RUMAH ADAT SULAWESI TENGAH - SOURAJA
Rumah tinggal penduduk Sulawesi Tengah disebut 'tambi', yang merupakan tempat tinggal untuk segala lapisan masyarakat. Yang membedakan rumah sebagai tempat tinggal kalangan bangawan dengan rakyat biasa terletak pada bubungan rumah para bangsawan dipasang simbol kepala kerbau, sedangkan rumah rakyat biasa tidak dipasang simbol tersebut
Rumah tambi merupakan rumah di atas tiang yang terbuat dari kayu bonati. Bentuk rumah ini segi empat dan bentuk atapnya piramida yang terbuat dari daun rumbia atau ijuk. Ukurannya tergantung dari kemampuan masing-masing pemiliknya. Pada bangunan-bangunan tradisional dihias dengan berbagai bentuk ragam hias yang menggunakan motif-motif tertentu, terutama motif-motif fauna dan flora. Ragam hias dengan motif-motif fauna terdiri dari 'pebaula' (berbentuk kepala dan tanduk kerbau) dan 'bati' (ukiran kepala kerbau, ayam, atau babi). Ragam hias ini tidak diukir seperti benda-benda ukiran biasa, tetapi hanya dipahat sampai halus dan rapi. Ukiran kerbau merupakan simbol kekayaan, kesuburan dan kesejahteraan pemilik rumah. Sedangkan ragam hias dengan motif flora (pompeninie) merupakan sobekan-sobekan kain yang dibuat dari kulit kayu. Kain yang berwarna-warni tersebut diikat dengan rotan, sehingga terangkai menjadi suatu bentuk ragam hias, yang maksudnya agar penghuni rumah terhindar dari segala gangguan roh-roh jahat. Umumnya bentuk bunga yang sering dibuat sebagai ragam hias rumah. Warna ragam hias ini bermacam-macam, biasanya berwarna merah, putih, kuning, hitam, biru atau hijau.
Anjungan Sulawesi Tengah menyajikan empat buah bangunan tradisional, yaknisouraja, rumah adat bangsawan suku Kaili; rumah adat suku To Lobo (tambi) dari Lone Selatan, lumbung padi (gambiri), dan sebuah bangunan kantor merangkap gerai seni. Rumah souraja berbentuk rumah panggung yang ditopang sejumlah tiang segiempat dari kayu; beratap bentuk piramide segitiga: bagian depan dan belakang ditutup dengan papan berukir (panapiri) serta pada ujung bubungan bagian depan dan belakang berhias mahkota berukir (bangko-bangko). Bangunan terbagi atas tiga ruangan, yaitu ruang depan (lonta karawana) untuk menerima tamu dan untuk tidur tamu yang menginap; ruang tengah (lonta tatangana) untuk tamu keluarga; serta ruang belakang (lonta rorana), untuk ruang makan, meskipun kadang-kadang ruang makan berada di lonta tatangana. Tempat tidur perempuan dan anak gadis berada di pojok belakang lonta rorana. Dapur (avu), sumur, dan jamban berada di belakang sebagai bangunan tambahan yang dihubungkan melalui hambate, yang berarti jembatan, ke rumah induk. Rumah souraja di Anjungan Sulawesi Tengah dipergunakan sebagai tempat pameran dan peragaan berbagai aspek budaya: lonta tatangana sebagai ruang pamer berbagai busana daerah serta pasangan pengantin Kaili lengkap dengan pengiringnya; lontana rorana dipergunakan sebgai tempat peragaan ruang tidur keluarga; dan avu dimanfaatkan sebagai ruang peragaan pembuatan kain sarung Donggala.
