1
Filosofi Tipologi Bentuk dan Ekspresi Arsitektur
Rumah Tradisional Mamasa
Wasilah1 Josef Prijotomo2 Murni Rachmawaty3
1Arsitektur/Dosen/Fakultas Sains dan teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Arsitektur/Guru Besar/Program Pascasarjana, Institut Teknologi Surabaya
3 Arsitektur/Dosen/Program Pascasarjana, Institut Teknologi Surabaya
1[email protected] 2[email protected]
ABSTRAK
Bangunan tradisi atau rumah adat Mamasa, merupakan salah satu wujud budaya yang bersifat konkret. Dalam kontruksinya, setiap bagian/ruang dalam rumah adat sarat dengan nilai dan norma yang berlaku pada masyarakat. Konstruksi bangunan yang khas dengan fungsi setiap bagian yang berbeda satu sama lain, mengandung unsur filosofis yang yang sarat dengan nilai-nilai religi, kepercayaan, norma dan nilai-nilai budaya adat etnis Mandar.
Akibat perubahan masyarakat dewasa ini, tradisi-tradisi lama cenderung ditinggalkan. Hal ini terjadi akibat perubahan pola pikir yang didukung oleh perubahan sosial dan lingkungan masyarakat. Begitu pula dengan rumah tradisi yang semakin jarang ditemukan. Di perkotaan pada umumnya, masyarakat lebih nyaman membangun rumah dengan konsep modern atau tinggal di perumahan dan apartemen. Tidak hanya di kota, masyarakat pedesaan pun mulai merubah tempat tinggalnya menjadi bangunan modern.
Perubahan tersebut tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Maka tidak mengherankan apabila generasi muda etnis Mandar sendiri tidak mengenal secara mendalam tentang rumah adat Mamasa. Selain sulit untuk menemukan rumah tersebut di lingkungan tempat tinggalnya, sedikit sekali sumber informasi yang bisa mereka peroleh. Banyak bangunan bernilai historis berarsitektur Mandar maupun etnis lain yang tidak terpelihara atau bahkan dibongkar karena tidak dapat difungsikan lagi dan diganti dengan gedung/bangunan modern.
Selain itu, rumah tradisi Mamasa memiliki makna historis yang harus dipelihara dan dilestarikan. Bentuknya yang memiliki kemiripan dengan rumah adat Toraja, kini semakin langka. Tulisan ini akan mengungkap bentuk dan ekspresi rumah tradisi Mamasa secara fisik ditinjau dari segi filosofis masyarakat Mandar. Dengan analisis tipologi tulisan ini diharapkan dapat membawa kebahagiaan, kesejahteraan serta keseimbangan hidup yang berdampak positif bagi penghuninya melalui penggabungan unsur makrokosmos dan mikrokosmos. Mendalami unsur filosofi dalam rumah tradisi Mandar ini juga diharapkan membuka kemungkinan usaha generasi muda sebagai pewaris kebudayaan di masa yang akan datang untuk memelihara dan melestarikan warisan generasi pendahulunya.
Kata kunci: Budaya, Banua, Tongkonan, Ornamen
1. Pendahuluan
2
Rumah tradisional sebagai salah satu peninggalan Arsitektur tradisional mempunyai arti penting sebagai arsitektur yang mencerminkan gagasan dan perilaku suatu masyarakat pendukungnya berkenaan dengan pemanfaatan bentuk ruang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, baik yang bersifat fisik maupun non fisik.
Tuntutan manusia terhadap rumah, selain untuk memenuhi kebutuhan fisik yang statis juga merupakan usaha mengembangkan diri. Proses pengembangan diri tersebut terlihat dalam perubahan yang terjadi pada rumah. Hal ini sesuai dengan apa yang dinyatakan Habraken (1980), bahwa rumah memang seharusnya memberi kemungkinan untuk perubahan sepanjang kehidupannya. Untuk dapat memahami dan menampung perubahan tersebut maka studi tentang perubahan rumah dalam arti metamorfosa rumah adalah perlu untuk dilakukan.
Studi tentang perubahan rumah dapat dilakukan dengan melihat perubahan ‘bentuk’ dengan tiga kedalaman yaitu obyek fisik, kemudian fenomena fisik, dan yang terdalam adalah idea konsep. Seperti halnya yang dikatakan Rapoport (1969), bahwa daftar klasifikasi dari tipe dan bentuk (fisik) rumah tidaklah cukup untuk dapat memberikan pemahaman tentang proses dan penentu dari penciptaan bentuk. Ada sesuatu yang harus digali lebih dalam dan bersifat implisit. Bentuk bangunan merupakan manifestasi dari interaksi yang kompleks dari banyak hal. Doxiadis (1967) mengatakan, adalah tidak semestinya kita membicarakan suatu shelter tanpa melihat manusia penghuninya.
Setiap desain dalam setiap lingkungan binaan adalah sumber potensi untuk mengirimkan pesan (Lang, 1994). Sekali waktu pesan-pesan itu begitu banyak memberi rasa tentang suatu tempat pada seseorang, positif atau negatif. Orang menggambarkan makna-makna dari pengalaman mereka sendiri. Perancang mungkin tidak membuat interpretasi yang berhubungan dengan ini secara eksplisit atau akurat, namun perancang dapat mengarahkan para pengamat untuk berbuat demikian.
