BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan menyebutkan bahwa yang

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pekerjaan kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan distribusi obat, serta pengembangan obat, bahan obat, dan obat tradisional. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat adalah apotek, dimana mereka yang berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia adalah apoteker.

Pelayanan kefarmasian selama ini dinilai oleh banyak pengamat masih dibawah standar. Sebagaimana dikemukakan oleh Kuncahyo bahwa apoteker yang seharusnya mempunyai peran sentral dan bertanggung jawab penuh dalam memberikan informasi obat kepada masyarakat ternyata masih belum dilaksanakan dengan baik1. Apotek telah berubah menjadi semacam toko yang berisi semua golongan obat baik obat bebas, obat keras, psikotropika dan narkotika dengan pelayanan yang tidak mengacu pada kaidah-kaidah profesi, karena tidak dilakukan oleh apoteker2

1

Adelina br Ginting, Penerapan standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Kota Medan Tahun 2000, Medan: USU Repository, 2009

. Pada kesempatan lain, pelayanan kefarmasian di bawah standar tersebut secara nyata diungkapkan oleh Ketua Pemgurus Daerah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Sumatera Utara, H. Siskandri, bahwa 70 persen apoteker tidak berada di apotek sehingga pelayanan farmasi yang seharusnya dilakukan oleh apoteker digantikan oleh asisten apoteker.

(2)

Pernyataan ini selaras dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ahaditomo bahwa apoteker pada akhirnya hanya sebagai prasyarat berdirinya suatu apotek. Pelayanan apotek masih berorientasi pada produk, belum berorientasi pada pasien. Padahal menurut standar pelayanan farmasi komunitas, semua informasi tersebut di atas seharusnya diberikan oleh apotek dan merupakan hak konsumen. Informasi yang lengkap dan jelas akan mengurangi resiko terjadinya kesalahan penggunaan obat (medicati on error).

Penelitian yang dilakukan di 500 apotek di Amerika Serikat, kesalahan yang sering terjadi pada pelayanan obat di apotek adalah pada tahap “dispensing” yaitu antara lain adalah cara pemberian obat yang salah, pemberian label yang keliru, salah dosis dan salah sediaan3

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004 tentang pelayanan kefarmasian di apotek, dinyatakan bahwa pelayanan kefarmasiaan pada saat ini telah mengacu pada pelayanan kefarmasian (pharmaceutical care). Kegiatan pelayanan kefarmasian yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan obat sebagai komoditi menjadi pelayanan yang komprehensif yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dari pasien. Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus diwujudkan. Pembangunan di bidang kesehatan mempunyai visi Indonesia Sehat 2010, salah satu nya adalah menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu. Untuk itu diperlukan perubahan dalam sistem pelayanan kesehatan termasuk di dalamnya pelayanan kefarmasian.

. Penggunaan obat haruslah secara tepat dengan memperhatikan petunjuk kemasan obat atau dokter agar tidak menimbulkan efek samping yang dapat membahayakan fisik, mental dan jiwa pengguna.

3

Matmunah N, Medication Error di Apotek, Pendidikan Berkelanjutan ISFI Cabang Solo,

(3)

Menurut Depkes RI pelayanan kesehatan mempunyai peran strategis dalam perbaikan kesehatan masyarakat, khususnya pelayanan kefarmasian dibidang obat–obatan. Kualitas layanan farmasi dan pelayanan kefarmasian yang berorientasi pada konsumen harus terus dikembangkan agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang senantiasa berubah dan berkembang. Perkembangan jasa pengadaan dan penyaluran obat terus mengalami peningkatan yang signifikan. Perkembangan tersebut perlu sejalan dengan pembinaan, pengendalian dan pengawasan yang tepat pula agar adanya jaminan kesehatan dan keselamatan terhadap pemakaian obat tersebut. Kualitas pelayanan kefarmasian yang baik khususnya dibidang obat-obatan tidak hanya beriorentasi pada keuntungan semata ,tetapi juga berorientasi pada kepuasan konsumen4

