• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAYA BAHASA PADA PUISI KARYA PARA SISWA YANG TERBIT DI RUBRIK SMS RADAR LAMPUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "GAYA BAHASA PADA PUISI KARYA PARA SISWA YANG TERBIT DI RUBRIK SMS RADAR LAMPUNG"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Figurative Languages in the Students’ Poems Appeared in the Column of "SMS" Radar Lampung

Anggraini Saputri Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Jalan Beringin II Nomor 40 Kompleks Gubernuran, Telukbetung, Bandarlampung Telepon: (0721) 486408, Hp: 082181830993

Pos-el: [email protected]

Diajukan: 26 Februari 2017, direvisi: 15 Maret 2017

Abtract

This study is about figurative language that is a part of the stylistic studies. This study aims to determine the use of language styles contained in the students’ poems appeared in the column of "SMS" Radar Lampung. This research uses descriptive qualitative method by focusing on the content of the analysis. Based on the results of the analysis, the figurative languages found are personification, simile, and metaphor. In addition to these three figurative languages, it is found also other figurative languages, namely hyperbole, repetition, and synesthesia.

Keywords: literature, poetry, figurative language

Abstrak

Penelitian ini adalah tentang gaya bahasa yang merupakan bagian dari kajian stilistika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan gaya bahasa yang terdapat pada puisi-puisi karya siswa-siswa yang terbit di rubrik “SMS” Radar Lampung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memfokuskan analisis pada isi. Berdasarkan hasil analisis, gaya bahasa yang banyak ditemukan adalah personifikasi, simile, dan metafora. Selain ketiga gaya bahasa tersebut, ditemukan juga gaya bahasa hiperbola, repetisi, dan sinestesia.

(2)

12

1. Pendahuluan

Karya sastra bersifat imajinatif. Salah satu bentuknya adalah puisi. Puisi berbeda dengan prosa. Puisi lebih bersifat konotatif, yakni bahasanya bermakna ganda, yang disebabkan oleh konsentrasi atau pemadatan segenap kekuatan bahasa di dalamnya (Djojosuroto, 2006:30). Di dalam proses kensentrasi segenap unsur puisi, dipusatkan satu permasalahan atau kesan tertentu (Esten, 2007:31).

Puisi juga merupakan karya seni, bersifat puitis (Pradopo, 1990:13). Sebagai satu bentuk keindahan dalam karya seni, puisi merupakan ungkapan gejolak hati penyair yang dituangkan dengan wujud utuh yang didukung oleh perasaan, pikiran, dan cita-cita. Dengan unsur-unsur tersebut, puisi dapat menggemakan getar jiwa.

Jika dilihat sebagai bentuk keindahan, puisi memiliki dua unsur pembangun yang saling berkaitan erat. Dua unsur tersebut adalah struktur batin dan struktur fisik. Sruktur fisik terdiri atas baris-baris puisi yang bersama-sama membangun bait-bait puisi. Selanjutnya, puisi itu membangun kesatuan makna di dalam keseluruhan puisi sebagai sebuah wacana. Struktur fisik puisi adalah medium pengungkapan struktur batin puisi. Richards menyebut kedua unsur tersebut sebagai hakikat dan metode puisi. Hakikat puisi adalah unsur hakikat yang menjiwai puisi, sedangkan medium bagaimana hakikat itu diungkapkan adalah metode puisi. Hakikat puisi itu ada empat, yakni tema, rasa, nada, dan amanat. Keempatnnya diatur dan disusun dengan menggunakan kata-kata yang teratur, indah, dan berirama. Kata berperan sebagai perlambang demi

kiasan-kiasan, kadang-kadang me-ngandung hal-hal yang pokok-pokok saja dan bermakna konotatif. Pilihan kata yang digunakan di dalam puisi sangat tepat guna untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran-pikiran tentang kehidupan dengan intens. Untuk itu, penyair menggunakan perbandingan perlambang yang figuratif.

Puisi sebagai wujud karya cipta seseorang tentu dapat dikaji dalam banyak hal, di antaranya strukturnya, ragamnya, serta sejarahnya. Dalam kaitannya dengan struktur puisi, salah satu unsure yang dapat dikaji adalah bahasa kias atau figurative language.

Berkaitan dengan hal tersebut penulis mengambil objek penelitian berupa teks puisi. Di dalamnya dikaji majas atau gaya bahasanya. Data yang digunakan adalah naskah-naskah puisi karya siswa-siswi SLTP dan SLTA yang terbit di kolom “SMS” tahun 2017. Puisi-puisi tersebut adalah puisi karya Kinarlin Nastita dengan judul puisi “Matahari dan Bulan”, “Dingin”, serta “Debu”, puisi karya Maulydia Ayu Ningrum yang berjudul “Kamu” dan “Kecewa Menginap”, puisi karya Dzakiyyah Jasmine yang berjudul “Bayangan Dirimu”, “Di Kala Rindu Melanda”, dan “Permaikan Alam Ini”, puisi karya Putri Aulia Wulandarai yang berjudul “Fatamorgana Rindu”, “Tentang Rinduku”, dan “Perempuan Manis”, puisi karya Luluk Addini Putri yang berjudul “Akhir Zaman” dan “Untukku”, puisi karya Siti Atikah Azzahrah yang berjudul “Kunang-Kunang”, “Milik-Nya”’ dan “Surat untuk Peradaban”, serta puisi karya Hestia Wulandari yang berjudul “Gema Tipa dan Jukulele”, dan “Keluh Kecil Menerpa Hati”.

