• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL IGMA. Volume 1, Nomor 2, Maret 2016 ISSN :

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "JURNAL IGMA. Volume 1, Nomor 2, Maret 2016 ISSN :"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

JURNAL ∑IGMA

Volume 1, Nomor 2, Maret 2016

ISSN : 2502-0919

Sufijati Rifai

Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Fisika melalui

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Siswa

Kelas X SMA Negeri 1 Pamekasan 2014/2015

35-40

Suroso

Peningkatan Daya Ingat terhadap Pelajaran Matematika

melalui Penggunaan Media Pembelajaran

41-46

Septi Dariyatul

Aini

dan

Sri

Indriati Hasanah

Hasil Belajar Matematika antara Siswa yang Diajar

Menggunakan Strategi Pemecahan Masalah Model Polya

dengan Strategi Pembelajaran Ekspositori

47-51

Harfin Lanya

Pengaruh Strategi Pembelajaran PQ4R terhadap Hasil Belajar

Matematika pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar

52-56

Ema

Surahmi

Representasi Siswa SMA dalam Memahami Konsep Fungsi

Kuadrat Ditinjau dari Gaya Kognitif (Visualizer – Verbalizer)

57-63

Agus

Subaidi

Self-Efficacy Siswa dalam Pemecahan Masalah Matematika

(2)

35

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR FISIKA MELALUI

MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE SISWA

KELAS X SMA NEGERI 1 PAMEKASAN 2014/2015

Sufijati Rifai

SMA Negeri 1 Pamekasan Email : [email protected] Abstrak :

Sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang mendasari perkembangan teknologi maju, peran Fisika semakin penting dalam kehidupan akan tetapi akibat kemasan pembelajaran yang kurang tepat membuat Fisika terkesan menjadi pelajaran yang sulit di mata siswa. Kesan ini membuat motivasi belajar siswa menjadi rendah. Motivasi yang rendah ini terindikasi dengan aktivitas belajar yang rendah pula. Sebagai akibatnya hasil belajar Fisika juga tidak memuaskan. Didorong untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, model belajar koorperatif tipe think pair share diterapkan. Karakteristik model belajar berpasangan yang mengutamakan berfikir sebagai langkah awal mengumpulkan konsep atas masalah, diteruskan dengan saling bertukar ide secara berpasangan, kemudian berbagi dengan seluruh pasangan di kelas, diharapkan menjadi pemicu terjadinya proses berfikir dan beraktivitas siswa baik dalam rangka memahami materi maupun memperkaya ide-ide tentang topik bahasan.. Selain terjadi tawar menawar ide yang menjadi pengayaan, akan berdampak pada tumbuhnya pemahaman siswa, pada akhirnya akan meningkatkan hasil belajar. Setelah memalui dua siklus pembelajaran dengan model belajar think pair share, hasil analisa data yang dijaring melalui pengamatan menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan aktivitas belajar siswa menjadi cukup baik. Demikian juga hasil analisa data yang dijaring melalui test, diperoleh bukti bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan.

Kata Kunci : Aktivitas, Hasil Belajar Fisika dan Think Pair Share

PENDAHULUAN

Sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam yang mendasari perkembangan teknologi maju, maka peran pelajaran Fisika dalam kehidupan semakin penting sehingga praktis kebutuhan siswa akan penguasaan ilmu Fisika semakin diperlukan. Dari pengalaman dan refleksi dalam pembelajaran Fisika di awal semester 2 di kelas X.IPA.B di SMA Negeri 1 Pamekasan tahun pelajaran 2014/2015 ditemui bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Fisika kurang

aktif, hal tersebut dibuktikan dengan rendahnya kontribusi siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Di samping itu, hasil belajar siswa di kelas tersebut menunjukkan hasil yang tidak memuaskan. Jika hal tersebut dibiarkan tentu siswa yang tidak mampu semakin ketinggalan yang akhirnya akan berdampak pada ketercapaian hasil belajar tidak maksimal. Dari hasil penilaian di awal semester 2 sebelum pelaksanaan penelitian diperoleh hasil belajar siswa seperti pada table 1 berikut ini.

Tabel 1. Hasil belajar siswa

No Kompetensi dasar Rata-rata Ketuntasan

1 2 3

7.1 Menguasai konsep suhu dan kalor 7.2 Mengukur suhu dan kalor 7.3 Menghitung kalor 63,70 61,80 60,50 75 % 67 % 55 % Rata-rata 62,00 65.67 %

Dari kenyataan tersebut, perlu adanya alternatif penyelesaian sedini mungkin sehingga mata pelajaran Fisika terkesan lebih menyenangkan sehingga siswa semakin merasa senang dalam belajarnya. Lebih dari itu, hasil belajar juga jauh dari

yang diharapkan. Untuk mengatasi masalah tersebut, dipilih alternatif pemecahan dalam bentuk pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) yang dikembangkan oleh Kagan dalam (Lie, 2002). Tipe pembelajaran ini mengajarkan siswa untuk lebih mandiri

(3)

dalam mengerjakan soal-soal yang diberikan sehingga dapat membangkitkan rasa percaya diri siswa. Dalam model pembelajaran ini pula,siswa dapat bekerjasama dengan orang lain dalam kelompok kecil yang heterogen. Melalui model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas praktek pembelajaran karena pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan, dan siswa yang kurang mampu terbantu dalam kelompoknya untuk ikut berpikir, berdiskusi dengan siswa yang lebih mampu sehingga dapat menyelesaikan setiap masalah sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih aktif. Berdasarkan uraian latar belakang diatas, permasalahan dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut: 1) Model pembelajaran Koperatif tipe Think Pair Share yang bagaimanakah yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X.IPA.B SMA Negeri 1 Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015?; dan 2) Bagaimana peningkatan hasil belajar siswa kelas X.IPA.B SMA Negeri 1 Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015 setelah mengikuti proses Pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share?

Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini, yaitu untuk mendiskripsikan: 1) model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X.IPA.B SMA Negeri 1 Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015; dan 2) peningkatan hasil belajar siswa kelas X.IPA.B SMA Negeri 1 Pamekasan Tahun Pelajaran 2014/2015 setelah mengikuti proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share.

Dengan karakter yang dimiliki, model pembalajaran tipe Think Pair Share diyakini akan dapat; 1) meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa karena mereka mendapatkan kesempatan untuk berbagi ide melalui proses berbicara berbagai ide-idenya (Pressley 1992), 2) meningkatkan komunikasi personal para siswa yang sangat penting bagi siswa dalam rangka menyiapkan, mengorganisir, dan menguasai ide-ide (Pimm 1987), dan 3) membangun cara belajar siswa sendiri (Cobb et al. 1991). Menurut Sudjana (2004:61) keaktifan para siswa dalam kegiatan belajar mengajar merupakan salah satu krateria yang dapat

digunakan untuk menilai proses belajar mengajar. Keaktifan tersebut dapat dilihat dalam hal: a).turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, b).terlibat dalam pemecahan masalah, c). bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi, d) berusaha mencari informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah, e) melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru, f) menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya, g) melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis, h) kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperoleh dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

Terkait dengan hasil belajar, Gagne (dalam Ratna Wilis Dahar ,1991:135) membagi lima kategori hasil belajar yaitu : a). keterampilan intelektual, b). strategi kognitif, c). sikap, d). informasi verbal, e). keterampilan motorik. Dari kelima tersebut diatas tiga diantaranya merupakan hasil belajar menurut Bloom yaitu ranah kognitif , ranah afektif dan ranah psikomotor. Melalui kajian berbagai referensi, diperoleh kerangka pemikiran menyangkut model pembelajaran tipe Think Pair Share dengan tahapan sebagai berikut: a) Tahap1: Thinking (berpikir). Guru memberikan dasar-dasar konsep secara singkat dan mantap. Penguatan terhadap konsep dilakukan guru dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan. Curah pendapat dilakukan untuk menggali ide-ide sekaligus sebagai latihan curahan pendapat. Masing-masing siswa diminta untuk memikirkan jawaban pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat kemudian dituangkan dalam konsep jawaban masing-masing di atas kertas; b) Tahap 2: Pairing (berpasangan), yaitu siswa membentuk paangan belajar. Ide-ide yang disepakati selanjutnya dikumpulkan atas dasar masalah yang diajukan oleh guru dan dituangkan dalam selembar kertas sebagai hasil diskuisi maisng-masing pasangan; c) Tahap 3: Sharing (berbagi). yaitu berbagi jawaban kepada kelas. Berbagi ide ini dilakukan oleh setiap pasangan yang ditunjuk berdasarkan lotting.Pasangan lain yang dapat menambahkan ide-ide dari pasangan lain baik pada saat presentasi maupun pada saat sesi tanggapan dengan menulis pada

