Curhat: K 2 i (Kanan Kiri ok Ji)
KOPI, Pekanbaru - Keinginan saya menjadi seorang dokter kandungan timbul dari cita-cita main suntik-suntikan dengan teman masa kecil dulu, ketika itu melihat dokter bekerja berpakaian serba putih dan rapi serta menolong wanita melahirkan.
Setamat dari SMU (Sekolah Menengah Umum) dulu maka saya ikut mendaftar ke Fakultas Kedokteran di Universitas Negeri. Ternyata pada Formulir Sipenmaru (Sistim Penerimaan Mahasiswa Baru) nama saya tidak tercantum.
Keinginan untuk menggapai cita-cita masa kecil untuk menjadi seorang Dokter
menggebu-gebu, maka berembuk/musyawarah dengan keluarga besar. Kesimpulannya saya dibolehkan sekolah kedokteran pada universitas swasta.
Pembaca pasti tahu sekolah kedokteran pada universitas swasta biaya cukup besar, apalagi buku-buku tentang kedokteran harganya mahal kali, belum biaya praktek serta biaya lainya.
Tahun pertama dan kedua studiku aman-aman saja, bokap-nyokap (ibu- bapak) pun banting tulang membiayai studiku dari hasil tanaman sawit sepuluh hectare tersebut. Oh ya aku anak tertua serta mempunyai 4 orang adik lagi. Adik-adik juga ingin kuliah juga di universitas seperti kakaknya.
Untuk menyekolahkan adikku nomor 2 yang ingin memasuki perguruan tinggi dan nomor 3 ingin sekolah SMK, terpaksa orang tuaku menjual 5 hektare kebun sawit.
Hasil dari penjualan kebun sawit termasuk untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari, serta untuk biaya kuliah saya.
Kiriman uang dari orang tua macet hutang sudah segudang. Seperti biaya sewa kamar kost, catering, uang kuliah, beli buku, dan lain-lain.
Apa kata mendiang Presiden Republik Indonesia (RI) pertama Ir.Soekarno orang tua Megawati SP (Soekarno Putri) mantan Presiden, gantungkanlah cita-citamu setinggi langit (red - kalau tak sampai setinggi langit setinggi pohon kelapa aja). Cita-cita kugapai hanya tinggal selangkah lagi, tak mungkin ku mengambil masa langkau akibat terbentur biaya.
Oh ya namaku Rani (nama samaran), ciri–ciri kulit tubuhku kuning langsat, tinggi 165, kalau memakai sepatu Hak tinggi bertambah tinggi. Perkenalanku dengan Om-om Haji Suntil eh centil sebut saja namanya OM Haji Cu Indranaldi (nama samaran).
Om Haji ini orang royal kepada cewek-cewek seksi seperti aku, apalagi aku mempunyai kelebihan tubuh tinggi dan dada membusung bodi kayak gitar spanyol.
Segala kebutuhan kuliahku di biaya oleh cu Haji Indranaldi tersebut, dia mengaku kepada saya seorang kontraktor. Kebanyakan pola tingkah para kontraktor kini hanya mengandalkan pakcik dan makciknya kerja pada kantor Bupati atau Gubernur minta ”kue Proyek” negara.
Pengalaman tak ada maka terjadilah habis kontrak tinggal traktor sebab back ground sekolah tak mendukung. Ujung-ujung kepala Dinas bisa tersangka korupsi akibat ulah kontraktor nakal itu.
Kembali cerita, setahun lebih Cu Haji membiayai kuliahku di universitas kedokteran swasta, maka sayapun segan dengannya. Oh ya, sebelumnya ada seorang fotografer sebut saja namanya Samsudin suka dengan saya. Perkenalan pertama kami saat dia mengantar foto wisuda teman saya dulu. Setelah itu diapun rajin setiap minggu datang ke tempat kos-kosan saya. Sayapun tak memarahinya sebab dia bawa bakso makanan kesukaan saya, kamipun bersama-sama makan bakso.
Sekali saya tanya apakah orang setiap minggu wisuda bang, dengan lugunya dia mengangguk.
Melihat kebutuhan saya sangat besar serta permintaan saya kepadanya selangit maka bang Samsudin mengundurkan diri setelah dia mendapat laporan Bintiil eh Bin bahwa saya telah dibiayai oleh oknum om Haji Portugal (Persatuan orang tua Gatal).