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gaya bahasa

(3)

13

apa saja yang banyak digunakan oleh siswa-siswa tersebut dalam puisi-puisi yang dibuatnya.

2. Metode

2.1 Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu mendeskripsikan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi (Suryabrata, 2011:75). Di dalamnya digunakan data kualitatif yang diwujudkan dalam bentuk penjelasan atau uraian (Subagyo, 2006:94).

Di dalam penelitian ini dilakukan kegiatan analisis data secara simultan sepanjang proses penelitian. Di dalam penelitian ini digambarkan apa yang menjadi permasalahan lalu dianalisis dan ditafsirkan data yang ada. Data penelitian diperoleh dari koran Radar Lampung, yakni teks atau naskah puisi karya siswa SLTP dan SLTA yang dimuat di kolom “SMS”. 2.2 Teori Penelitian

Puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang bermakna ‘membuat’ atau poeisis yang bermakna ‘pembuatan’. Di dalam bahasa Inggris puisi disebut dengan poem atau poetry. Berdasarkan pengertian istilah tersebut, puisi diartikan ‘membuat’ dan ‘pembuatan’ karena melalui puisi, pada dasarnya seseorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batin (Aminuddin, 1995:134).

Hudson dalam Aminuddin (1995:134) menjelaskan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang mengungkapkan kata-kata sebagai

media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan garis dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya.

Sementara itu, Lascelles Abercramble dalam Djojosuroto (2004:11) mengatakan bahwa puisi adalah ekspresi dari pengalaman imajinatif yang hanya bernilai serta berlaku dalam ucapan atau pernyataan yang bersifat kemasyarakatan yang diutarakan dengan bahasa yang mempergunakan setiap rencana yang matang dan bermanfaat.

Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang berasal dari ungkapan dan perasaan penyair secara imajinatif dengan menggunakan bahasa sebagai medianya.

Di dalam puisi, bahasa yang digunakan berbeda dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Puisi memiliki bahasa yang khas. Bahasa puisi berbentuk idionsyncratic, yakni tebaran kata yang digunakan merupakan hasil pengolahan dan ekspresi individual pengarangnya (Djojosuroto, 2006:12). Bahasa puisi bersifat konotatif dan sulit ditafsirkan maknanya secara tepat tanpa memahami konteks yang dihadirkan dalam puisi.

Di dalam puisi terdapat unsur intrinsi. Berdasarkan unsur intrinsiknya, puisi memiliki bangun struktur atau yang disebut dengan struktur fisik dan lapis makna atau yang disebut dengan struktur batin. Struktur fisik puisi terdiri dari bunyi atau persajakan, diksi atau pilihan kata, bahasa kias (figurative language), pencitraan, larik atau baris, bait, dan tipografi. Sementara, struktur batin puisi terdiri dari pokok pikiran, tema, nada, suasana, dan amanat.

(4)

14

Salah satu struktur fisik puisi adalah bahasa kias (figurative Language) atau gaya bahasa. Gaya bahasa disebut juga dengan majas. Majas, kiasan, atau figure of speech adalah bahasa kias, bahasa indah yang dipergunakan untuk meninggikan dan meningkatkan efek dengan

memperkenalkan serta

membandingkan benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum (Tarigan, 2015:104). Majas digunakan untuk menghidupkan dan mengongkretkan karangan pengarang (Djajasudarma, 2013: 24). Majas mampu mengimbau indera pembaca karena sering lebih konkret daripada ungkapan yang harfiah. Lagipula, majas lebih sering ringkas daripada padanannya.

Di dalam puisi, majas atau gaya bahasa digunakan dengan tujuan untuk menciptakan beberapa hal berikut, yakni 1) menghasilkan kesenangan yang bersifat imajinatif, 2) menghasilkan makna tambahan, 3) menambah intensitas serta menambah konkret sikap dan perasaan penyair, dan 4) makna yang diungkapkan lebih padat.