Konsumen pada dasarnya mempunyai hak, untuk menegakkan hak-hak konsumen ini maka perlu perlindungan hukum, akan pengetahuan konsumen tentang hukum dan ketentuan hukum yang melindungi kepentingan konsumen di Indonesia belum memadai. Berdasarkan hal tersebut diperlukan perangkat peraturan perundang-undangan untuk mewujudkan keseimbangan perlindungan kepentingan konsumen dan pelaku usaha sehingga tercipta perekonomian yang sehat. Pada hakekatnya perlindungan hukum itu berkaitan bagaimana hukum memberikan keadilan yaitu memberikan atau mengatur hak-hak terhadap subyek hukum, selain itu juga berkaitan bagaimana hukum memberikan keadilan terhadap subyek hukum yang dilanggar haknya

.

5

Perlindungan terhadap konsumen didasarkan pada keadilan komutatif yakni keadilan yang memberikan kepada setiap orang sama banyaknya dengan tidak mengingat jasa-jasa

.

4

Departemen Kesehatan RI, Standar Pelayanan Farmasi, Jakarta:Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 1992

5

(4)

perseorangan6. Perlindungan konsumen adalah merupakan masalah kepentingan manusia, oleh karenanya menjadi harapan bagi semua bangsa di dunia untuk dapat mewujudkannya. Mewujudkan perlindungan konsumen adalah mewujudkan hubungan berbagai dimensi yang satu sama lain mempunyai keterkaitan dan saling ketergantungan antara konsumen, pengusaha, dan Pemerintah7

Ciri khas dari Negara hukum adalah adanya pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia. Termasuk dalam hak-hak-hak-hak asasi manusia adalah hak-hak konsumen. Mengingat betapa pentingnya hak-hak konsumen, sehingga melahirkan pemikiran yang berpendapat bahwa hak-hak konsumen merupakan “Generasi Keempat Hak Asasi Manusia” yang merupakan kata kunci dalam konsepsi hak asasi dalam perkembangan umat manusia di masa-masa yang akan datang

.

8

Hak konsumen dalam artian yang luas

. Dimana persoalan hak asasi manusia tidak cukup hanya dipahami dalam konteks hubungan kekuasan yang bersifat vertikal, tetapi mencakup pula hubungan-hubungan kekuasaan yang bersifat horisontal, antar kelompok masyarakat, antara golongan rakyat atau masyarakat, dan bahkan antar satu kelompok masyarakat di suatu negara dengan kelompok masyarakat di negara lain.

9

6

Chainur Arrasjid, Dasar-dasar Ilmu Hukum,Jakarta: Sinar Grafika, 2006, hal 40

dapat disebut sebagai dimensi baru hak asasi manusia yang tumbuh dan harus dilindungi dari kemungkinan penyalahgunaan atau tindakan-tindakan sewenang-wenang dalam hubungan kekuasaan yang bersifat horizontal antara pihak produsen dengan konsumennya. Konsepsi generasi keempat ini dapat disebut sebagai Konsepsi Generasi Kedua apabila seluruh corak pemikiran atau konsepsi hak asasi manusia sebelumnya yang bersifat vertikal dikelompokkan sebagai satu generasi tersendiri dalam pertumbuhan dan

7 Erman Raja Guguk, et.all, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta: Mandar Maju, 2003, hal 7

.

8 Amstrong Sembiring, Menyoal Hak-Hak Konsumen,2010, diakses 8 Januari 2013, 9

Mariam Darus, Perlindungan Terhadap Konsumen Ditinjau Dari Segi Standar Kontrak, Jakarta: Bina Cipta, 1990

(5)

perkembangan konsepsi hak asasi manusia. Konsepsi Generasi kedua adalah konsepsi hak asasi manusia untuk mengejar kemajuan ekonomi, sosial dan kebudayaan, termasuk hak atas pendidikan, hak untuk menentukan status politik, hak untuk menikmati ragam penemuan-penemuan ilmiah, dan lain-lain sebagainya.