Penyampaian makna dalam arsitektur, dapat dituangkan pada banyak tampilan, banyak tema, banyak alat, sehingga membutuhkan banyak transformasi. Tergantung pada sasaran yang ingin dicapai. Untuk itu dibutuhkan moda ataupun saluran transformasi yang sesuai baik terhadap tampilan, tema, ataupun alatnya.
Dalam masyarakat tradisional Mamasa, segala sesuatu yang menyangkut kehidupan masyarakat selalu dilakukan bersendikan adat istiadat. Adat istiadat menjadi semacam pedoman dalam berpikir dan bertindak sesuai pola kehidupan masyarakatnya. Terwujud baik dalam tingkah laku, cara berinteraksi, termasuk perlakuan dalam tata cara membangun rumah di dalam lingkungan alam sekitarnya. Adat istiadat dan kepercayaan adalah warisan nenek moyang yang mengisi inti kebudayaan. Hal tersebut dipercaya sebagai warisan yang diterima langsung dari sang pengatur tata tertib kosmos untuk menjadi pengarah jalannya lembaga-lembaga sosial. Oleh sebab itu berbagai upacara, pesta dan upacara kemasyarakatan yang berdasarkan pada adat istiadat, tetap diadakan untuk menjaga kesinambungan dan pelestarikan prosesi budaya bangsa. Termasuk tata cara atau prosesi pembuatan rumah.
2. Tela’ah Pustaka
Rumah yang dikenal masyarakat turun-temurun merupakan hasil kebudayaan. Manusia memiliki kemampuan dalam menginterpretasikan kejadian dan aktivitas yang dilakukan dalam
3
2.1 Teori Tentang Makna dan Filosofi
Pengertian makna di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989), merupakan pesan yang terdapat pada suatu hal. Hal tersebut bisa berupa benda berwujud atau benda tak berwujud. Antara filosofi dan estetika saling berhubungan. Estetika merupakan masalah-masalah konsepsional yang berhubungan dengan baik keindahan alami, seperti pegunungan dan matahari terbenam, atau seperti hasil karya seni seperti hasil lukisan dan simfoni atau nada. (Earle, William James. 1992)
Sedangkan kata filosofi merupakan bentuk kata sifat dari filsafat. Dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di dunia ini yang berhubungan dengan filsafat memiliki nilai-nilai filosofis. Maka dapat disimpulkan secara analogi bahwa yang dimaksud dengan makna filosofis adalah makna yang dibentuk oleh pemikiran tentang suatu objek yang berkaitan dengan satu atau beberapa aspek kajian filsafat.
2.2 Ekspresi Bentuk
Ekspresi adalah apa yang telah kita lihat menurut pengaruh atau pengalaman sebelumnya (Smithies, 1984). Oleh karena tiap orang memiliki keunikan latar belakang dan pengalaman yang berbeda-beda, maka tanggapan terhadap ekspresi yang dimunculkan oleh suatu obyek juga akan berbeda-beda. Keunikan latar belakang dan pengalaman yang berbeda diakibatkan oleh tingkat pendidikan yang berbeda, agama yang berbeda atau juga akibat/pengaruh media masa yang dikonsumsi oleh pengamat. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian dari tanggapan itu bersifat subyektif. Meskipun demikian terdapat aspek ekspresi yang dapat dilihat secara obyektif. Dan setiap kerangka teori arsitektural senantiasa mengandung ekspresi sebagai sebuah prinsip.
Ekspresi dapat berpengaruh oleh beberapa aspek, seperti:
a. Fungsi, fungsi ini dapat melahirkan bentuk yang ekspresif misalnya kita membuat sebuah
lumbung padi dengan menitikberatkan pada pemenuhan fungsi, maka akan muncul bentuk lumbung pada yang dapat menghindari terjadinya pembusukan padi, menghindari gangguan tikus dan sebagainya.
b. Struktur. Penonjolan struktur sebagai elemen estetis pada sebuah bangunan dapat melahirkan
bentuk yang ekspresif pula.
c. Budaya. Misalnya pada bangunan tradisional. Ekspresi yang dimunculkan merupakan hasil
tampilan buaya.
Menurut interpretasi psikologi dan teori Gestalt tentang proses persepsi visual, menyatakan bahwa garis (line) dan bentuk (form) dari bangunan mengkomunikasikan makna-makna secara langsung melalui garis itu sendiri dan bidang (Lang, 1987). Contoh-contoh dari penerapan teori ini pada Chrisler Building, ekspresi menjulang tinggi (soaring) Sydney Operas House, ekspresi gelembung
(billowing) dalam gambar menunjukkan ekspresi statis. Ketiganya merupakan kualitas ekspresif dari
konfigurasi-konfigurasi spesifik. Interpretasi alternatif dari teori Gestalt adalah bahwa ekpresi-ekspresi ini adalah hasil dari asosiasi-asosiasi yang dipelajari. (Lang, 1987)
2.3 Bentuk dan Ekspresi Rumah Adat Mamasa
Rumah tradisional Kabupaten Mamasa lebih dikenal dengan nama “Banua” dan bentuknya cenderung mirip rumah Tongkonan Toraja. Dalam kosmologinya menghasilkan bentuk dasar “Banua” berbentuk segi empat. Alam raya sebagai cosmos dibagi menjadi 3 dunia yakni:
1. Banua Atas, langi’ yang merupakan dunia yang berada di atas, terang, dan baik.
2. Banua Tengah, lino atau padang yang ditempati manusia untuk menjalani aktifitas khususnya upacara-upacara persembahan dan pemujaan.
