PENGETAHUAN dan TEKNIK
KONSERVASI LUKISAN
Puji Yosep Subagiyo
Primastoria Studio
Taman Alamanda Blok BB2 No. 55-59, Bekasi 17510, Indonesia
Web: primastoria.net Email: [email protected]
S
TORiA
PRiMA
R
Taman Alamanda, Blok BB2 No. 55-59, Bekasi 17510, Indonesia.
Phone | Line | WA : 0812 8360 495 | Email.: [email protected]
PT Primastoria Network Group
Penyusunan “Buku Panduan Konservasi Lukisan” ini bisa terwujud berkat dukungan yang
luar biasa khususnya dari keluarga saya: Rini, Riko dan Daffa; Primastoria Members and
Internship Fellows: Andia, Marjono, Kasirun, Bambang Sby., Joko Marsono, Rismoyo,
Imam Santoso, dan Dagun Gunawan; serta semua pihak yang telah menyediakan tempat, memberi-
kan dukungan, sumbangan pemikirian, dan lain-lain; dari sejak Primastoria didirikan pada tahun
1994 sampai saat ini (2017). Teristimewa untuk : Zulkarnain Bahar, Mis’ari dan teman-teman di
Museum Nasional & Museum Tekstil. Sudah 22 tahun berlalu, smoga kita selalu tetap kompak.
Primastoria Intership Fellows
2015 - 2016
Notes :
This handbook is for a personal use only, and not as a commercial or promotion article.
Kata Pengantar
i
Konservator adalah orang yang mampu melakukan pengamatan (kajian), berpikir
analitik, dan melaksanakan konservasi karya seni, artefak, relik, dan benda lain dengan
menggunakan metode atau teknik yang benar. Sehingga seorang konservator harus
memiliki pengetahuan cukup tentang metode dan teknik konservasi; serta dapat
memilih dan menerapkan bahan (materials) atau alat dalam proses konservasi dengan
baik. Nantinya, mereka dapat pula mengkhususkan diri pada satu atau lebih bidang
konservasi, seperti: batu, logam, kayu, tekstil, lukisan, karya seni bermedia kertas, buku,
(pita) film, pita perekam suara, foto, atau benda lain bermedia komplek (campuran).
Pengertian konservasi itu sendiri adalah suatu tindakan yang bersifat kuratif – restoratif
(penghambatan proses kerusakan dan perbaikannya) dan tindakan yang bersifat
preventif (pencegahan dari kemungkinan proses kerusakan).
Warisan budaya termasuk di dalamnya benda seni dan budaya di galeri atau museum
yang integral dengan sumber daya pengelolanya merupakan aset yang penting. Kekayaan
tersebut telah menjadi sasaran pokok pengelolaan (manajemen) dan objek utama yang
melahirkan kegiatan penting. Kegiatan penting itu adalah salah satunya pelestarian; baik
melalui pendataan (studi koleksi, dll.) yang menghasilkan artefaktual dokumen sebagai
objek penelitian lanjutan, atau konservasi fisik aktuil yang mengupayakan kondisi fisik
benda koleksi tetap lestari.
“Pengetahuan dan Teknik Konservasi Lukisan” ini ditulis berdasarkan pengalaman
penulis selama 30 tahun dalam bidang konservasi, akan menjelaskan tentang tahapan
pengenalan lukisan sebagai langkah awal untuk meningkatkan apresiasi terhadap karya
seni atau benda budaya, mengetahui poses terjadinya kerusakan, dan cara menanganinya.
Tertib kelola dalam penyimpanan dan pameran lukisan juga ditunjukkan melalui kertas
kerja yang berkaitan dengan pendataan benda (Lembar Inventaris), survai kondisi benda
(Lembar Kondisi Lukisan) dan pengamatan benda secara teknis (Lembar Pengamatan
Lukisan).
Smoga dengan membaca tulisan ini akan
mendapatkan pengetahuan dan gambaran
tentang pekerjaan teknis konservasi lukisan secara utuh, sistematis dan terukur.
Bekasi, Februari 2017
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
2. Jenis-jenis Lukisan
3. Penyebab Kerusakan Lukisan
4. Kontrol Lingkungan
B. Mengenal Lukisan
C. Konservasi Lukisan
1. Pembersihan
2. Penguatan
3. Penyempurnaan
4. Pengepakan dan Pemindahan
5. Fasilitas Kerja Konservasi
D. Penutup
Bahan Pustaka
...
hal.
i
ii
1
1
2
3
4
5
12
19
19
20
27
27
28
30
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
...
TIDAK ASLI ADIKARYA
(masterpiece) ARTEFAKTA(Artefact)
Bukan Seni: reproduksi, komersial. Bukan Budaya:
baru, tidak umum. Seni: asli, tunggal. Budaya: tradisional, kolektif. 4. 2. 3. Kemahiran membedakan karya seni (museum seni, pasar seni, dll.) 1. Seni-turis, komoditi, souvenir, dll. ASLI (authentic)
(non-authentic) Ref.: James Clifford (1988:224)Susan M. Pearce (1994:263)
Gambar 1.
SISTEM PERUJUKAN
BARANG SENI-BUDAYA
Sejarah dan Cerita Rakyat (museum etnografi, barang kultural, kerajinan, dll.)
Temuan Baru (museum teknologi, seni kriya, barang bukan seni, dll.)
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sesuai dengan status sosial pemiliknya, lukisan dipajang sebagai dokumen
visual, benda seni, bahkan mungkin sebagai investasi. Kita dapat memberikan nilai
yang berbeda bagi sebuah karya lukis. Tetapi faktor pelukis lebih banyak dipakai
sebagai tolok ukurnya, dari pada tema, bahkan atau teknik pelukisannya. Perbedaan
cara pandang ini pulalah yang mempengaruhi perawatannya. Disamping
kerusakan, perubahan tampilan pada lukisan juga terjadi karena transformasi bahan
yang merupakan hasil dari suatu proses adaptasi seniman terhadap lingkungan, dan
pengaruh hubungan antar manusia atau bangsa. Dalam kaitan ini, penulis
menggunakan Sistem Perujukan Barang Seni-Budaya (gambar 1.) untuk mengenal
setiap karya yang akan ditangani; sedangkan Gambaran Ilmu dan Teknologi Bahan
(gambar 2.) dipakai dalam studi konservasi lebih lanjut.
Masyarakat kebanyakan lebih menyukai lukisan berupa potret atau yang
bertemakan kondisi alam lingkungannya. Kelompok masyarakat berstatus sosial
lebih tinggi memilih lebih banyak variasi tema, teknik, bahan ataupun senimannya.
Lukisan sebagai karya seni rupa dalam bentuk dua dimensi memiliki unsur-unsur
garis, bidang dan warna. Lukisan terbentuk dari beberapa jenis bahan yang pada
dasarnya adalah bahan organik yang bersifat sensitif terhadap kondisi lingkungan.
Kondisi iklim Indonesia yang tidak mendukung mempercepat proses kerusakan.
Kelembaban udara, suhu udara, intensitas cahaya dan radiasi sinar ultra violet yang
serba tinggi telah dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lukisan. Sesuai
dengan perkembangan jaman, manusia disamping dapat mengatasi masalah iklim
yang tidak mendukung, namun juga menghasilkan bahan pencemar udara dari
asap knalpot kendaraan dan pabrik.
2. Jenis-jenis Lukisan
Berdasarkan atas jenis media pelukisan (substrat), macam medium
1
perekat
(untuk pigmen) dan teknik penerapan cat (pigmen dan perekat), lukisan dapat
dikelompokkan menjadi: (1). lukisan cat minyak, (2). lukisan cat air, (3). lukisan guase,
(4) lukisan tempera, (5). lukisan pastel, (6). lukisan dinding, (7). lukisan jagrag, (8).
lukisan kaca, (9). lukisan enkaustik, (10). lukisan batik, (11). lukisan teknologis, (12).
kolase, (13). litografi, (14). graffito, (15). frottage, (16). grattage, dan (17). decalco-
mania. Namun begitu, cat minyak, cat air, pastel, jagrag, litografi, batik dan kolase
adalah jenis-jenis lukisan yang banyak kita jumpai.
