1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sastra anak terjemahan diyakini mampu mengenalkan dan menghubungkan dunia anak dan keragaman kultur dari berbagai belahan dunia kepada para pembaca anak-anak melalui cerita, tokoh, seting, ilustrasi, dan pesan yang ada di dalamnya. Buku-buku sastra anak terjemahan menjadi penting bagi pembacanya karena melalui buku-buku ini mereka mengenal dunia lain selain dunia yang mereka kenal. Selain itu, karya sastra anak terjemahan memberi kontribusi pada tumbuh kembang relasi kultural antar bangsa dan memberi pengetahuan tambahan mengenai karakteristik sifat-sifat unik para tokoh, seting, dan budaya yang ditawarkan oleh sebuah buku. Oleh karena itu mengenal keberadaan, peran, dan posisi sastra anak terjemahan di sebuah Negara adalah penting.
Banyak cerita mengenai pengaruh sastra anak terjemahan yang dapat disarikan disini yang menunjukkan betapa pentingnya peran sastra anak terjemahan bagi suatu Negara. Tabbert (2002) menyatakan bahwa di negara-negara Scandinavia dan Belanda misalnya para penulis buku anak banyak distimulasi dan diinspirasi oleh banyak buku impor berkualitas bagus dan mereka dipaksa untuk menulis karya-karya yang standarnya tidak boleh kalah dari buku-buku impor tadi. Menurut Tabbert, di Spanyol bahkan diakui bahwa sastra anak terjemahan dari Negara Inggris mampu memberi penguatan pada sistem sastra anak mereka dan memberi pengayaan atas perkembangan sastra anak Spanyol.
2 Bunanta mengatakan bahwa karya sastra anak dari pengarang Indonesia secara sepintas tidak menarik tetapi itu tidak berarti upaya menerjemahkan sastra anak dari bahasa dan bangsa lain harus dihentikan karena rasa inferioritas. Berkaitan dengan pentingnya menerjemahkan sastra anak dari bahasa dan bangsa lain Bunanta menyebutkan ada tiga hal: karya terjemahan bisa dijadikan sumber inspirasi dan referensi pengarang lokal karena dapat digunakan untuk mengukur kemampuan dan ketrampilannya menulis; karya terjemahan dapat digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan lain; dan karya sastra terjemahan dapat memperkaya khasanah perbukuan (Bunanta, 2008: 269).
Sastra anak yang dapat ditemukan di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua: pertama, sastra anak Indonesia yakni sastra anak atau bacaan untuk anak yang ditulis oleh pengarang, diberi ilustrasi dan diterbitkan oleh penerbit Indonesia dan kedua, sastra anak terjemahan yang ditulis oleh penulis, diberi ilustrasi dan diterbitkan oleh penerbit dari luar Indonesia dan diterjemahkan kemudian diterbitkan oleh penerbit Indonesia. Dua kelompok di atas merupakan sebuah generalisasi ciri-ciri sastra anak yang dapat digunakan secara mudah untuk membedakan sastra anak Indonesia dan sastra anak terjemahan.
Dari berbagai segi, sastra anak terjemahan yang masuk ke Indonesia memang lebih unggul dari pada sastra anak Indonesia. Hasil penelitian Kusumayanti dan kawan-kawan (2009) terhadap buku cerita bergambar yang ditulis oleh penulis Indonesia dan pengarang Inggris menemukan bahwa sastra anak terjemahan memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan sastra anak Indonesia. Menurut penelitian Kusumayanti tersebut terdapat tiga unsur
3 utama dalam buku cerita bergambar terjemahan, yaitu unsur sastra, unsur bahasa dan unsur artistik. Secara singkat yang dimaksudkan dengan unsur sastra adalah unsur sastra yang meliputi tokoh, plot, tema, pesan, seting cerita; sedangkan unsur bahasa adalah unsur bahasa yang meliputi sintaksis, leksikon, style (gaya); sedangkan unsur artistik adalah unsur yang meliputi tata letak, font, komposisi warna, bentuk, dan unsur artistik lainnya. Buku cerita bergambar umumnya memiliki unsur artistik yang menonjol.
Sastra anak terjemahan yang beredar di Indonesia umumnya datang dari negara Inggris, Amerika, dan Jepang (cerita dari Jepang banyak yang ditulis dalam bentuk komik). Dengan demikian, manakala pembaca anak-anak Indonesia ingin menikmati sastra anak dari luar negeri, maka mereka sangat bergantung pada kemampuan penerjemah dalam menerjemahkan teks-teks tersebut ke dalam teks bahasa Indonesia. Menerjemahkan buku-buku cerita anak memerlukan strategi khusus karena pembaca buku sastra anak terjemahan adalah anak-anak dengan kapasitas kognitif, imajinatif, serta kemampuan berbahasa yang tidak sama dengan para pembaca dewasa.
Di satu sisi, pembaca anak-anak belum memiliki banyak pengetahuan yang tersimpan dalam memori mereka. Storage (simpanan) atau background knowledge (pengalaman sebelumnya), yang tidak dimiliki oleh pembaca anak-anak, dapat digunakan oleh pembaca dewasa dalam membantu menerima hasil terjemahan dengan lebih baik, sedangkan bagi pembaca anak-anak pengalaman dan pengenalan terhadap kehidupan dan lingkungan yang ada di sekitar mereka justru
4 baru diperoleh dari membaca buku-buku cerita anak, baik buku cerita anak karangan penulis Indonesia maupun cerita anak hasil terjemahan.
Pembaca anak-anak, di sisi lain, belum memiliki kemampuan kritis untuk mengatakan sebuah teks terjemahan adalah teks terjemahan yang benar-benar mereka butuhkan, teks terjemahan yang membingungkan, teks terjemahan yang komunikatif, atau teks terjemahan yang merupakan terjemahan verbatim1. Secara singkat dapat dikatakan bahwa menerjemahkan buku cerita anak untuk dikonsumsi pembaca anak-anak memerlukan seorang penerjemah dengan ketrampilan dan penguasaan tehnik menerjemahkan yang baik.
Seorang penerjemah, menurut Burns (1962 dalam Thomson-Wohlgemuth, 1998: 44), harus menguasai bahasanya sendiri dan bahasa sasaran dengan baik. Udasmoro (2012) menilai bahwa selain cakap dan menguasai bahasa sasaran sebaik bahasa sumber seorang penerjemah harus akrab dengan isi teks sumber; harus peka; harus bersimpati, dan harus memahami perasaan, pemikiran, dan dunia anak. Selain penguasaan pada bahasa sumber dan sasaran, seorang penerjemah juga harus menguasai konteks kultural teks sumber dan teks sasaran karena menerjemahkan tidak hanya melakukan perubahan dalam hal sistem kebahasaan suatu bahasa, tetapi juga membuat adaptasi-adaptasi dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Tidak hanya itu, Udasmoro menilai bahwa adaptasi sering kali harus dilakukan penerjemah ketika dia tidak dapat menemukan padanan yang tepat antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran.
1 Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata ‘verbatim’ berarti ‘kata demi kata; menurut apa yang tertuang dalam tulisan (halaman 1260).
5 Menerjemahkan sastra anak pada hakekatnya tidak hanya melibatkan penerjemahan kata dari bahasa sumber ke padanannya dalam bahasa sasaran, akan tetapi melibatkan penerjemahan konteks kultur yang melibatkan perbedaan penggunaan bahasa, penggunaan konteks situasi, dan penggunaan ideologi. Disadari atau tidak, ada kalanya seorang penerjemah memiliki kepentingan untuk mengintervensi dan memasukkan visi, misi, dan ideologinya sendiri dalam teks hasil terjemahannya. Menurut Puurtinen (1998), O’Sullivan (2005), dan Fornalzyck (2007) kepentingan dibalik pekerjaan penerjemah yang meliputi kepentingan penerbit, kepentingan editor, dan kepentingan pemerintah adalah hal lain yang mungkin akan berpengaruh pada teks hasil terjemahan.
Menerjemahkan untuk kepentingan format buku berlabel ‘bilingual’ di Indonesia dilakukan karena buku bacaan berlabel ‘bilingual’ digunakan sebagai upaya komplementer dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang di Indonesia dianggap sebagai bahasa komunikasi dalam komunitas Internasional. Dalam situasi yang seperti ini peran penerjemah menjadi krusial dalam penerjemahan buku cerita untuk pembaca anak-anak. Hasil terjemahannya akan dijadikan pegangan untuk pembelajaran bahasa Inggris. Oleh karena itu menerjemahkan buku teks berlabel ‘bilingual’ seharusnya dilakukan dengan ekstra cermat dan ekstra hati-hati karena beberapa pembaca anak-anak buku tersebut mungkin akan meng-cross check tiap kata teks sasaran pada teks sumber walaupun tidak menutup kemungkinan pembaca anak-anak yang lain tidak mempedulikannya.
Teks sasaran dalam buku cerita bergambar berlabel ‘bilingual’ (BCBB) merupakan hasil kerja seorang penerjemah (Real Translator) dan merupakan hasil
6 respon dari pekerjaan dia selaku pembaca dan selaku penerjemah. Dengan kata lain teks terjemahan bahasa Indonesia dalam buku cerita bergambar berlabel ‘bilingual’ merupakan hasil sambutan para penerjemah setelah membaca teks berbahasa sumber bahasa Inggris. Pola para penerjemah merespon teks BSu, yang kemudian dituangkannya ke dalam teks BSa, akan menarik untuk diteliti.
Objek kajian berupa BCBB untuk penelitian ini melibatkan sebuah pembacaan yang tidak akan sama dengan pembacaan teks cerita anak dalam genre lain mengingat teks buku cerita bergambar terdiri dari teks verbal dan teks visual sehingga saat menerjemahkan seorang penerjemah tidak mungkin menghindar dari keberadaan teks verbal dan teks visual dalam Teks Sumber tersebut. Perubahan dan penyesuaian yang dilakukan oleh penerjemah yang menggambarkan respon mereka, akan dikaji dengan melihat keberadaan teks verbal TSa dengan teks verbal dan teks visual TSu dalam buku-buku cerita bergambar tersebut. Untuk memudahkan jalannya penelitian dan analisis terhadap hasil terjemahan para penerjemah penelitian dipandu dengan pertanyaan penelitian berikut ini.
Penelitian ini akan mengkaji perubahan-perubahan yang terjadi dalam teks sasaran setelah dilakukan proses penerjemahan. Asumsinya, perubahan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran akan dipengaruhi oleh proses penerjemah dalam merespon teks sumber. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji hasil respon para penerjemah melalui teks hasil terjemahan dalam BCBB. Sampai saat ini, telah ditemukan hasil karya terjemahan tiga penerjemah dari penerbit Erlangga for Kids. Perbedaan sikap dalam merespon yang dilakukan
masing-7 masing penerjemah, strategi, inovasi, dan kreatifitas para penerjemah dapat dikaji melalui hasil terjemahannya. Dari kajian terhadap teks bahasa Indonesia dalam buku cerita bergambar yang diberi label ‘bilingual’ ini, dapat dilihat sampai sejauh mana perbedaan dan kesamaan merespon penerjemah satu dengan yang lainnya terhadap cerita dalam buku-buku cerita tersebut. Hasil terjemahan dari setiap kata, setiap konteks, setiap situasi dalam teks verbal dan teks visual dalam Teks Sumber dapat ditelusuri dalam Tekas Sasaran dan diharapkan akan mampu mencerminkan hasil respon penerjemah.
1.2 Permasalahan
Permasalahan yang diformulasikan dengan baik, detil, dan jelas akan memudahkan peneliti dalam mencapai dan menetapkan indikator ketercapaian tujuan penelitiannya. Semakin jelas formulasi permasalahan akan semakin mudah bagi peneliti untuk menyusun jawaban sementara dari permasalahan yang ditetapkan. Berdasar latar belakang yang dikemukakan di atas maka jalannya penelitian ini akan dipandu dengan pernyataan penelitian berikut.
1. Bagaimanakah teks verbal hasil terjemahan para Real Translator bila dikaitkan dengan teks verbal dalam teks sumber.
2. Bagaimanakah teks verbal hasil terjemahan para Real Translator bila dikaitkan dengan teks visual dalam buku cerita bergambar yang diteliti.
Kedua pertanyaan tersebut akan dikaitkan dengan label ‘bilingual’ di halaman sampul buku-buku cerita bergambar yang diteliti. Teks verbal dalam teks sasaran yang berbeda dari teks verbal dalam teks sumber serta teks verbal dalam teks
8 sasaran yang dihubungkan dengan keberadaan teks visual dalam teks sumber diharapkan akan memberi jawaban atas pertanyaan mengenai bagaimana para Real Translator merespon buku-buku cerita bergambar berlabel ‘bilingual’ yang menjadi objek penelitian ini.
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan
1. Tujuan penelitian ini adalah menemukan perubahan-perubahan dan penyesuaian-penyesuaian yang dilakukan oleh Real Translator BCBB yang dapat dilihat dengan cara membandingkan teks verbal Teks Sasaran dan teks verbal Teks Sumber serta teks verbal TSa dan teks visual TSu.
2. Penelitian disertasi ini berusaha menemukan respon para penerjemah buku-buku cerita bergambar bilingual. Diyakini bahwa masing-masing penerjemah akan merespon teks sumber secara berbeda dan perbedaan ini akan menarik untuk dikaji secara lebih mendalam.
1.3.2 Manfaat Penelitian
Kajian teoritis yang dilakukan oleh penelitian ini terhadap penerjemahan buku cerita bergambar berlabel ‘bilingual’ diharapkan memberi informasi kontributif pada para peneliti sastra anak terutama yang memiliki perhatian pada perkembangan penerjemahan buku sastra anak dan kususnya penerjemahan buku cerita bergambar.
9 1.4. Tinjauan Pustaka
Bagian ini berisi penjelasan mengenai penelitian terdahulu yang pernah dilakukan dalam cakupan (scope) penelitian sastra anak, persoalan penerjemahan sastra anak, penelitian tentang penerjemahan buku cerita bergambar, dan penelitian-penelitian yang menggunakan teori Respon Estetik (Response Aesthetic) dari Wolfgang Iser. Penjelasan ini diperlukan untuk menggali state of the art dari kajian dan penelitian terdahulu di bidang-bidang tersebut. Hasil yang diperoleh dari pemaparan state of the art bidang-bidang kajian di atas akan membantu menemukan gap yang terbentuk dari hasil penelitian yang pernah dilaksanakan.
1.4.1. Penelitian Terhadap Sastra Anak
Para peneliti bidang sastra anak baik di Inggris, Amerika maupun Indonesia, sepakat menegaskan bahwa sastra anak adalah ‘sastra yang ditulis dan diciptakan secara khusus untuk dibaca oleh pembaca anak’ (Oittinen, 1993; Hunt, 1995; Mitchell, 2003; Luckens, 2003; Bunanta, 2008; Nurgiyantoro, 2005). Sastra anak sendiri merupakan sebuah genre dan mempunyai pembagian. Pembagian genre sastra anak dilakukan oleh Mitchell (2003), Bunanta (2008), Luckens (1989), Nurgiyantoro (2005), dan Cullinan (1989). Pembagian genre oleh masing-masing peneliti mencerminkan kesamaan umum dari sastra anak walaupun ada beberapa bagian pengelompokan yang sedikit berbeda menurut penulis satu dengan penulis yang lainnya. Sastra anak sendiri memiliki bermacam genre yang menunjukkan macam atau jenis atau kategori atau kelompok yang membedakan
10 karya sastra dan biasanya memuat ciri-ciri khusus mengenai gaya (style), bentuk, dan isi sebuah buku (Mitchell, 2003).
Pembagian genre dalam sastra anak yang dikemukakan oleh Bunanta, Nurgiyantoro, dan Mitcell meliputi sastra tradisional yang terdiri atas cerita rakyat, mite, legenda, fabel; fantasi; fiksi; dan puisi. Fiksi masih dibagi lagi menjadi fiksi ilmiah, fiksi sejarah, fiksi realistik. Genre sastra anak juga meliputi buku-buku non fiksi; buku-buku informatif seperti misalnya buku konsep (concept book), buku informasi (informational book); dan biografi. Selain jenis-jenis yang telah disebutkan, buku cerita bergambar (picture book), buku komik (comic strip), dan buku cerita dengan gambar (illustrated book) termasuk dalam genre sastra anak.
Secara umum dapat dikatakan bahwa sastra anak adalah sastra yang diremehkan, tidak dimasukkan dalam kategori sastra kanon, dianggap peripheral (Shavit, 1986) dan ini berarti sastra anak dianggap tidak penting dan marginal. Di Negara-negara Eropa, sampai tahun 1990-an, pekerjaan menulis sastra untuk anak-anak dipandang sebagai pekerjaan yang tidak bergengsi sehingga kurang dihargai dan kurang diminati (Thomson-Wohlgemuth,1998: 3). Hal yang sama juga berlaku pada pekerjaan menerjemahkan sastra anak.
Hasil penelitian yang dilakukan Thomson-Wohlgemuth mengungkapkan bahwa para penerjemah sastra anak mengeluhkan royalti yang kecil dibanding dengan pekerjaan menerjemahkan sastra dewasa, sehingga dua kelompok pekerja tersebut sering kali mengabaikan jati diri mereka. Para penulis sastra anak biasa menggunakan nama pena dalam karya-karya mereka, sedangkan para penerjemah
11 merelakan namanya tidak disebutkan didalam sebuah karya sastra anak terjemahan. Kondisi semacam ini masih dapat ditemukan oleh Thomson-Wohlgemuth dalam kajiannya terhadap sastra anak terjemahan di Inggris sampai tahun 1998. Mulai tahun 2000-an penelitian dan kajian mengenai sastra anak dan penerjemahannya semakin banyak dilakukan.
Berbicara mengenai sastra anak berarti berbicara mengenai potensi besar sebuah teks, karena awalnya sastra anak ditulis memang untuk keperluan didaktik. Sejarah kemunculan sastra anak di Eropa menunjukkan dan memberi legitimasi bahwa sastra anak sering dimanfaatkan untuk kepentingan instruksional dan didaktik. Dalam orasi kunci pada kongres International Research Society for Children Literature di Spanyol tahun 1989, Professor Hans-Heino Ewers, seorang professor bidang sastra anak di German, menyatakan bahwa sastra anak pertama kali dikenal masyarakat karena fungsi didaktisnya (Palsdottir, 2002).
Dari hasil penelitiannya Palsdottir sendiri berpendapat bahwa di akhir milenium pertama masyarakat awam dan akademik telah banyak mencurahkan perhatiannya pada sastra anak sehingga sastra anak berkembang pesat dan telah diakui keberadaannya secara internasional (2002: 3) dan penelitian-penelitian terhadap sastra anak semakin banyak dilakukan.
Elizabeth A. Gallway (2008) mengkaji peran puisi anak-anak Canada dalam merekonstruksi identitas nasional Canada di awal terbentuknya negara tersebut. Dalam kajiannya Galloway mengumpulkan puisi-puisi yang ditulis oleh anak-anak Canada. Sastrawan Canada yakin bahwa sastra merupakan senjata ampuh yang dapat digunakan untuk membantu membentuk sebuah bangsa
12 (Gallway: 2008). Di Afrika terdapat dua peneliti Yenika-Agbaw (2008) dan Jenkins (2006) yang mengkaji penggunaan sastra anak untuk membangkitkan kesadaran akan identitas kultural Afrika. Yenika-Agbaw meneliti 50 buku sastra anak Afrika yang diterbitkan setelah thaun 1960 an dan menemukan bahwa sastra anak Afrika didominasi oleh gambaran kehidupan anak-anak Afrika yang primitive, kampungan dan barbar dengan seting hutan atau kampung (Yenika-Agbaw: 2008). Berbeda halnya dengan Yenika-Agbaw, Jenkins (2006) menemukan bahwa beberapa puisi untuk dibaca oleh anak-anak Afrika menonjolkan patriotisme yang harus selalu diingat dan dielukan oleh anak-anak Afrika. Semangat patriotisme dapat dibangkitkan melalui puisi-puisi yang dikenalkan pada anak-anak sejak usia dini.
Sementara itu dunia sastra anak dan penelitiannya di Indonesia mengenal Murti Bunanta sebagai pionir penelitian bidang sastra anak di Indonesia. Hasil penelitian disertasi yang kemudian dirangkum dalam buku berjudul Problematika Penulisan Cerita Rakyat Untuk Anak di Indonesia merupakan salah satu penelitian bidang sastra anak yang menyoroti persoalan penulisan cerita rakyat untuk anak-anak Indonesia ditinjau dari penyajian cerita (1998: 5). Cerita rakyat yang dipilih adalah dongeng Bawang Merah Bawang Putih.
1.4.2. Penelitian Terhadap Sastra Anak Terjemahan dan Penerjemahannya Di Indonesia, kajian mengenai cerita anak terjemahan dapat ditemukan antara lain dari tulisan Sugihastuti (1996, 2000, 2008), Sastriyani (1998, 1999,
13 2004), Bunanta (2008), Kusumawardani & Kusumayanti (2008), Astutiningsih & Kusumayanti (2008), Kusumayanti (2009), dan Sarumpaet (2010).
Sugihastuti mengkaji cerita anak terjemahan yang banyak datang dari Eropa dan Amerika. Dalam salah satu kajiannya, Sugihastuti menemukan bahwa cerita anak versi terjemahan sangat menarik minat anak-anak karena sering menampilkan tokoh hero, mudah dikenal karena cerita anak versi terjemahan seringkali sudah dikenal terlebih dahulu oleh para pembaca anak melalui serial film seri kartun yang ditayangkan di televisi, contohnya serial dari Walt Disney tentang Mickey tikus, Donal bebek, Gufi anjing, dan yang lainnya. Tampilan teks dan kualitas warna serta ilustrasi yang menawan disertai iklan yang gencar menjadikan sastra anak versi terjemahan laris di pasaran (Sugihastuti, 2000: 44). Sejauh ini, kajian Sugihastuti terhadap cerita anak terjemahan bukan pada unsur terjemahannya, melainkan pada perkembangan cerita anak terjemahan yang beredar di kalangan pembaca anak-anak Indonesia. Satu lagi, penelitian Sugihastuti adalah tentang cerita anak Korea yang dia tinjau dengan menggunakan teori semiotika (2008).
Sementara itu, bila berbicara tentang cerita anak terjemahan, Bunanta menekankan bahwa kita tetap butuh karya terjemahan dan karya terjemahan itu penting karena tiga alasan: (1) karya terjemahan bisa dijadikan sumber inspirasi dan referensi pengarang lokal sehingga pengarang lokal dapat menggunakan karya terjemahan sebagai alat untuk mengukur kemampuan dan ketrampilannya menulis; (2) karya terjemahan dapat digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan lain pada anak-anak; dan (3) karya terjemahan memperkaya khasanah
14 perbukuan (Bunanta, 2008: 269). Menurut Bunanta, persoalan memilih buku mana yang layak diterjemahkan adalah persoalan sulit dan banyak berbagai keluhan tentang buku-buku terjemahan. Keluhan ini terutama karena hasil terjemahan kurang enak dibaca, tidak pas bahasanya, kurang seru seperti buku aslinya, tidak akurat, dan sebagainya.
Dalam kajian yang dilakukan terhadap ajaran moral dalam fabel Prancis, Sastriyani menemukan bahwa fabel Prancis digunakan untuk menggambarkan masyarakat Prancis yang feodal yakni dalam cerita Le Roman de Renard (2004). Dari penelitian yang dilakukannya, Kusumayanti (2009) melihat bahwa tema cerita anak dari Inggris dan Amerika sederhana tetapi beragam dan sangat dekat dengan dunia anak-anak; cara mengungkapkannya ringan terkesan main-main; penampilan teksnya sangat menarik (enticing) dilengkapi ilustrasi, tata letak (lay out), desain artistik, dan format teks yang apik.
Sampai sejauh ini, tidak banyak ditemukan artikel jurnal atau hasil penelitian yang mengulas tentang problematika menerjemahkan buku cerita bergambar di Indonesia. Tiga makalah yang masing-masing ditulis oleh Nugroho (2009), Cahyono (2009), dan Ulwiyah (2009) mengkaji masalah penerjemahan cerita anak dikaitkan dengan isu domestikasi (domestication) atau forenisasi (foregnization). Makalah Nugroho mengungkapkan kelebihan dan kelemahan domestikasi dan forenisasi, sedangkan makalah Ulwiyah walaupun berbicara mengenai domestikasi, tetapi dia menggunakan teori terjemahan umum yang ditawarkan oleh Newmark sebagai pisau bedah analisisnya, dan bukan teori terjemahan sastra anak.
15 Kajian mengenai proses menerjemahkan dan terjemahan sastra anak saat ini dianggap sebagai suatu disiplin ilmu yang baru karena merupakan persilangan dua disiplin ilmu, yakni disiplin ilmu terjemahan dan disiplin ilmu sastra anak. Arizpe menyatakan (2009): ‘Though the study of children's literature is now well established as an academic discipline, the study of its translation has only recently begun.2 Pemikiran Arizpe di atas, diperkuat oleh pernyataan Fornalzyck (2007) berikut ini: The focus of my paper lies within a new field of research which is situated at the intersection of two academic disciplines: translation studies and children’s literature, the so called children’s literature translation studies (CLTS)3.
Fornalczyk (2007) memberi penjelasan ringkas mengenai CLTS. Menurutnya, dokumen penting yang pertama kali mendiskusikan tentang CLTS adalah buku Children’s Books in Translation yang diedit oleh Gote Klingberg (1978). Buku Klingberg ini memaparkan isu-isu penting dalam CLTS yang meliputi faktor-faktor non tekstual yang mempengaruhi penerjemahan sastra anak. Di dalam artikelnya Fornalczyk menyebutkan bahwa Klingberg mengklaim penerjemahan sastra anak adalah penerjemahan yang spesifik yang harus mempertimbangkan kapasitas kognitif dan kompetensi linguistik para pembaca anak-anak. Hal-hal yang dikemukakan dalam artikel Fornalczyk ini menggaris
2 Walaupun studi mengenai sastra anak sebagai sebuah disiplin ilmu sekarang telah
mapan, tetapi studi terhadap penerjemahan sastra anak dapat dikatakan relatif masih baru (Catatan: terjemahan dari peneliti).
3 Fokus dari makalah saya berada di antara bidang penelitian yang masih baru yang
terletak di persimpangan antara dua disiplin ilmu: bidang penerjemahan dan sastra anak, sehingga boleh disebut sebagai kajian penerjemahan sastra anak (CLTS) (Catatan: terjemahan dari peneliti)..
16 bawahi bahwa yang dipentingkan dalam CLTS adalah para pembaca anak-anak sebagai Real Reader teks hasil terjemahan dan bukan teknis terjemahan itu sendiri.
Mengikuti Puurtinen (1998), Fornalczyk (2007) mencatat bahwa para peneliti penerjemahan sastra anak memfokuskan kajiannya pada: 1) norma-norma penerjemahan dan fungsi dari sastra anak terjemahan; 2) pembaca anak-anak dan interaksi teks dan pembaca anak-anak; dan 3) kajian sastra anak bandingan. Berikutnya, dia berargumen bahwa terjadi peningkatan ketertarikan pada penerjemahan sastra anak terbukti dari semakin banyaknya publikasi ilmiah mengenai bidang ini. Dia tidak menyebutkan peningkatan ini secara kuantitatif tetapi menarik untuk disebutkan di sini bahwa kajian di bidang penerjemahan sastra anak dipicu oleh faktor-faktor berikut ini. Buku-buku cerita anak perlu diterjemahkan karena buku-buku tersebut membangun jembatan yang menghubungkan dua kultur sehingga dirasa perlu untuk mengkaji hasil sebuah terjemahan sebagai bagian dari prinsip kehati-hatian. Setuju dengan Puurtinen, Fornalczyk berpendapat bahwa buku-buku sastra anak terjemahan menawarkan dan mengenalkan pengetahuan tentang nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan perilaku baru dari dunia lain (Puurtinen, 1998 dalam Fornalczyk).
Selain daripada itu, keberadaan dan ketertarikan pada tantangan spesifik yang diberikan oleh buku-buku sastra anak pada para penerjemahnya (interaksi antara gambar dan teks dalam buku cerita bergambar; referensi kultural yang ada; permainan bahasa; dialek; register; nama; dan kemungkinan timbulnya pembaca ganda) memicu ketertarikan penerjemah untuk menerjemahkan buku-buku ini.
17 Faktor yang tidak kalah penting adalah usia para pembaca buku sastra anak terjemahan yang berada pada rentangan tertentu dan para pembaca anak-anak ini dapat saja berupa pembaca implied atau pembaca real.
Dapat dikatakan semangat para peneliti bidang CLTS lebih dipicu oleh kebutuhan pembaca anak-anak untuk mengenal kultur dan dunia lain dan kebutuhan para pembaca anak-anak terebut untuk memperoleh bacaan alternatif selain yang telah mereka miliki dan dapatkan. Pada dasarnya CLTS adalah bidang terjemahan dengan menggunakan teori terjemahan yang telah ada akan tetapi penekanannya adalah pada kebutuhan pembaca anak-anak. Untuk alasan tersebut penerjemah buku-buku sastra anak akan membuat penyesuaian pada teks dengan berbagai cara yaitu dengan memberi tambahan, membuang yang tidak diperlukan, melakukan abridgement, dan membuat penyesuaian-penyesuaian lain yang diperlukan (Shavit 1986). Sebagai model kajian baru dalam bidang penerjemahan dengan objek utama berupa karya sastra anak, CLTS sendiri sejauh ini belum menetapkan kriteria, langkah, metodologi, karakter, indikator capaian, ataupun tahapan spesifik dalam penerjemahan sastra anak. Singkat kata CLTS adalah sebuah kajian terhadap sastra anak dengan menggunakan teori terjemahan.
1.4.3. Penelitian Terhadap Buku Cerita Bergambar
Hasil penelitian Lawrence Sipe4 yang ditulisnya dalam karya ilmiah
berjudul ‘Young Children’s Responses to Picture Storybooks: Five Types of
18 Literary Understanding’5 menyatakan bahwa anak-anak merupakan kritikus yang rumit. Sipe mempelajari respon pembaca anak-anak saat buku cerita bergambar dibacakan pada mereka secara lantang dengan kata lain dibacakan dengan suara keras. Hasil penelitian Sipe mencatat adanya lima tipe respon anak-anak saat dibacakan buku cerita bergambar yang merepresentasikan lima macam pemahaman terhadap buku sastra anak. Lima tipe respon tersebut meliputi: 1) tipe analitikal; 2) tipe intertekstual; 3) tipe personal; 4) tipe transparan; 4) tipe performatif. Tipe analitikal mencerminkan anak-anak yang mampu memanfaatkan informasi dalam teks dan ilustrasi buku untuk menginterpreatasi seting, plot, karakter, dan tema. Anak-anak tipe ini mampu membaca dan mendengar secara kritis semua informasi yang ada dalam teks dan ilustrasi buku. Tipe kedua mencerminkan kemampuan anak-anak untuk merelasikan semua aspek dalam buku yang sedang dibacakan dengan teks atau produk kultural lain seperti buku cerita lain, film, video, iklan, program televisi atau hasil kerja kreatif ilustrator atau seniman lain. Tipe ketiga memperlihatkan kemampuan anak-anak untuk menghubungkan semua aspek dalam buku cerita bergambar dengan kehidupannya sendiri. Mereka mempergunakan pengalaman mereka sendiri untuk dapat memahami teks dan sebaliknya mereka memanfaatkan semua aspek dalam buku untuk memahami apa yang mereka alami dalam kehidupan. Tipe keempat menunjukkan keterhubungan secara transparan antara anak-anak dan dunia di dalam buku.
5 Contoh lengkap dan transkrip hasil percakapan dan diskusi peneliti dan responden dapat
dilihat dalam artikel ini yang dapat diunduh di alamat website http://literatura.gretel.cat/sites/default/files/barcelona_lecture.pdf
19 Keterlibatan dan penceburan diri (immersion) pembaca pada cerita di dalam buku yang sedang dibacakan membuat mereka tanpa sadar memberi komentar secara spontan, menjawab, memberi respon langsung seolah mereka adalah pelaku dalam cerita. Penceburan seperti ini dilakukan secara tanpa sadar dan dapat dilihat oleh peneliti, sehingga Sipe menamakan tipe ini sebagai tipe pembaca transparan. Tipe terakhir adalah tipe yang jarang muncul tetapi menarik untuk dicermati. Sipe melihat anak-anak tipe ini pandai memanipulasi teks untuk memicu proses kreatif mereka dalam berimajinasi. Respon mereka, dalam istilah Sipe, bersifat subversif dan transgresif. Komentar dan celetukan anak-anak ini bersifat spontan, tidak terantisipasi, kreatif, dan sekenanya yang merupakan ciri khas anak-anak.
Kehadiran dan keberadaan penerjemah sering tidak diperhitungkan oleh pembaca maupun oleh masyarakat. Ini berbeda dengan pengarang buku yang dianggap lebih eksis dan popular seiring dengan popularitas buku. Rankin (2005) melihat bahwa penerjemah memainkan peran yang cukup penting dalam mengenalkan kultur baru yang dibawa oleh buku yang diterjemahkannya. Penerjemah memiliki peran signifikan untuk mendiseminasi sastra anak secara lintas kultural. Penelitian Rankin bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai persoalan penerjemahan yang muncul saat menerjemahkan buku cerita bergambar yang melibatkan relasi verbal-visual dalam buku cerita bergambar. Hasil penelitian Rankin menunjukkan bahwa menerjemahkan buku cerita bergambar merupakan tugas yang multifaset, penuh tantangan, dan membutuhkan kemampuan dan pengetahuan khusus.
20 Para penerjemah buku cerita bergambar harus mengembangkan kompetensi literer dan kemampuan visual agar dapat menghasilkan ikonoteks6
dalam bahasa sasaran yang diinginkan (Oittinen, 2003; 2008a; 2008b). Dengan kata lain untuk menghasilkan terjemahan yang baik dan mudah diterima oleh pembacanya terutama pembaca anak-anak maka terjemahan tersebut harus mampu mempertahankan kesatuan antara kata-kata, gambar-gambar, dan efek-efek visual lain yang merupakan cri khas dari buku cerita bergambar.
Berbeda dengan penelitian-penelitian tersebut di atas, penelitian Dabhagi (2011) yang bertujuan mengkaji proses menerjemahkan tanda-tanda kultural dalam buku cerita bergambar menemukan bahwa penerjemah yang ditelitinya memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi entitas semiotika tetapi gagal dalam mentransfer maksud dari pesan-pesan dalam buku cerita bergambar yang diterjemahkan. Lebih lanjut menurutnya tak satupun penerjemah memperhatikan hubungan komplementer antara kata-kata dan gambar-gambar.
Penelitian di bidang penerjemahan buku cerita bergambar yang lain dapat ditemukan dari laporan ilmiah Oittinen (2003). Menurut Oittinen setiap kali sebuah buku diterjemahkan maka terjadi proses membaca dan menulis ulang. Buku tersebut mendapatkan bahasa baru, kultur baru, dan pembaca sasaran yang baru. Penerjemah menciptakan situasi yang ‘multivoice’, dimana ilustrator,
6 Di dalam artikel-artikelnya Oittinen mengatakan bahwa sebuah gambar dalam BCB dapat disebut sebagai ikon yang merujuk pada sesuatu di dunia nyata. Teks BCB yang terdiri dari Teks Verbal dan Teks Visual dianggap berkomunikasi dengan bahasa dan caranya masing-masing yang bersifat spesifik. Interaksi yang terjadi dari dua teks tersebut dan bagaimana keduaya berkomunikasi yang disebut oleh Oittinen sebagai ikonoteks (iconotext) (Oittinen, 2003; 2008a; 2008b).
21 pengarang, penerjemah, penerbit, dan grup pembaca yang berlainan bertemu dan saling mempengaruhi satu sama lain.
Menurutnya, proses penerjemahan meliputi kombinasi proses holistik yang melibatkan banyak detil. Penerjemah biasanya mulai dengan ide keseluruhan mengenai buku yang akan diterjemahkan, kemudian dilanjutkan dengan membuat perencanaan dan keputusan-keputusan untuk menerjemahkan detil-detilnya. Menerjemahkan selalu memiliki tujuan dan fungsi yang berpengaruh pada interpretasi bagian-bagian yang ada dalam sebuah teks dan membutuhkan sebuah totalitas dan karena dipengaruhi oleh kultur dan individu penerjemah, maka setiap penerjemahan menjadi unik dan tidak dapat diulang (Oittinen, 2003: 129). Lebih lanjut Oittinen menyatakan,
Translators aim their words at someone and for some pupose and adapt their text according to the imagined future function of the translated text. This function includes not just reading silently and looking at the pictures, but also reading aloud, which is usually performed by grown-ups (Oittinen, 2003: 129).
Menerjemahkan pada tahap awal adalah proses membaca dan tiap proses membaca merupakan sebuah proses yang hasilnya tidak akan pernah sama walaupun diulang oleh pembaca yang sama (Oittinen: 2008b). Disamping itu, penerjemah dipengaruhi oleh diri mereka sendiri seperti ideologi dan citra masa kecil mereka, norma-norma, poetika-poetika yang berlaku dalam masyarakat dia hidup, yang kesemuanya mempengaruhi pilihan strategi yang diambil penerjemah saat dia bekerja.
22 Kata-kata dan gambar tidak dapat dipisahkan dari konteks dan harus ditempatkan pada kerangka waktu dan tempat. Ketika sebuah buku bergambar diterjemahkan maka gambar-gambar yang ada membawa sudut pandang yang baru. Visual merupakan konteks untuk kata-kata dan sebaliknya kata-kata digunakan sebagai konteks untuk visual. Dalam menerjemahkan buku cerita bergambar totalitas ini yang harus diterjemahkan (Oittinen, 2003).
1.4.4. Penelitian Terhadap Respon Estetik Wolfgang Iser
Pemaparan bagian ini dimaksudkan untuk menelusuri penelitian yang menggunakan teori Respon Estetik (RE) Wolfgang Iser. Ditemukan delapan penelitian terhadap karya sastra dengan menggunakan teori RE sebagai pisau analisis dan kesemuanya berfokus pada konsep Repertoir (di perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada). Delapan penelitian tersebut adalah penelitian Pandanwangi (2004), Budiarti (2012), Setyami (2014), Baehaq (2014), Cahyani (2015), Raharjo (2015), Rosyidah (2015), dan Waidah (2015).
Penelitian Raharjo (2015) mengkaji suntingan teks terjemahan naskah Jawa Bratayuda Sabil Khakuliah (BSK). Menggunakan teori respon estetika penelitian Raharjo bertujuan untuk mengetahui perwujudan repertoire teks BSK yang dijadikan background penciptaan sehingga foreground yang dituju pengarang dapat diungkapkan. Hasil penelitian Raharjo menunjukkan bahwa norma sosial budaya yang tampak dalam BSK merujuk pada masuknya Islam ke Nusantara yang memberi warna baru terhadap kepustakaan Jawa, yang ditandai dengan aliran Islam Jawa dan tradisi kepustaan Islam Kejawaen.
23 Penelitian Baehaq (2014) dilakukan untuk mengungkapkan perwujudan repertoire dalam naskah sandiwara Sampek Eng Tay (SET). Baehaq menemukan bahwa norma sosial dalam naskah sandiwara SET berkaitan erat dengan komedi Aristophanes. Telaah mengenai repertoir dalam SET mengungkapkan bahwa budaya yang tampak dalam naskah sandiwara ini adalah budaya patriarki yang melahirkan ketidakadilan terhadap perempuan. Sedangkan background kultur yang digunakan untuk penciptaan naskah sandiwara ini adalah kultur etnis Tionghoa di masa Orba. Menurut Baehaq, norma sosial, norma budaya, dan norma sejarah yg menjadi background tersebut merupakan perwujudan repertoire dalam SET.
Nurul Waidah (2015) menggunakan novel Amerika karya F. Scott Fitzgerald The Great Gatsby sebagai objek kajian. Menurutnya hadirnya prosa-prosa Amerika tidak dapat dipungkiri merupakan dampak dari realitas yang melingkupi penciptaan sebuah karya sastra. Hal ini diyakini Wahidah yang melihat kehidupan masyarakat sebagai bagian dari kumpulan pengalaman dan pengetahuan yang kemudian dimanfaatkan untuk mewarnai sebuah karya sastra. Pengarang tidak bisa tidak akan dipengaruhi oleh semua realitas (sosial, politik, ekonomi, dan budaya) yang berlaku saat itu. Wahidah, melalui penelitiannya, ingin mengetahui wujud repertoire yang dapat ditemukan dalam novel The Great Gatsby (TGG). Wahidah menemukan bahwa repertoir dalam novel tersebut merujuk pada norma sosial dalam bentuk spirit American dream, fakta historis pertempuran di hutan Argonne selama PD I, dan kesenian jazz yang mulai berkembang saat itu. Temuan repertoire dalam novel Fitzgerald tersebut
24 membantu Wahidah membuat suatu kesimpulan bahwa fiksi Amerika (TGG) merupakan salah satu representasi realitas kehidupan masyarakat Amerika saat itu.
Perwujudan repertoire dalam karya-karya sastra Indonesia menarik bagi Pandanwangi (2004) yang penelitiannya menggunakan novel Roro Mendut sebagai objek kajian; Setyami (2012) dengan objek kajian Ronggeng Dukuh Paruk; dan Cahyani (2015) dengan objek kajian novel Amba. Melalui penelitian-penelitian tersebut, mereka berusaha mendalami lebih jauh konvensi, norma, sistem pemikiran, tradisi sastra yang berlaku saat sebuah karya sastra diciptakan. Ketiganya menelusuri keterkaitan realita dalam dunia fiksi dan realita di dunia nyata dengan melihat seberapa jauh fiksi merepresentasi realitas dunia nyata. Ketiganya sepakat bahwa dengan menganalisis latar belakang terciptanya sebuah karya yang merupakan repertoire, maka latar depan (foreground) sebuah karya sastra akan lebih mudah untuk diungkapkan. Ketiganya setuju bahwa konsep repertoire dalam teori RE Iser membantu membukakan jalan untuk menemukan tujuan penulisan sebuah karya sastra.
Berbeda dengan penelitian yang telah disebut terdahulu, penelitian ini berupaya untuk memotret respon para penerjemah dalam BCBB. Perbedaan menyolok dari kajian terdahulu dengan kajian yang dilakukan oleh penelitian ini salah satunya adalah pada objek yang diteliti. Penelitian yang telah disebutkan di atas meneliti karya sastra untuk pembaca dewasa sedangkan objek kajian penelitian ini adalah karya sastra untuk pembaca anak-anak berupa buku cerita bergambar bilingual. Selain itu, fokus penelitian ini adalah pada penerjemah
25 sebagai pembaca sekaligus penulis teks terjemahan bukan pembaca karya sastra pada umumnya.
Dalam teori RE Iser terdapat beberapa konsep yang salah satunya adalah repertoire. Dalam penelitian-penelitian di atas konsep repertoir menjadi pisau analisis utama untuk mengungkapkan background penciptaan karya-karya sastra yang sedang diteliti, sedangkan penelitian ini menelusuri respon para penerjemah dengan mengkaji lebih medalam perubahan TSu saat diterjemahkan kedalam TSa. Repertoir para penerjemah digunakan untuk membantu melihat perubahan-perubahan yang terjadi pada TSu. Penelitian ini menonjol dari segi novelty terutama karena objek kajiannya adalah buku cerita bergambar bilingual dengan teori respon estetik Wolfgang Iser sebagai pisau analisis.
1.5 Landasan Teori 1.5.1. Respon Estetik
Teori respons estetik berorientasi pada respon pembaca atas teks yang dibacanya yang akan bervariasi antara satu pembaca dengan pembaca yang lain; satu pembaca dengan dirinya sendiri pada saat membaca pertama kali, kedua dan seterusnya kali; serta satu grup pembaca dengan grup pembaca lain di jaman, ruang dan konteks yang berbeda. Ahli yang mendalami teori respon pembaca diantaranya adalah Stanley Fish (1972), Gerrard Prince (1973), Roman Ingarden (1973), Norman Holland (1975), David Bleich (1978), Wolfgang Iser (1978), 1980), Jonatahn Culler (1981), dan Hans R. Jauss (1982), (Eagleton, 1983: 77-88; Selden, 1986: 106 - 133;). Para peneliti bidang respon pembaca ini memiliki
26 perbedaan mendasar pada konsep mereka masing-masing. Jauss yang dikenal sebagai penggagas Rezeptionsaesthetic misalnya, melihat pembaca sebagai sebuah kelompok dengan respon pemikiran terhadap karya sastra pada masa dan ruang tertentu. Rezeptionsaesthetic - biasa diterjemahkan sebagai reception aesthetic (resepsi estetis) – menganggap bahwa teks memiliki hubungan dengan milieu sosialnya, dengan teks lain, dan dengan para pembacanya. Di Indonesia, teori Jauss dikenal juga dengan nama teori resepsi (reception theory). Walaupun sama-sama dari Konstanz School (German), teori respon pembaca Jauss berbeda secara mendasar dengan yang dikemukakan oleh Wolfgang Iser yang menamakan teorinya sebagai Wirkungstheorie yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi respons aesthetic (respon estetik). Disertasi ini menggunakan teori respon estetik Wolfgang Iser sebagai landasan sehingga teori Iser ini akan dieksplorasi lebih dalam terutama yang berkaitan dengan proses penerjemahan buku-buku sastra anak.
