44 BAB III
OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian
Objek penelitian adalah karateristik yang melekat pada subjek penelitian (Nuryaman & Christina, 2015). Objek dalam penelitian ini adalah penagihan pajak dengan surat teguran dan surat paksa. Variabel independen dalam penelitian ini adalah surat teguran dan surat paksa, sedangkan variabel dependennya adalah penerimaan pajak. Subyek dalam penelitian ini adalah KPP Pratama Bandung Cibeunying selama periode 2014-2017.
3.2 Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan cara penelitian yang digunakan untuk mendapatkan data untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Sugiyono (2012:03) mendefinisikan bahwa:
“Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.”
Dalam penelitian ini desain penelitian yang digunakan adalah eksplanatori. Menurut Sugiyono (2012:21) penelitian eksplanatori adalah sebagai berikut:
“Penelitian eksplanatori merupakan penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variable-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variable dengan yang lain.”
Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji hipotesis dengan menggunakan perhitungan statistik. Penelitian ini digunakan untuk menguji pengaruh variable X1, X2, terhadap Y yang diteliti.
3.2.1 Desain Penelitian 3.2.1.1 Populasi Penelitian
Menurut Sugiyono (2013:215) menyatakan bahwa populasi adalah sebagai berikut:
“Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.”
Berdasarkan pengertian di atas, yang menjadi populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh surat teguran dan surat paksa yang ditagih dan dilunasi oleh wajib pajak yang memiliki tunggakan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cibeunying periode 2014-2017.
3.2.1.2 Sampel Penelitian
Menurut Sugiyono (2013:215) menyatakan bahwa sampel adalah sebagai berikut:
“Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.”
Teknik sampling dalam penelitian ini yaitu menggunakan non probability sampling. Menurut Sugiyono (2013:215), non probability sampling adalah teknik pengumpulan sampel yang tidak memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Dalam penelitian ini teknik non probability sampling yaitu purposive sampling. Purposive sampling
adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Beberapa kriteria yang harus dipenuhi dalam pemilihan sampel penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cibeunying menerbitkan surat teguran kepada wajib pajak yang memiliki tunggakan pada periode 2014-2017.
2. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cibeunying menerbitkan surat paksa kepada wajib pajak yang memiliki tunggakan pada periode 2014-2017. 3. Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cibeunying menerima pelunasan
tunggakan pajak dari wajib pajak atas surat paksa yang diterbitkan pada periode 2014-2017.
3.3 Metode Pengumpulan Data 3.3.1 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder secara
time series selama 48 bulan terhitung dari Januari 2014 sampai Desember 2017. Data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan oleh lembaga pengumpulan data dan dipublikasikan kepada masyarakat pengguna data (Sekaran, 2006). Sedangkan menurut Damor Gujarati (2003:25) time series adalah serangkaian nilai pengamatan dari suatu variabel dikumpulkan berdasarkan waktu yang berbeda-beda (hari, minggu, bulan, tahun). Pengumpulan data sekunder dalam penelitian ini dengan meminta jumlah dan data penerbitan surat teguran, data penerbitan surat paksa, dan data penerimaan pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bandung Cibeunying periode 2014-2017.
3.3.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Studi Kepustakaan (Library Research)
Penelitian kepustakaan (library research) yaitu pengumpulan data sekunder
dengan mengolah, mencari, dan mempelajari bahan-bahan dan
membandingkan dengan beberapa sumber kepustakaan, seperti buku literature, jurnal, majalah-majalah, serta referensi lainnya yang relevan dengan permasalahan yang akan dibahas sebagai landasan teoritis penelitian lapangan.
2. Studi Dokumentasi
Sedangkan data penelitian yang dikumpulkan dengan metode dokumentasi merupakan proses perolehan dokumen dengan mengumpulkan dan data yang diperlukan. Dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah surat teguran dan surat paksa yang ditagih kepada wajib pajak yang memiliki tunggakan pajak pada periode 2014-2017.
3. Studi Internet
Studi internet dilakukan untuk mendapatkan data-data pendukung yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian.
