• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Modul Praktikum Mata Kuliah Listrik Magnet Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Mahasiswa Pendidikan Fisika

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Pengembangan Modul Praktikum Mata Kuliah Listrik Magnet Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Mahasiswa Pendidikan Fisika"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Pengembangan Modul Praktikum Mata Kuliah Listrik Magnet

Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Mahasiswa Pendidikan Fisika

Kurnia Devita Sari

1

, Pujayanto

2

, Dwi Teguh Rahardjo

3

1,2,3 Prodi Pendidikan Fisika FKIP UNS

Gedung D FKIP UNS Jalan Ir. Sutami No. 36 A Surakarta 57126 Telp./Fax.(0271) 648939, 669124 E-mail : [email protected]1, [email protected]2, [email protected]3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menjelaskan spesifikasi modul praktikum mata kuliah Listrik Magnet berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan, (2) menjelaskan kelayakan modul praktikum mata kuliah Listrik Magnet berbasis inkuiri terbimbing yang dikembangkan. Metode yang digunakan pada ppenelitian ini adalah metode pengembangan yang didasarkan pada model pengembangan ADDIE. Prosedur pengembangan hanya dilakukan sampai tahap ketiga dari lima tahap yaitu tahap analysis, design, dan development. Data pada penelitian ini diperoleh dari data kuantitatif yang diperkuat dengan data kualitatif. Data ini didapatkan dari tahap pengembangan analysis dan development. Sumber data yang digunakan dalam penelitian pengembangan modul ini yaitu 3 orang ahli untuk memvalidasi modul dan 90 mahasiswa dari tiga angkatan untuk menilai modul dari aspek materi, tampilam media, dan bahasa. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif. Kesimpulan dari penelitian pengembangan modul ini yaitu: (1) spesifikasi modul yang dikembangkan yaitu modul dikembangkan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan dikembangkan secara konseptual serta dikembangkan berdasarkan kriteria modul self instruction, self contained, stand alone, adaptif, dan user friendly (2) kelayakan modul praktikum dikategorikan sangat baik berdasarkan hasil validasi ahli yang menunjukkan bahwa modul dikategorikan sangat baik dengan rata-rata nilai 173,33 dan tiga uji coba yang dilakukan yang meliputi aspek materi, tampilan media, dan bahasa. Uji coba perseorangan memperoleh nilai rata-rata untuk aspek materi 7,11, aspek tampilan media 7,11, dan aspek bahasa 3,56. Uji coba skala terbatas memperoleh nilai rata-rata untuk aspek materi 7,67, aspek tampilan media 7,57, dan aspek bahasa 3,90. Uji coba skala luas memperoleh nilai rata-rata untuk aspek materi 7,53, aspek tampilan media 7,39, dan aspek bahasa 3,88.

.

Kata Kunci : Modul, Praktiku, Inkuiri Terbimbing, Listrik Magnet. .

1.

Pendahuluan

Pada proses pembelajaran fisika khususnya pembelajaran Listrik Magnet untuk mahasiswa semester 4 diperlukannya suatu fasilitas yang mendukung peserta didik untuk dapat menemukan sendiri konsep dasar dari materi yang dipelajari. Selain itu pembelajaran juga harus melibatkan peserta didik secara langsung. Salah satu fasilitas yang dilakukan oleh Program Studi Pendidikan Fisika UNS yaitu dengan adanya kegiatan praktikum di samping kegiatan pembelajaran di kelas. Salah satu media yang digunakan dalam mendukung praktikum adalah modul sebagai petunjuk melakukan suatu percobaan. Bersadarkan hasil observasi dan wawancara modul yang ada saat ini didalamnya berisi tujuan praktikum, dasar teori, alat dan bahan, langkah kerja serta tabel pengamatan pada setiap kegiatan pembelajaran. Konten dalam modul ini dapat memberikan arah yang jelas kepada peserta didik dalam melakukan praktikum disetiap kegiatannya. Hanya saja modul saat ini belum

menerapkan pendekatan ilmiah serta modul disusun tanpa diketahui model pembelajaran apa yang digunakan. Sehingga modul yang digunakan kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan keterampilan ilmiah yang dimiliki.

