BAB IV
ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS
Analisis isu-isu strategis dijabarkan dari permasalahan internal
dan eksternal yang masih dihadapi. Selain permasalahan yang dihadapi,
penjabaran isu-isu strategis juga terkait dengan pemanfaatan potensi yang
ada di daerah serta permasalahan berkaitan dengan keberlanjutan
pembangunan (sustainability). Penentuan isu-isu strategis dilakukan
mendasarkan pada kondisi umum daerah terkait urusan pemerintahan yang
relevan pada berbagai aspek, meliputi (1) aspek geografi dan demografi (2)
aspek kesejahteraan masyarakat, (3) aspek pelayanan umum, dan (4) aspek
daya saing daerah. Selanjutnya, melalui diskusi dengan para pemangku
kepentingan, dicari hubungan sebab akibat antara satu permasalahan dengan
permasalahan lain.
4.1. Identifikasi Permasalahan
Berdasarkan hasil diskusi dan curah pendapat dengan para
pemangku kepentingan di Kabupaten Cilacap berbagai permasalahan yang
harus diangkat dalam pembangunan lima tahun ke depan adalah sebagai
berikut:
4.1. 1 Fokus Urusan Wajib
1. Urusan Pendidikan
a) Masih rendahnya tingkat partisipasi sekolah
b) Masih rendahnya rata-rata lama sekolah
c) Tidak meratanya pelayanan pendidikan
d) Masih Rendahnya jumlah guru yang memenuhi kualifikasi lulusan
S1/D4 dan sertifikasi tenaga pendidik.
e) Masih belum efektifnya keberhasilan wajib belajar 9 tahun
f) Masih rendahnya angka melanjutkan sekolah SMP ke SMA/SMK
g) Masih rendahnya cakupan pendidikan vokasi tingkat SMA
h) Masih rendahnya cakupan pendidikan anak usia dini (PAUD)
2. Urusan Kesehatan
b) Semakin meningkatnya prevalensi HIV/AIDS
c) Masih rendahnya rasio pelayanan kesehatan
d) Masih rendahnya pencapaian indikator kinerja standar pelayanan
minimum (SPM) bidang kesehatan.
e) Masih belum tercukupinya ketersediaan tenaga medis
f) Masih rendahnya cakupan pelayanan kesehatan
3. Urusan Pekerjaan Umum
Masih buruknya kuantitas dan kualitas sebagian infrastruktur jalan,
jembatan dan jaringan irigasi.
4. Urusan Perumahan
a. Masih rendahnya persentase rumah tangga pengguna air bersih.
b. Masih adanya rumah tangga yang belum bisa mengakses listrik.
c. Masih adanya rumah tangga yang belum bisa mengakses fasilitas
sanitasi.
d. Masih adanya rumah tangga yang kurang layak huni
5. Urusan Penataan Ruang
a. Masih rendahnya ketersediaan dokumen rencana detail tata ruang
kawasan perkotaan sesuai dengan ketentuan dalam RTRW.
b. Masih kurangnya luasan ruang terbuka hijau publik di kawasan
perkotaan.
c. Meningkatnya permohonan perubahan penggunaan lahan
pertanian .
6. Perencanaan Pembangunan
a. Masih lemahnya sinergi antarbidang dan antar organisasi dalam
perencanaan.
b. Masih lemahnya ketersediaan dan akurasi data untuk keperluan
perencanaan.
c. Masih kurangnya kapabilitas dan kompetensi SDM perencanaan.
7. Urusan Perhubungan
a. Belum efektifnya pelaksanaan ujian kendaraan bermotor.
b. Semakin tingginya tingkat kecelakaan lalu lintas.
c. Masih tingginya tingkat pelanggaran izin angkutan umum/trayek
oleh kendaraan angkutan penumpang umum.
e. Belum tersedianya sarana kapal angkutan penyeberangan
khususnya untuk angkutan kendaraan roda empat, barang, dan
wisatawan untuk melayani masyarakat Kutawaru, Kampung Laut
dan sekitarnya.
f. Masih kurangnya rambu dan marka parkir.
8. Urusan Lingkungan Hidup
a. Potensi semakin tingginya emisi Gas Rumah Kaca.
b. Masih sangat rendahnya cakupan sampah yang diangkut.
c. Masih minimnya fasilitas sistem pengelolaan sampah perkotaan.
d. Tingginya skor kerawanan bencana Kabupaten Cilacap
e. Masih perlunya peningkatan efektifitas pengendalian lahan kritis
f. Masih perlunya peningkatan cakupan penanganan lahan kritis
g. Belum optimalnya sistem informasi dan komunikasi kebencanaan
yang terpadu dan terintegrasi antar wilayah.
h. Belum terpenuhinya cakupan pelayanan sesuai standar pelayanan
minimal bidang lingkungan hidup mencakup pelayanan
pencegahan pencemaran air, pelayanan pencegahan pencemaran
udara dari sumber tidak bergerak, pelayanan penyediaan
informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi
biomass, serta pelayanan tindak lanjut pengaduan masyarakat
akibat adanya dugaan pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup.
9. Urusan Pertanahan
Masih rendahnya cakupan sertifikasi tanah.
10.Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil
a. Masih rendahnya cakupan penduduk ber-KTP.
b. Masih rendahnya cakupan bayi berakta kelahiran.
c. Masih rendahnya tingkat kepemilikan penduduk berakte kelahiran.
d. Belum tercatatnya pasangan muslim berakta perkawinan di Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil.
e. Belum adanya petugas registrar di tingkat desa dan operator
11.Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
a. Masih kurangnya jaminan perlindungan bagi perempuan dan anak
dari tindak kekerasan.
b. Masih kurangnya cakupan pelayanan terpadu bagi perempuan dan
anak korban kekerasan sesuai dengan SPM mencakup penanganan
pengaduan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak,
pelayanan kesehatan bagi perempuan dan anak korban kekerasan,
rehabilitasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan,
penegakan dan bantuan hukum serta pemulangan dan reintegrasi
sosial perempuan dan anak korban kekerasan.
12.Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
a. Masih kurangnya kesadaran masyarakat terhadap perencanaan
keluarga berencana sehat dan sejahtera.
b. Masih kurangnya cakupan alat kontrasepsi/akseptor keluarga
berencana.
c. Masih kurangnya cakupan peserta keluarga berencana aktif.
d. Masih kurangnya tingkat kesejahteraan keluarga.
e. Masih kurangnya cakupan pelayanan sesuai standar pelayanan
minimal bidang keluarga berencana, meliputi; komunikasi,
informasi, dan edukasi keluarga berencana dan keluarga sejahtera
(KIE KB dan KS) serta penyediaan obat dan alat kontrasepsi.
13.Urusan Sosial
a. Masih tingginya penyandang masalah kesejahteraan dan sosial
(PMKS).
b. Masih rendahnya cakupan PMKS yang mendapatkan bantuan.
c. Masih rendahnya cakupan penyediaan sarana dan prasarana sosial
bagi PMKS.
14.Urusan Ketenagkerjaan
a. Tingginya potensi gejolak hubungan industrial.
b. Tidak sebandingnya pertumbuhan penduduk usia kerja dengan
kesempatan kerja yang ada.
c. Rendahnya tingkat pendidikan dan ketrampilan kerja para
ketika memasuki pasar kerja baik dalam negeri maupun luar
negeri.
d. Pengendalian kasus kecelakaan kerja yang masih harus terus
ditingkatkan.
e. Masih rendahnya cakupan pelayanan sesuai standar pelayanan
minimal (SPM) bidang ketenagakerjaan yang mencakup
pelayanan pelatihan kerja, pelayanan penempatan tenaga kerja,
pelayanan penyelesaian perselisihan hubungan indsutrial,
pelayanan keikutsertaan jamsostek dan pelayanan pengawasan
ketenagakerjaan.
15.Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
a. Masih rendahnya daya saing produk UMKM Kabupaten Cilacap.
b. Masih belum efektifnya promosi produk UMKM Kabupaten
Cilacap.
c. Lemahnya permodalan UMKM.
d. Terbatasnya akses UMKM terhadap sumber-sumber permodalan.
e. Masih kurangnya kerjasama kemitraan ekonomi dan bisnis yang
melibatkan UMKM Kabupaten Cilacap.
16.Urusan Penanaman Modal
a. Belum tersusunnya Rencana Umum Penanaman Modal (RUPM)
Kabupaten Cilacap.
b. Masih terkonsentrasinya penanaman modal di kecamatan
tertentu.
c. Perlu ditingkatkannya promosi penanaman modal yang inklusif
dengan mempertimbangkan pendekatan spasial, keterkaitan
sektoral dan penyerapan tenega kerja.
d. Kurangnya daya saing domestik Kabupaten Cilacap yang
mendukung iklim usaha yang kondusif.
e. Belum terpenuhinya cakupan pelayanan bidang penanaman
modal sesuai standar pelayanan minimal yang mencakup
tersedianya informasi peluang usaha sektor/bidang usaha
unggulan; terselenggaranya fasilitasi pemerintah daerah dalam
koperasi; dan terselenggaranya promosi peluang penanaman
modal Kabupaten Cilacap.
17.Urusan Kebudayaan
Masih sangat rendahnya cakupan pelayanan bidang kesenian dan
kebudayaan sesuai standar pelayanan minimal yang meliputi
perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan kesenian serta
pelayanan sarana dan prasarana untuk mengembangkan kesenian
dan kebudayaan.
18.Urusan Kepemudaan dan Olahraga
a. Prestasi Olah raga yang masih harus ditingkatkan
b. Ketersediaan dan ketercukupan sarana dan prasarana olah raga
yang semakin berkurang
19.Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik dalam Negeri
a. Masih rendahnya kesadaran politik masyarakat
b. Risiko ancaman gangguan terhadap ketentraman, ketertiban dan
keindahan yang semakin tinggi
c. Kecenderungan semakin rendahnya partisipasi politik masyarakat
dalam pemilihan umum
20.Urusan Otonomi Daerah dan Pemerintahan Umum, Administrasi
Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan
Persandian
a. Kurangnya kualitas dan ketersediaan tenaga fungsional auditor
dan P2UD untuk mendukung kualitas hasil pengawasan.
b. Belum optimalnya pendapatan daerah guna mendukung
kemandirian daerah.
c. Belum optimalnya pengelolaan perusahaan daerah/BUMD
sehingga kontribusi terhadap PAD juga belum optimal.
21.Urusan Ketahanan Pangan
a. Masih perlu ditingkatkannya ketersediaan energi dan protein per
kapita, penguatan cadangan pangan, informasi pasokan, harga dan
akses pangan ke daerah.
b. Masih perlu ditingkatkannya upaya untuk menjaga stabilitas
pengawasan dan pembinaan keamanan pangan, serta penanganan
daerah rawan pangan.
c. Masih rendahnya cakupan pelayanan sesuai standar pelayanan
minimal bidang ketahanan pangan yang meliputi pelayanan
ketersediaan dan cadangan pangan, pelayanan distribusi dan
akses pangan, keanekaragaman dan keamanan pangan serta
penanganan kerawanan pangan
d. Masih adanya konversi lahan pertanian
e. Belum optimalnya pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup,
baik jumlah maupun mutu, aman, merata dan terjangkau.
