25
di Pulau Salibabu
The Establishment of Gray Bentet Bird (Lanius schach) from Yogyakarta
in Salibabu Island
FREDY LALA
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara Komplek Pertanian Kusu, Oba Utara, Kota Tidore Kepulauan
E-mail: [email protected]
Diterima 11 Desember 2015 / Direvisi 29 Maret 2016 / Disetujui 29 Mei 2016 ABSTRAK
Burung Bentet kelabu Lanius schach merupakan salah satu predator yang berpotensi sebagai agens hayati hama belalang. Sebanyak 30 ekor burung jantan dan 10 ekor betina telah diintroduksikan dari Yogyakarta ke Pulau Salibabu, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, untuk pengendalian hama kelapa, belalang Sexava nubila. Kemapanan, perkembangan, dan biologi burung ini dikaji di Kecamatan Moronge, Pulau Salibabu, sejak bulan Agustus 2011 sampai Juli 2012. Kemapanan burung L. schach diukur berdasarkan populasi, pemencaran, dan generasi baru. Hasil kajian menunjukkan bahwa burung L. schach berhasil mapan dan berkembang dengan baik di Pulau Salibabu. Pada tiga bulan sesudah pelepasan sebanyak 20 ekor ditemukan kembali dan telah memencar sejauh 6-15 km dari tempat pelepasan. Burung generasi baru sebanyak 2 ekor ditemukan pada saat 9 bulan setelah pelepasan induknya. Biologi L. schach di Pulau Salibabu mirip dengan di daerah asalnya Yogyakarta. Seekor betina bertelur sebanyak 4 butir/periode bertelur. Masa bertelur selama 3-4 hari. Frekuensi bertelur dua kali per tahun. Sex ratio 3 jantan : 1 betina. Burung L. schach kawin pertama kali saat berumur sekitar 9 bulan. Burung ini termasuk golongan pemakan serangga, aktif pada siang hari, dan memburu mangsa yang bergerak. Burung predator ini berkembang dengan baik dan merupakan agens pengendalian hayati yang menjanjikan terhadap hama S. nubila di Pulau Salibabu.
Kata kunci: Lanius schach, Sexava nubila, kemapanan.
ABSTRACT
The Gray Bentet bird (Lanius schach) is one of the potential predators as biological agents against grasshopper pests. As many as 30 males and 10 females of the Gray Bentet birds had been introduced from Yogyakarta to Salibabu Island, Talaud Islands Regency, North Sulawesi Province, for controlling coconut pest namely Sexava nubila grasshopper. The establishment, development, and biology of the Gray Bentet birds were studied at District of Moronge in Salibabu Island, from August 2011 to July 2012. Establishment of the Gray Bentet bird was indicated by its population, dispersal, and the resulted new generation. Results showed that the Gray Bentet bird was very successfully established and well developed in Salibabu Island. At 3 months after release as many as 20 birds were rediscovered and they had dispersed as far as 6 – 15 km away from the release site. The new generation of as many as 2 birds were discovered at 9 months after releasing of their parents. Biology of the Gray Bentet birds in Salibabu Island was similar with that in their origin in Yogyakarta. A single female produced 4 eggs per reproductive period for 3-4 days, with sex ratio of 3 males : 1 female. Producing eggs frequency was twice per year. The first mating occurred when the Gray Bentet birds was at 9 months old. The Gray Bentet bird belonged to insectivorous group, diurnal birds, and it attacks moving preys. The predatory bird developed well in Salibabu Island and it was a promising biological control agent against the pest of S. nubila.
Keywords: Lanius schach, Sexava nubila, establishment.
PENDAHULUAN
Pengendalian kimiawi hama Sexava nubila yang menyerang tanaman kelapa di Kepulauan Talaud saat ini cenderung kurang memperhatikan peran musuh alami dan diduga mengganggu lingkungan. Musuh alami tersebut antara lain dari golongan predator.
Burung predator berperan penting sebagai salah satu regulator populasi serangga hama. Salah satu jenis burung yang diketahui sebagai predator serangga adalah burung Bentet Kelabu. Mackinnon (1988) mengklasifikasikan burung Bentet Kelabu ke dalam Kingdom Animalia, Phylum Chordata, Kelas Aves, Ordo Passeriformes, Famili Laniidae, Genus Lanius, Species Lanius schach (Long-tailed Shrike). Di
26
Indonesia selain L. schach masih terdapat dua jenis lain yakni L. cristatus (Brown Shrike) dan L. tigrinus (Tiger Shrike). Jenis L. schach tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Nusa Tenggara sedangkan L. cristatus tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua. Jenis L. tigrinus tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi (Sukmantoro et al., 2007). Burung L. schach dijumpai pada berbagai jenis vegetasi, mulai dari pesisir pantai hingga pe-gunungan (Pudyatmoko, 2008).
Morfologi burung L. schach sebagai berikut. Panjang tubuh 20-25 cm. Paruh ujungnya berkait pendek dan kokoh. Kuku cukup panjang dan kuat untuk mencengkeram mangsa. Sayap pendek, ujung bulat, jumlah bulu sayap luar primer sebanyak 10 bulu, ekor panjang, dan memiliki bulu kemudi 12 buah. Burung L. schach jantan dicirikan oleh bulu hitam pekat di atas mata sedangkan betina strip coklat. Burung ini biasanya bertengger pada pohon yang tingginya sedang sampai tinggi dan dengan cepat mampu menangkap serangga yang hinggap pada per-mukaan bagian tanaman maupun di perper-mukaan tanah (Holmes dan Nash, 1989).
