Konsep yang akan datang kemampuan

Teks penuh

(1)

C4ISR TNI : Ulasan dan Konsep yang Akan Datang

Submitted by Serdadu17 on Wed, 05/18/2011 - 07:02.

Strategy

Oleh: Mayor Chb Mohamad Nazar, Kasirenlat Subditbindiklat Dithubad

"We’re able to monitor the situation in real time. That's the way it is now, and if you don't like it, you're in the wrong line of work."

(John Brennan; Assistant to the President for Homeland Security and Counterterrorism)[1]

1. Umum.

C4ISR berkembang dari komponen pendukung yang terkandung di dalam setiap kata di dalamnya yaitu

Command, Control, Communications, Computers, Surveillance and Reconnaissance yang saat ini menjadi trend seiring fungsi serta peran C4ISR di dalam dunia kemiliteran. C4ISR merupakan system of system

yang terus berkembang, dikarenakan C4ISR merupakan sebuah kebutuhan dan menjadi sebuah komponen utama pada setiap Organisasi Militer baik pada saat damai maupun pada saat operasi militer atau perang.

Kemajuan yang sangat pesat dalam bidang teknologi, baik itu teknologi komunikasi, komputer, teknologi informasi serta teknik dan elektronika, sangat mempengaruhi sebuah sistem pada dunia kemiliteran yang kesemuanya itu bertujuan untuk mencapai keunggulan informasi ( intelijen) serta keunggulan manajemen pertempuran yang bertujuan untuk meningkatkan keunggulan daya tempur di dalam sebuah peperangan. Hal ini membawa perubahan pada Strategi, Taktik dan Teknik kemiliteran yang dijalankan karena

(2)

Penggunaan teknologi informasi yang intensif, mendorong terjadinya penyesuaian konsep atau doktrin perang dengan kemajuan teknologi yang melekat di jamannya. Inti dari sebuah manajemen peperangan adalah terletak pada kemampuan sang manager perang itu sendiri yaitu seorang Komandan. Proses manajemen peperangan yang dilakukan oleh Sang Komandan adalah dinamakan Komando dan Kendali. Komando dan Kendali (K2), adalah pada prinsipnya merupakan hubungan internal antara Komandan dengan anak buahnya dalam kaitan tugas operasi. Kemudian pentingnya komunikasi dengan kesatuan lain atau eselon lain dalam suatu operasi menjadi suatu keharusan, sehingga lahirlah konsep baru yaitu Komando, Kendali, dan Komunikasi (K3). Teknologi komunikasi saja pun tidak cukup, keterangan atau data intelijen sangat dominan peranannya dalam sebuah peperangan sehingga menghasilkan konsep baru yakni Komando, Kendali, Komunikasi dan Intelijen (K3I). Saat ini dengan kemajuan teknologi komputer banyak analis menulis mengenai Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer dan Intelijen (K4I). Sistem K4I masih menjadi pembahasan yang terus menerus bagi TNI karena sistem informasi yang berbasiskan komputer menjadi fungsi yang sangat penting dalam peperangan. Saat ini menurut para analis militer ada konsep baru yaitu Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, dan Manajemen Pertempuran (K4I/MP) sebagai satu kesatuan yang bulat dalam rangka memenangkan pertempuran. (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence and Battle Management -C4I/BM). Ada pula yang merumuskan dengan Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, Intelijen, Pengamatan dan Pengintaian (K4IPP) – Command, Control, Communications, Computers, Surveillance and Reconnaissance - C4ISR). (Budiman SP)

1-1 C4ISR sebagai Chain of Command

Peperangan dalam abad menjelang abad 21 ini, menuntut suatu pengetahuan mendekati sempurna secara waktu nyata atas keadaan musuh serta meng-komunikasikan masalah tersebut kepada seluruh kekuatan yang ada.” [2]

Disinilah kiranya peran dari sistem C4ISR tersebut! Yaitu bahwa C4ISR mempunyai suatu kemampuan memperoleh informasi-informasi akurat dan andal, tentang kondisi aktual musuh yang diperoleh melalui sistem sensor-sensor (radar) maupun sistem satelit pencitraan, mengumpulkan data musuh serta keadaan geografis dan mengirimkannya ke Command Center, kemudian Sub-System lain mengolahnya menjadi suatu informasi yang dibutuhkan bagi Komandan atau Sub-System pemegang keputusan lainnya ( staf ), yang pada gilirannya akan mengeluarkan sinyal-sinyal perintah yang akan diberikan kepada pelaksana-pelaksana tempur di medan pertempuran ( Udara, Darat maupun Laut) untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan eksekusi perintah sehingga dapat menangkal atau membuat serangan terhadap musuh.