(4)

Rifai, Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar|37

lembaran kertas lain dari hasil kerjanya pasangan. Selanjutnya seluruh pasangan melaporkan hasil kerja pasangannya dan catatan hasil berbagai dengan pasangan lain. METODE PENELITIAN

Rancangan penelitian yang dipilih untuk mengatasi masalah ini adalah

rencangan penelitian tindakan kelas yang dilakukan melalui dua siklus dengan mengambil latar penelitian di kelas X IPA B SMA Negeri 1 Pamekasan semester 2 tahun pelajaran 2014/2015. Teknik dan alat pengumpulan data dalam penelitian ini disesuaikan dengan jenis data yang diperlukan yaitu seperti pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Jenis Data No Jenis Data Instrumen

Penelitian Sumber Data Metode yang digunakan Waktu Pelaksanaan 1 Aktivitas belajar siswa Lembar

Observasi Siswa Observasi Setiap pertemuan

2 Hasil belajar siswa Tugas Tes hasil belajar Siswa Siswa Tes Tes Di akhir siklus 1 (pertemuan 3) Di akhir siklus 2 (pertemuan 7) Data aktivitas siswa dianalisis secara

diskriptif kualitatif berdasarkan hasil observasi dan refleksi . Data hasil observasi diolah dengan rumus:

(n1 X 1 ) + ( n2 X 2 ) + ( n3 X 3 ) skor (X) =

(banyaknya siswa) x (banyaknya item) (Sadra, dkk , 1996,42 ) Keterangan :

ni = banyaknya siswa yang mendapatkan skor ke i ( i = 1,2,3).

Dari data pada pedoman observasi (pada lampiran I) didapat skor tertinggi ideal = 3 dan skor terendah ideal = 1, dengan demikian mean ideal (Mi) dan standar deviasi ideal(SDi) dapat dihitung sebagai berikut :

Mi = 1/2 ( 3 + 1 ) = 2 SDi = 1/6 ( 3 – 1 ) = 0,33

sehingga penggolongan aktivitas menjadi tabel 3 sebagai berikut:

Tabel 3. Kriteria Aktivitas Belajar siswa

No Skor Kualifikasi 1 X ≥ 2,495 Sangat Aktif 2 2,165 < X ≤ 2,495 Aktif 3 1,835 < X ≤ 2,165 Cukup Aktif 4 1,505 < X ≤ 1,835 Kurang Aktif 5 X < 1,505 Sangat Kurang Aktif Keberhasilan pada aspek aktivitas kegiatan siswa ditentukan jika skor minimal berada pada kategori cukup aktif dengan skor yang diperoleh 1,835 < X ≤ 2,165. Sedang data terkait dengan hasil belajar siswa ditentukan dengan tercapaianya Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu 68, ketuntasan secara klasikal dicpai jika secara 85 % siswa telah memperoleh nilai 68. PEMBAHASAN

Deskripsi Siklus I

Kegiatan inti pada setiap pertemuan diawali dengan menyampaikan materi, tujuan pembelajaran dilanjutkan dengan membentuk pasangan kelompok yang terdiri dari orang yaitu siswa kategori mampu dan siswa kategori kurang mampu. Penentuan didasarkan analisis hasil ulangan sebelum penelitian. Kelompok 1 terdiri dari 1A dan 1B , kelompok 2 terdiri dari 2A dan 2B dst. artinya A tergolong siswa yang mampu dan B tergolong siswa kurang mampu sehingga terbentuk 18 pasangan. Setelah terbentuk pasangan, siswa diberikan permasalahan dalam bentuk pertanyaan yaitu : a) pertemuan I; Jelaskan perubahan wujud yang terjadi pada es jika dipanaskan, b) pertemuan II; Dengan tujuan apakah kaca dengan bingkainya dibuat agak longgar? Pada pertemuan III, siswa diberi pertanyaan ; Jelaskan apa yang dimaksud dengan azas black? dan pertemuan IV ; jelaskan perbedaan konveksi, konduksi dan radiasi !. Selama proses diskusi kelompok dilakukan pengamatan pada aktivitas siswa yang penilaiannya diberikan pada kelompok tersebut. Selama 5-10 menit kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian hasil diskusi secara bergiliran. Untuk pertemuan I dilakukan sebanyak 4 kelompok, pertemuan II sebanyak 7 dan pertemuan sebanyak III 4

(5)

kelompok hingga semua kelompok dapat menyampaikan gagasannya. Dari hasil diskusi, guru menambahkan materi yang belum diungkap siswa, yaitu “mengapa pada saat terjadi perubahan wujud zat, suhu zat tetap?”

Hasil Pengamatan

Selama proses tindakan, dilakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi dan memeriksa hasil ulangan yang dianalisis dalam daftar analisis hasil belajar seperti pada lampiran 4 dan analisis tersebut dimasukkan ke daftar nilai hasil belajar seperti pada lampiran 5 hingga diperoleh data sebagai berikut: a) Aktivitas siswa. Hasil analisis data aktivitas siswa kelas X IPA-B SMA Negeri 1 Pamekasan yang mengikuti pembelajaran Fisika menggunakan model kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Kompetensi dasar 7.4 Menguasai suhu dan kalor, dapat dijelaskan sebagai berikut. Skor rata-rata aktivitas siswa yang diperoleh pada siklus I adalah 1,80 berada pada kategori kurang aktif. b) Hasil belajar siswa. Hasil analisis hasil belajar Fisika siswa kelas X IPA-B SMA Negeri 1 Pamekasan yang mengikuti pembelajaran Fisika menggunakan model Kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Kompetensi dasar 7.4 Menguasai suhu dan kalor dapat disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Hasil Analisis Data Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I

Kelas Indikator Skor X IPA-B Rata-rata 66,93 Ketuntasan Klasikal 77 %

Berdasarkan data pada table 4.1 diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa X IPA-B SMA Negeri 1 Pamekasan sebagai berikut. rata-rata hasil belajar yang dicapai besarnya 66,93 dengan ketuntasan klasikal 77% ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang sebelumnya 62,00. Namun hasil tersebut belum mencapai ketuntasan minimal yang diharapkan.

Refleksi Siklus I.

Berdasarkan hasil observasi dan hasil belajar siswa selama pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, didapat bahwa pada awal pelaksanaan model pembelajaran

Kooperatif Tipe Think-Pair-Share ditemukan beberapa hambatan diantaranya a). ada kelompok yang belum maksimal dalam kerjasam kelompok untuk meemecahkan masalah yang diberikanakbat dari pembagian kelompok yang kurang merata tingkat kemampuan sehingga dalam melaksanakan aktivitas kelompok ada yang diam dan ada yang aktif, b). belum terbiasanya siswa menyampaikan ide akibat dari adanya rasa malu dalam mengemukakan pendapat sehingga apa yang dipikirkan dengan apa yang sampaikan tidak sesuai. Hal ini dianggap sebagai bagian dari kendala psikologis siswa; dan c). Pengelolaan kelas yang kurang optimal karena belum terbiasa. Hambatan-hambatan tersebut dijadikan bahan pertimbangan dalam menyusun kegiatan pembelajaran pada siklus kedua. Deskripsi Siklus II

Hasil Pengamatan

Dari hasil observasi , hasil belajar dan refleksi pada siklus I maka untuk kegiatan pembelajaran pada siklus kedua dengan mengisi lembar observasi untuk aktivitas siswa dan lembar daftar hasil belajar siswa , diperoleh data sebagai berikut: a) Aktivitas siswa. Hasil analisis data aktivitas siswa kelas X IPA-B SMA Negeri 1 Pamekasan yang mengikuti pembelajaran Fisika menggunakan model kooperatif tipe Think-Pair-Share untuk Kompetensi dasar 8.1 Menguasai hukum fluida statis, dapat dijelaskan sebagai berikut. Skor rata-rata aktivitas siswa yang diperoleh pada siklus I adalah 2,01 berada pada kategori cukup aktif. b). Hasil belajar siswa. Hasil analisis hasil belajar Fisika siswa kelas X IPA-B SMA Negeri 1 Pamekasan yang mengikuti pembelajaran Fisika menggunakan model Kooperatif Tipe Think-Pair-Share untuk Kompetensi dasar 8.1 Menguasai hukum fluida statis dapat disajikan pada table berikut.