Burung L. schach termasuk polifagus, memiliki mangsa lebih dari satu jenis. Seleksi alam membentuk burung L. schach mampu memperoleh pakan yang efisien. Dalam waktu paling singkat predator mampu mencari, menemukan, dan memilih mangsa untuk memenuhi kebutuhan energi tubuhnya (Sukarsono, 2009). Dalam mencari mangsa burung L. schach sangat agresif. Burung L. schach terbang dengan gerakan ber-gelombang diselingi terbang meluncur dan menukik dekat tanah sehingga ketika kembali ke tempat pengawasannya harus terbang kembali tegak lurus.
Di dalam sangkar kawat kasa berukuran 70 x 50 x 50 cm, burung L. schach di tempat tenggernya dengan penglihatan yang sangat tajam merespon gerakan belalang Sexava spp. Ketika mangsa bergerak, burung L. schach langsung terbang mendekat, mencekeram tubuh belalang, dan mematuk bagian tubuh antara kepala dan abdomen sampai mangsa tidak berdaya (Lala, 2010). Daya makan burung L. schach terhadap belalang cukup tinggi. Astuti et al. (2009) melaporkan bahwa pada kondisi laboratorium, burung L. schach memangsa belalang kembara instar 2 lebih banyak (124 ekor/45 menit) daripada instar 4 (29 ekor/215 menit) dan imago (12 ekor/ 137 menit). Burung aktif pada siang hari dan makan terus menerus sepanjang hari, beristirahat selama kurang lebih satu jam setelah kenyang. Berdasarkan perilaku tersebut dapat diasumsikan
bahwa dalam sehari (12 jam aktif) pada kondisi laboratorium, burung L. schach dapat memangsa belalang kembara instar 2 sekitar 558 ekor, instar 4 sekitar 44 ekor, dan imago sekitar 36 ekor. Di Desa Dumagin, Kecamatan Pinolosian Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, burung L. schach dapat memangsa imago belalang S. coriacea sebanyak 1-2 ekor/jam sedangkan nimfa muda dan tua masing-masing sebanyak 9 ekor/jam dan 6 ekor/jam (Lala et al., 2010a). Berdasarkan kemampuan tersebut, maka diperkirakan burung L. schach dapat memangsa imago belalang S. coriacea sebanyak 6-12 ekor/hari, nimfa muda dan tua masing-masing 54 ekor/hari dan 36 ekor/hari dalam kondisi terkendali. Aktivitas biologi burung L. schach antara pukul 06.00-18.00 waktu setempat meliputi kegiatan memburu dan makan mangsa (16,52%), terbang (6,53%), melompat (5,70%), dan berjalan (4,58%), sedangkan pada malam hari diam dan tidur (Lala et al., 2010). Di alam, perilaku burung L. schach dapat mengalami perubahan dan kemampuan memangsa kemungkinan dapat menjadi lebih tinggi atau lebih rendah.
Pertumbuhan dan perkembangan burung L. schach mulai dari telur sampai dewasa, kawin, bertelur dan mempertahankan diri sangat di-pengaruhi oleh lingkungan biotik dan abiotik. Artinya, proses biologi dan ekologi dari burung L. schach sangat penting untuk dipelajari dan dipahami. Dalam kaitannya dengan perilaku dan fungsinya sebagai pemangsa, maka pengetahuan tentang ekobiologi burung L. schach sangat penting karena dapat memberi keuntungan dalam men-jaga, memelihara, dan melestarikan kemampuan burung tersebut sebagai salah satu regulator dari populasi serangga hama.
Jumlah telur yang dihasilkan berkisar antara 3-6 butir. Telur menetas dalam dua minggu periode pengeraman. Pengeraman sebagian besar dilakukan oleh burung betina. Selama mengerami, burung betina disuapi oleh burung jantan. Pada umur 2-3 minggu anak burung L. schach mulai belajar terbang dan meninggalkan sarangnya.
Kemapanan burung L. schach di Pulau Salibabu diawali dari keberhasilan introduksinya dari Yogyakarta. Salah satu tolok ukurnya yaitu adanya kesamaan/kemiripan antara habitat daerah asal dan daerah tujuan. Ditunjang dengan ketersediaan jenis mangsa (makanan) yang cocok, maka kehidupan burung L. schach terus berlanjut. Apabila kemapanan tersebut terus terjaga diharapkan akan memberi pengaruh terhadap penurunan populasi hama S. nubila di Pulau Salibabu. Penelitian ini bertujuan untuk men-deskripsi morfologi dan mengukur kemapanan
27
D1 Y1 D3 Y3 P2 P3 P4
P1 D2 Y2 D4 Y4
Keterangan : D : jarak antara pengamat dengan posisi burung Y : jarak antara garis transek dengan posisi burung P : pengamat
J : lebar jalur pengamatan burung (20-25 m) Note : D : distance between the observer with position of bird
Y : distance between line transect with position of bird P : the observer
J : width track bird observation (20-25 m)
Gambar 2. Teknik pengamatan burung L. Schach. Figure 2. Observations technique onof L. schachbird.
J
J garis transek
line transect burung L. schach di Pulau Salibabu, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.
