• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemasangan Kateter Kandung Kemih

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pemasangan Kateter Kandung Kemih"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Pemasangan kateter kandung kemih

Pemasangan kateter kandung kemih

Definisi : Definisi :

Kat

Kateteeter r adaadalah lah pippipa a untuntuk uk memmemasuasukkakkan n ataatau u menmengelgeluaruarkan kan caicairanran. . KatKateteeter r terterutautamama terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silicon.

terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silicon.

Kandung kemih adalah sebuah kantong yang berfungsi untuk menampung air seni yang Kandung kemih adalah sebuah kantong yang berfungsi untuk menampung air seni yang  be rubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal.

 be rubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal. Katet

Kateterisaerisasi si kandung kemih kandung kemih adalah dimasukkadalah dimasukkannya kateter melalui urethra annya kateter melalui urethra ke ke dalamdalam kandung kemih untuk mengeluarkan air seni atau urine.

kandung kemih untuk mengeluarkan air seni atau urine.

Kegunaan : Kegunaan :

• Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih.Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih. •

• Untuk pengumpulan spesimen urine.Untuk pengumpulan spesimen urine. •

• Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih.kandung kemih. •

• Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan .Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan .

Perhatian : Perhatian :

(2)

• Pelaksana harus memiliki pengetahuan dasar tentang anatomi dan fisiologi dan

sterilitas dalam rangka tindakan preventif memutus rantai penyebaran infeksi nosokomial.

• Cukup ketrampilan dan berpengalaman untuk melakukan tindakan dimaksud

• Usahakan jangan sampai menyinggung perrasaan pasien, melakukan tindakan

harus sopan, perlahan-lahan dan berhati-hati .

• Diharapkan pasien telah menerima penjelasan yang cukup tentang prosedur dan

tujuan tindakan.

• Pasien yang telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan yang

akan dilakukan pasien atau keluarga diharuskan menandatangani informed consent

Persiapan Alat:

1. Tromol steril berisi 2. Gass steril

3. Deppers steril

4. Sarung tangan Steril 5. Kom

6. Neirbecken 7. Pinset anatomis 8. Doek.

9. Kateter steril sesuai ukuran yang dibutuhkan. 10. Tempat spesimen urine jika diperlukan . 11. Urobag

12. Perlak dan pengalasnya 13. Disposable spuit 10 cc 14. Selimut. 15. Aquadest 30 cc 16. Bethadine 17. Alkohol 70 % PELAKSANAAN :

1. Menyiapkan pasien : untuk pasien laki-laki dengan posisi terlentang, sedang wanita dengan posisi litotomi.

(3)

3. Siapkan deppers dan kom, tuangkan bethadine secukupnya .

4. Kenakan handscoen dan pasang doek lubang pada genetalia penderita. 5. Mengambil deppers dengan pinset dan mencelupkan pada larutan bethadine 6. Melakukan desinfeksi sebagai berikut :

7. Pada pasien laki-laki : Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter  mudah dimasukkan . desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada saat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan memegang  pinset dan dipertahankan tetap steril.

8. Pada pasien wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora, desinfeksi dimulai dari atas ( clitoris ), meatus lalu kearah bawah menuju rektum. Hal ini diulang 3 kali . deppers terakhir ditinggalkan diantara labia minora dekat clitoris untuk  mempertahankan penampakan meatus urethra.

9. Pada pasien laki – laki : masukan sebagian besar xylocain jelly ke dalam uretra lalu tahan dengan tangan kiri

10. Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10 cm untuk   penderita laki-laki dan 4 cm untuk penderita wanita.

11. Masukkan katether ke dalam meatus, bersamaan dengan itu penderita diminta untuk  menarik nafas dalam.

12. Untuk pasien laki-laki : Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas dalam.Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan. Menaruh neirbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai pangkalnya.

13. Untuk pasien wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam . kaji kelancaran pemasukan kateter, jika ada hambatan kateterisasi dihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai pangkalnya.

