• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMBANGUN KAMPUNG TANGGAP BENCANA DI PESISIR LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MEMBANGUN KAMPUNG TANGGAP BENCANA DI PESISIR LAMPUNG"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

MEMBANGUN

KAMPUNG TANGGAP BENCANA

DI PESISIR LAMPUNG

Webinar Pusat Riset Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan thema Penataan Ruang Pesisir Berbasis Mitigasi Bencana Jakarta, 19 Agustus 2020

(2)

Out line

Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNILA :

1. Pemberdayaan Masyarakat Pulau Sebesi

adaptasi dan mitigasi bencana

2. Penerapan konsep

CBDRRM) di Pulau Pahawang

3. Krakatau  sistem alarm berbasis masyarakat: Community Based Early Warning System (CEWS)

(3)

PENDAHULUAN

• Kawasan Pesisir Lampung rawan bencana tsunami, rob, gempa bumi, cuaca ekstrem, tapi anugerah pariwisatanya juga besar

• Masyarakat adalah yang paling dahulu merasakan dampaknya, tapi umumnya belum siap menghadapi bencana

• Penataan kawasan pesisir tanggap bencana secara berkelanjutan dimulai dari Kampung Tanggap Bencana dgn mempertimbangkan 3 pilar : ekologi, sosial dan ekonomi

(4)

1. Pemberdayaan

Masyarakat Pulau

Sebesi Kabupaten

Lampung Selatan

dalam Pengembangan

Kawasan Ekowisata

Pesisir

(24 Juli – 31 Agustus 2017)

(5)

Latar Belakang

• Pulau Sebesi adalah Pulau berpenghuni yang lokasinya terdekat dengan Gunung Anak Krakatau

• Pulau Sebesi menjadi tempat transit wisatawan yang akan berkunjung ke GAK, sebelum tsunami 2018

kunjungan wisnus ke Pulau Sebesi mencapai lebih kurang 1000 orang setiap weekend (15-20 kapal dgn kapasitas 30-45 orang). Wisman umumnya dari Carita. • Tujuan kunjungan ke Pulau Sebesi dan ke Krakatau

(snorkling, keliling Krakatau), LOS : 1 malam.

• Lingkungan darat dan bawah laut yang mulai rusak karena aktivitas wisata, sampah dan sanitasi yang

buruk, sehingga Pulau Sebesi menjadi rentan bencana alam

(6)

1. Perbaikan Infrastruktur (Sanitasi Masyarakat, Persampahan, Papan Informasi)

2. Konservasi lingkungan (Transplantasi Terumbu Karang, Penanaman

Mangrove dan Penghijauan)

3. Pengembangan dan peningkatan kualitas produk wisata (pembuatan website pariwisata, pengembangan kegiatan seni dan budaya,

penyuluhan sadar wisata, dll)

Tujuan dan Manfaat

1. Perbaikan sistem, manajemen dan pengelolaan pariwisata pesisir

Pulau Sebesi

2. Peningkatan pendapatan

masyarakat yang diakibatkan oleh praktik-praktik pariwisata yang berkualitas

3. Peningkatan partisipasi

masyarakat dalam menjaga

kelestarian sumberdaya pesisir Pulau Sebesi terutama ekosistem hutan bakau, lamun dan terumbu karang

(7)

Kegiatan Minggu I : Upacara penerimaan oleh Camat Rajabasa, Mulai Operasi Semut (Bersih2 Sampah Pantai),

(8)

Kegiatan Minggu ke 2: - Penanaman Mangrove

- Transplantasi Terumbu Karang - Pembuatan Papan Informasi - Bersih-Bersih/Goro

(9)

Pelatihan Pembuatan Rumah

Ikan Dari Ferosement

Kegiatan Minggu ke 3 dan 4:

Pelatihan pembuatan pupuk

(10)

Pulau Sebesi Setelah Tsunami 2018

• Ada kearifan lokal membaca tanda-tanda tsunami  ular naik ke darat, air surut, dll • Setelah tsunami akibat GA KRAKATAU

meletus Des 2018: jml wisatawan menurun, sehingga pendapatan masyarakat menurun • Belum ada jalur evakuasi dan fasilitas

lainnya jika terjadi bencana

• Fenomena alam: banyak muncul penyu sekitar dermaga yang menjadi daya tarik tambahan Pulau Sebesi

• Masyarakat tetap berharap ada pendapatan dari sektor pariwisata dan berusaha

(11)

2. Penerapan konsep

CBDRR)

di Pulau Pahawang

Maret 2019 dan September 2019

Tujuan dan Manfaat Kegiatan

1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman serta menciptakan budaya masyarakat yang siaga dan adaptif terhadap ancaman bencana  adaptasi

2. Mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas masyarakat baik secara individu, rumah tangga, maupun komunitas dalam menghadapi dan menangani bencana.