Selain itu modul yang digunakan saat ini merupakan modul buatan asisten yang belum tervalidasi oleh ahli baik itu aspek materi, tampilan maupun kebahasaannya. Oleh karena itu, ada beberapa kegiatan praktikum di dalam modul saat diterapkan tidak semuanya bisa dilakukan dan berhasil menemukan konsep. Hal ini dikarenakan kegiatan praktikum yang ada dalam modul belum benar-benar dicoba oleh asisten dan terkadang mereka hanya mengambil dari sumber internet. Spesifikasi modul yang digunakan saat ini juga belum memenuhi kriteria modul yang baik, dimana modul yang baik itu minimal memuat tujuan, substansi belajar, dan evaluasi. Namun, modul yang saat ini digunakan hanya memuat tujuan dan langkah kerja. Kriteria modul menurut Daryanto (2013: 9-11) meliputi kriteria self instruction, self contained, stand alone, adaptif, dan user friendly serta sesuai

(2)

Ristekdikti 2108. Sedangkan dalam modul yang digunakan saat ini masih belum lengkap memuat kriteria tersebut.

Sebagai langkah untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu diadakannya pengembangan modul praktikum Listrik Magnet sehingga didapatkan produk modul yang sesuai kriteria modul yang baik. Pengembangan modul ini didasarkan pada model pembelajaran yang dapat memfasilitasi peserta didik untuk menemukan konsep mereka secara mandiri dan menggunakan pendekatan ilmiah. Berdasarkan beberapa penelitian mengenai penggunaan metode inkuiri terbimbing untuk eksperimen telah dilakukan oleh Qurroti dkk (2016: 154) , Khairani (2015), Ika Wardani (2019: 277-284), dan juga Haji Hamidun dkk (2017: 170-175) menunjukkan bahwa penggunaan metode tersebut dapat meningkatkan aktivitas belajar, hasil belajar, keterampilan proses sains serta sikap ilmiah siswa. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Pengembangan Modul Praktikum Mata Kuliah Listrik Magnet Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Mahasiswa Pendidikan Fisika”.

2.

Pembahasan

2.1. Metode Penelitian

Research and Development (R & D) dalam bidang pendidikan penelitian dan pengemabangan merupakan proses pengembangan dan validasi produk pendidikan. Sedangkan menurut Gay (1981) penelitian pengembangan tidak hanya untuk menguji hipottesis tetapi juga menghasilkan produk kependidikan yang efektif untuk dimanfaatkan (Budiyono, 2017: 169). Produk pendidikan yang dijelaskan Borg dan Gall (1979) tidak hanya berupa bahan pembelajaran seperti buku teks, film pendidikan, tetapi juga meliputi prosedur pembelajaran seperti metode mengajar (Wina Sanjaya, 2013: 129). Salah satu model pengembangan yaitu ADDIE. Model ADDIE dikembangkan oleh Dick and Carry (1996) yang memiliki kepajangan Analysis, Design, Development, Implementation and Evaluation. Model ADDIE ini digunakan untuk merancang sistem pembelajaran. Oleh karena itu, model ini dapat digunakan untuk berbagai macam bentuk pengembangan produk seperti model, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, media, dan bahan ajar (Endang Mulyatiningsih, 2013: 199). Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengembangan dengan model ADDIE meliputi :

(a) Tahap Analisis (Analysis)

Analisis kebutuhan ini dapat dilakukan dengan menganalisis mengenai (1) pentingnya produk untuk dikembangkan, (2) produk seperti apa yang diinginkan pengguna, (3) kemungkinan dilakukannya pengembangan produk dari sudut teoritik dan praktiknya, dan (4) dukungan sarana dan prasarana untuk mengembangan produk yang diinginkan (Budiyono, 2017:174). Pengembangan ini diawali dengan menganalisis masalah yang terjadi karena model/metode yang sudah diterapkan, misalnya karena tidak relevan dengan kebutuhan sasaran, lingkungan belajar, teknologi, serta karakteristik peserta didik. Selanjutnya analisis kelayakan dan syarat pengembangan model/metode pembelajaran bertujuan untuk mengetahui kelayakan produk untuk diterapkan. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi peristiwa dimana rancangan model/metode yang tercipta bagus tetapi tidak dapat diterapkan (Endang Mulyatiningsih, 2013: 200).

