3
II.
TELAAH PUSTAKA
Organisme bentos adalah semua organisme yang melekat atau menetap pada substrat dasar atau hidup di dasar perairan(Odum, 1993). Menurut Lailli & Parsons (1993), bahwa bentos dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran tubuh yang bisa melewati lubang saring yang dipakai untuk memisahkan hewan dari sedimennya. Berdasarkan kategori tersebut bentos dibagi atas ukuran tubuhnya yang meliputi makrobentos merupakan kelompok bentos yang berukuran lebih besar dari 1,0 mm, yang termasuk kelompok ini adalah Crustacea dan Gastropoda. Mesobentos merupakan kelompok bentos yang berukuran antara 0,1 mm–1,0 mm. Kelompok ini dapat ditemukan di pasir atau lumpur, yang termasuk kelompok ini adalah Mollusca kecil, cacing kecil dan Crustacea kecil. Mikrobentos merupakan kelompok bentos yang berukuran lebih kecil dari 0,1 mm, yang termasuk kelompok ini adalah Protozoa khususnya Ciliata.
Mikrobentos terdiri dari dua kelompok yaitu mikrozoobentos dan mikrofitobentos. Mikrofitobentos berperan sebagai produser primer yaitu dalam melakukan proses fotosintesis dengan memanfaatkan unsur-unsur hara yang ada dalam perairan tersebut, sedangkan mikrozoobentos berperan sebagai konsumer, dengan demikian keberadaan mikrozoobentos sangat tergantung pada mikrofitobentos yang ada. Mikrozoobentos merupakan biota yang sebagian besar terdiri dari Protozoa, Rotifera, Nematoda, Cilliata dan Gastrotricha (Cole, 1983). Menurut Kajak (1970), bahwa hampir semua mikrozoobentos berada pada lapisan substrat sampai kedalaman 4 cm. Dasar sungai yang berupa pasir atau sedimen halus merupakan lingkungan hidup yang kurang baik ,sehingga hanya sedikit jenis bentos yang terdapat di dasar sungai tersebut. Menurut Odum (1971), bahwa dasar sungai yang berupa tanah liat pada umumnya lebih baik dari pasir.
Berdasarkan penelitian mengenai struktur komunitas mikrobentos di Sungai Banjaran yang sudah dilakukan oleh Hersetiyawan (2006), bahwa mikrobentos yang didapatkan sebanyak 34 genera, terdiri dari 29 genera mikrofitobentos dari 4 divisio yaitu Cynaophyta, Chlorophyta, Crysophyta, dan Euglenophyta serta 5 genera mikrozoobentos dari Filum Protozoa. Filum Protozoa banyak ditemukan pada stasiun III dan stasiun IV yang merupakan stasiun dengan lingkungan pemukiman penduduk yang banyak aktivitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang dapat menambah masuknya bahan organik maupun anorganik ke dalam badan sungai. Menurut Jenie & Rahayu
4
(1993) dalam Hersetiyawan (2006), bahwa Protozoa akan banyak ditemukan pada perairan yang mengandung bahan organik yang cukup tinggi.
Pertumbuhan mikrozoobentos pada suatu perairan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi mikrozoobentos. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya adalah suhu, arus, kandungan oksigen (O2) terlarut, Biologycal Oxygen Demand (BOD), kedalaman air, kecerahan dan substrat dasar (Allard & Moreau, 1987).
Perairan sungai dapat mengalami perubahan yang disebabkan oleh kegiatan manusia maupun oleh alam. Sungai Banjaran oleh masyarakat sekitar dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas manusia, seperti MCK, persawahan, dan penambangan pasir liar, sehingga dapat menambah masuknya bahan-bahan buangan ke dalam badan sungai. Bahan-bahan yang masuk ke badan sungai dapat berupa materi-materi tersuspensi maupun terlarut.
Materi tersuspensi atau Total Suspended Solid (TSS) adalah semua zat padat (pasir, lumpur, dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik. Partikel-partikel tersebut berasal dari pengikisan dasar perairan, erosi lahan petanian, buangan rumah tangga dan industri (Pescod, 1973). Erosi yang terjadi dapat meningkatan kandungan unsur hara di perairan, maupun dampak negatif terhadap kualitas air, seperti penurunan nilai kecerahan dan meningkatnya kekeruhan dan padatan tersuspensi. Kekeruhan yang tinggi dapat menghambat penetrasi cahaya matahari ke dalam air dan mengakibatkan gangguan terhadap organisme akuatik. Menurut EPA (1999), kekeruhan secara umum mengganggu biota dikarenakan akan menghalangi masuknya sinar matahari bagi kebutuhan fotosistesis fitoplankton, menurunkan kesediaan oksigen terlarut, memicu sedimentasi penyebab pendangkalan, mengganggu pandangan visual hewan. Hal ini pada akhirnya dapat berpengaruh pada struktur komunitas organisme yang hidup di perairan tersebut.
Struktur komunitas merupakan analisis komunitas berdasarkan bentuk dan struktur utama meliputi jenis, kelimpahan, keragaman, kemerataan, kesamaan, dan dominansi. Kelimpahan secara umum dapat dikatakan sebagai jumlah individu atau
5
biomassa populasi per unit area atau volume (Odum, 1971). Menurut Sukirman (1996) dalam Sudjoko (1998), bahwa keanekaragaman di dalam suatu komunitas yaitu mempelajari tentang keanekaragaman jenis organisme yang terdapat di dalam suatu komunitas Nilai dominansi menggambarkan komposisi jenis dalam komunitas dan spesies yang dominan dalam suatu komunitas memperlihatkan kekuatan spesies itu dibandingkan spesies lain. Kemerataan adalah pembagian individu yang merata diantara jenis. Kesamaan jenis adalah perbandingan antara nilai jenis-jenis tertentu dihabitat tertentu dibandingkan dengan pada habitat lain (Odum,1971).
Sifat fisika kimia perairan sangat penting dalam ekologi. Organisme yang hidup pada suatu perairan sangat tergantung terhadap semua yang terjadi pada faktor abiotik. Adanya hubungan saling ketergantungan antara organisme-organisme dengan faktor abiotik digunakan dengan mengetahui kualitas suatu perairan (Barus, 1996). Faktor abiotik fisika, kimia, dan biologi perairan yang mempengaruhi kehidupan mikrozoobentos antara lain :
a. Suhu
Suhu mempunyai pengaruh yang besar terhadap kelarutan oksigen di dalam air, apabila suhu air naik maka kelarutan oksigen di dalam air menurun. Bersamaan dengan peningkatan suhu juga akan mengakibatkan peningkatan aktivitas metabolisme akuatik, sehingga kebutuhan akan oksigen juga meningkat (Sastrawijaya, 2000). Menurut Ariani (2012) suhu air yang berkisar antara 20- 300C masih cukup baik bagi kehidupan akuatik, dengan demikian suhu tersebut masih dapat ditoleransi oleh organisme akuatik.
b. Kedalaman Sungai
Menurut Krebs (1978), kedalaman akan mempengaruhi penetrasi cahaya kedalaman air, sehingga produktifitas perairan akan berkurang jika terjadi kekeruhan. Penetrasi cahaya dapat menunjukkan sampai mana kedalaman yang dapat ditembus oleh cahaya dalam suatu perairan.
c. Substrat Dasar
Keadaan Substrat dasar badan air penting untuk diketahui. Kehidupan organisme air ada juga ketergantunganya dengan bahan dasar dan ukuran partikel dasar badan air. Dengan mengetahui bahan dasar dan ukuran partikel dasar perairan akan didapatkan informasi yang mungkin dapat menunjukkan tipe fauna yang terdapat di subsrat badan air itu (Suin, 2002). Menurut Welch (1952) dalam Odum
6
(1994),bahwa substrat dasar perarian dibedakan atas 6 jenis substrat yaitu : substrat lumpur, substrat pasir, liat, kerikil, batu, dan substrat liat berpasir.
d. Kecepatan Arus
Menurut Mariska (2007) dalam Choirudin (2014) yang mengelompokkan perairan berarus sangat cepat (>15m.dt-1), cepat (0,5–15m.dt-1), sedang (0,25– 0,5m.dt-1), lambat (0,1–0,25m.dt-1) dan sangat lambat (<0,15m.dt-1). Kecepatan arus akan mempengaruhi komposisi substrat dasar dan juga mempengaruhi aktifitas makrozoobenthos yang ada. Kecepatan arus penting diamati sebab menurut Angelier (2011) dalam Siahaan (2011) merupakan faktor pembatas kehadiran organisme di dalam sungai.
e. Penetrasi cahaya (kecerahan)
Menurut Barus (2004) faktor cahaya matahari yang masuk ke dalam air akan mempengaruhi sifat-sifat optis dari air. Sedangkan menurut Herlina (1987) penetrasi cahaya merupakan faktor pembatas bagi organisme produser atau fotosintesis seperti fitoplankton, sehingga berpengaruh pada kandungan oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme konsumer.
f. Disssolved Oxygen(DO)
Disolved Oxygen (DO) merupakan banyaknya oksigen terlarut dalam suatu perairan. Kehidupan di air dapat bertahan jika ada oksigen terlarut minimum sebanyak 5 mg oksigen setiap liter air (Sastrawijaya, 2000). Oksigen terlarut di dalam air dihasilkan dari proses fotosintesis tumbuhan air dan dari udara yang masuk melalui proses difusi yang secara lambat menembus permukaan air (Wardhana, 1995).
g. Derajat Keasaman (pH)
Menurut Effendi (2000) bahwa, sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7–8,5.
h. Biochemical Oxygen Demand (BOD)
BOD adalah kebutuhan oksigen bagi sejumlah bakteri untuk menguraikan semua zat-zat organik terlarut maupun sebagai tersuspensi dalam air menjadi bahan anorganik yang lebih sederhana Ginting (2007) dalam Mayagitha (2014). Menurut Effendi (2003), nilai BOD yang besar tidak baik bagi kehidupan organisme perairan. Perairan alami yang baik untuk perikanan memiliki nilai BOD sebesar 0,5-7,0 mg.l-1
dan perairan dengan nilai BOD sebesar 10 mg.l-1 dianggap telah mengalami pencemaran.