Secara historis mengenai hak-hak dasar konsumen pertama kali dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat J.F. Kennedy “Presiden yang pertama kali mengangkat martabat konsumen” saat menyampaikan pidato revolusioner di depan kongres (US Congress) pada tanggal 15 Maret 1962 tentang Hak konsumen. Ia berujar, “Menurut definisi, konsumen adalah kita semua. Mereka adalah kelompok ekonomi paling besar yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh hampir setiap keputusan ekonomi Publik dan swasta, tetapi mereka hanya sekelompok penting yangsuaranya nyaris tak didengar.” Yang di dalam pesannya kepada Kongres dengan judul A Special Massage of Protection the Consumer Interest.

Presiden J.F. Kennedy menjabarkan empat hak konsumen sebagai berikut: 1) the right to safety (hak atas keamanan)

2) the right to choose (hak untuk memilih)

3) the right tobe informed (hak mendapatkan informasi) 4) the right tobe heard (hak untuk didengar pendapatnya)10

Selanjutnya dalam perkembangannya hak-hak tersebut dituangkan di dalam Piagam Hak Konsumen yang juga dikenal dengan Kennedy’s Hill of Right. Kemudian muncul beberapa hak konsumen selain itu, yaitu hak ganti rugi, hak pendidikan konsumen, hak atas pemenuhan kebutuhan dasar dan hak atas lingkungan yang sehat. Selanjutnya, keempat hak tersebut merupakan bagian dari Deklarasi Hakhak Asasi Manusia yang dicanangkan PBB pada tanggal 10

.

10

Wahyu Sasongko, Ketentuan-Ketentuan Pokok Hukum Perlindungan Konsumen, Bandar Lampung: Universitas Lampung, 2007, hal 31

(6)

Desember 1948, masingmasing pada pasal 3, 8, 19, 21 dan pasal 26, yang oleh Organisasi Konsumen Sedunia (International Organization of Consumers Union- IOCU) ditambahkan empat hak dasar konsumen lainnya, hak untuk memperoleh kebutuhan hidup, hak untuk memperoleh ganti rugi, hak untuk memperoleh pendidikan konsumen, hak untuk memperoleh lingkungan hidup yang bersih dan sehat.

Masyarakat Eropa (Europese Ekonomische Gemeenschap atau EEG) juga menyepakati lima hak dasar konsumen sebagai berikut, hak perlindungan kesehatan 11

Dua dekade kemudian setelah Kennedy menyampaikan pidato, pada tanggal 15 Maret 1983, maka Hari Hak Konsumen dirayakan untuk pertama kali, dan setelah perjalanan panjang gerakan konsumen sejak pidatonya, hak konsumen akhirnya diterima secara prinsip oleh pemerintah seluruh dunia dalam Sidang Majelis Umum PBB (UN General Assembly) pada tanggal 9 April 1985. Pengakuan hak konsumen dilakukan melalui adopsi UN guidelines for

Consumers Protection. Lobi yang konsisten oleh kelompok konsumen berdasarkan Guidelines

tersebut merupakan kesinambungan untuk meningkatkan dan memperkuat perlindungan hukum bagi kelanjutan gerakan konsumen di seluruh dunia baik di negara berkembang maupun di negara maju. Usai Presiden Amerika Serikat John .F. Kennedy sesudah itu, L.B. Johnson, menambahkan perlu dikembangkan konsep product warranty dan product liability.

dan keamanan (recht

op bescherming van zijn gezendheid en veiligheid), hak perlindungan kepentingan ekonomi

(recht op bescherming van zijn economische belangen), hak mendapat ganti rugi (recht op

schadevergoeding), hak atas penerangan (recht op voorlichting en vorming), hak untuk didengar

(recht om te worden gehord).

