LAPORAN TAHUNAN
T.A. 2013
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Kementerian Pertanian 2014
LAPORAN TAHUNAN
T.A. 2013
Tim Penyusun
Penanggung Jawab : Handewi P. Saliem
Ketua :
Supena
Friyatno
Sekretaris
: Sri Hastuti Suhartini
Anggota
: Sri Hery Susilowati
Hasyim Asyari
Endro Gunawan
M. Suryadi
Wartiningsih
Hermanto
Agus Subekti
Yana Supriyatna
Ahmad Makky Ar-Rozi
Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Kementerian Pertanian 2014
KATA PENGANTAR
Laporan Tahunan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban sebagai Institusi pemerintahan negara dalam melaksanakan kegiatannya sesuai dengan tugas dan fungsi pokok (tupoksi) yang diembannya. Tupoksi Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) yaitu mengembangkan kemampuan dalam menganalisis berbagai permasalahan sosial ekonomi pertanian di tingkat pedesaan, wilayah, nasional, kawasan, dan internasional, dalam rangka menghasilkan rekomendasi kebijakan.
Laporan Tahunan ini berisi tentang kegiatan yang dilaksanakan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian selama tahun anggaran 2013. Materi pokok yang disajikan dalam laporan meliputi struktur organisasi PSEKP, sumberdaya manusia, sarana dan prasarana penelitian, program, pendayagunaan hasil analisis pelayanan dan kerja sama penelitian, monitoring dan evaluasi. Khusus untuk kegiatan penelitian, disajikan sinopsis hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan PSEKP pada tahun 2013.
Akhirnya, kepada semua pihak yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian laporan ini disampaikan terima kasih. Semoga laporan ini memberikan manfaat dan berguna bagi berbagai pihak yang membutuhkan. Kritik dan saran yang membangun kami harapkan untuk perbaikan di masa mendatang.
Bogor, Desember 2013 Kepala Pusat,
Dr. Handewi P. Saliem NIP. 19570604 198103 2 001
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Visi dan Misi ... 1
1.2. Tupoksi, Sasaran, dan Struktur Organisasi ... 1
II. SUMBERDAYA MANUSIA ... 3
III. SARANA DAN PRASARANA ... 11
3.1. Barang Tidak Bergerak (Tanah dan Bangunan) ... 11
3.2. Barang-Barang Bergerak ... 11
a. Barang Inventaris Alat Angkutan ... 12
b. Barang Inventaris Peralatan Kantor ... 12
3.3. Anggaran DIPA dan PNBP ... 14
IV. PROGRAM ... 21
4.1. Tujuan dan Luaran Kegiatan ... 21
4.2. Perencanaan Kegiatan Penelitian Tahun Anggaran 2013 ... 21
4.3. Mekanisme Perencanaan Penelitian Tahun Anggaran 2013 (DIPA dan RISTEK) dan Pelaksanaan Tupoksi Subid. Program ... 22
4.3.1. Judul – Judul Penelitian DIPA T.A. 2013 ... 24
4.3.2. Judul – Judul Penelitian DIPA T.A. 2014 ... 25
4.4. Permasalahan yang Menonjol dalam Pelaksanaan Kegiatan di Sub Bidang Program selama tahun 2013. ... 26
V. SINOPSIS ... 27
5.1. Studi Kebijakan Akselerasi Pertumbuhan Produksi Padi di Luar Pulau Jawa (Tahun Ke-2) (Dr. Bambang Irawan) ... 27
5.2. Analisis Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management) Komoditas Unggas Lokal (Dr. Saptana) ... 29
5.3. Kajian Efisiensi Moda Transportasi Ternak dan Daging Sapi dalam Mendukung Program Swasembada Daging (Dr. Nyak Ilham) ... 30
5.4. Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja Pemasaran Sayuran Bernilai Ekonomi Tinggi (Dr. Henny Mayrowani) ... 32
5.5. Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja Pasar Buah-Buahan
(Dr. Bambang Sayaka) ... 34
5.6. Kajian Pengembangan Irigasi Kecil Berbasis Investasi Masyarakat Pada Agroekosistem Lahan Tadah Hujan (Ir. Rudy Sunarja Rivai, MS) ... 36
5.7. Kajian Legislasi Lahan dan Air Mendukung Swasembada Pangan (Tahun Ke-2) (Dr. Muchjidin Rachmat) ... 40
5.8. Peran Penyuluh Swadaya dalam Implementasi Undang-Undang Sistem Penyuluhan Pertanian (Dr. Kurnia Suci Indraningsih) ... 42
5.9. Kajian Kebijakan dan Peraturan Perundang-Undangan Industri Gula untuk Mendukung Swasembada Pangan (Ir. Supriyati, MS) ... 43
5.10. Pengaruh Kebijakan Perdagangan Negara-Negara Mitra Terhadap Kinerja dan Daya Saing Ekspor Komoditas Pertanian Indonesia (Prof. Dr. Budiman Hutabarat) ... 44
5.11. Dampak Makro Perubahan Iklim pada Subsektor Pangan Indonesia (Dr. Sumaryanto) ... 46
5.12. Prospek Kesepakatan Indonesia- India FTA terhadap Sektor Pertanian di Indonesia (Dr. Reni Kustiari) ... 48
5.13. Konsorsium Penelitian Prospek Pertumbuhan Produksi Pangan dalam Konteks Program MP3EI (Dr. Hermanto) ... 49
VI. PENDAYAGUNAAN HASIL DAN KERJASAMA PENELITIAN ... 52
6.1. Publikasi Hasil – Hasil Penelitian ... 52
6.2. Komunikasi dan Dokumentasi Hasil Penelitian ... 64
6.2.1. Seminar ... 64
6.2.2. Pengelolaan Website ... 65
6.3. Perpustakaan ... 68
6.4. Kerja Sama Penelitian ... 76
VII. EVALUASI DAN PELAPORAN ... 77
7.1. Kegiatan Sub Bidang Evaluasi dan Pelaporan ... 77
7.2. Ruang Lingkup ... 78
7.3. Pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi TA. 2013 ... 79
7.3.1. Monitoring dan Evaluasi Kegiatan Penelitian ... 82
7.3.2. Monitoring dan Evaluasi Manajemen Penelitian ... 89
7.3.3. Pelayanan Perpustakaan ... 93
7.3.4. Evaluasi Pelayanan Publikasi ... 94
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Umur, Tahun 2013 ... 3
Tabel 2. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Golongan dan Masa Kerja, Tahun 2013 ... 4
Tabel 3. Jumlah Pegawai PSEKP berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin, Tahun 2013 ... 5
Tabel 4. Jumlah Tenaga Fungsional PSEKP, Tahun 2013 ... 6
Tabel 5. Jumlah Peneliti PSEKP Menurut Disiplin Ilmu dan Tingkat Pendidikan Tahun 2013 ... 7
Tabel 6. Pelatihan/Workshop/Training yang diikuti oleh Pegawai PSEKP, Tahun 2013 ... 8
Tabel 7. Daftar Kondisi Barang Inventaris PSEKP, (Periode 31 Desember 2013) ... 12
Tabel 8. Perkembangan Pelaksanaan DIPA PSEKP Tahun Anggaran 2013, Per 31 Desember 2013 ... 16
Tabel 9. Realisasi Anggaran Per Kegiatan PSEKP, per 31 Desember 2013 ... 17
Tabel 10. Target dan Realisasi Anggaran Kegiatan Penelitian Menurut Sasaran dan Program PSEKP, 2013 ... 18
Tabel 11. Capaian PNBP PSEKP, 2013 ... 20
Tabel 12. Judul dan Penulis Naskah JAE Tahun 2013 ... 53
Tabel 13. Judul dan Penulis Naskah FAE Tahun 2013 ... 53
Tabel 14. Judul dan Penulis Naskah Tematik yang Terbit Tahun 2013 ... 54
Tabel 15. Judul dan Penulis Naskah Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia “Optimalisasi Sumberdaya Lokal melalui Diversifikasi Pangan Menuju Kemandirian Pangan Dan Perbaikan Gizi Masyarakat Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015” tahun 2013. .... 55
Tabel 16. Judul dan Pembicara pada Seminar Diseminasi Hasil Penelitian 37 Tahun PSEKP dengan tema “Kemandirian Pangan dan Perlindungan Petani di Era Global” Tahun 2013. ... 61
Tabel 17. Daftar Isi Terbitan Newsletter PSEKP Tahun 2013 ... 62
Tabel 18. Distribusi Publikasi Ilmiah Tahun 2013 ... 63
Tabel 20. Judul Makalah dan Pembicara pada Seminar Rutin tahun 2013 ... 65 Tabel 21. Jumlah Pengakses Website PSEKP pada Tahun 2013 ... 66 Tabel 22. Materi Website PSEKP dan Jumlah Pengakses Tertinggi Selama
Tahun 2013 ... 66 Tabel 23. Frase Kata/Kata yang Digunakan dalam Pencarian Tahun 2013 .... 67 Tabel 24. Pengadaan Bahan Pustaka TA. 2013 ... 69 Tabel 25. Koleksi Database Bahan Pustaka di Perpustakaan PSEKP per 31
Desember 2013 ... 73 Tabel 26. Pengunjung dan Peminjam Buku Perpustakaan PSEKP Januari
s/d Desember 2013 ... 74 Tabel 27. Kegiatan untuk Peningkatan Profesi Kepustakawan ... 75 Tabel 28. Status Kegiatan Kerjasama Penelitian PSEKP (Dalam dan Luar
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Struktur Organisasi Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan
Pertanian ... 2 Gambar 2. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Umur, Tahun 2013 ... 3 Gambar 3. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Golongan dan Masa Kerja,
Tahun 2013 ... 4 Gambar 4. Jumlah Pegawai PSEKP berdasarkan Tingkat Pendidikan dan
Jenis Kelamin, Tahun 2013 ... 5 Gambar 5. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Jenjang Fungsional,
Tahun 2013 ... 6 Gambar 6. Jumlah Peneliti PSEKP Menurut Disiplin Ilmu dan Tingkat
Pendidikan Tahun 2013 ... 7 Gambar 7. Tahapan Perencanaan Penelitian ... 23 Gambar 8. Bagan Keterkaitan Tim Teknis, Tim Monev, dan Tim Editor di
I. PENDAHULUAN
1.1. Visi dan Misi Visi
Menjadi lembaga pengkajian yang kritis dan terpercaya bertaraf internasional dalam menghasilkan informasi dan ilmu pengetahuan sosial ekonomi pertanian, serta proaktif dalam memberikan alternatif rekomendasi kebijakan pembangunan pertanian.