(3)

pasukan sendiri serta parameter peperangan lainnya yang dibutuhkan oleh seorang Panglima atau Komandan sehingga sistem ini berperan secara praktis, cepat dan tepat untuk mencapai keunggulan pertempuran ketika keputusan dibuat.

1-2 C4ISR adalah bentuk Hybrid dari Medan Perang baru Information Warfare

Globalisasi telah berimplikasi secara langsung ataupun tidak langsung terhadap dimensi ideologi, ekonomi, teknologi dan informasi, sehingga karakteristik dari hakekat ancaman terhadap TNI telah mengalami transformasi. Sebagai konsekuensinya, ancaman yang sebelumnya dapat dikategorikan sebagai ancaman luar (external threats) berbentuk konvensional/ inkonvensional bagi TNI, sekarang bisa menjelma /

mentransformasikan dirinya menjadi ancaman internal (internal threats). Oleh karenanya, sudah

sepatutnya TNI di dalam melihat hakekat ancaman ini harus melihat seluruh konteks yang obyektif, up-to-date dan sebenarnya, dimana ancaman internal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari hakekat ancaman eksternal. Ini semua tentu akan berdampak kepada terciptanya kenyataan bahwa kekuatan lawan dapat masuk ke wilayah suatu negara tanpa harus / hanya dengan wujud militer negara tertentu, tetapi efek dari serangannya memiliki kekuatan dan dampak militer yang signifikan, serta mempunyai kontribusi besar di dalam konteks mengancam kedaulatan negara tersebut ( not necessarily military forms of threats, but has the capability and high severe impacts to the sovereignity of a nation). Bahkan lebih jauh lagi, berdasarkan riset RAND dan beberapa lembaga think-tank di Amerika Serikat, kekuatan-kekuatan non-negara tersebut telah beroperasi untuk mengganggu Militer suatu negara (antara lain lewat sabotase elektronik dan bahkan opini dalam konteks Perang Informasi Strategis). Ancaman bentuk inilah yang kemudian dikategorikan sebagai Information Warfare. Ini berkaitan dengan sistem informasi dan kemampuan yang berkait dengannya. Di masa lalu militer memandang informasi hanya merupakan pendukung pertempuran. Di masa yang akan datang informasi tidak lagi merupakan fungsi pendukung tetapi sudah memegang peranan yang utama di dalam pertempuran. Di masa depan, Teknologi Informasi menyebabkan organisasi yang hirarkis akan menjadi suatu yang usang. Ini akan mendorong ke arah berkembangnya organisasi yang lebih flat, dan struktur yang ada sekarang ini perlu untuk ditinjau ulang. Penyiapan konsep perang informasi berupa penyusunan sistem C4ISR yang didukung

perkembangan teknologi informasi dapat meningkatkan kemampuan pasukan, merubah cara kerja organisasi, skala organisasi, sistem integrasi, dan infrastruktur perang ataupun kekuatan militer. 1-3 C4ISR adalah sebuah System of System.

Harmonisasi berbagai Arsitektur suatu Angkatan Bersenjata dengan fungsi komando yang berbeda-beda tiap matra atau area service yang bermacam-macam, satuan TNI yang tergelar sangat komplek serta menuntut suatu sistem yang mengatur berbagai sistem yang sudah ada dan sudah atau belum tergelar. Pengembangan sistem yang berbasis system Command, Control, Communications, Computing,

(4)

(C3) System Architecture Framework untuk mengintegrasikan berbagai sistem dari beberapa anggota NATO yang bermacam-macam. Pada Framework ini C4I Support Plan (C4ISP) telah dikembangkan menjadi sistem untuk dipakai di lapangan oleh Angkatan Bersenjata Amerika, untuk meningkatkan kemampuan integrasi dari berbagai komponen itu maka dibuatlah suatu sistem yaitu berupa sistem di atasnya yang bersifat khusus dan terintegrasi dinamakan C4I Architecture.