Tabel 5. Hasil Analisis Data Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II

Kelas Indikator Skor

X IPA-B Rata-rata 73,25

Ketuntasan Klasikal 87%

Berdasarkan data pada table 4.2 diatas maka dapat disimpulkan bahwa hasil

(6)

Rifai, Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar|39

belajar siswa X IPA-B SMA Negeri 1 Pamekasan sebagai berikut. Rata-rata hasil belajar yang dicapai besarnya 73,25 dengan ketuntasan klasikal 87% ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajaryang sebelumnya 66,93. Hasil tersebut tergolong sudah mencapai ketuntasan minimal yang diharapkan.

Refleksi Siklus II.

Berdasarkan hasil observasi dan hasil belajar selama pelaksanaan pembelajaran pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan memperkecil hambatan atau kendala yang dihadapi pada siklus I, yaitu tumbuhnya efektivitas komunikasi pada setiap kelompok pasangan karena mereka semakin terbiasa, disampikan itu heteroginitas kemampuan anggota kelompok pasangan yang merata semakin memotivasi aktivitas belajar siswa dan pada gilirannya mebauat mereka semakin paham. Semakin baiknya tingkat pemahaman siswa terhadap materi bahasan akan berdampak pada semakin baiknya hasil belajar.

HASIL PENELITIAN

Dari tahapan siklus yang dilaksanakan terkait dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) pada siklus I ada peningkatan peran aktif dalam kegiatan pembelajaran. Skor rata-rata aktivitas siswa yang diperoleh pada siklus I berada pada kategori kurang aktif dengan skor rata-rata 1,80 menjadi cukup aktif pada siklus II dengan skor 2,01. Hal ini menunjukkan bahwa ada perbaikan proses walaupun masih kurang. Semua itu disebabkan antara lain: siswa selalu diberitahu agar siswa selalu bekerja dalam kelompoknya, melakukan interaksi dengan teman, interaksi yang terjadi antara siswa dengan guru, siswa yang bertanya dan kegiatan dalam memecahkan masalah. Untuk hasil belajar siswa berdasarkan analisis ulangan di dapat adanya peningkatan dari belum tuntas dengan perolehan 77 % pada siklus I menjadi tuntas pada siklus II dengan perolehan 87%. Berdasarkan hasil yang diperoleh secara umum penelitian ini dapat menjawab permasalahan dan tujuan yang

diharapkan yaitu : 1). dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan 2) dapat meningaktkan dari hasil belajar. Tidak hanya itu siswa menemukan pengetahuan yang dibangun sendiri dan peranan guru sebagai fasilitator dapat ditingkatkan.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Berdasarkan hasil olah data, hasil penelitian dapat ditarik simpulan sebagai berikut. 1). Penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share dalam pembelajaran Fisika di kelas X IPA-B SMA Negeri 1 Pamekasan ternyata dapat meningkatkan aktivitas siswa dari kategori kurang menjadi cukup aktif. Dimana dominasi kegiatan siswa lebih menonjol dibanding dengan pada saat pembelajaran konevnsional seperti sebelumnya. 2). Penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share dalam pembelajaran Fisika di kelas X IPA-B SMA Negeri 1 Pamekasan dapat meningkatkan hasil belajar yang dibktikan semakin banyaknya siswa yang dapat mencapai nilai sama dan atau melebihi KKM yaitu 68.

Saran

Berdasarkan temuan-temuan dan pembahasan hasil penelitian ini dapat dikemukakan saran-saran berikut. 1) Dengan model pembelajaran ini dapat memberikan model yang mudah , efektif dalam pengelolaan pembelajaran dikelas. Oleh sebab itu model penerapan pembelajaran think pair share dapat digunakan sebagai salah satu model pembelajaran baik untuk meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa maupun hasil belajarnya. 2). Untuk memperoleh kualitas pembelajaran yang lebih baik, maka sebaiknya guru sebaiknya: a) memiliki pemetaan siswa dari kelas atas dan kelas bawah, b) memadukan cara yang demokratis dalam menentukan pasangan, yaitu berdasar kelas aatas (A) dan bawah (B) dengan tetap memperhatikan hubungan emosionl masing-masing siswa. Jangan sampai terjadi pemasangan anak-anak yang masih memiliki kendala hubungan emosionl; dan c) selalu mengikuti perkembangan hubungan emosional antar siswa pada kelas yang diajar.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Ardiana, Leo Idra. 2003. Penelitian Tindakan Kelas: Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Reviewer oleh Bambang Yulianto, dkk. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Brown, H. Douglas. 2001. Teaching by Principles (2nd Ed). New York: San

Francisco State University. Kisyani-Laksono.2007. Bahan Pendidikan

dan pelatihan Penelitian Tindakan Kelas dan karya Ilmiah. Surabaya: Universitas Surabaya.

Latief, Adnan Mohammad. Ph.D. 2004. Pembelajaran, Penilaian, dan Penelitian Bahasa Inggris. (Kumpulan Artikel Ilmiah). Malang. Universitas Negeri Malang.

……….., 2003. Jurnal Ilmu Pendidikan, Juni 2003, Jilid 10, nomor 2.

Lie, A. 2002. Cooperative Learning, Gramedia Wdyasarana Indonesia ,Jakarta

McNiff, Jean. 1988. Action Research. New York: Macmillan Education Ltd. Nurkancana, W dan Sunartana .1992.

Evaluasi hasil belajar .Surabaya : Usaha Nasional.

Soedarsono, FX. 1997. Rencana, Desain, dan Implementasi dalam Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: BP3SD, Dirjen Dikti.

Susanto. 2002. Developing a Research Proposal, a practical Guidline. Surabaya. Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan bahas Inggris, Universitas Surabaya.

---2010. Konsep Penelitian Tindakan kelas dan Penerapannya. Surabaya. Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan bahas Inggris, Universitas Surabaya. Sudjana, Nana. 2004. Penilaian Hasil Proses

Belajar Mengajar. Bandung.Remaja Rosdakarya.

Suharsimi, Arikunto, 2008. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi), cetakan kedelapan,Penerbit Bumi Aksara.

(8)

41

PENINGKATAN DAYA INGAT TERHADAP PELAJARAN MATEMATIKA

MELALUI PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN

Suroso

Guru SMPN 2 Pamekasan Email : [email protected] ABSTRAK

Pelajaran matematika yang menurut banyak orang merupakan induknya ilmu pengetahuan dan merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan pada setiap jenjang pendidikan secara terus menerus selalu menjadi bahan kajian. Hal tersebut sejalan dengan kenyataan bahwa hasil belajar matematika cenderung kurang optimal. Contoh hal tersebut dapat dilihat hasil ulangan harian kelas IX SMP Negeri 2 Pamekasan.Pada pelajaran matematika siswa yang tuntas selalu tidak lebih dari 40 %. Agar hasil belajar siswa kelas IX dapat meningkat sesuai dengan tujuan yang diharapkan yaitu sebagian besar siswa ( 80% ) dapat tuntas belajar,maka perlu dilakukan tindakan kelas berupa penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran. Tindakan tersebut terdiri dari 3 siklus : yaitu siklus 1 guru menjelaskan dengan menampilkan media yang relevan dengan materi. Siklus 2 siswa diberi tugas membuat media sesuai yang di tugaskan guru. Siklus 3 siswa di beri tugas membuat media sesuai dengan kreatifitas siswa masing-masing.pada akhir tindakan di peroleh hasil sebagai berikut ; pada siklus 1 siswa yang tuntas belajarnya 60,42 % dan yang belum tuntas 39,58 %. Siklus 2 siswa yang tuntas 68.75% dan yang belum tuntas 31,25 %.dan siklus 3 siswa yang tuntas 64,58 % yang belum tuntas 35,42%. Dari hasil tersebut ternyata ketuntasan secara klasikal belum bisa tercapai namun tergambar adanya peningkatan persentase yang berkisar dari 65,02 % menjadi 68,75 % dan 64,58 %

Kata Kunci :

PENDAHULUAN

Dalam melaksanakan tugas sehari para guru mata pelajaran matematika sering menghadapi masalah tentang hasil belajar siswa yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Menuerut catatan hasil ulangan harian kelas IX semester 1 tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 2 Pamekasan, bahwa dalam suatu kelas siswa yang yang tuntas belajar tidak lebih dari 40% Dari hasil pengamatan sementara hal tersebut dapat terjadi dikarenakan oleh banyak hal, salah satu diantaranya adalah rendahnya daya ingat siswa terhadap konsep konsep matematika yang telah diajarkan, bahkan sering terjadi hari ini diajarkan dan mereka telah mengaku memahami atau telah dapat mengerjakan soal soal yang diberikan ternyata selang beberapa hari kemudian mereka disuruh mengerjakan soal yang sama ternyata merekan tidak dapat mengerjakan dengan benar semuanya, apalagi kalau soal diberikan beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian. Sebagai contoh banyak siswa kelas IX pada saat mengerjakan soal –soal UNAS tidak ingat tentang materi materi yang diajarkan pada saat kelas IX semester 1, materi kelas 2 apalagi materi kelas 1 meskipun tingkat

kesukaranya lebih mudah. Jika dikaji lebih dalam hal tersebut bisa terjadi bukan hanya disebabkan oleh faktor siswa saja, melainkan juga dari pihak pengajar atau guru sendiri. Salah satu diantaranya guru pada saat proses pembelajaran kurang dapat menyampaikan hal hal yang bersifat abstrak kea rah yang lebih nyata/ kongkrit. Apabila hal tersebut dibiarkan berlarut-larut maka dapat berakibat pada daya ingat siswa terhadap pelajaran matematika akan tetap rendah,sehingga hasil belajar siswa akan tetap saja belum sesuai dengan yang diharapkan.

Salah satu pendekatan pembelajaran efektif yang dapat digunakan untuk meningkatkan daya ingat siswaa dalah pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran.menurut hasil penelitian Suharto (1990) bahwa prestasi belajar siswa yang menggunakan media pengajaran lebih baik dibandingkan pembelajaran yang tidak menggunakan media pembelajaran. Dengan memperhatikan uraian diatas, maka untuk memecahkan permasalahan rendahnya daya ingat siswa SMP Negeri 2 Pamekasan terhadap pelajaran matematika yang mempengaruhi rendahnya hasil belajar, maka dirasa perlu diadakan Penelitian Tindakan

(9)

Kelas sebagai upaya guru untuk meningkatkan daya ingat siswa SMP Negeri 2 Pamekasan sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.Dari uraian latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan suatu masalah yaitu : Apakah dengan menggunakan media pembelajaran pada saat mengajarkan matematika dapat meningkatkan daya ingat siswa sehingga hasil belajar siswa lebih meningkat?

PEMBAHASAN 1. Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harafiah berarti perantara, dan juga media merupakan wahana penyalur pesan atau informasi belajar. Sedangkan media pendidikan/media pembelajaran dalam matematika sering disebut dengan alat peraga. Dalam pembelajaran dapat terjadi salah komunikasi, dan hal ini bisa disebabkan oleh beberapa hal,diantaranya:

(1) Guru kurang mampu dalam menyampaikan informasi.

(2) Adanya perbedaan daya tangkap para siswa.

(3) Adanya perbedaan ruang dan waktu. (4) Jumlah siswa dalam kelas yang relatif

besar sehingga sulit dijangkau.

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah komunikasi, maka diperlukan Media Pembelajaran yang menurut Darhim (1993) berfungsi:

 Menghindari kesalahan komunikasi  Meningkatkan hasil proses belajar

mengajar

 Membangkitkan minat belajar

 Menyajikan konsep matematika yang abstrak kedalam bentuk kongkrit

 Membantu daya ingat/daya tilik siswa  Melihat hubungan antara konsep

matematika dengan alam sekitarnya. Juga menurut Blacke dan Horalsen dalam Darhim (1993) dikatakan bahwa, media adalah saluran komunikasi atau perantara yang digunakan untuk membawa atau menyampaikan pesan dimana perantara ini merupakan jalan atau alat lalu lintas suatu pesan komunikator dan komunikan.

2. Teori Belajar

Belajar dalam pandangan teori modern adalah merupakan proses perubahan tingkah laku berkat interaksi dengan lingkungan. Jadi seseorang dikatakan melakukan kegiatan belajar, setelah iamemperoleh hasil yaitu terjadinya perubahan.Misalnya; dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti.

Menurut toeri, belajar pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3 yaitu:

a. Teori psikologi daya atau formal disiplin.

b. Teori psikologi assosiasi c. Teori psikologi organisme. Belajar menurut psikologi daya

Jiwa manusia terdiri dari berbagai daya, seperti daya mengingat, daya berfikir dan daya mencipta, daya perasaan, daya keinginan dan daya kemauan. Daya akan berfungsi jika sudah terbentuk atau berkembang, oleh karena itu daya tersebut harus dilatih.

Belajar menurut teori psikologi assosiasi Aliran psikologi ini terkenal dengan sebutan S-R Bond Theory yakni teori stimulus dan respons. Setiap stimulus akan menimbulkan respons atau jawaban tertentu. Ikatan stimulus dan respon ini akan bertambah kuat apabila sering mendapat latihan. Teori diatas dikemukakan oleh Thorndike.

Belajar menurut teori psikologi Organisme (Gestalt). Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah suatu keseluruhan yang berstruktur. Suatu keseluruhan bukan merupakan penjumlahan dari unsur-unsur, melainkan unsur-unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur tertentu dan saling berinteraksi antara yang satu dengan yang lain.Disamping itu pioget dengan teori perkembangan intelektualnya mneyebutkan bahwa perkembangan anak mengikuti fase-fase perkembangan sebagai berikut:

1. Tahap sensori motor (dari lahir sampai sekitar 2 tahun)

2. Tahap praoperasi (dari umur sekitar 2 tahun sampai umur sekitar 7 tahun) 3. Tahap operasi kongkrit (dari umur 7

sampai kira-kira 11 – 12 tahun)

4. Tahap operasi formal (dari umur 7 sampai dewasa).

Periode untuk setiap tahap adalah rata-rata dan mungkin terdapat perbedaaan

(10)

Suroso, Peningkatan Daya Ingat|

43

antara masyarakat yang satu dengan yang lain, antara anak yan satu dengan anak yang lain. Berdasar teori perkembangan intelektual dan psikologi belajar diatas maka mengingat kemungkinan siswa kelas IXSMP masih baru menginjak tahap operasi formal, maka hendaknya konsep atau topik-topik baru khususnya matematika supaya diperkenalkan menggunakan contoh-contoh yang kongkrit.

Sejalan dengan itu, menurut pepatah cina dalam E.T Russeffandi (1984 hal 18) yang berbunyi :”saya mendengar... saya lupa,saya melihat...saya ingat dan saya melakukan... saya mengerti”.Menurut permendiknas nomer 22 tahun2006 bahwa dalam kegiatan pembelajaran, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental maupun sosial. 3. Hakekat Daya Ingat

Teori belajar menurut psikologi daya seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa jiwa manusia terdiri dari berbagai daya dimana salah satu diantaranya adalah daya ingat.Hakekat dari daya ingat adalah kemampuan dari jiwa manusia untuk mengungkapkan atau mengaktualisasikan kembali hal-hal atau konsep-konsep yang telah diterima oleh jiwanya. Daya ingat dalam proses pembelajaran sangat berperan lebih-lebih dalam pembelajaran matematika, mengingat hakekat dari matematika merupakan ide-ide, struktur-struktur dan hubungannya yang abstrak (Herman Hudojo, 1979, hal 96).

4. Hasil Belajar

Setiap saat dalam kehidupan manusia selalu mengalami proses belajar. Belajar dilakukan manusia baik secara formal maupun informal. Dalam proses belajar diharapkan akan diperoleh hasil belajar yang berupa perubahan tingkah laku baik dalam kognitif afektif maupun psikomotor menurut sumartono (1971) bahwa “prestasi belajar adalah suatu nilai yang menunjukkan hasil yang tertinggi dalam belajar yang dicapai menurut kemampuan anak dalam mengerjakan sesuatu pada saat yang tertentu pula”.

DESKRIPSI PROSES, HASIL DAN REFLEKSI

1. Karakteristik Kelas

Siswa kelas IXD di SMP Negeri 2 Pamekasan dengan subjek penelitian sejumlah 36 siswa, terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Sedangkan tingkat kemampuan siswa sangat heterogen karena terdiri dari siswa yang pernah memperoleh peringkat 1 sampai dengan peringkat terakhir pada saat mereka duduk dikelas VII.

2. Tindakan, Hasil dan Rfleksi

Siklus1 dilaksanakan pada tanggal 5 September sampai dengan tanggal 12September 2014 dengan materi yang diberikan adalah “Bagun Ruang sisi lengkung ”. Tindakan yang dilakukan adalah pendekatan pembelajaran melalui penggunaan media pembelajaran dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Guru menyajikan materi sesuai dengan rencana pelajaran yang telah dibuat sebelumnya. Pada tahap pendahuluan: sebagai introduksi, motivasi dan apersepsi guru menampilkan media pembelajaran berupa bermacam-macam bentuk bangun ruang, baik yang sudah dipersiapkan oleh guru maupun bentuk-bentuk bangun ruang yang ada dilingkungan sekitar dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian pada tahap pengembangan melaui diskusi informasi, siswa diminta untuk menunjukkan beberapa jenis bangun ruang dan unsur-unsur yang dimiliki oleh bangun ruang tersebut.Kemudian dengan mengamati unsur-unsur yang dimiliki oleh bangun ruang tersebut, siswa dibimbing untuk mendapatkan rumus-rumus untuk menghitung luas bangun ruang dan diberi contoh menngunakannya.

