PERAN PEMERINTAH
DALAM MEMBERIKAN AKSES PENDIDIKAN KEPADA MASYARAKAT MISKIN DI KOTA MALANG
Moch. Fakthurrohman 105120504111003
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejuah mana peran pemerintah Kota Malang dalam memberikan akses pendidikan kepada masyarakat miskin, melalui implementasi program Bantuan Siswa Miskin (BSM). Penelitian ini menggunakan penelitian kulalitatif deskriptif.
Dalam melaksanakan proses implementasi program BSM ada dua tahapan penting. Pertama adalah proses sosialisasi terhadap sekolah-sekolah dan masyarakat tentang program BSM dan bagaimana pelaksanaannya. Kedua adalah proses pelaksanaan yang dilakukan oleh pihak sekolah dengan mendata siapa saja siswa yang berhak menerima BSM. Program BSM ini masih belum berjalan maksimal, hal ini ditunjukkan dengan menurunnya tingkat partisipasi sekolah di Kota Malang dan ini menunjukkan masih belum sepenuhnya akses pendidikan di dapatkan oleh masyarakat miskin di Kota Malang.
Kata kunci : program BSM, Pemerintah Kota Malang dan Akses pendidikan
PENDAHULUAN
penghasilan. Cara penanggulangan kemiskinan tidak hanya secara fisik melainkan juga dengan cara non-fisik yaitu melalu peningkatan moral, sikap dan menerapkan nilai-nilai universal manusia (jujur, dapat dipercaya, ikhlas, dll). Semua itu hanya bisa di dapatkan melalui pendidikan, baik pendidikan secara formal dan non-formal. UU
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 menjelaskan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Pendidikan sudah menjadi kebutuhan dasar atau hak dari setiap warga negara sehingga sudah sepantasnya pemerintahan negara menjamin hak pendidikan bagi setiap warga negara. karena di dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 11 ayat 1 menjelaskan “ Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi”. Atas dasar itu baik warga negara yang kaya maupun miskin berhak mendapatkan pendidikan. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 46 yang mengatakan bahwa “Pendanaan Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat, serta pasal 34 ayat 2 yang isinya “Pemerintah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya”. Hal ini berarti bahwa pemerintah berkewajiban membiayai pendidikan dasar bagi warga negaranya (Anjar, 2011:1-2).
pendidikan menengah dua belas tahun juga merupakan bukti keseriusan Pemerintah Pusat dalam memberikan akses pendidikan bagi masyarakat miskin. Terlebih Pemerintah Pusat harus memberikan akses pendidikan terhadap masyarakat miskin karena menurut UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 1 yang menjelaskan bahwa “ pendidikan adalah usaha sadar dan terecana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Artinya pendidikan adalah kegiatan untuk mengembangkan potensi diri secara sadar dan terencana. bahwa masyarakat miskin harus sadar akan keadaan mereka dan merencanakan untuk mengembangkan potensi dirinya untuk menjadi lebih baik lagi.
Wajib belajar berfungsi mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara Indonesia dan bertujuan untuk memberikan pendidikan minimal bagi warga negara Indonesia untuk dapat mengembangkan potensi dirinya agar dapat hidup mandiri di dalam masyarakat atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (Suwiti, 2010:2). Hal tersebut sesuai dengan visi pendidikan nasional yang tertuang di dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa “Sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan,
peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional,
dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan”.
(BOS) adalah untuk membebaskan biaya pedidikan bagi siswa miskin/ tidak mamu dan meringankan bagi siswa yang lain, agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar sembilan tahun yang bermutu (Abdul, 2008: 8). Program ini membantu kelancaran program wajib belajar sembilan tahun yang berjalan kurang efektif akibat
dari kenaikan BBM. Kenaikan BBM ini memberatkan warga negara yang miskin sehingga mengakibatkan lemahnya kondisi ekonomi dan berefek kepada akses
pendidikan mereka. Selain program BOS yang dibuat untuk menunjang kelancaran dari program wajib belajar sembilan tahun, ada program lainnya yang dibuat oleh pemerintah guna menunjang program wajib belajar sembilan tahun, yaitu program Bantuan Siswa Miskin (BSM).
Program BSM adalah program nasional yang bertujuan untuk menghilangkan halangan siswa miskin berpartisipasi untuk sekolah dengan membantu siswa miskin memperoleh akses pelayanan pendidikan yang layak, mencegah putus sekolah, menarik siswa miskin untuk kembali bersekolah, membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran, dan mendukung program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Melalui program BSM ini diharapkan anak usia sekolah dari rumah tangga keluarga miskin dapat terus bersekolah, tidak putus sekolah, dan diharapkan dapat memutus rantai kemiskinan yang saat ini dialami orangtuanya (www.tnp2k.go.id diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 16.14).
