• Tidak ada hasil yang ditemukan

S MBS 0902682 Chapter (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "S MBS 0902682 Chapter (1)"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUA N

1.1 Latar Belakang Penelitian

Kualitas dan kuantitas pendidikan sampai saat ini masih tetap merupakan

suatu masalah yang paling menonjol dalam setiap usaha pembaharuan sistem

pendidikan nasional. Kedua masalah tersebut sulit ditangani secara simultan sebab

dalam upaya meningkatkan kualitas, masalah kuantitas terabaikan, demikian pula

sebaliknya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila masalah pendidikan tidak

pernah tuntas dimanapun, termasuk di Negara yang sudah maju sekalipun.

Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha membudayakan manusia atau

memanusiakan manusia. Manusia itu sendiri adalah pribadi yang kompleks sehingga

sulit dipelajari secara tuntas. Oleh karena itu, masalah pendidikan tak akan pernah

selesai, sebab hakikat manusia itu sendiri selalu berkembang mengikuti dinamika

kehidupanya.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1

ayat 1 (2003:3) dijelaskan mengenai pengertian pendidikan sebagai berikut :

(2)

Pengertian tersebut menunjukan bahwa pendidikan di Indonesia diharapkan

mampu mengarahkan peserta didik agar bisa mengembangkan potensi dirinya.

Potensi tersebut terukur dari kemampuan peserta didik untuk memiliki kekuatan

spiritual dalam kehidupan religiusnya, pengendalian diri dalam kehidupan

masyarakat, kepribadian kokoh, kecerdasan intelegensi, akhlak mulia dan life skill

yang mampu memberi manfaat bagi dirinya dan masyarakat sekitarnya atau dalam hal

ini peserta didik harus memiliki kemampuan yang professional sesuai bidang ilmu

yang dipelajarinya.

Lembaga pendidikan dilaksanakan melalui tingkatan yang

bermacam-macam. Tingkatan tersebut dibedakan menjadi tiga yaitu paling dasar, menengah dan

tinggi. Tingkatan paling dasar meliputi Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah

(MI) atau yang sederajat. Tingkatan menengah yaitu Sekolah Menengah Pertama

(SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS) atau yang sederajat. Tingkatan yang lebih

tinggi dari menengah yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA)

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau bentuk lain yang sederajat.

Salah satu pendidikan pada tingkat menengah adalah Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) yang merupakan pendidikan kejuruan berhubungan dengan

mempersiapkan seseorang untuk bekerja dan dengan memperbaiki pelatihan potensi

tenaga kerja. Hal ini meliputi berbagai bentuk pendidikan, pelatihan, atau pelatihan

lebih lanjut yang dibentuk untuk mempersiapkan seseorang untuk memasuki atau

(3)

kejuruan (SMK) adalah bagian dari sistem pendidikan nasional yang bertujuan

mempersiapkan tenaga yang memiliki keterampilan dan pengetahuan sesuai dengan

kebutuhan persyaratan lapangan kerja dan mampu mengembangkan potensi dirinya

dalam mengadopsi dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Berdasarkan penjelasan tersebut maka siswa Sekolah Menengah Kejuruan

(SMK) disiapkan agar dapat bekerja mandiri atau mengisi lapangan pekerjaan secara

ulet dan gigih dengan dibekali Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) untuk

mengembangkan diri sendiri dalam bidang keahlian yang diminati. Salah satu

Sekolah Menengah Kejuruan di kota Cimahi adalah SMK Sangkuriang 1 Cimahi

merupakan salah satu SMK yang diharapkan menciptakan peserta didiknya untuk

dapat bekerja secara terampil, berdisiplin dan berkepribadian sehingga mampu

mengahadapi modernisasi, kompetensi dan globalisasi. Salah satu untuk menghadapi

modernisasi, kompetensi dan globalisasi sekarang ini diperoleh dari kegiatan belajar

siswa.

Belajar merupakan unsur utama dalam proses pendidikan untuk mencapai

suatu keberhasilan. Keberhasilan atau tidaknya suatu proses pendidikan dapat dilihat

atau diukur melalui nilai-nilai yang diperoleh para peserta didik. Untuk mencapai

keberhasilan tersebut tidak diperoleh secara lancar tetapi terdapat masalah yaitu

prestasi belajar yang berubah-ubah dan bahkan menurun. Hal tersebut terjadi pada

siswa pemasaran 1 dan pemasaran 2 SMK Sangkuriang 1 Cimahi terdapat pada Tabel

(4)

TABEL 1.1

HASIL UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP KELAS PEMASARAN 1 DAN PEMASARAN 2

No Rentang Nilai KKM XI Pemasaran 1 XI Pemasaran 2 1 Lebih dari 72 38,24% ( 13 siswa ) 70,58% (24 siswa) 2 Kurang dari 72 61,76% (21 siswa ) 29,42%(10 siswa) Jumlah 100% (34 siswa) 100% (34 siswa)

(Sumber: Nilai Rata-Rata Ulangan Harian Peserta didik Semester 2, Juni 2012)

Tabel 1.1 menunjukkan hasil pencapaian yang diperoleh siswa pada saat tes

sumatif akhir untuk mata pelajaran Produktif Pemasaran Standar Kompetensi

Mempersiapkan dana Mengoperasikan Peralatan Transaksi di Lokasi Penjualan. Dari

kedua kelas pencapaian KKM nya bermasalah karena kurang dari standar yang sudah

ditetapkan. Kelas yang memiliki pencapaian KKM terendah berada di kelas XI

Pemasaran 1 dengan persentase 61,76% peserta didik yang tidak tuntas, sedangkan

kelas yang memiliki pencapaian KKM yang lebih baik ada pada kelas XI Pemasaran

2 dengan persentase 29,42% siswa yang tidak tuntas. Dengan demikian, rendahnya

nilai pencapaian siswa dalam tes sumatif akhir menjadi salah satu indikasi adanya

masalah dalam prestasi belajar, terutama pada kelas XI Pemasaran 1 yang memiliki

jumlah siswa terbanyak yang nilainya tidak tuntas dibanding XI Pemasaran 2. Berikut

rincian data sebaran nilai UAS peserta didik pada kelas XI Pemasaran 1 dan

(5)

TABEL 1.2

RINCIAN SEBARAN NILAI TES SUMATIF UJIAN AKHIR SEMESTER 3 MATA PELAJARAN MEMPERSIAPKAN DAN MENGOPERASIKAN PERALATAN TRANSAKSI DI LOKASI PENJUALAN SISWA KELAS XI

PEMASARAN 1 DAN 2

Rentang Nilai Pemasaran 1 Pemasaran 2

Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase

82-91 2 5,88% 0 0%

72-81 11 32,35% 24 70,58%

71-61 20 58,82% 10 29,41%

Dibawah 61 1 2,94% 0 0%

Jumlah 34 100% 34 100%

(Sumber: Nilai Rata-Rata Ulangan Harian Peserta didik Semester 3, Desember 2012)

Pada data sebelumnya menunjukan prestasi belajar siswa kelas XI Pemasaran

1 dan 2 pada semester ganjil yang mengalami nilai KKM yang rendah. Pada

Pemasaran 1 dari 34 peserta didik, 13 orang yang lulus melewati batas KKM, 20

orang atau 58,82% berada pada nilai yang hampir mendekati batas KKM, dan 1 orang

atau 2,94% jauh dari KKM yang diharapkan. Dengan demikian siswa kelas XI

Pemasaran 1 sebanyak 61,76% peserta didik berada dibawah KKM yang ditentukan.

Sedangkan prestasi belajar siswa pada kelas XI Pemasaran 2 dari 34 siswa, 10 siswa

atau 29,41% siswa hampir mendekati nilai KKM dan 24 siswa diatas nilai KKM.

Dengan demikian siswa kelas XI Pemasaran 2 sebanyak 70,58% berada di atas KKM.

Pada data berikut terlihat, rata-rata prestasi belajar peserta didik yang diperoleh dari

hasil nilai ulangan harian per bab kompetensi. Berikut data selengkapnya pada tabel

(6)

TABEL 1.3

NILAI AKUMULASI ULANGAN HARIAN MATA PELAJARAN

MEMPERSIAPKAN DAN MENGOPERASIKAN PERALATAN TRANSAKSI DI LOKASI PENJUALAN SISWA KELAS XI PEMASARAN 1 DAN 2

Rentang Nilai Pemasaran 1 Pemasaran 2

Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase

92-100 0 0% 0 0%

(Sumber: Nilai Ulangan Harian Kompetensi Bab Mempersiapkan dan Mengoperasikan

Peralatan Transaksi di Lokasi Penjualan Semester 4, April 2013)

Data tersebut merupakan nilai akumulasi ulangan harian mata pelajaran

mempersiapkan peralatan di lokasi penjualan. Pada kelas XI pemasaran 1 yang

mendapatkan nilai di atas KKM sebanyak 28 siswa atau 82,35 % sedangkan siswa

yang mendapat nilai dibawah KKM yaitu sebanyak 5 siswa atau 14,7%. Pada kelas

XI Pemasaran 2 yang mendapat nilai diatas KKM yaitu sebanyak 32 siswa atau

91,11% dan yang mendapat nilai dibawah KKM sebanyak 2 siswa atau 5,88%.

Berdasarkan penjabaran sebelumnya maka dapat dilihat terdapat masalah pada

proses pembelajaran yang ditunjukkan oleh penurunan prestasi belajar pada ulangan

akhir semester. Untuk mengetahui apa yang menyebabkan penurunan prestasi belajar,

maka perlu mengadakan identifikasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi

prestasi belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya,

(7)

”Faktor intern yaitu adalah faktor yang berasal dari dalam individu sedangkan faktor

ekstern adalah faktor yang berasal dari luar individu” (Slameto,2010:54).

Faktor intern terdiri dari faktor jasmaniah, faktor psikologis dan kelelahan.

Faktor jasmani meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh. Faktor psikologis meliputi

intelegensi, minat, bakat, kematangan, kesiapan dan kelelahan. Sedangkan faktor

ekstern terdiri dari faktor keluarga meliputi cara orang tua mendidik, relasi antara

anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga. Faktor

sekolah meliputi guru, metode pembelajaran, kurikulum, relasi guru dengan peserta

didik, hubungan peserta didik dengan peserta didik, disiplin sekolah, standar

pengajaran, keadaan gedung, dan tugas

Berdasarkan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut

salah satu faktor yang sangat penting adalah guru. Peran guru dalam mempengaruhi

prestasi belajar siswa tidak terlepas dari kinerja guru tersebut. Kinerja guru dapat

dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi atau kriteria kompetensi yang harus

dimiliki oleh setiap guru. Undang-Undang Republik Indonesia No.14 tahun 2005

tentang guru dan dosen pasal 10 ayat 1 menyebutkan ”kompetensi guru meliputi

kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi

profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.”

Kompetensi kepribadian merupakan karakteristik pribadi yang harus dimiliki

oleh guru sebagai individu yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, arif dan

(8)

teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara objektif mengevaluasi kinerja

sendiri dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari

masyarakat. Guru memiliki kompetensi sosial digunakan untuk berkomunikasi lisan,

tulis dan atau isyarat secara santun; menggunakan teknologi komunikasi dan

informasi secara fungsional serta bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga

kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik.

Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai

pengetahuan bidang ilmu, teknologi dan /atau seni yang diampunya. Guru harus

menguasai materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi

program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang

akan diampu dan konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi atau seni relevan

yang secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan,

mata pelajaran, dan atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu.

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan

pembelajaran peserta didik, yang meliputi, Pertama pemahaman terhadap peserta

didik. Sedikitnya terdapat empat hal yang harus dipahami guru dari peserta didiknya,

yaitu tingkat kecerdasan, kreativitas, cacat fisik dan perkembangan kognitif.

