• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Pembuluh Darah Otak

Sistem persarafan manusia terdiri dari dua bagian utama, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat terdiri dari dua organ utama, yaitu : Otak dan Medula spinalis. Otak merupakan organ vital yang bertanggung jawab atas fungsi mental dan intelekt ual seperti berfikir, menafsirkan apa yang di terima oleh indra kita dan mengontrol gerakan -gerakan volunter.

Otak dibentuk oleh 3 bagian utama, yaitu : Prosenchephalon (cerebrum dan dienchephalon), Mesenchephalon, dan Rhombenchephalon. Cerebrum terdiri da ri 2 hemisfer serebri, bagian kiri (sinistra) dan kanan (dextra) yang berperan sebagai pusat pemikiran, kesadaran, bahasa, pemusatan perhatian ( focusing) dan memori.

Otak diperdarahi oleh percabangan 4 arteri yang terletak di dalam spatium subarachnoideum, yaitu dua Arteri Carotis Interna dan dua Arteri Vertebralis. Kemudia keempat arteri itu beranastomosis membentuk circulus Willisi, lalu kembali membentuk enam cabang arteri, yaitu : 2 arteri serebri anterior, 2 arteri serebri media, dan 2 arteri serebri posterior.

2.2 Stroke

2.2.1 Definisi Stroke

Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda dan/atau gejala hilangnya fungsi sistem saraf pusat lokal ( atau global) yang berkembang cepat ( dalam detik atau menit ) . Gejala-gejala ini berlangsung lebih dari 24 jam atau menyebabkan kematian (Ginsberg, 2005)

Stroke merupakan gangguan fungsi saraf yang di sebabkan adanya ketidak seimbangan aliran darah dalam otak, dan dapat timbul secara mendadak (dalam waktu beberapa detik ) atau secara cepat ( dalam waktu bebe rapa jam ), dengan gejala atau tanda-tanda yang sesuai daerah otak yang mengalami ganguan pasokan darah ( Malyadi, et al,2007 )

Stroke merupakan salah satu manifestasi neurologik yang umum, dan mudah dikenal dari penyakit-penyakit neurologik lain oleh ka rena awal timbulnya mendadak dalam waktu yang singkat ( Sidharta, 2009 )

(2)

2.2.2 Epidemiologi Stroke

Stroke yang merupakan penyakit gangguan pembuluh darah bertanggung jawab terhadap 30 persen kematian di seluruh dunia . Setiap tahun , di perkirakan 750.000 orang menderita stroke dengan angka kematian lebih dari 150.000 orang per tahun. Sepertiga penderita stroke meninggal saat serangan (fase akut), sepertiga lagi mengalami stroke berulang dan dari 50 % yang selamat akan mengalami kecacatan (Rudiyono, 2004).

Angka kejadian stroke menurut data dasar 63,52 per 100.000 penduduk pada kelompok usia di atas 65 tahun . Secara kasar setiap hari ada dua orang Indonesia mengalami serangan stroke. Diperkirakan hampir setengah juta penduduk beresiko tinggi terserang stroke,sedangkan jumlah yang meninggal mencapai 125.000 jiwa ( Rasyid, 2007)

Stroke merupakan penyebab kematian ketiga tersering di Negara maju,setelah penyakit jantung dan kanker. Insidensi tahunan adalah 2 per 1000 populasi. Mayoritas stroke adalah infark serebral ( Ginsbreg, 2005 )

Stroke adalah suatu penyakit gangguan fungsi anatomi otak yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat, disebabkan karena gangguan perdarahan otak. Insiden stroke meningkat secara eksponensial dengan bertambahnya usia dan 1,25 kali leb ih besar pada pria dibanding wanita. ( Ginsberg, 2005 )