Hal tersebut sudah sesuai dengan amanat yang ada di dalam UU No 20 tahun
mewajibkan pemerintah dan pemerintah daerah memberikan layanan pendidikan yang mudah di akses oleh semua warga negara dan tidak ada pungutan biaya dalam proses belajar dari umur tujuh tahun sampai lima belas tahun.
Program BSM ini bersifat bantuan langsung kepada siswa dan bukan
beasiswa, karena berdasarkan kondisi ekonomi siswa dan bukan berdasarkan prestasi. Setiap siswa SD/MI mendapat dana bantuan sebesar Rp 360.000 per tahun, siswa
SMP/MTs sebesar Rp 550.000 per tahun, SMA/SMK/MI sebesar Rp 780.000 per tahun dan pergutuan tinggi sebesar Rp 1.200.000 per tahun. Besaran dana bantuan tersebut yang menentukan adalah pemerintah pusat yang menjadi acuan bagi pemerintah daerah. Di Kota Malang terdapat 641,642 orang yang tingkat kesejahteraanya rendah, dan ada sekitar 36,818 anak yang tidak bersekolah, rincian anak yang tidak bersekolah sebagai berikut : usia 7-12 tahun berjumlah 5,125, usia 13-15 tahun berjumlah 10,787, dan usia 16-18 tahun berjumlah 20,906. Dan jumlah partisipasi sekolah di kota Malang dari tingkat SD sampai SMA sekitar 123,017 siswa, berarti sekitar 3,34 persen siswa miskin yang tidak sekolah di kota Malang (www.tnp2k.go.id diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 16.14).Artinya masih sekitar 3 persen lebih siswa miskin di kota Malang yang tidak bersekolah, ini yang menjadi tanggungan pemerintah daerah kota Malang.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Menurut David Williams bahwa penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada
laporan penelitian dilakukan dalam bentuk deskriptif. Kedua, metode deskriptif sangat berguna untuk mendapatkan variasi permasalahan yang berkaitan dengan bidang pendidikan maupun tingkah laku manusia. Berdasarkan dua alasan tersebut maka peneliti menggunakan metode ini dalam laporan penelitian.
Lokasi penelitian ini berada di Kota Malang, Jawa Timur. Pemilihan lokasi di Kota Malang karena berdasarkan misi dari Pemerintah Kota Malang yang menjadi
kan pendidikan sebagai prioritas utama, selain itu karena tingkat kemiskinan di Kota Malang masih tinggi. Berdasarkan data Malang dalam angka 2013 total keluarga miskin di Kota Malang berjumlah 36.286 berarti sekitar 22,6 Persen dari total jumlah penduduk Kota Malang yang berjumlah 820.243 pada tahun 2010.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Pertama, wawancara yaitu tatap muka secara langsung dengan Kepala Sub Bagian SD,SMP, dan SMA Dinas Pendidikan Kota Malang sebagai informan kunci. Karena Kepala Sub Bagian SD,SMP, dan SMA Dinas Pendidikan Kota Malang mengetahui seluk beluk proses implementasi program BSM. Beberapa kepala sekolah di Kota Malang sebagai informan utama. Karena kepala sekolah yang bertanggung jawab dan mengawasi proses implementasi program BSM di tingkat sekolah. Kedua, Dokumentasi adalah pengumpulan data dari berbagai sumber tulisan, seperti buku, bahan laporan, surat keputusan, hasil-hasil rapat dinas pendidikan terkait program BSM dan dokumen-dokumen yang terkait dengan penelitian. Beberapa dokumen
yang digunakan oleh peneliti adalah buku panduan BSM tahun 2013 dan Laporan Eksekutif pendidikan BPS Jatim 2013.
HASIL DAN PEMBAHASAN
kualitas pendidikan Kota Malang pemerintah harus memberikan akses pendidikan kepada semua golongan masyarakat Kota Malang. Dalam memberikan akses pendidikan kepada semua golongan masyarakat Kota Malang, Pemerintah harus mempunyai indikator akses pendidikan. Ada beberapa indikator akses pendidikan
yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Kota Malang, yaitu Angka Partisipasi Sekolah (APS), Angaka Melek Huruf (AHM), dan Angka Putus Sekolah (APTS).