Rumah tambi berbentuk segi empat dengan atap menyerupai piramida memanjang dan curam yang sekaligus sebagai dinding rumah. Badan rumah dan atap ditopang tiga atau lima susun balok kayu bulat sebagai gelagar dan diletakkan di atas tiang-tiang batu cadas lonjong yang ditanam di dalam tanah. Hanya ada satu pintu, terletak di samping kiri bagian depan rumah. Ruangan dalam rumah (lobana) tanpa kamar. Di tengah lobana terdapat dapur (rapu), di atasnya diletakkan para-para yang ditopang empat buah tiang. Selain untuk tempat memasak, rapu juga menjadi sumber cahaya dan pemanas di waktu malam atau musim dingin. Ruangan kosong di sekitar dapur dipergunakan untuk ruang makan, ruang tidur, dan untuk menerima tamu keluarga. Daun pintu dihias ukiran kepala kerbau, sedang di tiang-tiang ke bubungan tergantung tanduk kerbau berbagai ukuran yang disusun berurut ke atas mulai yang paling besar dan panjang.Tambi di Anjungan Sulawesi Tengah dipergunakan untuk peragaan pembuatan kain dan kulit kayu haili atau kantevu yang sampai sekarang masih dipakai oleh suku Kulawi. Di sebelah utara tambi dibangun sebuah duhungan atau lobo yang aslinya hingga sekarang masih dapat di temui di daerah Plana, Lone Selatan, suatu rumah panggung empat persegi panjang tanpa kamar dan berdinding separuh terbuka dengan lantai tiga tingkat. Duhunganatau lobo digunakan sebagai ruang upacara adat serta panggung seni pada hari-hari libur atau hari besar. Pergelaran seni berupa tarian tradisional Sulawesi Tengah, seperti taridero, yakni jenis tari pengantar yang memberi kesempatan kepada para
penonton untuk ikut menari bersama-sama.
Dua buah patung tiruan Tadulako dan Langkae Bulava merupakan peninggalan prasejarah yang banyak berserakan di daerah Los Selatan. Tadulako menggambarkan seorang ayah yang tampan dan gagah perkasa, sedangkan Langke Bulova melambangkan seorang ibu yang cantik. Anjungan Sulawesi Tengah pernah dikunjungi tamu-tamu negara, antara lain Istri Perdana Menteri Luxemburg, Ny.Gaston Thorn, tahun 1978 dan 1984.
A. Selayang Pandang
Banua Mbaso atau lazim dikenal dengan Sou Raja berarti rumah besar atau rumah raja. Banua Mbaso ini merupakan rumah tradisional masyarakat Sulawesi Tengah yang diwariskan oleh keluarga bangsawan suku-bangsa Kaili. Rumah jenis ini pertama kali dibangun oleh Raja Palu, Jodjokodi, pada tahun 1892. Rumah ini merupakan rumah kediaman tidak resmi bagi manggan atau raja beserta keluarganya, terutama yang tinggal di
daerah pantai dan kota. Rumah sejenis ini dapat ditemukan di beberapa daerah di Sulawesi Tengah. Banua Mbaso yang dibangun oleh Raja Palu yang usianya ratusan tahun tersebut, hingga saat ini masih terawat dengan baik.
Secara keseluruhan, bangunan Banua Mbaso terbagi atas tiga ruangan, yaitu:
Lonta karawana (ruang depan). Ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu. Sebelum ada meja dan kursi, di ruangan ini dibentangkan onysa(tikar). Ruangan ini juga berfungsi sebagai tempat tidur para tamu yang menginap.
Lonta tata ugana (ruang tengah). Ruangan ini khusus untuk menerima tamu yang masih ada hubungan keluarga.
Lonta rorana (ruang belakang). Ruangan ini berfungsi sebagai ruang makan. Terkadang ruang makan juga berada di lonta tata ugana. Di pojok belakang ruangan ini khusus untuk kamar tidur anak-anak gadis agar mudah diawasi oleh orang tua. Untuk urang avu (ruang dapur), sumur dan jamban, dibuatkan bangunan tambahan atau ruangan lain di bagian belakang yang terpisah dengan bangunan utama. Untuk menghubungkan bangunan induk dengan ruang dapur tersebut dibuatkan jembatan beratap yang disebut dengan hambate atau dalam bahasa Bugis disebut jongke. Di jembatan beratap ini, biasanya dibuatkan pekuntu, yakni ruang terbuka untuk berangin-angin. Di kolong bangunan utama, biasanya dijadikan sebagai ruang kerja untuk pertukangan atau tempat beristirahat di siang hari. Sementara loteng rumah dipergunakan untuk menyimpan benda-benda pusaka dan lain-lain.