4
Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 1. Kosmologi Banua Layuk (Sumber: hasil potret, 2012)
Rumah adat Mamasa memiliki kemiripan dengan rumah adat Toraja. Konon, menurut sejarahnya kedua etnik tersebut berasal dalam satu rumpun berikut beberapa rumah adat yang ada di Mamasa. Rumah adat (dan rumah biasa) di Mamasa berdasarkan kepercayaan lama masyarakat setempat didirikan selalu menghadap ke Utara.
Rumah adat dimaksud banyak persamaannya dengan rumah adat Toraja yang disebut Tongkonan. Sampai awal taun 90-an, setidaknya hanya ada tiga buah rumah adat di daerah tersebut yang masih relatif berdiri baik, masing di Orobua, di Tawalian dan di Rante Buda, masing-masing berturut-turut berumur kurang lebih 400 tahun, 300 tahun, dan 300 tahun.
Menurut Nurhayati (1994), bahwa perkembangan arsitektur rumah adat Mamasa melalui empat proses atau tahapan, sebagai berikut: Pertama, Banua Pendoko Dena (rumah berbentuk seperti sarang burung pipit; bentuknya agak bundar bahannya diambil dari lingkungan sendiri seperti rumput, dedaunan, bambu, dan kayu; lantai langsung dengan tanah. Kedua, Banua Lantang Aqpa (rumah dengan bentuk persegi empat panjang, berdinding empat terbuat dari bambu atau kayu yang langsung ditancapkan ke dalam tanah; dinding dan atap dari bambu, kayu, dan rumput; sekarang masih ditemukan di Mamasa tapi sudah berfungsi sebagai kandang ternak). Ketiga, Banua Tamben (kayu rumah ini dibuat berselang-seling pada semua sisinya; tidak mempunyai tiang, kecuali bubungan tempat mengatur atap; pada mulanya atapnya dari alang-alang, dan berikutnya ada yang dari bambu). Keempat, Banua Toloq. Toloq ‘tusuk’ (itulah bentuk yang sekarang; dinamakan banua toloq karena antar tiang yang semuanya dilubangi dihubungkan dengan pattoloq; banua toloq bentuknya seperti perahu layar).
Bentuk rumah adat Mamasa terdiri atas lima, sebagai berikut: 1. Banua Layuk
Berasal dari kata “Banua” berarti rumah; kata “Layuk” berarti tinggi, maka “Banua Layuk” artinya “Rumah Tinggi”, yang sangat berukuran besar dan tinggi, biasanya pemilik rumah tersebut merupakan pemimpin dalam masyarakat atau bangsawan.
2. Banua Sura
Kata “Sura” berarti “Ukir” jadi “Banua Sura” berarti “Rumah Ukir”, besar dan tingginya tidak seperti banua layuk. Penghuni daripada rumah merupakan pemimpin dalam masyarakat dan bangsawan
3. Banua Bolong
Kata “Bolong” berarti “Hitam”. Rumah ini dihuni oleh orang kaya dan pemberani dalam masyarakat.
4. Banua Rapa
Rumah Mamasa dengan warna asli (tidak diukir dan tidak dihitamkan), dihuni oleh masyaraakt biasa.
bb
BANUA ATAS
B. TENGAH
5
5. Banua Longkarrin
Rumah Mamasa yang bagian tiang paling bawah bersentuhan dengan tanah dialas dengan kayu (longkarrin), dihuni juga oleh masyarakat biasa
Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2. Rumah Adat Jenis Banua Layuk
(Sumber: http://mamasa-online.blogspot.com Diposkan: ale,2011)
2.4 Objek Kajian
Irawan (1971;27) mengatakan, "setiap rumah mempunyai bentuk dan corak sendiri sesuai dengan adat, kepercayaan, keadaan a1am dan fungsinya. Di Indonesia dikenali dua macam rumah, yaitu rumah tempat tinggal dan rumah adat. Rumah sebagai tempat tinggal disebut sebagai "rumah", yakni rumah yang dibuat dengan aturan-aturan yang sederhana dan tidak mengikat, berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga. Sedangkan rumah adat adalah rumah yang dibuat untuk keperluan adat seperti untuk mengadakan upacara-upacara adat.
Rumah adat dibuat dengan aturan-aturan yang lebih rumit disamping pakem arsitekturnya yang khas, juga harus meliputi nilai-nilai adat dan kepercayaan. Masyarakat tradisional percaya jika salah satu sarat itu tidak dilaksaknakan maka pemilik atau penghuni rumah tidak akan selamat dalam menjalani hidupnya. Sarat-sarat itu antara lain adalah pemilihan hari untuk mendirikan bangunan, tempat pendirian bangunan, arah bangunan, bentuk bangunan, warna, motif hiasan dan material yang digunakan sampai kepada doa dan mantera yang harus dibaca seringkali dianggap lebih penting dari pada bangunannya itu sendiri. Yudohusodo (1991 ;31-32)
6
Objek penelitian ini memfokuskan pada skala mikro rumah bangsawan yaitu rumah adat Mamasa Banua Sura yang merupakan bagian terpenting dan tidak dapat dipisahkan dari komponen tipikal rumah Mamasa. Rumah Ukir ini merupakan tipikal rumah bangsawan Mamasa yang masih bertahan hingga saat ini.
