• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORITIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORITIS"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

LANDASAN TEORITIS

2.1 Pengantar

Sehubungan dengan masalah yang ditemukan pada penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan wujud Prinsip Kerja Sama di dalam dialog antartokoh dan menemukan cara penyampaian pesan maksud yang terdapat di dalam dialog tersebut. Untuk itu, diperlukan beberapa teori yang mendukung penelitian ini, yaitu: teori Prinsip Kerja Sama milik Grice (1975), Teori Relevansi milik Sperber dan Wilson (1986), dan tindak ilokusi milik Searle (1975).

2.2 Komunikasi

Komunikasi adalah penyampaian amanat dari sumber atau pengirim ke penerima melalui sebuah saluran (Kridalaksana, 1993: 116). Saluran yang dimaksud adalah alur informasi. Di dalam komunikasi, alur informasi dari penutur kepada mitra tutur, terdapat bagian yang disebut penyandian (encoding). Penyandian ini terdapat pada otak penutur (sebagai source of information) dan alat-alat wicara penutur. Alat-alat ini mempunyai tugas menyampaikan pesan (transmitter). Proses penyandian (encoding) ini mengacu kepada pemilihan sandi (code), yaitu bahasa apa yang ingin dipakai dalam komunikasi tersebut.

Komunikasi mempunyai dua fungsi (Holmes, 2001: 259, dalam Gunarwan, 2007: 247), yaitu fungsi referensial dan fungsi afektif. Fungsi referensial tujuannya adalah menyampaikan informasi atau pesan dan karena itu disebut fungsi informatif. Fungsi afektif tujuannya adalah memelihara hubungan sosial dan karena itu disebut fungsi sosial.

2.3 Prinsip-prinsip Pragmatik

Pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu linguistik yang mulai berkembang sejak tahun 1970-an di lingkungan para linguis Amerika. Pada tahun

(2)

sebelumnya (1930-an), linguistik hanya dianggap mencakup fonetik, morfologi, dan fonemik. Era linguistik itu disebut dengan linguistik era Bloomfield.1 Pada era tersebut, kajian yang berkaitan dengan makna dikesampingkan dari ruang lingkup linguistik karena dianggap sulit untuk diteliti dan dianalisis.

Pada tahun 1950-an, Chomsky mengembangkan teori linguistik mengenai sintaksis. Beliau mengemukakan bahwa sintaksis merupakan bagian linguistik yang sifatnya sentral, tetapi masalah makna masih dianggapnya sulit untuk dianalisis. Pada tahun 1960-an, Jerry J. Katz memasukkan semantik ke dalam ruang lingkup atau bahasan linguistik. Kemudian, pada tahun 1970-an, Ross dan Lakoff, menyatakan bahwa kajian sintaksis tidak dapat memisahkan diri dengan konteksnya. Sejak saat itulah pragmatik muncul ke permukaan sebagai salah satu cabang linguistik yang terakhir dan termasuk masih muda (young science).

“Within semiotics, Morris distinguished three distinct branches of inquiry: syntactics

(or syntax), being the study of ‘the formal relation of signs to one another’, semantics, the study of ‘the relations of signs to the object to which the signs are applicable (their desaignata), and pragmatics, the study of ‘the relation of signs to interpreter’”. 2

Istilah pragmatik, telah dikenalkan oleh seorang filsuf yang bernama Charles Morris (1983). Beliau mendasarkan istilah pragmatika dari gagasan para filsuf terdahulu yang mempelajari mengenai ilmu tanda dan ilmu lambang yang dikenal sebagai ilmu semiotik. Para filsuf yang dimaksud adalah Charles Sanders dan John Locke. Berdasarkan gagasan para filsuf tersebut, Morris membagi semiotik ke dalam tiga cabang ilmu, yaitu sintaktik (ilmu mengenai relasi formal tanda-tanda), semantik (ilmu mengenai relasi tanda-tanda dengan objeknya), dan pragmatik (ilmu mengenai relasi antara tanda-tanda dengan penafsirnya). Maka, atas dasar gagasan tersebut, istilah pragmatik muncul ke permukaan dan masuk ke dalam salah satu cabang linguistik (ibid. ).

