Data Balai Pemantapan Kawasan Hutan Jawa-Madura tahun 2004 menunjukkan bahwa kawasan hutan Jawa seluas 3.289.131 hektar, berada dalam kondisi rusak. Lahan kritis di dalam kawasan hutan Jawa yang memerlukan rehabilitasi mencapai 1,714 juta hektar atau 56,7 persen dari luas seluruh hutan yang ada. Kondisi tersebut diperparah dengan lahan kritis yang semakin luas di luar kawasan hutan hingga mencapai 9,016 juta hektar. Total lahan memerlukan rehabilitasi mencapai 10,731 juta hektar atau 84,16 persen dari luas seluruh daratan Pulau Jawa. Effendi dalam Greenomics Indonesia (2006) telah memperkirakan jika tren tersebut terus berlangsung selama dua tahun maka sekitar 10,7 juta hektar DAS/Sub-DAS di Pulau Jawa akan terancam kualitas fungsi ekologis secara serius. Kondisi Pulau Jawa saat ini telah mengalami ancaman kekurangan air di 172 titik DAS/Sub DAS atau seluas 11,74 juta hektar (BPKH 2007). Selanjutnya, kerusakan hutan Jawa tersebut berpotensi mendorong kerugian ekonomi mencapai Rp136,5 triliun setiap tahun akibat terjadinya banjir, tanah longsor serta kekeringan dalam skala besar (Effendi 2006).
Salah satu penyebab ketidakseimbangan lingkungan di Pulau Jawa adalah perubahan status hutan alam menjadi hutan produksi yang terjadi sejak sekitar tahun 1960-an. Penerapan sistem tebang habis serta konsep hutan monokultur memberi kontribusi terbesar pada kerusakan keseimbangan ekologi. Perubahan tersebut juga berakibat pada perubahan perilaku masyarakat yang berada di wilayah hutan Kawasan Potorono-Gunung Sumbing.
Dalam teori perubahan perilaku terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang mengambil keputusan untuk merubah perilaku. Salah satunya berupa faktor informasi yang diterima. Namun demikian, tidak selalu informasi merubah perilaku seseorang atau sekelompok orang, tergantung dari tingkat kekuatan kontek informasi, faktor kelekatan serta
Persoalan perilaku kehutanan dapat dilihat dari cara masyarakat atau
stakeholder memperlakukan hutan. Perlakuan seperti pengambilan satwa maupun
pemotongan kayu baik untuk kayu bakar maupun sebagai bahan bangunan, menunjukkan ketidakpedulian pada pentingnya keberadaan sumberdaya hutan di daerahnya. Lebih lanjut, hasil survei lapangan di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing menyatakan +70% wilayah hutan Potorono-Sumbing mengalami perubahan fungsi menjadi lahan tanaman lain yang dianggap lebih menguntungkan seperti tanaman pakan ternak dan tanaman semusim seperti ketela pohon, jagung dan sejenisnya.
Budaya berhutan di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing mulai ditinggalkan, berganti dengan budaya berladang dan tegalan. Masyarakat tidak lagi memandang pentingnya keberadaan hutan sebagai bagian dari hidupya. Hal tersebut menunjukkan bahwa rasa kepemilikan terhadap hutan semakin berkurang akibat berkurangnya kelekatan nilai antara masyarakat dengan hutannya. Kelekatan nilai diartikan sebagai ikatan batin atau kejiwaan antara masyarakat dengan hutannya.
Kekuatan kelekatan nilai dapat dilihat di masyarakat Ammatoa Kajang di Sulawesi. Sistem aturan nilai dan moral mengatur perilaku sosial dan hubungan masyarakat setempat dengan hutan. Nilai kepercayaan Ammatoa menganjurkan agar orang hidup secukupnya, sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok harus disertai usaha menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Hubungan masyarakat dengan sumberdaya hutan diatur dalam tiga zona yaitu ‘zona larangan’ yang melarang semua orang masuk hutan, ‘zona dalam’ yang membatasi orang hanya dapat mengumpulkan hasil hutan pada waktu tertentu sesuai aturan adat serta wilayah hutan yang terbuka bagi semua orang yang disebut ‘zona bebas’ (WALHI 2001).
Persoalan lingkungan hidup lebih banyak bersumber dari perilaku manusia. Secara umum skema gerakan sosial yang berasal dari perubahan individual dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini;
Gambar 1 Skema gerakan sosial (disarikan dari Pretty and Ward 2001)
Studi mengenai gejala sosial tentang perubahan perilaku masyarakat dan gerakan sosial konservasi hutan belum banyak dijalankan. Jurnal ilmiah sosial untuk perubahan perilaku yang telah diterbitkan lebih banyak menelaah perubahan sosial mengenai kesehatan dan kriminalitas (Dagron 2001). Dengan demikian, studi membangun gerakan sosial konservasi sumberdaya hutan dengan pendekatan perubahan perilaku menjadi sangat penting sebagai sebuah solusi dari persoalan kerusakan kehutanan Indonesia.
1. 2. Perumusan Masalah
Persoalan konservasi hutan sangat kompleks di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing. Hasil penelitian awal merujuk pada tiga persoalan yang memiliki tingkat ancaman yang paling besar bagi kawasan. Ketiga faktor ancaman konservasi tersebut adalah; tidak adanya reboisasi, alih pengelolaan lahan hutan dan penebangan liar. Ketiga faktor ancaman tersebut merupakan hasil pemetaan masalah yang melibatkan pemangku kepentingan (stakeholder) di lokasi penelitian. Faktor Internal PERILAKU INDIVIDU GERAKAN SOSIAL Faktor Eksternal 1. Pengetahuan 2. Nilai / Moral 3. Mobilitas 4. Jangka hidup 1. Kebijakan 2. Hubungan sosial 3. Lingkungan 4. Teknologi DINAMIKA SOSIAL
untuk mendukung atau melawan sebuah perubahan berhubungan dengan fenomena sosial ataupun lingkungan. Sosiolog Amerika bernama Peter Burke menyatakan ada dua tipe gerakan sosial yaitu; gerakan sosial untuk memulai perubahan dan gerakan sosial yang dilakukan sebagai reaksi atas perubahan yang terjadi (Burke 1998 dalam WALHI 2001).
Gerakan sosial konservasi dapat terjadi sebagai dampak dari peningkatan pengetahuan masyarakat. Dengan demikian kampanye Pride yang dilakukan untuk peningkatan pengetahuan konservasi mampu mendorong perubahan perilaku konservasi masyarakat. Sehingga penelitian yang dilakukan harus mampu menjawab beberapa pertanyaan berikut:
1. Bagaimana tingkatan perubahan perilaku hingga menjadi gerakan sosial konservasi sumberdaya hutan?
2. Apakah faktor peningkatan pengetahuan merupakan salah satu pendorong peningkatan kesadaran kolektif yang mempengaruhi terjadinya gerakan sosial untuk konservasi sumberdaya hutan? Adakah faktor yang lain?
1.3 Kerangka Pemikiran
1.3.1. Proses Gerakan Sosial Konservasi
Gerakan sosial untuk konservasi dimulai dari perubahan perilaku individu dengan melibatkan beberapa langkah. Setiap pola sosial dalam segala bentuk berhubungan dengan kekuatan (power). Disetiap kondisi, orang akan merasa lemah untuk mengatasi persoalan besar sendirian. Berbeda ketika individu tersebut tergabung dalam sebuah kelompok atau massa (Loury 2008).
Dengan demikian persoalan gerakan sosial diduga dapat berasal dari peningkatan kapasitas sekelompok orang sehingga muncul sebuah kesamaan tingkat pemikiran terhadap tantangan yang ada. Gerakan sosial seperti juga dengan perubahan sosial, mendasarkan pada gerakan kolektif, tidak mungkin di lakukan oleh individu atau perorangan. Pendekatan perorangan dibutuhkan sebagai agen inovator yang akan mendorong dan mempengaruhi orang-orang lain disekitarnya.
Perubahan perilaku individu dalam konservasi sama artinya dengan menggabungkan pengetahuan sosial dengan perubahan lingkungan hidup. Kondisi lingkungan hidup akan dipandang secara berbeda antar individu, tergantung dari
tingkat perhatian individu dalam menyerap perubahan lingkungan sekitarnya. Hal tersebut tergantung dari pembelajaran dan cara analisis individu dan kelompok terhadap perubahan lingkungannya. Pembelajaran yang diperoleh dalam bentuk informasi selanjutnya akan menjadi panduan mengatasi masalah-masalah lingkungan hidup.
Proses selanjutnya adalah adopsi oleh kelompok-kelompok dalam tingkatan penangkapan perubahan yang berbeda (tingkat innovator, early adopter,
early majority, late majority dan lagart). Adopsi merupakan proses perluasan
perubahan disebut sebagai difusi dalam segmen-segmen kelompok sosial atau masyarakat. Gerakan sosial tidak terjadi secara bersamaan seiring dengan perubahan perilaku. Gerakan sosial terjadi sebagai dampak komunikasi antar-pribadi (interpersonal communication) baik yang terjadi didalam kelompok masyarakat ataupun antar kelompok masyarakat.
Komunikasi antar-pribadi menjadi penghubung terjadinya keputusan kolektif dalam kelompok sosial atau masyarakat. Keputusan yang diambil dapat bersifat positif tetapi dapat bersifat negatif untuk persoalan lingkungan hidup. Keputusan kolektif positif dicirikan dengan kepedulian dan kesadaran dari kelompok sosial atau masyarakat. Sedangkan keputusan kolektif bersifat negatif dicirikan dengan ketidakpedulian dan sikap acuh terhadap persoalan lingkungan hidup yang melingkupi kelompok sosial atau masyarakat.
1.3.2. Gerakan Sosial Konservasi di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing
Menilai sebuah persoalan sosial dapat dilakukan dengan beberapa jalan. Pada umumnya penelitian sosial tidak dapat menilai secara spesifik hasilnya. Studi-studi sosial umumnya menggunakan pendekatan-pendekatan dengan indikator tertentu sebagai alat analisa sosial (Siegel 1985). Faktor persoalan perilaku kehutanan di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing ditandai dengan perubahan perilaku masyarakat berupa persoalan reboisasi, penebangan liar serta alih pengelolaan lahan hutan. Perubahan tersebut terjadi sebagai dampak dari inovasi sosial dengan kampanye Pride termasuk keberadaan kegiatan perubah
target masyarakat. Kampanye Pride mampu bekerja di segala kondisi masyarakat. Kampanye Pride efektif untuk menjangkau dan mempengaruhi target masyarakat yang memiliki jumlah populasi di bawah 200.000 orang. Dengan demikian pelaksanaan kampanye Pride mampu untuk mempengaruhi terjadinya gerakan sosial untuk konservasi termasuk mengatasi ancaman-ancaman konservasi di Kawasan Potorono-Gunung Sumbing.
INNOVASI SOSIAL/ KAMPANYE PRIDE Adopsi Pengetahuan Kesadaran Kolektif PERILAKU KOLEKTIF 1.Knowledge (Afeksi) 2. Attitude (Kognitif) 3. Practice (Psikomotoris) Gerakan Reboisasi Berkurangnya Penebangan Liar Berkurangnya Segmen Late Majority Early Majority Lagart Innovator PERSOALAN KEHUTANAN
Perubahan Perilaku Kolektif Lesson learned Lingkungan Early Adopter INDIKATOR TEKNIS STUDI PERUBAHAN PERILAKU KONSERVASI 1. Study literature dan
Review kawasan 2. Perencanaan Kegiatan 3. Penyusunan media kampanye partisipatif 4. Aplikasi kampanye 5. Monitoring dan evaluasi 1. Penebangan kayu untuk kayu bakar 2. Alih fungsi lahan hutan 3. Kurangnya reboisasi INDIKATOR SOSIAL PERUBAHAN KOLEKTIF PERILAKU KONSERVASI Persoalan Sosial Komunikasi Interpersonal
1.4 Tujuan Penelitian
Studi yang dilakukan bertujuan untuk :
1. Mengetahui pengaruh kampanye Pride dalam perubahan perilaku konservasi masyarakat di kawasan hutan Potorono-Gunung Sumbing.
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku konservasi
3. Mengetahui hubungan perubahan perilaku terhadap gerakan sosial konservasi masyarakat.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian yang dijalankan merupakan studi sosial-ekologi. Penelitian dilakukan untuk mencari cara atau pendekatan sosial untuk mengatasi persoalan kerusakan kehutanan Jawa dan dapat diaplikasikan di tempat lain. Penelitian yang dilakukan diharapkan memberi kemanfaatan sebagai berikut:
1. Pendekatan sosial untuk mengatasi persoalan kehutanan di Jawa
Persoalan kehutanan di Jawa lebih banyak disebabkan oleh persoalan sosial. Sangat penting mendorong perubahan perilaku banyak orang untuk berperan dalam konservasi sumberdaya hutan.
2. Pengembangan studi sosial-ekologi dalam konservasi sumberdaya hutan Hubungan kerusakan ekologi tidak dapat terlepas dari persoalan sosial. Dengan demikian studi diharapkan mampu memberi kontribusi hubungan studi sosial untuk memecahkan persoalan ekologi di dalam pengelolaan sumberdaya hutan.
3. Pengembangan konsep membangun gerakan sosial untuk konservasi yang mampu diterapkan di daerah lain
Membangun konstituen yang terdiri dari banyak kepentingan merupakan kendala yang sangat sulit untuk diselesaikan. Studi tentang gerakan sosial konservasi dengan melibatkan berbagai pihak menjadi sangat penting untuk mengatasi jarak antar kepentingan dalam pengelolaan sumberdaya hutan.