BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Uraian Tumbuhan
2.1.1 Sistematika Tumbuhan
Sistematika dari tumbuhan bunga pacar air merah (Hutapea, dkk., 1994) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae Divisi : Magnoliophyta Klass : Magnoliopsida Ordo : Sapindales Famili : Balsaminaceae Genus : Impatiens
Spesies : Impatiens balsamina Linn 2.1.2 Sinonim
Sinonim tanaman pacar air adalah Impatiens cornuta Linn, Impatiens
hortensis Desf, Impatiens mutila D.C., Balsamina mutila DC
2.1.3. Nama Daerah
Nama daerah dari bunga pacar air merah adalah lahine (Nias), pacar
banyu (Jawa), pacar cai (Sunda), paru inai (Sumbar), pacar toya (Belitung)
(Hariana, Arief, 2007).
2.1.4 Morfologi Tanaman Pacar Air
Pacar air berasal dari India. Di Indonesia ditanam sebagai tanaman hias, kadang-kadang ditemukan tumbuh liar. Terna berbatang basah dan tegak ini mempunyai tinggi 30-80 cm dan bercabang. Daun tunggal, bertangkai pendek.
Helaian daun bentuk lanset memanjang, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi, pertulangan menyirip, dan warnanya hijau muda. Bunga keluar dari ketiak daun tanpa daun penumpu, Bunga bewarna cerah, ada beberapa macam warna. Seperti merah, merah jingga, ungu, putih, dll. Ada yang “engkel” dan ada yang “dobel”. Buahnya buah kendaga, bila masak akan membuka menjadi 5 bagian yang terpilin (Anonim 2, 2010).
2.1.5 Kandungan Kimia dan Efek Farmakologis
Kandungan kimia Bunga yaitu antosianin, kaempherol, dan kuersetin. Efek farmakologis bunga pacar air di antaranya peluruh haid, tekanan darah tinggi (hipertensi), pembengkakkan akibat terpukul (hematoma), bisul (furunculus), rematik sendi, gigitan ular tidak berbisa, dan radang kulit (dermatitis) (Hariana, Arief, 2007).
2.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri, alkaloida, flavonoida, dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif ysng dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM, 2000).
Pembagian metode ekstraksi menurut Ditjen POM (2000) yaitu : A. Cara dingin
1. Maserasi
Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan perendaman dan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur
ruangan (kamar). Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif yang akan larut, karena adanya perbedaan kosentrasi larutan zat aktif didalam sel dan diluar sel maka larutan terpekat didesak keluar. Proses ini berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan didalam dan diluar sel.
Maserasi adalah proses penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari. Cairan penyari yang digunakan dapat berupa air, etanol, metanol, etanol-air atau pelarut lainnya. Remaserasi berarti dilakukan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat pertama, dan seterusnya.
Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana yang mudah diusahakan.
2. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Proses perkolasi terdiri dari tahapan pengembang bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat).
B. Cara panas 1. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur tititk didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
2. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang pada umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu dan dan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
3. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-500 C.
4. Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai titik didih air, yakni 30 menit pada suhu 90-1000 C.
2.3 Uraian Kimia 2.3.1 Flavonoida
Senyawa flavonoida adalah senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon, terdiri dari dua cincin benzen tersubstitusi yang dihubungkan oleh satu rantai alifatik yang mengandung tiga atom karbon. Kerangka dasar dari struktur flavonoida adalah sistem C6-C3-C6 (Manitto, 1981;Robinson, 1995; Sastrohamidjojo, 1996). Gambar dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini.
Gambar 2. Kerangka dasar struktur flavonoid
Sistem penomoran pada struktur dasar flavonoida, gambar dapat dilihat pada gambar 2 dibawah ini.
5 4
Gambar 3. Sistem penomoran pada struktur dasar flavonoida
Cincin A dan oksigen cincin tengah berdasarkan alur biosintesisnya terbentuk melalui jalur poliketida. Sedangkan cincin B dan tiga atom karbon cincin tengah menunjukkan flavonoida yang berasal dari jalur sikimat (Manitto, 1981 dan Salisbury, 1992).
