim kemarau di Sukamandi menunjukkan tinggi tanaman saat panen dan umur panen ber- korelasi

Kesimpulan dari penelitian ini adalah: (1) kesalahan berbahasa Jawa siswa dapat dikelompokkan menjadi 3 bidang, yaitu bidang ejaan, diksi, dan kalimat; (2) kesalahan berbahasa Jawa

Setelah dilakukan serangkaian analisis, pengamatan dan pengujian secara langsung terhadap objek penelitian, maka penulis dapat menarik kesimpulan tentang pembuatan

Posbindu PTM (Penyakit Tidak Menular) merupakan peran serta masyarakat dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan pemantauan faktor resiko, terutama

Metode ini digunakan karena peneliti berusaha mengetahui seberapa besar pengaruh antara Kualitas Penerapan Good Corporate Governance dan Risiko Pembiayaan