BADAN PENERBIT FAKULTAS GEOGRAFI
Universitas Gadjah Mada
Editor
Djati Mardiatno
Dyah R. Hizbaron
Estuning T.W. Mei
Fiyya K. Shafarani
Faizal Rachman
Yanuar Sulistiyaningrum
Widiyana Riasasi
Seminar Nasional ke-2
Pengelolaan Pesisir
dan Daerah Aliran Sungai
PROSIDING
Ikatan Geograf Indonesia MPPDAS Fakultas Geografi UGM Badan Informasi GeospasialDiselenggarakan oleh
PROSIDING SEMINAR NASIONAL KE-2
Pengelolaan P
esisir dan Daerah Aliran Sungai
i
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL PENGELOLAAN PESISIR
DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI KE-2
Editor:
Djati Mardiatno
Dyah R. Hizbaron
Estuning T. W. Mei
Fiyya K. Shafarani
Faizal Rachman
Yanuar Sulistiyaningrum
Widiyana Riasasi
BADAN PENERBIT FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA, YOGYAKARTA
ii
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PENGELOLAAN PESISIR DAN
DAERAH ALIRAN SUNGAI KE-2
ISBN: 978-979-8786-61-7
© 2016 Badan Penerbit Fakultas Geografi
Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang memperbanyak atau memindahkan
sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun, secara elektronis maupun
mekanis tanpa izin tertulis dari editor. Permohonan perbanyakan dan pencetakan
ulang dapat menghubungi Dyah R. Hizbaron, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah
Mada, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 atau melalui email ke
[email protected]
Hak kekayaan intelektual tiap makalah dalam prosiding ini merupakan milik para
penulis yang tercantum pada tiap makalahnya.
Tanggal terbit:
20 Juli 2016
Dipublikasikan oleh:
Badan Penerbit Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada
Sekip Utara, Jalan Kaliurang, Bulaksumur, Yogyakarta 55281
Telp:+62 274 649 2340, +62 274 589 595
Email: [email protected]
Website: www.geo.ugm.ac.id
Desain sampul:
iii
KATA PENGANTAR
Seminar Nasional Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai ke-2 dilaksanakan di Auditorium Merapi, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada tanggal 12 Mei 2016. Seminar ini diselenggarakan oleh Program Magister Perencanaan Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai (MPPDAS) yang merupakan minat dari Program Studi S2 Geografi. Salah satu tujuan utama seminar ini adalah untuk mendiskusikan perkembangan dan tren penelitian pengelolaan di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai. Sebanyak 70 makalah yang telah direview dari tim editor ditampilkan dalam prosiding ini. Tema dari prosiding ini dibagi menjadi tiga, antara lain
1. Ekosistem, tata ruang, dan manajemen bencana di kawasan pesisir dan daerah aliran sungai
2. Teknologi geospasial dalam pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai
3. Sosial, politik, ekonomi, budaya, kependudukan, pendidikan dan kebijakan dalam pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai
Hasil dari seminar ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan mengenai kepadu-padanan pengelolaan pesisir dan DAS yang meliputi aspek fisik, lingkungan, regulasi, tata ruang, pemanfaatan ruang dan sumber daya. Semoga prosiding ini dapat bermanfaat untuk acuan peneliti maupun praktisi pada bidang yang terkait.
Terima Kasih
Ketua Panitia Kegiatan
iv
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iii DAFTAR ISI ... iv
Pembicara Utama
PERAN DATA DAN INFORMASI GEOSPASIAL DALAM PENGELOLAAN PESISIR DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI ... 1
PERAN DAN FUNGSI EKOSISTEM BENTANGLAHAN KEPESISIRAN DALAM
PENGELOLAAN PESISIR DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI ... 11 TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENGELOLAAN PESISIR DAN DAERAH ALIRAN SUNGAI ... 18 HOLOCENE SEA-LEVEL VARIABILITY IN INDONESIA ... 51
Tema 1: Ekosistem, tata ruang, dan manajemen bencana di kawasan pesisir dan daerah aliran sungai
PEMANFAATAN METODE GALDIT DALAM PENENTUAN KERENTANAN AIRTANAH TERHADAP INTRUSI AIR LAUT DI PESISIR KOTA CILACAP ... 58 IDENTIFIKASI KUALITAS AIR SUNGAI DENGAN PURWARUPA ARDUINO UNTUK MONITORING SAMPEL AIR OTOMATIS ... 68
PENDUGAAN KEBERADAAN AIRTANAH ASIN DI SEBAGIAN KABUPATEN
BANJARNEGARA, JAWA TENGAH ... 79 ANALISIS PEMENUHAN KEBUTUHAN AIR DOMESTIK DENGAN AIRTANAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI KAYANGAN KABUPATEN KULONPROGO ... 86 UJI AKURASI APLIKASI ELECTROMAGNETIC VERY LOW FREQUENCY (EM VLF) UNTUK ANALISIS POTENSI AIRTANAH DI PULAU SANGAT KECIL ... 96 KAJIAN KARAKTERISTIK HIDROLOGI BEBERAPA SUB DAS DENGAN FORMASI GEOLOGI PEGUNUNGAN SELATAN(Studi di Sub DAS Keduang, Temon, Wuryantoro, dan Alang) ... 106 RESPON HIDROLOGI SEBAGAI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DI KAWASAN DANAU KASKADE MAHAKAM... 117 EMBUNG SEBAGAI SARANA PENYEDIAAN AIR BAKU DI PESISIR TARAKAN TIMUR .... 129 ANALISIS SPASIAL DAN TEMPORAL B-VALUE SEBAGAI IDENTIFIKASI POTENSI GEMPABUMI TSUNAMI DI PULAU JAWA ... 140 ANCAMAN BAHAYA PENGUATAN REFRAKSI GELOMBANG TSUNAMI AKIBAT JEBAKAN STRUKTUR GEOMETRI TELUK SUNGAI SERUT UNTUK MITIGASI PENDUDUK DESA RAWA MAKMUR KOTA BENGKULU ... 148 BAHAYA PENGUATAN GELOMBANG TSUNAMI AKIBAT CEKUNGAN TELUK SUNGAI SERUT UNTUK MITIGASI PENDUDUK KELURAHAN PASAR BENGKULU DAN PONDOK BESI, KOTA BENGKULU ... 159 FENOMENA BANJIR BANDANG DAN PERENCANAAN TATA RUANG WILAYAH ... 167 KONSEP TATA RUANG UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN PARIWISATA TERPADU DI WILAYAH PESISIR PULAU BANGGAI, PROVINSI SULAWESI TENGAH ... 177 ANALISIS MULTI KRITERIA UNTUK ARAHAN FUNGSI KAWASAN DI KABUPATEN MALANG BAGIAN SELATAN ... 187