22.Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
a. Masih lemahnya kapasitas kelembagaan di tingkat desa dalam
rangka pemberdayaan masyarakat;
b. Masih belum optimalnya pemberdayaan potensi modal sosial
lokal di tingkat desa oleh pemerintah daerah.
23.Urusan Statistik
a. Kurang terintegrasinya data dasar yang diperlukan untuk
perencanaan pembangunan dan evaluasi
b. Belum sinkronnya data dasar antar instansi
c. Kurang optimalnya koordinasi antara BPS dan instansi pemerintah
dalam penyediaan data yang masih harus dioptimalkan
24.Urusan Kearsipan
Belum adanya standar sistem informasi untuk arsip daerah
25.Urusan Komunikasi dan Informatika
Masih perlu ditingkatkannya cakupan pelayanan sesuai dengan
standar pelayanan minimal bidang komunikasi dan informatka yang
meliputi pelaksanaan diseminasi informasi nasional melalui berbagai
media informasi; dan pengembangan dan pemberdayaan kelompok
informasi masyarakat.
26.Urusan Perpustakaan
a. Terbatasnya fasilitas bacaan yang bisa diakses oleh masyarakat
b. Belum optimalnya pemanfaatan perpusatakaan daerah/desa yang
4.1. 2 Fokus Urusan Pilihan 27.Urusan Pertanian
a. Terbatasnya kemampuan SDM dalam penanganan pasca panen
dan pemasaran hasil produksi.
b. Kurangnya penyediaan dan belum optimalnya pemanfaatan
jaringan irigasi tingkat usaha tani dan tingkat pedesaan.
c. Lemahnya modal dan terbatasnya akses permodalan rumah
tangga petani dan peternak.
d. Masih kurangnya pelayanan kesehatan hewan dan masyarakat
veteriner.
e. Masih rendahnya tingkat pendapatan / kesejahteraan petani.
f. Belum optimalnya produksi dan produktivitas sektor pertanian,
peternakan dan perkebunan.
g. Masih terbatasnya pengetahuan, kemampuan dan kompetensi
para penyuluh.
h. Kurangnya balai penyuluhan.
28.Urusan Kehutanan
Masih perlunya peningkatan efektifitas pengendalian persentase
luas kerusakan kawasan hutan.
29.Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral
a. Belum terakomodasinya secara menyeluruh para pelaku usaha
pertambangan yang berizin.
b. Kurang tertibnya pengusaha pertambangan terhadap
kewajiban-kewajibannya sehingga diperlukan pembinaan dan pengawasan
pertambangan secara terpadu.
30.Urusan Pariwisata
a. Kurangnya jenis dan rendahnya kualitas obyek wisata.
b. Belum optimalnya promosi potensi pariwisata.
c. Masih terbatasnya paket-paket wisata dan atraksi wisata yang
dapat dijual kepada wisatawan.
d. Rendahnya sarana dan prasarana pendukung dan SDM bidang
pariwisata.
e. Terbatasnya otoritas pemerintah daerah terhadap pengelolaan
31.Urusan Kelautan dan Perikanan
a. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan
b. Belum optomalnya produktivitas perikanan budidaya.
c. Maraknya penangkapan ikan ilegal.
d. Tingkat kerusakan sumber daya perikanan dan kelautan yang
belum terkendali di kawasan Segara Anakan.
e. Terbatasnya kapasitas sumber daya sektor perikanan dan kelautan.
32.Urusan Perdagangan
a. Masih lemahnya perlindungan terhadap konsumen.
b. Masih rendahnya nilai dan volume produk-produk ekspor
Kabupaten Cilacap
c. Belum optimalnya pengelolaan pasar-pasar tradisional.
33.Urusan Perindustrian
a. Belum optimalnya keterkaitan industri hulu dan hilir.
b. Masih rendahnya kontribusi industri kecil dan menengah terhadap
PDRB.
c. Belum tertatanya sentra-sentra industri kecil dan menengah di
Kabupaten Cilacap
34.Urusan Ketransmigrasian
Rendahnya pemberangkatan calon transmigran dibandingkan
dengan jumlah pendaftar transmigran.
4.2 ISU-ISU STRATEGIS
Isu strategis merupakan rangkuman atas berbagai permasalahan
yang telah diidentifikasi dari seluruh urusan. Isu strategis juga merangkum
berbagai potensi yang secara strategis potensial untuk dijadikan
pokok-pokok strategi pembangunan lima tahun ke depan dalam rangka perwujudan
visi dan misi. Permasalahan dan potensi tersebut bisa berupa faktor yang
berasal dari dalam Kabupaten Cilacap (internal) maupun faktor yang berasal
1. Ketimpangan Antarsektor, Ketimpangan Antarwilayah, dan Ketimpangan Pendapatan
Kemiskinan adalah potret hasil pembangunan sekaligus muara
dari setiap persoalan pembangunan. Tinggi rendahnya tingkat kemiskinan
menggambarkan permasalahan pembangunan yang dimensinya bukan hanya
meliputi dimensi pendapatan atau ekonomi, melainkan juga dimensi sosial,
budaya dan politik.