Menurut Iser, sebuah teks sastra menghasilkan respon saat dia dibaca dan bila ingin mengetahui respon pembaca maka seseorang harus menganalisis proses pembacaannya. Sebuah karya sastra menghasilkan respon saat dia dibaca sehingga agak sulit untuk mendeskripsikan bagaimana bentuk respon tersebut tanpa menganalisis proses pembacaan. Dalam pandangan Iser, membaca menjadi penting untuk didiskusikan karena aktivitas ini ditempatkan pada posisi yang selalu bergerak; sebuah gerakan dari rangkaian aktivitas yang tergantung pada keberadaan teks yang mengindikasikan terciptanya sebuah respon.
27 Respon estetik harus dikaji terutama dalam hal relasi dialektis antara teks, pembaca dan interaksi antara keduanya. Iser menamakan teorinya sebagai teori respon estetik karena walaupun respon ini dihasilkan oleh teks, tetapi imajinasi dan kemampuan perseptif pembaca tetap berperan penting dalam pemaknaan teks. Apa yang terjadi pada pembaca melalui teks bacaan menjadi penting dan pendekatan inilah yang membedakan respon estetik Iser dari teori resepsi milik Jauss. Karena dengan pendekatan tersebut maka teks sastra tidak dilihat sebagai sebuah dokumentasi hasil rekaman dari apa yang sudah pernah ada. Sebaliknya teks sastra harus dilihat sebagi sebuah reformulasi dari realita yang telah diformulasikan. Teori resepsi Jauss, menurut Iser, selalu berhubungan dengan pembaca yang telah ada sebelumnya yang responnya memberi kesaksian atas pengalaman literer sekelompok masyarakat.
Teori respon estetik - Wolfgang Iser - berakar pada teks karya sastra; teori resepsi sastra - Hans R. Jauss - tercipta dari sejarah penilaian pembacanya (Iser, 1978: x). Bagi Iser apa yang terjadi dalam benak pembaca selama proses pembacaan menjadi menarik karena makna teks tidak berada dalam teks itu sendiri tetapi berada dalam proses aktualisasi yang terjadi pada diri pembaca (halaman 18). Oleh karena itu membaca adalah syarat mutlak pertama bagi keseluruhan proses interpretasi dan proses pemaknaan. Pusat dari proses membaca karya sastra adalah interaksi antara struktur karya dan penerima karya. Karena inilah studi tentang karya sastra seharusnya memperhatikan teks itu sendiri dan aktivitas pembaca dalam merespon teks.
28 Iser berpendapat bahwa karya sastra memiliki dua kutub yakni: kutub artistik dan kutub estetik (hal. 21). Kutub artistik adalah teks yang dihasilkan pengarang dan kutub estetik adalah realisasi (realization) yang dilakukan oleh pembaca. Implikasi dari polaritas ini adalah bahwa karya tidak akan pernah identik dengan teks atau dengan konkretisasi yang dilakukan oleh pembaca, tetapi harus ditempatkan diantara keduanya. Kedinamisan teks yang seperti ini diperoleh dari realitas teks dan subjektivitas pembaca yang mampu menciptakan virtualitas. Saat pembaca melewati beragam perspektif yang ditawarkan oleh teks dan menghubungkannya dengan pandangan dan patron yang berbeda-beda, maka saat itu dia menempatkan karya dalam pergerakan (motion) dan menempatkan dirinya sendiri dalam pergerakan juga (Iser, 1978: 21).
Bila posisi virtual sebuah karya adalah diantara teks dan pembaca, berarti aktualisasi teks adalah hasil dari interaksi keduanya. Dua kutub ini penting dalam artian bila seseorang tidak mampu memahami hubungan keduanya maka dia akan kehilangan karya itu secara virtual. Sebuah karya memiliki struktur yang menjadi basis dari interaksi dua kutub ini dan dengan cara demikian kita mendapatkan efek dari sebuah karya. Struktur ini akan berfungsi bila telah mempengaruhi pembaca. Secara praktis struktur fiksi yang dapat dilihat (discernable) memiliki dua sisi: verbal dan afektif. Aspek verbal memandu reaksi dan mencegahnya dari sifat arbitrer; aspek afektif adalah pemenuhan apa yang telah diprestruktur oleh bahasa yang digunakan oleh teks. Semua deskripsi mengenai interaksi diantara keduanya harus memasukkan baik efek (dari teks) maupun respon dari pembaca. Dengan demikian jelas bahwa makna teks sastra bukan merupakan entitas yang dapat
29 ditetapkan dan didefinisikan secara tunggal tetapi merupakan kejadian yang dinamis dan memiliki banyak wajah (Iser, 1978: 22).
Teks fiksional terdiri atas objek miliknya sendiri dan tidak mengkopi sesuatu yang telah ada, yakni sesuatu di luar teks. Karena alasan ini mereka tidak memiliki kepastian total dari objek riilnya dan elemen ketidakpastian (indetermination) ini yang membuat teks mampu berkomunikasi dengan pembacanya karena berarti teks-teks ini membujuk pembaca untuk berpartisipasi dalam pemahaman dan pemaknaan sebuah karya. Indeterminasi yang ada dalam sebuah teks menciptakan spektrum aktualisasi tidak terbatas yang artinya aktualisasi teks bersifat tidak tunggal (Iser, 1978: 24). Spektrum aktualisasi ini akan menciptakan makna yang beragam dan jenis pembaca yang bermacam-macam pula. Ketika kita sepakat bahwa spektrum aktualisasi teks sangat luas tidak terbatas maka yang terjadi adalah pemaknaan teks tidak mungkin tunggal. Hal ini dimungkinkan karena teks sastra menginisiasi bagaimana sebuah makna ditampilkan dan diwujudkan dan bukan memformulasikan makna tersebut. Mengutip Northrop Frye, Iser mengatakan bahwa buku bagai sebuah perjalanan yang memungkinkan terciptanya berbagai kategori pembaca sebagai penikmat (dalam Iser 1978: 27). Dengan adanya berbagai kategori pembaca ini maka untuk pembaca yang mana sebuah teks ditulis akan memunculkan persoalan tersendiri.
Nilai estetik terbentuk secara virtual saat pembaca mengaktifkan semua simpanan pengetahuan dan pengalaman (repertoire) yang dimilikinya dengan bantuan struktur teks. Struktur dan inditerminasi teks berinteraksi dengan repertoire pembaca dan memberi stimulan bagi si pembaca untuk menciptakan
30 respon. Spektrum aktualisasi menjadi tidak terbatas sebagai hasil dari benturan (convergence) antara repertoire pembaca dengan ketidak pastian dalam teks.
1.5.2 Status Ganda Penerjemah: sebagai real reader dan real translator
Sebuah karya sastra dalam pandangan Iser memiliki real author dan real reader. Dalam konteks penerjemahan, saat menerjemahkan sebuah karya sastra, saat itu penerjemah berada dalam posisi real reader dan real translator. Penerjemah sampai batas tertentu dianggap sebagai seorang pengarang karena dia mengkreasi ulang teks sumber sehingga dapat dikonsumsi oleh para pembaca teks sasaran. O’Sullivan (2005: 89) menyatakan bahwa penerjemah adalah orang yang mengkreasi teks sasaran menjadi sedemikian rupa sehingga teks sasaran dapat diterima/dipahami oleh pembaca yang benar-benar berbeda dari pembaca kultur sumber, pembaca baru ini adalah kelompok pembaca teks sasaran. Dalam posisi ini, penerjemah berhadapan dengan bahasa, konvensi, kode-kode dan referensi yang dimiliki oleh pembaca teks sasaran yang berbeda dari yang dimiliki oleh pembaca teks kultur sumber.
Dari teks sasaran sebenarnya terlihat bahwa penerjemah tidak menghasilkan pesan yang benar-benar baru karena dia menangkap, berkomunikasi, memproses ulang dan mentransmisikan pesan dari teks sumber untuk pembaca baru yang menerima pesan-pesan itu melalui teks hasil terjemahan (Schiavi, 1996 dalam O’Sullivan, 2005). Dengan menginterpretasikan teks sumber, dengan mengikuti norma-norma tertentu, dan dengan mengadopsi strategi dan metode khusus, menurut Schiavi, seorang penerjemah membangun hubungan
31 baru antara teks terjemahan dengan grup pembaca yang baru yakni pembaca teks sasaran.
Saat menerjemahkan, penerjemah berpikir tentang pembacanya sendiri yakni pembaca dari kultur sasaran. Sampai taraf tertentu pembaca teks sumber dan teks sasaran mungkin sama. Usia dan kompetensi berbahasa pembaca teks sumber atas bahasa sumber serta usia dan kompetentsi berbahasa pembaca teks sasaran adalah contoh hal yang mungkin sama, tetapi mereka tidaklah identik satu sama lain (O’Sullivan, 2005: 90). Pembaca teks terjemahan akan selalu menjadi entitas yang berbeda dari pembaca teks sumber.
Membaca teks sastra melibatkan kesadaran spontan pembaca dan karena teks memberikan atau menciptakan potensi makna bagi para pembacanya maka hubungan teks dan pembaca menjadi krusial. Sejarah respon pembaca sastra menunjukkan bahwa potensi makna berada pada suatu spektrum aktualisasi yang tidak terbatas (Iser, 1978: 24) dimana potensi ini diisi dan dimaknai dengan cara yang sangat beragam. Jadi tidak mungkin seorang pembaca dapat mencakup seluruh kemungkinan potensi makna dalam sekali baca (Iser, 1978: 29). Dalam usaha kita untuk menjelaskan struktur intersubjektif proses yang dilalui teks sumber yang ditransfer dan diterjemahkan, maka kita dihadapkan pada persoalan pertama, yaitu fakta bahwa keseluruhan teks tidak dapat dipahami dengan sekali baca (Iser, 1978: 108).
Kompleksitas pemahaman pada teks sastra dianggap lebih rumit mengingat teks sastra tidak mengacu secara empiris pada objek yang ada di dunia riil di luar teks sastra. Iser mengingatkan bahwa objek di dalam dan di luar teks
32 sastra tidak identik satu sama lainnya (1978). Seorang penerjemah, dengan demikian, harus siap menghadapi objek dalam dunia teks sastra yang merupakan sebuah entitas tersendiri dengan potensi makna yang spesifik. Di dalam diri seorang penerjemah, dapat dikatakan, terdapat seseorang dengan dua peran sekaligus yaitu sebagai real reader dan real translator teks sumber.
1.5.3 Penerjemah dalam Teks Sastra Anak
Di bawah kerangka teori respon estetik Iser, Real Author (RA) adalah orang yang menciptakan teks dan melakukan pekerjaannya di bawah kutub artistik (1978, 21) yang merupakan akumulasi unsur-unsur yang dimiliki penulis, yaitu: kemampuan tehnis dalam menciptakan struktur teks, ketrampilan berimajinasi, dan kemampuannya menciptakan seorang imej pembaca. Iser mengikuti pemikiran Booth (1963 dalam Iser halaman 37) menyatakan bahwa saat menciptakan teks beserta strukturnya, seorang RA menciptakan imej dirinya sebagai seorang pengarang dan imej lain yaitu imej seorang pembaca. Real author menyesuaikan struktur dengan imej pembaca tersebut sehingga struktur teks dapat mengundang dan diantisipasi oleh pembacanya (Real Reader). Situasi seperti ini menjadikan struktur teks fiksi berperan penting karena RR dapat berinteraksi dengan teks dan memberi ruang bagi RR untuk melakukan partisipasi dan realisasi. Partisipasi dan realisasi yang dilakukan oleh pembaca ini membuahkan efek dan menciptakan pemaknaan di benak pembaca. Struktur teks menuntun pembaca dalam tindak pemahaman (Iser, 1978: 24) dan tindak pemaknaan.
33 Dalam konteks sastra anak para pembaca teks sastra anak adalah pembaca anak-anak. Bila merujuk pada konsep Iser, maka dalam konteks sastra anak konstruksi teks sastra anak merupakan hasil dari kerja artistik seorang pengarang dalam meramu ketrampilan tehnis, kemampuan imajinatif, dan kemampuan menciptakan imej pembaca anak-anak. Struktur teks yang diciptakan oleh seorang pengarang teks sastra anak merupakan hasil konstruksi yang melibatkan kebaradaan imej pembaca anak-anak ini. Mekanisme ini dapat dilihat secara ulang alik (shuttle).
Teks sastra anak dalam konsep Venuti (2001) merupakan teks yang unik karena dia tidak dibaca oleh anak-anak saja tetapi, teks-teks tersebut juga dibaca oleh orang dewasa yaitu orang tua, guru sekolah, dan pustakawan. Tiga kelompok pembaca sastra anak yang telah berusia dewasa ini biasanya membacakan cerita-cerita tersebut pada pembaca anak-anak. Kelompok ini pula yang memutuskan boleh dan tidaknya sebuah bacaan anak dibaca oleh anak-anak. Kelompok pembaca anak-anak maupun kelompok pembaca dewasa sama-sama melakukan tindak pembacaan. Tindak pembacaan yang dimaksudkan disini tidak hanya sebatas menikmati dan memberi makna tetapi juga membuat seleksi-seleksi untuk dijadikan dasar membuat keputusan apakah suatu karya sastra anak sesuai untuk dibaca oleh pembaca anak-anak dan sesuai dengan nilai moral yang berlaku saat itu. Kondisi dimana karya sastra anak tidak hanya dibaca oleh pembaca anak tetapi juga dibaca oleh pembaca dewasa oleh Venuti (2001) dikatakan bahwa sastra anak memiliki pembaca ganda (double addressee). Para pembaca ini
34 merupakan real reader teks sastra anak yaitu entitas pembaca dengan darah dan daging (flesh-and-blood reader).
Dalam perjalanannya sebuah teks sastra dapat juga dibaca oleh seorang kritikus, peneliti, atau seorang penerjemah yang berarti mereka merupakan pembaca majemuk teks sastra. Kelompok pembaca ini sering kali tidak diperhitungkan keberadaannya, tetapi mereka adalah pembaca yang melakukan tindak pembacaan, penikmatan, pemahaman, pemaknaan, pengevaluasian, penyeleksian, dan penerjemahan (bagi seorang enerjemah). Kelompok ini bisa dimasukkan kedalam golongan RR karya sastra anak karena kenyataannya mereka melakukan tindak pembacaan dan berinteraksi dengan suatu teks. Kenyataan ini yang menurut Venuti (2001) membuat teks sastra anak menciptakan pembaca majemuk (multiple addressee) (lihat diagram 1 di bawah).
Real reader teks sumber berkembang menjadi lebih dari satu karena RR teks sastra anak tidak hanya berwujud seorang pembaca anak-anak. Dengan adanya pembaca majemuk ini maka struktur teks sastra anak akan mencerminkan siapa si pembaca majemuknya. Seluruh kelompok RR sastra anak tersebut berhadapan dengan pengalaman melakukan tindak pemaknaan terhadap teks yang dibacanya, dengan kata lain mereka merespon sebuah buku secara estetik. Iser menyebut ini sebagai sebuah estetik karena “…… initially it is aesthetic, because it brings into the world something that did not exist before” 7 (1978: 22).
7 “ …… awalnya disebut estetik, karena dia menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.” (terjemahan dari peneliti).
35 Diagram 1: Pembaca Majemuk Sastra Anak dan Posisi Penerjemah
Dari diagram di atas dapat dilihat bahwa para RR buku sastra anak melakukan tindak pembacaan dibawah kutub estetik sehingga melalui konstruksi struktur teks mereka mampu berpartisipasi, membuat realisasi-realisasi, dan menciptakan konkretisasi. Dari tindakan ini struktur teks mempengaruhi pembaca melalui interaksi yang terjadi antara pembaca dan teks yang pada akhirnya bermuara pada mewujudnya nilai estetik suatu teks. Hal ini sesuai dengan pendapat Iser: “ …… aesthetic value is like the wind, we know its existence through its effects” (1978: 70). Sebagai salah satu dari RR teks sastra anak, seorang penerjemah tidak hanya melakukan tindak pembacaan (kutub estetik) tetapi juga melakukan tindakan dalam kutub artistik karena tujuan tindak pembacaannya tidak tunggal. Saat membaca dia juga melakukan tindakan lain
Real Author Teks Sumber --- kutub artistik
Teks Sastra Anak
Struktur teks
Real readers
(multiple addressee) ---- kutub estetik Pembaca anak-anak Orang tua Guru Pustakawan Peneliti/ kritikus Penerjemah
36 yaitu mentransformasi teks ciptaan Real Author (RA) menjadi teks baru agar dapat dibaca oleh RR yang berbeda dengan RR buku teks sang RA Teks Sumber. Maka di saat yang sama di dalam diri seorang penerjemah terdapat dua entitas yang berbeda yang menyelesaikan tugasnya berdasarkan masing-masing entitas tersebut. Entitas pertama adalah penerjemah sebagai RR dan entitas kedua dia sebagai Real Translator (RT).
Proses transformasi yang dilakukan oleh seorang penerjemah secara empiris kontekstual membawanya untuk berperan sebagai pembaca sekaligus seorang pengarang walaupun perannya berbeda secara signifikan dengan RA teks pertama atau teks sumber karena dalam situasi seperti ini penerjemah tidak menciptakan teks yang benar-benar baru. Ada banyak unsur dalam teks sumber yang harus dipertahankan oleh penerjemah agar tidak mengurangi nilai artistik yang telah diciptakan secara sadar dengan intensi spesifik oleh RA teks sumber. Sampai batas tertentu, seorang penerjemah harus patuh pada pesan, isi, struktur, dan motif atau ideologi dalam teks sumber dan di saat yang sama dia harus melakuan penyesuaian, adapatsi, perubahan-perubahan sebagaimana seharusnya dilakukan oleh seorang penerjemah. Untuk menentukan sejauh mana kemerdekaan seorang penerjemah dan sampai sejauh mana dan diwilayah mana saja dia harus patuh, skala prioritas dalam penerjemahan yang dikemukakan oleh Nida dan Taber(1982) dapat dijadikan pedoman (penejelasan rinci mengenai hal ini terdapat di poin 1.6 di bawah).
Hasil dari tindak transformasi dan terjemahan yang dilakukan oleh penerjemah atas teks sumber menjadikan teks sasaran memiliki struktur baru.
37 Dengan adanya struktur yang telah mengalami transformasi ini maka struktur teks sasaran mungkin tidak benar-benar sama dengan struktur teks sumber. Ada beberapa unsur dalam struktur teks yang berubah sesuai kaidah dan aturan baku yang digunakan dalam proses transformasi dan terjemahan. Struktur baru hasil dari tindak transformasi dan terjemahan menurut konsep Iser akan menciptakan RR baru yang tidak sama dengan RR teks sumber. Real reader teks sasaran dengan sendirinya berbeda secara signifikan dengan kelompok RR teks sumber. Kelompok RR teks sasaran ini mewujud karena struktur teks sumber telah mengalami proses terjemahan.
Pada tahap awal, dalam skema ini seorang penerjemah bertindak sebagai RR teks sumber. Pada tahap berikutnya saat melakukan tindak terjemahan, seorang penerjemah juga bertindak sebagai RT yang memposisikannya sebagai seorang RR dan RA yang tentu berbeda dengan RA teks sumber. Penggunaan kata kunci “real author” mengindikasikan keberadaan penerjemah yang setara dengan RA teks sumber, yaitu sebagai penulis sesungguhnya dari sebuah teks.
Sampai pada tahap ini fungsi penerjemah adalah sebagai RT yang juga berarti dia bertindak sebagai RR dan RA teks sasaran. Dua tindak yang terakhir menempatkan seorang penerjemah dalam dua kutub sekaligus, sebagai RR dia berada dalam kutub estetik sedangkan sebagai RA teks sasaran dia berada dalam kutub artistik (diagram 4). Mengacu pada konsep Iser tentang respon estetik, maka penerjemah buku-buku cerita bergambar berada pada kutub artistik karena dia adalah pengarang teks sasaran dan sekaligus berada pada kutub estetik karena dia adalah pembaca teks sumber. Artinya, penerjemah tidak secara absolut sebagai
38 konsumen tapi dia adalah produsen teks dan sekaligus menjadi agen dari perubahan, penyesuaian, dan adaptasi selama proses transformasi berlangsung. Implikasi keberadaan penerjemah dalam kutub artistik teks sasaran membuat teks sasaran mewujud dan mengakibatkan struktur teks dapat digunakan sebagai petunjuk untuk mengidentifikasi keberadaan, kepentingan, tanggung jawab, dan respon penerjemah. Mewujudnya teks sasaran merupakan konsekuensi logis keberadaan RT saat berada dalam kutub artistik.
39 Diagram 2: Kutub Artistik dan Kutub Estetik Penerjemah
Real Author
Teks sumber
Struktur teks
Real Reader PENERJEMAH Real Translator = Real Author Teks Sasaran
Teks Sasaran Struktur Teks Real Reader Pembaca anak-anak Orang tua Guru Pustakawan Peneliti/ kritikus Penerjemah Proses terjemahan
Pembaca anak-anak TSa Orang tua TSa
Guru TSa Pustakawan TSa Peneliti/ kritikus TSa Kutub estetik (konsumen) Kutub artistik (produsen)
40 1.5.4 Repertoire dalam pandangan Wolfgang Iser
Seluruh konvensi untuk menetapkan sebuah situasi disebut sebagai repertoire oleh Iser (1978: 69). Aspek-aspek dalam teks sastra yang merujuk ke karya terdahulu, aspek yang merujuk ke norma sosio-historis, dan aspek yang merujuk ke keseluruhan kultur dimana sebuah teks dilahirkan juga termasuk dalam repertoire. Repertoire menawarkan informasi mengenai suatu sistem kultural yang berlaku dalam masyarakat (halaman 76). Repertoire yang digunakan oleh RA teks sumber tidak sama dengan repertoire yang digunakan oleh penerjemah karena mereka berasal dari dua kultur berbeda dan menjalankan proses pekerjaan yang berbeda pula.
Repertoire seorang real author (RA) adalah semua konvensi dan aspek yang, oleh Jan Mukarovsky, seorang strukturalis dari Praha, disebut sebagai elemen ekstratekstual teks (Iser, 1978: 60). Seorang RA menciptakan teksnya dipandu oleh karya-karya teks sastra terdahulu apakah itu teks sastra dewasa ataupun teks sastra anak selain simpanan pengetahuan, informasi, pengalaman, memori, dan harapan-harapan yang dimilikinya. Real Author teks sastra berhadapan dengan sebuah situasi dimana dia harus menerjemahkan dunia nyata ke dalam dunia tidak nyata teks sastra. Bahasa yang digunakan dalam teks sastra adalah bahasa fiksional yang telah melalui proses modifikasi, manipulasi, dan penyesuaian-penyesuaian sebagaimana diinginkan RA. Simbol-simbol dalam bahasa fiksional memang tidak merepresentasi dunia riil di luar teks sastra tetapi menjalankan fungsinya untuk menjadi saluran pemikiran, harapan, pesan, ideologi, dan kepentingan seorang RA. Simbol-simbol bahasa fiksional menjadi
41 kepanjangan tangan repertoire RA yang secara artistik diramunya serta mengejawantah dalam konstruksi sebuah teks. Situasi ini juga berlaku atas proses penciptaan teks sastra anak.
Konsep respon estetik yang dikemukakan oleh Iser diciptakannya dengan cara menganalisis dan membedah karya sastra berbentuk prosa untuk pembaca dewasa namun demikian bila berbicara mengenai relasi antara repertoire, RA, dan konstruksi teks sastra maka konsep Iser berlaku untuk konstruksi teks sastra dewasa maupun teks sastra anak. Pada pembahasan tentang terciptanya multiple readers teks sastra anak disebutkan bahwa salah satu real readers teks hasil kreasi RA adalah seorang penerjemah.
Saat berbicara tentang penerjemah di tataran teks sasaran, maka posisi penerjemah adalah sebagai real reader, real translator, dan sebagai real author’. Pada tataran teks sasaran, repertoire yang memandu penerjemah saat berfungsi sebagai real author’ adalah teks sumber dan repertoire milik penerjemah sendiri. Dua repertoire berbeda yang digunakan oleh RA TSu dan RT TSa dapat digunakan untuk mengkaji perbedaan antaraa TSu dan TSa.
Keberadaan RA dalam teks sumber dan keberadaan RT dalam teks sasaran merupakan hasil dari proses yang berbeda. Real author menciptakan teks sumber menggunakan ketrampilan kreatif dan imajinasinya secara bebas berdasarkan repertoire yang dimilikinya, sedangkan RT menciptakan teks sasaran tidak sepenuhnya menggunakan ketrampilan kreatifnya melainkan menggunakan ketrampilan dan pengalamannya dalam menerjemahkan serta menggunakan teks sumber sebagai repertoirnya. Pekerjaan RA dan RT berbeda secara signifikan.
42 Real author bekerja secara artistik imajinatif sedangkan RT bekerja secara estetik artistik mekanis.
43 Diagram 3: Posisi Penerjemah (Real Translator)
x
Real Author Real translator = Real Reader
TEKS SUMBER TEKS SASARAN
Teks verbal teks visual teks verbal teks visual
Struktur teks sumber struktur teks sasaran
proses penerjemahan
Real reader: Anak TSa Orang tua TSa
Guru TSa Pustakawan TSa
REPERTOIR
R E S P O N
Real reader: Anak Orang tua Guru Pustakawan Kutub artistik (produsen) Kutub estetik (konsumen)44 1.6 Teori Terjemahan
Newmark (1984: 5) memberi definisi penerjemahan sebagai “rendering the meaning of a text into another language in the way that the author intended the text”. Definisi tersebut berarti penerjemahan merupakan penyampaian makna dari suatu teks BSu ke BSa sesuai dengan yang dimaksudkan oleh penulis atau pengarang teks aslinya. Menerjemahkan merupakan proses pengalihan pesan dari suatu bahasa ke bahasa lain yakni Bahasa Sumber (BSu) ke Bahasa Sasaran (BSa). Ada sejumlah pertimbangan yang menyertai usaha pemindahan pesan tersebut, terutama menyangkut keutuhan pesan yang dihasilkan dalam produk terjemahan. Nida dan Taber (1982:12) menyatakan bahwa: “Translating consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style.” Definisi tersebut menyiratkan bahwa kegiatan penting dalam menerjemahkan adalah mengalihkan pesan dari BSu ke BSa. Definisi tersebut di atas memberi pemahaman bahwa penerjemahan merupakan upaya mencari kesepadanan makna antara TSu dan TSa. Nida dan Taber menyebut kesepadanan makna ini sebagai dynamic equivalent.
Quality of a translation in which the message of the original text has been so transported into the receptor language that the response of the receptor is essentially like that of the original receptors. Frequently, the form of the original text is changed; but as long as the change follows the rules of back transformation in the source language, of contextual consistency in the transfer, and of transformation in the receptor language, the message is preserved and the translation is faithful (Nida dan Taber,1982: 200).