ZONASI EKOSISTEM ZONA NERITIK UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN
v
EFEKTIVITAS CEMARA LAUT DALAM RANGKA PENCEGAHAN EROSI ANGIN DI PANTAI KEBUMEN ... 204 DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KEANEKARAGAMAN HAYATI DI RESERVAT BATU BUMBUN DAS MAHAKAM ... 212 INDIKATOR KEANEKARAGAMAN HAYATI DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN DAS BERKELANJUTAN (Studi Kasus Daya Dukung Lingkungan Pemanfaatan Alur Sungai Kedang Kepala untuk Transportasi Tongkang Batubara) ... 223 ANALISIS KETERKAITAN EKOSISTEM DI SUNGAI CODE PENGGAL JETISHARJO, YOGYAKARTA ... 233 PERAMALAN LUAS HUTAN PENUTUP LAHAN PADA KAWASAN HUTAN KONSERVASI DI INDONESIA TAHUN 2015 ... 242 INVESTASI DAERAH DALAM PENGURANGAN RISIKO BENCANA TSUNAMI UNTUK KETANGGUHAN (Tingkat Kesiapan Pembangunan Sosial di Wilayah Pesisir Kulonprogo) ... 251 PEMETAAN GEOMORFOLOGI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BLUKAR, JAWA TENGAH ... 263 ARAHAN PEMANFAATAN RUANG BERBASIS UPAYA PENCEGAHAN BENCANA KEKERINGAN DI KAWASAN DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BINANGA LUMBUA KABUPATEN JENEPONTO PROVINSI SULAWESI SELATAN ... 270
ARAHAN PEMANFAATAN RUANG KEPULAUAN TANAH KEKE KECAMATAN
MAPAKASUNGGU KABUPATEN TAKALAR PROVINSI SULAWESI SELATAN ... 280 PEMETAAN DAERAH RAWAN BENCANA BANJIR UNTUK PENENTUAN LOKASI PERMUKIMAN DI KECAMATAN PANDAWAN KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH KALIMANTAN SELATAN ... 290 EVALUASI PENGGUNAAN LAHAN TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN LIMPASAN DI SUB DAS NGALE ... 299 ANALISIS POLA PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DAN NILAI KOEFISIEN LIMPASAN DENGAN MENGGUNAKAN DATA PENGINDERAAN JAUH UNTUK MENDUKUNG PROGRAM PEMULIHAN DAS MENTAYA, PROVINSI KALIMANTAN TENGAH ... 309 MONITORING PERUBAHAN MORFOLOGI HULU SUNGAI SENOWO TAHUN 2012-2014 DENGAN PEMANFAATAN DATA LiDAR DAN UAV ... 323 KAJIAN PENGELOLAAN LIMBAH RUMAH TANGGA PINGGIR SUNGAI/PARIT DI KECAMATAN TEMBILAHAN KABUPATEN INDRAGIRI HILIR ... 330
Tema 2: Teknologi geospasial dalam pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai
VARIASI BULANAN DAERAH PREDIKSI PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH
PENGELOLAAN PERIKANAN RI 711 ... 338 STRATEGI PEMETAAN DAERAH PASANG SURUT DENGAN CITRA SATELIT YANG DIREKAM PADA PASUT EKSTRIM ... 347 ANALISIS LINGKUNGAN GIANT SEA WALL DI TELUK JAKARTA BERDASARKAN PENDEKATAN SPASIAL ... 355
KAJIAN ANALISA PENGARUH PERUBAHAN LAHAN TERHADAP LUAS DAN
KEDALAMAN GENANGAN DI SUB DAS BANG MALANG DENGAN PEMODELAN HEC GEORAS ... 367 PEMANFAATAN TEKNOLOGI SINGLEBEAM ECHOSOUNDER (SBES) DAN SIDE SCAN SONAR (SSS) UNTUK PEMETAAN KEDALAMAN PERAIRAN ... 380 ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN WILAYAH KAWASAN SAGARA ANAKAN, KABUPATEN CILACAP BERDASARKAN PENDEKATAN ANALISIS LANDSKAP ... 386
vi
PENGELOLAAN KAWASAN KARST MELALUI PENDEKATAN KARAKTER BIOFISIK (Studi di Sub DAS Alang Kabupaten Wonogiri) ... 397
ANALISIS KEMAMPUANLAHAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI PENTUNG,
KECAMATANPATUK, GUNUNGKIDUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ... 408 MITIGASI BENCANA GERAKAN TANAH PADA DAS SERAYU HULU, BANJARNEGARA . 421 PENYUSUNAN BASIS DATA PETA DESA UNTUK OPTIMALISASI PERKEMBANGAN WILAYAH KEPESISIRAN: STUDI KASUS DESA PARANGTRITIS KECAMATAN KRETEK KABUPATEN BANTUL ... 433 ATURAN TOPOLOGI UNTUK UNSUR PERAIRAN DALAM SKEMA BASIS DATA SPASIAL RUPABUMI INDONESIA ... 444 DAMPAK PEMANASAN GLOBAL TERHADAP LINGKUNGAN ATMOSFER DAN PANTAI DI WILAYAH PESISIR PAMEUNGPEUK GARUT ... 454
Tema 3: Sosial, politik, ekonomi, budaya, kependudukan, pendidikan dan kebijakan dalam pengelolaan pesisir dan daerah aliran sungai
KAJIAN KESESUAIAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH DI KOTA YOGYAKARTA
TERHADAP RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA (Kasus di Bantaran Sungai Code) 464
URGENSI KONSERVASI PASIR VULKAN DI PESISIR SELATAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA ... 476
LUBUK LARANGAN UJUNG TANJUNG DESA GUGUK: UPAYA PELESTARIAN
LINGKUNGAN DAN SUMBERDAYA PERIKANAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI TIPE
TRANSPORTING SYSTEM ... 487