Malam Pergantian tahun baru Cu Haji Indranaldi mengajakku ke tempat hiburan malam, maka rame cewek-cewek yang pontennya melebihi dari aku. Maklum oknum cu Haji ini royal banget terhadap cewek-cewek seksi dan centil.
Semua minuman botol berkadar alkohol ada pada saat itu di atas meja. Cewek-cewek itu saya tanya ada yang masih kuliah, kalau gitu sama dong kita jawab saya. Saya tak biasa minum minuman beralkohol tersebut, maka ajakan dari teman–teman cewek saya minum juga hingga saya mabuk.
Antara sadar atau tidak sadarnya saya, cu Haji menjadi “penjajah” terhadap tubuhku.
Maka dia sempat juga “memetik” kegadisan saya pada malam itu. Bangun pagi tubuh ini terasa pegal-pegal juga selangkahan kuterasa perih akibat ulah “Rudal” cu Haji. Yang anehnya baju saya masih utuh. Saya menangis maka cu Haji mendatangi saya dengan mengatakan akan bertanggung jawab.
Zaman kini orangkan maunya hanya menjawab, menanggung nggak mau.
Hari berganti hari maka HUS (Hubungan Suami istri) kami lakukan setiap minggu dengan oknum Cu Haji Indranaldi (nama samaran), Akibat keenakan dan gelisah (geli-geli basah) haid saya terlambat.
tersebut ibarat petir di siang bolong, gelisah saya kuliah hanya tinggal satu tahun lagi, ingin aborsi rasanya berdosa, maka saya tak mau aborsi ini ulah kami berdua akibat “Muntahan Rudal” cu Haji.
Bulan berganti bulan, kandungan saya makin membesar. Teman kuliahpun kaget, 'Rani kelihatan gemuk kini', saya jawab 'lupa diet'.
Maka betul juga saat ini orang hanya mau menjawab menanggung nggak mau. Juga terhadap Cu Haji saat saya ketemu dengannya serta menerangkan bahwa janin yang saya kandung ini anaknya, cu Haji menyanggah bahwa anak dalam kandungan Rani bukan berasal dari
spermanya. Maka saya dengan susah payah menyakinkan cu Haji. Boleh dengan tes kromosom DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) tutur saya.
Maka Samsudin seorang fotografer mendapat informasi dari Interpol, Rani kini tengah hamil dari teman kuliahnya. Kini Rani berdomisili di perumahan arah ke Panam. Beberapa hari melacak maka kediaman Rani ditemukan. Samsudin datang ke rumah Rani saat cuaca musim hujan, dan tak lupa membawakan kesukaanya, bakso. Samsudinpun sudah basah kuyup datang kerumah Rani, maka Rani kaget saat melihat Sam berdiri di depan pintu.
Ranipun dengan spontan memeluk Samsudin, maka malam itu keinginan Sam minum SGM (Susu Gantung Murni) tercapai.
Paginya Rani dengan meneteskan air mata juga air hidung menceritakan kronologisnya kepada Sam perihal kelakuan oknum Cu Haji tersebut.
Selama beberapa bulan Sam membiayai kebutuhan Rani. Dasar cewek Matre, dulu matre 2000 kini sudah naik matre 6000, Ranipun Gadang balanjonyo (gede Jajannya) minta ini minta itu ke Sam. Maka keputusan akhirnya Rani dengan berat hati pulang ke kampung halamanya dengan diantar Sam Ke terminal bus antar kota antar propinsi dalam kondis hamil tua. Sampun
Cita-cita Rani dulu ingin menjadi dokter kandungan, nyatanya dia mengandung anak Oknum Cu Haji centil.
Curhat ini diceritakan oleh Samsudin ke ajisutisyoso.
Oh ya pembaca budiman jangan tiru kelakuan Mbak Rani (red. maaf bila nama sama) itu berambisi hidup mewah. Umumnya cewek-cewek zaman kini ingin instan tidak mau bekerja halal, mau memilih dijadikan istri simpanan/peliharaan om-om centil, Anda menyesal nanti.
Sebagai salam penutup, jangan tiru kelakuan oknum Haji itu rajin sembahyang, rajin selingkuh, rajin pula korupsi, maka Anda termasuk golongan oknum Haji K2i plesetan (kanan kiri oke ji) atau (kamu Tot/selingkuh ji).
Ini pengaruh tonttonan Sinetron di layar TV swasta nasional alur ceritanya tidak sesuai budaya Indonesia efeknya terhadap gadis remaja.(didi)