3.4 Operasioalisasi Variabel Penelitian
Menurut Narimawati (2010:31) operasionalisasi variabel tentunya diperlukan untuk menentukan jenis, indikator, serta skala dari variabel-variabel yang terkait di dalam penelitian, sehingga pengujian hipotesis dengan alat bantu statistik dapat dilakukan secara benar sesuai dengan judul penelitian.
Sesuai dengan judul penelitian, yaitu “Pengaruh penerbitan surat teguran dan surat paksa terhadap penerimaan pajak”, maka terdapat dua variabel dalam penelitian. Variabel-variabel tersebut adalah :
1. Variabel Independen (X) atau variabel bebas merupaka variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbul variabel dependen (terikat).
X1: Penerbitan Surat Teguran X2: Penerbitan Surat Paksa
2. Variabel Dependen (Y) atau variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel independen (bebas).
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah : Y: Penerimaan Pajak
Agar penelitian ini dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dipahami berbagai unsur-unsur yang menjadi dasar dari suatu penelitian ilmiah, maka operasionalisasi variabel penelitian dapat disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Konsep Indikator Skala
Pengukuran Surat
Teguran (X1)
Surat Teguran, Surat Peringatan, atau surat sejenis lainnya adalah surat yang ditebitkan
oleh pejabat untuk
menegur atau
memperingatkan kepada
Wajib Pajak untuk
melunasi utang pajaknya (UU Nomor 19 Tahun
Jumlah nominal surat teguran yang diterbitkan pada tahun 2014-2017, dengan cara:
(Andrianto Saputra, 2012)
2000 Pasal 1 Ayat 10 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa).
Surat Paksa (X2)
Surat Paksa adalah surat perintah membayar pajak
dan biaya penagihan
pajak. Surat Paksa
mempunyai kekuatan
eksekutorial dan
kedudukan hukum yang sama dengan putusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan
hukum tetap (Mardiasmo 2011:127).
Jumlah nominal surat paksa yang diterbitkan pada tahun 2014-2017, dengan cara: (Andrianto Saputra, 2012) Rasio Penerimaan Pajak (Y)
Penerimaan pajak adalah sumber penerimaan yang dapat diperoleh secara terus–menerus dan dapat dikembangkan secara optimal sesuai kebutuhan pemerintah serta kondisi masyarakat (John
Hutagaol 2007:325).
(Andrianto Saputra, 2012)
3.5 Teknik Analisis Data
Uji statistik yang digunakan pada penelitian ini digunakan untuk mengatahui lebih jauh mengenai apakah surat teguran dan surat paksa berpengaruh terhadap penerimaan pajak pada KPP Pratama Bandung Cibeunying periode 2014-2017. Untuk mempermudah pengolahan data, maka peneliti menggunakan bantuan Software Eviews 8 agar data yang dihasilkan lebih cepat dan tepat.
3.5.1 Analisis Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif adalah statistik yang memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari rata-rata, standar deviasi, variance, maksimum, minimum, kurtosis, skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali, 2011:19). Di dalam penelitian ini, penulis akan mendeskripsikan kondisi surat teguran, surat paksa, dan penerimaan pajak pada KPP Pratama Bandung Cibeunying periode 2011-2017.
3.5.2 Pengujian Asumsi Klasik
Sebelum melakukan analisis regresi linier berganda terdapat beberapa uji asumsi klasik yang terlebih dahulu harus dipenuhi. Uji asumsi klasik dari penelitian ini terdiri dari uji normalitas, uji multikolinearitas, uji autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas. Pengujian asumsi klasik dijelaskan sebagai berikut :
3.5.2.1 Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t
dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal, jika asumsi klasik ini dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel (Ghozali, 2011). Data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal. Pengujian normalitas dalam penelitian ini menggunakan software Eviews.
Dalam software Eviews normalitas sebuah data dapat dilihat dari gambar histogram, namun seringkali polanya tidak mengikuti bentuk kurva normal, sehingga sulit disimpulkan. Lebih mudah bila melihat Jarque-Bera (J-B) dan Probabilitasnya. Kedua angka ini bersifat saling mendukung. Jarque-Bera adalah uji statistik untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal (Winarno, 2015). Terdapat dua cara untuk melihat apakah data berdistribusi normal, yaitu :
a. Bila nilai J-B tidak signifikan (lebih kecil dari chi square tabel), maka data berdistribusi normal.
b. Bila probabilitas lebih besar dari 5% (tingkat signifikansi), maka data berdistribusi normal.
3.5.2.2 Uji Multikolinearitas
Pengujian ini bertujuan untuk menguji apakah di dalam model analisis regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen (Ghozali, 2011:160). Multikolinearitas dapat diketahui dengan cara menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen, dapat dilihat dari :
1. Tolerance value
2. Nilai variance inflation factor (VIF)
Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel bebas manakah yang dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Sebagai dasar acuannya dapat disimpulkan :
1. Jika nilai tolerance > 0,1 dan nilai VIF < 10, maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
2. Jika nilai tolerance < 0,1 dan nilai VIF > 10, maka dapat disimpulkan bahwa ada multikolinearitas antar variabel independen dalam model regresi.
3.5.2.3 Uji Heteroskidastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan lain tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2011). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan beberapa cara. Uji heteroskedastisitas dalam penelitian ini dilakukan menggunakan Breusch-Pagan-Godfrey.
Uji Breusch-Pagan-Godfrey dilakukan dengan meregresikan residual kuadrat sebagai variabel dependen dengan variabel dependen ditambah dengan kuadrat variabel independen, kemudian ditambahkan lagi dengan perkalian dua variabel independen. Prosedur pengujian dilakukan dengan hipotesis sebagai berikut :
Ho : Tidak ada heteroskedastisitas H1 : Ada heteroskedastisitas
Pada tingkat signifikansi 0,05 apabila p-value obs*-square < 0,05 maka H1 ditolak, sebaliknya apabila p-value obs*-square > 0,05 maka Ho diterima sehingga tidak terdapat masalah heteroskedastisitas.
3.5.2.4 Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi.
Cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, yaitu dengan Uji Durbin – Watson (DW Test). Pengujian autokorelasi dapat dilakukan dengan membandingkan nilai statistik hitung Durbin-Watson pada perhitungan regresi dengan statistik tabel Durbin-Watson pada tabel
.
Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi dengan melihat beberapa kriteria berikut :Tabel 3.2
Kriteria Pengambilan Keputusan Uji Durbin-Watson
Hipotesis Jika Keputusan
Tidak ada autokorelasi positif 0<d<dL Tolak
Tidak ada autokorelasi positif DL≤d≤dU No decision
Tidak ada autokorelasi negative 4-dL<d<4 Tolak Tidak ada autokorelasi negative 4-dU≤d≤4-dL No decision Tidak ada autokorelasi positif
atau negative
DU<d<4-dU Tidak ditolak
Sumber : Ghozali, 2012
3.5.3 Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi berganda bertujuan untuk menganalisis pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Metode analisis statistik dipilih karena penelitian dirancang untuk meneliti variabel - variabel independen yang berpengaruh terhadap variabel dependen (Ghozali, 2012). Persamaan regresi linier berganda yang akan dibentuk adalah:
Keterangan:
Y : Realisasi Penerimaan Pajak
α : konstanta
X1 : Surat Teguran
X2 : Surat Teguran
: koefisien regresi
e : eror
3.5.4 Uji Kecocokan Model
3.5.4.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien determinasi (R2) pada intinya bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai (R2) yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Imam Ghozali, 2012:97). Sedangkan rumus untuk menghitung koefisien determinasi menurut Sugiyono (2012:257) adalah sebagai berikut :
Keterangan :
KD : Koefisien Determinasi
R2 : Koefisien korelasi yang dikuadratkan
3.5.5 Pengujian Hipotesis
3.5.5.1 Uji Hipotesis Parsial (Uji t)
Menurut Ghozali (2013:98), mengemukakan definisi terkait uji t (t-test) yaitu sebagai berikut :
“Uji t (t-test) pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.”