KONDISI KUALITAS AIR SUNGAI, AKTIVITAS PENANGKAPAN, DAN PEMANGKU KEPENTINGAN (STAKEHOLDERS) PADA PERIKANAN SIDAT DI DAS CIMANDIRI, JAWA BARAT ... 497 PENDEKATAN SOSIO-KULTURAL DALAM PEMASANGAN TETENGER ZONA INTI SEBAGAI UPAYA RESTORASI GUMUK PASIR BARKHAN ... 507 KLASIFIKASI LIMBAH HASIL BUDIDAYA PEMANFAATAN LAHAN PESISIR DI DESA PATUTREJO PURWOREJO ... 519 KAJIAN PEMANFAATAN LAHAN BEKAS TAMBANG PASIR BESI SEBAGAI UPAYA OPTIMALISASI SUMBER DAYA ALAM TERBARUKAN DALAM KAITANNYA DENGAN PENGELOLAAN PESISIR KABUPATEN PURWOREJO ... 528 WTP UNTUK KONSERVASI AIR DI KAWASAN RESAPAN SLEMAN, YOGYAKARTA ... 534 PEMANFAATAN DELTA BARITO SEBAGAI LAHAN PERTANIAN RAWA POTENSIAL DENGAN SISTEM BANJAR ... 547 ANALISIS POTENSI SUMBERDAYA WILAYAH PESISIR PULAU GILI KETAPANG DENGAN MENGGUNAKAN ANALISA SWOT ... 557 PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL BERBASIS MASYARAKAT DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA, MALUKU ... 564 OPTIMALISASI PELESTARIAN EKOWISATA MANGROVE BERBASIS LOCAL WISDOM DI BEDUL BANYUWANGI ... 582 PROSPEK DAN TANTANGAN PENGEMBANGAN PANTAI DITINJAU DARI PENDEKATAN KELINGKUNGAN DI KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR ... 592 STRATEGI PENGHIDUPAN NELAYAN DALAM PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT DI PANTAI DEPOK ... 603 PERAN PARIWISATA UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT WILAYAH KEPESISIRAN TANJUNGSARI DAN TEPUS, KABUPATEN GUNUNGKIDUL ... 610
vii
DAS SEBAGAI BASIS PENILAIAN MANFAAT LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG SUMBERDAYA HUTAN ... 618 ASPEK MORFOMETRI SEBAGAI DASAR PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI STUDI KASUS DAS CITANDUY ... 629 PELUANG DAN TANTANGAN REVITALISASI DAS LIMBOTO, SEBUAH PENDEKATAN HASIL PROSES ... 638
KONFLIK SPASIAL PEMANFAATAN LAHAN
DALAM MANAGEMENT DAERAH ALIRAN SUNGAI CIDANAU PROVINSI BANTEN ... 652 KONDISI PEMBANGUNAN DESA-DESA PESISIR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA .... 661 KONFLIK KEPENTINGAN DALAM PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN PESISIR CANGGU, BALI ... 672 PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN KAWASAN PESISIR UTARA JAWA (Studi Kasus: Kota Semarang dan Kota Tegal) ... 689 EFEKTIFITAS TRANSPORTASI AIR ANTAR PULAU DI KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI ... 703 KEHARMONISAN PEMANFAATAN RUANG PESISIR BERDASARKAN SUDUT PANDANG LINGKUNGAN DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH DI DESA PUTUTREJO, KECAMATAN GRABAG, KABUPATEN PURWOREJO ... 716 PENGELOLAAN PESISIR SELATAN SEBAGIAN KULON PROGO DAN PURWOREJO BERDASARKAN KONDISI BANGUNAN FISIK ... 725 STRATEGI PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR BERKELANJUTAN BERBASIS ANALISIS
SWOT PASKA KEGIATAN TAMBANG PASIR BESI KABUPATEN PURWOREJO, JAWA
TENGAH... 735 PELAJARAN BERHARGA DARI KEGIATAN TAMBANG PASIR PANTAI DI DESA SELOK AWAR-AWAR KECAMATAN PASIRIAN - LUMAJANG... 746 KAJIAN KOMPARATIF FAKTOR PENYEBAB PERKAWINAN ANAK DI PERKOTAAN DAN PERDESAAN DI KABUPATEN GROBOGAN (Analisis Survei Pernikahan Dini Tahun 2011) ... 756 KECENDERUNGAN AKSEPTOR MEMAKAI NON METODE KONTRASEPSI JANGKA PANJANG DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN ... 765
497
KONDISI KUALITAS AIR SUNGAI, AKTIVITAS
PENANGKAPAN, DAN PEMANGKU KEPENTINGAN
(STAKEHOLDERS) PADA PERIKANAN SIDAT DI DAS
CIMANDIRI, JAWA BARAT
Agus Alim Hakim
a*, Mohammad Mukhlis Kamal
b, Nurlisa Alias Butet
c, Ridwan
Affandi
daDepartemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut
Pertanian Bogor. Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Jawa Barat. *[email protected]
ABSTRAK
Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimandiri dengan panjang sekitar 100 km merupakan salah satu perairan yang memiliki potensi perikanan sidat yang tinggi di Jawa Barat. Sidat merupakan hewan katadromus yang memijah di laut dalam, glass eel dan elver ditemukan di muara sungai, kemudian tumbuh dan besar di sungai hingga daerah hulu sebelum kembali ke laut untuk memijah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas air sungai, aktivitas penangkapan, dan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang berperan pada perikanan sidat sebagai dasar pengelolaan sumberdaya perikanan sidat di DAS Cimandiri, Jawa Barat. Tracking sungai sepanjang daerah aliran sungai dari kabupaten Sukabumi hingga kabupaten Cianjur yang dilakukan pada bulan Desember 2014 dan April 2015 dengan mengambil sampel air untuk analisis kualitas air pada 4 stasiun, pengamatan aktivitas penangkapan, dan wawancara. Hasil analisis kualitas air (suhu, pH, nitrat, total fosfat, kesadahan, dan klorofil-a) pada bagian hulu, tengah, dan hilir masih dikategorikan baik untuk menunjang kehidupan sidat. Aktivitas penangkapat sidat dilakukan oleh nelayan utama maupun nelayan sampingan meliputi penangkapan pada benih sidat (glass eels) dan ikan dewasa. Upaya penangkapan glass eels di sungai Cimandiri sangat tinggi. Analisis pengaruh dan kepentingan stakeholders terkait pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya perikanan sidat menunjukan bahwa pengepul glass eels dan pengusaha perikanan budidaya sidat sebagai subject;nelayan glass eels dan nelayan ikan dewasa sebagai
players;konsumen, pedagang, dan masyarakat sekitar DAS Cimandiri sebagai bystanders; serta
perangkat desa dan instansi (DKP Kabupaten Sukabumi) sebagai actors. Pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya perikanan sidat dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) dalam menentukan kebijakan agar sumberdaya tetap lestari.
Keywords: aktivitas penangkapan;DAS Cimandiri;kualitas air;sidat;stakeholders.
PENDAHULUAN
Kabupaten Sukabumi memiliki potensi sumberdaya alam yang besar terutama dalam
sektor perikanan. Selain potensi perikanan laut yang tinggi, terdapat pula potensi perikanan
sungai yang dapat menunjang perekonomian masyarakat. Kabupaten Sukabumi memiliki
beberapa sungai yang bermuara ke teluk Palabuhanratu, 8 diantaranya yaitu: Sungai Cibareno,
Sungai Cibangban, Sungai Citiis, Sungai Cimaja, Sungai Cisukawayana, Sungai Citepus,
Sungai Cipalabuhan, dan Sungai Cimandiri (PSDA 2010). Teluk tersebut merupakan salah
satu daerah yang memiliki potensi dan aktivitas penangkapan ikan sidat yang tinggi (Sriati
1998). Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimandiri dengan panjang sekitar 100 km merupakan
498
perairan yang memiliki potensi perikanan sidat yang tinggi di kabupaten Sukabumi, Jawa
Barat.
Sidat merupakan hewan katadromus yang memijah di laut dalam, glass eel dan elver
ditemukan di muara sungai, kemudian tumbuh dan besar di sungai hingga daerah hulu
sebelum kembali ke laut untuk memijah dan mati (Tesch et al. 2003). Sidat ditemukan di
daerah tropis maupun sub tropis. Di Indonesia, sidat tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi (Delsman 1929 in Tesch et al. 2003), Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua
(Fahmi 2015). Terdapat sembilan spesies/subspesies di Indonesia dari dua puluh dua
spesies/subspesies ikan sidat yang ditemukan di dunia, yaitu Anguilla bicolor bicolor, A.
nebulosa nebulosa, A. bicolor pacifica, A. interioris, A.
.
borneensis, A.
.
celebesensis, A.
marmorata, A. obseura, dan A. megastoma (Sugeha dan Suharti 2008). Identifikasi spesies
secara morfologi terhadapat sidat yang ditemukan di sungai-sungai yang bermuara ke teluk
Palabuhanratu telah dilakukan sebelumnya oleh Fahmi dan Hirnawati (2010) dan Hakim et al.
(2015). Terdapat 3 spesies yang ditemukan yaitu A. bicolor bicolor, A. nebulosa nebulosa, A.
dan A. marmorata.
Sidat merupakan salah satu komoditi hasil perikanan yang memiliki nilai ekonomis
tinggi dengan tujuan ekspor, sehingga Indonesia dapat memiliki peluang dalam
pengembangan potensi perikanan sidat tropis. Potensi perikanan sidat di DAS Cimandiri
mendukung kegiatan perikanan secara signifikan bagi pendapatan masyarakat kabupaten
Sukabumi khususnya nelayan. Permintaan sidat yang tinggi mengakibatkan terjadinya usaha
pembesaran pada budidaya ikan sidat yang selama ini mengandalkan ketersediaan benih di
alam (Widyasari 2013). Seiring dengan upaya peningkatan hasil produksi perikanan sidat,
habitat ikan sidat di Indonesia perlu dilindungi mengingat bahwa aktifitas penangkapan yang
terus meningkat terutama di Teluk Palabuhanratu. Menurut Fahmi dan Hirnawati (2010)
penurunan kualitas ekologis salah satunya yaitu kerusakan habitat dapat menyebabkan
penurunan hasil tangkapan ikan sidat. Selain itu, pengaruh dari para pemangku kepentingan
(stakeholders) secara langsung dan tidak langsung sangat berpengaruh terhadap kelestarian
sumberdaya perikanan sidat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas air sungai,
aktivitas penangkapan, dan para pemangku kepentingan (stakeholders) yang berperan pada
perikanan sidat sebagai dasar pengelolaan sumberdaya perikanan sidat di DAS Cimandiri,
Jawa Barat.
METODE
Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Cimandiri yang bermuara ke Teluk
Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat. Tracking sungai sepanjang daerah aliran sungai dari
kabupaten Sukabumi hingga kabupaten Cianjur yang dilakukan pada bulan Desember 2014
dan April 2015. Kegiatan tracking sungai meliputi pengambilan sampel air untuk analisis
kualitas air, pengamatan aktivitas penangkapan, dan wawancara. Analisis kualitas air
dilakukan di Laboratorium Produktivitas Lingkungan, Departemen Manajemen Sumber Daya
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Pengambilan sampel kualitas air
Parameter fisika dan kimia diikur secara in situ (suhu dan pH) dan eks situ (Total-P, Nitrat
,kesadahan, dan klorofil). Analisis laboratorium dilakukan untuk mengetahui kandungan kimia
perairan yang meliputi total fosfat, nitrat, kesadahan, dan klorofil. Metode pengukuran pada
parameter menggunakan standar APHA (2012) pada Tabel 1.
Tabel 1 Metode pengukuran parameter (APHA 2012)
Parameter Satuan Metode
Total-P mg/L Manual Digestion and Flow Injection
499
Parameter Satuan Metode
Kesadahan mgCaCO3/L Titrimetri Method
Klorofil μg/L Spectrophotometric Method
Kualitas air di DAS Cimandiri diamati dengan mengambil 4 titik sampling (Gambar 1).
Stasiun 1 menunjukkan anak sungai dari bagian hulu, stasiun 2 menunjukkan sungai bagian
hulu, stasiun 3 menunjukkan sungai bagian tengah, dan stasiun 4 menunjukkan sungai bagian
hilir.
Gambar 1 Lokasi pengambilan sampel kualitas air di DAS Cimandiri
Wawancara
Responden ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling, dengan
pertimbangan bahwa responden berperan dalam pemanfaatan sumber daya ikan sidat maupun
habitatnya, berperan dalam pengelolaan maupun pengambilan keputusan terhadap sumber
daya ikan sidat. Responden diharapkan dapat memahami substansi data atau informasi yang
akan didiskusikan. Oleh karena itu, responden wawancara dalam penelitian ini meliputi
nelayan, masyarakat sebagai pemanfaat habitat ikan sidat, dan instansi pemerintah daerah.
Wawancara terhadap nelayan dilakukan untuk mengidentifikasi lokasi penangkapan, aktivitas
penangkapan, dan jenis kegiatan di sekitar sungai. Wawancara dilakukan dengan beberapa
pertanyaan melalui kuesioner.
Analisis Data
Pomeroy dan Douvere (2008) mendefinisikan analisis stakeholder atau kelembagaan sebagai
pendekatan dan prosedur untuk memperoleh pemahaman tentang sistem dengan cara
mengidentifikasi pelaku utama dan pemegang kepentingan dalam sistem dengan menilai
kepentingan masing-masing. Analisis stakeholder dapat digunakan untuk mengetahui tingkat
kepentingan dan pengaruh dari pemangku kepentingan dalam pengelolaan dan pemanfaatan
sumber daya perikanan sidat. Variabel dan indikator dari penilaian tingkat kepentingan dan
pengaruh stakeholder disajikan pada Tabel 2 dan Tabel 3.
500
Tabel 2 Variabel penilaian pengaruh stakeholder
No Variabel Indikator Skor
1 Kewenangan kebijakan pengelolaan
Pelaku dengan pengaruh sangat kuat 5
Pelaku dengan pengaruh sedang 4
Pelaku dengan pengaruh kecil 3
Pelaku, namun bukan anggota
kelompok 2
Tidak terlibat 1
2 Kemampuam berinteraksi dengan massa
besar
Sangat tinggi 5
Tinggi 4
Sedang 3
Rendah 2
Tidak ada interaksi 1
3
Kapasitas sumberdaya dan kelembagaan Memiliki 4 akses sumberdaya 5
- Kapital Memiliki 3 akses sumberdaya 4
- Sumberdaya manusia Memiliki 2 kses sumberdaya 3
- Alat Memiliki 1 akses sumberdaya 2
- Kelembagaan Tidak memiliki akses sumberdaya 1
Tabel 3 Variabel penilaian kepentingan stakeholder
No Variabel Indikator Skor
1
Manfaat langsung/tidak langsung ikan Terlibat 4 kegiatan 5
- Kegiatan penangkapan ikan sidat Terlibat 3 kegiatan 4
- Kegiatan usaha perikanan Terlibat 2 kegiatan 3
- Kegiatan konsumsi Terlibat 1 kegiatan 2
- Kegiatan penjualan ikan Tidak terlibat 1
2
Ketergantungan/Kebutuhan terhadap sumberdaya ikan Mendapat 4 manfaat 5
- Hasil tangkapan/daerah penangkapan ikan sidat Mendapat 3 manfaat 4
- Bahan baku usaha perikanan budidaya Mendapat 2 manfaat 3
- Bahan baku usaha jual beli ikan segar mendapat 1 manfaat 2
- Bahan pangan/konsumsi Tidak mendapatkan
manfaat 1 3
Prioritas pengelolaan sumber daya ikan di Selat Sunda
Sangat prioritas 5
Prioritas 4
Prioritas sedang 3
Prioritas rendah 2
Tidak menjadi prioritas 1
Tingkat kepentingan dan pengaruh stakeholder diukur dengan penetapan skor menggunakan
pertanyaan (Tabel 4). Nilai skor dari seluruh pertanyaan dirata-ratakan dan dipetakan ke
dalam bentuk matriks (Gambar 2).
501
Tabel 4 Ukuran kuantitatif terhadap pengaruh dan kepentingan stakeholder
Kepentingan stakeholderSkor Kriteria Keterangan
5 Sangat tinggi Sangat bergantung pada keberadaan sumber daya
4 Tinggi Ketergantungan tinggi terhadap sumber daya
3 Cukup tinggi Cukup bergantung terhadap sumber daya
2 Kurang tinggi Ketergantungan terhadap sumber daya rendah
1 Rendah Tidak bergantung terhadap sumber daya
Pengaruh stakeholder
Skor Kriteria Keterangan
5 Sangat tinggi Sangat mempengaruhi pengelolaan sumber daya
4 Tinggi Mempengaruhi pengelolaan sumber daya
3 Cukup tinggi Cukup mempengaruhi pengelolaan sumber daya
2 Kurang tinggi Kurang mempengaruhi pengelolaan sumber daya
1 Rendah Tidak mempengaruhi pengelolaan sumber daya
Tinggi
Subject Players
(Kuadran I) (Kuadran II)
Bystanders Actors
(Kuadran III) (Kuadran IV)
Rendah Pengaruh Tinggi
Gambar 2 Matriks pengaruh dan kepentingan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kualitas Air di Sungai Cimandiri
Hasil analisis kualitas air disajikan pada Tabel 5. Di bawah ini merupakan kualitas air di DAS
Cimandiri yang terdiri dari 4 stasiun pengamatan dengan parameter yang diamati meliputi
suhu, pH, nitrat, total fosfat, kesadahan, dan klorofil-a. Parameter ini dipilih karena secara
langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi keberlangsungan hidup ikan sidat.
Tabel 5 Kualitas air di Sungai Cimandiri
No. Parameter Stasiun
St 1 St 2 St 3 St 4 1. Suhu (°C) 26 27 27 29 2. pH 6,5 7 7 7 3. Nitrat (mg/L) 0,217 0,647 1,089 1,330 4. Total Fosfat (mg/L) 0,037 0,091 0,298 0,091 5. Kesadahan (mgCaCO3/L) 74,55 86,33 196,20 176,58 6. Klorofil-a (μg/L) 7,663 0,886 11,388 10,673 K ep en tin g an E P E N T I N G A N
502
Tabel 5 menunjukkan bahwa nilai suhu terendah pada stasiun 1 sebesar 26°C
sedangkan suhu tertinggi pada stasiun 4 sebesar 29°C. Hasil pengukuran suhu di setiap
stasiun menunjukkan nilai yang masih sesuai untuk kehidupan ikan sidat. Suhu 25
oC hingga
28
oC merupakan suhu optimal untuk laju pertumbuhan bagi ikan sidat (Matsui 1982 in
Herianti 2005). Suhu air dapat secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan biota.
Menurut Effendi (2003), peningkatan suhu menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme
dan respirasi organisme air, sehingga mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen.
Hasil pengukuran pH pada penelitian ini didapatkan bahwa stasiun 1 memiliki nilai pH
terkecil sebesar 6,5 sedangkan stasiun lain memiliki pH yang sama sebesar 7. Nilai pH dapat
mempengaruhi kondisi kimia perairan. Elver sidat mampu hidup pada kisaran pH sebesar 4
hingga 11, tetapi nilai pH terbaik pada kisaran 6,6 hingga 8,5 (Haryuni 2002).
Kesuburan perairan dapat ditentukan oleh kandungan nitrat. Nitrat dapat menunjang
keberlangsungan hidup organisme seperti fitoplankton. Kandungan nitrat sangat dibutuhkan
untuk meningkatkan produktivitas primer yang ada di perairan, secara tidak langsung nitrat
berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Menurut Wedemeyer (1996), konsentrasi nitrat
kurang dari 1,0 mg/L merupakan konsentrasi nitrat yang aman untuk kesehatan ikan dalam
skala budidaya. Kandungan nitrat pada penelitian ini didapatkan nilai kurang dari 1,0 mg/L
yaitu pada stasiun 1 dan stasiun 2. Stasiun 3 dan 4 memiliki konsentrasi nitrat lebih dari 1,0
mg/L, sehingga pada hilir sungai mengalami tingkat kesuburan yang tinggi.
Kesuburan perairan juga dapat ditentukan oleh parameter total fosfat. Total fosfat
sebagai penunjang pertumbuhan alga dan ganggang. Tingkatan kesuburan perairan
berdasarkan kadar fosfat dapat dikategorikan menjadi tingkat kesuburan rendah (0–0,02
mg/liter), kesuburan sedang (optimum) (0,02–0,05 mg/liter), dan kesuburan tinggi (0,05–0,1
mg/liter) (Liaw 1969 in Effendi 2003). Penelitian ini didapatkan nilai total fosfat yang
tergolong pada kategori keseburan sedang yaitu pada stasiun 1. Total fosfat pada kategori
kesuburan tinggi pada stasiun 2, stasiun 3, dan stasiun 4.
Menurut Stickney (2000), kesadahan merupakan buffer capacity di perairan. Di
perairan tawar alami dalam jumlah yang relatif besar adalah kandungan kation Ca
2+dan Mg
2+,
sedangkan kation-kation logam lainnya ada dalam jumlah sedikit (dapat diabaikan) maka
kesadahan dapat dianggap hanya menggambarkan kandungan kalsium dan magnsium
(Wedemeyer 1996). Klasifikasi perairan berdasarkan nilai kesadahan dikategorikan dalam
perairan lunak (0-75 mg/L CaCO
3), perairan moderat (75-150 mg/L CaCO
3), perairan sadah
(150-300 mg/L CaCO
3), dan perairan sangat sadah (>300 mg/L CaCO
3) (Wedemeyer 1996).
Stasiun 1 dan stasiun 2 merupakan perairan dengan kategori perairan moderat, sedangkan
stasiun 3 dan stasiun 4 merupakan perairan dengan kategori perairan sadah.
Klorofil merupakan pigmen hijau yang terdapat pada tumbuhan, salah satunya terdapat
di perairan yaitu pigmen hijau pada fitoplankton. Fitoplankton adalah organisme laut yang
melayang dan hanyut dalam air laut serta mampu melakukan fotosintesis (Nybakken 1995).
Kandungan klorofil-a dapat digunakan sebagai ukuran banyaknya fitoplankton pada suatu
perairan tertentu dan dapat digunakan sebagai petunjuk produktivitas perairan. Menurut
Likens (1975) in Jorgensen (1980), status trofik berdasarkan klorofil-a diklasifikasikan dalam
perairan eutrofik (8-25 μg/L), perairan mesotrofik (2,5-8 μg/L), dan perairan oligotrofik (<2,5
μg/L). Stasiun 1 merupakan bagian sungai yang termasuk dalam kategori perairan mesotrofik.
Stasiun 2 merupakan bagian sungai yang termasuk dalam kategori perairan oligotrofik.
Stasiun 3 dan 4 merupakan bagian sungai yang termasuk dalam kategori perairan eutrofik.
Nilai klorofil-a pada stasiun 2 sangat rendah, hal tersebut dikarenakan tempat pengambilan
sampel di bagian yang berarus, sehingga kemungkinan hanya terdapat sedikit fitoplankton di
lokasi tersebut.
Usaha Perikanan Sidat di Sungai Cimandiri
Kegiatan pemanfaatan sumber daya perikanan sidat yaitu melalui kegiatan perikanan
tangkap dan perikanan budidaya. Nelayan perikanan tangkap alami melakukan penangkapan
503
benih ikan sidat (glass eels) maupun penangkapan ikan dewasa. Penangkapan glass eels
dilakukan saat kondisi perairan laut sedang pasang pada malam hari. Aktivitas penangkapan
merupakan aktivitas utama dan aktivitas sampingan yang sebagian besar nelayan tersebut
memiliki pekerjaan utama di siang hari seperti petani, pekerja bangunan, dan pekerjaan
lainnya.
Hasil tangkapan glass eels tiap harinya berkisar antara 7-12 gram/hari/nelayan dan
15-26 gram/hari/nelayan saat terjadi musim rekruitmen. Hasil tangkapan dijual pada pengumpul
benih ikan sidat yang selanjutnya akan dijual kembali ke pihak pembudidaya atau dijual pada
pembudidaya secara langsung. Harga jual benih tergantung pada musim. Kondisi dengan
jumlah benih yang melimpah, harga jual akan menurun bahkan pengumpul dan pembudidaya
tidak sanggup lagi menampung hasil tangkapannya. Sebaliknya, saat benih jarang atau susah
ditangkap karena ketersediaannya rendah, maka harga jual benih akan tinggi. Harga glass eels
setiap kilogramnya berkisar antara Rp 800.000,00 hingga Rp 3.600.000,00. Pengumpul akan
menjual kembali kepada pelaku budidaya yang ada di Kecamatan Palabuhanratu maupun
yang berada di luar kecamatan tersebut.
Sama halnya dengan nelayan glass eels, nelayan penangkap ikan sidat dewasa juga
melakukan aktivitas penangkapan sebagai aktivtas sampingan. Terdapat beberapa motivasi
nelayan dalam melakukan penangkapan, yaitu: hanya karena hobi memancing, sekedar
memasang jebakan, dan menangkap ikan saat ada konsumen yang meminta. Ikan yang
didapatkan akan dijual atau dikonsumsi sendiri. Permintaan ikan sidat dewasa dipenuhi dari
hasil budidaya bukan dari hasil tangkapan perikanan alami.
Perikanan budidaya sidat di Palabuhanratu merupakan salah satu kegiatan perikanan
yang berkembang. Benih ikan sidat didapatkan langsung dari pengumpul maupun nelayan
yang ditangkap dari Sungai Cimandiri. Hasil budidaya dijual dalam bentuk segar maupun
olahan. Pemasaran ikan sidat berada pada Jakarta seiring dengan muali tumbuhnya restoran
Jepang dan Korea atau hasil budidaya ikan sidat di ekspor. Kendala dari budidaya ikan sidat
yaitu terbatasnya penampung saat benih tersedia dalam jumlah banyak. Selain itu, kendala
terbesar dalam proses budidaya yaitu pakan. Di Indonesia belum ada pakan yang efektif yang
bisa digunakan sehingga perlu adanya impor pakan dari Taiwan maupun Jepang. Harga pakan
yang tinggi dan penggunaan FCR yang tinggi akan merugikan kegiatan budidaya. Perlu
adanya pencampuran yang tepat antara pakan lokal dengan pakan impor dengan tetap
memperhatikan takaran gizi dan harga agar kegiatan budidaya menghasilkan keuntungan.
Dibutuhkan modal yang tinggi untuk melakukan budidaya ikan sidat.
Stakeholders pada Perikanan Sidat di Sungai Cimandiri
Keberadaan sumber daya mengakibatkan terdapat beberapa stakeholders yang berperan
dalam pengelolaan dan pemanfaatan perikanan sidat. Berdasarkan hasil analisis kepentingan
dan pengaruh stakeholders yang ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6 Matriks analisis pengaruh dan kepentingan para pihak (stakeholders) terhadap
kegiatan pemanfaatan Sungai Cimandiri
Pengaruh
Rendah Tinggi
Kepentingan
Tinggi DKP Kabupaten Sukabumi
Perangkat Desa
Nelayan glass eels
Nelayan sidat muda dan dewasa Rendah
Masyarakat Konsumen Pedagang
Pengusahan perikanan budidaya Pengepul glass eels
Analisis stakeholder atau kelembagaan adalah pendekatan dan prosedur untuk
memperoleh pemahaman tentang sistem dengan cara mengidentifikasi pelaku utama dan
pemegang kepentingan dalam sistem dengan menilai kepentingan masing-masing (Pomeroy
dan Douvere 2008). Hasil analisis stakeholder yang terkait dengan kegiatan pengelolaan dan
504
pemanfaatan sumber daya perikanan sidat di Sungai Cimandiri disajikan pada Gambar 3.
Penentuan skoring hasil wawancara pada setiap stakeholder disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7 Nilai pengaruh dan kepentingan dalam analisis stakeholder
Stakeholders Kepentingan Pengaruh
Nelayan glass eels 5 5
Nelayan sidat muda dan dewasa 5 5
Pengepul glass eels 4 2
Pengusaha perikanan budidaya sidat 4 2
Masyarakat sekitar Sungai Cimandiri 1 1
Konsumen 2 1
Pedagang 2 1
Perangkat Desa 2 3
Instansi (DKP Kabupaten Sukabumi) 2 5
Keterangan:
1 = Sangat tidak berpengaruh-sangat tidak penting
2 = Tidak berpengaruh –tidak penting
3 = Netral-netral
4 = Berpengaruh-penting
5 = Sangat berpengaruh-sangat penting
Gambar 3 Matriks pengaruh dan kepentingan stakeholder
Gambar 3 menunjukkan hubungan antara pengaruh dan kepentingan untuk setiap
stakeholder yang terkait dengan kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya
perikanan sidat di DAS Cimandiri. Kuadran I merupakan subjek yang memanfaatkan
keberadaan sumber daya ikan sidat, terdiri dari pengepul glass eels dan pengusaha perikanan
budidaya sidat. Sidat pada fase glass eels digunakan sebagai benih dalam kegiatan budidaya
dan ikan dewasa dijual sebagai ikan konsumsi langsung. Kuadran II merupakan pemain atau
pelaksana untuk pemanfaatan perikanan sidat, terdiri dari nelayan glass eels dan nelayan sidat
muda dan dewasa. Hal ini berarti semua kegiatan dan ketersedian sumber daya ikan sidat
tergantung pada stakeholder dalam Kuadran II. Kuadran III merupakan pengikut, terdiri dari
masyarakat, konsumen, dan pedagang. Stakeholder pada kuadran III tidak terlalu terpengaruh
505
dengan keberadaan sumber daya perikanan sidat. Kuadran IV merupakan penentu kebijakan
dalam pengelolaan sumber daya perikanan sidat, terdiri dari DKP Kabupaten Sukabumi dan
perangkat desa. Stakeholder dalam kuadran IV berperan dalam pengambilan kebijakan terkait
pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya perikanan sidat. Setiap dinas terkait memiliki
peranan dan tugas masing-masing dalam upaya pengelolaan sumber daya baik dari aspek
ekologis ataupun produksi.
KESIMPULAN
Kualitas air pada bagian hulu, tengah, dan hilir masih dikategorikan baik untuk menunjang
kehidupan sidat. Aktivitas penangkapat sidat dilakukan oleh nelayan utama maupun nelayan
sampingan meliputi penangkapan pada benih sidat (glass eels) dan ikan dewasa dengan upaya
penangkapan glass eels di sungai Cimandiri sangat tinggi. Pengepul glass eels dan pengusaha
perikanan budidaya sidat sebagai subject;nelayan glass eels dan nelayan ikan dewasa sebagai
players;konsumen, pedagang, dan masyarakat sekitar DAS Cimandiri sebagai bystanders;
serta perangkat desa dan instansi (DKP Kabupaten Sukabumi) sebagai actors. Pengelolaan
dan pemanfaatan sumberdaya perikanan sidat dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan (stakeholders) dalam menentukan kebijakan agar sumberdaya tetap lestari.
UCAPAN TERIMAKASIH (Acknowledgement)
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan atas biaya
penelitian melalui Biaya Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN), Anggaran
Pendapatan Belanja Negara (APBN), DIPA IPB Tahun Ajaran 2014.
REFERENSI
[APHA]. American Public Health Association. 2012. Standart Method for The Examination of Water
and Wastewater. Washington DC (US): American Public Health Association 800 I Street. NW.
Effendi H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta (ID): Kanisius Press.
Fahmi MR, Hirnawati. 2010. Keragaman ikan sidat tropis (Anguilla sp.) di perairan Sungai Cimandiri, Pelabuhan Ratu, Sukabumi. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. 1-8.
Fahmi MR. 2015. Short communication: Conservation genetic of tropical eel in Indonesian waters based on population genetic study. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas
Indonesia. 1(1):38-43.
Hakim AA, Kamal MM, Butet NA, Affandi R. 2015. Komposisi spesies ikan sidat (Anguilla spp.) di delapan sungai yang bermuara ke teluk Palabuhanratu, Sukabumi, Indonesia. Ilmu dan
Teknologi Kelautan Tropis. 7(2): 573-585.
Haryuni. 2002. Migrasi elver sidat, Anguilla spp. memasuki muara Sungai Poso, Sulawesi Tengah [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Herianti I. 2005. Rekayasa lingkungan untuk memacu perkembangan ovarium ikan sidat. Oseanografi
dan Limnologi Indonesia. 37:25-41.
Jorgensen SE. 1980. Lake management, water development, supply and management, developments in
hydrology. Oxford (UK): Pergamon Press.
Nybakken JW. 1995. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka Utama. Pomeroy R, Douvere F. 2008. The engagement of stakeholder in the marine spatial planning process.
Marine Policy. 32(5):816-822.
[PSDA]. Pengelolaan Sumber Daya Air. 2010. Inventarisasi Sungai Non Lintas Kabupaten Sukabumi Balai PSDA Cisadea-Cimandiri. Jawa Barat. Tersedia pada: http://psdajabarprov.go.id/
Sriati. 1998. Telaah struktur dan kelimpahan populasi benih ikan sidat, Anguilla bicolor bicolor, di muara Sungai Cimandiri, Palabuhan Ratu, Jawa Barat [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Stickney RR. 2000. Encyclopedia of Aquaculture. New York (US): John Willey and Sons. Inc.
Strahler AN. 1957. Quantitative analysis of Watershed geomorphology. Transaction, American
506
Sugeha HY, Suharti SR. 2008. Discrimination and distribution of two tropical short-finned eels (Anguilla bicolor bicolor and Anguilla bicolor pacifica) in the Indonesia waters. The Nagisa
Westpac Congress. 9:1-14.
Tesch FW, Bartsch P, Berg R, Gabriel O, Henderonn IW, Kamastra A, Kloppmann M, Reimer LW, Soffker K, Wirth T. 2003. The Eel. White RJ. penerjemah; Thorpe JE. editor. German (ID). Penerbit Blackwell Publishing Company. Terjemahan dari : The Eel. Ed ke-3.
Wedemeyer GA. 1996. Physiology of fish in intensive culture system. New York (US): International Thompson Publising.
Widyasari RAHE. 2013. Disain pengembangan industri perikanan sidat Indonesia Anguilla spp. berkelanjutan di Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat [disertasi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.