3. Menyusun rencana tindak (action plan) pengurangan risiko bencana di kawasan pariwisata Teluk Lampung, Kabupaten Pesawaran  mitigasi

(12)

Kawasan Pulau Pahawang sebagai

juga terkena dampak penurunan jumlah wisatawan pasca bencana tahun 2018

Tidak adanya petunjuk dan sistem peringatan dini yang efektif membuat masyarakat harus mampu melakukan evakuasi

mandiri atau menjadi

Tujuan program

berfokus pada mengurangi

kerentanan dan meningkatkan kapasitas masyarakat (individu, rumah tangga maupun komunitas) dalam menghadapi dan menangani bencana. Masyarakat sebagai kunci utama dalam pelaksanaan kegiatan tanggap bencana.

Manfaat dari kegiatan pendampingan masyarakat ini adalah untuk

yang mampu menyusun rencana tindak (action plan) pengurangan risiko bencana di kawasan pariwisata Teluk Lampung, Kabupaten Pesawaran .

Dalam kegiatan PkM ini dilakukan upaya pengumpulan data informasi yaitu

dalam kesiapsiagaan bencana serta

(13)

LEMBAGA MITRA

• Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ekowisata Pulau Pahawang diketuai oleh Bapak Syaifullah.

• Tim Pokja Model Desa Konservasi yang juga dipimpin oleh Pak

Syaifullah.

• Badan Pengelola Daerah

Perlindungan Mangrove (BPDPM) dengan koordinator Pak Isnen dan Mitra Bentala sejak 1995

• Aparat Desa (Kepala Desa dan Sekdes)

Sejak tahun 1995 : Peran

komunitas sangat besar dalam adaptasi dan mitigasi bencana di Pahawang melalui konservasi

(14)

Hasil Analisis Lapangan

Hasil evaluasi tertulis maupun wawancara disimpulkan bahwa

kapasitas pemahaman masyarakat terhadap kesiagaan bencana masih kurang

Infrastruktur untuk evakuasi belum memadai:

 jalur evakuasi yang pernah dirintis, saat ini kondisinya terputus-putus

 ketiadaaan shelter atau posko tetap jika terjadi bencana,

 tidak adanya penunjuk/sign evakuasi bencana.

Output dan outcome

Masyarakat mengenal jenis bencana dan bagaimana cara adaptasi dan

mitigasi yang dapat dilakukan

Peta rencana Jalur evakuasi dengan fasilitas pendukung

Draft Rencana Tindak yang perlu disempurnakan dan menjadi bagian terintegrasi dengan Perencanaan Desa

(15)
(16)
(17)
(18)
(19)
(20)
(21)
(22)

Dusun Jelarangan, Maret 2019

Sumber: Lampung Dive Club

https://www.youtube.com/watch?v=xN9oX-dyQUg

Sumber: Lampung Dive Club

(23)

Sumber:

https://lampungpro.co/post/23516/prodi-arsitektur-universitas-lampung-edukasi-warga-pesisir-pesawaran-tanggap-tsunami

Sumber: Dokumentasi Pribadi,2019

Video dapat diakses melalui link https://youtu.be/C2ZC2QBnCSk

Dusun Jelarangan, 29-30 September – 01 Oktober 2019

(24)

Alat sosialisasi : Brosur tsunami dan

(25)

3. Peringatan Dini Berbasis Masyarakat

Community Based Early Warning System (CEWS)

Latar Belakang

 Tahun 1883 Krakatau meletus dengan kekuatan setara dengan 13.000 bom atom Hiroshima. Gelombang tsunami raksasa dari ledakan tersebut bergerak lima kali. Suara ledakannya terdengar sampai Australia. Dan menurunkan suhu bumi, yang butuh 5 tahun untuk menormalkannya.

 Melalui IEEE Geoscience and Remote Sensing Society (GRSS) Chapter Indonesia (2013), Prof. Wolfgang-Martin Boerner: “30 tahun lagi Krakatau diperkirakan akan meledak kembali dengan efek yang lebih besar dari ledakan tahun 1883”.

 22 Desember 2018, tsunami yang ditimbulkan memakan korban

(26)

Gambar Masjid di Way Muli, salah satu daerah terdampak tsunami selat sunda yang diakibatkan

Gunung Anak Krakatau Desember 2018 sumber: tempo.com

 Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hanya memiliki alat pendeteksi tsunami akibat aktivitas tektonik.

Sementara untuk tsunami yang berasal vulkanik terdapat

kesulitan dalam mendeteksi dan peringatan dini bahkan dapat dikatakan tidak ada early warning system, sehingga informasi tidak tersampaikan kepada masyarakat setempat untuk segera melakukan evakuasi sedini mungkin.

 Identifikasi awal data aktual di lapangan menyatakan alat

pendeteksi tsunami (Buoy) yang dibangun oleh Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Selat Sunda

telah lama hilang. Menurut Badan Nasional Penanggulangan

Bencana (BNPB) menyatakan bahwa jaringan buoy tsunami di perairan Indonesia sudah tidak beroperasi sejak 2012.

Pengerusakan, anggaran terbatas , kerusakan teknis menyebabkan tidak ada buoy tsunami. Sehingga perlu dibangun kembali untuk memperkuat Early Warning System di Indonesia (Sumber:

https://www.brilio.net).

 KRC mengembangkan alat CEWS yang murah, mudah

perawatan oleh masyarakat

(27)

Mengapa berbasis masyarakat?

1. Merubah pendekatan yang semata top down, tetapi masyarakat aktif siaga bencana maupun saat terjadi bencana.

2. Masyarakat memang hidup bersama bencana.

Mengelola Resiko bencana berbasis masyarakat:

Menghadapi bencana dimana masyarakat aktif terlibat pada tingkat identifikasi, analisa monitoring dan evaluasi resiko bencana untuk mengurangi kerentanan dan

meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi bencana.

(28)

Community Based

Early Warning System (CEWS)

• Sensor yang Krakatau Research

Center (KRC) sedang bangun pada

sistem peringatan dini (EWS) kawasan Gunung Anak Krakatau (GAK) ini berbasis pada local community, dimana mulai dari

perencanaan sampai perawatannya harus dapat dilakukan oleh para peneliti dan masyarakat yang ada di sekitar Kawasan GAK.

• Rumah Ibadah (Masjid) menjadi pusat informasi...

Peta Persebaran nodal EWS GAK

(29)

Sistem peringatan dini bencana berbasis masjid ini memiliki keunggulan sebagai berikut:

1. Jumlah masjid yang relative banyak di Indonesia terutama di Prov. Lampung 2. Bangunan masjid dinilai cukup kokoh untuk langsung menjadi shelter bencana 3. Bangunan masjid selalu terawat

4. Masjid salah satu bangunan paling tinggi di komunitas, untuk evakuasi mudah terlihat

5. Masjid selalu memiliki kepengurusan, perawatan sistem peringatan dini menjadi mudah dilakukan (kerusakan gampang terdeteksi)

6. Masjid selalu memiliki pengeras suara, sehingga peringatan dini dapat menjangkau seluruh masyarakat

7. Masyarakat sekitar selalu memperhatikan pengumuman yang berasal dari masjid dengan seksama

(30)

Rumah Ibadah sebagai Pusat Informasi

• Masjid selalu memiliki kepengurusan dan marbot sehingga masjid dan rumah ibadah lain adalah salah satu bangunan public yang selalu

terjaga dan terawat.

• Masjid selalu memiliki komunitas di sekitarnya.

• Masjid selalu memiliki system pengeras suara. Orang-orang sekitar masjid selalu memperhatikan pengumuman yang berasal dari

pengeras suara masjid dengan perhatian khusus.

• Masjid dengan struktur yang kuat juga bisa langsung menjadi shelter bencana. Pengalaman bencana yang terjadi di Indonesia membuat masjid menjadi salah satu bangunan publik yang menjadi tempat yang dituju ketika terjadi bencana.

(31)

• Masjid seringkali menjadi bangunan paling tinggi di komunitas.

Struktur bangunan masjid adalah salah satu struktur bangunan publik yang kuat ( jarang sekali pembangunannya dikorupsi ?). Seringkali

masjid memiliki menara yang digunakan untuk instalasi pelantang suara. Oleh karena itu tidak dibutuhkan struktur khusus yang

dibangun untuk EWS pada masjid. EWS dapat langsung diinstalasikan pada masjid.

• Sistem terdiri atas multi moda dan multi noda. Sistem ini memastikan informasi dini bencana dapat terkirim dalam keadaan apapun secepat mungkin. Kecepatan informasi bencana terkirim dapat

menyelamatkan lebih banyak orang.

(32)

Information board dan alarm system yang akan dibangun sebagai

Shelter and Local Community Center yang berada di kawasan

Kalianda dan Rajabasa Lampung Selatan merupakan Peringatan Dini Bencana Berbasis Masjid Masjid se-kabupaten Lampung

selatan ada lebih dari 1000 masjid, begitu juga dengan Kabupaten lainnya di Lampung (10.000).

(33)

Sensor -senso r Benc ana Interpretasi Bencana BMKG Masyarakat BNPB Base Unila Marbot Masjid Alarm/ Sirine Masyarakat Kades EWS Masjid Alarm/ Sirine Masyarakat Monitor Hargo Pancuran

Bagan 1 : Jalur Informasi Bencana

(34)

Ba se Un ila /Harg o Pa ncu

ran Internet AP masjid Wifi Shield Masjid Micro EWS

Sirine dan Pengumuman

Monitor GSM GSM shield

Masjid

Bagan 2: Jalur Informasi Bencana Berbasis TI a. Multi moda (internet, GSM, dll)

b. Perangkat keras yang harus diaplikasikan dalam system berupa Arduino or Raspberry, GSM shield, Wifi shield, Access Point dan Koneksi Internet, layar infoboard (LCD Monitor), Sistem pengeras suara (sudah tersedia di Masjid), Sirine, Baterai, Solar Panel, Charge Controller yang mana dioperasikan menggunakan tenaga dari sollar panel dan baterai, sehingga dapat digunakan secara optimal ketika terjadi bencana.

1. Jalur Informasi Bencana Berbasis TI

(35)

Masyarakat Tanggap Bencana

Jaringan

Pengurus Masjid Tanggap Bencana

Disaster Base Unila/

Hargo Pancuran Marbot A Masyarakat A1 Masyarakat A2 Marbot B Masyarakat B1

Bagan 3: Jalur Informasi Masyarakat Tanggap Bencana

2. Jalur Informasi Bencana Berbasis Jaringan Sosial

Jalur Jaringan Sosial memastikan rantai informasi dapat berjalan dengan baik, sehingga tidak ada berita yang simpang siur terjadi di masyarakat.

(36)

1. Keberadaan Gunung Anak Krakatau Information Center (GAK Center) merupakan bagian yang penting didalam upaya membangun Early Warning System (EWS) yang effektif untuk daerah disekitar Gunung Anak Krakatau (GAK). Melalui beberapa pertimbangan teknis perihal pemilihan lokasi, GAK Center di Hargo Pancoran, Lampung Selatan.

2. Sebagai salah satu sarana EWS maka keberadaan GAK Information Centre bertujuan sebagai pusat informasi, pusat pendidikan kebencanaan, dan pusat tanggap bencana untuk

membangun kesiap-siagaan masyarakat dalam menghadapi potensi becana yang

ditimbulkan oleh GAK. Selain itu pembangunan sarana dan prasarana GAK Information Centre ini memiliki sasaran sebagai berikut:

 Membangun sarana dan prasarana untuk mendukung pemantauan (monitoring) aktifitas

GAK yang berkelanjutan dan penyebarluasaan informasi yang diperoleh kemasyarakat luas.

 Mempersiapkan program pendidikan masyarakat berbasis kesiap-siagaan bencana dan

membangun museum GAK sebagai sarana pendukung pembelajaran.

Membangun infrastruktur untuk mendukung tanggap cepat (quick response) bencana

GAK dikemudian hari berbasis kemasyarakatan

(37)

Fasilitas GAK Center di Hargo Pancoran, Lampung Selatan berada di areal seluas 2 hektar, sekitar 900 m dari tepi pantai, pada ketinggian sekitar 100 m dari permukaan laut.

Seperti diperlihatkan pada tanda panah, lokasinya berada disekitar lokasi Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau milik Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Selain sebuah gedung utama, fasilitias GAK Center dilengkapi dengan landasan terbang (airstrip) sepanjang 250 m untuk menerbangkan pesawat tanpa awak (UAV) guna memantau aktifitas GAK dan sebuah helipad untuk mendukung kegiatan tanggap bencana.

(38)

• Penataan kawasan pesisir tanggap bencana secara

berkelanjutan dimulai dari Kampung Tanggap Bencana dgn mempertimbangkan 3 pilar : ekologi, sosial dan ekonomi • Kegiatan pemberdayaan masyarakat adalah dengan

melibatkan masyarakat dimulai dari tahap perencanaan,

pelaksanaan dan monitoring

• Program membangun kampung tangguh bencana hendaknya menjadi bagian terintegrasi dengan rencana pembangunan daerah (lingkup Kab, Kecamatan dan Desa)

• Pengembangan jalur evakuasi di Pulau Sebesi dan Pulau Pahawang yang bisa dimanfaatkan untuk “tracking” wisata

(39)

DAFTAR PUSTAKA

1. Alvi, N.,N., Nurhasanah, I.N.,dan Persada, C. (2018) Evaluasi Keberlanjutan Wisata Bahari Pulau Pahawang Kabupaten Pesawaran

2. Kesuma, Y., Persada, C. Rusmiati, F. (2019) Pola Permukiman Kawasan Pesisir Berketahanan Bencana Studi Kasus Teluk Betung Timur, Kota Bandar Lampung

3. Kustiani, I, Persada, C., dan Irianti, I. (2017) Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengembangan Kawasan Ekowisata Pesisir Pulau Sebesi

4. Muliarto, H., Susanah, I,N., dan Persada, C., (2017) Analisis Program Pengembangan Ekowisata di Pulau Pahawang Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung

5. Persada, C., Kesuma, Y., Rusmiati, F., Hardila, D. (2019) Peningkatan Kapasitas Masyarakat

Gambar

Gambar Masjid di Way Muli, salah satu daerah  terdampak tsunami selat sunda yang diakibatkan

Referensi

Dokumen terkait

Pada industri perbankan, ketiga faktor tersebut dapat diterjemahkan bahwa agar suatu kantor cabang syariah mampu mencapai kinerja yang efisien, maka manajemen dapat

Hasil penelitian tentang K nilai indikator antara malokusi ringan dengan maloklusi berat pada kelainan hubungan kedua rahang dalam keadaan oklusi segmen anterior

Pertama, budaya selfie dalam masyarakat urban dapat juga menjadi moral panic karena di dalam segala aktivitas yang dilakukan harus diunggah ke media sosial dan

Dengan penerapan model bimbingan kelompok dengan teknik game ini, peneliti merumuskan sebuah layanan bimbingan kelompok dengan pendekatan berbeda yaitu teknik game, dengan

Dibayar Hibah kepada Rutinitas dan Biaya Operasional Rumah Ibadah Masjid AL FALAH, Masjid AL ISTIQOMAH, Masjid AL HIJRAH, Masjid DARUNNA'IM, Masjid AL HIDAYATUL IMAN, Masjid

Apabila bernadzar di masjid-masjid lain, maka tidak ada keharusan untuk dilakukan di masjid-masjid tersebut, tetapi boleh dilakukan di salah satu dari tiga

Apabila bernadzar di masjid-masjid lain, maka tidak ada keharusan untuk dilakukan di masjid-masjid tersebut, tetapi boleh dilakukan di salah satu dari tiga

banyak komunikasi antarpribadi. Relasi antarpribadi dalam setiap keluarga menunjukkan sifat-sifat yang kompleks. Komunikasi antarpribadi merupakan proses pengiriman