B. Keistimewaan
Bangunan Banua Mbaso memiliki arsitektur yang cukup unik dan artistik. Uniknya, rumah ini berbentuk panggung yang merupakan perpaduan antara arsitektur rumah adat (Bugis) di Sulawesi Selatan dan rumah adat di Kalimantan Selatan. Bangunan rumah ini ditopang oleh sejumlah tiang kayu balok persegi empat dari kayu-kayu pilihan yang berkualitas tinggi, seperti kayu ulin, bayan, atau sejenisnya, sehingga bangunan rumah ini dapat bertahan sampai ratusan tahun. Atap bangunan ini berbentuk piramida segitiga yang dihiasi dengan ukiran-ukiran yang disebut dengan panapiri. Menariknya lagi, pada ujung bubungan bagian depan dan belakang diletakkan mahkota berukir yang disebut dengan bangko-bangko.
Bangunan Banua Mbaso ini tampak lebih artistik, karena hampir semua bagian bangunan ini diberi hiasan berupa kaligrafi Arab dan ukiran dengan motif bunga-bungaan dan daun-daunan. Hiasan-hiasan tersebut terdapat pada jelusi-jelusi pintu atau jendela, dinding-dinding bangunan, loteng, ruang depan, pinggiran cucuran atap, papanini, danbangko-bangko. Semua hiasan tersebut melambangkan kesuburan, kemuliaan, keramah-tamahan dan kesejahteraan bagi penghuninya.
C. Lokasi
Untuk menyaksikan keunikan dan keartistikan Banua Mbaso peninggalan Raja Palu, para wisatawan dapat datang ke Kelurahan Lere atau lebih dikenal Kampung Lere, di Kota Palu. Sebagai informasi, Kampung Lere ini merupakan pusat Kerajaan Palu di masa lalu (abad XVII – XX). Selain di Kota Palu, para wisatawan juga dapat menyaksikan rumah
tradisional Palu di beberapa daerah di Sulawesi Tengah, seperti di Kecamatan Sigi Biromaru dan Tawaeili (Kabupaten Donggala) dan di Kabupaten Parigi.
D. Akses
Untuk mencapai Kampung Lere atau Kelurahan Lere tidaklah sulit, karena kampung ini termasuk ke dalam wilayah Kota Palu. Para wisatawan dapat menggunakan angkutan umum berupa bus dan taksi yang setiap hari beroperasi di Kota Palu. Sementara Kabupaten Donggala yang terletak sekitar 15 km di sebelah Timur Kota Palu dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat sekitar 30 – 40 menit.
E. Biaya Tiket Masuk
Masih dalam proses konfirmasi. F. Akomodasi dan Fasilitas
Di Kota Palu tersedia banyak fasilitas, seperti: hotel, wisma, penginapan, restoran, dan rumah makan.
Rumah Adat Sulawesi Utara
Pulau Sulawesi merupakan satu dari lima pulau besar di Indonesia. Bentuknya yang menyerupai huruf K ini dibagi lagi ke dalam beberapa wilayah. Salah satunya adalah Provinsi Sulawesi Utara dengan ibukota Manado. Sudah pernah berkunjung ke tempat ini? Provinsi yang terdiri atas 11 kabupaten dan 4 kota ini tersohor karena beberapa hal. Salah satunya tentulah nilai budaya. Pernah mendengar nama Walewangko? Istilah ini merujuk pada rumah tradisional suku Minahasa yang mendiami Sulawesi Utara. Kini, ia juga dikenal luas sebagai rumah adat Sulawesi Utara.
Rumah Pewaris
Nama lain dari Walewangko adalah Rumah Pewaris. Rumah adat yang satu ini memiliki tampilan fisik yang apik. Ia secara umum digolongkan sebagai rumah panggung. Tiang penopangnya dibuat dari kayu yang kokoh. Dua di antara tiang penyanggah rumah ini, konon kabarnya, tak boleh disambung dengan apapun. Bagian kolong rumah pewaris ini lazim dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan hasil panen atau godong. Seperti rumah adat lainnya, rumah adat Sulawesi Utara ini dibagi juga ke dalam beberapa bagian utama antara lain:
Bagian depan yang dikenal juga dengan istilah lesar. Bagian ini tidak dilengkapi dengan didnding sehingga mirip dengan beranda. Lesar ini biasanya digunakan sebagai tempat para tetau adat juga kepala suku yang hendak memberikan maklumat kepada rakyat.
Bagian selanjutnya adalah Sekey atau serambi bagian depan. Berbeda dengan Lesar, si Sekey ini dilengkapi dengan dinding dan letaknya persis setelah pintu masuk. Ruangan ini sendiri difungsikan sebagai tempat untuk menerima tetamu serta ruang untuk menyelenggarakan upacara adat dan jejamuan untuk undangan.