Ada beberapa jenis majas atau gaya bahasa. Tarigan (2015:106) membedakan gaya bahasa ke dalam empat bagian, yaitu 1) gaya bahasa perbandingan yang terdiri dari perumpamaan, kiasan, penginsanan, sindiran, dan antitesis, 2) gaya bahasa pertentangan yang terdiri dari hiperbola, litotes, ironi, oksimoron, paronomasia, paralipsis, dan zeugma, 3) gaya bahasa pertautan yang terdiri dari metonimia, sinekdoke, alusio, eufemisme, ellipsis, inverse, dan gradasi dan 4) gaya bahasa perulangan yang terdiri dari aliterasi, antanaklasis, kiasmus, dan repetisi. Djajasoedarma (2013: 25) membedakan gaya bahasa

ke dalam tiga bagian, yaitu 1) gaya bahasa perbandingan yang terdiri dari perumpamaan, kiasan atau metafor, dan penginsanan atau personifikasi 2) gaya bahasa pertentangan yang terdiri dari hiperbol, litotes, dan ironi, serta 3) gaya bahasa pertautan yang terdiri dari metonimia, sinekdoke, kilatan, dan eufemisme.

Beberapa pengertian gaya bahasa akan dijelaskan sebagai berikut. Gaya bahasa perumpamaan atau simile adalah bahasa kias yang membandingkan dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dipersamakan dengan menggunakan kata-kata seperi serupa, bagaikan, laksana, dan sejenisnya. Metafora adalah perbandingan yang implisit, menggunakan kata-kata bukan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang bedasarkan persamaan atau perbandingan. Personifikasi adalah bahasa kias yang mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dapat berbuat dan berpikir seperti manusia. Hiperbola adalah gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang berlebih-lebihan, baik jumlah, ukuran, maupun sifat, dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan, dan pengaruhnya. Gaya bahasa repetisi adalah gaya bahasa yang mengandung perulangan kata atau kelompok kata yang sama. Sinestesia adalah gaya bahasa yang terjadi karena adanya pertukaran tanggapan dua indera yang berbeda.

3. Hasil dan Pembahasan

Puisi-puisi Karya Ratu Kinarlin Nastita

(5)

15 (1) Matahari dan Bulan

Siang,

Sering mengingatkan aku kepada matahari

Manakala malam,

mengingatkan aku kepada bulan Keduanya saling melengkapi siang dan malam

Matahari tidak pernah lelah

Membiaskan cahanya di kala siang Manakala,

Bulan tidak pernah lupa Menerangi malam-malamku

Percaturan alam tidak pernah silap Bulan dan Matahari

Dalam puisi yang berjudul “Matahari dan Bulan” tersebut terdapat gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa ini terdapat pada larik puisi yang berbunyi /Siang, Sering mengingatkan aku kepada matahari/, /Manakala malam, mengingatkan aku kepada bulan/. Kata-kata siang dan malam seakan-akan dipindahkan menjadi manusia. Siang dan malam dapat melakukan perbuatan yang dilakukan manusia, yakni mengingatkan.

Gaya bahasa personifikasi juga terdapat pada larik yang berbunyi /Matahari tidak pernah lelah membiaskan cahanya di kala siang/ dan /bulan tidak pernah lupa menerangi malam-malamku/. Kata-kata matahari dan bulan seakan-akan memiliki sifat manusia, yakni lelah dan lupa. Demikian juga larik yang berbunyi /percaturan alam tidak pernah silap/. Percaturan alam seakan-akan memiliki sifat manusia, yakni silap. Larik /hanya angin malam yang tahu/ dan /hanya angin malam yang dapat menemaninya/ pun mengandung gaya bahasa personifikasi. Angin malan seakan-akan dapat melakukan

perbuatan manusia, yakni mengetahui dan menemani.

(2) Dingin

Angin malam menghembuskan kebekuan

Berderai Kristal bening berguguran Mengubur pesona dewi malam Dengarkanlah suara hembusan angin Jangan kau usik apalagi singgah

Biarkanlah dingin menyelimuti malam Saat ini biarkan alam membisu

Bungkam bahasa karena kaku Jangan tanya kenapa tak bicara? Hanya helaan angin yang tahu Hanya angin malam yang dapat menemaninya.

Puisi yang berjudul “Dingin” mengandung gaya bahasa personifikasi dan metafora. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada larik /Angin malam menghembuskan kebekuan/. Angin seakan-akan dapat melakukan perbuatan yang dilakukan manusia, yaitu menghembuskan. Larik /Berderai Kristal bening berguguran/ /Mengubur pesona dewi malam/ juga mengandung gaya bahasa personifikasi. Di dalam larik tersebut, kristal seakan-akan dapat melakukan perbuatan yang dilakukan manusia, yakni mengubur. Sementara, pada larik /Biarkanlah dingin menyelimuti malam/ dan /Saat ini biarkan alam membisu/, /Bungkam bahasa karena kaku/ juga terdapat gaya bahasa personifikasi. Kata-kata dingin dan alam juga seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yakni

menyelimuti, membisu, dan

membungkam. Sama halnya larik /Hanya helaan angin yang tahu/ dan /Hanya angin malam yang dapat menemaninya/. Dua larik tersebut juga mengandung gaya bahasa personifikasi, kata angin dan frasa

(6)

16

angin malam seakan-akan dapat melakukan aktivitas manusia, yakni tahu dan menemani.