BAHAN DAN METODE
Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Moronge, Pulau Salibabu, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Lokasi tersebut dipilih karena merupakan pusat serangan hama S. nubila dan tempat pelepasan burung L. schach asal Yogyakarta sebanyak 40 ekor (30 jantan dan 10 betina) pada bulan Agustus tahun 2011. Penelitian dimulai bulan Agustus 2011 sampai Juli 2012.
Metode Penelitian
Kajian kemapanan burung Bentet Kelabu (L. schach) dilakukan dengan cara sebagai berikut. Populasi, dan perkembangan burung
Pengamatan dan penghitungan burung L. schach dilakukan secara langsung (direct counts) dengan cara transek garis (line transect) (Bibby et al., 2000) pada lokasi pelepasan (release site = RS). Pengamatan dan penghitungan burung L. schach di sekitar RS dan sepanjang garis transek yang menghubungkan masing-masing RS. Jarak RS1 ke RS2 = 1,2 km, RS2 ke RS3 = 0,9 km, RS3 ke RS4 = 4 km dan RS4 ke RS1 = 3 km, total panjang jalur pengamatan adalah 9,1 km (Gambar 1).
Gambar 1. Sketsa pengamatan populasi burung L. schach di lokasi penelitian.
Figure 1. Sketch of observations on populations of L. schach bird at the study site.
3 4 2 1 3 km 4 km 1,2 km 0,9 km
Keterangan : Garis transek
Lokasi pelepasan burung Wilayah Kec. Moronge Note : Line transect
Bird release site District. Moronge
28
Sebanyak delapan pengamat dibagi ke dalam empat RS (2 orang tiap RS), kemudian secara bersama-sama berjalan mengikuti jalur transek melakukan pengamatan dan penghitungan burung. Untuk melebarkan jangkauan peng-amatan pada jalur maka posisi antara dua orang di setiap RS berjarak 20-25 meter. Pengulangan sampel pengamatan burung L. schach di lokasi yang sama dilakukan empat kali dengan selang waktu dua bulan sekali. Pengulangan sampel ini dilakukan seperti sampling awal.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perkembangan burung L. schach
Telur, anak burung, burung kecil, burung remaja, dan burung dewasa mempunyai perbedaan ukuran, bentuk, warna, dan lainnya (Gambar 3).
Telur
Telur burung L. schach berbentuk lonjong, kulitnya dominan berwarna putih dan terdapat bercak-bercak berwarna kelabu dan coklat muda. Panjang telur 3-4 cm dan diameter 2-2,5 cm. Banyaknya telur yang ditemukan pada setiap sarang berkisar 3-4 butir (Gambar 3b). Stadium telur antara 14-17 hari.
Pada cuaca panas atau kering penetasan telur dapat mencapai 100% sedangkan pada cuaca hujan atau kelembaban tinggi tingkat penetasan telur kurang dari 100%. Jika curah hujan tinggi seringkali telur tidak menetas kalaupun menetas kurang dari 50%. Periode bertelur selama 3 sampai 4 hari, bertelur 1 butir per hari. Pengeraman telur selama 14 sampai 17 hari. Pada kondisi normal burung L. schach bertelur dua kali setiap tahunnya, namun bila anak burung diambil orang biasanya burung akan segera bertelur lagi pada sarang baru sehingga dalam satu tahun dapat bertelur lebih dari dua kali.
Anak burung
Anak burung atau piyik yang keluar dari telur belum ditumbuhi bulu (Gambar 3c). Tubuh berwarna dominan coklat kemerahan dengan bentuk mata yang menonjol. Anak burung mempunyai gigi telur, suatu tonjolan seperti kapur di ujung paruh yang belum sempurna karena itu dalam proses makan masih disuapi oleh induknya. Beberapa hari kemudian gigi telur yang berfungsi untuk memecahkan kulit telur akan rontok dengan sendirinya. Pada umur 12 hari seluruh tubuh anak burung sudah tertutup bulu namun belum
bersayap. Anak burung memerlukan waktu sekitar 2,5 bulan untuk pertumbuhan optimal hingga siap keluar dari sarang.
Anak burung sering makan dari potongan-potongan kecil mangsa yang ditangkap oleh kedua induk (Yoong, 2011). Di Bangladesh kadang-kadang anak burung ini diparasiti oleh burung Common Cuckoo (Cuculus canorus), Common Hawk-Cuckoo (Hierococcyx varius), Jacobin Hawk-Cuckoo (Clamator jacobinus) dan Koel Asia atau Asian Koel (Eudynamys scolopaceus) (Begum et al., 2011). Burung kecil
Panjang tubuh burung kecil sekitar 10-15 cm. Pada stadia ini tubuh burung L. schach sudah berbulu lengkap dengan warna keseluruhan lebih suram dibanding dewasa. Warna bulu di kepala dan tengkuk dominan kelabu sedang leher dan bagian dada putih, sayap pendek berwarna hitam kecoklatan dengan garis-garis putih, paruh dan mulut bagian dalam berwarna kuning (Gambar 3d).
Aktivitas makan sudah dapat dilakukan sendiri tetapi belum mampu mencari makan sendiri. Burung kecil belum dapat terbang karena sayap belum berkembang sempurna. Selain ukuran tubuh dan warna bulu, ciri-ciri burung kecil adalah kaki masih halus, tidak bersisik, dan kukunya belum melengkung. Selain itu bunyi suara kicauan belum melengking keras dan tidak bervariasi. Stadium burung kecil sekitar 2-3 bulan. Burung remaja
Burung remaja memiliki panjang tubuh sekitar 20 cm dan sudah memiliki ekor. Bagian dahi dan ekor berwarna hitam kelabu, sayap hitam berbintik putih, mahkota dan tengkuk kelabu, punggung dan sisi tubuh berwarna kelabu bercampur coklat. Bagian dagu, tenggorokan, dada dan perut tengah berwarna coklat muda dan putih serta memiliki paruh berbentuk kait (Gambar 3e). Stadium remaja burung L. schach selama 2-3 bulan sebelum memasuki periode dewasa.
Burung dewasa
Panjang tubuh burung dewasa L. schach sekitar 25 cm dan memiliki ekor yang panjang. Bagian dahi dan ekor berwarna hitam pekat, sayap hitam berbintik putih, mahkota dan tengkuk kelabu, punggung dan sisi tubuh coklat. Bagian dagu, tenggorokan, dada dan perut tengah berwarna coklat muda dan putih serta memiliki paruh berbentuk kait (Gambar 3f). Pada umur 9 bulan umumnya burung siap kawin. Jenis kelamin dapat ditentukan melalui warna bulu di bagian pipi, bentuk kepala dan bentuk paruh.
29
Gambar 3. Fase perkembanganburung L. schach. Figure 3. The development of L. schach stages.
Burung jantan mempunyai bulu di sekitar mata hitam pekat dan kepala bagian atas pipih dengan bulu berwarna kelabu. Burung betina memiliki ciri-ciri yang mirip jantan, perbedaannya terletak pada warna bulu sekitar mata hitam memudar, kepala bagian atas lebih pipih. Umur dewasa burung L. schach yang hidup di alam belum diketahui secara pasti. Burung dewasa L. schach yang telah tua dapat dikenali dari kukunya yang telah melengkung dan bersisik seperti pada ayam. Di daerah Gunung Kidul umur burung L. schach sekitar 15-20 tahun. Deskripsi biologis seperti mencari makan, kawin, dan lain-lain dilakukan antara jam 05.30 hingga 17.30 WIB. Jam biologi burung L. schach di Salibabu tidak berbeda jauh dengan di Desa Dumagin, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara yakni antara jam 06.00 sampai 18.00 WITA (Lala, 2010). Kebiasaan sering berkicau antara jam 07.30-10.00 sedangkan pada jam 15.00-17.00 jarang berkicau. Kemampuan bernyanyi membuat burung ini menjadi hewan peliharaan yang populer di beberapa bagian Asia Tenggara
(Shepherd, 2006; Sodhi et al., 2011). Saat ber-istirahat, burung dewasa L. schach biasanya terlihat hanya seekor atau satu-satu dan tidak ber-pasangan, ada yang berkicau dan ada yang diam. Pola terbang seperti burung kicauan lainnya. Burung L. schach jarang mandi dan cenderung tidak membutuhkan air yang banyak karena telah terpenuhi lewat pakannya. Pergantian bulu pada burung dewasa L. schach terjadi setiap tahun. Satu persatu bulu rontok dan berganti dengan bulu baru. Biasanya proses tersebut berlangsung selama 2 hingga 3 bulan pada bulan November-Januari.
Burung betina dan jantan dewasa mencari dan mengumpulkan bahan untuk dibuat sarang seperti akar, ranting-ranting kecil, dan rerumputan yang semuanya sudah kering. Rumput kering digunakan karena dapat menjaga kehangatan bagi telur dan anaknya. Bentuk sarang seperti mangkok bakso atau bulat terbuka di bagian atasnya (Gambar 3a). Diameter sarang bagian luar sekitar 12-15 cm sedangkan bagian dalam berukuran 10-12 cm. Tinggi sarang berkisar 9-12 cm. Sarang memiliki ketebalan yang bervariasi, bagian Sarang
Nest Telur Eggs Anak burung Cheepers
(a) (b) (c)
(d) (e) (f)
Burung kecil
30
Gambar 4. Populasi burung L. schach yang teramati di tempat pelepasan dan sekitarnya. Figure 4. Populations of observed L. schach bird atthe release site and its surrounding. dinding atau keliling biasanya lebih tebal
dibandingkan bagian bawah yang berbentuk pipih. Pohon yang dijadikan tempat bersarang memiliki kerindangan yang sedang. Sarang diletakkan pada persilangan cabang bagian tengah dan terlindungi dahan dan daun yang ada di atasnya. Tinggi sarang dari permukaan tanah antara 1-7 meter. Jenis pohon tempat peletakan sarang antara lain yaitu jati, akasia, lamtoro, trembesi, mahoni, melinjo, jambu biji, jambu air, mangga, dan Gliricidia. Sarang dijumpai pada pohon-pohon yang ada di pesisir pantai hingga perbukitan atau dari 0 sampai 500 meter dari permukaan laut.
Pada saat telur menetas, induk betina sering menutupi sarang dengan dedaunan kering untuk meminimalkan gangguan atau ancaman predator. Peran burung L. schach jantan selama pengeraman, yaitu (1) mencari makanan seperti belalang, jangkrik, dan berbagai jenis ulat, (2) menyuapi burung betina yang sedang mengerami telur, (3) menjaga keamanan sarang dengan cara ber-aktivitas tidak jauh dari sarang. Ketika memiliki waktu untuk mencari pakan, burung betina dan jantan L. schach seringkali meninggalkan sarang tidak lebih dari setengah jam.
Kemapanan Burung L. schach
Burung L. schach setelah 3 bulan dilepaskan dapat ditemukan kembali. Penemuan ini meng-indikasikan bahwa burung tersebut mampu bertahan hidup di habitat barunya. Kemampuan bertahan hidup salah satunya dipengaruhi oleh seleksi terhadap habitat. Safran (2006) menyatakan bahwa perilaku seleksi habitat (habitat selection) burung sangat penting karena dapat mem-pengaruhi lama hidup dan suksesnya perkem-bangbiakan. Keberhasilan perkembangbiakan
burung Hirundo restica di Kanada merupakan bagian dari perilaku seleksi habitat yang meng-hasilkan ”lokasi” yang dipreferensikan sebagai tempat bertahan hidup dan berkembangbiak.
Lokasi tersebut biasanya memiliki potensi sumberdaya yang menopang aktivitas hidup burung seperti ketersediaan pakan, aman terhadap gangguan, dan ancaman predator (Safran, 2006). Ketersediaan pakan sangat mempengaruhi kebugaran burung saat memasuki musim berkembangbiak (Muller et al., 2005; Doerr et al., 2006).
Populasi Burung L. schach
Populasi burung L. schach dewasa yang ditemukan kembali semakin menyebar dalam lima kali pengamatan sejak dilepaskan pada bulan Agustus 2011 (Gambar 4). Pertumbuhan populasi burung Bentet Kelabu L. schach dibatasi oleh daya dukung lingkungan atau mengikuti tren per-tumbuhan logistik (Begon et al., 1996). Menye-barnya populasi burung Bentet Kelabu L. schach dewasa yang teramati diduga dapat disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, beradaptasinya burung L. schach pada setiap tempat pelepasan menyebabkan teritorial menjadi relatif sempit dan akses terhadap mangsa yang sama menjadi tinggi. Hal ini menyebabkan terjadinya persaingan dimana burung L. schach yang kalah dalam persaingan melakukan switching ke tempat lain atau menjauh dari tempat pelepasan sehingga tidak teramati.
Kedua, kemungkinan burung L. schach memangsa belalang S. nubila yang memakan daun kelapa yang mengandung insektisida kimia. Di sekitar lokasi pelepasan terdapat perkebunan kelapa yang tanamannya diaplikasi insektisida dimehipo melalui injeksi batang. Belalang S. nubila
31 Tabel 1. Estimasi kerapatan burung L. schach di Kecamatan Moronge, Kabupaten
Kepulauan Talaud.
Table 1. Estimated densities of birds L. schach in District Moronge, Talaud Islands Regency.
Variabel
Variable Waktu Pengamatan Time of observation
Nov.11 Jan.12 Mar.12 Mei.12 Jul.12 Rata-rata jarak tegak lurus (km)
The average distance perpendicular (km) 0,0085 0,0094 0,0116 0,0145 0,016
Lebar jarak efektif penuh (km)
Full width effective distance (km) 0,017 0,019 0,023 0,029 0,032
Total luas area sampel (km2)
The total area of the sample (km2)
0,155 0,173 0,211 0,264 0,291 Estimasi kerapatan burung (ekor/km2)
Estimated densities of birds (individu/km2)
129 104 57 30 31
yang makan daun kelapa tersebut diduga mengandung racun. Burung yang makan belalang S. nubila beracun akan mengalami pembesaran biologik (biological magnification) yaitu makin naiknya konsentrasi insektisida dalam tubuh burung sehingga dapat membunuhnya. Dugaan ini masih perlu dibuktikan lebih lanjut dengan analisis kimia.
Populasi burung L. schach yang cenderung menyebar kemungkinan dapat menyebabkan meningkatnya populasi belalang S. nubila. Walaupun demikian, populasi nyata burung L. schach di habitat baru kemungkinan lebih tinggi dari pada hasil estimasi. Tinbergen (1960) menyatakan bahwa pada populasi awal yang tinggi, satwa yang ditemukan di alam akan lebih sedikit dibandingkan dengan perkiraan awal. Estimasi Kerapatan Burung L. schach
Estimasi kerapatan burung L. schach merupakan gambaran perkiraan perkembangan populasi yang terjadi dalam waktu tertentu pada luasan areal pengamatan yang terbatas. Estimasi kerapatan burung L. schach di Kecamatan Moronge pada pengamatan pertama (November 2011) berjumlah 129 ekor/km2. Pada pengamatan kedua, ketiga, keempat, dan kelima, estimasi kerapatan burung berturut-turut 104, 57, 30, dan 31 ekor/km2 (Tabel 1).
Berkurangnya kerapatan burung L. schach pada empat kali pengamatan diduga karena semakin lama adaptasinya di habitat baru semakin baik sehingga makin besar peluang untuk terbang dan menyebar kemana-mana. Pendugaan kerapatan ini berhubungan erat dengan jumlah burung predator yang teramati. Burung L. schach yang semakin menyebar ke tempat lain (dispersal) atau menjauh dari tempat pelepasan peluangnya untuk teramati semakin kecil. Penyebaran ini memiliki kaitannya dengan keberadaan pakan, dimana pada lokasi pelepasan ketersediaan pakan
semakin berkurang sehingga burung mencari sumber pakan baru di tempat lain.
Kemungkinan adanya perubahan (suksesi) habitat secara terbatas memungkinkan terjadinya pengurangan kekayaan spesies serangga pakan. Partasasmita et al. (2009) mengatakan bahwa tipe habitat yang sedang dalam proses suksesi vegetasi memiliki perubahan kekayaan spesies dan jumlah individunya sebagai dampak dari perubahan komposisi dan struktur vegetasi yang ditem-patinya. Komposisi vegetasi (tumbuhan di lahan berair, rumput, semak belukar, dan pohon) dan iklim mikro (temperatur, kelembaban relatif, intensitas cahaya) adalah faktor kunci yang mempengaruhi distribusi, keanekaragaman, dan kepadatan spesies burung (Rejpar dan Zakaria, 2011). Selain itu juga dapat disebabkan karena burung mencari tempat dengan vegetasi semak atau tegakan yang lebih padat dan beragam yang mengarah pada vegetasi hutan. Widodo (2010; 2013) mengatakan bahwa pada habitat hutan sekunder dan hutan alam keragaman spesies burung umumnya cenderung lebih tinggi, seperti yang terjadi di kawasan hutan G. Slamet dengan nilai H’ bisa mencapai 3,02-3,65 dan di G. Sawal nilai H’=3,082. Lala et al. (2013) menginformasikan bahwa berdasarkan hasil pengamatan di lokasi penelitian (Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta), frekuensi teramatinya L. Schach lebih sering pada habitat lahan kering polikultur dengan kerapatan pohon sedang sampai tinggi. Hal ini mirip dengan penelitian Azman et al. (2011) yang mengatakan bahwa keanekaragam relatif insektivora dan insektivora-frugivora adalah lebih tinggi di daerah padat pohon atau hutan sekunder dibandingkan dengan kawasan monokultur. Sifatnya sebagai insektivora maka seringkali juga burung tersebut dijumpai di sekitar persawahan dan pemukiman (Rahayuningsih et al., 2010).
Berkurangnya kerapatan juga dapat dilihat dari rata-rata jarak tegak lurus antara pengamat dengan burung L. schach yang semakin bertambah.
32
Artinya, semakin besar nilai jarak tegak lurus akan semakin kecil peluang burung teramati. Pudyatmoko (2008) menyatakan bahwa peluang satwa atau kelompok satwa untuk terlihat (p) akan berkurang dengan semakin jauhnya jarak satwa tersebut dari transek. Burung L. schach yang ada di pusat transek memiliki peluang untuk terdeteksi (p=1), sedangkan yang jauh dari transek memiliki peluang lebih kecil untuk terlihat (p<1).
Kemapanan musuh alami pada suatu areal tidak hanya ditentukan oleh tingkat kerapatannya yang tinggi namun dipengaruhi oleh perilaku musuh alami itu sendiri dan luas daerah peng-amatan. Burung L. schach adalah jenis predator generalis yang mudah beradaptasi, dapat bergerak/terbang ke mana-mana dengan radius yang relatif jauh dari titik pelepasan, dan cenderung membentuk wilayah teritorial yang cukup luas. Pada musuh alami golongan serangga dengan mangsa sesama serangga, maka ke-mapanan dapat dilihat dari tingkat kerapatan yang tinggi karena kemampuan menyebarnya tidak secepat golongan burung sehingga lebih mudah teramati. Selain itu musuh alami golongan serangga umumnya memiliki sifat sebaran menge-lompok seperti mangsanya sedangkan burung L. schach bersifat soliter.
Pemencaran Burung Bentet Kelabu L. schach Pada lima bulan sesudah pelepasan yaitu bulan Januari 2012, burung L. schach terlihat di perkebunan kelapa Desa Lirung I dan sekitar pemukiman Desa Lirung, Kecamatan Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud. Jarak antara tempat terlihatnya burung L. schach di Desa Lirung I dan Desa Lirung dengan tempat pelepasan terdekat di Desa Moronge, Kecamatan Moronge sekitar 6 km. Pada tujuh bulan sesudah pelepasan yaitu bulan Maret 2012, burung L. schach kembali terlihat di perkebunan kelapa Desa Alude, Kecamatan Kalongan, Kabupaten Kepulauan Talaud yang berjarak sekitar 15 km dari tempat pelepasan terdekat. Burung Bentet Kelabu L. schach telah memencar ke arah utara pada tiga tempat yaitu Desa Lirung I, Lirung, dan Alude (Gambar 5). Pada tiga tempat tersebut terlihat burung L. schach dewasa bertengger berpasangan dan mengeluar-kan bunyi yang khas. Sampai akhir pengamatan bulan Juli 2012, belum terlihat lagi burung Bentet Kelabu L. schach di tempat lain.
Pemencaran burung L. schach ke arah utara pada pertanaman kelapa Desa Lirung I, Lirung, dan Alude diduga karena beberapa faktor. Pertama, terjadinya kompetisi dalam hal sumber pakan diantara sesama burung. Burung L. schach
yang kalah berkompetisi menghindar dan melakukan switching ke tempat lain. Hal tersebut sesuai dengan Begon et al. (1996) yang menyatakan bahwa untuk dapat bertahan hidup, musuh alami harus tetap memiliki akses sumber pakan. Oleh karena itu burung L. schach harus segera mencari tempat baru yang kemungkinan terdapat sumber pakan atau mangsa. Kedua, pada perkebunan kelapa di tiga desa tersebut terdapat sumber pakan utama yaitu belalang S. nubila atau mangsa lainnya. Pada ketiga desa tersebut intensitas serangan hama belalang S. nubila lebih tinggi dibandingkan dengan perkebunan kelapa di sebelah selatan tempat pelepasan yaitu di Kecamatan Salibabu dan sebelah utara Desa Alude yaitu di Desa Kalongan Selatan, Kecamatan Kalongan. Menurut Heriyanto (2008), pola sebaran burung yang merupakan gambaran sebaran menurut masing-masing tipe habitat dimana jenis burung pemakan serangga lebih banyak di hutan jati atau hutan mahoni, dikarenakan banyaknya ulat daun jati dan mahoni. Kondisi semacam ini hanya bersifat sementara, karena setelah pakan habis burung ini akan kembali ke hutan alam.
Keterangan : Lokasi pelepasan burung L. schach Lokasi terlihatnya burung L. schach Note : Release site birds L. schach
Sightings site birds L. schach
Gambar 5. Pemencaran burung L. schach. Figure 5. Dispersal of birds L. schach.
33 Generasi Baru Burung L. schach
Sembilan bulan sesudah pelepasan (Agustus 2011-Mei 2012) merupakan waktu yang cukup bagi burung L. schach untuk beradaptasi, bertumbuh, dan berkembangbiak. Pada bulan Mei 2012 dan Juli 2012 (9 dan 11 bulan sesudah pelepasan) teramati burung muda L. schach yang diduga merupakan generasi baru. Generasi baru burung tersebut diperkirakan berumur 6-7 bulan. Generasi baru burung L. schach ini akan berperan lebih nyata dalam supresi dan regulasi populasi hama belalang S. nubila pada tahun berikutnya apabila diikuti dengan upaya perlindungan dan pelestarian terhadap populasinya. Kehadiran burung L. schach diduga dapat memperkuat peran musuh alami lokal dalammenekan populasi hama belalang S. nubila. Hasil eksplorasi musuh alami tahun 2011 di lokasi penelitian hanya menemukan semut rangrang (Oecophylla smaragdina) dan laba-laba harimau (Araneae: Lycosidae) yang me-nyerang belalang S. nubila (Wagiman et al., 2011).
Indikator kemapanan burung L. schach yang diintroduksi dari Yogyakarta ke Pulau Salibabau, Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara yaitu ditemu-kan kembali, telah memencar, dan membentuk generasi baru. Penemuan kembali mengindikasi-kan bahwa burung predator mampu bertahan hidup di habitat barunya. Di sekitar tempat terlihatnya burung predator muda ditemukan beberapa sarang burung yang telah kosong. Diduga merupakan sarang dari burung L. schach tersebut. Ditemukannya kembali burung dewasa yang kemudian menyebar di beberapa tempat dan teramatinya burung muda sebagai generasi baru menunjukkan bahwa burung L. schach telah mapan pada habitat baru di Pulau Salibabu, Kabupaten Kepulauan Talaud. Mapannya burung L. schach di Pulau Salibabu diharapkan dapat mencegah terjadinya ledakan populasi hama S. nubila (Lala et al., 2014). Apalagi potensi menekan populasi hama belalang Sexava spp. dua bulan setelah pelepasan sudah ditunjukkan (Wagiman et al., 2014).
KESIMPULAN
Burung Bentet Kelabu (L. Schach) mapan dan berkembang dengan baik di Pulau Salibabu. Dalam tiga bulan setelah dilepas sebanyak 20 ekor burung ditemukan kembali dan dalam 9 bulan kemudian ditemukan 2 ekor burung generasi baru. Burung tersebut mampu memencar sejauh 6-15 km dari tempat pelepasan. Biologi burung Bentet Kelabu di Pulau Salibabu sama dengan di daerah
asalnya Yogyakarta. Burung predator ini sebagai pemangsa serangga berhasil mapan dan merupakan agens pengendalian hayati yang menjanjikan untuk pengendalian hama belalang Sexava spp. seperti di Pulau Salibabu.
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih disampaikan kepada Prof. Dr. Ir. F.X. Wagiman yang telah memberikan masukan terhadap penulisan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Azman, N.M., Latip, N.S.A., Sah, S.A.M. 2011. Avian and feeding guilds in a secondary forest, an oil palm plantation and a paddy fields in riparian areas of the Kerian Rires Basin, Perak, Malaysia. Tropical Life Science Researce 22:45-64.
Astuti, S., Untung, K., dan Wagiman, F.X. 2009. Respon fungsional burung Pentet (Lanius sp.) terhadap belalang Kembara (Locusta migratoria manilensis). Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 15(2):96-100.
Begum, S., Moksnes, A., Roskaft, E., and Stokke, B.G. 2011. Factors influencing host nest use by the Brood Parasitic Asian Koel (Eudynamys scolopacea). Journal of Ornithology. 152 (3): 793–800.
Begon, M., Harper, J.L., and Townsend, C.R. 1996. Ecology: Individuals, populations and communities. Third Edition. USA: Blackwell Science.
Bibby, C.J., Burgess, N.D., and Hill, D.A. 1992. Bird census techniques. London: Academic Press Limited.
Bibby, C., Jones, M., and Stuart, M. 2000. Teknik-teknik ekspedisi lapangan: Survei burung. Bogor: BirdLife International-Indonesia Programme.