Pada tahap penerapan siswa disuruh mengerjakan latihan soal-soal yang sudah ditentukan baik yang ada pada buku paket maupun pada LKS, dan guru berkeliling untuk mengobservasi dan memberikan bimbingan bagi yang memerlukan.

Hasil refleksi pada siklus 1 dapat dijabarkan sebagai berikut: pada awal-awal siklus, masih ada beberapa siswa yang masih grogi dalam menerima pelajaran, kemungkinan ini disebabkan adanya guru lain dalam kelas tersebut yang bertindak sebagai observer sehingga mereka merasa

(11)

gerak geriknya diamati. Namun pada pertemuan berikutnya siswa sudah mulai terbiasa sehingga menurut catatan observasi: sebagian besar siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran terutama pada saat ditampilkan beberapa media pembelajaran dan mengamati unsur-unsurnya. Hasil ulangan harian menunjukkan siswa yang

tuntas belajarnya sebesar 60,42% dengan rata-rata kelas 65,2. Hasil tersebut belum mencapai target sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hasil wawancara dan angket tentang sikap siswa mengenai pendekatan pembelajaran melalui penggunaan media jika dikaitkan dengan ketuntasan belajarnya dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Sikap dan Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus 1 Sikap/Tingkah laku siswa Jika

PBM menggunakan Media pembelajaran

Option/Jumlah Nilai

Selalu Kadang - kadang Tidak ≥ 65 < 65

Mudah mengingat materi

60 - - - 40 - - - 0 66,7 16,4 - 33,3 83,6 - Mudah memahami materi

71 - - - 27 - - - 2 50 23 - 50 7 - Mersa senang terhadap matematika

45 - - - 52 - - - 2 56 20 - 77 8 - Merasa aktif dalam pembelajaran

42 - - - 56 - - - 2 72 41 - 28 59 - Dari tabel 1 diatas, tergambar bahwa

pendekatan pembelajaran dengan menggunakan media dapat menumbuhkan rasa dan sikap lebih mudah mengingat, memahami materi, senang dan merasa aktif dalam proses pembelajaran matematika bagi sebagian besar siswa. Siswa yang memiliki sikap tersebut tuntas dalam belajarnya, meskipun harus diakui bahwa masih ada beberapa siswa yang belum memiliki sikap tersebut. Pada siklus II masih tetap menggunakan pendekatan yang sama dengan upaya lebih meningkatkan sikap siswa agar lebih mudah mengingat, memahami, senang dan merasa aktif sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.

Siklus II dilaksanakan pada tanggal 13September sampai dengan 19 september 2014. Materi yang disajikan adalah pokok bahasan tetap bangun ruang sisi lengkung Tindakan yang dilakukan pada dasarnya sama dengan siklus I, namun ada sedikit perbedaan, yaitu jika pada siklus I siswa hanya melihat dan mengamati suatu media pembelajaran tetapi pada siklus II ini siswa

ditugasi untuk membuat media tertentu sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru; dengan harapan agar siswa dapat melakukan dan sekaligus mengamati tentang tabung dan kerucut . Sedangkan hasil refleksi pada siklus II ini dapat digambarkan sebagai berikut: pada awal siklus II masih banyak siswa yang kesulitan membuat media sendiri, sehingga masih memerlukan bimbingan dari guru. Namun setelah beberapa kali mencoba, akhirnya pada pertengahan siklus atau akhir siklus mereka sudah terbiasa. Hasil ulangan pada siklus 2 menunjukkan bahwa siswa yang tuntas belajarnya sebanyak 68,75% dan yang belum tuntas sebesar 31,25% dan rata-rata kelasnya 70,69. Ketuntasan belajar secara klasikal belum dapat terpenuhi, namun dibanding siklus I terjadi peningkatan yang relatif tinggi yaitu 10,27%. Dari hasil wawancara dan angket tentang sikap siswa terhadap pendekatan penggunaan media pembelajaran untuk meningkatkan daya ingat jika dikaitkan dengan ketuntasan belajarnya, tampak seperti pada tabel 2.

(12)

Suroso, Peningkatan Daya Ingat|

45

Tabel 2.Sikap dan ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus II. Sikap/Tingkah laku siswa Jika

PBM menggunakan Media pembelajaran

Option/Jumlah Nilai

Selalu

Kadang-kadang Tidak ≥ 65 < 65 Mudah mengingat materi

69 - - - 31 - - - 0 74 53 - 26 47 - Mudah memahami materi

75 - - - 23 - - - 2 74 46 5 26 64 4 Mersa senang terhadap matematika

56 - - - 42 - - - 2 64 70 - 36 30 - Merasa aktif dalam pembelajaran

60 - - - 38 - - - 2 70 22 - 30 78 - Tabel 3.Sikap dan ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus IX.

Sikap/Tingkah laku siswa Jika PBM menggunakan Media

pembelajaran

Option/Jumlah Nilai

Selalu

Kadang-kadang Tidak ≥ 65 < 65 Mudah mengingat materi

71 - - - 29 - - - 0 74,3 25 - 25,8 75 - Mudah memahami materi

75 - - - 23 - - - 2 72 36 - 28 64 - Mersa senang terhadap matematika

58 - - - 36 - - - 4 69 55 - 31 55 - Merasa aktif dalam pembelajaran

67 - - - 31 - - - 2 70 53 - 30 47 - Dari tabel 2 diatas, tergambar bahwa

siswa yang memiliki sikap lebih mudah mengingat, mudah memahami, senang dan merasa aktif dalam pembelajaran mengalami peningkatan jika dibanding dengan siklus I. Dari siswa-siswa yang memiliki sikap tersebut, sebagian besar tuntas belajarnya. Namun pada siklus II ada beberapa siswa yang merasa tidak senang jika diberi tugas membuat media pembelajaran. Setelah diadakan wawancara, siswa mengaku merasa mendapat kesulitan membuat media sendiri.

Siklus III dilaksanakan pada tanggal 21 September sampai dengan tanggal 26 September 2014. Materi yang disajikan adalah tentang Kerucut. Tindakan yang

dilakukan hampir sama dengan siklus I dan siklus II, hanya ada perubahan pada siklus III, yaitu siswa membuat media dengan memilih sendiri media yang akan dibuatnya. Misalnya: diantara mereka ada yang membuat bentuk-bentuk bangun ruang sisi lengkung dari kertas karton atau seng, sehingga mereka dapat mengerti syarat apa yang harus dipenuhi agar terbentuk bangun ruang sisi lengkung. Hasil dan refleksi pada siklus III, ada suatu hal yang menarik, yaitu sikap mereka mengalami kenaikan, tetapi rata-rata ulangan hariannya mengalami penurunan jika dibandingkan siklus II.Hasil wawancara dengan siswa yang mengalami penurunan nilai ulangan harian, pada

(13)

umumnya mereka mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menentukan ukuran untuk membuat jarring jarring kerucut.Namun siswa yang memiliki sikap mudah mengingat, memahami, senang dan aktif cendrung mengalami kenaikan tuntas belajarnya.Mengenai sikap siswa dan ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada tabel 3.

Dari hasil tabel 3, tergambar bahwa hingga siklus III sebagian besar masih merasa lebih mudah mengingat, memahami, senang dan merasa aktif jika belajar disajikan dengan menggunakan media

pembelajaran.Meskipun harus diakui bahwa siswa yang memiliki sikap tersebut belum semuanya mengalami tuntas belajar.Mungkin hal ini disebabkan karena bervariasinya kemampuan siswa dalam menerima dan menyerap materi yang disajikan.

Dari ketiga siklus tersebut diatas, dapat kita ketahui bahwa fluktuasi persentase ketuntasan belajar selama pemberian tindakan bergerak dengan menunjukkan kecendrungan adanya peningkatan meskipun tidak begitu tinggi.Fluktuasi ketuntasan belajar dapat dilihat pada Grafik 1.

75 70 65 60 55 UH 1 UH II UH IX

Grafik 1. Fluktuasi Presentase Ketuntasan Belajar KESIMPULAN DAN SARAN

1. Pembelajaran matematika dikelas dengan penggunaan media pembelajaran dapat memberikan pengaruh yang cukup nyata untuk meningkatkan hasil belajar siswa di SMP.

2. Adanya sikap positif siswa terhadap pendekatan yang dilakukan

3. Adanya kecendrungan bertambahnya nilai presentase ketuntasan belajar yang berfluktuasi antara 60,42% dan 68,75%.

4. Dalam mengunakan media pembelajaran dikelas sebaiknya guru menggunakan media yang benar-benar relevan dan telah dikenal siswa.

