PENGARUH PENERAPAN ETIKA BISNIS ISLAM TERHADAP
KEPUASAN KONSUMEN PADA PEDAGANG SEMBAKO
DI PASAR KAMIS DESA SUNGA JUNJANGAN
KECAMATAN BATANG TUAKA
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat
guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E)
Disusun Oleh :
RUSIDAH
NIRM. 1209.16.07983
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AULIAURRASYIDIN-TEMBILAHAN
1442 H / 2020 M
PENGARUH PENERAPAN ETIKA BISNIS ISLAM TERHADAP
KEPUASAN KONSUMEN PADA PEDAGANG SEMBAKO
DI PASAR KAMIS DESA SUNGA JUNJANGAN
KECAMATAN BATANG TUAKA
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat
guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E)
Disusun Oleh :
RUSIDAH
NIRM. 1209.16.07983
PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI)
AULIAURRASYIDIN-TEMBILAHAN
1442 H / 2020 M
ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Rusidah
NIRM : 1209.16.07983
Program Studi : Ekonomi Syariah
Menyatakan bahwa naskah skripsi ini secara keseluruhan benar-benar bebas dari plagiasi. Jika dikemudian hari terbukti melakukan plagiasi, maka saya siap ditindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Tembilahan, 09 April 2020 Saya yang menyatakan,
RUSIDAH
NIRM. 1209.16.07983
iii
NOTA DINAS PEMBIMBING
Kepada Yth,
Ketua STAI Auliaurrasyidin Tembilahan
Assalamu‟alaikum wr.wb.,
Setelah membaca, meneliti, mengoreksi dan mengadakan perbaikan-perbaikan seperlunya terhadap isi skripsi saudara:
Nama : RUSIDAH
NIRM : 1209.16.07983
Program Studi : Ekonomi Syariah
Judul : Pengaruh Penerapan Etika Bisnis Islam Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Pedagang Sembako Di Desa Sungai Junjangan Kecamatan Batang Tuaka
Dengan ini saya menilai bahwa skripsi tersebut sudah dapat diajukan kepada Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan untuk diajukan dalam rangka memperoleh gelar Sarjana Ekonomi.
Tembilahan, 10 April 2020 Pembimbing,
SAI’IN, S.E.I., M.E.Sy NIDN. 212702850
iv
FINAL
v MOTTO
|
ءاسّنلا
(
٤
: )
٢٩
|
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan
yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu.
Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”.
(QS. An-Nisa’[4]: 29)
FINAL
vi PERSEMBAHAN
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (keringnya,
niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(QS. Luqman: 27)
Alhamdulillahirabbil’aalamiin...
Ya Allah...
Pada-Mu kutitip secuil asa, Kau berikan selaksa bahagia Pada-Mu kuharap setetes cinta, Kau tumpahkan samudera cinta.
Sebuah harapan berakar keyakinan dari perpaduan hati yang memiliki keteguhan. Walaupun didera oleh cobaan dan membutuhkan perjuangan panjang
demi cita-cita yang tak mengenal kata usai. Setitik harapan itu telah kuraih, namun sejuta harapan
masih kumimpikan dan ingin kugapai.
Dengan kerendahan hati yang tulus, bersama keridhaan-Mu ya Allah, Ku persembahkan karya kecil ini, untuk orang yang paling berharga dihidupku.
Untuk orang yang selalu menyemangatiku, Orang yang menungguku Orang-orang yang aku sayangi hingga ke jannah-Nya
Yang senantiasa selalu ada disetiap suka maupun dukaku, Dan mereka adalah cahaya hidupku,
Ibundaku tersayang, Ayahandaku tercinta, Adik-adikku terkasih.
FINAL
vii KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil’aalamiin, tiada kata yang pantas untuk penulis
ucapkan selain rasa syukur teramat atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Penerapan Etika Bisnis Islam Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Pedagang Sembako di Pasar Kamis Desa Sungai Junjangan Kecamatan Batang Tuaka”. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada baginda tercinta Nabi Muhammad SAW, yang telah membimbing dan mendidik umat melalui ucapan, perbuatan, dan tauladannya yang menghantarkan umat kepada agama yang lurus yaitu agama Islam, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan Sunnah. Tidak lupa pula kepada para keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada program studi Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini banyak sekali kesulitan dan hambatan yang didapati baik dari segi moril maupun materil. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini, dengan ketulusan dan kerendahan hati penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang dengan ikhlas memberikan masukan dan kontribusi berarti kepada penulis dalam proses penelitian dan penyusunan skripsi ini . Ucapan ini penulis ucapkan kepada:
viii
1. Bapak H. Kursanie, S.Pd.I., selaku ketua Yayasan Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan.
2. Bapak Syarifudin, M.Pd.I., selaku ketua Sekolah Tingggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan.
3. Bapak Ridhwan, M.Ed., selaku wakil akademik dan pengembangan lembaga, bapak H. Deddy Yusuf Yudhyatra, M.Pd.I., selaku wakil ketua bidang administrasi umum perencanaan dan keuangan, dan bapak Dr. Ir. H. Sahruddin, M.M. selaku wakil ketua bidang kemahasiswaan dan kerjasama. 4. Bapak Sai‟in, S.E.I, M.E.Sy., selaku ketua Program Studi Ekonomi Syariah
Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan
5. Bapak Sai‟in, S.E.I, M.E.Sy., selaku dosen pembimbing yang penulis banggakan, yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan arahan serta bimbingan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
6. Seluruh Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama perkuliahan.
7. Seluruh staf tata usaha (TU) Sekolah Tinggi Agama Islam Auliaurrasyidin Tembilahan yang telah membantu penulis dalam proses pengurusan administrasi.
ix
8. Bapak Haryadi selaku Kepala Desa dan Bapak Jafar Abdul Azis selaku Sekretaris Desa beserta staf Desa Sungai Junjangan Kecamatan Batang Tuaka yang telah membantu penulis dalam melakukan penelitian.
9. Kepada orang tua tercinta, yaitu Ibunda Asmah dan Ayahanda Ahmad Yani yang telah membesarkan, mendidik, dan mengorbankan segalanya untuk penulis dalam menuntut ilmu serta memberikan nasehat, dukungan dan doa yang tiada henti-hentinya. Dan adik-adik tersayang, Yeni Asmawita dan Nashwa Aqila Husna yang selalu memberikan dukungan dan semangat serta doa yang tulus untuk penulis.
10. Kepada sahabat dan teman-teman seperjuangan khususnya Program Studi Ekonomi Syariah angkatan 2016 yang tidak dapat penulis sebutkan yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung.
Akhir kata, terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu dan mohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Penulis telah berusaha sesuai dengan kemampuan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Namun demikian, penulis sangat menghargai masukkan yang positif dari pembaca guna kesempurnaan ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan.