Tahap analisi ini juga dapat dilakukan dengan kegiatan studi pendahuluan untuk mengumpulkan data terkait permasalaahn yang dihadapi. Data tersebut dapat dikumpulkan melalui data hasil belajar, wawancara, atau menggunakan metode pengumpulan data seperti angket, studi pustaka, observasi. Selanjutnya data tersebut dianalisis untuk mengetahui kesenjangan yang terjadi antara kondisi yang diharapkan dengan kenyataan (Branch, R.B, 2010: 2)

(b) Tahap Perancangan (Design)

Perancangan model/media pembelajaran memiliki kemiripan denagan merancang kegiatan pembelajaran. Kegiatan ini merupakan proses sistematis yang dimulai dari menetapkan tujuan belajar, merancang skenario proses pembelajaran, merancang perangkat pembelajaran dan alat evaluasi hasil belajar. Rancangan pada tahap ini masih bersifat konseptual dan akan mendasari proses pengembangan berikutnya. (Endang Mulyatiningsih, 2013: 200). Tahap perancangan untuk merancang media seperti menentukan Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), indikator, alur penyajian flowchart, mengumpulkan materi, serta memilih strategi pengujian dan penyusunan tes. (c) Tahap Pengembangan (Development)

Tahap pengembangang dalam model ADDIE meliputi kegiatan realisasi dari rancangan produk yang masih konseptual agar menjadi produk yang siap untuk diimplementasikan

(3)

(Endang Mulyatiningsih, 2013: 200-201). Tahap pengembangan juga meliputi kegiatan pembuatan modul serta validasi ahli materi, ahli media dan ahli bahasa. Selanjutnya diujikan melalui uji coba satu-satu, uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar. Namun, setiap melakukan uji coba dilakukan revisi sesuai dengan saran dari responden sebelum dilakukan ke tahap uji selanjutnya. (d) Tahap Implementasi (Implementation)

Tahap implementasi ini merupakan tahap dimana produk yang telah dihasilkan diterapkan dalam kondisi sebenarnya atau diujikan ke lapangan untuk mengetahui keefektifan media yang telah dikembangkan dalam pembelajaran (Endang Mulyatiningsih, 2013: 201). Prosedur utama dalam tahap inplementasi yaitu menyiapkan pendidik serta peserta didik. Sebelum pendidik menggunakan produk untuk pembelajaran, terlebih dahulu diberikan panduan dan arahan tentang pelaksanaan atau cara menggunakan produk yang telah dihasilkan. Selanjutnya memberikan pengarahan kepada peserta didik dan menyiapkan alat yang dibutuhkan selama prosesXpe=mSbkeolarjRareasnpobnerdlean gsung.

(e) Tahap Evaluasi (Evaluation)

Tahap evaluasi ini bertujuan untuk menilai kualitas media yang telah dikembangkan dan telah diuji coba dengan cara mengimplementasikan dalam pembelajaran. Evaluasi ini dapat dilakukan dalam dua bentuk yaitu evaluasi formatif yang dilakukan setiap akhir tatap muka serta evaluasi sumatif yang dilakukan setelah kegiatan berakhir secara keseluruhan. Hasil dari evaluasi ini akan digunakan untuk memberikan umpan balik kepada pengguna model/media dan kepada pembuat sebagai bahan revisi (Endang Mulyatiningsih, 2013: 201).

Pengembangan untuk program S1 pengembangan hanya sampai ADD. Hal ini berdasarkan pada ketentuan dimana jenjang S2 penyusunan tesis, kegiatan penelitian dapat dihentikan sampai dihasilkan draft final atau tidak melalui pengujian hasil. Sedangkan untuk jenjang S3 penyusunan disertasi barulah penelitian dilakukan sampai tahap pengujian (Sukmadinata, 2012; 187). Oleh karena itulah pengembangan modul praktikum ini hanya meliputi tahap ADD (Analysis, Design dan Development) atau tiga dari lima tahap pengembangan ADDIE. Walaupun demikian dampak dari pengembangan ini tetap bisa dilihat dari uji coba produk.