Kemiskinan masih menjadi permasalahan yang dihadapi
Kabupaten Cilacap. Angka kemiskinan di Kabupaten Cilacap masih relatif
tinggi (jumlah penduduk miskin 281.950 dan persentasenya 17.15 pada tahun 2011), meskipun jumlah maupun persentasenya cenderung menurun. Tingkat keparahan maupun tingkat kedalaman kemiskinan juga cenderung menurun
(Indeks kedalaman kemiskinan sebesar 2,59 dan keparahan kemiskinan
sebesar 0,6 pada tahun 2011). Dilihat berdasarkan sebarannya, peta
kemiskinan di Kabupaten Cilacap cenderung tidak merata. Jumlah penduduk
miskin di beberapa kecamatan masih sangat tinggi, yaitu Kecamatan
Majenang, Kecamatan Gandrungmangu, Kecamatan Kesugihan dan
Kecamatan Kroya.
Selain kemiskinan, salah satu akar permasalahan yang ada di
Kabupaten Cilacap adalah dualisme ekonomi. Dualisme tersebut merupakan
konsekuensi keberadaan kilang migas dan industri besar non-migas di
Kabupaten Cilacap. Peranan sektor migas di Kabupaten Cilacap sangat besar
sehingga tampak adanya perbedaan yang menonjol pada kinerja ekonomi
Kabupaten Cilacap, khususnya antara PDRB dengan migas dan PDRB tanpa
migas. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada aspek pertumbuhan ekonomi,
kontribusi sektoral dan pendapatan per kapita. Oleh karena itu strategi
pembanguan jangka panjang Kabupaten Cilacap harus selalu
mempertimbangkan struktur ekonomi Kabupaten Cilacap yang bersifat
dualistik tersebut.
Dualisme ekonomi diperkuat dengan adanya kecenderungan
sektoral dalam penyerapan tenaga kerja. Sektor pertanian merupakan sektor
yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Sektor lain juga banyak
menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan. Meskipun sektor-sektor
non-migas lah yang memiliki kontribusi paling besar dalam PDRB. Dualisme
ini berakibat pada ketimpangan produktivitas antarsektor yang mencolok.
Produktivitas sektor industri pengolahan rata-rata sebesar Rp 295,94 juta
per tahun. Sektor perdagangan, hotel dan restoran pada urutan kedua
dengan rata Rp 85,08 juta tahun. Produktivitas sektor pertanian
rata-rata hanya Rp12,93 juta per tahun.
Deskripsi mengenai struktur ekonomi Kabupaten Cilacap di atas
memberikan gambaran persoalan mendasar Kabupaten Cilacap, yakni
ketimpangan antarsektor, khususnya antara sektor migas dengan non-migas
dan sektor pertanian dengan sektor industri. Ketimpangan antarsektor
tersebut selanjutnya juga berdampak pada kesenjangan antar wilayah. Hal ini
disebabkan karena sektor migas dan industri besar terkonsentrasi di
Kecamatan tertentu saja, sedangkan sektor pertanian relatif tersebar di
semua kecamatan. Lebih jauh, keberadaan sektor migas lebih banyak
memberikan benefit kepada aktivitas di luar Kabupaten Cilacap. Pola
kesenjangan di Kabupaten Cilacap juga tergambar pada perbedaan
pendapatan perkapita antar wilayah. Pendapatan perkapita di wilayah Barat
dan Barat Laut cenderung lebih rendah dibanding pendapatan perkapita
wilayah Selatan dan Tenggara. Pola pertumbuhan yang tidak merata dan
kecenderungan terjadinya kesenjangan antar wilayah di Kabupaten Cilacap
ini memberikan petunjuk adanya keharusan untuk merumuskan strategi dan
kebijakan yang lebih mengarah pada terciptanya pemerataan antar wilayah,
khususnya antara wilayah Barat dan Barat Laut Kabupaten Cilacap dan
wilayah Selatan dan Tenggara Kabupaten Cilacap.
Dari perspektif spasial, pola pertumbuhan dan kontribusi
ekonomi mempunyai dua corak yang berbeda. Wilayah Cilacap Barat dan
Barat Laut adalah wilayah-wilayah yang terdiri dari kecamatan-kecamatan
yang mempunyai kontribusi besar terhadap PDRB Kabupaten Cilacap tetapi
tingkat pertumbuhannya yang relatif lebih rendah, sedangkan wilayah
Selatan dan Tenggara adalah wilayah-wilayah yang terdiri dari
kecamatan-kecamatan yang kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Cilacap lebih kecil
tetapi tingkat pertumbuhannya yang relatif lebih tinggi. Wilayah Barat dan
sedangkan wilayah Tenggara dan Selatan di Kecamatan Cilacap Utara, Cilacap
Tengah dan Cilacap Selatan.
Ketimpangan produktivitas antarsektor selain mengakibatkan
kesenjangan antarwilayah juga berdampak pada kesenjangan pendapatan
penduduk. Ketimpangan pendapatan antar kelompok masyarakat di
kabupaten Cilacap cenderung meningkat dan hal ini merupakan masalah
pembangunan yang jangka panjang yang perlu diselesaikan. Meningkatnya
kesenjangan pendapatan antar kelompok ini ditunjukkan oleh meningkatnya
Indeks Gini (pada tahun 2011 Indeks gini sebesar 0,32). Kesenjangan
pendapatan ini juga ditunjukkan oleh adanya perbedaan Upah Minimum
Kabupaten (UMK) antara wilayah Cilacap Kota, wilayah Cilacap Timur dan
wilayah Cilacap Barat.
Berangkat dari permasalahan pembangunan yang telah
dijabarkan, strategi pembangunan dalam jangka panjang harus diarahkan
pada formulasi kebijakan yang mendorong bertumbuh berkembangnya
sektor pertanian, sektor industri kecil dan menengah dan sektor non-migas
lainnya dengan mempertimbangkan pendekatan spasial.