Faktor penyebab munculnya masalah ini adalah adanya perkembangan ekonomi dan perubahan gaya hidup terutama msayarakat perkotaan. Kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup terlihat semakin m udah sehingga meningkatkan hasrat mereka untuk terus berjuang mencapai tujuan dengan penuh persaingan dalam perjuangan tersebut, benturan -benturan fisik maupun psikologis tidak pernah dipikirkan efeknya bagi kesehatan jangka panjang. Usia harapan hidup di Indonesia kian meningkat sehingga semakin banyak terdapat lansia. Dengan bertambahnya usia maka permasalahan kesehatan yang terjadi akan semakin kompleks. Salah satu penyakit yang sering dialami oleh lansia adalah stroke. Usia merupakan faktor resiko yang paling penting bagi semua jenis stroke . Insiden stroke meningkat seiring dengan bertambahnya usia(Iskandar, 2003).

Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi makanan berlemak, meningkatkan resiko mereka terkena stroke ini. Dulu, stroke banyak ditemukan pada oran g lanjut

(3)

usia. Namun seiring berjalannya perubahan jaman dan gaya hidup, terutama masyarakat di kota besar, stroke cenderung menyerang usia muda atau kelompok usia non produktif. ( Iskandar, 2003) .Menurut data dasar rumah sakit Indonesia, seperti Yayasan Stroke Indonesia, angka kejadian stroke mencapai 63,52 persen per 100.000 pada kelompok usia 65 tahun keatas. Secara kasar , setiap hari ada dua orang Indonesia yang terkena stroke. Stres bisa memicu stroke karena stres meningkatkan adrenalin. Adrenalin akan memacu tubuh untuk mengalihkan energi yang diperoleh dari pembakaran lemak. Pembakaran lemak akibat stress ini akan menyebabkan kadar lemak dalam darah menjadi tinggi. Salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan mengelola stres ( Yastroki, 2009 ).

Menurut penelitian Tsong Hai Lee di Taiwan pada tahun 1997 -2001, terdapat 264 orang penderita stroke iskemik pada usia 18 -45 tahun, yang disebabkan oleh kelebihan lemak, merokok, hipertensi dan riwayat stroke. ( Tsong Hai Lee , 2002 )

Berdasarkan data penderita stroke yang dirawat oleh Pusat Pengembangan dan Penanggulangan Stroke Nasional (P3SN) RSUP Bukit Tinggi (2002) , terdapat 501 pasien, yang terdiri dari usia 20 -30 tahun sebesar 3,59%, usia 31 -50 tahun sebesar 20,76%, usia 51-70 tahun sebesar 52,69% dan usia 71-90 tahun sebesar 22,95%.

Hasil penelitian Syarif. R di Rumah Sakit PTP Nusantara II Medan tahun 1999-2003 menunjukkan bahwa dari 220 sampel yang diteliti, berdasarkan suku penderita stroke yang dirawat inap sebagian besar bersuku Jawa sebany ak 120 orang (54,5%) dan yang terendah suku Minang sebanyak 3 orang (1,4%), berdasarkan status perkawinan penderita stroke yang dirawat inap sebagian besar berstatus kawin sebanyak 217 orang (98,6%) dan yang berstatus tidak kawin sebanyak 3 orang (1,4%). ( Syarif R, 2004 )

Menurut American Heart Association ( 2007 ) , diperkirakan terdapat 3 juta penderita stroke pertahun, dan 500.000 penderita stroke yang baru terjadi pertahun. Angka kematian penderita stroke di Amerika adalah 50 -100/100.000 penderita pertahun. Di China (2005), terdapat 1,5 juta penderita stroke dan 1 juta penderita stroke meninggal dunia dengan CFR 66,66%. Di India, angka prevalensi stroke

(4)

sebesar 8,6 per 100.000 populasi pertahun. Di Indonesia diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 orang terkena serangan stroke, 125.000 orang meninggal dunia dengan CFR 25% dan yang mengalami cacat ringan atau berat dengan proporsi 75% (375.000 orang).

Menurut WHO (2005), stroke menjadi penyebab kematian dari 5,7 juta jiwa di seluruh dunia, dan diperkir akan meningkat menjadi 6,5 juta penderita pada tahun 2015 dan 7,8 juta penderita pada tahun 2030.