11

Bernard Arief Shidarta, Refleksi Tentang Struktur Ilmu Hukum, Sebuah Penelitian Tentang Fundasi

Kefilsafatan dan Sifat Keilmuan Ilmu Hukum Sebagai Landasan Pengembangan Ilmu Hukum Nasional Indonesia,

(7)

Di Indonesia, mengenai hak-hak konsumen diatur dalam pasal 4 Undang- Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yakni :

a) hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;

b) hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;

c) hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;

d) hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan; e) hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa

perlindungan konsumen secara patut;

f) hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;

g) hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; h) hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang

dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;

i) hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya12

Signifikansi pengaturan hak-hak konsumen melalui Undang-Undang merupakan bagian dari implementasi sebagai suatu Negara kesejahteraan, karena Undang-Undang Dasar 1945 di samping sebagai konstitusi politik juga dapat disebut konstitusi ekonomi, yaitu konstitusi yang mengandung ide Negara kesejahteraan yang tumbuh berkembang karena pengaruh sosialisme sejak abad 19. Indonesia melalui Undnag-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan

.

12

Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Hukum tentang Perlindungan Konsumen, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2001, hal 27

(8)

Konsumen menetapkan kesembilan hak konsumen sebagai penjabaran dari pasal-pasal yang bercirikan Negara kesejahteraan, yaitu pasal 27 ayat (2) dan pasal 33 Undang-Undang Dasar1945

Undang–Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen diharapkan dapat menjadi landasan hukum yang kuat untuk menegakan hak-hak konsumen tersebut. Lemahnya kedudukan konsumen dan begitu besarnya kerugian yang dapat ditimbulkan, khususnya terhadap apoteker sebagai Apoteker Pengelola Apotek yang salah dalam memberikan obat kepada masyarakat, maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini yang menyangkut juga dengan pemberian perlindungan konsumen berdasarkan Undang–Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dengan judul :

“Tanggung Jawab Apoteker Terhadap Konsumen Ditinjau Dari Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen”

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, beberapa permasalahan pokok yang akan dibahas oleh penulis dirumuskan antara lain sebagai berikut:

1. Apa saja tugas apoteker dan dasar hukum apoteker serta bentuk-bentuk kelalaian yang

dilakukan apoteker yang merugikan konsumen dalam menjalankan tugas ?

2. Bagaimana tanggung jawab hukum apoteker terhadap konsumen ditinjau dari

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen ?

3. Bagaimana akibat hukum dan penyelesaian dalam hal adanya kelalaian kesalahan

(9)

C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan perumusan masalah yang telah diungkapkan sebelumnya, maka untuk mengarahkan suatu penulisan diperlukan adanya tujuan, adapun yang menjadi tujuan penulis dalam menyusun tulisan ini yaitu:

1. Untuk mengetahui apa saja tugas dan dasar hukum serta bentuk-bentuk kelalaian yang dilakukan oleh apoteker yang dapat merugikan konsumen dalam menjalankan tugasnya.

2. Untuk mengetahui bagaimana tanggung jawab apoteker terhadap konsumen ditinjau dari Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dikaitkan dengan kode etik apoteker.

3. Untuk mengetahui bagaimana akibat hukum dan penyelesaiannya dalam hal terjadi adanya kesalahan informasi kepada konsumen yang dilakukan oleh apoteker.

D. Manfaat Penulisan

1. Secara Teoritis, hasil penelitian dapat dijadikan sebagai:

1. Bahan kajian bagi akademis untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya tentang hukum perlindungan konsumen.

2. Sebagai suatu bentuk penambahan literatur tentang tanggungjawab apoteker terutama pemberian perlindungan kepada konsumennya

2. Secara Praktis, hasil penelitian dapat digunakan:

1. Sebagai pedoman dan masukan bagi apoteker dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya terhadap konsumen.

(10)

2. Sebagai pedoman dan masukan bagi pemerintah, peradilan dan praktisi hukum dalam menentukan kebijakan dan langkah-langkah untuk memutuskan dan menyelesaikan perkara.

3. Sebagai suatu bentuk sumbangan pemikiran dan masukan para pihak yang berkepentingan terutama masyarakat luas tentang hak-hak yang dimiliki mereka apabila dirugikan oleh apoteker.