Teknik analisis kualitatif didukung kuantitatif merupakan teknik yang digunakan dalam penelitian ini. Teknik analisis kualitatif penelitian ini yaitu trianggulasi metode. Trianggulasi metode ini menggunakan sumber data yang sama namun menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda ( Budiyono, 2017: 157). Teknik analisis ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh pada tahap analisis kebutuhan mahasiswa dimana menggunakan dua teknik pengambilan yaitu wawancara dan pengisian angket. Data dikatakan valid apabila beberapa sumber data memberikan tanggapan yang sama. Sedangkan teknik analisis yang digunakan pada data kuantitatif didasarkan pada penilaian skor menurut Saifuddin Azwar (2015: 163) seperti Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Kategori penilaian skor

Keterangan :

Mi = Mean Ideal = ½ ( skor maksimum ideal + skor minimum ideal)

Sbi = Simpangan baku ideal = ⅙ (skor maksimum ideal - skor minimum ideal)

Penilaian skor ini didasarkan pada item di setiap aspek yaitu aspek materi, aspek tampilan media, dan aspek bahasa

.

2.2. Hasil dan Pembahasan Tahap Analisis

Hasil dari wawancara kepada dosen diperoleh bahwa modul praktikum sangat penting dalam menunjang keberlangsungan pembelajaran terutama saat pembelajaran praktikum sebagai panduan dalam melakukan praktik dan memberikan membantu dalam menemukan konsep. Selain itu juga diperlukan adanya pengembangan modul dari modul yang sudah ada yaitu dikembangkan dengan model yang membuat mahasiswa aktif dalam menemukan konsep sendiri. Adanya pengembangan modul ini juga didukung oleh sarana dan prasarana yang ada di kampus seperti alat-alat yang dibutuhkan praktikum sudah tersedia di laboratorium serta tersedianya tempat untuk melakukan praktikum.

Berdasarkan hasil pengisian angket analisis kebutuhan mahasiswa didapatkan hasil mengenai pentingnya modul yaitu, sebanyak 64,44%

(4)

mahasiswa menjawab sangat setuju bahwa dengan adanya modul dapat mempermudah memahami materi. Modul juga dapat membuat mahasiswa mengetahui pokok bahasan sebelum melakukan praktikum, 47,78% mahasiswa menjawab sangat setuju. Adanya modul juga dapat memfasilitasi mahasiswa dalam menemukan konsep, 61,11% mahasiswa menjawab sangat setuju. Sebanyak 55,56% mahasiswa menjawab setuju bahwa fasilitas berupa sumber belajar telah disediakan. Sebanyak 63,33% mahasiswa lebih suka apabila kegiatan praktikum diberikan modul. Mengenai konten isi modul sebanyak 53,33% mahasiswa setuju bahwa modul dikatakan lengkap jika terdiri dari tujuan, subtansi belajar dan evaluasi. Sedangkan mengenai kriteria modul yang harus self instructional sebanyak 55,56% mahasiswa sangat setuju. Kriteria modul harus self contained sebanyak 46,67% mahasiswa sangat setuju, kriteria stand alone ada 45,56% sangat setuju. Kriteria modul adaptif sebanyak 54,44% mahasiswa sangat setuju dan kriteria user friendly sebanyak 67,78% mahasiswa sangat setuju. Selanjutnya mengenai pendekatan ilmiah yang digunakan dalam pengembangan modul sebanyak 47,78% mahasiswa setuju. Mengenai metode pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan modul adalah inkuiri terbimbing sebanyak 46.67% mahasiswa menyatakan setuju.