Tembilahan, 09 April 2020 Penulis,
RUSIDAH NIRM. 1209.16.07983
x ABSTRAK
RUSIDAH. 2020. “PENGARUH PENERAPAN ETIKA BISNIS ISLAM TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN PADA PEDAGANG SEMBAKO DI PASAR KAMIS DESA SUNGAI JUNJANGAN KECAMATAN BATANG TUAKA”
Penelitian ini dilatarbelakangi karena masih terdapat beberapa pelaku bisnis yang mengabaikan etika dalam menjalankan bisnisnya. Perilaku pedagang sembako yang menyimpang di pasar Kamis antara lain: perbedaan harga yang ditawarkan kepada konsumen, terlalu tingginya harga yang ditawarkan bila dibandingkan dengan pedagang lain, dan ada beberapa pedagang tidak bersikap ramah atau murah hati dengan ditandai pelayanan dengan raut wajah kurang bersahabat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap kepuasaan konsumen secara regresi linear sederhana, parsial, dan koefisien determinasi pada pedagang sembako di pasar Kamis. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah konsumen yang membeli barang-barang sembako, sedangkan objek penelitiannya adalah pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap kepuasan konsumen.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu metode survei. Menggunakan metode penelitian kuantitatif karena hasil data yang didapat merupakan kumpulan daripada angka-angka. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linear sederhana dan hipotesis melalui uji parsial dan uji koefisien determinasi dengan menggunakan program SPSS 24.0. Penelitian ini dilakukan selama kurang lebih 3 bulan, dimulai pada tanggal 02 Januari 2020 sampai dengan tanggal 09 April 2020.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti, diketahui bahwa penerapan etika bisnis Islam berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen. Hal ini dibuktikan dari hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan rumus regresi linear sederhana melalui analisa data, diperoleh Fhitung lebih besar dari Ftabel (7,41 ≥ 4,16 ), maka terima Ha dan tolak H0. Hasil uji parsial (uji t) diperoleh nilai thitung lebih besar dari ttabel (4,929 > 2,039) dengan tingkat
signifikansinya (0,000 < 0,05), maka H0 ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi (R2) pengaruh yang diberikan oleh kombinasi variabel penerapan etika bisnis Islam memberikan sumbangan efektif 37,7% terhadap kepuasan konsumen, dan sisanya 62,3% yang dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam penelitian ini.
Kata Kunci: Penerapan Etika Bisnis Islam, Kepuasan Konsumen
xi DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI ... ii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN PENGUJI SIDANG MUNAQASAH ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 8
C. Batasan Masalah ... 9
D. Rumusan Masalah ... 9
E. Tujuan Penelitian ... 9
F. Manfaat Penelitian ... 10
BAB II KAJIAN TEORI A. Etika Bisnis Islam ... 12
1. Pengertian Etika ... 12
2. Teori Etika ... 17
3. Bisnis Islam ... 20
4. Etika Bisnis dalam Islam ... 23
5. Indikator Etika Bisnis ... 27
6. Prinsip-prinsip Etika Bisnis Islam ... 28
7. Tujuan Etika Bisnis Islam ... 38
B. Kepuasan Konsumen ... 39
1. Pengertian Kepuasan Konsumen ... 39
2. Dimensi Kepuasan Konsumen ... 41
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen ... 42
4. Faktor Ketidakpuasan Konsumen... 43
5. Kepuasan Konsumen dalam Perspektif Islam ... 43
C. Kajian Penelitian yang Relavan ... 44
D. Asumsi Penelitian ... 49
E. Hipotesis ... 50
F. Konsep Operasional ... 51
FINAL
xii BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian... 53
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 55
1. Tempat Penelitian ... 55
2. Waktu Penelitian ... 56
C. Subjek dan Objek Penelitian ... 56
1. Subjek Penelitian ... 56
2. Objek Penelitian ... 56
D. Populasi dan Sampel Penelitian ... 57
1. Populasi Penelitian ... 57
2. Sampel Penelitian ... 58
E. Instrumen Penelitian ... 60
1. Jenis Instrumen ... 60
2. Validitas dan Reliabilitas Instrumen... 63
F. Teknik Pengumpulan Data ... 64
1. Kuesioner ... 64
2. Dokumentasi ... 65
G. Teknik Analisis Data ... 66
1. Analisis Regresi Linear Sederhana ... 66
2. Uji Hipotesis ... 68
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 71
1. Gambaran Umum Pasar Kamis Desa Sungai Junjangan ... 71
2. Keadaan Responden ... 72
B. Penyajian Data ... 74
1. Karakteristik Responden ... 75
2. Deskripsi Variabel Penelitian ... 80
3. Penyajian Data Hasil Kuesioner (Angket) ... 80
C. Analisis Data ... 91
1. Uji Validitas Instrumen ... 91
2. Uji Reliabilitas Instrumen ... 93
3. Pembahasan Hasil Kuesioner (Angket) ... 94
4. Uji Hipotesis ... 102
5. Pembahasan Pengaruh Penerapan Etika Bisnis Islam Terhadap Kepuasan Konsumen ... 104
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 107
B. Saran ... 107 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel II.1 Nilai Dasar dan Prinsip Umum Etika Bisnis Islam ... 30
Tabel II.2 Kajian Penelitian yang Relavan ... 48
Tabel III.1 Daftar Nama Sampel Penelitian ... 59
Tabel III.2 Skor dan Alternatif Jawaban Kuesioner ... 62
Tabel III.3 Kisi-kisi Intrumen untuk Mengukur Penerapan Etika Bisnis Islam dan Kepuasan Konsumen ... 62
Tabel IV.1 Keadaan Responden di Pasar Kamis Desa Sungai Junjangan ... 73
Tabel IV.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 75
Tabel IV.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 76
Tabel IV.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan ... 78
Tabel IV.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan... 79
Tabel IV.6 Rekapitulasi Tanggapan Responden Tentang Penerapan Etika Bisnis Islam (Variabel X) ... 81
Tabel IV.7 Rekapitulasi Tanggapan Responden Tentang Kepuasan Konsumen (Variabel Y) ... 86
Tabel IV.8 Hasil Uji Validitas Penelitian ... 92
Tabel IV.9 Hasil Uji Reliabilitas Penelitian ... 93
Tabel IV.10 Data Rekapitulasi Variabel X dan Variabel Y ... 94
Tabel IV.11 Tabel Penolong untuk Menghitung Angka Statistik ... 96
Tabel IV.12 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 102
Tabel IV.13 Hasil Uji Parsial (Uji t) ... 103
FINAL
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar III.1 Macam-macam Teknik Sampling... 58
Gambar IV.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ... 76
Gambar IV.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 77 Gambar IV.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat
Pendidikan ... 78 Gambar IV.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan... 79
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian
Lampiran 2 Kuesioner Penelitian
Lampiran 3 Hasil Kuesioner Penelitian
Lampiran 4 Tabulasi Hasil Data Kuesioner Penelitian
Lampiran 5 Pengujian Validitas dan Reliabilitas
Lampiran 6 Pengujian Hipotesis
Lampiran 7 Tabel Distribusi r
Lampiran 8 Tabel Distribusi F
Lampiran 9 Tabel Distribusi t
Lampiran 10 Daftar Nama Responden di Pasar Kamis Desa Sungai Junjangan
Kecamatan Batang Tuaka
Lampiran 11 Surat-surat Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada perkembangan zaman yang ditandai dengan perkembangan ekonomi yang semakin pesat sehingga menimbulkan persaingan bisnis yang semakin tinggi. Dengan persaingan yang begitu tinggi pelaku bisnis bisa menggunakan segala cara untuk mendapatkan keuntungan. Bisnis merupakan aktivitas yang selalu ada disekitar kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari bisnis sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat karena pada dasarnya hakikat bisnis adalah usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia, organisasi ataupun masyarakat luas. Bisnis atau perdagangan merupakan proses tukar menukar yang didasarkan atas kehendak sukarela dari masing-masing pihak, sehingga keberadaan bisnis bisa saling menguntungkan bukan keberuntungan sepihak. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi :
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa‟[4]: 29)1
Istilah bisnis sudah sangat familiar dalam masyarakat kita. Kehidupan manusia seolah tidak pernah lepas dari kata bisnis. Secara semantik kata ini
1
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Jumanatul „Ali-Art, 2004), hlm. 83.
memiliki beberapa konotasi makna seperti usaha, perdagangan, perusahaan, tugas, urusan, usaha, dagang, dan lain sebagainya. Secara lebih teknis bisnis bisa dimaknai sebagai semua aktivitas yang dilakukan seseorang dan organisasi yang memproduksi barang dan jasa dengan maksud dan tujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan mendapat imbalan pembayaran yang disebut dengan bisnis.2 Sebagaimana menurut Mahmud Machfoedz
berpendapat bahwa bisnis adalah: “Suatu usaha perdagangan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang terorganisasi agar bisa mendapatkan laba dengan cara memproduksi dan menjual barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat”.3
Aktivitas bisnis selalu memiliki hubungan dengan etika dan karena itu pula bisnis tidak bisa dilepaskan dari sosial dan budaya masyarakat dimana etika itu dipraktikkan. Sebagaimana halnya aspek-aspek lain dalam kehidupan manusia yang melibatkan etika, ekonomi dan bisnispun selalu dikaitkan dengan etika sehingga muncullah apa yang disebut dengan etika bisnis dan bisnis yang etis.4
Etika dalam bahaha Yunani dikenal juga dengan “ethos” yang berarti “adat istiadat” atau “kebiasaan”. Perpanjangan dari adat membangun suatu
aturan kuat dimasyarakat yaitu bagaimana setiap tindak dan tanduk mengikuti aturan-aturan, dan aturan-aturan tersebut ternyata telah membentuk moral
2
Muhammad, Aspek Hukum dalam Muamalat, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2007), hlm. 85.
3
Abdul Aziz, Etika Bisnis Perspektif Islam Implementasi Etika Bisnis untuk Dunia Usaha, (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm. 29.
4
Muhammad, Paradigma, Metodologi & Aplikasi Ekonomi Syariah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2008), hlm. 49-50.
masyarakat dalam menghargai adat istiadat yang berlaku. Moralitas adalah istiadat yang dipakai untuk mencakup praktik dan kegiatan yang membedakan apa yang baik dan apa yang buruk, aturan-aturan yang mengendalikan kegiatan itu dan nilai-nilai yang tersimbol didalamnya yang dipelihara atau dijadikan sasaran oleh kagiatan dalam praktik tersebut.5
Etika merupakan ilmu tentang apa yang baik dan buruk dan tentang hak dan kewajiban moral baik yang menyangkut hubungan antar manusia, hubungan manusia dengan alam, dan tentunya hubungan manusia dengan Allah SWT yang bertujuan untuk membedakan antara baik, buruk dalam berperilaku dan beraktivitas dengan tujuan mencapai kesejahteraan bersama.
Etika memiliki fungsi penting dalam mengatur perilaku dan tata kehidupan manusia. Ia berfungsi sebagai standar yang menunjukkan tingkah laku yang membawa individu pada posisi tertentu dalam menetapkan sikap dan perilaku atas permasalahan ekonomi dan bisnis, juga berfungsi sebagai standar untuk menilai dan menentukan kebenaran dan kesalahan atas tindakan dan perilaku diri sendiri serta tindakan dan perilaku orang lain.6
Etika bisnis dapat diartikan sebagai seperangkat prinsip-prinsip etika yang membedakan yang baik dan yang buruk, benar dan salah. Al-Qur‟an memberikan pandangan tentang bisnis Islam yaitu mengajak manusia untuk mempercayai dan mengamalkan tuntutan-tuntutannya dalam segala aspek kehidupan sering kali menggunakan istilah-istilah yang dikenal dengan bisnis, seperti jual beli, untung rugi dan sebagainya.
5
Irham Fahmi, Etika Bisnis Teori, Kasus, dan Solusi, (Bandung: Alfabeta, 2015), hlm. 2.
6
Muhammad, (2008) Op.Cit., hlm. 53.
Etika bisnis Islam adalah seperangkat nilai, aturan-aturan maupun tata cara yang dijadikan pedoman dalam berbisnis sehingga aktivitas bisnis yang dilakukan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Jadi, antara etika dengan bisnis merupakan dua hal yang saling berhubungan, apabila bisnis yang dilakukan sesuai aturan-aturan Islam maka akan menghasilkan suatu tatanan bisnis yang saling menguntungkan.
Karena jalinan antara etika dan perilaku ekonomi demikian intim sehingga kajian etika dan konteks ekonomi selalu relavan. Hal ini, setidak-tidaknya karena dua faktor: pertama, kehidupan manusia terus menerus ditandai oleh konflik antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Kedua, pentingnya etika diangkat ke permukaan, terutama dalam konteks praktik ekonomi dan bisnis, dengan tujuan agar kepentingan-kepentingan yang berbeda dan mungkin saling bertentangan tidak saja mungkin didamaikan, tetapi juga memikirkan proses perdamaian itu mampu memenuhi cita rasa keadilan dan kemanusiaan.
Salah satu keunikan ajaran Islam adalah mengajarkan para penganutnya untuk melakukan praktik ekonomi berdasarkan norma dan etika Islam. Bahkan, diakui oleh para ekonom muslim ataupun nonmuslim, dalam Islam diajarkan nilai-nilai dasar ekonomi yang bersumber pada ajaran tauhid. Disinyalir bahwa nilai-nilai dasar etika ekonomi, seperti: kesatuan
keseimbangan, tanggung jawab, dan keadilan merupakan nilai-nilai yang fundamental dalam bidang ekonomi.7
Islam membolehkan seseorang untuk berbisnis seperti jual beli. Namun, bagaimana seharusnya seorang muslim berusaha dalam dunia bisnis agar mendapatkan berkah dari Allah SWT di dunia maupun di akhirat. Etika bisnis menjamin, baik pebisnis dan konsumen masing-masing akan mendapatkan keuntungan, karena Islam tidak membiarkan begitu saja seseorang bekerja sesuka hati untuk mencapai keinginannya dengan cara menghalalkan segala cara seperti melakukan kecurangan, sumpah palsu, menyuap, riba dan perbuatan bathil lainnya. Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 275:
....
Artinya: “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba...”. (QS. Al-Baqarah [2]: 275)8
Etika bisnis merupakan cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Pengertian tersebut mencakup bagaimana menjalankan bisnis secara adil, dengan mengubah pandangan dunia tentang etika bisnis agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Bisnis tanpa etika menyebabkan para pengusaha dan pebisnis akan menjadi tidak terkendali dan dapat menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
7
Juhaya S. Pradja, Pasar Modal Syariah dan Praktik Pasar Modal Syariah, (Bandung: Pustaka Setia, 2013), hlm. 12.
8
Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 47.
Oleh karena itu, penerapan etika bisnis dalam Islam sangatlah penting, karena dalam suatu organisasi bisnis khususnya perdagangan yang memerlukan pelaku-pelaku yang jujur, adil, amanah serta dapat menghindari dari perbuatan yang bathil. Sehingga prinsip-prinsip dalam bisnis dapat menjadikan pedoman bagi para pelaku bisnis, yang tentunya mereka akan memberi yang terbaik untuk memuaskan para konsumen mereka. Konsumen adalah seseorang yang menggunakan produk atau jasa yang dipasarkan. Sedangkan kepuasan konsumen merupakan perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan konsumen. Jadi, kepuasan konsumen adalah sejauh mana harapan konsumen dipenuhi atau bahkan dilebihi oleh sebuah produk atau jasa.
Etika bisnis memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan konsumen. Etika bisnis memberikan suatu dorongan kepada konsumen untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan pelaku bisnis. Dalam jangka panjang, ikatan seperti ini memungkinkan pelaku bisnis untuk memahami dengan seksama harapan konsumen serta kebutuhan mereka. Dengan demikian, pelaku bisnis dapat memaksimumkan pengalaman konsumen yang kurang menyenangkan.9
Tujuan suatu bisnis adalah menciptakan konsumen merasa puas. Kualitas jasa yang unggul dan konsisten dapat menumbuhkan kepuasan konsumen dan akan memberikan berbagai manfaat. Faktor yang menentukan kepuasan konsumen adalah persepsi konsumen mengenai penerapan etika
9Miftakhul Huda, “Penerapan Etika Bisnis Terhadap Kepuasan Konsumen dalam
Pandangan Islam”, Jurnal El-Faqih, Volume 5 Nomor 1, P-ISSN 2443-3950 (April 2019), hlm. 94.
bisnis yang berfokus pada etika bisnis yaitu kesatuan, keseimbangan, tanggung jawab, kebenaran, kejujuran serta kebajikan atau murah hati.
Konsumen dalam memilih suatu produk atau jasa tidak hanya bergantung pada kualitas pelayanannya saja, tetapi juga bergantung pada nilai yang dirasakan oleh konsumen, pelaku bisnis harus menambahkan nilai yang dapat membuat konsumen mendapatkan apa yang mereka bayar atau lebih dari yang mereka harapkan, sehingga konsumen dapat bertahan dan bisnis yang dilakukan akan terus berjalan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Etika seseorang dan etika bisnis bisnis yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam menjalankan suatu bisnis tentynya etika sangat diperlukan. Tapi tidak jarang etika bisnis dilanggar oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, karena mementingkan keperluan pribadi.
Berdasarkan hasil pengamatan yang peneliti lakukan di pasar Kamis Desa Sungai Junjangan pada hari Kamis, 05 September 2019, peneliti menemukan permasalahan dimana adanya penyimpangan atau pelanggaran etika dalam aktivitas bisnis yang dilakukan, sehingga menimbulkan spekulasi bagi pelaku bisnis dalam hal ini adalah pedagang sembako di pasar Kamis Desa Sungai Junjangan terkait tentang penerapan etika bisnis Islam. Peneliti menemukan adanya diskriminasi atau perbedaan harga yang ditawarkan pedagang kepada pembeli atau calon pembeli.
Selain itu, berdasarkan pengalaman peneliti, ketika ingin membeli barang sembako ada salah satu pedagang yang menawarkan harga dagangannya dengan harga yang terlalu tinggi bila dibandingkan dengan
pedagang lain yang sebelumnya sudah peneliti datangi. Masalah lain yang muncul yaitu dari segi pelayanan, ada beberapa pedagang ketika melayani konsumen pedagang tersebut tidak bersikap ramah atau murah hati dengan ditandai pelayanan dengan raut wajah kurang bersahabat dan mimik judes. Akan tetapi, sebagian bear dari pedagang sembako di pasar Kamis sudah menerapkan etika bisnis dengan baik dalam berdagang.
Setelah melihat dan memperhatikan permasalahan di atas, maka penulis ingin melakukan suatu penelitian ilmiah dengan judul yaitu: ”Pengaruh Penerapan Etika Bisnis Islam Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Pedagang Sembako di Pasar Kamis Desa Sungai Junjangan Kecamatan Batang Tuaka”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dalam masalah ini adalah:
1. Masih ada sebagian dari pelaku bisnis yang tidak menerapkan etika di dalam kegiatan bisnisnya, dimana hanya memandang bahwa menjalankan usaha dapat dilakukan dengan segala cara agar meraih kesuksesan usaha. 2. Masih ada sebagian pelaku bisnis yang menawarkan barang dagangannya
dengan harga yang berbeda kepada konsumen.
3. Masih ada sebagian pelaku bisnis yang menjual barang dagangan dengan harga yang terlalu tinggi bila dibandingkan dengan pedagang lain.
4. Masih kurangnya pelayanan yang baik dari beberapa pelaku bisnis.
FINAL
C. Batasan Masalah
Setiap penelitian yang akan dilakukan harus dibatasi masalahnya dan mengingat banyaknya permasalahan yang ditemukan, maka perlu dilakukan pembatasan masalah agar permasalahan yang akan diteliti lebih terarah dan tidak menyimpang dari permasalahan yang semula, sehingga peneliti dapat fokus terhadap permasalahan yang ingin diteliti. Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah: “Pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap kepuasan konsumen”.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Apakah terdapat pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap kepuasan konsumen pada pedagang sembako di pasar Kamis?
2. Seberapa besar signifikansi pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap kepuasan konsumen pada pedagang sembako di pasar Kamis? 3. Seberapa besar kontribusi pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap
kepuasan konsumen pada pedagang sembako di pasar Kamis?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah memecahkan permasalahan yang tergambar dalam latar belakang dan rumusan masalah. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap kepuasan konsumen pada pedagang sembako di pasar Kamis? 2. Untuk mengetahui seberapa besar signifikansi pengaruh penerapan etika
bisnis Islam terhadap kepuasan konsumen pada pedagang sembako di pasar Kamis?
3. Untuk mengetahui seberapa besar kontribusi pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap kepuasan konsumen pada pedagang sembako di pasar Kamis?
F. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka penulis berharap dapat memberikan manfaat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk Penulis
Penelitian ini dilakukan untuk menambah ilmu pengetahuan bagi peneliti serta kegiatan penelitian ini dijadikan sebagai pengalaman yang berharga dalam upaya meningkatkan kemampuan peneliti dalam mengembangkan ilmu, dan dapat menerapkan etika bisnis yang sesuai dengan syariat Islam jika dikemudian hari peneliti terjun di dunia bisnis.
Dengan adanya penelitian ini juga dapat menambah wawasan dan cakrawala bagi peneliti dan dapat memberikan gambaran mengenai hasil dari penelitian ini yaitu pengaruh penerapan etika bisnis Islam terhadap kepuasan konsumen. Dan karya ilmiah ini sebagai salah satu syarat
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E) di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Auliaurrasyidin Tembilahan.
2. Untuk Pelaku Bisnis
Melalui penelitian ini, diharapkan para pelaku bisnis dapat menambah wawasan dalam menerapakan etika bisnis berdasarkan ketentuan Islam yang berorientasi pada kemaslahatan masyarakat muslim. 3. Untuk Peneliti Selanjutnya
Dengan adanya karya ilmiah ini, penulis berharap dapat memberikan manfaat serta dapat menambah wawasan pengetahuan, dapat memberikan sumbangan informasi bagi peneliti lain dan bisa digunakan sebagai bahan rujukan, serta bahan referensi dalam melakukan penelitian lanjut yang berhubungan dengan penerapan etika bisnis Islam dan kepuasan konsumen.
12 BAB II KAJIAN TEORI
A. Etika Bisnis Islam 1. Pengertian Etika
Seringkali kita mendengar tiga istilah yang populer, yakni akhlak, moral dan etika. Istilah “etika” dan “moral” dipergunakan secara
bergantian untuk maksud yang sama. Secara etimologi kata etika berasal dari bahasa Yunani yang dalam bentuk tunggal yaitu ethos dan dalam bentuk jamaknya yaitu ta etha. “Ethos” yang berarti sikap, cara berpikir, watak kesusilaan atau kebiasaan. Kata ini identik dengan perkataan moral yang berasal dari kata latin “mos” yang dalam bentuk jamaknya “mores” yang berarti juga kebiasaan atau cara hidup. Keduanya bisa diartikam sebagai kebiasaan atau adat istiadat (custom atau mores), yang menunjuk kepada perilaku manusia itu sendiri, tindakan atau sikap yang dianggap benar atau baik.1
Istilah “etika” ini pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles
dalam Ethica Nichomacheae, yang kemudian dianggap sebagai awal lahirnya etika. Etika kemudian berkembang menjadi “peraturan”. Pada hari
ini etika telah menjadi nama bagi satu cabang ilmu dalam filasafat, yaitu ilmu etika, filsafat etika.2
Ilmu etika tidak bisa dikesampingkan dari ilmu filsafat, ini terlihat dari usaha-usaha dalam menafsirkan etika sering dilihat dari sudut
1
Erni R. Ernawan, Business Ethics, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 8-9.
2
Mukhtar Samad, Etika Bisnis Syariah Berbasis Sesuai Dengan Moral Islam, (Yogyakarta: Sunrise, 2016), hlm. 7.
pandang filsafat. Karena filsafat sering dianggap sebagai induknya ilmu etika. Sebagaimana yang dikatakan oleh K. Bertens etika adalah cabang filsafat yang mempelajari baik buruknya perilaku manusia.3
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia istilah etika diartikan sebagai:
a. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
b. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan akhlak.
c. Nilai mengetahui benar dan salah yang dianut oleh suatu golongan atau masyarakat.4
Sedangkan menurut Adams dan Asgary menyatakan bahwa etika adalah: “Etika berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu atau kelompok untuk menilai apakah tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik”.
Pendapat lain dikemukakan oleh Magnis Suseno dan Sony Keraf menyatakan bahwa:
“Untuk memahami etika perlu dibedakan dengan moralitas. Moralitas adalah suatu sistem nilai tentang bagaimana seseorang harus berprilaku sebagai manusia. Sistem nilai ini terkandung dalam ajaran-ajaran, moralitas memberi manusia aturan atau petunjuk konkret tentang bagaimana harus hidup, bagaimana harus bertindak dalam hidup ini sebagai manusia yang baik dan bagaimana menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik. Sedangkan etika berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya”.5
Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa etika adalah ilmu tentang adat kebiasaan yang berkenaan dengan kebiasaan baik
3
Irham Fahmi, Etika Bisnis Teori, Kasus, dan Solusi, (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 2.
4
Erni R. Ernawan, Op.Cit., hlm. 10.
5
Ibid., hlm. 11- 12.
atau buruk yang diterima oleh masyarakat umum yang berhubungan sikap, perbuatan, kewajiban dan sebagainya.
Moral dan etika mempunyai fungsi yang sama, yaitu memberi orientasi bagaimana dan ke mana harus melangkah dalam hidup ini, namun terdapat sedikit perbedaan bahwa moralitas langsung menunjukkan inilah caranya untuk melangkah sedangkan etika justru mempersoalkan apakah harus melangkah dengan cara ini dan mengapa harus dengan cara itu? Dengan kata lain moralitas adalah suatu pranata atau aturan, sedangkan etika adalah sikap kritis setiap pribadi atau kelompok masyarakat untuk merealisasikan moralitas. Pada akhirnya etika memang menghimbau orang untuk bertindak sesuai dengan moralitas. Etika berusaha membantu manusia untuk bertindak secara bebas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, istilah yang paling dekat dengan istilah etika adalah akhlak. Kata “akhlak” yang berasal dari bahasa Arab, bentuk jamak
mufradnya yaitu “khuluq” yang diartikan dengan budi pekerti, perangai, tingkat laku atau tabiat.6 Sedangkan dalam bahasa Indonesia yaitu
“akhlak” tolak ukurnya dalam Al-Qur‟an yang berbunyi:
Artinya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi
pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam [68]: 4)7
6
Abdul Aziz, Op.Cit., hlm. 21.
7
Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 564.
Kata akhlak yang sudah menjadi bahasa Indonesia diartikan sebagai ilmu yang menentukan batas antara yang baik dan buruk, antara yang terpuji dan tercela, tentang perbuatan atau perkataan manusia lahir batin. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Ghazali bahwa akhlak adalah:
“Suatu sifat yang tertanam dalam jiwa (manusia), yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan (lebih lama). Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlak yang baik. Tapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlak yang buruk”.8
Pendapat lain dikemukakan oleh Abu Bakar Jabir Al-Jazary bahwa akhlak adalah: “Bentuk kejiwaan yang tertanam dalam diri manusia, yang menimbulkan perbuatan baik dan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang disengaja”.
Kemudian Abdul Karim Zaidan menjelaskan bahwa akhlak adalah: “Nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan
dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya”.9
Dari ketiga definisi di atas sepakat menyatakan bahwa akhlak atau
khuluq itu adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia
akan muncul secara spontan bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu.
8
Abdul Aziz, Op.Cit., hlm. 22.
9
Ibid.
Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak. Seorang pegusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencakup husnul khuluq. Pada derajat ini, Allah akan melapangkan hatinya dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak mulia tersebut. Akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralitas.
Jadi istilah akhlak, etika dan moral, ketiga istilah itu sama-sama menentukan nilai baik dan buruk sikap dan perbuatan manusia. Perbedaannya terletak pada standar masing-masing. Bagi akhlak standarnya adalah Al-Qur‟an dan Sunnah, bagi etika standarnya pertimbangan akal pikiran dan bagi moral standarnya adat kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.
Dengan demikian, moral dan etika menurut Syahidin, dapat saja sama dengan akhlak manakala sumber ataupun produk dan budaya sesuai dengan prinsip-prinsip akhlak. Akan tetapi moral dan etika bisa juga bertentangan dengan akhlak manakala produk budaya itu menyimpang dari fitrah ajaran agama Islam. Jadi, etika Barat bertitik tolak dari akal pikiran manusia, yaitu akal pikiran para ahli filsafat. Sedangkan etika Islam bersumber dari Al-Qur‟an dan Hadits, yang menjadi dasar etika Barat
tentang perbuatan baik dan buruk, sedangkan yang menjadi dasar etika Islam ialah iman dan takwa kepada Allah SWT.10
2. Teori Etika
Pelaku bisnis dapat memperoleh ilmu etika melalui teori etika. Ada beberapa teori etika yaitu sebagai berikut:
a. Etika Deontologi
Menurut teori ini beberapa prinsip moral itu bersifat mengikat bagaimanapun akibatnya. Etika ini menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik. Suatu tindakan itu baik bukan dinilai dan dibenarkan berdasarkan akibat dan tujuan baik dari tindkan itu, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada dirinya sendiri. Dengan kata lain, tindakan itu bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu.
Tegasnya deontologi selalu menekankan perbuatan tidak dibenarkan karena tujuannya. Tujuan yang baik tidak menjadikan perbuatan itu baik. Kita tidak pernah boleh melakukan sesuatu yang jahat supaya dihasilkan sesuatu yang baik. Suatu tindakan bisnis akan dinilai baik oleh etika deontologi bukan karena tindakan itu mendatangkan akibat baik bagi pelakunya, melainkan karena tindakan itu sejalan dengan kewajiban si pelaku, misalnya memberikan pelayanan yang baik kepada semua konsumen, menawarkan barang dan
10
Ibid., hlm. 27.
jasa dengan mutu yang sebanding dengan harganya, dan lain sebagainya.
Teori ini menekankan kewajiban sebagai tolak ukur bagi penilaian baik atau buruknya perbuatan manusia, dengan mengabaikan dorongan lain seperti rasa cinta atau belas kasihan. Terdapat tiga kemungkinan seseorang memenuhi kewajibannya yaitu karena nama baik, karena dorongan tulus dari hati nurani, serta memenuhi kewajibannya. Deontologist menetapkan aturan, prinsip dan hak berdasarkan pada agama, tradisi, atau adat istiadat yang berlaku. Yang menjadi tantangan dalam penerapan deontological disini adalah menekankan yang mana tugas, kewajiban, hak, prinsip yang didahulukan.
b. Etika Teologi
Teori ini mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan tindakan itu, atau bersadarkan konsekuensi yang ditimbulkan oleh tindakan itu. Suatu tindakan baik jika tujuannya mencapai sesuatu yang baik atau jika konsekuensi yang ditimbulkannya baik dan berguna. Apabila kita akan memutuskan apa yang benar, kita tidak hanya melihat konsekuensi keputusan tersebut dari sudut pandang kepentingan kita sendiri. Jika suatu perbuatan mengakibatkan manfaat paling besar, artinya paling memajukan kemakmuran, kesejahteraan, dan kebahagiaan masyarakat maka
perbuatan itu adalah baik. Sebaliknya, jika perbuatan membawa lebih banyak kerugian daripada manfaat, perbuatan itu harus dinilai buruk.
Tantangan yang sering dihadapi dalam penggunaan teori ini adalah kesulitan dalam mendapatkan seluruh informasi yang dibutuhkan dalam mengevaluasi semua kemungkinan konsekuensi dari keputusan yang diambil.
c. Etika Hak
Dalam pemikiran moral, teori hak adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Sebenarnya, teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena hak berkaitan dengan kewajiban. Kewajiban seseorang sama berarti juga hak dari orang lain. Jika seorang pelaku bisnis melakukan aktivitas bisnis karena tergolong keyakinan agama, kewajiban untuk memenuhi tuntutan kebutuhan keluarga yang menjadi bagian tanggung jawabnya, tetapi di sisi lain hak konsumsi perlu diperhatikan juga. Misalnya, konsumen berhak atas produk yang sehat serta aman dan sesuai dengan harapannya juga hak-hak lain yang harus ditunaikan.
Etika hak mempunyai sifat dasar dan asasi (human rights), sehingga etika hak tersebut merupakan hak yang: (1) Tidak dapat dicabut atau direbut karena sudah ada sejak manusia itu ada; (2) Tidak tergantung dari persetujuan orang; (3) Merupakan bagian dari eksitensi manusia di dunia.
d. Etika Keutamaan
Etika ini lebih mengutamakan pembangunan karakter moral pada diri setiap orang. Nilai moral bukan muncul dalam bentuk adanya aturan berupa larangan dan perintah, namun dalam bentuk teladan moral yang nyata dipraktikkan oleh tokoh-tokoh tertentu dalam masyarakat. Jika sesuai dengan norma, suatu perbuatan adalah baik. Sebaliknya jika tidak, maka perbuatan itu adalah buruk. Kebijaksanaan misalnya, merupakan suatu keutamaan yang membuat seseorang mengambil keputusan tepat dalam setiap situasi. Keadilan adalah keutamaan lain yang membuat seseorang selalu memberikan kepada sesama apa yang menjadi haknya. Kerendahan hati adalah keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan diri, sekalipun situasi mengizinkan.
Keuntungan teori ini bahwa para pengambil keputusan dapat dengan mudah mencocokkan dengan standar etika komunitas tertentu untuk menentukan sesuatu itu benar atau salah tanpa ia harus menentukan kriteria terlebih dahulu (dengan asumsi telah ada kode perilaku).11
3. Bisnis Islam
Kata “bisnis” dalam bahasa Indonesia diserap dari kata “business”
dari bahasa Inggris yang berarti kesibukan. Pengertian bisnis ditujukan pada sebuah kegiatan berorientasi profit yang memproduksi barang dan
11
Ibid., hlm 12-14.
jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisnis juga dapat diartikan sebagai suatu lembaga yang menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Secara etimologi, bisnis berarti keadaan dimana seseorang atau sekelompok orang sibuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan keuntungan. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, bisnis diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan dan bidang usaha.
Menurut pendapat Allan Afuah, beliau juga menjelaskan bahwa: “Bisnis adalah sekumpulan aktivitas yang dilakukan untuk menciptakan
dengan cara mengembangkan dan mentransformasikan berbagai sumber daya menjadi barang dan jasa yang diinginkan konsumen”.12
Kemudian Hughes dan Kapoor, keduanya mengartikan bahwa bisnis adalah:
“Aktivitas melalui penyediaan barang dan jasa bertujuan untuk menghasilkan laba. Suatu perusahaan dikatakan menghasilkan laba apabila total penerimaan pada suatu periode lebih besar dari total pada periode yang sama. Laba merupakan daya tarik utama untuk melakukan kegiatan bisnis, sehingga melalui laba pelaku bisnis dapat mengembangkan skala usahanya untuk meningkatkan laba yang lebih besar”.13
Sedangkan menurut Straub dan Attner, mengemukakan bahwa bisnis adalah:
“Suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang-barang dan jasa-jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit. Barang yang dimaksud adalah suatu produk yang secara fisik memiliki wujud (dapat diindra).
12 Ibid., hlm. 29. 13 Ibid., hlm. 30.
FINAL
Sedangkan jasa adalah aktivitas-aktivitas yang memberi manfaat kepada konsumen atau pelaku bisnis lainnya”.14
Disamping bisnis merupakan bagian dari kegiatan perdagangan dalam rangka mencari pencaharian melalui jual beli untuk tujuan untung. Menurut Muhammad Iqbal menjelaskan pengertian berdagang (bisnis) dari dua sudut pandang, yaitu menurut mufassir dan ilmu fiqh.
a. Menurut para mufassir, perdagangan (bisnis) adalah pengelolaan modal untuk mendapatkan keuntungan.
b. Ahli fiqh, memandang bahwa perdagangan ialah saling menukarkan harta dengan harta secara suka sama suka, atau pemindahan hal milik dengan adanya penggantian menurut yang dibolehkan.
Jadi, bisnis merupakan segala bentuk kegiatan yang dilakukan dalam produksi, menyalurkan, memasarkan barang dan jasa yang dilakukan oleh manusia baik dengan cara berdagang maupun bentuk lain dan tidak hanya mengejar laba, tetapi juga menciptakan konsumen merasa puas.15
Bisnis Islami adalah serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan hartanya (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram.16
Dalam zaman modern seperti sekarang ini, banyak dijumpai praktik-praktik bisnis yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Banyak manusia mengembangkan modalnya dengan menghalalkan segala cara
14
Muhammad Ismail Yusanto, Menggagas Bisnis Islami, (Jakarta: Gema Insani, 2002), hlm. 15.
15
Abdul Aziz, Op.Cit., hlm. 32.
16
Muhammad, Etika Bisnis Islami, (Yogyakarta: UPP-AMP YKPN, 2004), hlm. 38.
tanpa memenuhi ajaran Islam, sehingga merugikan banyak pihak dan hanya menguntungkan sekelompok individu. Islam memberikan solusi dengan konsepnya tentang bagaimana mengembangkan modal yang benar yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Salah satu caranya yaitu berbisnis sesuai dengan ajaran Islam.17
4. Etika Bisnis dalam Islam
Istilah etika diartikan sebagai suatu perbuatan standar yang memimpin individu dalam membuat keputusan. Etik ialah suatu studi mengenai yang benar dan yang salah dan pilihan moral yang dilakukan oleh seseorang. Keputusan etik ialah suatu hal yang benar mengenai perilaku standar. Etika bisnis kadang-kadang disebut pula etika manajemen ialah penerapan standar moral ke dalam kegiatan bisnis.18
Secara sederhana mempelajari etika dalam bisnis berarti mempelajari tentang mana yang baik atau buruk, benar atau salah dalam dunia bisnis berdasarkan kepada prinsip-prinsip moralitas. Etika bisnis adalah aturan-aturan yang menegaskan suatu bisnis boleh bertindak dan tidak boleh bertindak, dimana aturan-aturan tersebut dapat bersumber dari aturan tertulis maupun aturan yang tidak tertulis. Dan jika suatu bisnis melanggar aturan-aturan tersebut maka sanksi akan diterima. Dimana sanksi tersebut dapat berbentuk langsung maupun tidak langsung.
Menurut Walton dan Mouro menjelaskan bahwa etika bisnis adalah:
17
Ibid., hlm. 22.
18
Buchari Alma, Pengantar Bisnis, (Bandung: Alfabeta, 2016), hlm. 184.
“Etika merupakan analisis kritis tentang tindakan manusia untuk menentukan kebenarannya atau kesalahannya dalam kerangka dua kriteria utama: kebenaran dan keadilan. Sementara etika bisnis merupakan sekumpulan kriteria dimana tindakan manusia di nilai berdasarkan harapan masyarakat”.19
Kemudian dalam pendapat Fritzche tentang etika bisnis, ia menyatakan bahwa:
“Tampak tidak ada pemisahan antara etika bisnis dan etika sehari-hari. Dengan kata lain kita berketetapan bahwa tidak mungkin kita etis dalam berbisnis dan tidak etis dalam hal yang lainnya atau sebaliknya. Secara sederhana etika adalah sesuatu yang tidak terpisahkan dari individu, hal ini tidak dapat berubah pada setiap kesempatan. Pada tingkat praktis, ini memunculkan tiga pernyataan dasar. Pertama, orang yang etis harus menghormati orang lain. Kedua, etika itu dipelajari, tidak muncul secara langsung dari lahir. Ketiga, akar dari semua hubungan etik yang sebenarnya adalah kehidupan spritual dari Islam, Kristen, Budha, Hindu ataupun yang tidak beragama sekalipun”. 20
Sedangkan menurut David menjelaskan bahwa etika bisnis adalah: “Aturan main prinsip dalam organisasi yang menjadi pedoman membuat
keputusan dari tingkah laku. Etika bisnis adalah etika pelaku bisnis. Pelaku bisnis tersebut bisa saja manajer, karyawan, konsumen dan masyarakat”.21
Sebagai cabang dari filsafat etika, maka etika dalam aktivitas bisnis tidak lain merupakan penerapan prinsip-prinsip etika dengan pendekatan filsafat dalam kegiatan dan program bisnis. Karenanya semua teori tentang etika dapat dimanfaatkan untuk membahas tentang etika dalam aktivitas bisnis. Aspek yang dominan dari semua kata etika dalam aktivitas bisnis bermuara dari perilaku bermoral.
19
Erni R. Ernawan, Op.Cit., hlm. 23.
20
Ibid.
21
Ibid., hlm. 24 .
Etika bisnis merupakan cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri, dan juga masyarakat. Pengertian tersebut mencakup bagaimana menjalankan bisnis secara adil dengan mengubah pandangan dunia tentang etika bisnis agar tatanan ekonomi dunia semakin membaik. Bisnis tanpa etika menyebabkan para pengusaha dan pebisnis akan menjadi tidak terkendali dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Etika ini dimaksudkan untuk mengendalikan perilaku manusia dalam menjalankan aktivitas bisnis yakni menjalankan pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan untuk memperoleh keuntungan. Dengan demikian, etika bisnis adalah tuntutan nasehat etis manusia dan tidak bisa dipisah atau ditunda untuk membenarkan tindakan yang tidak adil dan bermoral. Etika bisnis harus dijunjung tinggi agar bisnis itu membuahkan hasil yang dapat memuaskan semua pihak yang terlibat dalam bisnis itu. Etika bisnis juga merupakan perwujudan dari serangkaian prinsip-prinsip etika normatif ke dalam perilaku bisnis. Secara sederhana mempelajari etika dalam bisnis berarti mempelajari tentang mana yang baik atau buruk, benar atau salah dalam dunia bisnis berdasarkan kepada prinsip-prinsip moralitas.22
Kata “Islami” merupakan sifat bagi orang-orang yang melakukan
ajaran Islam dengan baik dan benar sesuai dengan ajaran-ajarannya. Dan
22
Miftakhul Huda, Op.Cit., hlm. 96.
kata Islam sebagai ajaran biasanya diidentikkan dengan kata syariat, sebagaimana dalam pemaknaan kata Ekonomi Islam dan Ekonomi Syariah. Secara istilah, syariah sepadan dengan makna perundangan-undangan yang diturunkan Alah SWT melalui Rasulullah SAW untuk seluruh umat manusia baik menyangkut masalah ibadah, akhlak, makanan, minuman, pakaian maupun muamalah (interaksi sesama manusia dalam berbagai aspek kehidupan) guna meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Setelah mengetahui makna atau pengertian satu persatu dari kata “Etika”, “Bisnis”, dan “Islami” atau juga dikenal sebagai “Syariat”, maka
dapat digabungkan makna ketiganya adalah bahwa etika bisnis Islami merupakan suatu proses dan upaya untuk mengetahui hal-hal yang benar dan yang salah yang selanjutnya tentu melakukan hal yang benar berkenaan dengan produk, pelayanan dengan pihak yang berkepentingan. Berbisnis berarti suatu usaha yang menguntungkan. Jadi etika bisnis Islami adalah studi tentang seseorang atau organisasi melakukan usaha atau kontak bisnis yang saling menguntungkan sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.23
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa etika bisnis dalam Islam adalah seperangkat nilai, aturan-aturan maupun tata cara yang dijadikan pedoman dalam berbisnis sehingga aktivitas bisnis yang dilakukan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Sebab dalam etika Islam,
23
Abdul Aziz, Op.Cit., hlm. 34-35.
ukuran kebaikan dan ketidakbaikan bersifat mutlak yang berpedoman kepada Al-Qur‟an dan Hadits.
5. Indikator Etika Bisnis
Dari berbagai pandangan tentang etika bisnis, beberapa indikator yang dapat dipakai untuk menyatakan apakah seseorang dan suatu perusahaan telah melaksanakan etika bisnis dalam kegiatan usahanya antara lain adalah:
a. Indikator Etika Bisnis Menurut Ekonomi
Apabila Perusahaan atau pelaku bisnis telah melakukan pengelolaan sumber daya bisnis dan sumber daya alam secara efisien tanpa merugikan masyarakat.
b. Indikator Etika Bisnis Menurut Peraturan Khusus yang Berlaku
Berdasarkan indikator ini seorang pelaku bisnis dikatakan beretika dalam bisnisnya apabila masing-masing pelaku bisnis mematuhi aturan-aturan khusus yang telah disepakati sebelumnya. c. Indikator Etika Bisnis Menurut Hukum
Berdasarkan indikator hukum seorang pelaku bisnis atau perusahaan dikatakan telah melaksanakan etika bisnis apabila seorang pelaku bisnis atau suatu perusahaan telah mematuhi segala norma hukum yang berlaku dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.
d. Indikator Etika Berdasarkan Ajaran Agama
Pebisnis dianggap beretika jika dalam pelaksanaan bisnisnya senantiasa merujuk kepada nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya.
e. Indikator Etika Berdasarkan Nilai Budaya
Setiap pelaku bisnis baik secara individu maupun kelembagaan telah menyelenggarakan bisnisnya dengan mengakomodasi nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang ada disekitar operasi suatu perusahaan, daerah, dan suatu bangsa.
f. Indikator Etika Bisnis Menurut Masing-masing Individu
Apabila masing-masing pelaku bisnis bertindak jujur dan tidak mengorbankan integritas pribadinya.24
6. Prinsip-prinsip Etika Bisnis Islam
Untuk membangun kultur bisbis yang sehat, idealnya dimulai dari perumusan etika yang akan digunakan sebagai norma perilaku sebelum aturan (hukum) perilaku dibuat dan laksanakan, atau aturan (norma) etika tersebut diwujudkan dalam bentuk aturan hukum. Sebagai kontrol terhadap individu pelaku dalam bisnis yaitu melalui penerapan kebiasaan atau budaya moral atas pemahaman dan penghayatan nilai-nilai dalam prinsip moral sebagai inti kekuatan suatu perusahaan dengan mengutamakan kejujuran, tanggung jawab, disiplin, berprilaku tanpa diskriminasi.25
Etika bisnis secara umum menurut Suarny Amran, harus berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Prinsip otonomi yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan keselaran tentang apa yang baik untuk dilakukan dan bertanggung jawab secara moral atas keputusan yang diambil.
b. Prinsip kejujuran dalam hal ini kejujuran adalah merupakan kunci keberhasilan suatu bisnis, kejujuran dalam pelaksanaan
24
Erni R. Ernawan, Op.Cit., hlm. 31.
25
Abdul Aziz, Op.Cit., hlm. 36.
kontrol terhadap konsumen, dalam hubungan kerja dan sebagainya.
c. Prinsip keadilan bahwa setiap orang dalam berbisnis diperlakukan sesuai dengan haknya masing-masing dan tidak ada yang boleh dirugikan.
d. Prinsip saling menguntungkan juga dalam bisnis yang kompetitif.
e. Prinsip integrasi moral ini merupakan dasar dalam berbisnis, harus menjaga nama baik perusahaan tetap dipercaya dan merupakan perusahaan terbaik.26
Ada enam langkah awal dalam memulai etika bisnis Islam, yaitu sebagai berikut:
a. Niat ikhlas mengharap ridha Allah SWT (ىلاعت الله تصلاخلا تينلا) b. Profesional (ناقتلإا)
c. Jujur dan amanah (تناملأاو قدصلا)
d. Mengedepankan etika sebagai seorang muslim (تميلسلا قلاخلأااب قلختلا) e. Tidak melanggar prinsip syariah (تيملاسلإا تعيرشلاب اقبطم)
f. Ukhuwah Islamiyah (تيملاسلإا ةوخلأا)27
Berdasarkan prinsip-prinsip dasar etika bisnis Islam di atas, maka secara teologis Islam menawarkan nilai-nilai dasar atau prinsip-prinsip umum yang penerapannya dalam bisnis disesuaikan dengan perkembangan zaman dan mempertimbangkan dimensi ruang dan waktu. Nilai-nilai dasar etika bisnis dalam Islam yaitu: tauhid, khilafah, ibadah, tazkiyah, dan
ihsan. Dari nilai dasar ini dapat diangkat ke prinsip umum tentang
keadilan, kejujuran, keterbukaan (transparansi), kebersamaan, kebebasan, tanggung jawab dan akuntabilitas.
26 Ibid., hlm. 37. 27 Ibid., hlm. 39.
FINAL
Semua ini akan lebih mudah dipahami dalam bentuk tabel berikut ini:
Tabel II.1
Nilai Dasar dan Prinsip Umum Etika Bisnis Islam
Nilai Dasar Prinsip Umum Pemaknaan
Tauhid Kesatuan dan
Integrasi
Integrasi antar semua bidang kehidupan, agama, ekonomi, dan sosial politik budaya. Kesatuan antara kegiatan
bisnis dengan moralitas dan pencarian ridha Allah.
Kesamaan
Tidak ada diskriminasi diantara pelaku bisnis atas dasar pertimbangan ras, warna kulit, jenis kelamin atau agama.
Khilafah Intelektualitas Kemampuan kreatif dan
konseptual pelaku bisnis yang berfungsi membentuk mengubah alam semesta menjadi sesuatu yang konkret dan bermanfaat. Tanggung jawab
dan Akuntabilitas
Kesediaan pelaku bisnis untuk bertanggungjawab atas dan mempertanggung jawabkan tindakannya. Ibadah Penyerahan Total Kemampuan pelaku bisnis
untuk membebaskan diri
dari segala ikatan
penghambaan manusia
kepada ciptaannya sendiri seperti kekuasaan dan kekayaan.
Kemampuan pelaku bisnis
untuk menjadikan
penghambaan manusia
kepada Tuhan sebagai wawasan batin sekaligus komitmen moral yang berfungsi memberikan arah, tujuan dan pemaknaan terhadap aktualisasi kegiatan
FINAL
28
Ibid., hlm.43-45.
bisnisnya.
Tazkiyah Kejujuran Kejujuran pelaku bisnis
untuk tidak mengambil keuntungan hanya untuk dirinya sendiri dengan cara menyuap, menimbun barang berbuat curang dan menipu, tidak memanipulasi barang dari segi kualitas dan kuantitasnya.
Keadilan Kemampuan pelaku bisnis
untuk menciptakan
keseimbangan moderasi dalam transaksi (mengurangi
timbangan) dan
membebaskan pendindasan,
misalnya riba dan
memonopoli usaha.
Keterbukaan Kesediaan pelaku bisnis untuk menerima pendapat orang lain yang lebi baik dan lebih besar, kreatif dan positif.
Ihsan Kebaikan bagi
orang
Kesediaan pelaku bisnis untuk memberikan kebaikan kepada orang lain, misalnya
penjadwalan ulang,
menerima pengembalian barang yang telah dibeli, pembayaran utang sebelum jatuh tempo.
Kebersamaan Kebersamaan pelaku bisnis
dalam membagi dan
memikul beban sesuai dengan kemampuan masing-masing, kebersamaan dalam memikul tanggung jawab sesuai dengan beban tugas, dan kebersamaan dalam menikmati hasil bisnis secara proporsional.28
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip dasar etika bisnis Islami harus mencakup:
a. Kesatuan (Unity)
Kesatuan adalah kesatuan sebagaimana tereflesikan dalam konsep
tauhid yang memadukan keseluruhan aspek-aspek kehidupan muslim baik
dalam bidang ekonomi, politik, sosial menjadi keseluruhan yang homogen, serta mementingkan konsep konsistensi dan keteraturan yang menyeluruh. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:
Artinya: “Wahai manusia sungguh Kami telah menciptkan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempua, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakqa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui Maha Teliti”. (QS. Al-Hujurat [49]: 13)29
Dari konsep ini maka Islam menawarkan keterpaduan agama, ekonomi, dan sosial. Tauhid atau keseimbangan mengajarkan manusia sebagai makhluk ilahiya, sosok manusia yang memiliki Allah. Dengan demikian, kegiatan bisnis manusia tidak terlepas dari pengawasan Allah, dan dalam rangka melaksanakan perintah Allah SWT.
b. Keseimbangan (Equilibrium).
Ajaran Islam berorientasi pada terciptanya karakter manusia yang memiliki sikap dan perilaku yang seimbang dan adil dalam konteks
29
Departemen Agama RI, Op.Cit., hlm. 518.