5. Dalam memberikan tugas kepada siswa untuk membuat media sebaiknya guru memperhatikan kemampuan para siswanya.

6. Apabila hingga pada akhir iklus IX ketuntasan belajar secara klasikal (> 85%) belum tercapai, maka tindakan perlu dilanjutkan pada siklus berikutnya. DAFTAR PUSTAKA

Rusfendi, E.T. (1980). Pengajaran matematika modern untuk orang tua murid, guru dan SPG. Bandung: Tarsito

Surya B, S. (1984). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali

Surya B, S. (1999). Rambu-rambu penyusunan proposal dan laporan action research. Surabaya: proyek PPM-SMP

Surya B, S. (1993). Garis-garis besar program pengajaran program SMP mata pelajaran kurikulum pendidikan dasar. Jakarta: Depdikbud

(14)

47

HASIL BELAJAR MATEMATIKA ANTARA SISWA YANG DIAJAR

MENGGUNAKAN STRATEGI PEMECAHAN MASALAH MODEL POLYA

DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI

Septi Dariyatul Aini

Sri Indriati Hasanah

Program Studi Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Madura Alamat : Jalan Raya Panglegur 3,5 KM Pamekasan

Email : [email protected]

Abstract: According to Polya problem solving is defined as an attempt to find a way out of a difficulty in order to achieve an objective that is not so easily achieved immediately. While the expository teaching strategy is a learning strategy that emphasizes the process of delivery of content directly from a teacher to a group of students in order for students to master the subject matter optimally. Meanwhile, one of the materials studied in mathematics is the derivative function. From the above, efforts to be made to select a better learning strategies used in teaching mathematics is to compare learning outcomes between students who are taught math using Polya model problem-solving strategies with expository teaching strategies on the subject of the derivative function. Apparently after research showed that there was no comparison learning outcomes in math between students taught using Polya model problem-solving strategies is taught by using the expository teaching strategy.

Keywords: problem-solving strategies, expository teaching strategy, learning outcomes.

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia yang kian pesat dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat menjadi tantangan bagi bangsa dan negara dalam mempersiapkan generasi masa depan. Menghadapi dinamika itu dan mengantisipasi persoalan-persoalan yang kemungkinan besar sudah atau akan terjadi dalam bidang pendidikan perlu disiapkan seperangkat program atau kurikulum.

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, kompetensi dasar, materi standar dan hasil belajar serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar dan tujuan pendidikan (Mulyasa, 2007: 46). Sedangkan tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai melalui keberhasilan dalam proses pembelajaran. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam proses belajar mengajar, diantaranya adalah tujuan materi pelajaran, metode atau strategi pembelajaran, media dan evaluasi (Sanjaya, 2007: 58). Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu

menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak didik lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi. Dari beberapa komponen tersebut, ada satu komponen yang sangat menentukan dalam proses belajar mengajar yaitu strategi pembelajaran.

Menurut Sanjaya (2007: 60), strategi pembelajaran adalah komponen yang juga mempunyai fungsi sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini. Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplementasikan melalui strategi yang tepat, maka komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan. Oleh karena itu, setiap guru perlu memahami secara baik peran dan fungsi strategi dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

Penggunaan strategi yang baik dan benar akan berpengaruh baik terhadap proses belajar mengajar dan kemampuan peserta didik dalam memahami mata pelajaran khususnya matematika sehingga memungkinkan tercapainya hasil belajar yang gemilang bagi peserta didik. Selain itu penggunaan strategi belajar haruslah disesuaikan dengan pokok bahasan yang disampaikan. Oleh karena itu, setiap guru

(15)

perlu memahami secara baik peran strategi dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Salah satu strategi pembelajaran yang berkembang saat ini yaitu strategi pemecahan masalah. Menurut Polya (dalam Nanang Priatna dan Darhim, 2003: 17) pemecahan masalah diartikan sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu mudah segera dapat dicapai. Pada saat seseorang memecahkan masalah, ia tidak sekedar belajar menerapkan berbagai pengetahuan dan kaidah yang telah dimilikinya, tetapi juga menemukan kombinasi berbagai konsep dan kaidah yang tepat serta mengontrol proses berpikirnya. Manfaatnya adalah dapat membuat siswa berhati-hati dalam mengenali tahap-tahap yang sesuai dengan proses pemecahan masalah, menyediakan kerangka kerja yang tersusun rapi untuk menyelesaikan masalah yang komplek dan panjang yang dapat membantu siswa memecahkan masalahnya serta menghilangkan rasa takut siswa terhadap pelajaran.

Sedangkan strategi pembelajaran ekspositori adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara langsung dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Singkatnya, strategi pembelajaran ekspositori ini dirancang untuk membelajarkan siswa pengetahuan yang terstruktur dengan baik. Diharapkan dengan menggunakan strategi ini guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran. Dengan demikian guru dapat mengetahui sampai sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.

Dari uraian tersebut, hasil belajar yang diperoleh siswa antara yang menggunakan strategi pemecahan masalah model Polya dan strategi pembelajaran ekspositori tentunya memiliki perbandingan sebab strategi yang digunakan pun berbeda. Namun, peneliti ingin mengetahui sejauh apa perbandingan tersebut khususnya pada pelajaran matematika sub pokok bahasan penggunaan turunan fungsi pada masalah ekstrim.

Pemilihan pokok bahasan turunan fungsi pada sub pokok bahasan penggunaan

turunan fungsi pada masalah ekstrim dalam penelitian ini dikarenakan berdasarkan kenyataan menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi khususnya masalah yang berbentuk soal cerita sehingga membutuhkan proses berpikir dengan menganalisa soal terlebih dahulu untuk menyelesaikannya. Dengan strategi pemecahan masalah model Polya, siswa dapat memecahkan masalah yang ada secara bertahap yaitu memahami permasalahan, menyusun rencana pemecahan, melaksanakan rencana dan mengecek kembali jawaban. Tak kalah pentingnya, siswa pun akan diajar dengan strategi pembelajaran ekspositori artinya dalam pembelajaran ini peranan guru sangat penting dalam mengontrol urutan dan menjelaskan materi pelajaran tersebut dengan baik karena cakupan materi pelajaran yang diberikan cukup luas.

Sementara ini di lokasi penelitian yakni di SMAN 1 Pamekasan sebagian tenaga pendidiknya masih ada yang menggunakan pembelajaran yang berpusat pada guru atau strategi pembelajaran ekspositori sehingga siswa merasa jenuh dan ini berakibat pada hasil belajar yang rendah. Seperti peneliti ketahui, SMAN 1 Pamekasan merupakan sekolah bertaraf internasional yang menuntut peserta didiknya menjadi siswa unggulan dan berprestasi. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan adanya suatu strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan pemahaman dan kemampuan berpikir mereka. Dalam hal ini, peneliti ingin mencoba menggunakan strategi pemecahan masalah model Polya untuk membandingkan hasil belajar siswa antara yang diajar dengan strategi pemecahan masalah model Polya dengan strategi pembelajaran ekspositori. Dan diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat diketahui strategi pembelajaran mana yang lebih baik untuk diterapkan di SMAN 1 Pamekasan sehingga siswa mampu berpikir kritis dan ilmiah serta dapat meningkatkan hasil belajar yang sudah baik menjadi lebih baik dari sebelumnya, khususnya pada pokok bahasan turunan fungsi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif dan komparatif sebab data yang

(16)

Aini, Hasil Belajar Matematika|

49

diperoleh berupa angka dari hasil tes dan dari hasil tes tersebut diteliti tentang perbandingannya. Penelitian ini yang dijadikan populasi adalah semua siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Pamekasan. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Pamekasan sebanyak 7 kelas, dengan menggunakan teknik cluster purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu. Teknik ini dilakukan karena berdasarkan beberapa pertimbangan yaitu kelas XI IPA SMAN 1 Pamekasan telah dikelompokkan berdasarkan kemampuan dan minat siswa sehingga perlu dihitung tingkat homogenitas dari kelas-kelas tersebut. Dari homogenitas yang telah diperoleh, dipilih dua kelas homogen yang memiliki ciri-ciri, sifat-sifat dan karakteristik yang merupakan ciri-ciri pokok populasi dan merupakan subjek yang paling banyak mengandung ciri-ciri yang terdapat dalam populasi. Sehingga berdasarkan wawancara dengan guru matematika SMAN 1 Pamekasan dan nilai raport matematika siswa kelas XI IPA semester ganjil serta diajarkan oleh guru matematika yang sama, terpilih kelas XI IPA-F sebanyak 32 siswa sebagai kelas eksperimen yang akan diajar dengan strategi pemecahan masalah Polya, dan kelas XI IPA-G sebanyak 32 siswa sebagai kelas kontrol yang akan diajar dengan strategi pembelajaran ekspositori

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan tes. Tes ini digunakan untuk memperoleh data hasil belajar matematika siswa yang menggunakan strategi pemecahan masalah Polya dengan strategi pembelajaran ekspositori kelas XI-IPA. Bentuk soal dalam teknik tes ini adalah soal uraian. Sebelum dilakukan penelitian, diperlukan uji coba terhadap instrumen penelitian dimana uji coba instrumen dilaksanakan di SMA Negeri 3 Pamekasan yang bertujuan untuk mengetahui layak tidaknya tes di berikan. Setelah data terkumpul maka dilakukan pengolahan data atau analisis data. Selanjutnya, untuk memperoleh data hasil tes tersebut menggunakan uji parametrik yaitu

uji statistik. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbandingan hasil belajar matematika siswa di kelas eksperimen dengan hasil belajar matematika siswa di kelas kontrol berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan, sehingga dapat menunjukkan apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak.

