EDISI 7 / Juli 2015
ANGGUR MERAH
B
elajar
Dari Redaksi
Kabupaten Manggarai Barat, daerah di ujung barat Pulau Flores merupakan gerbang pariwisata yang sudah terkenal di mana-mana. Dengan brand utamanya binatang purba, kadal raksasa Komodo, telah ditetapkan sebagai salah satu dari The New Seven Wonders pada tahun 2012 lalu. Ditambah dengan pesona alam yang indah, Manggarai Barat menjadi salah satu tujuan pariwisata baru yang digandrungi wisatawan lokal maupun mancanegara. Ratusan ribu bahkan jutaan turis asing datang dari berbagai belahan dunia untuk menikmati keperkasaan Komodo, keindahan pulau-pulau serta panorama alam nan indah di Taman Nasional Komodo.
Bersamaan dengan itu, para pemilik modal mulai melirik potensi investasi. Hotel-hotel megah dan berbintang berkembang pesat bak cendawan di musim hujan. Seperti mendapat durian runtuh, harga tanah turut menjulang tinggi. Kondisi ini memancing warga lokal berlomba-lomba menjual tanahnya kepada para pemilik modal. Gaya hidup masyarakat juga turut berubah bersamaan dengan semakin banyaknya bule yang menetap dan memiliki property pribadi. Tak berlebihan, kalau orang mulai membandingkan Labuan Bajo dengan Bali.
Perkembangan pariwisata yang pesat di Manggarai Barat memiliki implikasi ganda. Bisa mendatangkan ancaman, berpotensi menggerus nilai-nilai budaya lokal yang dijunjung tinggi seperti nilai musyawarah mufakat atau bantang camar ejeleleng. Dapat pula dilihat sebagai peluang terutama dari sisi peningkatan ekonomi masyarakat. Gaya hidup orang Barat yang back to nature hendaknya dibaca sebagai suatu peluang dalam mengembangkan potensi ekonomi local masyarakat, seperti di bidang pertanian berkaitan dengan penyediaan kebutuhan sayur-mayur dan buah-buahan untuk hotel berbintang di Labuan Bajo, industry kerajinan tangan masyakarakat seperti tenunan dan cinderamata. Pada titik inilah gelontoran dana Anggur Merah dapat dimanfaatkan sebagai sumber modal untuk menumbuhkembangkan geliat ekonomi masyarakat pedesaan.
Lebih daripada itu, Anggur Merah juga mengasah aspek social seseorang. Ketulusan Pemerintah Provinsi untuk menggulirkan dana pemberdayaan masyarakat mesti disambut dengan kerelaan hati dari semua komponen yang terlibat dalam perguliran dana ini. Pemerintah Kabupaten diharapkan dapat member kandukungan penguatan kapasitas terhadap pelaksanaan program ini. PKM hendaknya bekerja dengan tulus untuk memberdayakan kelompok masyarakat. Para pengurus koperasi Anggur Merah harus bekerja dengan jujur dan ikhlas demi menjawab kepercayaan besar yang diberikan anggota. Ketua Kelompok Masyarakatpun harusnya mengajak para anggotanya agar taklupa melunasi kewajibannya. Kelompok Penerima juga mesti memiliki kebesaran hati agar bantuan tersebut bisa bergulir ke masyarakat lain yang masih membutuhkan.
Rasa kesatuan senasib sepenangggungan harus tetap dibangun di atas fondasi ketulusan. Ungkapan bijak lokal Nai Nggalih Tuka Ngengga, menyiratkan ketulusan sekaligus keterbukaan dan dukungan masyarakat terhadap setiap program pemberdayaan pemerintah. Ungkapan bijak ini juga menggambarkan harapan masyarakat yang mendambakan perkembangan infrastruktur yang semakin baik sehingga roda perekonomian masyarakat pinggiran yang mengitari Labuan Bajo semakin membaik. Semua pihak hendaknya belajar untuk bekerja dan bekerja dengan tulus kemaslatan orang banyak.
BELAJAR KETULUSAN
PELINDUNG
Gubernur Nusa Tenggara Timur
Drs. Frans Lebu Raya
Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur
Drs. Benny A. Litelnoni, SH, M.Si
Sekretaris Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Fransiskus Salem, SH, M.Si
Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur
Ir. Alexander Sena
Kepala Bappeda Provinsi Nusa Tenggara Timur
Ir. Wayan Darmawa, MT Ketua Pengarah
Kepala Biro Humas Setda Provinsi Nusa Tenggara Timur (Drs. Lambertus L. Ibi Riti, MT) (Drs. Marsianus Jawa,M.Si)
Wakil Sekretaris
Inspektur Pembantu Wilayah I (Drs. Kanis H.M Mau,M.Si) (Aplinuksi Asamani, S.Sos,M.Si)
(Maria Rosalinda Ndiwa,S.Sos) PDE Inspektorat (Tarsisius Apelabi,SE, MM)
Perencana Muda (Yohanes A. Kore, S.STP) Fungsional Umum Bappeda
(Maria T.R Parera,S.Si)
Fotografer
(Frits Isak Lake,S.Sos) (Kaletus Melek Moring)
(Eljunai Puay)
Desain Grafis
(Marcurius Bani Haba,SH) (Roland E. Nope, S.AP)
ANGGUR MERAH
Mengapa
Anggur Merah...?
9
4
15
19
22
25
29
33
27
35
31
37
Jebakan
BAT-MAN
Pinjam di Bank,
Repot !
Kartini-Kartini
Terhindar Dari
Desa Wewa
Musim Paceklik
Tolong Tambah Suntikan
Bermodalkan
Kepercayaan
Kami Punya Orang
Sambung Terus
Bukan Penjudi
Butuh Masukan
Strategi
Menghindari
Mangkong
Ada Malam...
Ada Siang,
37
Suara PKM
12
Vinsensius Anggal Kepala Desa Golo Lelang
Samuel Reja, Kepala Desa Wewa
Koperasi Tantong Jaya
Ketua Koperasi Pelita Harapan Daleng
KSP Maju Mandiri Desa Compang
Abdul Wahab
Ketua Kelompok Tungku Musi Blasius Min
Agustinus Po,ong, Sekretaris Desa Tentang
Hubertus Harun, Kepala Desa Modo
Mengapa
Anggur Merah...?
udah lazim setiap
pemimpin merancang
program pembangunan
S
sebagai jawaban atas
panggilannya menjadi
pemimpin. Semua program
pembangunan itu muaranya
adalah kesejahteraan rakyat.
Kondisi dan konteks sosial
masyarakat yang berbeda
menyebabkan disain program itu
berbeda setiap pemimpin. Di
NTT para gubernur merancang
program pembangunan dengan
melihat kondisiDan konteks
sosial masyarakat NTT pada
masanya.
(Gerakan Meningkatkan
Pendapatan Asli Rakyat) dan
GERBADES (Gerakan
Membangun Desa) cocok dan
tepat.
Herman Musakabe melanjutkan
pembangunan sumber daya
manusia yang telah dirintis
Fernandez melalui 7 Program
Strategis Pembangunan.
Perkuatan pembangunan sumber
daya manusia dilanjutkan oleh
Piet Tallo pada masanya dengan
program Tiga Batu Tungku.
Sama seperti para gubernur
terdahulu, ketika Frans Lebu
Raya mengambil alih kemudi
NTT, pembangunan mulai
diarahkan kepada peningkatan
kesejahteraan manusia NTT.
Maka Program Desa Mandiri
Anggur Merah (DeMAM)
dirancang sebagai
pengejawantahan tekad
mengangkat dan meningkatkan
setiap zaman melahirkan
orangnya, dan setiap orang lahir
pada zamannya.
Gubernur WJ Lalamentik
menitikberatkan penataan
birokrasi pada masa awal
pembentukan propinsi ini.
El Tari mulai memasuki era
pembangunan dengan fokus
pada pertanian dan perkebunan.
Ben Mboi melanjutkan estafet
dengan tetap fokus pada
pertanian dan perkebunan.
El Tari dan Ben Mboi sangat
sadar, lebih dari 80 persen
warga NTT bermata pencaharian
petani dan tinggal di desa-desa.
Fokus program keduanya cocok
dan kena menjawabi konteks dan
situasi sosial masyarakat ketika
itu.
Pada masa Hendrik Fernandez
program sudah mulai mengarah
kepada peningkatan sumber
Program Anggur Merah
Program Desa
Mandiri
Anggur Merah
(DeMAM)
Program Anggur Merah
Dua tahun setelah menjabat
sebagai Gubernur NTT, Frans
Lebu Raya yang berpasangan
dengan sohib kentalnya Esthon
Foenay, melakukan langkah jauh
dengan membantu secara
langsung uang tunai Rp 250 juta
kepada masyarakat di desa-desa.
Terkesan pemerintah tampil
seperti sinter klas yang
membagi-bagi hadiah kepada
masyarakat.
Tetapi sejatinya, bantuan ini
merupakan langkah konkrit dan
langsung guna membantu
masyarakat keluar dari kubangan
kemiskinan.
Maka, desa yang dipilih
mendapat bantuan ini melalui
kriteria-kriteria tertentu. Lebih
dari itu, bantuan ini juga bukan
hadiah, tetapi dimaksudkan
sebagai modal usaha bagi
masyarakat. Bantuan ini bergulir
dari satu kelompok usaha ke
Bak gayung bersambut, DPRD
NTT ketika itu setuju dan sepakat
dengan pemerintah. Program
Desa Mandiri Anggur Merah
pun mulai jalan tahun 2011.
Program Desa Mandiri Anggur
Merah didukung alokasi dana
APBD, yaitu dana segar
(fresh
money)
Rp 250 juta untuk
ekonomi produktif, Rp 50 juta
untuk pembangunan rumah
layak huni, pendamping
Operasional pengendalian
pembangunan tingkat desa,
kelurahan dan unsur tripika
yaitu pemerintah kecamatan
didukung Polsek dan Koramil
diharapkan dapat menciptakan
masyarakat desa/kelurahan
maju dan produktif.
Program Desa Mandiri Anggur
Merah disinergikan
pelaksanaannya dengan PNPM
Mandiri, Program
Pro Rakyat
“Menciptakan masyarakat
desa/kelurahan yang
maju dan produktif”
Pro Rakyat
Program Hibah Lembaga
Internasional, CSR BUMN dan
Replikasi Program Desa Mandiri
Anggur Merah melalui APBD
Kabupaten/Kota serta partisipasi
masyarakat pada Gerakan Pulang
Kampung (GPK).
Untuk mendukung
pembangunan ekonomi pada
lokasi program Desa Mandiri
Anggur Merah, maka kemitraan
Bank NTT dan Bank mitra
lainnya, akan mendorong
kemitraan dengan Koperasi Desa
Mandiri Anggur Merah dan
Koperasi lainnya.
Optimalisasi strategi
pembangunan termasuk
suksesnya pelaksanaan Program
Desa Mandiri Anggur Merah
merupakan upaya mewujudkan
visi pembangunan daerah tahun
2013-2018 yaitu “Terwujudnya
masyarakat Nusa Tenggara
Timur yang berkualitas,
sejahtera, dan Demokratis, dalam
Bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia”.
Visi tersebut merupakan harapan
bersama untuk dapat
d
iwujudkan melalui sinergi
Investasi pembangunan
pemerintah, masyarakat, swasta,
asosiasi profesi, kelembagaan
agama dan kelembagaan
masyarakat.
Kebijakan program
pembangunan untuk
mewujudkan visi dan misi
p
embangunan dilaksanakan
melalui kebijakan 8 agenda
pembangunan, 6 tekad
pembangunan dan
Pembangunan Terpadu Desa
Mandiri Anggur Merah.
Delapan agenda pembangunan pemerintah provinsi didukung Kementrian/Lembaga
dan sinergi dengan program kabupaten/kota serta sumber pendanaan lainnya sebagai
berikut :
1.
Agenda Peningkatan Kualitas Pendidikan, Kepemudaan dan Keolahragaan.
2.
Agenda Pembangunan Kesehatan.
3.
Agenda Pemberdayaan Ekonomi Kerakyatan dan Pengembangan Pariwisata.
4.
Agenda Pembenahan Sistem Hukum dan Birokrasi Daerah.
5.
Agenda Percepatan Pembangunan Infrastruktur Berbasis Tata Ruang dan
Lingkungan Hidup.
6.
Agenda Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
7.
Agenda Pembangunan Perikanan dan Kelautan.
8.
Agenda Khusus: Percepatan Penanggulangan Kemiskinan, Pembangunan Daerah
Kepulauan, Penanggulangan Bencana dan Pembangunan Daerah Perbatasan.
Tujuan Pembangunan Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah adalah :
1. Mengurangi angka kemiskinan melalui pengembangan usaha ekonomi produktif sesuai
keunggulan komparatif dan kompetitif desa/kelurahan;
2. Memberdayakan kelembagaan pedesaan yang dapat mendukung pelaksanaan empat tekad
pembangunan dan 8 agenda pembangunan daerah;
3. Menciptakan calon wirausahawan baru yang dapat membuka lapangan kerja baru yang dapat
meningkatkan produktivitas tenaga kerja di desa/kelurahan.
Program Anggur Merah
Sasaran Pembangunan Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah adalah:
1. Meningkatnya kemampuan ekonomi dan daya saing desa/kelurahan sesuai dengan basis unggulan;
2. Meningkatnya pemerataan dan keadilan pembangunan di desa/kelurahan yang memiliki
persentase rumah tangga miskin tinggi;
3. Terwujudnya desa/kelurahan yang mandiri secara ekonomi dan bebas dari kemiskinan.
Sasaran
Lokasi Program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah yaitu seluruh desa dan kelurahan di 1 kota dan
21 kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pelaksanaan dilaksanakan dengan sasaran sebagai
berikut:
a. Tahun 2011-2013
Lokasi sasaran program Desa Mandiri Anggur Merah tahun 2011-2013 yaitu setiap kecamatan
dialokasikan 1 desa/kelurahan
b. Tahun 2014-2018
Lokasi sasaran program Desa Mandiri Anggur Merah tahun 2014- 2018 mengacu pada kriteria
sebagai berikut:
- 1 desa/kelurahan untuk kecamatan dengan jumlah desa < 8
- 2 desa/kelurahan untuk kecamatan dengan jumlah desa < 14
- 4 desa/kelurahan untuk kecamatan dengan jumlah desa < 20
- 5 desa/kelurahan untuk kecamatan dengan jumlah desa > 20
Tujuan Anggur Merah
Pembangunan Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah dilakukan dengan beberapa prinsip antara lain :
1. Pemberdayaan, upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dan kapasitas pemerintah
desa/kelurahan melalui pelaksanaan kegiatan yang berdampak langsung terhadap pemenuhan
hak-hak dasar masyarakat miskin serta keberlanjutan pelaksanaan fungsi-fungsi pelayanan
pemerintahan yang optimal;
2. Partisipatif, upaya mengedepankan keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap tahapan kegiatan,
baik dalam bentuk pikiran, tenaga maupun material sehingga tumbuh rasa memiliki dan rasa
bertanggung jawab;
3. Demokratis, pengambilan keputusan dalam setiap tahapan kegiatan didasarkan atas
musyawarah-mufakat dan kesetaraan gender;
4. Bertumpu pada sumber daya lokal, penetapan jenis kegiatan didasarkan pada ketersediaan potensi
dan kecocokan kegiatan sesuai kebutuhan setempat sehingga tercapai daya guna dan hasil guna
pembangunan;
5. Efisiensi: menjamin pencapaian target program dalam kurun waktu tertentu dengan menggunakan
dana dan daya yang tersedia serta dapat dipertanggungjawabkan;
6. Efektivitas: pelaksanaan kegiatan harus mempertimbangkan prioritas masalah dan kebutuhan
masyarakat;
7. Transparansi: manajemen penggelolaan pembangunan Desa Mandiri Anggur Merah dilakukan
secara transparan dan dipertanggungjawabkan;
8. Keterpaduan dan keberlanjutan: pembangunan Desa Mandiri Anggur Merah dapat dilaksanakan
secara simultan dengan program-program pembangunan perdesaan lainnya dengan
memperhatikan keterkaitan dan keberlanjutannya, sehingga mampu menjawab berbagai persoalan
mendasar setiap desa/kelurahan.
Program Anggur Merah
Untuk keberhasilan program ini, setiap Desa/Kelurahan Anggur Merah didampingi seorang
pendamping kelompok masyarakat (PKM). Gaji dan biaya operasional PKM sebesar Rp 2.000.000/bulan
untuk PKM yang mendampingi 1 desa/kelurahan, dan Rp 2.500.000/bulan untuk PKM yang
mendampingi 2 desa/kelurahan.
(Tim redaksi)Dibantu PKM
Fokus
Jebakan
“Kebanyakan masalah
macetnya
pengembalian (Program
Desa/Kelurahan Mandiri
Anggur Merah, red.)
disebabkan oleh
kesalahpahaman
masyarakat.
Beberapa anggota
kelompok beranggapan,
bantuan pemerintah
tidak perlu
dikembalikan. Ternyata,
setelah dikasih bantuan
akan ditanggih kembali,
tambah bunga lagi...”
ira-kira seperti itu penjelasan Vinsensius Anggal,
K
menggambarkan anggapan masyarakat tentang jebakan Bat-Man. Hal ini menjadi kendala umum, terutama pada pelaksanaan program di Tahun 2011.
Kepala Sub Bidang Pertanian dan Kelautan pada Bidang Ekonomi Bappeda Manggarai Barat itu baru saja menempati jabatannya pada Maret 2015. Bersama Petrus Janggang dan Lisye Doy, Kepala Sub Bidang Pengembangan Dunia Usaha, kami diterima bersahabat. Yah, masih dalam tugas peliputan Program Desa Mandiri Anggur
menyusuri 27 Desa /Kelurahan penerima manfaat pada 10 Kecamatan yang ada.
“Sebenarnya pak Kabid lebih menguasai informasi terkait Program Anggur Merah ini. Tapi pak kabid lagi ikut Diklat Pim III di Kupang. Pak Sekertaris juga lagi ke PAM, beliau merangkap pelaksana tugas di sana pak” kata Lisye Doy
menginformasikan. Lebih jauh, kami mendiskusikan tentang Program Replikasi Anggur Merah milik Pemerintah Manggarai Barat.
Dikatakan bahwa progam replikasi itu juga memberikan dukungan dana segar.
Fokus
Tobel, pendamping di awal 2011 telah dinyatakan lulus PNS di Manggarai Timur. Sebagai penggantinya, pada awal 2015 ditunjuklah tenaga pengganti PKM atas nama Romanus Datur.
“Tentu ini menjadi informasi awal yang menarik untuk ditelusuri. Pasti ada banyak fariasi persoalan di desa-desa. Kami harus sampai ke sana” begitu pikir kami.
Terkait persoalan-persoalan yang ditemui, Bappeda
Kabupaten Manggarai Barat juga berupaya untuk
memfasilitasinya. Upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan pendekatan orang per orang, terutama kepada yang sering berkonsultasi.
(Lwl/hms)
Rp. 50 juta/desa. Desa-desa terpilih, dibantu setiap tahunnya. Dana utuk desa tersebut dimaksudkan untuk memberikan penguatan ekonomi masyarakat, yang belum tersentuh program besutan Pemerintah Provinsi NTT itu.
Sejak pelaksanaannya di Tahun 2011 hingga Tahun 2013, telah ada sejumlah desa pada tujuh kecamatan. Dimana Program replikasi ini sudah berbentuk koperasi, atau Usaha Bersama Simpan Pinjam sejak awalnya.
Anggota kelompoknya maksimal beranggotakan 20 orang. Rata-rata mendapatkan bantuan masing-masing anggota sebesar Rp.2,5 juta. Penetapan bunga pinjaman adalah sebesar 1 %.
Sementara itu, menurut Petrus Janggang, persoalan yang ada disumbangkan juga oleh tenaga PKM. Karenanya, dia menyarankan untuk
memberikan penguatan kepada para tenaga pendamping tersebut. “Kalau saya boleh saran, perkuat saja
Sumberdaya Manusia PKM” demikian kata Petrus.
Disampaikan juga tentang adanya cerita gagal di Desa Tentang. Anggota kelompok masyarakat ada yang sudah mengembalikan pinjamannya. Dalam perjalanannya,
disampaikan bermasalah. Ada informasi kalau rekening mereka telah ditarik oleh orang propinsi. Mereka tidak tau persisnya siapa oknum itu. Entah petugas dari Inspektorat atau Beppeda. Sampai
sekarang, masyarakat tidak tau ke mana dananya.
Diinformasikan pula jika persoalan ada pada tenaga pendamping (PKM). Tenaga PKM atasa nama Gordianto
Fokus
“Labuan bajo ini bulat seperti telur pak. Kita bisa melingkar dari atas, kita juga bisa melingkar dari bawah. Untuk itu, saya usul agar Tim Pertama melewati desa-desa dalam Kecamatan Mbeliling, Kecamatan Sano Nggoang, Kecamatan Lembor dan Lembor Selatan. Tim kedua, melewati desa-desa yang berada di wilayah Kecamatan Kuwus, Ndoso, Boleng dan Macang Pacar. Hari terakhir kita ketemu di tengah, Kecamatan Komodo” demikian usulnya dengan wajah serius, saat repat pembagian lokasi peliputan. (*)
iang itu, tim redaksi legah didaratkan Wings Air setelah terbang lebih dua
S
jam dari Kupang. Penerbangan dengan kode IW 1927
sebelumnya sempat terlambat. Akibatnya, jadwal kedatangan kami bergeser hingga satu jam. Setelah singgah sebentar di Soa, Bajawa, kami akirnya tiba juga di Bandara Komodo. Waktu menunjukan hampir pukul 13:00 Wita. Sesuai
rencana awal, tim mengunjungi unit perencana Pemerintah Kabupaten Manggara Barat. Kami tiba dengan mendapati beberapa tenaga PKM. Rupanya mereka sudah ada di situ, sejak jam 11:00 Wita. Kami sempat menghubungi beberapa orang di antara mereka.
Setelah mendapatkan sedikit informasi perkembangan terakhir dari Bappeda, kami mulai membagi diri ke dalam dua tim. Delapan orang tim kami, berasal dari unsur Bappeda Provinsi NTT,
Inspektorat Provisni NTT dengan Biro Humas NTT sebagai
pimpinan rombongannya. Dua tim ini selanjunya menyusuri masing-masing lima
kecamatan.
Tim pertama, memilih rute melintasi Kecamatan Mbeliling, Sano Nggoang, Lembor, Lembor Selatan dan Komodo. Sedangkan tim ke dua, melewati desa-desa yang ada di Kecamatan Welak, Kuwus, Ndoso, Boleng dan Macang Pacar. (Lwl/hms)
Pascalis Bon,
Koordinator PKM Manggarai Barat
Lucius Luly (berbaju orange), memimpin rapat pembagian tim sebelum turun ke lokasi desa-desa di 10 Kecamatan
“Jika mengurus pinjaman di bank, masyarakat sudah harus merugi di awal.
Desa kami jauh. Untuk biaya transportasi ke kecamatan saja,
Bisa sampai Rp.150rb. Belum ditambah biaya administrasi.
Totalnya kurang lebih Rp.200rb, terbuang percuma”
urang lebih seperti itu, keterangan Lambertus Latan (61), Kepala Desa
K
Golo Lelang dengan dialek manggarai menggambarkan manfaat Program
Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah di tempatnya.
“Program ini membantu sekali. Kami sangat bersyukur bisa mendapatkan bantuan modal usaha dari program ini. Pada awalnya, kami pikir ini akan sama dengan pinjaman bank. Ternyata Tidak. Pinjam di Bank, lebih repot!” ujar salah-satu kepala desa dalam wilayah Kecamatan Sonang Goang itu.
Kepala Desa yang menjabat sejak 2010 itu adalah seorang pensiunan PNS. Ketika itu beliau adalah salah-satu PNS yang bekerja di Bagian Tatat Usaha pada Dinas Pendidikan & Kabupaten Manggarai Barat. Dari penuturannya, terlontar juga cerita tentang
pengalamannya mengelola koperasi para guru ketika itu. Pengalaman gagal yang diperolehnya, dijadikan cemeti memperkuat koperasi warga desanya.
Ketegasan, menjadi ciri khasnya. “Saya harus tegas. Kalau tidak masyarakat seenaknya. Untuk bisa meminjam di koperasi ini, warga harus masuk menjadi
Pinjam di Bank, Repot !
peryaratan yang kami sampaikan di awal. Jika ada rekomendasi dari ketua kelompok, kami terima. Kami anggap dia orang baik, lolos seleksi awal. Kami anggap dia orang baik, kami layani. Karena anggota kelompok pasti lebih mengenalnya” begitu jelasnya.
“Kami buat begini supaya semua masyarakat desa bisa merasakan manfaatnya. Supaya anak cucu kami juga bisa merasakannya” demikian pungkas pris berambut putih itu.
Perjalanan hari pertama itu mulai memasuki jalan berbatu,
Program Pemberdayaan Pemerintah Provinsi NTT (Desa Mandiri Anggur Merah) di Tahun 2014. Tenaga Pendamping Kelompok Masyarakat (PKM) mereka, Paulus Patimura, hadir bersama kami pada malam itu.
Desa Golo Lelang ini berada dalam Kecamatan Sonang Goang. Sesuai informasi Paulus Patimura, tenaga PKM, desa mereka memiliki 12 kelompok yang tersebar di tiga dusun.
Mengonfirmasi keterangan sebelumnya oleh Kepala Desa, Koperasi ini menyepakati untuk menetapakan syarat
keanggotaan koperasi yang ketat. Salah stau syaratnya adalah benar-benar warga desa setempat.
Persyaratan lainnya adalah
atau simpanan anggota. Untuk Simpanan Pokok disepakati besaranya adalah Rp.100rb. Simpanan Wajb ditetapkan sebesar Rp.5.000 per bulan selama 12 bulan dan dibayar di awal menjadi anggota.
Jadi, dalam setahun untuk menjadi anggota koperasi yang baru wajib menyetor uang koperasi sebesar
Rp.160.000,-Karena koperasi ini sudah ada sebelum datangnya
program “Anggur Merah“ maka dibuat dua model pengelolaan keuangan, dengan pembukuan masing-masing. Pembukuan pertama adalah untuk perguliran 250 juta darai program Anggur Merah.
Biasanya dilakukan pembayaran dan perguliran pada tanggal 23 Setiap bulannya. Sedangkan untuk pembikuan kedua, disepakati saat senja menyapa kami di kali
yang mebelah desa itu dengan desa Golo Tantong. Kami memilih mendahulukan Desa Golo Tantong, supaya kami dapat meneruskan perjalanan ke Desa Wejare.
Jika memang malam
mendapati kami, biarlah kami beristirahat di Wejare. Tetapi rencana berubah, karena kami masih mendapati pengurus koperasi, kepala desa dan tenaga PKM di Sekretariat Koperasi. Koperasi itu mereka beri nama Koperasi Simpan Pinjam Sinar Golo Lelang.
Menurut terjemahan lurus mereka Golo Lelang artinya
Gunug Memanjang,
bersambaung, tidak terputus. Itulah nama yang mereka sepakti supaya koperasi mereka berumur panjang.
Desa Golo Lelang memiliki warga sejumlah 350 Kepala Keluarga. Desa ini
Tempat yang dijadikan sebagai sekretariat Koperasi Sinar Golo Leleng
untuk perguliran dari modal anggota secara mandiri.
Posisi saldo akhir saat kunjungan tim (5/10) adalah sebesar 41.955.550. Saldo ini merupakan hasil perguliran dari 132 orang anggota koperasi.
“Kesepeakatan ini kami ambil bersama, dalam rapat yang melibatkan semua unsur di desa, termasuk kaplsek dan babinsa. Setelah 5 Tahun, kami akan kembalikan ke kasa desa untuk disepakati kembali. Kalau ada yang macam-macam, kami turunkan anggota” demikian jelas Paulus.
Pada kesempatan yang sama, Gaspar Nunsi, Ketua Koperasi Simpan Pinjam Sinar Golo Lelang hadir bersama istrinya. “Harus Berani Adil, tetapi tidak rata” demikian kata Gaspar malam itu. “Saya bersyukur dibantu pengurus yang lain. Kami selalu sempatkan waktu untuk buat pencatatan walau honor kami kecil” katanya.
Melanjutkan apa yang
selaku bendahara koperasi angkat bicara. “Kami Bersyukur punya pengalaman mengelola koperasi. Bersama pak ketua (koperasi), kami sudah pernah mendapat pelatihan koperasi dari salah satu perusahaan swasta di bidang pertanian. Kala itu koperasi mengelola hasil tani. Bekal itu kami padukan di koperasi ini, menyenangkan.” ujar bendahara koperasi itu bersemangat.
Tercatat, koperasi ini mengalami perkembangan yang cukup bagus. Jika
sebelumnya dilaporkan memiliki jumlah anggota sebanyak 47 orang, sekarang telah
bertambah menjadi sebanyak 132 orang.
Hal itu terjadi karena masyarakat merasa lebih untung meminjam di koperasi. Koperasi menolong, dekat dan tidak berbelikt-belit. Berbagai jenis usaha digeluiti masayakat Desa Golo Lelang. Menurut keterangan mereka, jenis usaha babi paling menonjol
Pada putaran pertama, semuanya lunas. Semua anggota mampu
mengembalikan pinjaman pada waktu yang telah ditentukan. Kami memulainya lagi dalam Bulan Maret 2014. Karenanya kami bersepakat tanggal jatuhnya pada taggal 6 April 2014. Untuk pengembalian model yang kedua disepakati pengembaliannya pada tanggal 23 September.
Untuk tahun ini (2015) kami sedang menjalankan putaran kedua. Uang sedang beredar di tangan 113 orang anggota yang meminjam kembali pada
koperasi.
Mengakhiri perjumpaan kami malam itu, mereka kompak memberi saran. “Bantuan ini terlalu kecil. Kalau boleh kami sarankan agar kami dibantu lebih. Tambahkan besar uangnya, supaya bisa lebih banyak masyarakat terlibat dan usaha jadi lebih besar.
Gubernur baru nanti harus lanjutkan program ini. Siapapun dia” tutup mereka serempak.
Gaspar Nunsi, Ketua Koperasi Simpan Pinjam Sinar Golo Lelang bersama Yosep Daud, Bendahara Koperasi
Kartini-Kartini Desa Wewa
“Ibu-ibu paling tahu kondisi ekonomi rumah tangga. Mereka paling merasakan
sulitnya mengelola uang untuk berbagai kebutuhan. Karena pertimbangan itu,
kami bersepakat untuk memeberi prioritas bagi ibu-ibu untuk
menjadi pengurus dan anggota koperasi kami”
emikian kata Samuel Reja,(51). Beliau adalah Kepala Desa Wewa,
D
Kecamatan Welak. Ketarangan itu dibenarkan Ferdinandus Purnama Jaya (35) Sekretaris Desa juga Langgus Las (47) selaku Kaur Pembangunan dan Dominikus Solong (45) Kaur Pemerintahan Desa.
“Program ini baik sekali. Kehadiran program ini sangat menolong sekali, karena membantu masyarakat saat mengalami kesulitan. Masyarakat tertolong saat membutuhkan uang. Saya ingatkan kalau uang ini bergulir di masyarakat. Bukan kembali ke pemerintah lagi” lanjutnya.
“Banyak bantuan pernah masuk ke desa kami. Belajar dari berbagai pengalaman dan kelalaian kami itu, kami
percayakan ibu-ibu mengelola modal pinjaman dari koperasi. Dominan warga kami
mengusahakan ternak babi. Pengawasan dilakukan oleh RT. Pinjamann boleh langsung ke kelompok” tambahnya
menjelaskan.
Untuk diketahui, Desa Wewa memiliki sembilan kelompok yang tersebar di 9 RT. Sekarang mereka telah memiliki 237 orang anggota koperasi. Menurut
ada sekitar 20an Kepala
Keluarga yang belum tersentuh program pemberdayaan ini.
Untuk menjadi anggota koperasi tidak dibebankan simpanan pokok. Akan tetapi diwajibkan simpanan bulanan sebesar Rp.10 ribu. Bunga pinjaman disepakati sebesr 1 %. Peruntukan bunga pinjaman adalah 0,5% untuk pengurus dan 0,5% dikembalikan untuk anggota.
Untuk anggota diberikan pinjaman maksimal sebesar Rp.1 juta. Tercatat pada tanggal 5 Juni 2015 telah diedarkan setidaknya Rp.205 juta. Sisanya belum dimanfaatkan kembali, menunggu
pengembalian. Saldo kas dalam rekening Bank NTT setempat sebesar Rp.50 juta.
Mereka merencanakan untuk membahas pemanfaatan keuangan saat Rapat Akhir Tahun, Desember nanti. Dana ini terbuka kepada semua masyarakat Desa Wewa yang mau berusaha. Hal terpenting adalah jangan sampai terjadi konflik karena ada dugaan ketidakadilan atau KKN.
Ketika ditanya tentang kendala yang dijumpai, sang
kepala desa tersenyum Samuel Reja, Kepala Desa Wewa
“Rata-rata mereka membeli babi dengan harga Rp.300 ribu per ekor. Setelah enam bulan, bisa laku dijual dengan harga Rp.600 ribu. Artinya dengan modal Rp.1 juta, anggota kelompok bisa membeli tiga ekor anakan babi. Hasil penjualan ternak babi ini selanjutnya mereka gunakan untuk membeli anakan babi lagi sebagai modal.
Lanjutnya, “sisa keuntungan, sering dimanfaatkan untuk membiayai berbagai kebutuhan mereka seperti sekolah anak dan pembangun rumah. Mereka yang macet sering menjawab tunggu jual babi, baru bayar…” begitulah keterangan pria beranak empat itu.
Pembicaraan kami siang itu sempat menyinggung soal APBDesa. Hal tersebut menyentak Ferdinandus Purnama Jaya. Wajar saja, menyangkut perannya selaku Sekretaris Desa Wewa.
Tim menanyakan perihal pencatatan berbagai sumber penerimaan lain ke dalam APBDes. Beberapa PKM desa lain yang turut mendampingi kami, juga menaruh perhatian serius dalam topik itu.
Sudahkan Program Desa Anggur Merah dicatat sebagai penerimaan dalam APBDes?
“Hampir seluruh desa di Kabupaten Manggarai Barat ini belum memasukan nomenklatur Program Pemberdayaan ini sebagai salah-satu sumber penerimaan desa yang sah. Kami juga pernah menanyakan ini kepada BPMD. Mereka mengarahkan kami ke Bappeda. Ketika sampai di Bappeda, mereka kembali mengarahkan kami untuk berkonsultasi ke Bappeda Provinsi NTT saja” jelas
Ponsianus Mato, PKM Desa Wae Bangka.
Menanggapi itu, Tim kami dari Bappeda Provinsi NTT
mulai menjelaskan. Bahwa hal itu sesungguhnya telah
ditegaskan dalam dokumen hibah yang sudah
ditandatangani setiap kepala desa penerima program. Sesuai ketentuan tentang desa dan petunjuk pelaksanaanya dalam penyusunan APBD, juga sudah diingatkan supaya desa mencatat berbagai sumber penerimaannya.
Ponsianus Mato
Karena itu, tim mengusulkan untuk dikoordinasikan kembali dengan BPMD. Apalagi saat kunjungan tim, sedang dilakukan berbagai kegiatan pelatihan penyusunan APBDes. Secara informal, kami berharap Desa Wewa memperhatikan hal itu. Untuk PKM yang hadir, supaya juga
menginformasikannya kepada teman-teman PKM yang tidak hadir.
Waktu siang itu kira-kira menunjukan pukul 11.30 Wita ketika tim tiba di desa Wewa, Kecamatan Welak. Untuk bisa sampai ke desa itu, kami harus menempuh jarak kurang lebih 40 kilo meter dari Kecamatan Lembor. Kurang lebih tiga jam tempuh, kami harus melewati medan yang cukup berat.
Jalan berbatu-batu, berkelok-kelok dengan tanjakan dan turunan bukit terjal. Walau menggunakan kendaraan roda dua, terkadang kami harus turun berjalan khaki.
“Selama hidup, belum pernah saya berjalan sejauh ini dengan kondisi jalanan yang sangat parah seperti ini. Kasihan mereka, masyarakat yang tinggal di daerah ini. Tentunya mereka akan susah akses ke kota, untuk kebutuhan mereka dan anak-anak mereka” celetuk salah-satu anggota tim dalam perjalanan.
“Perjalanan yang sangat mendebarkan dan melelahkan. Saya juga baru sekali ini datang ke Desa Wewa” sambung Marsel PKM salah satu desa di Kuwus.
Walau sulit, akhirnya tim peliput sampai juga di Desa Wewa. Tepatnya kami sampai di rumah Bapak Samuel Rejak.
Kepala Desa yang dilantik pada tanggal 15 Desember 2013 itu nampak sedikit tegang. Mereka telah menunggu kami sejak pagi. Wewa merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Alipace. Desa ini dipilih sebagai salah satu desa penerima Program Desa Mandiri Anggur Merah pada Tahun 2014.
Wajah Samuel Rejak tampak berubah senang, mendengar
tujuan kedatangan kami. Beliau juga kelihatan sangat
bersemangat, walau usianya sudah setengah abad.
“Kami adalah Tim Peliputan Program Desa Mandiri Anggur Merah dari Pemerintah Provinsi. Desa Wewa merupakan salah satu desa yang kami pilih untuk dikunjungi. Kami ingin tahu apakah dana ini bermanfaat atau tidak, sehingga perlu di
Veronika Jeman, salah satu penerima dana bantuan Anggur Merah di Desa Wewa bersama seekor ternak babi miliknya
lanjutkan atau dihentikan. Hasil liputan ini akan kami
publikasikan dalam bentuk buletin” jelas pimpian rombongan.
Bapak Kades menyampaikan kepada kami bahwa dengan adanya dana bantuan Desa Mandiri Anggur Merah meraka telah membentuk sebuah Koperasi Simpan Pinjam. Koperasi itu mereka namai Koperasi Simpan Pinjam “Wewa Jaya Abadi.”
Harapannya, koperasi ini akan tetap jaya dan abadi selamanya. Menurutnya dengan terbentuknya koperasi ini, meraka sangat merasakan manfaatnya. Saat mereka membutuhkan dana selalu tersedia, mereka tidak perlu pinjam lagi di Koperasi Harian atau Bank yang sangat
memberatkan dengan bunga yang sangat besar.
Uniknya lagi Koperasi Wewa Jaya Abadi dinahkodai oleh para kartini masa kini. Yah, ibu-ibu dari setiap Kepala Keluarga di desa itu. Koperasi ini
diprioritaskan kepada kaum perempuan.
Alasannya, mereka (ibu-ibu)
adalah orang pertama yang merasakan perekonomian keluarga. Para ibu juga
dipercaya lebih tertib mengelola keuangan. Alhasil, pasti tidak terjadi penyalahgunaan
keuangan, yang mengakibatkan terjadinya kemacetan dalam pengembalian cicilan.
“Para bapak bisa saja
selewengkan bantuan ini untuk beli rokok dan moke” kata kepala desa yang cinta kebersihan itu.
Mekanisme pengelolaan koperasi tidak terlepas dari
Catatan kami dari Koperasi Wewa Jaya Abadi antara lain :
Pertama. Program ini baik, sangat membantu masyarakat. Akan tetapi masih ditemukan kendala dalam hal pembukuan, karena keterbatasan SDM;
Kedua. Mereka mengaharapkan ada pelatihan bagi pengurus koperasi, sehingga berbagai harapan untuk kemajuan koperasi demi terciptanya kesejahteraan dapat tercapai;
Ketiga. Jika ada anggota yang macet pengembaliannya maka langkah yang ditempuh adalah melakukan rapat badan pengurus koperasi, pengawas bersama PKM. Setelah itu dilayangkan surat pemberitahuan jatuh tempo pembayaran kepada anggota;
Keempat. Kami juga menyarankan untuk melakukan pembukuan yang baik. Berkordinasi dengan Dinas Koperasi setempat untuk proses akta pendiriannya sehingga menjadi Koperasi yang berbadan hukum resmi. (Dmb/hms)
peran Bapak Kades sebagai kepala wilayah pada tingkat desa. Berbagai upaya dan terobosan selalu dilakukan sehingga koperasi ini tetap ada dan tetap jaya, sebagaimana namanya.
Beliau selalu tegaskan kepada anggota untuk
memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, sesuai hasil kesepakatan. Untuk memudahkan koordinasi dan pengawasan maka
pengelompokan diatur sesuai wilayah RT. Terdapat sembilan kelompok pada sembilan RT.
Terhindar Dari Musim Paceklik
Terhindar Dari Musim Paceklik
“Dulu saya hanya bisa menanam sekali dalam setahun. Sekarang, kami bisa
memanen hingga dua kali. Saya sudah bisa membeli pupuk dan pestisida.
Hasil panen padinya bisa mencukupi kebutuhan kami sampai dengan
musim paceklik (panas) ini.”
emikian ucap Muhammad Sukur, dengan senyum
D
bangga.”Kalau dulu, saat musim begini (paceklik), kami sudah harus beli beras. Tetapi sekarang, kami masih memilki padi hasil sawah sendiri, sehingga kami tidak perlu membeli beras lagi” tambahnya menjelaskan.
Sebenarnya, pekerjaan
utama Bapak Muhammad Sukur ini adalah bertani. Sebagai petani, ia memiliki sawah yang cukup luas. Akan tetapi, ia juga memiliki usaha sampingan, menjual papan, balok kayu.
“Jujur saja, dengan adanya bantuan ini sangat membantu saya. Kalau dulu rumah saya lantai kasar, sekarang
Bapak/Ibu bisa lihat sendiri. Sekarang, rumah saya sudah berlantai keramik” terangnya sambil mengajak kami melihat rumahnya. Menurutnya, hasil dari pekerjaan sampingan ini lebih menguntungkan.
Muhammad Sukur, adalah salah-satu pengurus sekaligus anggota Koperasi Tantong Jaya yang berada di Desa Golo Tantong, Kecamatan Mbeliling. Melalui koperasi yang dibentuk itu, Bapak Sukur bisa
mendapatkan tambahan dana segar sebesar Rp.16 juta.
Dengan modal sebesar itu,
yang lebih banyak. Hasil olahannya meningkat pesat. Ia bisa menghasilkan berkubik-kubik papan dan balok jati, untuk dijualnya ke Labuan Bajo. Dari hasil usahanya itu, dia bisa melanjutkan pemasangan keramik rumahnya.
Setelah berbincang-bincang menyampaikan maksud
kedatangan tim, tanpa membuang waktu lagi, kami difasilitasi untuk melakukan pertemuan dengan PKM. Bappeda Manggarai Barat menyiapkan ruang rapat, tepat di lantai satu kantor itu.
Dua tim siap ke lokasi. Karena belum sempat makan siang, kami kenyangkan
perut sejenak dengan hidangan seadanya. Masakan jawa
rasanya nyaman untuk lambung anggota tim pertama. Kami puaskan sebentar dengan menyantap soto ayam, di seputaran kawasan kantor Bupati Manggarai Barat.
Muhammad Sukur
Empat kendaran bermotor roda dua sudah siap. Desa Golo Tantong, Kecamatan Mbeliling dan Desa Goleleng Kecamatan Sana Nggoang, target hari Setidaknya Marsel, Kosmas, Paulus dan Ahmad (para PKM) menemani tim kami. Perjalanan melewati rute banyak kelokan.
Dalam hati saya bergumam, “jauh sekali, jalannya berkelok-kelok, andaikan saya Valentino Rosi (pembalap Moto GP), pasti
Rupanya, kami telah ditunggu Pengurus Koperasi Tantong Jaya dan Aparat Desa Golo Tantong di rumah Bonifasius Jehamut, Ketua Koperasi. Menurut masyarakat setempat, Golo=Gunung dan
Tantong=menjulang tinggi. Jadi, bisa diterjemahkan sebagai Desa yang berada diatas Gunung Yang Menjulang Tinggi. Tanpa basa-basi, tim mulai memperkenalkan diri, juga mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan.
Hadir dalam pertemuan itu PKM Marselinus Panggung, Ketua Koperasi Bonifasius Jehamut, Plt. Sekretaris Desa sekaligus Sekretaris Koperasi Yoseph Tote Snaba, Bendahara Koperasi Muhammad Sukur dan beberapa anggota koperasi.
Dari penuturan mereka, mula- mula Koperasi Tantong Jaya
terbentuk pada awal Maret, Tahun 2014. Saat itu, mereka dikunjungi oleh tenaga PKM, Marselinus Panggung. Marsel menyampaikan informasi kalau desa mereka akan memperoleh dana bantuan Desa Mandiri Anggur Merah dari Pemerintah Provinsi NTT. Syaratnya dana bantuan ini harus dikelola oleh Koperasi.
Karena itu, masyarakat desa Golo Tantong, Kecamatan Mbeliling, bersepakat
membentuk Koperasi Tantong Jaya. Anggota koperasi itu semula adalah 30 orang. Saat kunjungan tim sore itu, jumlah anggota koperasi telah
bertambah.
Sesuai pembukuan yang kami amati, anggotanya telah
berjumlah 74 orang. Anggota koperasi ini berasal dari lima Kampung yakni Kampung Kaca, Tenda, Dupu, Libu dan Pondong Bagong.
Dari pengakuan mereka, terungkap juga ada
keengganan menerima dana tersebut (Anggur Merah). Alasannya, karena trauma. Pengalaman mereka, banyak bantuan sosial yang diterima biasanya gagal dan proses pengembalian sangat memberatkan masyarakat.
Hal tersebut tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Marselinus, sang Pendamping Kelompok Masyarakat. Berkat sosialisasi yang intens dari pendamping desa itu, akhirnya mereka mau juga menerima dana tersebut.
Antusiasme warga meningkat drastis. Penilaian itu tergambar dari banyaknya warga desa yang kemudian mengajukan permohonan meminjam. Dalam jangka waktu kurang lebih seminggu, proposal menumpuk, dana Rp.200 juta terserap semuanya.
(Kiri-kanan) : Bonifasius Jehamut, Ketua bersama Muhammad Sukur. Koperasi Tantong Jaya
Tidak lama berselang, kurang lebih satu bulan, datang lagi antrian proposal untuk
pemanfaatan sisa dana sebesar Rp.50 juta. Proposal yang
diajukan kelompok, diseleksi dan disurfei kelayakannya oleh Badan Pengurus Koperasi.
Bagi kelompok yang memenuhi syarat, langsung dilayani. Rata-rata jenis usaha mereka bergerak di bidang peternakan, pertanian, meubeler dan perkiosan.
Pada kesempatan itu kami berkesempatan mengunjungi salah satu pemanfaat Dana Anggur Merah, Bapak Muhammad Sukur, beliu bergerak di bidang usaha pertanian dan meubeler. Dari pengakuan beliau terbukti dana anggur merah sangat membantunya.
Sebelum adanya dana pemberdayaan ini, dia hanya mampu membeli empat hingga lima pohon jati saja dalam sebulan. Pohon jati yang dibeli selanjutnya diolah jadi papan dan balok. Hasil olahan ini lalu dijualnya ke Labuhan Bajo.
Untuk diketahui, harga sebuah pohon jati ada di kisaran Rp.200 ribu. Setelah diolah, bisa laku terjual dengan harga Rp.540 ribu. Jika
dikurangi biaya pembelian pohon jati, sensor dan ongkos angkutan, kira-kira bapak itu bisa memperoleh kentungan bersih hingga Rp.200 ribu.
Karena waktu sudah
menunjukan pukul 19.45 Wita, kami harus segera bergegas. Kami pamit, karena juga masih harus menyinggahi satu desa lagi. Mudah-mudahan masih ada kelompok masyarakat yang mau menerima kami. Desa Golo
Banyak sekali respon positif yang kami jumpai malam itu.
Beberapa kesimpulan dari pertemuan kami dengan aparat Desa Golo Tantong, para pengurus Koperasi Tantong Jaya dan anggota kelompok penerima manfaat dapat kami ringkas, seperti ini :
Pertama. Program ini baik, sangat membantu masyarakat, dapat meningkatkan taraf ekonomi mereka menjadi lebih baik;
Kedua. Mereka menyadari dana ini harus dikembalikan dengan cara dicicil. Walaupun sampai dengan saat ini belum ada yang melunasi cicilannya, namun mereka berjanji untuk melunasinya;
Ketiga. Dana yang berada di rekening mereka kurang lebih Rp.27 juta. Tetapi dari perhitungan mereka, dana yang sedang bergulir pada 74 anggota kurang lebih sebesar Rp.400 juta;
Keempat. Jika ada anggota yang macet pengembaliannya maka diambil beberapa langkah. Melakukan Rapat Badan Pengurus Koperas dan pengawas PKM. Setelah itu, dibuatkan surat pemberitahuan jatuh tempo pembayaran kepada anggota;
Kelima. Kami juga menyarankan untuk melakukan pembukuan yang baik. Berkordinasi dengan Dinas Koperasi setempat untuk proses akta pendiriannya sehingga menjadi Koperasi yang berbadan hukum resmi.
(Dmb/hms)
Nggoang sempat kami lewati
juga tadi. Waktunya berbalik arah, searah ke kota Labuan Bajo.
Yoseph Tote Snaba, Plt. Sekretaris Desa sekaligus Sekretaris Koperasi
Tolong Tambah Suntikan
“Desa kami adalah desa dengan jumlah penduduk terbesar,
di Kecamatan Lembor ini. Saat ini, jumlah penduduk kami lebih dari
900 Kepala Keluarga. Jika dibandingkan dengan penduduk desa-desa lain,
bisa tiga kali jumlahnya”
setiap anggota baru bisa
mendapatkan pinjaman sebesar Rp.1 juta, secara bertahap” jelasnya.
Pada hari kedua, kami melakukan peliputan dengan mengunjungi desa Daleng. Daleng adalah salah-satu Desa di Kecamatan Lembor.
Setibanya kami di sana tampak sudah banyak orang yang menunggu kami.
Ada Kepala Desa Daleng, bapak Andreas Usut, Ketua Koperasi bapak Raymundus Ngus, Bendahara Koperasi ibu Yasinta Maria Unas dan beberapa anggota kelompok koperasi serta Pendamping Kelompok Masyarakat (PKM) Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah Desa Daleng Kosmas Jalang, SE. Tenaga PKM itu telah menemani kami sejak hari pertama kegiatan peliputan ini.
Meja dan kursi telah ditata melingkari luas ruang tamu Andreas Usut, rumah sang kepala desa itu. Kami dipersilahkan mengisi kursi dengan meja lebih tinggi.
Suasana jadi terasa formal karena kami seakan didaulat memimpin sidang.
“Bapak Desa, kalau ada palu sidang, kita sudah sama seperti sedang melakukan Rapat Paripurna di Gedung Dewan Bapak…” demikian canda kami, menutupi rasa canggung.
Basa-basi sebentar, biar suasananya lebih rileks. Kami enggan dianggap melakukan pemeriksaan. Biarlah
suasananya lebih santai asal, mereka mau bercerita apa adanya.
Pimpinan rombongan menyampaikan tujuan
kedatangan tim peliput sembari bertanya-tanya tentang
bagaimana perasaan mereka dengan kehadiran program Desa/Kelurahan Mandiri Anggur Merah itu.
Apakah program ini baik,
memberatkan,
dilanjutkan atau
dihentikan saja?
tulah harapan RaymundusNgus, Ketua Koperasi Pelita Harapan Daleng. Beliau
I
mengusulkan agar besaran bantuan juga memperhitungkan jumlah penduduk sebagai besaran dasar memberikan bantuan.
“Saat ini, kami telah memiliki 450 orang anggota dengan jenis usaha berfariasi. Rata-rata
Raymundus Ngus
Siang itu, semua yang hadir serentak menjawab pentingnya program pemberdayaan ala Pemerintah Provinsi NTT itu, dengan versi masing-masing. Kalau boleh disimpulkan, mereka mengatakan bahwa Program Desa/kelurahan Anggur Merah sangat membantu.
Akan tetapi, dananya kecil, tidak cukup untuk melayani semua permohonan dari masyarakat Desa Daleng. Karena itu, mereka berharap agar Dana Anggur merah ditingkatkan lagi.
Daleng menjadi penerima Program Desa/Kelurahan Anggur Merah pada Tahun Anggaran 2014 lalu. Sejak awal, langsung dibentuk Koperasi yang diberi nama Koperasi Pelita Harapan Daleng (PHD).
Koperasi ini telah memiliki 59 kelompok dengan jumlah
anggota sebanyak 449 orang.
Total modal yang sedang bergulir dalam masyarakat setidaknya telah mencapai Rp.450 juta. Tercatat setidaknya 4 kelompok mengusahakan kios, 19
kelompok beternak babi, sisanya 36 kelompok bertani padi sawah dan sayuran.
Untuk diketahui, Koperasi Pelita Harapan Daleng dibentuk pada November 2014. Dengan adanya Koperasi ini masyarakat sangat berantusias untuk masuk menjadi anggota.
Mereka senang menjadi anggota koperasi itu karena adanya kemudahan
mendapatkan pinjaman. Bunga pinjaman pun kecil. Cuman 1% dari besaran pinjaman.
Tidak perlu lagi jauh-jauh pinjam ke bank. Proses administrasinya panjang, bunganya juga besar. Apalagi meminjam pada koperasi harian, bunganya mencekik leher. Kurang lebih seperti itu pendapat mereka
membandingkan.
“Dana ini kecil, tapi saya bersyukur dengan kehadiran dana ini sangat membantu ekonomi masyarakat, untuk pengembangan usaha mereka. Dana 250 juta ini menurut kami tidak banyak, karena tidak dapat melayani semua permohonan yang masuk. Karenanya kami minta dana anggur merah ditingkatkan lagi“ ujar bapak kades kepada kami, membenarkan pendapat anggota kelompok.
Pria berusia 52 tahun itu tampak sangat bersemangat, ketika tim meminta
pendapatnya tentang Program Desa/Kelurahan Anggur Merah di desanya.
Walau kadang suaranya terbata-bata, dia terlihat ingin terus berlama-lama bersam kami. Sekali-sekali suaranya terhenti. Tanya punya Tanya, ternyata beliau baru saja diserang struk ringan. Sekarang dalam masa pemulihan, kasian juga bapak kepala desa itu.
Kehadiran tim terlihat mampu menghibur beliau. Kami
ditemani melihat beberapa ekor babi di belakang rumahnya. Sebagian dikandangkan, sisanya diikat saja di luar. Pun ketika kami ingin melihat usaha kelompok-kelompok di desa itu. Pria paruh baya yang sempat maju calon anggota legislatif itu masih juga sempat berjalan kaki mengantar, walau jaraknya agak jauh.
Andreas Usut, Kepala Desa Daleng
“Saat ini, kami hentikan dulu permintaan kelompok baru. Modal sebesar Rp.246 juta telah beredar, sisa saldo di rekening kas adalah Rp.4 juta. Kesulitan kami, masih ada anggota masyarakat yang belum bisa dibantu karena dana terbatas” demikian pendapat Yasinta Maria Unas, sang bendahara koperasi.
Dalam catatan mereka memang sempat terlihat beberapa anggota kelompok telah menyelesaikan pinjaman. Tercatat, setidaknya 39
kelompok bahkan bisa melunasi lebih awal dari jadwal jatuh
waktu temponya. Untuk menghargai kegigihan usaha mereka itu, beberapa kelompok boleh meminjam hingga tiga kali.
“Kalau total dananya sudah Rp.450 juta, kenapa belum cukup juga?” tanya kami ingin tahu. Dijelaskan bahwa dana yang digulirkan ke kelompok baru, bersumber dari sejumlah iuran sebagai syarat
keanggotaan.
Dari Simpanan Pokok sebesar Rp.300 ribu dan Simpanan Wajib Rp.10 ribu per bulan seluruh anggota, terkumpulah
Rp.450 juta itu. Pengembalian anggota kelompok selanjutnya digunakan oleh anggota kelompok yang bersangkutan juga.
Karenanya, bagi setiap anggota yang berhasil melakukan pengembalian dengan cepat, bisa
mendapatkan pinjaman berkali-kali. Hal ini berakibat
banyaknya proposal baru tidak bisa dilayani.
“Pembagian dana kami lakukan bertahap dengan besaran pinjaman Rp.1juta rupiah/kk, sehingga dana 250 juta belum bisa menjangkau semua kebutuhan masyarakat. Kami berharap,besaran jumlah penduduk menjadi referensi bagi tim untuk mengusulkan tambahan dana“ demikian tambah Raymundus.
Dijelaskannya jika mayoritas masyarakat mengandalkan keunggulan potesni desa mereka. Jenis usaha yang dominan adalah usaha pertanian dan peternakan. Mereka kombinasikan hasil pertanian untuk mendukung usaha ternak babi mereka. Dedak padi digunakan untuk pakan ternak, sehingga
program ini sangat berkorelasi manfaatnya.
Beberapa anggota kelompok memang sedikit kemacetan. Tetapi hal itu dapat kita maklumi. Mereka mengalami kegagalan saat tanam serentak. Mereka telah berjanji melunasi kewajibannya pada panen berikut. (Dmb/hms)
Yasinta Maria Unas, bendahara koperasi Pelita Harapan Daleng
Bermodalkan Kepercayaan
“Saya dipilih dalam musyawarah bersama seluruh anggota Koperasi. Saya
tidak punya pengalaman sama sekali mengurus koperasi.
Saya hanya seorang tamatan SMP, namun kepercayaan dan dukungan
Dari seluruh anggota membangkitkan optimisme. “
al ini diungkapkan oleh Sebastianus Bama, Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Maju Mandiri Desa Compang
H
Kolang Kecamatan Kuwus. Hari mulai gelap saat tim redaksi tiba di desa tersebut dalam
perjalanan marathon dan menguras tenaga dari Kecamatan Boleng dan Macang Pacar.
Sambil menyuguhkan kopi dan kue pisang goreng yang masih hangat, beliau menawarkan agar segenap tim buletin berkenan menginap di gubuknya yang sederhana.
Ayah tiga orang anak yang bekerja sebagai petani tulen ini menguraikan bahwa ia
menerapkan sistem pengelolaan koperasi secara terbuka. “Iuran pokok pada saat menjadi
anggota minimal sebesar Rp. 300 ribu per orang dengan iuran wajib sebesar Rp. 10 ribu. Besarnya pinjaman adalah sebesar empat kali simpanan pokok. Setiap masyarakat yang yang tergabung dalam KSP Maju Mandiri bebas menentukan pilihan usaha. Yang terpenting adalah dapat meningkatkan ekonominya serta
bertanggungjawab dalam pengembalian setiap bulannya,” jelas pria berumur 32 tahun ini kepada tim buletin Anggur Merah.
Bunga pinjaman yang disepakati sebesar 1,5%. Desa Compang Kolang sendiri terdiri dari empat anak kampung. Anggota koperasi yang
berjumlah 121 orang merupakan warga dari keempat anak kampung tersebut.
“Setiap bulan, secara bergilir pengurus
koperasi mendatangi setiap anak kampung untuk mengadakan rapat dengan para anggota.
Moment itu juga dipakai untuk menagih cicilan dari setiap anggota. Jika ada anggota yang belum bisa mecicil pokok pinjaman, ia
diperkenankan untuk mengembalikan bunganya terlebih dahulu,” jelasnya dengan bahasa
Menimpali peryataan sang Ketua Koperasi, PKM Desa Compang Kolang, Marsianus Ambul menjelaskan bahwa ada anggota yang mau meminjam lebih dari 5 juta, maka harus disertai dengan agunan berupa ternak atau barang.
“Memang ada beberapa orang dari Dusun Rede yang sudah menunggak selama lebihdari empat bulan. Sudah dikirimkan surat teguran sebanyak tiga kali. Jika belum ditindaklanjuti juga, mau tidak mau kami akan melibatkan pihak kepolisian,” jelas alumni Universitas Bhayangkara Surabya ini.
Ia pun dengan bangga menjelaskan lebih lanjut bahwa dana Koperasi sampai sekarang sudah membengkak sampai Rp. 300-an juta.
Sebastianus Bama,
Ketua Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Maju Mandiri
Menyambung hal ini, Rofinus Andut, salah seorang tokoh masyarakat yang sejak sudah menunggu kedatangan tim buletin sejak sore hari menyampaikan bahwa ada perbedaan mendasar antara Koperasi Anggur Merah dan Unit Bersama Simpan Pinjam (UBSP) yang sudah berkembang sebelumnya di desa tersebut.
“ Kalau UBSP sangat ketat. Pokok, bunga dan iuran wajib mesti diserahkan setiap bulannya. Jika macet, maka semua anggota akan
melakukan demonstrasi sekaligus melakukan penagihan terhadap di rumah anggota yang menunggak tersebut. Sementara itu koperasi Anggur Merah masih memberikan kelonggaran, namun tidak boleh lebih dari dua bulan,” jelas Rofinus yang dipercayakan sebagai pengawas Koperasi Maju Mandiri.
Hal ini diakui oleh salah satu anggota Koperasi Rafael Goni. Dengan nada sedikit bergetar bapak dua anak ini menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan dana Anggur Merah. “Saya pernah menjadi UBSP. Sungguh, saya merasakan banyak kemudahan dengan hadirnya koperasi Anggur Merah. Bunganya kecil, cicilan mudah serta ada unsur tolerasi dan solidarita.,” Jelasnya.
Rafael menegaskan ia telah meminjam uang koperasi sebesar Rp. 1.200.000 untuk membeli dua ekor babi. Satu ekor babi telah disembelih untuk kebutuhan pesta sambut baru anaknya.
Cicilannya tinggal 3 bulan lagi lunas.
Anggota kelompok lainnya, Darius Samun berharap agar dana Anggur Merah harus tetap ada karena dapat meningkatkan ekonomi
keluarga. “Walaupun usaha ayam kampung tidak berkembang karena semuanya terkena wabah penyakit, namun saya tetap mengembalikan
cicilan dana koperasi,” jelas ayah dua anak ini. Ia berharap sesudah melunasi pinjamannya di koperasi, ia mendapat dana baru yang lebih besar untuk mengembangkan usaha ternak ayam pedaging.
Terkait dengan pemanfaatan anggur merah bagi pembangunan desa Compang Kolang, Marsianus Ambul menjelaskan bahwa telah perencanaan untuk mengalokasikan dana Sisa Hasil Usaha (SHU) nantinya untuk kas desa. “Namun belum disepakati berapa persen
besarannya. Nanti akan dibahas lebih lanjut dala Rapat Anggota Tahunan,” jelas Marsi. (Ar/hms)
Rafael Goni dan Darius Samun KSP Maju Mandiri
Bersama. Tim peliput foto bersama Ketua, anggota KSP Maju Mandiri dan tokoh masyarakat Desa Compang Kolang Kecamatan Kuwus
Kami Punya Orang
ahaya senja kelihatannya akan menepi seiring dengan
C
goresan jingga yang mulai memudar di langit Labuan Bajo. Anggota tim buletin anggur Merah yang baru tiba dari Kupang pada siang hari perlahan meninggalkan ibu Kota Manggarai Barat dan beranjak menuju kecamatan Boleng.
Melewati terminal Nggorang sekitar 30 menit, kami pun mulai menapaki jalanan terjal. Cerita tentang akses jalan raya yang cukup memprihatinkan tampak depan mata.
Bebatuan yang berserakan tak beraturan dengan tanjakan dan turunan tajam
membutuhkan kekompakan irama antara pengemudi dan yang dibonceng.
Setelah menempuh
perjalanan kurang lebih 3 jam, melewati hutan nan asri dan beberapa perkampungan, kami pun tiba di Terang Ibu Kota Kecamatan Boleng saat malam mulai menyapa.
Raga letih, fisik lelah, saatnya memejamkan mata dan
memulihkan kembali tenaga yang terkuras melewati lika-liku goncangan jalanan bebatuan sepanjang 60 puluan kilometer.
Mentari pagi bersinar bersamaan dengan gerak langkah anak-anak berseragam putih merah dan putih biru menuju sekolah. Mengulas kembali perjalanan yang telah
bahwasannya alur lintasan kami ibarat dari sebuah puncak menuju ke lembah.
“Sebagian besar masyarakat Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng berprofesi sebagai petani baik itu lahan kering maupun lahan basah. Sebagian lagi nelayan dan beternak,” jelas Abdul Wahab, salah
seorang tokoh masyarakat Desa Golo Sepang menanggapi kekaguman Tim Buletin Anggur Merah akan keadaan
perumahan sebagian besar
warga yang kelihatan megah untuk ukuran kampung. Ditemui di pelataran rumahnya, ia menjelaskan lebih lanjut bahwa hampir setiap rumah memiliki motor listrik.
Saat salah satu anggota tim berseloroh ringan bahwasannya Desa Golo Sepang seharusnya tak masuk kriteria penerima Desa Mandiri Anggur Merah, pria berusia 73 tahun ini langsung merespon dengan serius bahwa Anggur Merah membuat orang serakah.
Abdul Wahab, tokoh masyarakat Desa Golo Sepang
“Namanya bantuan pemerintah apalagi dalam bentuk uang pasti sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Sepengetahuan saya, bantuan Anggur Merah yang digulirkan pada tahun 2011 tujuannya sebenarnya baik, namun pengelolaannya pada tingkat desa sangat tertutup. Kepala desa bersama perangkatnya tak pernah mengundang tokoh masyarakat dan warga untuk bermusyawarah lebih lanjut tentang dana tersebut,” jelas pria yang hanya tamatan sekolah rakyat tersebut.
Akibatnya ada isu yang berkembang di tengah warga bahwasannya dana tersebut hanya ditujukan bagi
masyarakat yang memiliki kedekatan dengan kepala desa. Dalam istilah lokal: Ho'o hami, ho,o dite, ho,o cais artinya ini kami, ini kita, ini sudah datang.
“Saya termasuk orang yang sangat kecewa dengan
perlakuan Bapak Kepala Desa dan Ketua RT 19 karena saya sudah didaftar untuk menerima dana Anggur Merah, tapi pada saat pencairan yang keluar nama orang lain”.
Lanjutnya, “yang saya dengar, nama saya dicoret karena katanya bentuk bantuan tersebut harus berupa babi. Padahal kalau saya lihat ada juga penerima bantuan yang melakukan usaha lain seperti beternak kambing, berusaha kios,” jelas Dul Wahab sedikit kecewa dengan adanya diskriminasi dalam penentuan penerima dana tersebut.
Ia pun menjelaskan bahwa Kepala Desa tersebut sekarang sedang menjalani proses hukum di Lapas Penfui Kupang karena didakwa melakukan korupsi
“Seturut pengamatan saya dana Anggur Merah tak pernah bergulir untuk masyarakat desa Golo Sepang lainnya. Selain itu, percakapan dengan tim Buletin.
Salah seorang penerima dana Anggur Merah, Valens Jegaut saat ditemui tim peliput Anggur Merah menjelaskan bahwa ia menerima dana Anggur Merah sebesar Rp. 500.000 untuk membeli babi. Babinya telah dijual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Modalnya tidak saya kembalikan karena tidak pernah dijelaskan bahwa uang tersebut akan dikembalikan dan digulirkan ke masyarakat lain. Apalagi tidak pernah ditagih oleh ketua kelompok dan PKM, sehingga saya anggap dana tersebut adalah dana hibah,” jelas Valens kepada tim buletin.
Menanggapi hal ini, salah seorang temannya yang bersama-sama dengan Valens sedang mengerjakan deker menyambung bahwa jika masyarakat diberikan dalam bentuk uang maka akan menjadi seperti “uang ojek” atau uang pemberi semangat, habis seketika tak
tersebut,”jelas Aventus Viktor, salah satu masyarakat Golo Sepang yang tidak bisa mencicipi bantuan Anggur Merah karena tidak digulirkan.
Penerima bantuan Anggur Merah lainnya, Bapak Blasius Ndendo, salah satu anggota kelompok Sumber Baru yang ditemui di kediamannya menguraikan bahwa ia menerima dana tersebut sebesar Rp. 500.000 untuk membeli babi.
“Saya telah membeli babi dan memeliharanya, namun babi tersebut kemudian mati terkena penyakit. Tidak ada pemberitahuan bahwa kalau babi itu mati harus diganti,” jelas Kepala Dusus Satar Terang Desa Golosepang.
Ia menguraikan lebih lanjut bahwa hampir sebagian besar babi dari anggota Kelompok Sumber Baru yang berjumlah 20 orang tewas terkena penyakit serupa tanpa diganti sama sekali. (Ar/hms)
Bapak Blasius Ndendo, salah satu anggota kelompok Sumber Baru Desa Golo Sepang
Sambung Terus
“Dalam musyawarah awal kelompok telah disepakati oleh setiap anggota
bahwa babi Anggur Merah harus tetap ada. Mau mati atau dijual,
Harus ada penggantinya.”
al ini ditegaskan oleh Frans Samson, Ketua Kelompok Tungku Mose
H
Desa Golo Sepang Kecamatan Boleng Kabupaten Manggarai Barat. Saat ditemui ditemui tim buletin di kediamannya.
Frans menjelaskan bahwa anggota kelompok Tungku Mose berjumlah 16 orang. Dana yang Anggur Merah yang masuk dalam rekening kelompok sebesar Rp. 15.740.000 pada tahun 2011. Dana tersebut dibagi habis merata ke seluruh anggota kelompok. Jadi Setiap anggota menerima uang Rp. 983.750,-.
“Bagaimanapun caranya, dana tersebut harus bisa mendatangkan 3 ekor babi kecil. Dana tersebut sangat bermanfaat karena sebagian besar anggota kelompok tidak memiliki ternak babi,” jelas ayah 6 orang anak ini kepada tim buletin Anggur Merah.
Menurut penuturan Frans, pada saat dicairkan tidak ada penjelasan terperinci tentang dana tersebut. Hanya
dijelaskan bahwa dana tersebut adalah dana bergulir, namun tanpa disertai penjelasan model pergulirannya bagaimana.
“Kami memahami perguliran itu secara sederhana saja dalam artian sambung terus di anggota kelompok. Kalau babinya sudah dijual, uang
penjualan dipakai untuk membeli babi baru, pelihara lagi kemudian dijual lagi. Begitulah proses yang dijalani dalam kelompok kami. Hanya sebagian kecil saja anggota kelompok kami yang melakukan proses pengembangbiakan babi, umumnya anggota kelompok lebih tertarik pada proses penggemukan karena lebih menguntungkan,” jelas Frans dengan penuh semangat.
Lebih jauh Frans
menguraikan strategi yang ditempuhnya dalam
meningkatkan soliditas dan solidaritas antara sesama anggota kelompok. “Setiap akhir bulan, kami selalu mengadakan pertemuan rutin dari rumah ke rumah anggota kelompok untuk melakukan evaluasi. Pertemuan ini juga dijadikan sebagai sarana untuk mengetahui perkembangan peternakan babi anggota. Setiap anggota wajib untuk menyerahkan iuran kelompok sebesar Rp. 5.000,- setiap bulannya,” kata Frans sambil memperlihatkan babi-babi piaraaanya.
Frans Samson, Ketua Kelompok Tungku Musi