Tabel 1 :Angka Partisipasi Sekolah (APS) Kota Malang tahun 2012-2013 :
Tahun Satuan Usia 7-12 Tahun Usia 13-15 Tahun Usia 16-18 Tahun
2012 % 99,55 92,52 74,15
2013 % 98,76 96,32 69,16
Sumber : Laporan Eksekutif pendidikan BPS Jatim
Tabel 2 :Angka Melek Huruf (AMH) di Kota Malang tahun 2012-2013 :
Tahun Satuan Angka Melek Huruf
2012 % 98,34
2013 % 98,38
Sumber : Laporan Eksekutif pendidikan BPS Jatim
Tabel 3 : Angka Putus Sekolah (APTS) di Kota Malang tahun 2011-2013 :
Tahun Satuan SD/MI SLTP/MTs SLTA/MA
2011-2012 % 0,09 0,16 0,90
2012-2013 % 0,05 0,19 0,72
a. Peran Pemerintah Kota Malang Dalam Implementasi Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)
Dalam proses implementasi program BSM Pemerintah Kota Malang menjadi
aktor paling penting dan ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pendidikan Kota Malang dalam implementasi program BSM.
Pertama adalah proses sosialisasi. Kedua adalah proses pelaksanaan. Dan ketiga adalah proses monitoring dan evaluasi. Sebelum melakukan ketiga tahapan tersebut yang dilakukan Pertama adalah merumuskan tindakan yang akan dilakukan dan kedua adalah melaksanakan tindakan apa yang telah dirumuskan tadi. Jadi hal terpenting yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang adalah merumuskan tindakan yang akan dilakukan sebelum proses implementasi program BSM ini, seperti membuat SOP (Standart Operasional Prosedur) sehingga mereka mempunyai targetan dalam setiap pelaksanaan proses implementasi baru setelah itu Dinas Pendidikan melaksanakan tidakan apa yang telah dirumuskan tadi.
Proses sosialisasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pendidikan Kota Malang dengan cara mengumpulkan seluruh kepala sekolah yang ada di Kota Malang baru setelah itu di tindak lanjuti dengan surat edaran yang diberikan ke sekolah-sekolah yang ada di Kota Malang. Proses ini hanya melibatkan instansi pemerintah yaitu Dinas Pendidikan Kota Malang sedangkan sekolah dan
masyarakat yang menjadi objeknya. Proses sosialisasi ini menjadi sangat penting dalam tahapan implementasi program BSM ini, karena dalam proses ini Dinas
Proses yang kedua adalah proses pelaksanaan program BSM. Proses ini dilaksanakan oleh pihak sekolah, dalam proses pelaksanaan ini pihak sekolah juga melaksanakan proses sosialisasi ke guru-guru serta wali murid yang menerima BSM ini. Proses pelaksanaan program BSM ini akan semakin baik apabila pada saat proses
sosialisasi ke guru-guru dan wali murid bisa menerima dengan baik informasi yang diberikan oleh Dinas Pendidikan karena pada saat proses sosialisasi tersebut pihak
Dinas Pendidikan memberikan seluruh informasi terkait dengan BSM. Di dalam buku panduan pelaksanaan program BSM disebutkan bahwa salah satu syarat penerima BSM adalah masyarakat miskin yang memiliki KPS (Kartu Perlindungan Sosial) selain itu pihak sekolah juga mempermudah syarat penerima BSM apabila siswa calon penerima BSM tersebut tidak memiliki KPS, seperti yang dilakukan oleh SMAN 3 Malang. pihak sekolah sebenarnya sudah mempunyai cara sendiri dalam menentukan siswa penerima BSM yaitu dengan cara data online siswa yang diisi sewaktu siswa mendaftarkan dirinya ke SMAN 3 Malang tersebut.
Setelah proses sosialisasi dan pelaksanaan program baru setelah itu tahap ketiga yaitu proses monitoring dan evaluasi. Dalam buku panduan pelaksaan program BSM monitoring dibedakan menjadi monitoring internal dan monitoring eksternal. Monitoring internal adalah monitoring yang dilakukan oleh Tim Pusat, Tim Provinsi, dan Tim kabupaten/Kota. Monitoring ini bersifat supervisi klinis, yaitu melakukan monitoring dan ikut menyelesaikan masalah jika ditemukan permasalahan dalam
pelaksanaan program BSM. Monitoring eksternal dapat dilakukan oleh orang tua siswa atau masyarakat yang bersifat evaluatif terhadap pelaksanaan program dan
melakukan analisis terhadap dampak program, kelemahan dan rekomendasi untuk perbaikan program. Proses monitoring evaluasi ini dilakukan oleh dua pihak, pertama oleh pihak internal yaitu pengarah, penanggung jawab dan pelaksana. Sementara kedua oleh pihak eksternal, yaitu orang tua siswa penerima BSM dan masyarakat atau instansi diluar pemerintahan.
umum tujuan kegiatan ini adalah untuk meyakinkan bahwa dana BSM diterima oleh yang berhak dalam jumlah, waktu, cara, dan penggunaan yang tepat. Komponen utama yang dimonitor antara lain: alokasi dana sekolah penerima bantuan, penyaluran dan penyerapan dana, pelayanan dan penanganan pengaduan, administrasi keuangan,
dan pelaporan. Untuk mengantisipasi terjadinya penyelewengan dana bantuan ini, pihak Dinas Pendidikan pada saat proses sosialisasi program BSM ini memberitahu
kepada orang tua siswa calon penerima BSM bahwa dana bantuan ini berbentuk langsung dan diterima langsung oleh siswa melalui bank.