Kebijakan yang bersifat spasial tersebut sekaligus dimaksudkan
untuk memperkuat strategi jangka panjang pembangunan Kabupaten Cilacap
sebagaimana tertuang dalam kebijakan RTRW Kabupaten Cilacap. Strategi ini
dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan wilayah Barat dan Barat Laut
dengan pusat pertumbuhan di Kecamatan Majenang. Selain itu, untuk
mengakselerasi terciptanya pemerataan pertumbuhan antar wilayah dan
sekaligus mendorong perkuatan efek penyebaran (spread effect), perlu
ditunjang dengan mengembangkan Kecamatan Sidareja sebagai wilayah
pertumbuhan selain Kecamatan Majenang dan Kecamatan Cilacap Utara,
Tengah dan Selatan.
Strategi mempercepat pertumbuhan dengan pendekatan spasial
tersebut dilakukan dengan mengembangkan sektor-sektor basis sebagai
modal dasar untuk mendorong tumbuhnya daya saing sekaligus motor
penggerak pertumbuhan pada setiap kecamatan. Dengan demikian, ibukota
kecamatan, selain berperan sebagai pusat pelayanan kawasan sebagaimana
yang tertuang dalam RTRW, juga berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi
Di samping mendorong bertumbuh kembangnya sektor pertanian,
sektor industri kecil menengah dan sektor non-migas lainnya dengan
mempertimbangkan pendekatan spasial, pembangunan juga perlu
diprioritaskan pada pembangunan yang berbasih pada kekuatan sektor
non-migas, khususnya sektor pertanian dan perdagangan yang terkait dengan
perkembangan sektor pertanian dalam arti luas. Hal ini penting dilakukan
terutama untuk mengatasi perbedaan pola pertumbuhan dan pola aktivitas
ekonomi antarsektor yang muncul karena perbedaan produktivitas antar
sektor, kontribusi antar sektor, serta perbedaan struktur ekonomi antara
migas dan non-migas.
2. Pendidikan dan Kebudayaan
Persoalan kemiskinan dan kesejehateraan juga berkaitan dengan
dimensi pendidikan. Semakin terdidik masyarakat, semakin besar
peluangnya untuk mampu memberdayakan dirinya, dan semakin mungking
untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi. Mempertimbangkan
hal tersebut, pendidikan menjadi isu strategis dalam pembangunan lima
tahun ke depan. Hal ini mengingat persoalan pendidikan di Kabupaten
Cilacap masih menjadi kendala dalam rangka mewujudkan masyarakat
Cilacap yang sejahtera.
Dari aspek kesejahteraan, partisipasi pendidikan di Kabupaten
Cilacap yang ditunjukan oleh indikator APM masih relatif rendah, khususnya
partisipasi pada pendidikan lanjut. Jika dibandingkan dengan target MDGs,
APM Kabupaten Cilacap tidak akan mencapai target MDGs jika tidak ada
akselerasi. Oleh karena itu, perlu ditempuh strategi laju peningkatan APM
tersebut agar dapat memenuhi komitmen MDGs. Pendekatan kesetaraan
gender dalam mengakses pendidikan sebagai pelayanan publik dasar juga
harus menjadi pendekatan dalam meningkatkan partisipasi pendidikan.
Rata-rata lama pendidikan Kabupaten Cilacap juga masih relatif
rendah, yakni 6,86 tahun pada 2011. Hal ini mengindikasikan masih perlu
ditingkatkanya efektivitas program-program dalam rangka wajib belajar
sembilan tahun.
pendidikan di Kabupaten Cilacap cenderung belum merata. Meskipun rasio
siswa per guru, dan rasio siswa per kelas secara umum telah memenuhi
standar, tetapi sebarannya masih belum merata. Oleh karena itu, peningkatan
infrastruktur dan sumber daya pendidikan harus diarahkan dalam rangka
pemerataan pendidikan tersebut dengan tetap mengedepankan pendekatan
spasial menuju pemerataan kualitas pendidikan.
Berkaitan dengan kualitas pendidikan, kualifikasi tenaga
pendidikan juga masih perlu ditingkatkan dengan memperhatikan standar
pelayanan minimum dan standar operasional prosedur (SOP).
Salah satu isu penting menyangkut pendidikan nasional saat ini
adalah lemahnya relevansi pendidikan. Indikasinya adalah pergeseran
pengangguran, dari pengangguran tidak terdidik ke pengangguran
berpendidikan tinggi. Dalam kaitannya dengan hal ini, relevansi pendidikan
juga menjadi isu strategis di yang diangkat dalam pembangunan Cilacap lima
tahun ke depan. Pendidikan vokasi merupakan salah satu yang perlu
ditingkatkan sehingga lulusan sekolah tingkat lanjut lebih siap masuk pasar
tenaga kerja dengan kemampuan dan keahlian praktis yang dimilikinya.
Melalui strategi pendidikan tersebut, visi Cilacap berbudaya dan
sejahtera diharapkan bisa terwujud. Salah satu tolok ukur kunci untuk
melihat terwujudnya Cilacap berbudaya dan sejahtera adalah meningkatnya
Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM Kabupaten Cilacap cenderung
meningkat dari tahun ke tahun, tetapi peningkatan tersebut tergolong relatif
lambat. Tahun 2005, IPM Kabupaten Cilacap adalah 69,50 meningkat menjadi
71,73 pada tahun 2010. Berdasarkan nilaishortfall reduction, perkembangan
IPM yang lambat tersebut disebabkan lambatnya perkembangan angka
harapan hidup dan melek huruf. Bahkan peningkatan angka rata-rata lama
sekolah tergolong sangat lambat. Gambaran ini sekaligus menunjukkan
masalah-masalah pokok yang perlu mendapat prioritas pada periode
pembangunan mendatang.
Kebudayaan juga menjadi isu strategis dalam pembangunan
Kabupaten Cilacap mendatang. Hal ini mengingat semakin terpinggirkannya
budaya dan kearifan lokal(local wisdom)di tengah derasnya arus dan hingar
bingar globalisasi dan modernisasi. Globalisasi yang beriringan dengan
membawa dampak negatif bagi masyarakat Indonesia terutama generasi
mudanya. Semakin maraknya narkoba di kalangan generasi muda bersamaan
dengan tren budaya yang menonjolkan hedonisme adalah gambaran
ancaman yang nyata bagi generasi muda Indonesia.
Hal ini perlu disikapi dengan arif oleh pemerintah dengan kembali
menengok nilai-nilai serta budaya lokal untuk dijadikan pijakan dalam
berkreasi. Nilai-nilai gotong royong, tepo seliro, dan toto kromo yang telah
lama tertanam dalam kebudayaan dan kesenian Indonesia harus digali
kembali dalam kehidupan bermasyarakat Kabupaten Cilacap khususnya.
3. Derajat Kesehatan Masyarakat
Derajat kesehatan masyarakat merupakan salah satu dimensi
penting dalam soal kemiskinan. Orang dengan derajat kesehatan yang rendah
produktivitasnya juga rendah. Produktivitas yang rendah selanjutnya
menjadi salah satu sebab pendapatan yang rendah. Derajat kesehatan rendah
juga menjadi salah satu indikasi kualitas sumber daya mausia (SDM) yang
rendah. Mempertimbangkan hal tersebut derajat kesehatan menjadi salah
satu isu strategis yang diangkat dalam pembangunan lima tahun ke depan.
Persoalan kesehatan di Kabupaten Cilacap masih menjadi salah
satu kendala dalam upaya mewujudkan SDM yang kualitas dan Cilacap
sejahtera. Isu derajat kesehatan ini terkait dengan aspek kesejahteraan
masyarakat sekaligus isu pelayanan. Dari sisi kesejahteraan masyarakat,
angka gizi buruk, angka kematian balita, angka kematian ibu, prevalensi HIV
dan penyakit menular lainnya masih relatif tinggi. Walaupun kasus kematian
bayi mengalami penurunan, akan tetapi kasus kematian bayi di Kabupaten
Cilacap masih tergolong tinggi, bahkan termasuk ke dalam 4 (empat)
terbanyak di Jawa Tengah. Dilihat dari sebaran per-kecamatan, tiga
kecamatan dengan kasus kematian bayi paling tinggi adalah Kecamatan
Wanareja, Kecamatan Cimanggu dan Kecamatan Majenang.
Angka kematian bayi di Kabupaten Cilacap menurun dan sudah
mencapai target penurunan yang ditetapkan dalam MDGs. Target MDGs
adalah 10,0, sementara tingkat kematian bayi di Kabupaten Cilacap sudah
yakni: (1) masalah kesehatan ibu hamil, (2) masalah usia melahirkan ibu, dan
(3) tenaga penolong persalinan.
Angka kematian ibu (AKI) di Kabupaten Cilacap cenderung
menurun dan telah melampaui target MDGs. Penyebab kematian ibu
maternal yang terbesar adalah kematian ibu nifas.
Masalah gizi buruk juga masih merupakan isu strategis dalam
bidang kesehatan. Kasus gizi buruk di Kabupaten Cilacap masih tergolong
tinggi dan cenderung semakin memburuk (pada tahun 2011 sebanyak 0,43
persen). Kabupaten Cilacap adalah satu dari tiga kabupaten di Provinsi Jawa
Tengah yang menghadapi masalah gizi buruk. Masalah gizi buruk ini
sesungguhnya mencerminkan kondisi kesehatan lingkungan yang buruk,
pendapatan rendah, dan aspek pelayanan kesehatan yang belum menjangkau
semua lapisan masyarakat.
Semakin meningkatnya jumlah penderita penyakit menular dan
prevalensi HIV/AIDS di Kabupaten Cilacap harus menjadi diperhatikan dan
diwaspadai oleh Pemerintah Kabupaten Cilacap.
Persoalan derajat kesehatan yang diangkat sebagai isu strategis
dalam pembangunan Kabupaten Cilacap lima tahun ke depan juga terkait
dengan upaya peningkatan pelayanan di bidang kesehatan. Infrastruktur dan
sumber daya pendukung dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat di Kabupaten Cilacap harus menjadi perhatian dengan tetap
mengedepankan pendekatan spasial. Dengan wilayah yang sangat luas
penempatan tenaga medis harus harus diarahkan pada pemenuhan yang
merata. Jumlah tenaga medis saat ini khususnya jumlah dokter masih jauh
dari standar kementerian kesehatan.
4. Penduduk dan Tenaga Kerja
Pertumbuhan penduduk di Kabupaten Cilacap cenderung
menurun dan berada di bawah tingkat pertumbuhan alamiahnya. Dilihat dari
komposisi umur penduduk, tingkat ketergantungan penduduk cenderung
menurun dan hampir memasuki tahap bonus demografi. Situasi demikian
mempunyai dua makna dan konsekuensi sekaligus. Pertama, penduduk usia
produktif di Kabupaten Cilacap semakin besar dan hal ini merupakan potensi
usia produktif ini tidak diimbangi penciptaan lapangan kerja, maka bonus
demografi tersebut akan perpotensi menimbulkan masalah kependukan yang
jauh lebih kompleks yakni demographic trap dengan potensi pengangguran
yang meningkat. Oleh karena itu, strategi yang perlu ditempuh adalah
memperluas penciptaan lapangan kerja untuk menyerap ledakan penduduk
usia kerja tersebut.