Hasil dari pengisian angket ini juga sejalan dengan hasil wawancara yaitu kebanyakan mahasiswa mengatakan bahwa modul penting dalam praktikum karena bisa digunakan untuk dipelajari terlebih dahulu sebelum melakukan pratikum. Selain itu modul juga dapat digunakan sebagai panduan dalam praktikum agar lebih jelas dan terarah. Berdasarkan hasil wawancara mengenai modul yang diinginkan mahasiswa yaitu modul yang dapat membuat mahasiswa lebih bebas dalam melakukan praktikum, diberikan kesempatan untuk menentukan variabel sendiri dalam praktikum serta memberikan gambaran yang dapat membangkitkan rasa penasaran mahasiswa. Sehingga praktikan benar- benar dapat menemukan konsep sendiri. Selain itu diberikan arahan dalam menganalisis, modul yang menarik tampilannya, penggunaan bahasanya mudah dipahami dan bukan hanya sekedar modul yang cook book. Sementara mengenai konten isi modul berdasarkan hasil wawancara didapatkan bahwa konten yang diharapkan mahasiswa yaitu memuat tujuan, materi/subtansi belajar, dan evaluasi. Mengenai pendekatan dan model pembelajaran kebanyakan mahasiswa menjawab pendekatan ilmiah dan inkuiri terbimbing.

Tahap Perancangan Desain

Tahap perancangan desain modul dibagi menjadi dua yaitu tahap pemilihan media dan tahap penentuan format. Tahap pemilihan media merupakan tahap dimana memilih gambar dari peristiwa atau fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang tentunya tidak asing bagi mahasiswa dan tentunya berhubungan dengan pokok materi. Hal ini dimaksudkan agar dapat memberikan gambaran penerapan atau pentingnya materi ini dipelajari. Selain itu pemilihan alat praktikum yang akan digunakan dalam proses praktikum. Pemilihan alat praktikum ini bertujuan supaya mengetahui alat apa saja yang dibutuhkan sesuai dengan pokok bahasan praktikum yang akan dilakukan dan mengecek ketersediaannya di laboratorium.

Tahap selanjutnya adalah penentuan format modul yang akan digunakan dalam menyusun modul yang akan dikembangkan. Pemilihan format modul ini meliputi penentuan warna dasar yang digunakan, ukuran huruf dan bentuk penyajian tampilan modul. Penyusunan format modul dalam pengembangan ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu sampul modul, halaman francis, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, daftar grafik, bab pendahuluan, bab kegiatan pembelajaran, dan daftar pustaka Tahap Pengembangan

(a) Validasi Modul

Validasi modul dilaksanakan secara bertahap dan dilakukan secara online menggunakan Google Form. Ahli I memberikan validasi tanggal 1 April 2020 memberikan skor total 169. Ahli II memberikan validasi tanggal 1 April 2020 memberikan skor total 174, sedangkan ahli III memberikan validasi tanggal 5 April 2020 dengan memberikan skor total 177. Rata-rata dari skor total yang diberikan oleh ahli yaitu 173,33 sehingga dapat disimpulkan bahwa modul praktikum Listrik Magnet berkriteria sangat baik mengacu kriteria penilaian yang terdapat pada Tabel 1.1. Berikut ini penjelasan hasil validasi pada masing-masing aspek:

Aspek Materi

Berdasarkan hasil penilaian ahli I memberikan skor total 83, ahli II memberikan skor total 86 dan ahli III memberikan skor total 87 sehingga aspek materi memenuhi kriteria sangat baik. Aspek Tampilan Media

Berdasarkan hasil penilaian ahli I memberikan skor total 67, ahli II memberikan skor total 64 dan ahli III memberikan skor total 67 sehingga aspek tampilan media memenuhi kriteria sangat baik.

(5)

Aspek Bahasa

Berdasarkan hasil penilaian ahli I memberikan skor total 19, sehingga aspek bahasa memenuhi kriteria baik. Ahli II memberikan skor total 24 dan ahli III memberikan skor total 23, sehingga modul berdasarkan aspek bahasa memenuhi kriteria sangat baik.

(b) Tahap Penilaian Modul

Penilaian modul dilaksanakan melalui tiga ujii coba yaitu uji perseorangan, uji coba skala terbatas dan uji coba skala luas. Pada setiap uji coba dapat dianalisis sebagai berikut:

Uji Coba Perseorangan

Uji coba perseorangan dicobakan kepada 9 mahasiswa yang terdiri dari masing-masing 3 mahassiswa semester 4, 6, dan 8. Uji coba ini dilaksanakan pada tanggal 30 Maret 2020 - 1 April 2020. Berikut ini hasil rangkuman penilaian total modul praktikum Listrik Magnet ditunjukkan pada Tabel 1.2

Tabel 1.2 Hasil uji coba perseorangan semua aspek

Sedangkan penilaian berdasarkan masing- masing aspek dijelaskan seperti berikut: Aspek Materi

Rangkuman hasil penilaian modul aspek materi dapat dilihat pada Tabel 1.3.

