Liberalisasi Sektor Kesehatan dan Pemenu

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Liberalisasi Sektor Kesehatan dan Pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Masyarakat di Indonesia (Sebuah Kajian Hak Asasi Manusia)

Disusun Oleh :

Dhanny Saraswati (8111416129)

Zaeda Zulfa (8111416243)

Rombel 06 Hukum dan HAM

FAKULTAS HUKUM

(2)

Kata Pengantar

Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat rahmat dan karunianya. Dalam rangka memenuhi tugas makalah hukum lingkungan oleh Bapak Ridwan Arifin, S.H., LL.M. program studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Negeri Semarang, sehingga makalah yang berjudul “Liberalisasi Sektor Kesehatan dan Pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Masyarakat di Indonesia (Sebuah Kajian Hak Asasi Manusia)” ini dapat terselesaikan. Kami selaku tim penyusun makalah ingin menyajikan studi kasus, putusan dan aspek Liberalisasi Sektor Kesehatan dan Pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Masyarakat di Indonesia yang juga berkaitan dengan pemenuhan hak-hak fasilitas kesehatan bagi kalangan ekonomi menengah kebawah. Seperti yang telah diketahui, dewasa ini marak terjadi kasus-kasus pembedaan pelayanan di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskemas bagi masyarakat miskin atau kurang mampu dengan pasien yang berkecukupan dan mampu membayar seluruh biaya rumah sakit secara pribadi dan tunai

Makalah ini disajiakan mulai dari Bab I Pendahuluan yang meliputi: Latar Belakang, Rumusan Masalah, dan Metode Penulisan. Bab II menguraikan tentang Sub Pembahasan I, II dan III, Bab III mengememukakan tentang kesimpulan dan daftar isi.

Kami selaku tim penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, dengan kata lain masih banyak kekurangan data baik dari segi data yang diperoleh dari berbagai sumber yang sudah tidak relevan lagi maupun dari tata cara dan tata bahasa penyusunan buku ini. Untuk itu dengan segala kerendahan hati kami mengundang kepada para pembaca untuk menyampaikan kritik dan saran kepada kami agar kiranya makalah ini menjadi lebih baik dan berkualitas. Demikian harapan kami, semoga makalah ini dapat memberikan sumbanga pemkiran kepada para pemuda.

(3)

(4)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL...1

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI...3

BAB 1 PENDAHULUAN...4

1.1.Latar Belakang...4

1.2.Rumusan Masalah...5

1.3. Metode Penulisan...6

BAB II PEMBAHASAN...7

2.1.Rumusan Masalah Pertama...7

2.2.Rumusan Masalah Kedua...9

2.3. Rumusan Masalah Ketiga...12

BAB III KESIMPULAN...17

(5)

BAB I

PENDAHULUAN A.Latar Belakang

(6)

tidak dapat dipisahkan dan dicabut (non-derogable rights),karena hak tersebut merupakan hak manusia karena ia adalah manusia. Dalam hal ini HAM adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-mata karena ia manusia, dan umat manusia memilikinnya bukan karena diberikan kepadannya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia. Pemahaman tersebut dapat dimengerti karena sesungguhnya HAM bermula dari gagasan bahwa manusia tidak boleh diperlakukan semena-mena oleh kekuasaan, karena manusia memiliki hak alamiah yaitu hak yang melekat pada manusia terlepas dari segala adat istiadat atau aturan tertulis1. Hak alamiah ini mendahului proses legal, kultural,

ekonomi dan sosial manusia dalam komunitasnya, karena hak ini diberikan oleh kekuasaan sang pencipta, yaitu Tuhan YME. Inilah yang menjadi akar religiusitas HAM yang menempatkan manusia pada posisi setara, sehingga manusia harus saling menghormati dan memahami bahwa hak yang dinikmatinya tidak boleh melanggar hak orang lain2. Makalah ini akan

membahas keterkaitan antara Hak Asasi Manusia yang ditinjau dari segi pemenuhan hak-hak masyarakat akan fasilitas kesehatan di Indonesia. Apakah pemenuhan kebutuhan masyarakat di Indonesia akan fasilitas kesehatan sudah cukup baik dan memadai bagi seluruh lapisan masyarakat yang ada di Indonesia? Pembahasan kali ini akan dirangkum dalam makalah berjudul “Liberalisasi Sektor Kesehatan dan Pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Masyarakat di Indonesia (Sebuah Kajian Hak Asasi Manusia)”. Dalam rumusan rumusan masalah yang ada di makalah ini akan dijabarkan bagaimana gambaran pemenuhan hak-hak masyarakat akan fasilitas kesehatan yang memadai dan merata bagi semua kalangan masyarakat yang membutuhkan fasilitas kesehatan tersebut. Dalam rumusan masalah yang ada pada makalah ini juga dianalisis satu contoh kasus yang menggambarkan permasalahan sebagian masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan fasilitas kesehatan secara adil dan memadai sesuai dengan kebijakan pemerintah Indonesia. Pada dasarnya Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan

1

(7)

hak adalah nilai politik yang utama.Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu.Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama didasarkan pada kebebasan mayoritas.Banyak suatu negara yang tidak mematuhi peraturan tersebut. Liberalisme dalam hal pemenuhan hak-hak kesehatan akan dibahas selanjutnya berikut ini dan akan dipaparkan hal-hal yang menjadi kendala dalam usaha pemenuhan hak-hak tersebut.

B.Rumusan Masalah

1.Apakah makna dari liberalisme dalam sektor kesehatan?

2.Bagaimanakah hubungan antara pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Masyarakat dengan Hak Asasi Manusia?

3.Apakah di Indonesia ada kendala atau masalah mengenai pemenuhan hak kesehatan bagi masyarakatnya di berbagai kalangan?

C.Metode Penulisan

(8)

rangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengolah bahan penelitian.

Gambar 1 .Gambaran Umum Metode Library Research

(9)

perpustakaan merupakan tambang emas yang sangat kaya untuk riset ilmiyah. Informasi atau data empiric yang telah dikumpulkan orang lain, berupa laporan hasil penelitian atau laporan-laporan resmi, buku-buku yang tersimpan dalam perpustakaan tetap dapat digunakan oleh periset kepustakaan. Hal tersebut merupakan gambaran umum library research.

BAB II PEMBAHASAN A.Makna Liberalisme Dalam Sektor Kesehatan

Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa makna dasar dari liberalisme adalah adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Dalam masyarakat modern, liberalisme akan dapat tumbuh dalam sistem demokrasi, hal ini dikarenakan keduanya sama-sama didasarkan pada kebebasan mayoritas. Banyak suatu negara yang tidak mematuhi peraturan tersebut. Kaitan antara liberalisme dengan sektor kesehatan terlihat pada sistem pemenuhan kesehatan bagi masyarakat yang ditentukan oleh masing masing intansi kesehatan bukan lagi oleh pemerintah. Hal ini diwujudkan dengan cara didirikannya layanan layanan kesehatan yang berorientasi terhadap keuntungan layaknya sebuah komoditi bisnis semata. Citra rumah sakit yang dulu dikenal akan fungsi sosialnya, kini redup lalu berganti bentuk dengan tampilan barunya yang lebih berorientasi untuk kepentingan bisnis. Saat ini bukan hanya bermunculan rumah sakit swasta ( beberapa di antarannya memasang label “internasional” ) dengan target target pendapatan lewat jasa layanan kesehatan dan tingkat hunian kamar seperti layaknya dunia perhotelan, rumah sakit pemerintah (pusat) pun mulai ikut-ikutan. Lebih ironis lagi, banyak pemerintah daerah—baik provinsi maupun kabupaten/kota—yang mulai mengalokasikan dana untuk membangun rumah

sakit yang berorientasi keuntungan.

(10)
(11)

pasien. Pemerintah yang seharusnya bertindak sebagai regulator dan wasit malah ikut bermain.Membaca berbagai kasus yang muncul ke permukaan, Hasbullah Thabrany—ahli kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia— mengingatkan pemerintah agar segera menyadari bahwa ada kegagalan pasar dalam pelayanan kesehatan. Penerapan mekanisme pasar dalam pelayanan rumah sakit dan pelayanan kesehatan, tambahnya, tidak akan dan tidak pernah menguntungkan konsumen.Peringatan serupa juga disampaikan sejumlah ahli kesehatan yang tergabung dalam Forum Peduli Kesehatan Rakyat. ”Seluruh literatur telah membuktikan kegagalan mekanisme pasar dalam pelayanan kesehatan. Fakta di dunia, semakin banyak dokter dan rumah sakit, harga pelayanan semakin mahal. Bahkan, rumah sakit publik milik pemerintah ikut bersaing dalam (sistem) mekanisme pasar,”

B.Hubungan antara Pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Masyarakat dengan Hak Asasi Manusia

Berdasarkan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 seperti yang dijelaskan3

pada Bab III Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Dasar Manusia pada Bagian Kesatu Hak Untuk Hidup Pasal 9 pada ayat 3 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Serta pada pasal 62 menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial secara layak, sesuai dengan kebutuhan fisik dan mental spiritualnya. Pernyataan diatas menunjukan adanya keterkaitan antara pemenuhan hak kesehatan bagi masyarakat dengan Hak Asasi Manusia. Yang mana hak-hak atas pemenuhan kesehatan seperti layanan dan fasilitas kesehatan merupakan suatu hak bagi masyarakat yang wajib dipenuhi oleh pemerintah. Pemenuhan hak-hak kesehatan bagi masyarakat merupakan salah satu bentuk penegakan Hak Asasi Manusia dan bagian dari cita-cita Perjuangan Bangsa. Dari pendekatan kultural (budaya) terbukti perjuangan menegakkan hak asasi manusia pada hakikatnya merupakan bagian dari tuntutan sejarah dan budaya dunia4 termasuk Indonesia. Karena itu, memperjuangkan HAM

sama dengan memperjuangkan budaya bangsa atau “membudayakan” bangsa. Faktanya pada masa masa sekarang, pelayanan kesehatan bermutu

(12)

yang berorientasi pelanggan atau pasien menjadi strategi utama bagi organisasi pelayanan kesehatan di Indonesia, agar tetap eksis di tengah persaingan global yang semakin kuat. Salah satu strategi yang paling tepat dalam mengantisipasi adanya persaingan terbuka adalah melalui pendekatan mutu paripurna yang berorientasi pada proses pelayanan yang bermutu, dan hasil mutu pelayanan kesehatan yang sesuai dengan keinginan pelanggan atau pasien.Mutu pelayanan merupakan suatu bentuk penilaian konsumen terhadap tingkat pelayanan yang diterima dengan tingkat layanan yang diharapkan. Mutu pelayanan kesehatan yang diberikan menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan setiap pasien, semakin sempurna kebutuhan dan tuntutan setiap pasien, maka semakin baik pula mutu pelayanan kesehatan.Mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit sangat dipengaruhi oleh proses pemberian pelayanan5 Oleh karena

itu, dalam peningkatan mutu faktor-faktor kualitas sarana fisik, tenaga yang tersedia, obat dan alat kesehatan termasuk sumber daya manusia dan profesionalisme sangat dibutuhkan agar pelayanan kesehatan yang bermutu dan pemerataan pelayanan kesehatan dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Kualitas jasa yang dihasilkan rumah sakit akan berpengaruh terhadap pelanggan, peningkatan kualitas jasa berdampak pada loyalitas pelanggan. Selain itu, customer akan memberikan informasi kepada masyarakat mengenai pelayan yang terdapat di rumah sakit tersebut sehingga jumlah kunjungan pasien baru akan meningkat. Meningkatnya jumlah pasien akan berpengaruh pada pendapatan rumah sakit. Kepuasan pasien menjadi bagian integral dari kegiatan jaminan mutu pelayanan kesehatan. Artinya, pengukuran tingkat kepuasan pasien harus menjadi kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari pengukuran mutu layanan kesehatan. Dimensi kepuasan pasien menjadi salah satu dimensi mutu pelayanan kesehatan yang sangat penting. Kualitas pelayanan yang baik akan menimbulkan kepuasan pada pelanggan atau pengguna jasa layanan (pasien). Kepuasan pelanggan adalah indikator utama dari standar suatu fasilitas kesehatan. Ukuran mutu pelayanan, kepuasan pelanggan yang rendah akan berdampak terhadap jumlah kunjungan yang akan mempengaruhi provitabilitas fasilitas kesehatan tersebut. Sikap

(13)

karyawan terhadap pelanggan juga akan berdampak terhadap kepuasan pelanggan dimana kebutuhan pelanggan dari waktu ke waktu akan meningkat. Pengukuran kepuasan pelanggan merupakan salah satu cara untuk mengukur penampilan rumah sakit dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pengawasan terhadap pelayanan yang diberikan pada pasien harus selalu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan. Faktanya, pelayanan kepada pasien miskin yang diberikan secara berbeda masih sering terjadi. Pembahsan ini bertujuan mendapatkan informasi tentang pelayanan kesehatan yang diberikan oleh rumah sakit kepada masyarakat miskin di beberapa wilayah Indonesia. Subjek kajiannya adalah masyarakat miskin yang sedang dan/atau pernah mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit di beberapa wilayah Indonesia. Hasil kajian memperlihatkan bahwa pasien miskin di rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta, umumnya memiliki tingkat kepuasan yang kurang memadai, di antaranya pada pelayanan administrasi yang dinilai rumit, berbelit, kurang informasi, petugas yang kurang ramah, tidak diberikan resep obat generik, dan pelayanan yang memakan waktu cukup lama. Selain itu, keharusan membayar uang muka juga menjadi penghalang bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Selain pelayanan fasilitas kesehatan di rumah sakit, masyarakat di era global juga membutuhkan layanan fasilitas asuransi jiwa. Hal ini disediakan oleh perusahaan asuransi jiwa menawarkan proteksi bagi kehidupan manusia yang bertujuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman serta memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi resiko6 Hal hal mengenai detail

mengenai masalah penerimaan fasilitas kesehatan yang dialami oleh masyarakat kalangan bawah selanjutnya akan dibahas di rumusan masalah yang ketiga nanti. Adapun para pihak yang terkait dalam pelayanan kesehatan menurut undang-undang 36 tahun 2009 tentang kesehatan yakni dalam pasal 1 butir 6 menyatakan bahwa tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu yang memerlukan kewenangan untuk melakukan kesehatan. Akan tetapi pada jaman dahulu sebelum undang-undang kesehatan 36 tahun 2009 belum diberlakukan tenaga kesehatan ada dua macam yaitu tenaga

(14)

medis dan para medis, tenaga medis yaitu Tenaga medis adalah tenaga ahli kedokteran dengan fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan medis kepada pasien dengan mutu sebaik-baiknya dengan menggunakan tata cara dan teknik berdasarkan ilmu kedokteran dan etik yang berlaku serta dapat dipertanggungjawabkan akan tetapi seiring dengan perkembangan jaman regulasi dan definisi serta pemahaman tentang hal demikian telah mengalami pergeseran7. Kualitas pelayanan di rumah sakit menjadi salah satu faktor

penting dalam memenuhi hak masyarakat untuk kesehatan. Di sisi lain, kualitas pelayanan di rumah sakit tampil dengan fenomena yang unik, karena dimensi dan indikator yang berbeda antara orang-orang yang terlibat dalam pelayanan. Untuk mengatasi perbedaan tersebut, seharusnya digunakan pedoman dasar penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan kesehatan. Mutu pelayanan terarah pada pelayanan kesehatan yang sempurna dalam memenuhi kebutuhan dan tuntutan setiap pasien. Dengan demikian, mutu pelayanan kesehatan adalah segala yang menunjukkan tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. Namun, sampai kini masalah penyalahgunaan hak konsumen pelayanan kesehatan di rumah sakit makin berkembang terjadi tanpa dirasakan oleh pihak rumah sakit, apalagi apabila konsumen tidak mengungkapkan keluhan secara formal. Meskipun tidak dipermasalahkan, penyalahgunaan hak ini pada dasarnya merupakan masalah. Penyimpangan yang terjadi secara terus menerus akan merusak berbagai upaya baik yang telah diupayakan dan mempengaruhi pandangan positif masyarakat. Penyalahgunaan hak pasien di rumah sakit dapat terjadi karena ketidaktahuan, sikap dominan, beban kerja berlebihan dan faktor ekonomi8 Bagi masyarakat miskin, ketidakpuasan

terhadap pelayanan kesehatan yang buruk di rumah sakit, sering kali diterima dengan pasrah. Orang miskin sering menjadi korban dari sistem kesehatan yang tidak adil dan diskriminatif. Sementara bagi orang kaya, ketidakpuasan atas pelayanan demikian, sudah cukup memberi alasan untuk berobat ke dokter atau rumah sakit luar negeri yang jauh lebih mahal. Akibatnya, pertumbuhan perumahsakitan yang berlebel “internasional” semakin

7 Mustajab, “Analisis Yuridis Hubungan Hukum Antara Dokter dan Pasien Dalam Pelayanan Kesehatan”, Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion, Vol.1 No.4, Juli 2013, hlm 1-11.

(15)

menjamur di Indonesia. Pada pembahasan rumusan masalah yang ketiga akan dijabarkan mengenai kendala atau masalah yang ada di suatu wilayah di Indonesia yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak kesehatan.

C.Kendala atau Masalah yang Berkaitan dengan Upaya Pemenuhan Hak Kesehatan Bagi Masyarakat di Berbagai Kalangan?

Pada pembahasan rumusan masalah kali ini penulis akan memaparkan dengan mengambil satu contoh masalah yang diambil dari artikel jurnal berjudul “Kualitas Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (Studi Tentang Kepuasan Pasien Rawat Inap Peserta Jamkesmas Pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Indramayu)”.Dalam konteks ini, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) sebagai operator terdepan pelayanan publik sektor kesehatan di daerah kerapkali menjadi sorotan publik terkait dengan aspek kualitas pelayanannya yang dinilai masih rendah, terutama bagi kalangan masyarakat miskin. Hal ini mudah dipahami mengingat RSUD merupakan organisasi pemerintah yang memiliki peranan strategis dalam peningkatan derajat kesehatan masyarakat di daerahserta dalam penyelenggaraan layanan bersifat nirlaba, dalam pengertian, sektor ini harus lebih mengedepankan fungsi sosial ketimbang fungsi ekonominya.Dalam pelayanan publik sektor kesehatan, masyarakat miskin mendapatkan perhatian ekstra bukan hanya karena tingginya jumlah penduduk miskin dari data yang dimiliki pemerintah, melainkan karena kondisi sosial dan psikologis mereka cenderung menjadikan mereka rentan untuk mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam mengakses pelayanan tersebut9Harus kita akui bahwa perhatian pemerintahsemakin

meningkat dengan hadirnya sejumlah program asuransi kesehatan bagi kalangan masyarakat ini,namun program tersebut ternyata masih menyisakan berbagai persoalan, terutama di seputar sikap dan etika pelayanan dari penyelenggara pelayanan. Pihak penyelenggara pelayanan pada umumnya memiliki pandangan yang streotipe terhadap kalangan ini sebagai pihak yang memanfaatkan sumberdaya birokrasi pelayanan tanpa memberikan kontribusi pemasukan kepada sumber daya birokrasi itu sendiri. Sebaliknya dari sisi masyarakat miskin, pendidikan yang rendah dan akses terhadap pengetahuan yang sangat minim, menyebabkan mereka kurang menyadari hak-hak mereka

(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

kedermawanan pemerintah atau negara, sehingga cenderung pasrah dan menerima apa adanya pelayanan dari pemerintah dan birokrasinya. Mereka pada umumnya kurang peduli terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. Sementara Wasistiono (2003:15) memandang hal tersebut dari aspek masih rendahnya kesadaran anggota masyarakat akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara maupun sebagai konsumen, sehingga mereka cenderung menerima begitu saja layanan yang diberikan oleh instansi pemerintah, terlebih lagi apabila layanan yang diberikan bersifat cuma-Cuma. Sementara tipe kedua, stable customer dissatisfaction, yakni pasien bersikap pasif didorong perasaan pesimistis bahwa pihak rumah sakit akan melakukan perbaikan ke depan. Hasil wawancara dengan informan menyatakan bahwa ditemukan pengaduan pasien inap peserta Jamkesmas, namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Pada umumnya pengaduan ditujukan pada aspek ketidakramahan petugas medis (khususnya ruang rawat kebidanan) dan petugas kebersihan. Sedangkan pasien yang merasa tidak puas memiliki tipe stable customer dissatisfaction, yaitu pasien tidak puas, namun cenderung bersikap pasif dalam menuntut perbaikan. Pasien yang merasa tidak puas berpotensi menyebabkan word of mouth negatif yang dapat merugikan citra lembaga di mata publik Indramayu. Maka dari itu pihak Manajemen RSUD Kabupaten Indramayu hendaknya lebih serius melakukan berbagai peningkatan kualitas pelayanan, menimbang berdasarkan hasil studi ini sebagian besar informan masih mengeluhkan kualitas pelayanan terutama ditujukan pada beberapa dimensi kualitas pelayanan di atas. Dalam hal ini pasien bertipe resigned customer satisfaction belum dapat dijadikan parameter bagi pihak penyelenggara layanan untuk mengklaim bahwa kualitas pelayanan yang diselenggarakan telah baik. Mereka merasakan puas didorong rasa mawas diri dengan kondisi sosial ekonomi kehidupan mereka. Selain itu, rendahnya penganduan dikonstatasikarena banyak pasien rawat inap peserta Jamkesmasbertipe stable customer dissatisfaction, yaitu pasien merasa tidak puas terhadap pelayanan, namun cenderung bersikap pasif dalam menuntut perbaikan. Pasien tipe terakhir ini memiliki potensi word of mouth negatif yang dapat merugikan citra lembaga di mata publik.

(21)

A.Kesimpulan

Dari ketiga bahasan yang bersumber dari rumusan masalah tersebut dapat disimpulkan yaitu:

1. Hak asasi manusia sering didefinisikan sebagai hak manusia memiliki hanya berdasarkan martabat mereka yang melekat10

2.Liberalisme di kalangan sektor kesehatan pada saat ini telah menjadi isu nasional. Urusan pelayanan kesehatan tidak lagi menjadi kendali penuh pemerintah tetapi telah banyak diambil alih oleh instansi intansi seperti rumah sakit. Tanda kemunculan liberalisme di sektor kesehatan ditandai dengan banyak sekali rumah sakit pemerintah dan swasta yang melakukan pelayanan dengan berorientasi pada uang atau sekedar menjalankan bisnis. Maka dari itu beberapa rumah sakit swasta berlomba-lomba melabeli rumah sakit mereka dengan titel “Rumah Sakit Internasional” yang mengakibatkan mahalnya hampir seluruh item layanan kesehatan di Rumah Sakit Internasional tersebut. Bahkan beberapa rumah sakit pemerintah mulai mengikuti jejak Rumah Sakit Internasional untuk menjadikan Rumah Sakit Pemerintah menjadi bertaraf dan bertarif Internasional.

2. Hasil penelitian memperlihatkan pasien miskin di rumah sakit pemerintah dan rumah sakit swasta, umumnya memiliki tingkat kepuasan yang kurang memadai, antara lain pada pelayanan administrasi yang dinilai rumit, berbelit, kurang informasi, petugas yang kurang ramah, tidak diberikan resep obat generik, dan pelayanan yang memakan waktu cukup lama. Khusus rumah sakit pemerintah, telah mengemban tanggung jawab sosial rumah sakit kepada orang miskin atau saat keadaan gawat darurat.

B.Saran

Pemerintah perlu membuat pengaturan yang jelas tentang pembagian tanggung jawab negara dan pengelola sarana pelayanankesehatan agar rumah sakit memberi perlindungan kepada pasien, masyarakat, dan sumber daya manusia di rumah sakit, serta memelihara dan meningkatkan mutu pelayanan. Perlu pengaturan tentang pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM), termasuk standar teknis yang menjamin keamanan pasien sehingga setiap rumah sakit berkewajiban menetapkan target pencapaian indikator standar pelayanan kesehatan. Diperlukan kemudahan prosedur administrasi yang

(22)

dapat menghilangkan perbedaan perlakuan antara pasien menengah kebawah dengan pasien jaminan asuransi, terutama asuransi non komersial. Perlu ditetapkan standar terkait penghitungan biaya, agar pasien membayar pelayanan kesehatan yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. Untuk itu, perlu mengatur mekanisme dan prosedur audit pelayanan kesehatan oleh lembaga independen. Evaluasi terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan akan menjamin pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diperlukan sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Dalam hal ini perna serta pemerintah sangatlah penting demi mengendalikan arus liberalisme yang dapat mengancam nasib masyarakat menegah kebawah yang memerlukan jaminan atas terpenuhinya layanan kesehatan terutama pada instansi-instansi rumah sakit milik pemerintah sehingga masyarakat mendapatkan hak-haknya dalam sektor kesehatan secara penuh dan adil.

DAFTAR PUSTAKA A.Buku

Effendi, Mahsyur. 2005. Perkembangan Dimensi Hak Asasi Manusia & Proses Dinamika HAM.

Penyusunan Hukum Hak Asasi Manusia (HAKHAM),Bogor: Penerbit Ghalia.

Effendi, Mahsyur. 2010.HAM Dalam Dinamika/Dimensi Hukum,Politik,Ekonomi, dan Sosial,

Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia.

Gerung, Rocky.2006.Hak Asasi Manusia, Teori Hukum, Kasus.Jakarta: Filsafat UI Press.

Rahayu.2015.Hukum Hak Asasi Manusia. Semarang:Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

B.Jurnal

Arum Puteri Nurdhila. 2017.Hubungan Mutu Pelayanan dengan Kepuasan Pasien Peserta

BPJS di Rumah Sakit Umum Daerah Yogyakarta. Yogyakarta:Jurnal Fakultas Kesehatan

Masyarakat. Vol.11, No.2: 165-173.

(23)

Pasien Rawat Inap Peserta Jamkesmas Pada Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten

Indramayu). Indramayu: Jurnal Aspirasi. Vol.5, No.2: 1-62.

Mustajab. 2013. Analisis Yuridis Hubungan Hukum Antara Dokter dan Pasien Dalam Pelayanan

Kesehatan. Jakarta: Jurnal Ilmu Hukum Legal Opinion. Vol.1,No.4: 1-11. Rheza Imadasari. 2017. Penyelesaian Klaim Asuransi Jiwa Menurut Klaim Ex-Gratia. Semarang:

Unnes Law Journal. Vol.2, No.2: 1.

Tri Rini Puji Lestari.2010.Pelayanan Rumah Sakit bagi Masyarakat Miskin (Studi Kasus di

Enam Wilayah Indonesia).Jakarta:Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. Vol.5,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...