3. Penyebab Kerusakan Lukisan
Kerusakan lukisan dapat terjadi secara fisik atau mekanik (seperti ber-
gelombang, retak, sobek, dll.); secara biotis (jamur dan serangga); dan kimiawi
(oksidasi atau penguningan varnis, korosi pigmen, dll.). Gambar 3 di bawah me-
nunjukkan kerusakan fisik, yaitu terkelupasnya cat sebagai akibat dari hilangnya
daya rekat cat. Kerusakan ini dapat terjadi karena proses pelapukan (penuaan) yang
dipercepat oleh faktor alam yang tidak mendukung. Dalam hal ini, kelembaban dan
suhu udara yang tinggi menyebabkan terjadinya kerusakan itu. Intensitas cahaya
yang tinggi dapat mempercepat proses oksidasi (penguningan) varnis dan radiasi
sinar ultra violet yang terlalu tinggi mengakibatkan kanvas rapuh.
4. Kontrol Lingkungan
Tindakan pencegahan dengan cara mencatat data klimatologi harus dilanjuti
dengan mengontrol keadaan lingkungan lukisan tersebut. Cara ini dapat meng-
hidari terjadinya kerusakan biotis, yaitu serangan jamur dan serangga. Kelembaban
udara yang direkomendasikan adalah 50 – 60 %, suhu udara berkisar antara 20 – 25
oC, intensitas cahaya berkisar 100 luks untuk cat minyak (dan sejenisnya) dan 75
luks untuk cat air (dan sejenisnya); sedangkan radiasi ultra violetnya adalah 75
μ
W/Lumen
(1,5
μ
W/cm
2) untuk cat minyak (dan sejenisnya) dan 30
μ
W/Lumen (0,375
μ
W/cm
2) untuk cat air (dan sejenisnya). Fluktuasi kelembaban udara dan keadaan
yang menyebabkan lukisan lembab yang mendadak harus dihindari. Karena kondisi
yang dapat mengakibatkan konstraksi antara dua atau lebih bahan yang berbeda
elastisitas itu dapat mengakibatkan retaknya cat atau bahkan terkelupas. Hal yang
sama juga dapat menyebabkan media kertas menjadi bergelombang. Pendapat
ini sesuai fakta di lapangan, seperti pada Gambar 33 - 35 (Halaman 29 - 30).
Alat-alat sederhana yang digunakan untuk mengetahui kondisi ideal untuk
iklim mikro dan makro
2
ini adalah psychrometer, luxmeter dan ultra violet monitor.
Dehumidifier dapat digunakan pada suatu ruangan yang harus beroperasi secara
otomatis. Alat ini hanya akan menyala (beroperasi) pada saat udara lembab.
Rumus ABC-PQR
Age = Umur; Beauty = Keindahan; Condition = Kondisi; Provenance = (Riwayat) Asal;Quality = Kualitas; Rarity = Kelangkaan
PENGETAHUAN dan TEKNIK
KONSERVASI LUKISAN
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sesuai dengan status sosial pemiliknya, lukisan dipajang sebagai dokumen
visual, benda seni, bahkan mungkin sebagai investasi. Kita dapat memberikan nilai
yang berbeda bagi sebuah karya lukis. Tetapi faktor pelukis lebih banyak dipakai
sebagai tolok ukurnya, dari pada tema, bahkan atau teknik pelukisannya. Perbedaan
cara pandang ini pulalah yang mempengaruhi perawatannya. Disamping
kerusakan, perubahan tampilan pada lukisan juga terjadi karena transformasi bahan
yang merupakan hasil dari suatu proses adaptasi seniman terhadap lingkungan, dan
pengaruh hubungan antar manusia atau bangsa. Dalam kaitan ini, penulis
menggunakan Sistem Perujukan Barang Seni-Budaya (gambar 1.) untuk mengenal
setiap karya yang akan ditangani; sedangkan Gambaran Ilmu dan Teknologi Bahan
(gambar 2.) dipakai dalam studi konservasi lebih lanjut.
Masyarakat kebanyakan lebih menyukai lukisan berupa potret atau yang
bertemakan kondisi alam lingkungannya. Kelompok masyarakat berstatus sosial
lebih tinggi memilih lebih banyak variasi tema, teknik, bahan ataupun senimannya.
Lukisan sebagai karya seni rupa dalam bentuk dua dimensi memiliki unsur-unsur
garis, bidang dan warna. Lukisan terbentuk dari beberapa jenis bahan yang pada
dasarnya adalah bahan organik yang bersifat sensitif terhadap kondisi lingkungan.
Kondisi iklim Indonesia yang tidak mendukung mempercepat proses kerusakan.
Kelembaban udara, suhu udara, intensitas cahaya dan radiasi sinar ultra violet yang
serba tinggi telah dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lukisan. Sesuai
dengan perkembangan jaman, manusia disamping dapat mengatasi masalah iklim
yang tidak mendukung, namun juga menghasilkan bahan pencemar udara dari
asap knalpot kendaraan dan pabrik.
2. Jenis-jenis Lukisan
Berdasarkan atas jenis media pelukisan (substrat), macam medium
1
perekat
(untuk pigmen) dan teknik penerapan cat (pigmen dan perekat), lukisan dapat
dikelompokkan menjadi: (1). lukisan cat minyak, (2). lukisan cat air, (3). lukisan guase,
(4) lukisan tempera, (5). lukisan pastel, (6). lukisan dinding, (7). lukisan jagrag, (8).
lukisan kaca, (9). lukisan enkaustik, (10). lukisan batik, (11). lukisan teknologis, (12).
kolase, (13). litografi, (14). graffito, (15). frottage, (16). grattage, dan (17). decalco-
mania. Namun begitu, cat minyak, cat air, pastel, jagrag, litografi, batik dan kolase
adalah jenis-jenis lukisan yang banyak kita jumpai.
3. Penyebab Kerusakan Lukisan
Kerusakan lukisan dapat terjadi secara fisik atau mekanik (seperti ber-
gelombang, retak, sobek, dll.); secara biotis (jamur dan serangga); dan kimiawi
(oksidasi atau penguningan varnis, korosi pigmen, dll.). Gambar 3 di bawah me-
nunjukkan kerusakan fisik, yaitu terkelupasnya cat sebagai akibat dari hilangnya
daya rekat cat. Kerusakan ini dapat terjadi karena proses pelapukan (penuaan) yang
dipercepat oleh faktor alam yang tidak mendukung. Dalam hal ini, kelembaban dan
suhu udara yang tinggi menyebabkan terjadinya kerusakan itu. Intensitas cahaya
yang tinggi dapat mempercepat proses oksidasi (penguningan) varnis dan radiasi
sinar ultra violet yang terlalu tinggi mengakibatkan kanvas rapuh.
4. Kontrol Lingkungan
Tindakan pencegahan dengan cara mencatat data klimatologi harus dilanjuti
dengan mengontrol keadaan lingkungan lukisan tersebut. Cara ini dapat meng-
hidari terjadinya kerusakan biotis, yaitu serangan jamur dan serangga. Kelembaban
udara yang direkomendasikan adalah 50 – 60 %, suhu udara berkisar antara 20 – 25
oC, intensitas cahaya berkisar 100 luks untuk cat minyak (dan sejenisnya) dan 75
luks untuk cat air (dan sejenisnya); sedangkan radiasi ultra violetnya adalah 75
μ
W/Lumen
(1,5
μ
W/cm
2) untuk cat minyak (dan sejenisnya) dan 30
μ
W/Lumen (0,375
μ
W/cm
2) untuk cat air (dan sejenisnya). Fluktuasi kelembaban udara dan keadaan
yang menyebabkan lukisan lembab yang mendadak harus dihindari. Karena kondisi
yang dapat mengakibatkan konstraksi antara dua atau lebih bahan yang berbeda
elastisitas itu dapat mengakibatkan retaknya cat atau bahkan terkelupas. Hal yang
sama juga dapat menyebabkan media kertas menjadi bergelombang. Pendapat
ini sesuai fakta di lapangan, seperti pada Gambar 33 - 35 (Halaman 29 - 30).
Gambar 2.
PERFORMANS (tatalaku) (distribusi, kegunaan,
tekno-fungsi, sosio-tekno-fungsi, dsb.) STRUKTUR (mikro & makro)
(atribut formal, atribut stilistik dan tipologi)
SIFAT-SIFAT
PROSES MANUFAKTURAL (seleksi bahan, sintesis bahan,
prosesing bahan, desain, manufaktur) Pengetahuan Empiris Pengetahuan Ilmiah
GAMBARAN ILMU
DAN TEKNOLOGI BAHAN
Ref.: Lawrence van Vlack (1985); Pamela B.Vandiver, et.al. (1990). (fisik & kimiawi)
1 Yang dimaksud ‘medium’ disini adalah bahan perekat yang digunakan untuk menempelkan
pigmen pada substrat, seperti: linseed oil. Medium = something intermediate, an intervening thing
through which a force acts or an effect is produced (Guralnik, 1982:882). Substrat (substrate atau
substratum) adalah sesuatu yang berfungsi sebagai dasar (alas) pijakan. (Guralnik, 1982:1420).
Alat-alat sederhana yang digunakan untuk mengetahui kondisi ideal untuk
iklim mikro dan makro
2
ini adalah psychrometer, luxmeter dan ultra violet monitor.
Dehumidifier dapat digunakan pada suatu ruangan yang harus beroperasi secara
otomatis. Alat ini hanya akan menyala (beroperasi) pada saat udara lembab.
Detail
Sesudah Pembersihan,
Sesudah Penguatan Cat
Detail
Sebelum Pembersihan,
Sebelum Penguatan Cat
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sesuai dengan status sosial pemiliknya, lukisan dipajang sebagai dokumen
visual, benda seni, bahkan mungkin sebagai investasi. Kita dapat memberikan nilai
yang berbeda bagi sebuah karya lukis. Tetapi faktor pelukis lebih banyak dipakai
sebagai tolok ukurnya, dari pada tema, bahkan atau teknik pelukisannya. Perbedaan
cara pandang ini pulalah yang mempengaruhi perawatannya. Disamping
kerusakan, perubahan tampilan pada lukisan juga terjadi karena transformasi bahan
yang merupakan hasil dari suatu proses adaptasi seniman terhadap lingkungan, dan
pengaruh hubungan antar manusia atau bangsa. Dalam kaitan ini, penulis
menggunakan Sistem Perujukan Barang Seni-Budaya (gambar 1.) untuk mengenal
setiap karya yang akan ditangani; sedangkan Gambaran Ilmu dan Teknologi Bahan
(gambar 2.) dipakai dalam studi konservasi lebih lanjut.
Masyarakat kebanyakan lebih menyukai lukisan berupa potret atau yang
bertemakan kondisi alam lingkungannya. Kelompok masyarakat berstatus sosial
lebih tinggi memilih lebih banyak variasi tema, teknik, bahan ataupun senimannya.
Lukisan sebagai karya seni rupa dalam bentuk dua dimensi memiliki unsur-unsur
garis, bidang dan warna. Lukisan terbentuk dari beberapa jenis bahan yang pada
dasarnya adalah bahan organik yang bersifat sensitif terhadap kondisi lingkungan.
Kondisi iklim Indonesia yang tidak mendukung mempercepat proses kerusakan.
Kelembaban udara, suhu udara, intensitas cahaya dan radiasi sinar ultra violet yang
serba tinggi telah dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lukisan. Sesuai
dengan perkembangan jaman, manusia disamping dapat mengatasi masalah iklim
yang tidak mendukung, namun juga menghasilkan bahan pencemar udara dari
asap knalpot kendaraan dan pabrik.
2. Jenis-jenis Lukisan
Berdasarkan atas jenis media pelukisan (substrat), macam medium
1
perekat
(untuk pigmen) dan teknik penerapan cat (pigmen dan perekat), lukisan dapat
dikelompokkan menjadi: (1). lukisan cat minyak, (2). lukisan cat air, (3). lukisan guase,
(4) lukisan tempera, (5). lukisan pastel, (6). lukisan dinding, (7). lukisan jagrag, (8).
lukisan kaca, (9). lukisan enkaustik, (10). lukisan batik, (11). lukisan teknologis, (12).
kolase, (13). litografi, (14). graffito, (15). frottage, (16). grattage, dan (17). decalco-
mania. Namun begitu, cat minyak, cat air, pastel, jagrag, litografi, batik dan kolase
adalah jenis-jenis lukisan yang banyak kita jumpai.
3. Penyebab Kerusakan Lukisan
Kerusakan lukisan dapat terjadi secara fisik atau mekanik (seperti ber-
gelombang, retak, sobek, dll.); secara biotis (jamur dan serangga); dan kimiawi
(oksidasi atau penguningan varnis, korosi pigmen, dll.). Gambar 3 di bawah me-
nunjukkan kerusakan fisik, yaitu terkelupasnya cat sebagai akibat dari hilangnya
daya rekat cat. Kerusakan ini dapat terjadi karena proses pelapukan (penuaan) yang
dipercepat oleh faktor alam yang tidak mendukung. Dalam hal ini, kelembaban dan
suhu udara yang tinggi menyebabkan terjadinya kerusakan itu. Intensitas cahaya
yang tinggi dapat mempercepat proses oksidasi (penguningan) varnis dan radiasi
sinar ultra violet yang terlalu tinggi mengakibatkan kanvas rapuh.
4. Kontrol Lingkungan
Tindakan pencegahan dengan cara mencatat data klimatologi harus dilanjuti
dengan mengontrol keadaan lingkungan lukisan tersebut. Cara ini dapat meng-
hidari terjadinya kerusakan biotis, yaitu serangan jamur dan serangga. Kelembaban
udara yang direkomendasikan adalah 50 – 60 %, suhu udara berkisar antara 20 – 25
oC, intensitas cahaya berkisar 100 luks untuk cat minyak (dan sejenisnya) dan 75
luks untuk cat air (dan sejenisnya); sedangkan radiasi ultra violetnya adalah 75
μ
W/Lumen
(1,5
μ
W/cm
2) untuk cat minyak (dan sejenisnya) dan 30
μ
W/Lumen (0,375
μ
W/cm
2) untuk cat air (dan sejenisnya). Fluktuasi kelembaban udara dan keadaan
yang menyebabkan lukisan lembab yang mendadak harus dihindari. Karena kondisi
yang dapat mengakibatkan konstraksi antara dua atau lebih bahan yang berbeda
elastisitas itu dapat mengakibatkan retaknya cat atau bahkan terkelupas. Hal yang
sama juga dapat menyebabkan media kertas menjadi bergelombang. Pendapat
ini sesuai fakta di lapangan, seperti pada Gambar 33 - 35 (Halaman 29 - 30).
Gambar 3.
DETAIL KERUSAKAN LUKISAN
Alat-alat sederhana yang digunakan untuk mengetahui kondisi ideal untuk
iklim mikro dan makro
2
ini adalah psychrometer, luxmeter dan ultra violet monitor.
Dehumidifier dapat digunakan pada suatu ruangan yang harus beroperasi secara
otomatis. Alat ini hanya akan menyala (beroperasi) pada saat udara lembab.
cat terkelupas
cat terangkat
cat terangkat
cat terkelupas
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Sesuai dengan status sosial pemiliknya, lukisan dipajang sebagai dokumen
visual, benda seni, bahkan mungkin sebagai investasi. Kita dapat memberikan nilai
yang berbeda bagi sebuah karya lukis. Tetapi faktor pelukis lebih banyak dipakai
sebagai tolok ukurnya, dari pada tema, bahkan atau teknik pelukisannya. Perbedaan
cara pandang ini pulalah yang mempengaruhi perawatannya. Disamping
kerusakan, perubahan tampilan pada lukisan juga terjadi karena transformasi bahan
yang merupakan hasil dari suatu proses adaptasi seniman terhadap lingkungan, dan
pengaruh hubungan antar manusia atau bangsa. Dalam kaitan ini, penulis
menggunakan Sistem Perujukan Barang Seni-Budaya (gambar 1.) untuk mengenal
setiap karya yang akan ditangani; sedangkan Gambaran Ilmu dan Teknologi Bahan
(gambar 2.) dipakai dalam studi konservasi lebih lanjut.
Masyarakat kebanyakan lebih menyukai lukisan berupa potret atau yang
bertemakan kondisi alam lingkungannya. Kelompok masyarakat berstatus sosial
lebih tinggi memilih lebih banyak variasi tema, teknik, bahan ataupun senimannya.
Lukisan sebagai karya seni rupa dalam bentuk dua dimensi memiliki unsur-unsur
garis, bidang dan warna. Lukisan terbentuk dari beberapa jenis bahan yang pada
dasarnya adalah bahan organik yang bersifat sensitif terhadap kondisi lingkungan.
Kondisi iklim Indonesia yang tidak mendukung mempercepat proses kerusakan.
Kelembaban udara, suhu udara, intensitas cahaya dan radiasi sinar ultra violet yang
serba tinggi telah dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lukisan. Sesuai
dengan perkembangan jaman, manusia disamping dapat mengatasi masalah iklim
yang tidak mendukung, namun juga menghasilkan bahan pencemar udara dari
asap knalpot kendaraan dan pabrik.
2. Jenis-jenis Lukisan
Berdasarkan atas jenis media pelukisan (substrat), macam medium
1
perekat
(untuk pigmen) dan teknik penerapan cat (pigmen dan perekat), lukisan dapat
dikelompokkan menjadi: (1). lukisan cat minyak, (2). lukisan cat air, (3). lukisan guase,
(4) lukisan tempera, (5). lukisan pastel, (6). lukisan dinding, (7). lukisan jagrag, (8).
lukisan kaca, (9). lukisan enkaustik, (10). lukisan batik, (11). lukisan teknologis, (12).
kolase, (13). litografi, (14). graffito, (15). frottage, (16). grattage, dan (17). decalco-
mania. Namun begitu, cat minyak, cat air, pastel, jagrag, litografi, batik dan kolase
adalah jenis-jenis lukisan yang banyak kita jumpai.
3. Penyebab Kerusakan Lukisan
Kerusakan lukisan dapat terjadi secara fisik atau mekanik (seperti ber-
gelombang, retak, sobek, dll.); secara biotis (jamur dan serangga); dan kimiawi
(oksidasi atau penguningan varnis, korosi pigmen, dll.). Gambar 3 di bawah me-
nunjukkan kerusakan fisik, yaitu terkelupasnya cat sebagai akibat dari hilangnya
daya rekat cat. Kerusakan ini dapat terjadi karena proses pelapukan (penuaan) yang
dipercepat oleh faktor alam yang tidak mendukung. Dalam hal ini, kelembaban dan
suhu udara yang tinggi menyebabkan terjadinya kerusakan itu. Intensitas cahaya
yang tinggi dapat mempercepat proses oksidasi (penguningan) varnis dan radiasi
sinar ultra violet yang terlalu tinggi mengakibatkan kanvas rapuh.
4. Kontrol Lingkungan
Tindakan pencegahan dengan cara mencatat data klimatologi harus dilanjuti
dengan mengontrol keadaan lingkungan lukisan tersebut. Cara ini dapat meng-
hidari terjadinya kerusakan biotis, yaitu serangan jamur dan serangga. Kelembaban
udara yang direkomendasikan adalah 50 – 60 %, suhu udara berkisar antara 20 – 25
oC, intensitas cahaya berkisar 100 luks untuk cat minyak (dan sejenisnya) dan 75
luks untuk cat air (dan sejenisnya); sedangkan radiasi ultra violetnya adalah 75
μ
W/Lumen
(1,5
μ
W/cm
2) untuk cat minyak (dan sejenisnya) dan 30
μ
W/Lumen (0,375
μ
W/cm
2) untuk cat air (dan sejenisnya). Fluktuasi kelembaban udara dan keadaan
yang menyebabkan lukisan lembab yang mendadak harus dihindari. Karena kondisi
yang dapat mengakibatkan konstraksi antara dua atau lebih bahan yang berbeda
elastisitas itu dapat mengakibatkan retaknya cat atau bahkan terkelupas. Hal yang
sama juga dapat menyebabkan media kertas menjadi bergelombang. Pendapat
ini sesuai fakta di lapangan, seperti pada Gambar 33 - 35 (Halaman 29 - 30).
Alat-alat sederhana yang digunakan untuk mengetahui kondisi ideal untuk
iklim mikro dan makro
2
ini adalah psychrometer, luxmeter dan ultra violet monitor.
Dehumidifier dapat digunakan pada suatu ruangan yang harus beroperasi secara
otomatis. Alat ini hanya akan menyala (beroperasi) pada saat udara lembab.
2 Iklim mikro adalah kondisi suhu, kelembaban, cahaya dan sejenisnya yang ada disekitar benda atau
koleksi. Data iklim mikro biasanya dicatat di Lembar Kondisi Lukisan (seperti pada hal 14). Kalau koleksi
ditempatkan dalam lemari simpan berarti iklim mikro sama dengan yang ada didalam lemari simpan.
Sedangkan yang iklim makro adalah kondisi suhu, kelembaban, cahaya dan sejenisnya yang ada diluar
iklim mikro. Data iklim makro biasanya dicatat terpisah (lihat Data Iklim Makro, gambar 16 - hal. 15).
Perhatikan hubungan kerusakan berbagai jenis lukisan dan iklim pada Gambar Grafik 33- 35 pada hal.
29 & 30, dan menunjukkan kenapa cat minyak diatas kanvas (oils on canvas) paling banyak meng-
alami kerusakan (terutama yang mengandung Timbal, Mangan dan Kobal. Hal. 32). Weintraub (2002)
menjelaskan pengertian dan perhitungan Equilibrium Moisture Content (EMC) dan EMC/RH isotherm
bahan organik (kapas, linen, kertas, kayu, dsb.); serta kapasitas buffering (M
H) dan rekondisi silicagel.
Alat pengontrol
kelembaban ruangan
yang bekerja secara
otomatis
Gambar 5.
Wet & Dry Bulb Psychrometer
Lux Meter
(Alat pengukur
intensitas cahaya)
Ultra Violet Monitor (4 in 1)
(Alat pengukur radiasi ultra violet,
kuat cahaya, suhu dan kelembaban)
Banyak digunakan untuk kalibrasi
alat-alat pengukur RH & T jenis lain.
Gambar 6.
Gambar 4.
Dehumidifier
Gambar 7.
BLUEAIR-Air-Purifier
alat pembersih udara
Gambar 8.
B. MENGENAL LUKISAN
Lukisan sebagai suatu karya seni-rupa dalam bentuk dua dimensi memiliki
unsur-unsur garis, bidang dan warna. Lukisan ini terbentuk dari beberapa bahan,
seperti: kanvas (sebagai media pelukisan atau disebut sebagai 'substrat') dan cat
(campuran antara pigmen dan binder atau zat-perekat), perhatikan gambar 9.
Menurut jenis substrat, macam medium (binder atau pelarut) yang digunakan
untuk pigmen serta teknik penerapan zat-warna (pigmen atau bahan-celup), lukisan
dapat dikelompokkan menjadi:
1). Lukisan Cat-minyak (Oil Painting) adalah lukisan
yang catnya bermedium minyak, bersubstrat kain
kanvas, dan dilakukan dengan teknik kwas, palet
dsb.
2). Lukisan Cat-air (Water-color Painting) adalah
lukisan yang catnya bermedium air, pada substrat
kertas, dan dilakukan dengan teknik kwas dll. Pada
bagian warna lukisan – yang termasuk kelompok
“aquarel” – ini bersifat tembus pandang/ sinar.
3). Lukisan Akrilik (Acrylic Painting) adalah lukisan
yang catnya bermedium resin sintetis (pigmen
yang terdispersi pada emulsi akrilik), pada substrat
umumnya kanvas, dan dilakukan dengan teknik
kwas, palet dsb.
4). Lukisan Guase (Gouache Painting) adalah lukisan
yang catnya bermedium air, pada substrat kertas
dengan teknik bebas; bisa dengan teknik tuang,
kwas, tiup, dll. Bagian warna pada lukisan ini tidak
tembus pandang (opaque).
5). Lukisan Tempera (Tempera Painting) adalah
lukisan yang catnya bermedium bebas (bisa
minyak, air, kuning telur, dsb.), bersupport panel
atau kayu, yang berbahan penyerap atau ‘gesso’,
dan bersubstrat kertas atau kain-kanvas dan dilakukan dengan teknik biasa atau
kwas.
6). Lukisan Pastel (Pastel Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium menyatu
dengan pigmen, pada substrat kertas, dan dilakukan dengan teknik langsung
tekan. Lukisan dengan menggunakan pensil, crayon, dsb. termasuk dalam kategori
lukisan ini.
7). Lukisan Dinding (Mural atau Fresco Painting) adalah lukisan yang zat pewarnanya
bermedium plester/ bebas, pada substrat dinding berplester dengan teknik bebas.
Berdasarkan atas teknik yang digunakan tipe lukisan ini dibedakan menjadi dua
yaitu lukisan fresco dan tempera. Lukisan fresco adalah lukisan dinding yang
dilakukan pada saat plester masih basah, sedangkan lukisan tempera dilakukan
pada saat plester sudah kering.
Komposisi dan campuran cat
(pigmen & binder)
Gambar 9.
Binder
CAT = Pigmen + Binder
Pigmen
Encer
Warna monokhromatis
Pekat
Warna polikhromatis
P1
P2
P3
Pigmen
Binder
a
b
c
8). Lukisan Jagrag (Panel atau Easel Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium
bebas, pada substrat kayu dengan teknik bebas (tetapi biasanya dengan kwas).
9). Lukisan Kaca (Glass Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium bebas (ancur,
gum arab, dsb.), pada substrat kaca dengan teknik bebas (biasanya dengan kwas).
10). Lukisan Enkaustik (Encaustic Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium
lilin panas, pada substrat bebas dan dilakukan dengan teknik tuang-panas. Ingat,
lukisan enkaustik ini berbeda dengan lukisan batik.
11). Lukisan Batik (Batik Painting) adalah lukisan yang zat pewarnanya dicelup-
kan pada substrat kain, dan proses pencelupan pewarna dilakukan setelah sebagian
dari permukaan substrat ditutup lilin (sebagai perintang warna) untuk membentuk
subyek pelukisannya.
12). Lukisan Teknologis (Technological Painting) adalah lukisan yang catnya bermedium
bebas, pada substrat bebas dan dilakukan dengan teknik elektronis (komputer).
13). Kolase (Collage) adalah suatu bentuk karya seni (lukisan) yang menerapkan bahan-
bahan berwarna yang sangat beragam secara fisik, bersubstrat umumnya kain
(kanvas) dan berteknik tempel. Pada kolase, bahan yang ditempelkan sangat
bervariasi, seperti: kepingan kain, kertas, kayu, kaca, kawat, pasir, dll.
14). Litografi adalah lukisan yang catnya bermedium menyatu dengan pigmen seperti
pastel dan bersubstrat kertas. Tipe lukisan ini menggunakan teknik sablon atau cap
dengan blok batu gamping atau sejenisnya.
15). Graffito adalah lukisan yang zat-pewarnanya sudah menyatu dengan substrat dan
dilakukan pada dinding dengan teknik gores. Graffito atau grafiti adalah menggores
dinding yang sudah dicat terlebih dahulu, tetapi sebelum mengering disapu lagi
sebanyak dua kali dengan lime-wash (oksida kalsium).
16. Frottage lukisan yang zat-pewarnanya bermedium menyatu, bersubstrat bebas, dan
dilakukan dnegan teknik gosok. Frottage adalah teknik membuat gambar dari
tekstur (kekasaran suatu permukaan) tertentu seperti batu, kain, dsb. Setelah
kertasnya ditempatkan diatas tekstur benda tersebut, maka kertasnya digosok
dengan potlot atau crayon. Contoh dari proses ini misalnya pemindahan gambar
pada permukaan uang logam.
17. Grattage adalah tipe lukisan yang zat-pewarnanya sudah menyatu dengan substrat,
bersubstrat kertas dan dilakukan dengan teknik gores. Grattage adalah teknik
menggores cat yang masih basah dengan beberapa alat seperti sisir, garpu, pena,
silet, pecahan kaca, jarum, dsb. Teknik ini memanfaatkan sifat plastis cat yang masih
basah tapi sudah disapukan diatas support atau kanvas.
18. Decalcomania adalah tipe lukisan yang zat-pewarnanya sudah menyatu dengan
substrat, bersubstrat kertas atau bebas dan dilakukan dengan teknik tekan atau
tempel. Teknik penekanan cat yang masih basah diantara dua permukaan kanvas
atau kertas. Selembar kertas ditaburi cat terlebih dahulu, kemudian lembar kertas
kedua ditempelkan dan ditekan.
1.: Cross-section of 19th century
painting on canvas, 25x magnifica- tion, darkfield illumination. Linen canvas weave visible at the bottom of the image, red ground and paint layers above. 2.: Same painting cross-section at 25x, illuminated with ultraviolet light. Linen canvas structure is easily seen in contrast to mainly inorganic pigments of ground and paint layers.
Pengamatan perbedaan
teknis antara lukisan :
1). cat minyak diatas papan
(oils on board);
2). cat minyak diatas kanvas
(oils on canvas);
3). cat minyak diatas kanvas
diatas papan (oils on
canvas lain on board).
Gambar 10.
STRUKTUR LUKISAN
Keterangan Gambar 10b & c.:
1. Support (Bahan pelindung bagian belakang kanvas, untuk
kategori lukisan jagrag atau panel). Bahan: kayu jati, hard board.
2. Kanvas (barang-tenunan yang dilapisi zat, semacam kanji yang
lebih dikenal dengan sebutan “priming”. Priming digunakan untuk
menjaga supaya kanvas tidak menjadi kusut dan licin, serta mudah
untuk dilukisi). Bahan: kain benang linen, kain benang kapas, dll.
3. Priming (lihat definisi butir 2 diatas)
Bahan: campuran white-lead (bubuk timbal putih, Pigment White 1.)
dalam minyak biji rami (linseed-oil) dengan minyak turpentine,
dengan perbandingan 450 gram white-lead dengan 85 gram
minyak terpentin. Bahan untuk priming ini dapat dibeli di toko
grafik-art dengan nama White-lead. White lead ini harus dibedakan
dengan Flake-white walaupun sama-sama berbahan utama timbal
karbonat dasar. Yang pertama lebih banyak mengandung minyak, dan
yang kedua berupa pasta yang banyak digunakan untuk “cat minyak”.
Penjelasan lebih lanjut di Tabel 1 - Hal. 12 dan Gambar 36 - Hal. 31.
Susunan bahan atau komponen pembentuk lukisan secara umum terdiri dari:
support, kanvas, priming, dasar lukisan, gesso, cat dan varnis. Perhatikan Gambar 10.:
Struktur Lukisan dibawah ini, untuk mengamati benda secara teknis (stratigrafis).
4. Dasar Lukisan (first coating of ground, bahan penghalus priming yang dimaksudkan sebagai dasar
cat minyak. Bahan jenis ini lebih dikenal dengan sebutan GESSO GROSSO).
Bahan: Acrylic-polymer yang berkarakter hydrophobic (kedap air).
5. Gesso (second coating of ground, bahan dasar cat-minyak dan membuat permukaan kanvas sedikit
agak menyerap cat. Bahan ini dikenal dengan sebutan GESSO SOTTILE).
Bahan: gypsum (calcium sulfate, CaSO
4.2H
2O) dan air. Pembuatan gesso dari gypsum yang mirip
dengan plaster of Paris ini adalah sebagai berikut: (a). gypsum dipanggang atau dioven pada suhu
antara 100 ~ 190oC., untuk menguapkan 3/4 kandungan air kristalisasinya dan menjadi
CaSO
4.1/2H
2O; (b). campurkan 1,5 bagian air, dan diamkan sampai membentuk padatan;
(c). rendam dalam air untuk membentuk pasta.
Keterangan Gambar 10a.:
Keterangan Gambar 10b.:
Sumber: https://si.edu/ MCIImagingStudio/Microscopya
c
F
E
D
C
B
G
A
1
2
H
Support [kayu, dll.] Kanvas Priming GESSO Cat Dasaran Cat Lukisan VARNIS Kotoran, Debu, dll.D1 = G. Grosso & D2 = G. Sottile
b
1
2
serat
benang
pakan
KANVAS
}
benang
lungsi
PRIMING
rongga
}
GESSO
CAT
retakan
cat dasaran
cat lukisan
cat detail
}
retakan
gesso sottile
VARNIS
gesso grosso
Proses pembuatan varnis tradisional adalah dengan cara melarutkan damar dalam
minyak terpentin. Pertama-tama damar ditimbang dengan timbangan digital yang
memiliki skala miligram. Setelah ditimbang, damar dicampur dengan minyak terpentin
(grade bagus) pada beaker glass berskala volume mililiter. Damar dibungkus dengan kasa
nilon - yang diikat dengan tali panjang untuk pegangan - untuk memudahkan
pemindahan endapan damar. Supaya proses pelarutan dapat berjalan dengan baik,
hangatkan beaker-glass tersebut diatas kompor listrik (berkasa asbes) pada suhu konstan
sekitar 70oC (lihat gambar 11).
Untuk memahami lukisan secara utuh, kita tidak perlu membatasi dari definisi
umum lukisan sebagai karya seni-rupa dalam bentuk dua dimensi yang memiliki
unsur-unsur garis, bidang dan warna. Tetapi kita akan dapat mencermati jenis dan sifat
bahan sebagai komponen pembentuknya, berikut proses pengkaryaannya
4. Perhatikan
pengertian warna dan zat warna berikut ini.
6. Cat (definisi: campuran antara pigmen dengan binder atau bahan perekat).
Adapun kemungkinan susunan/ lapisan cat adalah sebagai berikut:
a). Underpainting (lapisan cat bawah);
b). Overpainting (lapisan cat yang menindih cat bawah);
c). Glazes atau Scumblings (lapisan seperti film yang transparan);
d). Isolating varnishes atau veils. (lihat butir 7 di bawah).
[Susunan atau lapisan cat seperti tersebut diatas berbeda dengan pengistilahan warna
(cat) sebagai 'monokhromatis dan polikhromatis', lihat gambar 9 diatas].
7. Varnish (Picture Varnish sebagai pelindung; Retouch Varnish sebagai pelindung dan
penimbul efek tertentu, seperti efek lembab/ basah; Mixing Varnish sebagai bahan
campuran pada tabung cat-minyak yang digunakan dalam aneka teknik lukis cat-minyak;
dan Isolating Varnish yang digunakan sebagai pelindung pigmen/ cat asli lukisan dalam
proses tusir-warna, tetapi biasanya setelah pelapisan dengan Retouch Varnish).
Bahan-bahan:
a). Picture Varnish = campuran damar
3resin dan turpentine, polycyclo-hexanone. Picture
Varnish yang terbuat dari damar berkomposisikan damar dan minyak terpentin
(kualitas bagus/ bening) dengan perbandingan (konsentrasi) 1.812 gram dalam 4 liter
minyak terpentin.
b). Retouch Varnish = damar atau resin sintetis. Picture Varnish yang terbuat dari damar
berkomposisikan damar dan minyak terpentin (kualitas bagus/ bening) dengan
perbandingan (konsentrasi) 2.265 gram (5 pound) dalam 4 liter (1 galon) minyak
terpentin.
c). Mixing Varnish = damar atau resin, yang dicampur dengan linseed oil (sebagai binder)
dan cat minyak. Perbandingan antara minyak binder, resin dan cat-minyak = 50:15:35.
d). Isolating Varnish = resin sintetis atau polyvinyl.
3 Damar = bahan padat bening (agak kuning) berasal dari resin/ getah tanaman damar, Agathis alba
Foxw. (Pinaceae). Sifat damar adalah tidak larut dalam air, tetapi larut dalam hampir semua jenis
minyak, seperti: terpentin, minyak tanah. Tanaman damar tumbuh di Jawa, Kalimantan, Sumatera,
Semenanjung Malaya (Malaysia). Damar sering digunakan sebagai bahan campuran malam atau
lilin lebah untuk membatik. Ada beberapa kwalitas (grade) damar di pasaran, dengan nama merek
dagang “Mata Kucing”, “Pedang”, dll. Damar “Mata Kucing” termasuk jenis damar kualitas nomor 1,
dan sangat cocok untuk keperluan konservasi ataupun restorasi.
4 Technically, painting is the art of spreading pigments, or liquid color, on flat surface (canvas, panel, wall,
paper) to produce the sensation or illusion of space, movement, texture, and form, as well as the tensions
resulting from combination of these elements (Humar Sahman, op. cit.: 55).
Warna secara khusus dihubungkan dengan gelombang
cahaya, serta distribusi panjang gelombangnya. Panjang-
gelombang sinar tampak berada antara spektrum cahaya
lembayung dan merah, yang mendekati antara 400 dan 700
n
m. Secara fisik, warna sebuah benda diukur dan disajikan
dengan kurva-kurva spektropotometrik (gambar 12a),
yang adalah potongan atau bidang fraksi cahaya datang
(pantul atau tembus) sebagai sebuah fungsi panjang-
gelombang melalui spektrum tampak. [1
n
m = 10
-9m].
Secara psikologis dan fisiologis, warna adalah hasil
penglihatan yang timbul (perception) melalui signal-signal
dari receptor cahaya pada mata kita kedalam otak.
Sehingga warna dari kebanyakan benda adalah merupakan
efek daripada cahaya terhadap pigmen (pigment), bahan-
celup (dyestuff), dan bahan penyerap lainnya pada benda
yang terlihat.
Zat-warna adalah substansi berwarna yang dapat dikelompokkan menjadi pigmen
dan bahan-celup. Bahan-celup adalah zat-warna yang larut dalam medium-pelarut
(yang biasanya air). Bahan-celup ini dapat dikelompokkan lagi menjadi bahan-celup
alam (natural dyes) dan bahan-celup sintetis (synthetic dyes). Kedua jenis bahan-celup ini
memiliki kekuatan tinctorial (kemampuan melarut dan memberikan warna) pada
gugus-gugus kimia tertentu yang disebut chromophores. Chromopores ini menyebabkan
molekul bahan celup memantulkan panjang-gelombang tertentu. Pada molekul
bahan-celup terdapat juga gugus-gugus kimia lain yang disebut auxochromes yang
mengatur pelarutan molekul dan membantu pengikatan bahan-celup terhadap substrat
(serat). Secara kimiawi (didasarkan pada konstitusi kimianya), bahan-celup dikelompok-
kan menjadi 25 klas, seperti: carotenoids, anthraquinones, dst. Tetapi menurut keadaan
kimiawi dan aplikasinya, bahan-celup biasanya dikelompokkan secara sederhana
menjadi: bahan-celup asam (acid-dyes), bahan-celup basa (basic-dyes), bahan-celup
bejana (vat-dyes), dst.
Pigmen adalah zat yang tidak larut dalam medium pelarut. Pigmen tidak memiliki
daya-ikat (affinity) dengan substratnya, sehingga dalam aplikasinya memerlukan
zat-perekat (binder). Menurut sumbernya, pigmen dapat dibedakan menjadi pigmen
organik (organic pigment) yang berasal dari jasad-hidup dan pigmen anorganik
(inorganic pigment) yang biasanya diperoleh dari mineral. Tetapi secara kimiawi, pigmen
dapat dikelompokkan menjadi pigmen Azo dan pigmen non-Azo (dalam 12 klas).
Warna dan zat-warna pada lukisan adalah unsur-unsur yang tidak dapat dipisahkan.
Karena warna tertentu dihasilkan dari zat-warna tertentu, begitu pula sebaliknya.
Komposisi atau perpaduan beberapa (zat-) warna tentunya menghasilkan (zat-) warna
tertentu pula. Dalam ilmu bahan, kita memerlukan model pendekatan ilmu tertentu
untuk menjabarkan unsur 'warna' dan 'zat-warna' ini secara terinci. Dari definisi-definisi
beserta penjabaran tersebut diatas, kita dapat mempelajari “lukisan” dengan unsur-
unsur terpentingnya. Sehingga lukisan dapat ditinjau dari sudut kesenirupaan sampai
ke teknik penerapan dan ilmu bahan (gaya dan teknik pelukisan).
Warna biasa dipandang sebagai sesuatu yang memiliki ruang bermatra tiga (3D),
lihat gambar 12b. Suatu pandangan atau konsep ini dikenal sebagai 'sistem warna tiga
dimensi' (sistem ini sangat dikenal oleh para pelukis, ilmuwan bahan warna, ataupun
konservator). Adapun yang dimaksudkan dengan warna-3D adalah sebagai berikut:
Kain Kasa
beak
er
Damar
Kompor
kasa asbes
ter
pen
tin
Gambar 11.
Cara Membuat Varnis
Secara Tradisional
1. Warna (hue), yang adalah suatu sebutan warna
benda baik secara psikologis ataupun fisiologis, dan
telah lazim/ dikenal selama bertahun-tahun. Sebagai
contoh sehingga kita sering menyebutkan warna
benda adalah merah, kuning atau hijau. Dan hanya
dengan bekal pengalaman dan pengetahuan warna
ini, kita dapat memperoleh warna hijau dengan
mencampurkan (zat-) warna biru dengan kuning
saja.
2. Kepekatan (saturation), yang adalah sebutan
seberapa jauh suatu warna benda mendekati
sumbu terang (gray atau lightness axis). Kepekatan
pada warna ini biasa dikenal sebagai nada
(chroma), karena sebutan ini menyatakan pekat-
tidaknya suatu warna. Dengan pengertian ini, satu
gram cat-air warna kuning yang dicampur dengan
satu sendok air dapat disebut sebagai warna kuning
yang memiliki kepekatan lebih tinggi, jika
dibandingkan dengan satu gram cat-air yang
dicampur dengan lima sendok air.
Perhatikan kepekatan yang mem-
pengaruhi komposisi suatu cat
pada gambar 9a dan 9b diatas.
3. Gelap/ terang (value atau light-
ness), yang adalah suatu sebutan
warna benda dikaitkan dengan
intensitas cahaya. Sebutan ini
untuk menyatakan apakah warna-
benda itu gelap (hitam) atau
terang (putih). Dengan pengertian
ini, sepuluh gram cat-air warna
kuning yang dicampur dengan
satu gram cat-air warna hitam
akan menghasilkan campuran cat-
air yang berwarna kuning lebih gelap, jika dibandingkan dengan sepuluh gram cat
air warna kuning yang tidak dicampur.
Chroma Meter
(
Konica-Minolta R-410
)
Alat Perekam Data Warna
Handheld XRF Spectrometer
Alat Identifikasi Unsur/ Elemen Logam
Gambar 13.
Gambar 14.
V B G Y O R 700 600 500 400 0 20 40 60 80 100 Full strength 2% Tint Pigment Red 188 (12467)[C33H24Cl2N4O6 , Organic synthetic, Monoazo]
Wavelength, nm
Representative Spectral Curves
Gambar 12a.
Kurva Representatif Warna
C. KONSERVASI LUKISAN
Pekerjaan konservasi dapat dilakukan apabila tenaga konservasi (selanjutnya
disebut konservator)
5
telah mengenal bahan pembentuk benda yang akan ditangani;
dan jenis kerusakan yang sedang dihadapi. Hampir semua bahan - khususnya benda
organik - sangat peka terhadap kondisi lingkungan, seperti kelembaban, suhu udara,
dan radiasi cahaya. Disamping faktor internal dan eksternal tersebut, kerusakan sering
terjadi karena kesalahan penggunaan bahan atau cara pelaksanaan konservasi yang
keliru. Dalam kasus semacam ini, konservator benda organik diwajibkan dapat memilah
atau menggolongkan benda koleksi menurut jenis bahan pembentuknya, serta
mengidentifikasikan berbagai jenis bahan, berikut sifat-sifatnya (fisik dan kimiawi).
Konservasi adalah suatu tindakan yang bersifat kuratif – restoratif (penghambatan
proses kerusakan dan perbaikannya) dan tindakan yang bersifat preventif (pen-
cegahan dari kemungkinan proses kerusakan). Konservasi benda koleksi museum
menurut American Association of Museums (AAM 1984:11) dirujuk kedalam 4 tingkatan.
Pertama adalah perlakuan secara menyeluruh untuk memelihara koleksi dari
kemungkinan suatu kondisi yang tidak berubah; misalnya dengan kontrol
lingkungan dan penyimpanan benda yang memadai, didalam fasilitas penyimpanan
atau displai;
Kedua adalah pengawetan benda, yang memiliki sasaran primer suatu pengawetan dan
penghambatan suatu proses kerusakan pada benda;
Ketiga adalah konservasi restorasi secara aktual, perlakuan yang diambil untuk
mengembalikan artifak rusak atau 'deteriorated artifact' mendekati bentuk, desain,
warna dan fungsi aslinya. Tetapi proses ini mungkin merubah tampilan luar benda;
dan
Keempat adalah riset ilmiah secara mendalam dan pengamatan benda secara teknis.
Perhatikan Tabel 1.: Metode Analisis Benda dan Bahan.
Kesimpulan dari keempat tingkatan konservasi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tingkat I dan II merentangkan pendanaan konservasi yang luar biasa besar tetapi
menghasilkan jumlah koleksi yang terbanyak. Tenaga teknis konservasi yang terlatih
dibawah supervisi konservator biasanya mampu melaksanakan tugas ini, dan
2. Tingkat III dan IV biasanya diperuntukkan pada pekerjaan yang cukup penting, yang
mana memerlukan cukup biaya dan waktu; serta memerlukan keahlian konservator
yang terlatih secara profesional.
Sedangkan Lodewijks dan Leene menyimpulkan bahwa metode konservasi benda koleksi
dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni:
1. Metoda restorasi yang secara prinsip diarahkan pada pengembalian ke kondisi
aslinya; dan
2. Metoda konservasi yang dimaksudkan untuk melestarian the status quo (keadaan
tetap pada suatu saat tertentu).
5 Konservator adalah orang yang mampu melakukan pengamatan (kajian), berpikir analitik, dan
melaksanakan konservasi karya seni, artefak, relik, dan benda lain dengan menggunakan metode
atau teknik yang benar. Konservator harus memiliki pengetahuan cukup tentang metode dan
teknik konservasi; serta dapat memilih dan menerapkan bahan (materials) atau alat dalam proses
konservasi dengan baik. Mereka dapat pula mengkhususkan diri pada satu atau lebih bidang
konservasi, seperti: batu, logam, kayu, tekstil, lukisan, karya seni bermedia kertas, buku, (pita) film,
pita perekam suara, foto, atau benda lain bermedia komplek (campuran).
kotoran yang sudah berkerak dan menyatu dengan varnis
harus dibersihkan dengan methyl ethyl ketone, diacetone-
alcohol, aseton, toluen atau larutan campuran terpentin
dengan aseton (3:1). Varnis (G) umumnya dapat dibersihkan
dengan bahan pelarut seperti white spirits, tapi adakalanya
harus dengan toluene atau aseton. Walaupun varnis ini
berfungsi sebagai pelindung dan karena pertimbangan
fungsi (estetika), varnis yang menguning karena proses
oksidasi atau penuaan (aging) perlu diganti dengan varnis baru.
Pilihan antara restorasi dan konservasi lukisan terletak pada faktor rasional,
sebagian lagi dari faktor irasional seperti estetika dan perasaan-perasaan lain. Ketika
sebuah lukisan mewakili suatu fungsi, seperti hiasan dinding, maka lukisan akan lebih
diarahkan pada metode restorasi. Pada suatu karya yang pada umumnya tidak memiliki
representasi fungsi, maka metode konservasi sebaiknya diputuskan dengan hati-hati.
Pada proses paling awal, konservasi dimulai dengan pembersihan, yang kadang-kadang
menjadi konflik dengan persyaratan tertentu.
Pembersihan kotoran dari permukaan lukisan merupakan langkah paling awal
daripada pelaksanaan konservasi. Dalam hal ini, konservator lukisan harus dapat
mengenali dua kategori kotoran, yakni kotoran yang larut dan kotoran yang tidak larut
dengan bahan pelarut. Bahan pelarut itu dapat berupa air ataupun bahan pelarut
organik seperti etanol, acetone dsb. Ia juga harus dapat membedakan antara kotoran
dan komponen daripada lukisan itu sendiri. Selanjutnya, metoda pembersihan yang
mudah, efektif, dan bersifat aman haruslah dapat ditunjukkan oleh seorang konservator.
Perhatikan gambar potongan melintang pada suatu lukisan yang menunjukkan dimana
kotoran itu berada.
Atribut Formal = segala sesuatu yang bisa diukur (ukuran panjang dan lebar, volume, garis-tengah, berat, dll.); Atribut Stilistik = segala hal yang berhubungan dengan rasa atau estetika, seperti: bentuk, pola hias kain
(tata-letak hiasan), motif (bentuk hiasan), warna, dsb.;
Atribut Teknologis = segala hal yang berhubungan dengan proses pembuatan (bahan dan teknik).
PROVENANCE
Ethnographic Features: origin,
function, etc.
COMPLETE OBJECT
Description
Orientation
SUBJECTS
ANALYTICAL METHODS
(object and their attributes: formal,
stylistic and technical)
Socio Cultural Anthropology,
Ethnography, Art History, Semiotic
- Iconography, etc.
STRUCTURAL OR TEXTURAL
GREATER THAN 0.1 MM
(fabric construction, metal thread
structure, etc.)
Visual Examination
(eye, glass, microscope)
Ultra-Violet Light Examination
Diffraction
(x-ray, neutron, optical and
electron)
Optical Examination
(transmission, reflection)
Electron Microscopy (SEM, TEM, STEM)
Electron Microbeam Analysis
Spectroscopic Examination
(neutron, infra-red, optical & x-ray)
Chromatographic Analysis
(paper, TLC, GC, PyGC and HPLC)
OBJECT STRUCTURE
COMPLETE STRUCTURE
(form, design/ layout, etc.)
Typology, Stylistic Analysis, etc.
MACRO STRUCTURE
MICRO STRUCTURE
CRYSTAL STRUCTURE
ELEMENTAL STRUCTURE
and
COMPLEX COMPOUNDS
STRUCTURAL OR TEXTURAL
SMALLER THAN 0.1 MM
(fiber morphology, cross-section
materials, etc.)
METALLIC ELEMENTS
AND OTHERS
(weighting metal salts, mordant,
corrossion products, etc.)
METALLIC ELEMENTS,
DYES AND OTHERS
(pigments, dyes, adhesives,
polymers, etc.)
METODE ANALISIS BENDA DAN BAHAN [Perlu disesuaikan untuk Senirupa]
1
2
3
4
5
6
No
Tabel 1.
Debu yang mengandung unsur logam dapat berfungsi sebagai katalis proses
kerusakan secara kimiawi. Pada jenis kotoran seperti ini yang terletak pada posisi
H
(pada gambar 15) dapat langsung dikuas dengan kwas halus pada permukaan bagian
depan dan belakang lukisan tanpa harus membongkarnya. Dalam kondisi tertentu,
kotoran yang sudah berkerak dan menyatu dengan varnis
harus dibersihkan dengan methyl ethyl ketone, diacetone-
alcohol, aseton, toluen atau larutan campuran terpentin
dengan aseton (3:1). Varnis (G) umumnya dapat dibersihkan
dengan bahan pelarut seperti white spirits, tapi adakalanya
harus dengan toluene atau aseton. Walaupun varnis ini
berfungsi sebagai pelindung dan karena pertimbangan
fungsi (estetika), varnis yang menguning karena proses
oksidasi atau penuaan (aging) perlu diganti dengan varnis baru.
Jenis perlakuan pada lukisan bermedia kertas (grafis)
adalah pencucian dengan cara kering, yakni pembersihan
debu dan kotoran lain dengan kapas yang dilembabi dengan
air distilasi dicampur dengan alkohol (1:1) dan sabun Triton
X-100
6. Pengelantangan dengan hidrogen peroksida (20%)
7dilakukan pada media kertas yang terdiskolorasi oleh jamur
(foxing), yang diikuti dengan pembilasan dengan air-distilasi
dicampur dengan alkohol.
Dengan mempertimbangkan Lembar Kondisi Lukisan dengan Data Lingkungan
Mikro, kita dapat membuat skala prioritas dan jenis pekerjaan konservasi secara
langsung. Lukisan berkondisi rapuh atau mudah terkelupas, lukisan harus diperkuat
sementara dengan kertas penguat khusus atau washi
8yang direkatkan dengan bahan
perekat polyvinyl acetat (PVAc). Setelah pembersihan kotoran permukaan lukisan
dilakukan, maka lukisan baru dapat diperkuat secara tetap. Caranya adalah dengan
menggunakan malam lebah dicampur dengan damar dan minyak turpentin (ramuan
bahan khusus ini selanjutnya disebut sebagai WRA-559)
9. Pada bagian kanvas yang
catnya terkelupas diperlukan tahap pendempulan dengan pasta yang terbuat dari
gipsum dengan emulsi polyvinyl acetat (PVAc)
10. Jika permukaan dempul (tekstur) sudah
disesuaikan dengan kondisi sekelilingnya, baru proses tusir (inpainting) dapat dilakukan.
Penyesuaian tekstur permukaan kanvas ini meliputi arah sapuan kuas atau bentuk
alat-tuang cat lain, dan dimaksudkan untuk memberi efek pantul warna yang sesuai.
6 Cara pembersihan debu dan pembilasan dengan kapas atau handuk bersih yang dilembabi ini
lazim disebut sebagai swabbing.
7 Pengelantangan dapat pula dilakukan dengan cara perendaman selama lima menit dengan larutan
Potasium permanganat (0,5 ~ 5%), yang kemudian diikuti dengan pembilasan dalam larutan
Natrium tiosulfat 5%.
8 Yang dimaksud dengan kertas khusus atau washi di sini adalah kertas yang memiliki elastisitas tinggi
walaupun dalam keadaan basah. Jenis kertas ini biasanya memiliki serat-serat panjang dan banyak
dibuat di Jepang, ada juga yang dibuat diluar Jepang (dengan teknologi pembuatan yang sama
atau mirip dilakukan di Jepang, yakni buatan tangan atau hand-made paper), dan di Jepang disebut
sebagai kertas washi.
9 Pembuatan wax-resin-adhesive (WRA-559) dalam perbandingan volume, sehingga malam-lebah
dan damar yang berbentuk padat setelah ditimbang (untuk diketahui beratnya), baru dicairkan
(dipanaskan) untuk mengetahui volumenya. Setelah semua satuan ukuran dikonversi ke volume, kita
akan mendapatkan perbandingan yang diinginkan. Misal.: 100 ml malam cair (85 gr.) : 60 ml damar
cair (54 gr.) ; 20 ml terpentin disebut sebagai 5 : 3 : 1. Prosedur ini harus diikuti, mengingat grade
bahan seperti malam-lebah dan damar tidak selalu tetap.
10 Cara membuat pasta-dempul jenis lain adalah dengan teknik thermosetting (disolder), yaitu dengan
mencampurkan bubuk gipsum (kalsium sulfat) dalam cairan panas WRA-559, dengan perbandingan 5
sampai 10 gram kalsium karbonat dalam 10 ml cairan panas WRA-559. Dempul jenis ini juga
bermanfaat untuk penyamaran patahan plototan-cat lukisan Affandi dan sejenisnya (Gbr. 27 - Hal. 22).
Debu yang mengandung unsur logam dapat berfungsi sebagai katalis proses
kerusakan secara kimiawi. Pada jenis kotoran seperti ini yang terletak pada posisi
H
(pada gambar 15) dapat langsung dikuas dengan kwas halus pada permukaan bagian
depan dan belakang lukisan tanpa harus membongkarnya. Dalam kondisi tertentu,
F
E
D
C
B
G
A
1
2
H
Support [kayu, dll.] Kanvas Priming GESSO Cat Dasar Cat Lukisan VARNIS Kotoran, Debu, dll.Pengamatan Struktur
Lukisan (kotoran, varnis
dan cat lukisan)
Lampiran 01
9 Masalah 3 0017 Pergiwo Pergiwati BAHAN PEMBENTUK BENDA Jenis Cat Jenis Substrat Teknik C.minyak Cat air Tinta Akrilik Pastel Krayon Lain-lain Kanvas Kertas Hardboard Tripleks Kayu Kaca Logam Lain-lain C.minyak Aquarel Pastel Tempera Litografi Batik Kolase Lain-lain 01Moisture Meter
LEMBAR KONDISI LUKISAN
0,3 Cukup 2975 Dullah
(
)
(
)
(
)
(
)
(
)
Mata biasa
Kaca pembesar
Mikroskop
Lain-lain
Teknik Pengamatan:
Tanggal Pengamatan:
24 Januari 2015Tanda tangan
Konservator:
Konservator:
X
Lux Meter, UV light meter,
Thermohygrometer and
Intensitas Cahaya (Lux)Suhu Udara (0C) Suhu Permukaan (0C) Kelembaban Udara (%) Kandungan Air (%) Keasaman (pH) Polusi Udara ...: ...: : ..: 30
(
)
(
)
...: ...: : ..: 7(
)
(
)
LINGKUNGAN MIKRO DAN LAINNYA
ORP = Potensial Redoks.
Radiasi UV ( W/cm2)
CATATAN:
ORP (mili Volt) ... : 50 0,4 20 10 - 25 7 - 10 ≤ 200 50
Puji Yosep Subagiyo 66
67 Lokasi :
Jakarta
No Inv./ Regis. Judul Karya Nama Seniman Tahun Ukuran (cm) Kondisi
255 x 170 1950 Kotor debu Kanvas kendor Varnis menguning Varnis cacat Cat rapuh/ kering Cat kelupas Jamur/ Insek Sobek Noda Kotor Lemak Deposit Rapuh Patah Retak Distorsi Gelombang Gores Sobek Kelupas Lubang Basah Kering Jamur Serangga Busuk Karat Kristal Oksidasi Pudar Lapuk Bau Noda : S I T O I B : K I S I F KIMIAWI:
KONDISI BENDA SAAT PENGAMATAN No Foto : DSCN3090
Lain-lain
Sebelum Konservasi
Pembuatan spanram baru, cat kelupas parah
CATATAN: Baik
Cukup RusakParah KONDISI SPANRAM:
Baik
Cukup RusakParah KONDISI PIGURA:
Aktif
Aktif Aktif
Pembersihan ringan (kwas, vacuum, dll.) Pembersihan dengan pelarut :
air white-spirit turpentin methyl-ethyl-ketone 2-ethoxy ethanol petrolium alkohol 2-aceton alcohol Penguatan dan Konsolidasi
penguatan cat dengan perekat: lilin, dsb. penguatan kanvas/ substrat dg. perekat. perbaikan kanvas/ substrat.
perbaikan/ konsolidasi cat, dll. 1. 2. 3. 4. 5. 6.
Penyempurnaan (finishing treatment) isolating (varnish)
inpainting (+mixing varnish) dressing/ retouching (varnish) (re)varnishing
Perlakuan biotis (fumigasi, dsb.) Perlakuan lain.
CATATAN:
USULAN TINDAKAN KONSERVASI
Light cleaning Chemical cleaning Framing/ reframing Restretching Inpainting Repainting Retouching Varnishing Stripping Mending Consolidation Bio Control 12 Langkah Prioritas