Falsafah hidup masyarakat Mamasa merupakan subjek dalam penelitian ini yang dijadikan sebagai tolok ukur keaslian makna dalam rumah bangsawan Mamasa. Falsafah berupa pedoman yang melekat pada masyarakat Mamasa yang merupakan hasil kebudayaan dan pemikiran yang masih digunakan hingga sekarang walaupun terjadi sedikit pergeseran karena pengaruh kemajuan teknologi. Makna rumah Mamasa sebagai suatu ungkapan implisit pemiliknya yang membedakan dengan kebudayaan lainnya. Bangunan yang dimiliki oleh golongan sosial tinggi dan sebagai pembeda dengan golongan masyarakat lainnya dan kelengkapan bangunan, sehingga objek kasus mengangkat rumah adat Banua Sura atau Rumah Ukir. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 3. Rumah Adat Jenis Banua Sura
(Sumber: http://mamasa-online.blogspot.com Diposkan: ale, 2011)
2.5 Ritual Mendirikan Rumah
Deskripsi pembangunan rumah adat di Mamasa sebagai berikut: Pertama adalah persiapan. Langkah pertama, diselenggarakan musyawarah antara anggota keluarga untuk menyepakati dan menetapkan bentuk dan macam rumah yang akan dibangun. Dasar penentuan dan lain-lain yang berhubungan dengan rumah adat tetap berpedoman pada peraturan bangunan yang telah ditetapkan menurut ajaran atau paham kepercayaan nenek moyang. Dalam musyawarah ditentukan dan ditunjuk seorang yang menjadi penanggung jawab pengadaan atau pembangunan rumah, mulai dari pengumpulan bahan ramuan sampai rampungnya pembangunan rumah. Yang ditunjuk ialah oknum yang paling tua dan paham seluk beluk rumah dan adat, dan waktu yang baik untuk memulai pembangunan rumah. (Biasanya dipilih awal bulan purnama atau malam pertama terbitnya bulan sampai malam ke-15 dan tepat hari pasar, yaitu hari Selasa).
Tempat mendirikan rumah umumnya dipilih di sekitar tempat kerja yang dekat sumber air bersih, di atas tanah ketinggian dan datar, berderet dari timur ke barat, dan harus menghadap ke utara. Didepannya didirikan sebuah lumbung padi yang disebut alang menghadap ke selatan. Rumah dan lumbung selalu dibangun berhadapan, sebagai simbol/gambaran sumi isteri, atau lambang kesatuan dan keutuhan.
7
pusat’ harus diperhatikan tidak boleh rebah posisinya, ujungnya tidak boleh ke bawah, cara membawanya harus selalu pada posisi berdiri, puncaknya harus selalu ke atas mulai dari pengambilannya sampai pada pemasangannya sebagai tiang pusat), (3) kayu sendana, untuk tiang tulak somba dan lantai, (4) kayu tarian, untuk dijadikan balok-balok, (5) kayu cemara, untuk kasau, (6) kayu pinang, untuk reng, (7) bambu, untuk bubungan dan atap dengan cara membelah-belah kecil sesuai ukuran tertentu, (8) ijuk, untuk menjadi atap (kalau tidak menggunakan bilah-bilah bambu), dan (9) batu gunung, untuk alas tiang rumah.
Ketiga, tentang tata cara mendirikan Rumah. Sebelum diolah bahan-bahan lebih dahulu dikelompokkan atas tiga, yaitu (1) kelompok sulluk banua ‘tiang rumah’, (2) kelompok kale banua ‘ramuan yang membalut rumah’, dan (3) kelompok papa banua ‘atap rumah.’ Sesudah dikelompokkan, bahan-bahan diolah dan dilakukan kegiatan manamben (mengukur, memotong, melicinkan, membelah-belah bambu untuk atap). Pembuatan tiang dimulai membuat tiang garompang ‘tiang induk’, tiang alla ‘tiang di antara tiang garompang, ariri posi, tiang baira ‘penyangga atap.’ Semua tiang itu berbentuk segi delapan. Membentuknya digunakan kapak kecil, diukur dengan depa atau jengkal si pemilik. Kemudian dibuat roroan ‘sulur’ yang membentuk empat persegi panjang, sama dengan pembuatan tiang. Adapun nama-nama rangka berikut urutan pemasangannya sebagai berikut. (1) alas tiang, (2) tiang, (3) roroan, (4) ayoka, (5) penambu lentong (jenis tiang), (6) kalahka, (7) pettaqdakan, (8) pacaq, (9) panggosokan, (10) sangkinan rinding, (11) reassak, (12) sambo rinding (13) pananggok (14) rinding angin, (15) indo para, (16) telang para, (17) ula-ula para, (18) rinding para, (19) kayu boko, (20) rampanan, (21) pamiring bundai, (22) pamiring longa, (23) sambo topong, (24) pumpang longa, (25) pumpang pue-pue, (26) kasau (27) reng, (28) atap, (29) bubungan, (30) daun pintu, (31) daun jendela, (32) tangga, dan (33) ukiran.