Misi
1. Melakukan analisis dan pengkajian guna menghasilkan informasi dan ilmu pengetahuan sosial ekonomi pertanian yang merupakan produk primer PSEKP;
2. Melakukan analisis kebijakan, yaitu kegiatan untuk mengolah informasi dan ilmu pengetahuan hasil analisis menjadi rumusan usulan dan pertimbangan kebijakan pembangunan pertanian;
3. Melakukan advokasi pembangunan pertanian, berupa kampanye publik untuk memobilisir partisipasi lembaga terkait dan masyarakat luas dalam mendukung pembangunan pertanian;
4. Mengembangkan kemampuan institusi PSEKP sehingga mampu mewujudkan visi dan misinya secara berkelanjutan.
1.2. Tupoksi, Sasaran, dan Struktur Organisasi Tugas Pokok :
Melaksanakan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian (Pasal 176 Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 209/Kpts/OT.140/7/2005)
Fungsi:
1. Perumusan program analisis sosial ekonomi dan kebijakan pertanian; 2. Pelaksanaan analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan di
bidang pertanian;
3. Pelaksanaan telaah ulang program dan kebijakan di bidang pertanian; 4. Pemberian pelayanan teknik di bidang analisis sosial ekonomi dan
kebijakan pertanian;
5. Pelaksanaan kerjasama dan mendayagunakan hasil analisis dan pengkajian serta konsultasi publik di bidang sosial ekonomi dan kebijakan pertanian;
6. Evaluasi dan pelaporan hasil analisis dan pengkajian sosial ekonomi dan kebijakan pertanian; dan
7. Pengelolaan urusan tata usaha dan rumah tangga pusat. (Pasal 177 Peraturan Menteri Pertanian Tahun 2005)
1.3. Sasaran Kelompok Pengguna Hasil Penelitian
1. Pejabat pembuat dan pengelola kebijakan pembangunan pertanian lingkup Kementerian Pertanian;
2. Pejabat pembuat kebijakan lembaga negara di luar Kementerian Pertanian; 3. Praktisi agribisnis;
4. Politisi, ilmuwan dan masyarakat peminat pembangunan pertanian; 5. Peneliti
Struktur Organisasi
Gambar 1. Struktur Organisasi Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Ket: *) Berdasarkan SK Kapus PSEKP, Nomor:368/Kp.330/A.9/03/2009 Terdiri dari
3 kelompok peneliti (Kelti):
(1) Kelti Ekonomi Makro dan Perdagangan Internasional (2) Kelti Ekonomi Pertanian dan Manajemen Agribisnis (3) Kelti Sosio-Budaya Pedesaan.
Kelompok Jabatan Fungsional *) Plh. Kasubbid Pendayagunaan Hasil Ir. Wartiningsih Kasubbid Kerjasama Dr. Hermanto Kasubbid Program M. Suryadi, SP, MSi Plh. Kasubbid Evaluasi dan Pelaporan
Ir. Sri Hastuti Suhartini, MSi
Kasubbag Kepegawaian dan Rumah Tangga Endro Gunawan, SP, MM
Kasubbag Keuangan dan Perlengkapan Drs. Agus Subekti Kabid. Kerjasama dan
Pendayagunaan Hasil Dr. Sri Hery Susilowati
Kabag. Umum Ir. Hasyim Asyari, MM Kabid. Program
dan Evaluasi Ir. Supena Friyatno, MSi Kepala Pusat Sosial Ekonomi
dan Kebijakan Pertanian Dr.Handewi P Saliem
II. SUMBERDAYA MANUSIA
Berdasarkan data kepegawaian pada akhir tahun 2013, tercatat bahwa sumberdaya manusia yang ada di PSEKP jumlahnya terus berkurang, karena banyak diantara karyawan yang telah memasuki masa pensiun, disamping ada diantaranya yang diakibatkan mutasi kerja. Secara keseluruhan jumlah total pegawai Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian PSEKP tahun 2013 sebanyak 159 orang. Struktur pegawai PSEKP berdasarkan umur pada tahun 2013 menunjukkan bahwa sebagian besar 32,08 persen berumur 51-55 tahun, dan 27,04 persen berumur 46-50 tahun. Sedangkan sisanya adalah 15,09 persen berumur >56 tahun, 12,58 persen berumur 41-45 tahun, 8,18 persen berumur 36-40 tahun, 3,14 persen berumur 26-30 tahun dan 1,89 persen berumur 31-35 persen (Tabel 1).
Tabel 1. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Umur, Tahun 2013
Umur (Tahun) Jumlah Pegawai (Orang) Persentase (%)
<25 - - 26-30 5 3,14 31-35 3 1,89 36-40 13 8,18 41-45 20 12,58 46-50 43 27,04 51-55 51 32,08 >56 24 15,09 Jumlah 159 100%
3%
2%
8%
13%
27%
32%
15%
<25 2 31‐35 3 41‐45 4 51‐55 >Gambar 2. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Umur, Tahun 2013 Jumlah karyawan PSEKP berdasarkan masa kerja, menunjukkan bahwa sebagian besar sudah berpengalaman melaksanakan tugas kerja di
PSEKP selama 21-25 tahun (48 orang), selain itu juga terdapat sejumlah karyawan (28 orang) yang sudah memiliki masa kerja lebih dari itu (26-30 tahun) dan 23 orang yang memiliki masa kerja lebih dari 30 tahun yang diikuti dengan adanya peningkatan jumlah Golongan III dan IV yang termasuk didalamnya (Tabel 2). Dengan meningkatnya masa bakti dan pengalaman kerja, diharapkan selain dapat meningkatkan kinerja dalam tugas keseharian di masing-masing bidang juga akan berdampak pada peningkatan produktivitas kegiatan institusi secara keseluruhan, sehingga ouput yang dihasilkan PSEKP dapat sesuai dengan target yang diharapkan.
Tabel 2. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Golongan dan Masa Kerja, Tahun 2013
Golongan Masa Kerja (Tahun) Jumlah
< 5 6 - 10 11-15 16-20 21-25 26-30 >30 I - - 1 - - 1 - 2 II - - 6 9 4 1 - 20 III 10 4 11 11 33 14 1 64 IV - 1 2 5 11 12 22 53 Jumlah 10 5 20 25 48 28 23 159
Gambar 3. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Golongan dan Masa Kerja, Tahun 2013
Dilihat dari sebaran tingkat pendidikan, menunjukkan gambaran bahwa sebagian besar pegawai PSEKP berpendidikan SMU (27,04%), diikuti S1 (22,01%), Pasca Sarjana S2 (18,24%), dan S3 (18,87%). Selain itu masih terdapat juga 1,88 persen yang berpendidikan SD, 2,52 persen berpendidikan SMP dan 2,52 persen berpendidikan Sarjana Muda serta Diploma (6,92%) (Tabel 3).
Konfigurasi pendidikan pegawai PSEKP berdasarkan tugas pokok dan fungsi, memperlihatkan kecenderungan bahwa untuk program pendidikan pasca sarjana S2 dan S3 sebagian besar berasal dari jumlah pendidikan yang sudah ditamatkan oleh para peneliti di PSEKP, sementara dinamika penjenjangan dan peningkatan pendidikan sebagian karyawan lainnya belum optimal dilaksanakan, khususnya untuk mendukung kinerja sebagai tenaga penunjang yang mempunyai kualitas pendidikan serta wawasan yang luas di lingkungan PSEKP.
Tabel 3. Jumlah Pegawai PSEKP berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin, Tahun 2013
Pendidikan Pria Wanita Total
SD 3 - 3 (1,88) SMP 4 - 4 (2,52) SMU 37 6 43 (27,04) Diploma 7 4 11 (6,92) Sarjana Muda 1 3 4 (2,52) S1 21 14 35 (22,01) S2 13 16 29 (18,24 S3 23 7 30 (18,87) Jumlah 109 50 159 (100)
Keterangan: angka dalam kurung ( ) persentase
3
4
37
7
1
21
13
0
0
6
4
3
14
16
SD
SMP
SMU
Diploma Sarjana
Muda
S1
S2
Gambar 4. Jumlah Pegawai PSEKP berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin, Tahun 2013
Jumlah pegawai PSEKP yang telah memiliki jabatan fungsional, seluruhnya berjumlah 75 orang (91,46%) merupakan fungsional peneliti dan 7
orang lainnya (8,54%) merupakan fungsional non-peneliti. Berdasarkan jenjang fungsional peneliti, maka tenaga fungsional peneliti PSEKP dengan jenjang tertinggi (Peneliti Utama) mencapai 24,00 persen, Peneliti Madya 37,33 persen, Peneliti Muda 14,67 persen, dan Peneliti Pertama 9,33 persen. Sementara peneliti yang tidak memiliki jabatan fungsional (Peneliti Non-Klas) berjumlah 11 orang (Tabel 4).