Yule (1996: 3-4) menyatakan bahwa, pragmatik adalah ilmu bahasa yang mempelajari makna ujaran si penutur, makna kontekstual, makna yang

1 Kunjana Rahardi dalam Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia, hlm: 45. 2 Ibid., hlm: 47.

(3)

dikomunikasikan melebihi ujaran yang diucapkan, dan ekspresi dari hubungan jarak. Yang dimaksud di sini adalah makna seseorang (penutur), asumsi mereka, tujuan atau maksud, dan tindak-tindak tutur. Dari berbagai definisi tentang pragmatik yang telah diuraikan di atas, terdapat kesamaan persepsi bahwa pragmatik merupakan ilmu bahasa yang mempelajari makna yang terkait dengan konteks ujarannya. Penulis memilih definisi pragmatik yang diutarakan oleh Yule karena relevan dengan penelitian ini.

Dalam pragmatik, terdapat teori Prinsip Kerja Sama yang ditawarkan oleh H. P. Grice agar suatu komunikasi berjalan dengan lancar. Sperber dan Wilson juga menawarkan teori Relevansi agar dalam suatu komunikasi mengandung informasi yang relevan. Kemudian, Searle menawarkan teori agar penyampaian maksud dapat diketahui antarpartisipan tuturan. Ketiga teori tersebut digunakan oleh penulis dalam menganalisis data yang berupa tuturan antartokoh dalam sandiwara ketoprak.

2.3.1 Prinsip Kerja Sama

Kridalaksana (1993) menyatakan bahwa Prinsip Kerja Sama adalah persetujuan tersirat diantara penutur bahasa untuk mengikuti seperangkat konvensi yang sama dalam berkomunikasi. Allan (1986, Ibid., hlm: 52) menyatakan bahwa, bertutur adalah kegiatan yang berdimensi sosial. Tuturan merupakan hasil tindak verba para peserta tutur, yaitu penutur dan mitra tutur. Kegiatan bertutur dapat berlangsung dengan baik apabila para partisipan tuturan itu semuanya terlibat aktif di dalam proses bertutur tersebut.

Menurutnya, agar proses komunikasi antara penutur dan mitra tutur dapat berjalan dengan baik dan lancar, maka harus dapat saling bekerja sama. Bekerja sama yang dimaksud adalah para partisipan tuturan tidak saling memberikan informasi yang membingungkan atau memberikan informasi yang tidak relevan (Yule, 1996: 35). Bekerja sama yang baik dalam proses bertutur, salah satunya dapat dilakukan dengan cara berperilaku sopan dan dan berbicara santun dalam bertutur kepada orang lain.

(4)

Agar pesan (message) dapat sampai dengan baik, maka sebaiknya dipertimbangkan prinsip-prinsip berikut ini: (1) prinsip kejelasan (clarity), (2) prinsip kepadatan (conciseness), dan (3) prinsip kelangsungan (directness) (Allan, ibid., hlm: 52). Prinsip tersebut secara lengkap dibahas oleh Grice (1975) yang mencetuskan Prinsip Kerja Sama.

Menurut Grice, dalam sebuah tuturan, partisipan tuturan sebaiknya mematuhi kaidah-kaidah yang disebut Prinsip Kerja Sama, dengan tujuan agar komunikasi antarpartisipan tuturan tersebut berjalan lancar. Kemudian, Grice membagi prinsip tersebut ke dalam empat bidal atau maksim, yaitu:

1) Maksim Kuantitas

– Berikanlah kontribusi seinformatif mungkin

– Jangan memberikan kontribusi melebihi yang dibutuhkan

Di dalam maksim kuantitas, penutur diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup, relatif memadai, dan seinformatif mungkin. Informasi yang diberikan tidak boleh melebihi informasi yang dibutuhkan oleh si mitra tutur.