Aglikon flavonoida pada umumnya terdapat dalam berbagai bentuk struktur molekul dengan beberapa bentuk kombinasi glikosida, sehingga dalam menganalisis flavonoida lebih baik memeriksa aglikon yang telah dihidrolisis dibanding dengan bentuk glikosida, karena stukturnya yang rumit dan kompleks. Modifikasi flavonoida dapat terjadi dengan berbagai tahap dan menghasilkan penambahan (pengurangan) hidroksilasi, metilasi gugus hidroksil atau inti flavonoida, metilenasi gugus orto-dihidroksil, dimerisasi (pembentukan biflavonoida), dan yang terpenting glikosilasi gugus hidroksil (pembentukan flavonoida O-glikosida) atau inti flavonoida (pembentukan flavonoida C-glikosida) (Harborne, 1987 dan Markham, 1988).
2.3.2. Antosianin
Antosianin adalah pigmen berwarna merah, ungu, dan biru yang terdapat pada seluruh tumbuhan kecuali fungus. Sebagian besar antosianin dalam bentuk glikosida, biasanya mengikat satu atau dua unit gula seperti glukosa, galaktosa, ramnosa, dan silosa. Jika monoglikosida, maka bagian gula hanya terikat pada posisi 3, dan pada posisi 3 dan 5 bila merupakan diglikosida dan bagian
aglikionnya disebut antosianidin. Sebagian besar antosianin berwarna kemerahan dalam larutan asam, tetapi menjadi ungu dan biru dengan meningkatnya PH yang akhirnya rusak dalam larutan alkali kuat (Sastrohamidjojo, 1996; Salisbury, 1992). Gambar dapat dilihat pada gambar 3 dibawah ini.
. .
Gambar 4. Struktur antosianin
Antosianin adalah zat penyebab warna merah, orange, ungu, dan biru. Banyak terdapat pada bunga dan buah-buahan seperti bunga mawar, pacar air, kembang sepatu, bunga tasbih atau kana, krsan, pelargonium, aster cina, dan buah apel, chery, anggur, stoberi, buah manggis serta umbi ubi jalar. Penggunaan zat pewarna alami, misalnya pigmen antosianin masih terbatas pada beberapa produk makanan, seperti produk minuman (sari buah, juice, dan susu) (Saati, 2006).
Pigmen antosianin yang merupakan flavonoid merupakan pigmen yang paling luas dan penting karena banyak tersebar pada berbagai organ tanaman, terutama pada bunga (ditetukan hampir 30% terkandung dalam berat keringnya). Pelarut yang sering digunakan untuk mengekstrak antosianin adalah alkohol, etanol dan metanol, isopropanol, aseton atau dengan air (aquadest) yang dikombinasikan dengan asam, seperti asam klorida (HCL), asam aserat, asam format, atau asam askorbat (Saati, 2006).
2.3.3 Glikosida
Glikosida adalah senyawa organik yang bila dihidrolisis akan menghasilkan satu atau lebih gula yang disebut glikon dan bagian bukan gula
yang disebut aglikon. Gula yang paling sering dijumpai dalam glikosida ialah glukosa (Lewis, 1977). Glikosida dihidrolisis dengan cara pendidihan dalam asam encer dan secara kimia maupun fisiologi, glikosida alam cenderung dibedakan berdasarkan bagian aglikonnya (Robinson, 1995).
Berdasarkan hubungan ikatan antara glikon dan aglikonnya, glikosida dapat dibagi menjadi empat (Farnsworth, 1966), yaitu :
1 . O-glikosida, jika ikatan antara glikon dan aglikon dihubungkan oleh atom O, contohnya salisin, gambar dapat dilihat pada gambar 4 dibawah ini.
Gambar 5. struktur salisin
2. S-glikosida, jika ikatan antara glikon dengan aglikon dihubungkan oleh atom S. contohnya sinigrin, gambar dapat dilihat pada gambar 4 dibawah ini.
Gambar 6. struktur sinigrin
3. N-glikosida, jika ikatan antara glikon dengan aglikon dihubungkan oleh atom N, contohnya krotonosida
Gambar 7. struktur krotonosida
4. C-glikosida, jika ikatan antara glikon dengan aglikon dihubungkan oleh atom C, contohnya barbaloin. Gambar dapat dilihat pada gambar 7 dibawah ini.
Gambar 8. struktur barbaloin
Bentuk O-glikosida sangat mudah terurai oleh pengaruh asam, basa, enzim, air, dan panas. Semakin pekat kadar asam atau basa maupun semakin panas lingkungannya maka glikosida akan semakin mudah dan cepat terhidrolisis. Gula yang sering berikatan pada glikosida adalah P-D-glukosa. Tetapi ada juga mengandung gula lain misalnya galaktosa, ramnosa, digitoksosa, dan simarosa. Glikosida berbentuk kristal atau amorf yang umumnya larut dalam air atau etanol encer (kecuali pada glikosida resir). Oleh karena itu, umumnya sediaan farmasi yang mengandung glikosida diberikan dalam bentuk eliksir, ekstrak, tingtur dengan kadar etanol yang rendah. Secara umum, kegunaan glikosida dalam dunia pengobatan diantaranya sebagai obat jantung, pencahar, pengiritasi lokal, dan analgetikum (Farnsworth, 1966; Gunawan dan Mulyani, 2004).
2.4 Fisiologis Hati
Hepar merupakan kelenjar yang terbesar dalam tubuh. Hati terletak di dalam rongga abdomen sebelah kanan atas di bawah diafragma. Dalam keadan normal hati berwarna coklat kemerahan dengan konsistensi padat kenyal (Ganong, 1998).
2.4.1 Struktur Hati
Hati (hepar) terbungkus oleh sebuah kapsul fibrolastik yang diebut kapsul Glisson dan secara makroskopik dipisahkan menjadi lobus kiri dan kanan. Kapsul Glisson berisi pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf. Kedua lobus hati tersusun oleh unit-unit yang lebih kecil disebut lobulus. Lobulus terdiri atas sel-sel hati (hepatosit) yang menyatu dalam sautu lempeng. Hepatosit dianggap sebagai unit fungsiaonal hati. Sel-sel ahti dapat melakukan pembelahan sel dan mudah diproduksi kembali saat dibutuhkan untuk mengganti jaringan yang rusak (Ganong, 1998).
2.4.2 Aliran Darah dan Tekanan Darah Hati
Hati menerima uplai darah dari dua sumber yang berbeda. Sebagian beasar aliran darah hati, sekitar 1000 ml per menit, adalah drah vena yang beraal dari lambung, usus halus dan usus besar, pankreas, dan limpa. Darah ini mengalir ke hati melalui vena porta. Darah vena kurang mengandung oksigen tetapi kaya zat-zat gizi, termasuk glukosa, yang dapat diubah menjadi glikogen dan disimpan dengan cepat. Darah tersebut juga mungkin mengandung bakteri usus, racun, dan obat yang dicerna. Sumber darah hait yang lain adalah arteri hepatika yang mengalirkan darah sekitar 500 ml per menit. Darah arteri ini memiliki saturasi oksigen yang tinggi. Setelah mengalir ke hati, kedua sumber darah tersebut
mengalir ke dalam kapiler hati yang disebut sinusoid, dari sinusoid darah mengalir ke sebuah vena hepatika. Vena hepatika mengosongkan isisnya ke dalam vena kava, memiliki tekanan hampir 0 mm Hg (Corwin J, 2008).
Gambar 9. Penampang atau permukaan dari hepar manusia 2.4.3 Fungsi Hati
Ada beberapa fungsi hati yaitu :
1. mengubah glukosa menjadi glikogen dan trigliserida
2. menyimapan glikogen danmengubah asam amino menjadi asam lemak atau simpanan asam amino
3. membuat lipoprotein dari trigliserida dan kolesterol
4. menghasilkan glukosa dan glikogen (glikogenolisis) dan asam lemak srta asam amino (glikogenelisis)
5. mengubah lemak menjadi keton (makin cepat jika puasa) 6. menghasilkan urea dari katabolisme protein
7. menyerap darah yang disaring
9. menghasilkan beberapa faktor pembekuaan yang berkaitan dengan koagulasi darah seperti membentuk fibrinogen, protrombin, benda asing menusuk kena pembuluh darah.
10. mensintesis albumin, protein plasma lain dan garam empedu
11. terlibat dalam aktivai vitamin D, menghasilkan angiotensin, mensekresi faktor pertumbuhan seperti insulin (somatomedin) (Corwin J, 2008).
2.4.4 Pemeriksaan Fungsi Hati
Pemeriksaan fungsi hati serring dilakukan. Sebagian dari pemeriksaan yang sering dilakukan adalah:
• pengukuran bilirubin total serta pengukuran terpisah kadar bilirubin terkonjugasi dan tidak terkonjugasi. Kadar bilirubin meningkat pada berbagai penyakit hati.
• pengukuran enzim-enzim hati, termasuk serum glutamat piruvat transaminase (SGPT), serum glutamat oksaloasetat transaminase (SGOT), dan alkalin fosfatase. Kadar meningkat bila terdapat penyakit hati.