Tabel 4. Jumlah Tenaga Fungsional PSEKP, Tahun 2013
No. Jenjang Fungsional Jumlah (orang)
A. Fungsional Peneliti 1. Peneliti Utama 18 2. Peneliti Madya 28 3. Peneliti Muda 11 4. Peneliti Pertama 7 5. Peneliti Non-Klas 11
Sub Total (A) 75
B. Fungsional Non-Peneliti
1. Pranata Komputer Terampil Penyelia 1
2. Pustakawan Muda 1
3. Pustakawan Pertama 1
4. Arsiparis Ahli Pertama 2
5. Arsiparis Terampil Penyelia 1
Sub Total (B) 7
Total (A+B) 82
Gambar 5. Jumlah Pegawai PSEKP Berdasarkan Jenjang Fungsional, Tahun 2013
Ditinjau berdasarkan analisis kepakaran para peneliti yang ada di PSEKP, dengan latar belakang disiplin ilmu, masing-masing menunjukkan
bahwa sebagian besar para peneliti mempunyai keahlian pada bidang Ilmu Ekonomi Pertanian pada jenjang pendidikan S1 (15 orang), S2 (15 orang), dan S3 (26 orang), serta sebagian dalam keahlian Sosiologi Pertanian, Sistem Usaha Pertanian dan Kebijakan Pertanian (Tabel 5). Selain kepakaran tersebut, sampai dengan tahun 2013 PSEKP juga tercatat telah memiliki 6 orang tenaga ahli dalam Bidang Riset dengan jenjang penghargaan kepangkatan tertinggi sebagai Profesor Riset. Dua orang Profesor Riset merupakan Staf Ahli Menteri Pertanian hingga sekarang. Dalam waktu yang akan datang jumlah Profesor Riset dan Para Ahli Peneliti Utama PSEKP akan terus bertambah sejalan dengan tuntutan profesionalisme kegiatan di bidang penelitian.
Tabel 5. Jumlah Peneliti PSEKP Menurut Disiplin Ilmu dan Tingkat Pendidikan Tahun 2013
No. Disiplin Ilmu Pendidikan
S3 S2 S1
1. Ekonomi Pertanian 26 15 15
2. Kebijakan Pertanian 1 1 -
3. Sistem Usaha Pertanian - 2 2
4. Sosiologi Pertanian 3 8 1
Total 30 26 18
Gambar 6. Jumlah Peneliti PSEKP Menurut Disiplin Ilmu dan Tingkat Pendidikan Tahun 2013
Upaya meningkatkan pengetahuan dan kapasitas SDM pegawai PSEKP pada tahun 2013 melalui pelatihan/workshop/training. Kegiatan tersebut disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Pe la ti han/ Worksh op/Train ing yang di ik ut i oleh P eg awa i PSEK P, T ahu n 2 01 3
III. SARANA DAN PRASARANA
Pelaksanaan kegiatan penelitian sebagai kegiatan utama PSEKP didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang diperlukan, yaitu terdiri dari barang-barang tidak bergerak dan barang-barang yang bergerak. Barang-barang yang tidak bergerak terdiri dari (1) Tanah bangunan negara Golongan II; (2) Tanah Bangunan Kantor Pemerintah; (3) Bangunan Gedung kantor Permanen; dan (4) Rumah Negara Golongan II Type A Permanen. Sementara barang-barang bergerak secara umum meliputi alat angkutan (kendaraan roda 4 dan roda 2), furniture, elektronik, serta aset tetap lainnya. Pengadaan barang-barang inventaris tersebut berasal dari hibah, pembelian melalui anggaran rutin dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan anggaran kerjasama penelitian. Untuk dapat menyajikan data barang inventaris yang akurat, PSEKP telah melaksanakan SIMAK-BMN pada tahun anggaran 2013.
Pengelolaan inventaris kekayaan milik negara (IKMN) secara eksplisit menjadi tanggung jawab bagian tata usaha, tetapi secara moral adalah tanggung jawab seluruh pegawai yang menggunakan barang inventaris tersebut. Pada kenyataannya, hal tersebut belum disadari oleh berbagai pihak, terbukti kepedulian terhadap rasa memiliki masih rendah. Hal ini merupakan salah satu kendala untuk dapat mengelola IKMN secara baik dan akurat. Secara rinci pada Tabel 7. ditunjukkan daftar kondisi barang yang dimiliki PSEKP sampai pada periode 31 Desember 2013.
3.1. Barang Tidak Bergerak (Tanah dan Bangunan)
Barang-barang tidak bergerak yang dimiliki oleh PSEKP meliputi tanah dan bangunan. Keseluruhan tanah yang dimiliki oleh PSEKP seluas 5.403 m2 yang terdiri dari tanah bangunan rumah negara golongan II seluas 1.558 m2 dan tanah bangunan kantor pemerintah seluas 3.845 m2. Sedangkan bangunan yang dimiliki oleh PSEKP adalah kantor yang terdiri atas dua unit bangunan yang saling terhubung seluas 3.266 m2 dan empat buah rumah dinas seluas 240 m2 secara keseluruhan dalam kondisi baik. Rincian barang tidak bergerak disajikan pada Tabel 7.
3.2. Barang-Barang Bergerak
Pada periode 2013, jumlah barang-barang bergerak yang dimiliki oleh PSEKP sebesar 2.190 unit barang, dengan 2.121 unit barang diantaranya dalam kondisi yang baik dan 69 unit barang lainnya dalam kondisi rusak. Barang-barang bergerak tersebut meliputi sarana transportasi/kendaraan dinas, mesin dan peralatan kantor, sarana komunikasi, dan barang bergerak penunjang kegiatan kantor lainnya.
a. Barang Inventaris Alat Angkutan
Periode tahun 2013, kendaraan roda empat terdiri atas 11 unit minibus (kapasitas penumpang < 14 orang), dan 9 unit sepeda motor roda dua.
b. Barang Inventaris Peralatan Kantor
Periode tahun anggaran 2013 keadaan barang inventaris peralatan kantor sebanyak 1.999 unit yang terdiri dari 71 jenis barang yang rusak dan 1.924 dengan kondisi baik. Sumber dana pengadaan barang inventaris berasal Rutin merupakan akumulasi dari pengadaan tahun lalu dan pengadaan dari anggaran tahun 2013.
Tabel 7. Daftar Kondisi Barang Inventaris Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (Periode 31 Desember 2013)
No. Nama Barang Jumlah Kondisi
B R RS I. BARANG TIDAK BERGERAK
1 Tanah Bangunan Rumah Negara Gol.II 1 (1,558m2) 1 0 0 2 Tanah Bangunan Kantor Pemerintah 1 (3,845 m2) 1 0 0
Jumlah 2 (5,403 m2) 2 0 0
3 Bangunan Gedung Kantor Permanen 2 (3,266 m2) 2 0 0 4 Rumah Negara Gol. II, Type C dan D 4 (240 m2) 4 0 0
Jumlah 6 (3,506 m2) 6 0 0
II BARANG BERGERAK
5 Mini Bus (penumpang 14 orang kebawah) 13 12 1 0
6 Sepeda Motor 11 10 1 0
7 Auto Lift 1 1 0 0
8 Tripood 3 3 0 0
9 Tes Generator 3 3 0 0
10 Mesin Ketik manual portable (11-13 inch) 7 7 0 0 11 Mesin ketik manual (18- 27 inch) 7 7 0 0
12 Lemari besi/metal 81 81 0 0
13 Lemari kayu 32 32 0 0
14 Rak besi/metal 12 12 0 0
15 Rak kayu 49 49 0 0
16 Filing kabinet besi 140 140 0 0
17 Brankas 6 6 0 0
18 Meja kerja kayu 213 208 5 0
19 Meja komputer 7 7 0 0
20 Kursi besi/metal 654 639 15 0
No. Nama Barang Jumlah Kondisi B R RS 22 Meja rapat 47 45 2 0 23 Jam elektronik 7 7 0 0 24 A.C. split 82 79 3 0 25 Televisi 6 6 0 0 26 Video Cassette 1 1 0 0 27 Tape recorder 4 4 0 0 28 Finger Print 5 4 1 0
29 Wireless Transmision System 2 2 0 0
30 Router 2 2 0 0 31 Papan visual 1 1 0 0 32 Power Amplifier 1 1 0 0 33 Amplifier 2 2 0 0 34 Equalizer 1 1 0 0 35 Loudspeaker 10 10 0 0
36 Mic Confrence System 23 23 0 0
37 Audio Mixing 36 36 0 0
38 UPS 2 1 1 0
39 Tustel 1 1 0 0
40 Camera digital 6 6 0 0
41 Camera film 2 2 0 0
42 Wireless speaker TOA 4 4 0 0
43 Handycam 3 3 0 0
44 Wireless speaker 4 4 0 0
45 Blitzer 1 1 0 0
46 Power Supply 1 1 0 0
47 Lensa kamera 4 4 0 0
48 Layar film OHP 5 5 0 0
49 Faksimile 5 5 0 0
50 P.C. Unit (Desktop) 190 160 30 0
51 Note book/Lap Top 49 46 3 0
52 Printer Laser Jet/Deskjet/Dot Matrix 115 100 15 0
53 Scanner 5 5 0 0 54 Server 3 2 1 0 55 Mesin jilid 1 1 0 0 56 Mesin press 1 1 0 0 57 LCD (infocus) 7 6 1 0 58 PABX 1 1 0 0 59 Handy Talky (HT) 4 4 0 0
60 Pesawat telpon extension 40 40 0 0
61 External 11 11 0 0
62 Mesin potong rumput 1 1 0 0
No. Nama Barang Jumlah Kondisi B R RS 64 Alat pemotongkertas 1 1 0 0 65 Penangkal petir 1 1 0 0 66 Vacuum Cleaner 1 1 0 0 67 Voice recorder 10 10 0 0 68 CCTV 4 4 0 0 69 Software 2 2 0 0 70 Lemari Es/Kulkas 2 2 0 0 71 Dispenser 1 1 0 0 72 Diagnostik Set 1 1 0 0 73 Monitor Cctv LED 23 1 1 0 0 Total : 1,981 1,902 79 0
Keterangan : B = Baik; R = Rusak; RS + Rusak Sekali
3.3. Anggaran DIPA dan PNBP
Pencapaian kinerja akuntabilitas bidang keuangan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian secara umum berhasil dalam mencapai sasaran dengan baik. Anggaran PSEKP tahun 2013 disusun berdasarkan variabel jenis pengeluaran dan variabel kegiatan. Variabel jenis pengeluaran dibedakan menurut belanja pegawai, belanja barang, dan belanja modal. Sedangkan variabel kegiatan dibedakan menurut jenis kegiatan, yakni: Kegiatan utama mencakup Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, serta kegiatan Penunjang yang mencakup: (a) Pengelolaan gaji, honorarium, dan tunjangan; (b) Penyelenggaraan operasional dan pemeliharaan perkantoran; (c) Pelayanan publik atau birokrasi, dan (d) Perawatan sarana.