Bagian selanjutnya disebut dengan nama Pores. Ia merupakan tempat untuk menerima tamu yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik rumah. Terkadang ruangan ini juga digunakan sebagai tempat untuk menjamu tamu wanita dan juga tempat anggota keluarga melakukan aktifitas sehari-harinya. Pores ini umumnya bersambung langsung dengan dapur, tempat tidur dan juga makan.
Jika kita cermati, keunikan rumah pewaris ini terletak dari arsitektur depan rumah. Perhatikan saja susunan tangga yang berjumlah dua dan terletak di bagian kiri dan kanan rumah. Konon kabarnya, dua buah tangga ini berkaitan erat dengan kepercayaan suku Minahasa dalam
mengusir roh jahat. Apabila roh tersebut naik melalui tangga yang satu maka serta merta ia akan turun lagi melalui tangga lainnya.
Rumah adat Bolaang Mangondow
Selain rumah pewaris atau Walewangko, dikenal juga rumah adat Sulawesi Utara lainnya yakni Bolaang Mangondow. Rumah yang satu ini memiliki atap yang melintang dengan bubungan yang sedikit curam. Bagian tangganya ada di depan rumah dengan serambi tanpa dinding. Adapun ruang dalam terdiri atas ruang induk dan ruang tidur. Ruang induk ini terdiri atas ruang depa, tempat makan juga tempat tidur serta dapur yang ada di bagian belakang rumah.
RUMAH ADAT SULAWESI TENGGARA
1. Rumah Adat Laika
Rumah adat suku Tolaki disebut dengan Laika (Konawe) yang memiliki pengertian yaitu rumah. Rumah adat ini berukuran besar berbentuk segiempat dengan material kayu sebagai bahan dasarnya. Bangunan ini terdiri dari atap dan lantai yang ditopang oleh banyak tiang-tiang berukuran besar dengan tinggi sekitar 20 kaki dari dasar tanah.
Rumah adat dari suku Tolika dan suku Wolio sebenarnya memiliki persamaan dalam membangun tempat tinggal ataupun tempat untuk berkumpul, yaitu dengan menggunakan system nilai budaya yang disebut dengan pembagian secara kosmologi alam dan pembagian diibaratkan sebagai tubuh manusia. Bila kita perhatikan, bagian depan rumah adat Laika diibaratkan sebagai tangan kanan dan kiri dan tengahnya sebagai dagu. Sedangkan bagian tengah rumah diibaratkan sebagai dua lutut dan tengahnya sebagai tali pusar. Pada bagian belakang rumah diibaratkan sebagai dua kaki kiri dan kanan dengan bagian tengah sebagai alat vitalnya.
Apabila rumah adat Laika dianalisis secara vertikal dan horizontal terdapat beberapa pengertian dari setiap bagian rumah. Hasil analisa secara vertical, rumah adat Laika dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian bawah/kolong, bagian tengah dan bagian atas. Bagian bawah/kolong merupakan aplikasi dari dunia bawah (puriwuta) dimana pada bagian bawah atau kolong ini sengaja dibuat untuk berbagai keperluan, seperti tempat menyimpan binatang ternak, tempat menyimpan alat-alat pertanian, selain tempat penyimpanan, dengan adanya
kolong, lantai rumah dapat menjadi lebih dingin dengan adanya aliran udara, dapat menghindari terbenamnya rumah akibat banjir, tempat bersantai dan juga menghindari masuknya binatang liar ke dalam rumah. Bagian tengah pada rumah adat mewakili dunia tengah sebagai falsafah perwujudan alam semesta. Sedangkan bagian atas rumah berguna sebagai tempat utama untuk beraktifitas.
Hasil analisa secara horizontal, tampak depan rumah atau fasad bagian bawah, atau rangka dan lantai diibaratkan sebagai dada dan perut manusia. Bagian loteng atau bagian atas diibaratkan sebagai punggung manusia dan tiang penyangganya diibaratkan sebagai tulang punggung manusia. Sedangkan pada bagian atap adalah rambut atau bulu yang diibaratkan sebagai muka dan panggul manusia.
Rumah adat Laika terdiri dari beberapa macam, sesuai dengan kebutuhannya, yaitu : a. Laika Mbu’u (rumah induk atau rumah pokok)
Laika mbu’u (di konawe), laika raha (di mekongga/kolaka), memiliki arti rumah pokok. Julukan rumah pokok diberikan karena Laika Mbu’u memiliki bentuk lebih besar daripada rumah biasa. Rumah ini biasanya dibangun dipinggir kebun atau ladang menjelang dimulainya masa panen dan rumah ini biasanya ditinggali oleh beberapa keluarga.
b. Laika Landa (rumah di kebun)
Laika landa, yaitu rumah ini dibangun ditengah atau dipinggir kebun. Rumah ini ditinggali oleh satu keluarga selama proses panen dan pengolahan hasil kebun sampai dengan selesai. Setelah selesai masa panen dan padi disimpan di dalam lumbung padi, maka rumah ini tidak ditinggali lagi.
c. Laika Patande
Laika patande adalah rumah yang dibangun ditengah-tengah kebun sebagai tempat peristirahatan. Ukuran rumah ini lebih mungil dibandingkan laika landa.
d. Laika Kataba
Laika kataba merupakan jenis rumah papan. Material bangunannya terdiri dari balok dan papan. Rumah ini dibangun menggunakan sandi atau kode tertentu.
e. Laika Sorongga atau Laika Nggoburu (Rumah penguburan)
Laika sorongga atau laika nggoburu merupakan rumah makam bagi raja (mokole/sangia) pada masa lalu di kerajaan Konawe atau rumah makam bagi keluarga raja. Rumah tersebut ditinggali dan dijaga oleh para budak dan keluarganya.
f. Laika Mborasaa (Rumah pengayauan)
Laika Mborasaa merupakan rumah yang dibangun pada tempat tertentu sebagai tempat berjaga dan tempat beristirahat bagi orang-orang yang telah melaksanakan tugas mengayau (penggal kepala) ke beberapa tempat di daerah sulawesi tenggara.
g. Komali (Rumah tempat tinggal Raja/Istana)
Komali merupakan laika owose (rumah besar) khusus sebagai tempat tinggal Raja. Bentuknya berupa rumah panggung yang menggunakan tiang-tiang bundar dan tidak menggunakan pondasi. Pada bangunan rumah Komali, tiang-tiang ditanam sedalam satu hasta. Tiang yang akan ditanam ke dalam tanah sebelumnya dibakar pada bagian selubung (permukaan tiang) hingga menjadi arang sehingga tidak mudah dimakan rayap, selanjutnya tiang yang dibakar tadi dibungkus dengan ijuk dan diikat persegmen dengan menggunakan rotan agar arang tersebut tetap melekat pada selubung tiang.
Rumah Komali ini sangat tinggi dan kuat. Tinggi tiang dari permukaan tanah hingga ke permukaan lantai kurang lebih 2 meter atau cukup tinggi untuk dimasuki kerbau. Jumlah tiang untuk Komali sebanyak 40 tiang di luar dari tiang dapur dan tiang teras. Jumlah 40 tiang ini berhubungan dengan jumlah yang disyaratkan dalam meminang, yaitu 40 pinang dan 40 lembar daun sirih. Jika dianalisis dari segi fungsi maka jumlah 40 tiang merupakan jumlah tiang yang mewakili satu rumah besar, yang hanya dibangun oleh tokoh tertinggi adat (Mokole). Material bangunan ini terdiri dari kayu, bambu dan atap yang terbuat dari rumbia. Pada bagian tertentu rumah ini ditemukan ukiran (pinati-pati).
h. Laika wuta
Laika wuta merupakan rumah yang berfungsi sebagai tempat tinggal yang berukuran lebih kecil dari laika landa dan memiliki bentuk atap seperti rumah jengki.
i. Raha Bokeo rumah Raja di daerah Mekongga Kolaka
Raha Bokeo (di kolaka) merupakan tempat tinggal raja-raja (Bokeo) Mekongga di Kolaka. Raha Bokeo memiliki dua ukuran berdasarkan dari jumlah tiang yang dimiliki yaitu, besar dan kecil. Raha Bokeo ukuran besar dan memiliki total tiang sebanyak 70 buah. 25 tiang berada rumah induk, 20 tiang (otusa) berada di ruang tambahan (tinumba) atau ancangan, 10 tiang berada di teras depan (galamba) dan 15 tiang berada di dapur (ambolu). Sedangkan Raha Bokeo untuk ukuran sedang memiliki total tiang sebanyak 27 buah. 9 tiang yang berada pada rumah induk, 6 tiang berada pada ruang tambahan (tinumba), 3 tiang berada pada teras depan (galamba) dan 9 tiang berada di dapur.
j. O’ala (tempat penyimpanan padi)
O’ala merupakan rumah penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan benda-benda keperluan hidup, di antaranya sebagai tempat penyimpanan padi atau disebut o’ala (ala mbae) yang berarti lumbung padi.
k. Laika Walanda (rumah panjang gaya arsitek Belanda)
Laika Walanda merupakan rumah panjang yang disebut juga rumah pesanggrahan yaitu rumah yang digunakan oleh orang-orang Belanda untuk bersantai seperti berdansa ataupun berpesta. Pada ruang tengah sepanjang rumah ini terdapat ruang kosong, sedangkan dibagian kiri dan kanan rumah terdapat ruang istirahat yang lantainya setinggi pinggang dan berpetak-petak. Rumah ini memiliki bentuk seperti asrama memanjang.
l. Laika Mbondapo’a
Laika Mbondapo’a merupakan jenis rumah panggung yang digunakan sebagai tempat memanggang kopra. Bentuk bangunannya seperti rumah jengki yang tidak memiliki dinding (orini). Lantainya sedikit lebih tinggi dari dasar tanah. Pada saat proses pemanggangan, rumah panggung ini ditutupi oleh daun kelapa sambil dipanaskan dengan membuat api di bagian bawahnya.
2. Rumah adat Banua Tada
Banua tada merupakan rumah adat suku Wolio atau orang Buton di Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Kata banua dalam bahasa setempat berarti rumah, sedangkan kata tada berarti siku. Jadi, banua tada dapat diartikan sebagai rumah siku. Keunikan rumah adat yang memiliki bentuk rumah panggung ini yaitu rumah ini dapat berdiri kokoh tanpa penggunaan paku dan juga tahan gempa. Berdasarkan status sosial penghuninya, struktur bangunan rumah ini dibedakan menjadi tiga yaitu kamali/malige, banua tada tare pata pale, dan banua tada tare talu pale. Perbedaan ketiga rumah ini dapat dilihat dari jumlah tiang samping yang dimiliki setiap rumah.
a. Kamali atau Malige (Istana Kesultanan Buton)
Kamali atau Malige atau lebih sering disebut Istana Kesultanan Buton merupakan rumah adat yang menjadi ciri khas provinsi Sulawesi Tenggara. Terdapat dua versi cerita mengenai sebutan nama kamali/malige pada rumah adat suku Wolio ini. Menurut sejarah di Kerajaan/Kesultanan Buton, setiap raja/sultan yang menjabat akan membangun istananya sendiri. Julukan Kamali diberikan jika rumah tersebut ditinggali raja/sultan bersama permaisuri (istri pertama). Sedangkan julukan Malige sebenarnya julukan salah seorang Sultan Buton yang saat itu berkuasa. Karena dirumahnya saat itu tidak ditinggali permaisuri (permaisuri tinggal di istana lain), maka nama istananya mengikuti julukan sang sultan yang artinya maligai. Namun, nama Malige lebih sering digunakan untuk nama rumah adat ini karena diantara semua istana dan rumah, Malige mempunyai ukuran yang paling besar. Versi lainnya ada yang menyebutkan bahwa Malige berarti mahligai atau istana.berikut ini istana malige yang berada di TMII.
Rumah adat Kamali atau istana Malige dibuat dengan fondasi batu alam yang disebut dengan sandi. Sandi tersebut tidak ditanam tapi diletakkan begitu saja tanpa perekat. Fungsinya adalah untuk meletakkan tiang bangunan. Diantara sandi dan tiang bangunan dibatasi oleh satu atau dua papan alas yang ukurannya disesuaikan dengan diameter tiang dan sandi. Ini berfungsi sebagai pengatur keseimbangan bangunan secara keseluruhan. Material bangunan ini terbuat dari kayu yang berasal dari pohon Wala dan lantai bangunan ini terbuat dari kayu jati.
Rumah adat ini memiliki empat lantai. Ruangan pada lantai pertama memiliki ukuran lebih besar dari lantai kedua. Sedangkan ruangan lantai keempat memiliki ukuran lebih besar dari lantai ketiga, jadi semakin keatas maka akan semakin kecil atau sempit ruangannya, namun di lantai keempat sedikit lebih melebar.
Seluruh bangunan tidak menggunakan paku dalam pembuatannya, melainkan memakai pasak atau paku kayu. Tiang bagian depan terdiri dari 5 buah tiang yang berjejer ke belakang sampai delapan deret, hingga berjumlah sebanyak 40 buah tiang. Tiang tengah yang berdiri tegak ke atas merupakan tiang utama yang disebut Tutumbu yang berarti tumbuh terus. Jumlah tiang samping sebanyak 8 buah menunjukkan bahwa rumah tersebut mempunyai 7 ruangan hal ini menjadi penanda kediaman Sultan Buton.
Setiap lantai di dalam Kamali/Malige atau Istana Kesultanan Buton memiliki fungsi tertentu. Lantai pertama memiliki 7 petak atau ruangan. Ruangan pertama dan kedua berfungsi sebagai tempat menerima tamu atau ruang sidang anggota Adat Kerajaan Buton. Ruangan ketiga diperuntukkan khusus tamu dan dibagi menjadi dua bagian, bagian kiri digunakan untuk kamar tidur tamu, dan bagian kanan digunakan untuk sebagai ruang makan tamu. Ruangan keempat dibagi menjadi dua bagian dan diperuntukkan sebagai kamar untuk anak-anak Sultan yang sudah menikah. Ruang kelima digunakan sebagai kamar makan Sultan atau kamar tamu bagian dalam. Sedangkan ruangan keenam dan ketujuh dari kiri ke kanan diperuntukkan sebagai kamar anak perempuan Sultan yang sudah dewasa, kamar Sultan dan kamar anak laki-laki Sultan yang dewasa.
Ruangan pada lantai kedua dibagi menjadi 14 buah kamar, yaitu 7 kamar di bagian kanan dan 7 kamar di bagian kiri. Setiap kamar memiliki tangga pribadi sehingga lantai kedua ini memiliki masing-masing 7 tangga di bagian kiri dan kanan dengan total 14 buah tangga. Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk tamu keluarga, sebagai kantor, dan juga sebagai gudang. Kamar besar yang terletak di sebelah depan, biasanya digunakan sebagai kamar tinggal keluarga Sultan, sedangkan yang paling besar digunakan sebagai Aula. Ruangan pada lantai tiga digunakan sebagai tempat rekreasi bagi keluarga Sultan. Sedangkan lantai empat digunakan sebagai tempat untuk menjemur. Selain itu, pada bagian samping Malige terdapat sebuah bangunan seperti rumah panggung kecil. Bangunan ini diperuntukkan sebagai dapur yang dihubungkan oleh satu gang di atas tiang ke bangunan utama dan memiliki lantai lebih rendah daripada lantai bangunan utama. berikut ini replika di TMII yaitu rumah dapur yang terhubung dengan bangunan utama.
b. Banua tada tare pata pae
Banua tada tare pata pale merupakan rumah siku yang memiliki tiang samping sebanyak enam buah dan di dalamnya terdiri dari lima buah ruangan. Rumah ini diperuntukkan sebagai tempat tinggal para pejabat, pegawai istana atau anggota adat. Berikut ini sketsa tampak depan Rumah adat Banua tada tare pata pale.
c. Banua tada tare talu pale
Banua tada tare talu pale merupakan rumah siku yang memiliki tiang samping sebanyak empat buah dan di dalamnya terdiri dari tiga buah ruangan. Rumah ini diperuntukkan sebagai tempat tinggal rakyat biasa.
RUMAH ADAT SULAWESI BARAT
Rumah adat Mandar, yakni rumah panggung yang memiliki bentuk yang hampir sama dengan rumah adat suku Bugis dan Makassar. Perbedaanya pada bagian teras (lego) lebih besar dan atapnya seperti ember miring ke depan. Bentuk rumah panggung yang berdiri diatas tiang-tiangnya dimaksudkan untuk menghindari banjir dan binatang buas. Dan apabila semakin tinggi tingkat kolong rumah menandakan semakin tinggi pula tingkat status sosial pemiliknya. Atap rumah umumnya terbuat dari sirap kayu besi, bambu, daun nipah, rumbia, ijuk atau ilalang. Tangga terbuat dari kayu (odeneng) atau bambu (sapana) dengan jumlah anak tangganya ganjil. Tingkat dinding berbentuk segitiga yang bersusun sebagai atap juga menunjukan kedudukan sosial pemilik rumah.