Selain gaya bahasa personifikasi, puisi yang berjudul “Dingin” pun mengandung gaya bahasa metafora. Gaya bahasa tersebut terdapat pada larik /Mengubur pesona dewi malam/. Frasa dewi malam digunakan untuk melukiskan bulan yang bersinar dengan indah pada malam hari sehingga disamakan dengan dewi.

(3) Debu

Aku hanya sebutir debu yang memburamkan kilau

tak pantas berada di atas suci tak bisa menghindar

saat angin hembuskan aku untukmu, lalu terbang

Aku hanya kecewa bagai hampa mengharap udara ,

atau debu di tengah gersang mengharap hujan

hentikan angin membawaku terbang Tubuh ini remuk tak berdaya

Entah dibawa ke mana Aku hanya pasrah

Puisi yang berjudul “Debu” mengandung gaya bahasa personifikasi, metafora, simile, dan hiperbola. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada larik / hampa mengharap udara/ dan /debu di tengah gersang mengharap hujan/. Kata-kata hampa dan debu seakan-akan memiliki sifat manusia dan dapat berbuat seperti manusia, yakni merasa hampa dan mengharap.

Gaya bahasa metafora terdapat pada pada larik /aku hanya sebutir debu/. Frasa sebutir debu digunakan untuk melambangkan si aku yang

sangat kecil, kotor atau hina, dan tidak berarti.

Gaya bahasa simile terdapat pada larik /aku hanya kecewa bagai hampa mengharap udara/. Kata-kata aku hanya kecewa dan hampa mengharap udara adalah dua hal yang secara hakiki berbeda. Namun, keduanya dipersamakan dengan menggunakan kata bagai.

Gaya bahasa hiperbola terdapat pada larik /tubuh ini remuk tak berdaya/. Frasa remuk tak berdaya digunakan untuk mengungkapkan hancurnya tubuh si aku.

Puisi-puisi Karya Maulydia Ayu Ningrum

(4) Kamu

Ada senyawa kimia melepaskan beberapa elektronnya

satu atau dua

Ia harus kehilangan agar seimbang Belajar bagaimana mereka bereaksi Menerima yang lain masuk akan mengubah strukturnya

Bila suhu, atau kepadatan yang berubah

Penambahan dan sejenisnya membuat ruang itu tak sama lagi

Memberitakan rasa merubahnya menjadi warta

Mau tak mau aku tak punyai lagi amanku bercakap yang buatku jadi teman seperti yang lain

Kulepas inginku agar ia pulang ke peraduannya

Tapi berat lihat geraknya menjauh dari titik pusat kakiku bertumpu

Dia yang menyadarkan diri dari lamunan santainya belajar

Tentang belum begitu banyaknya ilmu yang kuserap

(7)

17

Pelita yang menyadarkan itu

melambung tinggi sekali, aku hanya menonton aksinya

Masih kacau dalamku, aku berbenah Jika tak jadi baik, tak ada juga baik yang datang

Aku hanya jadi garis asymtot Yang dekat dengan kurva, tapi takpernah menjangkaunya

Pada puisi yang berjudul “Kamu” terdapat gaya bahasa personifikasi dan metafora. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada larik /Ada senyawa kimia melepaskan beberapa elektronnya, satu atau dua, Ia harus kehilangan agar seimbang, Belajar bagaimana mereka bereaksi/. Frasa senyawa kimia seakan-akan memiliki sifat atau rasa dan perbuatan manusia, yakni memiliki rasa kehilangan dan aktivitas atau perbuatan belajar. Gaya bahasa personifikasi juga terdapat pada larik /Kulepas inginku agar ia pulang ke peraduannya/. Kata inginku seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yakni pulang. Selain itu, larik/ Pelita yang menyadarkan itu melambung tinggi sekali/ juga mengandung gaya bahasa yang sama. Kata pelita seakan-akan dapat menyadarkan, yakni perbuatan yang sebenarnya dilakukan oleh manusia.

Gaya bahasa metafora terdapat pada larik /Kulepas inginku agar ia pulang ke peraduannya/. Kata peraduannya digunakan untuk melambangkan benak atau pikiran. Rasa ingin yang dimiliki oleh si aku lirik dihilangkan dari benak atau pikirannya. Selain itu, gaya bahasa metafora juga terdapat pada larik /aku hanya garis asymtot/. Kata asymtot, garis lurus yang makin didekati oleh suatu lengkungan, tetapi tidak pernah dipotong, digunakan untuk

melukiskan si aku lirik. Jadi, si aku lirik dianggap sama dengan garis asimtot.

