21 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif, merupakan suatu penelitian guna mendiskripsikan dan menganalisa suatu peristiwa, aktivitas sosial, serta pemikiran manusia secara individu atau kelompok. Data yang dikumpulkan melalui pengamatan dengan cakupan deskripsi terhadap konteks secara rinci yang menyertakan laporan hasil wawancara mendalam, serta analisa dokumen. Tujuan utama penelitian kualitatif adalah menggambarkan dan mengungkapkan (to describe and explore), selanjutnya menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain) (Machmud, 2018).
Penelitian kualitatif memuat data deskriptif yang biasanya berbentuk kata-kata, gambar, maupun rekaman. Penelitian kualitatif memiliki kriteria yaitu data yang pasti, yaitu data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya, bukan hanya terlihat atau terucap namun data itu mengandung makna tertentu di baliknya. Misalnya adalah data orang yang memejamkan mata, harus dipastikan bahwa orang tersebut terpejam karena tidur atau sedang ketakutan.
Hakekat penelitian kualitatif yaitu mengamati objek (responden) secara langsung terhadap kegiatan yang mereka lakukan, berinteraksi dan melakukan investigasi secara menempel supaya bisa mengetahui lingkungan kehidupannya. Maka teknik observasi yang digunakan pada penelitian ini bersifat partisipasi dan wawancara mendalam. Pendekatan ini menekankan pada bahasa atau linguistik sebagai sarana penelitiannya.
3.2 Tipe dan Dasar Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan adalah deskriptif, yaitu jenis penelitian yang menjabarkan semua data atau keadaan subjek maupun objek penelitian berupa individu, lembaga, masyarakat, dan lainnya kemudian dianalisis dan dibandingkan berdasarkan kejadian yang sedang berlangsung lalu mencoba untuk memberikan pemecahan masalahnya. Selain itu, penelitian ini
22
mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, menyangkut tata cara, situasi, hubungan, sikap, perilaku, cara pandang dan pengaruh-pengaruh dalam suatu kelompok masyarakat (Widi, 2018).
Tujuan penelitian deskriptif yaitu untuk membuat deskripsi, gambaran secara sistematis, faktual dan akurat terkait data di lapangan, sifat-sifat dan hubungan antar fenomena yang diselidiki. Sedangkan, ciri-ciri penelitian deskriptif adalah menggambarkan secara kualitatif fakta, data, atau objek material berupa ungkapan bahasa atau wacana melalui interpretasi yang sistematis.
Jadi, penelitian deskriptif menurut penulis yaitu penelitian ini dimaksudkan untuk pemecahan masalah yang terjadi pada masa sekarang secara aktual, serta mendeskripsikan situasi secara tepat dan akurat.
Sedangkan, dasar penelitian yang digunakan adalah kebijakan redaksional. Kebijakan redaksional atau ‘newsroom-study’ merupakan dasar pertimbangan atau standar baku perusahaan media massa untuk menyebarluaskan atau menyiarkan berita. Kebijakan redaksi bisa diketahui pada sikap redaksi perusahaan media massa melalui tajuk rencana dan editorial. Pentingnya kebijakan redaksi guna menyikapi suatu fenomena tertentu merupakan bagian dari kekhasan perusahaan media dalam memandang dunia pemberitaan (Tebba, 2005).
Kebijakan redaksional tiap perusahaan media massa selalu berbeda, sebab menjadi pedoman untuk melaksanakan strategi perusahaan media serta tujuan-tujuan yang ingin dicapai media itu sendiri. Selain itu, kebijakan redaksional memiliki fungsi sebagai ciri khas suatu agar lebih dikenal khalayak dengan suatu pembeda yang unik daripada media lainnya. Sehingga, pekerja media harus menaati kebijakan redaksional di perusahaan media massa supaya kinerja dan hasil karyanya bisa selaras dan memiliki tujuan atau keluaran yang sama dengan yang diharapkan oleh peraturan tersebut.
Kebijakan redaksional menjadi pedoman penting dalam menjalankan kelangsungan hidup perusahaan media massa. Salah satunya, kebijakan
23
redaksional merupakan ciri khas atau pembeda dengan perusahaan media lainnya.
3.3 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan secara langsung turun lapangan di kantor redaksi GNFI di Jl. Ketintang Madya III No. 45, Karah, Jambangan, Kota Surabaya, Jawa Timur.
