• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Perbatasan antar-negara tetangga merupakan salah satu batas teritorial yang harus dijaga oleh suatu negara. Negara yang memiliki garis batas dengan negara tetangga secara bersama-sama perlu menjaga batas teritorinya yang dalam hal ini merupakan bagian dari kedaulatan. Namun yang terjadi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), penjagaan daerah perbatasan dan pengelolahan pembangunan garis batas dalam bentuk fisik belum optimal. Garis batas fisik yang dimaksud adalah garis yang berada di sepanjang perbatasan kedua negara, yang dalam hal ini bertujuan untuk menangani transnational crime yang secara langsung maupun tidak langsung terjadi di daerah pintu masuk perbatasan.

Indonesia memiliki tiga (3) daerah yang berbatasan darat secara demarkasi dengan negara tetangga yaitu Malaysia, Timor Leste dan Papua New Guinea (PNG). Pada bagian utara, Indonesia berbatasan dengan Malaysia, bagian selatan dengan Timor Leste, dan bagian timur dengan PNG. Ada juga perbatasan laut dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Filiphina bagian utara dan bagian selatan perairan Australia dengan Samudera Hindia.(Yugi Al, 2016)

Dari ketiga perbatasan darat Indonesia dengan negara tetangga, perbatasan dengan PNG merupakan salah satu wilayah perbatasan yang masih jauh dari jangkauan negara. Menurut hasil penelitian(Saru Arifin, 2014) hal:14)panjang garis perbatasan Indonesia-PNG mencapai kurang lebih 770 kilometer. secara geografis, Perbatasan Indonesia-PNG yang terletak di Provinsi Papua dimulai dari Desa Skouw, yakni bagian utara Papua dan berakhir di bagian Selatan Papua yakni di muara Sungai Bensbach, Kabupaten Merauke. Pos-pos lintas batas yang disediakan oleh pemerintah terletak di daerah Skouw, Wembi,Waris dan Senggi yang ada di wilayah Kota Jayapura. Batas darat Indonesia-PNG disepakati berdasarkan deklarasi bersama (Join Declaration)yang ditandatangani pada tanggal 12 Februari 1973. Kesepakatan yang dilakukan di Jakarta tersebut, bukan saja melibatkan kedua negara yakni Indonesia dan PNG, tetapi juga Australia yang merupakan negara persemakmuran PNG. Indonesia meratifikasi perjanjian dengan membentuk Undang-Undang Nomor 6 tahun 1973. (Arifin,2014 : 15).

(2)

(Saru Arifin, 2014) hal : 15) juga menuliskan bahwa di sepanjang perbatasan Indonesia-PNG, pemerintah juga mendirikan 52 pilar Monumen Meridian (MM). Titik-titik yang ada di 141° Bujur Timur itu, mulai dari MM1 sampai dengan MM10. Selanjutnya pilar MM11 sampai dengan pilar MM14 berada pada meridian 141°01’10”. Pilar MM10 dan MM11 batas kedua negara mengikuti Thalweg dari sungai Fly. Tahun 1983-1991 pemerintah melakukan penambahan 38 pilar MM sesuai dengan Deklarasi Bersama (Joint Declaration).Joint Declaration mengatur tentang titik-titik kordinat yang menerangkan adanya batas antara Indonesia-PNG, dan badan yang mengelolah perbatasan kedua negara. Meski Joint Declaration telah terbentuk tahun 1973, masalah-masalah di perbatasan masih terus terjadi.

Namun pada kebijakan pemerintahan Jokowi, perbatasan Indonesia-PNG menjadi salah satu fokus sasaran pembangunan perbatasan yang akan dilakukan lima tahun ke depan. Selain karena wilayah perbatasan Indonesia-PNG masih jauh dari kata optimal, transnational crime juga masih banyak terjadi di wilayah tersebut.

Sejak disahkanya perbatasan Indonesia-PNG tahun 1973, fenomena transnasional crime mulai marak terjadi. Fenomena tersebut masih terjadi hingga akhir tahun 2016 lalu. Aksi dari pada kelompok terorganisir tersebut dapat terlihat dari kasus-kasus dalam tabel berikut:

Tabel 1.1

No Tahun Kejadian Penanganan Keterangan

1. 26 November 2012 BNN Papua Seorang kurir berinisial IS ditangkap

membawa koper berisi 2.4 kg sabu-sabu dari Iran dan Nigeria, yang dibawa ke PNG, Bandung lewat Jayapura.

