EKSTRAKSI TANIN DARI BUAH BALAKKA (Phyllanthus
emblica L.) DENGAN BANTUAN MICROWAVE: PENGARUH
DAYA MICROWAVE DAN PERBANDINGAN MASSA KERING
TERHADAP JUMLAH PELARUT ETIL ASETAT
SKRIPSI
HENDRI ANGKASA
160405063
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
JANUARI 2021
EKSTRAKSI TANIN DARI BUAH BALAKKA (Phyllanthus
emblica L.) DENGAN BANTUAN MICROWAVE: PENGARUH
DAYA MICROWAVE DAN PERBANDINGAN MASSA KERING
TERHADAP JUMLAH PELARUT ETIL ASETAT
SKRIPSI
HENDRI ANGKASA
160405063
SKRIPSI INI DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI SEBAGIAN
PERSYARATAN MENJADI SARJANA TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
JANUARI 2021
PRAKATA
Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Ekstraksi Tanin dari Buah Balakka (Phyllanthus emblica L.) dengan Bantuan Microwave: Pengaruh Daya
Microwave dan Perbandingan Massa Kering Terhadap Jumlah Pelarut Etil Asetat”.
Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana teknik. Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Dr. Ir. Iriany, M Si., selaku dosen pembimbing atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis selama penelitian dan penyusunan skripsi.
2. Bapak Dr. Ir. Bambang Trisakti, M Si., selaku Koordinator Penelitian Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. 3. Ibu Maya Sarah, ST., MT., Ph.D, IPM, selaku Ketua Departemen Teknik
Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara merangkap dosen penguji yang telah memberikan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
4. Bapak Dr. Eng. Rondang Tambun, ST., MT., selaku dosen penguji yang telah memberikan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
5. Sahabat penulis, July Indayani yang telah memberikan bantuan dan semangat kepada penulis selama masa perkuliahan.
6. Tim TRP dan KP, Jansen Cahyadi, Ferry Irawan dan Kevin Conitra atas kerja sama dan dukungannya.
7. Cut Annisa Namira selaku partner penelitian yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.
8. Teman-teman mahasiswa Teknik Kimia USU angkatan 2016 yang telah memberi bantuan kepada penulis, khususnya Auryn Saputra dan Adi Herianto. 9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
membantu penulis selama masa perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca. Semoga skripsi ini memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Medan, 8 Desember 2020
Hendri Angkasa NIM. 160405063
DEDIKASI
Penulis mendedikasikan skripsi ini kepada orang tua penulis, mendiang Ayah Marsudin dan Ibu Tjin Kim Fong atas segalanya yang telah diberikan selama ini. Terima kasih juga kepada tante penulis, Tjin Kim Mie atas doa dan dukungannya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi dan masa perkuliahan.
RIWAYAT HIDUP
Nama : Hendri Angkasa
NIM : 160405063
Tempat/Tgl. Lahir : Medan/25 November 1998
Nama Orang Tua : Mendiang Ayah Marsudin & Ibu Tjin Kim Fong Alamat Orang Tua : Jl. Selam VIII No. 72B, Medan
E-mail : [email protected] Riwayat Pendidikan:
• TK Swasta Sutomo 1 Medan (2003 - 2004) • SD Swasta Sutomo 1 Medan (2004 - 2010) • SMP Swasta Sutomo 1 Medan (2010 - 2013) • SMA Swasta Sutomo 1 Medan (2013 - 2016)
• S-1 Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara Medan (2016 - 2020) Pengalaman Organisasi/Kerja:
• Anggota Keluarga Mahasiswa Buddhis USU (2016 - 2020)
• Anggota Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia USU (2016 - 2020) • Asisten mengajar Scholar Tuition Centre Medan (2019 - 2020)
EKSTRAKSI TANIN DARI BUAH BALAKKA (Phyllanthus
emblica L.) DENGAN BANTUAN MICROWAVE: PENGARUH
DAYA MICROWAVE DAN PERBANDINGAN MASSA
KERING TERHADAP JUMLAH PELARUT ETIL ASETAT
ABSTRAK
Tanin adalah senyawa fenolik dengan kelimpahan yang cukup besar di alam. Buah balakka mengandung 28% tanin dari total tanin yang terdistribusi di seluruh tanaman. Metode Microwave-Assisted Extraction (MAE) merupakan suatu metode untuk mengekstrak zat aktif dengan bantuan gelombang mikro yang relatif lebih hemat waktu dan pelarut. Pada penelitian ini dilakukan proses ekstraksi buah balakka menggunakan metode MAE. Buah balakka sebanyak 2 gram diekstraksi selama 1 menit dengan variabel operasi daya microwave (100 W; 180 W; 300 W; 450 W dan 600 W). Percobaan dilanjutkan pada kondisi daya yang menghasilkan yield tertinggi dengan variasi rasio buah balakka dengan etil asetat (1/10 g/mL; 1/20 g/mL; 1/30 g/mL; 1/40 g/mL dan 1/50 g/mL). Kandungan tanin dalam ekstrak dianalisa dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Gugus fungsi yang terdapat pada hasil ekstrak buah balakka dianalisa dengan metode Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Ekstrak buah balakka terbukti mengandung tanin pada uji kualitatif dengan gelatin dan FeCl3 serta pada analisis FTIR. Adapun peningkatan daya microwave pada proses ekstraksi menggunakan metode MAE menyebabkan yield tanin mengalami penurunan. Yield tanin tertinggi diperoleh pada kondisi daya microwave 100 W dan rasio buah balakka terhadap etil asetat 1/50 g/mL yaitu sebesar 36,86 mg/g. Kata kunci: buah balakka, ekstraksi, etil asetat, microwave-assisted extraction,
EXTRACTION OF TANNIN FROM INDIAN GOOSEBERRY
(Phyllanthus emblica L.) WITH MICROWAVE: THE EFFECT
OF MICROWAVE POWER, RATIO BETWEEN INDIAN
GOOSEBERRY TO ETHYL ACETATE AS SOLVENT
ABSTRACT
Tannins are phenolic compounds with considerable abundance in nature. Indian gooseberry fruit usually contains 28% tannins of the total tannins that are distributed throughout the plant. Microwave-Assisted Extraction (MAE) is a method for extracting active substances with the help of microwaves which is more efficient on time and solvent. In this study, the extractions of Indian gooseberry fruit were performed using MAE method. 2 grams of Indian gooseberry fruit were extracted for 1 minute with microwave power operation variables (100, 180, 300, 450 and 600) W. The experiment is continued at the power that gave the highest yield of tannin with variable sample ratio with ethyl acetate (1/10, 1/20, 1/30, 1/40 and 1/50) g/mL. Total tannins in the extract were analyzed using UV-Vis Spectroscopy method. Functional groups that were contained in the extract were analyzed using Fourier-Transform Infrared Spectroscopy method. The results of this study indicate that the extract contains tannins in qualitative tests with gelatin and FeCl3 as well as in FTIR analysis. The increase in microwave power in the extraction process using MAE method caused the yield of tannin decrease. The highest yield of tannin that was obtained under conditions of power 100 W and ratio sample with ethyl acetate 1/50 g/mL was 36.86 mg/g.
Keywords: buah balakka, ekstraksi, etil asetat, microwave-assisted extraction, tanin
DAFTAR ISI
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI i
PENGESAHAN SKRIPSI ii
LEMBAR PERSETUJUAN iii
PRAKATA iv
DEDIKASI vi
RIWAYAT HIDUP vii
ABSTRAK viii
ABSTRACT ix
DAFTAR ISI x
DAFTAR GAMBAR xii
DAFTAR TABEL xiv
DAFTAR LAMPIRAN xv
DAFTAR SINGKATAN xvi
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 LATAR BELAKANG 1
1.2 PERUMUSAN MASALAH 3
1.3 TUJUAN PENELITIAN 3
1.4 MANFAAT PENILITIAN 4
1.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5
2.1 Phyllanthus Emblica L. 5
2.2 TANIN 6
2.3 METODE EKSTRAKSI 9
2.4 PELARUT EKSTRAKSI 14
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 16
3.1 LOKASI PENELITIAN 16
3.2 BAHAN DAN PERALATAN PENELITIAN 16
3.2.1 Bahan Penelitian 16
3.2.2 Peralatan Penelitian 16
3.3.1 Persiapan Bahan Baku 17
3.3.2 Proses Ekstraksi 17
3.4 FLOWCHART PENELITIAN 18
3.4.1 Flowchart Persiapan Bahan Baku 18
3.4.2 Flowchart Proses Ekstraksi 18
3.5 ANALISIS HASIL PENELITIAN 19
3.5.1 Prosedur Analisis Hasil Penelitian 19 3.5.2 Flowchart Analisa Hasil Penelitian 21
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 6
4.1 UJI KUALITATIF TANIN PADA EKSTRAK BUAH BALAKKA 26
4.2 PENGARUH DAYA MICROWAVE TERHADAP KONSENTRASI
TANIN DAN YIELD TANIN 27
4.3 PENGARUH RASIO MASSA BUAH BALAKKA DENGAN VOLUME ETIL ASETAT TERHADAP KONSENTRASI TANIN
DAN YIELD TANIN 29
4.4 ANALISIS FOURIER-TRANSFORMER INFRARED (FTIR)
PADA HASIL EKSTRAK TANIN 31
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 35
5.1 KESIMPULAN 35
5.2 SARAN 35
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Struktur Tanin Terhidrolisis 6
Gambar 2.2 Struktur Tanin Terkondensasi 7
Gambar 2.3 Reaksi Komponen Fenolik dengan FeCl3 8
Gambar 2.4 MAE dengan Multi Sampel 9
Gambar 2.5 Magnetron pada Microwave Oven 11
Gambar 2.6 Prinsip Kerja pada Microwave Oven 11
Gambar 2.7 Turntable pada Microwave Oven 12
Gambar 2.8 Control Circuit 13
Gambar 3.1 Rangkaian Alat Percobaan 17
Gambar 3.2 Flowchart Persiapan Bahan Baku 18
Gambar 3.3 Flowchart Proses Ekstraksi 18
Gambar 3.4 Flowchart Uji Kualitatif pada Ekstrak Tanin 21 Gambar 3.5 Flowchart Penetuan Panjang Gelombang Maksimum 22
Gambar 3.6 Flowchart Penentuan Waktu Stabil 23
Gambar 3.7 Flowchart Pembuatan Kurva Baku Asam Galat 24
Gambar 3.8 Flowchart Penetapan Kadar Tanin 25
Gambar 4.1 Uji Kualitatif Ekstrak Tanin 26
Gambar 4.2 Pengaruh Daya Microwave Terhadap Konsentrasi Tanin 27 Gambar 4.3 Pengaruh Daya Microwave Terhadap Yield Tanin 28 Gambar 4.4 Rasio Massa Buah Balakka dengan Pelarut Terhadap
Konsentrasi Tanin 29
Gambar 4.5 Rasio Massa Buah Balakka dengan Pelarut Terhadap Yield
Tanin 30
Gambar 4.6 Analisis Fourier-Transform Infrared (FTIR) pada Asam Tanin 31 Standar
Gambar 4.7 Analisis Fourier-Transform Infrared (FTIR) pada Hasil Ekstrak Tanin dari Buah Balakka dengan Pelarut Etil Asetat 32 Gambar 4.8 Analisis FTIR pada Hasil Ekstrak Buah Balakka dengan Pelarut
Etanol 32
Gambar B.2 Kalibrasi Asam Galat 42
Gambar C.1 Penimbangan Serbuk Buah Balakka 44
Gambar C.2 Microwave-Assisted Extraction 44
Gambar C.3 Uji Kualitatif Ekstrak Tanin 45
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Penelitian-penelitian Terdahulu yang Telah Dilakukan 2 Tabel 4.1 Perbandingan Hasil Analisis FTIR pada Ekstrak Buah Balakka pada
Pelarut Etil Asetat dengan Etanol 33
Tabel A.1 Data Hasil Ekstraksi Tanin dari Buah Balakka dengan Pelarut Etil
Asetat 40
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A DATA HASIL PENELITIAN 40
A.1 DATA HASIL EKSTRAKSI TANIN DARI BUAH
BALAKKA DENGAN PELARUT ETIL ASETAT 40
LAMPIRAN B DATA HASIL PENELITIAN 41
B.1 KALIBRASI KURVA BAKU ASAM GALAT 41
B.2 PERHITUNGAN YIELD TANIN PADA HASIL EKSTRAK
BUAH BALAKKA 42
LAMPIRAN C DOKUMENTASI PENELITIAN 44
C.1 BUAH BALAKKA 44
C.2 MICROWAVE-ASSISTED EXTRACTION (MAE) 44 C.3 UJI KUALITATIF PADA HASIL EKSTRAK TANIN 45
C.4 UJI SPEKTROFOTOMETER UV-Vis 45
LAMPIRAN D HASIL ANALISIS LABORATORIUM 46
DAFTAR SINGKATAN
CT Condensed Tannin
FTIR Fourier Transform Infrared Spectroscopy
HT Hydrolysable Tannin
MAE Microwave-Assisted Extraction
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Beberapa jenis makanan manusia yang umum termasuk buah-buahan, minuman, sayuran, beberapa biji-bijian, coklat dan minuman, seperti kopi, teh, dan anggur mengandung tanin yang terkondensasi dan dapat dihidrolisis (Lamy, dkk., 2016).
Phyllanthus emblica umumnya dikenal sebagai “amla” atau “balakka” dan Indian gooseberry dalam bahasa Inggris (Hasan, dkk., 2016). Buah-buahan umumnya
mengandung 28% tanin dari total tanin yang terdistribusi di seluruh tanaman. Buahnya mengandung dua jenis tanin yang dapat terhidrolisis, Emblicanin A dan B, yang mengandung zat-zat antioksidan (Charmkar dan Singh, 2017). Rasa pahit dan asamnya membuat pelanggan ragu untuk memakannya dalam bentuk mentah. Untuk mengatasi beberapa masalah seperti aktivitas yang terhambat seperti kurangnya persediaan balakka sepanjang tahun, keasaman tinggi dan rasa pahit, sehingga diperlukan untuk mengubah buah ini menjadi produk olahan (Jalil, dkk., 2018).
Tanin adalah senyawa fenolik dengan kelimpahan yang cukup besar di alam. Tanin adalah komponen yang paling banyak diekstraksi dari biomassa, setelah selulosa, hemiselulosa dan lignin. Selain itu, tanin merupakan sumber senyawa fenolik terbesar kedua setelah lignin. Dengan demikian, tanin dianggap sebagai kelompok senyawa yang menarik pada aplikasi dalam hal potensi dan keramahan lingkungan. Namun, satu aspek penting dari tanin adalah sifatnya yang heterogen yang membuat mustahil untuk menetapkan suatu metode universal untuk ekstraksi mereka (Martinez, dkk., 2019).
Untuk memisahkan tanin dan komponen-komponen lainnya dari sumber alami mereka, berbagai cara dapat dilakukan. Di antaranya ada teknik ekstraksi konvensional seperti ekstraksi soklet dan maserasi serta teknik non konvensional seperti
ultrasound-assisted, microwave-assisted dan subcritical water extraction (Dukic, dkk., 2017). Di
antaranya, Microwave Assissted Extraction (MAE) relatif sederhana dan efisien untuk pemanasan, pendidihan atau untuk ekstraksi menggunakan refluks. MAE menawarkan waktu operasi yang lebih singkat, mengurangi waktu ekstraksi dan konsumsi pelarut, serta input energi yang lebih rendah. Ini juga menghasilkan rasio ekstraksi yang lebih
tinggi dari sampel dan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih rendah (Li, dkk., 2019).
Hasil, kemurnian dan komposisi ekstrak biasanya bergantung pada beberapa parameter seperti sumber nabati, teknik yang digunakan, waktu ekstraksi, suhu dan lainnya (Martinez, dkk., 2018). Efisiensi ekstraksi MAE juga dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk durasi iradiasi gelombang mikro, daya gelombang mikro, rasio pelarut terhadap padat, dan interaksinya dengan satu sama lain (Li, dkk., 2019). Peningkatan daya gelombang mikro dapat mempercepat gerakan pelarut, pecahnya sel dan difusi ekstraktif ke dalam pelarut, sehingga meningkatkan efektivitas ekstraksi. Rasio pelarut/bahan dapat mempengaruhi efisiensi ekstraksi karena dalam batas-batas tertentu rasio yang lebih tinggi dapat menyebabkan perbedaan konsentrasi yang lebih tinggi, yang bermanfaat untuk transfer massa dan pemisahan zat terlarut (Li, dkk., 2017).
Adapun penelitian-penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut:
Tabel 1.1 Penelitian-penelitian Terdahulu yang Telah Dilakukan
No Nama
Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian
1. Li, dkk., 2019
Characterization of phenolic compounds from Phyllanthus emblica fruits using HPLC-ESI-TOF-MS as affected by an optimized microwave-assisted extraction
Kondisi optimum ekstraksi diperoleh pada daya 480 W, waktu ekstraksi 29 s, perbandingan L/M 25 ml/g dengan etanol 66%. 2. Agarwa l, dkk., 2012 Extraction of Polyphenol,
Flavonoid from Emblica
Officinalis, Citrus Limon,
Cucumis Sativus and
Evaluation of their
Antioxidant Activity
Hasil terbaik ekstraksi buah balakka diperoleh dengan menggunakan pelarut metanol 50% sebesar 111,72 mg GAE/g.
3. Yang, dkk., 2009
Optimum Extraction Process of polyphenols from the bark of Phyllanthus emblica L. based on the response surface methodology
Kondisi optimum ekstraksi diperoleh pada pelarut etanol 75%.
Berdasarkan penelitian-penelitian pada Tabel 1.1 tersebut, maka dapat dilihat bahwa pada proses ekstraksi tanin dapat menggunakan berbagai pelarut polar. Pada
penelitian yang dilakukan Li, dkk., 2019, ekstraksi tanin dari buah balakka dilakukan dan dipelajari untuk mendapatkan kondisi optimum melalui Response Surface
Methodology (RSM). Metode yang dilakukan dalam penelitian tersebut adalah MAE
dengan waktu ekstraksi (10 – 50 detik), daya gelombang mikro (80–720 W), konsentrasi etanol (10 – 90%), dan cairan rasio terhadap padat (10 – 40 mL/g). Pengaruh masing-masing parameter dianalisis dalam percobaan faktor tunggal dimana kondisi optimum ekstraksi diperoleh pada daya 480 W, waktu ekstraksi 29 s, perbandingan pelarut terhadap massa kering 25 ml/g dengan etanol 66%.
Kandungan tanin yang cukup besar pada buah balakka dapat dimanfaatkan sebagai antioksidan dalam perindustrian makanan. Tanin dalam buah-buahan ini sendiri juga berfungsi sebagai zat pertahanan alami terhadap infeksi mikroba. Karena rasanya yang sangat asam dan astringent, masyarakat tidak begitu suka untuk memakannya. Dengan demikian, buah balakka dapat digunakan menjadi produk olahan seperti dalam pengolahan makanan. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kondisi terbaik ekstraksi tanin dari buah balakka dengan metode Microwave-Assisted Extraction (MAE).
1.2 PERUMUSAN MASALAH
Penelitian ini ditekankan pada pembuatan tanin melalui proses ekstraksi metode
Microwave-Assisted Extraction (MAE) buah balakka dengan rumusan masalah adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh daya microwave terhadap kadar ekstrak tanin dari buah balakka?
2. Bagaimana pengaruh rasio massa kering dengan volume pelarut terhadap kadar ekstrak tanin dari buah balakka?
1.3 TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Memperoleh data pengaruh daya microwave terhadap kadar ekstrak tanin dari buah balakka.
2. Memperoleh data pengaruh rasio massa kering dengan volume pelarut terhadap kadar ekstrak tanin dari buah balakka.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Memanfaatkan buah balakka menjadi bahan baku pembuatan tanin.
2. Memberikan informasi mengenai variabel yang berpengaruh dalam pembuatan tanin melalui proses ekstraksi dengan metode Microwave-Assisted Extraction (MAE) dengan menggunakan pelarut etil asetat.
1.5 RUANG LINGKUP PENELITIAN
Penelitian dilakukan di Laboratorium Proses Industri Kimia, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan dan Laboratorium Pengembangan PTKI Medan, Politeknik Teknologi Kimia Industri, Medan. Adapun bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah balakka. Variabel tetap:
- Massa kering buah balakka : 2 gram - Waktu ekstraksi : 1 menit - Pelarut : etil asetat Variabel berubah:
- Daya microwave : (100, 180, 300, 450 dan 600) W - Rasio massa terhadap etil asetat : (1/10, 1/20, 1/30, 1/40 dan 1/50) g/ml Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini, meliputi:
- Analisis kualitatif tanin.
- Analisis kadar tanin dengan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Phyllanthus Emblica L.
Phyllanthus emblica di Indonesia dikenal dengan nama kimalaka. Masyarakat
Sumatera Utara menyebut tumbuhan ini “balakka”. Potensi balakka di Sumatera Utara belum mendapat perhatian, baik kandungan, budidaya hingga keragamannya belum banyak diketahui. Balakka tersebar luas di Sumatera Utara bagian Selatan, tumbuh pada habitat teresterial pada ketinggian 48–876 meter dpl. Umumnya tumbuh di lahan-lahan kering dan lahan-lahan kering campuran seperti di halaman rumah penduduk, tepi jalan raya dan areal perkebunan masyarakat dengan topografi berbukit-bukit (Khoiriyah, dkk., 2015).
Adapun taksonomi dari Phyllanthus emblica L. yaitu: Nama botani : Phyllanthus emblica L.
Famili : Euphorbiaceae Genus : Emblica
Spesies : officinalis Gaertn
Bentuk pohon ini berukuran kecil hingga sedang dan memiliki tinggi 8-18 meter dengan kulit abu-abu tipis, dedaunan sederhana dan tersusun rapat sepanjang ranting-ranting pohon, berwarna hijau muda dengan bentuk menyirip. Bentuk buahnya bulat, berdaging dan berwarna kuning pucat (Charmkar dan Singh, 2017).
Bagian buahnya mengandung 28% tanin dari total tanin yang terdistribusi pada seluruh bagian tanaman. Buah ini dipercaya dapat digunakan untuk meningkatkan pertahanan tubuh terhadap penyakit seperti penyakit kanker, diabetes, hati, jantung, anemia dan lainnya. Selain itu, terdapat juga manfaat lainnya seperti meningkatkan memori otak serta menurunkan tingkat kolestrol dalam tubuh. Buah ini juga mengandung asam amino, karbohidrat serta kadar vitamin C yang tinggi dalam cairan buahnya (478,56 mg/100 mL). Kadar vitamin C tersebut lebih besar daripada yang terdapat di buah orange, tangerine dan lemon (Charmkar dan Singh, 2017).
2.2 TANIN
Tanin merupakan kelompok senyawa polifenol yang terdapat dalam sejumlah besar makanan nabati. Secara struktural, mereka dapat dibagi dalam dua kelompok berbeda yaitu tanin terhidrolisis (hydrolysable) dan tanin terkondensasi (condensed) (Lamy, dkk., 2016). Tanin secara tradisional dianggap sebagai "faktor anti-gizi" untuk hewan monogastrik dan unggas, tetapi penelitian terbaru mengungkapkan beberapa dari mereka, ketika diterapkan dengan cara yang tepat, memperbaiki ekosistem mikroba usus, meningkatkan kesehatan usus sehingga meningkatkan kinerja produktif (Huang, dkk., 2017).
a. Tanin terhidrolisis (hydrolysable tannin)
Tanin yang dapat dihidrolisis dapat ditemukan dalam makanan seperti delima, stroberi, raspberry, cengkeh, beras, gandum dan gandum hitam (Lamy, dkk., 2016). Tanin terhidrolisis terdiri dari inti poliol (umumnya D-glukosa), yang diesterifikasi dengan asam fenolat (terutama asam galat atau heksahidroksidifenat). Struktur dari tanin terhidrolisis dapat dilihat pada gambar 2.1. Berat molekul HT (hydrolysable
tannin) berkisar dari 500 hingga 3.000 Da. Mereka rentan terhadap hidrolisis oleh
asam, basa atau esterase, sehingga dapat dengan mudah terdegradasi dan diserap dalam saluran pencernaan dan dapat menyebabkan efek toksik potensial pada herbivora. (Huang, dkk., 2017).
Gambar 2.1 Struktur Tanin Terhidrolisis (Huang, dkk., 2017)
b. Tanin terkondensasi (condensed tannin)
Tanin terkondensasi (proanthocyanidins – PA) lebih banyak terdapat pada tanaman daripada tanin terhidrolisa, seperti kopi, teh, anggur, anggur, cranberry, stroberi, blueberry, apel, buah persik, buah kering, mint, kemangi, rosemary dan lain-lain (Lamy, dkk., 2016). Dibandingkan dengan HT, CT (condensed tannin) memiliki struktur yang lebih kompleks dan berat molekul lebih tinggi berkisar dari 1.000 hingga 20.000 Da (dapat dilihat pada gambar 2.2). Tidak seperti HT, CT hanya dapat mengalami depolimerisasi oleh hidrolisis asam oksidatif kuat. Struktur CT juga tidak rentan terhadap degradasi enzim anaerob (Huang, dkk., 2017).
Gambar 2.2 Struktur Tanin Terkondensasi (Huang, dkk., 2017)
Adapun sifat fisika dan kimia dari tanin yaitu (Putri, 2016): a. Sifat Fisika
1. Umumnya tanin mempunyai berat molekul tinggi dan cenderung mudah dioksidasi menjadi suatu polimer, sebagian besar tanin bentuknya amorf dan tidak mempunyai titik leleh.
2. Tanin berwarna putih kekuning-kuningan sampai coklat terang, tergantung dari sumber tanin tersebut.
3. Tanin berbentuk serbuk atau berlapis-lapis seperti kulit kerang, berbau khas dan mempunyai rasa sepat (astrigent).
4. Warna tanin akan menjadi gelap apabila terkena cahaya langsung atau dibiarkan di udara terbuka.
5. Tanin mempunyai sifat atau daya bakterostatik, fungistatik dan merupakan racun.
6. Merupakan padatan berwarna kuning atau kecoklatan. 7. Memiliki titik leleh 305°C.
8. Memiliki titik didih 1271°C.
b. Sifat Kimia
1. Memiliki rumus molekul C76H52O46. 2. Memiliki berat molekul 1701,22.
3. Tanin dapat diidentifikasi dengan kromatografi.
4. Tanin memiliki sifat umum, yaitu memiliki gugus phenol dan bersifat koloid.
5. Semua jenis tanin dapat larut dalam air, metanol, etanol, aseton dan pelarut organik lainnya. Kelarutannya besar, dan akan bertambah besar apabila dilarutkan dalam air panas.
6. Dengan garam besi memberikan reaksi warna. Reaksi ini digunakan untuk menguji klasifikasi tanin, karena tanin dengan garam besi memberikan warna hijau dan biru kehitaman.