(5) Kecewa Menginap Pernah kuterbang tinggi sekali Lalu bergerak kebawah setelahnya Segala hal siang itu rasanya

mengecewakan

Tetiba kaki merasa ingin cepat melangkah keluar

Pulang dan mengizinkan kekalahan mengecewakanku tidak sampai sore Tapi saat malam

Ia malah datang mengingatkanku betapa kecewa sangat tidak enak Ingin kuungkap semua

Tapi itu hanya terangkum sebagai senyum saat orang lain memberiku semangat

Padahal sudah pagi Tapi aku masih sakit

Ternyata kecewa semalam menginap Dan sekarang belum pergi

Ingin kuusir Tapi dengan apa? Yasudah kubiarkan

Kecewa ini sebenarnya membantuku melihat aku

Aku yang masih bisa sakit

Dan membenarkan firman Tuhan bahwa manusia tidak sempurna Setelah kecewa ini aku akan berusaha kembali terbang

Naik dan tidak mengizinkan lagi terbang menginap

Pada puisi yang berjudul “Kecewa Menginap” terdapat gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa tersebut terdapat pada larik /Segala hal siang itu rasanya mengecewakan/ dan /Ternyata kecewa semalam menginap, Dan sekarang belum pergi/. Frasa segala hal siang dan kata kecewa seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yaitu mengecewakan, menginap, dan pergi.

(8)

18

Puisi-puisi Karya Dzakiyyah Jasmine

(6) Bayangan Dirimu

Mengenalmu adalah anugrah bagiku Ku damba memori indah bersama Yang selalu kurindu

Namun kini kusadar semua tinggal kenangan

Gurauan itu tak lekang oleh waktu Aku sangsi dengan kerinduan ini Cinta mengisah senda gulana Tujuku merembih pandanganmu Bayangmu menusuk sanubariku Pecahkan sukma daku

Ku tahu kau telah menghilang di memoriku

Lantaran bayangmu telah terkikis habis

Bagai pasir yang tersapu deburan ombak

(7) Di kala Rindu Melanda Rindu

Sebuah kata yang ingin ku ucapkan kepadamu

Sebuah kata yang mengusik harimu Rindu

Bisakah kau sampaikan kepadanya Bahwa aku rindu bersamanya Bahwa aku rindu canda tawanya Rindu

Akankah dia merasakan hal yang sama?

Akan kah dia rindu denganku? Aku hanya dapat menunggu Suatu saat nanti

Ketika Tuhan pertemukan kita kembali

(8) Permaikan alam ini Bukalah matamu

Lihatlah betapa permainya alam ini Yang Tuhan ciptakan untuk manusia Bukalah hatimu

Akankah kau akan diam? Melihat alam yang tak bersalah Dirusak oleh manusia tak berakal Yang hanya mementingkan dirinya Tanpa memikirkan masa depan bumi Jagalah alam permai ini

Yang Tuhan ciptakan untuk manusia Lestarikanlah alam ini

Supaya bumi dapat senang, tersenyum Puisi-puisi Karya Putri Auliya

Wulandari

(9) Fatamorgana Rindu

Duhai kenangan, hadirmu laksana petir yang menyambar, sempat melintas namun telah kandas

Duhai kenangan, datangmu bak angin Menyibak embun pagi hingga terjatuh dan

memasrahkan diri.

Duhai kenangan, kauterlihat seperti siluet

Yang mampu menyinari kembali memori

lamaku

Duhai kenangan, terkadang terasa menyakitkan saat kau kembali hadir dalam kerinduan,

tapi tak apa karena aku kuat meskipun aku

harus memendam rindu yang kian memberat

Bagiku kau bukan ilusi, melainkan sebatas

fatamorgana rindu yang tak pasti Puisi yang berjudul “Fatamorgana Rindu” mengandung

(9)

19

gaya bahasa simile, personifikasi, metafora, dan repetisi. Gaya bahasa simile terdapat pada larik/, /hadirmu laksana petir yang menyambar/. Pada larik tersebut kehadiran (seseorang) dan petir yang menyambar adalah dua hal yang berbeda. Keduanya dipersamakan dengan menggunakan kata laksana. Larik /datangmu bak angin/juga mengandung gaya bahasa simile. Kedatangan seseorang dan angin yang merupakan dua hal yang berbeda dipersamakan dengan menggunakan kata bak. Demikian juga larik /Duhai kenangan, kauterlihat seperti siluet Yang mampu menyinari kembali memori Lamaku/. Kenangan dan siluet adalah dua hal yang berbeda. Keduanya dipersamakan dengan menggunakan kata seperti.

Gaya bahasa personifikasi terdapat pada larik /datangmu bak angin, Menyibak embun pagi hingga terjatuh dan memasrahkan diri/. Kata menyibak dan memasrahkan diri adalah aktivitas atau perbuatan manusia. Namun, kedua kata itu dilakukan benda bukan manusia, yakni angin yang dapat menyibak dan embun pagi yang memasrahkan diri.

Gaya bahasa metafora terdapat pada larik / Bagiku kau bukan ilusi, melainkan sebatas fatamorgana rindu yang tak pasti/. Fatamorgana pada larik tersebut melambangkan seseorang yang bukan khayalan dalam angan-angan.

Gaya bahasa repetisi terdapat pada frasa duhai kenangan. Pada puisi tersebut, frasa duhai kenangan diulang beberapa kali.

(10) Tentang Rinduku Mentari kembali ke peraduannya, Mengembalikan senja dalam pelukan cakrawala

Toga terpasang laksana mahkota,

Senyum manis menghiasi dengan eloknya

Aku bertanya pada hati yang seakan membisu dalam

diamnya

Inikah yang disebut perpisahan? Kala takut dan sayang saling beradu Hatiku semakin berlayar pada tepian yang kelabu

Tuhan, aku tak ingin kehilangan, namun aku pun

Ingin mereka merajut masa depan. Entah mengapa terasa berat, Barangkali ini menyangkut tentang rinduku

Rindu yang tersimpan tanpa sempat terucapkan

Puisi yang berjudul “Tentang Rinduku” ini mengandung gaya bahasa metafora, personifikasi, sinestesia, dan simile. Gaya bahasa metafora terdapat pada larik /mentari kembali ke peraduannya/. Kata peraduan pada larik tersebut digunakan untuk melambangkan tempat atau poros matahari.

Gaya bahasa personifikasi terdapat pada larik /Mengembalikan senja dalam pelukan cakrawala/. Cakrawala dalam larik tersebut seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yakni cakrawala dapat memeluk senja. Kata mengembalikan pada larik tersebut juga seakan-akan perbuatan manusia yang dilakukan oleh mentari. Selain pada larik tersebut, gaya bahasa personifikasi juga terdapat pada larik / Aku bertanya pada hati yang seakan membisu dalam Diamnya/. Hati pada larik tersebut seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yaitu membisu dan diam.

Gaya bahasa sinestesia terdapat pada larik /senyum manis menghiasi dengan eloknya/. Kata manis merupakan ungkapan indera perasa.

(10)

20

Namun, pada frasa senyum manis , kata manis digunakan untuk menyatakan sifat senyuman.

Gaya bahasa simile terdapat pada larik /toga terpasang laksana mahkota/. Pada larik tersebut, toga dan mahkota adalah dua hal yang berbeda. Namun keduanya dipersamakan dengan menggunakan kata laksana.

(11) Perempuan Manis Perempuan manis

Kau berhasil mengubah peradaban, melalui seuntai senyuman yang menakjubkan

Perempuan manis, kau berhasil membuat orang mengerti akan kecantikan sejati

Perempuan manis, bagiku tak perlu menjadi cantik, tapi jadilah manis Karena manis dapat melekat dalam sanubari sementara cantik hanya pandangan tak berarti

Puisi yang berjudul “Perempuan Manis” ini mengandung gaya bahasa sinestesia dan repetisi. Gaya bahasa sinestesia terdapat pada larik /Perempuan manis/. Kata manis merupakan ungkapan indera perasa. Namun, kata itu digunakan untuk menyatakan sifat yang dimiliki oleh seorang perempuan. Selain mengandung gaya bahasa sinestesia, frasa perempuan manis juga mengandung gaya bahasa repetisi. Pada puisi tersebut, frasa yang sama, yaitu perempuan manis, dituliskan secara berulang-ulang.

Puisi Karya Luluk Addini Ardila (12) Akhir Zaman untukku Aku mengubah diriku menjadi batu

Duduk sendiri berdiam dalam kebisingan

Bahkan batu tidak menyadariku Dan waktu berputar seperti film membosankan

Aku merubah diriku ditempat ini Sedikit peduli mungkin itu bagus Tapi peduli, buat apa itu?

Mungkin hati tidak ada disini Dan

Topeng yang telah dipersiapkan Menunggu aku untuk dipakai Dengan mudahnya merubah diri Dan percayalah, itu lebih mudah dari tersenyum

Andai aku peran utamanya Pasti aku lebih banyak berkata Karna disini, ditempatku ini Kata adalah sebuah kesalahan Dan kesalahan adalah dosa Disini ilmu tidak berarti Orang menujah satu sama lain Darah ditangan darah saudara Mulut kotor tak berguna Apa aku akan sadar

Saat matahari muncul dari ufuk barat

Karna cinta sudah hilang

Dan kiamat mungkin sudah dekat Dengan harapan yang kecil, yang ada dihati sebuah batu

Aku menginginkan sebuah cerita… Pada puisi yang berjudul “Akhir Zaman untukku” terdapat gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa tersebut terdapat pada larik /Bahkan batu tidak menyadariku/. Batu dikiaskan dengan manusia. Batu pada larik tersebut seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yakni menyadari (si aku lirik). Gaya bahasa personifikasi juga terdapat pada larik / Topeng yang telah dipersiapkan Menunggu aku untuk dipakai/. Topeng dikiaskan dengan manusia. Pada larik tersebut, topeng seakan-akan

(11)

21

melakukan perbuatan manusia, yakni menunggu.

Puisi-puisi Karya Siti Atika Azzahrah

(13) Kunang-kunang Kunang-kunang itu datang lagi Kutatap pendar cahaya meliuk sana-sini

Membawa koloni mengitari bukit Bak lampion berjajar di atas rakit

Kuingat masa lepas,

Menghabiskan sisa sisa waktu yang kini tak membekas Tak di lembar-lembar kisah namun tetap di hati

Ketika keluarga kami masih saling mencintai

Gemerlap dinding langit dengan Dewi malam mencuat tenang

Bintang gemintang terang benderang Turut ditemani kunang-kunang kenangan

Puisi yang berjudul “Kunang-kunang” mengandung gaya bahasa personifikasi, simile, dan metafora. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada larik /Kutatap pendar cahaya meliuk sana-sini/. Cahaya seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yaitu meliuk.

Gaya bahasa simile terdapat pada larik /Membawa koloni mengitari bukit

Bak lampion berjajar di atas rakit/. Keadaan (kunang-kunang) membawa koloni mengitari bukit dan lampion berjajar di atas rakit adalah dua hal yang berbeda. Namun, keduanya dipersamakan dengan menggunakan kata bak.

Gaya bahasa metafora terdapat pada larik /dewi malam mencuat terang/. Frasa dewi malam pada larik tersebut digunakan untuk melukiskan

bulan yang bersinar terang pada malam hari.

(14) Milik-Nya Skenario paling nyata Tak digubris, namun ada! Bencana hina dina

Karena luput hati berzikir pada-Nya Bumi pun marah

Bila pakunya tercabut segala arah Panoramanya kini tak sama Tergerus oleh rakusnya manusia Laut menggerayang!

Melahap jiwa, tandanya ia berang! Bagaimana tidak, baharinya tlah dirampas tanpa daya

adil kan, nyawa dibalas nyawa tanah menghempas!

Luluh lantak hingga seluruhnya kebas Menggulung harta benda

Rata oleh tubuhnya

Angin, semula sejuk desirnya Kini, keras mendenging telinga Mengaung angkasa

Merobek sendu suara Ah…,hanya peringatan

Bahwa tingkah kita tlah kelewatan Miliknya diobrak-abrik tak keruan Ini perbandingan sama rata, kan?

Pada puisi yang berjudul “Milik-Nya” terdapat gaya bahasa personifikasi dan hiperbola. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada larik /bumi pun marah/, /laut menggerayang, melahap jiwa, tandanya ia berang/. Bumi dan laut seakan-akan memiliki sifat dan perbuatan manusia. Bumi memiliki sifat marah dan laut memiliki sifat berang serta melakukan aktivitas menggerayang.

Gaya bahasa hiperbola terdapat pada larik /tanah menghempas!, Luluh lantak hingga seluruhnya kebas, Menggulung harta benda/. Kata-kata menghempas, luluh lantak, kebas, dan

(12)

22

menggambarkan keadaan bumi yang rusak. Gaya bahasa hiperbola juga terdapat pada larik /Kini, keras mendenging telinga, Mengaung angkasa, Merobek sendu suara/. Kata-kata keras mendenging, mengaung, dan

merobek digunakan untuk

menggambarkan suara angin. (15) Surat untuk Peradaban Tinta mulai mengering

Ketika kugoreskan pada lembar-lembar menguning

Kata tersendat-sendat Tetapi ini sebuah amanat

Kepada peradaban Yang entah datang kapan Bukan teknologi-teknologi itu Apalagi gedung tingkat dua satu Tetapi nasib yang tak pernah tuntas Tergusur oleh kemauan para penindas Terusik oleh gemilangnya ibukota Toh kelaparan ada di mana-mana

Kepada peradaban Yang tak memihak Pada rakyat jelata atau si empunya

Toh sama-sama manusia Aku hanya ingin sejahtera

Tak lagi dipandang sebelah mata Oleh para tikus-tikus bertahta Tertanda, penanti peradaban

Puisi yang berjudul “Surat untuk Peradaban” mengandung gaya bahasa personifikasi dan metafora. Gaya bahasa tersebut terdapat pada larik /Kepada peradaban Yang tak memihak Pada rakyat jelata atau si empunya/. Kata peradaban seolah-olah memiliki perbuatan manusia, yaitu memihak (pada rajyat jelata atau si empunya).

Gaya bahasa metafora terdapat pada larik /oleh para tikus-tikus bertahta/. Frasa tikus-tikus bertahta

digunakan untuk melukiskan para penguasa atau pejabat yang melakukan tindakan keji, seperti melakukan korupsi.

Puisi-puisi Karya Hestia Wulandari (16) Gema Tipa dan Jukulele Angin semilir menembus raga Terdengar gema tipa beradu asa Seolah-olah berkata

Namun aku tak mengerti Angin pagi menyapaku Entah apa yang dikatakannya Aku tak mengerti

Yang terdengar hanya Maka Di sisi ruang hampa itu Dalam diamku

Kudengar hati berbisik

“bingung” desas-desis hampa itu Kutanya pada pohon

Tak ada jawaban

Yang ada hanya lambaian daun-daun Dan gemersik ranting berjatuhan Andai aku pahami

Jeritan-jeritan mereka selama ini Kepedihan yang selama ini terjadi

Pada puisi yang berjudul “Gema Tipa dan Jukulele” terdapat gaya bahasa personifikasi dan simile. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada larik /Terdengar gema tipa beradu asa/. Gema tipa pada larik tersebut seakan-akan memiliki asa atau harapan, seperti yang dimiliki oleh manusia. Gaya bahasa personifikasi juga terdapat pada larik /Angin pagi

menyapaku, Entah apa yang

dikatakannya/. Angin pagi seakan-akan dapat melakukan aktivitas manusia, yakni menyapa dan mengatakan (sesuatu). Larik /kudengar hati berbisik/ dan /Yang ada hanya lambaian daun-daun/pun mengandung gaya bahasa

(13)

23

personifikasi. Hati dan daun-daun seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yaitu berbisik dan melambai.

Gaya bahasa simile terdapat pada larik / Terdengar gema tipa beradu asa

Seolah-olah berkata/. Suara tipa yang beradu rasa disamakan dengan berkata-kata. Keduanya dipersamakan dengan kata seolah-olah.

(17) Keluh Kecil Menerpa Hati Berikan rantingmu tempat kami bergurau

Berikan rantingmu tempat kami berkicau

Biarkan kami berkicau seceria desah Semilir

Semilir yang melirik tanah gundul Melirik pohon yang kian kerontang Menyesali panorama yang tiada lagi Kemilau telah musnah dalam angan yang muluk

Terus disergap gergaji-gergaji tua Tapak-tapak garang langsung membantai

Satwa lari ketakutan Keluh kecil menerpa hati Kemanakah kami berlindung?

Pada puisi yang berjudul “Keluh Kecil Menerpa Hati” terdapat gaya bahasa personifikasi. Gaya bahasa ini terdapat pada larik /Semilir yang melirik tanah gundul/, /Melirik pohon yang kian kerontang/, /Menyesali panorama yang tiada lagi/. Kata semilir seakan-akan dapat melakukan perbuatan manusia, yakni melirik dan menyesali. Selain itu, larik /Terus disergap gergaji-gergaji tua/ juga mengandung gaya bahasa personifikasi, yakni frasa gergaji-gerjaji tua dapat menyergap /kemilau yang telah musnah dalam angan muluk/. Gergaji-gergaji tua

seakan-akan dapat melakukan aktivitas manusia. Demikian juga lirik /Tapak-tapak garang langsung membantai/. Kata tapak-tapak memiliki sifat manusia dan dapat beraktivitas manusia, yakni garang dan membantai. 4. Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh simpulan bahwa puisi-puisi hasil karya para siswa yang dimuat di rubrik “SMS” Radar Lampung mengandung beberapa gaya bahasa. Gaya bahasa tersebut adalah personifikasi, simile, metafora, hiperbola, repetisi, dan sinestesia. Gaya bahasa yang paling banyak ditemukan adalah personifikasi.

Daftar Acuan

Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya

Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Esten, Mursal. 2007. Memahami Puisi. Bandung: Angkasa.

Djajasudarma, T. Fatimah. 2013. Semantik:

Relasi Makna Pragmatik, Sintagmatik, dan Derivasional.

Bandung: Refika Aditama

Pradopo, Rachmat Joko. 1990. Pengkajian

Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press.

Djojosuroto, Kinayati. 2006. Pengajaran

Puisi: Analisis dan Pemahaman.

Bandung: Nuansa.

Subagyo, P. Joko. 2006. Metode Penelitian:

Dalam Teori dan Praktik. Jakarta:

Rineka Cipta.

Suryabrata, Sumadi. 2011. Metodologi

Penelitian. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

(14)

24

Tarigan, Henry Guntur. 2015. Pengajaran

Referensi

Dokumen terkait

1. Kegiatan assurance dan konsultansi. Aktivitas pemberian jaminan keyakinan dan konsultasi bagi organisasi atau perusahaan. Independen dan objektif. Para auditor internal

Dari hasil tersebut didapatkan bahwa karakteristik hybrid optical amplifier dengan menggunakan FRA dan EDFA yang disusun secara parallel in-line, memiliki kerataan nilai gain

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA NAMA DINAS ALAMAT TELEPON/FAKSIMILE/EMAIL/WEBSITE/ POSISI KOORDINAT KANTOR Dinas Tanaman Pangan Hortikultura..

Sehingga pada makalah ini akan dijelaskan secara rinci tentang apa yang dapat terjadi pada molekul pada saat klimaks reaksi (keadaan yang mana akan mulai membentuk produk dalam

Abstrak Disiplin diri adalah Sebagai suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,

Kesenian yang dimiliki Kabupaten Gunungkidul bermacam – macam jenis kesenian yang ada di Gunungkidul khususnya di desa Kemadang masih banyak dari tabel dibawah merupakan

Prestasi siswa SMA N 1 Donorojo tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan intensitas penggunaan situs jejaring sosial dengan koefisien signifikansi sebesar

Dalam percobaan tidak menggunakan 18 F dari siklotron karena siklotron yang dimiliki PRR-BATAN dalam masa perawatan, untuk keperluan percobaan ini 18 F disimulasi