Antara pihak sekolah yang bertanggung jawab mengurusi BSM serta LSM atau masyarakat dan Dinas Pendidikan Kota Malang harus melakukan interaksi selama proses implementasi program BSM ini. Menurut Giddens (2011:36) aktor manusia tidak hanya memonitor aktivitas-aktivitasnya sendiri dan orang lain dalam regularitas perilaku sehari-hari, namun juga mampu „memonitor kerja monitoringnya sendiri‟ dalam kesadaran diskursif. Jadi pihak sekolah, dan LSM atau masyarkat yang ikut dalam proses implementasi program BSM harus bisa memonitor kerja monitoringnya sendiri agar tercipta akuntabilitas. Sehingga proses implementasi program BSM ini bisa berjalan dengan baik. Yang terpenting adalah interaksi antara pihak sekolah yang bertanggung jawab sebagai pelaksana program BSM ini serta masyarakat atau LSM dan Dinas Pendidikan Kota Malang harus bisa berjalan dengan baik sehingga bisa meminimalisir hal-hal yang tidak sesuai dengan realitas pada saat
implementasi program BSM ini. Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Pendidikan menjadi bagian paling penting dalam pelaksanaan program BSM ini, dari mulai
KESIMPULAN
Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) adalah program yang dibuat oleh Pemerintah Pusat untuk mendukung program wajib belajar 9 tahun dan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), selain itu program BSM ini dibuat karena
kebijakan mengurangi subsidi BBM sehingga Pemerintah memyiapkan program BSM untuk mengurangi beban masyarakat yang berpenghasilan rendah/masyarakat
miskin. Dan program BSM di jalankan oleh Pemerintah Daerah. Di kota Malang terdapat 641,642 orang yang tingkat kesejahteraanya rendah, dan ada sekitar 36,818 anak yang tidak bersekolah, rincian anak yang tidak bersekolah sebagai berikut : usia 7-12 tahun berjumlah 5,125, usia 13-15 tahun berjumlah 10,787, dan usia 16-18 tahun berjumlah 20,906. Dan jumlah partisipasi sekolah di kota Malang dari tingkat SD sampai SMA sekitar 123,017 siswa, berarti sekitar 3,34 persen siswa miskin yang tidak sekolah di kota Malang (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan 2012). Artinya masih sekitar 3 persen lebih siswa miskin di kota Malang yang tidak bersekolah, ini yang menjadi tanggungan pemerintah daerah kota Malang. Program BSM masih belum berjalan maksimal, hal itu terbukti dari pemaanfaatan dana oleh masyarakat yang menerima bantuan BSM dan angka partisipasi sekolah masyarakat Kota Malang.
REKOMENDASI
Pertama,Pemerintah Kota Malang meningkatkan pemberian akses pendidikan kepada masyarakat miskin di Kota Malang. Kedua, Pemerintah Kota Malang melalui
Memaksimalkan jalannya program BSM di tahun berikutnya karena program BSM sangat membantu masyarakat miskin untuk memperoleh akses pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA Buku :
Budiardjo, Miriam. 2009. Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Darmadi, Hamid, 2011, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung, Alfabeta.
Luddin, R. Muchlis, 2008, Negara, Pendidikan Humanis, dan Globalisasi, Jakarta, PT. Karya Mandiri Pers.
Marsh, David & Gerry Stoker, 2010, Teori dan Metode Dalam Ilmu Politik, Bandung, Nusa Media.
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya. Ritzer, Goerge & Douglas J. Goodman, 2003, Teori Sosiologi Modern, Jakarta,
Kencana Predana Media Group.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Jurnal :
Kadir, Abdul, Evaluasi Pelaksanaan Program BOS Sekolah Menengah Pertama Negeri Di Semarang, 2008, Universitas Diponegoro.
Kurniasari, Anjar, Analisis Bantuan Khusus Siswa Miskin Di Kabupaten Madiun, 2011, Digilib.uns.ac.id (di akses pada tanggal 5 Februari 2014 pukul 12:32). Suwiti, Analisis Kepuasan Masyarakat Terhadap Wajib Belajar Sembilan Tahun Di
Undang-Undang :
Undang-undang No 23 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Website :
www.tnp2k.go.id ( diakses pada tanggal 19 Mei 2014 pukul 16.14).
www.malangkota.go.id (diakses pada tanggal 19 Mei 2014 Pukul 16.23). www.Tempo.co (diakses pada tanggal 19 Mei 2014 Pukul 16.35).