Sedangkan waktu penelitian dilakukan selama satu minggu pada minggu pertama bulan Februari 2020, mulai hari Senin hingga Sabtu, dengan tiga pembagian turun lapang mulai hari Senin dan Selasa pada (tanggal 3,4) mengikuti rapat keredaksian, Rabu dan Kamis (tanggal 5,6) mengikuti proses kerja di redaksi sekaligus liputan turun lapang, dan Jum’at dan Sabtu (tanggal 7,8) membuat laporan penelitian.
3.4 Subjek Penelitian
Teknik yang digunakan untuk menentukan penarikan subjek penelitian atau informan adalah Purposive Sampling Technique yaitu menentukan sejumlah subjek atau informan sebelum penelitian dilaksanakan, dengan cara menyebutkan secara jelas kriteria-kriteria yang dijadikan dasar untuk penetapan subjek atau informan yang akan diteliti (Machmud, 2018).
Purposive Sampling Technique merupakan salah satu teknik non random sampling yang digunakan peneliti untuk menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri atau kriteria khusus sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan bisa menjawab permasalahan penelitian.
Jadi, peneliti akan menetapkan subjek penelitian dengan jajaran redaksi dengan kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Pekerja media tetap di GNFI
2. Pernah mengikuti rapat evaluasi kebijakan redaksional GNFI 3. Mengetahui proses kebijakan redaksional GNFI
24
4. Termasuk dalam unsur pimpinan yang memiliki wewenang dan terlibat dalam pengambilan kebijakan redaksional di GNFI
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan: 3.5.1 Observasi
Observasi merupakan kegiatan yang melibatkan seluruh kekuatan indera baik penglihatan, pendengaran, perasa, dan peraba berdasarakan pada fakta-fakta empirik. Observasi merupakan cara yang efektif untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh orang dalam suatu peristiwa tertentu, pola rutinitas serta pola interaksi mereka sehari-hari (Anggito & Setiawan, 2018).
Terdapa tiga macam observasi yang bisa digunakan pada penelitian kualitatif, antara lain: 1) Observasi Partisipan, merupakan pengamatan dan terjun langsung dimana peneliti benar-benar terlibat di keseharian subjek penelitian atau informan. 2) Observasi Tidak Terstruktur, merupakan observasi yang dilakukan secara mandiri maksudnya proses pengamatan tergantung pada kemampuan peneliti dalam mengembangkan daya kritisnya terhadap suatu objek. 3) Observasi Kelompok, merupakan pengamatan yang dilakukan secara berkelompok dengan menyertakan beberapa objek sekaligus (Bungin, 2007).
Peneliti memilih observasi partisipan dengan cara terjun langsung ke lapangan dengan mengamati dan berinteraksi secara sosial dengan subjek penelitian, dilakukan dengan melihat, mengamati, serta menelisik secara teliti bagaimana proses kerja di dapur redaksi dan mengikuti rapat redaksi atau proyeksi.
Jadi, peneliti dapat digolongkan ke dalam partisipasi aktif, maksudnya peneliti datang secara fisik di tempat kegiatan objek penelitian yang akan diamati serta ikut melakukan apa yang dilakukan
25
oleh narasumber seperti mengikuti rapat keredaksian, dan mengikuti proses kerja di redaksi sekaligus liputan turun lapang. Peneliti turut melaksanakan proses kerja di redaksi sehari-hari dalam kurun waktu tertentu, namun tidak sampai tahap natural seperti partisipasi lengkap hingga mencapai keadaan yang natural yaitu tidak merasakan hadirnya peneliti atau melebur sepenuhnya.
Data yang diperoleh dari observasi partisipan biasanya lebih lengkap, sebab peneliti ikut merasakan apa yang terjadi di lapangan sebagai kenyataan. Selain itu, peneliti juga turut mengamati sejumlah aktivitas meliputi partisipasi, dokumentasi, wawancara informal serta refleksi, maka peneliti harus bisa menyeimbangkan keterlibatannya saat observasi berlangsung.
3.5.2 Wawancara
Wawancara adalah percakapan antar peneliti (seseorang yang berharap mendapatkan informan) dan informan (seseorang yang diasumsikan mempunyai informasi penting tentang suatu objek) (Berger, 2000). Informan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah informan utama dan informan tambahan.