Total pagu anggaran PSEKP dalam DIPA TA. 2013 adalah Rp 28.125.799.000 yang merupakan Rupiah Murni (RM) sebesar Rp 27.342.083.000 dan Hibah luar negeri sebesar Rp 783.716.000. Perkembangan pelaksanaan keuangan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian TA. 2013 per 31 Desember 2013 secara rinci dapat dilihat pada Tabel 8 dan 9. Tampak bahwa pada realisasi serapan total anggaran PSEKP adalah 89,62 persen. Realisasi keuangan untuk anggaran yang berasal dari RM mencapai 89.33 persen, terdiri dari pengeluaran untuk belanja pegawai yang sudah direalisasikan yakni Rp 13.133.488.353 (99,41%) dan belanja barang yang sudah direalisasikan yaitu Rp 10.052.726.952 (80,06%). Sedangkan untuk belanja modal sudah terealisasi sebesar Rp 1.237.409.675 (78,61%). Dengan demikian anggaran yang bersumber pada RM, masih tersisa per 31 Desember 2013 adalah Rp 2.918.458.020 (7,59 %). Di sisi lain, serapan total anggaran yang berasal dari Hibah luar negeri mencapai 100 persen, yang terdiri berasal dari penyerapan belanja barang Rp 783.716.000.
Perkembangan Pelaksanaan Keuangan Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian TA. 2013 per 31 Desember 2013 menunjukkan bahwa capaian fisik baru mencapai 89.62 persen, demikian pula dengan capaian serapan keuangan juga baru mencapai 89.62 persen (Tabel 8 dan 9). Sementara untuk kegiatan penelitian dan pengembangan bidang sosial ekonomi, capaian kegiatannya baru terserap Rp 3.550.054.224 (74,49 %) dari Rp 4.766.055.000 anggaran yang direncanakan. Kendala utama capaian serapan tersebut karena keterbatasan waktu pelaksanaan dan adanya revisi anggaran di tengah tahun. Serta adanya penelitian yang bersumber dari APBN-P 2013 sebagai Direktif Presiden di 18 Provinsi lokasi penelitian. Selanjutnya rincian keuangan dilihat menurut penetapan sasaran pada Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian tahun 2013, maka rencana dan realisasi keuangan menurut sasaran dan program pada PSEKP tersebut dapat dilihat pada tabel 10.
Sumber: Sub Bagian Keuanga
n
dan Perlengkapan PSEK
P (2 013) Tabel 8. Perkemban gan Pelaks
anaan DIPA Pus
at Sos
ial Ek
on
omi dan Kebijakan Pertan
ia n Tah u n Anggaran 2013, Per 31 Desem ber 20 13
Sumber: Sub Bagian Keuanga
n
dan Perlengkapan PSEK
P (2 013) Ta bel 9 . Real isa si Angga
ran Per Kegiat
an Pusat
Sosi
al
Ekonomi Dan Kebijakan
Pertan ia n, p er 31 Desem ber 20 13
Tab el 10 . Targe t d an Re al is asi An ggar an Ke gi at an Pen el it ian Men u ru t Sa sar an d an Progr am Pu sa t Sos ia l Eko nom i dan Kebijakan Pert an ia n, 20 13
*) Bilang an ber tanda - (m inu s) berarti real isa si leb ih be sar da ri targ et/estim asi Ta bel 11 . Ca pa ia n P N BP Pu sa t S osia l Ekonomi d an K ebijaka n Pertanian, 2013
IV. PROGRAM
4.1. Tujuan dan Luaran KegiatanTujuan umum kegiatan penyusunan program adalah untuk mendapatkan arah penelitian yang lebih terencana dan sistematis agar pelaksanaan penelitian layak untuk dilaksanakan.
Secara rinci pelaksanaan kegiatan bertujuan untuk :
(1) Membuat perencanaan dan kalender kegiatan penelitian PSEKP; (2) Merencanakan penelitian tahun anggaran 2013
(3) Memperoleh implikasi tindak lanjut pelaksanaan program yang akan datang.
Luaran yang diharapkan :
(1) Paket perencanaan dan kalender kegiatan penelitian PSEKP; (2) Program perencanaan penelitian tahun anggaran 2013;
(3) Implikasi tindak lanjut pelaksanaan program yang akan datang
4.2. Perencanaan Kegiatan Penelitian Tahun Anggaran 2013
Tujuan perencanaan kegiatan penelitian adalah agar seluruh kegiatan PSEKP dapat terlaksana secara optimal sesuai jadwal yang telah direncanakan. Untuk memudahkan koordinasi pada tahap perencanaan, berdasarkan surat penugasan Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian No. 308 KP. 440/I.7/02/2013, Tanggal 28 Februari 2013, maka dibentuk Tim Teknis Penelitian yang terdiri dari Kepala Bidang Program dan Evaluasi, Ketua Kelti, peneliti senior PSEKP dan Staf Sub Bidang Program.
Susunan Tim Teknis Penelitian untuk tahun 2013
Pengarah : 1. Kepala Badan Litbang Pertanian
2. Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
Penanggung Jawab : Kepala Bidang Program dan Evaluasi PSEKP (merangkap anggota)
Ketua : Dr. Sumaryanto (merangkap anggota) Wakil Ketua : Dr. Muchjidin Rachmat (merangkap anggota) Sekretaris : Kepala Sub Bidang Program PSEKP (merangkap
anggota)
Anggota : 1. Prof. Dr. Ir. I Wayan Rusastra 2. Prof. Dr. Ir. Budiman Hutabarat F. 3. Prof. Dr. Ir. Dewa K. Sadra S. 4. Dr. Bambang Irawan 5. Dr. Tri Pranadji 6. Dr. Sri Hery Susilowati 7. Dr. Saptana
Staf Pelaksana : 1. Rangga Ditya Yofa, SP (Staf Sub Bidang Program) 2. Chaerudin, SE (Staf Sub Bidang Program)
3. Sri Suharyono, S.Sos (Staf Sub Bidang Program) 4. Tonny S. Wahyudi (Staf Sub Bidang Program) 5. Drs. Agus Abdul Syukur (Staf Subbidang Program) 6. Hasni Handoko (Staf Subbidang Program)
7. Nur Intan Syamsiah (Staf Subbidang Program) 4.3. Mekanisme Perencanaan Penelitian Tahun Anggaran 2013 (DIPA dan
RISTEK) dan Pelaksanaan Tupoksi Subid. Program
Sejalan dengan Bagian Perencanaan, Sekretariat Badan Litbang Pertanian, dan untuk memudahkan semua pihak yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penelitian, maka disusun seluruh tahapan kegiatan perencanaan mulai dari inisiasi perumusan masalah hingga penyusunan proposal penelitian ke Badan Litbang Pertanian. Gambaran umum mekanisme penyusunan program penelitian dapat dilihat pada Gambar 1. Tahap pertama dari siklus proses perencanaan kegiatan penelitian diawali dengan penjaringan topik-topik penelitian PSEKP oleh Tim Teknis Penelitian yang disinkronkan dengan Rencana Strategis (Renstra) PSEKP dan Badan Litbang Pertanian, dan Program Utama PSEKP. Dari berbagai topik penelitian tersebut, Tim Teknis Penelitian PSEKP bersama Bidang Program dan Evaluasi selanjutnya merumuskan Rencana Penelitian Tingkat Peneliti (RPTP) beserta lingkup kegiatannya. Lebih lanjut Tim Teknis bersama Bidang Program dan Evaluasi menugaskan peneliti untuk menyusun TOR kegiatan sesuai dengan topik-topik penelitian yang dirumuskan.
TOR yang telah terkumpul kemudian dievaluasi oleh Tim Teknis Penelitian PSEKP. Tahap selanjutnya adalah penetapan penanggung jawab penyusunan proposal RPTP/kegiatan sesuai dengan judul yang telah ditetapkan. Proposal yang masuk kemudian dievaluasi oleh Tim Teknis Penelitian internal PSEKP. Hasil evaluasi tersebut kemudian disampaikan kepada penanggung jawab proposal masing-masing untuk menjadi bahan perbaikan proposal tersebut.
Proposal yang telah diperbaiki kemudian dievaluasi oleh Tim Teknis PSEKP. Pada tahap ini, diberikan saran dan komentar untuk penyempurnaan proposal-proposal terhadap aspek-aspek berikut:
(1) Perumusan masalah, review hasil penelitian sebelumnya dan justifikasi penelitian.
(2) Perumusan tujuan/keluaran
(3) Kerangka pemikiran (landasan teoritis/review analisis data)
(4) Perencanaan sampling pemilihan lokasi (propinsi, kabupaten, kecamatan, desa) dan responden
(5) Alat analisis dan jenis data untuk menjawab setiap tujuan penelitian (6) Perencanaan operasional (SDM, dana, dan lain-lain)
Gambar 7.
Tahapan Perenc
Komentar dan saran perbaikan proposal ditekankan pada beberapa aspek berikut : (1) Memenuhi persyaratan ilmiah dalam rumusan permasalahan dan metode pemecahannya; (2) Memiliki kemampuan dalam perolehan parameter dan indikator sosial ekonomi atau memiliki kemampuan dalam pengembangan teori dan metode ilmiah; (3) Hasil risetnya mempunyai keunggulan untuk memecahkan permasalahan pembangunan pertanian; dan (4) Penyusunannya memenuhi kaidah-kaidah ilmiah.
Hasil evaluasi tersebut kemudian disampaikan kepada penanggung jawab proposal masing-masing untuk menjadi bahan perbaikan proposal. Selain evaluasi secara tertulis, juga dilakukan pembahasan dan penajaman proposal secara khusus dimana proposal dibahas secara langsung melalui diskusi tim pembahas dan Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dengan penanggung jawab (tim) penyusun proposal.
Berdasarkan tahap-tahap perencanaan kegiatan penelitian (KAK/TOR - RKA-KL - proposal), pada prakteknya seringkali terjadi perubahan dalam judul penelitian, kegiatan penelitian, penanggung jawab penelitian, lokasi penelitian maupun biaya/anggaran penelitian. Perubahan-perubahan tersebut dilakukan dalam rangka penyempurnaan perencanaan penelitian dan sesuai dengan saran dan komentar dari Tim Teknis/Pembahas dan kebijakan institusi.
Mekanisme perencanaan penelitian DIPA dan Ristek, dari sisi substansi pada prinsipnya sama, perbedaan antara kedua penelitian tersebut lebih terkaitan dengan proses pertanggungjawaban administrasi kegiatan.
4.3.1. Judul – Judul Penelitian DIPA T.A. 2013
1. Studi Akselerasi Pertumbuhan Padi di Luar Pulau Jawa ( Tahun ke-2) 2. Analisis Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management) Komoditas
Unggas Lokal
3. Kajian Efisiensi Moda Transportasi Ternak dan Daging Sapi Dalam Mendukung Program Swasembada Daging Sapi
4. Analisis Struktur Perilaku Kinerja Pasar Sayuran Bernilai Ekonomi Tinggi 5. Analisa Struktur Perilaku-Kinerja Pasar Buah-buahan
6. Kajian Pengembangan Irigasi Berbasis Investasi Masyarakat pada Agroekosistem Lahan Kering
7. Kajian Legislasi Lahan dan Air di Sektor Pertanian Mendukung Swasembada Pangan (Tahun ke- 2)
8. Peran Penyuluh Swadaya dalam Implementasi Undang-Undang Sistem Penyuluhan Pertanian
9. Kajian Kebijakan dan Peraturan Perundangan Industri Gula untuk mendukung Swasembada Gula
10. Pengaruh Kebijakan Perdagangan Negara-negara Mitra Terhadap Kinerja dan Daya Saing Eksport Komoditi Pertanian Indonesia
11. Dampak Makro Perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian Indonesia 12. Prospek Kesepakatan Indonesia- India FTA terhadap Sektor Pertanian di
Indonesia
13. Konsorsium Penelitian Prospek Pertumbuhan Produksi Pangan dalam Kontek Program MP3EI
14. Evaluasi Tanggap Cepat Isu Aktual (Tugas-tugas Khusus Pimpinan Kemtan/Litbang/Ditjen).
4.3.2. Judul – Judul Penelitian DIPA T.A. 2014
1. Kajian Cadangan Beras dan Pangan Pokok lain Dalam mendukung Ketahanan Pangan
2. Kajian Kebijakan Stabilisasi Harga Beras/Gabah, Jagung dan Kedelai 3. Kajian Kebijakan Stabilisasi Harga Bawang Merah dan Cabe Merah 4. Kajian Kebijakan Stabilisasi Harga Gula
5. Kajian Sistem Perbenihan Padi dan Palawija
6. Akselerasi Diversifikasi Konsumsi Pangan dan Pengembangan Pangan Lokal
7. Akselerasi Peningkatan Kualitas Produk Pertanian Menghadapi Pasar Tunggal Asean 2015
8. Analisis Penelitian dan Penentuan Kelas Perkembangan Kawasan Pertanian
9. Kajian Pengembangan Kawasan Komoditas Hortikultura
10. Kajian Pengembangan Sistem Pertanian Terintegrasi Tebu – Ternak 11. Evaluasi Kebijakan Pengembangan Bioenergi di Sektor Pertanian
12. Pengorganisasian Petani Kecil (Small Farmer) untuk mendukung Pembangunan Pertanian di Pedesaan
13. Kajian Kebijakan Akselerasi Adopsi dan Difusi Inovasi 14. Revitalisasi Modal Sosial Dalam Pengelolaan Irigasi
15. Kontribusi Sektor Pertanian Dalam Pencapaian Sasaran Pembangunan 16. Kajian Kebijakan Pengendalian Impor Produk Hortikultura
17. Dinamika Sosial Ekonomi Pertanian dan Pedesaan Analisis Data Patanas 18. Analisis Kegiatan dan Evaluasi Tanggap Cepat Isu Aktual (Tugas-tugas
khusus Pimpinan Kemtan/Litbang/Ditjen)
4.4. Permasalahan yang Menonjol dalam Pelaksanaan Kegiatan di Sub Bidang Program selama tahun 2013.
a. Sering terjadi perubahan dalam program dan kegiatan baik karena
refocusing kegiatan dan sistem penganggaran. Kondisi ini berimplikasi
terganggunya proses kegiatan karena penyesuaian kegiatan dan proses revisi yang berlangsung relatif lama. Contoh kasus adalah revisi penghematan anggaran, karena harus melalui persetujuan DPR, maka proses tersebut membutuhkan waktu yang lama. Contoh lain adalah revisi karena perubahan mata anggaran dan datangnya APBN-P di akhir tahun. Berbagai perubahan tersebut secara umum menggangu pelaksanaan kegiatan dan proses perencanaan terkesan kurang baik dan cermat.
b. Sistim anggaran untuk membiayai kegiatan perencanaan program belum sepenuhnya kompatibel dengan kebutuhan riel yang diperlukan, sehingga menyulitkan pemakaian anggaran untuk pembiayaan kegiatan.
c. Terlalu seringnya terjadi perubahan software dalam sistem penganggaran seringkali menyebabkan kekurang cermatnya perencanaan program.
Upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut a. Dokumentasi arsip-arsip perencanaan program dan menyusun kalender
kegiatan, dan perbaikan koordinasi kegiatan dalam rangka mengantisipasi kemungkinan perubahan perencanaan yang bersifat segera/mendadak baik ditingkat Litbang Pertanian dan Kementerian keuangan.
b. Berkoordinasi dengan Litbang dan Kementerian Keuangan terkait pembiayaan kegiatan.
c. Peningkatan kemampuan staf baik terkait dengan operasionalisasi software perencanaan dan anggaran, serta pemahaman dalam pembebanan mata anggaran.
V. SINOPSIS
5.1. Studi Kebijakan Akselerasi Pertumbuhan Produksi Padi di Luar Pulau Jawa (Tahun Ke-2) (Dr. Bambang Irawan)
Secara historis pulau Jawa merupakan sentra produksi padi dan sebagian besar produksi padi nasional dihasilkan di pulau Jawa yang dihasilkan dari lahan sawah dan sisanya dihasilkan dari lahan kering atau padi ladang. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan produksi padi nasional sangat tergantung pada perkembangan produksi padi yang dihasilkan di pulau Jawa terutama dari lahan sawah. Akan tetapi laju pertumbuhan produksi padi sawah di pulau Jawa akhir-akhir ini justru cenderung turun dan diperkirakan akan terus mengalami penurunan atau semakin lambat akibat beberapa faktor yaitu: (1) Jaringan irigasi di pulau Jawa banyak yang tidak terpelihara atau rusak sementara upaya peningkatan intensitas panen padi yang dapat dirangsang melalui pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi semakin sulit diwujudkan akibat keterbatasan anggaran pemerintah, (2) Terjadinya konversi lahan sawah ke penggunaan non pertanian sehingga mengurangi kapasitas produksi padi sawah, (3) Peningkatan luas panen padi yang dapat dirangsang melalui pencetakan sawah baru semakin sulit diwujudkan akibat keterbatasan sumberdaya lahan yang dapat dijadikan sawah dan keterbatasan anggaran pemerintah, (4) Upaya peningkatan produktivitas padi sawah semakin sulit diwujudkan akibat adanya fenomena kelelahan lahan yang menyebabkan respon produktivitas padi terhadap penggunaan input semakin kecil, dan (5) Adanya kebijakan nasional jangka panjang yang tidak kondusif bagi keberlanjutan lahan sawah di pulau Jawa.
Hal tersebut diatas tercerminkan pada Master Plan Percepatan Pertumbuhan dan Perluasan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dimana pulau Jawa dipetakan sebagai pusat industri dan jasa nasional dan dengan kebijakan tersebut maka konversi lahan sawah ke penggunaan non pertanian di pulau Jawa diperkirakan meningkat sejalan dengan tuntutan kebutuhan lahan untuk pembangunan industri dan perkantoran. Uraian diatas mengungkapkan bahwa pulau Jawa tampaknya semakin sulit diandalkan untuk menopang kebutuhan beras nasional. Untuk mengimbangi pertumbuhan produksi padi yang semakin lambat di pulau Jawa maka perlu dilakukan akselerasi peningkatan produksi padi di luar Jawa. Secara teknis upaya akselerasi peningkatan produksi padi tersebut dapat ditempuh melalui peningkatan produktivitas padi, peningkatan intensitas tanaman padi dan perluasan lahan sawah khususnya di daerah yang memiliki agroklimat yang sesuai untuk pengembangan tanaman padi. Peningkatan produktivitas dan intensitas tanam padi diperlukan untuk mendorong peningkatan produksi padi dalam jangka pendek sedangkan perluasan lahan sawah diperlukan untuk mendorong peningkatan produksi padi dalam jangka panjang.
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebijakan akselerasi pertumbuhan produksi padi di luar Jawa yang meliputi aspek
lokasi, strategi operasional dan kebijakan pendukung yang diperlukan. Secara rinci tujuan penelitian adalah: (1) Menganalisis peluang peningkatan produksi padi di luar Jawa; dan (2) Mengidentifikasi masalah peningkatan produktivitas, peningkatan intensitas tanaman padi dan perluasan lahan sawah serta upaya antisipasi yang diperlukan. Dua provinsi di Pulau Sulawesi yang merupakan sentra produksi padi dipilih sebagai lokasi penelitian yaitu provinsi Sulawesi Selatan dan provinsi Sulawesi Tengah.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa produktivitas padi sawah di Provinsi Sulsel sudah sangat mendekati potensi produktivitas yang dapat dicapai, dengan kata lain peluang peningkatan produktivitas lebih lanjut cukup terbatas. Peluang peningkatan produktivitas padi dibanding potensi yang tersedia hanya sekitar 5,9% di Provinsi Sulsel sedangkan di Provinsi Sulteng masih cukup besar yaitu sekitar 9,5%. Secara total hanya 54% kecamatan di Provinsi Sulsel yang produktivitas padinya dapat ditingkatkan lebih lanjut sedangkan di Provinsi Sulteng proporsi kecamatan tersebut lebih besar yaitu sebanyak 77% kecamatan. Pada umumnya kecamatan tersebut merupakan kecamatan dominan lahan kering. Berdasarkan hal tersebut maka program peningkatan produktivitas padi perlu diutamakan pada kecamatan dominan lahan kering. Di Provinsi Sulsel upaya peningkatan produksi padi yang ditempuh melalui peningkatan produktivitas diperkirakan hanya mampu meningkatkan produksi padi sekitar 103 ribu ton atau sekitar 2,22%. Sedangkan di Provinsi Sulteng peluang peningkatan produksi padi tersebut hanya sekitar 31 ribu ton atau sebesar 3,70%. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peluang peningkatan produksi padi melalui peningkatan produktivitas padi di kedua provinsi sudah sangat terbatas. Dalam rangka mendukung peningkatan produksi padi nasional jangka pendek maka program peningkatan produksi padi di Pulau Sulawesi seyogyanya tidak hanya mengandalkan pada upaya peningkatan produktivitas padi tetapi perlu dilengkapi dengan program peningkatan IP padi sawah. Melalui peningkatan IP padi produksi padi sawah diperkirakan dapat meningkat hingga 434 ribu ton atau 9,3% di Provinsi Sulsel dan 145 ribu ton atau 17,5% di Provinsi Sulteng. Untuk dapat memanfaatkan peluang peningkatan produksi tersebut maka perlu dilaksanakan program peningkatan IP padi yang selama ini kurang mendapat perhatian. Untuk kasus Provinsi Sulteng upaya peningkatan IP padi tersebut perlu memperhatikan hal yaitu: (a) dilaksanakan dalam hamparan lahan cukup luas untuk menekan risiko panen akibat gangguan OPT, (b) hamparan lahan sasaran merupakan satu kesatuan jaringan irigasi untuk memudahkan pengaturan pergiliran air, (c) diperlukan koordinasi yang lebih intensif dengan dinas pengairan PU, (d) diperlukan dukungan traktor untuk memperpendek waktu pengolahan tanah, (e) diperlukan sosialisasi cara tanam tabela untuk memperpendek waktu tanam, dan (f) merubah kebiasaan petani menjual beras menjadi menjual gabah untuk memperpendek waktu pasca budidaya padi.
5.2. Analisis Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain Management) Komoditas Unggas Lokal (Dr. Saptana)
Pengembangan agribisnis unggas lokal dapat menjadi basis pengembangan ekonomi rakyat, namun dalam prakteknya masih banyak permasalahan yang terjadi terutama berkaitan dengan manajemen rantai pasok. Penelitian tentang manajemen rantai pasok komoditas peternakan sudah banyak dilakukan, namun masih sedikit yang membahas komoditas unggas lokal terutama ayam kampung dan itik. Permasalahan utama dalam pengembangan agribisnis unggas lokal adalah masih lemahnya budaya industrial dan usahaternak yang masih bersifat tradisional. Masalah kurang tersedianya bibit unggul secara cukup, kualitas pakan yang rendah, rentan terhadap serangan penyakit, serta struktur pasar yang dikuasai pedagang besar, menempatkan peternak kecil dalam posisi lemah. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk merumuskan kebijakan pengembangan manajemen rantai pasok komoditas unggas lokal secara terpadu. Secara rinci tujuan penelitian adalah: (1) Mengevaluasi kinerja program pengembangan agribisnis komoditas unggas lokal; (2) Mendeskripsikan pelaku rantai pasok komoditas unggas lokal; (3) Menganalisis kelembagaan manajemen rantai pasok komoditas unggas lokal; dan (4) Menganalisis rantai nilai komoditas unggas lokal. Lokasi penelitian di Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kinerja program pengembangan agribisnis unggas lokal difokuskan pada aspek perbibitan dan budidaya; (2) Terdapat 8 pelaku utama rantai pasok unggas lokal yaitu pemerintah, industri perbibitan, peternak, kelompok ternak, asosiasi ternak, pedagang di sentra produksi, pedagang di sentra konsumsi, dan industri kuliner; (3) Kelembagaan yang paling strategis dalam keseluruhan rantai pasok unggas lokal adalah kelembagaan distribusi dan pemasaran; dan (4) Industri kuliner menerima nilai tambah terbesar per unit output, sementara pedagang besar di pusat produksi dan pedagang besar di pusat konsumsi menerima nilai terbesar secara agregat. Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan adalah sebagai berikut: (1) Upaya dan tindak lanjut dalam pengembangan unggas lokal dapat dilakukan dengan pendampingan dalam pengadaan bibit ayam, pembinaaan dalam manajemen pembibitan dan budidaya, serta pelayanan kesehatan Puskeswan. Beberapa kegiatan pelatihan yang masih diperlukan adalah dalam manajemen pembibitan unggas lokal, manajemen usahaternak unggas lokal, dan membuat formula pakan yang bersumber bahan pakan lokal; (2) Strategi kemitraan usaha agribisnis unggas lokal dapat dilakukan dengan beberapa prinsip dasar: (a) adanya kesetaraan antar pihak-pihak yang bermitra, (b) saling percaya-mempercayai antara satu pihak-pihak dengan pihak lainnya, (c) adanya keterbukaan antar pihak-pihak yang bermitra terutama dalam hal kualitas produk dan harga, dan (d) tindakan antar pihak-pihak yang bermitra dapat dipertanggungjawabkan; (3) Pilihan strategi pengembangan bisnis unggas lokal kini dan ke depan dapat dilakukan melalui transformasi dari pengembangan bisnis unggas lokal berdasarkan potensi sumberdaya lokal dan SDM yang belum terampil ke arah
pengembangan agribisnis unggas lokal dengan kebudayaan industrial, selanjutnya pembangunan agribisnis unggas lokal yang digerakkan oleh inovasi, yakni pembangunan agribisnis unggas lokal yang memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan SDM yang terampil; (4) Strategi tranformasi ekonomi, yaitu dari ekonomi berbasis sumberdaya peternakan unggas lokal, ke arah ekonomi industri (pengolahan hasil peternakan unggas lokal) melalui pengembangan produk, selanjutnya ekonomi berbasis informasi terutama informasi pasar, dan terakhir ekonomi kreatif yang diawali pengembangan industri kreatif berbasis produk unggas lokal.
5.3. Kajian Efisiensi Moda Transportasi Ternak dan Daging Sapi dalam Mendukung Program Swasembada Daging (Dr. Nyak Ilham)
Angkutan ternak yang menggunakan multimoda transportasi di Indonesia diduga membutuhkankan biaya tinggi. Tingginya biaya transportasi menurunkan dayasaing ternak dan daging sapi domestik di pasar konsumsi domestik menyebabkan pedagang daging sapi lebih memilih untuk memperdagangkan ternak dan daging sapi impor. Akibatnya ternak sapi domestik yang tadinya memasok sebagian besar pasar konsumsi utama makin menurun dan bergeser ke daerah pasar yang baru muncul seperti Kalimantan. Jika kondisi ini berlanjut, permintaan daging sapi lokal akan menurun dan tidak memberi insentif bagi peternak untuk terus berproduksi. Jika tidak ada pembenahan maka diduga lama kelamaan keberadaan sapi domestik akan terus menurun dan akan mempengaruhi tercapainya program swasembada daging. Berbagai upaya dapat dilakukan baik pembenahan sisi usaha pengadaan dan distribusi input, usaha budidaya dan sistem distribusi output termasuk moda transportasi. Secara umum, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kinerja moda transportasi ternak dan daging sapi nasional. Secara khusus penelitian ini bertujuan: (1) Mengidentifikasi pola-pola moda transportasi ternak dan daging sapi dari sentra produsen ke sentra konsumen; (2) Menganalisis struktur ongkos distribusi ternak dan daging sapi; (3) Menganalisis efisiensi moda transportasi ternak dan daging sapi; dan (4) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi moda transportasi ternak sapi. Penelitian ini dilakukan di Provinsi NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Kalimantan Timur. Temuan-temuan pokok penelitian ini menunjukkan bahwa:
1. Perdagangan ternak dan daging sapi antar pulau/provinsi melibatkan berbagai moda transportasi darat, laut, dan udara, serta melibatkan berbagai instansi terkait dengan perizinan teknis peternakan dan moda transportasi.
2. Perdagangan daging sapi dan produk ikutannya dengan menggunakan sarana dan prasarana alat pembeku (airblast), cold storage, mobil box
refrigerator, dan reefer container masih dilakukan oleh pelaku dan dalam
3. Pada perdagangan antar pulau/provinsi ternak dan daging sapi, biaya transportasi merupakan komponen terbesar terhadap biaya distribusi. Biaya transportasi ternak sapi lebih mahal dibandingkan biaya transportasi daging sapi.
4. Biaya administrasi yang harus dikeluarkan pedagang, berupa retribusi pasar hewan, surat keterangan kesehatan hewan dan fasilitas holding
ground yang ditetapkan pemerintah daerah bervariasi dan berkontribusi
terhadap besarnya biaya distribusi.
5. Ada indikasi semakin besar biaya yang dikeluarkan untuk menerapkan kesejahteraan hewan semakin kecil penyusutan bobot badan sapi selama proses distribusi ternak sapi.
6. Investasi usaha angkutan sapi dengan kapal laut milik perusahaan swasta dan pelayaran rakyat layak secara finansial. Ada dorongan berbagai pihak, melibatkan PT PELNI dalam menyediakan kapal angkut sapi. Namun kegiatan itu memerlukan subsidi, dan akan menghadapi masalah keterbatasan volume angkutan, serta kurangnya fasilitas pelabuhan dan sungai yang tidak dapat digunakan kapal ukuran besar.
7. Untuk angkutan daging sapi, PT PELNI memiliki tiga unit kapal yang memiliki reefer container namun masih belum banyak dimanfaatkan para pedagang daging sapi antar pulau.
8. Komparasi efisiensi alat angkutan dan komoditas ternak dan daging sapi adalah sebagai berikut:
a. Rute Surabaya-Jakarta, pengangkutan setara daging yang paling efisien adalah moda transportasi kereta api berfasilitas reefer container Rp 300/kg, refrigerator truck Rp 600/Kg dan truk fuso Rp 1.265/Kg. b. Rute Denpasar-Jakarta, angkutan daging beku menggunakan
refrigerator truck milik sendiri lebih efisien (Rp 1.125/Kg) dibandingkan
menggunakan jasa ekspedisi (Rp 2.000/Kg).
c. Rute Lombok Timur-Jakarta, memperdagangkan kikil dan jeroan lebih menguntungkan dibandingkan menjual daging atau karkas.
d. Pada rute Kupang – Jakarta, pengiriman daging/karkas beku menggunakan kapal laut jauh lebih murah dibandingkan dengan pesawat udara.
e. Transaksi jasa angkutan kapal untuk angkut ternak, sistem carter jauh lebih mahal dari sistem prah (biaya per ekor).
9. Masih terjadi tumpang tindih penyediaan fasilitas untuk menarik retribusi dan tumpang tindih perizinan dari institusi terkait dalam proses rantai perdagangan ternak dan daging sapi.
10. Produk legislasi transportasi ternak di Indonesia belum memperoleh perhatian serius dari pemerintah sesuai dengan dinamika lingkungan perdagangan nasional dan internasional yang menuntut produk domestik berdaya saing tinggi.
11. Tingginya frekuensi hari pasar hewan pada satu kawasan yang relatif tidak luas, seperti Pasar hewan di Selagalas Mataram di Lombok-NTB,
menyebabkan pasar menjadi tidak efektif dan biaya pemasaran menjadi mahal.
12. Masih dijumpai kegiatan revitalisasi rumah potong hewan kurang memperhatikan skala usaha, tidak sesuai standar teknis bangunan (SNI- Standar Nasional Indonesia), kurang memperhatikan aspek kehalalan, dan masih belum sinkron kebijakan pengembangan ternak dan daging sapi lokal dengan pengendalian ternak dan daging sapi impor.
Implikasi kebijakan dari penelitian ini adalah (1) Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Perhubungan perlu melakukan kerjasama untuk memfasilitasi dan mendorong pengembangan perdagangan daging sapi beku antar pulau dengan memanfaatkan kapal PT PELNI yang telah dilengkapi fasilitas reefer container; (2) Pos-pos biaya administrasi yang harus dikeluarkan pedagang ternak dan daging sapi perlu ditinjau ulang untuk disinkronkan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah agar tidak mendorong naiknya biaya distribusi ternak dan daging sapi; (3) Pihak Karantina perlu meningkatkan pelayanan karantina ternak dan daging dengan teknologi dan peraturan terkini, sehingga dapat mengurangi masa karantina atau pemeriksaan daging guna mengurangi biaya distribusi; Pemerintah perlu meninjau ulang rencana untuk terlibat dalam jasa angkutan laut untuk sapi dan yang sebaiknya dilakukan adalah mengalihkan serta memanfaatkan dana subsidi yang diperlukan untuk rencana tersebut untuk membina dan mengembangkan usaha swasta dan pelayaran rakyat yang sudah ada beserta infrastruktur pendukungnya; (4) Pemerintah perlu menerbitkan dan memperbaharui legislasi yang berkaitan dengan penyediakan fasilitas pendukung penerapan kesejahteraan hewan, penetapan besaran biaya jasa angkutan laut untuk angkut sapi, keselarasan kebijakan pengembangan perdagangan daging beku di dalam negeri dan pengendalian ternak dan daging sapi impor; (5) Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah sebaiknya bekerjasama untuk merancang pusat pasar lelang ternak sehingga biaya transaksi menjadi lebih murah dan untuk mendapatkan sapi dalam jumlah besar pada waktu tertentu akan makin cepat; (6) Revitalisasi rumah potong hewan tidak hanya memperhatikan peran utamanya untuk mengubah ternak hidup menjadi daging, tetapi juga harus memperhatikan aspek ekonomi dan kehalalan produk yang dihasilkan.
5.4. Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja Pemasaran Sayuran Bernilai Ekonomi Tinggi (Dr. Henny Mayrowani)
Permasalahan utama pengembangan komoditas hortikultura adalah belum terintegrasinya ragam, kualitas, kesinambungan pasokan dan kuantitas yang sesuai dengan dinamika permintaan pasar dan preferensi konsumen (Lokollo et al., 2011). Untuk menangani permasalahan ini, pembangunan agribisnis hortikultura, termasuk sayuran perlu dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dengan memperhatikan keseluruhan aspek dari hulu sampai ke hilir. Upaya dalam peningkatan produksi, perbaikan distribusi dan
peningkatan konsumsi perlu dilakukan secara terintegrasi sehingga dapat menguntungkan semua pihak. Untuk itu, pendekatan struktur, perilaku dan kinerja pasar (SCP) dipandang penting agar dapat terjadi peningkatan daya saing produk melalui peningkatan efisiensi pasar, tingkat keuntungan, kualitas dan kuantitas produk sayuran bernilai ekonomi tinggi. Dalam pemasaran komoditas pertanian, terdapat pelaku pasar yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung, komoditas yang dipasarkan bervariasi kualitas dan harga serta lembaga pemasarannya pun juga bervariasi. Kompleksitas pemasaran komoditas pertanian tersebut memerlukan suatu pendekatan sehingga permasalahan yang diteliti menjadi jelas dan lebih mudah untuk diselesaikan. Pendekatan yang sering digunakan untuk menganalisis sistem pasar adalah pendekatan struktur, tingkah laku dan kinerja pasar
(Structure-Conduct-Performance/SCP).
Secara umum, penelitian ini ditujukan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang komprehensif tentang sistem pemasaran komoditas sayuran bernilai ekonomi tinggi, khususnya kentang (Granola), bawang merah dan kubis. Sedangkan, secara khusus tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Menganalisis struktur pasar sayuran bernilai ekonomi tinggi, (2) Menganalisis perilaku pasar sayuran bernilai ekonomi tinggi, (3) Menganalisis kinerja pasar, termasuk perilaku konsumen sayuran bernilai ekonomi tinggi, (4) Mengetahui peluang dan kendala pengembangan sayuran bernilai ekonomi tinggi. Kegiatan penelitian ini difokuskan pada 5 (lima) provinsi, yakni Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jambi.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah : (1) Berkembangnya pasar-pasar modern, pasar-pasar bebas, konsumen institusi seperti hotel dan restoran yang membutuhkan pasokan kentang, bawang merah dan kubis dengan volume yang kecil, kualitas yang baik dan pasokan yang terus menerus memerlukan manajemen pengadaan yang baik. Munculnya pemasok sebagai salah satu agen pemasaran mempermudah ketersediaan barang bagi konsumen kelas menengah keatas. Tingkat harga tinggi yang ditawarkan oleh pemasok maupun pasar modern tidak mempengaruhi konsumen asal barang yang ditawarkan sesuai dengan selera dan keamanan pangan. Keadaan ini sebenarnya membuka peluang bagi petani sebagai produsen untuk memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi, namun petani belum bisa mengelola pasokan tersebut karena keterbatasan modal dan akses terhadap konsumen institusi tersebut. (2) Hubungan antara penjual dan pembeli yang ditekankan terutama pada hubungan harga antara agen pasar. Pada komoditas kentang, harga yang terbentuk di tingkat pedagang besar kurang ditransmisikan ke petani sebagai produsen, dapat dikatakan pasar kentang tidak simetris dan produsen/petani mempunyai posisi tawar yang lemah. Sedangkan hubungan harga pedagang besar dan konsumen sangat kuat. Pada pasar bawang merah korelasi antara harga tingkat produsen, pedagang dan konsumen sangat kuat. Pasar bawang merah terintegrasi dengan baik.
Demikian juga pada pasar kubis, harga ditransmisikan dengan baik dari konsumen, pedagang ke tingkat produsen. (3) Manajemen rantai pasok yang terkelola dengan baik baru ditingkat eksportir dan pasar modern serta konsumen institusi. Eksportir atau pemasok bekerja sama dengan petani/kelompok tani untuk memperoleh pasokan secara kontinu, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Hubungan tersebut dilakukan berdasarkan kontrak dan komitmen diantara pelaku. Pada pasar tradisional sistem managemen rantai pasok belum bekerja dengan baik. Petani sebagai produsen masih tergantung pada pedagang sebagai pemasok, kontrak tidak ada, hubungan mereka bebas. Namun dalam managemen ini, petani masih belum diuntungkan. Kualitas produksi masih rendah dan terutama petani kurang melakukan penanganan setelah panen yang sebenarnya memberikan nilai tambah bagi mereka. Saat ini pedagang masih mendominasi perlakuan pascapanen sehingga margin yang lebih baik diterima oleh pedagang. (4) Kesadaran konsumen akan produk berkualitas tinggi dan aman, memberi peluang dalam peningkatan pengadaan sayuran berkualitas tinggi dan aman. Pengusahaan sayuran organik mempunyai prospek untuk memenuhi selera dan kebutuhan konsumen. Demikian juga dengan berkembangnya pasar modern, pasar bebas dan konsumen institusi. Sedangkan permasalahannya adalah sifat musiman dari produk hortikultura yang menyebabkan berfluktuasinya harga.
5.5. Analisis Struktur-Perilaku-Kinerja Pasar Buah-Buahan (Dr. Bambang Sayaka)
Pasar produk buah-buahan dalam negeri akhir-akhir ini dibanjiri buah-buahan impor, terutama dari China (55%), yang menghabiskan devisa cukup besar dari tahun ke tahun. Maraknya impor buah-buahan harus membuat pemerintah menjadi mawas diri karena pada saat yang bersamaan volume ekspor buah Indonesia relatif kecil. Pemerintah mengatur pembatasan impor hortikultura untuk melindungi produksi buah-buahan dan sayuran dalam negeri melalui Permentan No. 86/2013 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) yang merupakan revisi dari Permentan No. 47/2013 dan bertujuan untuk memberi kepastian dalam pelayanan pemberian RIPH
dan pelaksanaan impor produk hortikultura oleh setiap orang yang melakukan impor produk hortikultura dan jaminan atas produk hortikultura yang diimpor agar memenuhi keamanan pangan. Kementerian Perdagangan menerbitkan
Permendag No. 60/2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura yang direvisi menjadi Permendag No. 16/2013, yang menegaskan bahwa impor
produk hortikultura, termasuk buah-buahan, hanya bisa dilakukan jika kebutuhan konsumsi masyarakat belum terpenuhi. Sementara untuk pengendalian impor
buah-buahan telah diterbitkan Permentan No. 42/2012 tentang pembatasan pelabuhan impor produk hortikultura. Pelabuhan impor buah meliputi Belawan (Medan), Tanjung Perak (Surabaya), Soekarno Hatta (Makassar), dan Bandara Soekarno-Hatta (Banten). Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta) hanya
digunakan oleh negara-negara yang telah mendapat MRA (Mutual Recognition
Agreement). Disamping itu, impor buah juga bisa masuk ke kawasan
perdagangan bebas, yaitu Batam, Bintan, dan Karimun. Penelitian ini dilaksanakan di Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi selatan. Secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui organisasi pasar buah-buahan dalam negeri. Secara khusus tujuan penelitian adalah untuk: (1) Menganalisis struktur pasar buah-buahan di dalam negeri. (2) Menganalisis perilaku pasar buah-buahan di dalam negeri. (3) Menganalisis manfaat dan kinerja pasar buah-buahan di dalam negeri. (4) Menganalisis potensi efektivitas Permentan No. 47/2013 tentang rekomendasi impor produk hortikultura, khususnya buah-buahan, dan Permentan 42/2012 tentang Pembatasan Pelabuhan Impor Buah Segar terhadap penurunan impor dan pertumbuhan produksi buah-buahan dalam negeri. Penelitian dilakukan di daerah pintu masuk impor buah, daerah produksi buah, dan daerah yang konsumennya potensial, yaitu Sumatera Utara, Jakarta, dan Jawa Barat. Hasil penelitian ini memberikan kesimpulan sebagai berikut : (1) Struktur Pasar. Buah impor semula tampak dominan di Jakarta dan sekitarnya tetapi berkurang sangat banyak ketika diberlakukan RIPH mulai awal tahun 2013. Di pasar-pasar tradisonal buah lokal mulai mendominasi, tetapi di pasar moderen buah impor masih lebih banyak dijumpai dan lebih diminati konsumen. Hambatan masuk menjadi pedagang besar maupun pemasok di suatu Pasar induk adalah keanggotaan dengan segala konsekuensinya, termasuk membayar iuran dan mematuhi aturan yang ada dalam hal volume dan harga jual. Pedagang eceran mempunyai hambatan dalam modal usaha dan tempat usaha yang dirasa mahal. (2) Strategi Pasar. Pemasaran buah lokal masih mengandalkan cara-cara konvensional dalam distribusi. Dari cara pengangkutan yang umumnya memakan waktu lama dan pengepakan yang kurang menarik dan mudah membuat produk rusak. Modal usaha umumnya masih menggunakan modal sendiri dan modal bank dengan pinajman komersial. Distribusi buah impor menggunakan angkutan yang aman dengan kontainer berpendingin, kemasan aman bagi produk dan menarik bagi konsumen. Modal usaha berasal dari bank dengan pinjaman komersial. Distributor buah lokal mempromosikan produknya dan memberi potongan harga jika pada musim tertentu harus bersaing dengan pedagang buah lokal.
(3) Kinerja Pasar. Pedagang buah lokal maupun buah impor dalam kondisi
normal mendapatkan untung dengan marjin relatif kecil. Total keuntungan yang besar hanya bisa diperoleh denga volume penjualan yang juga besar. Mahalnya harga buah lokal maupun buah impor akhir-akhir ini tidak lagi menguntungkan pedagang karena marjinnya semakin kecil, dan penjualan menurun tajam akibat harga yang tidak terjangkau oleh sebagian besar konsumen. Petani mengalami keuntungan yang lebih tinggi tetapi belum bisa memanfaatkan momentum dengan baik. (4) Efektivitas Kebijakan
Pemerintah. Pembatasan impor untuk beberapa jenis buah telah memengaruhi
pendapatan produsen, pedagang, perilaku konsumen, dan tata cara impor. Produsen diduga memperoleh insentif dari pengaturan tersebut, sementara
pedagang mengeluhkannya karena disinsentif bagi kegiatan perdagangan yang dilakukan. Pengaturan sebagaimana tercantum dalam Permentan No. 47/2013 kurang diimbangi oleh upaya lain untuk memandirikan produk hortikultura nasional. Diantara upaya tersebut adalah peningkatan kualitas dan kuantitas produk lokal hingga mampu bersaing dengan produk sejenis asal impor, perbaikan sumberdaya lahan, manusia, kapital dan teknologi penunjang lainnya serta perbaikan infrastruktur pertanian lainnya, termasuk sarana jalan dan alat transportasi. Implikasi kebijakan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Besarnya impor buah dari China dan negara lain seharusnya bisa dimanfaatkan oleh pemerintah secara baik untuk mengekspor produk buah-buahan unggulan yang laku di pasar internasional seperti salak, mangga dan manggis. Hal ini bisa memacu peningkatan produksi dan kualitas buah dalam negeri; (2) Peningkatan produksi buah dalam negeri perlu terus ditingkatkan, demikian juga kualitasnya. Pelaku agribisnis buah dalam negeri perlu terus difasilitasi agar bisa menghasilkan dan memasarkan buah segar maupun buah olahan bermutu dengan dukungan penyuluhan produksi, penyortiran, pengemasan, kegiatan promosi, peningkatan infrastruktur, akses pasar maupun permodalan; (3) Grading buah lokal sesuai dengan kualitas dan ukuran perlu terus dilakukan agar konsumen buah lokal semakin banyak di pasar dalam negeri. Kemitraan yang saling menguntungkan, antara petani dengan pedagang buah, harus terus dikembangkan; (4) Pengaturan impor buah dalam jangka pendek membuat harga buah impor dan buah lokal menjadi lebih mahal. Momentum ini harus bisa dimanfaatkan dalam jangka panjang oleh pemangku kepentingan industri buah nasional agar pasar domestik bisa dimanfaatkan dengan lebih optimal. Lebih jauh lagi adalah mengekspor buah lokal agar bisa berfungsi sebagai sumber devisa; (5) Pengawasan buah yang dijual di pasar harus dilakukan secara rutin oleh instansi berwenang. Hal ini untuk menghindari terjadinya buah yang tidak layak konsumsi tetapi masih dijual; (6) Pelabuhan impor untuk pemasukan buah seharusnya difasilitasi sesuai persyaratan yang berlaku. Jika fasilitas tersebut belum memenuhi seluruh persyaratan, misalnya karantina pertanian seperti di Pelabuhan laut Makassar, sebaiknya pelabuhan tersebut secara resmi ditutup untuk pendaratan buah impor dan dialihkan ke pelabuhan lain yang memiliki fasilitas lengkap. Alternatif sebaliknya adalah bahwa Pelabuhan laut Tanjung Perak ditutup untuk pendaratan impor buah karena sudah terlalu sibuk saat ini dengan kegiatan ekonomi/bongkar muat sehingga kegiatan impor buah di tempat ini layak dipindahkan ke Pelabuhan laut Soekarno-Hatta Makassar dengan segala fasilitas yang diperlukan.
5.6. Kajian Pengembangan Irigasi Kecil Berbasis Investasi Masyarakat Pada Agroekosistem Lahan Tadah Hujan (Ir. Rudy Sunarja Rivai, MS)
Peningkatan produksi pada lahan sawah tadah hujan dapat dilakukan dengan memanfaatkan irigasi kecil untuk meningkatkan intensitas tanam. Pada lahan sawah tadah hujan, umumnya hanya dapat ditanam padi satu kali