Berdasarkan Penelitian Misbach di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tahun 2000-2003, menunjukkan bahwa jumlah penderita stroke tahun 2000 sebanyak 641 orang, tahun 2001 sebanyak 722 orang, tahun 2002 sebanyak 706 orang dan tahun 2003 sebanyak 522 orang. Di RSU Banyumas, terjadi peningkatan penderita stroke yang dirawat inap pada tahun 1997 -2000. Pada tahun1997 terdapat penderita stroke sebanyak 255 orang, tahun 1 998 sebanyak 298 orang, tahun 1999 sebanyak 393 orang dan tahun 2000 sebanyak 459 orang. ( Misbach, 2003 )

2.2.3 Faktor Resiko

Faktor resiko terjadinya stroke di bagi menjadi dua kelompok, yaitu Modifiable Risk Factors dan Non Modifiable Risk Factors ( Mohet, A.M. Katzan, 2011 ).

1. Non Modiafable Risk Factors a. Usia

b. Jenis Kelamin c. Ras/Bangsa d. Keturunan/Genetik 2. Modifiable Risk Factors

a.Behaviour - Merokok - Diet tidak sehat - Peminum alcohol - Pemakaian obat-obatan b. Physiological

- Hipertensi - Penyakit jantung

(5)

- Diabetes Melitus - Infeksi,Arteritis,Trauma - Gangguan ginjal

- Obesitas - Polisitemia

- Kelainan pembuluh darah - Hiperlipidemia

- Stenosis karotis - Amyloid Angiopathy

Adapun faktor resiko utama yang dapat menyebabkan stroke adalah (R opper, Allan H. dan Samuels, Martin A. 2009) :

1.Hipertensi 2.Merokok

3.Diabetes Melitus 4.Kelainan Jantung 5.Kolesterol

2.2.3.1. Faktor risiko yang tidak dapat dirubah A. Usia

Risiko terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun. Setiap penamb ahan usia tiga tahun akan meningkatkan risiko stroke sebesar 11 -20%. Dari semua stroke, orang yang berusia lebih dari 65 tahun memiliki risiko paling tinggi yaitu 71%, sedangkan 25% terjadi pada orang yang berusia 65 -45 tahun, dan 4% terjadi pada orang ber usia <45 tahun. Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan desain case control, umur berpengaruh terhadap terjadinya stroke dimana pada kelompok umur ≥45 tahun risiko terkena stroke dengan OR: 9,451 kali dibandingkan kelompok umur < 45 tahun.

(6)

Menurut data dari 28 rumah sakit di Indonesia, ternyata laki -laki banyak menderita stroke dibandingkan perempuan.Insiden stroke 1,25 kali lebih besar pada laki-laki dibanding perempuan. ( Yastroki, 2009 )

C Ras/bangsa

Orang kulit hitam lebih banyak menderita stroke dari pada orang kulit putih. Hal ini disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan gaya hidup.Pada tahun 2004 di Amerika terdapat penderita stroke pada laki -laki yang berkulit putih sebesar 37,1% dan yang berkulit hitam sebesar 62,9% sedangkan pada wanita yang berkulit putih sebesar 41,3% dan yang berkulit hitam sebesar 58,7%. ( American Heart Association, 2007 )

D Keturunan/Genetik

Gen berperan besar dalam beberapa faktor risiko stroke, misalnya hipertensi, jantung, diabetes dan kelainan pembuluh darah. Riwayat stroke dalam keluarga, terutama jika dua atau lebih anggota keluarga pernah mengalami stroke pada usia kurang dari 65 tahun, meningkatkan risiko terkena stroke. Menurut penelitian Tsong Hai Lee di Taiwan pada tahun 1997-2001 riwayat stroke pada keluarga meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 29,3%. ( Tsong Hai Lee, 2003 )

2.2.3.2 . Faktor risiko yang dapat dirubah:

A. Hipertensi

Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke. Hipertens i meningkatkan risiko terjadinya stroke sebanyak 4 sampai 6 kali. Makin tinggi tekanan darah kemungkinan stroke makin besar karena terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh darah sehingga memudahkan terjadinya penyumbatan/perdarahan otak.Sebanyak 70% dari orang yang terserang stroke mempunyai tekanan darah tinggi. ( Marjono, M et al. 1994 )

B. Diabetes Melitus

Diabetes melitus merupakan faktor risiko untuk stroke, namun tidak sekuat hipertensi. Diabetes melitus dapat mempercepat terjadinya

(7)

aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah) yang lebih berat sehingga berpengaruh terhadap terjadinya stroke.Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan desain case control, penderita diabetes melitus mempunyai risiko terkena stroke dengan OR: 3,39. Artinya risiko terjadinya stroke pada penderita diabetes mellitus 3,39 kali dibandingkan dengan yang tidak menderita diabetes mellitus. ( Marjono, M et al. 1994 )

C. Penyakit Jantung

Penyakit jantung yang paling sering menyebabkan stroke adalah fibrilasi atrium/atrial fibrillation (AF), karena memudahkan terjadinya penggumpalan darah di jantung dan dapat lepas hingga menyumbat pembuluh darah di otak. Di samping itu juga penyakit jantung koroner, kelainan katup jantung, infeksi otot jantung, pasca operasi jantung juga memperbesar risiko stroke.Fibrilasi atrium yang tidak diobati meningkatkan risiko stroke 4 -7 kali.

D. Transient Ischemic Attack (TIA)

Sekitar 1 dari seratus orang dewasa akan mengalami paling sedikit 1 kali serangan iskemik sesaat (TIA) seumur h idup mereka. Jika diobati dengan benar, sekitar 1/10 dari para pasien ini kemudian akan mengalami stroke dalam 3,5 bulan setelah serangan pertama, dan sekitar 1/3 akan terkena stroke dalam lima tahun setelah serangan pertama.Risiko TIA untuk terkena stroke 35-60% dalam waktu lima tahun. ( Marjono, M et al. 1994 )

E. Obesitas

Obesitas berhubungan erat dengan hipertensi, dislipidemia, dan diabetes melitus.Obesitas meningkatkan risiko stroke sebesar 15%. Obesitas dapat meningkatkan hipertensi, jantung, diabetes dan aterosklerosis yang semuanya akan meningkatkan kemungkinan terkena serangan stroke. ( Marjono, M et al. 1994 )

F. Hiperkolesterolemia

(8)

risiko, tingginya kolesterol dapat merusak dinding pembuluh darah dan juga menyebabkan penyakit jantung koroner. Kolesterol yang tinggi terutama Low Density Lipoprotein (LDL) akan membentuk plak di dalam pembuluh darah dan dapat menyumbat pembuluh darah baik di jantung maupun di otak. Kadar kolesterol total > 200 mg/dl meningkatkan risiko stroke 1,31 -2,9 kali. ( Marjono, M et al. 1994 )

G. Merokok

Berdasarkan penelitian Siregar F (2002) di RSUP Haji Adam Malik Medan dengan desain case control, kebiasaan merokok meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 4 kali.Merokok menyebabkan penyempitan dan pengerasan arteri di seluruh tubuh (termasuk yang ada di otak dan jantung), sehingga merokok mendorong terjadinya aterosklerosis, mengurangi aliran darah, dan menyebabkan darah mudah menggumpal. ( Marjono, M et al. 1994 )

H. Alkohol

Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat mengganggu metabolisme tubuh, sehingga terjadi dislipidemia, diabetes melitus, mempengaruhi berat badan dan tekanan darah, dapat merusak sel sel saraf tepi, saraf otak dan lain -lain. Semua ini mempermudah terjadinya stroke.Konsumsi alkohol berlebihan meningkatkan risiko terkena stroke 2 -3 kali.( Marjono, M et al. 1994 )

I. Stres

Hampir setiap orang pernah mengalami stres. Stres psiokososial dapat menyebabkan depresi. Jika depresi berkombinasi dengan fa ktor risiko lain (misalnya, aterosklerosis berat, penyakit jantung atau hipertensi) dapat memicu terjadinya stroke. Depresi meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 2 kali. ( Marjono, M et al. 1994 )

(9)

Pada orang-orang yang menggunakan narkoba terutama jenis suntikan akan mempermudah terjadinya stroke, akibat dari infeksi dan kerusakan dinding pembuluh darah otak. Di samping itu, zat narkoba itu sendiri akan mempengaruhi metabolisme tubuh, sehingga mudah terserang stroke. Hasil pengumpulan data dari rumah sakit Jakarta tahun 2001 yang menangani narkoba, didapatkan bahwa lebih dari 50% pengguna narkoba dengan suntikan berisiko terkena stroke.( Marjono, M et al. 1994 )

2.2.4 Klasifikasi Stroke

2.2.4.1 Berdasarkan perubahan patologis pada otak

2.2.4.1.1 Stroke Hemoragik

A. Pendarahan Instraserebral (PIS)

Pendarahan Intraserebral adalah pendarahan yang terjadi di dalam otak karena adanya pembuluh darah yang pecah sehingga darah keluar dan masuk ke jaringan dalam otak dan menyerap kedalamnya. Pendarahan ini banyak disebabkan oleh hipertensi. Selain itu, beberapa faktor penyebab lainnya adalah hemoragik yang menyertai embolus, gangguan koagulasi ( akusisita atau oleh obat ), dan idiopatis. ( Ginsberg, L, 2008 )

B. Pendarahan Subaraknoid (PSA)

Pendarahan Subaraknoid (PSA) adalah pendarahan yang terjadi di ruang subaraknoid ( ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak). Penyebabnya adalah pecahnya suatu aneurisma sehingga darah masuk kedalam jaringan otak , merusak neuron sehingga bagian yang terkena tidak dapat berfungsi dengan benar. Darah yang masuk ke otak pada pendarahan subaraknoid akan mulai terurai setelah beberapa jam kemudian zat -zat hasil penguraian ini bersifat iritatif serta dapat mengakibatkan spasme pembuluh darah sehingga kemungkinan kerusakan otak semakin besar. ( Ginsberg, L, 2008 )

(10)

a. Transient Ishchemic Attack ( TIA ) b. Trombosis serebri

Menyebabkan stroke dengan menyumbat arteri serebri dan biasanya didahului oleh TIA (Simon, Roger P. et al. 1999).

c. Emboli serebri

Ketika arteri serebri tersumbat oleh trombus yang berasal dari jantung, aorta, atau arteri besar di otak, maka hal ini akan menyebabkan terjadinya stroke ( Simon, Roger P. et al. 1999).

2.2.4.2 Berdasarkan stadium klinik/pertimbangan waktu 2.2.4.2.1 Trancient Ischemic Attack (TIA)

Disebut juga gangguan peredaran darah otak sepintas (GPDOS) adalah timbulnya secara mendadak gejala -gejala defisit neurologik fokal akibat iskemia otak yang menghilang dalam waktu beberapa m enit atau bebrapa jam akan tetapi tidak lebih dari 24 jam. Biasanya dapat dialami berulang dalam 1 hari. Trancient Ischemic Attack juga dapat di bagi menjadi dua golongan, yaitu :

a. Trancient Ischemic Attack pada sitem karotis

b. Trancient Ischemic Attack pada sitem vertebro basiler 2.2.4.2.2 Stroke in Evolution

Terjadinya defisit neurologik yang bertambah berat secara kuantitatif atau kualitatif secara bertahap selama jangka waktu tertentu. ( Harsono, 2003 )

2.2.4.2.3 Completed stroke

Disebabkan adanya trombus atau oklusi karena emboli, dengan ada nya defisit neurologik yang relatif stabil atau hanya sedikit sekali pe -rubahan defisit neurologiknya. ( Harsono, 2003 )

