• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbandingan Sifat Fisis Seedball Aerose (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Perbandingan Sifat Fisis Seedball Aerose (1)"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

i

VOLUME 1 NOMOR 2, DESEMBER 2015

DAFTAR ISI

1. ETNOBOTANI TUMBUHAN HUTAN BERKHASIAT OBAT DI DESA

MANDIANGIN BARAT KECAMATAN KARANG INTAN KABUPATEN BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Syaifuddin, Edi Suryanto, Nur Muchammad Azizi Kurniawan,

Siska Fitriyanti... 1-7

2. PERTUMBUHAN TANAMAN GAHARU PADA TEGAKAN JATI

DI DESA PULAU KUU KECAMATAN MUARA UYA KABUPATEN TABALONG KALIMANTAN SELATAN

Wawan Halwany, Edy Suryanto, Grafi Marseta... 8-11

3. HAMA UTAMA TANAMAN LAMTORO (Leucaena leucocephala (Lam.) de Wit) DAN ASPEK PENGENDALIANNYA

Yeni Nuraeni... 12-16

4. KANDUNGAN HARA TANAH DI BAWAH TEGAKAN TENGKAWANG

ALAM DAN TANAMAN DENGAN KARAKTERISTIK TAPAK YANG BERBEDA

Tri Wira Yuwati... 17-22

5. SUMUR BOR DANGKAL: SUMBER AIR UNTUK PEMADAMAN

KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN GAMBUT

Eko Priyanto, Yusnan... 23-28

6. PERBANDINGAN SIFAT FISIS SEEDBALL AEROSEEDING DARI

BEBERAPA FORMULA PEMBENTUK SERTA KETEBALAN SEEDBALL

Safi nah S. Hakim, Purwanto B. Santosa, Dewi Alimah... 29-34

7. PERSIAPAN LAHAN DAN POLA PERTUMBUHAN PADA TANAMAN

PULAI (Alstonia angustiloba Miq.)

(4)

Perbandingan Sifat Fisis Seedball Aeroseeding dari Beberapa Formula ... Safi nah S. Hakim, Purwanto B. Santosa, Dewi Alimah

PERBANDINGAN SIFAT FISIS SEEDBALL AEROSEEDING

DARI BEBERAPA FORMULA PEMBENTUK SERTA

KETEBALAN SEEDBALL

Safi nah S. Hakim; Purwanto B Santosa; Dewi Alimah

ABSTRAK

Aeroseeding merupakan salah satu cara dalam merehabilitasi lahan rawa gambut. Agar hasil aerosseding lebih efektif, digunakan seedball. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sifat fi sis seedball yang dibuat dari tiga kombinasi formula yakni (A) gambut (B) liat, dan (C) talc yang dicampurkan dengan kompos dengan perbandingan 1:1 , serta dibentuk menjadi ketebalan berbeda yakni 2 cm, 3 cm, dan 4 cm. Hasil analisis sifat fi sis menunjukkan formula A (Gambut dan kompos) memiliki keunggulan dibandingkan dengan formula lainnya karena memiliki kadar air (91.1%), bulk density (0.81%) dan porositas (58.47%) yang lebih sesuai untuk perkecambahan benih dibandingkan dengan formula lainnya. Selain itu, formula A juga memiliki berat yang ringan sehingga meningkatkan efi siensi pada saat penaburan benih yang dilakukan pada kegiatan rehabilitasi melalui aeroseeding.

Kata kunci : rehabilitasi, seedball, kadar air, lahan gambut

PENDAHULUAN

Lahan rawa gambut merupakan komponen penting dalam ekosisitem dunia. Dari sudut pandang ekologis, lahan rawa gambut memiliki peran sebagai habitat fl ora fauna, pengatur hidrologis serta sebagai

pool carbon. Namun, adanya kegiatan pembakaran lahan serta alih fungsi lahan rawa gambut menyebabkan menurunnya luasan lahan rawa gambut di Indonesia. Oleh karena itu, rehabilitasi lahan rawa gambut merupakan salah satu prioritas yang harus dilakukan dalam mengatasi kerusakan lingkungan. Sayangnya, praktik rehabilitasi lahan rawa gambut terkadang tidak bisa dilakukan secara konvensional akibat kondisi lahan yang susah dijangkau. Salah satu cara untuk rehabilitasi lahan dengan kondisi medan yang sulit adalah dengan metode aeroseeding.

Aeroseeding merupakan satu cara rehabilitasi yang awalnya dikembangkan di daerah Amerika pada lahan-lahan pasca kebakaran hutan, salah satunya di daerah DAS South Fork Trinity (Miles et al., 1987). Di Indonesia sendiri, kegiatan aeroseeding sudah dilakukan, antara lain di hutan kota Palangkaraya (Tim Aerial Seeding Jurusan Kehutanan Universitas Palangkaraya, 2011), Balangpulang dan di Pegunungan Willis (Millang, 2010). Dalam pelaksanaannya, aeroseeding dilakukan dengan dua cara yakni dengan menebarkan benih secara langsung dari pesawat, dan dibungkus dengan bahan tertentu.

(5)

30

Galam Volume 1 Nomor 2, Desember 2015 Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru

untuk berkecambah Pada aeroseeding, seedball dibuat dengan beberapa tujuan. Pertama, menambah massa benih agar jatuh pada lokasi target rehabilitasi. Kedua, memberikan kondisi yang lebih kondusif bagi benih untuk berkecambah dan bertahan sehingga mampu bertahan hingga benih berkecambah (Priadi, 2010).

Saat ini, sudah terdapat beberapa penelitian tentang pembuatan seedball aeroseeding. Terdapat beberapa bahan organik yang sering digunakan antara lain kompos, gambut, dan liat. Terdapat perbedaan kualitas pertumbuhan dan perkecambahan pada jenis benih dan jenis bahan organik pembawa yang berbeda. Hasil lain dikemukakan oleh Alimah (2010), bahwa formula pembawa tidak berpengaruh terhadap tingkat perkecambahan benih. Dari beberapa penelitian yang ada, aspek fi sis dari formula seedball yang dibuat kurang diperhatikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana aspek fi sis seedball yang dibuat dari formula pembentuk serta ketebalan yang berbeda. Hasil akhir dari penelitian terkait aspek fi sis seedball ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan pada proses rehabilitasi melalui metode aeroseeding.

BAHAN DAN METODE

Tabel 1. Formula yang digunakan dalam pembuatan seedball aeroseeding

Jenis Formula Media Pembungkus Jumlah Takaran Kompos

A Tanah Gambut 1 1

B Tanah Liat 1 1

C Talk Powder 1 1

Seedball dibuat dengan tujuan untuk memberikan kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh benih untuk berkecambah serta memberikan kondisi lingkungan yang lebih mendukung dalam perkecambahan. Oleh karena itu, seedball dibuat dengan bahan-bahan organik. Pada penelitian ini, bahan organik yang digunakan adalah gambut, kompos, tanah liat, dan talk. Talk sendiri merupakan bahan yang sudah sangat umum digunakan sebagai coating biji pada tanaman pertanian (Madsen et al., 2012). Terdapat tiga jenis formula yang digunakan untuk pembuatan seedball (Tabel 1). Prosedur pembuatan seedball dilakukan dengan mencampurkan bahan penyusun sesuai dengan komposisinya, diaduk perlahan, diambil gumpalan-gumpalan (Gambar 1). Keseluruhan proses ini dilakukan dengan cara non-mekanis. Seedball dibentuk menjadi ukuran bulat-bulat dengan kombinasi diameter seedball yakni 2 cm, 3 cm, dan 4 cm. Penentuan diameter seedball dilakukan dnegna menggunakan jangka sorong (Gambar 2).

(6)

Perbandingan Sifat Fisis Seedball Aeroseeding dari Beberapa Formula ... Safi nah S. Hakim, Purwanto B. Santosa, Dewi Alimah

Gambar 1. Pencampuran Bahan Pembuat Seedball

Gambar 2. Pengukuran Diameter Seedball

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hardjowigeno (2003) menyebutkan bahwa sifat tanah dibagi menjadi tiga karakter yakni sifat fi sik, sifat kimia, dan sifat biologis. Sifat fi sis tanah merupakan komponen yang perlu diperhatikan dalam kegiatan penanaman karena sifat fi sis ini mempengaruhi penetrasi akar, retensi air, drainase, dan aerasi tanaman. Pentingnya mengetahui sifat fi sis tanah juga berlaku bagi pembuatan seedball karena seedball dibuat sebagai media tumbuh benih yang digunakan dalam proses rehabilitasi.

(7)

32

Galam Volume 1 Nomor 2, Desember 2015 Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru

menyerap dan menyimpan air sebanyak 13 kali dari bobotnya (Agus dan Subiksa 2008).

Tabel 2. Hasil uji fi sis media seedball pada komposisi media berbeda

No Parameter Formula

Gambut+kompos Tamah Liat + Kompos Talk + Kompos

1 Kadar Air (%) 91,1 46,4 32,58

2 Berat Jenis Partikel (g/cm3) 1,39 2,13 2,56

3 Bulk Density (g/cm3) 0,81 0,86 1,41

4 Porositas (%) 58,47 40,52 55,13

Berat jenis partikel dan bulk density tanah sangat menentukan porositas tanah. Bulk density atau dikenal juga dengan berat volume tanah merupakan perbandingan berat tanah dengan volume total tanah (Pandutama et al., 2003). Bulk density sangat berpengaruh pada porositas tanah, pergerakan air, peredaran udara, serta penetrasi akar tanaman. Penelitian Skinner et al.(2009) menunjukkan bahwa penetrasi akar ke dalam tanah secara linear berkurang seiring dengan peningkatan bulk density. Jika ketiga formula pembungkus seedball dibandingkan, diketahui besarnya bulk density media dari yang terkecil hingga terbesar adalah Formula A, Formula B, dan Formula C. Jika ditinjau dari bulk density masing-masing tipe seedball, maka pembungkus dengan formula A, merupakan yang paling baik karena nilai bulk density yang rendah yakni sebesar 0,81 g/cm3. Porositas tanah sangat berpengaruh terhadap ketersediaan oksigen di

dalam formula pembungkus seedball. Porositas paling rendah terdapat pada formula B yang tersusun atas kompos dan liat. Hal ini dikarenakan tanah liat atau clay memiliki diameter partikel yang sangat kecil yakni < 0.002 mm (Hardjowigeno, 2003).

Gambar 3. Perbandingan Berat seedball dari formula dan ketebalan yang berbeda

(8)

Perbandingan Sifat Fisis Seedball Aeroseeding dari Beberapa Formula ... Safi nah S. Hakim, Purwanto B. Santosa, Dewi Alimah

CASA 212-200 TNI-AU dengan dengan kemampuan angkut 1500 kg/fl ight (Millang 2010). Dari pengukuran yang dilakukan, berat seedball dari formula dan diameter berbeda disajikan pada Gambar 3. Diketahui bahwa berat seedball paling ringan adalah berat seedball yang dibuat dengan formula A yang merupakan pencampuran kompos dan gambut dengan berat rata-rata pada diameter 2 cm, 3 cm dan 4 cm berturut turut adalah 6.7 g; 22,51 g; dan 39.13 g. Informasi mengenai berat seedball dapat digunakan sebagai referensi dalam pengangkutan seedball pada saat proses pelaksanaan aeroseeding. Jika dipandang dari segi kepraktisan dan pendanaan, seedball dengan berat paling ringan tentu saja lebih efektif dibandingkan dengan seedball dengan berat yang besar .

Gambar 4. Jumlah seedball/ kilogram dari formula dan ketebalan seedball yang berbeda

Setiap kali terbang, jumlah seedball dengan ukuran ringan akan membawa lebih banyak benih dibandingkan tipe seedball dengan massa yang labih besar. Pada masing-masing formula, jumlah seedball setiap kilogram ditampilkan pada Gambar 4. Berdasarkan data tersebut, jenis A merupakan jenis yang paling ringan sehingga jumlah seedball setiap kilogramnya adalah 149 butir (d=2 cm), 44 (d=3 cm), dan 25 butir (d= 4cm). Hasil ini menandakan bahwa diantara ketiga formula, seedball yang dibuat dari Formula A dengan diameter seedball ukuran 2 cm merupakan pilihan yang paling efektif. Jika diasumsikan penebaran seedball dilakukan dengan pesawat CASA 212-200 TNI-AU dengan dengan kemampuan angkut 1500 kg/fl ight maka jumlah seedball yang diangkut sekali terbang adalah sebanyak 223,500 buah seedball.

(9)

34

Galam Volume 1 Nomor 2, Desember 2015 Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Seedball merupakan salah satu alternative metode yang digunakan untuk meningkatkan rehabilitasi dengan eroseeding. Seedball dapat dibuat dengan menggunakan bebrbagai alternative bahan pembentuk. Berdasarkan hasil analisis fi sik yang dilakukan pada penelitian ini, diketahui bahwa seedball dengan bahan pembentuk yang berasal dari kompos dan tanah gambut memiliki keunggulan dibandingkan dnegna seedball lain yang dibuta dari bahan liat dan talk. Seedball dengan bahan pembentuk kompos dan gambut (Formula A) memiliki kadar air, porositas, bulk density yang lebih sesuai untuk mendukung pertumbuhan benih dibandingkan dengan seedball yang dibuat dari bahan pembentuk tanah liat dan talc. Selain itu, berdasarkan beratnya, seedball dengan formula A lebih efektif saat pengangkutan sehingga bisa menekan biaya operasional dan mendukung keberhasilan kegiatan rehabilitasi.

Saran

Untuk meningkatkan keberhasilan kegiatan rehabilitasi dnegan menggunakan aeroseeding sebaiknya dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh ketebalan dan formula seedball tehadap perkecambahan benih.

Daftar Pustaka

Agus F dan Subiksa IGM. 2008. Lahan Gambut : Potensi untuk Pertanian dan Aspek lingkungan. Balai Penelitian Tanah. Bogor : World Agroforestry Centre.

Alimah D. 2010. Ujicoba Jenis Tanaman dan Formula Pembungkus Benih Untuk Aerialseeding di Hutan Rawa Gambut Terdegradasi. Laporan Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru. Tidak Dipublikasikan.

Fukuoka M. 1992. The One-Straw Revolution. India : Other India Press

Hardjowigeno, S. 2003. Klasifi kasi Tanah dan Pedogenesis Edisi Revisi. . Akademika Presindo. Jakarta. Madsen MD, Davies KW, William JC, Svejcar TJ. 2012. Agglomerating Seeds to enhance native seedling

emergence and growth. Journal of Applied Ecology. doi:10.1111/j.1365-2664.2012.02118.x

Millang S. 2010. Rehabilitasi Hutan dan Lahan melalui metode air seeding dan ball seeding di Sulawesi Selatan

dalam Prosiding Dies Natalis Universitas Hasanudin ke 54. Diunduh pada 3 Agustus 2015. Tersedia pada http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/2876

Pandutama MH, Mudjiharjati, Suyono, Wustamidin. 2003. Buku Ajar Dasar-dasar Ilmu Tanah. Jember : Universitas Jember

Priadi D.2010. Aplikasi Teknik Enkapsulasi pada benih sengon (Paraserienthes falcataria) . Teknologi Indonesia 33(2) : 92-99

Puja IN. 2008. Penuntun Praktikum Fisika Tanah. Denpasar : Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana.

Skinner AK, Lunt ID, Spooner P, McIntyre S. 2009. The eff ect of soil compaction on germination and early growth of Eucalyptus albens and exotic annual grass. Austral Ecology 34: 698-704.

Gambar

Gambar 2. Pengukuran Diameter Seedball
Tabel 2. Hasil uji fi sis media seedball pada komposisi media berbeda
Gambar  4. Jumlah seedball/ kilogram dari formula dan ketebalan seedball yang berbeda

Referensi

Dokumen terkait

Namun pada perlakuan kepadatan padat menunjukkan bahwa nilai kadar air cenderung menurun dibandingkan gambut yang tidak dipadatkan, sedangkan pada gambut dengan kepadatan

merupakan kurva sampel pellet FM10 yang merupakan sampel dengan nilai bulk density dan kekerasan

Karakteristik fisikokimiawi sup krim jagung instan yang diuji meliputi viskositas, bulk density , warna, kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat, dan

Sifat fisik tanah dari beberapa kelurahan di Kota palu seperti warna, kadar air, permeabilitas, bulk density, porositas dan tekstur tanah berbeda berbeda

1) Meneliti pengaruh variasi bentuk saluran penambah (riser) pada hasil coran alumunium, terhadap keutuhan produk, cacat penyusutan ,cacat porositas dan

Perhitungan bulk density, particle density dan porositas pada vegetasi Paku harupat kedalaman 5 cm... Hasil analisa sifat kimia tanah Tanah dengan vegetasi

Namun pada perlakuan kepadatan padat menunjukkan bahwa nilai kadar air cenderung menurun dibandingkan gambut yang tidak dipadatkan, sedangkan pada gambut dengan kepadatan

Hasil analisis sifat fisika tanah, hasil bulk density memiliki nilai yang rendah, porositas tanah mempunyai nilai yang tinggi, particle density memiliki nilai yang rendah, permeabilitas