(4)

15. Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera  pada label spesifikasi kateter yang dipakai.

16. Memfiksasi kateter : Pada penderita laki-laki kateter difiksasi dengan plester pada abdomen.

17. Pada penderita wanita kateter difiksasi dengan plester pada pangkal paha.

18. Menempatkan urobag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih.

19. Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita yang meliputi : Hari tanggal dan jam pemasangan kateter, Tipe dan ukuran kateter yang digunakan, Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan, Nama terang dan tanda tangan pemasang.

1. Definisi

• Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan

• Kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silikon • Kandung kemih adalah sebuah kantong yang berfungsi untuk menampung air seni yang  be rubah-ubah jumlahnya yang dialirkan oleh sepasang ureter dari sepasang ginjal

• Kateterisasi kandung kemih adalah dimasukkannya kateter melalui urethra ke dalam kandung kemih untuk mengeluarkan air seni atau urine.

2. Tujuan

• Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih • Untuk pengumpulan spesimen urine

• Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih • Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan

3. Prosedur A. Alat

a. Tromol steril berisi  b. Gass steril c. Deppers steril d. Handscoen e. Cucing f. Neirbecken g. Pinset anatomis h. Doek 

i. Kateter steril sesuai ukuran yang dibutuhkan  j. Tempat spesimen urine jika diperlukan

k. Urinebag

(5)

m. Disposable spuit n. Selimut B. Obat a. Aquadest  b. Bethadine c. Alkohol 70 % C. Petugas

a. Pengetahuan dasar tentang anatomi dan fisiologi dan sterilitas mutlak dibutuhkan dalam rangka tindakan preventif memutus rantai penyebaran infeksi nosokomial  b. Cukup ketrampilan dan berpengalaman untuk melakukan tindakan dimaksud

c. Usahakan jangan sampai menyinggung perrasaan penderita, melakukan tindakan harus sopan, perlahan-lahan dan berhati-hati

d. Diharapkan penderita telah menerima penjelasan yang cukup tentang prosedur dan tujuan tindakan

D. Penderita

Penderita telah mengetahui dengan jelas segala sesuatu tentang tindakan yang akan dilakukan penderita atau keluarga diharuskan menandatangani informed consent

E. Penatalaksanaan

1. Menyiapkan penderita : untuk penderita laki-laki dengan posisi terlentang sedang wanita dengan posisi dorsal recumbent atau posisi Sim

2. Aturlah cahaya lampu sehingga didapatkan visualisasi yang baik  3. Siapkan deppers dan cucing , tuangkan bethadine secukupnya

4. Kenakan handscoen dan pasang doek lubang pada genetalia penderita

5. Mengambil deppers dengan pinset dan mencelupkan pada larutan bethadine 6. Melakukan desinfeksi sebagai berikut :

Pada penderita laki-laki : Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan. desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai  pangkal, diulang sekali lagi dan dilanjutkan dengan alkohol. Pada saat melaksanakan

tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan memegang pinset dan dipertahankan tetap steril.

Pada penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora, desinfeksi dimulai dari atas (clitoris), meatus lalu kearah bawah menuju rektum. Hal ini diulang 3 kali . deppers terakhir ditinggalkan diantara labia minora dekat clitoris untuk mempertahankan

(6)

7. Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10 cm untuk penderita laki-laki dan 4 cm untuk penderita wanita. Khusus pada penderita laki-laki gunakan jelly dalam jumlah yang agak banyak agar kateter mudah masuk karena urethra berbelit-belit 8. Masukkan katether ke dalam meatus, bersamaan dengan itu penderita diminta untuk  menarik nafas dalam.

Untuk penderita laki-laki : Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh  penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter 

dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas dalam. Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan kateterisasi dihentikan. Menaruh neirbecken di

 bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar  sedalam 5 – 7,5 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm.