Dalam penelitian ini Hipotesis diuji secara parsial, dengan melakukan uji t untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat. Hipotesisnya sebagai berikut :
1. Pengujian Hipotesis Parsial X1
H0 : β1 = 0, artinya, secara parsial penerbitan surat teguran tidak berpengaruh
secara parsial terhadap penerimaan pajak
Ha : β1 ≠ 0, artinya, secara parsial penerbitan surat teguran berpengaruh secara
2. Pengujian Hipotesis Parsial X2
H0 : β2 = 0, artinya, secara parsial penerbitan surat paksa tidak berpengaruh secara
parsial terhadap penerimaan pajak
Ha : β2 ≠ 0, artinya, secara parsial penerbitan surat paksa berpengaruh secara
parsial terhadap penerimaan pajak
Mengenai pembuktian hipotesis teoritis dengan menggunakan hipotesis statistik dengan ketentuan penukuran sebagai berikut :
1. Pengujian dilakukan dengan menetapkan level signifikansi 95% atau α = error 5% (0.05).
Jika nilai signifikansi lebih besar dari 0.05 melebihi dari nilai error, maka pengujian tidak dapat dilakukan.
2. Pengujian dilakukan dengan menetapkan level signifikansi 95% atau α = error 5% (0,05).
Jika nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 kurang dari nilai error, maka pengujian dapat dilakukan.
Uji t adalah uji hipotesis secara parsial dengan cara membandingkan sebagai berikut :
t hitung < t tabel H0 tidak berhasil ditolak, H1 ditolak
3.5.5.2 Uji Hipotesis Simultan (Uji F)
Uji F merupakan penguji hubungan regresi secara simultan yang bertujuan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Hipotesis yang akan diuji dalam penelitian ini berkaitan denga nada atau tidaknya pengaruh secara simultan variabel independen mempengaruhi variabel dependen. Dimana hipotesis nol (H0), yaitu hipotesis tentang tidak adanya pengaruh, umumnya diformulasikan untuk ditolak. Sedangkan hipotesis alternative (Ha), merupakan hipotesis yang diajukan peneliti dalam penelitian ini. Bentuk pengujiannya :
1. H0 : β1 = β2 = 0, artinya secara simultan kedua variabel bebas yang
terdiri dari penerbitan surat teguran dan surat paksa tidak berpengaruh secara simultan terhadap penerimaan pajak.
2. Ha : β1 = β2 ≠ 0, artinya secara simultan kedua variabel bebas yang
terdiri dari penerbitan surat teguran dan surat paksa berpengaruh secara simultan terhadap penerimaan pajak.
3. Langkah-langkah pengujian dengan menggunakan Uji F adalah sebagai berikut ;
1) Menentukan tingkat signifikansi sebesar α = 5%
Tingkat signifikansi 0,05% atau 5% artinya kemungkinan besar hasil penarikan kesimpulan memiliki probabilitas 95% atau toleransi kesalahan 5%.
F
hitung =2) Menghitung Uji F (F-test)
Keterangan :
R2 : Koefisien determinasi gabungan : Jumlah variabel independen
n : Jumlah sampel
3) Kriteria Pengambilan Keputusan a. H0 ditolak jika Fhitung>Ftabel b. H0 diterima jika Fhitung<Ftabel
nilai dari Ftabel didapat dari :
df1 (pembilang) = jumlah variabel independen df2 (penyebut) = n-k-1
Keterangan :
n : Jumlah observasi k : Variabel independen
3.6 Penetapan Tingkat Signifikansi (α)
Tingkat signifikan yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah sebesar 5% atau 0,05% karena dinilai cukup untuk menguji hubungan antara variabel-variabel yang diuji atau menunjukkan bahwa korelasi antara kedua variabel cukup nyata.
Tingkat signifikan 0,05 artinya adalah kemungkinan besar dari hasil penarikan kesimpulan mempunyai probabilitas 95% atau toleransi kesalahan sebesar 5%.