Doerr, V.A.J., Doerr, E.D., and Jenkins, S.H. 2006. Habitat selection in two Australasian Treecreepers: What Cues Should They Use? Emu. 106:93-103.
Heriyanto, N.M., Garsetiasih, R. dan Setio, P. 2008. Status populasi dan habitat burung di BKPH Bayah, Banten. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 5(3): 239-249.
Holmes, D. and Nash, S. 1989. Burung-burung di Jawa dan Bali. Jakarta: Birdlife International. Lala, F. 2010. Potensi Burung predator Lanius sp.
sebagai agens pengendalian hayati hama Sexava coriacea. [Tesis]. Sekolah Pascasarjana UGM. Yogyakarta.
34
Lala, F., Wagiman, F.X., dan Putra, N.S. 2010. Aktivitas harian dan preferensi burung predator Lanius sp. terhadap hama Sexava spp. Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 16:22-27.
Lala, F., Wagiman F.X., dan Putra, N.S. 2010a. Daya mangsa dan respon fungsional burung predator Lanius sp. terhadap hama kelapa Sexava Coriaceae. Konperensi Nasional Kelapa VII: Akselerasi Revitalisasi Agribisnis Perkelapaan Nasional, Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan.
Lala, F., Wagiman, F.X., and Putra, N.S.. 2013. Keanekaragaman serangga dan struktur vegetasi pada habitat burung insektivora Lanius schach Linn. Di Tanjungsari, Yogyakarta
.
Jurnal Entomologi Indonesia. 10(2): 70-77.Lala, F., Wagiman, F.X., and Putra, N.S. 2014. The Introduction impact of predatory bird Lanius schach Linn. on population of Long Horn Grasshopper Sexava nubila Stal. and Leaves damage of coconut. ARPN Journal of Agricultural and Biological Science. 9(2): 71-75.
Mackinon, J. 1988. Field guide to the birds of Java and Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Muller, M., Passinelli, G., Schiegg, K., Spaar, R., and Jenni, L. 2005. Ecological and social effects on reproduction and local recruitment in the red-backet shike. Oecologia. 143:37-50.
Partasasmita, R., Mardiastuti, A., Solihin, D. D., Widjajakusuma, R., Prijono, S. N. dan Ueda, K. 2009. Komunitas burung pemakan buah di habitat suksesi. BIOSFERA, 26(2), 90-99. Pudyatmoko, S. 2008. Pengelolaan populasi satwa
liar. Program Pascasarjana Ilmu Kehutanan. Fakultas Kehutanan, UGM. Yogyakarta. Rahayuningsih, M., Purnomo, F.A., dan Priyono, B.
2010. Keanekaragaman burung di Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Biosaintifika 2:82-89.
Rejpar, M.N. dan Zakaria, M. 2011. Bird species abundance their correlationship with microclimate and habitat variables at natural wetland reserve, Peninsular Malaysia. International Journal of Zoology. doi: http://dx.doi.org/10.1155/2011/758573. Safran, R.J. 2006. Nest-site selection in the barn
swallow, Hirundo rustica; what predicts seasonal reproductive success. Canadian Journal of Zoology. 84:1533-1539.
Shepherd, C.R. 2006. The bird trade in Medan, North Sumatra: An Overview. BirdingAsia. 5:16-24.
Sodhi, N.S., Sekercioğlu, C.H., Barlow, J., and Robinson, S. 2011. Conservation of tropical birds. New York: John Wiley & Sons.
Sukarsono, 2009. Pengantar ekologi hewan: Konsep, perilaku, psikologi, dan komunikasi. Malang: UMM Press.
Sukmantoro, W., Irham, M., Novariono, W., Hasudungan, F., Kemp, N., dan Muchtar, M. 2007. Daftar Burung Indonesia No 2. Bogor. Tinbergen, L. 1960. The Natural control of insects
in pinewoods, factors influencing the intencity of predation by songbirds. Archives Neerlandaises Zoologie. 13:265-336.
Wagiman F.X., Hosang M.L.A., Putra N. S., dan Lala F. 2011. Studi ekobiologi dan pemanfaatan burung predator Lanius sp. untuk pengendalian hayati hama Sexava spp. pada tanaman kelapa di Sulawesi Utara. Laporan Hasil Kegiatan Kerja Sama Kemitraan Penelitian Pertanian dengan Perguruan Tinggi (KKP3T), Yogyakarta: UGM.
Wagiman, F.X., Putra, N.S., Lala, F. dan Putra, N.S. 2014. The introducting of predatory bird Lanius schach from Yogyakarta to Salibabu Island for controlling Sexava Spp. on coconut palm. Buletin Palma. 15(2): 115-119.
Widodo, W. 2010. Studi keanekaan jenis burung dan habitatnya di lereng timur hutan pegunungan Slamet, Purbalingga, Jawa Tengah. Bionatura, 12(2), 68-77.
Widodo, W. 2013. Kajian fauna burung sebagai indikator lingkungan di hutan gunung Sawal, Kab. Ciamis,Jawa Barat. Prosiding Sem. Nas. X Biologi,Sains, Lingkungan dan Pembelajarannya. Diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Biologi Fak, Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret. Surakarta, 6 Juli 2013. Hal. 256-267.
Yoong, K.S. 2011. Observations on the hunting and feeding behaviour of breeding long-tailed shrikes Lanius schach. BirdingASIA. 16:71–74.