Sebuah perangkat dipakai oleh Framework C4ISR untuk menghubungkan tiga jenis lingkup yaitu Lingkup Operasional yang digunakan Angkatan Bersenjata, Lingkup Sistem untuk dikembangkan oleh para Pengembang dan Departemen terkait, dan Lingkup Teknis untuk digunakan sebagai standar pada pola pengintegrasian sebuah Sistem Terpusat pada sebuah sistem yang bekerja. Seluruh perangkat tersusun secara logic pada backbone yang bernilai untuk sebuah proses verifikasi, validasi dan akreditasi (The tools are therefore logically a valuable backbone for the verification, validation, and accreditation (VV&A) process). Dikarenakan aplikasi tersebut tidak terbatas pada sistem C4ISR saja, maka dapat juga digunakan pada sebuah simulasi, sebagai contoh permintaan kebutuhan simulasi sebuah ranpur yang terkoneksi dengan permintaan kondisi lingkungan taktis yang berkembang. Aplikasi ini akan memfasilitasi VV&A sesuai kebutuhan permintaan .

2. Keadaan Command Center TNI

2-1 Sekilas Evaluasi Beberapa Operasi TNI

Komando kendali yang telah tergelar oleh TNI sudah cukup memadai bila dihadapkan dengan kondisi ancaman saat ini serta dihadapkan dengan kemampuan Negara di dalam melengkapai alutsista TNI beberapa tahun ke depan. Akan tetapi pengalaman membuktikan bahwa, komando kendali TNI akan jauh lebih berdaya guna serta dapat ditingkatkan berkali-kali lipat apabila sistem C4ISR ini telah dipakai jauh-jauh hari. Penulis mencontihkan , dari beberapa penanganan operasi yang digelar oleh TNI pada OMSP, baik itu operasi Darurat militer di Aceh, operasi pengamanan perbatasan ( Papua, Kalimantan dan Pulau Terluar) serta operasi penanganan bencana alam tsunamai di Aceh, gempa Nias, Pangandaran serta terakhir letusan Gunung Merapi, maka ada beberapa kekurangan yang perlu ditingkatkan baik dari segi manajemen operasi maupun behaviour pasukan TNI.

Contoh penanganan pemberontak atau insurjensi di beberapa wilayah Indonesia, gelar operasi TNI masih mempunyai kendala-kendala sebagai berikut:

· Penanganan Pemberontak yang sporadis ditangani secara sporadis juga. Hal ini dapat dioptimalkan apabila ada sebuah surveillance system yang melengkapi data intelijen secara dini, kemudian saat penindakan dilengkapi dengan asupan data real time yang akurat, kemudian setelah penindakan sistem ini dapat menguntit pergerakan pemberontak sehingga operasi pengejaran dapat menemukan sisa dari pasukan pemberontak.

· Pembagian informasi tidak terpadu: Masih terjadi sharing informasi yang belum terintegrasi antara Satgas dengan Sub-Satgas atau dengan Satgas yang lain, menyebabkan terlalu lamanya data musuh diolah sehingga mengurangi daya kejut yang diharapkan untuk kepentingan serbuan. Selain keunggulan informasi untuk meningkatkan daya kejut, sistem terintegrasi ini akan menghindarkan dari data intelijen yang kurang valid.

· Belum optimalnya manajemen operasi peperangan : Kesinambungan aliran informasi serta data yang lain belum terkoneksi secara otomatis, perlu beberapa tindakan otentifikasi data untuk mengolah data intelijen bagi pasukan pemukul. Satuan lain yang tergabung di dalam Satgas yang sama kadang-kadang tidak mendapatkan informasi yang sama dan seimbang.

(5)

waktu serta rute diatur secara manual, belum ada otomatisasi sistem perhitungan logistik yang akurat. Hal ini akan mengurangi daya gempur pasukan pada sebuah operasi. Contoh: Pada saat penanganan bencana alam tsunami, dimana terjadi penimbunan barang logistik yang luar biasa banyak di gudang-gudang penyimpanan. Armada angkutan yang kurang memadai, sistem penggudang-gudangan yang terkesan rumit serta sasaran bantuan yang kurang tepat sasaran menjadi masalah yang setiap hari dihadapi oleh para petugas logistik di lapangan. Ditambah lagi adanya tumpang tindih dengan bantuan logistic=k dari NGO maupun relawan lain yang datang silih berganti.

· Laporan pemberitaan yang kurang rahasia: Hal ini yang sangat tabu bagi operasi yang dilakukan TNI. Kejadian adanya dokumen yang beredar di internet menunjukan bahwa kesadaran tentang keamanan pemberitaan kurang memdapat perhatian. selain faktor manusia, keamanan pemberitaan dapat di-manage

melalui sistem yang terpadu menggunakan jalur komunikasi yang aman dan diarsipkan dengan manajemen yang aman pula. Manajemen pengarsipan dokumen militer akan optimal apabila mulai dari pembuatan dokumen, otentifikasi, pengiriman sampai dengan pengarsipan dilakukan terintegrasi dengan sistem yang lain sehingga celah kebocoran akan seminimal mungkin akan terjadi

· Integrasi Pengendalian belum maksimal. Gelar pasukan yang melibatkan tiga matra serta komponen lain yang terlibat, tentunya membutuhkan sebuah sistem pengendalian yang ter-digital-kan, sehingga dalam posisi dan waktu yang rentan pun, proses C2 dapat mengalir dengan lancar tanpa ada kendala.

· Laporan pemberitaan yang kurang tertib: laporan yang simpang siur pada saat penanganan bencana antara beberapa Satgas yang terlibat tentunya menjadi masalah bagi TNI yang berada di lapangan, ditambah peran media yang seakan-akan mengejar-ngejar berita terkini akibat tuntutan jurnalistik,

mengakibatkan ada beberapa berita yang keluar dan didengar oleh publik tidak sinkron. Upaya sinkronisasi telah dilaksanakan, akan tetapi perlu bebrapa waktu untuk melaksanakannya, padahal waktu berjalan dalam hitungan detik.

3. Trend C4ISR.

C4ISR menghilangkan manajemen Berperang Konvensional yg masih diajarkan di lemdik-lemdik TNI. Terlepas dari sebuah taktik bertempur yang tentunya berbeda bagi tiap matra, sedangkan taktik selalu dalam posisi pengkajian karena berkembang terus-menerus, maka C4ISR akan lebih fleksibel di dalam menerima perubahan taktik modern yang tergambarkan menjadi sebuah sistem yaitu sistem pertempuran. Sistem yang tergelar di TNI diharapkan menuju kepada sebuah sistem pertempuran yang lebih terukur, efektif, cepat, tepat, terintegrasi, rahasia, dan dapat dikembangkan untuk upgrade ke sistem selanjutnya yang terus disempurnakan.

a. Battlefield Management System (BMS)

Di berbagai media bisa kita saksikan berbagai aksi Angkatan Bersenjata Negara-negara maju terlibat perang yang di dalamnya terdapat pergerakan ribuan personel, ratusan pesawat tempur, tank, kapal dan kendaraan yang lain secara bahu membahu dan berjalan teratur, tetapi kita tidak mengerti bagaimana arus informasi yang menyebabkan semua itu terjadi. Dalam semua pergerakan Pasukan serta ribuan kendaran dan pesawat tempur tersebut terdapat ribuan juga informasi yang menghubungakan kesemuanya itu. Arus informasi itulah yang lebih penting dalam fungsi militer yang sekarang memegang peran penting di dalam sebuah Battlefield Management System.

Sepuluh tahun yang lalupun, Amerika telah mempertontokan operasi militernya yang sarat dengan manajemen pertempuran yang modern. Amerika Serikat mempunyai system AWACS (Airborne Warning and Control System) dan J-STARS (Joint Surveillance and Target Attack Radar System). AWACS

(6)

kepada komandan pada jangkauan 155 mil dalam segala cuaca dengan ketepatan 90 persen. Dengan menggunakan teknologi ini maka sasaran dapat secara tepat dipilih, terutama sasaran yang sangat bernilai taktis seperti menara komunikasi gelombang mikro, sentral-sentral telepon, jaringan serat optik, dan sarana lain yang berperan sebagai otak dari kekuatan perang musuhnya. [3]

b. NCW ( Network Centric Warfare)

Sebagai contoh pada perkembangan teknologi perang darat. Di dalam upaya peningkatan kemampuan pasukan darat, beberapa Negara mencoba sebuah model pertempuran yang menghubungkan setiap prajurit dengan sistem senjata secara elektronis. Tim peneliti dari Motorola dan laboratorium US Army di Natick, Massachusetts, merencanakan suatu prototipe dari peralatan untuk tentara masa depan dengan membuat helm prajuritnya dilengkapi dengan alat komunikasi, night-vision goggles maupun thermal-imaging sensors untuk melihat di tempat gelap, GPS system serta dilengkapi layar di depan mata untuk mengetahui posisi kawan maupun musush sehingga pusat Kodal Pasukan mampu memberikan informasi yang akurat kepada seluruh prajuritnya, sebaliknya Pusat Kodal mendapat Data yang akurat di lapangan secara real time dari prajuritnya dan sistem sensor yang tergelar yang setiap detik mensuplai data intelijen ke sebuah Database pertempuran. Sebagai hasil percobaan itu, selama simulasi pertempuran di Fort Leavenworth, Kansas, divisi infantri dari US Army yang dilengkapi perlengkapan yang mutakhir tersebut, mampu menaklukkan pasukan dengan kekuatan tiga kali lebih besar ( 3 Divif). [4] Jaringan Data yang tergelar di semua level serta sistem pertempuran tersebut dinamakan pertempuran yang berjaringan sehingga muncul istilah NCW.

c. Operasi lainnya

Keterlibatan teknologi pada BMS dan NCW tersebut merupakan Trend baru yang setiap saat diteliti, dilatihkan serta dilaksanakan, sebagai contoh mulai saat operasi Iraqi Freedom, Desert Storm sampai dengan Odyssey, trend yang sebenarnya hasil dari sebuah penyempurnaan C4ISR tersebut menunjukkan bukti-bukti keberhasilan Pertempuran yang ter-manage dengan baik. Hal ini juga melahirkan trend pada

Information Warfare, Cyber Warfare, Electronic Warfare yang kesemuanya saling sambung dan saling menguatkan.

4. Konsep C4ISR untuk TNI.

C4ISR menyadarkan kita betapa pentingnya sistem teknologi informasi bagi TNI di dalam membangun kekuatan tempurnya. Electronic and information warfare, serta long range precision strike pada perang masa depan menjadi sebuah syarat mutlak. Kita ambil contoh untuk saat ini adalah pembangunan kekuatan PLA di RRC yang sedang memfokuskan pada pengembangan sistem C4ISR di bidang Artificial Intelligence (intelijensi buatan), serta berbagai sistem yang mempunyai sifat kekenyalan dan daya tahan untuk pasukannya serta membangun sistem yang terintegrasi untuk membangun postur future soldier -nya. Semua terobosan ini perlu hardware & software sebagai bahan di dalam peningkatan sumber daya manusia dan PLA membangun dan mengembangkan sistem ini di dalam negeri China sendiri. 4-1. Transformasi Siskom TNI.

(7)

sudah berubah menjadi dunia otomasi yang kaya akan data dan informasi, dimana keterlibatan manusia dalam pengolahan data yang sangat besar volumenya secara waktu nyata menjadi tidak mungkin lagi. Untuk dapat melayani pespur fighter TNI AU, data pertempuran yang digelar TNI AL di laut Indonesia, serta pertempuran darat yang digelar oleh TNI AD , diperlukan komputer yang pintar untuk dapat mengolah data-data yang jumlahnya sangat besar . Untuk proses yang demikian dibutuhkan transportasi data-data yang sangat besar dalam rangka meningkatkan performansi operasional dan menurunkan biaya produksi dalam rangka eksekusi perintah. Untuk kepentingan ini, saluran dibagi dua, dua alur komunikasi berbeda : jalur sesuai rantai komando (eselon), serta jalur horizontal/vertikal yang akan menghubungkan komputer dan otomasi perintah dan data sehingga tercapai sinergi sistem pertempuran yang optimal. Secara konvensional, jalur-jalur yang demikian didukung oleh komunikasi terpisah : yaitu komunikasi suara (voice) dan komunikasi data, dimana masing-masing merupakan jaringan yang direkayasa secara unik. Kini dua jalur komunikasi dibuat menjadi terintegrasi berbentuk seperti ATM switch untuk arsitektur jaringan militer, Sistem ini akan memberikan keluwesan jaringan untuk mentransportasikan data-data dalam jumlah yang sangat besar dengan kecepatan akses yang berbeda-beda. Sinyal-sinyal yang akan ditransportasikan merupakan jenis multimedia ( seperti gambar diam/bergerak, wide area data transmisi kecepatan tinggi, point-multipoint duplex) dengan kecepatan s/d 23 Mb/s.

4-2 C4ISR Cikal Bakal Architecture Framework

Konsep pembangunan alutsista dan kesiapan SDM khususnya yang berkenaan dengan peralatan dan optimalisasi pemanfaatan K3I (Komando, Kontrol, Komunikasi dan Intelijen) seyogyanya dijadikan salah satu faktor pendukung yang penting di dalam sistem pertahanan TNI. Perlu diprioritaskan dan disiasati dengan tepat dan benar sehingga bisa menunjukkan potensi manfaat yang pasti dan harus mampu memunculkan deterrence factor yang baru. Pembangunan suatu kekuatan dan kemampuan yang memiliki

deterrence factor hanya bisa dicapai bila kerahasiaan rancang bangun dan pemanfaatannya bisa dijaga dengan baik maka pembangunan fasilitas TNI harus mulai dapat dibangun oleh kemampuan internal sendiri. Fasilitas K3I yang ada saat ini secara bertahap harus ditingkatkan menjadi C4ISR dan dikemudian hari bisa ditingkatkan lagi menjadi architecture framework yang lengkap dan berdaya.

4-3 Percepatan Jaringan C4ISR

Jaringan sistem tranport informasi militer pada umumnya membutuhkan keandalan informasi serta

availability yang sangat tinggi. Disamping itu angka ‘grade of service’ pada jaringan militer (yaitu

(8)

solusi penggunaan perangkat semacam ini akan jauh lebih ekonomis, dibandingkan peralatan yang khusus termasuk masalah pengadaannya akan jauh lebih cepat

Komunikasi TNI sangat membutuhkan perangkat telekomunikasi yang banyak bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan akses dalam cakupan yang relatif terbatas, maka sistem selular dapat digunakan sebagai pilihan. Salah satu kelemahan sistem selular adalah faktor ekonomis dimana selular akan ekonomis dalam kondisi densitas penggunanya tinggi, padahal dalam sistem komunikasi taktis, densitas penggunanya relatif rendah. Selain itu pemilihan sistem selular akan berhadapan dengan faktor teknis yang berkaitan dengan sangat terpengaruhnya terhadap kondisi propagasinya (pengaruh tanaman-tanaman dan profile terrain) yang akan mudah mengalami fading karena lintasan elektromagnetiknya harus line-of-sight. Pilihan yang tepat untuk pemakaian di lapangan baik itu masa damai atau kondisi perang harus digunakan satelit militer LEO/GEO.

4-4 Desain Jaringan C4ISR

Arsitektur jaringan militer masa depan mengarah kepada jaringan multimedia, dimana semua Sub-System Informasi dapat diintegrasikan dan disajikan kepada seluruh Pimpinan TNI dan serta merta dapat didistribusikan kepada seluruh personel TNI di garis depan. Dari segi fungsionalitas, maka sistem transport informasi pada jaringan TNI terdiri atas 3 bagian :

a. Pertama, local network yang merupakan jaringan kecepatan ultratinggi karena disini bermuara inti dari C4I. Terdapat suatu LAN utama yang bekerja pada kecepatan 10 Gb/s (STM-64) atau pada saat yang akan datang, 40 Gb/s (STM-128), yang direalisasikan dengan sistem serat optik. Dibantu dengan suatu

router atau bridge serta cabang-cabang ke dalam jaringan pengolah kecepatan tinggi, yang juga LAN, suatu serat optik pada 2.5 Gb/s (STM-32). Komputer-komputer yang masuk kedalam sub-cabang ini merupakan komputer intelijen pengolah data-data. Cabang yang lain, adalah menampung informasi berupa

imagery dari pesawat-pesawat ataupun satelit-satelit reconnaissance atau hasil dari laporan pespur dan KRI yang sedang bertugas.

b. Kedua, wide area network dimana jantungnya terdiri dari sebuah sentral ATM dengan akses B-ISDN dan N-ISDN. Pada intinya sentral ATM ini merupakan kombinasi antara lokal dan trunk, ( bisa terdiri dari jaringan lokal fiber optik) N-ISDN . Sub network yang lain adalah jaringan-jaringan akses satelit / radio, untuk PCS. LAN utama terhubung dengan sentral ATM dengan suatu router dengan akses B-ISDN. Jadi sentral ATM ini merupakan konsentrasi pusat lalulintas informasi , antara data-data intellijen ( dari seluruh sensor HUMINT atau SIGINT), dan data-data command & control pendukung lainnya.

c. Ketiga, mobile network. Mobile network merupakan jaringan yang sangat banyak tetapi tetap

menggunakan jantung berupa ATM switch yang dilengkapi dengan mobile software, hal ini berfungsi untuk mensuplai data kepada komputer-komputer pengolah data-data intelijen yang terinstalasi secara tidak permanen, yang akan memberikan support kepada daerah yang sedang terjadi operasi. Sentral ATM bergerak ini akan dihubungkan dengan suatu satelit trunk network kepada sentral ATM pusat, dan terakhir disalurkan ke pusat intelijen, situation room dan pusat komando . [6]

4-5 Kebutuhan Arsitektur

Kebutuhan pembangunan sebuah konsep C4ISR ini salah satunya adalah transportasi informasi itu sendiri, dan yang menjadi inti dari C4ISR, tentunya termasuk sistem pengolahan dan interpretasi data yang dikumpulkan dari berbagai sensor. Termasuk dalam hal ini software-software sbb :

a. Estimasi tingkat pengetahuan/ketidak tahuan,

(9)

c. Control strategy,

d. Knowledge & Combat effectiveness,

e. Information & Combat theory equations. [7]

Haruslah ada suatu kerjasama yang sangat erat antara software designer dengan perencana jaringan Milcom atau Siskom TNI, sehingga dicapai response yang optimal. Serta sangat dianjurkan agar pengembangan sistem software ini dapat dilakukan oleh putra-putra bangsa ini sendiri.

Nampak bahwa kebutuhan Jaringan C4I dalam rangka meningkatkan pertahanan dan akhirnya ketahanan bangsa ini merupakan suatu tantangan bagi kita semua untuk dapat mewujudkannya dimasa-masa mendatang. Demikian kompleksnya, sehingga bagi industri yang ikut ambil bagian dari program ini akan mendapatkan suatu efek 'spin-off', dapat memiliki kompetensi yang banyak gunanya bagi pengembangan produk industri nya. Dan jumlah teknologi yang dapat dimunculkan benar-benar tak terbatas.

5. Penutup

C4ISR bagi TNI merupakan keperluan dan sebuah target yang menjadi tantangan dan perlu sebuah lompatan untuk segera membangun dengan segala percepatannya. Alasan TNI untuk membangun sebuah

System of System adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan daya gempur pasukan yang melaksanakan operasi. b. Meminimalkan korban di pihak sendiri.

c. Keakuratan Target hingga 100%. d. Super management peperangan.

e. Proses Bisnis yang efektif dan efisien ( pada saat pembinaan kekuatan ).

f. Memberikan haluan pada Pembangunan TNI serta Pengembangan Organisasi yang terarah serta dapat memberikan track pada penyusunan RKA ( untuk C4ISR Enterprise Framework ).

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : US Army Yang Akan Datang