Pemasangan rangka dilakukan dalam tiga tahap yaitu (1) pemasangan rangka bawah (kolong); mengatur batu sebagai alas tiang, lalu meletakkan tiang di atasnya, dan memasang semua balok yang ada di ujung deretan tiang, (2) rangka bagain tengah (badan); memasang kayu panggosokkan, sangkinan rinding, papan dinding, balok penutup papan dinding; memasang balok yang akan menahan bagian kanan dan kiri rumah, dan (3) rangka bagian atas (atap); memasang tiang-tiang untuk meletakkan balok-balok rumah, kayu bokok; memasang lindo para berbentuk segi tiga yang terdapat di muka dan belakang rumah; mendirikan tiang penopang bagian rumah yang menjulang ke depan dan belakang rumah; memasang atap yang terdiri atas dua lapisan (lapisan atas yang disebut muane papa ‘suami atap’ dan lapisan bawah yang disebut baine papa ‘isteri atap’; kemudian memasang bubungan rumah, dan yang terakhir adalah mengukir.
Keempat, mengenai tenaga pelaksana. Dikerjakan oleh tenaga ahli yang tahu dan memahami
seluk beluk adat istiadat tradisional yang ada hubungannya dengan rumah, agar tidak terjadi pelanggaran terhadap adat yang berlaku. Tenaga ahli dimaksud ialah Tominaa, Tomanarang, dan Tukang.
3. Metodologi
Penelitian ini menggunakan metoda deskriptif kualitatif. Mulyana (2001:156) menjelaskan "penelitian kualitatif bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang otentik mengenai pengalaman orang-orang, sebagaimana dirasakan orang-orang bersangkutan.
Berdasarkan perilaku orang yang diamati oleh Bodgan dan Taylor (Sutopo, 2001:3), bahwa metode ini dilakukan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari seseorang. Metoda kualitatif dalam penelitian ini bersifat holistik, interpretatif, dan deskriptif, sebagaimana yang dilakukan oleh Miles dan Hubrman (Rohidi, 1999;19).
8
Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan karena rumah tradisional Mamasa pada umumnya lebih memiliki kaitan dengan nilai-nilai sosio kultural yang memiliki makna dan nilai heterogen serta pengertian symbol-simbol tradisi yang bersifat metaforik.
Keterkaitan antara bentuk dan fungsi ruang dengan faktor yang melatarbelakanginya sulit dideskripsikan secara deterministik. Diperlukan pendekatan yang bersifat holistik sehingga menuntut interpretasi yang sensitif dan adaptif terhadap pengaruh-pengaruh yang tidak saja bersifat fisik.
Analisis Tipologi dalam penelitian ini, digunakan sebagai salah satu metode dalam mendefinisikan atau mengklasifikasikan objek arsitektural. Tipologi dapat mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu objek dan analisa perubahan tersebut menyangkut bentuk dasar objek atau elemen dasar, sifat dasar, fungsi objek serta proses transformasi bentuknya. Menurut Rafael Moneo, secara sederhana tipologi dapat didefinisikan sebagai sebuah konsep yang memberikan (describe) sebuah kelompok objek atas dasar kesamaan sifat-sifat dasar. Bahkan bisa juga dikatakan bahwa tipologi berarti tindakan berpikir dalam rangka pengelompokan. Dikatakannya lebih lanjut, bahwa analisa tipologi dibagi menjadi 3 fase yaitu:
1. Menganalisa tipologi dengan cara menggali dari sejarah untuk mengetahui ide awal dari suatu komposisi; atau dengan kata lain mengetahui asal-usul atau kejadian suatu objek arsitektural. 2. Menganalisa tipologi dengan cara mengetahui fungsi suatu objek.
3. Menganalisa tipologi dengan cara mencari bentuk sederhana suatu bangunan melalui pencarian bangun dasar serta sifat dasarnya.
4. Hasil dan Diskusi
4.1 Letak Geografis dan Historis Kabupaten Mamasa
Kabupaten Mamasa merupakan Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Barat yang didirikan pada tanggal 11 Maret 2002. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Mamasa, sekitar 340 km dari Kota Makassar dengan jarak tempuh sekitar kurang lebih 6 jam. Sebagai kabupaten baru yang sebelum pendudukan Kolonial Belanda daerah ini dikenal sebagai "Pitu Ulunna Salu" yang berarti
tujuh sungai bagian atas merupakan simbol dari tujuh pemimpin lokal di daerah pegunungan, yang
dikenal dengan nama "Kondosapata 'Uaisapalelean" yang berarti "sawah yang luas dengan air datar". Secara harfiah, KONDO berarti “Sebuah sawah yg luas”, SAPATA berarti “Hanya satu pematang”, dengan air yang merata di semua teras sawah tersebut (UAI SAPALELEAN). Apabila diartikan berdasarkan filosofinya, KONDOSAPATA UAI SAPALELEAN, berarti hanya satu wilayah (Sapata), tidak bisa dipisahkan, dan masyarakatnya hidup adil dan mempunyai hak yang sama (Uai Sapalelean).
KONDOSAPATA dalam arti luas merupakan wilayah tanah adat yang didiami sekelompok orang dan memiliki prinsip-prinsip hidup yg sangat beradab, memiliki falsfah hidup yang sangat kokoh, berfungsi untuk mengikat masyarakat sosial yg ada di dalamnya, saling menghargai, saling menghormati, saling menyayangi agar tetap hidup dalam kekeluargaan, rukun dan damai. Prinsip dan falsafah hidup mereka, diimplementasikan dalam nilai-nilai kehidupan sosial, adat istiadat, budaya dari generasi ke generasi berikutnya.
Wilayah KONDOSAPATA, mencakup daerah Pesisir, Mamuju (Pamboang), Ulu Manda', sampai ke daerah Binuang. Sementara daerah pedalaman (pegunungan) mencakup Tabulahan (Rantebulahan), Bambang, Mambi, Aralle, Matangganga, Malabo (Tanduk Kalua') Balla, Mamasa, Sesena Padang, sampai ke wilayah Tabang. MUlai dari Suppiran, Sepang, Messawa, Tabone Sumarorong, Pana' sampai ke Nosu. Itulah wilayah KONDOSAPATA dengan julukan PITU ULUNNA SALU, KARUA BA'BANA MINANGA.
Pitu Ulunna Salu, Karua Ba'bana Minanga adalah bahasa Kondosapata asli (bahasa ibu), artinya Tujuh Hulu dan Delapan Muara yg ada di wilayah Kondosapata. Ketujuh hulu dan delapan muara ini didiami oleh keturunan PONGKA PADANG, yg mempunyai tujuh anak dan 11 cucu.
9
Menurut sejarah lokal, yang panjang lalu ketika lembah ini adalah hutan, banyak orang yang datang dari luar untuk berburu dan ikan. Kabupaten Mamasa berada pada ketinggian antara 600 m sampai 2000 m di atas permukaan laut dan dan ketinggian pegunungan di daerah ini adalah 2500-3107 m di atas permukaan laut. Kabupaten Mamasa adalah dataran hijau dengan curah hujan yang lebat. Fitur-fitur ini membuat Mamasa tujuan atraktif bagi pengunjung (wisatawan).
Mamasanese masih mempraktikkan agama tradisional leluhur mereka yang disebut "Ada 'Mappurondo atau “Aluk Tomatua" dalam tradisi lisan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai Mamasanese tidak memiliki naskah tertulis. Setiap tahun, Ada 'Mappurondo pengikut masih upacara mereka, terutama setelah panen padi. Daerah ini juga terkenal dengan Mistik. Masyarakat setempat dapat memerintahkan mayat berjalan pulang. Mereka percaya bahwa semua mayat dari sebuah keluarga atau kerabat akan berada di tempat yang sama dalam kehidupan sesudahnya,
Mamasanese rumah lumbung khas dan mirip dalam bentuk untuk kapal. Orang-orang percaya bahwa nenek moyang mereka datang dari laut dengan kapal/ perahu dan pergi ke hulu sungai.
Legenda mengatakan bahwa "Nenek 'Torije'ne": (nenek moyang nenek) datang dari laut dan "Nenek Pongkapadang" (nenek moyang kakek) datang dari timur, daerah pegunungan pulau ini. Mereka bertemu satu sama lain kemudian pindah ke "Buntu Bulo desa" di Tabulahan (dekat Mamuju Kabupaten). Orang-orang percaya bahwa mereka adalah nenek moyang dari Mamasanese dan sekitarnya.
4.2 Filosofi Tipologi Bentuk dan Ekspresi Rumah Adat Mamasa
Bentuk rumah tradisional di Mamasa saat ini adalah hasil perkembangan dari bentuk sebelumnya yang bermula dari banua pandoko dena, banua lentong appa, banua tamben dan banua tolo' (sanda ariri). Dari bentuk rumah yang keempat (banua tolo) akhirnya menjadi ciri khas rumah tradisional, khususnya banua layuk di Mamasa terikat oleh lokasi, arah, dan bahan bangunan, dan waktu mendirikan bangunan. Sebagai ilustrasi, dapat dilihat pada gambar berikut:
10
Rumah adat Mamasa bernama Banua Layuk yang berlokasi di Rantebuda, Buntukasisi. Orobua, dan Tawalian kesemuanya dalam wilayah Kecamatan Mamasa. Rumah adat Mamasa merupakan simbol eksistensi suku Toraja-Mamasa saat ini, yang semakin lama semakin terkikis oleh arus perubahan jaman.
Pada dasarnya rumah adat Mamasa mirip dengan rumah Tongkonan Toraja, perbedaannya yaitu rumah adat mamasa memiliki atap kayu yang berat dengan bentuk yang tidak terlalu melengkung sementara rumah adat Toraja memiliki atap kayu dengan bentuk seperti huruf ‘U’. Dan selain itu, masyarakat Mamasa tidak memiliki terlalu banyak upacara adat sebagaimana di Toraja.
Banua Layuk, merupakan simbol kepemimpinan tertinggi dalam struktur masyarakat Kampung Ballapeu’. Namun saat ini sudah tidak lagi ditemukan/dibuat oleh masyarakatnya atau telah hancur. Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan Banua Layuk eksis di Ballapeu.
Proses pembuatan banua layuk dari permulaan hingga bangunan siap untuk ditempati tidak terlepas dari kegiatan upacara ritual dengan mengorbankan ayam atau babi. Struktur banua layuk yang terdiri atas tiga bagian, yakni atap, badan, dan kolong (rumah panggung), selain karena pertimbangan fungsional sekaligus tersirat makna filosofi.
Secara fungsional bentuk rumah panggung adalah: (a) menghindarkan gangguan dari binatang buas,
(b) lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin, (c) kolong dapat berfugngsi praktis.
Sedang makna filosofi dibalik struktur banua layuk yang terdiri tiga bagian adalah simbol dari makroskosmos yang terdiri atas tiga lapisan yakni dunia atas, tengah, dan bawah. Banua layuk sebagai rumah adat sarat dengan makna simbolik sebagai cerminan dari nilai-nilai budaya yang dianut oleh masayarakatnya. Simbol-simbol tersebut ditemukan pada struktur, ukiran, dan unsur-unsur lainnya yang terdapat pada banua layuk.
Terdapat beberapa persamaan di samping perbedaan antara Banua Layuk di Mamasa dengan Tongkonan di Tana Toraja. Adanya persamaan dari keduanya karena mempunyai akar budaya yang sama, dan adanya perbedaan disebabkan oleh kondisi lingkungan dan sosial budaya yang berbeda dari kedua rumah adat tersebut.
Secara struktur, Banua Layuk yang terdiri atas tiga bagian, yakni atap, badan, dan kolong (rumah panggung). Secara fungsional bentuk rumah panggung dapat digunakan untuk menghindari gangguan binatang buas, lantai dapat menampung hawa panas di malam hari, sehingga cocok untuk daerah dingin, dan kolong dapat berfungsi praktis.
4.3 Filosofi Sistem Konstruksi dan Ragam Hias
Pola perkampungan rumah adat Mamasa, cenderung mengikuti pola kontur tanah dengan perletakan rumah pada tempat-tempat yang datar. Denah dan tata ruang berbentuk segi empat dengan fungsi ruang utama digunakan sebagai ruang pertemuan untuk membicarakan masalah-masalah adat yang berada di sekeliling ariri posi’.
Ariri Posi’ adalah Tiang Utama yang merupakan pusat struktur yang merupakan titik awal bangunan dan memiliki kekuatan yang mampu menerima beban dari seluruh material.
Sistem struktur rumah tradisional Mamasa merupakan sistem rangka dengan hubungan pen dan pasak, sistem lepas (free standing) dengan berat/ grafitasi sebagai faktor pengaku terhadap gaya horizontal. Bentuk struktur dihubungkan dengan personifikasi yakni hubungan manusia dengan alam, yang terdiri atas kepala, badan dan kaki. Sistem konstruksi rumah tradisional Mamasa ini menggunakan balok dan kayu dengan tinggi kolom bervariasi kemudian membentuk elemen horizontal dan vertikal. Filosofi dari sistem konstruksi ini dianggap sebagai lambang ikatan manusia dengan alam.
11
diletakkan begitu saja di atas tanah, dan di atasnya tiang rumah diletakkan), dan ariri ‘tiang’ (penahan badan rumah yang dihubung-hubungkan dengan balok (sulur atau roroan) yang dimasukkan ke dalam tiang-tiang; di antara tiang terdapat posi ‘pusat’ sebagai tiang utama di tengah bangunan rumah).
Di depan dan belakang rumah terdapat tulak sumba (tempat menggantungkan atau memasang tanduk-tanduk kerbau). Konstruksi Tengah (Badan Rumah) meliputi (1) sali ‘lantai’
(bahannya dari kayu sendana atau kayu aru yang dipasang melintang berhimpit rapat kecuali beberapa bagian di tengah ruang di lantai tersebut), (2) lonta ‘ruang’ (rumah adat yang terdiri empat ruang disebut Banua Patang Lonta ‘Rumah Empat Ruang’ dengan konstruksi ruang yang bertangga-tangga mulai dari bawah ke atas, yang paling rendah bagian utara dan paling tinggi di selatan; ruang-ruang itu ialah (a) inan kabusungan tempat menyimpan barang atau benda-benda pusaka; inan kabusungan rumah adat di Orobua: 2,09×3,34 meter, (b) sumbung berfungsi sebagai tempat tidur; sumbung rumah adat di Orobua: 2,06×3,43 meter, (c) sali tangnga berfungsi sebagai tempat atau pusat kegiatan di rumah; rumah adat di Orobua: 2,90×3,43 meter, dan (d) sali iring berfungsi tempat menerima tamu; sali iring rumah adat di Orobua: 2,74×3,43 meter.
Setiap ruang mempunyai pintu. Inan kabusungan dan sali iring tidak mempunyai daun pintu. Sumbung dan sali tangnga mempunyai daun pintu, dan (3) rinding ‘dinding’ (dalam penempatan dinding terdiri atas dua bentuk yaitu vertikal dan miring; vertikal, dinding yang mengelilingi rumah dan diukir, dan miring, dinding yang condong ke muka atau ke belakang; sudut atas dinding berakhir pada pangoton ‘kayu bubungan’ yang disokong dengan tiang penyokong atap bubungan tulak sumba; dinding dibuat dari kayu uru matindro; papan dinding tidak menggunakan paku atau pengikat melainkan menggunakan sistem alur yang dalam istilah lokal disebut siamma; pada dinding rumah adat di Mamasa terdapat empat buah jendela yang terletak di muka dan di belakang rumah.
Konstruksi bagian atas (atap) rumah adat di Mamasa dibuat dari bambu yang dibelah-belah. Kerangka atapnya sebagai berikut. (1) Rampanan (kayu tempat mengatur atap, 2 buah). (2) Pamiring budai (terpasang pada rampanan, 4 buah). (3) Pamiring longa (tempat mengatur atap longa, 4 buah). (4) Sambo topong, berbentuk bundar, 2 buah. (5) Karo, terpasang pada rampanan dan sambo topong dan tempat memasang reng. (6) Reng, tempat mengikat atap. (7) Pumpang tulak, kayu yang melintang di bagian muka longa sebagai penopang tulak sumba. Bubungan atap rumah adat yang mirip perahu layar di daerah ini, bagian depan selalu lebih tinggi dari pada yang bagian belakang. 6. Ukiran (Ornamen).
Di Mamasa, ukiran atau ornamen dikenal dengan istilah passura. Passura khas Mamasa yang dijumpai pada rumah adat di Mamasa bukan sekedar hiasan belaka, karena ukiran itu sarat makna dan simbol-simbol religi. Ukiran Mamasa terdiri atas empat dasar, yaitu (1) paqbura allo (bentuknya menyerupai matahari), (2) paqtedong (bentuknya menyerupai kerbau), (3) paqmanuq londong (bentuknya menyerupai ayam jantan), dan (4) paqsussuq (merupakan garis-garis lurus).
Setiap ukiran pada akhir penyelesaiannya selalu diberi warna atau cat yang hanya terdiri atas mariri ‘kuning’, malotong ‘hitam’, mararang ‘merah’, dan mabusa ‘putih.’ Sebagai ilustrasi, dapat dilihat pada gambar berikut:
paqmanuq londong
paqtedong paqbura allo paqsussu
12
Salah satu keunikan dari rumah tradisional Mamasa adalah tanduk kerbau yang dipajang ditiang depan rumah, semakin banyak tanduk kerbau yang melekat di tiang rumah maka semakin tinggi kemampuan ekonomi dan status sosial pemilik rumah. Sebagai ilustrasi, dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 6. Tanduk Kerbau sebagai salah satu elemen dari Rumah Adat Mamasa (Sumber: http://mamasa-online.blogspot.com, Diposkan: ale, 2011)
5. Kesimpulan
Tipologi atau bentuk rumah tradisional Mamasa adalah berbentuk rumah panggung dengan eksterior dan ragam hias yang sangat sederhana, namun memilki struktur dan konstruksi yang berasal dari kayu-kayu lokal dengan kekuatan yang volume kekuatan yang dapat menampung beban dari seluruh material yang ada.
Rumah adat Mamasa, dalam proses pembuatannya menggunakan alat pengukur pengganti meter dengan sangdaqkan ‘jengkal’, sangtaqpungkale ‘hasta’, dan sangdaqpa ‘depa.’ Dengan empat dasar (paqbura allo, paqtedong, paqmanuq londong, dan paqsussuq), ragam hias ukiran rumah adat di Mamasa adalah sebagai berikut. (1) Paqdandan Bodu (bentuknya seperti sirih; diukir pada dinding bahagian depan yang dimaksudkan sebagai penghormatan kepada dewa). (2) Kabonga (ukiran berbentuk kepala kerbau yang diukir pada dinding depan dan belakang rumah; simbol kekuasaan, kekayaan, kemakmuran hidup keluarga pemilik rumah, dan mungkin mengandung maksud kepercayaan lama di Mamasa). (3) Katiq (berbentuk kepala ayam jantan yang sedang berkokok; diukir pada dinding di muka dan belakang rumah yang jumlahnya masing-masing tiga buah; ditempatkan di atas ukiran kabonga). (4) Paqsalaqbi, menyerupai pagar. (5) Paqgugang, menyerupai keris. (6) Paqsussuq. (7) Paqtedong. (8) Paqmanuq londong, dan (9) Paqbare allo.
13
Ucapan Terima Kasih
Bapak Prof.Dr.Ir. Josef Prijotomo, M.Arch sebagai Promotor Utama. Ibu Dr. Murni Rachmawati, MT, sebagai Co Promotor.
Bapak Dr. Galih W Pangarsa sebagai Penguji Bapak Prof. Dr. Ir. Jhoni Hermana sebagai Penguji Ibu Dr. Purwanita Setyjanti sebagai Penguji
Bapak Hanson sebagai mediator untuk masuk ke IPLBI
Daftar Pustaka
Abbas, Ibrahim. 1999. Pendekatan Budaya Mandar. Makassar. UD Hijrah Grafika.
Doxiadis, C.A., (1967), Ekistics An Introduction to The Science of Human settlement, ,London.
Habraken, N.J., (1980), Design for Adaptability, Change and User Participation dalam Tipple A. Graham, 1991, Self Help
Transformation of Low Cost Housing A Introductory Study, CARDO, University of Newcastle upon Tyne, UK.
Lang, Jon; (1994); Urban Design The American Experience;Van Nostrand Reinhold; New York
Maryono Irawan. 1971. Pencerminan Budaya dalam Arsitektur Indonesia.
Mulyana. Dedy. 2001. Metodologi Penelitian Kwalitatif. Remaja Rosda Karya Bandung
Nurhayati, “Studi Arsitektur Rumah Adat Mamasa di Kec. Mamasa Kabupaten Polmas.” 1994
Rapopot Amos., (1969), House Form Culture, Prentice Hall, Inc, New York.
Rapoport . 2005. Culture Architecture, and Desigm. Lock Science Publishing Company, Inc. Chicago. USA.