Mempertimbangkan hal tersebut, kependudukan dan kesempatan
kerja diangkat menjadi isu strategis pembangunan lima tahun ke depan.
Meskipun secara statistik, pertumbuhan penduduk Kabupaten Cilacap relatif
rendah, namun pengendalian penduduk melalui program KB (keluarga
berencana) harus menjadi salah satu prioritas. Langkah strategisnya adalah
dengan meningkatkan efektivitas program KB melalui peningkatan cakupan
akseptor keluarga berencana. Sampai dengan tahun 2011 akseptor KB
mencapai 73,07 persen, sedangkan cakupan peserta KB aktif baru mencapai
72,77 persen (semakin menurun dibandingkan sebelumnya).
Berkaitan dengan persoalan kependudukan dan angkatan kerja,
dukungan adminsitrasi kependudukan sangat vital. Administrasi
kependudukan yang valid sangat diperlukan demi mendukung perencanaan
pembangunan yang terkait dengan kependudukan, angkatan kerja dan aspek
lain yang terkait dengannya, seperti basis data pemilih. Kebijakan
administrasi kependudukan diarahkan untuk meningkatkan cakupan
penduduk KTP sejalan dengan penerapan E-KTP, cakupan penduduk
ber-akte kelahiran serta pencatatan pasangan ber-ber-akte nikah. Hal ini selain
berkaitan dengan kesadaran masyarakat untuk tertib administrasi
pendudukan, juga berkaitan dengan sinergi dan koordinasi antar instansi
melalui sistem informasi kependudukan yang mendukung.
5. Lingkungan Hidup, Bencana dan Perubahan Iklim
Lingkungan, bencana dan perubahan iklim merupakan isu global.
Isu ini berkaitan dengan keberlanjutan pembangunan, yakni daya dukung
lingkungan hidup dalam menopang kegiatan pembangunan. Bagi Kabupaten
Cilacap, isu lingkungan hidup, bencana dan perubahan iklim merupakan
berbasis pertanian, perikanan dan kelautan. Oleh karena itu, persoalan ini
menjadi isu strategis pembangunan Kabupaten Cilacap.
Arah kebijakan berkaitan dengan hal tersebut adalah dengan
meningkatkan efektivitas antisipasi, adaptasi dan mitigasi. Dengan antisipasi,
adaptasi serta mitigasi yang lebih efektif, outcome yang diharapkan adalah
terkendalinya kerusakan lingkungan hidup, bencana dan perubahan iklim.
Jika terjadi bencana, kerusakan yang ditimbulkan serta korban bisa
diminimalisir melalui mitigasi yang lebih efektif.
Berdasarkan struktur geologi Kabupaten Cilacap memberikan
pengaruh terhadap pola rawan bencana yang dapat terjadi di Kabupaten
Cilacap. Di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap Nomor 9 Tahun 2011
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Cilacap Tahun
2011-2031 di Kabupaten Cilacap terdapat beberapa wilayah rawan bencana,
yaitu:
1. Rawan Gempa Bumi (9 kecamatan)
2. Rawan Tsunami (9 kecamatan dengan luas kurang lebih 5.856 Ha)
3. Rawan Banjir (16 kecamatan)
4. Rawan Kekeringan (12 kecamatan)
5. Rawan Longsor (4 kecamatan dengan luas kurang lebih 97 Ha)
Strategi yang harus dilakukan berkaitan dengan isu lingkungan
adalah pemantauan dan pengendalian faktor pencemar dan perusak
lingkungan secara berkelanjutan. Kompetensi dan profesionalisme petugas
pemantauan, pencegahan serta penanganan lingkungan dan bencana juga
perlu ditingkatkan. Begitu juga dengan sosialisasi kepada masyarakat
berkaitan dengan kesadaran akan lingkungan serta jalur-jalur mitigasi
bencana sebagaimana telah ditetapkan.
6. Ketahanan Pangan
Kabupaten Cilacap telah berhasil dalam mencapai surplus
produksi beras. Hal ini merupakan prestasi bagi pemerintah Kabupaten
Cilacap. Surplus produksi beras ini tentu saja merupakan faktor penting
dalam kaitannya dengan ketahanan pangan khususnya dari aspek produksi.
ketahanan pangan menjadi salah satu isu strategis dalam pembangunan lima
tahun ke depan. Persoalannya adalah isu ketahanan pangan ini bukan saja
menyangkut aspek produksi, tetapi aspek availability (ketersediaan),
diversifikasi (keragaman pangan),affordability(keterjangkauan daya belinya
oleh masyarakat) serta acsessability dan distribusinya. Selain itu, isu
ketahanan pangan ini juga merupakan isu global. Hal ini berkaitan dengan
semakin meningkatnya jumlah penduduk, sementara daya dukung
lingkungan dan lahan dalam penyediaan sumber-sumber pangan bagi
penduduk semakin berkurang. Untuk Kabupaten Cilacap, isu ketahanan
pangan ini secara khusus berkaitan dengan laju konversi lahan pertanian,
produktivitas pertanian, serta diversifikasi pangan. Oleh karena itu, arah
kebijakan berkaitan dengan ketahanan pangan adalah bagaimana konversi
lahan bisa dikendalikan melalui peningkatan disiplin dan ketaatan dan
konsistensi pemanfaatan ruang dan wilayah (RTRW). Disamping itu,
kebijakan di sektor pertanian harus diarahkan pada peningkatan
produktivitas pertanian sekaligus peningkatan diversifikasi pangan melalui
rekayasa pengolahan pasca panen.