Tabel 1.3 Hasil uji coba perseorangan aspek materi

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 7,11 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

Aspek Tampilan Media

Rangkuman hasil penilaian modul aspek materi dapat dilihat pada Tabel 1.4

Tabel 1.4 Hasil uji coba perseorangan aspek tampilan media

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 7,11 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

Aspek Bahasa

Rangkuman hasil penilaian modul aspek bahasa dapat dilihat pada Tabel 1.5. Tabel 1.5 Hasil uji coba perseorangan aspek bahasa

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 3,56 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

Uji Coba Skala Terbatas

Uji coba skala terbatas dicobakan kepada 30 mahasiswa yang terdiri dari masing-masing 10 mahasiswa semester 4, 6, dan 8. Uji coba kelompok kecil dilaksanakan pada tanggal pada tanggal 7 April 2020 - 10 April 2020. Berikut ini hasil rangkuman penilaian total modul praktikum Listrik Magnet ditunjukkan pada Tabel 1.6

Tabel 1.6 Hasil uji coba skala terbatas semua aspek

Sedangkan penilaian berdasarkan masing- masing aspek dijelaskan seperti berikut: Aspek Materi

Rangkuman hasil penilaian modul aspek materi dapat dilihat pada Tabel 1.7.

Tabel 1.7 Hasil uji coba skala terbatas aspek materi

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 7,67 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

Aspek Tampilan Media

Rangkuman hasil penilaian modul aspek materi dapat dilihat pada Tabel 1.8

(6)

Tabel 1.8 Hasil uji coba skala terbatas aspek tampilan media

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 7,57 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

Aspek Bahasa

Rangkuman hasil penilaian modul aspek bahasa dapat dilihat pada Tabel 1.9

Tabel 1.9 Hasil uji coba skala terbatas aspek bahasa

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 3,9 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

Uji Coba Skala Luas

Uji coba skala luas dicobakan kepada 90 mahasiswa yang terdiri dari masing-masing 30 mahassiswa semester 4, 6, dan 8. Uji coba kelompok kecil dilaksanakan 21 April 2020 – 6 Mei 2020. Berikut ini hasil rangkuman penilaian total modul praktikum Listrik Magnet ditunjukkan pada Tabel 1.10

Tabel 1.10 Hasil uji coba skala luas semua aspek

Sedangkan penilaian berdasarkan masing- masing aspek dijelaskan seperti berikut: Aspek Materi

Rangkuman hasil penilaian modul aspek materi dapat dilihat pada Tabel 1.11

Tabel 1.11 Hasil uji coba skala luas aspek materi

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 7,53 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

Aspek Tampilan Media

Rangkuman hasil penilaian modul aspek materi dapat dilihat pada Tabel 1.12.

Tabel 1.12 Hasil uji coba skala luas aspek tampilan media

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 7,39 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

Aspek Bahasa

Rangkuman hasil penilaian modul aspek bahasa dapat dilihat pada Tabel 1.13

Tabel 1.13 Hasil uji coba skala luas aspek bahasa

Rata-rata penilaian yang diberikan mahasiswa yaitu 3,88 sehingga dikatakan modul berkriteria sangat baik.

(c) Kajian Produk Akhir

Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa modul praktikum Listrik Magnet berbasis inkuiri terbimbing. Penelitian ini dilakukan di program studi Pendidikan Fisika dengan melibatkan mahasiswa dari angkatan 2018, 2017, dan 2016 sebagai responden dalam uji coba. Selain itu juga melibatkan 3 dosen ahli sebagai validator. Modul praktikum listrik magnet berbasis inkuiri terbimbing yang dihasilkan sudah melalui tahapan revisi sesuai saran yang diberikan oleh validator dan juga responden

(7)

pada tahap validasi modul dan uji coba modul. Uji coba modul ini juga dilakukan selama 3 tahap yaitu uji coba perseorangan, uji coba skala terbatas, dan uji coba skala luas.

