• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi Komunikasi dan Perempuan (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teknologi Komunikasi dan Perempuan (1)"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

FORMULIR PENDAFTARAN

Nama : Yuli Candrasari, S.Sos, Msi

Institusi : Ilmu Komunikasi FISIP UPN Veteran Jatim

Alamat : Jl. Raya Rungkut Madya Gunung Anyar Surabaya Telp : 081 357 331 371/ 031-71131869

E-mail : [email protected]

Dengan ini mohon dicatat untuk berpartisipasi sebagai: Peserta Pemakalah

Judul Tulisan: Teknologi Komunikasi(Internet) dan Perempuan Bidang : Kajian Media (Media Studies)

(2)

Teknologi Komunikasi (Internet) dan Perempuan Oleh: Yuli Candrasari, S.Sos, MSi*)

Abstraksi

Perkembangan teknologi yang semakin terbuka, ternyata tidak serta merta mengubah paradigma tentang perempuan yang lebih suka menggeluti bidang-bidang lebih feminim yang biasanya diasosiasikan sebagai bidang perempuan. Meski teknologi makin soft sehingga lebih mudah dikuasai siapapun, namun keterlibatan perempuan dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi khususnya di Indonesia masih terbilang rendah. Stereotype budaya dan sistem pendidikan adalah dua faktor yang turut berperan dalam membentuk paradigma bahwa teknologi merupakan domain laki-laki.

Data UNESCO menunjukkan bahwa 45% pelajar perempuan di level strata satu, tidak lebih dari 25% yang mendaftar di jurusan teknik. Hal ini menunjukkan bahwa anggapan bidang teknik (teknologi) adalah milik kaum laki-laki. Tingkat partisipasi perempuan terhadap penggunaan internet pun sangat rendah. Padahal internet sebagai ruang publik baru sebenarnya dapat digunakan sebagai sarana pemberdayaan perempuan dengan menyuarakan perempuan, mengekspresikan perempuan dan mendekonstruksi citra negatif perempuan. Kenyataannya internet tetapi didominasi ideologi patriarkhi semakin menguatkan ideologi tersebut dalam ‘menjajah dan mengeksploitasi perempuan. Banyak perempuan yang hanya menjadi korban teknologi bahkan tidak jarang kaum perempuan hanya menjadi penggguna pasif teknologi. Salah satu bentuk perempuan menjadi korban teknologi adalah banyak beredar foto bugil maupun VCD porno yang melibatkan perempuan. Bahkan cybersex dan virtualsex yang semakin marak.

Secara teoritis, fenomena rendahnya pengetahuan dan ketidakmampuan perempuan terhadap teknologi komunikasi pada kaum perempuan dapat dijelaskan dengan teori Kesenjangan Pengetahuan (Knowledge Gap Theory). Selain itu juga teknologi komunikasi yang berkembang saat ini yaitu teknologi komunikasi interaktif yang dikenal dengan internet masih juga memiliki norma yang berorientasi pada laki-laki (male-oriented norms). Simbol-simbol yang ada di virtual reality pun merupakan hasil pengkonstruksian kaum laki-laki. Akibatnya “kekerasan simbolik” terhadap perempuan di ruang publik dengan mudah didapatkan.

(3)

Referensi

Dokumen terkait

Namun secara umum, capaian dakwah kaum perempuan pada masyarakat di Dataran Tinggi Gayo dapat ditinjau dan dianalisis dari beberapa aspek yaitu seberapa besar ruang

Data diatas menunjukkan bahwa aktivis perempuan di Indonesia atau paling tidak yang mengikuti kongres Koalisi Perempuan adalah mereka yang telah menggunakan Internet untuk

Hambatan eksternal adalah hambatan yang datang dari lingkungan publik, politik, sosial budaya yang tidak men- dukung pemberdayaan perempuan dalam politik atau

bahwa dalam rangka melaksanakan program dan kegiatan di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Palembang sebagai unsur

Peran publik perempuan muslim diantaranya adalah sebagai anggota masyarakat dan mengikuti berbagai kegiatan sebagai bentuk aktualisasi diri, ada juga yang menjadi

citra perempuan dalam iklan tidak lebih sebagai cerita budaya yang seolah-olah nyata, menyapa. khalayak, namun sebenarnya dibangun dengan memanipulasi tubuh perempuan

Korkot, sebaiknya berperan sebagai pusat pemberdayaan masyarakat, khususnya pusat pemberdayaan perempuan dengan mendorong para askot dan faskel menjadi gender fokal point

Berkaitan dengan penyelenggaran pilkada, pemanfaatan isu pemberdayaan perempuan seyogyanya menjadi menarik dan penting untuk menjadi visi misi calon, sebagai bentuk komunikasi