6ArOH + FeCl3 [Fe(OAr)6]3- + 3HCl + 3H+ Gambar 2.3 Reaksi Komponen Fenolik dengan FeCl3
(Lembong, dkk., 2019)
7. Tanin akan terurai menjadi pyrogallol, pyrocatechol dan phloroglucinol bila dipanaskan sampai suhu (99-102 °C).
8. Tanin dapat dihidrolisa oleh asam, basa dan enzim. 9. Merupakan senyawa yang sukar dipisahkan.
11. Kelarutan dalam air 0,656 gram dalam 1 ml (70°C).
2.3 METODE EKSTRAKSI
Ekstraksi tanin dari buah balakka dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti metode konvensional yaitu sokhlet dan metode ekstraksi dengan bantuan
microwave. Ada beberapa perbedaan antara metode soklet dan metode Microwave Assisted Extraction (MAE), dilihat dari waktu ekstraksi, jumlah pelarut dan massa
sampel. Meskipun metode konvensional seperti sokhlet dan ekstraksi pelarut masih diterima secara luas, mereka memiliki keterbatasan dan masalah yang melekat. Sebagai contoh, ekstraksi Soxhlet membutuhkan 12-24 jam dalam banyak kasus dan menggunakan volume tinggi pelarut organik (ratusan mililiter). Berbeda dengan metode konvensional, MAE dapat mengurangi waktu ekstraksi menjadi kurang dari 20 menit dan konsumsi pelarut di bawah 20 mL. MAE memungkinkan untuk kemungkinan memproses beberapa sampel secara bersamaan (hingga 12, 24 atau bahkan 40 ekstraksi bersamaan), secara drastis meningkatkan jumlah hasil. Selain itu, pemulihan yang diperoleh dengan MAE sebagian besar sebanding atau lebih tinggi daripada yang disediakan oleh metode alternatif. Oleh karena itu, MAE sebagian besar memenuhi kriteria minimum yang diperlukan untuk teknik persiapan sampel modern, dan memberikan alternatif yang sangat menarik untuk pendekatan konvensional (Llompart, dkk., 2018).
Gambar 2.4 Microwave Assisted Extraction (Mukherjee, 2019)
MAE relatif sederhana dan efisien untuk pemanasan, pendidihan atau untuk ekstraksi menggunakan refluks. MAE menawarkan waktu operasi yang lebih singkat, mengurangi waktu ekstraksi dan konsumsi pelarut, serta input energi yang lebih rendah. Ini juga menghasilkan rasio ekstraksi yang lebih tinggi dari sampel dan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih rendah. Mekanisme ekstraksi dengan
microwave dilakukan dengan memanaskan pelarut polar dengan energi gelombang
mikro saat bersentuhan dengan sampel padat, dan mempartisi senyawa yang diinginkan antara sampel dan pelarut. (Li, dkk., 2019). Dalam MAE, energi gelombang mikro diterapkan untuk memanaskan pelarut yang bersentuhan dengan sampel (biasanya sampel padat) mencapai partisi senyawa yang diinginkan dari sampel terhadap pelarut. Waktu ekstraksi berkurang secara signifikan ketika menerapkan MAE karena dengan microwave maka campuran sampel/pelarut dipanaskan secara langsung, sedangkan dengan teknik ekstraksi klasik, periode yang terbatas diperlukan untuk memanaskan wadah sebelum panas dipindahkan ke larutan.
Microwave merupakan suatu gelombang dengan frekuensi yang berkisar antara
300 MHz – 300 GHz. Periodenya (T = 1/f), berkisar antara 3 ps – 3 ns, serta memiliki panjang gelombang (λ = c/f) 1 mm – 1 m dimana c = 3 x 108 m/s (kecepatan cahaya pada ruang vakum). Microwave oven untuk penggunaan domestik memiliki frekuensi 2,45 ± 0,025 GHz. Oleh karena itu, microwave oven yang dipakai memiliki periode sekitar 0,4 ns dengan panjang gelombang sekitar 12,24 cm (Zhang, 2017). Ini berarti
microwave dalam microwave oven memiliki ukuran yang besar dan tidak dapat keluar
dari ruang oven melalui lubang-lubang kecil atau celah yang membuat alat tersebut lebih aman. Microwave oven memiliki beberapa komponen yaitu:
a. Magnetron
Magnetron adalah komponen yang paling penting pada sebuah microwave oven karena merupakan tempat produksi gelombang microwave dan mengalirkannya ke ruang oven untuk memanaskan atau memasak makanan di dalamnya. Magnetron terbagi menjadi dua bagian yaitu katoda (bagian inti) dan anoda (bagian luar). Katoda diberikan beda potensial yang besar oleh tegangan listrik yang sangat tinggi (lebih dari 4000V DC) pada salah satu ujungnya. Lalu, ujung lainnya pada katoda menjadi sangat negatif dengan elektron berlebih yang mengambang pada permukaan logamnya. Pada titik ini, anoda yang merupakan bagian luar memiliki muatan yang lebih positif
dibanding bagian katoda tersebut. Medan magnet kuat yang ditimbulkan dua magnet di dalam ruang membawa elektron dari permukaan logam berputar menuju pinggiran karena gaya Lorentz. Pada akhirnya, elektron-elektron yang mencapai ruang-ruang silindris (dapat dilihat pada gambar 2.5) membentuk medan radio berfrekuensi tinggi di setiap ruang dan beberapa bagian dari radio frequency (RF) atau microwave ditransfer ke ruang oven melalui waveguide.
Gambar 2.5 Magnetron pada Microwave Oven\
b. Oven Cavity
Oven cavity merupakan tempat untuk meletakkan makanan di dalam sebuah microwave oven. Permukaan logam dari oven cavity dibuat sangat berkilat sehingga microwave yang dilepas dari magnetron direfleksikan dan meningkatkan efek
pemanasan seiring waktu berjalan. Permukaan yang berkilat ini dapat memantulkan hampir semua energi microwave (inilah yang membuat dinding oven tidak begitu panas ketika bekerja) dan microwave yang dipantulkan memanaskan makanan secara seragam seperti yang dapat dilihat pada gambar 2.6.
c. Turntable
Fungsi utama dari turntable adalah untuk merotasi makanan sehingga proses pemanasan menjadi lebih seragam dan lancar. Tanpa adanya turntable, bagian sebuah makanan yang terletak lebih dekat dengan waveguide akan lebih terpanaskan dibanding bagian yang lainnya. Selain itu, karena overlapping dari microwave dalam fase destruktif membuat adanya zona mati dalam oven dimana tidak ada proses pemanasan yang terjadi. Turntable memutar makanan yang dipanaskan dan menimalisir efek dari zona mati tersebut.
Gambar 2.7 Turntable pada Microwave Oven
d. Control Circuit
Control Circuit merupakan otak dari microwave oven yang memiliki beberapa
fungsi meliputi:
• Mengubah AC Input dari supply menjadi arus DC yang cocok untuk magnetron menggunakan bridge rectifiers dan transistor.
• Tegangan tinggi, transformator step-up yang tertanam pada controller
circuit meningkatkan tegangan menjadi sekitar 2000 V untuk dikirim ke
magnetron.
• Optocoupler circuit yang tertanam membuat pembatas antara bagian
dengan tegangan tinggi dan rendah pada circuit untuk keamanan. • Menyediakan arus AC untuk turntable.
Gambar 2.8 Control Circuit
e. AC Input dan Rectifier
Microwave oven dijalankan oleh AC Input dari sumber listrik. Tegangan AC
diubah menjadi DC bertegangan tinggi dengan bantuan bridge dan sebuah transistor
circuit.
f. Transformator Step-Up (High Voltage)
Transformator ini berfungsi untuk menaikkan daya dari tegangan DC yang dihasilkan dari rectifier untuk membuatnya cocok dengan magnetron. Transformator ini dapat menaikkan tegangan listrik hingga 2000 V sedangkan magnetron membutuhkan 4000 V untuk bekerja. Sisanya dilakukan oleh voltage double circuit yang mengandakan tegangan listriknya menjadi 4000 V.
g. Safety Switches
Microwave oven memiliki safety switches yang tertanam pada pintunya (dapat
dilihat pada gambar 2.6) sehingga ketika pintunya dibuka, arus listrik dipotong dan proses pemanasan dihentikan. Beberapa oven mempunyai fitur seperti lampu yang nyala otomatis ketika dibuka dan mati ketika ditutup atau ketika proses pemanasan sedang berlangsung (Mahmud, 2019).
Proses ekstraksi berlangsung dalam tiga tahap yaitu fase kesetimbangan dimana fenomena pelarutan dan partisi berlangsung, dimana substrat dipisahkan dari permukaan luar partikel pada kecepatan yang konstan. Kemudian, tahap ini diikuti oleh fase transisi menuju difusi. Resistansi terhadap perpindahan massa mulai muncul dalam antarmuka padat-cair; dalam periode ini transfer massa dengan konveksi dan difusi berlaku. Pada fase terakhir, zat terlarut harus mengatasi interaksi yang mengikatnya ke matriks dan berdifusi ke dalam pelarut ekstraksi. Tingkat ekstraksi pada periode ini rendah, ditandai dengan pengangkatan ekstrak melalui mekanisme
difusi. Poin ini adalah langkah ireversibel dari proses ekstraksi; sering dianggap sebagai tahap untuk membatasi proses (Kusuma dan Mahfud, 2016).
Faktor utama lain yang mempengaruhi proses ekstraksi adalah sifat pelarut. Seleksi pelarut untuk MAE tidak hanya dari kelarutan senyawa yang diinginkan dan oleh interaksi antara pelarut dan matriks, tetapi juga oleh sifat-sifat penyerap gelombang mikro dari pelarut. Pelarut harus memiliki selektivitas tinggi terhadap zat yang diinginkan, tidak melibatkan komponen-komponen yang tidak diinginkan, dan cocok dengan analisis selanjutnya. Pelarut ekstraksi yang tersedia untuk MAE biasanya terbatas pada mereka yang menyerap gelombang mikro (pelarut yang memiliki gaya dipol permanen) (Llompart, dkk., 2018).
Efisiensi ekstraksi MAE juga dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk durasi iradiasi gelombang mikro, daya gelombang mikro, rasio pelarut terhadap padat, dan interaksinya dengan satu sama lain (Li, dkk., 2019). Dalam ekstraksi konvensional, volume pelarut yang lebih tinggi biasanya akan meningkatkan pemulihan ekstrak. Namun, dalam MAE, pendekatan yang sama dapat menyebabkan pemulihan yang lebih rendah, mungkin karena pencampuran pelarut yang tidak memadai dengan matriks oleh gelombang mikro. Kuantitas ekstrak dapat ditingkatkan dengan peningkatan daya gelombang mikro, tetapi ada juga risiko terkait degradasi komponen termolabil. Secara teori, penggunaan daya microwave yang tinggi harusnya memungkinkan pengurangan waktu pemaparan. Namun, dalam beberapa kasus,
microwave dengan daya yang sangat tinggi dapat menurunkan efisiensi ekstraksi
karena degradasi sampel atau pendidihan pelarut cepat dalam sistem wadah terbuka, sehingga menghambat kontak ekstrak (Llompart, dkk., 2018).
2.4 PELARUT EKSTRAKSI
Keberhasilan penentuan senyawa aktif biologis dari bahan tanaman sangat tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi. Sifat dari pelarut yang baik dalam ekstraksi tanaman meliputi toksisitas rendah, sifat mudah menguap oleh panas pada suhu rendah, peningkatan penyerapan fisiologis yang cepat dari ekstrak, tindakan pengawet dan ketidakmampuan untuk menyebabkan ekstrak menjadi kompleks atau terpisah. Pilihan pelarut dipengaruhi oleh apa yang ingin dilakukan dengan ekstrak. Karena produk akhir akan mengandung jejak residu pelarut,
pelarut harus tidak beracun dan tidak boleh mengganggu bioassay. Pilihannya juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan untuk diekstraksi (Pandey dan Tripathi, 2014).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pelarut diantaranya adalah selektivitas, toksisitas, kepolaran, kemudahan untuk diuapkan, dan harga. Etil asetat merupakan pelarut yang bersifat semi polar sehingga dapat menarik senyawa yang bersifat polar maupun nonpolar, memiliki toksisitas rendah, dan mudah diuapkan sehingga dapat digunakan untuk ekstraksi buah balakka (Putri, dkk., 2013).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan pelarut adalah: • Jumlah fitokimia yang ingin diekstraksi
• Rasio ekstraksi
• Keanekaragaman senyawa yang diekstraksi
• Keanekaragaman senyawa penghambat yang diekstraksi • Kemudahan penanganan ekstrak pada tahap selanjutnya • Toksisitas pelarut pada proses bioassay
• Potensi bahaya kesehatan dari ekstraktan (Pandey dan Tripathi, 2014).
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Proses Industri Kimia, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Medan dan Laboratorium Pengembangan PTKI Medan, Politeknik Teknologi Kimia Industri, Medan. Adapun bahan baku yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah balakka.
3.2 BAHAN DAN PERALATAN PENELITIAN
Adapun bahan dan peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
3.2.1 Bahan Penelitian
1. Aquadest (H2O)
2. Asam galat (C6H2(OH)3COOH) 3. Besi (III) klorida (FeCl3)
4. Buah balakka
5. Etil asetat (CH3CH2OCOCH3) 6. Folin-Ciocalteu
7. Gelatin
8. Natrium karbonat (Na2CO3) 9. Natrium klorida (NaCl)
3.2.2 Peralatan Penelitian
1. Batang Pengaduk 2. Beaker Glass 3. Gelas Ukur
4. Microwave oven (Samsung MS23K3513AK 23L) 5. Neraca digital
6. Oven 7. Pipet tetes
8. Spektrofotometer UV-Vis 9. Termometer
Gambar 3.1 Rangkaian Alat Percobaan Keterangan:
A = Microwave oven B = Beaker glass
C = Pelarut (Etil Asetat) D = Sampel (Buah Balakka)
3.3 PROSEDUR PENELITIAN
Prosedur penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut:
3.3.1 Persiapan Bahan Baku
Tahapan prosedur bahan baku pada peneliatian ini, yaitu (Li, dkk., 2019): 1. Dikeringkan buah balakka dengan oven pada suhu 40 oC hingga
mencapai berat konstan. 2. Dihaluskan dengan blender.
3.3.2 Proses Ekstraksi
Prosedur proses ekstraksi tanin dari buah balakka sebagai berikut (Li, dkk., 2019):
1. Ditimbang sampel sebanyak 2 gram.
2. Dicampurkan dengan (20, 40, 60, 80 dan 100) mL etil asetat. 3. Dimasukkan ke dalam microwave selama 1 menit dengan daya
(100, 180, 300, 450, dan 600) W.
4. Dilakukan pengukuran suhu setelah proses ekstraksi.
A
B C D
5. Disaring untuk memisahkan filtrat dengan residu.
6. Filtrat dikeringkan di dalam oven lalu dihitung kadar taninnya.
3.4 FLOWCHART PENELITIAN 3.4.1 Flowchart Persiapan Bahan Baku
Gambar 3.2 Flowchart Persiapan Bahan Baku
3.4.2 Flowchart Proses Ekstraksi
Gambar 3.3 Flowchart Proses Ekstraksi Selesai
Mulai
Buah balakka dikeringkan dengan oven pada suhu 40 oC hingga mencapai berat konstan
Dihaluskan dengan blender
Filtrat dikeringkan di dalam oven Residu dibuang Mulai
Dimasukkan ke dalam microwave selama 1 menit dengan daya (100, 180, 300, 450 dan 600) W Disiapkan 2 gram sampel yang telah diayak
Dicampurkan dengan etil asetat sebanyak (20, 40, 60, 80 dan 100) mL
Diukur suhu ekstrak lalu saring dan dipisahkan ekstrak dari campuran dengan kertas saring
3.5 ANALISIS HASIL PENELITIAN
Analisa yang dilakukan pada penelitian ini antara lain: 1. Analisis kualitatif pada ekstrak tanin.
2. Analisis kadar tanin pada ekstrak menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada ekstrak tanin menggunakan spektrofotometer (double beam) Shimadzu UV-1800.
3. Analisis Fourier-Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) pada ekstrak tanin.
3.5.1 Prosedur Analisis Hasil Penelitian
1. Analisis Kualitatif pada Ekstrak Tanin
Adapun prosedur analisis kualitatif pada ekstrak tanin, sebagai berikut (Ahmad, dkk., 2018):
1. Sampel yang dianalisis ditambahkan 1 mL gelatin 1% dan 1 mL larutan NaCl 10%, endapan warna putih menunjukkan adanya tanin.
2. Sampel yang dianalisis ditambahkan 10 mL aquadest, dan disaring lalu filtratnya ditambahkan larutan FeCl3 10% sebanyak 2 mL, endapan biru kehitaman atau hijau menunjukkan adanya tanin.
2. Analisis Kadar Tanin dengan menggunakan Spektofotometri UV-Vis
Tahapan analisis kadar tanin menggunakan spektrofotometer UV-Vis terdiri atas beberapa tahapan sebagai berikut:
a. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Prosedur penentuan panjang gelombang maksimum sebagai berikut (Amelia, 2015):
1. Ditimbang asam galat sebanyak 10 mg.
2. Dilarutkan dengan aquadest hingga volume 100 mL maka diperoleh konsentrasi larutan 100 ppm.
3. Dipipet larutan baku induk asam galat sebanyak 2 tetes ke dalam labu ukur 10 ml.
4. Ditambahkan 1 mL reagen folin 10%, dicampur homogen dan didiamkan selama 5 menit.
5. Ditambahkan 2 mL Na2CO3 15%, dicampur homogen dan didiamkan selama 5 menit.
6. Ditambah aquadest sampai batas 10 mL.
7. Dibaca pada panjang gelombang rentang 400-800 nm.
b. Penentuan Waktu Stabil
Berikut ini adalah prosedur penentuan waktu stabil (Amelia, 2015):
1. Dipipet larutan baku induk asam galat sebanyak 2 tetes ke dalam labu ukur 10 ml.
2. Ditambahkan 1 mL reagen folin 10%, dicampur homogen dan didiamkan selama 5 menit.
3. Ditambahkan 2 mL Na2CO3 15 %, dicampur homogen dan didiamkan selama 5 menit.
4. Ditambah aquadest sampai batas 10 mL.
5. Diamati absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang telah didapat dengan interval waktu pengamatan 0 sampai dengan 80 menit
c. Pembuatan Kurva Baku Asam Galat
Adapun prosedur pembuatan kurva baku larutan standar yaitu (Amelia, 2015): 1. Dipipet larutan baku induk asam galat masing-masing dengan konsentrasi
1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 ppm sebanyak 3 mL kedalam labu ukur 10 mL.
2. Ditambahkan 1 mL reagen folin, dicampur homogen dan didiamkan selama 5 menit.
3. Ditambahkan 2 mL Na2CO3 15%, dicampur homogen dan didiamkan selama 5 menit.
4. Ditambah aquadest sampai batas 10 mL, dicampur homogen dan didiamkan selama waktu stabil yang telah diperoleh.
5. Lalu diamati absorbansi pada panjang gelombang maksimum.
d. Penetapan Kadar Tanin
Berikut ini prosedur penetapan kadar tanin (Amelia, 2015):
3. Kemudian diambil 3 mL larutan tersebut ke dalam labu ukur 10 mL. 4. Ditambahkan 1 mL reagen folin, dicampur lalu didiamkan selama 5 menit. 5. Ditambahkan 2 mL Na2CO3 15%, dicampur lalu didiamkan selama 5
menit.
6. Ditambah aquadest sampai batas 10 mL, dicampur homogen dan didiamkan selama waktu stabil yang telah diperoleh.
7. Lalu diamati absorbansi pada panjang gelombang maksimum.
3.5.2 Flowchart Analisa Hasil Penelitian
1. Flowchart Uji Kualitatif Ekstrak Tanin
Gambar 3.4 Flowchart Uji Kualitatif pada Ekstrak Tanin Mengandung Tanin
Apakah terbentuk endapan putih?
Analit ditambahkan aquadest 10 mL lalu disaring Apakah terbentuk endapan biru kehitaman atau hijau? Mengandung Tanin Mulai Ya Ya
Tidak Mengandung Tanin Tidak
Filtrat ditambahkan 2 mL larutan FeCl3 10% Analit ditambahkan 1 mL
gelatin 1% dan 1 mL larutan NaCl 10%
2. Flowchart Uji Kadar Tanin (Spektrofotometri UV-Vis)
a. Flowchart Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Gambar 3.5 Flowchart Penentuan Panjang Gelombang Maksimum Selesai
Mulai
Asam galat sebanyak 10 mg dilarutkan dengan 100 mL aquadest
Larutan baku induk asam galat diambil sebanyak 2 tetes ke dalam labu ukur 10 mL
Campuran ditambahkan aquadest hingga batas 10 mL
Sampel diukur dengan Spektrofotometer UV-Vis, lalu dibaca pada panjang gelombang rentang
400-800 nm
Ditambahkan 1 mL reagen Folin-Ciocalteu, lalu dicampur hingga homogen lalu
didiamkan selama 5 menit
Ditambahkan 2 mL Na2CO3 15%, dicampur hingga homogen lalu didiamkan selama 5 menit
b. Flowchart Penentuan Waktu Stabil
Gambar 3.6 Flowchart Penentuan Waktu Stabil Selesai
Larutan baku induk asam galat diambil sebanyak 2 tetes ke dalam labu ukur 10 mL
Diamati absorbansinya pada panjang gelombang maksimum yang telah didapat dengan interval
waktu pengamatan 0 sampai dengan 80 menit Mulai
Campuran ditambahkan aquadest hingga batas 10 mL
Ditambahkan 1 mL reagen Folin-Ciocalteu, lalu dicampur hingga homogen lalu
didiamkan selama 5 menit
Ditambahkan 2 mL Na2CO3 15%, dicampur hingga homogen lalu didiamkan selama 5 menit
c. Flowchart Pembuatan Kurva Baku Asam Galat
Gambar 3.7 Flowchart Pembuatan Kurva Baku Asam Galat
Selesai
Larutan baku induk asam galat dengan konsentrasi 1, 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 ppm masing-masing diambil sebanyak 3 mL ke dalam labu
ukur 10 mL Mulai
Campuran ditambahkan aquadest hingga batas 10 mL
Absorbansi sampel diukur dengan Spektrofotometer UV-Vis dan diamati pada
panjang gelombang maksimum Dicampur hingga homogen lalu didiamkan
selama waktu stabil yang telah diperoleh Masing-masing sampel ditambahkan 1 mL reagen Folin-Ciocalteu, lalu dicampur hingga
homogen lalu didiamkan selama 5 menit
Masing-masing sampel ditambahkan 2 mL Na2CO3 15%, dicampur hingga homogen lalu didiamkan selama 5 menit
d. Flowchart Pembuatan Kurva Baku Asam Galat
Gambar 3.8 Flowchart Penetapan Kadar Tanin
Selesai
Sebanyak 2,5 mL sampel ekstrak tanin diencerkan dengan aquadest hingga volume 25 mL
Mulai
Dicampur hingga homogen lalu didiamkan selama waktu stabil yang telah diperoleh Campuran ditambahkan aquadest hingga
batas 10 mL
Absorbansi sampel diukur dengan Spektrofotometer UV-Vis dan diamati pada
panjang gelombang maksimum
Sebanyak 3 mL larutan tersebut ditambahkan 1 mL reagen Folin-Ciocalteu, lalu dicampur hingga homogen lalu didiamkan selama 5 menit
Ditambahkan 2 mL Na2CO3 15%, dicampur hingga homogen lalu didiamkan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 UJI KUALITATIF TANIN PADA EKSTRAK BUAH BALAKKA
Tanin merupakan kelompok senyawa polifenol yang terdapat dalam sejumlah besar makanan nabati (Lamy, dkk., 2016). Buah mengandung 28% tanin dari total tanin yang terdistribusi pada seluruh bagian tanaman (Charmkar dan Singh, 2017). Uji kualitatif perlu dilakukan untuk mengetahui adanya kandungan tanin pada ekstrak yang diperoleh. Dilakukan dua jenis analisis pada ekstrak buah balakka:
• Hasil ekstrak pertama ditambahkan 1 mL gelatin 1% dan 1 mL larutan NaCl 10%, endapan warna putih menunjukkan adanya tanin.
• Hasil ekstrak kedua ditambahkan 10 mL aquadest, dan disaring lalu filtratnya ditambahkan larutan FeCl3 10% sebanyak 2 mL, endapan biru kehitaman atau hijau menunjukkan adanya tanin (Ahmad, dkk., 2018). Warna hijau merupakan hasil reaksi dari tanin terkondensasi sedangkan biru kehitaman merupakan hasil reaksi dari tanin terhidrolisis (Bharudin, dkk., 2013).
Gambar 4.1 menunjukkan hasil uji kualitatif tanin pada hasil ekstrak buah balakka dengan pelarut etil asetat.
(a) (b) (c)
Gambar 4.1 Uji Kualitatif Ekstrak Tanin
(a) Ekstrak Tanin sebelum Pengujian
(b) Uji Ekstrak dengan Larutan Gelatin 1% dan NaCl 10% (c) Uji Ekstrak dengan Larutan FeCl3 10%
Berdasarkan Gambar 4.1 (b) hasil uji ekstrak dengan larutan gelatin 1% dan NaCl 10% membentuk endapan putih. Hal ini disebabkan karena tanin mengendapkan protein pada gelatin. Tanin bereaksi dengan gelatin membentuk kopolimer mantap yang tidak larut dalam air. Reaksi ini lebih sensitif dengan penambahan NaCl untuk mempertinggi penggaram dari tanin-gelatin (Marliana, dkk., 2005). Adapun pada Gambar 4.1 (c) hasil uji ekstrak dengan larutan FeCl3 10% membentuk endapan biru kehitaman. Hal ini disebabkan karena garam besi membentuk senyawa kompleks dengan tanin (Lembong, dkk., 2019). Kedua uji kualitatif pada ekstrak buah balakka menunjukkan bahwa adanya kandungan tanin pada ekstrak buah balakka.
4.2 PENGARUH DAYA MICROWAVE TERHADAP KONSENTRASI DAN
YIELD TANIN
Adapun pengaruh daya microwave terhadap konsentrasi tanin yang diperoleh menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Pengaruh Daya Microwave Terhadap Konsentrasi Tanin
Gambar 4.2 menunjukkan bahwa konsentrasi tanin menurun seiring penambahan daya micowave pada proses ekstraksi dengan perbandingan massa buah balakka terhadap pelarut etil asetat 1/10 g/mL dan waktu ekstraksi 1 menit. Pada daya 100 W, konsentrasi tanin yang diperoleh sebesar 56,2 mg/L dan terus mengalami penurunan konsentrasi seiring penambahan daya yaitu pada daya 180, 300, 450 dan 600 W masing-masing sebesar 32,9 mg/L, 28,7 mg/L, 16,2 mg/L dan 9,6 mg/L.
0 10 20 30 40 50 60 100 180 300 450 600 Konse ntra si (mg /L ) Daya Microwave (W)
Adapun pengaruh daya microwave terhadap yield tanin yang diperoleh dengan waktu ekstraksi 1 menit, rasio massa buah balakka terhadap volume etil asetat 1/10 g/mL dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Gambar 4.3 Pengaruh Daya Microwave Terhadap Yield Tanin
Gambar 4.3 menunjukkan bahwa yield tanin menurun seiring penambahan daya micowave pada proses ekstraksi dengan perbandingan massa buah balakka terhadap pelarut etil asetat 1/10 g/mL. Pada daya 100 W, yield tanin yang diperoleh sebesar 36,53 mg/g dan terus mengalami penurunan yield seiring penambahan daya yaitu pada daya 180, 300, 450 dan 600 W masing-masing sebesar 21,385 mg/g, 18,655 mg/g, 9,72 mg/g dan 5,28 mg/g.
Kuantitas ekstrak dapat ditingkatkan dengan peningkatan daya gelombang mikro, tetapi ada juga risiko terkait degradasi komponen termolabil. Secara teori, penggunaan daya microwave yang tinggi harusnya memungkinkan pengurangan waktu pemaparan. Namun, dalam beberapa kasus, microwave dengan daya yang sangat tinggi dapat menurunkan efisiensi ekstraksi karena degradasi sampel atau pendidihan pelarut cepat dalam sistem wadah terbuka, sehingga menghambat kontak ekstrak (Llompart, dkk., 2018). Proses degradasi sampel dan pendidihan pelarut dalam daya yang tinggi dapat menyebabkan efisiensi ekstraksi menurun sehingga menurunkan konsentrasi tanin seiring naiknya daya microwave.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini, daya microwave menurunkan kuantitas ekstrak yang diperoleh akibat degradasi sampel yang
0 5 10 15 20 25 30 35 40 100 180 300 450 600 Y ield T anin (mg /g ) Daya Microwave (W)
menyebabkan konsentrasi tanin serta yield tanin yang diperoleh menurun. Dari hasil yang diperoleh, yield tanin tertinggi diperoleh pada daya 100 W dimana diperoleh yield sebesar 36,53 mg/g sehingga untuk penelitian selanjutnya dilaksanakan pada daya 100 W.
4.3 PENGARUH RASIO MASSA BUAH BALAKKA DENGAN VOLUME ETIL ASETAT TERHADAP KONSENTRASI DAN YIELD TANIN
Adapun pengaruh rasio massa buah balakka dengan volume etil asetat terhadap konsentrasi tanin yang diperoleh menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Gambar 4.4 Pengaruh Rasio Massa Buah Balakka dengan Pelarut Terhadap Konsentrasi Tanin
Gambar 4.4 menunjukkan bahwa konsentrasi tanin mengalami fluktuasi seiring penambahan volume etil asetat pada proses ekstraksi dengan daya 100 W. Pada rasio 1/10 g/mL diperoleh konsentrasi tanin sebesar 56,2 mg/L dan kemudian menurun pada rasio 1/20 dan 1/30 g/mL yaitu masing-masing sebesar 47,91 mg/L dan 38,25 mg/L. Selanjutnya, konsentrasi tanin mengalami kenaikkan pada rasio 1/40 dan 1/50 g/mL yaitu masing-masing sebesar 47,74 mg/L dan 49,28 mg/L.
Adapun pengaruh rasio massa buah balakka dengan volume etil asetat terhadap
yield tanin yang diperoleh dengan waktu ekstraksi 1 menit, daya 100 W dapat dilihat
pada Gambar 4.5. 0 10 20 30 40 50 60 1/10 1/20 1/30 1/40 1/50 Konse ntra si (mg /L )
Gambar 4.5 Pengaruh Rasio Massa Buah Balakka dengan Pelarut Terhadap Yield Tanin
Gambar 4.5 menunjukkan bahwa konsentrasi tanin mengalami fluktuasi seiring penambahan volume etil asetat pada proses ekstraksi dengan daya 100 W. Pada rasio 1/10 g/mL diperoleh yield tanin sebesar 36,53 mg/g dan kemudian menurun pada rasio 1/20 dan 1/30 g/mL yaitu masing-masing sebesar 31,1415 mg/g dan 26,725 mg/g. Selanjutnya, yield tanin mengalami kenaikkan pada rasio 1/40 dan 1/50 g/mL yaitu masing-masing sebesar 33,418 mg/g dan 36,86 mg/g.
.Dalam ekstraksi konvensional, volume pelarut yang lebih tinggi biasanya akan meningkatkan pemulihan ekstrak. Namun, dalam MAE, pendekatan yang sama dapat menyebabkan pemulihan yang lebih rendah, mungkin karena difusi pelarut yang tidak sempurna dengan sampel oleh gelombang mikro (Llompart, dkk., 2018). Hal ini dapat menyebabkan terjadinya fluktuasi seiring bertambahnya volume pelarut. Selain itu, dapat terlihat bahwa pelarut sudah mencapai saturation point karena yield tanin yang dihasilkan tidak mengalami peningkatan yang signifikan (Buanasari, dkk., 2017).
Dari hasil yang diperoleh dari penelitian ini, bertambahnya volume pelarut etil asetat menaikkan kuantitas ekstrak yang diperoleh, tetapi juga dapat menurun karena pencampuran pelarut yang tidak sempurna dengan sampel oleh gelombang mikro yang menyebabkan konsentrasi tanin serta yield tanin yang diperoleh menurun. Dari hasil yang diperoleh, yield tanin tertinggi diperoleh pada rasio 1/50 dimana diperoleh yield sebesar 36,86 mg/g. 0 5 10 15 20 25 30 35 40 1/10 1/20 1/30 1/40 1/50 Y ield T anin (mg /g )
Berdasarkan hasil dari seluruh penelitian ini, dapat diperoleh bahwa hasil ekstrak tertinggi diperoleh pada kondisi daya 100 W, rasio massa buah balakka terhadap etil asetat 1/50 g/mL dengan waktu ekstraksi 1 menit yaitu yield sebesar 36,86 mg/g. Adapun bila dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Rahmah, dkk., 2018 yaitu ekstraksi tanin dari biji pinang dengan metode maserasi dimana hasil yield tertinggi dicapai pada hasil ekstraksi 4 jam sebesar 13,59%, hasil yang diperoleh pada penelitian ini menggunakan metode MAE lebih efisien karena perbedaan waktu yang sangat besar.
4.4 ANALISIS FOURIER-TRANSFORMER INFRARED (FTIR) PADA HASIL EKSTRAK TANIN
Hasil ekstrak tanin yang diperoleh pada kondisi daya 100 W, rasio massa buah balakka terhadap etil asetat 1/50 g/mL dengan waktu ekstraksi 1 menit diidentifikasi dengan spektrofotometer Fourier-Transformer Infrared (FTIR) untuk mengetahui gugus-gugus yang terdapat di dalam hasil ekstrak tersebut. Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang 500-4000 cm-1. Hasil analisis tanin standar yang dilakukan oleh Wahyono, dkk. Ditunjukkan pada Gambar 4.6 sebagai perbandingan awal. Adapun hasil analisis FTIR penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 4.7 yang dibandingkan dengan hasil analisis FTIR pada ekstrak tanin dari buah balakka dengan pelarut etanol yang dilakukan oleh Kamble dan Nemade pada Gambar 4.8.
Gambar 4.6 Analisis Fourier-Transform Infrared (FTIR) pada Asam Tanin Standar (Wahyono, dkk., 2019)
Gambar 4.7 Analisis Fourier-Transform Infrared (FTIR) pada Hasil Ekstrak Tanin dari Buah Balakka dengan Pelarut Etil Asetat
95 90 85 80 5 75 70 5 65 60 5 55 50 45 40 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 Panjang gelombang (cm-1) Tr ansmi si (% ) 3 3 9 1 .9 7 1 7 3 7 .9 8 1 6 1 3 .6 4 1 5 3 9 .3 2 1 4 4 8 .4 9 1 3 7 3 .2 7 1 2 3 6 .3 7 1 0 4 3 .2 3 1 0 9 7 .0 1 9 3 6 .3 8 7 6 6 .5 7 8 4 7 .3 9 2 3 6 0 .8 1 2 9 2 6 .5 3 2 9 8 3 .3 5 2 8 6 5 .6 1 1 3 0 2 .2 1
Gambar 4.8 Analisis FTIR pada Hasil Ekstrak Buah Balakka dengan Pelarut Etanol (Kamble dan Nemade, 2019)
Dari hasil FTIR pada Gambar 4.6, 4.7 dan 4.8 dapat diketahui berbagai gugus fungsi untuk masing-masing hasil ekstrak yang ditunjukkan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Perbandingan Hasil Analisis FTIR pada Tanin Standar, Ekstrak Buah Balakka pada Pelarut Etil Asetat dan Etanol
Gugus Fungsi
Panjang Gelombang (cm-1) Tanin Standar
(Wahyono,dkk.)
Ekstrak dengan Pelarut Etil Asetat (Hasil Penelitian Ini)
Ekstrak dengan Pelarut Etanol (Kamble dan Nemade, 2019) 1. O-H stretching 3275,5382 3391,97 3210,9 2. C-H stretching 2833,3333 2983,35; 2926,53 dan 2855,61 - 3. O=C=O stretching 2361,29582 2360,81 - 4. C=O stretching 1714,4075 1737,98 1699,94 dan 1621,64 5. C=C stretching - 1613,64 - 6. N-O stretching 1528,815 1539,32 - 7. C-H bending 1443,47826 1448,49 -
8. O-H bending 1318,15857 1373,27 1368,25 9. C-O stretching (ester) - 1302,21 - 10. C-O stretching (alkil aril eter) 1205,37084 1236.37 1233,25 11. C-O stretching (alkohol) 1090,19608 - 1142,62 12. CO-O-CO stretching - 1043,23 1033,66 13. C=C bending 951,74766; 865,81415 dan 756,60699 938,38; 847,39dan 766,57 853,75
Menurut Huang, dkk., struktur tanin baik tanin terhidrolisis maupun tanin terkondensasi mempunyai gugus O-H fenolik yang sangat dominan. Dari Gambar 4.6 dan Tabel 4.1 diketahui terdapat karakteristik tanin yaitu pada puncak vibrasi fenol (O-H stretching) pada 3275,5382 cm-1. Selain itu, terdapat gugus-gugus lainnya seperti gugus alkana (C-H stretching) pada puncak 2833,3333 cm-1, gugus karbon dioksida (O=C=O stretching) pada 2361,29582 cm-1, gugus karbonil (C=O stretching) pada puncak 1714,4075 cm-1, gugus komponen nitrogen (N-O stretching) pada puncak 1528,815 cm-1, gugus alkana kelompok metil (C-H bending) pada puncak 1443,47826 cm-1, gugus fenol (O-H bending) pada puncak 1318,15857 cm-1, gugus alkil aril eter (C-O stretching) pada puncak 1205,37084 cm-1, gugus alkohol sekunder (C-O
stretching) pada puncak 1090,19608 cm-1 dan gugus alkena (C=C bending) pada
puncak 951,74766; 865,81415 dan 756,60699 cm-1.
Hasil analisis FTIR pada Gambar 4.7 juga menunjukkan adanya karakteristik tanin yaitu puncak vibrasi fenolik (O-H stretching) pada 3391,97 cm-1. Selain itu, terdapat juga gugus-gugus lainnya seperti gugus alkana (C-H stretching) pada puncak 2983,35; 2926,53 dan 2855,61 cm-1, gugus karbon dioksida (O=C=O stretching) pada puncak 2360,81 cm-1, gugus aldehid (C=O stretching) pada 1737,98 cm-1, gugus alkena (C=C stretching) pada puncak 1613,64 cm-1, gugus komponen nitrogen (N-O
stretching) pada puncak 1539,32 cm-1, gugus alkana kelompok metil (C-H bending)
gugus aromatik ester (C-O stretching) pada puncak 1302,21 cm-1, gugus alkil aril eter (C-O stretching) pada puncak 1236.37 cm-1,gugus anhidrida (CO-O-CO stretching) pada puncak 1043,23 cm-1 dan gugus alkena (C=C bending) pada puncak 938,38; 847,39dan 766,57 cm-1.
Hasil analisis FTIR pada penelitian yang dilakukan oleh Kamble dan Nemade pada Gambar 4.8 menunjukkan gugus fenolik (O-H stretching) pada puncak 3210,9 cm-1, gugus aldehid (C=O stretching) pada puncak 1699,94 cm-1 dan 1621,64 cm-1, gugus fenol (O-H bending) pada puncak 1368,25 cm-1, gugus alkil aril eter (C-O
stretching) pada puncak 1233,25 cm-1, gugus alkohol tersier (C-O stretching) pada
puncak 1142,62 cm-1, gugus anhidrida (CO-O-CO) pada puncak 1033,66 cm-1.dan gugus alkena (C=C bending) pada puncak 853,75 cm-1.
Berdasarkan perbandingan pada Tabel 4.1, FTIR ekstrak hasil penelitian ini sudah memiliki kemiripan dengan FTIR asam tanin standar yang dilakukan Wahyono, dkk. Terdapat perbedaan dimana ekstrak hasil penelitian ini memiliki gugus lain seperti gugus alkena (C=C stretching) yang disebabkan dehidrasi dari alkohol pada hasil ekstrak buah balakka sehingga gugus alkohol (C-O stretching) pada ekstrak hasil penelitian ini tidak ada; terdapat gugus ester (C-O stretching) dan gugus anhidrida (CO-O-CO stretching) yang mungkin merupakan senyawa lain yang terekstrak pada buah balakka. FTIR hasil penelitian ini juga memiliki kemiripan dengan FTIR hasil penelitian Kamble dan Nemade dimana terdapat perbedaan juga seperti dengan tanin standar yaitu gugus alkena (C=C stretching) yang disebabkan dehidrasi dari alkohol pada hasil ekstrak buah balakka sehingga ekstrak hasil penelitian ini tidak mengandung gugus alkohol (C-O stretching). Adapun terdapat gugus-gugus lainnya seperti gugus alkana (C-H stretching) dan alkana kelompok metil (C-H bending) yang tidak dimiliki oleh hasil penelitian Kamble dan Nemade yang dapat disebabkan oleh faktor seperti terdegradasi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Kesimpulan yang didapat dari penelitian yang telah dilakukan adalah:
1. Hasil analisis kualitatif dan FTIR menunjukkan adanya tanin pada hasil ekstrak buah balakka.
2. Penggunaan daya microwave yang lebih besar menyebabkan kadar tanin pada hasil ekstraksi terdegradasi sehingga yield yang diperoleh berkurang. 3. Jumlah pelarut yang lebih banyak menyebabkan kadar tanin pada hasil
ekstraksi menurun dan mengalami kenaikan pada rasio 1/50 g/mL. 4. Yield tanin tertinggi diperoleh sebesar 36,86 mg/g pada daya microwave
100 W, rasio massa buah balakka terhadap etil asetat 1/50 g/mL dengan waktu ekstraksi 1 menit.
5.2 SARAN
Saran yang dapat diberikan untuk kelanjutan penelitian ini adalah: 1. Memvariasikan waktu ekstraksi yang dilakukan.
2. Memvariasikan ukuran partikel buah balakka yang digunakan karena ukuran permukaan padatan dapat mempengaruhi luas area kontak antara padatan dengan pelarut.
3. Melakukan identifikasi pada hasil ekstrak buah balakka dengan metode lain seperti HPLC (High Performance Liquid Chromatography).
4. Mengaplikasikan hasil ekstrak tanin dari buah balakka pada pengawetan bahan makanan.
DAFTAR PUSTAKA
Agarwal, M., A. Kumar, R. Gupta dan S. Upadhyaya. 2012. Extraction of Polyphenol, Flavonoid from Emblica Officinalis, Citrus Limon, Cucumis Sativus and Evaluation of their Antioxidant Activity. Orient J
Chem. 28(2).
Ahmad, R., G. Parveen dan N. A. Gauri. 2018. Phytochemical screening, sugar content, total protein and antimicrobial activity of three important medicinal plants. International Journal of Fauna and Biological Studies. 5(6): 125-139.
Amelia, F. R. 2015. Penentuan Jenis Tanin Dan Penetapan Kadar Tanin Dari
Buah Bungur Muda (Lagerstroemia speciosa Pers.) Secara
spektrofotometri dan Permanganometri. Jurnal ilmiah mahasiswa
Universitas Surabaya Vol.4 No.2. Fakultas Farmasi Universitas Surabaya: Surabaya.
Bharudin, M. A., S. Zakaria dan C. H. Chia. 2013. Condensed tannins from acacia mangium bark: Charaterization by spot tests and FTIR. AIP
Conference Proceedings 1571. 153-157.
Buanasari, W. T. Eden dan Ayu Ina Solichah. 2017. Extraction of Phenolic
Compounds from Petai Leaves (Parkia speciosa Hassk.) using Microwave and Ultrasound Asssisted Methods. Jurnal Bahan Alam
Terbarukan. 6(1): 25-31.
Charmkar, N. K. dan R. Singh. 2017. Emblica officinalis Gaertn. (Amla): A Wonder Gift of Nature to Humans. International Journal of Current
Microbiology and Applied Sciences. 6(7): 4267-4280.
Đukić, D. P. M., S. V. Moračanin, V. Kurćubić, M. Milijašević dan J. Babić. 2017. Conventional and unconventional extraction methods applied to the plant, Thymus serpyllum L. IOP Conference Series: Earth and
Environmental Science. 85. DOI :10.1088/1755-1315/85/1/012064.
Hasan, M. R., M. N. Islam dan M. R. Islam. 2016. Phytochemistry, pharmacological activities and traditional uses of Emblica officinalis: A review. International Current Pharmaceutical Journal. 5(2): 14-21. Nova Science Publishers Inc: New York.
Huang, Q., X. Liu, G. Zhao, T. Hu dan Y. Wang. 2017. Potential and challenges of tannins as an alternative to in-feed antibiotics for farm animal production. Animal Nutrition Journal. DOI: 10.1016/j.aninu.2017.09.004.
Jalil, M. A., M. A. Islam, M. B. Islam, N. U. Ahmed, M. A., M. M. H. Mondol, M. N. Hossain dan A. A. Muzahid. 2018. Determination of Trace Element, Microbial Load, Vitamin C and Percentage of Protein for Shell Life and Quality Determination of Prepared Amla Candy. Journal of
Scientific and Engineering Research. 5(10): 162-167. ISSN: 2394-2630.
Kamble, R. B. dan S. N. Nemade. 2019. Synthesis and Characterization of Tannic Acid from Extraction of Emblica Officinalis (Avala).
International Journal of Engineering Science and Computing. 9(7).