(3)

2. 31 Juli 2013 Pos Muara Tami Koki A Satgas Yonif 412 Raider

Berhasil menggagalkan penyelundupan ganja kering seberat 500 Gram pelintas batas di wilayah perbatasan RI-PNG

3. 09 Desember 2014 Petugas Bea Cukai KPPBC TMP C Jayapura

Penegahan 100 gram lintingan ganja (marijuana) di Pos Lintas Batas Skow – Wutung

04 Desember 2014 Petugas Bea Cukai KPPBC TMP C Jayapura

Berhasil melakukan penegahan 1 (satu) pcs amunisi peluru kaliber 7.62mm jenis mouser dan 100 gram lintingan ganja (marijuana)

4. 15 September 2015 Petugas Bea Cukai KPPBC TMP C Jayapura

Penyelundupan narkotika Shabujenis Amphetamines & Methaphetamine

26 November 2015 Petugas Bea Cukai KPPBC TMP C Jayapura

Ganja seberat 24 gram

5. 12 Januari 2016 Petugas Bea Cukai KPPBC TMP C Jayapura

Tegah ganja 0,2 gram di Pos Lintas Batas Darat RI-PNG.

2 Februari 2016 Satgas Pamtas Yonif 406/Raider di Pos 76 Distrik Waris Kabupaten Keerom

Ganja 1 kg asal PNG

6. 19 April 2016 Yonif 406/ckPos Kalimao

Menemukan ladang yang ditanami 38 pohon ganja dengan tinggi 1-2,5 meter.

7. 27 Mei 2016 Polisi Air Direktorat Perairan Polda Papua berhasil membekuk 4 pemuda warga jayapura karena menyelundupkan ganja kering sebesar 6 kg dari Papua New Guinea.

8. 16 Desember 2016 Yonif 411 Raider Kostrad

menangkap dua warga yang membawa tiga paket ganja

(4)

Sumber pada table di atas penulis dapatkan dari media informasi lokal yang ada di Kota Jayapura Papua melalui situs internet.1

Dalam catatan penulis, lancarnya akses penyeludupan narkoba jenis ganja dan sabu-sabu ini disebabkan karena faktor kemiskinan yang masih tinggi di wilayah perbatasan Indonesia-PNG. Akses terhadap transportasi, pendidikan, kesehatan, dan informasi masih sangat jauh dari kata cukup. Seperti yang digambarkan sebagai berikut: “Di tengah potensi kekayaan alamnya, sebanyak 1.738 (80%) desa dari sekitar 2.000 desa di Irian Jaya termasuk desa miskin dan masuk Program Inpres Desa Tertinggal”. (Kaligis, AW Retor. 2011: 22). Kemiskinan menjadikan sebagian masyarakat memilih untuk menjalani pekerjaan sebagai penyeludup atau dalam sebutan mereka sebagai ‘penjual’ obat-obatan terlarang.

Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah warga Indonesia maupun PNG yang tidak adanya dokumen kependudukan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) di perbatasan.( Maga,2016) Selain permasalahan dokumen kependudukan di atas, wilayah perbatasan Indonesia-PNG juga menghadapi permasalahan lain seperti dijadikan tempat persembunyian kelompok separatis Tentara Papua Merdeka/Organisasi Papua Merdeka(TPM/OPM), penyeludupan narkoba jenis ganja, jual beli senjata maupun amunisi, serta digunakan untuk kegiatan infiltrasi atau eksfiltrasi intelejen asing ke wilayah Papua. Kehidupan sosial ekonomi maupun tingkat kesejahteraannya masih tergolong sangat rendah, begitupula aksesibilitasnya. Hal ini tentu berpengaruh pada degradasi nasionalisme. (Triana, 2016).

Transnational crime seperti narkoba serta penyeludupan obat-obat terlarang.Hal ini terjadi karena banyaknya jalan pintas yang dapat dilalui oleh pihak asing dan terbatasnya pos keamanan di wilayah perbatasan. Dengan panjang perbatasan yang mencapai +770 km dan tidak adanya batas fisik yang membentang di sepanjang wilayah perbatasan, maka permasalahan tersebut tentu sangat mungkin terus terjadi.

1Data masalah transnasional crime di perbatsan Indonesia-PNG yang penulis sajikan pada table diatas, sumbernya dari beberapa situs internet seperti : www.edupensa.com, papua.antarnews.com, news.okezon.com, www. Berita.dharapos.com, www.suara pilar demokrasi.com, news.detik.com, www.harianpapua.com, kbrpapua,

(5)

Oleh karena pentingnya perbatasan Indonesia dengan negara tetangga, khususnya dengan PNG dalam menangani transnational crime , Indonesia membentuk suatu lembaga atau badan yang secara khusus mengurusi perbatasan. Badan yang bertanggung jawab untuk dapat mengelola wilayah perbatasan Indonesia-PNG dari pemerintah pusat tentu Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP). Di tingkat Provinsi Papua diberi nama Badan Perbatasan dan Kerja Sama Luar Negeri (BPKLN). Di wilayah perbatasan, selain BPKLN juga ada instansi-instansi lain yang ikut bertanggung jawab seperti kantor Imigrasi, Badan Narkotika Nasional (BNN) Papua, Bea Cukai,Kehutanan,Karantina Hewan dan Tumbuhan Lindung, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas), Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), serta Dinas Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop).

BPKLN Provinsi Papua yang memangku tugas dan tanggung jawab dalam mengurusi pembangunan serta pengawasan terhadap wilayah perbatasan Indonesia-PNG,hingga saat ini masih kurang optimal dalam mencegah dan menangani masalah-masalah di wilayah perbatasan. Hal yang paling krusial dalam transnational crime adalah penyeludupan obat-obat terlarang seperti ganja dan sabu yang dibawa oleh individu maupun kelompok yang tidak bertanggung jawab dari PNG ke Provinsi Papua kususnya Kota Jayapura juga sebaliknya.

Wilayah jangkauan BPKLN Provinsi Papua ini yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Sarmi, Mamberamo Raya, Biak Numfor, Supiori, Merauke, Mapi Asmat, Mimika, Kerom Pegunungan Bintang. Melihat peran penting BPKLN di wilayah Papua Dari 12 kabupaten 1 kota di Provinsi Papua, penulis akan mengkaji satu wilayah yakni Skow Wutung yang berada di Kota Jayapura. Hal ini dikarenakan unit analisis penelitian ini yakni BPKLN berlokasi di Kota Jayapura.

Maka penting untuk diteliti peran BPKLN yang bekerja sama dengan instansi lain dalam menyelesaikan permasalahan perbatasan terutama masalah transnastional crime.

1.2.Rumusan masalah

Bagaimana peran BPKLN di Indonesia dalam menangani transnasional crime di perbatasan Indonesia-PNG (PPLB Skouw Jayapura) di Provinsi Papua?

(6)

1.3.Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran BPKLN dalam menangani transnasional crime di perbatasan Indonesia-PNG (PPLB Skouw Jayapura) di Provinsi Papua.

1.4.Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan atau kontribusi wawasan terhadap pembaca untuk mengetahui peran Badan Perbatasan Dan Kerjasama Luar Negeri dalam menangani transnasional crime di wilayah perbatasan Indonesia-PNG, kususnya di Kota Jayapura.

Secara akademik penelitian ini diharapkan menambah wawasan berpikir tentang pentingnya paradigma pembangunan wilayah perbatasan, menambah pengetahuan dalam bidang pembangunan wilayah perbatasan yang bersifat multidimensi dan memperhatikan aspek lokal. Penelitian ini juga diharapkan memberikan manfaat berupa informasi kepada masyarakat, pihak swasta maupun kepada pemerintah bahwa dalam era globalisasi ini kita harus siap menghadapi pergerakan individu maupun kelompok terorganisir yang melintasi batas-batas negara yakni transnasional crime.

Secara empirik, penelitian ini diharapkan mempunyai fungsi perencanaan dan bahan-bahan evaluasi bagi berbagai pihak dalam menerapkan berbagai rencana strategis dalam membangun wilayah perbatasan di Kota Jayapura. Khususnya kepada pihak pemerintah dalam hal ini Badan Perbatasan dan Kerjasama Luar Negeri dalam menetapkan kebijakan pembangunan dengan regulasi-regulasi baru dan fungsi kordinasi antar lembaga di Indonesia juga kerjasama bilateral Indonesia-PNG.

1.5.Batasan Penelitian

Adapun batasan dalam penelitian ini sebagai berikut:

- Penelitian ini hanya akan membahas tentang perbatasan Indonesia-PNG

- Penelitian ini hanya akan membahas permasalahan transnational crime yang terjadi di perbatasan Indonesia-PNG

(7)
(8)

Referensi

Dokumen terkait

2006 Festival Programmer – Jakarta Slingshortfest, South East Asia short film festival 2007 Festival Director OK.Video MILITIA – 3 rd Jakarta International Video Festival. 2009

Kadar air terendah terjadi pada larutan alkali NaOH dengan konsentrasi 6% dan tertinggi pada larutan alkali KOH dengan konsentrasi 4% hal ini diduga kandungan sulfat pada

Pengelasan (Welded); jenis penyambungan dengan las dipengaruhi oleh material pipa yang akan disambung dan penggunaannya, misalnya pengelasan untuk bahan stainless

Hal ini tidak lepas dari perkembangan Kota Pekanbaru yang sangat pesat terutama di sektor perekonomian yang ditandai dengan banyaknya pertumbuhan sentra-sentra kegiatan

Dala6 rangka6eningkatkan6utu7anke!ela6atana!ien9RSTN 6enerakan 6et#7erootcauseanalysisRCAatauanali!akar6a!ala89-aitu !uatu kegiatan in=e!tiga!iter!truktur-ang

Ringkasnya, meskipun struktur kristal serbuk ferit hasil sintesis telah sama dengan produk komersial, namun sifat-sifat magnetik magnet yang dihasilkan masih belum dapat

Berdasarkan komposisi patotipe Xoo pada pertanaman MH 2014/2015, rekomendasi perbaikan teknologi pengendalian penyakit HDB pada periode tanam awal dan pertengahan yaitu menanam

Untuk menentukan adanya perbedaan antar perlakuan digunakan uji F, selanjutnya beda nyata antar sampel ditentukan dengan Duncan’s Multiples Range Test (DMRT).