• pengkuran konsentrasi protein plasma. Kadar meningkat pada penyakit hati. • pengukuran masa protrombin (suatu pemeriksaan koagulasi), karena koagulasi
bergantung pada pembentukan faktor koagulasi di hati yang adekuat, masa protrombin meningkat pada penyakit hati
• ultrasound, scan computed tomography (CT), dan magnetic rsonance imaging (MRI) dapat menunjukkan cacat struktural atau batu dalam duktus biliaris atau kantong empedu.
• biopsi hati dilakukan untuk mengamati jaringan secara langsung guna memastikan adanya infeksi, infiltrasi atau fibrosis lemak dan kanker (Corwin J, 2008).
2.5 Patofisiologis Hati 2.5.1 Hipertensi Porta
Hipertensi porta adalah peningkatan berlebihan tekanan di vena porta. Tekanan vena porta normal adalah 3 mm Hg. Tekanan di atas 9 sampai 10 mm Hg di vena porta sudah dianggap sebagai hipetensi porta. Hipertensi porta terbentuk saat reistensi terhadap aliran darah yang menuju dan dari hati tinggi. Selain itu, aliran darah yang berlebihan menuju hati dapat menyebabkan hipertensi porta (Junqeira. C & Carneiro J, 2007).
2.5.2 Pirau Vena Porta Sistemik
Sewaktu hipertensi porta mengurangi aliran darah yang melewati hati, maka akan terbuka pembuluh-pembuluh kolateral, atau pirau (shunt) antara vena porta dan vena-vena sistemik yang mengalirkan darah dari dinding abdomen, esofagus, dan rektum. Pirau mengalirkan aliran darah dengan melintasi hati. Pembuluh-pembuluh berdinding tipis ini kurang sempurna untuk menangani aliran darah yang sedemikian deras dan mulai membentuk varises (vena yang melebar dan berkelok-kelok). Varises mudah pecah terutama di esofagus dapat menimbulkan pendarahan besar (Junqeira. L & Carneiro J, 2007).
2.5.3 Splenomegali
Splenomegali adalah perbesaran limpa. Pada hipertensi porta, aliran darah dialihkan ke limpa melalui vena splenik. Sebagian darah ekstra (sampai beberapa ratus ml pada orang dewasa) dapat di simpan di dalam limpa sehingga limpa
membesar. Darah yang tersempan di limpa tidak dapat digunakan oleh sikualsi umum, maka dapat terjadi anemia (penurunan sel darah merah), trombositopenia (penurunan trombosit) dan leukopenia (penurunan sel darah putih) (Corwin J, 2008).
2.5.4 Ikterus
Ikterus (jaundis) adalah kekuningan pada kulit dan sklera mata akibat kelebihan bilirubin dalam darah (lebih dari 1,2 mg/dl). Bilirubin adalah produk penguraian sel darah merah. Terdapat tiga jenis utama ikterus:
• ikterus hemolitik disebakan oleh lisis (penguraian) sel darah merah yang berlebihan. Ikterus hemolitik merupakan penyebab ikterus pra hepatika karena terjadi akibat faktor-faktor yang tidak harus berkaitan dengan hati.
• ikterus intrahepatik disebabkan oleh obstruksi kanalikus bilairis kecil dapat terjadi bersama tumor atau batu intrahepatik atau dapat disebabkan oleh inflamasi yang meluas.
• ikterus obstruksi ekstrahepatik dapat terjadi apabila duktus biliaris tersumbat oleh batu empedu atau oleh tumor (Junqeira. L & Carneiro J, 2007).
2.5.5 Sirosis
Sirosis adalah kondisi fibrosi dan pembentukan jringan aprut yang berdifusidi hati. Sirosis terjadi di hati sebagai respon terhadap cedera sel berulang dan reaksi peradangan yang ditimbulkannya. Penyebab sirosis antara lain adalah infeksi misalnya hepatitis, obstruksi kanalikulus dan pecahnya kanalikulus sera cedera hepatosit akibat toksin (Corwin J, 2008).
2.5.6 Hepatitis
Hepatitis adalah peradangan hati. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi atau toksin termasuk alkohol, dan di jumpai pada kanker hati. Gejala dan tanda masing-masing hepatitis serupa namun penularan dan hasil akhirnya berbeda (Corwin J, 2008).