2) Maksim Kualitas

Jangan mengatakan sesuatu yang tidak benar

Jangan mengatakan sesuatu yang belum tentu kebenarannya

Di dalam maksim kualitas, penutur diharapkan dapat menyampaikan sesuatu yang benar dan nyata sesuai dengan fakta yang sebenarnya di dalam bertutur. Fakta tersebut didasarkan pada bukti-bukti yang jelas.

3) Maksim Relevansi

– Berikanlah kontribusi yang relevan atau berhubungan

Di dalam maksim relevansi, penutur diharapkan memberikan kontribusi yang relevan mengenai sesuatu yang dipertuturkan’.

4) Maksim Cara

Diperkirakan secara spesifik:

– Hindari ketidakjelasan dalam menyampaikan informasi

– Hindari ambiguitas atau ketaksaan

(5)

– Tuturan hendaknya diujarkan dengan teratur

Di dalam maksim cara, penutur diharapkan dapat menyampaikan informasi secara langsung, jelas, dan tidak samar atau kabur. Di bawah ini adalah contoh tuturan yang mematuhi semua maksim di atas:

Contoh : (A): “nanging, kowe ora tresna ?” ‘namun, kamu tidak cinta?’ (B): “mboten” ‘tidak’

Keterangan: tuturan di atas dituturkan oleh Raden Subrata ketika bertanya kepada Cempluk Warsiah mengenai alasan dirinya tidak bersedia menikah oleh Gentho.

Grice (1975: 47-48, dalam Davis, 1991: 309, diterjemahkah oleh Rustono) menganalogikan keempat maksim Prinsip Kerja Sama sebagai berikut:

1. Quantity. If you are assisting me to mend a car, I expect your contribution to be neither more nor less than is required. If, for example, at a particular stage I need four screws, I expect you to hand me four, rather than two or six. ‘Jika anda membantu saya memperbaiki mobil, saya mengharapkan kontribusi anda tidak lebih atau tidak kurang dari yang saya butuhkan. Sebagai contoh, jika kemudian saya membutuhkan empat obeng, saya mengharapkan anda mengambilkan saya empat obeng, bukan dua atau enam obeng’.

2. Quality. I expect your contribution to be genuine and not spurious. If I need sugar as an ingredients in the cake you are assisting me to make, I do not expect you to hand me the salt; if I need a spoon, I do not expect a trict spoon made of rubber. ‘Saya mengharapkan kontribusi anda sungguh-sungguh dan bukan sebaliknya. Jika saya membutuhkan gula sebagai bahan untuk adonan kue, saya tidak mengharapkan anda memberi saya garam. Jika saya membutuhkan sendok, saya tidak mengharapkan anda memberi saya sendok-sendokan atau sendok yang terbuat dari karet’.

3. Relation. I expect a partner’s contribution to be appropriate to rhe immediate needs at the stage of the transaction. If I am mixing ingredients for a cake, I do not expect to be handed a good book, or even an oven cloth (through this might be an appropriate contribution at a later stage). ‘Saya mengharapkan kontribusi kerja saya sesuai dengan yang saya butuhkan pada setiap transaksi.

(6)

Jika saya mencampur bahan-bahan kue, saya tidak mengharapkan diberikan buku yang bagus, atau bahkan kain sertbet walaupun benda yang terakhir ini saya butuhkan pada tahap selanjutnya’.

4. Manner. I expect a partner to make it clear what contribution he is making and to execute his performace with reasonable dispatch. ‘Saya mengharapkan teman kerja saya memahami kontribusi yang harus dilakukannya dan melaksanakan secara rasional’.

Apabila maksim-maksim Prinsip Kerja Sama dipatuhi oleh para patisipan tuturan, maka, informasi yang diberikan mengandung informasi yang cukup, benar, relevan, singkat, jelas, teratur, dan tidak taksa. Namun, kerap kali terjadi pelanggaran terhadap maksim-maksim Prinsip Kerja Sama dengan cara tidak mematuhinya. Pelanggaran terhadap maksim-maksim tersebut bukan berarti jalannya komunikasi antarpartisipan tuturan dapat terhambat. Pada umumnya, yang kerap kali ditemui dalam tuturan-tuturan berbahasa Jawa, salah satu maksim Prinsip Kerja Sama yaitu maksim cara, dilanggar dengan tujuan sopan-santun. Dalam pragmatik terdapat teori yang mengatur perilaku sopan santun, yaitu teori kesantunan milik Geofrey Leech (1993).

2.3.2 Teori Relevansi

Sperber dan Wilson (1986) mengkritisi maksim-maksim Prinsip Kerja Sama Grice. Keduanya berpendapat bahwa yang terpenting dari maksim-maksim Grice tersebut adalah maksim relevansi, dan karenanya ketiga maksim yang lain dapat dianggap boleh diabaikan. Keduanya mengangkat maksim relevansi menjadi titik tolak teori mereka yang dinamakan Teori Relevansi (TR).

Menurut keduanya, maksim Grice yang pertama (kuantitas), kedua (kualitas), dan keempat (cara) tersebut dapat diabaikan karena yang penting adalah bahwa, kontribusi peserta di dalam suatu percakapan relevan. Kemudian, keduanya menjadikan maksim relevansi menjadi Prinsip Relevansi (Principle of Relevance),

(7)

dan teorinya disebut Teori Relevansi (Relevance Theory). Menurut keduanya, teori relevansi dapat meluruskan teori Prinsip Kerja Sama Grice.3

2.3.3 Tindak Ilokusi

Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang juga mempelajari maksud ujaran atau daya (force) ujaran di samping mempelajari fungsi ujaran, yaitu untuk apa suatu ujaran diungkapkan atau dilakukan. Dapat dikatakan bahwa tindak ujaran atau tindak tutur (speech act) masuk ke dalam analisisnya.

J. L Austin (1975) mengatakan bahwa pada saat berujar penutur juga melakukan tindakan. Kemudian, ia membedakan tindak tutur menjadi tiga jenis. Menurutnya, masing-masing tindak tutur ini tidak dapat dilepaskan satu sama lain dan berlangsung secara bersamaan. Ketiga tutur tersebut berikut penjelasannya:

1. Tindak lokusi (locutionary act) adalah tindakan penutur menghasilkan tuturan. Penutur mengungkapkan pesan yang maknanya hanya terbatas pada makna harafiah tuturan.

2. Tindak ilokusi (illocutionary act) adalah tindakan yang dihasilkan penutur ketika mengucapkan tuturan yang maknanya lebih dari makna harafiah. Tindak ilokusi merupakan tindak melakukan sesuatu dalam mengatakan sesuatu. Tindak ilokusi mempunyai daya ilokusi (illocutionary forces) yang menampilkan fungsi tuturan sesuai dengan konteksnya. Tindak ilokusi membicarakan fungsi atau daya yang berkaitan. Tindak ilokusi merupakan aspek terpenting dalam teori tindak tutur Austin.

3. Tindak perlokusi (perlocutionary act) adalah efek tutur yang muncul terhadap perasaan atau perbuatan petutur, sebagai akibat dari tuturan dari penutur.

John Searle (1975) adalah salah satu murid Austin. Ia mengembangkan teori tindak tutur dan mengkategorisasikan tindak tutur ke dalam lima kategori yang masing-masing memiliki fungsi komunikatif. Di bawah ini merupakan penjelasannya.

(8)

1. Asertif (assertives): tindak tutur yang mengikat penuturnya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya, misalnya: menyatakan (stating), melaporkan (reporting), menunjukkan (showing), menyebutkan (mentioning), membual (boasting), mengeluh (complaining), dan mengklaim (claiming).

2. Direktif (directives): tindak tutur yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar si pendengar melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu, misalnya: menyuruh (commanding), memohon (requesting), menyarankan (advising), dan merekomendasi (recommending).

3. Ekspresif (exspressive): tindak tutur yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam ujaran itu, misalnya: memuji (praising), mengucapkan terima kasih (thanking), menyalahkan (blaming), memberi selamat (congratulating), meminta maaf (pardoning), dan mengucapkan belasungkawa (condoling). 4. Komisif (commisives): tindak tutur yang mengikat penuturnya untuk

melaksanakan apa yang disebutkan di dalam ujarannya, misalnya: berjanji (promising), bersumpah (vowing), mengancam (threating), dan menawarkan sesuatu (offering).

5. Deklaratif (declarations): tindak tutur yang dilakukan si penutur dengan maksud untuk menciptakan hal (status, keadaan, dan sebagainya), misalnya: memecat (dismissing), berpasrah (resigning), membaptis (christening), mengangkat (appointing), mengucilkan (excommunicating), dan menghukum (sentencing).

2. 4 Kaitan Data dengan Teori

Teori-teori yang telah diuraikan sebelumnya merupakan teori-teori yang mendukung penelitian ini. Teori-teori tersebut dibatasi oleh penulis berdasarkan ruang lingkup penelitian ini. Teori-teori yang digunakan oleh penulis bertujuan untuk menganalisis data, yaitu berupa tuturan-tuturan dalam dialog antartokoh. Bidang penelitian ini adalah pragmatik, salah satu cabang ilmu yang mempelajari mengenai pemakaian bahasa dan makna yang terdapat di balik ujaran. Interaksi antartokoh

(9)

dalam dialognya dianalisis dengan berfokus pada teori Prinsip Kerja Sama Grice, Teori Relevansi, dan Ilokusi. Data yang dianalisis, diklasifikasikan terlebih dahulu sesuai dengan bentuk maksim-maksim Prinsip Kerja Sama Grice dan apabila terjadi pelanggaran pada tuturan antartokoh dianalisis dengan menggunakan Teori Relevansi milik Sperber dan Wilson. Kemudian, ilokusi menurut kategori Searle digunakan untuk mengetahui maksud yang ingin disampaikan oleh si penutur maupun mitra tutur.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun instrumen penelitian yang digunakan yaitu peneliti sendiri dengan menggunakan kriteria penentu mengenai wujud penyimpangan prinsip kerjasama menurut teori

Menurut pendapat Mathiassen et al (2000, p191), suatu arsitektur komponen yang baik menunjukkan beberapa prinsip, yaitu mengurangi kompleksitas dengan membagi menjadi beberapa

Menurut Grice (Kunjana 2005:53) tuturan yang terdapat informasi atau pesan yang tidak benar-benar diperlukan lawan tutur bisa disebut melanggar atau penyimpangan penggunaan

Sedangkan akuntansi pertanggungjawaban menurut LM Samryn (2001: 258) adalah sebagai berikut : “Akuntansi pertanggungjawaban merupakan suatu sistem akuntansi yang

Menurut Leech (dalam Rahardi, 2008: 60) menjelaskan bahwa maksim kebijaksanaan adalah bahwa para peserta tuturan hendaknya berpegang pada prinsip untuk selalu mengurangi

Dilihat dari prinsip kesantunan, dalam tuturan ini Arsene Wenger mematuhi maksim kebijaksanaan, karena dengan mengatakan bahwa dia tidak melihat insiden

Pada Fatwa MUI Tersaebut dijelaskan “Dalam kapasitasnya sebagai mudharib, bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah

macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan mengembangkannya, termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. 3) Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya,