BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memiliki peran penting pada era sekarang ini. Karena tanpa melalui pendidikan proses transformasi dan aktualisasi pengetahuan moderen sulit untuk diwujudkan. Demikian halnya dengan sains sebagai bentuk pengetahuan ilmiah dalam pencapaiannya harus melalui proses pendidikan yang ilmiah pula. Yaitu melalui metodologi dan kerangka keilmuan yang teruji. Karena tanpa melalui proses ini pengetahuan yang didapat tidak dapat dikatakan ilmiah.
Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education). Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang terkait urusan ukhrowi saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan urusan duniawi juga. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan dunia ini.
Islam juga menekankan akan pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya, termasuk pengetahuan. Dan sebagai implikasinya kelestarian dan keseimbangan alam harus dijaga sebagai bentuk pengejawantahan tugas manusia sebagai khalifah fil ardh.
Dalam makalah ini akan dipaparkan bagaimana pandangan al-Qur’an tentang tentang pentingnya pendidikan dalam kehidupan ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa kandungan yang dimiliki surat Thaha ayat 131-132 dan bagaimana asbabunnuzulnya? 2. Apa kandungan yang dimiliki surat al-Fath ayat 29 dan bagaimana asbabunnuzulnya? 3. Apa kandungan yang dimiliki surat al-Luqman ayat 14 dan bagaimana asbabunnuzulnya? C. Tujuan Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. SURAT THAHA AYAT 131-132
ْْمُهَنِتْفَنِل اَيْنُدلا ِةايحلا َةَرْهَز ْمُهْنِم اًجاَوْزَأ هِب ْاَنْعّتَم اَم ىلإ َكْيَنْيَع ّنّدُمَت َلَو
َكُلَأْسَن َل اَهْيَلَع ْرِبَطْصاَو ِة َلّصلاِب َكَلْهَأ ْرُمْأَو ◌ ىقْبَأَو ٌرْيَخ َكّبَر ُقْزِرَو هْيِف
ىوْقّتلِل ُةَبِقاَعْلاَو َكُقُزْرَن ُنْحَن اًقْزِر ◌
131. “Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.”
132. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
Allah SWT telah menjadikan kehidupan dunia sebagai perhiasan dan ujian bagi kaum muslimin. Sebagai perhiasan dunia, dunia di penuhi oleh gemerlap kenikmatan yang menjamin kebutuhan materiil manusia. Oleh karena itu, dengannya bisa tercapai tujuan hidup, termasuk di antaranya tujuan menggapai kemuliaan di sisi Tuhan. tetapi sebagai ujian, gemerlap dunia, pada ahirnya kemuliaan dan kehinaan manusia sering kali ditentukan dari caranya memandang kehidupan di alam fana ini.
Ayat yang mulia di atas, memberikan peringatan kepada kita agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia yang telah Allah SWT berikan kepada sebagian orang. Kepada kita juga ditawarkan jalan keluar dari berbagai kesulitan hidup yang menerpa manusia. jalar keluar itu adalah shalat dan sabar. Sehubungan dengan itu, selayaknya kita yakini bahwa tidak ada jalan keluar terbaik dalam menghadapi berbagai problema kehidupan, kecuali dengan melaksanakan solusi yang ditawarkan oleh Allah SWT.
1. ASBABUN NUZUL AYAT
Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Murdawaih dan Bazzar dan Abu Ya'la telah mengetengahkan sebuah hadis melalui Abi Rofi' yang telah menceritakan bahwa nabi Muhammad SAW menerima tamu dan mau menjamunya, kemudian Nabi SAW mengutusku kepada seorang laki-laki yahudi untuk meminjam sekantong terigu darinya yang akan dibayar nanti pada permulaan bulan rajab, maka orang yahudi itu berkata “Tidak, kecuali apabila ia memakai jaminan.” Lalu aku datang kepada Nabi SAW dan melaporkan padanya apa yang telah dikatakan oleh orang yahudi tersebut. Maka Nabi SAW bersabda : “Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang dipercaya di langit dan dipercaya pula di muka bumi ini.” Dan aku tidak berpamitan meninggalkan majlis Nabi SAW, sehingga turunlah ayat ini (surat thaha ayat 131)1
[2]
2. KANDUNGAN AYAT
Surat Thaha ayat 131-132, berisi larangan menoleh kapada berbagai kenikmatan dunia yang telah diberikan kepada orang-orang kafir. Mereka adalah kaum yang telah terhijab dari memikirkan dan melihat keagungan Allah SWT. Semua kenikmatan itu diberikan kepada orang-orang kafir semata-mata sebagai “Bunga kehidupan” untuk menguji mereka, karena kenikmatan dunia yang dirasakan oleh orang-orang kafir justru akan menjadi siksa bagi mereka, kelak di ahirat. Siksaan ini diberikan karena mereka lalai mensyukuri nikmat tersebut dengan jalan beriman kepada ayat-ayat Allah SWT.
Bagaimanapun juga, karunia Allah SWT yang dilimpahkan kepada orang-orang beriman berupa hidayah dan keimanan, merupakan kenikmatan yang jauh lebih berharga dari kemilau dunia orang-orang kafir. Nikmat seperti ini lebih aman dari kemungkinan hilang, lebih langgeng dari kemungkinan musnah dan lebih menentramkan hati di dunia dan di ahirat.2[3]
Selanjutnya, berkenaan dengan ayat 132 yang telah dihadirkan di awal bab ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan, ayat ini berisi perintah untuk mendirikan shalat dengan sabar sebagai sarana menuju ketaqwaan. Melalui
1[2] Lubanun nuqul fi asbabin nuzul, Al Jalal Assuyuthi,mathba'ah wannasyr safa karya insani indonesia,hal : 235
sarana taqwa ini setiap muslim mendapat jaminan Allah SWT berupa jalan keluar dari berbagai kesulitan dan pintu bagi datangnya rizqi dari jalan yang tiada disangka-sangka.
Setelah turunnya Surat Thaha ayat 132, Rasululloh SAW. berangkat kerumah Fathimah r.a. dan menyuruh putrinya tersebut mengerjakan shalat dalam menghadapi segala kesulitan dalam kehidupan. Nabi SAW melakukan perbuatan ini yaitu menyuruh putrinya untuk shalat dalam menghadapi kesulitan terus menerus selama sebulan. Inilah Sunnah Rasululloh SAW, yaitu menegakkan shalat bila dilanda kesusahan. Beliau Nabi SAW, menegakkan sunnah ini lewat da'wah bil hal, yaitu mengamalkan dan memerintahkan, sehingga orang-orang salaf yang saleh senantiasa memelihara sunnah yang agung ini bila mereka dilanda kesulitan. 3[4]
3. POKOK-POKOK PEMBAHASAN4[5]
a. Larangan mengarahkan pandangan (dengan iri) kepada orang-orang yang telah diberi kenikmatan. Larangan ini wajib untuk dipatuhi. Ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tidaklah terletak pada harta kekayaan yang berlimpah, tetapi pada kadar ketaqwaannya kepada Allah SWT.
b. Kenikmatan berupa harta yang telah diberikan kepada sebagian orang merupakan ujian baginya dalam mengukur sejauh mana kualitas syukur yang dimiliki. Kenyataan menunjukkan bahwa harta sering membuat pemiliknya lupa diri, mengeluarkannya pada jalan yang sia-sia atau berusaha menambah jumlah melalui jalan yang tidak benar. Kegiatan menumpuk-numpuk harta kekayaan telah mengakibatkan tersitanya waktu dari mengingat Allah SWT. c. Allah SWT telah memberikan nikmat yang banyak kepada setiap hamba. hanya saja manusia sering berpandangan
sempit dengan membatasi makna nikmat dari sisi materiil saja. Padahal, seluruh keberadaan diri kita merupakan nikmat yang patut disyukuri. Sekecil apapun yang kita terima dari Allah itu adalah yang terbaik bagi kita. Memang yang terbaik menurut manusia belum tentu baik menurut pandangan Allah, begitu pula yang buruk menurut manusia belum tentu buruk menurut Allah. Oleh sebab itu, bisa jadi kekayaan yang melimpah belum tentu cocok bagi kehidupan kita.
d. Bersyukur dan menerima rizki dari Allah SWT bukan berari mengizinkan kita untuk bermalas-malasan dalam mencari ma'iisyah. Orang-orang salaf yang shaleh mengatakan bahwa “Harta adalah senjata kaum muslimin.” Bahkan, Ibnu Abbas pernah berkata “Dinar dan dirham adalah cincin Allah di muka bumi yang dengannya terlaksana segala kehendakmu.”
e. Dalam ayat di atas Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk mengajak keluarga dan kerabatnya mendirikan shalat dengan sabar, tujuannya adalah agar ibadah tersebut menjadi penolong dalam menghadapi berbagai kesukaran.5
[6]
f. Kehidupan dunia dengan segala gemerlapnya, biasa juga dihadapi dengan menerapkan dan mengembangkan sikap hidup sederhana. Sikap hidup ini dilakukan dengan cara meredam berbagai kecenderungan hawa nafsu duniawi yang tidak terkendali, ini dilakukan bagi mereka yang hawatir terjerumus dalam kehinaan dan kelalaian akibat tipuan dunia. Sikap yang dimaksud ialah berbuat zuhud.
Hal ini dimaksudkan agar pada masa dewasa nanti anak didik dapat melaksanakan kewajiban jihad dan dakwah dengan sebaik-baiknya. cukuplah Rasulullah SAW sebagai suri tauladan generasi muslim, baik dalam kehidupannya yang sederhana, zuhud dalam makanan, pakaian dan tempat tinggal, agar mereka selalu siap menghadapi segala sesuatu yang menghadangnya.6[7]
4. TARBIYAH DALAM AYAT DI ATAS a. Taqwa7[8]
3[4] Ibid : 294
4[5] Ibid : 296-297
5[6] Ibid : 296-297
6[7] Terjemah Tarbiyatul Aulad/pendidikan anak dalam islam,buku I,Prof.Dr.Abdullah Nasih Ulwan/Drs.jamaludin miri.LC,pustaka amani,Jakarta,cetakan ke III nivember 2007,hal:255-256
Di antara sifat-sifat yang harus ditanamkan dalam dunia pendidikan adalah bertaqwa, ada beberapa definisi yang dikemukakan para ulama' tentang taqwa di antaranya adalah sebagai berikut :
Menjaga agar Allah tidak melihatmu di tempat larangannya, dan jangan sampai anda tidak didapatkan di tempat perintahnya, mengerjakan apa yang diperintahkan Allah SWT dan meninggalkan larangan-Nya.
Menjaga diri dari 'azab Allah dengan mengerjakan amal shalih dan merasa takut kepada-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.
Kedua definisi di atas tersebut pada prinsipnya sama, yaitu menjaga diri dari 'azab Allah dengan senantiasa merasa berada di bawah pengawasan-Nya (muraqabah). Juga senantiasa berjalan pada metode yang telah digariskan Allah, baik secara sembunyi atau terang-terangan dan berusaha semaksimal mungkin untuk menekuni yang halal dan menjauhi yang haram.
Dalam dunia pendidikan para pendidik, sudah barang tentu termasuk orang-orang yang paling pertama terkena perintah dan pengarahan di atas, karena pendidikan adalah panutan yang akan senantiasa diikuti dan ditiru, ia juga adalah penanggung jawab pertama dalam pendidikan anak berdasarkan iman dan ajaran islam.
Jika pendidik tidak menghiasi dirinya dengan taqwa, perilaku dan pergaulan yang berjalan di atas metode islam, maka anak akan tumbuh menyimpang, terombang ambing dalam kerusakan, kesesatan dan kebodohan, mengapa? karena anak melihat yang mendidik dan mengarahkannya telah berada dalam lumpur dosa, berselimut kemungkaran dan kerusakan, sang anak tumbuh tanpa ada penahan dari Allah, tanpa ada rasa muraqabah (mawas diri) kepada Allah dan tanpa ada kendali dari batinnya, wajar jika sang anak kemudian ternoda lumpur-lumpur dosa dan menyimpang dalam lingkungan jahiliyah dan zaman kesesatan dan kehancuran.
Karenanya, para pendidik hendaknya memahami realitas ini, jika menginginkan kebaikan ini, perbaikan dan petunjuk bagi anak-anak dalam lingkungan alam yang suci dan bersih.
b. Penyabar8[9]
Termasuk sifat mendasar yang dapat menolong keberhasilan pendidik dalam tugas pendidikan dan tanggung jawab pembentukan dan perbaikan, adalah sifat sabar, yang dengan sifat ini anak akan tertarik kepada pendidikannya. Dengan kesabaran pendidik, sang anak akan berhias dengan akhlaq yang terpuji dan jauh dari perangai tercela, ia akan menjadi malaikat dalam wujud manusia.
Oleh karna itu Islam memberikan perhatian besar kepada sifat sabar ini, menganjurkan untuk mendapatkan sifat itu di dalam ayat-ayat alQur’an dan hadits-hadits Nabi, agar orang-orang khususnya para pendidik dan juru da'wah mengetahui bahwa kesabaran merupakan keutamaan sepiritual dan moral yang paling besar yang mengantarkan manusia ke puncak keluhuran akhlaq.
Karenanya para pendidik hendaknya menghiasi dirinya sengan kesabaran, kelemah lembutan dan ketabahan, jika dalam upaya mendidik umatnya menginginkan kebaikan dan perbaikan, petunjuk bagi generasi muslim dan perbaikan anak-anaknya.
Ini semua tidak berarti bahwa pendidik selamanya harus berlemah lembut dan sabar dalam mendidik anak, tetapi dimaksudkan agar pendidik menahan dirinya ketika hendak makan, tidak emosi ketika meluruskan kebengkoan anaknya dan memperbaiki akhlaqnya. Jika memang dia melihat kemaslahatan dalam memberi hukuman kepada misalnya, hendaklah ia jangan ragu-ragu mengeluarkan hukuman itu. sehingga anak menjadi baik kembali menjadi lurus akhlaqnya. Jika ia dapat bertindak dengan bijaksana, maka ia akan mendapatkan keuntungan yang besar.
B. SURAT AL-FATH AYAT 29
ًاعّكُر ْمُهاَرَت ْمُهَنْيَب ءاَمَحُر ِراّفُكْلا ىَلَع ءاّدِشَأ ُهَعَم َنيِذّلاَو ِهّللا ُلوُسّر ٌدّمَحّم
ِرَث
َأ ْنّم مِهِهوُجُو يِف ْمُهاَميِس ًاناَوْضِرَو ِهّللا َنّم ًلْضَف َْنوُغَتْبَي ًادّجُس
ُه
َأْطَش َجَرْخَأ ٍعْرَزَك ِليِجنِْلا يِف ْمُهُلَثَمَو ِةاَرْوّتلا يِف ْمُهُلَثَم َكِلَذ ِدوُجّسلا
َدَعَو َراّفُكْلا ُمِهِب َظيِغَيِل َعاّرّزلا ُبِجْعُي ِهِقوُس ىَلَع ىَوَتْساَف َظَلْغَتْساَف ُهَرَزآَف
ًاميِظَع ًارْجَأَو ًةَرِفْغّم مُهْنِم ِتاَحِلاّصلا اوُلِمَعَو اوُنَمآ َنيِذّلا ُهّللا ◌
29. “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud[1406].
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.
[1406] Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka. 1. ASBABUN NUZUL
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka : kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda meraka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
2. KANDUNGAN AYAT
Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat dan sikap Nabi Muhammad SAW beserta pengikut-pengikut beliau. Allah berfirman: Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang diutusnya membawa rahmat bagi seluruh alam dan orang-orang yang bersama dengannya yakni sahabat-sahabat Nabi serta pengikut-pengikut setia beliau adalah orang-orang yang bersikap keras yakni tegas tidak berbasa-basi yang mengorbankan akidahnya terhadap orang-orang kafir. Walau mereka memiliki sikap tegas itu namun mereka berkasih sayang antar sesama mereka. Mereka juga ruku' dan sujud dengan tulus ikhlas karena Allah, senantiasa mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya yang agung. Demikian itulah sifat-sifat yang agung dan luhur serta tinggi.
Demikian itulah keadaan orang mukmin pengikut Nabi Muhammad SAW. Allah SWT menjanjikan untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh di antara mereka yang bersama Nabi SAW serta siapapun yang mengikuti cara hidup mereka dapat mencapai kesempurnaan atau luput dari kesalahan atau dosa. Kalimat asyidda'u 'ala al-kuffar sering kali dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti keharusan bersikap keras terhadap non muslim. Kalaupun dipahami sebagai sikap keras, maka itu dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama. Ini serupa dengan firman-Nya
"… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat ..." (QS. 24:2)
3. POKOK-POKOK PEMBAHASAN
a. Nabi Muhammad adalah bebar-benar utusan Allah SWT
b. Rasa hormat dan kasih sayang terhadap sesama manusia terutama di antara sesama muslim. c. Gambaran seorang hamba yang ahli sujud dan taubat
d. Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain.
e. Ganjaran bagi orang yang beriman dan beramal shaleh berupa ampunan dan pahala besar. 4. TARBIYAH DALAM AYAT DI ATAS
Pada surat fath ayat 29, salah satu tujuan pendidikan adalah memiliki manfaat bagi orang lain, walaupun hanya sedikit saja yang merupakan salah satu bagian dari insan kamil yang merupakan tujuan umum atau lazim dalam Islam selain bermanfaat hendaklah orang yang terdidik saling mengasihi, menyayangi, dan toleran terhadap orang yang seiman maupun yang tidak, terhadap orang yang berbeda suku ras dan bahasa hendaklah saling bertoleransi dalam kehidupan agar tercipta kedamaian yang abadi di alam semesta.
ِن
َأ ِنْيَماع يف هُلاصفو ٍنْهَو ىلع اًنْهَو ُهّمأ ُهْتَلَمَح ِهْيَدلاوب َناسنلا انيّصوو
ُريصملا ّيَلِإ َكْيَدلاولو ْيِل ْرُك ْشا ◌
14. “Dan Kami perintahkan kepada semua manusia (supaya berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan lemah dan bertambah lemah dan (kemudian) menyapihkannya dalam (usia) dua tahun; Oleh karena itu hendaklah engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; Kepada-Ku-lah tempat kembali.”
1. ASBABUN NUZUL AYAT
Al- Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya, dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Ia berkata : Aku adalah seseorang pria yang amat mencintai ibuku. Tetapi setelah aku masuk Islam, ibuku itu berkata kepadaku : Hai Sa’ad! Agama apa ini, kulihat engkau mengada-ada. Tinggalkan agamamu ini atau aku akan mogok makan dan minum, sampai mati. Dengan begitu engkau akan tercemar lantaran aku, yaitu engkau akan dituduh sebagai pembunuh ibunya. Begitulah lalu aku berkata kepada ibuku : Hai Ibu! Jangan engkau kerjakan itu semua, tetapi aku juga tidak bakal meninggalkan agamaku ini selama-lamanya karena faktor apapun.
Ibuku nekad, sehari semalam sudah mulai tidak makan dan tidak minum. Pagi harinya sudah tampak sangat letih. Hari kedua dia tidak mau makan juga dan badannya sudah semakin bertambah letih. Hari ketigapun tidak mau makan dan badannya semakin bertambah letih.
Melihat keadaan yang demikian itu, aku kemudian berkata kepadanya : Hai Ibu! Ketahuilah, Demi Allah! Seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu (dengan bertahap), namun aku tetap tidak akan mau meninggalkan agamaku ini, karena faktor apapun. Jika engkau sudi, makanlah dan jika engkau tidak sudi, jangan makan. Melihat keteguhan Sa’ad yang demikian itu, akhirnya Ibunya mau makan.
Dengan demikian, jelas bahwa Allah SWT memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada orangtua, lebih-lebih kepada Ibu yang telah mengandung. Ayat ini tidak menyebut jasa Bapak, tetapi menekankan pada jasa Ibu. Ini disebabkan karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahan Ibu, berbeda dengan Bapak. Di sisi lain, “peranana Bapak” dalam konteks kelahiran anak, lebih ringan dibanding dengan peranan Ibu. Betapapun peranan tidak sebesar peranan ibu dalam proses kelahiran anak, namun jasanya tidak diabaikan karena itu anak berkewajiban berdoa untuk ayahya, sebagaimana berdoa untuk ibunya. Karena begitu besar jasa Ibu, dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa : Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?” Nabi SAW menjawab, “Ibumu... ibumu... ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu.” (Mutafaq'alaih).
Karena itulah, setiap anak harus menyadari perjuangan dan susah payah orangtuanya. Di samping harus taat kepada ajaran agama, berbakti kepada kedua orang tua, juga harus berusah keras belajar dan menunut ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu agama, sehingga mereka bersama-sama kedua orang tuanya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagian di akhirat kelak.
Dalam surat lain pula disebutkan seperti surah al-Baqarah : 83, al-Nisa : 36, al-An’am : 151, dan al-Isra’ : 23 membahas tentang perlunya berbakti kepada orang tua. Sedangkan surat Luqman menyampaikan pesan untuk berbakti kepada orangtua dalam bentuk perintah Allah.
2. PENJELASAN AYAT
Surat al-Luqman adalah termasuk surat Makkiyah, terdiri dari 34 ayat, surat ini diturunkan setelah surat Ash – Shaffat. Luqman adalah seorang yang Sholeh dan memiliki akhlaq yang mulia, yaitu akhlaq yang berbasiskan kepada keimanan yang kokoh. Namanya diabadikan oleh Allah SWT dalam salah satu surat di dalam al-Qur an, yakni surat ke-31. Sehingga di dalam surat ini Allah SWT memberikan pelajaran kepada kita akan kesholehan Luqman dalam memberikan nasehat kepada anaknya, yakni nasehat yang mengandung unsur “keilmuan” yang mendalam, “keihklasan” yang suci dan “kecintaan” yang tinggi.
umat belajar dari apa yang dilakukan Luqman. Karena nasehat pada anak adalah sangat penting untuk membentuk karakter dan perwatakan sebagai bekal kehidupan kelak.
Anak adalah amanah titipan Allah SWT, sudah selayaknya kita didik sesuai ketentuan dari yang menitipkannya yaitu Allah SWT. Oleh karena itu penting bagi kita mempelajari apa yang Allah SWT mau bukan sekedar apa yang kita mau. Anak yang sholeh adalah permata dan cahaya mata bagi orang tuanya di dunia dan akhirat.
Di antara kewajiban kita kepada keluarga adalah sebagaimana Firman Allah SWT :
“Hai orang-orang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu....” (QS At Tahrim : 6). Maka marilah kita saling menasehati dalam kebaikan.
3. TARBIYAH DALAM AYAT DI ATAS
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan konsep pendidikan menurut Al-Qur’an diarahkan pada upaya :
a. Menolong anak didik agar dapat melaksanakan fungsinya mengabdi kepada Allah. Seluruh potensi yang dimiliki seseorang yaitu potensi intelektual, jiwa dan jasmani harus di bina secara terpadu dalam keselarasan, keserasian dan keseimbangan yang tergambar dalam sosok manusia seutuhnya.
b. Mengajarkan seseorang untuk selalu menghormati kedua orang tua, menjalankan perbuatan amar ma’ruf dan nahi munkar, serta mengajarkan seseorang untuk menjalankan hubungan manusia dengan melakukan perbuatan baik, sikap dan perilaku dalam pergaulan, serta kesederhanaan dalam berkomunikasi dengan sesama.
c. Manusia hendaknya menghormati dan menghargai kedua orang tuanya, karena ia yang telah berjuang membesarkan kita, tanpa ada kata penat dan lelah, yang ada hanyalah keinginan agar anaknya kelak menjadi orang yang sukses di kehidupannya, dan berbakti pada Allah SWT.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa : Pokok penting Surat Thaha ayat 131-132, berisi mengenai :
Kenikmatan berupa harta yang telah diberikan kepada sebagian orang merupakan ujian baginya dalam mengukur sejauh mana kualitas syukur yang dimiliki.
Allah SWT memerintahkan kaum muslimin untuk mengajak keluarga dan kerabatnya mendirikan shalat dengan sabar, tujuannya adalah agar ibadah tersebut menjadi penolong dalam menghadapi berbagai kesukaran.
Pokok penting Surat al-Fath ayat 29 berisi mengenai :
Nabi Muhammad adalah bebar-benar utusan Allah SWT
Rasa hormat dan kasih sayang terhadap sesama manusia terutama di antara sesama muslim.
Gambaran seorang hamba yang ahli sujud dan taubat
Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain.
Ganjaran bagi orang yang beriman dan beramal shaleh berupa ampunan dan pahala besar. Pokok penting Surat al-Luqman berisi mengenai :
Mengajarkan seseorang untuk selalu menghormati kedua orang tua, amar ma’ruf dan nahi munkar serta berbuat baik terhadap orang lain.
Manusia hendaknya menghormati dan menghargai kedua orang tuanya. B. Kritik / Saran
... ... .
... ... .
... DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an dan terjemahnya (waqaf dari Khadim dua tanah suci Raja Fahd bin Abdul Aziz al-Su’ud).
Shihab M. Quraish Tafsir Al mishbah : Pesan dan Keserasian Al- Qur’an / M. Quraish Shihab Jakarta Lentera Hati 2002 15 vol.