Spesifikasi modul yang dikembangkan yaitu modul praktikum menggunakan berbasis inkuiri terbimbing. Modul didesain dengan tahapan alur pembelajaran mengikuti tahapan model pembelajaran inkuiri terbimbing meliputi observasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, analisis data, dan merumuskan kesimpulan. Selain itu, modul yang dikembangkan dapat mendukung proses pembelajaran yang melibatkan peserta didik aktif untuk menemukan konsep secara mandiri dan konstektual. Hal ini dapat dilihat dari desain modul yang memberikan ruang atau kesempatan peserta didik untuk merumuskan masalah, hipotesis, menyusun langkah percobaan, menganalisis dan mengambil kesimpulan secara mandiri. Modul juga menyajikan peristiwa atau fenomena dalam kehidupan sehari-hari yang relevan dengan pokok materi yang dibahas pada setiap kegiatan pembelajaran.

Spesifikasi modul yang dikembangkan memenuhi kriteria modul baik yang memuat tujuan pembelajaran, substansi belajar, dan evaluasi setiap akhir pembelajaran. Selain itu, modul praktikum yang dikembangakan juga memenuhi kriteria self instruction, self contained, stand alone, adaptif, dan user friendly. Modul praktikum ini merupakan modul cetak yang didalamnya memuat materi Listrik Magnet yang meliputi konsep muatan listrik dan interaksinya, konsep Hukum Ohm, konsep hambatan pada kawat penghantar, konsep rangkaian seri paralel, konsep Gaya Lorentz, serta konsep arah medan magnet pada kawat lurus berarus (GGL induksi).

Modul yang dikembangkan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan modul sebelumnya diantaranya yaitu: 1) Modul disajikan dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing sehingga peserta didik dapat menemukan konsep secara mandiri, namun diberikan arahan dengan adanya pertanyaan penuntun (multiple leading question), 2) Modul yang dikembangkan sesuai dengan kriteria modul yang baik yaitu self instruction, self contained, stand alone, adaptif, dan user friendly, 3) Modul disajikan secara konstektual dengan menampilkan fenomena yang merupakan penerapan materi yang berkaitan

dengan kehidupan sehari-hari, 4) Modul yang dikembangkan lebih teruji karena melalui proses validasi dan tiga tahap uji coba.

Hasil penilaian modul yang diberikan oleh validator menunjukkan bahwa modul dikategorikan sangat baik dengan rata-rata nilai 173,33. Begitu pula dengan hasil uji coba yang dilakukan kepada mahasiswa angkatan 2018, 2017, dan 2016 menunjukkan bahwa modul dikategorikan sangat baik dalam aspek materi, tampilan media, dan bahasa. Uji coba perseorangan memperoleh nilai rata-rata untuk aspek materi 7,11, aspek tampilan media 7,11, dan aspek bahasa 3,56. Uji coba skala terbatas memperoleh nilai rata-rata untuk aspek materi 7,67, aspek tampilan media 7,57, dan aspek bahasa 3,90. Uji coba skala luas memperoleh nilai rata-rata untuk aspek materi 7,53, aspek tampilan media 7,39, dan aspek bahasa 3,88.

3.

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

1. Spesifikasi modul praktikum yang dikembangkan yaitu modul dikembangkan dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Model inkuiri terbimbing dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menemukan konsep secara mandiri. Selain itu, modul juga dikembangkan secara konstektual dengan menyajikan fenomena yang berkaitan dengan penerapan materi dalam kehidupan sehari-hari. Spesifikasi lain dari modul ini yaitu modul dikembangkan sesuai dengan kriteria modul self instruction, self contained, stand alone, adaptif, dan user friendly sehingga modul dapat digunakan untuk belajar secara mandiri oleh mahasiwa. Modul juga dikembangkan sebagai modul yang dapat digunakan tanpa tergantung dengan media lain dan mudah digunakan karena memuat tujuan pembelajaran, subtansi materi, dan evaluasi serta disusun menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami.

2. Kelayakan modul praktikum dikategorikan sangat baik berdasarkan hasil validasi dan tiga uji coba yang dilakukan yang meliputi aspek materi, tampilan media, dan bahasa

Saran

Sebagai tindak lanjut dari proses pengembangan modul dapat dilakukan pengujian efektivitas modul yang telah dikembangkan sesuai dengan

(8)

tahap Implementasi dan Evaluasi pada metode pengembangan ADDIE

Ucapan terima kasih

Terimakasih penulis ucapkan kepada kedua orang tua tercinta, Bapak Drs. Pujayanto, M.Si selaku dosen pembimbing I,Bapak Dwi Teguh Rahardjo, S.Si, M.Si, Ibu Dr. Sri Budiawanti, S.Si, M.Si sebagai Kaprodi P. Fisika, Bapak Dr. Mardiyana, M.Si sebagai Dekan FKIP UNS, tim payung listrik magnet, dan teman-teman prodi pendidikan Fisika yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini

Daftar Pustaka

A’yunin, dkk. (2016). Penerapan Model inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) Pada Pembelajaran Fisika Materi Listrik Dinamis di SMK. Jurnal Pembelajaran Fisika, Vol. 5 No. 2 , 149 -155.

Anam, Khirul .(2016). Pembelajaran Berbasis Inkuiri Metode dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Budiyono. (2017). Pengantar Metodologi Penelitian Pendidikan. Surakarta: UNS Press Branch, R.B. (2010). Instructional Design: The

ADDIE Approach. London: Springer Daryanto. (2013). Menyusun Modul. Malang: Gava

Media.

Khairani, D. (2015). Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Listrik Dinamis Di Kelas X Semester II SMA Negeri 14 Medan T.P. 2014/2015.Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan.

Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia

Mulyasa. (2014). Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya

Mulyatiningsih, Endang. (2013). Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Prastowo, A. (2013). Pengembangan Bahan Ajar Tematik. Yogyakarta: DIVA Press Sanjaya, Wina. (2013). Penelitian Pendidikan Jenis,

Metode dan Prosedur. Jakarta : Kencana Sitorus, Haji Hamidun, dkk. ( 2017). The Influence

of Inquiry Learning Model on Student’s Scientific Attitude in Ecosystem Topic at MTs Ddaarul Hikmah Sei Alim Asahan. International Journal of Humanities Social Sciences and Esucation (IJHSSE) Volume 4, Issue 11 ISSN: 2349-0373 hal 170-175

Sukmadinata, & Nana, S. (2012). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Suyadi. (2013). Strategi Pembelajaran Pendekatan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Wardani, Ika , & Djukri. (2019). Teaching Science Process Skill Using Guided Inquiry Model with Starter Experiment Approach : An Experiment Study. Jurnal Pendidikan Biologi Indonesia Volume 5 Nomor 2 ISSN: 2442-3750 hal 277-284

Surakarta, 21 Juli 2020 Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Pujayanto, M.Si Dwi Teguh Rahardjo, S.Si, M.Si

Referensi

Dokumen terkait

Tidak dinyatakan (implied) Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun

Namun, hal itu berbeda dengan penelitian Yendrawati dan Asy’ari (2017) yang menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap hubungan antara free

Dihararapkan penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi dan memberikan pengetahuan sebagai pengembangan ilmu khususnya mengenai hubungan antara Banking Ratio

Berkaitan dengan hal tersebut tidak berlebihan jika Dirk Fock, yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1921-1926), menyatakan bahwa ekspedisi militer

Pemberian kompos ampas tebu pada peubah jumlah polong per tanaman, jumlah polong berisi per tanaman, bobot 100 biji dan Indeks panen dapat dilihat pada Tabel 2

Warna memiliki kekuatan yang mampu mempengaruhi citra bagi orang yang melihatnya. Masing-masing warna mampu memberikan respon secara psikologis. Jadi warna dapat

1 Penelitian studi kasus adalah studi yang mengeksplorasi suatu masalah dengan batasan terperinci, memiliki pengambilan data.. yang mendalam, dan menyertakan

Suasana penceriteraan banyak gelak tertawa, terutama pada waktu menceriterakan bagaimana tingkah laku mereka berempat waktu ada jurig (mahluk halus). Di samping itu