Kedua, yaitu perencanaan pembelajaran dapat diartikan sebagai proses

penyusunan materi pelajaran, penggunaan media, pendekatan dan metode, serta

(9)

mencapai tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan pembelajaran merupakan salah

satu komponen pedagogik yang harus dimiliki oleh guru yang akan melaksanakan

pembelajaran.

Ketiga, pelaksanaan pembelajaran di kelas adalah inti dari penyelenggaraan

pendidikan dengan ditandai oleh adanya :

1. Pengelolaan kelas merupakan kemampuan menciptakan suasana kondusif

di kelas guna mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan

adalah tuntutan bagi seorang guru dalam pengelolaan kelas

2. Media merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran. Sebagai

komponen, media hendaknya merupakan bagian integral dan harus sesuai

dengan proses pembelajaran secara menyeluruh. Ujung akhir dari

pemilihan media adalah penggunaan media tersebut dalam kegiatan

pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dapat berinteraksi dengan

media yang guru pilih seperti cetak, media audio, media audio visual.

Sedangkan yang dimaksud dengan sumber belajar seperti buku pedoman

dan literatur lainnya.

3. Penggunaan model atau metode pembelajaran penting dalam

melaksanakan proses pembelajaran. Model pembelajaran merupakan

acuan atau petunjuk sebagai rencana yang digunakan pengajar yang

(10)

sedangkan metode pembelajaran merupakan prosedur, urutan

langkah-langkah dan cara guru dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Keempat, evaluasi prestasi belajar dilakukan untuk mengetahui perubahan

perilaku dan pembentukan kompetensi peserta didik. Kelima, pengembangan peserta

didik dilakukan untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya melalui

berbagai cara antara lain ekstrakurikuler, pengayaan dan bimbingan dan konseling.

Semua unsur tersebut di atas harus dimiliki dan dilaksanakan oleh guru.

Salah satunya adalah cara pemilihan strategi/metode pembelajaran. Oleh karena itu

sangatlah penting seorang guru memilih strategi pembelajaran yang tepat pada setiap

pembelajaran berlangsung. Strategi merupakan usaha untuk memperoleh kesuksesan

dan keberhasilan dalam mencapai tujuan. Strategi pembelajaran dapat diartikan

sebagai pendekatan, dengan mengintegrasikan urutan kegiatan, cara

mengorganisasikan materi pelajaran dan pembelajar, peralatan dan bahan serta waktu

yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk mencapai tujuan pembelajaran

yang telah ditentukan secara efektif dan efisien (Budiwati dan Permana, 2010:72).

Menurut J.J Hasibuddin dan Moedjiono (2002:3) strategi pembelajaran adalah

pola umum perbuatan guru-murid di dalam mewujudkan kegiatan pembelajaran.

Pengertian strategi dalam hal ini menunjuk kepada karakteristik abstrak dari rentetan

perbuatan guru-murid di dalam peristiwa pembelajaran. Strategi pada dasarnya masih

bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu

(11)

bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus

dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran yang dapat dicapai secara efektif

dan efisien. Strategi dapat diimplementasikan dalam beberapa metode.

Macam-macam strategi yang telah digunakan sekarang sangat beranekaragam.

Berdasarkan informasi yang yang peneliti peroleh didapatkan ketika melakukan

prapenelitian bahwa strategi pembelajaran yang sering digunakan oleh guru produktif

di SMK Sangkuriang 1 Cimahi adalah strategi pembelajaran biasa.

Guru hanya sekedar memberi catatan saja dan ketika masuk guru hanya

memberikan metode yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah ceramah

(guru menjelaskan materi), tanya jawab dan penugasan berupa pemberian soal. Siswa

lebih berperan sebagai penerima yaitu mendengarkan, mencatat dan menjawab soal

yang diberikan guru. Akibat dari semua itu siswa hanya berfikir bagaimana caranya

agar dapat mengalahkan siswa lainnya di kelas. Dengan kondisi suasana tersebut

siswa akan menjadi bosan, jenuh. Sebenarnya terdapat metode pembelajaran lain

yang dapat diterapkan pada mata pelajaran produktif pemasaran sehingga tercipta

kondisi belajar yang lebih menyenangkan dan dapat meningkatkan hasil belajar

siswa.

Melihat kondisi demikian, perlu adanya penggunaan strategi pembelajaran

yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa dan menjadikan proses belajar

mengajar (PBM) optimal agar tujuan pembelajaran dapat tercapa. Penggunaan

(12)

mengungkapkan salah satu alternative untuk pencapaian tujuan pembelajaran adalah

dengan menggunakan strategi pembelajaran aktif (active learning) yang berbasis

student centered.

Menurut Silberman (2006:xxii) belajar aktif merupakan sebuah kesatuan

sumber kumpulan strategi-strategi komprehensi. Belajar aktif meliputi berbagai cara

untuk membuat peserta didik aktif sejak awal melalui aktivitas-aktivitas yang

membangun kerja kelompok dan dalam waktu singkat membuat mereka berpikit

tentang materi pelajaran. Silberman (2006) menuliskan 101 metode pembelajaran

yang termasuk ke dalam strategi pembelajaran aktif (active learning), lima

diantaranya digunakan dalam prosedur penelitian ini. Pertama, dengan menerapkan

metode diskusi. Kedua, dengan menerapkan jigsaw. Ketiga, dengan menerapkan

metode tutor sebaya. Keempat, dengan menerapkan group to group dan yang kelima,

dengan menerapkan metode simulasi. Kemudian kelima metode tersebut

dikolaborasikan untuk menghasilkan PBM yang dinamis sehingga memunculkan

proses pembelajaran yang efektif. Seperti halnya menurut Makmun (2004:155)

bahwa guru selalu mengusahakan terciptanya situasi yang tepat dalam mengajar

sehingga memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa, dengan

mengerahkan segala sumber dan menggunakan metode pembelajaran yang tepat.

Melalui strategi pembelajaran aktif (active learning), siswa sebagai peserta

didik diharapkan dapat lebih mudah memahami materi yang disampaikan serta

(13)

mengorganisasi bahan, menyampaikan konsep, serta berdiskusi untuk memecahkan

masalah.

Berdasarkan uraian tersebut untuk mengetahui keefektifan strategi

pembelajaran aktif (active learning) maka perlu dilakukan penelitian tentang

”Pengaruh Strategi Pembelajaran Aktif (Active learning) Terhadap Prestasi

belajar Peserta didik Pada Mata Pelajaran Produktif Pemasaran“.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan permasalahan yang dikemukakan diatas, pandangan umum yang

masih dianut guru dalam proses belajar mengajar sampai sekarang ialah bahwa dalam

proses belajar mengajar, pengetahuan dialihkan guru ke siswa (transmisi). Pola

pengembangan ini menyebabkan aktivitas siswa dalam proses belajar pasif. Sehingga

proses pembelajaran tidak merangsang siswa, kreatif dan memilih kemampuan

kerjasama dalam kelompok. Fenomena kegiatan pendidikan masih jauh dari yang

diharapkan maka untuk menciptakan pendidikan yang baik, sudah saatnya guru harus

menguasai strategi pembelajaran yang dapat mengembangkan keterampilan berpikir

siswa karena peran seorang guru sangatlah penting dalam meningkatkan kompetensi

siswa.

Oleh karena itu, guru harus memikirkan dan membuat perencanaan secara

skematis dalam pengajaran yang dilaksanakannya untuk meningkatkan kesempatan

(14)

mengajar (teaching) dan mendidik, jika diamati secara seksama strategi-strategi

pembelajaran yang dikembangkan oleh guru masih berpusat pada guru sebagai

penyampai materi (Yushepa, 2002:20).

Kecenderungan guru otoriter dan instruktif menjadikan komunikasi satu arah.

Disini guru yang berperan aktif sementara siswa pasif hanya menerima materi

pelajaran yang disampaikan oleh guru, ini berarti guru kurang memberi peluang dan

kebebasan kepada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya sehingga siswa menjadi

pasif dan situasi ini bertentangan dengan siswa belajar aktif.

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka yang menjadi tema

sentral dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

Kemungkinan menurunya prestasi belajar siswa diakibatkan karena penggunaan strategi pembelajaran yang sama, maka SMK sangkuriang 1 Cimahi perlu melakukan strategi pembelajaran yang bervariasi untuk meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran produktif pemasaran

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka masalah tersebut dirumuskan

sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran pelaksanaan strategi pembelajaran aktif pada mata pelajaran

produktif pemasaran di kelas XI Pemasaran 1 SMK Sangkuriang 1 Cimahi.

2. Bagaimana gambaran prestasi belajar siswa XI Pemasaran 1 pada mata pelajaran

(15)

3. Bagaimana pengaruh penggunaan strategi pembelajaran aktif terhadap prestasi

belajar siswa pada mata pelajaran produktif pemasaran di kelas XI Pemasaran 1

SMK Sangkuriang 1 Cimahi.

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengungkapkan data dan informasi yang

berhubungan dengan pengaruh penerapan strategi pembelajaran aktif terhadap hasil

belajar siswadengan tujuan untuk memperoleh hasil temuan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan strategi pembelajaran aktif pada mata pelajaran produktif pemasaran

di kelas XI Pemasaran 1 SMK Sangkuriang 1 Cimahi .

2. Gambaran prestasi belajar siswa XI Pemasaran 1 pada mata pelajaran produktif

pemasaran di SMK Sangkuriang 1 Cimahi.

3. Pengaruh penggunaan strategi pembelajaran aktif terhadap prestasi belajar siswa

pada mata pelajaran produktif pemasaran di kelas XI Pemasaran 1 SMK

Sangkuriang 1 Cimahi.

1.5 Kegunaan Penelitian

Berdasarkan data yang diperoleh dalam penelitian ini diharapkan dapat

memberikan manfaat, diantaranya :

(16)

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memperkaya tambahan

pustaka bagi kegiatan ilmiah mengenai strategi pembelajaran aktif sebagai upaya

untuk meningkatkan prestasi belajar.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi

SMK Sangkuriang 1 Cimahi mengenai strategi pembelajaran aktif terhadap

prestasi belajar, sehingga bisa dijadikan informasi serta masukan terhadap

kebijakan sekolah dalam merancang strategi pembelajaran untuk meningkatkan

Referensi

Dokumen terkait

Hady Siti Hadijah, S.Pd, M.Si. Masalah yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah belum optimalnya prestasi belajarpara siswa SMK Sangkuriang 1 Cimahi, khususnya

PENGARUH KEMANDIRIAN BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PRODUKTIF SISWA KELAS XI PADA PAKET KEAHLIAN ADMINISTRASI PERKANTORAN DI SMK SANGKURIANG 1 CIMAHI..

Tidak menutup kemungkinan penurunan produktivitas PT Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Pematang Kiwah Bandar Lampung di sebabkan oleh kurangnya pemeliharaan yang

PENGARUH DISIPLIN BELAJAR DAN KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR KOGNITIF SISWA JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN KELAS XI DI SMK SANGKURIANG 1 KOTA CIMAHI Universitas

PENGARUH DISIPLIN BELAJAR DAN KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR KOGNITIF SISWA JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN KELAS XI DI SMK SANGKURIANG 1 KOTA CIMAHI Universitas

PENGARUH DISIPLIN BELAJAR DAN KONSEP DIRI TERHADAP PRESTASI BELAJAR KOGNITIF SISWA JURUSAN ADMINISTRASI PERKANTORAN KELAS XI DI SMK SANGKURIANG 1 KOTA CIMAHI Universitas

PENGARUH IKLIM ORGANISASI TERHADAP KREATIVITAS GURU DI SMK SANGKURIANG 1 CIMAHI Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Alasan peneliti memilih metode ini adalah karena peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan Antara prestasi belajar siswa yang menggunakan strategi pembelajaran aktif