HASIL

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data hasil tes akhir kedua kelas, diperoleh rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA F sebagai kelas eksperimen sebesar 63,66 dan rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas XI IPA G sebagai kelas kontrol sebesar 58,34. Dari data tersebut dapat diketahui harga thitung= 0,86 dan berdasarkan tabel dengan dk = (32 + 32 – 1) = 62 diperoleh ttabel kritik pada taraf signifikan 5% adalah 1,67. Artinya thitung<tkritik, maka hipotesis nol (H0) diterima dan hipotesis kerja (H1) ditolak.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis yang diharapkan peneliti tidak diterima. Dari hasil penelitian diperoleh rata-rata hasil belajar yang hampir sama. Hal itu mempengaruhi terhadap hipotesis yang diharapkan agar diterima. Jika selisih rata-rata yang dihasilkan cukup besar maka kemungkinan hipotesis yang diharapkan diterima. Dengan demikian, hasil belajar matematika antara siswa yang diajar menggunakan strategi pemecahan masalah model Polya tidak lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunakan strategi pembelajaran ekspositori.

Kesimpulan di atas dapat dituangkan ke dalam grafik distribusi normal baku. Grafik distribusi normal baku, simetrik terhadap t = 0, sehingga sepintas lalu hampir tak ada bedanya. Untuk harga-harga n yang besar, biasanya n

30 (Sudjana,1975: 146) sebagai berikut :

(17)

Grafik

Tidak ada perbandingan disebabkan disebabkan beberapa faktor:

1. Siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pamekasan telah terbiasa mengerjakan soal-soal kompleks sehingga tidak terpengaruh dengan adanya strategi pembelajaran tertentu.

2. Kenyataan di lapangan Siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pamekasan cenderung cermat dan teliti dalam mengerjakan soal, hanya ada sekitar 5% siswa yang membuat kesalahan karena kurang cermat dan teliti. Hal ini jelas dengan peningkatan nilai dari 5% siswa tidak akan mempengaruhi peningkatan nilai rata-rata kelas secara signifikan dari nilai rata-rata kelas sebelumnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil belajar matematika antara siswa yang diajar menggunakan strategi pemecahan masalah model Polya dengan strategi pembelajaran ekspositori tidak lebih baik. Proses pembelajaran dengan menggunakan strategi

pemecahan masalah model Polya dan strategi pembelajaran ekspositori yang diterapkan dalam penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberi manfaat.

SARAN

Untuk itu peneliti memberikan saran sebagai berikut:

1. dengan mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan peneliti menganjurkan strategi pemecahan masalah model Polya dan strategi pembelajaran ekspositori diterapkan dalam proses belajar dan pengajaran matematika.

2. bagi semua pihak yang ingin menerapkan Strategi Pemecahan Masalah Model Polya dan Strategi Pembelajaran Ekspositori, hendaknya dipahami terlebih dahulu langkah-langkah dan materi apa yang sesuai dengan strategi tersebut.

3. bagi pembaca dirasa perlu untuk mengadakan penelitian lebih lanjut untuk memperkuat teori yang telah ada.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Priatna, Nanang dan Darhim. 2003. Problem Posing dan Problem Solving dalam

0

0,86 2,00 -2,00 -1,67 1,67 (-t kritik) (t kritik) (thitung) Daerah Penerimaan H0

(18)

Aini, Hasil Belajar Matematika|

51

Pembelajaran Matematika. Bandung: Pustaka Ramadhan

Polya, G. 1973. How To Solve It A New Aspect Mathematical Method. United States: Princeton University Press

Sanjaya, Wina. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana

(19)

52

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN PQ4R TERHADAP

HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN

BANGUN RUANG SISI DATAR

Harfin Lanya

Program Studi Pendidikan Matematika, FKIP, Universitas Madura Alamat : Jalan Raya Panglegur 3,5 KM Pamekasan

Email : [email protected]

Abstrak

Realisasi proses belajar mengajar yang baik tidak terlepas dari rencana atau persiapan yang baik pula. Oleh karena itu, dalam rangka realisasi proses belajar mengajar matematika diperlukan rencana atau persiapan agar proses belajar lebih efektif, efisien dan terarah. Di samping rencana atau persiapan yang dibutuhkan dalam realisasi proses belajar mengajar matematika, guru juga seharusnya mengajarkan kepada siswa bagaimana cara belajar yang baik. Strategi PQ4R merupakan salah satu bagian dari strategi elaborasi. Strategi ini digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca, dan dapat membantu proses belajar mengajar dikelas. Yang dilaksanakan dengan kegiatan membaca buku. Kegiatan membaca buku digunakan untuk mempelajari sampai tuntas bab demi bab suatu buku pelajaran. Oleh karena itu keterampilan pokok utama yang harus dikembangkan dan dikuasai oleh para siswa adalah membaca buku pelajaran dan bacaan tambahan lainnya. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui ada tidaknya pengaruh hasil belajar matematika dengan menggunakan strategi pembelajaran PQ4R antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Penelitian ini dilakukan di kelas VIII MTs Miftahul Ulum Jambringin Proppo Pamekasan semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 dengan jumlah siswa 40 siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan rancangan kelas eksperimen dan kelas kontrol. Peneliti menggunakan metode tes untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa dimana hasil belajar matematika tersebut dianalisis untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh hasil belajar matematika dengan menggunakan strategi pembelajaran PQ4R.

Dari hasil analisis data, dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh hasil belajar matematika yang menggunakan strategi pembelajaran PQ4R. Hal ini dibuktikan oleh hasil perhitungan pengaruh hasil belajar matematika siswa yaitu 3,79 > 2,02 atau thitung > ttabel.

Kata Kunci : hasil belajar, PQ4R, dan bangun ruang sisi datar.

PENDAHULUAN

Pendidikan Nasional merupakan hal yang penting dimana pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Melalui pendidikan dapat mengembangkan kemajuan dan kreatifitas masyarakat Indonesia sehingga mampu mencetak tenaga-tenaga profesional dibidang yang nantinya sangat di butuhkan dalam memajukan pembangunan bangsa. Pendidikan hendaknya melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang akan dihadapi peserta didik di masa yang akan datang.

Sekolah merupakan instansi sosial yang terlibat langsung dalam berbagai aktivitas individu dan masyarakat. Untuk itu diharapkan sekolah dapat mempersiapkan generasi muda yang mampu menghadapi dan memecahkan masalah perubahan sosial yang terjadi di masyarakat. Dalam kaitannya dengan upaya mempersiapkan generasi muda

di atas, maka seorang guru sangat berperan dan berkewajiban untuk membimbing serta melatih siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi. Selain mengajar dan melatih siswa, guru juga berperan dalam mengarahkan peserta didiknya. Peranan guru dalam proses interaksi belajar mengajar sangat menentukan berhasil tidaknya proses tersebut.

Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik, prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan belum menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu (belajar untuk belajar) oleh karena itu, guru di tuntut untuk mempunyai strategi pembelajaran yang tepat dan harus menguasai materi yang akan disampaikan

(20)

Lanya, Pengaruh Strategi Pembelajaran PQ4R|

53

sehingga akan tercipta suasana belajar yang kodusif dan bisa mencapai hasil yang diharapkan. Jika seorang guru tidak pandai menguasai kelas maka dapat memungkinkan kegiatan belajar-mengajar tidak efektif sehingga tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan baik.

Berdasarkan tujuan/keinginan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap matematika dan meminimalkan anggapan-anggapan negatif terhadap matematika maka guru sebagai pendidik yang professional harus melakukan pengajaran yang baik, sebagaimana menurut Weistem dan Meyer, dalam Nur (2005: 5) bahwa pengajaran yang baik meliputi mengajar siswa bagaimana belajar, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri, pengajaran strategis belajar berdasarkan pada dalil bahwa keberhasilan siswa sebagaian besar tergantung pada kemahiran untuk belajar mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri. Hal inilah yang menjadi strategi belajar mutlak diajarkan kepada siswa tersendiri mulai dari kelas 6 SD dan terus berlanjut sampai sekolah menengah dan pendidikan tinggi.

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang terkesan sulit bagi siswa. Hal ini disebabkan karena dalam pelajaran matematika siswa sering dihadapkan dengan konsep-konsep atau simbol-simbol yang sulit dipahami. Sehingga menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari. Terkadang juga siswa sering mendapatkan soal-soal yang sulit untuk dipecahkan dan dicari penyelesaiannya serta mudah melupakan materi-materi yang mereka dapatkan.

Strategi elaborasi telah lama dikenal guru, yaitu strategi PQ4R. Strategi ini digunakan untuk membantu siswa mengingat apa yang mereka baca. Mungkin sekali Anda pernah diajar metode ini pada saat SD ataupun SLTP. P singkatan dari preview (membaca selintas dengan cepat), Q untuk question (bertanya), dan 4R singakatan dari read (membaca), reflect (refleksi), recite (tanya-jawab sendiri), dan review (mengulang secara menyeluruh) (Thomas dan Robinson, siswa yang menggunakan

PQ4R akan diperintahkan untuk mendekati suatu tugas bacaan dengan langkah-langkah berikut ini: (1) Preview, (2) Mengajukan pertanyaan, (3) Membaca, (4) Merefleksi, (5) Meresitasi, (6) Mereview.

Setiap siswa memiliki karakter dan kesukaan yang berbeda, dalam tempat penelitian ini yaitu MTs Miftahul Ulum keadaan siswanya heterogen, hal ini bisa dilihat dari cara mereka menerima pelajaran ataupun dalam bersikap dalam kesehariannya, rata-rata siswa di sekolah ini kurang suka akan budaya membaca dan hasil belajar merekapun relatife standart saja. Dari latar belakang ini timbullah inisiatif peneliti untuk mengadakan penelitian terhadap sekolah ini.

Bangun Ruang Sisi Datar adalah salah satu materi SMP kelas VIII yang memaparkan tentang macam-macam bangun ruang sisi datar, meliputi ; kubus, balok, prisma, dan limas, mencari luas permukaan, dan volume dari bangun ruang tersebut. Sekilas bahasan ini sepertinya mudah akan tetapi banyak siswa yang merasa kesulitan ketika menyelesaikan soal yang terdiri dari beberapa bangun ruang tersebut serta mudah melupakan penyelesaian dari soal tersebut.. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat membantu daya pikir siswa adalah dengan menggunakan strategi PQ4R. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui ada tidaknya pengaruh strategi pembelajaran PQ4R terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar kelas VIII.

METODE PENELITIAN

Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII MTs MIFTAHUL ULUM Jambringin Proppo Pamekasan sebanyak 40 siswa. Dengan tehnik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Tes

Dalam penelitian ini, tes yang digunakan adalah tes subjektif. Menurut Arikunto (2003: 162) Tes subjektif adalah suatu jenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata.

Tes ini digunakan untuk memperoleh data / nilai hasil belajar matematika peserta didik kelas VIII pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Datar

(21)

dengan menggunakan strategi PQ4R sebanyak 4 butir soal dalam waktu 80 menit.

2. Uji Coba Instrumen Penelitian

Sebelum instrumen digunakan sebagai alat pengumpulan data, instrumen tes perlu diuji cobakan terlebih dahulu dengan tujuan untuk mengetahui kelayakan dari soal-soal tes yang dibuat sehingga dapat diketahui tingkat validitas dan reliabilitasnya. Karena soal yang dijadikan instrumen harus memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. Berdasarkan uji coba instrument yang dilakukan diperoleh bahwa soal tes yang digunakan valid, reliable, memiliki daya pembeda dan tingkat kesukaran yang bervariasi.

Dari hasil data penelitian yang telah dikumpulkan akan dianalisis menggunakan rumus uji t. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan jawaban terhadap rumusan masalah “Adakah pengaruh setrategi pembelajaran PQ4R terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar?”. Data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah hasil tes yang diberikan kepada siswa kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah diberikan perlakuan pendekatan pengajaran yang berbeda pada siswa, data tersebut digunakan untuk menguji hipotesis.

Analisis perbedaan hasil belajar siswa untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol dilaksanakan satu kali yaitu pada akhir pembelajaran materi bangun ruang sisi datar. Hal ini dilakukan untuk menganalisa apakah hipotesis yang diajukan diterima atau ditolak. Adapun hipotesis yang yang diajukan adalah sebagai berikut :

1.1. Hipotesis Kerja (H1)

Adakah pengaruh hasil belajar matematika yang menggunakan setrategi pembelajaran PQ4R terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

1.2. Hipotesis Nihil (Ho)

Tidak ada pengaruh setrategi pembelajaran PQ4R terhadap hasil belajar matematika pada pokok bahasan bangun ruang sisi datar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Menurut Djamarah, hasil belajar adalah perubahan yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan belajar yang telah dilakukan oleh individu (2002 : 141). Hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang berhubungan dengan ranah kognitif. Benyamin Bloom dalam Nana Sujana (2009:22) secara garis besar membagi hasil belajar menjadi tiga ranah yang salah satunya adalah ranah kognitif. Dia mengatakan bahwa hasil belajar berkenaan dengan ranah kognirif merupakan hasil belajar yang berhubungan dengan intelektual diantaranya pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis dan evaluasi.

Djamarah (2006 : 109-119) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah tujuan, guru, anak didik, kegiatan pengajaran, bahan dan alat evaluasi, serta suasana evaluasi. Kegiatan pengajaran meliputi pemilihan pendekatan atau strategi khusus yang diambil guru demi tercapainya tujuan pembelajaran.

Salah satu strategi yang bisa digunakan untuk membantu siswa memahami dan mengingat materi yang mereka baca, dan dapat membantu proses belajar mengajar di kelas adalah strategi PQ4R. Menurut Thomas dan Robinson dalam Nur, langkah-langkah yang harus dilakukan dalam strategi PQ4R adalah sebagai berikut :

Langkah pertama: Preview (membaca selintas dengan cepat)

Langkah pertama ini dimaksudkan agar siswa, membaca selintas dengan cepat sebelum memulai membaca suatu buku. Pembaca dapat memulai dengan membaca topik-topik, sub topik utama, judul dan sub judul, kalimat-kalimat permulaan atau akhir suatu paragraph atau ringkasan pada akhir suatu bab. Perhatikan ide pokok yang akan menjadi inti pembahasan dalam dalam bahan bacaan siswa. Dengan ide poko ini akan memudahkan mereka memberi keseluruhan ide yang ada.

Langkah kedua: Question (pertanyaan) Langkah kedua adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri untuk setiap pasal yang ada pada bahan bacaan siswa. Pergunakan “judul dan sub

Referensi

Dokumen terkait

melakukan perincian kegiatan peserta didik yang telah dilakukan dalam proses belajar mengajar yang telah berlangsung. Data-data tersebut diteliti, dicermati, dilihat

Bentuk dari rendahnya prestasi belajar afektif siswa antara lain (1) siswa sulit menumbuhkan semangat belajarnya, (2) kurang serius dalam mengikuti pembelajaran,

mengajar, salah satunya motivasi belajar siswa. Motivasi belajar sangat dibutuhkan untuk tercapainya proses pembelajaran terutama dalam pelajaran matematika, matematika

mengemukakan bahwa Keaktifan siswa dapat dilihat melalui keikutsertaan siswa dalam melaksanakan tugas belajarnya, terlibat dalam pemecahan masalah, bertanya kepada

Sudjana (2006: 61) menyatakan keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal, a) turut serta dalam melaksanakan tugas belajar; b) terlibat dalam pemecahan masalah; c) Bertanya

Berdasarkan data yang diperoleh dapat dilihat bahwa skor rata-rata motivasi belajar matematika siswa untuk kelas eksperimen yang dimana proses belajarnya dengan

Observasi tersebut dilakukan untuk mengetahui keaktifan siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan untuk mengetahui kemampuan siswa menerima materi

Indikator keaktifan belajar menurut Sudjana, 2016: 61 dapat dilihat dari beberapa hal yaitu: 1 Ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung siswa turut serta melaksanakan tugas