7. Kapasitas Keuangan Daerah
Program dan kegiatan yang telah direncanakan berkaitan dengan
seluruh isu strategis pembangunan membutuhkan pendanaan yang
memadai. Pendanaan tersebut bersumber dari pendapatan asli daerah (PAD)
dan dana perimbangan. Dilihat dari kontribusinya, poris pendanaan yang
bersumber dari PAD relatif lebih kecil dibandingkan dengan porsi pendanaan
yang berasal dari dana perimbangan. Hal ini mengindikasikan
ketergantungan fiskal Kabupaten Cilacap, sekaligus terbatasnya ruang fiskal
Kabupaten Cilacap. Berkaitan dengan hal tersebut kapasitas keuangan ini
diangkat menjadi salah satu isu strategis.
Arah kebijakan berkaitan dengan isu ini adalah meningkatkan
kemandirian dan ruang fiskal dengan mendorong penerimaan dari sumber
PAD. Strategi yang harus ditekankan untuk meningkatkan kemandirian
daerah tersebut adalah meningkatkan optimalisasi potensi pajak dan
Diskresi pajak bumi dan bangunan (PBB) serta bea perolehan hak atas tanah
dan bangunan (BPHTB) kepada pemerintah daerah harus bisa dioptimalkan
dengan meningkatkan cakupan wajib pajaknya melalui tertib dan disiplin
administrasi pertanahan yang lebih baik.
Arah kebijakan berikutnya terkait dengan isu strategis kapasitas
keuangan daerah adalah meningkatkan kapasitas pemerintah dalam
mengelola program dan kegiatan dan keuangan daerah. Dalam lima tahun
terakhir rasio realisasi anggaran cenderung menurun. Hal ini
mengindikasikan semakin melemahnya kapasitas pemerintah daerah dalam
mengelola kegiatan dan keuangan daerah. Lebih khusus lagi, rasio realisasi
belanja modal terhadap anggaran pada belanja modal sangat rendah. Hal ini
dapat menjadi kendala dalam mewujudkan misi-misi yang ditetapkan dalam
RPJMD. Program dan kegiatan yang telah direncanakan dalam rangka
mencapai sasaran dan misi bisa terkendala karena kapasitas SKPD
penanggung jawab yang tidak cukup dalam melaksanakan program dan
kegiatan yang direncanakan tersebut.
Rendahnya rasio realisasi terhadap anggaran juga bisa
disebabkan karena lemahnya perencanaan keuangan. Dalam perencanaan
keuangan, anggaran cenderung bersifat longgar sehingga meskipun target
output tercapai, seringkali sisa anggaran masih besar (anggaran cenderung
lebih besar dari realisasi). Oleh karena itu, kebijakan berkaitan dengan isu
kapasitas keuangan daerah harus juga arahkan pada peningkatan kapasitas
pemerintah beserta instansinya dalam menjalankan fungsi perencanaan dan
pelaksanaannya. Instrumen-instrumen yang diperlukan untuk mendukung
perencanaan anggaran yang baik mutlak diperlukan, seperti analisis standar
belanja (ASB), analisis beban kerja (ABK), analisis standar harga yang
rasional serta instrument-instrumen pendukung lainnya.
8. Infrastruktur dan Daya Saing
Isu untuk mengembangkan potensi lokal melalui sinergi sektor
pertanian, kelautan, industri dan pariwisata telah diangkat sebagai salah satu
misi pembangunan lima tahun ke depan. Misi tersebut menjadi sangat
strategis dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan sebagaimana
penyediaan dan peningkatan infrastruktur untuk menjadi daya tarik investor
di sektor-sektor potensial tersebut. Oleh karena itu infrastruktur dan daya
saing menjadi salah satu isu strategis pembangunan Kabupaten Cilacap ke
depan. Dalam hal ini, pendekatan spasial dan sektoral dalam pembangunan
infrastruktur pendukungnya untuk tujuan mengatasi persoalan kemiskinan
dan ketimpangan harus dikedepankan.
Strategi investasi yang harus dikembangkan adalah investasi yang
bersifat inklusif, bukan investasi yang ekslusif pada sektor-sektor industri
besar dan padat modal saja. Dengan demikian, investasi yang diharapkan
masuk dan berkembang di Kabupaten Cilacap adalah investasi yang arahnya
pada pengembangan potensi lokal melalui sinergi sektor pertanian,
perikanan kelautan, industri dan pariwisata. Hal ini ini perlu mengingat sifat
dan struktur perekonomian Kabupaten Cilacap yang dualistik.
Arah pengembangan investasi dilakukan melalui dua jalur.
Pertama, kebijakan investasi dengan tetap mempertahankan iklim kondusif
bagi berkembangnya industri besar yang sudah ada. Kedua, kebijakan
fasilitasi investasi dalam rangka mendorong tumbuhnya industri mikro, kecil
dan sektor-sektor potensial. Arah kebijakan yang kedua ini dimaksudkan
untuk mendorong tumbuhnya industri-industri yang mempunyai
kemampuan mencipatkan lapangan kerja yang lebih besar.
Untuk mendorong investasi pada industri-industri yang
mempunyai daya serap tenaga kerja yang tinggi ini, penyebaran infrastruktur
yang semakin merata sangat diperlukan. Selain itu, berbagai insentif
diperlukan untuk mendorong tumbuhnya sarana perekonomian baik berupa
sarana perdagangan maupun keuangan yang semakin merata. Rencana
pengembangan infrastruktur sebagaimana sudah direncakan dalam Perda
RTRW perlu mendapat prioritas, karena pengembangan infrastruktur
tersebut akan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang semakin