2.2.4.2.4 Reversible Ischemic Neurogical Deficits (RIND)

Adanya defisit neurologik yang berlangsung lebih dari 24 jam dan akan menghilang dalam beberapa hari atau beberapa minggu, kurangdari 3 minggu. ( Harsono, 2003 )

2.2.4.3 Berdasarkan sistem pembuluh darah

(11)

2.2.4.3.2 Sistem Vertebro -basiler (bagian posterior)

2.2.5 Gejala Stroke 2.2.5.1 Gejala Stroke Hemoragik

Marjono,M et al. (1994) dan Harsono (2003) mengelompokkan gejala stroke hemoragik berdasarkan :

a. Gejala Pendarahan Intraserebral (PIS)

Gejala pendarahan ini timbul mendadak dan membu ruk dengan cepat (dalam beberapa menit atau jam), sering sampai koma. Nyeri kepala berat, nausea, muntah dan mempunyai ciri khas yaitu adanya darah di rongga subaraknoid pada pemeriksaan lumbal Pungsi.

b. Gejala Pendarahan Subaraknoid (PSA)

Pada penderita pendarahan subaraknoid akan di jumpai gejala seperti nyeri kepala yang hebat, kadang -kadang muntah, leher terasa kaku serta kehilangan kesadaran yang sementara dan setelah sadar kembali terdapat gejala kaku kuduk, keluhan silau terhadap cahaya, mual dan fot ofobia.

2.2.5.2 Gejala Stroke Iskemik

Sudomo et al. (1980), Sugianto, P. (2001) dan Mulyadi , et al. (2007) memberikan penjelasan mengenai gejala stroke iskemik,yaitu :

1. Gejala penyumbatan arteri serebri anterior a. Buang air kecil tidak disadari

b. Hemiparesis kontralateral dengan kelumpuhan tungkai yang paling dapat dilihat

c. Kehilangan kesadaran secara tiba -tiba.

d. Gangguan sensibilitas pada tungkai yang lumpuh. e. Secara tidak sadar mengikuti kata -kata orang lain. f. Sulit untuk mengungkapkan apa yang ada dalam hati .

(12)

a. Mulut jatuh ke satu sisi dan lidah mencong bila di julurkan.

b. Kata-kata tidak dapat dipahami (afasia), bicara tidak jelas , tidak lancar dan terbata-bata.

c. Kelemahan atau kelumpuhan lengan, tungkai atau salah satu s isi tubuh.

d. Kesadaran menurun.

e. Vertigo (pusing) atau perasaan berputar yang menetap saat tidak beraktifitas.

f. Gangguan rasa di daerah muka atau wajah dan hanya sebelah saja, biasanya disertai gangguan rasa di lengan dan tungkai hanya sebelah saja.

g. Bola mata selalu melirik ke satu sisi saja. h. Tidak dapat membedakan kiri dan kanan.

3. Gejala penyumbatan arteri serebri posterior

a. Hilangnya penglihatan, berupa penglihatan yang terganggu , gangguan pandangan tanpa rasa nyeri , sebagian lapangan pandang tidak terlihat dan penglihatan gelap atau ganda sesaat.

b. Kesulitan memahami barang yang di lihat , namun dapat mengerti jika meraba atau mendengar suaranya.

c. Hilangnya rasa atau adanya sensasi abnormal pada lengan, tungkai atau salah satu sisi tubuh, terasa kesemutan dan m ati rasa pada salah satu sisi tubuh.

d. Hilangnya kemampuan untuk mengenali dan membedakan warna.

4. Gejala penyumbatan sistem vertebrobasilar

a. Kehilangan keseimbangan, gerakan tubuh tidak terkoordinasi dengan baik.

b. Jalan menjadi sempoyongan atau terjatuh c. Gangguan gerak bola mata

d. Kedua kaki lemah sampai tidak bisa berdiri e. Mual, muntah sulit menelan, atau nyeri kepala

(13)

a. Aphasia

Dibedakan atas 2 kategori yaitu ekspresif ( motorik ) dan reseptif (sensorik). Ekspresif adalah kehil angan kemampuan untuk berbicara, mengeluarkan isi pikiran melalui perkataannya sendiri, sememntara kemampuannya untuk mengerti bicara orang lain tetap baik. Sedangkan reseptif ( sensorik ) adalah sulit untuk mengerti pembicaraan orang lain, namun masih mam pu untuk mengeluarkan kata-kata dengan lancar, walau sebagian diantaranya tidak memiliki arti, hal ini tergantung dari luasnya kerusakan otak.

b. Alexia

Penderita tidak mampu membaca kata, tapi dapat membaca huruf (verbal alexia), atau kebalikannya yaitu ke tidakmampuan membaca huruf, tetapi masih dapat membaca kata ( lateral alexia), dan gabungan dari keduanya yaitu ketidakmampuan membaca baik huruf maupun kata ( global alexia ).

c. Agraphia

Kehilangan kemampuan menulis karena adanya kerusakan otak yang dibedakan menjadi 5 kategori, yaitu : pure agraphia (tanpa disertai gangguan berbahasa lainnya), aphasic agraphia ( agraphia dengan/karena aphasia), agraphia dengan alexia ( di jumpai pada orang sakit dengan kerusakan di lobus parietal), apraxic agraphia (tidak mampu menulis dengan baik saat menulis spontan, spatial agraphia ( sulit untuk menulis pada garis horizontal atau menulis hanya pada sisi kanan kertas saja ).

d. Acalcullia

Kehilangan kemampuan berhitung atau mengenal angka setelah terjadinya kerusakan otak . Dapat berhubungan dengan alexia agraphia, atau bentuk – bentuk aphasia lainnya.

(14)

Sejumlah tingkat kemampuan yang sangat kompleks, seperti penanaman , melakukan gerakan yang sesuai dengan peri ntah , atau menirukan gerakan-gerakan tertentu. Kelainan ini sering bersamaan dengan agnosia jari (dapat dilihat dan disuruh menyebutkan nama jari yang disentuh sementara orang sakit tidak boleh melihat jarinya )

f. Hemi Spatial Neglect ( viso spatial agnosia )

Hilangnya kemampuan melaksanakan bermacam perintah yang berhubungan dengan ruang. Biasanya akan mengabaikan sebelah sisi ruang kontra lateral dari lesi yang ada pada otaknya, misalnya disuruh menggambar sekuntum bunga dan yang di gambarkannya hanya setengah kuntum bunga.

g. Sindrom Lobus Frontal

Berhubungan dengan tingkah laku, kerusakan pada korteks motor dan premotor dari hemisfer dominan menyebabkan gangguan bicara.

h. Gangguan Mengingat (Amnesia) i. Dementia

Hilangnya fungsi intelektual yang menc akup sejumlah kemampuan/operasi mental. Gangguan pada suatu fungsi luhur saja belum dapat dikatakan dementia.

2.2.6 Usia Stroke

Usia merupakan faktor risiko stroke, semakin tua usia maka risiko terkena strokenya pun semakin tinggi. Namun, sekarang ka um usia non produktif perlu waspada terhadap ancaman stroke. Pada usia non produktif, stroke dapat menyerang terutama pada mereka yang gemar mengkonsumsi makanan berlemak dan narkoba (walau belum memiliki angka yang pasti). ( Iskandar 2003 )

Life style alias gaya hidup selalu menjadi kambing hitam berbagai penyakit yang menyerang usia non produktif. Generasi muda sering menerapkan pola makan yang tidak sehat dengan seringnya mengkonsumsi makanan siap saji yang sarat

(15)

dengan lemak dan kolesterol tapi rendah s erat. ( Misbach, 2003 )

Generasi muda yang perjalanan hidupnya masih panjang untuk mampu berkiprah dan bersaing dengan sumber daya manusia lain dari luar negeri. Kecacatan yang mereka sandang akibat serangan stroke, bukan hanya menjadi beban keluarga, tapi juga beban masyarakat secara umum. ( Misbach, 2003 )

Menurut Misbach, (2010) serangan stroke timbulnya mendadak tanpa peringatan. Namun, sebenarnya ada yang bisa dijadikan tanda yaitu penyakit -penyakit dan kondisi tertentu yang termasuk ke dalam faktor ri siko stroke.

Penyakit-penyakit yang termasuk ke dalam risiko stroke adalah hipertensi, penyakit jantung, diabetes mellitus, hiperlipidemia (peninggian kadar lipid dalam darah). Usia lanjut, obesitas, merokok, suku bangsa termasuk dalam kondisi tertentu yang merupakan risiko stroke. ( Misbach, 2010 )

“Kadar kolesterol yang tinggi (hiperkolesterol) memang merupakan faktor risiko stroke karena memperburuk proses arteriosklerotik, yaitu mempertebal dan merusak dinding pembuluh darah secara berangsur -angsur,”. Jadi, makanan-makanan yang kaya kolesterol seperti junk food dapat membahayakan dan mempercepat kemungkinan timbulnya stroke. ( Misbach, 2010 )

Usia merupakan faktor risiko stroke karena proses penuaan terjadi pada semua organ tubuh termasuk pembuluh darah otak yang menjadi rapuh. Di Indonesia ternyata stroke timbul banyak pada usia di bawah 45 tahun, dimana karir sedang menanjak. Sesibuk apa pun kita pada usia non produktif, tetap harus menjaga kesehatan. Jika hanya berjuang mengejar karir tanpa memperhatik an kesehatan, maka usaha tersebut akan sia -sia bila kemudian di puncak karir terkena serangan stroke.(Kalim. et al. 2009 )

Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat non produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. Jadi, jangan tidak peduli akan ancaman stroke, melainkan hadapi dengan mulai menjalankan gaya hidup yang sehat.(Kalim. et al. 2009 )

Lansia adalah tahun dimana organisme telah mencapai kemasakan dalam ukuran dan fungsi dan juga telah menunjukkan kemundu ran sejalan dengan waktu. Ada beberapa pendapat mengenai “usia kemunduran” yaitu ada yang menetapkan 60

(16)

tahun, 65 tahun dan 70 tahun. Badan kesehatan dunia (WHO) menetapkan 65 tahun sebagai usia yang menunjukkan proses menua yang berlangsung secara nyata d an seseorang telah disebut lanjut usia. Dari 19 juta jiwa penduduk Indonesia 8,5% mengalami stroke yaitu lansia. (Kalim. et al. 2009 )

Referensi

Dokumen terkait

Treasure Caretaker Training (Digital Monastery Project), teaches Buddhist monks, nuns and community cultural caretakers to protect and preserve their own monastery

Untuk pengujian Ho1 menggunakan uji t-test dengan hasil Ho1 diterima yang berarti bahwa harga saham sebelum dan sesudah publikasi tidak berbeda atau berarti informasi publikasi

Sekarang ini banyak sekali lembaga pendidikan baik swasta maupun negeri yang menggunakan teknologi komputer utnuk mempercepat dan memepermudah suatu kasus dalam ilmu

Penulisan ilmiah ini membahas mengenai pembuatan aplikasi multimedia mengenai pembuatan dokumentasi yang sifatnya pribadi mengenai salah satu musisi anak negeri yaitu Iwan

Dalam penulisan ilmiah ini, aplikasi yang dibuat mempunyai beberapa kekurangan yaitu belum bisa mengirim gambar ke tempat pengetikan teks dalam program dan kotak dialog yang

[r]

Program dan Jenis Kegiatan Hasil yang diharapkan Waktu Pelaksana an Pelaksa na Sumbe r Dana penyelenggaraan Prakerin 2.3 Pencarian obyek. 2.4   Rapat   pembentukan

Saran yang diberikan peneliti berdasarkan kesimpulan penelitian yang dipaparkan di atas yaitu, sebagai Kepala Sekolah harus menjadi contoh teladan yang bisa