Wawancara sebagai proses percakapan yang dilakukan antara penanya dan penjawab dengan maksud atau tujuan tertentu yang menggunakan pedoman atau daftar pertanyaan secara tatap muka atau menggunakan alat komunikasi teetentu. Sehingga, tujuan wawancara yaitu umtuk mengungkapkan suatu permasalahan yang menjadi fokus peneliti untuk memperoleh sebuah informasi tertentu.
Hasil wawancara dengan informan tersebut akan menjadi sumber data yang sah karena dilakukan secara langsung dengan informan serta mengikutsertakan Voice Record atau rekaman suara dan dokumentasi berupa foto atau video saat wawancara berlangsung sehingga bisa dipertanggungjawabkan.
26
Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu wawancara semiterstruktur (semistructure interview), jenis wawancara ini termasuk ke dalam kategori in-depth interview. Wawancara terstruktur bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak narasumber memberikan informasi, pendapat, beserta ide-idenya. Jadi, pewawancara menuntun narasumber untuk menjawab pertanyaan, bukan mendikte selama proses wawancara berlangsung. Pewawancara bisa mengulik permasalahan baru dan terasa lebih luwes ketika sedang melakukan wawancara, namun tetap berada pada pedoman wawancara (guideline interview) terkait pertanyaan terbukanya yang mencakup tema dan alur pembicaraan yang jelas (Edi, 2016).
3.5.3 Dokumentasi
Dokumen merupakan kumpulan dari bahan tertulis yang berbeda dari catatan, berupa data yang hendak ditulis, diamati, maupun disimpan dalam penelitian. Dokumen ini tidak dipersiapkan oleh peneliti, namun diperoleh dari subjek penelitian atau informan karena permintaan peneliti yang rinci mencakup kebutuhan data yang diteliti dan mudah diakses. Maksud dari dokumen itu sendiri mencakup materi berupa catatan harian, foto, memo, film, surat, video, dan bahan penunjang lainnya yang bisa dijadikan sebagai informasi tambahan sebagai bagian dari studi kasus yang sumber data utamanya yaitu observasi atau wawancara partisipan (Anggito dan Setiawan, 2018).
Dokumentasi dilakukan dengan cara menggunakan bukti yang akurat dari pencatatan sumber-sumber informasi seperti materi tambahan yang telah disebutkan di atas dengan menggunakan metode selain wawancara dan observasi. Dokumentasi berfungsi sebagai jaminan keutuhan informasi yang dimuat dalam dokumen, memberikan informasi terkait isi dokumen bagi peneliti yang membutuhkan, serta sebagai alat bukti dan data yang akurat terkait keterangan dokumen.
27 3.6 Teknik Analisis Data
Analisis adalah proses bagaimana data diatur, mengorganisasikan apa yang ada ke dalam sebuah pola, kategori, serta unit deskripsi dasar (Patton, 2009).
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data model interaktif dari Miles dan Huberman (1984) yaitu kondensasi data yang menggambarkan bahwa aktivitas pada analisis data kualitatif melalui proses mencari dan disusun secara sistematis data yang didapatkan dari hasil wawancara, catatan lapangan melalui observasi, dan dokumentasi dengan mengorganisasikan data ke dalam bentuk kategori, kemudian dilakukan perincian ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, disusun menjadi pola dan memutuskan data guna dipelajari untuk membuat suatu kesimpulan, aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh.
Secara teknis alur analisis model interaktif dari Miles dan Huberman (1984) dapat dijabarkan sebagai berikut:
3.6.1 Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi dijadikan satu ke dalam catatan lapangan yang terbagi menjadi bagian deskriptif dan bagian reflektif. Pertama, catatan deskriptif adalah catatan alami sesuai pengamatan dengan penginderaan yang dialami sendiri oleh peneliti secara objektif tanpa pendapat tambahan. Kedua, catatan reflektif merupakan catatan berupa pendapat dan komentar peneliti terkait temuan yang diperoleh sebagai bahan rencana untuk pengumpulan data selanjutnya (Machmud, 2018).
3.6.2 Kondensasi Data
Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya membuat kondensasi data yang berfungsi untuk menyeleksi data yang sesuai dan bermakna, peneliti harus memfokuskan data untuk memecahkan suatu masalah beserta maknanya sebagai jawaban dari pertanyaan penelitian. Lalu,
28
disederhanakan dan disusun secara sistematis guna menggambarkan hal penting tentang suatu masalah beserta maknanya.
Hakekat dari kondensasi data adalah merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal yang penting, mencari tema dan polanya serta membuang data yang tidak perlu. Setelah dikondensasi, data akan memberikan gambaran yang jelas serta mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya.
3.6.3 Penyajian Data atau Analisis Data Setelah Pengumpulan Data Mengingat bahwa peneliti kualitatif banyak menyusun teks naratif, tahap penyajian data mengharuskan peneliti harus sering terlibat dalam penampilan (display) dari data yang telah dikumpulkan serta dianalisis sebelumnya. Display merupakan format yang menyajikan informasi secara tematik kepada pembaca.
Penyajian data pada penelitian kualitatif antara lain seperti uraian singkat, hubungan antar kategori, gambar, diagram, bagan, kurva, tabel, dan lain-lain. Tujuan penyajian data adalah menggabungkan data-data untuk menggambarkan fenomena yang terjadi.
3.6.4 Penarikan Kesimpulan
Mulai awal penelitian, peneliti berusaha membuat kesimpulan-kesimpulan awal dari makna data yang terkumpul. Peneliti diharuskan memiliki inisiatif untuk mencari pola, hubungan, hal-hal yang sering timbul, dan lain-lain. Kesimpulan awal peneliti masih bersifat sementara, seiring adanya temuan-temuan maka bisa berubah karena adanya bukti kuat guna mendukung pengumpulan data berikutnya. Jika, kesimpulan sudah didukung dengan bukti-bukti yang konsisten dan akurat ketika peneliti meninjau lapangan kembali pada proses pengumpulan data, jadi kesimpulan yang ditunjukkan harus kredibel atau dapat dipercaya. Metode untuk menilai kualitas suatu data dapat diketahui melalui pengecekan terhadap keterwakilan data, pengaruh peneliti terhadap data, triangulasi, pembobotan bukti dari sumber data yang terpercaya, membuat perbandingan, dan menggunakan kasus
29
ekstrim dengan merealisasikannya melalui pemaknaan data negatif (Machmud, 2018).
Jadi, dalam penelitian di lapangan pasti ditemukan kesimpulan-kesimpulan yang bersifat sementara seiring berjalannya waktu dan temuan-temuan data di lapangan. Aktivitas ini secara terus-menerus berlangsung hingga waktu penelitian selesai lalu menyimpulkan data yang sebenar-benarnya sesuai keadaan yang terjadi. Setelah data-data dirasa cukup dan sesuai, maka dirumuskanlah kesimpulan akhir yang memiliki data yang lengkap dan kredibel.
3.7 Uji Keabsahan Data
Keabsahan data adalah patokan kebenaran suatu data hasil penelitian yang difokuskan pada data atau informasi yang valid. Uji keabsahan data sebenarnya lebih menekankan pada uji validitas dan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif. Dalam penelitian kualitatif, data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti (Fitrah dan Luthfiyah, 2017).
Dalam teknik pemeriksaan keabsahan data ini peneliti menggunakan Triangulasi. Triangulasi merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data yang menggunakan sesuatu di luar data itu sendiri sebagai keperluan pengecekan maupun pembanding terhadap data tersebut. Artinya pengujian kredibilitas ini sebagai data dari berbagai sumber yang memiliki banyak cara serta waktu. Oleh karena itu, uji keabsahan data triangulasi diantaranya triangulasi sumber data, metode, antar-peneliti, dan teori.
Peneliti memilih triangulasi sumber data, menunjuk pada upaya peneliti supaya bisa mengakses sumber data yang lebih beragam guna memperoleh data sesuai peristiwa yang ditelitinya. Artinya, melakukan pengujian data untuk dibandingka dari satu sumber ke sumber data lainnya. Setelah itu, peneliti akan tiba pada satu kemungkinan: data yang diperoleh konsisten, tidak konsisten, atau berlawanan. Maka peneliti bisa menunjukkan gambaran yang kredibel melalui bermacam perspektif terkait peristiwa yang diteliti.