Untuk penderita wanita : Jari tangan kiri membuka labia minora sedang tangan kanan memasukkan kateter pelan-pelan dengan disertai penderita menarik nafas dalam . kaji kelancaran pemasukan kateter, jik ada hambatan kateterisasi dihentikan. Menaruh nierbecken di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar. Masukkan kateter sampai urine keluar sedalam 18 – 23 cm dan selanjutnya dimasukkan lagi +/- 3 cm.

(7)

9. Mengambil spesimen urine kalau perlu

10.Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai

11.Memfiksasi kateter :

Pada penderita laki-laki kateter difiksasi dengan plester pada abdomen Pada penderita wanita kateter difiksasi dengan plester pada pangkal paha

12.Menempatkan urinebag ditempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih

13.Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita yang meliputi : • Hari tanggal dan jam pemasangan kateter 

• Tipe dan ukuran kateter yang digunakan

• Jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan • Nama terang dan tanda tangan pemasang

(8)

Referensi

• Widjoseno Gardjito,Urologi, Pedoman Diagnosa dan Terapi Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD Dr. Soetomo, Surabaya, 1994

• Prosedur Tetap Standar Pelayanan Medis IRD Dr. Soetomo. 1996.

• Advanced Trauma Life Support Program Untuk Dokter, Cedera Kepala, Committee on Trauma American College of Surgeons, Terjemahan Komisi Trauma IKABI, 1997 

. Bledder Trining 1. Definisi

Bladder training adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kencing yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik. (Google, diakses 03 Agustus 2012 pada jam 19.00 WIB).

 Koleksi MMS (Kateter Folley)

Bladder training merupakan salah satu terapi yang efektif di antara terapi nonfarmakologis (Farmacia.com, diakses 03 Agustus 2012 pada jam 19.00 WIB).

2. Tujuan

a. Tujuan dari bladder training adalah untuk melatih kandung kemih dan mengembalikan  pola normal perkemihan dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih. (AHCPR, 1992 dalam buku fundamental keperawatan vol. 2 karangan Potter dan Perry).  b. Terapi ini bertujuan memperpanjang interval berkemih yang normal dengan berbagai

teknik distraksi atau teknik relaksasi sehingga frekuensi berkemih dapat berkurang, hanya 6-7 kali per hari atau 3-4 jam sekali. Melalui latihan, penderita diharapkan dapat menahan sensasi berkemih (farmacia.com).

c. Tujuan yang dapat dicapai dalam sumber yang lain adalah : 1.) Klien dapat mengontrol berkemih.

2.) Klien dapat mengontrol buang air besar.

3.) Menghindari kelembaban dan iritasi pada kulit lansia.

(9)

3. Indikasi

a. Orang yang mengalami masalah dalam hal perkemihan.

 b. Klien dengan kesulitan memulai atau menghentikan aliran urin. c. Orang dengan pemasangan kateter yang relative lama.

d. Klien dengan inkontinentia urin.

4. Program Latihan Bladder Training

Memberikan pengertian kepada klien tentang tata cara latihan bledder  training yang baik, manfaat yang akan dicapai dan kerugian jika tidak melaksanakan  bladder training dengan baik.

Tahapan latihan mengontrol berkemih. Beberapa tindakan yang dapat membantu klien untuk mengembalikan kontrol kemih yang normal :

5. Langkah – Langkah a. Persiapan alat

1.) Jam.

2.) Air minum dalam tempatnya. 3.) Obat deuritik jika diperlukan.

b. Persiapan pasien

1.) Jelaskan maksud dan tujuan dari tindakan tersebut. 2.) Jelaskan prosedur tindakan yang harus dilakukan klien.

c. Langkah – langkah latihan

1.) Beritahu klien untuk memulai jadwal berkemih pada bangun tidur, setiap 2-3 jam sepanjang siang dan sore hari, sebelum tidur dan 4 jam sekali pada malam hari.

2.) Berikan klien minum yang banyak sekitar 30 menit sebelum waktu jadwal untuk   berkemih

3.) Beritahu klien untuk menahan berkemih dan memberitahu perawat jika rangsangan  berkemihnya tidak dapat ditahan.

4.) Klien disuruh menunggu atau menahan berkemih dalam rentang waktu yang telah ditentukan 2-3 jam sekali.

5.) 30 menit kemudian, tepat pada jadwal berkemih yang telah ditentukan, mintalah klien untuk memulai berkemih dengan teknik latihan dasar panggul.

Prosedur Pemasangan Nasogastric Tubes (NGT)

(10)

 prosedur yang benar, gentle dan steril. Dalam kesempatan ini, penulis akan mencoba membagi ilmu dalam standar atau protap pemasangan NGT. Mudah-mudahan bahan ini dapat bermanfaat dan menjadi perbandingan dalam penyusunan standar operasi ,

membuat makalah, tulisan atau keperluan lainnya. Dasar pembuatan protap ini berawal dari kesulitan penulis dalam mencari format penulisan SOP d alam bentuk PDF atau DOC yang ditulis dalam table.

Protap Pemasangan Kateter Kantung Kemih (PDF),(DOC)

Pengertian :

Pemasangan NGT adalah pemasangan alat melalui hidung sampai ke lambung Insersi slang nasogastrik meliputi pemasangan slang plastik lunak melalui nasofaring klien ke dalam lambung.

Tujuan / Indikasi :

1. Memungkinkan dukungan nutrisi melalui saluran gastrointestinal 2. Memungkinkan evakuasi isi lambung

3. Decompressi lambung 4. Kepentingan diagnostik 

Persiapan :

Slang nasogastrik, sarung tangan, jelli, stetoskop, spuit 50-100 ml, kom berisi NaCl / air,  pinset, gunting dan plester, kassa steril, spatel lidah, senter.

Prosedur :

1. Mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan,termasuk memilih nomor cateter yang sesuai. Untuk menghindari trauma pada saat pemasangan, pakailah kateter dengan ukuran yang sesuai dan kalau tidak ada, pakai ukuran yang lebih kecil. (buku saku anak, Medan, Juli 2007 ).

2. Jelaskan tujuan pemasangan kateter kepada pasien 3. Penderita posisi terlentang

4. Petugas harus mencuci tangan dengan larutan antiseptic dan air yang mengalir  serta memakai sarung tangan steril.

5. Lakukan Asepsis & antisepsis penis dengan betadine dan kassa steril. Desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal

(11)

6. Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk  meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan . 7. Membubuhi Jelli di meatus uretra eksternus dan diujung cateter.

8. Masih dalam keadaan steril , tangan kiri memegang penis sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter dengan pinset dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita disuruh menarik nafas dalam.

9. Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi. Jika masih ada tahanan proses pemasangan dihentikan.

10. Bila sudah berhasil balon diisi sesuai ketentuan

11. Kateter difiksasi dengan plester pada abdomen lalu dihubungkan dengan urin bag.  Nasogastrìc Tubes (NGT) serìng digunakan untuk menghisap isi lambung, juga

digunakan untuk memasukan obat obatan dan makanan. NGT ini digunakan hanya dalam waktu yg singkat.( Metheny dan Tiller,2001 )

Tindakan pemasangan selang Nasogastrìc adalah proses medis yaitu memasukan sebuah selang plastik ( selang nasogastrik, NG Tube ) melaluì hidung, melewati tenggorakan dan terus sampai kedalam lambung.

 Nasogastrik:

Menunjukan kepada jalan dari hidung sampai ke lambung. Selang Nasogastrìc adalah suatu selang yang dimasukan melalui hidung ( melewati naso pharynx dan esophagus ) menuju ke lambung, singkatan untuk nasogastrìc adalah NG. Selangnya disebut selang  Nasogastric.

 Nasogastric

Terdisi dari 2 kata dari bahasa latin dan bahasa yunani, naso adalah suatu kata ygang  berhubungan dengan hidung dan berasal dari latin 'Nasus' untuk hidung atau moncong

hidung. Gastrick berasal dari bahasa yunani ' Gagster ' yang artinya the paunch ( perut gendut ) atau yang berhubungan dgn perut. Istilah ' Nasogastric' bukanlah istilah kuno melainkan sudah disebuj pada tahun 1942.

DEFINISI NGT.

Selang Nasogastrick atau NGT adalah suatu selang yang dimasukan melalui hidung sampai kelambung. Sering digunakan seseorang yang tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan, cairan, dan obat-obatan secara oral. Juga digunakan untuk mengeluarkan isì lambung.

(12)

TUJUAN DAN MANFAAT Tindakan

 Nasogastrik Tube digunakan untuk : 1. Mengeluarkan isì lambung.

2. Untuk memasukan cairan

3. Memudahkan diagnosa Klinik melalui analisa substansi isi lambung. 4. Persiapan sebelum operasi dengan general enestesi.

DOKUMENTASI

Lakukan pencatatan terhadap hal-hal berikut pada lembar dokumentasi : 1. Tanggal dan waktu insersì

Selang.

2. Warna dan jumlah cairan yang keluar. 3. Ukuran dan tipe selang.

4. Toleransi pasien terhadap prosedur. KOMPLIKASI

1. Komplikasi mekanis : Selang tersumbat dan Dislokasì selang. 2. Komplikasi Pulmonal : Aspirasi.

3. Komplikasi yang disebabkan oleh tidak dapat kedudukan selang. 4. Komplikasi yang dìsebabkan oleh efek zat nutrisi.

INDIKASI

1. Pasien dengan distensi abdomen karena darah atau cairan. 2. Keracunan makanan atau minuman.

3. Pasien yang membutuhkan nutrisì melalui NGT. 4. Untuk diagnosa atau analisa isi lambung.

5. Persiapan operasi dengan general enestesi. KONTRAINDIKASI

1. Pasien dengan riwayat esophageal strìcture dan esophageal varises. 2. Pasien dengan gastric bypass surgery.

3. Pasien koma ( tanpa tindakan proteksi airway ).

4. Pasien dengan maxillofacial injury atau anterior fossa shull fracture. HASIL HAL YANG DIHARAPKAN

1. Pasien tidak mempunyai keluhan mual dan muntah. 2. Nyeri karena distensi abdomen berkurang.

3. Kebutuhan nutrisi terpenuhi. 4. Tidak terjadi aspirasi.

ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian

Pengkajian berfokus pada riwayat masalah sinus atau nesal,adanya distensi abdomen, Ukuran NGT yang digunakan sebelumnya ( jika ada )

(13)

Bìoadata pasien: nama, umur,Jenis Kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan dan diagnosa medis.

Riwayat Kesehatan : Sekarang dan masa lalu. Kondisi kesehatan saat ini.

Pemeriksaan fisìk : kesadaran umum dan tanda tanda vital. Data Penunjang : oxygen

Saturatation dan Chest X-ray. 2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan pemasangan NGT adalah :

1. Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan. 2. Gangguan rasa nyaman : mual dan muntah.

3. Kurang pengetahuan. 3. Perencanaan secara umum

Perencanaan untuk pemasangan NGT sesuai dengan tujuan dan manfaat tindakan indikasì dan kontraindikasi.

Perencanaan Keperawatan bertujuan untuk menghindari beberarapa komplikasi: a. Komplikasi Mekanis.

Bersihkan sonde dengan menyemprotkan air sedikitnya tiap 24 jam agar tidak terjadi sumbatan pada lumen NGT. Letakan sonde pada hidung pasien dengan plaster tanpa menimbulkan rasa sakit dan tinggikan kepala pasien untuk menghindarì dislokasi sonde. 2. Komplikasi pulmonal untuk menghìndari anpirasi kecepatan aliran nutrisì tidak boleh terlalu tinggi , letak sonde mulaì hidung sampai kelambung harus sempurna.

3. Komplikasì yang disebabkan oleh tidak sempurnanya kedudukan sonde. Sonde sebelum dipasang harus diukur secara individual, letakan dengan sempurna, pastikan  NGT tidak bergeser.

4. Komplikasì akibat zat nutrisi. Komplikasi metabolic hiperglikemia dan komplikasi di usus ( diare, perut terasa perih, rasa mual terutama pada masa permulaan pemberian nutrìsi ).

EVALUASI

Setelah melakukan proses keperawatan baik dari hari hasil pengkajian, diagnosa dan  perencanaan NGT perlu dikaji hasil yang diharapkan sudah tercapaì atau belum,

 pengkajian yang terus menerus terhadap kriteria hasìl yang diharapkan sehingga tercapai tindakan keperawatan yang berkualitas.

1. Tidak terjadi komplikasì aspirasi, pasal irrìtation epistaxis, esophagotracheal fistula sebagai dampak dari pemasangan NGT.

2. Tingkat pengetahuan pasien dan keluarga bertambah biasa diajak kerjasama dalam melakukan asuhan keperawatan secara utuh.

(14)

3. Kebutuhan pasien terpenuhi secara adekuat ( Nutrisi dan Cairan ).

 NGT adalah kependekan dari Nasogastric tube. alat ini adalah alat yang digunakan untuk  memasukkan nutsrisi cair dengan selang plasitic yang dipasang melalui hidung sampai lambung. Ukuran NGT diantaranya di bagi menjadi 3 kategori yaitu:

1. Dewasa ukurannya 16-18 Fr  2. Anak-anak ukurannya 12-14 Fr  3. Bayi ukuran 6 Fr 

1. Indikasi pemasangan NGT

indikasi pasien yang di pasang NGT adalah diantaranya sebagai berikut: 1. Pasien tidak sadar 

2. pasien Karena kesulitan menelan 3. pasien yang keracunan

4. pasien yang muntah darah

5. Pasien Pra atau Post operasi esophagus atau mulut

1. Tujuan Pemasangan NGT

Tujuan pemasangan NGT adalah sebagai berikut:

1. Memberikan nutrisi pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami kesulitan menelan

2. Mencegah terjadinya atropi esophagus/lambung pada pasien tidak sadar  3. Untuk melakukan kumbang lambung pada pasien keracunan

4. Untuk mengeluarkan darah pada pasien yang mengalami muntah darah atau  pendarahan pada lambung

1. Kontraindikasi pemasangan NGT

1. Pada pasien yang memliki tumor di rongga hidung atau esophagus 2. Pasien yang mengalami cidera serebrospinal

(15)

1. Peralatan yang dipersiapkan diantaranya adalah;

1. Selang NGT ukuran dewasa, anak –anak dan juga bayi. Melihat kondisi  pasiennya

2. Handscun bersih 3. Handuk  

4. Perlak   5. Bengkok  

6. Jelli atau lubricant 7. Spuit 10 cc 8. Stetoskop 9. Tongue spatel 10. Plaster  11. Pen light 12. Gunting 1. Langkah Pemasangan NGT

Langkah –langkah dalam pemasangan NGT diantaranya dengan:

1. Siapkan peralatan di butuhkan seperti yang telah disebutkan diatas termasuk   plester 3 untuk tanda, fiksasi di hidung dan leherdan juga ukuran selang NGT 2. Setelah peralatan siap minta izin pada pasien untuk memasang NGT dan jelaskan

 pada pasien atau keluarganya tujuan pemasangan NGT

3. Setelah minta izin bawa peralatan di sebelah kanan pasien. Secara etika perawat saat memasang NGT berda di sebelah kanan pasien

4. Pakai handscun kemudian posisikan pasien dengan kepala hiper ekstensi 5. Pasang handuk didada pasien untuk menjaga kebersihan kalau pasien muntah 6. Letakkan bengkok di dekat pasien

(16)

7. Ukur selang NGT mulai dari hidung ke telinga bagian bawah, kemudian dari telinga tadi ke prosesus xipoidius setelah selesai tandai selang dengan plaster  untuk batas selang yang akan dimasukkan

8. Masukkan selang dengan pelan2, jika sudah sampai epiglottis suruh pasien untuk  menelan dan posisikan kepala pasien fleksi, setelah sampai batas plester cek  apakah selang sudah benar2 masuk dengan pen light jika ternyata masih di mulut tarik kembali selang dan pasang lagi

9. Jika sudah masuk cek lagi apakah selang benar2 masuk lambung atau trakea dengan memasukkan angin sekitar 5-10 cc dengan spuit. Kemudian dengarkan dengan stetoskop, bila ada suara angin berarti sudah benar masuk lambung. Kemuadian aspirasi kembali udara yang di masukkan tadi

10. Jika sudah sampai lambung akan ada cairan lambung yang teraspirasi

11. Kemudian fiksasi dengan plester pada hidung, setelah fiksasi lagi di leher. Jangan lupa mengklem ujung selang supaya udara tidak masuk 

12. Setelah selesai rapikan peralatan dan permisi pada pasien atau keluarga.

13. Selang NGT maksimal dipasang 3 x 24 jam jika sudah mencapai waktu harus dilepas dan di pasang NGT yang baru.

14. Langkah –langkah pemberian makanan cair lewat NGT

Makanan yang bisa di masukkan lewat NGT adalah makanan cair, caranya adalah sebagai berikut:

1. Siapakan spuit besar ukuran 50 cc 2. Siapakan makanan cairnnya ( susu, jus)

3. Pasang handuk di dada pasien dan siapkan bengkok 

4. Masukkan ujung spuit pada selang NGT dan tetap jaga NGT supata tidak  kemasukan udara dengan mengklem.

5. Masukkan makanan cair pada spuit dan lepaskan klem, posisi spuit harus diatas supaya makanan cairnya bisa mengalir masuk ke lambung.

6. Jangan mendorong makanan dengan spuit karena bisa menambah tekanan lambung, biarkan makanan mengalir mengikuti gaya gravitasi

7. Makanan yang di masukkan max 200 cc, jadi jika spuitnya 50 cc maka bisa dilakukan 4 kali .

(17)

8. Apabila akan memasukkan makanan untuk yang kedua, jangan lupa mencuci dulu spuit. Jika sudah selesai aliri selang NGT dengan air supay a sisa-sisa makanan tidak mengendap di selang karena bisa mengundang bakteri.

Referensi

Dokumen terkait

Karya Tulis Akhir dengan judul “ Hubungan Lama Pemasangan Kateter Menetap dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih di RUmah Sakit dr Saiful Anwar Malang Periode

Posisi awal pasien duduk ongkang-ongkang terapis berdiri didepan pasien, tangan kiri terapis memfleksasi bagian atas lutut, tangan kanan terapis memegang ankel atau pergelangan

Tokoh 3 menghadap ke arah pengamat, posisi kepala dan wajahnya lurus ke depan, posisi tubuh digambarkan sedang berdiri tegak, tangan kiri lurus berada di samping badan, tangan

Dalam penelitian ini diperoleh berbagai data mengenai Hubungan Pemasangan Kateter dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih (ISK) Pada Pasien Rawat Inap Di RSUD Labuang Baji

- Posisi tubuh berdiri, punggung tegak dengan kaki sejajar bahu - Tangan lurus memegang dumbbell di samping badan. - Gerakkan Dumbbell ke atas hingga lengan parallel dengan bahu -

a) Testi berdiri tegak punggung lurus. dengan tiang cantelan neraca pegas b) Testi memegang neraca pegas dengan tangan kanan yang tidak kidal dan tangan bagi orang coba

Hasil penelitian yang dilakukan di UGD dan Ruang Rawat Inap RSU GMIM Pancaran Kasih Manado bahwa terdapat hubungan antara pemasangan kateter dengan kejadian

Pada penelitian ini didapatkan kejadian infeksi saluran kemih 11 kasus (22%) pada pemasangan kateter menetap 12 jam pasca seksio sesarea sedangkan bila pemasangan menetap 24