E. Metode Penulisan

Untuk mencari dan menemukan suatu kebenaran ilmiah dan untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam melengkapi bahan-bahan bagi penulisan skripsi ini, maka penulis mengadakan penelitian dengan metode sebagai berikut:

1. Penelitian kepustakaan (library research)

untuk mendapatkan konsepsi teori dan doktrin, pendapat atau pemikiran konseptual dan

penelitian pendahulu yang berhubungan dengan objek telaahan penelitian ini yang dapat berupa peraturan perundang-undangan dan karya ilmiah lainnya. Pada metode penelitian kepustakaan (Library research) ini penulis mengumpulkan, membaca, dan mempelajari serta menganalisa secara sistematis sumber bacaan yang meliputi buku-buku, majalah, surat kabar, karangan ilmiah, peraturan perundang-undangan dan sumber kepustakaan lainnya yang mempunyai relevansi dengan materi yang dibahas dalam skripsi ini.

2. Penelitian lapangan (Field Research)

Pada metode ini agar dapat memperoleh data yang lebih akurat, maka penulis melakukan penelitian lapangan dengan mengambil lokasi penelitian di Apotek Umi Farma Johor, Medan. Dalam hal ini penulis melakukan penelitian dengan cara memilih responden yaitu dengan

(11)

mengadakan wawancara (interview) kepada apoteker di Apotek Umi Farma Johor, Medan yaitu Ibu Umi Chairani Manik. Penulis juga menyebarkan angket (questioner) kepada para pasien Apotek Umi Farma.

Berdasarkan kedua teknik penelitian dan pengumpulan data ini penulis kemudian mengolah data-data dan bahan-bahan dan selanjutnya disajikan sesuai dengan pembahasan skripsi ini.

F. Keaslian Penulisan

Penulisan skripsi ini didasarkan oleh ide, gagasan maupun pemikiran penulis secara pribadi dari awal hingga akhir berdasarkan penulusuran di Perpustakaan USU, penulisan mengenai masalah tanggung jawab apoteker terhadap konsumen ditinjau dari Undang-undang Nomor 8 Tentang Perlindungan Konsumen ini belum pernah dilakukan dalam topik dan permasalahan yang sama. Karena itu keaslian penulisan ini terjamin adanya. Kalaupun ada pendapat atau kutipan dalam penulisan ini semata-mata adalah sebagai faktor pendukung dan pelengkap dalam penulisan yang memang sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan tulisan ini.

G. Sistematika Penulisan

Penulisan ini dibuat secara terperinci dan sistematis, agar memberikan kemudahan bagi pembacanya dalam memahami makna dan memperoleh manfaatnya. Keseluruhan sistematika itu merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan antara satu dengan yang lain yang dapat dibuat sebagai berikut :

(12)

BAB I : PENDAHULUAN

Terdiri dari latar belakang, perumusan permasalahan, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, keaslian penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Memberikan pemahaman tentang tinjauan umum tentang konsumen. Di dalam tinjauan umum tentang konsumen diuraikan tentang pengertian konsumen, hak dan kewajiban konsumen, hak dan kewajiban pelaku usaha, pengertian hukum perlindungan konsumen, pentingnya hukum perlindungan konsumen, tujuan perlindungan konsumen.

BAB III: TINJAUAN UMUM TENTANG APOTEKER

Memberikan pemahaman tentang tinjauan umum mengenai apoteker meliputi pengertian, hak dan kewajiban apoteker, tugas dan kewenangan apoteker, serta tanggung jawab apoteker.

BAB IV: TANGGUNGJAWAB APOTEKER TERHADAP KONSUMEN DITINJAU DARI

UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

Merupakan pembahasan pokok penulisan yang terdiri dari pemahaman tentang tanggung jawab hukum apoteker terhadap konsumen menurut Undang-Undang Nomor 8 Tentang Perlindungan Konsumen dan dikaitkan dengan kode etik apoteker.

BAB V: PENUTUP

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :